DISCLAIMER : MASASHI KISIMOTO
Pairing : Narusaku
Rated : M for language
Genre : Romance, full drama maybe
Warning : OOC, AU, TYPO, MAINSTREAM THEME etc.
Story by me seriello
DONT LIKE DONT READ MINNA BUT I HOPE U READ THIS AND LIKE IT:V
.
.
.
.
*SESI JAWAB REVIEWS*
rosaaerith :
Terimakasih bnyak atas kalimat membangunnya!:v
Hikari Chiyo :
Serius demi apapun aku g percaya kakak baca ff ku soalnya aku suka baca ff kakak dan kakak termasuk author favorite ku:'v, btw terimakasih sudah baca
Zoan :
Aku harap chap ini ga mengecewakan ekspektasi mu semula wkwk
Guest, elissupriatin421, Guest, Awy77 Andrian, MANASYE, Raynoval :
Terimakasih banyak-!
tieichataeyeon :
Terimakasih banyak udh meluangkan waktu buat baca ff ku:v
.
.
.
.
Sakura melangkahkan kaki nya, menuruni anak tangga dengan senyum sumringah. Ah ayolah apalagi yang mampu membuat bibir tipis nya tersenyum lebar jika bukan karena saat ini Kushina tengah memanggang roti didapur dengan senyum bahagia menyambut kedatangannya?
Suasana ini jelas sudah lama tak dirasakan lagi oleh nya, tentu sejak kematian orang tua nya dan juga sejak ia tinggal sendiri pasca diusir oleh Danzo.
"Kau sudah bangun gadis manis?" Kushina melambaikan tangan meminta sang gadis gulali segera duduk pada salah satu kursi meja makan.
"Apa kau tidur nyenyak?" Lanjutnya lagi yang tentu disambut Sakura dengan anggukan kepala antusias.
"Tentu saja Bibi." jawab Sakura sambil menarik salah satu kursi dan mendaratkan pantat nya disana.
Bau roti bakar menyapa indra penciumannya, sejenak Sakura memejamkan mata menikmati betapa gurihnya roti bakar buatan Kushina membuat si wanita merah tertawa melihatnya.
"Kau sudah lapar eoh? Tunggu Minato-kun dan Naruto-kun turun dulu ok?" Tanya nya yang kembali disambut anggukan antusias oleh Sakura.
Segera Kushina menyodorkan segelas orange jus padanya dan Sakura menerima nya dengan senang hati, tak lama setelah itu pria dengan postur tinggi tegap serta kulit tan nya memasuki ruangan, suara decakan tak terbantahkan mana kala ia mendapati sosok pink sudah duduk manis disamping kursi favorit nya.
Ah ayolah semalam ia sempat berdoa pada Kami-sama bahwa kejadian kemarin adalah bunga tidur semata tapi nyata nya gadis antah berantah ini memang wujud nyata bukan imajinasi nya.
Mendengar decakan tak suka dari sang putra tentu Kushina menyambut nya dengan tatapan mata tak suka pula.
"Dimana tata krama mu? Hm? Dari pada kau menggerutu pada pagi cerah begini lebih baik kau duduk disini." Titah kushina pada putra semata wayang nya.
Berselang 1 langkah dari Naruto tibalah Minato yang sudah rapih dengan kemeja kantor nya. Pria berusia 50 tahunan ini nampak berkarisma, figure seorang bussinesman yang bahkan tak terlihat bahwa ia sudah berusia setengah abad. Melihat wajah terpukau Sakura membuat Naruto berdecak.
"Kau menyukai ayah ku? Tak ku sangka selain aneh ternyata seleramu bapak-bapak." cemoohan Naruto itu jelas didengar oleh semua nya hingga membuat kepala nanas nya mendapat jitakan sempurna dari sang ibunda.
"Aish apa-apaan sih, kenapa aku dipukul?" Protes nya membuat Kushina memutar bola mata nya bosan.
"Hentikan lelucon idiot mu pada calon istri mu Naruto!"
"Aku kan-"
"A-a-a kau tidak boleh bicara lagi, cepat habis kan sarapan mu dan pergilah ke kantor!"
"Cih."
.
.
.
.
Ceklek
"Ada apa kau kemari?" Naruto mengeratkan simpulan dasi nya sembarang sambil terus mematut diri pada cermin panjang di ruang ganti kamar nya yang dipenuhi dengan kumpulan jas menggantung serta deretan sepatu kulit mengkilap berbagai warna dan jangan lupakan beratus-ratus jam tangan mewah di balik laci kaca transparan.
"Ibu mu meminta ku menyerah kan ini, beliau mau kau pakai yang ini." Sakura menyerahkan satu buah jas berwarna hitam gelap semi formal. Pemuda kuning ini menyernyit tak paham.
"Apa-apaan? Bukan hanya pasangan bahkan perihal baju pun ibu yang mengatur? Ck parah sekali." Naruto mendecih, menggeleng pelan tak percaya bahwa satu-satu nya wanita penguasa di rumah ini mampu bertindak sampai seperti ini pada diri nya.
"Mana aku tau, dan bukan urusan ku ya duren! Aku hanya melakukan apa yang ibu mu perintah. jadi dari pada protes lebih baik kau cepat pakai saja dan enyahlah ke kantor."
"Hei! Makin banyak omong rupanya kau ini ya? Sudah merasa berkuasa wanita antah berantah hm?" Naruto menyambar jas itu dari tangan Sakura dan mentap nya tajam bak singa ingin menerkam tapi bukannya takut Sakura justru memutar bola mata nya bosan kemudian mengibaskan tangan sambil tertawa meremehkan.
"Dengar ya putra semata wayang kesayangan yang bahkan bertahan hidup diluar barang sehari pun tak mampu, kau ini jangan kasar pada calon istri mu ok? Kalau ibu mu tau entah lah apa yang akan beliau lakukan pada mu, mungkin mengusirmu bukan masalah besar bagi nya jadi tolong bersikap lah yang baik." Gadis itu menepuk 2 kali dada kiri Naruto sambil tersenyum sumringah.
Gila! Wanita ini gila!
Batin Naruto kesal melihat betapa santai nya wanita ini yang jelas-jelas akan dinikahi nya dalam hitungan hari. Mana ada yang mau menerima pernikahan konyol macam ini jika tidak ada timbal balik kan? Dan Naruto belum tau apa sebenarnya yang dikejar oleh wanita ini sampai-sampai mau untuk dinikahi.
"Kau akan terlambat jika 2 menit kedepan tidak segera memakai jas dan keluar. Ah tidak kau punya 1 menit 40 detik lagi." Sakura menimang jam tangannya dengan wajah datar sambil menggendikan bahu setelah Naruto bergegas keluar dengan jas tersampir asal di lengan bawah tangan kiri nya.
"Ck laki-laki itu pada dasar nya memang mudah untuk ditaklukan dan dikendalikan. Dasar bunga yang tumbuh dalam kaca, mana bisa bertahan hidup diluar sana. Iya kan?"
.
.
.
.
"Cherry! Astaga kemana saja kau? Aku mencari mu!" Gadis dengan poni tail itu menepuk pundak Sakura keras membuat siempunya pundak memekik pelan diantara bisingnya suasana cassino ini.
"Astaga Pig! Kau mengagetkan ku!" Sakura mendecih kesal sambil melenggangkan kaki jenjangnya masuk lebih dalam.
"Ku kira kau sudah mati dijalanan!" Ino, gadis pirang yang disebut 'Pig' itu tertawa sambil ikut melangkahkan kaki masuk ke dalam cassino besar ini.
"Hei! Aku tidak semiskin itu ya lagipula sebentar lagi aku akan jadi Nyonya Namikaze muda, kau tidak percaya kan?" Sakura menyombongkan diri nya sambil menepuk dada membuat Ino mengernyit dengan pernyataan nya.
"Tentu saja tidak percaya, kau kan jago berbohong. Bahkan Orochimaru pun mampu kau tipu daya."
"Ck entah itu pujian atau justru hinaan tapi ya terimakasih karena aku memang begitu haha." Gadis pinky dengan celana ripped jeans itu merangkul pundak Ino sambil tetap tertawa tanpa beban.
"Ya ampun kau ini benar-benar masih Cherry yang ku kenal."
"Loh? Memang nya ada lagi Cherry lainnya disini hm?"
Mereka berdua segera menuju bartender untuk memesan minuman sebelum kemudian melancarkan kemampuan mereka di atas meja judi, ya menurut Sakura setidaknya kembali ke mari tak ada salah nya kan? Untuk sekedar mencari hiburan.
.
.
.
.
BRAK!!
"Sialan! Kalian pasti curang! Iya kan? Ayolah jangan kalian pikir aku masih bisa kalian tipu, ayo angkat tangan kalian di atas meja aku yakin kalian mau menipu ku!" Sakura menunjuk lurus para pria yang duduk melingkari meja bundar yang sama dengan nya, ia berdiri angkuh dengan mata setengah melotot, sungguh Sakura kehabisan kesabaran.
"Apa ini Cherry? Ada apa?" Ino muncul dari balik punggung orang-orang yang mulai berkerumun karena mendengar keributan yang Sakura perbuat.
"Lihat Pig, pria bajingan ini semua mencoba menipu ku! Masa mereka menang bergiliran dan aku kalah terus-terusan! Mereka ini keparat yang memang niat ingin menipu ku seperti nya! Ayo ngaku saja sebelum ku hantam kepala kalian!" Titah nya keras sambil mengangkat kursi yang sebelumnya ia duduki, tentu saja reflek para pria paruh baya itu menutupi kepala mereka serentak takut dihajar gadis merah muda yang tengah marah-marah membabi buta.
"Hei! Tenang lah! Ada apa ini?" Pria dengan rambut panjang serta kulit putih pucat khas nya itu muncul setelah mendapat laporan dari pengunjung lain atas keributan ini, seketika ia terkejut mana kala si biang kerok ternyata orang yang amat sangat ia kenal sebelumnya.
"Loh? Cherry? Oh kau kembali kesini rupanya? Tidak meninggalkan hutang lagi kan?" Cibirnya dengan wajah menghina.
"Kurang ajar! Mentang-mentang aku suka berhutang! Tentu saja aku kemari membawa uang! Dan anak buah mu yang bajingan ini merampasnya dari ku dengan menipu! Benar-benar anak buah dengan bos nya tidak jauh beda." Sindir Sakura sambil melempar asal kursi yang ia angkat tadi ke lantai.
"Apa-apaan kau ini, ini nama nya pencemaran nama baik! Jika ku laporkan kau bisa masuk penjara!" Orochimaru terbakar emosi rupanya, terbukti dengan keluarnya beberapa urat diantara jidat dan lehernya, ah ayolah siapa lagi yang mampu membuat ia darah tinggi kalau bukan Sakura? Gadis yang memiliki sebutan 'Cherry' di cassino itu, putri semata wayang dari Tsunade. Pelanggan nomor 1 nya dulu.
"Oh ya tuhan manusia primitif ini dari mana? Kau kira aku takut? Silahkan laporkan ke polisi jika kau sudah bosan dengan usaha ilegal mu ini, kau kira aku tidak tau kalau izin usaha mu ini sudah hangus sejak 5 tahun yang lalu? Ayo laporkan jika kau berani melawan Nyonya muda Namikaze!"
Orochimaru meneguk ludahnya susah payah sambil membuang pandangan asal. Bagaimana tidak? Selain tidak sopan pada yang lebih tua, Sakura juga termasuk blak-blakan dan dia berteriak keras seperti itu ditengah-tengah kerumunan orang-orang yang jelas saja membuat Orochimaru banjir keringat dingin.
Tapi seperti nya Dewi Amor berpihak pada nya karena bukannya perihal izin usaha yang dibicaran para pengunjung yang berkerumun justru soal 'Namikaze' yang mereka sebut-sebut.
"Namikaze?"
"Apa? Nyonya muda Namikaze?"
"Apa Cherry menikah dengan keluarga Namikaze?"
"Astaga sulit di percaya."
Semua orang nampak berbisik satu sama lain begitu mendengar satu nama terhormat disebutkan, siapa yang tidak tau Namikaze? Keluarga besar kaya raya seantero Jepang dengan berbagai macam bisnis nya yang bahkan cabangnya pun entah sudah berapa, konon keluarga mereka tak akan jatuh miskin sampai 20 turunan.
"Apa liat-liat? Ayo laporkan! Kau bilang ingin lapor polisi kan?" Sakura mendongak menatap tajam Orochimaru dengan kedua belah zamrud miliknya tanpa rasa takut.
"Cih, aku tidak mau bayar, permainan ini dibatalkan." Ucapnya lagi sambil meraup kembali tumpukan uang diatas meja sebelum akhirnya membalik meja bundar itu dengan satu tangan kanan nya.
"Hei! Kau tidak bisa begitu Cherry! Jika kau tetap pergi dengan uang itu maka akan ku masukan ke daftar hutang!" Teriak Orochimaru melihat uang yang seharusnya masuk dalam brankas nya justru berpindah pada 2 belah tangan mungil Sakura.
"Bitch! Memang aku perduli? Ayo Pig kita pergi."
Sakura menjulurkan lidahnya kemudian berlalu sambil setengah berlari bersama Ino yang mengikutinya dibelakang.
.
.
.
.
"Gila! Kau sungguh-sungguh tak perduli jika Orochimaru memasukan mu dalam daftar hutang kembali?"
Ino menggelengkan kepala melihat tingkah sahabat nya yang kini tengah menyantap burger dengan senang hati tanpa rasa khawatir barang sedikit pun.
"Apa perduli ku? Lagipula dia tidak tau kan sekarang aku tinggal dimana? Ya walaupun Namikaze terkenal tapi memang nya dia berani datang?" Sakura menggendikan bahu nya enteng sambil kembali menggigit tumpukan roti dan daging yang ia cengkeram kuat diantara kesepuluh jari tangannya.
"Aku tidak yakin dia berani tapi ini cukup ekstrim Sakura, kau bahkan menantangnya begitu, kau taukan seperti apa pria tua macam ular itu." Gadis blonde kuncir kuda dengan polesan make up tebal itu menyantap kentang goreng nya sambil membuang pandangan keluar tempat makan.
"Sudah lah Ino, selagi hari itu belum datang maka nikmati saja dan mari kita lihat apa yang akan pria tua itu lakukan haha bukan kah itu menyenangkan?" Sakura tertawa sambil menyambar coke dan meminum nya, Ino hanya menggelengkan kepala melihatnya.
"Ck kau ini."
"Omong-omong, kau benar akan menikah dengan Tuan Muda Namikaze itu? Kau hutang cerita pada ku." Ino mempout kan bibirnya gemas, ia tidak berbohong soal kecewa, pasalnya Sakura tak bercerita apa-apa padanya.
Gadis pinky ini juga menghilang begitu saja kemarin dari flat kumuh miliknya bahkan tak mengirim pesan ia pergi kemana. Awal nya Ino kira ia pergi kerja paruh waktu tapi pemilik flat bilang bahwa Sakura sudah berkemas dan pindah sore itu.
"Tentu, ibu nya bilang mereka telah memiliki janji perjodohan sebelum orang tua ku meninggal. Entah lah lelucon macam apa tapi aku tidak perduli, selagi itu menguntungkan bagi ku ya siapa yang tidak mau kan?" Jelas Sakura masih dengan tawa khas nya. Kadang Ino tak tau seperti apa jalan pikir Sakura itu. Sakit hati mungkin telah mengubah nya.
"Bah, lalu bagaimana Tuan Muda Namikaze itu?" Ino menopang dagu nya diatas meja, kentang goreng cepat saji ini sudah tidak menarik lagi, baginya kisah Sakura saat ini jauh lebih menarik dari apapun. Penasaran seperti nya lebih mendominasi.
"Bagaimana kata mu? Maksud nya Kau penasaran dengan pria kasar macam dia hah?" Sakura bergidik, bagaimana ia harus mendeskripsikan seorang Namikaze Naruto? Pria kasar yang sebenar nya terlihat sekali bahwa ia anak mami?
"Kasar? Sungguh?" Ino terkejut, kasar bukan kah hal yang aneh bagi orang kaya bukan? Mereka harusnya diajari sopan santun atau semacamnya sehingga tak tau apa itu kasar. Harusnya.
"Iya! Dia sangat kasar bagai macan orange menyebalkan. Dia sering sekali mengumpat." Sakura menggigit acar lobak nya ganas sambil mendecih membayangkan betapa menyebalkan nya putra Namikaze satu-satu nya itu.
"Tapi kau kan juga begitu." Jawab Ino sambil setengah bercanda.
"Iya memang, tapi kan setidak nya sopan sedikit dengan calon istri apa susah nya coba?" Gadis dengan iris kehijauan musim semi itu memutar bola mata bosan, ayolah mungkin dia memang gadis berandalan tapi apa kalian lupa bahwa ia juga tumbuh dari keluarga kaya? Ia jelas tau seperti apa seharusnya pria memperlakukan wanita dan itu di tunjukan oleh ayah nya, dimana ayah nya selalu mengagungkan ibu nya. Tsunade cukup Beruntung jika diingat-ingat.
"Benar juga, lalu seperti apa dia secara fisik?" Gadis beriris aquamarine ini benar-benar penasaran seperti nya. Ino bukan berasal dari keluarga kaya, jelas ia ingin tau seperi apa 'pangeran' di dunia nyata. Ia juga termasuk seorang gadis yang meyakini bahwa pria yang berasal dari keluarga kaya raya adalah pangeran dunia nyata yang sesungguhnya. Jujur, jika ia bernasib seperti Sakura maka ia juga tak akan menolak perjodohan nya. Meskipun ia dan Sakura dalam konteks dan tujuan yang berbeda.
"Hmm.. dia tinggi, tidak! Tapi tinggi sekali seperti raksasa! Rambutnya bagai kulit duren persis, mungkin beda nya hanya 1%, kulit nya kecoklatan hampir bersisik dengan mata biru khas pria barat lalu dia bertaring dan menyeramkan, sebaiknya kau tak perlu bertemu dengannya." Deskripsi Sakura menggebu-gebu entah kenapa ia kesal sekali dengan pemuda yang selalu menyebutnya antah berantah itu.
"Sa-sakura.. apa pria yang kau maksud i-itu dia?" Ino menunjuk pelan siluet dibelakang Sakura dengan jari telunjuk kanan nya, susah payah ia menelan ludah pasalnya pemuda orange itu menatap Sakura dari belakang dengan tatapan membunuhnya. Hihh merinding.
"Hah? Apa nya?" Gadis pinky itu memutar lehernya segera mengikuti arah tunjukan Ino.
"Astaga monster!" Sentak nya kaget sambil memegang dada.
"Hm? Monster? Pria raksasa dengan taring? Sepertinya tidak buruk karena taring ku tercipta memang untuk menerkam mu!" Ucap Naruto kesal sambil mencondongkan tubuhnya ke depan dan menumpukan kedua tangannya diatas senderan kursi Sakura. Menatap gadis itu tajam tepat dimata. Setelah itu pemuda ini lekas menyeret Sakura berdiri, mencengkeram erat lengan atas tangan kanan nya.
"Aish sakit! Kau mau membawa ku kemana hei?" Sakura mencoba melepas cengkeraman tangan Naruto pada lengan nya tapi sulit, pemuda ini terlalu kuat.
"Pulang tentu saja! Sudah cukup main-main nya kau ini mempermalukan Namikaze saja. Belum menikah sudah begini! Bagaimana nanti?" Naruto menghentikan rutinitas menyeret Sakura manakalah gadis itu mencakar punggung tangan nya. Sakit memang tapi ia tahan.
"Apa sih? Bicara lah yang jelas! Jangan asal tuduh begini." Bela Sakura tak mau kalah meninggikan nada bicara nya, tak perduli meskipun kini sedang jadi pusat perhatian. Sedang kan Ino? Pura-pura buang muka seakan tak tau apa-apa. Ayolah dia memang tidak tau apa-apa.
"Oh jadi kau ingin aku mengatakan secara jelas? Baik!" Naruto mengeluarkan ponsel kotak nya dan membuka sesuatu kemudian menyodorkan nya tepat didepan wajah Sakura.
"Gadis pingky ini siapa? Kau kan? Rekan ku bilang kau bahkan menyebut Namikaze disana! Hei wanita antah berantah, kau bahkan belum resmi menjadi bagian dari kami jadi jangan seenak nya membawa nama keluarga besar ku!" Amarah naik ke ubun-ubun nya, bahkan wajah Naruto pun memerah.
Entah apa yang merasuki otak kedua orang tua nya sehingga pulang membawa gadis antah berantah yang ternyata hobi berjudi ini, ck bagaiman jadinya kalau ini dilanjutkan? Namikaze menikahi seorang gadis urakan?
"A-aku.. P-pig?" Sakura menolehkan kepala nya kearah Ino memohon bantuan tapi gadis itu hanya menatap nya memelas seolah-olah dia juga tak tau harus apa.
"Sudah! Ayo pulang!" Naruto kembali menyeret Sakura keluar dari restoran dan kali ini tanpa penolakan.
.
.
.
.
Brak!!!
Naruto membuka pintu dengan kekutan penuh nya, kesal sekali melihat tingkah wanita asing yang sekarang tengah diseret oleh nya ini.
"Aduhh sudah lepas kan, tangan ku sakit!" Sakura mengerang kesakitan mana kala tangan besar Naruto tetap mencengkeram kuat pergelangan tangan nya hingga memasuki rumah.
Gadis pinky yang malang itu hanya mampu memasang wajah memelasnya ketika sang calon mertua terkejut dengan apa yang dilihat oleh nya.
"Apa-apaan ini Naruto? Kenapa kau menyeret Sakura seperti ini?" Kushina melepas cengkeraman tangan Naruto yang kelewat kencang itu sampai-sampai urat tangannya seperti mencuat ingin lolos dari tempat nya.
"Tanya saja pada calon menantu idaman mu ini bu. Apa yang telah dia perbuat amat sangat tidak mencerminkan seorang Namikaze! Baru calon saja sudah membuat malu apalagi kalau pernikahan ini dilangsung kan!" Cecar nya kesal, urat-urat amarah nampak nya sudah mulai bermunculan di wajah tampan nya yang maskulin khas pria asia keturunan barat ini.
"Ada apa sebenarnya Sakura-chan?" Kushina memegang kedua belah pundak mungil Sakura ketika gadis itu sibuk mengelus pergelangan tangannya.
"A-anu.. hmm." Sakura menggigit bibir bawah nya bingung hendak menjawab apa, mana mungkin dia bilang kalau terpergok di cassino oleh kolega Naruto kan? Macam bunuh diri.
"Dia berjudi dan tak terima kekalahan, maka dari itu dia membuat rusuh cassino dan menyeret nama baik Namikaze." Sindir Naruto sambil melirik gadis pinky disamping nya yang tengah menunduk dalam-dalam.
"Benar begitu Sakura-chan?" Wanita paruh baya itu terkejut ketika mendapati Sakura mengangguk pelan mengiyakan tuduhan Naruto, awal nya iya yakin Sakura akan membantah karena ia tau Naruto tak suka Sakura dan itu cukup memungkinkan pemuda itu menghalalkan segala cara untuk menjatuh kan Sakura bukan?
"Tapi itu tidak sepenuhnya benar bi, aku hanya ingin main-main kesana karena aku rindu teman ku lalu aku main sebentar tapi aku curiga mereka menipu ku karena mereka menang bergiliran sedangkan aku kalah terus-terusan. Sangat tidak masuk akal kan?" Bela Sakura dengan tatapan memelasnya, matilah dia jika sampai Kushina dan Minato yang merupakan pelindung serta pembela dirinya dirumah ini justru kehilangan respect nya, akan jadi apa dia? Menggelandang serta kerja paruh waktu lagi? Ohh tentu saja Sakura tak mau.
"Iya, sama tidak masuk akalnya dengan alasan mu itu." Celetuk Naruto membuat Sakura reflek mengirim death glare nya dan akhirnya mereka adu tatap dengan Kushina ditengah-tengah mereka.
"Apa lihat-lihat?" Naruto mencibir membuat Sakura naik pitam.
"Harusnya aku yang berkata begitu! Apa kau lihat-lihat aku hah?" Kesal Sakura.
"Heh! Gadis antah berantah tak tau malu! Kau yang menatap ku duluan." Sentak Naruto tak mau kalah.
"Enak saja."
"Apa? Mau protes lagi?"
"Tentu saja!"
"Sudah hentikan!!!" Kushina merentangkan tanganya diantara Naruto dan Sakura, menciptakan jarak satu meter antara kedua nya. Teriakan membahana Kushina itu mampu membungkam kedua nya. Akhirnya Naruto dan Sakura sama-sama menundukan kepala nya.
"Diam kau Naruto! Aku sedang bicara dengan Sakura-chan, dan kau Sakura-chan menurutku wajar kau marah jika kronologisnya begitu." Kushina memijit pelipis kiri nya pelan, jangan-jangan tensi darah nya naik lagi gara-gara perkara keributan ini.
"Tapi kan bu, dia bahkan membawa Namikaze kedalam tempat hina itu, dia jadi terkesan menyalah gunakan nama keluarga terhormat kita bu. Masa yang seperti ini masih ibu toleransi? Bisa-bisa dia jadi makin melunjak." Naruto mengusap wajah nya kasar, tak habis pikir dengan jalan pikiran sang ibunda yang terkenal tegas nya itu, biasanya beliau tidak akan main-main dengan yang nama nya kedisiplinan kan? Dan menurut Naruto, ini tidak disiplin.
Dari dulu ia selalu diajarkan bahwasan nya nama keluarga tidak boleh asal disebutkan begitu saja karena bisa disalah gunakan, jadi setidaknya harus tau tempat, kondisi dan situasi karena jika salah langkah justru bisa jadi tombak untuk bunuh diri. Kau tau? Tidak enak nya terlahir dari keluarga konglomerat itu ya seperti ini salah satu nya.
"Sudah lah Naruto, ibu yakin Sakura-chan melakukan itu bukan tanpa maksud, mungkin saja dia terdesak. Iya kan Sakura-chan?" Tanya Kushina yang disambut anggukan pasti dari Sakura.
Untuk kali ini memang benar dia terdesak apalagi menghadapi Orochimaru seperti tadi tidak bisa sendiri jadi setidaknya ia bermaksud meminjam 'kekuatan nama Namikzae' untuk membungkam mulut si licik Orochimaru dan itu cukup efektif.
"Ck ibu kenapa sih? Selalu saja membela gadis ini. Apa istimewa nya dia? Bahkan jika saja ibu tidak bawa dia kemari aku tak akan tau kalau dia pernah hidup. Gadis yang tak dikenali ini apa cocok berdampingan dengan ku?" Protes Naruto lagi yang jelas saja membuat telinga gadis pinky ini memerah. Astaga apa dia terlihat serendah itu?.
"Bicara lah yang sopan Naruto! Ibu tak pernah mengajarkan mu untuk bertingkah seperti ini! Sakura-chan itu putri sahabat ibu. Dan aku sudah mengatakannya berkali-kali bukan? Aku yakin dia jauh lebih baik dari pada kekasih lavender mu itu!" Bela Kushina.
"Apa? Ibu pikir dia jauh lebih baik dari Hinata? Haha ibu sebenarnya kenapa sih? Hinata jelas jauuuuuuuhh lebih baik. Dia punya sopan santun, pintar, mengerti bagaimana harus bersikap selayaknya bangsawan, menawan, tutur kata nya sopan dan dia.."
"apa? Kau ingin bilang dia berasal dari keluarga baik-baik kan? Cih, kau sendiri ragu mengatakan nya. Lihat? Apa bagus nya semua kelebihan yang kau sebutkan dan banggakan dari kekasih mu itu jika tetap saja dia bukan berasal dari keluarga yang baik-baik? Sakura jelas lebih unggul. Aku tau keluarga nya macam apa dan bagaimana asal usul kedua orang tua nya. Dari pada aku harus berbesanan dengan Hyuga lebih baik aku mati sekalian saja."
"Ibu! Jangan berkata seperti itu!"
"Terserah kau saja Naruto jika kau terus membangkang ibu tak akan segan-segan mengusir mu sekarang juga."
"Oh begitu? Baik kalau begitu aku pergi." Ucap Naruto mantap.
"Kau akan pergi?" Tanya Kushina tak yakin yang justru dijawab Naruto dengan anggukan.
"Tentu saja. Ibu rela mati jika aku menikah dengan Hyuga? Aku juga rela keluar dari rumah ini jika harus menikah dengan gadis pink ini." Kushina melongo tak percaya debgan apa yang putra nya ucapkan. Sungguh sifat keras Naruto ini menurun dari siapa? Seperti nya ia lupa jika ia juga keras kepala.
Batu bertemu dengan batu, Sakura yang memilih menjdi air yang tenang tak tau harus bagaimana menghadapi perang internal macam ini.
Baru saja Naruto hendak hengkang dari posisi nya berdiri, Kushina justru jatuh terkulai dan dengan sigap ditangkap oleh nya.
"Ibu? Ibu?!" Naruto berteriak mana kala Kushina benar-benar tak sadar kan diri.
"Astaga ibu pingsan!" Teriak Sakura panik.
"Cepat telepon ambulan!"
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
bagaimana kabar nya readers? wkwk semoga kalian baik2 aja ya ditengah pandemi corona, berhubung #dirumahaja jadi aku usahain buat up ff ku wkwk
aku memulai buat ff pas bulan puasa juga, ga berasa udah 1 tahun aja:'v
semoga kalian suka, jngn lupa tinggalkn jejak:)
27 april 2020 - seriello
