ALL CHARACTERS ARE NOT MINE (CERITA INI CUMAN FIKSI)

.

.

.

.

.

.

.

(arc Menma dan sebuah hubungan yang rusak)

karena kecanduan bermain gim di game center, Menma tidak sadar memanfaatkan kebohongannya terus menerus pada Naruto.

Naruto juga tidak menyadari, kalau Menma terus meminta agar uang jajannya ditambah. Naruto ingin memanjakan Menma, terlebih lagi akhir-akhir ini dia terus memikirkan Tokiomi yang ingin mengambil adiknya.

namun, Norman yang menaruh curiga dari awal dengan sikap Menma yang terlihat janggal. sejujurnya, Norman hanya tidak tega melihat Naruto terlihat lelah sepanjang waktu karena bekerja lebih keras karena pengeluaran mereka yang membengkak.

"abang, apa abang kerja di tempat lain lagi?" tanya Norman yang mengantar Naruto di depan pintu.

Naruto membenarkan topinya. tangannya mengusap kepala Norman dan tersenyum manis.

"tenang saja, abang akan pulang sebelum larut malam"

Norman sedih, dia tidak tau bagaimana cara membantu meringankan beban Naruto, kakaknya hanya pulang memasak makan malam untuk mereka, lalu dia kembali bekerja.

"tolong jaga saja adik-adikmu, abang akan segera pulang" Naruto memakai sepatunya dan segera pergi, dia melambaikan tangannya.

Norman berdiri kaku di dekat pintu, dia tidak beranjak dari sana meski Naruto sudah pergi. Norman mengepalkan tangannya erat. dia tidak tega melihat Naruto terus berjuang.

meski umurnya masih muda, dia sudah mengerti bagaimana kerasnya kehidupan, dia seakan dipaksa dewasa oleh keadaan. Norman sudah melihat itu dari ibunya dulu. dia sedih ketika dia tidak bisa melakukan apapun.

.

.

Norman tidak bisa tertidur, hari sudah hampir larut, tapi Naruto belum kunjung pulang. Menma dan Filo sudah terlelap, meski Filo terlihat kurang nyaman tidur, mungkin karena tidak ada Naruto yang memeluknya.

Norman melirik jam dinding yang terletak diatas pintu, kalau dia masih ingat, tempat kerja Naruto yang baru akan tutup sepuluh menit lagi. Norman ingin menunggu Naruto.

namun, sudah lewat dua puluh menit, Naruto tidak kunjung pulang. seharusnya dia tiba dirumah. Norman gelisah memikirkannya. dia takut jika terjadi sesuatu pada kakaknya.

hampir tiga puluh menit menunggu, Norman mendengar suara pintu apartemennya terbuka. dengan perlahan Norman turun dari tempat tidur dan menghampiri Naruto.

"abang, kenapa kamu pulang terlambat?" Norman langsung menyerbu Naruto dengan pertanyaan cemas.

rasa khawatir tidak bisa di sembunyikan Norman. Naruto terlalu banyak memforsir tenaganya dalam bekerja.

di balik wajah lelahnya, Naruto tersenyum lembut. dia mengambil kepala Norman dan mengusapnya.

"kenapa kamu belum tidur, hmm?"

Norman tersentak, dia mengalihkan pandangannya.

"aku hanya merasa khawatir karena abang telat pulang"

"sekarang aku sudah pulangkan, tidurlah. abang akan segera menyusul" Naruto membalikkan tubuh Norman dan mendorongnya sedikit kedepan agar adiknya kembali ke kamar.

tetapi Norman tidak menuruti kakaknya, dia kembali berbalik dan menatap Naruto serius.

"abang, bisakah kamu berhenti bekerja sampai larut malam. abang tidak perlu memaksakan diri seperti ini" Norman berkata dengan tegas, meski yang Naruto tangkap hanya ucapan polos seorang anak kecil.

namun, Naruto tidak mengabaikannya, dia terharu dengan kepedulian Norman. dia sangat menghargainya.

Naruto berlutut di hadapan Norman, menyamakan tubuhnya dengan adiknya, kedua tangannya memegang pundak Norman.

"abang baik-baik saja, kamu tidak perlu memikirkan yang lain. biar abang yang melakukan semuanya"

Norman mengatupkan bibirnya, sifat Naruto yang ini adalah sesuatu hal yang di bencinya, selalu memaksakan diri dan selalu berbohong akan keadaan dirinya sendiri.

"apa abang akan selalu mengatakan baik-baik saja meski sedang lelah? apa abang akan terus diam meski butuh tempat untuk bercerita? aku tau semuanya, abang selalu mengabaikan keinginan abang, kan. aku mohon berhenti saja, abang" Norman mengeluarkan semua keluh kesah di hatinya, dia tidak tahan, sungguh.

Naruto selalu berkata baik di tengah rundungan hatinya yang terluka.

Naruto terdiam, terkejut mendengar Norman yang marah. perlahan tangannya terlepas dari kedua bahu Norman.

tatapannya tertunduk, sulit menatap mata adiknya yang memaksanya untuk jujur. bahu Naruto melemas sejenak, dia mendekatkan dirinya pada Norman.

Naruto menyandarkan kepalanya pada bahu Norman.

"jika kamu menyuruh abang berhenti bekerja, bisakah kamu juga berhenti menyuruh abang untuk menjadi dewasa lebih cepat?"

Naruto merasa sudah menjadi gila, mengatakan itu pada anak berusia sembilan tahun.

"kamu jangan cepat dewasa, akan menyakitkan jika semuanya terjadi di luar keinginanmu" Naruto tidak menarik dirinya dari bahu kecil Norman. "sebagai laki-laki, sebagai kakak, sebagai pembimbing, sebagai orang yang bertanggung jawab, sebagai orang menghidupimu, tidak pantas mengucapkan 'lelah', semuanya sudah menjadi tugasku, yang perlu kamu lakukan sekarang adalah melakukan semuanya sesuai keinginanmu"

setiap hari, setiap jam, setiap menit, setiap detik, Naruto ingin berhenti, dia mau semuanya berubah dalam sekejap, ingin memulai dari awal dengan keadaan yang berbeda. tapi dia seperti terbelenggu dengan keadannya sekarang.

menjalani hari yang berat membuat Naruto bisa menjadi gila, dia merasa waras karena adik-adiknya yang berharga.

"abang hanya bisa memilih membahagiakan kalian daripada berhenti sekarang"

Naruto menarik kepalanya, dia menatap Norman yang sudah menangis. dia tersenyum lembut.

"kamu anak yang baik, abang hanya ingin, kamu membantu abang merawat mereka"

Naruto menarik Norman dalam pelukannya, membiarkan adiknya menangis. dia merasa terpukul.

"ah, aku lebih suka menghabiskan waktu bersama kalian" gumam Naruto pelan.

-o0o-

"CUT! waktunya istirahat"

mendengar itu dari sutradara, Mai menghela nafas lega, setelah menghabiskan waktu cukup lama berlaga di depan kamera, meskipun begitu ini tetap pekerjaannya.

Mai duduk di kursinya dan mengipasi dirinya karena merasa gerah.

"lapar?" Haruka datang dan memberi sebotol air mineral untuk Mai.

"lumayan"

"mau makan dimana?"

Mai berpikir, mencari tempat yang pas.

"bagaimana kalau sambil jalan saja, aku bingung"

Haruka mengangguk maklum. keduanya keluar untuk mencari makan. selama perjalanan, Mai sibuk melihat jalanan yang di kendarai Haruka.

"ada apa, Mai?"

Haruka tidak tahan dengan suasana hening yang terjadi diantara mereka berdua. Mai terlihat murung akhir-akhir ini, beruntung suasana hati Mai tidak ikut terbawa dalam pekerjaannya, gadis itu tetap profesional.

"tidak ada"

"memikirkan pujaan hatimu lagi"

Mai reflek menatap Haruka.

"apa maksudmu, jangan mengatakan sembarangan" Mai berusaha mengelak, tapi Haruka sudah mengetahui.

Haruka mengenal Mai cukup lama, dia sudah paham jika Mai bersikap seperti sekarang ini.

"lalu kenapa wajahmu memerah"

Mai membuang muka, menolak menatap Haruka.

"karena panas"

"aku sudah memasang pendingin mobil"

Mai bungkam, tidak lagi membalas ucapan Haruka, dia bisa mendengar suara asistennya tertawa. Mai berusaha mengalihkan pikirannya dari laki-laki yang seenaknya mengambil perhatiannya akhir-akhir ini.

tatapan Mai kembali ke jalanan, dia sibuk memikirkan sesuatu hingga seseorang yang terlihat familiar, duduk meringkuk di seberang jalan tidak jauh dari sebuah mesin minuman yang ada di sampingnya. mata Mai membulat.

"Haruka, hentikan mobilnya" Mai hampir meneriaki Haruka yang terkejut lalu menginjak rem secara tiba-tiba. beruntung jalanan sedang sepi jadi tidak menimbulkan kecelakaan beruntun.

"Mai, kamu apa-apaan sih..."

Mai tidak mempedulikan ucapan Haruka, dia segera keluar dari mobil dan pergi ke seberang jalan.

"ada apa lagi" Haruka menepikan mobilnya terlebih dulu sebelum menyusul Mai.

Mai menghampiri sosok yang di lihatnya, dia masih disana, berjongkok, melipat kedua tangannya diatas lutut dan menyembunyikan wajahnya di lengannya.

"Norman" Mai meraih bahu Norman agar memperbaiki posisinya dan bisa melihatnya. "apa yang kamu lakukan disini?" tanya Mai cemas. dia memeriksa tubuh Norman, takut adik Naruto terluka.

Norman hanya menatap Mai kosong, ada jejak air mata yang tersisa dari matanya.

"kakak Mai..."

Mai dengan lembut mengusap pipi Norman.

"tenang ada kakak disini, kamu berdiri dulu" Mai membantu Norman untuk berdiri.

"kamu kenal dengan anak ini, Mai?" Haruka bertanya yang baru saja tiba.

Mai hanya mengangguk.

"lebih baik kamu ikut kakak dulu di tempat yang lebih tenang, nanti ceritakan semua saja padaku"

Norman tampak ragu.

"tapi..."

"tenang saja, aku yang akan mengantarkanmu pulang"

Mai membawa Norman bersamanya.

.

.

-Restoran-

"ada apa? kenapa kamu tidak makan, kamu sakit?" Mai bertanya pada Norman. sudah hampir lima menit sejak makanan mereka telah siap. tapi Norman hanya menatap makanannnya tanpa berniat memakannya.

wajah Norman terlihat tidak enak.

"kakak Mai, sepertinya ini makanan mahal, aku tidak punya uang untuk membayarnya"

ucapan Norman mengejutkan Mai dan Haruka. Mai berdehem pelan.

"aku yang membawamu kesini, tentu saja aku yang membayarnya, tenang saja"

Haruka tidak mengeluarkan suara, dia hanya diam mengamati.

tapi Norman tidak puas, sebagai anak yang tumbuh sederhana, makanan ini terlalu berat baginya. dia hanya biasa makan seadannya yang di siapkan Naruto, tapi bukan berarti tidak enak dan bergizi, hanya saja makanan itu begitu mahal di matanya. terlihat dari tempat makannya yang terlihat mewah.

"kamu makan saja, kamu pasti laparkan" Mai menyumpitkan beberapa daging dan meletakkan diatas piring Norman. "makanlah"

Norman mengambilnya dan memakannya dengan penuh keraguan. sesaatnya matanya terbelalak karena merasa sesuatu yang asing memenuhi lidahnya.

"enak..." ucap Norman pelan, rasanya enak, meski tidak bisa di sandingkan dengan masakan Naruto, tapi rasa enaknya terlihat berbeda.

baru kali ini Norman makan makanan enak seperti ini, rasanya sangat mewah. Norman menatap Mai dengan berbinar.

"kakak Mai, apa aku bisa membungkus setengahnya? aku ingin Filo dan Menma makan ini juga" Norman berkata dengan antusias. dia melupakan rasa segan di hatinya tadi, dia ingin saudaranya yang lain memakan makanan mahal ini.

"bo-boleh" Mai hanya terkejut dengan reaksi Norman. "sebenarnya apa yang dia makan selama ini?" Mai bermonolog.

Norman ingin membagi porsi makannya agar bisa di bungkus dan di bawa pulang, tapi Mai memegang tangannya, menghentikannya.

"tidak perlu, kamu makan saja semuanya, nanti kita pesan yang baru untuk Filo dan Menma"

Norman menatap Mai, lalu tersenyum senang.

"terima kasih kakak Mai"

Norman menghabiskan makanannya dengan perasaan baru, dia menikmatinya.

"jadi..." Mai menaruh sumpitnya diatas piringnya yang telah kosong, menatap Norman dengan serius, "kenapa kamu menangis di pinggir jalan, apa ada orang menganggumu di sekolah?"

tatapan Norman kembali menjadi kuyu, dia kembali teringat dengan sesuatu yang membuatnya sedih. dengan pelan dia kembali meletakkan sendoknya diatas piring.

"aku kasihan pada abang"

Mai hanya mengerutkan keningnya, dia memandang Haruka yang ikut memandangnya, lalu kembali menatap Norman.

"ada apa dengan Naruto?"

Norman tidak langsung memberikan jawaban, tatapannya menunduk, dia memainkan tangannya, perasaannya penuh dengan kebimbangan. Mai yang paham akan perasaannya, mengambil duduk di samping Norman, merangkulnya dan memegang tangannya, bermaksud menenangkannya.

"tenang, ceritakan saja semuanya"

Norman mengangguk dan kembali melanjutkan ceritanya.

"akhir-akhir ini abang terlalu sibuk, dari pagi hingga hampir larut malam, abang hanya pergi bekerja. kata abang dia melakukan ini untuk aku, Menma dan Filo. tapi aku tidak ingin abang sakit" Norman mengenggam kedua tangannya, dia merasa gelisah. "...karena abang terlalu sibuk mencari uang, abang juga bilang akan berhenti sekolah dan fokus mencari uang"

"APA?!" Mai tidak sadar berteriak karena terkejut, tatapan orang beralih padanya. Haruka yang bertindak cepat dan meminta maaf pada orang-orang sebelum memberikan pelototan mata Mai.

"maaf..." Mai kembali menatap Norman yang juga memberikan tatapan heran. "memangnya kenapa harus sampai berhenti sekolah?"

di dalam hati Mai ingin memarahi seseorang dan ingin memberikan kata-kata mutiara yang tidak mungkin dia lupakan dalam waktu dekat.

"aku juga tidak mengerti, akhir-akhir ini abang bilang ingin membahagiakan kami, abang juga bilang, jika kami butuh sesuatu, katakan saja pada abang. tapi aku tidak membutuhkan apapun, aku hanya ingin abang tidak terlalu banyak bekerja"

ketika Naruto mengatakan itu, Norman tidak benar-benar senang, berbeda dengan Menma yang menyambut perkataan Naruto. bahkan Menma sering meminta tambahan uang jajan.

Naruto tidak merasa keberatan sama sekali. tapi Norman tidak merasa nyaman. jujur, dia ingin dimanjakan oleh Naruto tetapi bukan seperti Naruto yang berkorban hingga memaksakan diri.

"aku hanya ingin abang baik-baik saja" tidak sadar, air mata Norman kembali jatuh. dia menjadi saksi jika Naruto butuh sandaran, bersikap kuat padahal terlihat rapuh.

Norman menyayangi Naruto, walau tidak memiliki darah yang sama. Naruto adalah sesosok kakak yang diinginkan banyak orang. Norman bersyukur bahwa Naruto yang menemukan dan mengasuhnya.

sejak dia dirawat oleh Naruto dengan baik, timbul di hati Norman ingin membalasnya lebih besar dari yang dia lakukan sekarang. bagi Norman, Naruto seperti ayah, kakak, teman pengganti baginya.

tapi akhir-akhir ini, Norman melihat dalam diri Naruto bahwa kakaknya sedang berjuang sendirian. dari matanya Norman bisa melihat, Naruto sedang menderita dari dalam.

"jadi kakak Mai, tolong bantu aku. aku juga ingin bekerja, membantu abang mengumpulkan uang"

Norman tidak mengerti kenapa Naruto terlihat ingin sekali mengumpulkan uang sebanyak yang dia bisa.

meski dia sudah berusaha berpikir dewasa, tetapi Norman masihlah anak-anak. belum terlalu mengerti kerasnya kehidupan.

Mai dan Haruka tertegun, tidak bisa mengeluarkan sepatah kata.

Mai mengangkat tangannya dan mengarahkan pada kepala Norman dan mengelusnya dengan lembut.

"aku menghargai keinginanmu, tapi maaf untuk bekerja kamu belum bisa. umur kamu bahkan belum mencapai usia remaja"

Norman merasa sangat sedih lebih dari sebelumnya. dia sangat tau, sangat mustahil bekerja di usianya yang sekarang, dia tidak bisa bekerja. tapi dia ingin menyerah.

Norman berdiri dari duduknya dan berlutut diatas lantai.

"kakak Mai, tolong bantu aku"

"Norman, apa yang kamu lakukan?" Mai terlihat panik, apalagi orang-orang menatap mereka. Haruka juga ikut panik, dia menghampiri Norman.

"kamu berdiri dulu" Mai berusaha menarik Norman, tapi sepertinya bocah masih gigih dengan keinginannya.

"tidak sebelum kakak Mai mau membantuku"

Mai menghela nafas pelan.

"Norman, dengar..."

"aku akan membantumu" Haruka menyela.

Norman dan Mai menatap Haruka yang menatap keduanya serius. berbeda dengan Norman yang terlihat senang, Mai menatap Haruka tajam.

"tapi kamu berdiri dulu" Haruka membantu Norman berdiri.

Norman dengan cepat berdiri dan memasang wajah senang.

"Haruka!" Mai yang terlihat tidak setuju dengan tindakan asistennya.

"Mai dia terlihat serius, kenapa kita tidak membantunya" Haruka merasa tersentuh dengan keinginan Norman.

"tapi dia masih kecil" Mai membantah.

Haruka hanya tersenyum, "bukankah kamu juga sudah bekerja di usia yang sangat muda"

mulut Mai sedikit terbuka, tidak tau mematahkan ucapan Haruka.

"kita hanya perlu membantu sebisanya" Haruka menatap Norman yang masih terlihat berharap, dia tersenyum.

"jangan bilang..." Mai ingin menebak tapi Haruka hanya memberikan kedipan sebelah matanya.

-o0o-

Filo sudah bosan menunggu kedua kakaknya yang tidak kunjung datang. hari sudah semakin siang.

seharusnya jadwal kepulangan Norman dan Menma sudah selesai sejam yang lalu, tetapi tidak ada tanda-tanda kakak-kakaknya akan datang.

bahkan sudah pergantian kelas, tetapi mereka belum datang, Filo menjadi kesal.

"lho, kamu belum pulang Filo?"

netra Filo menemukan Atena yang sepertinya pulang dari kampusnya, dia menghampiri gadis itu.

"Atena-nee, kakak Norman dan kakak Menma belum datang" adu Filo yang membuat Atena terkejut.

hari sudah semakin siang tapi mereka belum juga datang menjemput Filo. Atena mengerutkan keningnya, tidak biasanya mereka terlambat.

Atena menyuruh Filo menunggu sebentar, dia ingin menghubungi Naruto. dia khawatir dengan kedua adik Naruto yang lain. tidak biasanya mereka terlambat datang lebih dari ini.

.

.

.

Naruto berlari dengan tergesa-gesa memasuki gedung himawari, dia tidak mempedulikan yang lainnya. pikirannya tertuju pada adik-adiknya.

"abang!" Filo berlari dengan perasaan senang melihat Naruto datang. dia memeluk Naruto.

Naruto hanya tersenyum dan membalas pelukan Filo sebelum memberikan tatapan cemas pada Atena.

"apa mereka tidak benar-benar datang kesini?"

"aku tidak tau, Naruto-kun, tapi kata Ayame-san. mereka belum datang" Atena merasa ibabmelihat wajah frustasi Naruto.

"terima kasih informasinya Atena-san, tapi bisakah aku menitip Filo. aku harus mencari mereka" Naruto melepas pelukannya pada Filo. dia akan memberikan adiknya pada Atena.

"tidak apa-apa, aku juga khawatir pada mereka"

"maaf aku merepotkanmu lagi, Atena-san" Naruto merasa tidak enak.

"kamu ini ngomong apasih Naruto-kun. aku tidak keberatan sama sekali. dan tolong cari mereka"

Naruto mengangguk, dia hendak pamit dan pergi tapi Filo menahan tangannya.

"hati-hati abang"

Naruto tersenyum, dia mencium kening dan pipi Filo.

"abang akan hati-hati, untuk Filo"

Filo mengangguk senang, dia melambaikan tangannya pada Naruto yang mulai menjauh.

-o0o-

Menma mendesah kesal, dia ingin pulang, menjemput Filo dan makan siang buatan abangnya lalu tidur siang.

tapi pria tua yang kemarin menghadangnya, kini lagi-lagi menahannya. Menma menjadi kesal, selain karena dia tidak suka orang asing, paman itu bertingkah sok akrab dengannya.

"aku mau pulang" ucap Menma kesal.

"eh, tunggu dulu, paman masih ingin berbicara denganmu" Shinji berusaha menahan Menma lebih lama lagi.

Menma berdecak sebal, dia benar-benar tidak suka dengan sifat pemaksa Shinji, sangat bertentangan dengan sifatnya yang tidak suka di paksa.

"aku tidak mau, aku tidak kenal dengan paman" Menma benar-benar merasa jengkel.

"loh, kakakmu tidak bilang soal paman, yah" Shinji tersenyum tipis ketika melihat sedikit perubahan dari raut dari Menma.

"apa maksud paman?"

Shinji tersenyum, lalu memasang wajah pura-pura sedihnya. "ternyata Naruto tidak memberitahumu yah?" Shinji mendekati Menma yang kini sudah terlihat jinak. "aku ini pamanmu loh, Naruto kenal dengan aku"

Menma terlihat terkejut, dia menepis tangan Shinji yang memeganginya.

"bohong" ucap Menma tidak percaya. masa paman urakan dan ganas ini punya hubungan darah dengannya. itu terlihat mustahil.

"masa paman bohong, sih. paman ini tidak mungkin bohong sama keponakan om sendiri. aku juga kenal ayah dan ibumu" Shinji mengusap kepala Menma dan berusaha senyum senatural mungkin.

"selain paman, kamu juga masih punya keluarga lain lho, paman ingin memberitahumu, tapi kamu tidak ingin berbicara pada paman" Shinji mundur sedikit, lalu menutup wajahnya. dia mengintip dari balik jari-jarinya yang terbuka melihat ekspresi Menma. dia menyeringai.

"kalau kamu berubah pikiran, datang ke paman yah, paman akan ceritakan sama kamu. kakakmu menutupi ini darimu, yasudah, paman pergi dulu" Shinji meninggalkan Menma yang masih terdiam. dalam hati Shinji tertawa jahat.

"dasar bocah, kau pikir kau berhadapan dengan siapa, hah? tunggu saja dan lihat bagaimana kau sendiri datang padaku" monolog Shinji.

sementara Menma yang mendengar semuanya, mengepalkan tangannya. apa ini? dia masih punya keluarga lain? kalau dipikir-pikir, mana mungkin juga dia tidak punya kerabat sama sekali. sebenarnya mana yang harus di percayai.

"aku harus menanyakan ini pada abang" Menma berlari menuju rumahnya. dia melupakan sesuatu yang penting.

-o0o-

Naruto tidak bisa mengucapkan apapun, hanya tatapan matanya yang terlihat lelah. dia mendapatkan kabar dari Atena bahwa adik-adiknya telah kembali kerumah ketika gadis itu ingin mengantar Filo kerumah.

tidak tahukah mereka, Naruto seperti orang gila mencari mereka kesana kemari. dia hampir ke kantor polisi untuk membantu mencari adiknya.

"ada yang bisa jelaskan pada abang, dari mana kalian berdua?"

Norman dan Menma duduk di seiza di hadapan Naruto, keduanya tidak berani bersuara dan menatap Naruto. Filo hanya menyaksikan kedua kakaknya dari atas kasur. dia ikut terdiam.

Naruto marah namun selebihnya dia lega karena melihat adik-adiknya dalam keadaan baik- baik saja. tapi dia menyalahkan dirinya yang lagi-lagi merasa lalai. Naruto benar-benar ketakutan ketika mendapat kabar mereka yang tidak kunjung datang.

dia tidak fokus dan pikiran buruk terus menghantuinya.

"maaf, abang" Norman dan Menma hanya mengucapkan itu. mereka juga benar-benar melihat kemarahan Naruto.

"sudahlah Naruto-kun, kasihan mereka" Atena menegur sikap Naruto, melihat wajah penyesalan pada Norman dan Menma.

Naruto menghela nafas panjang, dia merasa sangat lelah hari ini.

"maaf merepotkanmu, Atena-san"

Atena hanya tersenyum. "aku sudah bilang tidak apa-apa"

Atena mengambil meja kecil Naruto dan kembali ke dapur dan membawakan makanan yang di sudah di masaknya.

"lebih baik kita makan siang dulu" Atena menata makan buatannya.

Naruto menatap Norman dan Menma terakhir kalinya, "lain kali, jika kalian terlambat pulang, bilang pada abang. abang hanya khawatir"

Norman dan Menma saling pandang sebelum mengangguk.

"yasudah, ayo kia makan"

Filo mengambil posisi duduk di pangkuan Naruto. Atena hanya tersenyum melihat mereka makan dengan lahap.

"masakan Atena-sensei, benar-benar enak" ujar Menma.

"ara~ terima kasih atas pujiannya Menma-kun"

"apa itu lebih dari enak dari masakan abang"

"masakan abang juga enak kok" timpal Filo

"karena Atena-sensei baru jarang masak buat kami" celetuk Norman

"ufufu~ apa Naruto-kun cemburu"

"tolong jangan memanaskan suasana, Atena-san"

Atena hanya terkekeh.

Menma yang memandang keduanya terdiam, dia kembali teringat ucapan Shinji, dia menatap Naruto.

"abang"

tatapan mereka beralih pada Menma.

"ada apa Menma?" Naruto menatap Menma sejenak, sebelum kembali menatap makanannya.

"apa aku boleh bertanya?" tanya Menma ragu.

"boleh, mau tanya apa?"

Menma menarik nafas sejenak.

"apa kita punya keluarga lain?"

gerakan tangan Naruto terhenti, tubuhnya mendadak kaku, sorot matanya benar- benar memperlihatkan dirinya yang terkejut, suasananya menjadi hening.

Naruto menatap Menma shock.

"a-apa?"

to be continued

Selamat menjalankan ibadah puasa bagi teman-teman yang muslim