Naruto yang terlihat sedikit lebih tenang dari sebelumnya, mulai menarik napas dalam-dalam dari mulutnya. Ia berusaha melakukan Teknik pernapasan untuk mengatur kembali seluruh konsentrasinya.
Sedangkan Sasuke, matanya semakin menajam sambil menarik sebuah katana yang tersarung di pinggang kanannya.
"Kau ingat rencananya, 'kan?" tanya Naruto.
"Hn."
"Kalau begitu, mari tunjukkan apa yang bisa dilakukan oleh orang desa dan bangsawan cacat sepertimu," ucap Naruto dengan pandangan mata yang sangat tajam setelah berkali-kali berusaha mengatur konsentrasinya.
Naruto by Masahi Kishimoto
Highschool DxD by Ichie Ishibumi
and other characters are not belongs to me
genre : Adventure, Fantasy, Action, Friendship, Romance.
Summary : Menjadi seorang healer tidaklah mudah seperti yang aku bayangkan selama ini. Diskriminasi, penghinaan, kekerasan dan masih banyak lagi adalah bumbu yang sudah dianggap biasa. Tapi, persetan dengan itu semua, sialan. Aku hanya ingin menjadi healer yang baik.
Chapter 10 : Jangan Pernah Melupakan Sesuatu Yang Paling Mendasar.
XxxxX
Antara Naruto dan Sasuke dengan Sakon dan Ukon, kira-kira terpisah jarak sekitar 20 meter. Meskipun terlihat cukup jauh, tetapi sebenarnya itu adalah jarak yang terbilang dekat untuk memulai sebuah pertarungan.
Mata Naruto terus melihat ke arah Sakon dan Ukon tanpa mengalihkan pandangannya sedetik pun. Meskipun ia telah menyiapkan rencana, tetapi ia masih harus melakukan banyak persiapan agar rencana tersebut berjalan dengan sukses.
Hal tersebut juga berlaku untuk Sasuke. Meskipun ia adalah seorang idiot yang buta arah, tetapi ia tetap saja seorang petarung yang memerhatikan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi dalam pertarungan.
Bagaimanapun juga, mereka berdua selama beberapa hari sebelum pelaksanaan Battle of Justice dimulai, mereka telah banyak mencari tahu sebanyak mungkin tentang informasi yang berkaitan tentang Sakon dan Ukon. Yah, meskipun kebanyakan dari info yang mereka dapat, berasal dari koneksi yang dimiliki oleh Ravel Phenex.
Namun, di antara semua hal yang ada di pikiran Naruto dan Sasuke, ada satu hal yang sangat mengganggu mereka berdua. Sesuatu yang menentukan keberhasilan rencana yang telah mereka susun.
"Hei, kau tahu tidak, mana yang Sakon dan mana yang Ukon?" tanya Naruto kepada Sasuke.
"Tunggu, kau juga tidak tahu, Naruto?"
"Mana mungkin aku tahu, 'kan? Mereka sangat identik, tahu."
Satu-satunya hal yang paling mendasar sekaligus yang menjadi kunci dari rencana ini adalah kemampuan untuk membedakan mana yang Sakon dan mana yang Ukon. Sebenarnya, masalah ini sudah terpikirkan oleh Naruto sejak lama. Hanya saja, dia terlalu fokus dengan latihan dan rencana yang ia susun, sampai-sampai melupakan sesuatu yang sangat sepele seperti ini.
Kemampuan milik Sakon dan Ukon adalah sesuatu yang saling melengkapi satu sama lain. Karena itulah, membedakan mereka berdua untuk mengetahui karakter sihir yang mereka gunakan merupakan kunci penting dalam pertarungan ini.
"Hei, kalian berdua! Mau sampai kapan berdiri di situ, ha?" Teriak Ukon.
"Ini masih belum terlambat untuk menyerah, kalian tahu?" kali ini, Sakon yang berteriak.
Sasuke yang merasa sudah sangat gatal ingin membakar mereka berdua, mulai menunjukkan gelagat tidak nyamannya. Ia pun mulai berjalan selangkah lebih depan dari Naruto.
"Kalau kita tidak bisa membedakannya, cukup paksa mereka memberi tahu kita saja."
Bersamaan dengan itu, Sasuke langsung melesat ke arah Sakon dan Ukon dengan katana di tangan kirinya.
Melihat itu, Naruto pun tidak tahan untuk mengumpat ke Sasuke, "hei, itu terlalu gegabah, teme!"
Meskipun ia terlihat kesal dengan sikap gegabah milik Sasuke, tetapi Naruto pun pada akhirnya tetap mengikuti ide dari teman pantat bebeknya itu. Bagaimanapun juga, Naruto sadar bahwa terus berdiam diri tidak akan membawa mereka berdua ke mana pun.
"Aku akan menghajar orang yang wajahnya sangat menyebalkan itu. Kau hajar saja yang satunya," ucap Naruto setelah ia berada tepat di samping Sasuke.
Sambil menunjukkan wajah kesalnya, Sasuke berkata, "kau bodoh, ya? Wajah mereka sama-sama menyebalkan di mataku."
Seperti kata Sasuke, selain mempunyai wajah yang identik, Sakon dan Ukon juga memiliki wajah seperti berandalan yang sangat menyebalkan. Meskipun begitu, entah kenapa Sasuke merasa bahwa ia tahu mana yang dimaksud oleh Naruto.
Sakon dan Ukon mengeluarkan senyum remehnya tatkala melihat bahwa kedua lawannya justru datang menyerang secara langsung ke arah mereka. Terlebih, salah satu dari mereka adalah seorang healer yang seharusnya berdiri di belakang untuk memberi support pada rekannya.
"Mereka benar-benar bodoh," ucap Ukon dengan entengnya.
Ketika jarak antara Sakon dan Ukon dengan Naruto dan Sasuke hanya tersisa sekitar lima meter, dan si kembar biru telah bersiap untuk menghadapi serangan mereka berdua secara langsung. Namun, secara mendadak Naruto melakukan sesuatu yang sama sekali tidak diprediksi oleh siapa pun.
Naruto secara mengejutkan tiba-tiba sedikit mendahului Sasuke, dan meraih pergelangan tangan kanannya. Naruto pun secara mendadak berhenti dengan menguatkan kuda-kuda di kakinya. Lalu, dengan tenaganya, ia memutar tubuhnya. Sasuke yang pergelangan tangan kanannya digenggam oleh Naruto, pun turut serta berputar bersama dengan teman kuningnya itu.
Setelah mendapat satu putaran dan mendapat momentum yang tepat, Naruto melempar Sasuke secara diagonal dari arah sebelumnya.
Pergerakan yang sangat rancu dan mendadak itu tentu membuat setiap pasang mata dibuat terbelalak karenanya. Tidak terkecuali Sakon dan Ukon yang menjadi target lemparan Naruto.
Kecepatan Sasuke yang bertambah pesat akibat lemparan Naruto, membuat Sakon dan Ukon terlambat bereaksi. Khususnya bagi Ukon yang menjadi target serangan kombinasi acak dari Naruto dan Sasuke.
"A- apa?"
Ukon yang sudah terlambat menyadari itu, hanya bisa sedikit melangkahkan kakinya kebelakang. Mata pedang yang sangat tajam, telah siap untuk merobek dadanya.
Namun, sebelum pedang dengan model katana itu berhasil melakukan tugasnya, sesuatu yang mirip cairan lengket terlebih dahulu menghujam tubuh Sasuke. Itu adalah sebuah slime, sebuah benda lengket berwarna biru transparan yang dikeluarkan oleh Sakon.
Meskipun sedikit terlambat, Sakon masih sempat bereaksi dengan menembakkan slime yang kini mengurung tubuh Sasuke.
Namun, Sasuke terlihat menyeringai tipis di dalam kurungan slime tersebut.
Sebelum Sakon menyadari arti dari senyum itu, tiba-tiba ada sebuah pukulan keras yang menghantam pipinya. Karenanya, Sakon harus terlempar sekitar 15 meter sampai ia benar-benar berhenti.
Mengetahui bahwa sosok yang sempat mereka lupakan tiba-tiba menerjang begitu saja, Ukon pun ingin membalas perbuatan orang tersebut. Namun, reaksi Naruto masih lebih cepat dari Ukon. Ia kembali menguatkan kuda-kudanya, dan memberikan sedikit putaran pada tubuhnya untuk menciptakan sebuah momentum.
Karena ia kalah cepat dari Naruto, Ukon pun dengan terpaksa harus merelakan wajahnya terkena tumit dari tendangan memutar yang dilakukan Naruto.
Nasib sama pun ia dapat, Ukon harus terpelanting hingga belasan meter hingga akhirnya ia berhenti dengan sempurna.
"Itu tadi aku namakan dengan rencana, "mati saja kalian, bajingan!"," ucap Naruto dengan ekspresi yang sangat puas.
"Bukan bajingan, tapi Sasuke."
Sasuke yang telah berhasil melelehkan slime milik Ukon dengan sihir api miliknya, tiba-tiba menimpali dengan kata-kata favoritnya. Tentu saja, Uchiha idiot itu mengatakan dengan wajahnya yang selalu datar.
"Aku tahu kau itu bajingan, tapi kali ini yang aku maksud itu bukan kau, teme."
"Bukan teme, tapi Sasuke."
Naruto mendesah pelan dan berkata, "Terserah kau saja."
XxxxX
Seluruh isi Colloseum dibuat tercengang dengan penampilan yang baru saja mereka lihat. Tidak ada yang mengira bahwa mereka berdua akan melakukan serangan yang bisa dibilang sangat tidak biasa tersebut. Bahkan, meskipun mereka berusaha mengabaikan fakta tentang Naruto yang melempar Sasuke dengan begitu mudahnya, tetap saja mereka harus kembali menelan sesuatu yang lebih tidak biasa.
Melihat seorang pengguna pedang yang seharusnya berperan sebagai penyerang utama justru dimanfaatkan untuk umpan, dan seorang healer yang memberikan support di belakang justru melakukan serangan langsung. Seluruh pasang mata harus dipaksa untuk menelan dua metode yang benar-benar di luar kebiasaan itu.
Bahkan, Ravel Phenex yang beberapa hari terakhir ini selalu menemani mereka berdua berlatih pun tidak luput dari rasa terkejutnya.
"Aku tahu kalau Namikaze-san mempunyai kekuatan fisik murni yang sangat kuat. Akan tetapi, aku tidak pernah menyangka jika dia bisa dengan mudahnya melempar Uchiha dan memukul dua orang itu."
Bobot yang dimiliki oleh Sasuke, Sakon, dan Ukon kira-kira berada di kisaran angka 65 kilogram. Dengan Naruto yang harus melemparkan Sasuke, memukul Sakon, dan menendang Ukon secara bertahap tanpa jeda, itu berarti ia harus menjaga keseimbangan tubuhnya dan menambahkan momentum setiap kali ia melakukan gerakan tersebut.
Beda cerita dengan Megumi Tadokoro. Baginya yang bahkan pernah melihat Naruto menahan langsung serangan dari king kobold hanya dengan bermodalkan tangan kosong. Rasanya, aksi Naruto barusan bukanlah apa-apa jika dibandingkan dengan kejadian ketika pelatihan dungeon.
XxxxX
"Kau, sialan. Berani-beraninya kau menendang wajahku."
Ukon yang terlebih dahulu bangkit dari posisinya, memberikan berbagai umpatan ke arah dua orang lawannya, khususnya untuk Naruto. Mengikuti saudara kembarnya yang telah lebih dulu berdiri, Sakon pun mulai memosisikan dirinya agar segera bersiap dalam posisi bertarung.
Meskipun serangan pembuka mereka berdua terbilang sukses, tetapi baik Naruto dan Sasuke tidak ingin besar kepala karenanya.
"Lihat. jika seperti ini, aku bisa dengan mudah mengetahui mana yang pengguna slime, 'kan?" ucap Sasuke dengan nada yang sedikit mengejek Naruto.
Mau tidak mau, Naruto harus mendecih sebal karena metode nekat yang digunakan Sasuke membuahkan hasil yang cukup memuaskan. Baginya, diejek oleh idiot seperti Sasuke adalah sesuatu yang menyebalkan.
"Kuharap kau benar-benar bisa mengatasi slime-nya, teme," komentar Naruto.
"Sudah kubilang, 'kan? Bukan teme, tapi Sasuke. Selama apiku bisa lebih panas dari titik lelehnya, maka itu bukan masalah."
Slime memang sebuah benda yang sangat berguna dalam pertarungan. Dengan slime, kau bisa menyerang, bertahan, sekaligus menjebak lawanmu. Selain itu, karena bersifat cair, slime tidak akan mudah hancur meskipun diberikan pukulan sekeras apa pun. Meskipun multi fungsi, tetapi tetap saja slime mempunyai kelemahan yang cukup fatal. Yaitu daya tahannya terhadap suhu panas.
Dengan kata lain, Sasuke adalah lawan yang paling tepat untuk berhadapan dengan Sakon.
"Daripada itu, kau yakin bisa bertarung sekaligus memberiku heal secara bersamaan?"
"Entahlah, aku belum pernah mencoba sebelumnya. Namun, selama aku tidak kehilangan konsentrasiku, seharusnya aku bisa melakukan dua peran itu sekaligus."
Berbeda dengan Sasuke yang hanya harus fokus untuk menghadapi Sakon. Naruto masih harus membagi konsentrasinya untuk bertarung dengan Ukon, sekaligus memastikan agar dia tetap siap siaga dalam memberikan pertolongan pertama jika Sasuke mendapat cidera yang serius.
"Cukup, aku benar-benar akan menghancurkan kalian," bentak Ukon kesal karena merasa diabaikan.
Suasana di sekitar tubuh Ukon tiba-tiba berubah drastis. Pendar mana berwarna biru gelap berputar-putar mengelilingi tubuhnya. Seringai sadis yang muncul dari sudut bibirnya, seakan menjadi pertanda bahwa pertarungan selanjutnya tidak akan semudah yang lawan-lawannya bayangkan.
Naruto dan Sasuke yang menyaksikannya, dibuat harus menaikkan tingkat kewaspadaannya menjadi berkali-kali lipat. Meskipun secara keseluruhan Sakon lebih kuat daripada Ukon, tetapi ada poin-poin tertentu yang menjadikan Ukon sebagai sosok yang lebih merepotkan dari Sakon.
Jika Sakon menjadi petarung yang komplit dengan kemampuan slime serta seni bertarung jarak dekatnya, maka Ukon adalah tipe penyihir yang hanya memfokuskan dirinya pada satu jenis sihir dan teknik yang telah ia asah sedemikian rupa.
"Sesuai dengan info yang kita dapat, cursed magic," gumam Sasuke.
Cursed magic. Salah satu jenis sihir yang bisa dibilang sangat merepotkan. Pada dasarnya, ada dua tipe cursed magic yang ada di dunia ini. Yang pertama adalah sihir yang mengubah penggunanya menjadi sosok mengerikan bagaikan monster. Yang kedua, adalah sihir yang memberikan efek negatif untuk lawan-lawannya.
Bila dilihat dari bentuk kedua lengan dan kaki Ukon yang mulai ditumbuhi dengan sisik gelap yang sangat keras serta ujung-ujung jarinya yang sangat tajam. Maka, bisa dipastikan bahwa Ukon adalah pengguna cursed magic dengan tipe yang mengubah penggunanya menjadi sosok seperti monster.
Bukan hanya kedua lengannya saja yang mengalami perubahan. Seluruh kulitnya pun menjadi berubah berwarna cokelat gelap. Bahkan, tumbuh gigi taring yang sangat panjang yang seolah menandakan bahwa Ukon bukan lagi sekedar manusia biasa pada umumnya.
'Uwaa … bentuknya lebih menyeramkan dari yang kubayangkan selama ini,' batin Naruto yang sedikit takut.
"Naruto, jangan sampai lupa. Dia tidak hanya—."
Sebelum Sasuke sempat menyelesaikan ucapannya, Ukon telah terlebih dahulu menerjang mereka berdua. Sasuke sempat menghindar dengan melompat menjauh dari Ukon. Namun, Naruto justru hanya menangkis tinju keras tersebut. Alhasil, tubuhnya pun terseret hingga belasan meter jauhnya.
Meskipun Sasuke mampu menghindar, tetapi masih ada sesuatu yang lain yang sudah siap menyergapnya. Tanpa menyadari hal itu, kaki Sasuke telah terikat dengan sebuah benda lengket berwarna biru transparan.
"Sial."
Sebelum Sasuke sempat mengeluarkan sihir apinya, slime yang dikendalikan oleh Sakon terlebih dahulu mengangkat tubuh Sasuke ke atas dan memutar-mutarnya dengan kencang. Hingga akhirnya, tubuh dari Uchiha tersebut harus rela dihempaskan dengan begitu kuat di tanah. Saking kuatnya, bahkan tercipta kawah sebesar lima meter dari sana.
"Mungkin, tadi aku sedikit meremehkan kalian. Namun, kali ini kami akan segera menghabisi kalian berdua," ejek Sakon kepada Sasuke.
Dengan slime yang masih menggantung di kedua tangannya bagaikan lendir, Sakon berjalan mendekat ke arah saudaranya berada. Langkah percaya diri ia tunjukkan sebagai bentuk bahwa ia tidak merasa terintimidasi dari kombo aneh yang Naruto dan Sasuke lakukan sebelumnya.
"Anak desa itu kuat," gumam Ukon setelah saudara kembarnya sampai di sisinya.
Sakon sedikit terkejut dengan ucapan Ukon. Meskipun mereka sebelumnya sampai terpelanting hingga belasan meter karena terkena serangan pemuda itu, tetapi seharusnya itu masih belum cukup untuk membuat Ukon mengatakan bahwa lawannya itu kuat.
Agar mendapat jawaban dari rasa terkejutnya, Sakon pun memilih untuk melihat keadaan si bocah pirang yang sebelumnya tidak ia perhatikan. Betapa terkejutnya dia ketika mendapati Naruto yang hanya berdiri dengan tenang sambil mengelus-elus pergelangan tangannya.
"Itu tadi lumayan. Ternyata, dia memang benar-benar bisa memberikan efek negatif sekaligus," ucap Naruto.
Bersamaan dengan itu, tubuhnya mulai dikelilingi oleh angin yang bertiup secara halus. Bersamaan dengan angin kecil yang menggoyangkan rambut jabriknya, cahaya redup berwarna hijau muda pun turut terpancar dari tubuhnya.
Dengan mata yang terpejam, seluruh efek negatif yang ia terima dari Ukon telah hilang bersamaan dengan angin yang telah berhenti berputar di sekitarnya.
'Jika saja aku tidak bisa menggunakan Body Anomali Recovery Magic pada tubuhku sendiri, bisa dipastikan aku akan langsung kalah dalam sekali serangan tadi,' gumam Naruto dalam hati.
Menurut informasi yang Naruto dan Sasuke terima, Ukon bukan hanya mampu mengubah bentuknya menjadi seperti monster. Dia juga mampu memberikan efek negatif pada lawannya hanya dari sebatas kontak fisik saja. Dengan kata lain, Ukon mampu menggunakan kedua tipe dari cursed magic sekaligus.
"Bagaimana? Apa kau bisa melakukannya?" tanya Sasuke yang ternyata telah bangkit setelah dibenamkan ke dalam tanah oleh Sakon.
"Hm, ini bukan masalah walau ini pertama kalinya bagiku."
Pada dasarnya, Body Anomali Recovery Magic adalah sihir yang memungkinkan untuk menghilangkan segala efek negatif yang disebabkan oleh sihir lawan. Namun, healer pada umumnya tidak dapat menggunakan sihir tersebut untuk dirinya sendiri. Karena itulah, mereka selalu berdiri paling belakang untuk mendapat perlindungan dari anggota lainnya.
Akan tetapi, kasus Naruto benar-benar berbeda dengan healer lain. Dia telah belajar dari neneknya untuk menggunakan Healing Magic pada tubuhnya sendiri. Karena itulah, meskipun Naruto belum pernah mencoba menghilangkan efek negatif pada tubuhnya sendiri, tetapi ia mampu menerapkan Body Anomali Recovery Magic pada tubuhnya karena memahami konsep dan teori penggunaan Healing Magic.
Ukon yang melihat Naruto tidak mendapat efek apa pun dari sihirnya, merasa seperti harga dirinya sedang diinjak-injak sekarang. Namun, egonya memaksa dirinya untuk terus berpikir bahwa itu tadi hanyalah sebuah kebetulan belaka.
"Mulai dari sini, kita harus bertarung secara terpisah," ucap Naruto kepada Sasuke.
"Aku tahu, bodoh."
Mengabaikan seruan Sasuke begitu saja, Naruto langsung berlari ke arah Ukon sambil mengeluarkan pisau bedahnya.
"Pisau apa itu?" gumam Ukon yang memang sebelumnya tidak pernah melihat pisau bedah.
Walaupun ia sempat bingung dengan senjata yang dikeluarkan oleh lawannya, tetapi Ukon tidak punya banyak waktu untuk memikirkan hal tersebut. Atau lebih tepatnya, Naruto lah yang tidak memberikan waktu bagi Ukon untuk berpikir.
Ia dengan waktu yang cukup singkat, telah berada di depan Ukon sambil mengayunkan pisau bedahnya. Karena kali ini kedua belah pihak telah sangat siap untuk saling bertarung secara terbuka. Oleh karena itu, Ukon pun mampu dengan sigap menghindari segala serangan dari Naruto.
Merasa pola serangannya hanya akan menjadi sia-sia jika dia terus melanjutkannya, Naruto pun memilih melompat ke belakang untuk menjaga jaraknya. Hal yang sama pun dilakukan oleh Ukon.
"Bocah kuning itu benar-benar gesit. Apa dia benar-benar seorang healer?" gumam Ukon. "Sial, aku tidak punya banyak informasi tentang kemampuan bocah itu."
Mengingat Naruto adalah siswa baru, itu membuat satu-satunya informasi yang Ukon dapat hanyalah jenis sihirnya secara umum. Oleh karena itu, Ukon tidak pernah menyangka bahwa Naruto yang merupakan seorang healer mampu menyerang dengan baik. Itu juga menjadi salah satu alasan tentang sikapnya yang terkesan hanya menghindari serangan-serangan dari Naruto.
Karena bagaimanapun, Ukon masih harus mengumpulkan banyak informasi tentang musuh yang berada di depannya itu.
Setelah Naruto merasa jaraknya dengan Ukon dirasa cukup, ia mengeluarkan sesuatu yang lain dari kantungnya. Itu adalah sebuah bola kecil yang seukuran dengan kelereng.
Ketika Naruto melemparkan bola itu ke tanah, muncullah kepulan asap yang mengelilinginya. Ukon yang melihat itu sedikit mengernyitkan dahinya. Pasalnya, dia menjadi sedikit penasaran dengan trik yang akan Naruto gunakan.
Dari balik asap tersebut, melesat belasan jarum tajam yang meluncur ke arah Ukon. Namun, karena kulitnya yang bahkan lebih keras dari batu, ia tidak begitu mengindahkan jarum-jarum tersebut. Ia hanya mengangkat tangan kanannya sebagai bentuk untuk menangkis datangnya jarum-jarum milik Naruto.
Seperti yang ia duga, Ukon berhasil menangkis belasan jarum tersebut tanpa masalah yang berarti. Namun, tidak berhenti sampai di situ saja. Naruto juga turut melesat ke arah Ukon tidak lama setelah ia melemparkan jarum-jarumnya.
Akan tetapi, kali ini Ukon lagi-lagi berhasil menebak langkah Naruto. Menggunakan lengan kanan yang dipenuhi dengan sisik hitam yang sangat keras, Ukon mampu dengan mudah menangkis pisau bedah yang mengincar lehernya.
"Gerakanmu sungguh sederhana," ucap Ukon tepat di depan wajah Naruto.
Usaha Ukon untuk melakukan provokasi kepada Naruto, tidak membuahkan hasil sama sekali. Tidak ada ekspresi tersinggung maupun tertekan yang ditunjukkan Naruto karena serangannya tidak ada yang berhasil. Justru sebaliknya, Naruto sedikit mengulum senyum aneh sebagai balasan provokasi tersebut.
Dengan seluruh pengalaman yang telah ia dapat selama ini, Ukon sangat mengerti bahwa ada sesuatu dibalik senyum aneh Naruto. Karena itulah, dia dengan segera meningkatkan kewaspadaannya.
Tanpa ia duga, Naruto tiba-tiba meludahkan sesuatu dari dalam mulutnya. Itu adalah sebuah jarum yang telah ia masukkan ke dalam mulutnya setelah sepersekian detik ia mengeluarkan bom asap.
Meskipun sedikit terlambat menyadari jarum yang Naruto ludahkan, Ukon mampu menghindari jarum yang mengincar dahinya tersebut. Ia menolehkan wajahnya ke kiri dan mencondongkan badannya ke kanan agar benar-benar terhindar dari lintasan jarum yang tiba-tiba keluar itu.
Namun, sesaat setelah jarum tersebut melewati kepalanya, tiba-tiba terlintas sesuatu di dalam benak Ukon.
'Sial,' batinnya.
Sesaat setelah itu, sebuah tinju yang sangat berat dan cepat mengincar kepalanya. Dengan memusatkan seluruh reflek tubuhnya untuk menangkis tinju tersebut, Ukon pun mengangkat tangannya yang penuh dengan sisik sebagai bentuk perlindungan. Namun, tenaga yang diberikan pada tinju ini benar-benar berbeda dengan tendangan yang ia terima sebelumnya.
Yang barusan itu adalah sebuah tinju yang sangat keras. Yang bahkan mampu menerbangkan Ukon hingga puluhan meter dan menghujam dinding Colloseum dengan sangat keras.
Seluruh pasang mata yang melihat pukulan itu menjadi terdiam seribu bahasa. Mereka semua telah kehabisan kata-kata setelah melihat cara bertarung yang dimiliki oleh Naruto.
XxxxX
Sebuah dentuman keras terdengar di telinga Sasuke. Ketika ia sedikit melirik untuk melihat apa yang sedang terjadi, dia mendapati bahwa Ukon telah dibenamkan oleh Naruto di tembok Colloseum.
Mendengus pelan, Sasuke sedikit merasa seperti orang bodoh karena telah khawatir dengan kondisi Naruto. Tidak, itu bukan sepenuhnya salah Sasuke karena ia khawatir dengan sobat kuningnya. Bagaimanapun juga, siapa pun akan berpikiran seperti Sasuke ketika melihat betapa gugupnya Naruto sebelum pertandingan.
"Aku juga tidak akan kalah," gumam Sasuke.
Berlari dengan kecepatan penuh, ia melesat ke arah Sakon dengan katana di tangan kirinya. Bilah katana-nya sedikit berubah warna menjadi merah ketika Sasuke mengalirkan sihirnya yang mempunyai atribut api.
Meskipun Sasuke telah berkata seperti itu, tetapi kenyataannya ia mengalami jalan buntu untuk mendekati Sakon sejak tadi. Seberapa banyak slime yang telah ia bakar, Sakon mampu mengeluarkannya secara terus-menerus. Bahkan, Sasuke berpikir bahwa slime yang bisa Sakon produksi itu tidak ada habisnya.
Karena itulah, sejak awal sampai sekarang, Sasuke merasa seperti bahwa ia sedang berjalan di tempat.
"Fire Magic : Fire Ball," ucap Sasuke saat melihat segumpal slime yang ada di depannya.
Sakon mendecih sebal ketika melihat slime-nya lagi-lagi dibakar oleh lawannya. Oleh karena itu, kali ini ia menempelkan tangannya ke tanah. Dari sana, muncul lingkaran sihir berwarna biru dengan berbagai aksara di sana.
Sasuke merasakan sebuah firasat buruk karenanya. Oleh sebab itu, ia menghentikan larinya dan meningkatkan kewaspadaannya ke tingkat yang lebih tinggi.
Benar saja, tanah di sekitar Sasuke tiba-tiba menjadi bergetar dengan cukup hebat. Kedua mata hitam legam milik Sasuke berusaha melihat ke sana ke mari untuk memastikan di mana slime yang akan menyerang dirinya muncul.
Dari bawah tanah yang berguncang tersebut, muncul puluhan slime berbentuk menyerupai tentakel dengan ujungnya yang berbentuk runcing. Tentu saja, slime-slime tersebut mengincar tempat Sasuke berada.
Namun, dengan keterampilan berpedangnya, Sasuke mampu menebas satu persatu slime yang mengarah ke arahnya. Sesekali, ia juga akan menghindari terjangan slime-slime tersebut.
Akan tetapi, serangan tidak berhenti sampai di situ saja. Slime-slime yang hancur dan mencair karena ulah Sasuke, mulai berubah menjadi bentuk baru. Kali ini, mereka berbentuk layaknya tombak-tombak dan semuanya terbang mengelilingi Sasuke dari berbagai arah.
Tanpa menunggu waktu lebih lama lagi, slime-slime yang telah berbentuk ratusan tombak tersebut tanpa basa-basi menerjang ke arah Sasuke tanpa ampun.
"Fire Magic : Fire Explosion!"
Setelah mengucapkan nama mantranya, tubuh Sasuke mulai dikelilingi dengan api. Dengan sekejap mata, api yang mengelilingi tubuhnya itu meledak dan membakar apa pun yang berada di sekitarnya tanpa pandang bulu. Tombak slime yang sebelumnya mengincarnya, kini benar-benar telah hangus sepenuhnya.
"Sial, ini tidak akan ada habisnya," gumam Sasuke kesal.
Melihat temannya mengalami kesulitan untuk menembus pertahanan lawannya yang mempunyai sihir yang sangat ofensif. Membuat Naruto berinisiatif untuk membantunya.
Meskipun kesepakatan awal adalah mereka berdua saling berbagi musuh, tetapi Naruto berpikir mereka akan habis jika mereka berdua tidak melakukan sesuatu untuk mengatasi kemampuan Sakon. Lagi pula, Naruto rasa ia sudah menyelesaikan urusannya dengan Ukon.
Namun, pemikiran naif itu segera berakhir ketika ia merasakan sesuatu yang tidak menyenangkan. Berasal dari tempat Ukon menancap di dinding Colloseum, terpancar sebuah mana yang sungguh pekat. Bukan hanya Naruto yang merasakan sensasi mana yang gelap tersebut, melainkan seluruh orang yang hadir di Colloseum pun merasakannya.
Terdengar suara samar yang penuh dengan kebencian dari tempat Ukon berada. Meskipun ia tidak mengatakan kepada siapa itu ditujukan, tetapi semua orang yang menyaksikannya pasti tahu bahwa umpatan itu dikhususkan untuk Naruto.
"Kubunuh kau, kubunuh kau, kubunuh kau."
'Apa ini hanya perasaanku saja atau memang sisiknya terlihat menjadi semakin keras?' batin Naruto.
Sebelumnya, Naruto sangat yakin bahwa sisik-sisik yang menyelimuti lengan Ukon telah hancur ketika Naruto memukulnya. Namun, setelah Ukon menampakkan wajahnya lagi, sisik di tangannya pun terlihat semakin hitam legam dari sebelumnya.
"Naruto, jangan lengah!" teriak Sasuke yang melihat sahabatnya itu sedikit melamun.
Meskipun kondisinya sendiri tengah diserbu oleh serangan-serangan slime yang tiada hentinya, Sasuke masih tetap mempunyai sedikit waktu untuk memerhatikan rekannya. Karena bagaimanapun juga, bila Naruto sampai lengah, maka semuanya akan berakhir.
Tepat seperti yang Sasuke pikirkan, Ukon melihat kesempatan itu ketika Naruto sedang lemah. Ia tanpa pikir panjang langsung menghantamkan tinjunya ke arah Naruto. Namun, dengan sigap remaja kuning tersebut mampu menangkisnya. Yah, meskipun kemudian tangan Naruto terdapat bercak-bercak ungu karena efek racun dari cursed magic milik Ukon.
Akan tetapi, sama seperti sebelumnya. Naruto dengan cepat mampu menghilangkan efek negatif tersebut menggunakan sihir Body Anomali Recovery Magic miliknya.
Namun, itu bukan berarti akhir. Justru sebaliknya, serangan Ukon menjadi jauh lebih agresif dari sebelumnya. Bahkan, itu memaksa Naruto harus bersikap ekstra defensif. Tidak jarang pula ia menggunakan Body Anomali Recovery Magic ketika tubuhnya terkena cursed magic.
Sasuke yang mulai sedikit mengkhawatirkan Naruto pun ikut kehilangan ketenangannya.
"Lebih baik kau perhatikan dirimu sendiri," ucap Sakon yang tiba-tiba muncul dari dalam slime-nya dan menusuk perut Sasuke.
Melihat perutnya yang berlubang karena Sakon menusuknya menggunakan slime, Sasuke pun melompat menjauh untuk menjaga jarak. Darah tidak henti-hentinya mengalir meskipun ia telah berusaha untuk menekan rasa sakitnya.
Tidak menyia-nyiakan peluang emas yang ada, Sakon lantas menyerang langsung ke arah Sasuke. Saat Sasuke merasa kesal karena situasinya yang sedang terpojok, tiba-tiba ia merasakan sebuah perasaan hangat pada lukanya. Saat ia sedikit melirik ke bawah, ia mendapati lukanya diselimuti dengan pendar mana berwarna hijau.
'Healing magic? Naruto mampu melakukannya meski kondisinya juga sama-sama terpojok?' batin Sasuke sedikit rasa tidak percaya.
Meskipun ia sudah lumayan sering berlatih dengan Naruto secara pribadi, tetapi ini pertama kalinya ia melihat Naruto menggunakan Healing Magic. Bukan hanya itu, poin yang membuat Sasuke terkagum-kagum adalah, Naruto dapat melakukannya dengan baik walaupun ia harus bertahan dari serangan bertubi-tubi dari Ukon.
"Apa? Apa itu dari bocah kuning itu?" ucap Sakon dengan rasa terkejut yang melebihi Sasuke.
Melihat Sakon yang sedikit lengah, Sasuke pun merendahkan kuda-kudanya dan menyarungkan pedangnya dengan cepat.
"Ittoryu Iai : Nobori En Ten!"
Sasuke dengan cepat menarik kembali pedang yang sebelumnya ia sarungkan. Dengan kecepatan yang mengagumkan pula, ia menebaskan pedangnya ke atas. Sakon yang terlanjur menerjang ke arah Sasuke, sedikit kesulitan untuk menghindari tebasan tersebut.
Meskipun pada akhirnya ia tetap bisa menghindarinya menggunakan slime untuk mengubah arah Gerakan tubuhnya dengan paksa. Walau begitu, Sakon tetap terkena tebasan yang cukup dalam pada lengan kanannya.
'Kenapa kau begitu lama menghadapi bocah kuning itu, Ukon?' batin Sakon kesal.
Naruto sedikit tersenyum tipis melihat Sasuke yang mampu membalikkan keadaan. Meskipun ia sedari tadi fokus dengan musuh yang ada di depannya, tetapi itu bukan berarti Naruto melupakan peran utamanya. Sebagai seorang healer, dia harus mengawasi seluruh jalannya pertarungan dan juga kondisi rekan-rekannya. Bahkan meski dia berada di bawah tekanan sekali pun.
Naruto sedikit melihat celah pada diri Ukon. Ketika ia menyadari bahwa kuda-kuda Ukon sedikit goyah, Naruto pun berniat untuk melakukan tendangan keras pada kaki lawannya itu. Namun, tanpa Naruto perkirakan sama sekali, tiba-tiba ada segumpal benda lengket yang menerjangnya begitu saja tepat dari bawah tanah tempat ia berpijak.
'Slime dari bawah tanah? Sial, aku kecolongan!'
Alhasil, tubuhnya terlempar hingga beberapa meter. Bukan itu saja, kondisi terburuknya adalah dia sekarang benar-benar terkurung di dalam slime tersebut dan tidak dapat bergerak sama sekali.
'Sasuke, ini giliranmu menolongku,' batin Naruto.
Pertolongan yang ia harapkan tidak kunjung datang. Lupakan tentang pertolongan, Sasuke tiba-tiba merasa bahwa tubuhnya begitu panas dan rasa sakit yang luar biasa menjalar ke seluruh tubuhnya.
"Ra- racun da- dari cursed magic? Se- sejak ka- kapan?" ucap Sasuke sambil menahan rasa sakitnya.
"Kau tidak menyadarinya, huh?" ejek Sakon dengan menunjuk slime yang sedari tadi Sasuke tebas dan hancurkan.
Dengan memaksa seluruh kesadarannya, Sasuke mengikuti arah yang ditunjuk oleh Sakon. Melihatnya, Sasuke tidak kuasa untuk tidak terkejut. Jika diperhatikan dengan baik, slime yang akhir-akhir ini ia hancurkan terdapat sebuah bintik-bintik samar berwarna ungu.
Hanya dengan melihatnya saja, Sasuke sadar bahwa itu adalah cursed magic milik Ukon yang dimasukkan ke dalam slime. Karena keberadaannya yang sangat samar, ia bahkan tidak menyadari jika si kembar tersebut telah bertukar serangan tanpa ia dan Naruto ketahui.
"Kalian berdua merepotkan. Namun, sekali sampah tetaplah sampah. Kalian tidak akan pernah bisa mengalahkan kami," ejek Ukon dengan dingin.
Bukan rasa putus asa yang Naruto dan Sasuke rasakan. Karena bagaimanapun, sejak awal mereka tahu bahwa bangsawan cacat dan healer seperti mereka berdua ini adalah jenis orang yang berada di lapisan paling bawah komunitas sosial.
Baik Naruto maupun Sasuke, mereka berdua hanya menampilkan senyum mengejek meski kondisi mereka benar-benar tidak menguntungkan.
"Apa yang kalian—," ucapan Sakon terhenti dan digantikan dengan rasa terkejut.
Ia mendapati bahwa tubuh Sasuke perlahan dikelilingi oleh angin kecil dan juga cahaya hijau redup mulai menyinarinya. Bukan hanya itu saja, ruam-ruam ungu efek dari racun cursed magic pun sedikit menghilang. Yah, meskipun tidak menghilang sepenuhnya, tetapi itu sudah cukup untuk membuat Sasuke dapat bergerak.
Tepat saat tubuhnya merasa sedikit lebih baik, ia langsung melompat dan pergi menuju tempat Naruto terkurung di dalam slime. Ia pergi mengabaikan tatapan heran dari Sakon dan Ukon begitu saja.
Ketika ia telah sampai di tempat Naruto, Sasuke lantas menaruh tangannya di permukaan slime. Tanpa ada yang mengomando, ia membakar slime tersebut dan mengeluarkan Naruto dari sana.
"Uhukk … uhuk! Sial, aku hampir saja kehabisan napas."
Tepat setelah Naruto keluar, ia tanpa menunggu lebih lama langsung memegang bahu Sasuke. Dengan kemampuan miliknya, ia menghilangkan seluruh efek negatif pada tubuh Sasuke yang belum sempat hilang sepenuhnya.
"Tunggu, bagaimana bisa?"
Sebagai seseorang yang paling terkejut di sana, Ukon tidak bisa untuk tidak menahan dirinya untuk bertanya. Bagaimanapun juga, ia sudah sangat kesal karena cursed magic miliknya tidak berpengaruh terhadap Naruto. Lalu, kini ia kembali menyaksikan cursed magic-nya kembali dipatahkan tanpa sepengetahuannya.
Dengan segala sesuatu yang terjadi, kali ini Sasuke adalah orang yang tidak dapat menahan dirinya untuk tidak mengeluarkan seringai mengejek ke arah lawannya. Bersamaan dengan itu, ia mengeluarkan selembar kertas yang sejak sebelum dimulainya pertandingan, telah ia simpan di dalam saku setelan olahraganya.
"A- apa-apaan itu?" tanya Ukon kembali.
"Sebuah mantra sederhana yang sering kali dilupakan," balas Naruto.
Melihat reaksi kebingungan yang ditunjukkan oleh orang-orang di depannya, membuat Naruto tidak tahan untuk tidak menjelaskannya. Lagi pula, trik ini bukan sesuatu yang sangat spesial yang sampai-sampai harus ia rahasiakan.
"Ini adalah kertas yang dapat menyimpan mantra sihir sederhana. Namun, banyak orang yang hanya menganggap ini sebagai kertas penyimpanan biasa."
Menarik napas sejenak, kemudian ia melanjutkan, "Gulungan penyimpanan adalah versi yang lebih besar dari kertas ini. Gulungan penyimpanan dapat menyimpan barang karena mereka menggambar lingkaran sihir dan menulis mantra sihir ruang secara manual. Lalu, yang aku lakukan hanya mengambil kertas kosong ini dan menulis mantra Body Anomali Recovery Magic. Dan aku membuat mantra itu akan aktif secara otomatis ketika dalam kondisi tertentu."
Melengkapi penjelasan panjang milik Naruto, Sasuke pun ikut menambahkan apa yang telah temannya sampaikan.
"Meskipun ini tidak bisa menghilangkan efek cursed magic secara maksimal. setidaknya ini cukup memberiku waktu untuk membebaskan Naruto dan membiarkannya menyembuhkanku."
"Seorang penyihir adalah orang yang mempersiapkan segalanya, kau tahu?" timpal kembali Naruto.
Baik Sakon maupun Ukon, wajah mereka kini nampak memerah bagaikan tomat. Bagi mereka, tidak ada yang lebih memalukan daripada apa yang telah dilakukan oleh dua orang yang dianggap duo pecundang itu.
"Apa kau sudah bisa menyerang kembali, Naruto?" tanya Sasuke tanpa memandang wajah Naruto sedikit pun.
"Tentu."
Bersamaan dengan itu, Naruto menarik udara ke dalam paru-parunya secara perlahan. Bibir yang ia buka sedikit, memberi akses terhadap udara-udara yang akan mengisi seluruh rongga di paru-paru anak Namikaze tersebut.
"Total Concentration … Breath Style : Adrenaline."
Suasana di sekitar tubuh Naruto secara drastis berubah seketika. Perubahan tersebut tidak terjadi tanpa sebab. Itu terjadi sesaat setelah Naruto mengucapkan tekniknya. Pupil biru yang ia miliki, kini menjadi sedikit lebih kecil dari biasanya. Bahkan, tidak terdengar suara deru napas yang keluar dari dirinya sedikit pun.
Satu-satunya kalimat yang cocok untuk menggambarkan kondisinya saat ini, adalah sebuah ketenangan dan fokus yang sangat luar biasa.
'Konsentrasi macam apa itu? Apa Naruto benar-benar bisa melakukan konsentrasi semacam itu?' batin Sasuke yang takjub dengan rekannya.
Teknik pernapasan, pada dasarnya itu bukanlah sebuah sihir atau ilmu magis lainnya. Itu adalah sebuah teknik yang murni menggunakan seluruh potensi yang dimiliki oleh sistem tubuh seorang manusia. Jika manusia bernapas dengan benar, itu akan membuat darah yang kaya akan oksigen, protein, dan zat besi mengalir dengan lancar ke dalam otak.
Lalu, otak yang tersuplai oleh zat-zat tersebut, akan merangsang produksi hormon dopamin dengan cepat. Hormon dopamin itulah yang akan membuat tubuh menjadi jauh lebih tenang.
Bukan hanya itu. Hormon dopamin juga berfungsi sebagai vasolidator yang mampu membuat pembuluh darah menjadi lebih lebar. Melebarnya pembuluh darah ini membuat peredaran darah menjadi lebih lancar, sehingga suplai darah ke dalam jantung pun juga meningkat dan detak jantung juga berdetak lebih cepat.
Ketika detak jantung berdetak lebih cepat dari biasanya, maka tubuh akan memproduksi hormon adrenalin. Berbeda dengan dopamin. Meskipun sama-sama mampu meningkatkan konsentrasi, tetapi adrenalin juga dapat membuat manusia melampaui batas kemampuan mereka sendiri secara instan dan dalam kurun waktu yang tertentu.
Sedangkan dalam kasus Naruto, dia dapat memanipulasi itu semua dengan teknik pernapasan yang sudah ia latih secara ekstrim sejak ia masih kecil.
'Meskipun ini adalah teknik original-ku, tetapi aku tidak begitu suka menggunakan kemampuan ini,' batin Naruto. "Sasuke, aku akan—."
"Aku mengerti."
Naruto tidak terkejut ketika mendapati bahwa Sasuke dapat memahami maksudnya meskipun ia belum menyelesaikan ucapannya. Saat ia memasuki mode konsentrasi penuh, seluruh indranya menjadi jauh lebih peka. Saat itu pula, ia menyadari bahwa chemistry yang dirinya dan Sasuke miliki sangatlah selaras.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Naruto langsung tancap gas dan melesat ke arah Sakon dan Ukon berada.
Sakon yang menyadari itu pun lantas mengeluarkan puluhan bahkan ratusan slime untuk menghentikan Naruto.
'Dengan kecepatan seperti itu, seharusnya sulit baginya untuk menghindari slime-slime ini,'
Namun, lagi-lagi Naruto mengkhianati ekspektasi mereka. Saat mereka berharap slime-slime itu mengenai Naruto, ia justru mampu menghindarinya dengan begitu mudah. Dalam pandangan Naruto, semua yang di sekelilingnya seakan-akan bergerak dengan kecepatan yang sangat lamban.
Meskipun Naruto mampu menghindari seluruh slime yang mengarah kepadanya, tetapi ada beberapa slime yang disengaja oleh Sakon untuk mengincar titik buta milik Naruto. Akan tetapi, kali ini Sasukelah yang melindungi Naruto dari belakang. Ia terus berlari di belakang Naruto, sambil membakar seluruh slime yang tidak bisa Naruto hindari.
Saat Naruto hampir sampai di tempat Sakon dan Ukon, ia tiba-tiba melompat salto ke hingga membelekangi Sasuke. Di saat yang sama, Sasuke telah siap dengan salah satu sihirnya.
"Fire Magic : Fire Bullet."
Api yang muncul di punggung Sasuke, memadat dan membentuk bola-bola api kecil. Bola api kecil itu kemudian meluncur dengan cepat dan secara otomatis akan mengejar targetnya.
Menyadari itu, Sakon dan Ukon pun berpencar agar jumlah peluru api yang mengejar mereka juga berkurang.
Nahas bagi mereka, karena itu memang tujuan awal Naruto dan Sasuke untuk kembali memisahkan mereka berdua. Ukon yang telah menjauh, sudah siap disambut oleh Naruto yang di kedua tangannya telah memegang pisau bedah.
'Otot suprahyoid pada leher depan, diafragma pada perut, tendon pada paha, dan bisep pada lengan atas,' batin Naruto yang mulai menandai targetnya.
Dalam kondisi biasa, mungkin Naruto tidak akan kesulitan menyayat bagian-bagian tersebut. Namun, dalam sebuah pertarungan dengan target yang selalu bergerak dengan pola dan kecepatan yang acak, dia tidak akan bisa menyayat targetnya dengan mudah. Ditambah lagi, lawannya kali ini mempunyai sisik yang mungkin sedikit lebih keras daripada kulit king kobold yang pernah ia lawan tempo hari.
Karena itulah, ia harus masuk ke dalam mode konsentrasi penuh agar dapat melancarkan serangannya.
'Sial, aku mati langkah. Dia tidak akan bisa menembus sisikku, 'kan?' batin Ukon yang mulai tertekan.
Dengan penuh percaya diri, Naruto menyayat bagian-bagian yang telah ia target sebelumnya. Bahkan, sisik hitam yang sangat keras milik Ukon pun mampu ia tembus hanya berbekal dengan pisau bedah.
'Huh? Ini memang sakit. Namun, lukanya tidak dalam. Apa serangannya gagal?'
Saat Ukon mulai sedikit bahagia karena merasa serangan Naruto telah gagal, pada saat itu pula ia tiba-tiba terjatuh. Napasnya sesak, kaki dan tangannya tidak mempunyai tenaga, serta suaranya tidak mampu keluar. Bukan hanya itu, bahkan lehernya terasa sangat perih saat ia berusaha menolehkan kepalanya.
"Otot suprahyoid pada lehermu yang sudah aku potong, itu akan mempengaruhi kemampuan rahangmu untuk bergerak, diafragmamu yang aku sayat akan membuatmu kesulitan bernapas, dan otot tendon bisepmu yang telah aku lukai akan membuat lengan atas dan kakimu akan kehilangan tenaga untuk menggerakkan sendi-sendinya."
Setelah yakin bahwa lawannya telah benar-benar berhasil ia lumpuhkan, Naruto pun melepaskan mode konsentrasi penuhnya. Ia menghembuskan napas yang terdengar sangat berat. Meskipun mampu melepaskan begitu banyak kekuatan, mode konsentrasi penuh juga akan sangat membebani tubuh.
Dengan begini, pertarungan antara Ukon dan Naruto telah berakhir dengan Naruto yang keluar menjadi pemenangnya.
Namun, mari kembali ke beberapa waktu sebelumnya untuk melihat apa yang telah Sasuke lakukan sampai-sampai semuanya menjadi terlihat sangat kacau.
Sesaat setelah Sakon menghindari peluru-peluru yang mengincar dirinya dan saudara kembarnya, ia dengan sigap melompat begitu jauh. Bagaimanapun, Sakon adalah tipe penyihir yang sangat diuntungkan dalam pertarungan jarak jauh.
Sasuke yang melihat itu pun akan sangat muak. Jika ia tetap bertarung menggunakan pedangnya, maka ia hanya akan berputar-putar pada pola yang sama dengan sebelumnya. Karena itulah, ia kembali menyarungkan pedangnya dan mulai mengumpulkan mana dengan atribut api di tangan kirinya.
Dengan tarikan napas yang panjang, Sasuke mengucapkan teknik andalannya.
"Hiken!" ucap Sasuke sambil meninju udara kosong dengan tinju yang terselimut api di tangan kirinya.
Tinju api yang dilepaskan oleh Sasuke tersebut membakar semua yang ada di hadapannya dengan skala yang sangat besar. Bahkan, slime-slime yang dikeluarkan oleh Sakon pun terbakar habis dengan begitu mudahnya.
"Summon Magic : Gate of Rashoumon!"
Dengan panik, Sakon menggunakan sihir pemanggil yang berupa sebuah gerbang berwarna merah dengan ukiran berbentuk kepala iblis di bagian pintunya. Secara klasifikasi, Rashoumon adalah salah satu sihir pertahanan dengan rank A. Karena itulah, Sakon sangat yakin bahwa sihir Sasuke tidak dapat menembusnya.
Namun, Hiken bukanlah sihir sembarangan. Itu adalah sihir original milik Sasuke yang tercipta karena api kemarahan yang membara di dalam dirinya. Karena itulah, benturan hebat terjadi antara sihir serangan dan pertahanan yang sama-sama ke dalam tingkat rank A.
Baik Hiken maupun gerbang Rashoumon milik Sasuke dan Ukon menghilang. Asap mengepul begitu pekat karena efek dari benturan tersebut. Tepat saat ketika Sakon merasa ia sudah menjadi sedikit lebih aman, tiba-tiba Sasuke melesat dari asap tersebut dengan kecepatan penuh.
Sakon yang terlambat bereaksi, harus merelakan kepalanya menjadi target cengkraman kuat yang dilakukan oleh Sasuke.
Tanpa ampun, Sasuke berkata dengan penuh penekanan, "Terbakarlah."
Melalui telapak tangannya, muncul bara api yang sangat besar dan panas. Bara api tersebut membakar kepala Sakon hingga ia tidak sadarkan diri. Setelah memastikan bahwa Sakon sudah tidak sadarkan diri, barulah Sasuke berhenti membakar kepalanya.
Saat bara api itu telah menghilang sepenuhnya, yang tersisa dari kepala Sakon hanyalah kulit yang telah terbakar dengan penuh. Bahkan, rambut biru yang ia miliki telah hangus semua. Layaknya sebuah hutan yang dilahap oleh ganasnya api. Itulah kiasan yang tepat untuk menggambarkan kondisi Sakon.
Setelah itu, Sasuke berbalik dan berniat melihat pertarungan lain yang dilakukan oleh sahabatnya di sisi lain arena ini. Namun, pertarungan tersebut telah selesai beberapa detik sebelum Sasuke benar-benar menghabisi Sakon.
Dua anak yang berusaha keras untuk mempertahankan harga diri mereka, melindungi sisa-sisa kebanggaan pada diri mereka yang masih layak untuk dibanggakan. Kini, mereka berdua menjadi orang yang tertawa paling akhir sambil menikmati aroma kemenangan perdana yang mereka terima.
"Pemenangnya … Naruto Namikaze dan Sasuke Uchiha!"
XxxxX
Saat seluruh mata mulai tertuju pada pertarungan yang tidak terduga yang saat ini sedang berlangsung. Ada dua orang siswi yang berjalan dalam sunyi menyusuri lorong Colloseum. Tanpa menunggu selesainya pertarungan yang telah menuju puncak, kedua siswi tersebut memilih untuk meninggalkan pertunjukan yang tersaji antara Naruto Namikaze dan Sasuke Uchiha melawan si kembar Sakon dan Ukon.
"Sona-sama, apa anda yakin akan pergi saat pertarungan mereka sudah mencapai puncak?"
Tsubaki Shinra, seorang gadis yang telah bersumpah setia kepada seorang Sona Sitri. Baginya yang merupakan orang kepercayaan Sona Sitri, mengati Naruto dan Sasuke adalah keharusan yang sangat penting. Karena bagaimanapun, Sona sendiri telah mantap untuk menargetkan mereka berdua, apa pun yang terjadi.
"Sesaat setelah suasana di sekitar Namikaze itu berubah menjadi jauh lebih tenang, kita sudah tahu siapa pemenangnya," balas Sona tanpa menghentikan langkahnya sedikit pun.
"Lalu, apa yang akan kita lakukan selanjutnya?"
Dengan senyum tipis yang sangat misterius, Sona Sitri menjawab dengan penuh penekanan dalam tiap katanya.
"Tentu saja, kita harus memberi ucapan selamat untuk kemenangan mereka."
Bersambung
Author Note : Yahallo, saya kembali lebih cepat dari yang saya perkirakan.
Pertama, saya akan mengucapkan banyak minta maaf dengan chapter kemarin yang kurang memuaskan. Banyak sekali review masuk yang pada intinya mengatakan bahwa chapter kemarin tidak memuaskan karena tidak langsung masuk ke dalam scane bertarungnya. Jadi, daripada membalas satu-persatu review itu, saya berpikir untuk membalas semuanya sekaligus melalui author note ini.
yah, saya sendiri sejujurnya juga mengakui itu saat kembali membacanya. apalagi, setelah menuls chapter ini saya jadi sadar bahwa seharusnya saya memasukan bagian awal dari chapter ini ke dalam chapter kemarin. Karena efeknya bisa dilihat dengan begitu jelas, chapter ini menjadi begitu panjang dengan 6k words yang hanya berfokus pada pertarungan.
sekali lagi saya mau meminta maaf atas ketidaknyamanannya. Kesalahan ada pada saya karena terlalu terburu-buru mengupload chapter kemarin. yah, saya sendiri juga sedikit heran kenapa kok langsung upload tanpa sunting terlebih dahulu. waktu itu, yang saya pikirkan hanya "lama gak update, jadi pengen update secepat mungkin."
pemikiran seperti itu muncul karena sebanarnya saya sendiri sangatlah sibuk. jadi, saya juga sedikit mikir kalau gak update sekarang, entah kapan lagi bisa update.
di Chapter ini, saya menggunakan seluruh waktu libur kuliah dan kerja saya untuk saya gunakan ngerjain chapter ini. bisa dibilang, saya ingin update secepat yang saya bisa sebagai permintaan maaf untuk pembaca sekalian.
saya tidak tahu apakah chapter ini dapat memuaskan atau tidak. yang pasti, selamat menikmati. kritik dan saran akan sangat saya butuhkan. jadi, tolong isi di kolom review ya hehe
