Kondisi kematian di tengah jalan, mengalami gejala gangrene, pendarahan hidung, mulut, dan dubur. Selain itu, tubuhnya terlihat sedikit kering seperti kekurangan cairan dan perutnya kecil seperti terkena diare parah. Akan tetapi, aku tidak menemukan gejala kelenjar getah bening yang terlihat mengalami pembengkakan. Tidak, itu masuk akal. Jika gejala utama yang muncul adalah gangrene, itu berarti memang seharusnya tidak disertai gejala pembengkakan pada kelenjar getah bening.
Sial, kenapa tanda-tanda kematiannya begitu cocok dengan itu?
Secara tidak sengaja, rahangku kurapatkan untuk menahan rasa gelisah yang tiba-tiba muncul tanpa dapat kukontrol ini.
Kutatap satu-persatu rekanku dan berkata, "teman-teman, aku mempunyai berita buruk. Namun, pertama-tama kita harus menemui baron yang mengelola desa ini terlebih dahulu untuk meminta penjelasan lebih lanjut.
High School DxD by Ichie Ishibumi
And other characters are not belongs to me
Genre : Adventure, Fantasy, Action, Friendship, Romance.
Summary : Demi mewujudkan mimpinya dalam bidang ilmu medis, dia siap terlibat dengan seluruh kekacauan dalam negeri ini. Bersama dengan teman-temannya yang juga menginginkan sebuah revolusi, mereka akan mengadu seluruh kemampuan, siasat, dan tipu daya. Semuanya akan mereka lakukan, untuk sebuah revolusi.
Chapter 18 : Dan Seperti Itulah Akhirnya.
—XxXxX—
"Perkenalkan, namaku adalah Iruka Umino, baron yang sekaligus menjadi kepala desa di sini. Maaf, aku hanya dapat menyuguhkan air putih untuk kalian. Jadi, apa ada yang bisa aku bantu?"
Naruto, Erza, Bikou, dan Hawkins saat ini tengah duduk di sebuah ruang tamu di kediaman orang yang bernama Iruka Umino tersebut. Di depan mereka, juga duduk sosok seorang pria dewasa dengan wajah yang terlihat ramah. Untuk ukuran seorang pria, dia memiliki rambut yang terbilang panjang, meskipun tidak sepanjang milik Hawkins. Codet yang menggaris di batang hidungnya, membuat orang akan berpikir, bahwa pria tersebut mungkin saja merupakan pria yang liar saat ia masih muda.
Jika dilihat baik-baik, pria bernama Iruka tersebut memiliki garis rahang yang terkesan tegas. Setidaknya, itulah kesan yang seharusnya terpancar dari sosok tersebut. Namun, di baik itu semua, di balik wajah ramah yang berusaha ia tunjukkan, siapa pun pasti dapat menyadari ekspresi lelah yang ingin ia sembunyikan. Bahkan, idiot sekali pun akan mengetahui betapa kusut wajahnya itu.
Dengan perasaan yang telah ditata sedemikian rupa, Naruto pun menghirup napas dalam-dalam dan mengeluarkannya secara perlahan. Karena memakai masker, itu membuat pernapasannya sedikt terganggu, tetapi itu bukan masalah besar baginya.
"Banyak hal yang ingin kami tanyakan. Pertama-tama, kami ingin tahu kondisi desa ini," ucapnya. "Sebelumnya, kami menemukan tiga mayat di tengah jalan. Mayat pertama menderita sesuatu seperti luka bakar di jari-jarinya dan pergelangan kakinya. Mayat kedua juga memiliki kondisi yang tidak jauh berbeda dengan yang pertama. Sedangkan yang ketiga, ada benjolan-benjolan di sekitar ketiak dan selangkangannya."
Naruto tidak tahu, sejauh mana baron yang duduk di depannya itu mengetahui kondisi yang menimpa penduduk desanya. Karena itulah, ia hanya mengatakan sesuatu yang dapat ditangkap oleh mata telanjang. Meskipun mimik wajah Iruka terasa ramah dan kondisinya saat ini terlihat begitu tertekan, tetapi itu bukan berarti Naruto harus menyingkirkan segala kecurigaannya pada baron tersebut.
Tidak mengatakan temuan-temuan penting dan segala diagnosanya adalah pilihan terbaik saat ini. Ia berniat untuk membiarkan Iruka menjelaskan segala kejadian dari sudut pandangnya sendiri. Dengan begitu, Naruto akan mengerti, apakah baron tersebut hanya ingin menyelamatkan dirinya sendiri atau dia memang peduli dengan kondisi rakyatnya.
Sambil meremas celananya, Iruka berkata, "aku tidak mengerti, semuanya terjadi begitu saja. Tiba-tiba, ada beberapa orang yang mengeluh flu, demam, dan sesak napas. Aku kira, itu hanya karena efek belerang yang terbawa angin, sama seperti biasanya. Namun, hanya berselang beberapa hari, mereka meninggal. Bukan hanya itu, tiba-tiba juga muncul penyakit-penyakit lain seperti yang kau sebutkan."
Erza, Bikou, dan Hawkins memiliki ekspresi yang rumit di wajah mereka. Awalnya, mereka bertiga berpikir bahwa itu hanya kasus kematian biasa karena sebuah penyakit. Namun, jika baron tersebut mengatakan banyak kasus serupa, kurang lebih, memang seperti itulah keadaannya. Meskipun mereka tidak mengerti, banyak dalam hal ini itu berapa, tetapi meraka paham, bahwa jumlah tersebut sudah cukup untuk melumpuhkan ekonomi desa.
'Sudah kuduga, pasti ada gejala pada paru-paru. Mengingat aku menemukan gejala pada pembuluh darah dan limfatik, itu tidak akan aneh jika gejala yang ketiga juga muncul,' batin Naruto.
"Lalu, apa yang anda lakukan, tuan? Saya tidak menemui satu pun penduduk saat perjalan kemari," tanya Naruto kembali yang ingin memancing untuk mendapatkan lebih banyak informasi.
"Saat satu persatu orang mulai mengalami gejala yang sama, aku mulai berpikir bahwa itu mungkin adalah penyakit yang menular. Jadi, aku mulai mengisolasi mereka yang terkena penyakit pada satu tempat," balas Iruka dengan suara rendah.
Erza yang tidak begitu mengerti dengan keadaan, sedikit memiringkan kepalanya dan menyipitkan kedua matanya.
"Mengisolasi pada satu tempat?"
"Aku menggunakan sihir tanah yang sederhana untuk membuat tempat isolasi di lapangan yang tidak jauh dari sini," balas pria tersebut sebagai tanggapan dari pertanyaan Erza.
Rumah tempat tinggal Iruka Umino, tidaklah sebesar yang mereka kira. Meskipun baron adalah gelar bangsawan terendah, tetapi bangsawan tetaplah seorang bangsawan. Oleh karena itu, setidaknya akan terlihat normal jika mereka memiliki sebuah mansion—meskipun tidak besar dan mewah—yang dijadikan sebagai kediaman utama.
Namun, rumah ini berbeda dengan rata-rata properti milik bangsawan lain. Rumah ini hanya sedikit lebih besar dari rumah-rumah di desa dan juga hanya memiliki dua lantai saja. Di ruang tamu yang berada di rumah ini pula, suasana yang terasa seperti membeku seakan menggigit kulit-kulit mereka sehingga menimbulkan perasaan tidak nyaman.
'Mengisolasi, ya? Dia lebih tanggap dari yang kubayangkan,' batin Naruto sambil mencubit dagunya.
Meskipun masih ada beberapa hal yang ingin Naruto tanyakan, tetapi ia segera membuang semua pertanyaan-pertanyaan yang menyarang di kepalanya. Lagi pula, itu hanyalah sebuah pertanyaan basa-basi yang ditujukan untuk mengetahui isi pikiran pria di depannya itu. Bagi Naruto, ia tidak perlu bertanya lebih jauh lagi, karena ia telah mengambil sebuah kesimpulan dan juga keputusan.
"Bubonic plague atau pembengkakan pada kelenjar getah bening, septicemic plague atau infeksi pada pembuluh dan aliran darah, dan pneumonic plague yang merupakan infeksi pada paru-paru," jelas remaja berambut pirang itu.
Iruka, Erza, dan Bikou yang mendengar penjelasan Naruto yang secara tiba-tiba, tentu membuat mereka merasa kebingungan. Berbeda dengan mereka bertiga yang tidak dapat menyembunyikan raut kebingungannya, Hawkins justru semakin menyipitkan matanya untuk menyimak lebih jauh tentang penjelasan Naruto.
Karena tidak kuasa menahan rasa penasarannya, baik Iruka, Erza, dan Bikou pun melemperkan pertanyaan mereka masing-masing.
"Ya?"
"Apa kau tahu sesuatu, Naruto?"
"Apa maksudmu, Namikaze?"
Diamnya Naruto membaut napas mereka terasa semakin berat. Meskipun meraka telah terang-terangan menunjukkan ketidak tahuannya, tetapi itu tidak membuat bocah pirang itu menjawab begitu saja. Pemilihan kata yang tepat agar mereka semua dapat mengerti penjelasan Naruto, merupakan kendala utamanya saat ini.
"Ini adalah penyakit menular yang dinamakan pes. Tiga gejala yang kusebutkan tadi, adalah tiga gejala utama yang dapat diketahui dengan mudah. Tentu saja, untuk benar-benar memutuskan apakah ini memang pes atau tidak, diperlukan uji laboraturium terlebih dulu. Namun, karena sudah banyak korban berjatuhan dan semuanya memiliki gejala yang cocok, aku yakin ini adalah pes."
"Pes? A- aku tidak pernah mendengar pe- penyakit itu. Selain itu, ba- bagaimana ini bisa terjadi? Orang-orang di desa sebelumnya sehat-sehat saja," tanya Iruka dengan suaranya yang sedikit bergetar.
"Penyakit ini disebabkan oleh bakteri yang dibawa oleh hewan pengerat seperti tikus atau tupai—tidak, lebih tepatnya, ini dibawah oleh kutu pada hewan-hewan pengerat tersebut," jawabnya. "Tikus-tikus yang berada di sini bisa saja bermigrasi atau tidak sengaja terbawa oleh orang lain. Dalam proses itulah, tikus-tikus itu hidup pada berbagai macam daerah dan menyebabkan bakteri tersebut berkembang biak."
Erza yang mulai memahami situasinya pun bertanya, "jadi, maksudmu adalah, orang-orang di sini terinfeksi tikus yang bermigrasi atau semacamnya?"
Naruto mengangguk dan menjwab, "tidak selalu bermigrasi. Pada intinya, tikus di daerah ini mungkin saja telah menjadi tempat berkembangnya bakteri atau bisa saja kutu-kutu dari tikus lain telah berulang-ulang berpindah dan berkembang biak, hingga sampai di desa ini."
"Jika memang seperti itu, bukankah itu berarti daerah lain juga seharusnya terkena?" tanya Hawkins.
"Itu bisa saja terjadi. Semua tergantung bagaimana tingkat kebersihan dan daya tahan masing-masing orang. Meskipun hingga saat ini tidak ada berita yang menyebutkan tentang kematian masal, tetapi untuk menghadapi skenario terburuk, akan aman jika mengasumsikan bahwa daerah lain juga memiliki kemungkinan terdampak," jelasku.
Jika dilihat dari sisi sejarah, ini bukanlah kali pertama penyakit pes melanda. Sekitar 200 tahun yang lalu, pes pernah menjadi momok menakutkan bagi seluruh negara yang ada di benua ini. Hampir tiga per empat penduduk benua, meninggal karena disebabkan oleh pes. Bisa dibilang, tragedi yang kemudian dinamakan sebagai Black Death tersebut, merupakan seleksi alam besar-besaran yang pernah dialami oleh umat manusia.
Saat ini, di depan matanya sendiri, Naruto benar-benar melihat mimpi buruk tersebut. Ia tidak tahu, harus merasa lega karena kasus yang ditemuinya ini di tengah hutan belantara sehingga kemungkinan menularnya menjadi lebih rendah, atau harus sedih karena tidak adanya peralatan dan tenaga yang memadai untuk merawat mereka yang menderita.
"Na- nama anda Naruto Namikaze, bukan? Apa ada sesuatu yang bisa saya lakukan? Rakyat saya sedang menderita, hampir seluruh penduduk desa akan meninggal jika terus dibiarkan. Selain itu, istri saya sedang mengandung. Jika anda tahu sesuatu, tolong ulurkan tangan anda kepada kami," teriak histeris Iruka sambil melompat dan bersujud di hadapan Naruto.
Karena tidak biasa dengan situasi seperti itu, remaja berambut pirang itu pun secara refleks segera meminta Iruka untuk berdiri. Dilihatnya, secercah cahaya harapan seperti menyala di kedua bola matanya yang nampak kusam tersebut.
Secara logika, situasi sekarang sudah seperti sebuah checkmate bagi Naruto. Meskipun memiliki jalur aman yang sering digunakan untuk keluar pegunungan dan memiliki hubumgan yang bagus dengan daerah lain. Akan tetapi, desa ini sudah hampir terisolasi sepenuhnya dari dunia luar. Naruto masih ingat betul, bagaimana respon para kesatria dan para petualang setempat saat mereka mereka meminta untuk diantar ke desa ini kemarin. Selain itu, butuh waktu sekitar seharian penuh dengan berjalan kaki dari check point pertama pegunungan Akaishi hingga sampai ke desa ini.
Bukan hanya itu saja, Naruto tidak tahu, apakah desa ini memilki fasilitas medis yang memadai atau tidak. Jika di tempat ini terdapat sebuah klinik yang sama seperti yang dijalankan oleh neneknya di kampung halamannya, mungkin itu akan menjadi sedikit bantuan untuk mengatasi masalah ini. Namun, kembali lagi ke awal, Naruto tidak tahu, apakah desa ini memiliki fasilitas kesehatan atau tidak.
Masalah lainnya adalah, dibutuhkan banyak perawatan yang harus dilakukan setiap saat untuk mengatasi penyakit pes. Karena bagaimanapun, kasus ini adalah sesuatu yang berpotensi menjadi bencana tingkat nasional. Jika itu hanya di tangani oleh Naruto seorang, semuanya hanya akan berakhir dengan sia-sia.
'Pasti ada jalan keluar. Pikirkanlah sesuatu, Naruto,' batin Naruto.
Sebelum ia mendapatkan jawabannya, sebuah suara perempuan yang sangat khas dengan nadanya yang berat, menyeruak di telinga semua orang yang duduk dalam ruangan. Secara otomatis, kedua netra birunya melihat ke arah suara itu berasal. Jika ada satu hal yang membuat Naruto sangat terkejut, itu adalah kata-kata yang terucap dari mulut gadis tersebut.
"Saya mengerti dengan penderitaan anda. Namun, dengan berat hati, kami harus menolaknya. Kami masih memiliki misi yang jauh lebih penting. Sebagai ketua tim ini, saya minta maaf," ucap seorang Erza Scarlet dengan tatapannya yang dingin.
—XxXxX—
Di belakang rumah milik Baron Iruka Umino, mereka berempat kini berkumpul dengan ekspresi yang mengeras, yang terpampang di wajah mereka. Lahan hijau dan sejuknya udara pegunungan, serta indahnya mentari sore yang memberikan warna jingga pada langit, sangat kontras jika dibandingkan dengan suasana antara mereka bermpat. Jika dilihat dari jauh, Naruto yang berdiri berhadapan dengan Erza, Bikou, dan Hawkins, seakan-akan seperti seekor tikus yang dikepung oleh sekumpulan kucing.
Namun, pada kenyataannya, mereka justru lebih tepat jika dikatakan sebagai orang yang siap untuk saling menghajar satu sama lain. Meskipun begitu, hanya Naruto dan Erza-lah yang saat ini berada pada tensi yang sangat tinggi. Sedangkan dua orang lainnya hanya menatap mereka dengan rasa khawatir yang tinggi.
Penolakan tegas dari Erza, membawa sebuah ketegangan hebat di dalam tim. Khusunya untuk Naruto yang tidak setuju atas penolakan dari ketua tim mereka. Baik Erza maupun Naruto, mereka melihat kasus ini melalui sudut pandang yang sangat berbeda. Karena itulah, tidak ada satu pun titik temu dari argumen yang mereka utarakan.
"Erza-san, apa kau tidak lihat, mereka sangat menderita dan bahkan dapat meninggal kapan pun?"
"Jika kau sudah tahu, bukankah itu berarti desa ini sudah tidak memiliki harapan lagi?"
"Kau tidak bisa berkata seperti itu jika masih ada orang yang hidup di sini. Selain itu, meskipun berbahaya, bukan berarti pes tidak dapat disembuhkan," jelas Naruto.
"Kalau begitu, apa kau berpikir, dengan keadaan yang seperti ini, kau dapat melakukan sesuatu? Desa ini adalah desa terpencil. Kita tidak tahu, apakah mereka memiliki fasilitas kesehatan atau tidak. Bahkan, meskipun mereka memilikinya, itu masih belum tentu fasilitas mereka dapat menudukung penanganan wabah ini," balas Erza yang masih setia dengan argumennya.
Rahang Naruto serasa mengeras ketika mendengar jawaban dari Erza. Sebisa mungkin, remaja kuning itu berusaha menahan emosinya agar tidak meledak-ledak. Urat-urat yang muncul secara samar di pelipisnya, menjadi bukti betapa kerasnya ia menahan perasaan yang berusaha membeludak tersebut.
Di antara semua yang ada di sini, Naruto-lah orang yang paling mengetahui tentang besar dan kecilnya kemungkinan yang sedang mereka hadapi. Menurutnya, argumen Erza tidaklah salah. Namun, ia tidak dapat begitu saja menyetujui keputusan yang diambil oleh kaptennya. Tidak, bahkan jika Erza akan terus bersikeras seperti ini, Naruto tidak berpikir keputusan yang diambil gadis berambut merah itu adalah keputusan yang tepat.
Jika berbicara tentang benar dan salah, itu akan terus menuntun pikiran manusia kepada sebuah kondisi yang membuat seseorang menjadi kesulitan dalam mengambil sebuah keputusan. Benar dan salah adalah sesuatu yang samar, sesuatu yang tergantung atas sudut pandang manusia secara individu. Karena itulah, mengambil keputusan di antara benar dan salah bukanlah sebuah solusi bagi Naruto.
Di antara benar dan salah, masih terdapat sebuah celah kecil yang bernama tepat dan tidak tepat. Terkadang, apa yang dianggap benar bukanlah sesuatu yang tepat untuk dilakukan. Juga, yang dianggap salah, belum tentu itu sesuatu yang tidak tepat untuk diambil. Jika mengambil keputusan berdasar antara benar dan salah, itu hanya akan menjadi keputusan yang kaku. Karena itulah, meskipun Naruto selalu mengedepankan logika akal sehatnya, tetapi ia juga tidak pernah menolak variabel-variabel lain yang berasal dari luar pikirannya.
Dengan berdasar dari segala pertimbangan yang telah ia buat, keputusan untuk meninggalkan warga desa ini merupakan sebuah keputusan yang tidak tepat. Secara logika, tentu Naruto menyadari bahwa situasi saat ini sudah mendekati sebuah kemustahilan. Namun, saat Naruto mempertimbangkan kembali tentang harga dirinya dan sumpahnya sebagai seorang dokter, itu menuntunnya untuk dapat melihat sebuah kemungkinan-kemungkinan kecil yang tidak ada salahnya untuk dicoba.
"Aku tahu, tetapi meninggalkan mereka dengan kondisi yang seperti ini, aku tidak dapat menerimanya," tolak Naruto untuk mengakui argumen lawan bicaranya.
Kedua alis milik Erza menyatu membentuk sebuah sudut siku-siku saat terus mendengar penolakan dari Naruto. Baginya, keputusan rekan kuningnya itu benar-benar berada di luar logika.
"Lalu, kau mau apa? Kau mau menghabiskan waktu yang kita punya untuk merawat orang yang bahkan hampir mendekati kematian?"
"Tentu saja, karena itu tugas seorang dokter, sialan! Tenaga medis adalah orang-orang yang tidak boleh menyerah, bahkan setelah semua orang sudah kehilangan harapan sekali pun!" bentak Naruto
Hawkins dan Bikou sedikit terkejut saat melihat reaksi Naruto. Tidak, mereka tahu, bahwa siapa pun dapat marah dan berteriak terhadap sesuatu yang membuat mereka merasa jengkel. Hanya saja, ada seseorang yang dengan lantang berteriak di hadapan seorang Erza Scarlet secara langsung, itu membuat kesan yang sangat tidak biasa bagi mereka berdua.
Bahkan, meskipun Bikou adalah siswa yang cenderung memiliki sifat blak-blakkan dan sedikit kurang ajar, dia akan berpikir berkali-kali untuk berteriak di hadapan gadis berambut itu.
Siapa pun tahu, Erza adalah siswa terkuat di angkatan mereka. Bukan hanya itu, fakta bahwa Erza adalah pemegang pedang Benizakura—senjata kelas longinus—menegaskan bahwa gadis tersebut berada pada liga yang berbeda dengan murid-murid lainnya. Dari fakta tersebut, jelas sekali bahwa siapa pun akan berpikir berulang kali untuk berteriak tepat di depan muka gadis berambut merah itu.
Belum selesai dengan ucapannya, Naruto pun melanjutkan, "aku tahu, ini mungkin terdengar konyol dan tidak masuk akal. Namun, aku memiliki rencana. Tolong percayalah padaku."
Tatapan serius yang ditunjukkan oleh Naruto, sejenak dapat sedikit menggetarkan keteguhan Erza. Raut wajah dari gadis tersebut sedikit melunak dan itu membuat bibir Naruto mulai menyunggingkan sedikit senyuman.
"Aku mengerti, Naruto. Akan tetapi, seperti yang aku bilang, kita tidak bisa berdiam diri di sini," balas Erza. "Bergabung dalam misi ini, itu berarti kau telah diakui sebagai kesatria masa depan yang layak. Dengan begitu, seharusnya kau bersikap selayaknya seorang kesatria dan mempertaruhkan semuanya atas nama tanah air."
Sesaat setelah merasa gembira karena berpikir bahwa Erza akan menyetujuinya, Naruto pun harus terpaksa menelan pil pahit kembali. Setelah berpikir bahwa ia mendapat sebuah angin harapan, tetapi ia justru harus merasakan dinginnya rasa putus asa. Pada detik ini, Naruto sadar, tidak ada sesuatu yang dapat diharapkan dari seorang Erza Scarlet.
"Misi ini membawa langsung hubungan dengan Negara Suci. Bukan hanya itu, putra mahkota sendirilah yang memberikan misi ini dan itu atas perintah dari raja. Sebagai seorang kesatria—tidak, sebagai rakyat kerajaan Codafata, kau seharusnya merasa terhormat, Naruto. Perintah raja adalah mutlak dan itu unuk masa depan negeri ini," lanjut gadis berambut merah itu.
Sejenak, pikiran Naruto menjadi kosong seketika saat mendengar dalih dari Erza. Rasa kecewa dan sakit hati begitu menggerogoti perasaan bocah kuning itu. Sepanjang yang ia tahu, ia selalu menganggap bahwa Erza adalah sosok yang sangat hebat dan sangat ia kagumi.
Datang dari golongan budak—golongan terendah dari strata umat manusia—hingga menjadi seorang gadis yang sangat disegani seperti sekarang, membuat Naruto menaruh rasa hormat yang begitu besar kepada gadis tersebut. Selain itu, Erza yang selalu dengan lantangnya menyebut bahwa ia akan menjadi kesatria terhebat dan seorang pahlawan, sering kali membawa getaran aneh pada diri Naruto.
Namun, melihat sosok yang selama ini selalu ia puja dan kagumi itu justru dengan entengnya bilang untuk meninggalkan orang-orang tak berdaya ini, membuat bibirnya menjadi kelu hingga tidak tahu harus merespon dengan baik.
"Kesatria, putra mahkota, raja, … hentikan semua omong kosong itu, sialan," gumam Naruto pelan.
"Ap—kau bilang ap—,"
Sebelum Erza menyelesaikan kalimatnya, Naruto terlebih dahulu memotongnya dengan suara yang terkesan begitu dingin dan menusuk.
"Tugas seorang kesatria bukanlah untuk melindungi raja, tetapi untuk melindungi tugas raja. Sedangkan tugas raja adalah memastikan, untuk mengurangi penderitaan rakyatnya sebanyak mungkin. Jika seorang raja sudah tidak mampu untuk menjalankan tugasnya, tidak ada alasan bagi kesatria untuk mengikuti perintahnya."
Dengan sedikit tarikan napas, Naruto melanjutkan, "selain itu, bukankah kau ingin menjadi seorang pahlawan, Erza-san? meninggalkan mereka yang membutuhkan, tidakkah kau malu dengan impianmu sendiri?"
Mereka bertiga terdiam saat mendengar perkataan Naruto, khususnya Erza. Dia yang datang dari lapisan terbawah umat manusia, merasa begitu terpukul tatkala melihat Naruto yang memasang ekspresi yang sangat rumit.
"Tentu saja … tentu saja aku serius ingin menjadi pahlawan, bodoh," jawab Erza dengan lirih.
Tersirat banyak sekali emosi yang tidak dapat dijabarkan di balik kalimat pendek yang baru saja diucapkan oleh Erza. Seluruh perasaan di dalam dirinya terasa begitu diaduk dan dijungkir balikan tanpa henti. Hati nurani dan pikirannya menginginkannya untuk pergi menolong mereka. Namun, kondisi dan situasinya memaksa gadis tersebut untuk bersikap sebaliknya.
Seperti terdapat banyak sekali dinding yang mengurung pikirannya. Meskipun ia sudah bukan lagi seorang budak, tetapi hati dan pikirannya tidak dapat bebas dari sebuah tekanan yang membelenggunya. Rasanya, begitu banyak rantai berduri yang tak kasat mata, yang mengikat seluruh tubuhnya hingga seperti mati rasa.
Pada akhirnya, seorang Erza Scarlet yang terkenal dengan sebutan Sang Ratu Peri itu pun, tidak lebih dari gadis biasa yang tidak sanggup melawan gelombang arus yang sangat besar dan kuat.
Sebagai seorang mantan budak, gadis berambut merah itu sangat memahami dengan apa yang dimaksud oleh Naruto. Namun, ia juga paham, dunia tidaklah sebaik angan-angannya di dalam fantasi. Entah itu Erza atau pun Naruto, mereka berdua melihat dunia dari sisi yang begitu berbeda.
Itulah kenapa, tidak akan ada hal yang baik jika perdebatan ini terus berlanjut.
Dengan tatapan yang begitu dingin dan suara yang terasa seperti tidak memiliki jiwa di dalamnya, Erza pun membuat keputusan terbaiknya.
"Naruto Namikaze, karena rasa egoismu telah menghambat dan memecah keharmonisan tim, aku akan menggunakan wewenangku sebagai ketua untuk mengeluarkanmu. Dengan begini, kau bebas melakukan semaumu. Namun, aku tidak akan bertanggung jawab dengan segala konsekuensi yang ada."
Tanpa menunggu balasan dari rekan yang telah ia buang, Erza berpaling begitu saja dan berjalan menjauh dari bocah kuning tersebut. Meninggalkannya yang tertunduk dengan berjuta perasaan yang campur aduk. Dengan hati yang seolah telah membeku, Erza benar-benar mengabaikan seluruh perasaan putus asa yang sejak tadi ia rasakan dari seluruh penjuru desa.
'Ini adalah keputusan yang tepat 'kan, Naruto? Sejujurnya, aku sangat iri denganmu, kau tahu?' ratap Erza di dalam hatinya.
Meskipun demikian, meskipun ia mengalami gejolak batin yang begitu kuat, tetapi seorang Erza tidak pernah menampakkan sisi lemahnya itu. Bagi orang lain, Erza The Titania—Sang Ratu Peri—adalah sosok yang begitu mengagumkan dan dapat melewati segala macam rintangan. Bagi beberapa orang tertentu, Erza yang memegang Benizakura, merupakan aset dan kartu as milik negara. Namun, jauh dari itu semua, Erza Scarlet hanyalah gadis biasa yang dipaksa tumbuh untuk memenuhi harapan tinggi dari orang-orang lain yang berada di sekitarnya.
Memang, tubuh fisik dan status yang dia miliki sudah lagi bukan seorang budak. Namun, hati dan pikirannya, masih jauh dari kata merdeka.
Hawkins dan Bikou yang hanya bisa diam mengikuti keputusan Erza, sesekali menengok ke belakang untuk memastikan kondisi Naruto. Meskipun mereka berdua juga sedikit keberatan dengan keputusan yang telah diambil oleh ketuanya, tetapi mereka tidak dapat berbuat banyak.
Rasa inferior yang mereka rasakan ketika melihat intimidasi dari Erza, membuat mereka terdiam dan hanya tetes keringat sajalah yang menjadi petunjuk tentang rasa gelisah mereka.
Jarum jam berlalu dan detik terus berganti menit. Seiring berjalanya waktu, sosok tiga orang yang pernah menjadi rekan Naruto itu telah sepenuhnya tertelan oleh jarak. Sejauh apa pun ia berusaha memandang, ia tidak dapat melihat kehadiran dari tiga orang tesebut.
Dengan suasana yang ia rasa cukup tenang, Naruto berusaha menarik oksigen sebanyak-banyaknya untuk memberikan suplai yang cukup kepada otaknya. Tidak ada waktu baginya untuk larut ke dalam kegelisahan. Karena saat ini, masih ada sebuah bencana yang berada tepat di depan matanya.
"Ettoo, … Namikaze … -san?"
Karena merasa namanya dipanggil oleh seseorang, Naruto pun segera berbalik untuk memastikan orang yang memanggilnya tersebut.
"Umino-san? Ah, benar, maafkan saya karena sudah membuat kegaduhan di halaman anda," balas Naruto sambil membungkukkan badannya.
"Tidak, justru saya yang seharusnya meminta maaf. Karena saya, anda harus bertengkar dengan teman-teman anda," ucapnya sambil melakukan gestur yang sama dengan Naruto.
"Ah, tidak, tidak perlu sungkan. Itu memang sudah keputusan saya," balas Naruto dan memberi jeda sejanak. "Langsung ke intinya saja. Umino-san, apakah anda bisa mengirim pesan untuk count yang memerintah Propinsi Kai?"
"A- ah, iya. Saya tidak memiliki alat sihir untuk komunikasi. Namun, saya dapat menggunakan merpati untuk mengirim pesan."
"Bagus. Apa pun itu, siapa pun itu, tolong ingat-ingat seluruh orang yang pernah datang ke desa ini hingga dua minggu yang lalu. Kemudian, tolong beri tahukan kepada count yang berkuasa, untuk memeriksa kesehatan mereka dan melacak kesehatan orang-orang yang pernah berinteraksi dengan mereka. Juga, beritahukan bahwa pes telah melanda desa ini"
Jika ada satu hal yang belum sempat Iruka beri tahu kepada Naruto, itu adalah tentang pesan darurat yang telah ia kirim sejak minggu lalu ke ibukota propinsi yang hingga saat ini, masih belum mendapat balasan sama sekali. Ia tidak memberitahukannya bukan karena lalai atau lupa. Namun, karena memang Iruka dengan sengaja untuk tidak memberitahukan Naruto masalah tersebut.
Itu bukan berarti ia berusaha membodohi Naruto atau semacamnya. Hanya saja, itu adalah hasil dari sebuah rasa putus asa yang menggerogoti Iruka. Jika saja remaja kuning tersebut mengetahui, bahwa count telah mengisolasi seluruh pegunungan Akaishi tanpa alasan yang jelas, Iruka tidak yakin, apakah Naruto masih bersedia membantu mereka atau tidak.
Karena itulah, ia berusaha menyembunyikan fakta tersebut agar satu-satunya harapan mereka yang tersisa, tidak meninggalkan mereka karena merasa tidak mendapat dukungan dari bangsawan yang memerintah Propinsi Kai.
"Ah, tolong tulis, itu adalah permintaan dari Tsunade si Putri Siput," imbuh Naruto yang sepertinya mengerti dengan duduk masalah yang ada.
"Tsunade si …—tunggu, beliau adalah legenda dalam bidang medis, 'kan? Ba- bagaimana bisa, saya yang hanya seorang bangsawan desa, dengan lancangnya menyebut nama beliau?"
'Legenda di bidang medis, ya? Yah, tidak salah, sih. Namun, nenek tua itu lebih cocok disebut bencana alam yang berjalan, menurutku.'
Naruto sedikit mendengus dan tertawa ringan di dalam hati. Ekspresi rancu yang ditunjukkan Iruka, menjadi sebuah hiburan kecil bagi dirinya setelah mengalami ketegangan hebat dengan Erza beberapa saat yang lalu.
"Tenang, Umino-san. Jangan khawatir dan lakukan saja. Karena bagaimanapun, nenekku pasti akan segera datang kemari setelah aku memberi tahu kondisi desa ini padanya."
Raut wajah Iruka berubah menjadi jauh lebih rumit setelah kembali mendengar pembelaan dari Naruto. Kata-kata seperti nenek, Tsunade, kemari, dan lain-lainnya terus berputar-putar di dalam kepalanya.
Berapa kali pun Iruka berusaha berpikir, ia selalu berakhir pada satu kesimpulan yang sama. Meskipun ia berusaha menolaknya, tetapi kata-kata ambigu yang diucapkan Naruto, selalu menggiringnya ke arah yang sama seperti sebelumnya. Tidak, itu bukan berarti Iruka berpikir bahwa Naruto hanya akan mempermainkannya atau semacamnya. Hanya saja, dia tidak ingin terjebak dengan harapan, seorang Tsunade akan datang ke desa ini untuk menolong mereka.
Saat ini, dia sudah tidak lagi memiliki banyak harapan. Hanya Naruto seoranglah yang dapat dia andalkan di tengah kegelisahannya dan seluruh warga desanya. Jika dia diberi sebuah harapan kosong seperti 'Tsunade akan datang', itu akan sangat menyakitkan bagi orang lemah sepertinya.
Dengan kata lain, semuanya sangat sederhana. Seorang Iruka Umino, hanya takut menjadi tamak dan meminta harapan lebih dari yang dapat ia jangkau.
"Tsunade adalah nenekku, tidak perlu khawatir. Dialah yang mengajarkanku tentang ilmu medis. Jadi, aku yakin, dia pasti datang," ucap Naruto dengan senyum hangatnya.
Tanpa perlu menunggu balasan dari lawan bicaranya, Naruto segera mengaktifkan sihir summoner miliknya untuk memanggil Katsuyu. Bagi Naruto, Katsuyu adalah familiar yang begitu serba guna. Tubuhnya dapat dipecah menjadi banyak bagian dan masih dapat terhubung dengan tubuh utumanya.
Selain itu, Katsuyu juga dapat muncul dengan sendirinya dalam keadaan terdesak, meskipun sang pemanggil tidak memanggilnya. Memanfaatkan kelebihannya itu, membuat Naruto berpikir, bahwa Katsuyu adalah pembawa pesan terbaik antara dia dan neneknya. Karena itulah, ia yakin bahwa Tsunade akan segera pergi mendatanginya.
'Yah, karena ini nenek, dia tidak akan pergi menggunakan kereta uap. Terlebih, matahari sudah mulai tenggelam. Menggunakan kuda pun akan memakan waktu lama. Jika meningat tenaganya yang bahkan melebihi monster, aku yakin nenek akan berlari dengan kecapatan penuhnya menuju kemari,' batin pemuda tersebut yang seolah menyiratkan sebuah kerinduan akan orang yang telah membeserkannya.
Setelah ia selesai menyampaikan pesannya kepada Katsuyu, Naruto pun kembali menatap jalan yang dilalui Erza dan kawan-kawannya yang lain. Jauh di dalam hatinya, ia masih tidak percaya dan tidak menerima sikap Erza yang seperti itu. Perasaan marah, sedih, kecewa, bercampur aduk menjadi satu.
Naruto selalu percaya, punggung yang dimiliki Erza adalah punggung kokoh yang tidak akan pernah hancur meskipun telah megalami benturan berkali-kali pun. Meskipun kenyataan yang ia lihat barusan benar-benar berbanding terbalik dengan buah pikiran yang selama ini ia bayangkan, hati kecil Naruto tetap menolak untuk mengakuinya.
Namun, melihat sikap Erza yang seperti itu, Naruto mulai memikirkan kembali semuanya dari awal. Sebelumnya, ia selalu melihat Erza sebagai sosok yang sangat mengagumkan. Naruto tidak pernah meragukan kemampuan yang dimiliki oleh Erza. Selain itu, fakta bahwa gadis tersebut dapat naik dari yang awalnya hanya seorang budak hingga dapat menjadi sosok Erza yang saat ini, menjadi bukti betapa mengagumkannya gadis itu.
Akan tetapi, ketika Naruto mulai menata kembali pikirannya dari awal dan melihat semuanya dari sudut pandang yang berbeda, ia pun menyadari satu hal penting yang ia lewatkan. Dengan begitu, sebuah kesimpulan baru mulai muncul di kapala kuning tersebut. Sebuah kesimpulan yang membuatnya menghancurkan pemikiran-pemikiran lamanya tentang sosok Erza Scarlet.
'Erza-san, suatu saat nanti, aku pasti …,' batin Naruto dengan tangannya yang mengepal erat.
Bersambung
Author Note : Halo, apa kabar? Semoga sehat selalu. Saya datang dengan chapter 18 setelah terlantar beberapa minggu karena perkuliahan online mulai aktif kembali dan memasuki masa-masa UAS.
Yah, sejujurnya, saya sedikit kurang puas dengan chapter ini. Karena saya tidak dapat menulis semua ide-ide yang saya kumpulkan. Saking banyaknya ide dan penjelasan yang saya kumpulkan, mungkin chapter ini bisa lebih dari 8k atau 9k. Karena itulah, saya memangkas beberapa penjelasan dan membuatnya agar tidak mengurangi inti dari cerita ini.
Hal yang membuat saya kecewa, tentu saja karena saya sangat menyukai bagian ini, tetapi gak bisa mengeksekusi dengan baik hahaha.
Oke, poin penting dari chapter ini adalah, saya berusaha menekankan, bahwa bertarung itu tidak harus berada di garis depan. Setiap orang punya perannya masing-masing. Begitu pula dengan Naruto, dia memiliki medan tempurnya sendiri yang tidak bisa dia tinggal, dan tidak dapat dilakukan oleh rekan-rekan setimnya itu. Khusus pada misi ini, tim Erza pun pecah jadi tiga bagian, Sasuke yang tersesat, Naruto yang menetap di desa, dan Erza dkk yang melanjutkan misi.
Bukan hanya Naruto saja, Sasuke dan Sona juga akan memiliki medan perangnya sendiri-sendiri. Karena itulah, di bagian pertama dari arc ini, nanti akan lebih berfokus pada bagaimana mereka bertiga 'bertarung' di medan mereka masing-masing.
Yah, masih ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan. Namun, karena tiba-tiba pikiran saya menjadi blank, jadi saya sudahi di sini saja. Sorry hehe. Jika ada yang kurang jelas, bisa ditanyakan langsung di kolom komentar atau kirim via PM.
Oke, itu saja dariku. Terima kasih karena sudah meluangkan waktu untuk membaca cerita ini. Kritik saran sangat dibutuhkan untuk memperbaiki cerita ini ke depannya. Sekali lagi, terima kasih dan sampai berjumpa di chapter selanjutnya.
