"Sona-sama, apa anda yakin akan pergi saat pertarungan mereka sudah mencapai puncak?"
Tsubaki Shinra, seorang gadis yang telah bersumpah setia kepada seorang Sona Sitri. Baginya yang merupakan orang kepercayaan Sona Sitri, mengati Naruto dan Sasuke adalah keharusan yang sangat penting. Karena bagaimanapun, Sona sendiri telah mantap untuk menargetkan mereka berdua, apa pun yang terjadi.
"Sesaat setelah suasana di sekitar Namikaze itu berubah menjadi jauh lebih tenang, kita sudah tahu siapa pemenangnya," balas Sona tanpa menghentikan langkahnya sedikit pun.
"Lalu, apa yang akan kita lakukan selanjutnya?"
Dengan senyum tipis yang sangat misterius, Sona Sitri menjawab dengan penuh penekanan dalam tiap katanya.
"Tentu saja, kita harus memberi ucapan selamat untuk kemenangan mereka."
Naruto by Masahi Kishimoto
Highschool DxD by Ichie Ishibumi
and other characters are not belongs to me
genre : Adventure, Fantasy, Action, Friendship, Romance.
Summary : Menjadi seorang healer tidaklah mudah seperti yang aku bayangkan selama ini. Diskriminasi, penghinaan, kekerasan dan masih banyak lagi adalah bumbu yang sudah dianggap biasa. Tapi, persetan dengan itu semua, sialan. Aku hanya ingin menjadi healer yang baik.
Chapter 11 : Baginya, Infrastruktur Adalah Pondasi Penting Untuk Sebuah Negara.
XxxxX
"Padahal kau tadi baik-baik saja. Namun, kenapa kau tiba-tiba jadi begini, bakaruto?"
"Siapa yang kau panggil bakaruto, sialan?"
"Bukan sialan, tapi Sasuke."
Kuhembuskan napas dengan begitu beratnya. Sudah tidak terhitung lagi berapa kali aku menghela napas seperti ini. Meskipun banyak yang mengatakan jika setiap kali menghela napas, maka itu akan mengurangi usia hidupmu, rasanya aku sudah tidak peduli lagi. Yang ada di pikiranku hanyalah cara agar rasa sakit ini bisa segera menghilang.
Tepat sesaat setelah kami dinyatakan sebagai seorang pemenang, aku pun menghentikan teknik pernapasan dalam mode konsentrasi penuhku. Lalu, beginilah hasilnya. Tubuhku menjadi sangat lelah dengan rasa sakit di sana-sini.
"Hei, bisakah kau menggendongku dengan benar? Selain itu, jalanmu sedikit kecepatan, kau tahu?" protesku kepada Naruto.
"Berisik, dobe! Jalan saja sendiri sana kalau kau tidak terima!"
"Huh, tadi kau panggil aku apa, teme? Jika aku bisa, aku tidak mungkin mau digendong denganmu, sialan!"
"Bukan teme, tapi Sasuke."
Lihat saja, siapa aku sampai-sampai digendong dia seperti ini? terlebih lagi, seorang pemuda berusia 17 tahun sepertiku digendong di punggung laki-laki, itu sangat memalukan, tahu!
Beruntung tidak ada siapa pun di sepanjang Lorong menuju ruang ganti kami ini. Jika sampai ada orang lain yang melihat, aku pasti akan mengurung diriku di dalam kamar selama seharian penuh karena rasa maluku.
Yah, tetapi ini bukan berarti aku tidak punya rasa syukur atau semacamnya karena sudah dibantu. Hanya saja, wajah Sasuke yang sangat menyebalkan dan caranya dia menggendongku yang setengah-setengah ini, benar-benar membuat seluruh tubuhku menjadi lebih tidak nyaman.
"Omong-omong, bukankah ada sihir yang mengembalikan stamina dan menghilangkan rasa sakit atau semacamnya? Kenapa kau tidak menggunakan itu saja?" tanya Sasuke.
Aku sedikit mendongakkan kepala untuk menatap langit-langit sejenak. Jika dari kacamata orang awam, tentu saja sesuatu seperti itu adalah solusi yang bagus untuk mengatasi masalahku. Apalagi dengan kemampuanku yang mampu mengaplikasikan healing magic kepada tubuhku sendiri.
"Memang ada yang seperti itu, sih. Hanya saja, aku tidak ingin melakukannya," balasku kemudian.
"Hn?"
Aku tidak habis pikir dengan maksud "hn" dari Sasuke itu. Namun, entah kenapa aku mengerti maksudnya.
"Kau tahu, sihir semacam itu sebenarnya tidak sepenuhnya mengembalikan staminamu. Namun, itu hanya seperti memberi efek doping pada tubuhmu. Jadi, jika efek tersebut sudah habis, maka kondisi tubuhmu akan menjadi lebih buruk."
Yah, secara sederhana begitu. Sebenarnya, aku ingin menjelaskan dengan detail beserta teori yang mendukungnya. Hanya saja, aku ingat bahwa Sasuke adalah orang awam tentang dunia medis. Jadi, menjelaskannya terlalu detail pun tidak akan membuahkan hasil.
Lagi pula, nenek pernah mengatakan kalau menggunakan istilah asing di depan orang awam, tidak akan membuatku terlihat sebagai orang berpendidikan. Justru sebaliknya, orang-orang awam tersebut akan menganggapku sebagai orang yang menyebalkan. Selain itu, hal tersebut dilakukan demi menghindari terjadinya salah paham antar dokter dan pasien.
Dengan kata lain, untuk menghadapi seorang pasien, kau harus dapat berkomunikasi dengan bahasa dan gaya yang mudah diterima oleh pasien tersebut.
Untuk lebih mempertegas perkataanku, aku pun berniat memberi sedikit contoh kepada Sasuke.
"Seperti yang kau tahu, bahkan tubuhku pun terasa seperti mati rasa setelah aku menggunakan teknik pernapasan dengan mode konsentrasi penuh. Jika aku menggunakan sihir untuk memulihkan stamina, itu akan lebih memperburuk kondisiku."
Jujur saja. Bahkan setelah aku selesai menggunakan teknik pernapasan, aku pun sempat menggunakan healing magic untuk menyembuhkan serat-serat ototku yang rusak. Hanya saja, rasa sakit dan kelelahan itu tidak hilang sepenuhnya.
Rasa sakit tidak semata-mata hanya tercipta karena sebuah cidera. Yah, memang penyebab utamanya memang karena cidera. Namun, menutup cidera tidak lantas menghilangkan rasa sakit begitu saja.
Saat tubuh mendapat sebuah luka, maka keseimbangan sodium pada sel saraf akan terganggu. Keseimbangan yang terganggu tersebut akan menghasilkan semacam sinyal elektrik yang kemudian dikirimkan ke sistem saraf pusat pada sumsum tulang belakang. Barulah kemudian itu akan sampai pada thalamus, bagian otak yang mengatur penerimaan sinyal.
Meskipun terdengar panjang, sebenarnya proses tersebut terjadi dengan sangat singkat. sebagai pembanding, jika kau terkena luka bakar, maka hanya dibutuhkan waktu sekitar 0.01 detik hingga rasa sakit itu sampai di otakmu.
Dengan kata lain, proses terciptanya rasa sakit itu tidak sesimpel bayangan orang. Aku, Naruto Namikaze pun belum mampu mencapai level yang dapat menyembuhkan rasa sakit secara instan tanpa efek apa pun. Jika ada orang yang dapat meghilangkan rasa sakit secara permanen dengan cara yang sangat instan, orang itu adalah nenekku, Tsunade Namikaze. Seorang healer yang bahkan dapat memanipulasi seluruh sel tubuh dalam tingkat molekul.
Sasuke pun terlihat sedikit menganggukkan kepalanya. Aku senang dia paham dengan penjelasanku yang simpel. Apalagi, dia tidak terlihat meminta untuk penjelasan yang lebih detail.
"Omong-omong soal teknik pernapasan, kau bilang itu adalah teknik yang murni menggunakan kemampuan tubuh, 'kan?" tanya Sasuke.
Sudut alisku sedikit terangkat saat Sasuke menanyakan hal itu. Ketika aku hendak membalasnya, ia justru telah terlebih dahulu mendahuluiku dengan pertanyaannya yang lain.
"Jadi, kau hanya perlu melatih tubuhmu dengan sangat keras saja, 'kan?"
"Begitulah."
"Kalau begitu, bisa kau ajari aku cara menggunakannya?"
Aku terdiam sejenak mendengarnya. Dari sekian banyak opsi yang ada di kepalaku, aku tidak berpikir sama sekali bahwa Sasuke akan memintaku seperti itu. Meskipun ia sangat berbeda dengan bangsawan lain, tetapi Sasuke tetaplah seorang bangsawan. Aku pun sebenarnya mulai paham dengan segala tabiat Sasuke. Memohon kepada orang lain untuk perkembangannya, jelas bukan gayanya.
Namun, dari apa yang aku lihat sekarang, ini sepenuhnya berbeda. Karena aku yang saat ini sedang ia gendong di punggungnya, dengan jelas dapat melihat perubahan warna pada daun telinga Sasuke. Telinganya yang memerah itu, sudah menunjukkan betapa ia telah menelan harga dirinya sendiri untuk memintaku mengajarinya.
"Yah, kalau kau bisa bertahan dengan itu, aku tidak masalah. Asal kau tahu saja, bahkan setelah sekian lama, aku masih kesakitan jika menggunakannya terlalu lama," komentarku.
"Tidak masalah, bukan? Lagi pula, aku pernah mendengar sesuatu seperti "dengan mengajari orang lain, maka kau secara otomatis akan belajar sesuatu juga". Jadi, siapa tahu kau atau aku dapat mengatasi kekurangan teknik itu, kan?" balasnya
Jika aku pikirkan lebih lanjut, usulan Sasuke itu memang nampak menguntungkan. Meskipun sangat sulit, tetapi itu bukan sesuatu yang mustahil. Selama ini, aku selalu terfokus pada ilmu medisku. Jika aku kembali melatih fisikku secara ekstrim, bukan tidak mungkin aku dapat mengatasi efek dari teknik pernapasan.
"Baiklah, aku akan mengajarimu cara menggunakan teknik pernapasan saat tubuhku sudah pulih sepenuhnya," ucapku. "Ah, kurasa aku sudah bisa berjalan sendiri. Kau bisa turunkan aku."
Menuruti permintaanku, Sasuke pun membiarkan aku turun dari punggungnya tanpa bertanya sedikit pun.
Sejujurnya, memintanya menurunkanku sekarang adalah sebuah permintaan yang cukup tanggung. Pasalnya, saat ini kami sudah sampai tepat di depan pintu ruang ganti yang disediakan untuk kami. Hanya saja, membayangkan seorang laki-laki yang menggendong laki-laki lain dan masuk ke dalam ruang ganti, itu sedikit menggangguku.
Ruang tunggu dan ruang ganti adalah dua ruangan yang berbeda. Jika ruang tunggu yang sebelumnya kami gunakan hanya berfungsi untuk mempersiapkan diri menghadapi pertarungan. Maka, ruang ganti adalah ruangan yang disiapkan oleh pengelola Colloseum untuk menenangkan tubuh pascapertarungan.
Bahkan, dari yang aku dengar, di ruang tunggu terdapat air panas yang sudah diberi efek ramuan untuk menghilangkan rasa sakit. Yah, meskipun efeknya tidak akan bekerja secara instan seperti sihir milik nenek, setidaknya itu lebih baik daripada menggunakan sihir pemulih stamina milikku.
Saat tangan kiri Sasuke memegang gagang pintu tersebut, ia juga memberi sedikit dorongan terhadapnya agar pintunya terbuka. Bayangan tentang aku yang bisa bersantai di ruang tunggu, sirna sudah ketika aku mendapati dua sosok yang sudah menghuni ruang tunggu itu.
Yang pertama, adalah seorang gadis dengan tubuh yang sangat ramping. Ia memakai setelan seragam yang sama dengan kami. Rambut pendek yang dipadukan dengan kacamata yang ia kenakan, membuat kesan dewasa pada dirinya. Entah kenapa, cara duduknya yang elegan itu membuatku merasa tidak nyaman.
Sedangkan yang kedua, penampilannya tidak jauh berbeda dengan gadis satunya. Hanya beberapa bagian yang terlihat sangat menonjol yang membedakannya dengan gadis pertama. Ia yang sedang berdiri di samping gadis itu, menunjukkan dengan jelas posisinya saat ini.
"Ah, ku- kurasa kami salah ruangan, maaf," ucapku dengan kikuk sambil sedikit membungkukkan badan.
Ketika aku meraih bahu Sasuke untuk mengajaknya pergi, tiba-tiba ada sebuah suara feminim dan lembut terdengar oleh indra pendengaranku. Meskipun begitu, aku sama sekali tidak merasa tenang saat mendengarnya.
"Tidak, ini adalah ruangan kalian. Akulah yang seharusnya minta maaf karena masuk tanpa izin."
Perkataannya yang sangat sopan serta gestur tubuhnya saat meminta maaf, semakin mempertegas statusnya bahwa ia adalah orang dari kalangan atas.
Baik aku maupun Sasuke, kami berdua terus memandangi gadis itu dengan seksama. Harus aku akui, dia terlihat sangat manis dengan senyum kecilnya itu. Namun, di saat yang sama, bulu kudukku dibuat berdiri karenanya.
"Perkenalkan, namaku Sona Sitri dan yang di sebelahku ini Tsubaki Shinra," ucapnya dengan senyum yang kecil. "Pertama-tama, tolong izinkan aku untuk memberi selamat atas kemenangan kalian berdua."
Senyum itu, lagi-lagi senyum itu membuatku ingin segera lari dari sini. Tidak dapat aku pungkiri, gadis bernama Sona Sitri itu adalah gadis yang berbahaya. Jika selama ini aku selalu menggambarkan Erza Scarlet sebagai seorang monster dengan kharismanya yang begitu kuat. Maka, bagaimana caraku untuk memberi gambaran terhadap gadis di depanku itu?
"Sitri, ya?" gumam Sasuke.
Pada dasarnya, aku adalah orang yang tidak ingin terlibat dengan para bangsawan. Oleh karena itu, aku tidak pernah mencari tahu sesuatu tentang mereka. Jadi, saat ini pun aku tidak bisa membuat garis besar tentang siapa atau apa tujuan gadis itu.
"Aku tidak peduli dengan caramu untuk bisa masuk kemari," kata Sasuke dengan datar. "Langsung ke intinya saja. Apa tujuanmu, Sitri?"
"Fufufu … meskipun kamu sangat membenci Uchiha, tetapi tabiatmu benar-benar mirip dengan mereka. Kamu benar-benar seorang Uchiha, ya?"
Aku tidak tahu Sona Sitri itu berniat memuji atau justru memprovokasi. Yang pasti, perkataannya itu benar-benar mengenai ranjau di hati Sasuke. Aku yakin itu.
"Baiklah, sesuai keinginanmu. Aku ingin kalian bergabung dengan grupku," ucap Sitri-sama sambil membetulkan letak kacamatanya.
Tunggu, apa dia tadi bilang grup? Aku sangat lega karena dia tidak menantang kami bertarung atau semacamnya. Namun, tetap saja aku tidak tahu dan benar-benar tidak ingin tahu apa maksudnya.
"Te- terima kasih a- atas tawarannya, Sitri-sama. Na- namun, kami harus menolaknya," ucapku dengan kikuk.
"Menolak tanpa mencari tahu terlebih dulu? Kamu benar-benar sesuatu, Namikaze-san," balas Sitri-sama sambil menghela napas. "Setidaknya, biarkan aku memperkenalkan grupku terlebih dulu."
Tidak, itu tidak perlu. Serius ini. Bahkan tanpa kau bilang sedikit pun, sensor tanda bahaya dalam kepalaku sudah berteriak kalau itu pasti grup yang tidak beres.
"Kau dengan seluruh sifat manipulatif keluargamu, tidak ada alasan bagi kami untuk mendengarkanmu," balas Sasuke dengan tegas.
Uchiha-san! Aku senang kau langsung menolaknya Dengan tegas. Serius, aku sempat mengira bahwa Sasuke akan meladeni gadis itu lebih lanjut. Aku benar-benar bersyukur karena kau bisa membuat pilihan yang tepat. Kau sudah dewasa sekarang, Uchiha-san!
"Sejujurnya, tawaranku sangatlah berguna untuk kalian berdua. Atau setidaknya, ini adalah tawaran yang bagus untuk healer yang berasal dari tempat tidak jelas dan bangsawan yang kehilangan harga dirinya."
Begitu. Jadi, yang ia incar bukanlah personal kami sebagai Naruto Namikaze dan Sasuke Uchiha. Bisa dibilang, ia lebih menginginkan status kami berdua yang cukup menarik perhatian orang. Tentu saja, maksudku menarik perhatian adalah menarik orang lain untuk menghina kami berdua. Bukan sesuatu yang spektakuler atau semacamnya.
Namun, apa yang ia incar dari itu semua? Apa dia ingin menjadikan kami sebagai kaki tangan keluarganya?
"Izinkan aku untuk menjelaskannya," ucap Sitri-sama tetap dengan senyumannya. "Pertama-tama, dengan bangga aku akan memperkenalkan grup yang baru kami buat ini. Nama grup kami adalah … Perkumpulan Masyarakat Modern."
Huh? Tunggu, perkumpulan— apa yang dia bilang tadi? Tidak-tidak-tidak, bukan itu. Memangnya, apa hubungannya kami dengan grup yang mempunyai nama aneh itu?
"Apa-apaan dengan nama yang jelek itu? Apa kau itu sebenarnya seorang idiot?" tanya Sasuke dengan tampangnya yang selalu menyebalkan.
Sasuke-kun! Itu tidak sopan, kau tahu? Apa kau tidak sadar bahwa kata-katamu tadi sangat menusuk? Yang kau katakan tadi itu, ibarat mengejek seorang bocah yang mempunyai nama sangat aneh tepat di depan muka neneknya sendiri.
Kau tahu, jika si nenek itu sampai marah, dia akan menghajar orang yang mengejek nama cucunya aneh itu, lho. Kau harus paham, bahwa perbuatanmu itu dapat membuat seorang bocah tidak bisa mempunyai seorang teman sampai ia remaja karena neneknya yang menyeramkan.
Tu- tunggu, ini bukan seperti pengalamanku atau semacamnya, ya. I- ini hanya cerita dari temannya temanku saja.
"Untuk ukuran orang yang bahkan tidak bisa mengingat arah, aku rasa itu adalah kata-kata terbaik yang bisa kamu ucapkan. Jadi, aku akan menganggap pendapatmu tadi sebagai pujuain," balas Sitri-sama.
Tu- tunggu, kenapa dia justru mengejek kembali Sasuke? Tidak-tidak, Sitri-sama. Kemana perginya sosok dirimu yang sangat menyeramkan itu tadi? Selain itu, apa kalian ini benar-benar bocah yang saling suka mengejek?
"Sona-sama."
Sebuah suara lain akhirnya muncul. Itu adalah suara dari gadis yang selama ini selalu berdiri diam di sana itu.
"Uhuukk … maafkan atas ketidak sopananku dan izinkan aku untuk melanjutkan."
Kali ini, situasi kembali normal seperti sedia kala. Tidak, aneh rasanya menyebut situasi ini normal. Yang jelas, situasi saat ini sudah kembali menjadi situasi di saat sebelum Sasuke melemparkan ejekan ke Sitri-sama.
"Seperti yang kalian tahu, pandangan dan cara berpikir orang-orang di sekitar kita … sangatlah kuno."
Sitri-sama menjeda ucapannya untuk mengambil napas sejenak. Setelah itu, ia kembali melanjutkan.
"Healer dianggap tidak berguna, status kebangsawanan yang selalu dipuja, ilmu pengetahuan yang selalu disisihkan, penilaian individu yang tidak adil, dan juga kebebasan berpendapat yang dikekang. Bukankah kalian berdua juga merasa demikian?"
"Uchiha-san, kamu adalah bangsawan terhormat yang kemudian diasingkan oleh keluargamu hanya karena kamu kehilangan salah satu nilai dari kebangsawananmu. Padahal, masih banyak nilai-nilai lain yang ada di dalam dirimu yang bisa dijadikan tolak ukur, 'kan? Namikaze-san, melihat metode penggunaan healing magic-mu yang sangat berbeda dari orang lain, kamu pasti berpikir bahwa pikiran mereka telah dikotak-kotakkan oleh tradisi yang sangat kuno, 'kan?"
Pertanyaan—atau mungkin lebih tepat aku sebut sebagai pernyataan itu benar-benar tepat sasaran. Saat pertama kali aku berada di sini, ekspektasiku dihancurkan seketika. Aku pikir, aku akan banyak mendapat pengalaman berharga sebagai seorang ahli medis saat aku berangkat ke ibukota. Namun, faktanya justru sangat berbeda.
Mereka, para healer itu justru kebanyakan tidak memahami dengan benar tentang ilmu medis. Padahal, ilmu medis adalah pondasi utama untuk seorang healer. Sepengamatanku selama berada di sini, menjadi healer hanya cukup untuk menyembuhkan luka dengan sihir. Itu saja. Alhasil, kerajaan yang ingin memunculkan 'Tsunade' baru, justru mengalami kemunduran yang sangat besar setelah era nenek berakhir.
"Nilai-nilai dalam diriku, katamu? Memangnya, kau tahu apa? Aku bahkan tidak peduli dengan pendapat para Uchiha sialan itu," balas Sasuke dengan pedas.
"Tentu saja aku tahu. Kemenangan yang kamu dapatkan tadi adalah buktinya."
"Apa maksudmu?"
Sitri-san menghela napas dan mengatakan, "ketika semua orang sedang terpaku dengan pikiran kuno mereka tentang bakat. Kalian berdua yang benar-benar berada di lapisan terbawah masyarakat, muncul dan memutar balikkan semua logika itu."
"Seorang Uchiha yang tidak dapat menggunakan sharingan, tetapi kamu mampu menciptakan sihir api sekuat itu meskipun tidak ada yang membimbingmu sebelumnya. Lalu, healer yang biasa hanya berdiri di belakang dan bergantung dengan orang lain, justru dapat bertarung layaknya seorang assassin," lanjutnya.
"Mungkin, dalam kasus lain akan ada orang dari kalangan bawah yang diberkahi bakat unik dan hebat. Seperti misalnya pada kasus Touma Kamijou-san yang mempunyai anti sihir, atau Erza Scarlet-san yang diberkahi dengan senjata kelas longinus."
Lagi, Sitri-sama terlihat menarik napas setelah ia berbicara panjang seperti itu.
"Namun, untuk kalian berdua, untuk Uchiha yang tidak dapat menggunakan sharingan dan healer dengan gaya bertarungnya yang serampangan, kalian benar-benar dua orang tanpa bakat yang hanya tahu cara untuk mencapai tujuan kalian saja."
Aku tidak tahu itu pujian atau bukan. Akan tetapi, orang tanpa bakat yang hanya tahu cara untuk mencapai tujuan, ya?
Sejak awal, tujuanku adalah menjadi healer yang dapat melampaui nenek dalam segala aspek. Karena itulah, aku berlatih begitu keras sejak kecil. Bahkan, meskipun aku berlatih di bawah pengawasan nenek secara langsung, perkembanganku benar-benar sangatlah lambat. Jika dibandingkan dengan pencapaian nenek yang bahkan sudah membuat teori tentang AIM Energy ketika masa-masa remajanya, rasanya aku ini benar-benar jauh dari kata berbakat.
Huh, tunggu dulu. Aku baru menyadarinya. Jika dilihat dari kacamata orang lain, seharusnya mereka menganggap aku ini mempunyai bakat. Akan tetapi, bagaimana bisa Sitri-sama mengetahui kalau aku sebenarnya bukanlah orang berbakat?
"Hentikan omong kosongmu, Sitri. Katakan saja pada kami, apa tujuanmu?" balas Sasuke dengan tidak sabar.
Sitri-sama menunjukkan senyum manisnya seperti biasa. Hanya saja, daripada senyum yang memberikan perasaan was-was seperti tadi, kali ini senyumannya terlihat jauh lebih tulus.
"Tujuan akhirku adalah, aku ingin membuat kerajaan ini menjadi tempat yang menilai orang lain berdasarkan kerja keras dan pencapaian. Bukan kerajaan yang mengagungkan garis keturunan,"
Saat aku berpikir ia akan mengatakan kata-kata manis, aku benar-benar salah besar. Meskipun ia mengatakan itu dengan nada yang tulus, tetapi makna dari kalimatnya itu benar-benar tidak masuk akal. Apa dia sadar dengan apa yang baru saja ia katakan?
Sasuke terlihat memicingkan matanya, senyum tipis pun keluar dari mulutnya. Aku cukup yakin, bahwa Sasuke sekarang juga sedang memikirkan apa yang sedang kupikirkan juga.
"Kau nekat juga, ya? Apa kau tidak memikirkan reputasi keluargamu?" tanya Sasuke.
"Aku sama sepertimu, aku tidak begitu memikirkan apa kata keluargaku," balas Sitri-sama dengan mantap.
Tanpa bisa menahan diri lagi untuk tidak bertanya, aku pun masuk ke dalam percakapan kedua bangsawan itu.
"A- ap itu be- berarti kau juga bangsawan cacat, Sitri-sama?"
"Tentu saja tidak. Meskipun nilai praktik sihirku buruk, itu hanya bagian dari rencanaku saja. Aku hanya berbeda pandangan dengan mereka, itu saja," balas Sitri-sama sambil sedikit memandang Tsubaki yang sedari tadi selalu diam.
"Satu lagi, tolong jangan panggil aku dengan honorofik "-sama". Aku berniat mengajak kalian masuk ke dalam rencanaku. Jadi, aku ingin menganggap posisi kita ini sama," ucap Sitri-sama kemudian. "Itu juga berlaku untukmu, Tsubaki."
"Maaf, Sona-sama. Akan tetapi, saya tidak bisa memanggil anda seperti itu."
Begitu. Jadi, meskipun ia berusaha merekrut kami, tetapi ia juga ingin menunjukkan bahwa kami mempunyai hak dan kedudukan yang sama dengannya. Aku tahu ia berusaha sebaik mungkin, tetapi ini adalah keputusanku.
"Sitri-sama, aku hargai ajakanmu. Namun, aku harus menolaknya," ucapku.
"Baiklah, aku terima tawaranmu," kata Sasuke bersamaan denganku.
Aku pun terkejut mendengarnya. Maksudku, tentu saja aku tidak menyangka dia akan menerimanya.
"Tunggu, aku yakin kau bukan orang idealis seperti itu 'kan, Sasuke?"
"Tentu saja tidak. Aku hanya berpikir, mungkin aku akan bisa bertarung dengan orang-orang kuat jika aku bergabung dengannya."
"Tunggu, alasan macam apa itu? Apa kau tidak mengerti dengan tujuan Sitri-sama? Selain itu, jika kau hanya ingin bertarung, bukankah ada banyak cara untuk mewujudkannya?"
"Aku tidak masalah dengan itu."
Keringat di pelipisku pun dipaksa jatuh setelah mendengar responnya. Apa benar-benar tidak apa-apa baginya? Jika dia menerima orang dengan motivasi seperti Sasuke, dia bisa-bisa akan ditusuk dari belakang suatu saat nanti, lho. Serius ini.
"Jadi, Namikaze-san?"
"Uhhh … maafkan aku, tetapi aku tetap pada keputusanku."
Memangnya, aku akan mau bergabung dengannya? Bahkan, meskipun Sasuke memutuskan untuk bergabung, aku tidak senekat dia. Tentu saja, aku sangat takut dengan konsekuensi yang bisa saja menimpaku, sialan.
"Sayang sekali, padahal darah seorang aktivis hebat mengalir dalam nadimu," balas Sitri-sama dengan nada yang dibuat-buat.
Kali ini, aku bahkan dibuat lebih terkejut lagi dari sebelumnya.
"Apa maksudmu, Sitri-sama?"
"Aku masih belum mendapatkan bukti yang valid. Namun, aku sangat yakin bahwa kamu adalah cucu dari dua orang legendaris, Jiraiya Si Petapa Katak dan Tsunade Si Putri Siput. Dengan kata lain, kamu adalah putra dari pasangan Minato Namikaze dan Kushina Namikaze ."
Tunggu, dari mana dia tahu? Apa dia mempunyai koneksi orang dalam sehingga bisa mendapatkan informasi pribadi para murid? Tidak, kurasa itu tidak mungkin. Namun, bagaimana bisa?
"Naruto, … kau?" gumam Sasuke dengan pandangan tidak percaya.
Apa yang harus aku lakukan? Mencoba membodohinya? Tidak, itu tidak mungkin. Sitri-sama bukanlah orang bodoh yang bisa dikelabuhi begitu saja. Terlebih lagi, meskipun dia bilang dia belum menemukan bukti valid, tetapi tatapannya yang penuh dengan rasa percaya diri itu menunjukkan betapa yakinnya dia.
"Kushina Namikaze, atau mungkin orang-orang lebih mengenalnya dengan Kushina Uzumaki," tutur Sitri-sama.
Sesaat setelah ia membawa nama mendiang ibuku, rasanya aku benar-benar ingin langsung pergi begitu saja. Namun, ada sebuah dorongan kecil dalam hatiku yang memintaku untuk mendengarnya lebih jauh.
"Setiap orang tahu tentang beliau. Bahkan, dengan segala rasa hormatku terhadap beliau, aku tidak segan-segan menganggapnya sebagai panutan hidupku," ucapnya. "Kushina-sama, beliau bukanlah keluarga bangsawan, bukan juga seorang penyihir. Jangankan penyihir, beliau pun tidak dapat menggunakan sihir sama sekali. Beliau hanyalah orang dengan latar belakang yang tidak jelas. Namun, hanya dengan berbekal pena dan kertas, beliau mampu memberi perubahan besar pada kerajaan ini."
"Berkat buku-buku yang beliau tulis, masyarakat dari kalangan bawah pun menjadi sedikit memiliki harapan. Penghapusan sistem budak dan mewujudkan nilai hak asasi manusia, itu adalah buah dari pemikiran-pemikiran berani beliau. Bahkan, hati dingin dari Si Kilat Kuning, Minato Namikaze-sama, pun luluh karena sifat beraninya Kushina-sama."
Aku tahu. Aku sangat paham dengan apa yang Sitri-sama katakan. Bagaimanapun juga, aku sering kali mendengar kisah mendiang ibuku dari kakek dan nenek.
Sepanjang yang aku tahu, ibu hanyalah anak dari kaki gunung, desa tempat tinggalku sekarang. Karena melihat penduduk desa yang ditelantarkan oleh bangsawan yang seharusnya memimpin desa, ibu pun mulai pergi ke kota terdekat untuk mencari bantuan.
Namun, seperti yang diduga. Tidak ada siapa pun yang menolong penduduk desa. Karena itulah, hanya dengan modal seadanya, ibu berangkat ke Edo, ibukota kerajaan Codafata.
Entah apa yang merasuki ibu, ia selalu mengirimi surat kepada para bangsawan di ibukota meskipun tidak mendapat balasan sama sekali. Oleh sebab itu juga, ibu mulai menulis bukunya sendiri tentang betapa tidak adilnya mereka. Buku itu pun ia jual sendiri, dan bahkan ada beberapa yang dibagikan secara cuma-cuma.
"Ibuku adalah ibuku, aku adalah aku. Kau tidak bisa memaksakan ekspektasimu kepadaku," balasku. "Lagi pula, ada ayahku yang melindungi ibuku ketika keluarga kerajaan mulai mengincarnya. Sedangkan kau? Bahkan, tidak ada jaminan sama sekali dalam rencanamu."
Ya, aku sangat tahu dengan hal itu. Pada puncak kerusuhan politik yang disebabkan oleh ibuku, mungkin ibuku akan dijatuhi hukuman mati jika saja ayah tidak menjadikan dirinya sebagai jaminan.
"Apa kau yakin, hanya karena itu saja Kushina-sama bisa lolos dari hukuman mati?" tanya Sitri-sama dengan dingin.
Seluruh kata-kata yang ingin aku keluarkan untuk menjawabnya, entah kenapa terasa seperti tertahan di dalam tenggorokanku. Pertanyaannya yang menusuk, seakan ingin memutar logikaku.
"Saat itu, Kushina-sama dianggap sebagai simbol revolusi, simbol dari segala bentuk harapan masyarakat kecil. Dalam sebuah keadaan politik yang sangat tidak stabil, menjatuhkan hukuman mati terhadap beliau, sama saja dengan mengundang perang saudara. Kaisar dan para menterinya tentu sangat memahami hal itu," jelas Sitri-sama panjang lebar.
"Namikaze-san … aku mengundangmu bukan hanya semata-mata karena kamu adalah putra dari orang yang sangat kukagumi. Lebih dari itu, aku mengajakmu karena kamu adalah seorang ahli medis yang sebenarnya."
"Apa maksudmu?"
"Sebagai orang yang telah hidup pada kalangan bawah, kamu pasti sudah melihat betapa timpangnya kondisi kesehatan mereka, 'kan?"
Lagi-lagi, aku tidak mempunyai sanggahan atas pendapatnya. Selama aku hidup di desa, aku selalu mengeluh tentang orang-orang yang tidak dapat menjaga kesehatannya sendiri. Tidak, aku sangat tahu tentang kondisi mereka. Hanya saja, sebagai seorang dokter, aku merasa kesal saat mereka tidak dapat hidup dengan tenang tanpa bayang-bayang terkena penyakit atau wabah yang mematikan.
"Namikaze-san, izinkan aku bertanya sesuatu," imbuh Sitri-sama. "Menurutmu, apa yang akan dilakukan oleh seorang dokter jika ada pasiennya yang sakit?"
Tunggu, kenapa dia tiba-tiba mengganti topik pembicaraannya? Apa pertanyaan itu masih berhubungan dengan pembahsan yang sebelumnya?
"Sederhananya, untuk menentukan penyakitnya, aku akan melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap pasien. Jika sudah begitu, akan diputuskan tindakan apa yang akan dilakukan."
Untuk menentukan sebuah penyakit, anamnesis saja tidak akan cukup. Bahkan, meskipun pasien merasakan gejala-gejala seperti demam biasa, tetapi bisa saja itu bukan hanya sekedar demam. Karena itulah, pemeriksaan klinis harus dilakukan untuk mengetahui akar dari permasalahannya. Bahkan, standarnya pun harus dilakukan pemeriksaan penunjang. Entah itu hanya sekedar tes darah saja.
"Begitu. Jadi, apa yang menyebabkan ketimpangan kesehatan yang dialami oleh rakyat?"
Kepalaku tertunduk ketika mendengar pertanyaannya. Jika berbicara tentang ketimpangan kesehatan, tentu saja masalahnya sangat kompleks. Seperti misalnya pada faktor ekonomi yang sangat sulit.
"Bukankah sudah jelas, kalau itu karena kesulitan ekonomi yang sedang mereka alami?" balas Sasuke yang sedari tadi hanya menjadi penyimak saja.
"Apa menurutmu hanya itu?"
Baik aku maupun Sasuke, kami berdua hanya diam tanpa menanggapi pertanyaan Sitri-sama. Melihat hal itu, ia pun menghela napasnya pasrah.
"Ketimpangan sosial, tentu saja. Akses yang tidak memadai untuk daerah tertinggal, menyebabkan sulitnya pertumbuhan ekonomi. Pola pikir manusianya yang kuno, menghambat terjadinya perkembangan ilmu pengetahuan. Birokrasi yang sangat rumit, hanya menguntungkan para penguasa. Bahkan, para bangsawan yang hanya setingkat baron pun, rela meninggalkan wilayah mereka ke ibukota atau kota besar lain dan membiarkan orang yang tidak kompeten untuk mengurus wilayahnya.
Tindakan tanpa tanggung jawab seperti itulah, yang membuat rakyat-rakyat jelata menderita. Dengan kata lain, penyebab terjadinya ketidak adilan yang mereka rasakan, karena negeri ini sedang sakit."
Selama pembicaraan ini, memang itu tadi bukanlah kalimat terpanjang yang pernah aku dengar dari Sitri-sama. Namun, jujur saja, bukan berarti aku tidak paham sama sekali dengan apa yang dia katakan. Justru sebaliknya, itu adalah sebuah opini yang benar-benar sependapat denganku.
Sebagai orang yang hidup di kaki gunung, aku benar-benar mengerti bagaimana sulitnya mereka yang harus turun gunung hanya untuk menjual hasil panennya. Baron yang seharusnya memerintah desa tempat kami tinggal, justru mematok biaya yang sangat tinggi untuk memberi akses pada kami. Karena itulah, tidak ada pilihan lain selain turun gunung dan menjualnya secara langsung.
Tidak ada lagi sepatah kata pun yang keluar kemudian. Suasana yang sangat sunyi ini, seakan-akan memberiku ruang untuk mengatasi perasaan dilema dalam hatiku. Ini bukan pertama kalinya aku berada dalam kondisi seperti ini. Hanya saja, kali ini, aku tidak dapat membuat keputusan cepat seperti biasa.
Bahkan, ada sesuatu yang menahan rasa takutku agar tidak mengendalikan pikiranku.
Saat suasana hening ini telah bertahan dalam beberapa menit, tiba-tiba kami semua mendengar gagang pintu yang diputar. Dengan suara yang berdecit pelan, seluruh direksi kami teralihkan pada sebuah pintu yang perlahan terbuka itu.
"Sitri, apa yang kau lakukan di sini?"
Itu adalah Phenex ojou. Dia datang bersama dengan Megumi yang berada di belakangnya. Aku tidak tahu apa mereka merasakan atmosfer berat yang berada di sini. Yang jelas, aku dapat melihat ada sebuah keringat yang menetes di pelipis Phenex ojou.
"Phenex-san, dan … kamu pasti Tadokoro-san, bukan?" ucapnya dengan gestur yang tenang. "Tusbaki, kurasa waktu kita sudah habis. Ayo pergi."
Tanpa menjawab titah Sitri-sama, Gadis bernama Tsubaki-san itu berjalan mengikutinya dari belakang. Tentu saja, mereka berdua memberikan salam kepada kami terlebih dahulu sebelum mereka berjalan pergi.
Namun. Saat Sitri-sama hendak melewati Phenex ojou dan Megumi, tiba-tiba ia menghentikan langkahnya.
"Uchiha—tidak. Sasuke-kun, kuucapkan terima kasih karena telah menerima tawaranku," ucapnya sambil melihat ke arah Sasuke. "Lalu, Namikaze-san. Kuharap kamu berubah pikiran dan menjadi healer yang akan menyembuhkan akar permasalahan negeri ini."
Bersambung
Author Note : Hallohallo, saya datang dengan membawa cahpter terbaru.
dari 11 chapter yang saya tulis, chapter ini adalah bagian yang paling saya suka. karena bagaimanapun, chapter ini adalah chapter yang memberi gambaran kasar kemana fanfict ini akan berjalan. Karena itulah, saya bisa update lebih cepat dari bayangan saya. karena memang saya sangat senang saat menulis chapter ini haha.
Jadi, semoga kalian semua menikmati apa yang tersaji di chapter ini, oke?
Oke, masuk ke pembahasan. seperti yang selalu saya bilang, kalau inspirasi utama dari fanfict ini adalah dari jaman kegelapan yang ada di Eropa pada abad pertengahan. seperti yang dijelaskan Sona, status sosial adalah segalanya, ilmu pengetahuan bukan sesuatu yang penting, dan pikiran masyarakatnya selalu dikotak-kotakkna.
Lalu, akhirnya alasan Kushina begitu dihormati dengan orang-orang pun saya ungkapkan. dia hanyalah orang biasa, orang yang benar-benar tanpa bakat yang berusaha menolak status quo.
yah, karena saya sudah tidak tahu lagi apa yang indin saya tulis, saya sudahi sampai di sini saja. untuk lebih jelasnya, bisa ditanyakan via PM atau review. oke, saya ucapkan terima kasih kepada semua orang yang sudah mengikuti cerita ini, dan sampai berjumpa di chapter selanjutnya.
