Disclaimer : Naruto Masashi Kishimoto, High School DxD Ichie Ishibumi and char other
Rate : M
Genre : Tragedy, Romance, Action, Sci-fi
Author : Gosen Arch
...
Chapter 2 : Take Advantage of Pain
.
.
.
Rasa sakit adalah sebuah penyakit hati yang susah di hilangkan. Sebenarnya bisa di sembuhkan tapi itu kalo ada orang yang selalu ada di sisi kita, seperti keluarga atau orang yang kau cintai.
Tapi bagaimana jika harapan obat yang mereka dapatkan pupus? Palingan korban sakit hati itu mentalnya semakin terguncang dan paling sangat memungkinkan dia akan gila dan lebih tragisnya dia melakukan bunuh diri.
Banyak penyebab rasa sakit ini, bermacam-macam cerita ada. Bahkan karena sakit hati.
Dulunya dia dia seorang pembawa cahaya tapi dia jatuh dalam kegelapan karena sakit hati.
Yang banyak akibat rasa sakit hati muncul adalah Pengkhianatan!
Semua orang pasti tidak mau di khianati oleh orang yang mereka sayangi, pasti itu!
Orang-orang pasti tidak mau di khianati kan. Pasti mereka tidak mau di khianati pacar, istri, sahabat atau lebih parahnya lagi di khianati oleh keluarga sendiri.
Saat korban sakit hati jatuh dalam lingkaran kegelapan dan gelap mata mereka akan melakukan apapun. Bahkan memberikan jiwa kepada Iblis pun! Untuk membalaskan hasrat dendam dan kebencian yang mereka perbuat pada dirinya.
Manusia tetaplah manusia. Tidak ada yang sempurna. Begitu juga dengan para makhluk bumi lainnya.
Dan aku disini untuk...
"Merubah apa yang dia buat dan memanfaatkan rasa sakit setiap orang"
Karena aku adalah...
"God of Calamity"
.
.
.
Brukh
"Aarrgh"
Seorang pria gendut dengan wajah buruk rupa tergeletak kasar di lantai, pria gendut itu menatap takut orang-orang berjubah hitam yang membawanya kemari. Apalagi dia sangat ketakutan saat melihat seorang pemuda berambut hitam dengan iris merah ruby, terlihat pemuda itu sedang duduk di sebuah kursi singgasana dengan gaya sombong.
"Gendut tua buruk rupa! Bayarlah hutangmu padaku... "
Tukas pemuda itu pelan menatap kelam pria gendut tua itu.
"T-t-tuan Muda, s-saya akan membayar hutangnya tapi beri saya waktu untuk membayarnya"
Pria gendut itu badannya bergetar saat menatap mata merah pemuda itu.
"Kapan? Kau mengatakannya beberapa kali. Tapi ujung-ujungnya kau tak kunjung bayar..."
Mata pemuda itu sedikit menatap tajam pria gendut itu yang membuatnya semakin ketakutan.
"S-saya tahu Tuan Naruto tapi..."
"Belum lagi kau adalah orang rendahan yang paling menjijikkan yang pernah kutemui..." potong pemuda itu.
Orang berjubah itu memberikan sebuah dokumen pada pemuda itu dengan ala butler profesional. Lalu pemuda itu yang ternyata Naruto segera melemparkan dokumen itu. Betapa terkejutnya pria gendut itu saat melihat dokumen itu yang ternyata adalah fotonya yang sedang melakukan seks dengan beberapa wanita.
"Kau memperkosa dan menjual gadis dan wanita-wanita muda untuk melunaskan hutangmu. Bahkan kau tak segan-segan merebut istri orang membuat orang lain menderita, kau tahu? Aku paling benci orang perebut kebahagiaan seseorang"
Pria gendut itu semakin ketakutan dan badannya merinding mendengar suara serak nan berat dari Naruto.
"Dan aku punya kejutan untukmu... Rei (OC) kemarilah"
Naruto memanggil seorang pria 20-25 tahunan. Dia memiliki rambut lurus dan agak sedikit kurus. Pria gendut tersebut sangat terkejut dan ketakutan saat melihat pria itu, pria itu adalah salah satu suami yang istrinya ia rebut untuk kepuasannya sendiri dan membayar hutangnya dari kelompok Mafia.
"Kau! Kau! Kau merebut istriku! Kau membuat istriku seperti pelacur murahan..."
Dengan air mata berlinang Rei berbicara, dia sungguh sakit hati saat melihat istrinya di jadikan seorang pelacur saat istrinya bekerja di kota lain. Apalagi pria gendut itu mengirimkan sebuah video yang berisi istrinya sedang di nikmati oleh pria lain.
"Sekarang orang yang merebut istrimu ada di hadapanmu. Tunggu apalagi Rei, buat dia merasakan penderitaan yang kau rasakan"
Tukas Naruto pada Rei.
"T-tapi N-naruto-san..."
"Jangan ragu-ragu Rei. Di dunia ini kau harus kejam, jika tidak kau akan tertindas. Lihat saja bahkan istrimu di rebut oleh pria gendut rupa, jelek dan sifatnya buruk. Hidup lagi"
Naruto bangun dari duduknya dan membelakangi Rei lalu ia membisikkan sesuatu.
"Lupakan cinta... Lupakan kasih sayang... Lupakan sahabat... Lupakan keluarga... Sekarang kau hidup untuk membalaskan dendam saja, buat dia rasakan apa yang kau rasakan. Biar dia rasakan rasa sakit dan penderitaan yang engkau alami, Rei..."
"Yah, kau benar. Dia harus merasakan apa yang kurasakan selama ini"
Seolah di sugesti, Rei menatap benci pria gendut itu, sorot matanya penuh amarah dan mengepalkan kedua tangannya dengan erat.
Salah satu orang berjubah memberikan sebuah pedang kepada Rei.
"Gunakanlah itu..."
Rei menerima pedang tersebut dan menggenggamnya dengan erat.
"Setelah ini kau harus membunuh mantan istrimu juga"
Ujar Naruto menatap datar Rei.
"Kenapa aku harus membunuhnya juga?"
Rei menatap bingung Naruto.
"Bukankah dia mengkhianatimu? Bahkan dia sangat menikmati sentuhan pria lain ketimbang dirimu, jika dia menyayangimu dia akan meminta maaf pada dirimu bukan?"
Naruto menyentuh pundak Rei sambil membisikkan sesuatu.
"... Ingatlah ini, tidak kata maaf dan pengampunan bagi seorang pengkhianat"
"Baik, akan kulakukan!"
Pandangan Rei menjadi dingin dan mulai melangkahkan kakinya pada pria gendut itu.
"Apa yang mau kau lakukan?"
Pria gendut itu badannya bergetar dan menatap takut Rei, apalagi dia melihat Rei memegang sebuah pedang. Rei melakukan ancang-ancang.
"Apa yang akan kulakukan? Tentu saja, kau harus menerima penderitaan dan rasa sakit yang aku rasakan..."
Slash
.
.
.
Di sebuah tempat gelap, terlihat ada seorang pria berambut hitam panjang dan mempunyai telinga lancip. Pria itu sedang duduk di sebuah singgasana dengan di temani wanita di pangkuannya.
"Ada apa? Tidak tahukah aku sedang bersenang-senang" tukas pria itu marah melihat dua anak buahnya datang.
"Maaf menganggu waktu anda Kokabiel-sama!" salah satu anak buah tersebut berbicara.
"... Kami datang kesini karena utusan dari 'dia' telah tiba, Kokabiel-sama" lanjutnya.
Pria bernama Kokabiel itu sedikit terkejut mendengarnya, lalu ia menyuruh wanita penghiburnya untuk pergi dan bangun dari kursi singgasananya.
"Dimana mereka sekarang?" tanya Kokabiel.
"Mereka sedang menunggu di depan, Kokabiel-sama!" jawab sang anak buah.
"Tunggu apalagi! Bawa mereka kemari" perintah Kokabiel.
"Ha'i"
Kedua anak buah langsung pergi dari sana, Kokabiel kembali duduk di kursi singgasananya. Tidak butuh beberapa menit lima orang berjubah hitam kemerahan dengan tudung yang membuat wajah mereka tidak terlihat, tapi salah satu wajah mereka terlihat namun ia memakai sebuah masker hitam menutup mulutnya.
"Hello Jendral! Bagaimana kabarmu?" sapa ramah orang jubah bermasker itu.
Kokabiel mendengus pelan.
"Jangan lugas! Dimana barangku?" tanya Kokabiel.
"Hehehehe"
Bukannya menjawab sosok tersebut terkekeh pelan.
"Apa ini sambutan kami wahai Jendral Malaikat jatuh? Ingat loh~ kami bukan pengantar paket yang mengirimmu barang"
Meskipun suaranya riang tapi berbeda dengan auranya, sebuah aura merah pekat keluar dari sosok jubah masker itu yang membuat Kokabiel berkeringat dingin.
'Kekuatan anak buahnya saja sudah mengerikan begini, bagaimana kalau 'dia' yang menunjukkan kekuatannya yang sebenarnya' batin Kokabiel berkeringat dingin.
"Maafkan aku, aku hanya ingin melaksanakan rencanaku yang ku rancang lama ini"
Kokabiel meminta maaf dengan sedikit menundukkan kepalanya. Lalu seketika aura mengerikannya telah menghilang.
"Oh begitu rupanya? Baiklah, itu bisa di maklumi olehku Jendral~"
Sosok tersebut mengaktifkan lingkaran sihir di tangan kanannya, sebuah botol bercairan aneh bewarna merah keputihan di dalam botol itu. Sosok tersebut melemparkan botol ke Kokabiel dan di tangkap mudah olehnya.
"Sesuai kesepakatan itu adalah barangnya. Dan jangan lupa kesepakatan kita Jendral! Jika kau tidak menepati kesepakatan kita akan kukirim kau ke dunia kehampaan"
Ancam sosok itu sambil menunjuk wajah Kokabiel.
"Tenang saja, aku selalu menepati janjiku" balas Kokabiel tenang.
"Bagus~"
Sosok itu menyeringai senang.
"Kalau begitu kami pamit dulu Jendral! Kami masih banyak tugas dari Tuan Muda kami"
Kokabiel mengangguk pelan saja mendengarnya. Setelah itu mereka pergi menjadi puluhan kelelawar dengan mata merah menyala yang terbang keluar dari tempat Kokabiel.
"Khukhukhukhu. Dengan begini rencanaku akan berjalan mulus, mengadu domba kan antara Akuma dan Da-tenshi dengan cara membunuh dua pewaris Gremory dan Sitri pasti... pasti... pasti... Great War ke-2 akan terjadi!"
Sang Jendral bintang itu matanya menyorot tajam.
"Dengan kekuatan Ophis dan barang ini. Aku tidak akan terkalahkan. GREAT WAR AKAN TERJADI KEMBALI"
"HAHAHAHAHAHAHAHAHA"
Kokabiel tertawa kencang karena rencananya berjalan mulus seperti ini.
.
.
.
Tokyo, Jepang
"Hahahaha, bukankah malam ini malam yang indah sensei?"
"Hahaha, kamu benar Amakawa-kun (OC)"
Satu pemuda memakai seragam sekolah sedang berbicara dengan seorang wanita dewasa berpakaian guru, mereka berbicara di bawah gelapnya malam yang indah.
"Pantas saja kau meninggalkanku tanpa pikir Marika (OC), ternyata kau jatuh cinta dengan seorang berondong..."
Tiba-tiba seorang pria muncul di balik kegelapan, membuat kedua orang itu yang sedang menjalin asmara terkejut.
"R-rei?!"
Wanita bernama Marika terkejut melihat mantan suaminya muncul, ia bisa melihat bahwa mantan suaminya itu memakai sebuah jubah hitam menutupi badannya dan ia bisa melihat sedikit berbeda dengan mantan suaminya itu.
Rei menatap datar kedua orang itu, lalu menatap sosok remaja itu dan remaja itu bergidik ngeri melihat tatapan kelam Rei padanya.
"Jadi kau adalah awal mula perusak hubungan rumah tanggaku..." tukas Rei.
"A-apa maksudmu? Aku bukanlah perusak hubungan seseorang. Apalagi suami istri" balas pemuda itu.
"REI HENTIKAN!" teriak Marika.
"Oh? Kau membelanya? Tapi aku tidak peduli, biarkan aku menjelaskan kronologinya dulu padamu bocah..." tukas Rei datar.
"Istriku bekerja disini untuk menjadi seorang Guru, sementara aku tinggal di Hokkaido dan bekerja di sana. Aku mempercayai Marika karena aku sangat mencintainya, tapi karena dirimu hidupku hancur dan kau merebut apa yang kumiliki dan orang yang kucintai. Kau tidak lebih dari pebinor(perebut bini orang)" Rei meluapkan amarahnya.
"T-tidak, aku tidak seperti itu..."
"Lalu saat kau belajar dengan Marika karena pelajaran tambahan di apartemen Marika, kau menciuminya tepat di bibirnya dan melakukan seks, lalu ada orang memanfaatkan momen itu..."
Marika dan pemuda itu terkejut mendengar perkataan Rei.
"Hei gendut kemarilah,"
Rei menarik rantai di pegangannya, untuk terakhir kalinya Marika dan pemuda itu terkejut saat melihat sosok familiar bagi mereka namun keadaannya sangat mengenaskan.
Lehernya di rantai, salah satu tangannya terpotong, tubuhnya penuh luka, ada sebuah sayatan pedang di mata kanannya, ia hanya memakai celana yang sudah lusuh saja tanpa memakai baju.
"Hiks, tolong jangan siksa aku lagi Rei-sama. Aku khilaf dan tidak berbuat hal semacam itu lagi, aku mohon jangan siksa aku lagi. Lebih baik aku mati daripada merasakan kesakitan itu lagi..." ujar pria gendut itu dengan memohon.
'Dia? Pria gendut yang dulunya seorang tukang bersih sekolah' batin Marika menatap tidak suka pria gendut itu.
Karena dialah yang membuatnya seperti wanita tidak bermoral.
"Heh, dia kan membuatmu seperti wanita jalang bukan, Marika?" tanya Rei datar.
Marika tidak menjawabnya malahan dia hanya menundukkan kepalanya.
"Tapi awal mulanya dari dia, kau Amakawa..."
Rei menunjuk pemuda bernama Amakawa di samping Marika.
"A-aku... a-aku..." Amakawa berkeringat dingin dan tergagap bicaranya.
"Saat pelajaran di apartemen istriku, bukankah menikmati tubuhnya juga? Kau dengan sangat lancang menyatakan cinta dan berani jatuh cinta pada Marika..."
Rei menatap dingin Amakawa dengan sorotan mata tajam membuat Amakawa ketakutan dan gemetar.
"A-aku... A-aku... aku..."
"CUKUP REI! HENTIKAN! KITA SUDAH TIDAK PUNYA HUBUNGAN APA-APA LAGI. JADI AKU MINTA KAU SEGERA PERGI DAN BAWA SI MENJIJIKAN ITU DARIKU" potong Marika berteriak.
"Oh? Jadi kau mengusir yah?"
Rei menatap datar istrinya, ah tidak lebihnya mantan.
"Dan kau juga berubah sikap kepadaku, Rei..." Marika menatap sendu mantan suaminya itu.
"Hahahahahaha..."
PLOK! PLOK! PLOK! PLOK! PLOK!
Terdengar suara tawa mengerikan dan tepukan tangan membuat Marika dan Amakawa terkejut, dibalik kegelapan ada seorang pemuda berambut hitam berwajah tampan, iris ruby merah darah, memakai jubah bangsawan hitam kemerahan.
"Sudah kubilang bukan Rei? Jika istrimu itu mencintaimu dia akan meminta maaf dan bersujud padamu atas kelakuannya itu, tapi kenyataannya dia meninggalkanmu dan menjalin hubungan dengan pria lain" tukas pemuda itu.
"Yah, Anda benar, Naruto-sama..."
Tatapan Rei menjadi kosong, hampa, itulah yang dirasakan Rei. Hatinya sudah tidak bergerak dan hatinya seakan telah tenggelam dalam kegelapan.
"Kau? Siapa kau? Apa kau yang membuat Rei berubah seperti ini?!" Marika menunjuk pemuda itu yang ternyata adalah Naruto.
"Aku? Tidak, dia merubah dirinya sendiri. Lagipula awal perubahannya Rei adalah dirimu bukan?" jawab Naruto santai.
"A-aku?" Marika menunjuk dirinya dan cara berbicaranya gagap.
"Yah, siapa yang mengkhianatinya? Lalu siapa yang mengkhianati kepercayaannya Rei? Kau bukan? Bukankah kau yang merubah dirinya seperti ini?"
Naruto menatap datar mereka.
"Oh ya Rei selamat bersenang-senang, kau boleh melakukan apapun pada dua makhluk hina itu. Lepaskan lah hasrat amarah dan dendammu"
Setelah mengucapkan itu Naruto berjalan ke belakang gedung gelap kembali.
"T-tunggu apa maksudmu?" Amakawa mencoba memanggil Naruto namun sayang gagal.
Rei menundukkan kepalanya sehingga wajahnya tertutup rambutnya.
"Kau tahu Marika-san awal aku jatuh padamu, karena kau sering membantuku dari segala hal..."
Marika tersentak mendengar perkataan Rei.
"Mulai kau membantuku dari pelajaran sekolah, membantuku saat kesulitan dan membantuku menyembuhkan stresku saat kedua orang tuaku cerai..."
Mulai memori-memori masa lalu mereka terbayang di kepala Marika, tanpa sadar tubuhnya menggigil dan merinding.
"Pada saat itulah aku mencintaimu, aku melamarmu dan kita menikah saat itu. Pas setelah aku menikah denganmu rasanya aku adalah pria yang sangat beruntung di dunia karena memiliki wanita cantik sepertimu, Marika-san. Aku mulai bertekad melindungi orang yang kucintai, bahkan aku rela mengobarkan nyawaku demi dirimu Marika-san..."
Tanpa sadar kembali Marika menetes air matanya, tubuhnya semakin bergetar dan berjongkok lemas karena saking lemasnya. Memori-memori indah bersama Rei dulu terus teringat di pikirannya.
"Tapi semuanya harus pupus saat kau bekerja menjadi guru, pada saat itu juga kita harus berbeda kota. Awal kebahagiaan harus menjadi hancur jadi abu..."
Seketika memori-memori Marika yang terbayangkan terbakar, terbakar hangus menjadi abu.
"Rei-kun, hiks, hiks, gomen! Gomenasai! Kumohon maafkan aku. Hiks, hiks..."
Marika bersimpuh lemas dengan menangis terisak-isak.
"Rei-kun, gomen! Hiks, hiks, hiks, maukah kamu kembali denganku? Kita... kita mulai awal kembali hubungan dan membuka lembaran baru. Bagaimana Rei-kun? Mauk–"
"Cukup!" potong Rei dingin dan tegas membuat Marika terdiam langsung.
"Satu hal yang kupelajari sekarang dari dunia yang kejam ini..."
Rei membuat sebuah lingkaran sihir di tangan kanannya dan memunculkan sebuah katana, lalu Rei membuka katana itu.
"... Tidak kata maaf dan pengampunan bagi seorang pengkhianat!"
Katana Rei bersinar saat di terangi oleh cahaya bulan, Marika membulatkan matanya setelah mendengar hal tersebut. Kedua mata Rei berubah menjadi merah mengerikan layaknya predator yang siap menerkam mangsanya, sementara Amakawa ketakutan melihat Rei mendekat pada dirinya dan Marika.
Setelah itu jeritan terdengar di gelapnya malam yang di sinari cahaya bulan yang menerangi bumi saat gelapnya malam.
.
.
.
Di sebuah mansion mewah namun hawanya menyeramkan. Terlihat ada sosok Naruto yang sedang duduk di kursi singgasana bewarna emas dengan simbol kelelawar dibelakangnya.
Sebuah lingkaran sihir dengan gambaran petagram muncul di depannya, Naruto yang tadinya menutupkan matanya langsung membukanya kembali. Terlihat ada 3 sosok orang berjubah di hadapan Naruto dan mereka langsung menundukkan badannya hormat layaknya ksatria.
"Hormat kepada Tuan Muda!"
Ujar mereka secara bersamaan dengan nada penuh penghormatan dan tegas.
"Apa saja yang kalian dapatkan hari ini?"
Iris merah darah Naruto menatap datar mereka secara sekilas lalu menutup matanya kembali.
"Hamba menjawab Tuan Muda! Kokabiel sang Jendral Malaikat jatuh benar-benar ingin memulai kembali perang besar agung, Great War. Sesuai perkiraan anda dia akan membunuh pewaris iblis muda yang berada di Kuoh..." jawab sosok bawahan Naruto yang memakai masker hitam di wajahnya.
"Kokabiel memang sudah haus akan peperangan sejak dulu. Dia tidak terima jika hasil Great War yang berlangsung hingga bertahun-tahun itu hasilnya seimbang, dengan sifatnya itu dia adalah pion kita yang membuatku kita semakin maju" tukas Naruto pelan.
"Jika Kokabiel benar-benar membunuh pewaris iblis Sitri dan Gremory itu yang notabenenya adik dari Maou Leviathan dan Lucifer palsu itu, dengan sifat siscon mereka. Mereka tidak terima jika adik mereka terbunuh dan pasti akan mengibarkan bendera perang kepada Malaikat jatuh, melihat tempatnya menjadi peperangan Shinto tidak akan diam dan para Malaikat juga akan turun karena peperangan tersebut banyaknya korban dari manusia. Bukannya berhenti malah akan memanas peperangan tersebut karena kedua fraksi itu, hal itu akan membuat makhluk lain dan para fraksi akan turun tangan juga. Olympus di pimpin oleh Zeus, Nordik di pimpin oleh Odin, lalu Hindu yang di pimpin oleh Brahma, Wisnu dan Shiva pasti akan turut serta dalam peperangan itu. Peperangan itu akan menjadi peperangan terbesar dalam sejarah alam semesta yang pernah ada," ujar Naruto panjang lebar.
Ke-3 bawahan Naruto melebarkan mata setelah mendengarnya. Prediksi Tuan Muda mereka benar-benar hebat, bahkan dirinya saja masing-masing tidak akan sempat atau sampai untuk berpikiran jauh seperti itu. Jika benar-benar terjadi itu pasti peperangan terbesar yang ada di bumi nanti.
"Anda benar-benar hebat, Tuan Muda! Bahkan hamba saja tidak memikirkan sejauh itu" salah satu bawahannya memujinya.
"Tapi jika itu benar-benar terjadi, bukankah ras kita akan terlibat juga Tuan Muda?" tanya sosok pria bermasker itu.
"Tidak masalah, itu memanglah rencana kita. Yang penting buatlah terus kekacauan di segala tempat, Vampir memang tidak pernah akur dengan ras lain. Dengan ras sendiri saja sudah saling berselisih," jawab Naruto tenang.
"Perintahku adalah awasi gerak-gerik Kokabiel dan yang lainnya, pastikan jika itu berhasil atau tidak. Jika tidak maka kita harus melakukan plan B, pokoknya awasi saja mereka jika ada yang bermacam-macam" mata Naruto sedikit menajam dengan wajah datar.
"Baik Tuan Muda! Siap dilaksanakan!"
Ke-3 orang itu langsung pergi saat mendengar perintah Tuan Muda-nya dengan lingkaran sihir mereka.
"Semua berjalan sesuai perkiraanku,"
Naruto berdiri dari kursi singgasananya, lalu menuruni tangga pelan setelah berdiri dari kursi singgasana kebanggaan ayahnya dulu.
Tap! Tap! Tap!
Naruto berjalan menuju sebuah ruangan yang di tutupi sebuah pintu besar dan tinggi dengan hiasan kuno zaman Eropa masa dulu, dengan wajah datar nan dinginnya Naruto membuka pintu itu.
KRIIIIEEETTTTTTTT
BLAMM
Setelah terbuka, tanpa lugas Naruto langsung masuk dan secara ajaibnya setelah Naruto masuk ke ruangan itu pintu besar tadi tertutup kembali seolah ada yang menutupnya. Naruto di ruangan melihat sesuatu di sana, sesuatu yang indah juga menyakitkan. Sebuah patung pria dengan jubah khas Raja Vampir seperti di cerita-cerita Novel atau film, Naruto memandangi patung tersebut.
"Sekarang aku tahu bagaimana menjadi dirimu, kau yang selalu bekerja di dalam bayangan kegelapan dan membantu ras Vampir tanpa diketahui orang lain. Maka dari itu aku akan menuruti amanahmu..." Naruto memejamkan matanya.
"Kau memberikan segalanya untuk ras ini, tapi alhasil nya mereka berseteru merebutkan hal yang bodoh. Perjuangan Lord Dracula dan dirimu sia-sia karena mereka, tapi engkau tenang saja aku akan membereskan mereka,"
Naruto terus berbicara pada patung itu meskipun ucapannya tidak ada sahutan nya.
"Dan aku akan mencatat sejarah dalam dunia serta sejarah Vampir, bahwa aku adalah Vampir terkuat selain Lord Dracula dan dirimu..."
"... Ayah..."
Naruto membukakan matanya, aura merah darah menguar dari tubuhnya. Hawa dari ruangan itu semakin memberat dan iris ruby-nya menyorot tajam. Naruto menyeringai tipis hingga menampilkan gigi Vampir-nya yang tajam seperti hewan buas.
Di luar ruangan Mansion Naruto, para burung berterbangan kemana-mana setelah merasakan hawa yang tidak mengenakan, mereka berterbangan dengan ekspresi ketakutan sehingga mengeluarkan suara burung khas mereka sendiri.
.
.
.
Mansion of Carmilla, Rumania
Queen Carmilla's Throne Room
Deg
Seorang wanita cantik berambut putih tersentak kaget merasakan perasaannya yang tidak enak, bahkan rasanya sesak di dada sehingga wanita cantik itu memegang dadanya. Wanita cantik itu berpakaian gaun merah bangsawan dengan mahkota indah kepalanya.
"Anda kenapa Ratu?" seorang perempuan berambut putih menghampiri wanita cantik itu.
"Apa anda baik-baik saja?" tanyanya dengan raut wajah khawatir.
"Aku baik-baik saja, Elmenhilde-chan. Hanya saja perasaanku tidak enak" jawab sosok di panggil Ratu.
Dia adalah Ratu Vampir, Ratu Vampir dari fraksi Carmilla alias Her Majesty Queen Carmilla. Mungkin Vampir terkuat yang ada di fraksi Carmilla selain petinggi-petinggi Carmilla.
Sementara perempuan tadi yang bernama Elmenhilde atau Elmenhilde Karnstein nama lengkapnya, dia adalah gadis Vampir dari fraksi Carmilla yang mengabdi kepada sang Ratu Carmilla.
"Apa perasaan tidak enak yang Anda rasakan itu ada berhubungan dengan para burung yang berterbangan dengan ekspresi ketakutan itu?" tanya Elmenhilde yang melihat buru berterbangan di jendela ruangan mansion Carmilla.
"Entahlah El-chan, tapi kuharap ini bukanlah sesuatu yang buruk mengerikan terjadi" jawab Ratu Carmilla.
'Aneh sekali, mengapa dadaku sesak sekali. Perasaan ini sama saat suamiku meninggalkanku dulu tapi ini lebih sesak dan sangat sakit, apa yang sebenarnya terjadi oh My Lord Dracula?' batin Ratu Carmilla sambil mengigit bibir bawahnya.
Sang Ratu Carmilla menghela nafasnya untuk menenangkan dirinya, lalu menatap Elmenhilde dengan serius.
"Lupakan soal tadi, sekarang apa saja yang kau dapatkan dari fraksi Tepes dari mata-matamu El-chan? Apa yang mereka rencanakan?" tukas Ratu Carmilla.
Elmenhilde yang mendengarnya sedikit tertegun, lalu pandangan matanya menjadi sendu dan lirih.
"Mereka..."
.
.
.
Helheim
Helheim salah satu dari tempat mitologi Nordik, tempat ini adalah tempat terburuk di wilayah Nordik berbagai kejahatan tersebar di wilayah ini. Pencuri, pembunuhan, dan orang-orang yang di anggap tidak terhormat menjalani kehidupan setelah kematian.
Bisa dibilang ini adalah Neraka wilayah Nordik. Yang di pimpin oleh Hela, salah satu anak Loki dan cucu dari Odin, ia memiliki wujud layaknya zombie dengan dress hitam yang kusut. Sang ratu penguasa neraka itu memejamkan matanya yang berada duduk di kursi singgasana
"Lama tidak berjumpa Hela..."
Suara langkah kaki dan suara pria dewasa terdengar oleh Hela, membuka mata hitamnya yang kusut Hela dapat melihat ada seorang pria dewasa kemari. Pria dewasa itu berambut putih panjang lurus dan berpakaian serba putih, ia juga di dampingi oleh serigala raksasa bewarna ungu.
"Ayah, kenapa kau datang kemari?" dengan suara mengerikan Hela bertanya.
"Apakah begini sambutan Ayah ke tempatmu, Putriku?" tukas pria dewasa itu.
Yah, dia adalah Loki ayah dari Hela. Dewa Api, Muslihat, Kekacauan dan Kejahatan dari Asgard. Dan serigala di sebelahnya adalah Fenrir sebuah makhluk yang bisa membunuh Dewa dengan taringnya, bahkan rumornya ia juga bisa membunuh Odin dan juga Kami-sama (Anime), Fenrir juga salah satu anak Loki dan saudara dari Hela.
"Memangnya apa yang kau bicarakan denganku Ayah?" tukas Hela datar.
"Oh ayolah Hela, berhenti bersikap dingin kepada Ayah mu ini. Dan juga aku ingin berbicara Putri kecilku yang sesungguhnya, jadi aku mohon padamu berhentilah menggunakan wujud zombie mu itu dan aku mau berbicara serius padamu. Aku mohon ini permintaanku sebagai Ayah mu" ujar Loki dengan wajah memelas.
"Huh... Baiklah," Hela menghela nafas kemudian.
Tubuh Hela tampak bercahaya bewarna putih menyilaukan mata Loki, setelah cahaya hilang Loki bisa lihat ada seorang perempuan dewasa cantik berambut putih lurus pakaian dengan gaun merah, matanya merah juga namun indah. Ia juga memakai sepatu Hak tinggi bewarna merah serasi dengan gaunnya yang anggun.
(Note : bayangkan aja Hela wujudnya kaya Moka Akasha yang berwujud Vampire-nya)
Lalu ruangan Hela pun berubah menjadi ruangan makan mewah dengan desain khas Eropa yang mewah, Loki yang melihatnya tersenyum karena melihat wujud sebenarnya dari anaknya itu dari sekian lamanya.
"Nah, kalo begitu enak? Rasanya aneh jika aku bicara dengan zombie. Apalagi zombie itu adalah Putri kecilku" tukas Loki tersenyum sambil duduk di salah satu kursi meja makan itu.
"Cih, jangan panggil aku dengan panggilan itu. Umurku saja seribu tahun lebih Ayah" ujar Hela tidak suka.
"Hahahaha. Meskipun begitu kau tetaplah Putri kecilku, kau adalah anak kesayanganku selain Fenrir" Loki tertawa kecil.
"Bilang saja kau sayang sama kekuatannya yang besar." Hela bergumam menatap tidak suka ayahnya dan Loki hanya tertawa kecil saja.
"Jadi apa yang kau bicarakan denganku, Ayah?" tanya Hela to the poin sambil duduk di salah satu kursi.
Loki hanya menghela nafas saja saat salah satu anaknya ini langsung to the poin, di bandingkan dengan anak-anaknya yang lain Hela lah yang sulit di atur karena memiliki jiwa rebel yang kuat di dirinya.
"Ayah pernah menjodohkanmu dengan seseorang bukan? Dan sekarang aku ingin kau menjalin hubungan dengannya sekarang"
Hela terperanjat kaget mendengar ucapan ayahnya. Dia lalu bangun dari kursinya menatap marah ayahnya itu.
"Apa maksudmu Ayah?! Meskipun kau pernah menjodohkanku dulu tapi aku menolaknya. Titik, tanpa koma." ujar Hela tegas.
"Kau ingin mengalahkan Odin bukan?" tanya Loki.
"Tentu saja, aku ingin sekali mengalahkannya karena aku benci dia. Aku tidak pernah lupakan apa yang dia lakukan padaku dan kalo perlu aku akan menghancurkan Asgard yang dia bentuk selama ribuan tahun itu, supaya dia tahu rasa sakit yang kurasakan dulu!" desis Hela tajam.
"Nah, kalau kau ingin mengalahkan Odin kau perlu bantuan atau sekutu. Odin memang tua tapi kekuatannya tetaplah besar meskipun beberapa artefaknya yang hilang, bahkan aku saja tidak bisa mengalahkan si tua bangka itu dengan bantuan saudaramu ini juga..."
Loki mengelus kepala Fenrir dan serigala raksasa itu hanya menikmatinya saja sambil memejamkan matanya.
"... Dan belum lagi Odin memiliki anak-anaknya di sisinya seperti Thor dan Baldur, jadi sangat sulit mengalahkan si tua bangka itu. Bahkan kau saja tidak bisa mengalahkannya Putriku!" Loki memejamkan matanya sambil mengelus kepala Fenrir.
"Cih."
Hela hanya berdecih tidak suka saja. Memang benar jika dirinya tidak bisa mengalahkan pemimpin para Dewa Nordik itu, bahkan ia pernah mengarahkan seluruh pasukan kematiannya untuk menyerang Asgard namun hasilnya gagal dan ia harus kalah oleh Odin lalu kembali ke tempat ini untuk memulihkan keadaannya.
"Maka dari itu kita butuh bantuan untuk mengalahkan si tua bangka itu. Tapi harganya mahal sekali, maka dari itu aku menjodohkanmu dan ia akan menjadi tunanganmu" ujar Loki santai.
"Jadi kau menjualku Ayah?!" ujar Hela murka.
"Secara sudut pandangan kurasa begitu," tukas Loki santai.
"Tapi Ayah tetap menyayangimu kok, Putri kecilku..."
"KAU..."
Baru saja Hela mau memarahi ayahnya namun terpotong karena melihat sebuah lingkaran sihir di sebelah Loki, lingkaran sihir itu bewarna merah darah dan Loki hanya tersenyum saja melihat lingkaran sihir itu. Hela tampak terkejut merasakan aura sesak dan gelap dari dalam lingkaran sihir itu.
Lingkaran sihir itu mengeluarkan seorang pemuda berambut hitam agak acakan, memiliki iris merah darah yang menyala dan memberikan seringai tipis di ujung bibirnya. Pemuda memakai jubah bangsawan hitam tanpa hoodie dengan akses-akses mewah di jubahnya.
"Kau juga datang juga, Naruto..." tukas Loki tersenyum kepada Naruto.
"Perkenalkan namaku Naruto, aku adalah Hybrid Vampire. Salam kenal Lady Hela dan senang berjumpa denganmu..." pemuda itu memperkenalkan dirinya.
"... Tapi orang-orang lebih mengenalku sebagai, Blackness..."
To be Continue
Sudah lama gak update lagi, akhir-akhir ini juga dunia fanfic semakin sepi yah :(
Tapi semoga saja ke depannya fanfic bisa ramai seperti dulu lagi, mumpung bentar lagi mau puasa.
Lalu ada yang tahu siapa pemimpin Hindu di DxD itu siapa? Kalo tahu beritahu yah, soalnya aku gak tahu nih kalau kalian penasaran cerita wattpad kakak aku, kalian tinggal cari judul Comeback to Live Again, aku terinspirasi nya di sana
