"Jadi, mereka adalah orang yang ribut-ribut setelah pertarungan Erza-san itu, ya?" gumam Sona. "Naruto Namikaze, bukankah dia sangat mirip dengan Minato-sama?"

"Eh?"

"Mereka sama-sama mempunyai nama Namikaze. Jangan-jangan—," gumam Sona sambil mencubit dagunya. "Tsubaki, bantu aku menyelidiki hubungan antara Naruto Namikaze dengan Minato Namikaze. Jika dugaanku benar, dia bisa menjadi aset berharga untuk rencana besar kita. Bukan hanya Namikaze, kita juga harus bisa mendapatkan Uchiha ini."

"Baik, Sona-sama." Ucap Tsubaki sambil tertegun saat melihat perubahan suasana hati yang dimiliki oleh tuannya.

Dengan menatap lurus ke arah poster yang menampilkan wajah Naruto dan Sasuke, Sona harus kembali menahan sebuah seringai yang berusaha muncul di wajah cantiknya.

"Naruto Namikaze dan Sasuke Uchiha, ... jadikan mereka berdua sebagai target utama kita."


Naruto by Masahi Kishimoto

Highschool DxD by Ichie Ishibumi

and other characters are not belongs to me

genre : Adventure, Fantasy, Action, Friendship, Romance.

Summary : Menjadi seorang healer tidaklah mudah seperti yang aku bayangkan selama ini. Diskriminasi, penghinaan, kekerasan dan masih banyak lagi adalah bumbu yang sudah dianggap biasa. Tapi, persetan dengan itu semua, sialan. Aku hanya ingin menjadi healer yang baik.

Chapter 9 : Perjudian.


XxxxX

Hari ini akhirnya tiba. Ketika pertama kali menginjakkan kaki di akademi ini, aku tidak pernah berpikir bahwa aku akan terlibat dengan sesuatu seperti ini. Maksudku, aku datang kemari karena ingin memenuhi keinginan kakek dan nenekku. Bukan hanya itu, aku hanya ingin menjadi siswa yang menimba ilmu dengan benar dan normal. Bukan justru bertarung dengan kakak kelas seperti ini.

Namun, apa boleh buat, 'kan? Bahkan, meskipun aku suka menganggap sebuah masalah sebagai sesuatu yang bukan masalah agar itu tidak menjadi masalah, tetapi tetap saja ada beberapa hal yang tidak dapat dihindari begitu saja. Seperti sesuatu layaknya harga diri orang-orang yang telah merawat dan membesarkanmu, misalnya.

Yah, meskipun aku telah berbesar mulut dengan mengatakan sesuatu seperti harga diri atau semacamnya, itu bukan berarti aku benar-benar percaya diri dengan kekuatanku. Lawanku kali ini adalah sepasang saudara kembar dari tahun kedua senior high. Tentu saja, dari segi pengalaman pun baik aku atau Sasuke sangatlah berbeda jika dibandingkan dengan mereka.

Bahkan, meskipun aku berusaha menyugesti pikiranku sendiri bahwa kemampuanku berada di tingkat yang lebih hebat dari mereka, tetapi tetap saja ada banyak aspek yang membuat mereka berada di atas angin daripada kami.

Abaikan tentang pengalaman yang sudah jelas bahwa pengalaman yang kami miliki lebih sedikit dari mereka. Sebagai saudara kembar, mereka pasti mempunyai chemistry yang jauh lebih baik daripada aku dan Sasuke. Dalam pertarungan kelompok, tidak bisa dipungkiri bahwa chemistry adalah poin yang sangat krusial yang dapat menentukan jalannya pertandingan.

Meskipun kami berdua telah memutar otak berkali-kali, tetap saja kami tidak dapat menemukan jalan keluar untuk mengantisipasi kerja sama mereka. Bahkan, kadang kala aku merasa seperti otakku tiba-tiba berhenti bekerja ketika aku terlalu banyak memikirkannya.

Dengan kata lain, saat ini aku benar-benar gugup!

Suhu hangat yang telah diatur sedemikian rupa di dalam salah satu ruang tunggu di Colloseum, tidak dapat menenangkan perasaanku sama sekali. Justru sebaliknya, keringat dingin ini terus mengalir keluar dari kedua telapak tanganku.

"Na- Naruto-kun, tenanglah. Co- co- coba tarik napas dalam-dalam, la- lalu keluarkan."

Aku sangat menghargai usaha Megumi yang sedang mencoba untuk menenangkanku. Akan tetapi, justru sikapnya yang seperti itu yang membuat diriku semakin merasa buruk.

"A- anooo, Megumi Tadokoro-san. A- aku senang kau mengkhawatirkan kami. Akan tetapi, bi- bisakah kau tenangkan dirimu juga?"

Sungguh, ini bukan berarti aku tidak menghargai kebaikan Megumi atau semacamnya. Seperti yang aku bilang, melihat mata Megumi yang seperti berputar-beputar kebingungan, justru membuatku lebih gugup.

"Tenang saja, akan kupastikan mereka terbakar sepenuhnya dengan sihir apiku."

Aku tidak tahu dari mana datangnya kepercayaan diri yang dimiliki Sasuke itu. Memang sih, memiliki kepercayaan diri juga merupakan stimulasi yang bagus untuk membangun suasana. Hanya saja, aku bukanlah orang idiot yang tidak dapat melihat realita sama sekali.

Semakin kupikirkan tentang cara untuk mengalahkan mereka berdua, semakin hilang pula kepercayaan diriku.

"Lebih baik, kau tepati ucapanmu itu, Uchiha. Jika sampai kau membuat repot Namikaze-san, lihat saja akibatnya nanti."

"Hei, burung kecil. Kau cukup diam dan lihat saja. Lagi pula, kenapa kau ada di sini?"

"Siapa yang kau panggil burung kecil, sialan?" balas Ravel Phenex ketus karena tidak terima dengan panggilan yang diberikan oleh Sasuke.

"Bukan sialan, tapi Sasuke," balas Sasuke lagi.

Aku sedikit tidak yakin dengan apa yang terjadi pada Phenex ojou. Namun, beberapa hari setelah pelatihan dungeon dua minggu yang lalu, dia berangsur-angsur mulai melunak. Entah sejak kapan, dia bahkan menjadi lebih sering bergaul dengan kami.

Yah, meskipun begitu … sikap ojou-sama yang ia miliki tetaplah terasa kental.

Selama kami masih terus berdebat tentang sesuatu seperti cara mengalahkan lawan kami atau pun cara menghilangkan rasa gugup, tiba-tiba terdengar sebuah suara yang keluar dari sebuah batu orb kecil yang tergantung pada sudut tembok ruang tunggu kami.

"Untuk seluruh partisipan Battle of Justice, waktu persiapan tersisa lima menit lagi. Sekali lagi saya ingatkan, waktu persiapan tersisa lima menit lagi. Para siswa yang tidak terlibat dengan pertarungan, dipersilahkan meninggalkan ruang tunggu dan menuju ke tribun penonton yang telah disediakan."

Menyadari bahwa batas waktu di mana Megumi dan Phenex ojou diperbolehkan memberi dukungan moril pada kami telah habis. Mereka pun beranjak pergi meninggalkan ruang tunggu tempat kami mempersiapkan segalanya.

"Na- Namikaze-san, berjuanglah, oke?" ucap Phenex ojou dengan wajah yang sedikit memerah. "Lalu, Uchiha. Aku serius akan menghajarmu jika kau hanya menjadi beban."

"Na- Na- Naruto-kun dan Sa- Sa- Sasuke-kun, ja- jangan lupa me- menggambar karakter manusia di tangan dan telan gambar itu, o- oke?" ucap terakhir Megumi sebelum pamit.

Serius, aku tidak tahu dari mana asalnya menelan karakter manusia bisa dapat meringankan rasa gugup. Namun, sebagai upaya untuk mengapresiasi usahanya dalam mendukung kami, aku dan Sasuke pun hanya bisa memasang senyum canggung untuk membalas Megumi.

"Tadokoro, ayo pergi."

Bersamaan dengan ajakan pergi dari Phenex ojou, akhirnya mereka berdua benar-benar meninggalkan kami berdua. Di dalam ruangan yang kira-kira berukuran 7×8 meter ini, hanya tersisa aku dan Sasuke. Udara lembap kembali menghampiri kami berdua. Bahkan, dalam kesunyian ini pun aku dapat mendengar suara dari jarum jam yang terus berdetak setiap kali jarum itu bergerak.

"Kurasa, Ravel Phenex itu menyukaimu, Naruto."

Sudut alisku sedikit tertarik ke atas ketika mendengar ucapan Sasuke. Maksudku, apa dia tidak bisa membaca suasana hatiku yang sangat gugup? Apa-apaan dia yang tiba-tiba membahas sesuatu seperti perasaan seorang gadis?

"Yah, aku juga berpikir seperti itu, sih," balasku dengan santainya.

Aku bukan orang bebal yang tidak dapat membaca perasaan orang lain. Justru sebaliknya, aku ini termasuk orang yang sangat peka. Karena bagaimanapun, seorang dokter harus dituntut untuk dapat membaca perasaan pasien mereka.

Dalam kasus Phenex ojou, memang ketika baru pertama kali keluar dari pelatihan dungeon, ia sesumbar bahwa ia mempunyai andil besar dalam mengalahkan sekelompok kobold. Akan tetapi, setelah beberapa hari kemudian, dia mendatangiku dan meminta maaf padaku sambil sedikit menundukkan kepalanya.

Mulai dari situ, dia berubah menjadi gadis yang lebih baik kepadaku. Bahkan, sikap arogannya pun mulai berkurang perlahan.

"Jadi, kau akan menerimanya kalau dia mengajakmu berkencan?" tanya Sasuke.

"Tidak, aku tidak akan pergi kencan dengan Phenex ojou. Kau tahu, aku ini sebenarnya lebih suka dengan onee-san berdada besar, lho."

"Ah, seorang wanita dewasa yang matang dan akan selalu memanjakanmu, ya? Aku sangat mengerti perasaanmu, Naruto," ucap Sasuke sambal mengangguk-angguk dengan mata yang terpejam.

"Benar, 'kan? Itu sangat hebat, 'kan?"

Aku tidak tahu kenapa pembicaraan ini justru berujung kepada pembahasan fetish kami masing-masing. Akan tetapi, aku senang karena ini bisa sedikit meringankan rasa berat di dalam hatiku.


XxxxX

Suasana riuh terdengar dengan jelas dari bangku tribun penonton di dalam Colloseum. Berbagai pembahasan mulai dari para murid yang berusaha menganalisa jalannya pertandingan, sampai sesuatu seperti pertaruhan pun ramai diperbincangkan oleh para murid yang hadir.

Meskipun memegang predikat sebagai akademi paling prestisius di seluruh pelosok kerajaan Codafata, lantas tidak menghalangi niat para siswa untuk melakukan perjudian dalam pagelaran Battle of Justice. Bahkan, pertaruhan antar siswa ini dianggap sesuatu yang biasa dan tidak melanggar nilai-nilai peraturan dari akademi.

"Aku bertaruh 10,000 Ryo untuk kemenangan Sakon dan Ukon."

"Kalau begitu, biarkan aku memberikan seluruh uangku untuk kemenangan mereka berdua juga."

"Hahahaha, kalau kalian semua bertaruh untuk Sakon dan Ukon, bagaimana pertaruhan ini bisa berlanjut?"

"Tentu saja, bodoh. Memangnya, ada orang waras yang akan bertaruh untuk Uchiha cacat dan anak desa itu?"

Seperti itulah reaksi para siswa yang akan memulai pertaruhan dalam pertandingan kali ini.

Meskipun terdengar meremehkan, tetapi logika yang mereka gunakan sangatlah masuk akal. Jika itu dalam pertaruhan, hanya ada dua pilihan yang ada. Antara menang atau kalah. Dalam menentukan pilihan, tentu saja akan ada bursa taruhan yang dirilis oleh agen perjudian tentang peluang kemenangan masing-masing kubu.

Di atas kertas, peluang kemenangan yang dimiliki oleh Uchiha yang tidak dapat menggunakan sharingan dan anak desa yang latar belakangnya tidak jelas, hanya sebesar 6%. Dalam perjudian yang semuanya hanya bergantung dengan data dan persentase, tentu saja memilih kubu dengan peluang tertinggi adalah pilihan yang paling logis.

"Aku bertaruh untuk Naruto Namikaze dan Sasuke Uchiha."

Seluruh siswa yang tengah asik dengan pertaruhan mereka, tiba-tiba harus dibuat kaget ketika mendengar siswa lain yang tiba-tiba datang dan membuat pertaruhan yang cukup mengejutkan.

Seluruh pasang mata melihat ke arahnya dengan alis yang mengerut. Tidak ada yang aneh dari penampilannya. Dia mengenakan seragam yang sama dengan mereka semua. Mungkin, satu-satunya yang aneh dari siswa tersebut adalah perawakannya yang sedikit jangkung, dengan rambut kuning kecoklatan yang ia biarkan tumbuh panjang. Selain itu, alisnya yang terkesan unik tersebut menambah kesan aneh dari orang tersebut.

"Hawkins-san, kau bertaruh untuk mereka? Apa kau sudah meramalkan kemenangan mereka?"

"Tidak, aku tidak meramalkan mereka. Lagi pula, kartu tarot tidak dapat memberikan ramalan secara pasti."

Mengabaikan tatapan orang lain yang memandang aneh dirinya, Hawkins dengan tenang menghampiri orang-orang yang bertaruh tersebut dan menuliskan namanya sebagai orang yang bertaruh.

"Hei, kau anak tahun pertama, 'kan? Pergilah ke tempatmu, dan buatlah taruhan sendiri di sana." Ucap salah seorang siswa dari tahun kedua.

"Sudahlah, biarkan saja dia bertaruh di sini. Kita tidak perlu repot-repot pergi ke agen judi dan memberikan uang kita ke mereka."

"Benar. Selain itu, coba lihat. Dia memasang dengan nilai yang tinggi."

Dalam dunia perjudian, ada dua metode judi yang bisa digunakan. Yang pertama melalui agen judi yang sudah terdaftar resmi di Akademi, dan yang kedua adalah judi ilegal yang biasa dilakukan para murid secara langsung.

Jika Peluang kemenangan terlalu timpang seperti kasus ini, umumnya agen judi akan mengambil alih agar perjudian tetap bisa berjalan. Namun, syarat yang harus diambil adalah, agen judi akan mengambil komisi sebesar 60% dari nilai taruhan. Jadi, meskipun mereka kalah, mereka tidak akan kehilangan uang terlalu banyak.

"Kau yakin dengan ini, Hawkins-san?" tanya seorang teman Hawkins yang sedari tadi mengekorinya.

"Tentu."

Setelah selesai dengan segala urusannya, Hawkins beranjak pergi meninggalkan kerumunan orang-orang berjudi tersebut. Baginya, berjudi dengan mereka tidak masalah sama sekali. Meskipun ia kalah dalam berjudi, itu bukan masalah besar baginya. Ia selalu punya rencana jika itu terjadi.

Karena bagaimanapun juga, di angkatannya pun dia dijuluki sebagai Hawkins Basil si Dukun Penipu.

"Omong-omong, tidak biasanya kau bertaruh tanpa melihat kartu tarot terlebih dahulu, Hawkins-san?"

Hawkins terdiam mendengar perkataan temannya itu. Memang benar, meskipun ia punya segudang teknik tipu muslihat, tetapi ia selalu bergantung dengan hasil ramalannya sendiri dalam mengambil keputusan penting.

"Berjudi itu hanya sedikit hiburan bagiku. Yang paling membuatku penasaran, adalah apa yang akan mereka berdua lakukan untuk memenangkan pertarungan ini," balas Hawkins.

Jawaban itu kembali menegaskan tentang tujuan awalnya ia datang kemari. Meskipun temannya itu tidak mengerti sama sekali dengan ketertarikan tidak berdasar yang dimiliki Hawkins, tetapi ia tetap saja menganggukkan kepalanya seolah ia mengerti segalanya.


XxxxX

Di lain sisi, di tengah keramaian yang berada di kawanan siswa-siswi tahun pertama senior high, terdapat dua gadis yang duduk dengan tenang. Mereka berdua terlihat tidak tertarik dengan topik yang murid-murid lain sedang bahas.

Apa lagi memangnya kalau bukan soal taruhan?

Bagi mereka yang tergila-gila dengan uang, ketimpangan peluang kemenangan yang begitu besar sudah seperti sebuah rejeki yang tiba-tiba turun dari langit. 94% berbanding 6%, dari angka itu saja sudah muncul gambaran yang begitu jelas tentang kubu mana yang akan muncul sebagai pemenang.

Sona Sitri dan Tsubaki Shinra, dua gadis yang telah bersahabat sejak mereka masih kecil itu nampak tidak terganggu dengan keramaian yang ada.

"Saya sedikit heran, bukankah memberi kemungkinan 94% untuk kemenangan Sakon-senpai dan Ukon-senpai itu terlalu berlebihan?"

"Agen perjudian merilis itu semua berdasar dari data yang ada. Tentunya, mereka bisa mempertanggung jawabkan jika ada yang protes tentang bursa judinya."

"Tapi, Sona-sama—."

Sebelum Tsubaki menyelesaikan ucapannya, Sona terlebih dulu memotong ucapan gadis tersebut.

"Selain itu, tolak ukur dari seorang Uchiha adalah kekuatan matanya. Sasuke Uchiha yang tidak dapat menggunakan sharingan, tentu saja akan berdampak besar terhadap penilaian dari agen perjudian."

Sona sedikit menghela napas lalu melanjutkan, "Namun, ada beberapa hal yang tidak bisa begitu saja didapatkan oleh agen perjudian. Seperti tentang kemampuan bertarung mereka. Bagaimanapun juga, mereka masuk ke akademi ini langsung ke jenjang senior high. Jadi, terlalu dini jika menyimpulkan bahwa mereka adalah kayu yang tidak berguna."

Tsubaki sangat mengerti maksud yang ingin disampaikan oleh Sona. Meskipun cara berpikir dari seorang Sona Sitri sangatlah rumit, tetapi tetap saja Tsubaki bisa mengerti apa yang sedang temannya itu coba lakukan.

"Lalu, jika ternyata mereka berdua benar-benar kalah, apa yang anda lakukan, Sona-sama? Apakah anda tetap dengan rencana awal anda?" tanya Tsubaki.

"Tentu saja. Menang atau kalah bukan menjadi tolak ukurku. Bahkan, sejujurnya aku berharap mereka berdua akan kalah. Jika Namikaze dan Uchiha kalah, itu akan semakin memudahkanku untuk memanfaatkan mereka berdua," balas Sona sambil membetulkan letak kacamatanya.

Mendengar jawaban Sona, Tsubaki mau tidak mau harus dipaksa untuk menelan ludahnya secara kasar. Pasalnya, tatapan menusuk yang ditunjukkan Sona benar-benar terasa begitu dingin hingga bisa menusuk ke dalam tulang-tulangnya.

Meski begitu, Tsubaki tetap berusaha menguatkan dirinya agar tetap berada di samping Sona.

Bagi Tsubaki, keberadaan Sona lebih dari sekedar teman atau sahabat biasa. Sona yang merupakan bangsawan Sitri yang merupakan seorang bangsawan terpandang di ibu kota, sudah berkali-kali mengabaikan harga dirinya dan menyelamtkan Tsubaki.

Oleh karena itu, jika ada sesuatu yang bisa ia lakukan, maka ia akan lakukan jika itu untuk seorang Sona Sitri. Bahkan jika itu berarti ia akan melawan raja dan para pengikutnya, Tsubaki tidak akan pernah lari dari sisi gadis dengan tubuh mungil tersebut.

Di sela-sela keramaian antara seluruh pengunjung Colloseum, tiba-tiba terdengar suara seorang gadis dengan nyaringnya.

"Halo, semuanya! Kembali lagi denganku, si penyihir imut idola semua orang di Akademi Shouka Sonjuku, Lefay Pendragon desu!"

Setelah suara nyaring dan ceria dari gadis yang mengaku bernama Lefay itu, tiba-tiba hampir seluruh murid laki-laki bersorak dengan riangnya sebagai balasan untuk gadis itu.

"Terima kasih karena sudah menunggu dengan tenang. Seperti biasa, Lefay akan sedikit memandu jalannya pertandingan dari ruang siaran Colloseum. Jadi … tolong kerja samanya, ya? Jika kalian menjadi murid yang baik, maka Lefay akan senang!"

Kembali, setelah selesai berbicara seperti itu, suara sorak-sorai terdengar begitu nyaring dari para murid laki-laki. Bahkan, ini lebih ramai dari yang sebelumnya.

"Lefay-chan, aku menyanyangimu."

"Lefay-chan, menikahlah denganku."

"Lefay-chan, aku akan menjadi kesatria sihir yang hebat demi dirimu."

"Tolong injak aku dengan kaki kecilmu, Lefay-chan!"

"Izinkan aku untuk meminum air liurmu, Lefay-sama!"

Yah, kira-kira seperti itulah sorakan-sorakan yang terdengar dari para lelaki. Tidak, mari lupakan saja teriakan dari mereka yang sedang memuja dewinya itu. Karena di tengah Colloseum sana, sudah muncul dua orang dengan perawakan yang sangat identik.

Tidak diragukan lagi, mereka adalah Sakon dan Ukon, duo yang akan bertarung beberapa saat lagi. Hal itu pun dikonfirmasi langsung oleh Lefay-chan, dewi milik semua orang.

"Baik, yang baru saja masuk ke dalam arena itu adalah si kembar Sakon dan Ukon. Salah satu dari duo yang mempunyai kerjasama paling baik di seluruh siswa tahun kedua senior high. Bahkan, para anggota Elite Ten Council pun mengakui kerjasama mereka berdua."

Suara gemuruh penuh tepuk tangan dan dukungan menggema di seluruh Colloseum untuk menyambut kemunculan Sakon dan Ukon. Meskipun begitu, kebanyakan mereka tidak peduli dengan kemunculan si duo kembar tersebut. Yang mereka pedulikan hanyalah, mereka berharap agar si kembar itu memenangkan pertarungan ini.

"Lalu, selanjutnya kita mempunyai duo penantang hari ini. Mereka disebut sebagai bangsawan yang cacat dan bocah desa yang sedang mencari harga dirinya— eh, tunggu. Bukannya headline ini sedikit kasar? Tapi, terserah, deh. Mari kita sambut saja, Naruto Namikaze dan Sasuke Uchiha."

Berbeda dengan Sakon dan Ukon yang mendapat sambutan hangat. Naruto dan Sasuke justru mendapat ejekan dari banyak orang. Kebanyakan dari mereka mengucapkan sumpah serapah agar Naruto dan Sasuke cepat kalah suoaya mereka semua memenangkan taruhannya.

Selain itu, busana yang mereka gunakan juga berbeda dengan yang Naruto dan Sasuke kenakan. Jika Sakon dan Ukon menggunakan setelan lengkap seragam akademinya agar menunjukkan kebanggaan sebagai siswa Akademi Shouka Sonjuku, maka Naruto dan Sasuke justru menggunakan setelan olahraga yang lebih nyaman digunakan untuk aktivitas yang lebih kasar.

"Yo, duo orang gagal. Bukankah lebih baik kalian segera menyerah dan pergi dari sini? Benar 'kan, Ukon?" ledek Sakon.

"Tentu saja, Sakon. Lihat, bahkan semua orang tidak mengharapkan kemenanganmu."

Seperti biasa, Sasuke hanya tersenyum remeh mendengar ucapan Sakon dan Ukon. Di bawah semua cemoohan yang ditujukan ke mereka berdua, Sasuke terlihat tidak terganggu sama sekali.

Perlu diakui, mental Sasuke benar-benar kuat sampai tidak terganggu sama sekali. Mungkin, inilah yang mereka katakan bahwa orang idiot itu tidak mempunyai rasa takut dengan apa pun.

"Terima kasih karena telah mengkhawatirkan kami. Namun, bukankah lebih baik kalian menkhawatirkan diri kalian masing-masing? Maksudku, aku benar-benar tidak bisa menahan diri untuk membakar mulut kalian," balas Sasuke dengan sinis.

"Sebelum membakar kami, bukankah lebih baik kau bangkitkan sharingan-mu dulu, Uchiha?" ucap Sakon kembali.

Membawa soal Uchiha dan sharingan adalah dua kata yang sangat Sasuke benci sejak dulu. Meskipun begitu, hanya marah-marah tidak jelas bukanlah sebuah solusi bagi Sasuke. Karena itulah, dia kumpulkan semua kemarahan yang ada di dalam dirinya, dan itu akan menuntunnya menjadi yang terkuat dengan caranya sendiri.

"Sharingan, katamu? Memangnya aku peduli soal itu?" ucap Sasuke dengan datar.

Tensi yang sebelumnya sudah tinggi karena sorakan sana-sini, kini menjadi lebih memanas ketika Sasuke mulai memberikan tatapan yang menusuk untuk lawan-lawannya.

"Mungkin kau tidak peduli. Namun, bukankah kau harus memedulikan teman kuningmu itu?" ucap Ukon sambal mengejek.

Mengikuti arah tatapan yang ditunjukkan Ukon, Sasuke pun mulai menengok ke arah belakangnya. Ia cukup terkejut— tidak, bahkan sangat terkejut sampai-sampai kehabisan kata-kata ketika melihat Naruto.

"Huh? Apa yang kau lakukan, Naruto?" tanya Sasuke terheran-heran.

"Hhhooeeekk! Tu- tunggu se- sebentar lagi, a- aku pasti ba- baik saja," balas Naruto sambil mengeluarkan isi perutnya ke dalam kantung yang entah sejak kapan ia bawa.

Naruto, pada dasarnya ia adalah tipe orang yang tidak mempunyai kepercayaan diri yang tinggi. Tipe orang yang mudah sekali gugup jika dihadapkan oleh banyak orang yang berseberangan dengan dirinya. Meskipun ia mempunyai kemampuan bertarung yang cukup hebat, tetapi itu tidak diikuti dengan ketahanan mentalnya.

"Baik, kedua tim tolong segera berdiri di masing-masing sisi arena. Karena ini adalah duel tim secara langsung, peraturannya pun sederhana. Kalian hanya boleh menggunakan senjata maupun peralatan sihir yang telah kalian daftarkan sebelumnya. Pertandingan akan dipimpin oleh Ibiki-sensei," ucap Lefay dengan penuh semangat. "Dengan ini, semua bersiap dan … MULAI!"

Suara teriakan semakin menjadi setelah Lefay yang berugas sebagai pembawa acara menyatakan bahwa pertandingan telah resmi dimulai.

Naruto yang terlihat sedikit lebih tenang dari sebelumnya, mulai menarik napas dalam-dalam dari mulutnya. Ia berusaha melakukan Teknik pernapasan untuk mengatur kembali seluruh konsentrasinya.

Sedangkan Sasuke, matanya semakin menajam sambil menarik sebuah katana yang tersarung di pinggang kanannya.

"Kau ingat rencananya, 'kan?" tanya Naruto.

"Hn."

"Kalau begitu, mari tunjukkan apa yang bisa dilakukan oleh orang desa dan bangsawan cacat sepertimu," ucap Naruto dengan pandangan mata yang sangat tajam setelah berkali-kali berusaha mengatur konsentrasinya.

Bersambung


Author Note : Hallohallo. saya kembali lagi dengan fict ini.

jujur saja, sebenarnya niat awalnya itu mau hiatus dulu sementara karena lagi sibuk banget di real life. tapi, waktu disela-sela sibuk itu aku sempetin nyicil, eh udah dapet aja dua chapter. satu chapter buat fict ini, satunya lagi fict kehidupan baruku. sebnarnya, ada satu lagi sih buat fict wood samurai, tapi masih progress haha.

Oh, aku pun sebenarnya gak punya banyak waktu untuk menyunting chapter ini. jadi, mohon maaf kalau ada typo atau sejenisnya. tapi tenang, aku pun akan mengoreksinya di sela-sela kesibukanku.

Oke, yang pertama ingin aku bahas adalah ... Naruto menyukai onee-san berdada besar!

yang kedua adalah, seperti biasa. aku bukan author yang suka masuk ke adegan bertarung begitu saja tanpa pembuka. jadi, chapter ini akan aku gunakan sebagai pembuka, dan chapter selanjutnya akan full battle.

di chapter ini, aku kembali menyoroti tujuan Sona. sebenarnya, aku lebih tertarik mengeksplor segala pemikiran Sona daripada harus menulis adegan bertarung. tapi, karena kebutuhan cerita ada pada hasil akhir pertarungan ini. jadi, aku pun harus menulisnya. haha.

lalu, aku juga memunculkan karakter baru, yakni Hawkins. oke, di sini aku menulisnya adalah Hawkins Basil karena memang Basil adalah nama keluarganya Hawkins. di sini, aku mengikuti tata letak orang barat dalam memberi nama, yaitu nama pemberian terlebih dulu dan diikuti dengan nama keluarga. jadi, akhirnya aku menulis Hawkins Basil, bukan Basil Hawkins seperti di One Piece vers.

Oke, itu aja ulasan dariku. Saya ucapkan terima kasih bagi yang telah membaca dan meninggalkan review. jika berkenan, tolong kritik dan saran yang membangun untuk perbaikan cerita di chapter-chapter yang akan datang. sekian dan terima kasih, sampai bertemu di chapter selanjutnya.