Pada akhirnya, dunia ini adalah sebuah panggung politik kecil yang diperankan oleh orang-orang dengan kuasa yang tinggi. Sebuah tipu daya, konspirasi, pengkhianatan, pengorbanan, dan air mata adalah sesuatu yang dianggap lumrah untuk pertunjukan ini. Hal-hal yang berbau busuk, seperti itulah pondasi yang membangun dunia politik di negeri ini.

"Perkumpulan Masyarakat Modern yang ingin meningkatkan kepercayaan diri para rakyat jelata? Heh, jangan konyol. Akan kutunjukkan pada mereka akibat bermain-main menjadi pahlawan keadilan seperti itu. Akan kuhancurkan satu-satunya harapan yang mereka miliki," ucap Gilgamesh dengan seringainya.

Gilgamesh memandang Erza dengan tatapan tegas dan berkata, "Erza, sebentar lagi, keluarga Sitri akan mengadakan debutante ball untuk memperingati ulang tahun ke-17 dari Sona Sitri. Hingga saat itu tiba, kuperintahkan kau agar membeli waktu untukku."

Dengan titah dari Gilgamesh Yazid Codafata itu, membuat seorang Erza Scarlet yang mendapat julukan The Titania itu berdiri dari kursinya dan bersujud layaknya seorang kesatria. Meskipun ada beberapa yang mengganggu pikirannya, ia tidak bisa menolak perintah tersebut jika ia ingin dianggap berjasa untuk negaranya.

"Akan saya laksanakan, Yang Mulia."


Naruto by Masahi Kishimoto

Highschool DxD by Ichie Ishibumi

and other characters are not belongs to me

genre : Adventure, Fantasy, Action, Friendship, Romance.

Summary : Demi mewujudkan mimpinya dalam bidang ilmu medis, dia siap terlibat kekacauan dalam negeri ini. bersama dengan teman-temannya yang juga menginginkan sebuah revolusi, mereka akan mengadu Ideologi, kemampuan, siasat, dan tipu daya. Semuanya mereka lakukan, untuk sebuah revolusi.

Chapter 16 : Mereka Berdua dan Gadis Itu, Berpisah Dengan Ruangan Tersebut.


XxxxX

"Hooaahhmmm …."

"Hooaahhmmm …."

"Sial, aku masih ngantuk."

"Kau benar. Bukankah ini terlalu pagi? Bahkan, matahari pun belum muncul sama sekali."

Sudah tidak terhitung, berapa kali aku dan Sasuke menguap hanya dalam sepuluh menit terakhir ini. Dalam sejarah hidupku, aku tidak pernah melakukan aktivitas sepagi ini. Bahkan, saat di desa sekali pun, nenek tidak akan pernah memulai aktivitasnya di pukul empat pagi seperti ini. Serius, siapa pun yang memberi ide untuk ini, aku yakin dia adalah orang yang lebih sadis daripada nenek.

"Bisakah kalian berdua diam untuk satu menit saja? Suara kalian benar-benar mengganggu telingaku."

Justru kau yang seharusnya diam, Sitri-san. Apa kau tidak pernah berpikir, kalau lidah tajammu itu dapat memicu perang dunia?

Beraktivitas di pagi buta seperti ini saja rasanya sudah membuat kepalaku ingin meledak. Sekarang, kami entah kenapa, kami justru tanpa sengaja bertemu dengan Sona.

Tidak, kami bertiga tidak memiliki kegiatan yang sama. Setidaknya, hanya aku dan Sasuke saja yang memiliki kepentingan yang sama, tetapi tidak untuk Sona. Jadi, pertemuan kami yang kebetulan ini, aku sangat yakin bahwa ini bukanlah berkah atau semacamnya, ini adalah kutukan, kutukan di pagi hari!

Untuk siapa pun dewa yang memberikan takdir ini, aku bersumpah tidak akan menyembahmu lagi seumur hidup!

"Kalau kau terganggu, pergilah dari sini, sialan! Aku dan Naruto bahkan tidak ingin berurusan denganmu sepagi ini. Hussshusss …," ucap Sasuke tidak kalah ketus sambil mengibas-ibaskan kedua tangannya yang seolah berusaha untuk mengusir hama.

"Sayangnya, aku harus melewati jalan yang sama dengan kalian," balas Sona dengan tenang. "Ah! Mungkin, aku harus menghubungi keluargaku untuk membuatkan jalan yang hanya khusus untukku. Dengan begitu, aku tidak akan mendapat musibah seperti ini."

Walaupun Sona berusaha membalas perkataan Sasuke dengan sebaik dan seelegan mungkin, tetap saja kata-katanya terasa seperti menusuk kulit-kulit di tubuhku. Itu menyakitkan, kau tahu? Aku sangat menyayangkan paras cantik dan elegan yang dia miliki.

"Musibah? Apa kau sedang berusaha menggambarkan dirimu sendiri, Sona?" balas Sasuke. "Aku tahu kau itu rendah hati, tetapi jangan terlalu merendah, Sona. Daripada musibah, bukankah bencana alam jauh lebih cocok untukmu?"

Ughh … inilah yang paling aku benci jika Sona dan Sasuke sudah bersama di waktu yang benar-benar tidak tepat. Hanya karena masalah sepele, mereka berdua pasti akan memulai adu mulut tanpa henti. Jika ini adalah hari-hari normal seperti biasa, mungkin aku dapat mengabaikan mereka berdua. Namun, bertengkar di pagi buta seperti ini, yang benar saja?

"Kalian berdua, bisakah kalian berhenti? Kalian benar-benar seperti anak kecil, tahu tidak?" ucapku yang sudah lelah mendengar dua orang itu.

Di balik sindiran-sindiran halusnya yang menyayat hati, Sona sebenarnya merupakan gadis yang sangat perhatian, aku sangat yakin akan hal itu. Gaya bicara, cara berjalan, bahasa tubuh, serta pikirannya yang sangat terbuka, itu membuatku yakin bahwa sosok gadis dengan tubuh ramping dan selalu mengenakan kacamata tersebut merupakan penggambaran sempurna dari sosok bangsawan sejati.

Meskipun aku tidak tahu apa-apa tentang etika kebangsawanan, tetapi aku dapat mengerti itu semua hanya dengan memandang Sona.

Sedangkan untuk Sasuke, jika kau mengabaikan wajahnya yang menyebalkan dan penyakit buta arahnya yang sangat merepotkan, aku yakin, kau akan mendapati sosok anak muda yang tulus pada dirinya. Sasuke sebenarnya adalah anak yang baik. Jalan pikirannya yang sederhana tersebut, membuatnya mudah dipahami oleh siapa pun jika kau sudah mengenal Sasuke dengan baik.

Yah, tetapi seperti yang aku bilang sebelumnya. Wajah datarnya yang terlihat seperti hendak menantang orang lain untuk berkelahi tersebut serta berbagai sifatnya yang menyimpang, itulah yang membuat seluruh kesan baik pada Sasuke hilang sepenuhnya. Akan tetapi, berkat segala keunikannya itulah, yang dapat membuatku menjadi akrab dengannya.

Jika berbicara tentang Sasuke dan Sona, sifat mereka berdua sangat bertolak belakang. Mereka berdua bagaikan air dan minyak yang tidak akan pernah bersatu. Tidak, daripada air dan minyak, mungkin itu terasa lebih tepat untuk diibaratkan sebagai api dan minyak.

Meskipun terlihat tenang, Sasuke adalah tipe orang yang berapi-api. Sama seperti api pada umumnya, mereka akan semakin membesar jika disiram oleh minyak. Dengan sifat Sasuke yang berapi-api dan mulut pedas milik Sona yang bagaikan minyak. Siapa pun akan tahu bagaimana hasilnya jika mereka berdua mulai beradu.

Minyak tidak akan pernah mempan oleh api, sedangkan api akan terus membesar jika ada minyak. Yah, seperti itulah analogi yang tepat untuk menggambarkan hubungan Sasuke dan Sona. Saling sindir-menyindir akan selalu terjadi jika mereka dibiarkan bersama.

"Kurasa kamu benar, Naruto-kun. Tidak seharusnya aku merusak pagiku seperti ini," ucap Sona dengan gaya elegannya seperti biasa. "Akan tetapi, wajahnya yang menyebalkan itu benar-benar mengganggu."

"Ah, yang itu, ya? Yah, kurasa aku mengerti perasaanmu," balasku.

Ups. Kurasa, aku secara tidak sengaja juga menuangkan minyak ke arah Sasuke. Ah, sial. Padahal, aku tidak bermaksud seperti itu, sih.

"Hn, kau yang bahkan salah mengenali wajah dari kursi keenam dan menganggapnya seperti anak kecil, bukankah tidak punya hak untuk mengomentariku, dobe?"

"Siapa yang kau panggil dobe, dasar teme? A- asal kau tahu saja, itu hanya salah paham kecil, kau tahu? Bahkan, itu masih lebih baik daripada penyakit buta arahmu," balasku dengan sedikit gugup karena Sasuke membawa-bawa kebodohanku yang memalukan.

Jujur saja, setelah Megumi memberi tahuku bahwa gadis kecil yang aku ajak bicara di perpustakaan saat itu bukanlah siswi junior high, melainkan seorang siswi tahun kedua yang merupakan pemilik kursi keenam, itu membuat seluruh kulit di wajahku terasa akan mengelupas. Seumur hidupku, itu adalah hal yang paling memalukan yang pernah aku alami.

Meskipun aku enggan mengakuinya, tetapi aku memang memiliki kesulitan dalam mengingat wajah orang asing. Namun, dari seluruh 17 tahun kehidupan yang telah aku lalui, ini adalah kali pertama bagiku salah mengenali orang dan justru dengan percaya dirinya aku menganggap orang itu adalah adik kelasku. Bukan hanya itu, aku bahkan memaksa Mavis-senpai untuk memanggilku dengan sebutan senpai hanya karena dia terlihat jauh lebih muda dariku.

Setiap kali aku mengingat kejadian itu, aku seperti ingin menggali lubang di tanah dan memasukkan kepalaku di sana.

"Bukan teme, tetapi Sasuke. Aku tidak buta arah, kau tahu? Kalian saja yang payah dalam memberi petunjuk arah," balas Sasuke tetap dengan wajah datarnya yang mengesalkan.

Lihat? Inilah hal yang paling menyebalkan dari Sauske. Bukan hanya tidak mengakui kekurangannya, tetapi juga menyalahkan orang lain. Y- yah, bu- bukan berarti aku tidak mengerti dengan perasaan anak ini, sih. Maksudku, siapa pun juga pasti tidak mau mengakui kebodohannya di depan orang lain. Te- termasuk diriku, tentu saja.

"Oh, begitukah? Kalau begitu, tolong tunjukkan arah Timur, Sasuke-kun," Komentar Sona dengan nada yang sedikit mengejek.

Kurasa, gadis berkacamata itu sedikit kesal karena disebut tidak kompeten oleh orang seperti Sasuke. Yah, aku mengerti kenapa dia kesal. Akan tetapi, apa dia tidak ingin mengakhiri perdebatan konyol ini begitu saja?

"Hn, apa kau meremehkanku, Sona? Tentu saja, itu di sana, 'kan?" ucap Sasuke dengan percaya diri sambil menunjuk belakang.

Aku pun menghela napas lelah dan berkata, "tidak, kau salah. Itu Utara, Sasuke-san,"

Meskipun terus memasang wajah datar, aku yakin bahwa Sasuke juga sedikit kesulitan dalam menyembunyikan rasa malunya. Daun telinganya yang sedikit memerah tersebut sudah menjadi bukti yang cukup bahwa seorang seperti Sasuke pun akan merasa malu dengan tingkah bodohnya.

"Begitu, mungkin pertanyaan barusan sedikit sulit untukmu," balas Sona sambil mencubit dagunya. "Kalau begitu, yang mana yang tangan kirimu, Sasuke-kun?"

Urat-urat kemarahan nampak di sekitar pelipis Sasuke. Meski begitu, dia tetap berusaha mempertahankan wajah datarnya. Dalam beberapa hal, aku sangat kagum dengan caranya yang mampu bertahan dari lidah tajam milik Sona. Tunggu, apa mungkin selama ini Sasuke adalah seorang masokis?

"Bodoh, tentu saja yang ini. Bagaimana mungkin aku bisa salah kalau itu adalah tangan dominanku?" jawab Sasuke dengan sebal sambil mengangkat tangan kirinya.

Mendengar jawaban Sasuke, membuat langkah Sona menjadi terhenti. Karena diikuti rasa penasaran yang ada di dalam diriku, aku pun menghentikan langkahku dan menengok ke belakang untuk melihat gadis berkacamata tersebut. Hal yang sama juga dilakukan oleh Sasuke.

Reaksi Sona sedikit aneh di mataku. Tangan kanannya ia letakkan di depan mulutnya untuk menutupi mulutnya yang terbuka. Bukan hanya itu, sepasang kelopak mata yang selalu terlihat elegan tersebut, kini sedikit membesar seperti sedang terkejut karena sesuatu.

"Seharusnya, pertanyaan tadi itu cukup sulit dijawab oleh bayi berumur tiga tahun," ucap Sona dengan nada terkejut yang dibuat-buat. "Jangan-jangan, kamu ini adalah orang genius?"

Waahhh … ternyata, itu yang membuatmu memasang ekspresi terkejut, ya? Rasanya, waktu beberapa detikku telah hilang sia-sia karena menunggu balasan dari Sona.

"Bukan genius, tetapi Sasuke. Juga, kau pikir aku ini adalah balita, ha?"

"Eh? Apa bukan?" tanya Sona dengan ekspresi polos sambil memiringkan kepalanya.

Sial-sial-sial, pertengkaran tidak berguna ini akan terus berlangsung sampai salah satu dari mereka benar-benar lelah. Dalam situasi ini, aku berharap Tsubaki ada di sini dan melerai mereka berdua. Oh, Tsubaki-sama, di mana kau?

Tunggu, benar juga. Mungkin, ini akan menjadi topik yang bagus untuk mengalihkan pembicaraan dengan natural agar dua orang gila ini berhenti.

"Omong-omong, aku tidak melihat Tsubaki. Apa dia tidak ikut denganmu, Sona?" tanyaku.

Aku tidak tahu, apakah Sona memahami perasaanku yang sangat menginginkan perdebatan konyol mereka segera berhenti atau tidak. Namun, aku senang karena dia terlihat menanggapi pertanyaanku.

"Tsubaki belum bangun. Aku membiarkan dia tidur lebih lama karena dia sudah bekerja sangat keras kemarin. Lagi pula, ini masih jam empat pagi."

Kalau aku ingat-ingat kembali, kurasa kemarin Tsubaki memang terlihat sangat sibuk. Jika tidak salah, dia mengurus undangan dan segala yang Sona butuhkan untuk pesta kedewasaannya atau sesuatu semacam itu.

"Debutante ball, ya? Apa kau akan benar-benar pulang ke kampung halamanmu untuk mempersiapkan pestanya?" tanya Sasuke yang telah masuk ke dalam mode normalnya.

Aku tidak tahu banyak tentang debutante ball. Yang aku tahu, itu adalah pesta untuk merayakan ulang tahun ke-17 untuk para bangsawan dan akan menjadi debut resmi mereka di masyarakat sosial kalangan atas. Dengan kata lain, mereka telah memiliki hak untuk ikut terlibat dalam urusan bisnis keluarga. Bukan hanya itu, aku juga mendengar bahwa kebanyakan dari mereka, mendapatkan tunangannya saat pesta tersebut di gelar.

Tunggu, apa mungkin Sona juga akan memiliki tunangannya saat pestanya itu?

Aku melirik sedikit ke arah wajahnya yang selalu terlihat serius itu. Jujur saja, aku sangat penasaran dan ingin bertanya langsung kepadanya. Akan tetapi, aku merasa bahwa ini bukanlah waktu yang tepat untuk bertanya tentang sesuatu semacam itu.

"Begitulah. Meskipun jarak dari Edo ke kota Awa tidak terlalu jauh, tetapi aku harus ada di sana untuk persiapan," balas Sona yang juga tidak kalah normal.

Hei, lihat! Bahkan, mereka berdua dapat berkomunikasi dengan normal seperti itu!

Sepanjang aku mengenal Sona, aku tahu bahwa Sitri merupakan bangsawan yang Berbeda dengan kebanyakan bangsawan besar lainnya. Bila bangsawan besar lain lebih memilih menetap di ibukota Edo, lalu membiarkan daerah kekuasaannya dijalankan oleh keluarga cabang mereka. Maka, keluarga utama Sitri-lah yang justru menjalankan roda pemerintahan di wilayahnya mereka sendiri dan menempatkan keluarga cabangnya di Edo untuk menjadi perwakilan mereka.

Yah, tetapi memang teritorial dari Marquess Sitri memang sangat mendukung, sih. Seperti yang dibilang Sona, kota Awa—yang merupakan kediaman keluarga Sitri berada—adalah ibukota dari provinsi Awa dan hanya berjarak sekitar 12 jam dari ibukota Edo dengan menggunakan kereta kuda. Jadi, jika ada keperluan mendesak, Marquess Sitri dapat segera pergi menuju Edo tanpa terkendala waktu.

Jika aku tidak salah, di Awa terdapat sebuah semenanjung terbesar yang ada di kerajaan Codafata ini. Nama dari semenanjung tersebut adalah semenanjung Bousou, yang juga terkenal sebagai gerbang utama untuk memasuki perairan teluk Edo. Dengan kata lain, keluarga Sitri adalah keluarga yang dipercaya untuk menjaga pintu utama ibukota Edo dari negara luar.

Sampai diserahi mandat untuk mengelola provinsi Awa, aku tidak habis pikir tentang kemampuan keluarga Sitri. Meskipun dikatakan bahwa kekuatan utama mereka ada pada otak mereka yang sangat brilian, tetapi aku yakin bukan hanya itu saja yang membuat keluarga Sitri memiliki pengaruh yang hampir setara dengan ketiga keluarga yang memiliki gelar duke.

"Misiku dan Sasuke memiliki batas waktu sepuluh hari, sedangkan kau dan Tsubaki akan pulang ke kediaman Sitri untuk sembilan hari ke depan," gumamku sambil melihat langit pagi yang masih gelap.

Ketika aku melihat ke angkasa, tiba-tiba muncul bayangan wajah dari gadis kecil yang begitu mengesalkan. Setiap kali aku melihat senyumnya yang mencurigakan, itu akan menjadi pertanda masalah baru yang akan dia sebabkan.

"Semoga saja Kagura-chan tidak membuat repot Megumi dan Shinpachi-kun," ucapku kemudian dengan lesu.

Menanggapi permohonanku, Sasuke pun membuang muka seolah ia tidak memiliki harapan apa pun terhadap gadis itu, begitu pula dengan yang Sona hanya menunduk sambil memijit pelipisnya.

Perjalanan kami terus berlanjut dengan diiringi obrolan ringan tanpa celaan atau pertengkaran antara Sasuke dan Sona. Meskipun Sona masih mengeluarkan kata-kata pedasnya seperti biasa, setidaknya ia sudah tidak lagi mengucapkan kalimat provokatif yang dapat memicu perang verbal untuk kesekian kalinya.

Karena begitu menikmati jalan-jalan pagi yang mungkin akan sangat jarang kami jumpai untuk kedepannya, kami pun tidak terasa telah berada di sebuah pertigaan jalan. Melihat pertigaan tersebut, membuatku sadar bahwa ini adalah saat bagi kami untuk berpisah.

"Sepertinya, kita harus berpisah di sini. Ini adalah misi pertama kalian, benar? Semoga kalian berhasil menyelesaikannya dengan baik dan kembali dengan selamat," ucap Sona dengan senyum tulus di wajahnya.

"Kau juga. Ini masih sangat pagi, jangan terlalu membebani tubuhmu dengan pekerjaan berat," balasku kemudian.

Setelah ucapan perpisahan itu, kami akhirnya benar-benar berpisah di pertigaan jalan tersebut. Sona pergi ke arah gedung khusus, tempat di mana klub-klub yang ada di akademi ini berada. Tentu saja, tujuannya tidak lain adalah ruang klub kami—klub Perkumpulan Masyarakat Modern.

Berbeda dengan gadis berkacamata tersebut. Aku dan Sasuke berjalan ke arah yang lain, jalan yang membawa kami ke gedung administrasi berada. Karena di sanalah, kami akan berkumpul dengan murid-murid lain yang ikut serta dalam misi ini.

"Sungguh, bukankah dia benar-benar tipe orang yang gila kerja?"

Sudut alisku sedikit terangkat saat mendengar perntanyaan Sasuke secara tiba-tiba. Kupandangi lekat-lekat lekuk wajah laki-laki itu sesaat setelah dia bertanya sesuatu yang tidak aku perkirakan sama sekali.

"Maksudmu Sona? Apa kau mengkhawatirkannya?" responku.

"Bukan berarti aku khawatir atau semacamnya. Dia sudah cukup menyebalkan dengan segala mulut pedasnya. Jika dia sampai jatuh sakit, itu akan membuatnya menjadi orang yang sangat merepotkan, seperti Kagura-chan."

"Sampai-sampai menyamakan Sona dengan Kagura-chan. Yah, tetapi bukan berarti aku tidak paham maksudmu, sih."

Meskipun kami sedari tadi memiliki pikiran yang negatif tentang Kagura-chan, tetapi bukan berarti kami membenci dia. Dia memang merepotkan, tetapi itu tidak membuat kami benar-benar terganggu atau semacamnya. Tidak, tingkah anehnya sering membuat kami sakit kepala.

Tunggu, apakah mungkin selama ini ternyata aku membenci Kagura-chan? Tidak-tidak, itu tidak benar. Meskipun berisik dan sangat aneh, dia adalah adik kelas kami yang berharga. Setidaknya, dia adalah adik kelas yang benar-benar bisa akrab denganku meskipun sifat kami sangat bertentangan.

Daripada membahas tentang Kagura-chan, fakta bahwa Sasuke mengkhawatirkan Sona membuatku sedikit tergelitik. Aku tahu, kami bertiga adalah seorang teman dan itu wajar jika saling mengkhawatirkan satu sama lain. Hanya saja, Sasuke yang selama ini selalu bertingkah seperti orang nomor satu yang anti dengan Sona, hingga mengekspresikan rasa khawatirnya seperti ini, membuatku serasa ingin tertawa dan mengejeknya saja.

Aku penasaran, perkembangan seperti apa yang mungkin terjadi antara mereka berdua di masa depan nanti.


XxxxX

Tepat di depan gedung administrasi Shouka Sonjoku ini, terdapat lima anak muda yang telah berkumpul dengan membentuk lingkaran. Dikarenakan matahari masih belum menunjukkan sinarnya, tidak ada orang lain yang beraktivitas atau berlalu lalang di sekitar gedung setinggi lima lantai ini selain mereka berlima. Tentu saja, mereka belima adalah murid aktif dari akademi yang terkenal prestisius di seluruh penjuru kerajaan Codafata.

Masing-masing dari mereka memiliki ekspresi wajahnya masing-masing. Ada yang menampilkan raut muka gugup, ada yang memasang senyum percaya diri, ada yang sekedar tersenyum biasa untuk mencairkan suasana, bahkan ada pula yang senantiasa menunjukkan wajah datarnya. Meskipun memiliki reaksi yang berbeda-beda, tidak ada satu pun dari mereka yang merasa terganggu atau semacamnya.

"Aku senang kalian bisa berkumpul tepat waktu," ucap salah satu gadis di antara mereka dengan nada yang berwibawa.

Bersama dengan berhembusnya angin sejuk yang hanya dapat dirasakan di pagi-pagi buta, rambut merah menyala dari gadis tersebut berkibar seolah mengikuti suasana hatinya yang terasa membara.

"Mungkin, kalian semua sudah mengenalku, tetapi aku tetap akan memperkenalkan diriku secara formal. Namaku adalah Erza Scarlet, dari kelas 1-A. Aku akan menjadi ketua tim untuk misi kali ini," lanjutnya kembali.

Dalam dunia bermasyarakat, jika orang dengan hirarki tertinggi dalam suatu kelompok telah memperkenalkan dirinya, itu berarti menjadi sebuah pertanda bahwa yang lainnya juga harus mengikuti perkenalan tersebut. Lima murid yang berada di sana tentu mengerti akan hal itu. Bahkan, Naruto yang hidup jauh di kaki gunung pun memahami tradisi sosial tersebut.

"Namaku adalah Hawkins Basil, dari kelas 1-D. Aku menguasai cursed magic dan peranku adalah support," ucap pria berambut pirang panjang yang berada di sebelah kiri Erza.

Menjadi orang tertinggi dari kelompok kecil tersebut, membuat Hawkins memiliki keberadaan yang cukup mencolok. Selain tinggi badannya yang berkisar 2,1 meter, ia juga memiliki aura yang cukup suram dan misterius. Dengan tinggi badannya yang jauh di atas remaja normal serta wajahnya yang kaku, membuat Hawkins nampak mengerikan jika dilihat dari sisi mana pun.

'Tinggi, dia tinggi sekali! Selain itu, apakah itu alis? Apa dia sengaja membentuk alisnya seperti itu?' batin Naruto yang kebingungan melihat alis Hawkins yang ia rasa sedikit aneh.

"Namaku Sasuke … Uchiha, dari 1-G. Aku seorang wizard dengan sihir api sekaligus swordman. Itu membuatku dapat melakukan serangan dari jarak jauh maupun dekat," ucap Sasuke dengan wajah dan nada bicaranya yang selalu datar.

Semua orang yang berada di sini memahami kenapa terdapat jeda saat Sasuke menyebutkan namanya. Karena kejadian yang menyeret namanya dan Naruto untuk melawan duo kembar kakak kelas mereka, membuat nama dan gosip tentang mereka berdua semakin berkembang dari biasanya.

Walaupun ia berdiri tepat di samping seorang remaja dengan postur yang sangat tinggi, itu tidak membuat hawa kehadiran Sasuke menjadi tertelan begitu saja. Justru sebaliknya, hawa kehadirannya tetap begitu terasa dan seakan mempertegas posisinya. Hanya Erza Scarlet seoranglah yang dapat menandingi hawa kehadiran Sasuke di kelompok kecil ini.

Menyadari bahwa kali ini adalah giliran dirinya untuk memperkenalkan diri, membuat Naruto mencoba menarik napas dalam-dalam agar menghilangkan gugupnya. Ia tidak ingin mengulang kenangan memalukannya ketika dua bulan yang lalu—saat ia membuat lelucon dalam perkenalannya pada pelatihan dungeon.

"Na- namaku adalah Naruto Namikaze dan aku juga dari kelas 1-G. Aku seorang healer. Selain itu, walaupun belum mendapat lisensi dokter, te- tetapi aku sangat percaya diri dengan ilmu kedokteranku. Ja- jadi, tidak perlu khawatir tentang cidera atau semacamnya," ucap Naruto panjang.

Dulu, Naruto tidak akan punya kepercayaan diri untuk mengatakan impiannya menjadi dokter yang hebat di depan orang lain. Akan tetapi, pertemuan pertamanya dengan seorang gadis berambut merah itu mengubah sudut pandangnya. Meskipun gadis itu seorang mantan budak, tetapi ia dengan gagah mengatakan impiannya. Melihat bagaimana gadis itu membalikkan berbagai kondisi yang terlihat mustahil, telah menciptakan sebuah dorongan kuat di hati Naruto.

Karena itulah,Walaupun ilmunya masih jauh berada di bawah neneknya, Naruto dengan percaya diri dapat mengatakan itu semua di depan orang-orang ini.

Tanpa sadar, Erza tersenyum manis ketika melihat Naruto memperkenalkan dirinya. Ia merasa bahwa Naruto telah sedikit berubah sejak pertama kali mereka dulu. Meskipun begitu, Naruto tetaplah seorang Naruto. Oleh karena itu, Erza dapat melihat sedikit kegugupan yang selalu jelas terpampang di wajah remaja pirang itu setiap kali dia bertemu dengan orang-orang baru.

"Kurasa, ini giliranku, 'kan?" ucap orang terakhir pada kelompok itu. "Namaku Bikou, Sun Bikou. Sun adalah nama keluargaku dan Bikou adalah nama pemberianku. Jadi, jangan sampai tertukar, oke?"

Sebuah kalimat dengan nada yang sangat santai keluar dari mulutnya. Pria itu memiliki tinggi badan yang umum untuk remaja sepertinya. Meskipun begitu, ia tetap sedikit lebih tinggi dari Naruto dan Sasuke. Perpaduan antara tinggi badannya yang proporsional dengan kulit tan dan rambut cokelat miliknya, membuatnya memiliki aura maskulin yang keluar dari tubuhnya.

Setelah menunggu selama lima detik, tetap tidak ada perkenalan lanjutan dari siswa yang bernama Bikou tersebut. Hal tersebut membuat Erza sedikit merasa jengkel.

"Bikou, kelas dan peranmu," ucap gadis berambut merah itu dengan singkat.

"Heh, kau benar-benar disiplin meskipun itu hanya menyangkut hal-hal yang sepele ya, Erza?" balasnya sambil mengangkat kedua tangannya. "Aku dari 1-C dan karena tubuhku ini sangat kuat, aku akan menjadi benteng yang akan berada di garis depan."

Sesaat setelah mengatakan itu, pandangan mata Bikou jatuh kepada Naruto. Ia menyipitkan matanya seolah ingin memastikan sesuatu dari laki-laki yang ada di sampingnya itu.

"Namun, aku sedikit penasaran. Siapa yang memiliki kekuatan fisik terkuat di sini, Namikaze-san?"

Menyadari bahwa namanya dipanggil secara tiba-tiba, membuat Naruto sedikit terkejut. Meski begitu, ia segera mengerti dengan maksud yang ingin disampaikan oleh Bikou.

'Uwaaa … hentikan itu, aku mohon. Aku tidak begitu nyaman berurusan dengan kepala batu sepertimu. Selain itu, apa yang kau gunakan di jidatmu itu? Sebuah bando?' batin Naruto yang sedikit risih dengan hiasan kepala aneh yang ada di kepala Bikou.

"Cukup, Bikou. Sekarang, aku akan menjelaskan detail misi kita," ucap Erza. "Seminggu terakhir ini, terdengar kabar bahwa ada kelompok buronan internasional bernama yang terlihat di sekitar provinsi Kai. Kelompok tersebut dipimpin oleh seorang mayor sesat dari negara suci Vaticano, Kokabiel."

Semuanya terdiam ketika mendengar penjelasan dari Erza. Menyadari bahwa target pengejarannya adalah seorang dengan pangkat yang terbilang cukup tinggi dalam dunia militer, memimbulkan rasa ragu di dalam diri mereka.

Dalam sebuah militer kerajaan, mayor adalah pangkat yang hanya bisa dicapai oleh mereka dengan kemampuan dan pengalaman yang hebat. Dengan kata lain, mayor telah termasuk ke dalam jajaran para elite militer yang telah dipercayai untuk mengomando sebuah pasukan besar.

Walaupun di sisi mereka memiliki Erza yang merupakan anggota Elite Ten Council yang telah dianggap sebagai siswa-siswa yang sejajar dengan kesatria elite, tetapi tetap saja terdapat sebuah perbedaan pengalaman yang signifikan antara seorang siswa dengan kesatria asli.

Dengan nada yang gelisah, Naruto berkata, "a- apa tidak masalah membawa orang tanpa pengalaman sepertiku untuk misi berbahaya ini? Ma- maksudku, bukankah akan lebih baik jika membawa orang lain yang lebih kompeten?"

Jika berbicara tentang peraturan akademi, siswa biasa seperti Naruto, Sasuke, Hawkins, dan Bikou tidak diperbolehkan untuk mengambil misi di luar jadwal dan tingkatan yang telah ditentukan oleh akademi. Umumnya, siswa biasa seperti mereka diperbolehkan untuk mengambil misi ketika masuk dalam bulan ketiga di semester tersebut dan ketika libur semester yang dikemas dalam bentuk pengabdian sosial.

Namun, siswa spesial seperti Elite Ten Council memiliki hak yang berbeda dengan mereka. Para sepuluh siswa unggulan tersebut dapat mengambil misi setidaknya satu bulan sekali. Dalam beberapa kasus tertentu, bahkan mereka dapat menerima misi dari kerajaan atau bangsawan lain. Seperti misal seperti saat ini, sebuah misi yang diturunkan langsung oleh raja untuk pengejaran buronan internasional bernama kokabiel.

"Tidak perlu khawatir, misi utama kita hanyalah memata-matai dan memetakan lokasi mereka dan mengirimnya ke kerajaan. Setelah itu, mereka akan mengirim kesatria sihir untuk membereskan sisanya. Lalu, tentang aku yang lebih memilih kalian daripada siswa lain yang lebih berpengalaman, itu karena aku ingin memberi banyak pengalaman ke angkatan kita," balas Erza.

Erza adalah siswa yang meraih posisi Elite Ten Council sejak ia masih menjadi murid junior high di tahun ketiga. Oleh karena itu, ia sangat mengerti betapa besarnya perbedaan pengalaman antara angkatannya dengan angkatan para seniornya. Dengan mengetahui fakta tersebut, Erza berniat menambah kualitas dari teman-teman seangkatannya, terutama untuk mereka yang memiliki potensi tinggi.

Selain karena memiliki potensi, tentu ada maksud tertentu di balik keikut sertaan Naruto dan Sasuke di dalam kelompok ini.

"Ka- kalau begitu, kenapa tidak mengirim kesatria sihir saja sejak awal? Selain itu, bagaimana jika dalam kasus terburuk, ki- kita harus berhadapan de- dengan mereka?" tanya Naruto kembali.

Erza menghela napas pelan dan menjawab, "sejujurnya, mereka sudah mengirim mata-mata, tetapi tidak ada yang kembali. Lalu, jika kita memang terpaksa untuk bertarung, maka tidak ada pilihan lain selain bertarung."

'Tidakkah kau berpikir bahwa kita masih ada pilihan untuk kabur?' batin Naruto yang ingin menangis ketika mendengar perintah nekat dari kapten timnya itu.

Berbeda dengan Naruto, Sasuke dan Bikou justru menampilkan seringai tipis saat mereka merasakan sensasi menegangkan dalam misi tersebut. Mereka menikmati sebuah debaran yang bahkan sudah muncul sebelum mereka berangkat.

"Jadi, apa ada informasi lain tentang lokasi mereka bersembunyi?" tanya Sasuke.

"Sayangnya, tidak. Seperti yang aku bilang, mata-mata yang dikirim menghilang tanpa berita apa pun," balas Erza lesu.

Kesunyian kembali menyelimuti kelompok tersebut. Tidak adanya informasi apa pun tentang keberadaan target mereka, itu membuat pengejaran semakin sulit. Sebagai seorang pemimpin, Erza tentu memahami perasaan para anggotanya. Bahkan, dia pun juga berpikir bahwa tidak adanya informasi sedikit pun, membuat kemungkinan misi ini sukses hanya berkisar di angka kurang dari lima persen.

"Akan tetapi, tenang saja. Kita memiliki tenggat waktu selama sepuluh hari. Jika kita tidak berhasil, kita bisa kembali ke Edo," lanjut Erza.

"Akaishi," gumam Naruto sambil mencubit dagunya

"Eh?" ucap mereka berempat dengan dipenuhi kebingungan.

Menyadari bahwa keempat pasang mata itu memandangi dirinya dengan tatapan penuh tanda tanya, membuat Naruto menjadi malu sendiri. Ia menggaruk pelan pipinya yang terdapat guratan tersebut menggunakan ujung jari telunjuknya itu untuk menutupi rasa malunya.

"Ma- maksudku, jika berbicara tentang provinsi Kai, bukankah pegunungan Akaishi adalah tempat yang paling bagus untuk bersembunyi?" jelas Naruto. "A- ah, itu bukan berarti a- aku pernah ke provinsi Kai. Ha- hanya saja, kampung halamanku juga ada di daerah pegunungan. Jadi, aku cenderung akan lari dan sembunyi di dalam pegunungan jika nenekku sedang marah."

'Kabur dari neneknya? Kenapa?' batin Erza, Bikou, dan Hawkins yang justru lebih tertarik dengan penjelasan akhir Naruto.

Berbeda dengan reaksi mereka bertiga, Sasuke—bersama dengan Sona dan Tsubaki—yang telah mengetahui silsilah keluarga Naruto, tidak heran sama sekali dengan penjelasan teman pirangnya itu. Pasalnya, Naruto sendiri sudah sering mengeluh bahwa neneknya adalah makhluk yang paling menyeramkan di seluruh dunia.

"Ehem!" respon Erza yang berpura-pura batuk untuk mengembalikan suasana. "Pegunungan, Akaishi, ya? Itu masuk akal mengingat tempat itu adalah salah satu tempat paling berbahaya di kerajaan ini."

Provinsi Kai merupakan sebuah provinsi yang terletak tepat di bagian tengah kerajaan ini. Jika berbicara tentang provinsi Kai, maka yang paling terkenal dari daerah tersebut adalah panorama alamnya yang indah. Di sana, terdapat sebuah deretan gunung yang berjejer membentuk sebuah harmoni. Jika ditotal antara jumlah gunung dan bukit di sana, maka ada sekitar 35 total yang secara resmi telah tercatat oleh kerajaan.

Dengan ketinggian rata-rata 3000 meter di atas permukaan laut, membuat pegunungan Akaishi itu sering disebut-sebut sebagai atap dari kerajaan Codafata. Namun, di balik keindahan yang memanjakan mata, pegunungan Akaishi dipenuhi dengan monster-monster tingkat B dan A yang berkeliaran di sana. Bukan hanya itu, bangsawan setempat pun sering mendapat laporan tentang kemunculan dungeon di sana.

Menurut catatan yang dibuat Tsunade Senju dan seorang bernama Orochimaru, pegunungan Akaishi memiliki pergerakan AIM Energy yang sangat kacau. Hal itu membuat sering membuat monster yang sangat peka terhadap AIM Energy berevolusi menjadi individu dengan karakter yang sangat berbeda dengan karakter induknya.

"Pegunungan Akaishi, ya? Menarik sekali. Bukan begitu, Uchiha?" ucap Bikou ke orang yang ia rasa memiliki semangat berpetualang sepertinya.

"Berhenti memanggilku Uchiha," balas Sasuke yang lebih tertarik untuk mengoreksi namanya daripada membalas ketertarikan Bikou.

Hawkins yang sedari tadi hanya diam dan memperhatikan, merasakan ada sebuah kekurangan dan kejanggalan dalam informasi yang diberikan Erza. Namun, ia memilih untuk mengabaikan perasaan curiga yang tidak berdasar tersebut dan menanyakan sesuatu yang ia anggap lebih penting.

"Apa ada sesuatu yang lain yang harus kami tahu? Seperti alasan kenapa ia dicari dan para bawahannya."

"Ya, aku berniat ingin membicarakan ini ketika perjalanan nanti, tetapi karena kau sudah bertanya, aku akan menjelaskannya sedikit," balas Erza. "Ia tertangkap basah mencuri empat pecahan pedang Excalibur milik gereja besar Vaticano. Ada rumor yang mengatakan, bahwa Kokabiel berniat menggabungkan empat pecahan yang ia curi tersebut."

Excalibur merupakan salah satu senjata yang telah ada sejak era Ragnarok yang telah terjadi 1500 tahun yang lalu. Sebagai senjata yang telah ikut serta ke dalam perang antara manusia, naga, dewa, dan iblis membuat Excalibur diakui sebagai salah satu senjata papan atas di dunia ini.

Walaupun bukan senjata kelas longinus, seperti yang dimiliki Erza, tetapi Excalibur termasuk ke dalam sepuluh pedang tertajam di dunia. Yang paling ditakuti dari Excalibur bukan hanya tentang ketajamannya, tetapi kekuatan magis yang terkandung di dalam pedang tersebut. Oleh karena itu, hanya orang dengan bakat luar biasa dan mendapatkan anugerah dari dewa saja yang dapat menggunakan Excalibur.

Namun, karena pengaruh dari si penyihir hitam, Excalibur tersebut pecah menjadi tujuh bagian. Meskipun pada akhirnya Excalibur tidak dapat lagi menunjukkan potensi sejati miliknya, tetapi mereka justru dapat menggunakan tujuh pecahan tersebut dengan lebih efektif dari sebelumnya.

Ada sebuah catatan yang mengatakan, bahwa setelah penyihir hitam merusak Excalibur, si penyihir putih—yang dianggap sebagai utusan dewa—membimbing mereka agar pecahan Excalibur tersebut dapat digunakan dengan efektif oleh siapa pun.

Namun, seiring berkembangnya zaman dan pengetahuan, banyak orang yang berpikir bahwa mereka dapat menyatukan kembali pecahan Excalibur tersebut dan membawanya ke potensi terbesarnya, seperti masa-masa keemasan pedang tersebut. Salah satu dari orang tersebut adalah Kokabiel.

Sebagai seorang pendekar pedang, tentu saja Sasuke sangat mengerti tentang legenda yang tertulis tersebut. Oleh karena itu, ia merasa sebagai orang yang sangat beruntung di dunia ini karena telah ikut serta dalam misi ini.

"Kalau begitu, tunggu apa lagi? Ayo berangkat," ucap Sasuke tetap dengan nadanya yang datar untuk menyembunyikan semangatnya.

Setuju dengan ucapan Sasuke, Erza pun memandangi satu-persatu anggotanya untuk memastikan kesiapan mereka. Tidak lama kemudian, datanglah sebuah kereta kuda yang akan mengantarkan mereka ke tempat tujuan mereka selanjutnya.

"Apa kalian sudah menyiapkan keperluan-keperluan selama misi?" tanya Erza untuk memastikan mereka.

Seluruh orang yang berada di sana telah memasang wajah tegasnya masing-masing yang menandakan bahwa mereka telah siap. Yah, meskipun begitu, tetap ada satu orang di antara mereka yang masih berpikir bahwa ia tidak siap dan akan segera membuat rute pelarian terbaik saat mereka telah tiba di sana.

Keempat siswa tersebut berjalan tepat di belakang Erza yang memimpin mereka di depan. Karena perasaan gugupnya selama pertemuan tadi, Naruto tidak memperhatikan penampilan Erza dengan cukup baik. Oleh karena itu, setelah rapat kecil tadi selesai, ia mulai melihat satu-satunya gadis dalam kelompok tersebut dengan seksama.

Tidak banyak yang berubah dari penampilan Erza sehari-hari. Ia tetap memakai setelan blazer hitam milik akademi dan rok yang seperti biasa. Bahkan, rambut merah yang dibiarkan tergerai itu pun berkibar ditiup angin seperti pada hari-hari normal lainnya. Namun, jika ada sebuah perbedaan yang mencolok, itu adalah sebauh pedang dengan model katana yang menggantung di sisi kiri pinggulnya.

Walau hanya perubahan kecil tersebut, membuat mata Naruto serasa kesulitan untuk beralih dari sosok Erza.

"Pssttteme," bisik Naruto tepat di sebelah telinga Sasuke.

"Bukan teme, tetapi Sasuke," balasnya dengan mengoreksi namanya seperti biasa sambil berbisik.

"Apa kau tidak ingin mengeluarkan pedangmu seperti Erza-san? Maksudku, bukankah itu terlihat keren?"

"Aku akan mengeluarkannya jika saja aku memiliki pedang yang bagus seperti milik Erza."

Naruto terdiam saat mendengar balasan Sasuke. Ia mengerti maksud dari Sasuke. Pedang milik Sasuke tidaklah sebagus milik Erza. Bahkan, pedangnya tersebut tidak dapat dibandingkan dengan milik Erza yang terlihat seperti pedang kelas atas itu. Bahkan, walaupun yang dikeluarkannya itu bukanlah senjata kelas longinus—pedang Benizakura—pedang yang berada di pinggang kiri Erza tersebut masih termasuk ke dalam pedang dengan kualitas atas.

Hal tersebut sangat berbeda dengan pedang normal milik Sasuke yang ia dapat dengan susah payah. Naruto adalah saksi bagaimana cara Sasuke menawar pedang tersebut dengan harga yang sangat murah di sebuah toko kelontong yang bahkan tidak memiliki nama.

"Yah, kau benar. Kurasa, kau akan kelihatan seperti orang bodoh jika bersaing dengan Erza-san soal penampilanmu," bisik Naruto dengan nada kasihan.


Bersambung

Author Note : Halooo selamat siang, semuanya. Semoga kalian baik-baik saja dan jaga kesehatan selalu. omong-omong, sekarang aku ganti summary lo hehe. yah, sebetulnya udah dari dulu ingin ganti summary karena memang summary yang dulu itu dibuat karena bingung mau nulis apa haha, salah satu temanku juga menyarankan begitu. Hanya saja, baru dapat ilhamnya setelah terlalu lama berdiam diri di rumah.

Yang aku ingin bahas pertama adalah latar tempat. Seperti yang kalian tahu, di fict ini aku memakai daerah di Jepang pada tempo dulu, seperti Edo yang aku gunakan untuk nama ibukota di fict ini. Begitupula dengan provinsi Awa dan provinsi Kai, keduanya adalah nama provinsi di Jepang pada jaman dulu, sejak jaman Kamakura sampai jaman Edo. Yah, gampangnya, lihat aja di game Basara haha.

Sejujurnya, aku berpikir untuk memakai nama-nama kota di Indonesia untuk menjadi setting tempatnya karena lebih mudah diutak-atik arti dari nama kotanya. Namun, karena aku sudah pernah memakai nama daerah di Indonesia untuk fict-ku yang lain, aku akhirnya memilih nama-nama provinsi kuno yang ada di Jepang.

Alasan aku memilih provinsi Kai sebagai lokasi bersembunyi, karena memang tempat tersebut banyak gunungnya. Sekarang, provinsi Kai itu menjadi prefektur Yamanashi dan sebagian prefektur Nagano dan Aichi (seingetku dulu gitu sih). Nah, untuk pegunungan Akaishi, itu emang benar adanya. Orang Barat menyebut pegunngan Akaishi itu sebagai pegunungan Alpennya Jepang. Kalau kalian tahu Takeda Shingen (orang yang bawa kapak di Basara), dia adalah daimyou di Awa saat periode Sengoku.

Lalu, untuk provinsi Awa. Sebenernya, alasan aku memilih Awa itu cukup sepele sih. Karena aku lahir dan pernah sekolah di Chiba, makanya aku memilih Provinsi dari sekian banyak lokasi strategis lain di Jepang haha. Chiba sendiri di Jepang jadi salah satu kota strategis. Bersama dengan Yokohama dan Saitama, Chiba menjadi salah satu kota yang menopang ekonomi Tokyo. Seperti yang aku bilang, Chiba itu memiliki semenanjung Bousou yang menjadi pintu masuk ke selat Tokyo, sehingga membuat jalur ekspor-impor di Chiba menjadi salah satu yang terbaik di Jepang. Untuk provinsi Awa, diperintah oleh clan Houjo. Di Basara, ada Houjou Ujimasa yang saat itu memerintah saat periode Sengoku.

Selanjutnya adalah Excalibur. Jujur saja, aku sampai sekarang mencari-cari tentang alasan Excalibur terpecah jadi 7 pun masih belum ketemu. Oleh karena itu, aku memutuskan memakai plot seperti ini untuk mendasari terpecahnya Excalibur. Maksudku, pedang sehebat Excalibur gak mungkin tiba-tiba dipecah oleh sosok yang random dan kemudian peristiwa itu tidak dicatat dalam sejarah? Jadi, untuk menutup plot terpecahnya excalibur jadi 7 bagian, aku menggunakan si penyihir hitam.

Ketiga, untuk pertanyaan tentang tugas Elite Ten Council. Secara sederhana, tugas mereka itu sama seperti OSIS. Bedanya, kalau OSIS di sekolah dipilih berdasar seleksi, elite ten council itu dipilih berdasar prestasi dan kemampuan individu. Untuk detail tentang pembagian tugasnya, nanti akan aku ceritakan di chapter-chapter yang akan datang. Untuk saat ini, hanya tugas Mavis saja yang sudah diketahui, yaitu memantau perkembangan siswa dan memetakan kemampuan mereka agar lebih mudah untuk mencari mana yang berpotensi.

Lalu, untuk latar belakang Naruto, dulu pernah aku bahas. Namikaze itu bukan nama keluarga besar, mereka adalah nama orang-orang biasa yang cukup sering ditemui di kota pelabuhan. Makanya gak ada yang peduli dengan nama Namikaze. Bahkan, hanya Jiraiya dan Minato yang memiliki nama Namikaze yang sukses masuk ke jajaran militer kerajaan. Selain itu, hanya beberapa orang yang tahu latar belakang Naruto di akademi.

Bahkan, Naruto sendiri paham kalau bukan karena koneksi kakek-neneknya, dia tidak akan bisa sekolah di sini karena memang biayanya yang mahal. Oleh karena itu, dia juga sadar kalau ada "deal-deal" tertentu di antara kakek-nenek dan pihak sekolah. Meskipun sampai sekarang Naruto tidak tahu kesepakatan apa yang dibuat oleh mereka, tetapi dia tahu kalau itu pasti ada.

Seperti yang sudah berkali-kali aku singgung, Naruto itu bukan anak bodoh. Naruto itu tipe anak realistis yang terlalu overthinking, tetapi dia tidak bodoh. Dia itu anak yang cerdas, teliti, dapat memahami suasana dengan baik, dan juga peka. Bahkan, di chapter 9, Naruto sadar kalau Ravel itu suka sama dia.

Berbicara tentang nama, sejujurnya di fict ini, nama Uzumaki itu jauh lebih dikenal daripada Namikaze. Meskipun Uzumaki itu bukan nama bangsawan atau orang-orang besar, tetapi Kushina Uzumaki itu aktivis wanita yang bahkan berkat dirinya, kerajaan Codafata terancam jatuh pada kekacauan hingga perang saudara jika tuntutan revolusi hak asasi manusia tidak dituruti.

Jadi, perlu diingat, di sini itu yang namanya justru memiliki pengaruh besar itu bukan Namikaze, tetapi Uzumaki. Jika Naruto memakai nama Namikaze, dia masih akan dianggap sebagai orang-orang pesisir lainnya. Kecuali untuk orang-orang seperi Sona yang sangat teliti dan Sasuke yang mengidolakan kisah kepahlawanan from zero to hero, sulit untuk menebak apakah Naruto itu keturunan Minato.

Berbeda halnya jika Naruto memakai nama Uzumaki. Karena satu-satunya Uzumaki yang pernah muncul ke permukaan adalah Kushina, dan sekalinya muncul, dia langsung bikin kegemparan dan dianggap sebagai cahayanya rakayat-rakyat kecil, tentu itu akan membuat cara pandang tersendiri untuk nama Uzumaki. Simpelnya, mereka akan menganggap nama Uzumaki itu keramat. Jika ada orang lain yang memiliki nama Uzumaki, pasti mereka akan curiga kalau orang tersebut memiliki hubungan dengan Kushina. Bahkan jika mereka bukan keturunan Kushina, mereka akan tetap memiliki beban mental jika memiliki nama Uzumaki.

Logikanya, itu seperti ada orang yang diberi nama Muhammad, tetapi perilakunya tidak sesuai dengan nabi Muhammad. Meskipun mereka bukan keturunan nabi Muhammad, mereka akan memiliki beban mental karena membawa nama Muhammad.

Jadi, sekali lagi aku ingatkan, nama Namikaze itu bukan nama bangsawan atau orang besar, itu adalah nama yang umum ditemukan di daerah pesisir, khususnya derah pelabuhan. Sedangkan nama Uzumaki, itu juga jauh dari bangsawan. Kushina sendiri berasal dari desa yang tidak dikenal (yang sekarang jadi tempat tinggal kakek-nenek Naruto).

Kelima, untuk fanservice. Jujur saja, aku sendiri juga berniat memasukkan beberapa fanservice. Namun, aku tidak yakin fanservice yang ada di kepalaku itu bisa sama dengan fanservice yang kalian inginkan. Intinya, aku bukan tipe orang yang suka sesuatu seperti drama menye-menye, reaksi yang terlalu berlebihan, dan MC yang dikelilingi oleh payudara. Jadi, jika kalian berharap fanservice dengan interaksi seperti pada umumnya, dengan berat hati aku tidak bisa mewujudkan.

Karena menurutku, fanservice yang ideal itu adalah bagaimana mereka berinteraksi dengan menonjolkan keunikan karakternya masing-masing. Simpelnya, aku lebih suka sesuatu seperti Oregairu, Kaguya-sama, seishun buta yarou, atau semacamnya. Jadi, fanservice yang akan aku tonjolkan adalah tipe-tipe yang seperti itu. Dan ya, tentu saja aku akan menulis sesuatu seperti itu nanti untuk ke depannya sebagai selingan.

Oke, karena ini masih baru awal-awal, aku rasa gak banyak yang aku bahas. Jadi, aku rasa itu saja. Jika masih bingung dan ada yang ingin ditanyakan, silahkan menuliskannya di kolom review atau bisa langsung PM saya.

Sebagai ucapan terakhir, aku ucapkan terima kasih kepada kalian semua yang telah membaca fict ku dan yang telah memberi review, fav, dan follow. Sampai bertemu di chapter selanjutnya dan tetap jaga kesehatan.