"Sitri, apa yang kau lakukan di sini?"

Itu adalah Phenex ojou. Dia datang bersama dengan Megumi yang berada di belakangnya. Aku tidak tahu apa mereka merasakan atmosfer berat yang berada di sini. Yang jelas, aku dapat melihat ada sebuah keringat yang menetes di pelipis Phenex ojou.

"Phenex-san, dan … kamu pasti Tadokoro-san, bukan?" ucapnya dengan gestur yang tenang. "Tusbaki, kurasa waktu kita sudah habis. Ayo pergi."

Tanpa menjawab titah Sitri-sama, Gadis bernama Tsubaki-san itu berjalan mengikutinya dari belakang. Tentu saja, mereka berdua memberikan salam kepada kami terlebih dahulu sebelum mereka berjalan pergi.

Namun. Saat Sitri-sama hendak melewati Phenex ojou dan Megumi, tiba-tiba ia menghentikan langkahnya.

"Uchiha—tidak. Sasuke-kun, kuucapkan terima kasih karena telah menerima tawaranku," ucapnya sambil melihat ke arah Sasuke. "Lalu, Namikaze-san. Kuharap kamu berubah pikiran dan menjadi healer yang akan menyembuhkan akar permasalahan negeri ini."


Naruto by Masahi Kishimoto

Highschool DxD by Ichie Ishibumi

and other characters are not belongs to me

genre : Adventure, Fantasy, Action, Friendship, Romance.

Summary : Menjadi seorang healer tidaklah mudah seperti yang aku bayangkan selama ini. Diskriminasi, penghinaan, kekerasan dan masih banyak lagi adalah bumbu yang sudah dianggap biasa. Tapi, persetan dengan itu semua, sialan. Aku hanya ingin menjadi healer yang baik.

Chapter 12 : Layaknya Mereka, Seperti Itulah Cara Hidup Para Pemakan Bangkai.


XxxxX

Secara alami, makhluk hidup mempunyai naluri yang akan membuat mereka selalu mempertahankan hidupnya. Bagi makhluk hidup, mempertahankan eksistensinya agar tidak punah adalah sebuah keharusan yang tidak dapat mereka hindari. Berbagai cara pun dilakukan oleh para makhluk hidup. Itu adalah siklus yang akan selalu berputar dalam lingkaran kehidupan. Tidak peduli apa pun kondisinya.

Karena manusia termasuk ke dalam golongan makhluk hidup, maka sudah pasti mereka juga melakukan pertahanan diri terhadap eksistensi mereka.

Banyak orang yang bilang bahwa manusia adalah makhluk yang spesial karena mereka dibekali dengan akal dan mana. Namun, apa itu benar? Maksudku, jika standarnya hanya pada akal dan mana, maka monster pun juga ada beberapa yang mempunyai akal, 'kan? Bahkan, naga yang dikatakan telah punah berabad-abad yang lalu pun mempunyai kualitas yang jauh di atas manusia.

Sejujurnya, aku tidak melihat perbedaan yang mencolok antara manusia, hewan, maupun monster. Pada dasarnya, manusia pun akan memangsa manusia lain yang lebih lemah untuk mempertahankan atau menaikkan eksistensinya. Mereka yang lemah akan berlindung dan menjilat orang lain agar keberadaan mereka tetap terjamin. Serta ada sekumpulan orang dengan kemampuan yang standar dan membentuk sebuah kelompok agar mereka bisa saling menutupi satu sama lain, bagaikan cara hidup sekawanan hyena.

Lihat, tidak ada perbedaan yang mencolok, 'kan?

Lantas, apa yang membuat manusia layak disebut sebagai manusia? Jawabannya adalah nilai dari kehidupan mereka.

Selama 17 tahun kehidupanku, aku menghabiskan banyak waktuku untuk membaca berbagai jenis buku. Meskipun cita-citaku adalah menjadi seorang healer yang akan melampaui nenek, tetapi aku tetap membaca banyak buku sejarah dan filsafat agar aku dapat melihat dunia jauh lebih luas dari yang selama ini aku bayangkan.

Aku pertama kali belajar ilmu medis ketika usiaku baru enam tahun, dan aku memutuskan untuk benar-benar menjadi seorang healer yang hebat ketika usiaku delapan tahun. Aku selalu berpikir, menjadi seorang ahli medis seperti nenek yang selalu menolong orang lain, adalah nilai tertinggi agar kita menjadi seorang manusia.

Namun, terkadang aku juga berpikir, apakah hanya dengan begitu saja sudah cukup?

'Lalu, Namikaze-san. Kuharap, kamu berubah pikiran dan menjadi healer yang akan menyembuhkan akar permasalahan ini.'

Kata-kata dari gadis yang bernama Sona Sitri itu terus berputar di dalam kepalaku sejak kemarin. Tidak peduli seberapa inginnya aku untuk mengabaikannya, percakapan yang kami lakukan kemarin serasa seperti telah ditancapkan dengan sebuah paku di dalam otakku.

Di salah satu hamparan tanah lapang yang ada di akademi Shouka Sonjoku ini, aku duduk seorang diri sambil menikmati istirahat jam makan siangku. Tidak banyak orang yang berlalu-lalang di sekitar sini. Bahkan, aku bisa menghitung jumlah orang yang lewat di depanku sedari tadi hanya dengan menggunakan jari tanganku.

Memang, ini bukanlah tempat yang populer yang akan dikunjungi ketika istirahat. Yah, alasan utamanya adalah jaraknya yang cukup jauh dari berbagai fasilitas akademi. Bahkan, jika saja di tanah lapang ini tidak menyediakan gazebo kecil yang sekarang aku buat untuk duduk dan bersantai, aku pun enggan datang kemari.

"Haaaahhh ... sialan. Kenapa aku tetap memikirkan kata-katanya?" keluhku sambil meminum air mineral yang sempat aku beli sebelumnya di kafetaria.

Menyadari bahwa botol air mineralku telah kosong, aku pun melemparnya ke belakang dengan asal-asalan. Karena rasa bosan yang telah menemaniku sedari tadi, tubuhku juga secara otomatis merebahkan dirinya di gazebo.

Benar juga, kenapa aku membuang botol tadi secara sembarangan? Bukankah itu sudah melanggar aturan? Yah, mari berharap tidak ada yang melihatnya.

"Lagi pula, aku akan mengambilnya lagi nanti saat aku kembali ke kelas," ucapku dengan penuh kebosanan.

Aku tidak pernah menyangka bahwa menghabiskan jam istirahat seorang diri seperti ini akan sangat membosankan. Umumnya, aku akan melakukan hal-hal yang tidak berguna bersama dengan Sasuke. Namun, entah kenapa kali ini aku tidak punya keberanian untuk menyapanya di kelas.

Ini bukan berarti aku membenci Sasuke karena tiba-tiba bergabung dengan Sitri-sama begitu saja. Tidak, bukan seperti itu. Aku hanya merasa malu karena telah menyembunyikan latar belakangku kepada temanku sendiri, itu saja.

Ketika kedua kelopak mataku mulai terpejam secara perlahan dengan diiringi oleh hembusan angin. Tiba-tiba aku mendengar suara seorang gadis yang berteriak nyaring kepadaku.

"Hei, kau yang di gazebo! Kau yang membuang sampah botol ini, 'kan?"

Ketika mendengarnya, aku benar-benar merutuki kesialanku. Saat aku mengira bahwa tidak ada yang melihatku membuang botol sembarangan, tidak lama kemudian justru kesialan menimpaku.

Bukan hanya itu saja, aku merasa cukup familiar dengan suara gadis yang meneriakiku itu. Sebuah suara yang pertama kali aku dengar ketika selepas upacara penerimaan murid baru, sebuah suara yang benar-benar membuatku tidak ingin terlibat dengan pemiliknya.

Sebagai respon dari teriakan itu, aku pun memaksa tubuhku agar terbangun dari tempatku berbaring yang terasa sangat nyaman. Pandanganku secara otomatis juga beralih ke sumber suara itu berasal.

Di sana, terdapat seorang gadis yang tertangkap oleh indra pengelihatanku. Rambut panjangnya yang berwarna merah itu mengayun-ayun dengan pelan diikuti oleh tarian dari sang angin. Kedua mata karamelnya menatapku dengan pandangan yang penuh dengan rasa keadilan.

Ia memakai seragam perempuan yang sama dengan milik siswi lain. Tidak ada perbedaan sedikit pun meski dia berada di dalam lingkaran murid-murid terpandang di akademi ini. Hanya saja, entah kenapa aku merasa bahwa kesan yang diberikan oleh seragam itu terlihat berbeda ketika dia yang memakainya.

Bersama dengan latar belakang bangunan-bangunan akademi yang nampak kecil di belakangnya. Serta sinar matahari yang menyinari tepat di atasnya. Mulutku pun tidak kuasa untuk menahan agar tidak menganga seperti orang bodoh.

Pada saat itu, aku menyadari betapa indahnya pemandangan yang ada di depanku.

Namun, ketika aku menyadari kembali seperti apa situasiku saat ini, keringat dingin pun mengucur dari seluruh tubuhku dengan cukup deras.

Saat aku kembali dari ilusi ini dan menyadari bahwa yang menuju ke arahku adalah si pemilik kursi kesepuluh Elite Ten Council, Erza Scarlet, naluri alamiahku pun berteriak sekencang mungkin dan menyuruhku untuk lari secepatnya.

Tentu saja, aku bukan orang yang bodoh. Jadi, aku pun dengan sigap membuat diriku mengambil kuda-kuda sekuat mungkin agar membantuku untuk berlari. Namun, suara itu kembali menginterupsiku.

"Jangan kau coba-coba untuk kabur dariku, Naruto Namikaze."

Suaranya yang berat, seakan membebani kakiku untuk bergerak. Kedua kakiku tidak bisa kugerakkan hanya karena sepatah kalimat yang ia ucapkan barusan. Selain itu, bagaimana mungkin dia tahu namaku?

Bahkan jika aku bisa kabur darinya saat ini, itu tidak akan ada artinya kalau dia sudah mengetahui namaku.

Dengan gerakan yang patah-patah dan keringat dingin yang semakin bercucuran, aku memaksakan diriku untuk membalas perkataannya.

"O- oh, Scarlet-san ternyata. Ke- kebetulan sekali bertemu denganmu di sini."

Dengan seiring langkah kakinya, ia semakin mendekat ke arahku. Pada saat itu pula, rasa keinginanku untuk kabur juga semakin tinggi.

"Katakan padaku, ini milikmu, 'kan?" tanyanya sambil menunjukkan botol air mineral yang telah kubuang.

"Aku mengaku salah. Jadi, tolong ampuni aku, Scarlet-san!" balasku dengan menundukkan kepala sambil berharap kalau dia tidak akan menghajar atau menghukumku.

Tidak ada jawaban yang kunjung keluar dari mulut Scarlet-san. Meskipun begitu, aku tetap tidak berani untuk mengangkat kepalaku. Oleh karena itu, satu-satunya hal yang bisa kulakukan sekarang adalah memperdalam aksiku dalam menundukkan kepala di hadapannya.

"Tu- tunggu, kenapa kau menunduk seperti itu, Namikaze? Y- yah, aku tidak masalah selama kau tidak mengulanginya lagi."

Mendengar jawabannya, membuatku secara spontan menghembuskan napas lega. Tanpa dapat kukontrol pun, wajahku menunjukkan ekspresi yang sangat cerah. Aku sangat yakin itu.

"Huh, kenapa kau begitu lega, Namikaze?" tanya Scarlet-san.

Sekali lagi, aku kembali dibuat penasaran tentang dirinya yang mengetahui namaku. Namun, karena saat ini aku merasa bahwa aku sudah lepas dari kematian, maka aku dapat berpikir lebih jernih dari sebelumnya.

Tentu saja, alasannya sangatlah sederhana. Aku dan Sasuke adalah siswa kedua pada tahun pertama di senior high yang menantang senior di tahun kedua. Selain itu, kami menantang Si Biru Kembar-senpai tepat setelah Scarlet-san menyelesaikan Battle of Justice. Jadi, aku yakin kabar itu juga turut sampai ke telinganya.

"Tentu saja, 'kan? Aku kira kau tadi akan menghajarku, Scarlet-san," balasku dengan jujur.

"Menghajar?" balasnya dengan bingung. "Tunggu. Kau pikir, aku ini orang yang seperti apa?"

Wajahnya yang memasang mimik seperti tidak tahu apa-apa itu, begitu menggangguku. Maksudku, apa selama ini Scarlet-san tidak sadar bahwa ia begitu menakutkan?

"Yah, setidaknya seperti itulah kesan pertama yang kutangkap saat bertemu denganmu. Maksudku, auramu begitu kuat."

"E- eh?" responnya dengan sedikit terkejut.

Ia membuang wajahnya ke arah lain. Tunggu, apa dia malu? Apa dia benar-benar malu? Sial, manis sekali reaksi malu-malunya itu.

Ini sudah berlalu beberapa menit sejak kami berdua memulai percakapan yang diawali dengan sampah botolku. Aku yang awalnya berpikir bahwa ini akan menjadi hariku untuk dihukum, ternyata itu berbeda dengan pikiran awalku. Bahkan, aku tidak ingat sudah sejak kapan kami berdua duduk santai di gazebo ini.

Namun, tetap saja. Scarlet-san selalu mempunyai aura yang sangat kuat yang selalu membuatku gugup.

"Mungkin … itu karena aku tidak ingin diremehkan oleh orang lain," ucapnya setelah beberapa saat terdiam.

"huh? Aku tidak paham."

Serius ini, aku tidak habis pikir. Diremehkan, katanya? Memangnya, siapa orang bodoh yang berani meremehkan seseorang yang memegang pedang Benizakura yang merupakan salah satu senjata kelas longinus? Maksudku, yang aku bicarakan ini jajaran sepuluh senjata terkuat di dunia, lho.

"Ini bukan rahasia umum lagi. Kau pasti setidaknya pernah mendengar tentang latar belakangku, 'kan?"

Mendengar pertanyaannya, membuat ingatanku memutar kembali kepada saat-saat aku pertama kali menginjakkan kaki di akademi ini.

Secara teknis, aku adalah warga baru Akedemi Shouka Sonjoku yang baru bergabung beberapa minggu yang lalu. Jadi, aku tidak tahu apa saja yang telah terjadi selama tiga tahun sebelumnya. Atau lebih tepatnya selama masa-masa Scarlet-san berada di tingkat junior high.

Namun, di dunia ini ada beberapa hal yang bersifat dapat menembus lintas generasi dan tempat. Salah satunya adalah gosip.

Bahkan, meskipun kau bukan berada di waktu dan tempat kejadian, meski peristiwa itu sudah berlalu beberapa tahun yang lalu, atau pun meski tidak ada catatan sejarah yang secara resmi mencatatnya, kau akan tetap bisa mendapatkan informasi dari bergosip ria.

Dalam kasus Scarlet-san, tentu saja aku juga pernah mendengar dari mulut-mulut siswa lain tentang masa lalunya yang mungkin saja sangat tabu untuk dibahas.

"A- ah, begitu. Ma- maaf, itu bukan berarti aku bermaksud untuk menyinggungmu," ucapku dengan penyesalan.

Erza Scarlet, banyak gosip yang sudah terkonfirmasi kebenarannya tentang latar belakang yang gadis bersurai merah itu miliki.

Berdasar dari apa yang aku dengar, dia adalah seseorang yang terlahir dari rahim seorang budak. Atau dengan kata lain, Scarlet-san adalah seseorang yang benar-benar dilahirkan sebagai seorang budak.

Meskipun ibuku adalah orang yang menyuarakan tentang keadilan bagi seluruh umat manusia di negeri ini, tetapi tentu saja sesuatu seperti penghapusan sistem perbudakan dapat hilang begitu saja.

Di atas kertas, undang-undang tentang penghapusan sistem perbudakan baru terealisasi tepat setelah beberapa tahun ibuku meninggal. Namun, bukan berarti pembebasan budak lantas mampu dilakukan secara besar-besaran. Tetap saja, dalam praktiknya masihlah terdapat bangsawan-bangsawan nakal yang mencoba menyembunyikan budaknya.

Dan hal itulah yang terjadi pada Scarlet-san. Ia menjadi budak hingga usianya menginjak empat tahun. Hingga kemudian ia diadopsi oleh salah satu panti asuhan di Edo. Karena itulah, banyak yang menganggap bahwa mantan budak sepertinya, tidak pantas dianugerahi oleh sebuah senjata kelas longinus, pedang Benizakura.

Setidaknya, seperti itulah kesimpulan yang aku dapat jika itu berhubungan dengan masa lalu Scarlet-san.

"Jangan khawatir, Namikaze. Apa yang terjadi di masa lalu, membantuku untuk membentuk 'Erza' yang sekarang. Jadi, aku tidak merasa menyesal atau malu dengan masa laluku. Lagi pula, jika aku membuang masa laluku, mana mungkin aku bisa menjadi seorang pahlawan, 'kan?" jelas Scarlet-san dengan berapi-api.

"Kau ingin jadi pahlawan, Scarlet-san?"

"Ya, tentu saja! Aku akan menjadi kesatria sihir, lalu bergabung ke dalam Royal Army dan menjadi pahlawan yang melindungi negeri ini!"

Saat aku melihat Scarlet-san berdiri dan mengatakan impiannya dengan penuh dedikasi, membuatku tak kuasa untuk menarik sebuah senyuman ringan di bibirku. Sama seperti Scarlet-san, aku pun mempunyai impianku sendiri. Entah itu menjadi seorang dokter yang hebat atau pahlawan, itu akan terlihat sesuatu yang sederhana di mata orang lain.

Namun, melihat orang lain yang mati-matian mewujudkan mimpi sederhananya itu, memberiku sebuah suntikan moral di dalam hatiku.

"Kushina-sama adalah pahlawan yang hebat. Berkat beliau, orang yang awalnya tidak punya masa depan sepertiku, sekarang memiliki berbagai pilihan untuk cita-citaku. Karena itulah, aku ingin menjadi pahlawan seperti beliau. Dengan segala yang aku miliki, aku ingin menjadi pahlawan yang memegang harapan rakyat-rakyat jelata!"

Diriku sedikit tersentak ketika Scarlet-san tiba-tiba menyebut mendiang ibuku. Ini bagaikan sebuah déjà vu jika aku kembali mengingat percakapanku dengan Sitri-sama.

Ibuku adalah orang yang terlahir tanpa memiliki apa pun. Sihir, harta, pendidikan, dan keadilan bukanlah sesuatu yang dapat orang seperti ibu dapatkan. Namun, ibu terus berusaha melawan takdirnya meski ia selalu ditertawakan oleh orang lain. Ia melawan bukan untuk kepentingan dirinya, tetapi demi kepentingan dan masa depan orang lain.

Seperti yang Sitri-sama katakan, di tengah dunia yang dipenuhi dengan sihir, ibu dengan lantangnya berteriak dan menggoyang kursi kekuasaan para penguasa kala itu.

Meskipun ia tidak diberkahi dengan sihir, tetapi aku merasa bahwa segala nilai-nilai kemanusiaan telah tertanam erat di dalam diri ibuku. Karena itulah, seluruh orang yang mulanya takut dengan pemerintah raja yang lalim, menjadi memiliki cahaya keberanian karena keberadaan ibuku, Kushina Namikaze, atau yang kebanyakan orang kenal dengan Kushina Uzumaki.

Revolusi Kemanusiaan, itulah nama yang digunakan mereka untuk memeringati hari kematian ibuku. Di hari yang sama itu pula, undang-undang pelarangan budak telah dibuat setelah tiga tahun wafatnya ibuku. Dengan kata lain, Revolusi Kemanusiaan terjadi pada 13 tahun yang lalu.

Meskipun aku selalu berkelakar bahwa aku tidak punya penyesalan dengan cara hidupku, sesungguhnya aku sedikit merasa malu jika aku kembali mengingat perjuangan mendiang ibuku.

"Kau benar-benar hebat sekali, Scarlet-san," pujiku dengan penuh rasa tulus.

"Be- benarkah? Y- yah, jika tidak hebat, aku tidak akan bisa jadi pahlawan. Haha," balas Scarlet-san dengan gugup.

Bersamaan dengan itu, terdengar sebuah bunyi lonceng tanda bahwa jam istirahat telah usai. Sebelumnya, aku tidak akan pernah ingin berurusan atau pun dekat-dekat dengan Scarlet-san. Namun, setelah mengenalnya lebih jauh, rasanya aku tidak ingin percakapan ini berakhir begitu saja hanya karena harus dipisahkan oleh sebuah dentingan lonceng.

"Ayo, kembali ke kelas masing-masing. Kali ini, aku akan serius menghukummu jika kau bolos jam pelajaran."

Tanpa menunggu jawabanku, Scarlet-san berlalu begitu saja menuju ke gedung kelas. Ia terlihat sedikit tergesa-gesa seolah tidak ingin melewatkan sedetik pun pembelajaran di dalam kelas. Bahkan, bagi siswi elite sepertinya, dia juga menerapkan prinsip disiplin disiplin untuk dirinya sendiri.

Kuamati punggung gadis yang berjalan di depanku itu. Meskipun ia tidak pernah menceritakan detail tentang masa lalunya, tetapi punggung itu seolah memberi tahuku segalanya. Seluruh perjuangan, kerja keras, air mata, dan putus asa, seperti terlukis jelas di punggungnya yang terlihat kokoh itu.

Setiap kali aku melihat punggung itu, aku menjadi teringat dengan punggung orang yang selama ini sangat aku kagumi, yakni nenek dan kakekku.

Sama seperti milik Scarlet-san. Punggung nenek dan kakek seolah selalu memberi tahuku segala pencapaian dan penderitaan yang sudah mereka lalui. Asam manis dari pengalaman yang telah mereka dapatkan, membuat mereka lebih mengenali nilai-nilai mereka sebagai seorang manusia.

Lagi-lagi, semuanya kembali lagi kepada nilai seorang manusia. Sebenarnya, nilai dari seorang manusia itu seperti apa? Aku selalu berpikir, menjadi dokter yang hebat yang dapat menolong orang lain adalah cara tercepat untuk memahami nilai dari sebuah kehidupan. Namun, nenek justru menolak itu dan enggan mengakuiku jika aku hanya menjadi dokter yang hebat.

"Aku membuat aturan keempat setelah aku memutuskan untuk menjadi healer macam apa aku ini. Karena itulah, Naruto ... carilah pengalaman sebanyak-banyaknya, dan putuskan aturan keempatmu sendiri."

Pesan nenek sebelum aku berangkat ke ibukota Edo kembali terngiang di kepalaku. Jika itu tentang pengalaman, maka semuanya menjadi masuk akal. Bila nenek mengatakan bahwa peraturan keempat seorang healer ia buat setelah menetapkan tujuannya, bukankah itu berarti aku juga harus melakukan pendekatan yang sama dengan nenek?

Dengan kata lain, aku harus kembali mengingat motivasi utamaku ketika aku pertama kali memulai memutuskan untuk menjadi seorang dokter.

"Penyebab terjadinya ketidak adilan yang mereka rasakan, karena negeri ini sedang sakit."

Sekali lagi, kata-kata dari Sitri-sama secara otomatis terbesit di kepalaku.

Setelah kembali memikirkan semuanya berulang kali, kembali ke titik awal aku memulai semuanya, dan membuat sebuah pendekatan yang berbeda, aku betul-betul tidak dapat kabur lagi dari kenyataan yang Sitri-sama paparkan padaku.

Benar, apa yang aku inginkan sesungguhnya sudah lama berada di dalam diriku. Sejak awal, aku benci melihat orang-orang hidup dengan dibayangi oleh wabah dan penyakit yang mematikan. Namun, aku selalu menolak kenyataan itu dengan membuat ilusi pada diriku sendiri. Ilusi yang membuatku berpikir bahwa hanya dengan menjadi dokter yang hebat, maka semuanya akan selesai begitu saja.

"Dengan begitu, aku telah mendapat resolusi dan latar belakang dari seluruh kebimbanganku," gumamku. "Sekarang, pertanyaannya adalah, bagaimana caraku mengatasi semua itu?"

Mereka bilang bahwa aku adalah seorang pengecut. Aku tidak menyanggah pendapat tersebut, tetapi itu juga tidak sepenuhnya benar. Aku termasuk ke dalam jenis orang yang sadar diri akan kemampuannya. Karena itulah, aku akan selalu memikirkan seluruh akibat yang akan terjadi atas tindakanku.

Dalam kasus ini, yang aku inginkan adalah mengubah sistem. Namun, aku tidak punya kekuatan, sumber daya, dan rencana yang sesuai yang mampu membuatku mewujudkan keinginanku.

Karena itulah, dari seluruh kemungkinan-kemungkinan yang ada, ini adalah sebuah pilihan yang paling masuk akal yang dapat aku pilih.


XxxxX

Beberapa menit yang lalu, seluruh kegiatan pembelajaran di akademi ini telah usai. Beberapa murid mungkin akan pergi untuk melaksanakan kegiatan klubnya, beberapa lagi akan pergi ke untuk melanjutkan belajar dan berlatih, dan beberapa lagi mungkin lebih memilih untuk bersantai-santai.

Umumnya, aku adalah tipe orang yang akan mengurung diriku di perpustakaan untuk membaca buku selepas kelas usai. Itu pun dengan catatan jika Sasuke tidak mengganggu waktu pribadiku.

Berbicara tentang Sasuke, aku kira dia sudah di sini sejak tadi. Maksudku, aku tahu bahwa dia telah pergi sejak jam istirahat tadi dimulai dan belum kembali ke kelas hingga seluruh pelajaran usai. Awalnya, aku berpikir Sasuke akan berada di sini. Namun, ketika aku memasuki ruangan ini, yang kudapati hanyalah dua sosok gadis yang tempo hari menemui kami.

Duduk sendiri di depan dua gadis cantik seperti mereka, sesungguhnya membuatku merasa sangat gugup. Jarak antara diriku dengan mereka berdua hanya dipisah oleh sebuah meja sederhana yang tersedia di dalam ruangan. Di dalam salah satu ruangan di gedung khusus akademi Shouka Sonjoku, di sinilah semuanya akan bermula. Namun, sebelum itu, aku rasa ada sesuatu yang mengganggu pikiran mereka.

"Namikaze-san, kamu tidak datang bersama Sasuke-kun?" tanya Sitri-sama.

"Tunggu. Memangnya, kenapa aku harus datang dengan Sasuke?"

"Karena dia bilang, dia akan datang hari ini. Jadi, wajar bukan jika aku berpikir dia akan datang bersamamu saat melihatmu kemari?"

Mendengar pendapat Sitri-sama, setidaknya aku bisa menangkap apa yang sedang terjadi secara garis besar. Maksudku, yang sedang kami bicarakan ini Sasuke, lho. Orang paling idiot yang bahkan akan tersesat meskipun itu hanya di jalan lurus.

Melihat raut wajahku yang sedikit kecut, aku rasa Sitri-sama kurang lebih dapat memahami apa yang sedang terjadi dengan Sasuke.

"Ehem … mari sejenak lupakan saja keberadaan Sasuke-san yang sedang tersesat entah kemana," ucap Shinra-san yang memecah keheningan.

Yah, itu terdengar sedikit kasar sebenarnya. Namun, karena ini adalah Sasuke, aku rasa itu tak masalah. Jadi, mari abaikan saja bocah idiot itu.

Tepat, saat kami mulai akan mengabaikan keberadaannya, sebuah suara pintu yang terbuka menginterupsi kami bertiga.

Ini adalah sebuah klub baru. Jadi, setidaknya tidak akan banyak orang yang akan masuk kemari. Oleh karena itu, ketika kami semua melihat pintu itu terbuka, aku telah terlebih dahulu mempunyai gambaran orang yang akan memasuki ruangan ini.

"Sial, kau tidak pernah bilang kalau tempat ini jauh sekali," omel orang yang membuka pintu itu seraya masuk ke dalam ruangan.

Lihat. Seperti yang aku duga, itu adalah Sasuke.

"Kamu hanya membutuhkan sekitar lima menit jalan kaki dari gedung kelas ke gedung khusus ini, Sasuke-kun," balas Sitri-sama."Sungguh, aku tahu kalau kamu itu buta arah, tetapi aku tidak menyangka kalau akan sampai separah ini."

Meskipun aku sudah menjadi temannya sejak pertama kali datang ke Edo, tetapi aku pun masih tidak habis pikir dengan penyakit buta arah milik Sasuke. Maksudku, akan wajar jika Sasuke terlambat selama lima atau sepuluh menit. Namun, dia sudah berangkat ke sini sejak dimulainya jam istirahat dan sekarang dia baru sampai?

"Naruto, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Sasuke padaku.

"Yah, sebenarnya aku— tidak. Pertama-tama, mungkin aku harus meminta maaf padamu karena telah menyembunyikan latar belakangku," balasku sambil membungkukkan badanku.

Meskipun pertemanan kami masih terbilang singkat, tetapi aku sangat menghargai pertemanan kami. Ingatan tentang kami berdua bersama mencari kompleks bangunan Akademi Sihir Shouka Sonjoku, ketika kami belajar dan berlatih bersama, dan ketika kami bertarung melawan Sakon dan Ukon-senpai, semuanya sangat berharga bagiku.

Karena itulah, aku begitu malu saat Sasuke mengetahui latar belakangku dari mulut orang lain.

"Sudahlah, aku tidak begitu memikirkannya. Lagi pula, seorang gadis pasti mempunyai satu atau dua rahasia," balasnya.

"Hah? Apa maksudmu aku ini seorang gadis, teme?"

"Bukan teme, tapi Sasuke. Itu adalah sebuah peribahasa, dobe."

"Kalau kau menggunakan peribahasa, gunakanlah kalimat yang tidak menyakiti orang lain."

"Lihat, bahkan kau saja sangat melankolis. Kau benar-benar seperti gadis dalam artian lain."

"Kau benar-benar ingin berkelahi denganku, ya?"

Menginterupsi adu mulut yang kami berdua lakukan, Sitri-sama pun menyela kami dengan kata-katanya.

"Senang melihat kalian akrab seperti biasa. Lalu, sekali lagi kuucapkan selamat bergabung dengan klub Perkumpulan Manusia Modern."

Perhatianku teralihkan sejenak oleh apa yang Sitri-sama sampaikan. Mengucapkan kata-kata selamat bergabung kepada kami, aku rasa itu sedikit terlalu cepat. Lagi pula, aku memiliki poin-poin yang ingin aku sampaikan padanya.

"Sebelum itu, biarkan aku bertanya beberapa hal," ucapku dengan serius. "Sitri-sama, apa kau sudah memikirkan rencana jangka panjangmu?"

Menanggapi pertanyaanku, Sitri-sama hanya tersenyum ringan seraya mengangkat tangan kanannya seolah itu menjadi sebuah sinyal akan sesuatu. Sepersekian detik setelah ia mengangkat tangan kanannya, Shinra-san pun berjalan mendekatiku dan Sasuke, lalu menyerahkan beberpa lembar kertas yang sedari tadi telah ia pegang.

Kami berdua mengamati lembaran-lembaran kertas itu dengan sedikit bingung sekaligus tertarik. Susunan halamannya yang telah dibuat dengan sedemikian rupa dan dijilid dengan rapi, memudahkan kami untuk membaca isi-isi yang tersaji di dalamnya.

Setelah memastikan kami berdua telah memegang kertas, Sitri-sama pun akhirnya menjawab pertanyaanku.

"Pertama, tolong panggil aku dan Tsubaki dengan nama depan saja. Kita adalah rekan, kami tidak ingin ada jarak antara kita berempat. Lalu, kertas yang kalian bawa itu adalah beberapa artikel dari majalah mingguan yang dicetak oleh klub jurnalis dari akademi ini dan telah aku kumpulkan sejak aku masih di tahun pertama junior high."

Sungguh? Dia bilang dia sudah mengumpulkan ini semua sejak tahun pertamanya di junior high? Itu berarti, dia sudah menyiapkan semuanya sejak empat tahun yang lalu?

Artikel yang mereka kumpulkan pun seputar beberapa wawancara dari klub lain yang umum diterbitkan sebagai salah satu isi dari majalah mingguan ini. Namun, dari sepanjang yang aku baca, kumpulan-kumpulan wawancara ini berisi tentang sesuatu seperti pendapat-pendapat mereka yang revolusioner maupun artikel yang memuat spekulasi-spekulasi di balik Revolusi Kemanusiaan.

"Tunggu, ini kan …," komentar Sasuke dengan sedikit menggantungkan kalimatnya.

"Ada apa, Sasuke?"

"Coba lihat lembar-lembar terakhir dari kertas ini."

Aku pun segera mengikuti arahan dari Sasuke. Benar saja. Saat aku membaca lembaran-lembaran terakhir ini, aku pun menyadari sesuatu.

"Tepat sekali, itu adalah daftar nama-nama siswa yang menempati kursi Elite Ten Council," jelas Sona. "Namun, ada sebuah perbedaan yang cukup mencolok antara sebelum masa kekacauan akademi ini dan setelahnya."

Aku pernah mendengar ini. Masa kekacauan akademi, berkisar pada 14 tahun yang lalu. Itu adalah sebuah kekacauan yang konon katanya terjadi di antara murid-murid akademi. Serta merupakan salah satu peristiwa yang mendorong terjadinya Revolusi Kemanusiaan.

Pada akhirnya, meskipun Revolusi Kemanusiaan berhasil dicapai, tetapi info mengenai murid akademi yang bertikai karenanya disembunyikan secara paksa. Khususnya info tentang seluruh anggota Elite Ten Council dalam dua tahun setelahnya, benar-benar dijaga ketat kerahasiaannya.

Yang ditunjukkan oleh Sona bukanlah sesuatu yang mengagumkan seperti info tentang mereka atau semacamnya. Bukan, ini hanyalah info-info biasa yang bisa kau temui di perpustakaan akademi. Hanya saja, yang membuatnya menarik adalah coretan-coretan yang ia buat yang menujukan sebuah detail yang mungkin telah setiap orang lewatkan.

"Dalam periode setelah masa kekacauan, kita bisa melihat bahwa setiap dua tahun sekali, terdapat seorang murid yang merupakan perwakilan dari gereja yang bergabung dalam Elite Ten Council. Atau dengan kata lain, selalu ada satu perwakilan yang bergabung dalam tiap periodenya," jelas Tsubaki.

Berdasar dari catatan yang kami terima, murid dari perwakilan gereja selalu bergabung ketika mereka berada di tahun kedua senior high. Jadi, dengan kata lain juga pasti ada seseorang yang berada di dalam lingkaran tersebut selama mereka bisa mempertahankan posisinya.

Menanggapi penjelasan sebelumnya, Sona pun melanjutkan, "Sedangkan dalam periode sebelumnya, murid dari perwakilan gereja tidak secara konsisten dapat masuk ke dalam keanggotaan Elite Ten Council."

"Selain itu, para bangsawan dengan tingkat duke dan marquess yang berada di dekat lingkaran politik kerajaan, juga mulai dengan serius menempatkan putra-putri mereka untuk bergabung ke dalam Elite Ten Council. Bahkan, di periode ini pun terdapat putra mahkota yang menempati kursi keempat," jelas Tsubaki dengan panjang.

Jika dilihat dari bentuk pola yang terjadi antara sebelum dan sesudah, aku pun mulai berpikir bahwa itu terdengar cukup mencurigakan untuk dianggap sebagai sebuah kebetulan. Namun, masih ada beberapa hal yang sedikit menggangguku. Kalau aku tidak melihat catatan yang dua gadis itu buat, mungkin aku tidak akan menyadari pola kecil yang terkesan sepele ini.

"Kalau begitu, apakah ini ada hubungannya dengan artikel-artikel yang kalian kumpulkan ini?" tanyaku sambil menunjukkan kumpulan artikel dari majalah mingguan akademi.

"Begitu rupanya, ini masuk akal sekarang."

Bukan Sona maupun Tsubaki yang menjawab pertanyaanku, melainkan Sasuke. Aku secara spontan melihat kearah Sasuke yang sedang mencubit dagunya menggunakan sebelah tangan. Sasuke yang menyadari tatapan yang penuh pertanyaan dariku, akhirnya pun memberikan sebuah penjelasan padaku.

"Naruto, bagimu yang tidak hidup di lingkungan para bangsawan, mungkin ini sedikit sulit untuk dipahami. Jika data ini valid, maka terdapat sebuah kemungkinan bahwa kerajaan dan gereja secara tidak langsung menekan klub jurnalis atau orang-orang lain yang bersangkutan yang mempunyai pandangan revolusioner."

"Tepat seperti yang dijelaskan Sasuke-kun," timpal Sona.

Jadi, seperti itu ya cara kerja orang-orang yang berada di dalam lingkaran raja? yah, aku tidak akan terkejut jika Sasuke dapat dengan baik memahaminya. Meskipun ia dianggap sebagai seorang bangsawan cacat, tetapi itu tidak membuang fakta bahwa dia adalah seorang bangsawan. Ditambah lagi, Sasuke bukanlah berasal dari bangsawan biasa. Sebagai seorang putra duke dari keluarga Uchiha, setidaknya membuatnya mengerti dengan cara kerja dunia politik di lingkungan kerajaan.

"Jadi, apa rencanamu, Sona?" tanyaku setelah merasa mengerti dengan situasi yang terjadi.

Senyum tipis dan tulus terlukis jelas di wajah Sona. Sejujurnya, itu bukan reaksi yang kuharapkan darinya. Namun, itu juga bukan berarti bahwa aku tidak menyukai balasannya.

"Kita akan memanfaatkan majalah mingguan akademi yang memuat tentang wawancara kegiatan klub tiap minggunya. Kita akan secara bergiliran memberikan pendapat kita untuk meningkatkan kepercayaan diri orang lain," jelas Sona.

"Tunggu, bukankah tadi Sasuke bilang jika perwakilan dari gereja akan menekan setiap orang yang berpotensi untuk mengancam mereka?" tanyaku.

"Sekali lagi kutegaskan, yang kita lakukan adalah mengeluarkan pendapat-penapat yang dapat meningkatkan kepercayaan diri orang lain. Dengan kata lain, itu hanyalah sebuah ucapan semangat yang umum kalian dengar di mana-mana. Bukan sebuah kalimat penuh retorika yang berhubungan dengan revolusi atau semacamnya," balas Sona kembali.

Aku mengerti. Jadi, dia berusaha memanfaatkan sedikit celah itu dan membuatnya seolah menjadi sebuah dorongan maju yang optimis. Kepercayaan diri adalah sebuah variabel penting dalam sebuah revolusi. Maksudku, kita semua di sini tahu bahwa target yang dituju Sona adalah meningkatkan kepercayaan diri orang-orang dengan status sosial yang rendah.

Jika orang-orang seperti itu mempunyai kepercayaan diri yang tinggi. Maka, mereka akan secara alami mempunyai pemikiran tentang masa depan dan dapat mendorong sebuah revolusi dengan sendirinya. Maksudku, bayangkan saja seperti kasus Erza Scarlet-san. Dia adalah mantan budak, tetapi dengan rasa percaya diri yang tinggi, dia mampu dengan lantangnya berkata bahwa dia akan menjadi pahlawan.

Jika di negeri ini banyak orang-orang seperti Scarlet-san. Maka, pemikiran-pemikiran revolusioner pasti akan lahir dengan begitu deras. Kalau semua itu terjadi, baik kerajaan maupun gereja pasti kesulitan mengurus mereka satu-persatu. Pada momen itu pula, pasti akhirnya akan terbuka ruang untuk mengeksekusi langkah selanjutnya.

Secara tidak langsung, ini memang langkah yang cukup efektif dan juga memiliki peluang risiko yang kecil. Namun, tetap saja ada sebuah celah dalam rencana ini, yaitu waktu.

Dengan mengandalkan perkembangan alami dari orang-orang, maka kita juga tidak dapat memperkirakan waktu terealisasinya langkah awal ini. Bisa saja ini akan terjadi pada sepuluh, dua puluh, atau bahkan saat kami telah meninggal, rencana itu belum membuahkan hasil.

Kulirik sekilas ke arah Sasuke. Melihat dari raut wajahnya yang juga merasa kurang puas, aku yakin dia pun memikirkan sesuatu yang sama denganku.

"Bukankah mengandalkan faktor orang lain seperti itu sangat tidak efisien dalam hal waktu?" tanya Sasuke.

"Ya, aku pun berpikir jika itu adalah rencana yang membutuhkan waktu yang sangat lama," tambahku.

Sona menghela napasnya pelan. Ia seolah sedang memikirkan kembali kata-kata yang ingin ia keluarkan untuk menjawab pertanyaan kami.

Sejujurnya, baik aku maupun Sasuke yakin bahwa dia memiliki maksud lain di balik rencananya. Namun, di samping kami tidak mengerti jalan pikirannya, dia harus menjelaskan keseluruhannya agar kami benar-benar yakin untuk bergabung ke dalam rencananya.

"Kegiatan klub ini hanyalah sebuah kedok untuk rencana yang sesungguhnya. Tujuan utama kita adalah masuk ke dalam sistem akademi ini, dan mengubahnya dari dalam. Untuk mengubah negeri ini, pertama aku ingin mengubah akademi," jelas Sona dengan nada yang penuh determinasi. "Generasi muda adalah pondasi negeri ini. Jika kita dapat mengubah pondasinya, kita pun dapat mengubah seluruh struktur bangunannya."

Sungguh, aku tidak berpikir bahwa dia akan berpikir hingga sejauh itu. Namun, itu adalah sesuatu yang memang aku butuhkan untuk saat ini. Jika itu aku, aku tidak akan dapat membuat sebuah rencana maupun mengumpulkan data-data dengan detail seperti ini.

"Jadi, kau ingin kita semua bergabung dalam Elite Ten Council?" tanya Sasuke dengan senyum tertarik.

"Itu akan bagus jika dapat terjadi. Namun, setidaknya aku ingin salah satu dari kita dapat bergabung dengan mereka," balas Sona.

Mendengar pernyataan Sona, membuatku menjadi terpikir akan sesuatu. Sesuatu yang mungkin dapat aku lakukan dengan mudah jika ada orang-orang ini yang berjuang bersamaku.

"Kurasa itu bagus. Jika itu terjadi, aku bisa mengubah kurikulum akademi ini yang berhubungan tentang materi pembelajaran para healer. Selain itu, jika kita berada di dalam lingkaran administrasi akademi, mungkin kita bisa menemukan seluruh orang yang mendukung gereja serta kerajaan," ucapku yang memaparkan pemikiran pribadi.

Tentu saja, berdasar data yang kami pegang sekarang, kami tahu bahwa kursi keempat dan kelima adalah sosok yang saat ini harus kami waspadai. Namun, ke depannya, kami harus lebih mengenali siapa saja orang yang akan menjadi lawan kami.

"Kamu benar, Naruto-san. Namun, untuk saat ini mari berfokus pada kedua orang ini terlebih dahulu," komentar Tsubaki sambil menunjuk dua lembar foto yang berada di meja tepat di depan kami.

Yah, dia benar. Saat ini, kami sudah memiliki kerangka besar rencana yang telah tersusun. Namun, itu akan sia-sia jika kami tidak bisa mengatasi mereka berdua.

"Kursi keempat dan kelima, ya?" gumam Sasuke.

Sona menghela napas dan mengatakan, "sejujurnya, aku belum mempunyai rencana yang bagus untuk mengatasi mereka berdua."

Kami berempat dipaksa untuk kembali menelan pil pahit setelah mengetahui rintangan besar yang sangat sulit untuk dilalui. Kecewa? Tidak, setidaknya ini adalah situasi yang normal bagiku. Secerdik apa pun Sona, jika dia tidak memiliki sumber daya yang memumpuni, itu hanya akan berakhir dalam kegagalan.

"Kursi keempat, si Putera Mahkota—Gilgamesh Yazid Codafata—Serta kursi kelima, murid dari perwakilan gereja, si Puteri Es—Lavinia Reni—yang merupakan pemegang senjata kelas longinus, Absolute Demise," ucap Sasuke dengan pelan.

Dasar sialan si Sasuke. Kenapa juga dia harus mengatakannya dengan intonasi seperti itu? Maksudku, itu hanya akan membawa perasaan inferior kepada siapa pun yang mendengarnya, kau tahu? Bahkan, aku pun sampai melihat keringat dingin yang keluar dari pelipis Sona dan Tsubaki-san.

Namun, apa yang dikatakan Sasuke memanglah benar. Tidak ada jalan pintas untuk mengalahkan mereka berdua. Jika harus jujur, maka satu-satunya cara yang terlintas dalam pikiranku adalah sebuah jalan yang penuh dengan pengorbanan.

Aku yakin, saat ini bukanlah aku satu-satunya orang yang merasakan ketakutan di sini. Kami semua, bahkan Sasuke yang tidak punya urat malu pun memiliki rasa takut yang berusaha ia tutupi.

Namun, karena itulah kami semua berada di sini. Kami memiliki mimpi, kami memiliki tujuan, dan kami juga memiliki harapan. Namun, realita adalah dinding terbesar yang menutup jalan di antara kami. Oleh sebab itu, kami di sini.

Kami akan saling berbagi rasa takut yang menghantui kami, dan bersama-sama mencari jalan keluar untuk mengatasinya. Entah itu menerjang secara langsung, memutar dan mencari jalan yang lebih jauh, atau bahkan lari dan bersembunyi. Kami akan bersama untuk melalui itu semua.

Aku tahu itu adalah sesuatu yang konyol, naif, dan logika tanpa dasar. Namun, aku memercayai itu semua, aku juga yakin bahwa mereka memercayai apa yang aku percayai.

" "Memiliki rasa takut dan menjadi pengecut bukanlah sesuatu yang buruk. Karena itu dapat membawamu kepada keputusan yang tepat. Namun, dalam beberapa hal, jangan sampai kalah dari rasa takutmu". Setidaknya, itulah yang dikatakan kakekku," ucapku sambil mengingat beberapa ajarannya.

"Cih, aku tidak butuh kata-kata penghibur seperti itu," balas Sasuke sambil memalingkan wajahnya.

"Jika itu adalah kalimat dari seorang legenda seperti Jiraiya-sama, rasanya aku mendapat sebuah dorongan yang cukup hebat di dalam diriku. Terima kasih, Naruto-kun," ucap Sona dengan senyum tulus yang ia tunjukkan.

"Selama Sona-sama merasa baik-baik saja, saya pun begitu."

Secara tidak sadar, bibirku pun ikut tersenyum tatkala melihat berbagai reaksi yang mereka tunjukkan.

Aku datang kemari bukan hanya untuk belajar tentang ilmu-ilmu medis. Setidaknya, itulah hasil dari kesimpulan yang telah kupikirkan hingga saat ini. Jika hanya belajar, aku pun bisa belajar dari nenek. Namun, aku datang ke sini untuk mencari jati diriku sebagai seorang dokter dan juga sebagai seorang manusia.

Kami berempat bukanlah orang-orang yang diberkahi dengan bakat atau pun kekuatan yang besar. Kami juga bukan tipe manusia yang dapat menciptakan sebuah keajaiban. Rintangan yang harus kami lalui di masa depan pun terlampau sulit untuk dihadapi.

Namun, layaknya sekelompok hyena. Kami akan membentuk sebuah kelompok yang akan saling melindungi punggung satu sama lain. Kami akan membentuk kelompok agar dapat terus bertahan hidup hingga akhir. Dan dengan kelompok ini pula, pada akhirnya kami akan memangsa predator lain yang jauh lebih superior daripada kami.

Dadu sudah dilempar, angka sudah didapat. Bidak pun sudah berjalan di atas papan. Dengan begini, tidak akan ada jalan mundur bagi semua yang telah terlibat.

Bersambung


Author Note : Yahallo ... selamat malam dan semoga kalian senang bertemu kembali dengan saya. yah, memasuki akhir November dan Desember ini sungguh jadi bulan yang sibuk buat saya. Saya saat ini sedang berkuliah di negara 4 musim. jadi, menjelang libur musim dingin dan akhir semester seperti ini mulai banyak project yang harus diselesaikan. jadi, mohon maaf kalau update lama dan banyak typo serta komposisi isi chapter yang tidak tertata rapi.

Seperti biasa, kali ini aku akan membahas beberapa info yang ada di chapter ini. pertama, aku ingin membahas tentang latar belakang Erza. sama seperti di cerita aslinya, Erza di sini adalah mantan seorang budak. keberadaan Erza di chapter ini cukup kuat hingga dapat memengaruhi sifat Naruto yang cenderung selalu berada di zona nyaman. Alasan kenapa Naruto bisa tergerak, itu karena mereka berdua berasal dari tempat yang benar-benar berada di kasta terbawah. berbeda dengan Sasuke maupun Sona yang memang latar belakang keluarga mereka yang bagus. meskipun pada akhirnya Sasuke punya kehidupan yang susah, tetapi dia tetaplah seorang bangsawan. Jadi, itu hanya akan memiliki sedikit arti dalam diri Naruto jika kata2 penuh idealis atau semacamnya itu datang dari Sasuke dan Sona. Sedangkan jika itu datang dari Erza yang notabene memang berasal dari lapisan terbawah dalam status sosial, maka itu akan memberi impatct besar pada Naruto. Apalagi jika itu melihat kesuksesan Erza sekarang.

Karena itulah, titik balik dari resolusi Naruto itu ada pada percapakannya dengan Erza.

Kedua, sekali lagi aku membahas tentang Kushina. Revolusi kemanusiaan, seperti biasa, aku mengambil referensi ini dari zaman kegelapan di Eropa. Pada chapter 8, aku sudah mengungkapkan sedikit tentang kerusuhan yang terjadi di akademi Shouka Sonjoku pada 14 tahun yang lalu. sekarang, aku katakan kalau kerusuhan itu berhubungan langsung dengan peristiwa Revolusi Kemanusiaan. Kebenaran di balik terjadinya Revolusi Kemanusiaan sendiri masih ditutupi.

Mungkin, beberapa dari kalian berpikir bahwa Naruto di sini sangat membosankan karena memilih bergabung dengan grup nya Sona. Namun, jika kalian membaca kembali chapter 8, seharusnya kalian paham bahwa alasan Naruto itu sangat realistis. Menurut Shizune, orang sekuat Kakashi yang dianggap sebagai sebuah keajaiban dan menduduki kursi pertama pun gagal survive dalam peristiwa 14 tahun yang lalu (dia dapat bertahan hidup, tetapi dia kehilangan semangat hidupnya). Jadi, jika orang sekuat itu saja gagal, apalagi Naruto yang kekuatannya saja pas-pasan?

Meskipun Naruto tidak tahu kebenaran tentang peristiwa 14 tahun yang lalu, tetapi dia memiliki pemahaman yang baik. Jadi, dia sadar bahwa hanya dengan tekat dan kekuatan saja tidak akan cukup untuk mewujudkan cita-citanya. Naruto memang memiliki pemahaman yang baik, tapi dia bukan tipe perencana hebat. karena itulah, dia membutuhkan kemampuan Sona. sedangkan Sona adalah tipe perencana yang hebat dan ojuda rang yang sangat kreatif, tapi dia tidak punya sumber daya yang memadai untuk tujuannya. karena itulah dia butuh Naruto dan Sasuke yang situasi dan kondisinya sangat cocok dengan Sona.

Lalu, duke dan marquess adalah dua dari tingkatan kebangsawan di kerajaan. Ini adalah istilah yang sangat umum digunakan di eropa. secara singkat, duke adalah bangsawan yang memiliki relasi yang sangat dekat dengan keluarga kerajaan dan juga bangsawan yang sangat berjasa dalam kerajaan tersebut. sedangkan marquess, tingkatatannya ada di bawah duke. mereka adalah bangsawan yang sangat dipercaya oleh raja, sehingga mereka umumnya diberikan wilayah di perbatasan untuk diperintah. karena wilayah perbatasan sendiri adalah wilayah yang berhadapan langsung dengan negara tetangga, itu berarti membuktikan bahwa marquess memiliki kekuatan tempur yang sangat memumpuni.

Oke, karena ini adalah chapter terakhir sekaligus conclusion dari arc rencana Sona dan main heroine-nya sudah aku munculkan. jadi, aku akan memberikan sekilas info tentang 3 karakter utama di fanfic ini.


Nama : Naruto Namikaze.

Makanan kesukaan : Kacang azuki, Ramen.

Status : Siswa akademi.

Hobi : Membaca buku

Keanggotaan : Anggota klub Perkumpulan Masyarakat Modern.

Keahlian : Melarikan diri, healing magic, ilmu medis, hand-to-hand combat, dan lain-lain.

Informasi khusus : Karena dia selalu berusaha lari dari apa pun yang mengancam nyawanya, itu membuat Naruto mempunyai kecepatan yang sangat cepat. ia memiliki kepribadian yang sangat realstis dan cenderung tidak percaya diri. dia memiliki ingatan yang sangat bagus, dan sudah ada ratusan buku yang telah ia baca. Selama itu bukan tentang ilmu medis, Naruto tidak masalah bila ia tertinggal dari orang lain. namun, dalam kasus tertentu, ia sangat benci kalah dari Sasuke. ia selalu menganggap sangat memalukan jika sampai kalah dari idiot buta arah seperti Sasuke.

Motto : Masalah tidak akan menjadi masalah selama tidak ada yang mempermasalahkan.


Nama : Sasuke Uchiha.

Makanan Kesukaan : Tomat.

Status : Siswa akademi.

Hobi : Jalan-jalan, berlatih.

Keanggotaan : Anggota klub Perkumpulan Masyarakat Modern.

Keahlian : Sihir beratribut api, seni berpedang, dan lain-lain.

Informasi khusus : Sasuke adalah orang yang akan selalu tersesat meskipun dia hanya berjalan di jalan yang lurus. sebagai seorang Uchiha yang tidak dapat menggunakan sharingan, Sasuke selalu melatih sihir apinya dengan sangat keras. karena itulah level sihir api yang ia miliki berada di tingkat yang sangat berbeda dari orang lain. Sasuke sangat menyukai nama depannya. karena itulah, dia akan segera menegur orang lain saat mereka salah menyebut namanaya.

Motto : Bushido-ku adalah membawa keadilan dalam diriku mennggunakan pedangku.


Nama : Sona Sitri.

Makanan Kesukaan : Telur.

Status : Siswa akademi.

Hobi : Saat ini dia tidak memiliki hobi. Namun, dia mulai tertarik untuk mengejek Sasuke.

Keanggotaan : Ketua klub Perkumpulan Masyarakat Modern.

Keahlian : Ahli strategi, kreatifitas, kontrol sihir yang luar biasa, dan lain-lain.

Informasi khusus : Berasal dari bangsawan dengan tingkatan Marquess membuatnya mendapat didikan yang sangat ketat sejak masih kecil. dia sangat mengagumi Kushina Namikaze dan pertemuan pertamanya dengan Tsubaki Shinra ketika di umur 10 tahun membawa titik balik dalam kehidupannya. Dia memiliki energi sihir yang cukup besar seperti yang dimiliki oleh bangsawan pada umumnya. Namun, tidak terlalu besar jika dibandingkan dengan kakaknya. Saat kau memutuskan untuk bertarung menghadapi gadis ini, maka saat itulah kau sudah masuk ke dalam rencananya.

Motto : Rencana adalah pondasi dari seluruh perwujudan tindakan manusia.


Oke, itu saja dariku. review dan flame sangat saya terima. jadi, silahkan tulis apa pun yang kalian pikirkan tentang fict ini. hanya saja, jika ingin mengirim flame tolong log in ke dalam akun, karena saya akan dengan senang hati menjelaskan alasan-alasan yang membuat kalian semua tidak terima dengan plot yang saya ambil. oke, saya ucapkan terima kasih kepada semua orang yang sudah mengikuti cerita ini, dan sampai berjumpa di chapter selanjutnya.