"Psstt … teme," bisik Naruto tepat di sebelah telinga Sasuke.
"Bukan teme, tetapi Sasuke," balasnya dengan mengoreksi namanya seperti biasa sambil berbisik.
"Apa kau tidak ingin mengeluarkan pedangmu seperti Erza-san? Maksudku, bukankah itu terlihat keren?"
"Aku akan mengeluarkannya jika saja aku memiliki pedang yang bagus seperti milik Erza."
Naruto terdiam saat mendengar balasan Sasuke. Ia mengerti maksud dari Sasuke. Pedang milik Sasuke tidaklah sebagus milik Erza. Bahkan, pedangnya tersebut tidak dapat dibandingkan dengan milik Erza yang terlihat seperti pedang kelas atas itu. Bahkan, walaupun yang dikeluarkannya itu bukanlah senjata kelas longinus—pedang Benizakura—pedang yang berada di pinggang kiri Erza tersebut masih termasuk ke dalam pedang dengan kualitas atas.
Hal tersebut sangat berbeda dengan pedang normal milik Sasuke yang ia dapat dengan susah payah. Naruto adalah saksi bagaimana cara Sasuke menawar pedang tersebut dengan harga yang sangat murah di sebuah toko kelontong yang bahkan tidak memiliki nama.
"Yah, kau benar. Kurasa, kau akan kelihatan seperti orang bodoh jika bersaing dengan Erza-san soal penampilanmu," bisik Naruto dengan nada kasihan.
Naruto by Masashi Kishimoto
High School DxD by Ichie Ishibumi
And other characters are not belongs to me
Genre : Adventure, Fantasy, Action, Friendship, Romance.
Summary : Demi mewujudkan mimpinya dalam bidang ilmu medis, dia siap terlibat dengan seluruh kekacauan dalam negeri ini. Bersama dengan teman-temannya yang juga menginginkan sebuah revolusi, mereka akan mengadu seluruh kemampuan, siasat, dan tipu daya. Semuanya akan mereka lakukan, untuk sebuah revolusi.
Chapter 17 : Pada Akhirnya, Dia dan Remaja Laki-Laki Itu Pun, Harus Berpisah Jalan.
—XxXxX—
Pegunungan Akaishi merupakan salah satu panorama alam paling memukau di kerajaan Codafata, sekaligus menjadi salah satu tempat yang paling berbahaya di kerajaan ini. Jika kau menjumlah seluruh gunung dan bukit yang berjejer di sini, kau akan mendapatkan jumlah sebanyak 35 gunung dan bukit. Setidaknya, itulah yang secara resmi dicatat oleh kerajaan.
Banyaknya gunung dan bukit membuat daerah ini menjadi daerah yang akan membuat siapa pun tersesat saat memasukinya tanpa persiapan apa pun. Selain itu, karena pergerakan AIM Energy yang sangat kacau, membuat penyihir dengan tipe sensor menjadi tidak beguna. Ini bukan berarti mereka yang lemah atau semcamnya. Hanya saja, penyihir tipe sensor yang biasa memetakan tempat secara luas, memang selalu bergantung dengan kondisi medan tempat mereka berada.
Dari buku yang aku baca, secara garis besar, aku dapat menyimpulkan bahwa cara mereka memetakan tempat, tidak jauh berbeda dengan cara kelelawar untuk mengetahui letak benda-benda saat terbang di malam hari. Dengan kata lain, mereka menyebarkan mana yang mereka miliki ke udara dan mana tersebut akan memantulkan letak suatu benda beserta jaraknya dengan tingkat akurasi hingga 90%.
Oleh karena itu, karena pergerakan AIM Energy di sini sangatlah tidak teratur, itu membuat mereka tidak dapat memantulkan energi lain dengan benar.
"Maaf, sekeras apa pun aku mencoba, aku tetap tidak bisa melakukannya."
Hawkins adalah support utama di tim lima orang ini. Saat perjalanan ke propinsi Kai, aku sempat membaca resume tentang kemampuannya. Dia adalah penyihir dengan tipe magic caster yang memiliki berbagai macam mantra dan jenis sihir. Dengan begitu, membuatnya menjadi seorang support yang sangat bisa diandalkan dalam sebuah tim.
Hanya saja, itu lantas tidak membuatnya menjadi penyihir tanpa celah. Pegunungan Akaishi yang penuh dengan anomali ini, menjadi dinding penghalang terbesarnya. Sebagai penyihir yang seharusnya memetakan wilayah, dia telah dianggap gagal dalam hal ini. Dengan kata lain, kami membutuhkan penyihir tipe sensor dengan tingkat yang jauh lebih tinggi lagi untuk dapat melakukan tugas ini.
"Jangan khawatir, Hawkins. Semua tipe sensor pasti kesulitan jika berada pada situasi seperti ini," balas Erza-san dengan senyum positifnya.
Aku tahu bahwa Erza-san adalah seorang seperti itu, tetapi ini bukan berarti kita tidak boleh untuk tidak khawatir, 'kan? Maksudku, justru normalnya, kita harus merasa bahwa situasi ini sudah mulai masuk ke dalam situasi yang mengkhawatirkan, kau tahu?
Misi kita adalah melacak informasi keberadaan Kokabiel yang diduga bersembunyi di dalam gunung ini. Meskipun begitu, karena Hawkins tidak dapat menggunakan kemampuan sensornya, itu membuat misi ini serasa seperti sedang berjalan di tempat. Aku pun merasa, bahwa aku terlalu meremehkan tempat ini. Aku memang tahu, bahwa pegunungan Akaishi itu terkenal dengan tidak stabilnya AIM Energy. Hanya saja, aku tidak menyangka itu akan menjadi separah ini.
Sebagai orang yang selalu bertindak secara hati-hati, ini merupakan blunder terbesar dalam hidupku. Memang, tidak seharusnya manusia meremehkan kekuatan alam.
Orang yang mamandu kami hingga ke titik awal masuk pegunungan Akaishi mengatakan, bahwa di dalamnya, terdapat sebuah pemukiman desa yang sudah berdiri sejak puluhan tahun yang lalu. Hanya saja, karena tidak ada seorang pun yang dapat memetakan tempat ini secara keseluruhan, membuat desa kecil itu sangat sulit untuk didatangi.
Tentu saja, itu bukan berarti tidak mungkin untuk didatangi. Seharusnya, para petualang yang berada di guild petualang, sudah cukup familiar dengan jalan menuju desa tersebut. Akan tetapi, saat kami mengunjungi guild petualang untuk mencari pemandu kami menjelajah pegunungan Akaishi atau hanya sekedar mengantarkan kami ke desa tersebut, tidak ada satu pun dari mereka yang mau melakukannya. Bahkan, meskipun kami telah menunjukkan surat resmi dari kerajaan, mereka tetap tidak mendengarkan sama sekali.
Yah, karena mereka adalah petualang yang terbiasa hidup bebas, tentu mereka tidak akan tunduk begitu saja hanya dengan selembar kertas. Akan tetapi, tetap saja itu memberikan perasaan tidak enak di dalam dadaku.
"Anoo … jika kalian tidak masalah dengan peta yang digambar secara manual, aku punya," ucapku.
Keempat orang yang sedari tadi memasang wajah tidak nyaman, kini mulai memandangiku dengan pandangan penuh harapan. Jujur saja, aku tidak begitu suka suasana ini. Jika mereka begitu berharapnya padaku. Maka, hanya tinggal menghitung waktu saja hingga mereka merasa kecewa. Membayangkan hal itu saja, sudah membuat hatiku yang rapuh ini menjadi sakit.
"Apa maksudmu, Namikaze?" tanya Bikou dengan mulutnya yang sedikit mengerucut.
Sembari mempersiapkan susunan kalimat yang akan aku gunakan sebagai jawaban, aku pun memperlihatkan kertas yang sangat lebar yang sedari tadi aku bawa. Lipatan-lipatan kecil yang aku gunakan untuk memudahkanku membawanya, perlahan aku buka sehingga mereka dapat melihat dengan baik. Entah secara naluri atau semacamnya, mereka pun mulai berkumpul di sekitarku dan membentuk lingkaran kecil.
"Sebenarnya, aku menggambar ini untuk membuat jalur pelarian jika terjadi sesuatu yang tidak terduga," ucapku sambil membentangkan kertas di tanah. "Bisa kita lihat, kita masuk dari sisi Utara. Berjalan ke arah Selatan hingga kurang lebih 2,500 kaki hingga bertemu pohon besar yang tadi."
Jika dibandingkan dengan peta yang dibuat menggunakan sihir, peta manual yang kugambar ini tidak dapat dibandingkan sama sekali. Karena skala yang digunakan tidak jelas, tingkat akurasi pada peta ini pun sangat rendah. Karena ini hanya menggambar tempat-tempat yang telah dilalui, pilihan rute perjalanan pun menjadi sangat terbatas karenanya.
Aku menjadi kepikiran satu hal, jika aku dapat menggambar seluruh peta pada pegunungan Akaishi, mungkin aku dapat menjualnya dan mendapatkan banyak uang.
"Apa maksudnya tanda-tanda silang ini?" tanya Sasuke.
"Ah, ini adalah tempat saat kita banyak bertemu monster-monster. Jadi, aku mengasumsikan bahwa monster sering berkeliaran atau berburu di tempat-tempat tersebut. Mengetahui letak monster-monster sering muncul, akan sangat membantu saat kita hendak keluar atau bahkan kabur dari tempat ini."
Selain medan yang sangat sulit, hal yang paling merepotkan dari tempat ini adalah banyaknya monster yang berkeliaran di sini. Bahkan, sejak awal kami menginjakkan kaki di dalamnya, kami sudah banyak berhadapan dengan monster rank B, bahkan kami juga bertemu dengan beberapa monster rank A. Tingkat bahaya di pegunungan kampung halamanku, benar-benar tidak bisa dibandingkan dengan tempat ini.
Aku sangat bersyukur dengan komposisi tim lima orang ini. Dengan Erza-san yang menjadi pemimpinnya, kami dapat bertarung dengan sangat efisien. Bahkan, Bikou yang terlihat seperti hewan liar, masih dapat berkompromi dengan baik bersama tim.
"Ini lebih baik daripada tidak sama sekali. Kau bisa melakukannya 'kan, Naruto?" tanya Erza-san.
Kuanggukkan kepalaku sebagai jawaban atas pertanyaannya itu. Ini bukanlah kepercayaan diri tanpa dasar, karena membuat rute pelarian adalah keahlian terhebatku.
"Berpikir akan ada desa di tempat seperti ini, apa itu masuk akal?" tanya Bikou.
Nadanya yang lelah tersebut tidak ia tutupi sama sekali. Bahkan, meskipun Erza-san sedang berusaha membangun kembali semangat tim, dia tidak segan-segan untuk mengeluh di depannya. Dalam poin itu, aku sedikit iri dengan Bikou yang berani mengeluh tanpa malu di depan orang-orang. Andai aku memiliki sedikit keberanian sepertinya, mungkin seluruh hal-hal buruk dan negatif di dalam kepalaku sudah aku curahkan sepenuhnya sejak tadi.
"Manusia adalah makhluk yang beradaptasi, Bikou. Bagi kita yang hidup damai di Edo, sesuatu seperti ini mungkin terdengar sangat tidak masuk akal. Akan tetapi, mereka yang telah hidup di tempat ini sejak leluhur mereka, tentu memiliki pengetahuan yang tidak dimiliki oleh orang-orang seperti kita," balas Hawkins.
Bikou mendecih sebal saat mendengar jawaban dari Hawkins. Mengetahui bahwa kau tidak lebih hebat dari orang-orang yang bermukim di sebuah desa di tengah-tengah pegunungan, tentu akan membuat orang seperti Bikou menjadi frustasi. Akan tetapi, hanya karena orang-orang desa tersebut dapat beradaptasi dengan medan pegunungan ini, lantas tidak membuat mereka menjadi lebih hebat dari kita atau semacamnya.
Seperti yang Hawkins katakan, mereka memiliki pengetahuan yang tidak kita miliki. Kekuatan saja bukan jaminan utama untuk dapat bertahan di tempat seperti ini. Jadi, pada dasarnya, ini semua hanyalah tentang perbedaan pengalaman antara mereka dan orang-orang luar seperti kita. Oleh karenanya, merasa iri oleh hal-hal kecil seperti ini, bukankah itu terdengar sangat kekanak-kanakan?
"Naruto, kau bilang, kau juga berasal dari daerah pegunungan, 'kan? Apa tempatmu juga seperti ini?"
Pertanyaan Erza-san yang secara tiba-tiba, membuat sudut alisku menjadi tertarik. Aku tidak pernah terpikir jika percakapan ini akan mengarah ke kampung halamanku. Namun, karena saat ini kita sedang beristirahat, aku rasa itu wajar jika pertanyaan seperti itu tiba-tiba muncul.
"Tidak, tidak juga. Pegunungan tempatku memang menjadi sarang monster, tetapi tidak seberbahaya pegunungan Akaishi. Selain itu, daripada monster, bandit-bandit gunung dan para kriminal lain menjadi masalah yang lebih berbahaya."
"Bandit gunung dan kriminal? Jangan-jangan, kau berasal dari pegunungan Shikoku di propinsi Tosa?" balas Hawkins dengan suaranya yang rendah.
"Tosa? Kau berasal dari tempat seperti itu?" tanya Erza-san antusias
Aku tahu, bahwa daerah tempatku tinggal sedikit terkenal. Hanya saja, melihat mereka bertiga bereaksi seperti itu, membuatku sedikit kehilangan kata-kata. Tidak, itu bukan berarti aku bangga atau senang. Justru sebaliknya, itu membuatku merasa miris.
Propinsi Tosa bukan terkenal karena keindahan, kenyamanan, atau kelebihan-kelebihan lainnya. Orang-orang dari luar Tosa, cenderung menyebut propinsi itu sebagai tempat yang menjadi sarang kriminal. Jika propinsi Kai terkenal sebagai tempat yang berbahaya karena banyaknya monster yang bersarang di pegunungan Akaishi. Maka, propinsi Tosa adalah tempat yang terkenal berbahaya karena banyaknya kriminal yang tersebar di seluruh wilayah Tosa.
Pegunungan Shikoku, secara harfiah, berarti Pegunungan Empat Negara. Sama seperti namanya, pegunungan tersebut juga menjadi perbatasan dari empat negara—termasuk kerajaan Codafata. Jika dilihat dari letak geografisnya, seharusnya propinsi Tosa menjadi daerah yang sangat potensial untuk sebuah jalur perdagangan, karena memiliki akses yang dapat menghubungkan empat negara sekaligus.
Akan tetapi, menjadi daerah yang sering dilalui pelancong luar negeri, itu berarti juga harus siap menerima dampak negatifnya. Dampak buruk dari perbatasan yang sangat bebas dan terbuka, itu berarti bahwa kemungkinan orang-orang dari dunia bawah dan orang-orang dengan kepala batu juga dapat berlalu lalang sesukanya. Karena terlalu bebas itulah, yang membuat Tosa jatuh sejak seratus tahun yang lalu dan menjadi sarang para kriminal. Ditambah lagi, para bangsawan—mulai dari count yang mengurus pada tingkat propinsi hingga baron yang memerintah desa—pun hanya sibuk menggelembungkan perut mereka masing-masing.
Perkelahian di jalanan umum atau bahkan pembunuhan sekali pun, adalah sebuah perkara yang mudah dijumpai sehari-hari. Bahkan, meskipun desaku berada di kaki gunung dan jauh dari keramaian kota, itu bukan berarti kami aman dari para krminal tersebut. Hampir setiap hari, pasti ada saja bandit yang berusaha merompak seluruh harta yang kami—orang-orang desa—miliki. Jika tidak ada kakek dan nenek yang melindungi, aku yakin pasti hidup orang-orang desa sangat menderita.
"Aku tidak pernah menyangka bahwa kau berasal dari tanah orang-orang bar-bar itu. Jika dipikir-pikir, aku rasa aku mengerti dari mana tenaga monstermu itu berasal," ucap Bikou dengan antusias. Suasana hatinya saat ini, benar-benar berbeda dari beberapa menit yang lalu.
"Ah … ahahaha … begitukah?"
Setelah aku keluar dari propinsi Tosa dan pergi ke Edo, aku mulai mengerti bahwa orang-orang luar sering menyebut propinsi Tosa sebagai tempat orang-orang bar-bar berada. Hanya saja, berpikir bahwa kekuatan fisikku ini ada hubungannya dengan Tosa, aku rasa itu benar-benar salah.
Bahkan, jika aku tidak tinggal di Tosa, aku pasti tetap akan memiliki kekuatan fisik seperti ini. Bagaimanapun juga, kekuatan fisik yang sering Bikou sebut sebagai tenaga monster ini, sepenuhnya berasal dari neraka yang disebut sebagai latihan kasih sayang oleh seorang nenek.
"Katakan padaku, Naruto. Apa di sana benar-benar menganggap, bahwa tangisan seseorang bagaikan nyanyian keberanian?" tanya Erza-san yang juga tidak kalah antusias.
"A- apa? Benarkah? A- aku baru mendengar hal itu."
"Eh, apa tidak? Kukira, orang-orang di Tosa adalah orang-orang yang berani,"
"Tidak, tentu saja tidak, Erza-san. Logika seperti itu tidak akan membuatmu bertahan hidup di Tosa," balasku sambil menghela napas.
Orang-orang Tosa tidak mengenal omong kosong seperti keberanian atau pun kebanggaan seperti yang sering diucapkan oleh kesatria. Hal-hal naif seperti itu, hanya akan memperpendek nyawamu jika kau hidup di Tosa. Bahkan, ibuku yang merupakan seorang yang sangat idealis, juga tetap memiliki perhitungan-perhitungannya sendiri yang membuatnya bisa bertahan hidup di Tosa selama 16 tahun—sebelum akhirnya ia merantau ke ibukota, Edo.
Keberanian tanpa dasar hanya akan menyebabkan berbagai masalah, kekuatan juga masih dapat dikalahkan dengan jumlah, jumlah dapat ditundukkan dengan kekuasaan, dan kekuasaan dapat dikendalikan dengan uang, dan orang yang licin sangat sulit dijerat oleh uang. Artinya, tidak ada yang pasti jika kau ingin bertahan hidup di Tosa. Jika kau tidak memiliki kekuatan, bergabunglah dengan kelompok yang besar. Jika kau tidak diterima di kelompok, jilatlah sepatu para penguasa. Jika kau tidak ingin menjilat, jadilah orang kaya dan mainkan birokrasi di balik layar. Jika kau tidak ingin semuanya, satu-satunya pilihan adalah menjadi orang yang dapat melarikan diri dari setiap situasi apa pun.
Dengan kata lain, seorang pengecut terhebatlah yang dapat bertahan hidup hingga akhir di lingkungan yang keras seperti Tosa.
Kecuali Sasuke yang telah mengetahui latar belakangku, mereka semua banyak bertanya tentang rumor-rumor yang sering beredar tentang Tosa. Tentu saja, aku akan sebisa mungkin menyanggah dan memperhalus kenyataan tentang propinsi Tosa. Maksudku, separah apa pun kondisi kampung halamanmu, kau tetap ingin kampung halamanmu itu terlihat baik di mata orang lain, 'kan?
Di bawah tekanan misi yang sulit seperti ini, menikmati percakapan santai di kala istirahat adalah sesuatu yang baik. Memberikan otakmu waktu istirahat bukan berarti kau lengah, tetapi itu untuk mengisi kembali tenaga, lalu menyusun rencana yang lebih efisien lagi. Di tengah-tengah percakapan santai ini, Sasuke pun tiba-tiba berdiri dan itu menarik perhatian seluruh orang, termasuk diriku.
"Kau mau kemana, Sasuke?" tanyaku.
"Buang air besar," balasnya singkat.
Sebelum ia melangkahkan kaki, aku pun dengan segera menghentikannya sambil merogoh sesuatu di dalam kantungku.
"Tunggu sebentar, Sasuke."
Setelah Sasuke berhenti, aku menyemprotkan parfum yang kuambil dari kantungku tersebut. Parfum itu kusemprotkan ke badanku dan juga ke berbagai tempat di sekeliling kami beristirahat.
"Apa yang kau lakukan, bodoh?" tanya Sasuke dengan wajah yang sudah sedikit pucat.
Ughh … aku rasa, dia sudah menahannya dengan baik sejak tadi. Aku menjadi sedikit bersalah karena mengganggunya. Akan tetapi, ini demi kebaikannya.
"Kau harus mengingat bau ini. Jadi, meskipun kau tidak tahu arah, kau bisa mengendusnya hingga sampai ke sini. Ah, dan kau juga bisa menyemprotkannya di sepanjang perjalananmu mencari tempat yang nyaman," balasku sambil menyerahkan sebotol parfum.
Suara decihan sebal terdengar dari mulut Sasuke. Tangannya yang terlihat mengepal pun seakan menunjukkan usahanya untuk menahan rasa kesalnya.
"Aku bersumpah akan menghajarmu saat aku kembali nanti," balas Sasuke dengan nada yang berat.
"Oh, itu motivasi yang bagus, teme-kun. Jadi, jangan sampai tersesat, oke?"
Setelah aku mengatakan itu, Sasuke segera berbalik dan berjalan meninggalkan kami. Aku cukup yakin, aku mendengar sesuatu yang samar seperti 'bukan teme-kun, tetapi Sasuke' dari arah bocah unik itu. Saat aku mulai merasa ada sesuatu yang janggal, aku pun seketika sadar kalau dia tidak menerima parfum yang aku sodorkan.
"Apa kalian benar-benar berteman?" tanya Hawkins.
"Apa kami tidak terlihat seperti seorang teman?"
Yah, aku tahu yang tadi itu akan terlihat seperti aku yang sengaja berbuat jahil kepada Sasuke. Namun, niatku ini sebenarnya baik, kok. Y- yah, setidaknya, a- aku memang merasa ingin mengingatkan Sasuke agar tidak tersesat, meskipun sebagian besarnya berasal dari niat tulus ingin mengejeknya, sih.
Saat Hawkins hendak membalas, Erza-san sudah mendahului, "jika kau sebegitu khawatirnya kalau dia akan tersesat, kenapa tidak kau temani saja dia?"
Napasku seakan berhenti saat mendengar pertanyaannya. Kedua bola mataku bahkan secara spontan menatap Erza-san dengan pandangan yang horor. Bukan hanya aku, Bikou dan Hawkins pun turut memandangi Erza-san dengan tatapan yang kurang lebih sama sepertiku.
"Erza, jika ada laki-laki yang senang hati menemani laki-laki lain buang air besar itu … bukankah sedikit menyeramkan?" balas Bikou dengan nada yang sedikit jijik.
Setengah jam berlalu setelah kepergian Sasuke dan bahkan sekarang sudah hampir satu jam lamanya. Tidak perlu mengundang orang super cerdas atau melakukan deduksi yang rumit untuk menemukan jawabannya. Bahkan, orang bodoh pun pasti tahu situasi saat ini.
"Dia … tersesat? Aku sudah mendengar rumornya, tetapi dia benar-benar tersesat?" tanya Bikou yang harus merasa takjub atau miris.
Eskpresi yang sama juga ditunjukkan oleh Erza-san dan Hawkins. Bagi mereka yang tidak telalu mengenal Sasuke, pasti akan sangat heran dengan kelakuan bocah pantat ayam itu. Akan tetapi, bagiku itu adalah hal yang sangat wajar. Bahkan, sejak awal pun aku sudah tidak ada harapan bahwa Sasuke akan kembali dengan benar.
"Bagaimana ini, Naruto?" tanya Erza-san.
"A- apa? A- apanya yang bagaimana, Erza-san?"
"Dia tersesat, aku tidak menyangka kalau rumornya akan benar!" ucap Erza-san dengan gelisah. Sambil menghela napas, ia melanjutkan, "jika tahu seperti ini, aku tidak akan mengajak Sasuke."
Jika dipikir-pikir, sangat masuk akal bila aku pada akhirnya akan ditanyai pendapat seperti ini. Meskipun Erza-san adalah seorang kapten, tetapi dia tidak mengenal Sasuke dengan begitu baik. Setahuku, bahkan mereka hanya menegenal dalam lingkup sebatas teman sparing di kelas seni berpedang saja. Jadi, bertanya kepada orang sepertiku yang merupakan teman terdekatnya, itu adalah sesuatu yang masuk akal.
Hanya saja, berpikir bahwa aku akan dimintai pendapat tentang situasi konyol ini, sedikit membuatku merasa bahwa aku terbawa arus bodoh yang diciptakan Sasuke.
"Ba- baiklah, karena yang kita bicarakan ini Sasuke, aku rasa, kita tidak perlu khawatir," balasku.
"Apa maksudmu?" kali ini, Bikou-lah yang bertanya.
"Maksudku, setidaknya, kita tahu bahwa Sasuke tersesat di tengah pegunungan ini. Jika kita panik dan tanpa pikir panjang mencarinya, kita hanya akan ikut tersesat. Jadi, pilihan paling bijak adalah, segera menemukan desa yang berada di pegunungan ini dan meminta bantuan mereka untuk mencari Sasuke. Selain itu, kita mungkin secara kebetulan akan bertemu dengan Sasuke nanti," jelasku.
Sejujurnya, masih ada alasan lain yang tidak bisa kuberitahukan kepada mereka. Tidak, ini bukan karena itu sangat rahasia atau semacamnya. Hanya saja, itu adalah alasan yang tanpa dasar sehingga tidak akan cocok untuk diucapkan dalam kondisi seperti ini.
Meskipun terdengar seperti omong kosong, tetapi aku percaya bahwa Sasuke adalah orang dengan tingkat keberuntungan tertinggi di antara kami berlima. Keberuntungan yang aku maksud di sini bukan berarti bahwa hidup Sasuke dipenuhi hal-hal yang menyenangkan atau semacamnya. Hanya saja, setiap kali dia tersesat, dia selalu sampai di tempat tujuannya, entah bagaimana pun caranya.
Jadi, aku pun tidak akan kaget jika nanti Sasuke sampai ke tempat Kokabiel berada.
Setelah menarik napas pajang, Erza-san berkata, "benar, tidak ada untungnya panik untuk saat ini. Sasuke adalah orang yang kuat, aku tahu itu. Dengan kekuatannya yang sekarang, aku yakin dia mampu bertahan dari monster-monster rank B. Jika dia tidak nekat, dia mungkin juga dapat kabur jika harus berhadapan dengan monster rank A."
Setelah memantapkan hati, kami pun akhirnya kembali menjelajah belantara hutan yang terasa seperti tidak memiliki ujung ini.
—XxXxX—
Setelah perjalanan panjang dan melelahkan, entah bagaimana caranya, akhirnya kami dapat menemukan desa yang akan menjadi check point pertama kami. Butuh usaha yang benar-benar menguras tenaga dan mental untuk dapat sampai ke sini, kami bahkan harus berkemah satu malam di hutan. Selama perjalanan itu pula, kami masih tidak bertemu dengan Sasuke. yah, seperti yang sudah aku duga.
Melihat gerbang desa yang disinari oleh cahaya jingga dari sang mentari sore, seolah membuat itu adalah sebuah harta yang telah kami cari dengan susah payah sejak kemarin. Jika saja tidak ada Erza-san dan yang lain di sini, mungkin aku sudah bersujud syukur dan mamanjatkan segala puji syukur untuk para dewa di langit.
"AIM Energy di tempat ini lebih stabil. Aku dapat mengerti kenapa mereka dapat hidup di sini," ucap Hawkins.
Bukan hanya itu, aku pun merasa bahwa tekanan di tempat ini jauh lebih ringan daripada di tempat lain. Sejak kami melihat sebuah ladang tadi siang, aku sudah merasa bahwa tubuhku menjadi lebih ringan kembali.
Erza-san, dia terlihat mulai mengeluarkan surat misi jika saja nanti di depan sana kami dicegat oleh warga yang menjaga gerbang desa. Ini adalah sebuah persiapan yang selalu ia lakukan setiap kali melewati protokol-protokol yang sama. Akan tetapi, ini terasa berbeda. Saat kami sampai di depan gerbang, tidak ada satu pun warga yang berjaga di sana. Bahkan, saat kami menyusuri jalanan desa, kami juga tidak menemukan satu pun warga yang berlalu lalang.
Aku tahu ini sudah sore. Hanya saja, ini tidak sesore itu sampai-sampai kami tidak melihat satu pun warga yang melintas. Sebenarnya, bisa saja kami mengetuk pintu rumah salah satu warga. Namun, itu tidak sopan karena kami harus pergi dan melapor ke kepala desa terlebih dahulu.
Menurut informasi yang kami dapat saat masih di kota, kepala desa di sini adalah seorang bangsawan dengan gelar baron. Jadi, seharusnya tidak terlalu sulit untuk menemukan rumahnya.
Saat kami berjalan dengan tenang, tiba-tiba mataku menangkap sesuatu yang tergeletak di tengah jalan. Tidak hanya aku, rekan-rekan lain pun turut menyadari sosok tersebut. Tanpa pikir panjang, kami semua segera menghampirinya. Betapa terkejutnya diriku, saat menyadari bahwa itu adalah sebuah mayat.
Yang lebih membuatku terkejut, adalah kondisi mayat itu yang beberapa bagian pada pergelangan kaki dan jari-jari tangannya menghitam. Entah apa yang terlintas dalam pikiranku, tetapi aku merasakan firasat buruk tentang ini.
"Semuanya, tolong mundur dan jaga jarak," ucapku sambil mengeluarkan masker dan sarung tangan berbahan latex dari gulungan penyimpananku.
Setelah aku memasang masker dan sarung tanganku, aku pun mendekati mayat itu dan segera mengeceknya.
"Mayat ini berjenis kelamin perempuan, usianya mungkin sekitar 20-an tahun, dan dia baru saja meninggal," ucapku.
"Dari mana kau tahu kalau dia baru saja meninggal?" tanya Erza-san.
"Tubuhnya masih belum kaku," ucapku sambil menggerakkan tangan mayat tersebut.
Jika persendiannya masih dapat digerakkan seperti ini, itu berarti waktu kematian mayat masih berada di bawah kisaran dua jam. Terlebih, aku dapat mengayunkan sikunya ke depan dengan baik. Dengan kata lain, mayat ini benar-benar baru saja meninggal.
Saat manusia meninggal, metabolisme pada tubuhnya juga ikut terhenti. Adenosia trifosfat—atau yang sering disebut sebagai ATP—yang dapat memisahkan ikatan aktin dan myosin pada otot sehingga otot dapat berelaksasi, pun turut berhenti diproduksi jika tidak ada metabolisme yang terjadi pada tubuh. Itulah penyebabnya—seiring berjalannya waktu—ATP akan perlahan-lahan menghilang dan membuat tubuh jenazah berangsur-angsur menjadi kaku.
"Apa itu pembunuhan? Kaki dan tangannya terlihat menghitam seperti luka bakar," tanya Bikou.
"Tidak, ini bukan pembunuhan. Ini adalah penyakit," jawabku serius.
Hanya dengan melihat kondisi jenazah tersebut, tentu tidak dapat menyimpulkan begitu saja penyakit apa yang dideritanya semasa hidup. Akan tetapi, melihat pergelangan kaki dan jari-jari tangannya yang menghitam, itu sudah membuatku memikirkan beberapa penyakit yang cocok dengan kondisi ini.
Karena kebiasaan buruk seorang dokter adalah memikirkan kemungkinan terburuk yang dapat terjadi, secara otomatis pun otakku telah memikirkan kemungkinan terburuk yang menimpa mayat ini. Namun, aku sengaja menepisnya jauh-jauh. Karena kemungkinan terburuk itu adalah sesuatu yang benar-benar menakutkan.
"Lalu, bagaimana bisa kulitnya menghitam seperti itu?" tanya Erza-san kembali.
Sebelum aku menjawab pertanyaan Erza-san, aku membuka kembali gulungan sihir penyimpanan dan mengeluarkan kacamata google. Tidak lupa, aku mengeluarkan lagi tiga buah masker dan segera memberikan kepada yang lainnya. Meskipun mereka ragu, tetapi mereka tetap memakai masker tersebut tanpa harus kuminta lebih lanjut.
"Gejala ini dinamakan gangrene. Sebuah kondisi di mana jaringan tubuhnya tidak mendapat pasokan darah atau karena terinfeksi oleh bakteri dan menyebabkannya menjadi jaringan mati," jelasku tanpa melihat ke arah mereka bertiga. "Ah, tolong menjauh, setidaknya beri jarak satu hingga dua meter dari mayat. Semakin jauh akan semakin bagus."
Setelah aku memakai kacamata google, aku pun memeriksa rongga mulut dan rongga hidung dari jenazah tersebut. Jari telunjukku yang telah terlindungi oleh sarung tangan, kumasukkan ke dalam hidungnya dan kuraba-raba rongga tersebut seakan tidak ada sudut yang terlewat. Hal yang sama juga kulakukan saat aku memasukkan jariku ke dalam rongga mulutnya.
Seperti yang aku duga, terjadi pendarahan pada rongga mulut dan hidungnya. Meskipun darahnya sudah tidak mengalir, tetapi aku dapat merasakan darah yang mengering pada hidungnya. Juga, saat aku membuka rongga mulutnya, aku melihat bekas darah di sana.
Untuk mendapatkan hasil yang lebih valid, aku pun memeriksa bagian-bagian tubuh yang lain seperti ketiak, perut, leher, paha, mata, telinga, dan lainnya. Saat aku memeriksa perut, aku merasa bahwa perutnya sangat kecil, mirip seperti orang yang kekurangan cairan akibat terkena diare parah.
Posisi mayat yang sebelumnya tengkurap, sedikit aku ubah hingga mayat tersebut menjadi berbaring ke samping. Setelah itu, aku mulai melepas kancing yang mengaitkan rok mayat tersebut dan mulai menurunkan roknya.
"Tu- tu- tunggu, Naruto! A- a- apa yang ka- kau lakukan, dasar mesum?!" teriak Erza-san.
Hatiku sangat sakit saat wanita yang kukagumi memanggilku mesum. Akan tetapi, itu dapat diterima karena orang awam seperti dia tidak akan mengerti prosedur yang aku lakukan.
"Aku bukan mesum. Ini prosedur, percyalah padaku, Erza-san," ucapku sambil memasukkan jari tengahku ke dalam lubang dubur mayat tersebut.
Sama seperti pada rongga hidung, jari tengahku kumasukkan hingga seluruhnya tertelan oleh dubur mayat ini. Jariku kugerakkan ke sana ke mari berusaha menjangkau seluruh sudut yang bisa dijangkau oleh jariku.
Saat aku keluarkan, lagi-lagi dugaanku benar. Terjadi pendarahan di dubur mayat ini.
Kondisi kematian di tengah jalan, mengalami gejala gangrene, pendarahan hidung, mulut, dan dubur. Selain itu, tubuhnya terlihat sedikit kering seperti kekurangan cairan dan perutnya kecil seperti terkena diare parah. Akan tetapi, aku tidak menemukan gejala kelenjar getah bening yang terlihat mengalami pembengkakan. Tidak, itu masuk akal. Jika gejala utama yang muncul adalah gangrene, itu berarti memang seharusnya tidak disertai gejala pembengkakan pada kelenjar getah bening.
Sial, kenapa tanda-tanda kematiannya begitu cocok dengan itu?
Secara tidak sengaja, rahangku kurapatkan untuk menahan rasa gelisah yang tiba-tiba muncul tanpa dapat kukontrol ini.
Kutatap satu-persatu rekanku dan berkata, "teman-teman, aku mempunyai berita buruk. Namun, pertama-tama kita harus menemui baron yang mengelola desa ini terlebih dahulu untuk meminta penjelasan lebih lanjut."
Bersambung
Author Note : halohalo, saya kembali dengan chapter 17 yang masih anget-angetnya haha.
Rencana-nya sih ini chapter mau update bareng-bareng sama The Way of Otaku dan spin-off one shoot yang nyeritain Kushina buat memperingati hari Kartini kemarin. Tapi, karena ada berbagai kerjaan kampus, jadi gak bisa kelar deh haha. Aku pun tencana update terpisah, setelah kemarin The Way of Otaku, sekarang ini, dan selanjutnya spin-off tentang Kuhsina yang sudah setengah jadi.
Oke, yang pertama ingin aku bahas adalah Tosa dan pegunungan Shikoku. Di jepang, khsusunya di akhir zaman Edo, Tosa ini menjadi tempat yang strategis karena mereka memiliki pelabuhan dagang sendiri. Dan yang paling mencolok di sana adalah sosok Sakamoto Ryouma, samurai sekaligus pedagang yang menjadi salah satu tokoh dalam menggulingkan shogun saat itu.
Shikoku ini salah satu nama pulau di Jepang. Kalau diartikan, Shikoku (四国, 四 : yon / empat, dan 国 : kuni / negara ) ini dapat diartikan sebagai empat negara. Tetapi, karena merujuk ke masa lalu, arti yang sebenarnya itu empat propinsi. Sejak zaman Nara—atau enggak Kamakura atau Heian, aku lupa karena itu udah pelajaran dari SMA—pulau Shikoku disebut pulau Shikoku, karena di sana ada propinsi Tosa, Sanuki, Iyo, dan Awa (Awa di sini berbeda sama Awa yang aku sebutkan di chapter sebelumnya, karena propinsi yang punya nama Awa itu ada dua). Tentu saja, di sana juga ada pegunungan yang juga dinamakan pegunungan Shikoku.
Di fict ini, aku hanya memasukkan Tosa sebagai propinsi yang memiliki perbatasan di pegunungan Shikoku. Selain itu, di fict ini, Tosa itu gabung di pulau utama kerajaan Codafata, bukan pisah dan mempunyai pulau sendiri. Oh ya, untuk tempat orang-orang bar-bar, itu sepenuhnya hanya fict. Jadi, gak ada hubungannya sama Tosa yang asli haha.
Kenapa sih aku dari chapter kemarin kok bahas wilayah Jepang? Karena, aku hanya ingin membuat semua clear. Aku memakai nama daerah-daerah Jepang pada masa lalu. Jadi, aku memberi penjelasan ini supaya tidak adanya kesalah pahaman atau campur aduk antara sejarah asli dan fict yang aku buat.
Kedua, tentang bangsawan dengan gelar count dan baron. Mungkin beberapa ada yang sudah familiar. Tapi, aku ingin memperjelas saja. Secara hirarki, gelar baron adalah gelar terendah dari bangsawan. Sedangkan count adalah gelar yang cukup tinggi. Count bisa saja mengelola suatu kota atau bahkan propinsi, semua tergantung keputusan raja. Lalu, apa bedanya count dan marquess kalau keduanya sama-sama bisa mengelola propinsi? Pertama, bedanya ada pada tingkatan hirarkinya, marquess tingkatnya lebih tinggi dari count. Yang kedua, seperti yang aku bahas di chapter kemarin, bahwa marquess itu adalah keluarga yang memiliki kekuatan yang hebat, entah itu dalam militer atau dalam politik, dan selalu dipercaya menjaga perbatasan yang sangat strategis.
Dalam chapter ini, dikatakan bahwa di propinsi Tosa yang merupakan perbatasan empat negara sekaligus, justru dikelola oleh count, bukan marquess. Alasannya simpel. Karena Tosa sudah dianggap sebagai tempat yang jatuh dan sarang kriminal. Kalau dilihat dari segi bisnis, tidak akan ada investor yang mau menanamkan modalnya di tempat yang kacau seperti itu. Dengan kata lain, tidak ada alasan bagi pemerintah untuk mengangkat count yang mengelola tempat tersebut menjadi marquess dan tidak ada untungnya bagi kerajaan untuk menghibahkan wilayah tersebut ke tangan marquess yang sudah ada saat ini.
Untuk baron, seperti yang aku bilang, mereka adalah bangsawan kecil. Baron kebanyakan dihuni oleh golongan bangsawan muda atau bangsawan baru. Kebanyakan dari mereka juga lebih tertarik pada bisnis daripada mengelola wilayah. Yah, tetap aja, ada beberapa dari mereka yang mau mengelola daerah kecil seperti desa. Bagaimanapun, menjadi birokrat itu banyak untungnya, tidak perlu susah payah untuk meraup banyak uang.
Untuk tingkatan bangsawan, bisa diurutkan seperti ini, Duke – Marquess – Count – Viscount – Baron – Kesatria. Khusus untuk kesatria, itu sebenarnya bukan sepenuhnya bangsawan sih karena gelar mereka gak bisa diwariskan dan mereka juga gak punya hak untuk mengurus tanah. Simpelnya, menjadi kesatria itu bisa dikatakan sebagai jalan pintas untuk mendapat gelar bangsawan yang sesungguhnya.
untuk pertanyaan tentang apakah Azazel bisa mengeluarkan murid bangsawan, ya tentu saja bisa. karena dia adalah pemegang tertinggi otoritas. tapi, tentu saja itu gak mudah kalau yang bersangkutan itu dari bangsaean tingkat tinggi yang bisa memanipulasi bukti. untuk karakter naruto lain, aku sudah ada beberapa yang akan masuk.
terakhir, yang ingin aku bahas itu tentang metode yang aku gunukan untuk mengidentifikasi mayat dan seluruh teori-teori yang muncul. Jika ada yang salah, tolong koreksinya. Karena aku menulis ini dengan pemikiran aku ingin meringkas dan membuatnya semudah mungkin untuk dipahami. Selain itu, aku hanya mahasiswa teknik elektro, dan semua yang aku tulis yang berbau kedokteran ini murni aku peroleh dari temanku yang kuliah di FK dan beberapa literasi yang aku jamin sumbernya terpercaya.
Mulai dari chapter depan, konflik di babak pertama arc ini akan mulai naik. Jadi, nantikan terus perkembangannya ya? Hehe. Kalau ada yang bisa nebak penyakit apa yang Naruto diagnosa itu, silahkan ditebak-tebak sendiri hahaha. Nanti jawabannya bakal muncul di chapter depan.
Oke, itu saja dariku. Terima kasih yang sudah meluangkan baca cerita ini. kritik dan saran sangat diperlukan untuk cerita ini menjadi lebih baik lagi. Sekian dariku, stay at home dan jaga kesehatan yaa. Sampai ketemu di chapter depan.
