"Sasuke, aku paham kalau sangat marah. Namun, kita tidak boleh berkelahi di sini," ucapku pelan dengan kepala tertunduk.
"Tapi, mereka—,"
"Dengarkan aku dulu, sialan!" bentakku kepadanya.
Perlahan, kuangkat kepalaku. Kupandangi si kembar itu secara seksama. Aku tidak menampik jika saat ini mataku tengah melihat mereka dengan sorot mata yang menunjukkan betapa marahnya diriku.
"Battle of Justice," ucapku pelan.
"Ha?" respon si Biru II sambil mengarahkan telinganya ke arahku.
"Apa kau mengatakan sesuatu, anak desa?"
Sekali lagi, aku menarik napasku dalam-dalam dan mengeluarkannya secara perlahan. Aku memang sedang emosi, tetapi itu bukan berarti aku harus kehilangan akal sehatku.
"Kubilang, aku dan dia akan menantang kalian dalam Battle of Justice. Kita akan bertarung secara kelompok," ucapku sambil menunjuk Sasuke. "Lalu, bersiaplah. Karena kupastikan jika aku akan meremukkan rahang kalian berdua, brengsek!"
Naruto by Masahi Kishimoto
Highschool DxD by Ichie Ishibumi
and other characters are not belongs to me
genre : Adventure, Fantasy, Action, Friendship, Romance.
Summary : Menjadi seorang healer tidaklah mudah seperti yang aku bayangkan selama ini. Diskriminasi, penghinaan, kekerasan dan masih banyak lagi adalah bumbu yang sudah dianggap biasa. Tapi, persetan dengan itu semua, sialan. Aku hanya ingin menjadi healer yang baik.
Chapter 8 : Tanpa Seorang Pun Yang Memerhatikan, Gadis Itu Memulai Rencananya.
XxxxX
Akademi Sihir Shouka Sonjoku, siapa yang tidak mengenal nama dari akademi tersebut? Akademi itu sangat tersohor di seantero kerajaan Codafata, khususnya ibu kota Edo. Baik tua atau muda, miskin atau kaya, bangsawan maupun rakyat jelata, semua pasti mengenal Akademi Sihir Shouka Sonjoku.
Akademi tersebut telah melahirkan banyak nama-nama orang kuat dan terkenal yang pernah atau sedang menduduki posisi penting di Kerajaan. Sudah tak terhitung berapa banyak kesatria sihir hebat dengan pangkat tinggi yang dihasilkan oleh Shouka Sonjoku.
Selain mereka yang aktif di bidang militer, ada banyak pula orang yang namanya bersinar di luar bidang tersebut. Politisi, diplomat, arsitek, dan masih banyak lagi bidang-bidang lain yang di dalamnya terdapat alumni akademi Shouka Sonjoku dengan kapasitas yang memumpuni.
Ada banyak orang yang selalu berpikir jika kurikulum yang diterapkan oleh Akademi Shouka Sonjoku terlalu berat dan ketat, terutama bagi mereka yang tinggal di asrama akademi. Namun, pernyataan tersebut tidaklah sepenuhnya benar.
Memang, mereka menerapkan kurikulum yang jauh berbeda dengan kurikulum sekolah atau akademi lain. Akan tetapi, akademi Shouka Sonjoku tidaklah seketat yang kebanyakan orang kira.
Faktanya, di bawah langit yang mulai menunjukkan warna jingganya ini, ada banyak siswa-siswinya yang tengah bersantai sambil melakukan kegiatan mereka masing-masing. Beberapa dari mereka ada yang melanjutkan berlatih, membaca buku, serta ada juga yang hanya sekedar bersantai-santai sambil mengobrol ringan di taman dan kafetaria akademi.
Kunci utama kesuksesan akademi yang telah berjalan sampai seratus tahun lebih ini, terdapat pada sistem dan pengawasannya. Setiap staff dan guru yang terlibat, akan selalu ditodong oleh tumpukan dokumen hasil pembelajaran yang harus dievaluasi tiap minggunya.
Bila staff dan guru adalah pionir-pionir yang akan menjalankan sistem yang telah dibuat, maka ada sebuah dewan murid yang disebut sebagai Elite Ten Council. Mereka adalah organisasi yang beranggotakan sepuluh murid terbaik yang dimiliki oleh Akademi Shouka Sonjoku. Sedangkan untuk tugas, mereka diberi mandat untuk mengawasi kinerja para staff serta mengakomodasi segala keperluan yang dibutuhkan oleh murid dalam menjalani kurikulum yang sedang berlangsung.
Selain pada poin-poin tersebut, tentu terdapat sebuah elemen lain yang juga sangatlah penting bagi roda kehidupan akademi ini. Sebuah posisi yang mengharuskannya bertarung di belakang meja dan memikirkan berbagai macam ide terobosan agar meningkatkan mutu para murid. Tentu, posisi tersebut tidak lain adalah kepala sekolah.
Pada salah satu gedung di akademi Shouka Sonjoku, terdapat sebuah gedung tinggi dengan lima lantai di pusat akademi yang seluas 180 hektar ini. Gedung tersebut dikenal dengan gedung administrasi, sebuah tempat yang menjadi jantung akademi Shouka Sonjoku.
Di salah satu ruangan yang berada di lantai kelima gedung tersebut, terdapat sebuah ruangan yang suasananya sangat kontras dengan suasana di luar sana. Selain itu, di dalam ruangan tersebut juga terdapat seorang pria dewasa yang usianya sudah menginjak lebih dari setengah abad.
Umumnya, bila di sore hari seperti ini, orang-orang akan meluangkan waktunya untuk bersantai-santai. Namun, berbeda dengan orang tersebut. Alisnya nampak tertekuk dengan raut wajah yang serius. Matanya menatap lurus ke arah tumpukan dokumen yang tengah ia baca di mejanya. Sesekali, tangannya akan membalikkan halaman-halaman dari dokumen tersebut bila kedua matanya telah selesai membaca baris terakhir pada tiap halamannya.
Meski hanya berbekal penerangan melalui cahaya jingga dari matahari yang merembes masuk melewati jendela, pria dewasa tersebut tidak menunjukkan raut terganggu sama sekali. Bahkan, tidak ada niatan sama sekali darinya untuk menyalakan lampu ruangan. Seakan-akan, dia tidak mau membuang sedetik pun waktu bekerjanya hanya untuk sekedar menyalakan sebuah lampu.
Di tengah keseriusannya menjalankan tugas sebagai seorang kepala sekolah, tiba-tiba terdengar sebuah suara ketukan pelan dari satu-satunya pintu yang ada di ruangan ini.
"Masuk," ucapnya sambil merapikan dokumen-dokumen yang sebelumnya sedikit berserakan di mejanya.
Setelah merasa mendapat konfirmasi dari sang empunya ruangan, orang yang berada di balik pintu tersebut pun membuka pintu itu secara perlahan, lalu memasuki ruangan, dan menutup pintu kembali sebelum ia benar-benar berjalan ke arah si kepala sekolah.
"Pencahayaan yang minim seperti ini benar-benar tidak baik untuk pengelihatan anda, kenapa anda tidak pernah mendengarkan saran saya sama sekali?" keluh orang tersebut.
Sebelum ia menghampiri Azazel, nama dari kepala sekolah, sosok tersebut terlebih dahulu berjalan pelan menuju tembok samping. Tangannya ia gerakkan untuk meraba-raba tembok tersebut, seolah-olah sedang mencari sesuatu yang baginya cukup penting.
Tak lama kemudian, terdengar sebuah suara petikan yang berasal dari suatu tombol. Bersamaan dengan itu, lampu di dalam ruangan ini menyala dan menyinari seisi ruangan dengan sinar putihnya.
Seakan puas dengan hasil kerjanya, sosok tersebut tersenyum ringan sambil menghembuskan napas pelan.
"Bukankah ini jauh lebih baik?"
Setelah lampu menyala, barulah wujud dari si tamu itu terlihat sepenuhnya. Seorang wanita dewasa yang terlihat menginjak usia awal 30-an. Sosoknya dibalut menggunakan setelan jas kerja berwarna abu-abu dengan kemeja putih di dalamnya. Rok span dengan panjang yang hanya sampai lutut, menjadi bawahannya. Ditambah dengan stocking hitam yang menutupi betisnya, menambah kesan feminim pada wanita tersebut.
Selain itu, rambut hitam pendeknya yang nampak cocok dengan perawakannya, membuatnya semakin terlihat seperti wanita dengan usia yang telah matang.
"Ah, mataku ... ini sungguh silau sampai-sampai mataku terasa panas," keluh Azazel sambil memegang matanya.
"Memangnya, siapa anda ini? Vampir? Tidak, bahkan vampir saja tidak akan kesakitan hanya karena cahaya lampu," timpal wanita itu yang terheran-heran dengan sikap atasannya.
"Kau seharusnya tidak menyalakan lampu tanpa seizinku, Shizune-kun."
Wanita yang diketahui bernama Shizune tersebut, tidak menanggapi ocehan atasannya yang ia rasa tidak penting sama sekali.
"Lagi pula, mengerjakan sesuatu dengan suasana remang-remang seperti barusan, bukankah itu akan membuatku semakin terlihat keren, Shizune-kun?" lanjut Azazel.
Shizune, yang sedari tadi berusaha mengabaikan ocehan tidak jelas dari atasannya, akhirnya tidak punya pilihan lain selain membalasnya.
"Sudah saya bilang, memangya anda ini siapa? Seorang remaja labil yang ingin terlihat mencolok?"
"Huh, kau terlalu kaku, Shizune-kun. Itulah kenapa kau tidak pernah populer di kalangan para lelaki dan tidak ada yang mengajakmu menikah satu pun."
Tanpa ia sadari, sebuah urat kemarahan tiba-tiba muncul di pelipisnya ketika atasannya berkata demikian. Darahnya yang terasa seperti mendidih, menumpuk di kepalanya sehingga membuat wajahnya terlihat berwarna merah.
"Saya menjadi asisten anda bukan untuk mendengar hal-hal seperti itu. Lagi pula, kenapa tiba-tiba anda membawa masalah asmara saya?"
"Hei, itu bukan masalah asmara jika kau tidak menjalin hubungan asmara dengan siapa pun," ucap Azazel dengan nada usil. "Ara ... benar juga, wanita tanpa pengalaman sepertimu tidak bisa membedakan antara persoalan asmara dengan masalah kepercayaan diri, ya?"
Shizune tidak pernah benci dengan pekerjaannya. Justru sebaliknya, ia begitu bangga karena bisa menduduki posisi strategis dalam roda administrasi akademi terkenal. Hanya saja, mempunyai atasan yang berusia 55 tahun, tetapi kelakuannya masih sama seperti remaja-remaja di awal 20 tahunan, itu lain lagi ceritanya.
"Baik-baik, lupakan saja. Aku merasa sangat bersalah saat melihatmu hampir menangis," kata Azazel.
"Sa- saya tidak menangis!" Shizune berkata dengan percaya dirinya.
Namun, karena merasa seperti ada sebuah cairan kental yang akan keluar dari hidungnya, Shizune secara spontan menyedotnya kembali dengan cukup kasar. Menyadari sikapnya yang memalukan, ia menjadi kehilangan kata-kata di depan atasannya.
"Ah, kurasa kau benar-benar akan menangis."
"Sudah ... sudah saya bilang, sa—."
"Baik-baik, aku mengerti. Jadi, ada perlu apa kali ini?"
Melihat perubahan suasana yang ditunjukkan oleh atasannya secara tiba-tiba, membuat wanita tersebut sedikit salah tingkah. Pasalnya, baru beberapa saat yang lalu, Azazel masih memasang wajah isengnya dan terus menjahili Shizune. Sekarang, orang itu tiba-tiba mengeluarkan mimik muka seriusnya, membuat seluruh wibawanya menjadi keluar seketika.
"Saya sudah membawa hasil evaluasi yang disetorkan para guru dan staff untuk minggu ini," ucap si asisten sambil menyodorkan sebuah map yang di dalamnya berisi lembaran-lembaran dokumen hasil evaluasi.
"Oh, sekarang sudah hari Jumat? Kukira masih hari Kamis."
Tanpa melihat mata Shizune, sang kepala sekolah langsung saja mengambil map tersebut dan segera membaca isi-isinya.
Meski hingga beberapa saat yang lalu ia masih berkutat dengan dokumen-dokumen yang bahkan sampai saat ini masih menumpuk di mejanya, tetapi Azazel tidak menunjukkan rasa lelah sedikit pun ketika memeriksa hasil evaluasi yang baru saja ia terima.
Ia terus membaca tiap baris kata yang tertulis dan membalik-balik tiap halaman dari dokumen tersebut. Bahkan, Shizune yang berdiri di depannya pun merasa bahwa ia saat ini tengah berada di dunia yang berbeda dengan atasannya. Maksudnya, keberadaan wanita tersebut pun sampai-sampai tidak menjadi perhatiannya sama sekali.
"Jadi, apa ada sesuatu yang lain yang ingin kau laporkan?" tanya Azazel tiba-tiba.
Meski belum sampai menyelesaikan keseluruhan isi laporan evaluasi, tetapi ia lebih memilih untuk menghentikan sejenak kegiatannya. Bagaimanapun, ia tetap merasa tidak sopan jika harus mengabaikan Shizune, bahkan meski ia adalah atasan dari wanita tersebut.
"Ini tentang Battle of Justice yang akan diselenggarakan besok. Antara Naruto Namikaze dan Sasuke Uchiha, melawan duo Sakon dan Ukon."
Mendengar penyataan Shizune, membuat sebelah alis Azazel terangkat.
"Aku sudah tahu itu. Memangnya, apa ada masalah?" tanya Azazel bingung.
"Dua hari yang lalu, mereka berdua menantang Sakon dan Ukon tepat setelah pertarungan antara Erza Scarlet dengan Diodora Astaroth selesai," ucap Shizune. "Maksud saya, tepat setelah pertarungan antara siswa tahun pertama melawan siswa tahun ketiga selesai, tiba-tiba langsung muncul tantangan Battle of Justice lainnya antara siswa tahun pertama melawan siswa tahun kedua."
Azazel akhirnya mengangguk-anggukkan kepalanya tanda bahwa ia mengerti arah pembicaraan Shizune. Ia tidak menampik kekhawatiran yang dirasakan Shizune. Pasalnya, para anak tahun pertama akan dianggap tidak mempunyai sopan santun terhadap seniornya.
Yang dilakukan oleh Erza, Naruto, dan Sasuke bisa saja dianggap sebagai tanda bahwa anak-anak tahun pertama tidak menaruh hormat terhadap pera senior. Mungkin, Erza Scarlet yang merupakan anggota Elite Ten Council akan dipandang secara berbeda. Namun, bagi Naruto dan Sasuke yang bukanlah siapa-siapa, itu bisa diartikan bahwa mereka berniat mencari masalah dengan kakak kelas. Apalagi, ini belum dua minggu sejak tahun ajaran baru dimulai.
Jika ini terus berlangsung, bukan tidak mungkin jika akan terjadi perpecahan pada tiap angkatan di senior high. Namun, Azazel mempunyai pandangan yang berbeda dalam menyikapi hal ini.
"Bukankah aku pernah bilang padamu, jika aku ingin memulai proyek itu?" tanya Azazel dengan wajah yang serius.
"Tunggu, apa anda benar-benar yakin?"
Azazel kembali mengangguk sebagai responnya terhadap pertanyaan tersebut. Sedangkan Shizune, ia berusaha menelan liurnya secara kasar untuk meredakan rasa gugup yang tiba-tiba muncul begitu saja.
"Azazel-sama, saya ingin anda mempertimbangkan itu lagi. Proyek Jewel Generation terlalu riskan. Saya sendiri sangat memahaminya karena saat itu saya masih menjadi murid di akademi dan berada pada generasi itu," ucap Shizune dengan suara yang sedikit meninggi.
Dengan napas yang terengah-engah, wanita itu melanjutkan, "jika itu gagal ... maka semuanya akan hancur. Bahkan ... bahkan ... Kakashi-san yang disebut sebagai sebuah keajaiban saja bisa kehilangan cahayanya."
Azazel terdiam mendengar perkataan Shizune. Semua yang ia katakan memang benar adanya. Dan semua itu terjadi juga karena kesalahan yang ia lakukan sendiri.
Meski tidak termasuk ke dalam proyek Jewel Generation pertama yang ia maksud, tetapi berada di generasi yang sama dengan mereka, membawa memori buruk yang selama ini selalu menghantui Shizune.
Jewel Generation, adalah sebuah proyek yang pertama kali dilakukan Azazel ketika 16 tahun yang lalu. Dinamakan Jewel Generation karena pada saat itu terdapat banyak sekali murid dengan penuh potensi pada satu generasi. Menurut desas-desus yang beredar, Azazel sendirilah yang secara diam-diam mengumpulkan murid-murid berbakat tersebut.
Namun, semakin banyak orang-orang hebat yang dikumpulkan dalam satu lingkup, maka semakin besar pula ego yang ada di dalamnya. Daripada menjadi generasi yang membawa perubahan besar bagi kerajaan, mereka justru saling menjatuhkan satu sama lain sehingga tidak sedikit korban jiwa pada generasi tersebut. Entah itu karena sabotase atau yang lainnya, tidak pernah ada bukti konkrit untuk mengungkap apa yang sebenarnya terjadi pada generasi tersebut.
Karena itulah, Jewel Generation yang merupakan proyek unggulan Azazel saat itu, justru berubah menjadi Worst Generation. Murid yang menduduki kursi pertama Elite Ten Council kala itu, Kakashi Hatake, yang dianggap sebagai keajaiban yang akhirnya muncul setelah Minato Namikaze, sekarang justru lebih dikenal sebagai Kakashi Si Penyihir Terburuk Dari Yang Terburuk.
Untuk meredam dan melindungi korban-korban yang terlibat pada kekacauan saat itu, akhirnya kerajaan Codafata dan akademi Shouka Sonjoku mengambil keputusan serius. Yaitu dengan memblokir segala informasi yang berkaitan dengan tragedi 14 tahun yang lalu. Bahkan, informasi mengenai keseluruhan anggota Elite Ten Council yang menjabat saat itu, dihilangkan secara paksa seolah itu tidak pernah terjadi.
"Aku paham maksudmu, Shizune-kun. Apa yang terjadi 14 tahun yang lalu itu memang salahku. Namun, aku sudah banyak belajar dari situ," ucap Azazel.
Saat ia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kerjanya, muncul suara eluhan dari mulutnya. Seolah, selama ini pria dewasa tersebut telah menyimpan beban yang sangat berat di punggung yang mulai dimakan usia itu.
"Kau tahu kenapa saat itu terjadi banyak kekacauan antar para murid, Shizune-kun?"
Menyadari pertanyaan dari atasannya, Shizune menggelengkan kepalanya pelan sebagai sebuah respon darinya.
"Ada tiga alasan utama. Pertama, banyak yang tidak suka dengan visi yang saat itu aku usung, sehingga kekacauan yang disebabkan para murid, banyak di antaranya yang ditunggangi dengan kepentingan oknum lain. Kedua, Bahkan meski Kakashi itu sangat kuat, dia tidak mempunyai cukup keberanian untuk menciptakan sebuah badai.
Dan ketiga, ... Sehebat apa pun Kakashi, dia akan hancur jika tidak ada orang lain yang mau menjaga punggungnya"
"Jadi, itulah alasan anda tidak memberi tahu orang lain, kecuali saya dan Kakashi-san , tentang proyek Jewel generation yang kedua ini?" tanya Shizune.
"Kau benar. Jika bergerak diam-diam lebih menguntungkan bagiku, maka aku akan melakukannya."
"Tapi, kalau begitu, ... jika kerajaan mengetahuinya, maka anda akan dianggap sebagai ...,"
Ketika Shizune hendak menyelesaikan kalimatnya, entah disebabkan oleh apa sehingga ia tidak bisa mengeluarkan kata terakhir sebagai pelengkap kalimatnya. Itu seperti terdapat sesuatu yang mengganjal di tenggorkannya sehingga kata-kata tersebut tidak bisa keluar sesuai keinginannya.
Suasana di ruangan yang cukup luas, kini terasa menjadi lebih berat meski hanya ada mereka berdua di dalamnya. Selain itu, Ketika Shizune mengatakan sesuatu seperti tadi, seakan-akan temperatur udara meningkat begitu drastis sampai membuat pelipis Azazel mengeluarkan keringat dinginnya.
"Yah, lupakan itu dulu. Di antara murid-murid di tahun pertama, siapa menurutmu yang mempunyai keberanian untuk menciptakan badai dan melawan arus?" tanyanya kepada nona asisten untuk mengurangi tensi sekaligus mengalihkan topik pembicaraan.
Shizune nampak berpikir dengan serius untuk menjawab pertanyaan Azazel. Ia tahu, ini bukan pertanyaan biasa. Selain ada hubungan dengan proyek yang dikerjakan Azazel, ini juga merupakan sebuah ujian dari atasannya untuk melihat kemampuannya dalam menilai orang lain.
'Seperti yang Azazel-sama katakan. Bila ini adalah Jewel Generation, maka pasti banyak sekali murid yang sangat berbakat di dalamnya. Jika berbicara reputasi, Erza Scarlet yang merupakan anggota Elite Ten Council adalah jawabannya. Akan tetapi, nama-nama seperti Naruto Namikaze dan Sasuke Uchiha yang menantang anak-anak tahun kedua, bisa menjadi kuda hitam nantinya.
Namun, nama-nama seperti Rias Gremory dan Jellal Fernandez yang mempunyai bakat sihir yang luar biasa, atau siswa-siswa seperti Bikou, Rugal, dan Touma Kamijou yang mempunyai kemampuan unik, jelas harus diperhatikan.'
Pada akhirnya, meski Shizune telah berpikir begitu keras, ia tetap tidak begitu yakin dengan siswa yang dimaksud oleh Azazel. Namun, ia tetap harus mengutarakan jawabannya pada atasannya tersebut.
"Jika berbicara tentang keberanian, kekuatan, dan Integritas, maka aku rasa siswa yang sesuai dengan kriteria anda adalah Erza Scarlet."
Seakan sudah menduga bahwa nama tersebut yang akan menjadi jawaban dari asistennya, Azazel pun terkekeh pelan ketika mendengarnya.
"Ji- jika bukan dia, lalu siapa menurut anda?" tanya Shizune sambil menahan rasa malunya.
Daripada menjawab pertanyaan tersebut secara langsung, Azazel lebih memilih menyerahkan sebuah lembaran ke Shizune. Lembaran tersebut adalah merupakan lembaran yang ia ambil dari laporan-laporan evaluasi tiap siswa. Dengan kata lain, lembaran yang diserahkan kepada Shizune tersebut berisi tentang murid yang Azazel yakini akan menciptakan badai dan melawan arus di akademi ini.
"Sona Sitri?" beo Shizune yang tidak mengerti. "Saya tahu bila nilai-nilai akademiknya sangatlah hebat. Namun, bukankah nilai praktiknya hanya rata-rata? Bahkan, nilai stamina dan kebugarannya ada di bawah rata-rata. Memang, kakaknya mempunyai bakat yang luar biasa dalam sihir, tetapi saya rasa ... Sona Sitri tidak menunjukkan bakat yang sama dengan kakaknya."
Sona Sitri, salah seorang siswi senior high di tahun pertama. Ia lulus dari junior high dengan skor yang terbilang rata-rata. Meski nilai akademiknya bagus, tetapi itu tidak diikuti dengan nilai-nilai lain yang berhubungan dengan praktik dan penerapan teori sihir.
Belum selesai dengan penjelasannya, Shizune melanjutkan, "selain itu, bila kakaknya dulu langsung mendaftar pada jenjang senior high, maka Sona Sitri justru mendaftar dari junior high. Itu mengindikasikan bila pendidikan yang diterapkan oleh keluarga Sitri, tidak cocok dengan dirinya."
"Kau tahu, Shizune-kun. Jika kau terus terjebak dengan pikiran kuno seperti itu, kau akan semakin tertinggal dengan pesaingmu, lho."
Ia semakin tidak mengerti dengan maksud Azazel. Bahkan, data yang ia terima saat ini sudah sangat jelas bahwa gadis tersebut tidak masuk ke dalam klasifikasi yang ditentukan oleh Azazel sendiri.
"Shizune-kun, aku ada satu pertanyaan untukmu."
"I- iya?"
"Menurutmu, siapa yang akan menang, gorila besar atau manusia yang menggunakan otaknya?"
"Dalam pertarungan langsung, tentu manusia tidak akan menang. Namun, manusia selalu menyiapkan semuanya dan mereka akan bergerak jika seluruh persiapannya telah selesai," jawab Shizune dengan lugas.
"Tepat sekali," ucap Azazel. "Orang bodoh akan bertarung begitu saja tanpa mengetahui batasannya. Sedangkan orang pintar, akan mempersiapkan segalanya sampai dia rasa dia mendapat peluang keberhasilan tertinggi."
Kali ini, Shizune sangat setuju dengan maksud Azazel. Namun, dia masih belum menangkap maksud yang ingin disampaikan oleh atasannya tersebut.
Mengerti bahwa asistennya masih belum menyadari dengan maksudnya. Azazel pun menghela napas lelah.
"Banyak orang yang mengatakan bahwa keluarga Sitri merupakan spesialis di bidang sihir air. Namun, apa kau tahu apa yang lebih menakutkan selain sihir air mereka?"
Lagi, Shizune disodorkan pertanyaan lain oleh atasannya. Namun, untuk yang satu ini, Shizune sangat paham dengan jawaban dari pertanyaan tersebut.
"Daya kerja otak mereka. Mereka mampu membuat perencanaan jangka panjang dengan tingkat presisi yang sangat mengagumkan," jelas Shizune dengan yakin.
Tepat setelah ia menjawab pertanyaan Azazel, tiba-tiba ia merasa seperti ada sengatan di otaknya. Ia berusaha menghubungkan fakta-fakta yang telah ia dapat selama ini. Umumnya, seorang bangsawan akan mendaftarkan anak-anak mereka pada jenjang senior high. Meski ada beberapa yang memilih mendaftarkan sejak junior high, tetapi itu adalah kasus yang langka.
Namun, dalam kasus Sona Sitri yang merupakan salah satu pewaris dari keluarga Sitri, entah kenapa Shizune merasa ada sebuah kejanggalan di sana. Jika bicara soal kebiasaan, orang-orang dari keluarga Sitri selalu bertindak dengan perhitungan yang sangat matang. Karena itu pula, mereka terkenal sebagai politisi yang sangat handal.
"Jangan-jangan, maksud anda ...,"
"Ya. Akademi Shouka Sonjoku adalah tempat berkumpulnya anak-anak dari berbagai belahan negeri. Sistem yang kita pakai, bisa dibilang sebuah miniatur dari sistem kerajaan. Yang ingin kukatakan adalah, bagaimana bila dari awal gadis tersebut sengaja masuk sejak junior high, dan berniat untuk mengumpulkan informasi serta melakukan banyak persiapan sebelum melakukan eksekusi rencananya?"
"Namun, bukankah fakta bahwa ia masuk sejak junior high saja tidak cukup untuk menarik kesimpulan seperti itu?" tanya Shizune yang masih belum yakin.
"Ya, tentu saja itu belum cukup. Akan tetapi, aku pernah mengonfirmasi langsung ke orang tua Sona Sitri, bahwa gadis itu memaksa masuk sejak junior high atas kehendaknya sendiri. Mereka juga mengatakan, dengan kemampuannya saat itu, Sona-kun seharusnya tidak merasa kesulitan sama sekali bila harus mendapat pelatihan dasar-dasar sihir dari keluarganya."
Setelah mendengar penjelasan panjang dari Azazel, Shizune mau tidak mau harus dibuat terperanjat. Selama ini, ia selalu memerhatikan data-data para siswa. Namun, ia tidak pernah menyangka bahwa ada kemungkinan gadis Sitri tersebut menyiapkan sebuah rencana. Dari segala kemungkinan yang ada, dia tidak pernah berpikir bahwa dia dapat kecolongan oleh seorang siswa.
'Benar kata Azazel-sama, jika aku tidak membiarkan pikiranku terbuka, aku bisa-bisa tertinggal oleh orang-orang seperti Sona Sitri.'
"Selain itu ...,"
Mendengar bahwa atasannya ingin mengatakan sesuatu, Shizune harus bersiap membuka telinganya lebar-lebar. Karena wanita itu yakin bahwa yang akan dikatakan oleh atasannya, merupakan sebuah pernyataan yang mungkin tidak pernah Shizune pikirkan. Karena bagaimanapun, Azazel adalah orang yang sudah kenyang dengan segala pengalaman. Selain itu, Shizune yakin jika Azazel adalah tipe orang yang akan menilai orang lain dengan tingkat akurasi yang tinggi.
"... sejak awal aku melihat Sona-kun, aku merasa bahwa dia mempunyai sebuah ambisi besar yang sulit dijelaskan. Aku juga yakin, bahwa gadis itu akan segera menunjukkan taringnya. Jika itu terjadi, maka pengaruhnya pasti akan jauh lebih besar dari Erza Scarlet."
XxxxX
Di sudut lain di Akademi Sihir Shouka Sonjoku, atau lebih tepatnya di salah satu kafetaria yang ada di sana. Nampak banyak siswa-siswi yang saling bercengkrama satu sama lain. Suasana yang sangat ringan dan bersahabat, seolah tidak menyadari masalah apa saja yang sedang dihadapi oleh para atasan yang mengatur jalannya roda administrasi akademi ini.
Di sebuah meja yang sengaja diletakkan di emperan kafetaria tersebut, terdapat seorang gadis dengan paras cantik yang tengah duduk santai sambil menikmati minumannya. Sesekali, akan terdengar suara senandung pelan yang keluar dari mulutnya.
Ketika angin sepoi-sepoi yang datang entah dari mana, membuat rambut pendek sebahu miliknya bergoyang mengikuti irama sang angin. Debu-debu kecil yang terbang dibawa oleh angin, beberapa ada yang menempel di kacamata yang bertengger di batang hidung gadis tersebut.
Meski begitu, ia tidak menunjukkan raut wajah terganggu sama sekali. Ia justru terus menikmati minumannya dalam kesendirian, sambil melihat-lihat pemandangan sekitar jalanan akademi di depannya, tanpa ada seorang pun yang mengganggu.
Sudah tidak terhitung berapa banyak murid lain yang berlalu lalang melewati jalanan tersebut. Meski yang lewat di depannya hanyalah orang-orang acak yang tidak ia kenal sama sekali, tetapi otaknya yang brilian secara otomatis mampu mengingat wajah dari orang-orang tersebut.
Di antara banyaknya orang yang berlalu-lalang, ada dua sosok asing yang menarik perhatiannya. Orang tersebut adalah dua siswa laki-laki yang sejak tadi telah berlarian menggunakan setelan olahraga akademi mereka.
Di antara semua orang yang melewati jalanan tersebut, dua orang itu bisa dibilang merupakan sosok yang paling mencolok. Selain mereka selalu berlarian menggunakan seragam olahraga, penampilan fisik mereka pun terbilang susah dilupakan.
Orang pertama adalah siswa laki-laki dengan rambut pirang jabrik. Entah itu dia yang salah lihat atau memang benar adanya, tetapi gadis tersebut merasa seperti ada sesuatu yang mirip dengan kumis kucing di masing-masing pipi siswa pirang tersebut.
Sedangkan siswa yang kedua, adalah seorang remaja seusia mereka. Dia mempunyai rambut berwarna hitam layaknya seorang emo, dengan wajah yang entah kenapa membuat gadis itu ingin segera memukulnya. Selain itu, ada sesuatu yang sangat mencolok dari siswa emo tersebut.
Entah mereka sedang melakukan adegan komedi atau semacamnya, tetapi ia yakin bahwa si pirang akan meneriaki si emo untuk jangan tersesat. Kemudian, di detik berikutnya mereka akan bertengkar tidak jelas.
'mereka berdua lewat lagi, huh? Sudah yang keberapa kalinya ini? Empat? Apa yang mereka lakukan? Berlatih sekaligus Lari-lari sore? Atau sekedar melakukan pentas komedi jalanan?'
"Sona-sama."
Ketika gadis tersebut merasa ada seseorang yang memanggil namanya, ia segara menoleh mengikuti sumber suara berasal. Keberadaan seorang gadis lain tertangkap oleh indra pengelihatannya. Seorang gadis dengan perawakan sedikit lebih tinggi darinya.
Selain tinggi badannya, perbedaan yang paling mencolok adalah adalah panjang rambut mereka berdua, dan sepasang beban yang menggantung di dada mereka masing-masing.
"Tsubaki," sapa balik gadis bernama Sona.
Keberadaan gadis bernama Tsubaki, membuat Sona sepenuhnya mengabaikan dua orang aneh yang sejak tadi selalu berlarian di depannya.
"Bagaimana?" tanya Sona.
"Saya telah menemui kursi kedua dari Elite Ten Council, dan dia menyetujui proposal rencana yang kita buat."
"Kau tidak menceritakan isi rencana kita yang sebenarnya kan, Tsubaki?"
"Tidak. Saya hanya mengatakan bahwa kita berniat untuk memperbaiki cara berpikir orang-orang," ujar Tsubaki dengan yakin.
Sona yang mendengar itu, tak kuasa menahan bibir mungilnya agar tidak menyunggingkan senyum. Akan tetapi, kemajuan yang ia peroleh saat ini benar-benar membuat dadanya seperti terisi oleh ribuan kupu-kupu yang beterbangan.
"Ah, ada sesuatu yang ingin saya tunjukkan juga."
Perkataan Tsubaki yang secara tiba-tiba menginterupsinya, itu sedikit mengganggu euforia yang saat ini ia rasakan. Namun, ia tidak mempermasalahkan hal sepele seperti itu. Lagi pula, euforia ini hanyalah sesaat. Mendapatkan persetujuan dari kursi kedua Elite Ten Council hanya salah satu langkah kecil baginya. Masih banyak tantangan lain yang harus segera ia eksekusi di masa depan.
Beberapa detik kemudian, Tsubaki menyodorkan sebuah poster yang sebelumnya telah disebarkan oleh Klub Jurnalistik akademi Shouka Sonjoku. Tajuk yang ditulis besar pada poster tersebut, tertulis 'Perjuangan Bangsawan Cacat dan Orang Desa Untuk Mencari Harga Diri Mereka'.
'Mereka berdua yang sejak tadi berlarian itu, kan?' batin Sona yang menyadari identitas dari dua orang aneh yang ia temui.
Sambil membaca isi poster, Sona juga mendengarkan informasi-informasi yang saat ini sedang Tsubaki katakan sebagai data pendukung untuk poster tersebut.
"Besok, akan diadakan Battle of Justice antara Naruto Namikaze dan Sasuke Uchiha dari tahun pertama, melawan duo Sakon dan Ukon dari tahun kedua."
"Jadi, mereka adalah orang yang ribut-ribut setelah pertarungan Erza-san itu, ya?" gumam Sona. "Naruto Namikaze, bukankah dia sangat mirip dengan Minato-sama?"
"Eh?"
"Mereka sama-sama mempunyai nama Namikaze. Jangan-jangan—," gumam Sona sambil mencubit dagunya. "Tsubaki, bantu aku menyelidiki hubungan antara Naruto Namikaze dengan Minato Namikaze. Jika dugaanku benar, dia bisa menjadi aset berharga untuk rencana besar kita. Bukan hanya Namikaze, kita juga harus bisa mendapatkan Uchiha ini."
"Baik, Sona-sama." Ucap Tsubaki sambil tertegun saat melihat perubahan suasana hati yang dimiliki oleh tuannya.
Dengan menatap lurus ke arah poster yang menampilkan wajah Naruto dan Sasuke, Sona harus kembali menahan sebuah seringai yang berusaha muncul di wajah cantiknya.
"Naruto Namikaze dan Sasuke Uchiha, ... jadikan mereka berdua sebagai target utama kita."
Bersambung
Author Note : Yahallo ... saya kembali lagi dengan chapter 8. wow, saya tidak menyangka jika fict ini akan tembus sampai 100 review. terima kasih kepada semuanya yang telah mendukung fict ini.
Di chapter ini, saya mengubah sudut pandang penulisan saya. jika sebelumnya saya selalu memakai sudut pandang orang pertama, maka sekarang saya menggunakan sudut pandang orang ketiga serba tahu. ini sesuai dengan yang saya tulis di author note chapter 5, saya akan mengubah sudut pandang sewaktu-waktu, sesuai dengan kondisi yang ada di chapter tersebut.
sebenarnya, setiap sudut pandang itu punya keuntungan tersendiri. misal, di sudut pandang orang pertama, saya bisa dengan leluasa mengeksplor sifat karakter utama saya dan mengembangkannya lebih mudah. namun, apa yang sedang dipikirkan karakter lain, tidak akan ditulis secara gamblang, dan membiarkan para pembacanya menerka-nerka tentang apa yang karakter lain pikirkan atau semacamnya. sedangkan ketika saya menggunakan sudut pandang orang ketiga serba tahu, saya bisa mengekspresikan semua karakter, tapi saya tidak bisa mendalami lebih jauh tentang sifat karakter tersebut (khususnya karakter utama saya).
Oke, masuk ke pembahasan isi chapter. seperti yang saya bilang, sebenarnya isi utama dari arc ini itu bukan pada pertarungan antara Narusasu melawan sakonukon. ada sebuah set up lain yang saya siapkan di arc ini, dan set up tersebut akan menunjukkan konflik utama yang ada di fict ini. jadi, bisa dibilang kalau pertarungan narusasu hanyalah bumbu penyedap dalam arc ini. Lalu, apa sajian utama di arc ini? tenang, nanti akan terlihat di penghujung arc.
Lalu, sesuai yang saya katakan, arc ini berusaha saya isi dengan set up yang menjadi titik awal cerita ini akan bergereak. dan set up yang saya maksud, saya awali semuanya di chapter ini. mulai dari dialognya Azazel dengan Shizune, hingga rencana Sona, semua sudah saya pikirkan.
Salin itu, semoga tidak ada yang bingung dengan jewel generation. jadi, ada dua proyek, proyek pertama itu melibatkan angkatannya Kakashi. sedangkan proyek kedua, menjadi salah satu konsentrasi utama pada fict ini.
Sebenarnya, saya berniat mengisi chapter ini tentang sedikit info latar belakang ibu Naruto, alias Kushina. jujur saja, dari banyak review yang masuk, tidak ada satu pun yang menanyakan tentang keberadaan Kushina. padahal, di chapter 1 pernah aku singgung kalau Kushina adalah salah satu orang yang disegani, tapi setelahnya aku tidak pernah menyinggung kembali namanya. beda sama minato yang sudah beberapa kali aku singgung sebagai jenderal termuda, kushina sama sekali tidak pernah aku sebut sebagai orang kuat seperti minato. maksudku, tidak ada yang tertarik dengan kushina gitu? masak iya beberapa review dan pm yang masuk cuma menanyakan tentang kakashi aja wkwk.
Oke, cukup dengan itu. ada bebrapa yang tanya via pm tentang latar belakang kakashi. nah, sekarang saya bahas itu guru tidak jelas. bagaimana? aku harap kalian puas dengan sedikit deskripsiku tentang kakashi.
Lalu, ada sebuah PM yang masuk, yang menurut saya harus saya luruskan. meskipun saya sudah membalas PM tersebut, saya tetap akan menulis di sini karena saya rasa ini penting untuk meluruskan kembali pada siapa pun yang mungkin masih salah paham. jadi, namikaze itu bukan sebuah keluarga bangsawan atau pun klan besar. namikaze hanya keluarga biasa, keluarga rakyat jelata. namun, pada kasus ini, pernah ada dua namikaze yang bisa menemapti posisi penting di militer kerajaan, yaitu jiraiya dan minato. sedangkan untuk tsunade, dia itu dulunya anggota dari keluarga bangsawan yang sangat berpengaruh. hanya saja dia mengganti namanya jadi namikaze setelah menikah dengan jiraiya.
Oke, itu aja ulasan dariku. Saya ucapkan terima kasih bagi yang telah membaca dan meninggalkan review. jika berkenan, tolong kritik dan saran yang membangun untuk perbaikan cerita di chapter-chapter yang akan datang. sekian dan terima kasih, sampai bertemu di chapter selanjutnya.
