Menanggapi perkenalan dari Sona, Kakashi-sensei pun berdiri dari tempat duduknya. Ia berdiri dengan postur tubuh yang sangat tegap. Kombinasi antara tinggi badan dan proporsi badannya yang ideal, membuat tubuhnya menjadi berpadu dalam sebuah harmoni.

"Kalau begitu, namaku adalah Kakashi Hatake. Aku dulu bekerja sebagai penjaga perpustakaan di perpustakaan kota Edo sebelum akhirnya menjadi guru di sini. Bisa dibilang aku masih baru dalam bidang ajar-mengajar. Jadi, mohon kerja samanya,"

Kedua kelopak mataku dibuat membola dalam sesaat. Itu bukan tanpa alasan. Entah yang lain juga merasakannya atau tidak, tetapi aku yakin bahwa aku merasakan bahwa Kakashi-sensei terlihat sangat bersinar dari biasanya. Dalam beberapa detik, aku dapat merasakan sebuah aura yang sangat kuat yang sebelumnya belum pernah ia tunjukkan.

Fakta baru yang telah masuk ke dalam otakku ini, membuatku kembali berpikir tentang orang seperti apa Kakashi-sensei yang sebenarnya.


Naruto by Masahi Kishimoto

Highschool DxD by Ichie Ishibumi

and other characters are not belongs to me

genre : Adventure, Fantasy, Action, Friendship, Romance.

Summary : Menjadi seorang healer tidaklah mudah seperti yang aku bayangkan selama ini. Diskriminasi, penghinaan, kekerasan dan masih banyak lagi adalah bumbu yang sudah dianggap biasa. Tapi, persetan dengan itu semua, sialan. Aku hanya ingin menjadi healer yang baik.

Chapter 14 : Dua Orang Samurai.


XxxxX

Langit biru yang cerah dengan udaranya yang menyejukkan selalu dapat memberikan sebuah suntikan moral bagi seluruh manusia yang merasakannya. Dengan diiringi oleh cuaca yang menyenangkan, pastilah membuat suasana hati siapa pun menjadi membaik untuk memulai hari yang baru.

Hal itu juga berlaku bagi sekumpulan remaja-remaja yang tengah berkumpul di salah satu tanah lapang. Namun, bukan cuaca atau pun udara yang segar yang membuat suasana hati mereka berbunga-bunga. Akan tetapi, kehadiran sesosok gadis berambut merah dengan keberadaannya yang mampu memberikan dorongan moral untuk orang lain itulah yang menjadi penyebab utamanya.

Erza Scarlet, itulah namanya. Meskipun ada beberapa murid yang mencibir dirinya karena bakat dan anugerah yang ia miliki, tetapi jumlah siswa-siswi yang menjadikannya sebagai panutan jugalah terhitung sangat banyak. Sebagai salah satu murid tahun pertama di senior high sekaligus siswi yang menduduki kursi kesepuluh Elite Ten Council, secara tidak langsung membuatnya menyandang gelar terkuat di seluruh angkatannya.

Meski begitu, lantas tidak membuat seorang Erza Scarlet menjadi jumawa. Prinsip disiplin dan integritas tinggi yang ia terapkan pada dirinya sendiri, terkadang membuatnya terlihat menakutkan di mata orang lain. Namun, di balik kesan tegas yang ia tunjukkan, juga terdapat sebuah kehangatan yang tulus terpancar darinya.

"Kyaaa … Erza-sama! Hari ini anda ikut kelas?"

"Erza-sama, meskipun kemampuan berpedang anda sungguh luar biasa, tetapi anda tetap menghadiri kelas? Seperti yang diduga dari Erza-sama, anda benar-benar seorang pekerja keras!"

Seperti itulah sanjungan-sanjungan yang Erza dapatkan hampir setiap harinya.

"Tentu saja, karena masih banyak hal yang harus aku pelajari lagi," balasnya.

Di mata para siswi perempuan, Erza dianggap sebagai perwujudan dari sosok wanita kuat dan mandiri. Karena itulah, banyak dari mereka yang sangat mengidolakan seorang Erza. Sedangkan bagi kaum pria, Erza bagaikan seorang rival yang ingin mereka kalahkan. Sosok yang seakan-akan selalu memberikan motivasi dan memberi rasa ingin melampauinya suatu saat nanti.

Perasaan tersebut juga turut dirasakan oleh Sasuke Uchiha. Sebagai seorang yang mengikuti jalan pedang, tentu saja ia merasakan sebuah sensasi untuk dapat mengalahkan Erza. Bahkan, salah satu alasan remaja dengan model rambut pantat bebek ini mengambil kelas Ilmu Berpedang, adalah agar ia mendapat lebih banyak kesempatan untuk melakukan latih tanding melawan Erza.

Namun, meskipun ini sudah dua bulan proses belajar mengajar berlangsung, Sasuke baru mendapat dua kali kesempatan untuk latih tanding melawan gadis merah tersebut.

"Dua kali latih tanding dengan dua kali kekalahan telak. Memalukan," gumam Sasuke sambil merutuki nasibnya.

Dari tempatnya duduk seorang diri, Sasuke terus menatap sekawanan gadis yang sedang mengerumuni Erza. Layaknya koloni semut yang sedang berpesta karena mendapati tumpahan air gula. Seperti itulah gambaran yang terbayang di benak Sasuke.

"Semuanya, tolong tenang dan berbarislah dengan rapi. Sesi untuk hari ini akan segera dimulai."

Suara lantang yang terdengar sedikit serak itu mengambil alih seluruh atensi siswa yang ada. Suara dari seorang pria dewasa yang memakai setelan olahraga itu, menjadi lonceng pertanda bahwa kelas akan dimulai.

Beberapa murid yang bosan menunggu—seperti Sasuke—akhirnya menghembuskan napas leganya. Sedangkan sisanya yang telah terlalu asik bercengkrama, menampilkan ekspresi kekecewaan yang cukup mudah dibaca.

Kelas Ilmu Berpedang. Seperti namanya, kelas ini adalah kelas yang dikhususkan untuk mempelajari dan mengasah lebih lanjut tentang keterampilan berpedang masing-masing. Sebagai mata pelajaran pilihan, kelas Ilmu Berpedang menjadi subjek terbanyak yang dipilih oleh para murid dalam setiap tahunnya.

Dari total 300 murid di tahun pertama senior high, ada sekitar 93 murid yang mengambil Ilmu Berpedang. Karena itulah, kelas ini masih harus dibagi menjadi tiga kelas lagi.

Si guru yang memiliki tinggi badan rata-rata dengan warna wajah yang terlihat pucat itu, memerhatikan kembali seluruh anak didiknya yang telah berbaris dengan rapi.

"Seperti biasa. Karena ini adalah pertemuan pertama di minggu ini, maka kita akan membukanya dengan latih tanding," ucap guru tersebut. "Kalian kupersilahkan untuk mencari pasangan kalian masing-masing."

Setelah guru tersebut selesai mengucapkan kalimatnya, semua murid pun memulai untuk mencari lawan mereka sendiri-sendiri. Mereka terus berjalan dan mondar-mandir untuk mendapat pasangan yang mereka pikir paling cocok untuk mereka.

Sasuke yang berdiri di barisan paling belakang pun tidak luput dari kegiatan kecil ini. Hanya saja, berbeda dengan murid lain yang memikirkan banyak kriteria untuk lawan tanding mereka. Sejak awal, keturunan Uchiha itu telah menetapkan lawan tandingnya. Karena itulah, yang perlu ia lakukan hanya berjalan lurus ke depan saja.

Selama dua bulan pada tahun ajaran ini berlangsung, membuat siswa-siswi di kelas ini setidaknya sedikit hafal dengan tabiat Sasuke. Meskipun ada banyak orang yang termotivasi ingin mengalahkan Erza, tetapi hanya sedikit di antara mereka yang berani menantangnya secara langsung. Tentu saja, Sasuke adalah salah satu dari sedikit orang tersebut.

Seakan mampu memahami situasi, para murid pun mulai menyingkir dari jalan Sasuke. Mereka semua membuka jalan selebar-lebarnya agar si bungsu Uchiha itu mampu sampai ke tempat Erza berdiri.

"Kau masih ingin melawanku?" tanya Erza yang seakan memahami keinginan laki-laki di depannya itu.

"Tentu saja," jawab Sasuke lurus.

"Kalau begitu, biarkan aku memberimu jawaban," ucap Erza sambil mengangkat ke depan pedang kayu yang selama ini telah ia pegang di tangan kirinya.

Seperti dikomando oleh sesuatu. Secara serentak, para murid pun mulai menyingkir dari area lapangan agar memberikan ruang seluas-luasnya bagi dua orang yang sebentar lagi akan bertanding itu.

"Hei, bukankah Uchiha itu sudah dua kali kalah melawan Erza-san?" tanya salah satu murid laki-laki di sana.

"Ya, kau benar. Aku benar-benar tidak mengerti. Sasuke Uchiha sudah dikalahkan dengan telak oleh Erza-san, tetapi dia masih punya muka untuk menantangnya terus-menerus," balas salah satu kawannya.

"Hahaha … Apa kau pernah mendengar sesuatu seperti samurai? Mungkin, Uchiha itu memiliki sesuatu seperti semangat para samurai atau semacamnya."

"Samurai? Memangnya, kau ini berada di abad berapa?" imbuh salah satu dari mereka. "Di mataku, Uchiha sialan itu hanya hobi menyiksa dirinya, itu saja."

"Hei, itu masuk akal, 'kan? Apa kau tidak pernah mendengarnya, kalau Erza-san juga memiliki bushido atau apalah itu?"

Dahulu kala, sebelum era sihir dimulai di tatanan dunia ini, pernah dikatakan bahwa terdapat kesatria-kesatria hebat yang bahkan kemampuannya dapat menyaingi para pengguna sihir. Konon, mereka adalah para kesatria yang dapat memaksimalkan seluruh potensi alami yang dimiliki oleh tubuh manusia.

Era para kesatria kuat dengan harga dirinya yang tinggi, atau yang biasa disebut dengan era para samurai. Seperti itulah orang-orang di zaman modern ini menyebutnya.

"Kali ini, aku pasti akan mengalahkanmu," ucap Sasuke dengan nada tajam.

"Coba saja kalau bisa," balas Erza. "Tunjukkan padaku seberapa jauh bushido-mu dapat membawamu!"

Bersamaan dengan itu, Sasuke dan Erza mulai memasang kuda-kudanya masing-masing. Pedang kayu—atau biasa disebut bokken—yang telah dipahat sedemikian rupa agar menyerupai katana, mereka genggam dengan erat di tangan masing-masing.

Katana terkenal sebagai model pedang tertajam yang pernah ada. Dengan desain bilahnya yang ramping dan sisi tajamnya yang melengkung, memungkinkan para pengguna katana untuk melakukan serangan yang berbasis pada kecepatan dan memberikan luka yang dalam dan melintang.

Meskipun begitu, katana memiliki kekurangan yang fatal yang membuat orang lain berpikir berulang kali untuk menggunakannya. Dengan desainnya yang seperti itu, membuat penggunaan katana haruslah ekstra hati-hati agar tidak merusak mata pedangnya.

Saat kau menebas sesuatu, kau harus membuat agar arah tebasan itu tetap sejalan dengan arah mata pedang. Karena bila tidak, kau akan merusak mata pedangnya. Bahkan, dalam kecepatan tertentu, kau dapat mematahkan katana jika salah dalam memberikan alur tebasan.

Karena itulah, hanya mereka dengan kemampuan yang hebat saja yang dapat menggunakan pedang model ini dengan baik.

Pertarungan antar samurai, seperti itulah nama yang murid lain berikan ketika melihat duel antara Sasuke melawan Erza. Bukan hanya sebatas karena mereka berdua sama-sama menggunakan katana, tetapi karena semua orang di sini tahu bahwa dua orang tersebut memiliki bushido-nya masing-masing.

Dari sisi lapangan, sang guru mengamati kedua muridnya yang sudah siap dengan kuda-kudanya masing-masing.

Dengan tarikan napas panjang, guru tersebut berteriak, "mulai!"

Dengan kuda-kudanya, Sasuke segara memotong jarak antara dirinya dengan Erza. Sedangkan si gadis merah itu tetap terlihat tenang meski Sasuke siap menerjangnya. Saat jarak antara mereka hanya terpaut empat meter, Sasuke pun meloncat dengan ketinggian yang cukup tinggi.

'Ittoryuu Iai : Shi no Kiba!' ucap Sasuke dalam hati.

Ia memutar bokken-nya dan membuat ujung mata pedangnya menghadap tepat ke arah Erza. Dari langkah awal hingga pada momen ini, semuanya Sasuke lakukan dengan gerakan yang cepat dan efisien. Sehingga membuat Erza menarik sudut bibirnya melihat perkembangan lawannya tersebut.

Ujung bokken yang telah menghadap Erza pun ia tusukkan dengan cepat dan penuh kekuatan. Namun, hanya serangan seperti itu bukan sebuah masalah bagi Erza. Ia pun menyilangkan bokken-nya di atas kepalanya untuk menghalangi serangan Sasuke.

Meski begitu, lengan Erza sedikit terdorong ke bawah saat kedua senjata mereka saling bersentuhan.

Dalam kondisi ini, Sasuke diuntungkan dengan gaya tarik gravitasi bumi. Dengan memanfaatkan gravitasi, itu membuat beban pada ujung pedangnya menjadi lebih berat dari biasanya. Akan tetapi, tentu saja Erza tidak ingin tinggal diam. Ia pun meloncat ke belakang agar ia tidak perlu membuang tenaga terlalu banyak untuk meladeni serangan pembuka Sasuke barusan.

Sesaat setelah Erza memijakkan kakinya di tanah, ia pun segera memasang kuda-kudanya dan melesat ke arah Sasuke. Dengan segera, gadis itu memutar tubuhnya dan berusaha menebas leher Sasuke secara horizontal.

Mengetahui hal itu, Sasuke pun merendahkan kuda-kudanya hingga mencapai setengah badan. Bokken yang ia genggam dan letakkan di pinggang kanannya, ia pegang erat-erat sebagai sikap awal untuk tekniknya yang selanjutnya.

'Ittoryuu Iai : Kinuhita,' ucap Sasuke dalam hati.

Dengan kuda-kuda setengah badan dan posisi bokken yang ia pegang di pinggang kanannya, Sasuke pun memberikan satu kali putaran pada tubuhnya. Ketika dalam posisi putaran itu, ia menarik pedangnya dan siap untuk menebaskannya kepada lawan tandingnya itu.

Erza merasa sedikit tersudut saat Sasuke memberikan serangan tersebut. Pasalnya, dengan memberikan putaran pada tubuhnya, itu membuat jangkauan serangan yang dimiliki oleh Sasuke menjadi lebih luas.

Secara sekilas, gerakan Sasuke terlihat seakan seperti ingin memberikan tebasan yang dalam kepada Erza. Namun, di mata Erza yang sudah memiliki banyak pengalaman tentang ilmu berpedang, itu tidak terlihat demikian.

Tebasan yang dilakukan Sasuke barusan tidaklah memiliki kecepatan yang memukau seperti serangan yang sebelumnya. Namun, akurasi dan efisiensi dari gerakan bokken-nya membuat Erza harus menelan air liurnya. Jika ini orang normal. Maka, sudah sangat umum bila mereka mengincar dada atau dagu lawannya.

Akan tetapi, sejak awal yang diincar Sasuke bukanlah itu. Gerakan pedangnya sangatlah halus. Alih-alih mengincar itu semua, Sasuke justru mengincar kedua lengan Erza. Gerakannya yang halus dan meliuk, didasari oleh letak dan lengkungan pada kedua pergelangan tangan Erza. Sama seperti nama tekniknya—sehalus sutra—yang begitu mewakili gerakannya.

Namun, dengan seluruh pengalaman yang ia peroleh, Erza dapat mengetahui niat sebenarnya dari Sasuke. Berdasar dari pengalamannya itu pula, Erza mampu melihat setitik celah kecil yang ditunjukkan oleh Sasuke. Dengan begitu, ia menghindari serangan Sasuke dengan memberi dua langkah ke belakang secara cepat. Sepersekian detik kemudian, ia langsung memasang kuda-kudanya.

Erza memegang pedang kayunya menggunakan tangan kanannya dan ia letakkan tepat di sisi kanan kepalanya. Tangan kirinya yang bebas, ia arahkan ke depan seolah ingin membidik bagian tubuh Sasuke yang akan menjadi targetmya.

'Tennen Rishin-Ryuu : Gatotsu.'

Sasuke yang belum sempat kembali ke kuda-kuda awalnya, sedikit terkejut saat mendapati serangan balik yang cepat dari Erza. Gadis merah itu dengan gesitnya terlihat akan memberikan serangan tusukan ke arah Sasuke.

'Ishiki.'

Sambil menggumamkan dalam hati, Erza menusukkan bokken-nya ke sudut bawah atau ke arah kaki Sasuke. Meskipun laki-laki berambut bebek itu sempat terkejut dengan serangan balik dari Erza, tetapi ia dapat menghindarinya dengan melakukan salto ke belakang. Saat setelah kakinya telah menapak ke tanah, ia secara cekatan segera membentuk kembali kuda-kudanya agar Erza tidak dapat mengambil kesempatan lebih jauh lagi.

'Nishiki.'

Tidak berhenti sampai di situ. Erza kembali memberikan tusukan kedua yang kali ini ia arahkan tepat ke leher Sasuke. Serangan susulan ini memiliki jeda waktu yang sangat singkat dari serangan pertama. Hanya butuh waktu kurang dari setengah detik dari serangan pertama, ujung bokken milik Erza sudah siap untuk menusuk leher Sasuke.

Tidak ingin berakhir dengan begitu cepat, Sasuke memundurkan langkahnya sebanyak dua hingga tiga kali. Sedangkan Erza, dia juga tidak ingin ketinggalan dan kembali melakukan rangkaian serangannya yang berikutnya.

'Sanshiki.'

Dengan kecepatan yang semakin ia tambah, Erza pun menebaskan bokken-nya secara datar ke arah leher Sasuke. Dengan reflek yang sudah dilatih dengan baik, Sasuke hanya sedikit mecondongkan badannya ke arah belakang. Hindaran tersebut ia lakukan dengan gerakan yang sangat minimalis agar ia dapat dengan segera memberi serangan balasan ke arah Erza.

Namun, mata Sasuke dipaksa untuk membola. Sesaat setelah mata pedang kayu itu melewati leher Sasuke dengan jarak yang hanya berkisar satu inchi, ia mendapati bahwa Erza telah berada tepat di depannya dan hanya terpisah dengan jarak setengah langkah saja.

Sasuke menyadari bahwa serangan Erza bertambah semakin cepat tiap kali ia melakukan serangan beruntun itu. Namun, meskipun ia awalnya terlihat terkejut dengan serangan itu, tetapi Sasuke mampu mengantisipasi serangan berantainya.

Bagaimanapun, Sasuke sangat paham betul dengan kuda-kuda yang Erza pasang. Meskipun ia belum pernah menerima serangan tersebut secara langsung, tetapi Sasuke pernah melihat Erza menggunakan teknik tersebut sebelumnya.

Menurut informasi yang dia lihat, teknik Gatotsu adalah sebuah teknik yang dilakukan dengan tiga langkah secara berurutan. Tiap langkah yang dilakukan, akan ditingkatkan kecepatan dan kekuatannya. Namun, hanya sebatas itu informasi yang Sasuke tahu.

Karena itulah, saat melihat Erza dengan secepat kilat telah berada di depannya, itu membuat badan Sasuke serasa dibuat membeku untuk sesaat.

'Zeroshiki!' ucap gadis berambut merah itu dengan mantap di dalam hati.

Dalam rangkaian teknik Gatotsu secara original, umumnya memang hanya memiliki tiga sikap penyerangan yang dilakukan secara berurutan. Namun, dengan kemampuannya dalam mengolah bilah katana, Erza memodifikasi dan membuat sikap keempatnya sendiri. Zeroshiki, atau yang bisa diartikan dengan langkah spesial.

Umumnya, orang-orang akan merasa frustasi saat menghadapi tiga langkah asli dari teknik Gatotsu. Pasalnya, teknik Gatotsu adalah teknik yang akan menambahkan kecepatan dan kekuatan pada tiap langkahnya. Sehingga target akan seketika berpikir untuk segera membalasnya dengan serangan balik yang cepat agar pengguna teknik tersebut tidak mendapatkan momentumnya.

Lalu, di sinilah langkah spesial atau Zeroshiki bekerja. Saat target ingin segera mengakhiri momentum dan memberikan serangan balik, maka saat itulah pertahanannya akan melemah. Dalam celah yang sempit itu, Erza akan menggunakannya untuk memangkas jarak dengan sangat cepat dan memberikan serangan yang sangat sulit untuk dihindari.

Batang pedang kayu milik Erza itu siap menusuk perut milik Sasuke. Siapa pun yang melihatnya, pasti berpikir bahwa kemenangan sudah ada di tangan Erza. Bahkan, si gadis Scarlet itu pun berpikir demikian.

Namun, dengan penuh upaya yang besar, Sasuke mengerahkan seluruh tenaganya agar ia dapat menghindari tusukan pedang tersebut. Hanya dengan selisih beberapa centimeter, serangan tersebut melewati sisi kiri perut Sasuke. Tanpa diduga, Sasuke berhasil menggeser tubuhnya ke arah kanan.

Tidak berhenti sampai di situ. Tangan kanan Sasuke yang kosong, ia arahkan dengan sangat cepat untuk menggenggam pergelangan tangan Erza yang aktif memegang bokken. Dengan begini, gerakan seorang Erza Scarlet otomatis menjadi terkunci.

Dengan kedua mata yang membola, Erza memandang ke arah Sasuke. deruan napas yang tidak teratur ia dapati dari diri seorang Uchiha tersebut. Dari situ, Erza tahu bahwa lawannya ini membutuhkan kerja ekstra untuk dapat menghentikan serangannya barusan. Meskipun begitu, itu lantas tidak membuat Erza merasa sedikit lebih tenang.

Para murid yang melihat pun tak kuasa menahan mulutnya agar tidak menganga. "Ya- yang benar saja! Di- dia berhasil mengunci pergerakan Erza-sama?" ucap salah satu siswi dengan tatapan tidak percaya.

Tangan kiri Sasuke yang menggenggam pedang kayu, dengan sigap segera mengarahkan ujung bokken-nya untuk menusuk Erza selagi tangan gadis itu masih terkunci.

Berhasil menguasai kembali ketenangannya, Erza dengan segera memeras isi otaknya untuk mencari jalan keluar dari posisinya. Dengan hentakkan keras kakinya terhadap tanah, ia pun lantas meloncat ke arah kepala Sasuke. Kedua kakinya ia gunakan untuk mengunci leher si bungsu Uchiha.

Sebagai upaya untuk melepaskan cengkraman tangan Sasuke, Erza pun memutar kakinya yang melingkari Sasuke dan bergulung untuk melempar Sasuke jauh ke depan.

Karena efek dari sebuah momentum yang digunakan Erza, cengkraman Sasuke pun terpaksa harus terlpeas dan itu memaksanya untuk bergulung-gulung hingga empat sampai lima kali.

'Tch … mengalahkannya benar-benar bukan perkara mudah,' gumam Sasuke dalam hati.

Dengan napas yang sedikit menderu, Erza pun tersenyum senang. "Kau sudah banyak berkembang, Uchiha," ucapnya.

"Simpan pujianmu saat aku sudah berhasil mengalahkanmu."

Entah sejak kapan, suasana para siswa yang menonton di pinggir lapangan menjadi riuh. Tidak ada yang menduga bahwa Sasuke Uchiha akan dapat menahan Erza selama ini dalam duel pedang.

Jual-beli serangan terus mereka berdua lakukan. Suara-suara benturan dari benda tumpul itu terus terdengar seiring sejalannya pertandingan. Bahkan, tidak jarang pula ada sedikit gelombang kejut tatkala kedua bokken itu beradu dengan keras.

Setelah sekitar tiga menit berlalu, baik Sasuke maupun Erza paham bahwa jual-beli serangan ini hanya akan berakhir dengan sia-sia bila mereka terus melanjutkannya. Oleh karena itu, mereka pun akhirnya mundur ke belakang dan menjaga jarak masing-masing.

'Jarak kami saat ini sekitar enam hingga tujuh meter. Seharusnya, ini cukup untuk menciptakan momentum,' gumam Sasuke dalam hati. 'Selain itu, ini adalah saat yang tepat untuk mencoba teknik baruku.'

Meskipun pedang kayu tidak memiliki sarung pedang, tetapi Sasuke tetap saja meletakkan pedang kayunya tepat di pinggang kanannya. Tangan kiri yang menjadi tangan dominannya, perlahan menggenggam gagang bokken-nya dengan penuh pertimbangan. Sedangkan tangan kanannya, ia gunakan untuk memegang batang bokken miliknya itu.

Sasuke membungkukkan badannya ke depan dan membuat kuda-kuda yang cukup rendah. Melalui mulutnya, ia gunakan untuk menarik napas dalam-dalam hingga oksigen memenuhi seluruh rongga paru-parunya.

'Zen Shuuchuu … Honou no Kokyuu …—.'

Sasuke berlari ke arah Erza dengan kecepatan yang jauh lebih cepat dari sebelum-sebelumnya. Meskipun kecepatannya jauh meningkat, tetapi mata Erza masih tetap bisa mengikutinya. Gadis tersebut telah siap siaga dengan memasang kuda-kudanya. Bokken yang kini berada di sebelah kiri kepalanya dengan posisi tegak vertikal, ia pegang dengan erat menggunakan kedua tangannya.

'Tennen Rishin-Ryuu …—.'

Saat Sasuke telah berada tepat di depan Erza, ia dengan kecepatan tangan yang luar biasa telah menarik bokken-nya. Dengan akurasi dan kecepatan yang jauh di atas rata-rata manusia biasa, Sasuke memberikan tebasan ke arah leher Erza secara diagonal.

Begitu pula dengan Erza. Ia telah siap memberikan serangan vertikal ke bahu kiri Sasuke yang merupakan pusat tumpuan dari segala serangan pria itu.

'—… Ichi no Kata : Shiranui!'

'—… Hidari Katate Hirazuki!'

Karena serangan mereka memiliki momentum dan timing yang sama, itu membuat kedua pedang kayu tersebut saling bertabrakan satu sama lain. Suara tumbukan dua benda tumpul itu pun terdengar sangat keras hingga ke tempat siswa-siswi lain yang menonton di pinggir lapangan dan tercipta sebuah gelombang kejut yang bisa mereka lihat dengan cukup jelas.

Karena Sasuke menggunakan teknik pernapasan yang pernah diajarkan oleh Naruto, itu membuatnya mampu melampaui kemampuan fisiknya secara instan. Oleh sebab itu pula, ia dapat memberikan daya yang jauh lebih besar di pedang kayunya.

Retakan kecil terlihat pada sisi pedang kayu milik Erza. Mengetahui hal itu, membuat Sasuke semakin menambah kekuatan pada tebasannya. Saat pedang kayu Erza sudah tidak lagi mampu menahan tekanan dari pedang kayu milik Sasuke, saat itu pula pedang miliknya patah menjadi dua.

Patahan tersebut melayang ke udara dan juga turut menarik perhatian orang-orang yang melihatnya.

Melihat peluang kemenangan semakin terbuka lebar, membuat kobaran dalam diri Sasuke semakin membara. Lantas, ia pun membalik pedangnya dan membuat serangan keduanya.

Tebasan kedua yang dilakukan Sasuke, berhasil dihindari Erza dengan cara merendahkan kuda-kudanya dengan kerendahan yang sangat ekstrem. Saking rendahnya, bahkan posisi tubuh Erza hanya setinggi lutut Sasuke.

Pedang kayunya yang telah patah menjadi dua bagian, tidak membuat konsentrasi Erza menjadi goyah. Justru sebaliknya, adrenalinnya semakin terpacu karena terdesak oleh Sasuke.

'Hiten Mitsurugi-Ryuu : Souryuusen!' teriak Erza dalam hati.

Alih-alih menyerang bagian bawah tubuh dengan kuda-kudanya yang begitu rendah, Erza justru menaikkan sedikit tubuhnya sekaligus menebas bagian bawah dari lengan kiri Sasuke.

Tebasan kuat tersebut tepat mengenai area yang Erza incar. Rasa sakit yang teramat itu membuat genggaman Sasuke pada pedangnya menjadi sangat longgar. Juga akibat Dari dorongan ke atas oleh serangan Erza, memaksa pedang Sasuke jatuh dan terlempar jauh ke belakang.

tepat sepersekian detik setelah pedang Sasuke lepas dari tangannya, Erza kembali menebaskan pedangnya yang telah tidak utuh itu dan mengarahkannya tepat ke leher Sasuke.

Keringat dingin membanjiri tubuh remaja laki-laki itu. Sesaat setelah ia yakin bahwa kemenangan ada di tangannya, saat itu pula Erza Scarlet dengan begitu mudahnya membalik keadaan.

"Aku menyerah," ucap Sasuke sambil mengangkat kedua tangannya.

Tepuk tangan menyambut selesainya duel antara mereka berdua. Seluruh murid tidak ada yang menyangka bahwa ada murid lain yang dapat memojokkan Erza hingga sejauh itu dalam duel pedang.

Setelah mendapat sinyal tanda kekalahan dari Sasuke, sang guru yang menjadi pengawas dalam berlangsungnya latih tanding ini berjalan memasuki tengah lapangan. Dengan senyum senang di wajahnya, ia menghampiri kedua anak didiknya tersebut.

"Itu tadi sangat mengesankan. Kalian berdua telah menunjukkan permainan pedang tingkat tinggi," ucapnya dengan penuh rasa bangga.

"Tidak, itu bukan apa-apa. Selain itu, saya masih belum bisa mengalahkan Scarlet," balas Sasuke.

Erza menatap kedua mata Sasuke dan berkata, "apa maksudmu? Kau menjadi jauh lebih kuat dari saat terakhir kita bertanding. Kau bahkan sampai memaksaku menggunakan teknik Hiten Mitsurugi."

Meskipun mendapat pujian dari seorang genius berpedang seperti Erza, tetapi Sasuke masihlah dapat mempertahankan wajah datarnya. Namun, ia merasakan perasaan campur aduk di dalam hatinya. Ia kesal karena kembali kalah untuk yang ketiga kalinya dari Erza. Akan tetapi, ia juga merasa senang karena dirinya telah menunjukkan perkembangan yang cukup signifikan.

Selain itu, ini benar-benar kali pertama bagi Sasuke untuk melihat teknik Hiten Mitsurugi secara langsung. Ia memang pernah mendengar bahwa si pemegang kursi kesepuluh tersebut dapat menggunakan teknik itu, tetapi ia tidak pernah melihat Erza menggunakannya secara langsung.

Dengan begitu, menyaksikan sekaligus mendapatkan pengalaman langsung dengan tubuhnya sendiri tentang betapa mengerikannya teknik Hiten Mitsurugi, itu merupakan sebuah pencapaian penting bagi Sasuke.

Sebagai seorang yang menganut jalan pedang, tentu saja Sasuke tahu tentang teknik tersebut. Hiten Mitsurugi adalah sebuah teknik yang sangat berbeda dari kebanyakan teknik pedang yang ada. Dikatakan bahwa teknik ini adalah sebuah teknik yang membuat para samurai dapat berdiri sejajar dengan para ahli sihir di masa lampu meskipun mereka hanya bermodalkan tubuh manusia biasanya saja.

Secara teknik, Hiten Mitsurugi sangatlah berbeda dengan Ittoryuu Iai milik Sasuke dan Tennen Rishin yang dikuasai Erza. Hiten Mitsurugi termasuk ke dalam aliran Battou-jutsu, sedangkan Ittoryuu Iai dan Tennen Rishin adalah aliran Iai-jutsu.

Dalam hal aliran, baik Battou-jutsu dan Iai-jutsu memiliki perbedaan yang sangat kontras. Jika Iai-jutsu mengandalkan kekuatan dan akurasi sebagai poin utamanya. Maka, Battou-jutsu adalah serangan yang jauh lebih cepat dan sangat agresif.

Menurut catatan sejarah, Battou-jutsu secara khusus akan digunakan untuk melawan jumlah musuh yang banyak. Karena itulah, poin pada kecepatan dan agresifitas jauh lebih ditekankan agar lawan tidak mendapat celah untuk melakukan serangan balik.

Dengan kata lain, Erza saat ini telah berhasil menguasai dengan baik seni berpedang tingkat tinggi tersebut.

'Semoga aku dapat melihat gerakan-gerakan lain dari teknik Hiten Mitsurugi di masa depan nanti,' batin Sasuke.

"Teknik yang kau keluarkan terakhir, itu benar-benar sangat hebat. Jika aku tidak menggunakan Hiten Mitsurugi, pasti aku tidak dapat bertahan dari teknikmu," puji Erza dengan tulus. "Aku belum pernah melihat teknik seperti itu, apa itu gerakan original-mu?"

Sasuke sedikit mendongak ke atas sebelum akhirnya ia menjawab, "Aku hanya mengembangkan variasi-variasi gerakannya saja agar cocok dengan gaya bertarungku. Untuk dasar-dasarnya, aku diajari oleh temanku."


XxxxX

Teknik pernapasan, seperti itulah seorang Naruto Namikaze menamai teknik original-nya. Secara garis besar, itu adalah sebuah teknik yang murni memanfaatkan seluruh potensi dan kemampuan fisik seorang manusia.

Dengan kata lain, teknik ini tidak ada sangkut pautnya dengan sihir sama sekali. Karena tidak menggunakan sihir, itu membuka peluang bagi siapa pun untuk mempelajari teknik pernapasan. Oleh sebab itu pula, Sasuke tertarik dan meminta teman kuningnya untuk mengajari teknik tersebut.

Pada awalnya, Sasuke yakin bahwa ia akan dapat mencapai level yang sama seperti Naruto dalam hal teknik pernapasan bila ia terus berlatih degan keras. Namun, selama dua minggu pelatihannya bersama Naruto, ia melihat sebuah pemandangan yang membuatnya tidak percaya.

Ia berani bertaruh, meskipun ia telah belajar teknik pernapasan selama bertahun-tahun, tetapi ia tidak akan bisa mencapai titik fokus dan konsentrasi yang sama seperti Naruto. Baginya, sejak awal Naruto telah memiliki tingkat konsentrasi yang sangat gila. Lalu, ketika Naruto masuk ke dalam mode konsentrasi penuhnya menggunakan teknik pernapasan, maka hanya konsentrasi tingkat monster-lah yang dapat Sasuke jelaskan dari apa yang telah ia lihat.

Dari situ, Sasuke yakin bahwa dia hanya akan berakhir dalam kegagalan bila terus mengikuti jalan yang sama dengan Naruto. Karena itulah, Sasuke memutar kemudinya dan versinya sendiri dalam penggunaan teknik pernapasan.

"Tujuan utama teknik pernapasan bukanlah tentang mencapai tingkat fokus yang sangat tinggi, melainkan untuk merefleksikan diri. Dalam kasusku, aku dapat melihat organ-organ tubuhku sendiri yang sedang bekerja saat menggunakan teknik pernapasan."

Kata-kata Naruto itulah yang akhirnya meyakinkan Sasuke untuk menciptakan gayanya sendiri dalam menggunakan teknik pernapasan. Sesuai kata Naruto, Sasuke dapat melihat refleksi bagian dalam tubuhnya sendiri ketika ia memulai latihannya dari awal.

Bila Naruto berkata bahwa ia dapat melihat seluruh organ tubuhnya yang sedang bekerja. Maka, yang Sasuke lihat justru kobaran api yang terus membara di dalam tubuhnya. Sasuke tahu bahwa itu bukanlah manifestasi dari sihir apinya. Namun, Sasuke tidak dapat menjelaskan peristiwa itu hanya dengan sebuah kata-kata.

Akan tetapi, ia yakin pada satu hal. Kobaran api yang terus membara tersebut adalah petunjuk untuk menggunakan teknik pernapasan yang sesuai dengan dirinya sendiri.

Kobaran api, itu adalah sebuah inspirasi bagi Sasuke untuk memberi nama pada aliran pedang yang ia ciptakan. Honou no Kokyuu, secara harfiah, itu bisa diartikan sebagai napas dari bara api.

Saat ini, ia hanya memiliki tiga bentuk gerakan dalam teknik Honou no Kokyuu miliknya. Namun, dia yakin dapat mengembangkan lebih jauh lagi teknik ini dan membawanya ke level yang dapat menandingi teknik Hiten Mitsurugi.


XxxxX

"Kau diajari dasar-dasarnya oleh temanmu, kau bilang?" tanya Erza tertarik. "Apa dia juga pengguna pedang yang ahli atau menguasai seni bela diri lain?"

Sasuke melihat ke arah Erza melalui sudut matanya. Niat hati, ia tidak ingin menjawab pertanyaan gadis tersebut. Namun, ia juga tidak ingin meninggalkan sebuah rasa penasaran pada diri gadis itu yang mungkin saja bisa berujung pada sebuah kesalah pahaman.

"Tidak, dia bukan ahli pedang atau apa pun itu. Dia juga tidak memiliki kecenderungan apa pun dalam seni bela diri," balasnya dengan jujur sambil membayangkan Naruto.

"Lalu, bagaimana bisa dia dapat mengajari dasar-dasar untuk menciptakan teknikmu itu?"

Jujur saja, Sasuke sendiri tidak memiliki sebuah jawaban yang tepat untuk menjawab pertanyaan Erza.

Saat ia memikirkan kembali tentang gaya bertarung Naruto, yang terlintas dalam benaknya adalah sebuah gaya bertarung serampangan yang umum digunakan oleh para preman jalanan. Namun, di balik gaya bertarungnya yang serampangan itu, juga terdapat sebuah perhitungan dan perencanaan yang sangat cermat. Selain itu, kemampuannya dalam menggunakan pisau juga membuatnya terlihat seperti seorang assassin.

Jadi, pada intinya, Naruto adalah tipe orang yang tidak terikat pada sebuah gaya bertarung tertentu.

"Entahlah. Dia hanyalah seorang idiot yang bertarung sesuai dengan apa yang ia pikirkan saja," ucap Sasuke sambil tersenyum tipis. "Akan tetapi, dia adalah orang nomor satu yang ingin kukalahkan suatu saat nanti."

Bersambung


Author Note : Yahallo, saya datang kembali dengan membawa chapter 14. Yah, semoga chapter kali ini memberi kepuasan bagi para pembaca.

Oke, seperti yang kita semua ketahui. Sasuke adalah salah satu karakter utama di sini. Jadi, tentu saja aku akan membuat bebrapa chapter khusus yang memfokuskan dirinya dan development karakternya. Dalam hal ini, aku menunjukkan sedikit kemajuan tentang karakter Sasuke yang berhubungan dengan permintaannya kepada Naruto setelah mereka selesai melawan Sakon dan Ukon. Nanti, ke depannya bukan hanya Sasuke, Sona pun akan mendapat bagian-bagiannya sendiri. Tentu saja, karakter lain yang punya peran penting juga akan mendapatkan bagiannya, hanya saja tidak akan sesering Sasuke dan Sona. Naruto? Jangan ditanya, dia adalah true main character di sini. Jadi, tentu saja dia akan mendapat porsi yang lebih banyak.

Dalam author note kali ini, aku hanya ingin membahas tentang teknik dan penamaan tekniknya. Pertama, aku memilih untuk menggunakan bahasa Jepang dalam penggunaan nama teknik mereka. Ini didasari oleh gaya bertarung Sasuke dan Erza yang menggunakan seni bertarung samurai. Jadi, rasanya akan aneh kalau melihat samurai justru menggunakan bahasa Inggris untuk penggunaan nama tekniknya.

Kedua, seperti yang kalian tahu. Aku menggunakan dasar napas bara api yang ada di Kimetsu no Yaiba sebagai teknik Sasuke. Namun, untuk Ittoryu, itu merupakan teknik original yang aku buat sendiri. Jangan salah, Ittoryuu Iai itu memang ada alirannya sendiri di seni berpedang samurai. Seperti yang aku bilang, itu adalah seni iai-jutsu. Lalu, napas bara api aku cek di wiki, hanya ada beberapa saja. Jadi, ke depannya mungkin akan aku improvisasi dengan imajinasiku sendiri.

Untuk teknik Erza, Tennen Rishin itu sebenarnya adalah teknik yang dikembangkan oleh satuan Shinsengumi (polisi khusus di zaman edo). Prinsipnya adalah pada kedisplinan, jadi aku rasa ini akan cocok dengan karakter Erza. Lalu, Hiten Mitsurugi ini adalah teknik yang ada di samurai x.

Ketiga, alasan kenapa aku membuat mereka menyebutkan nama tekniknya dalam hati, karena menurutku itu adalah sebuah pemikiran yang logis. Maksudku, akan sangat lucu kan jika mereka beradu pedang, tetapi mereka justru teriakin nama tekniknya. Jadi, nanti akan ada perbedaan antara menyebutkan mantra sihir dengan menyebutkan nama teknik yang murni menggunakan skill tubuh.

Keempat, aku hanya ingin menampilkan terjemahan-terjemahan dari teknik Sasuke dan Erza di sini.

Ittoryuu Iai : Shi no Kiba (Taring kematian)

Ittoryuu Iai : Kinuhita (Selembut sutra)

Tennen Rishin-Ryuu : Gatotsu (Terkaman Taring)

Ishiki, Nishiki, Sanshiki, Zeroshiki (Langkah pertama, Langkah kedua, Langkah ketiga, Langkah ke-0/Langkah istimewa)

Zen Shuuchuu Honou no Kokyuu Ichi no Kata : Shiranui (Shiramui=api ketidak tahuan)

Tennen Rishin-Ryuu : Hidari Katate Hirazuki (Telapak dan bahu kiri)

Hiten Mitsurugi-Ryuu : Souryuusen (sarang naga)

Oke, itu saja dariku. review dan flame sangat saya terima. jadi, silahkan tulis apa pun yang kalian pikirkan tentang fict ini. hanya saja, jika ingin mengirim flame tolong log in ke dalam akun, karena saya akan dengan senang hati menjelaskan alasan-alasan yang membuat kalian semua tidak terima dengan plot yang saya ambil. oke, saya ucapkan terima kasih kepada semua orang yang sudah mengikuti cerita ini, dan sampai berjumpa di chapter selanjutnya.