a BTS fic

Choose Me

.

.

I'm alright, even if I can't have you.

.

.

Cast : BTS's Member

Pair : KookV ; HopeV ; JiminV ; Slight MinYoon ; Slight NamJin

Rate : T maybe will change into M for safe

.

.


Pt.3 Too Bad, Too Sweet

.

Taehyung menarik senyum sedikit di wajah saat menatap layar smart phone nya yang berdengung repetitif memunculkan nama Hoseok-hyung dilayar. Laki-laki yang baru ditemuinya selepas malam tadi, pagi ini meneleponnya. Menggeser ikon berwarna hijau ke samping, Taehyung sedikit berdeham untuk setelahnya menyahut.

"Hei,"

"Selamat pagi, Tae."

"Pagi juga, Hyung."

"Sudah bersiap untuk penerbangan? Yang katanya kemana itu?"

"Bangkok, asistenku sedang menyiapkan semuanya."

"Belum berangkat, ya?"

"Belum, bagaimana pagimu?"

"Biasa saja, angin pagi masih membuatku sedikit bersin tadi. Kau, hyung?"

"Merindukanmu."

"Astaga pagi-pagi sudah begini."

"Aku sungguhan, Tae"

"Okay, rindunya diterima."

"Kau semalam keluar dengan seseorang?"

"Tidak juga."

"Hmm."

"Kau tak percaya?"

"Katakan bagaimana caranya aku bisa percaya kalau pekerjaan malammu masih sama."

"Hyung, aku tidak pernah mengambil tamu aneh-aneh lagi sekarang."

"Tapi kemarin kau mau menemuiku untuk tamumu, Tae."

"Memangnya kau aneh-aneh, Hyung?"

"Aku biasanya suka berbuat aneh-aneh denganmu."

"Aha.. bukan, bukan aku tidak melakukan itu kemarin."

"Karena?"

"Aku tidur dengan orang butuh mood."

"Kalau aku bisa membuatmu mood tidak?"

"Mungkin ya, dan padahal kemarin aku cukup mood, tapi kau pergi."

"Kau mau membuatku menyesali perjalananku nanti?"

"Hyung, sarapanlah dulu." Taehyung terkekeh, lalu menyahut dengan cepat.

"Aku harusnya sarapan kau pagi ini."

"Itu tidak akan membuatmu kenyang, kau tau. Karena dagingku bisa kau gigit tapi tak bisa kau telan, kecuali kau kanibal."

"Untuk kebutuhan pagi boleh juga, setelah itu kita bisa sarapan bersama."

"Tapi, dapat dipastikan sebelum sempat makan kau akan ditendang Seokjin-hyung karena jam kerjaku sudah habis."

"Bagaimana caraku untuk memilikimu?"

"Kau beberapa kali memilikiku di beberapa malam."

"Kau tidak mengerti, Tae"

"Semoga harimu menyenangkan, Hoseok-hyung"

"... kau juga, lain kali kuhubungi lagi."

"Bukan keharusanmu, tapi aku akan balas."

Jung Hoseok adalah laki-laki paling romantis dan protektif yang Taehyung kenal. Namun Taehyung berharap bahwa Hoesok bisa mengerti bagaimana posisi dan batasan antara mereka berdua. Taehyung tersenyum miring sekilas, kemudian bangun dari posisi tidurnya dan melangkah membuka pintu geser yang menghadap halaman samping lebih lebar, mengijinkan cahaya hangat bercampur udara dingin pagi Seoul yang kadang membuatnya ingin bersin masuk lebih banyak ke kamarnya.

Taehyung berdiri, diantara pintu tadi dan halaman belakang, menggerak-gerakkan kepala ke kanan dan ke kiri, lalu meregangkan bahu sebentar untuk menghilangkan pegal karena berbaring dengan posisi yang salah semalam. Taehyung membalikkan tubuhnya memandangi seperangkat 'kostum' yang ia pakai semalam masih berantakan mencuat-cuat dari kotak tempatnya menyimpan, menghitung jumlah hiasan rambut bulu angsa nya yang berkurang dua. Dia mengingat-ingat dua laki-laki lain yang mengambil benda itu darinya semalam. Mengangkat bahu cuek untuk kemudian loncat dan berguling diatas kasur lagi.

Dibalik pintu lain dikamarnya, suara Seokjin terdengar samar-samar seperti meminta pelayan untuk segera menyiapkan sarapan. Taehyung menarik lagi selimut tebal dibawah kakinya, berniat untuk melanjutkan tidur karena dia masih sedikit mengantuk, lagipula shift dia di minimarket masih nanti siang. Baru ingin memejamkan matanya, Taehyung merasa smart phonenya bergetar sekali, menampilkan pop up mail baru dengan nomor tak dikenal. Membuka dengan sedikit malas, matanya melebar sempurna setelahnya, karena;

.

Dari : +6285853071710

Pesan :

Hanya mau bilang selamat pagi dan memberitahu kalau nomor ini milik Jeon Jungkook, laki-laki yang kau masukkan ke kamarmu semalam.

.

Taehyung tidak tahu harus bereaksi bagaimana.

.

.

.

.

.

Jam enam pagi. Jimin bertingkah seperti maling, mengendap-endap masuk apartementnya sendiri setelah dengan sangat pelan menutup pintu dibelakangnya. Berjalan masuk dan melongok ke arah ruang utama, melongok ke arah kamar mandi, melongok ke arah dapur dan ruang makan. Dia tidak menemukan Yoongi di tempat-tempat tadi.

Malam kemarin, dia bertelepon dengan Yoongi yang minta ijin untuk menginap di apartement nya karena Yoongi sudah terlalu lelah dan terlalu mengantuk untuk menyetir pulang ke apartementnya sendiri yang berjarak lebih jauh ketimbang studionya dengan apartement Jimin. Jimin membatin pasti Yoongi masih tidur dikamarnya, dibalik pintu bercat hitam disisi paling kiri apartementnya.

Jimin bergegas ke kamar mandi dulu untuk membersihkan tubuhnya dan berganti baju. Sampai di kamar mandi, setelah sikat gigi dan membasuh wajah, dia melepas kemeja hitam lengan pendeknya, menaruhnya ke keranjang cucian disusul dengan membuka kunci sabuk yang meliliti celananya. Sukses menarik lepas sabuk dari celana, Jimin teralih pada benda yang jatuh tak sengaja dari saku belakang celananya karena dia terlalu banyak bergerak. Memungutnya untuk mengetahui itu adalah hiasan rambut berupa bulu angsa putih yang sangat indah. Jimin tersenyum, tahu betul darimana benda itu berasal. Dia menimang-nimang sebentar benda itu lalu mengangkatnya naik untuk bertemu dan menggesek dengan pipinya sambil tetap tersenyum.

'Jeglek'

"Kau.. baru pulang?". Yang berdiri dan membuka pintu kamar mandi tempat Jimin berada adalah Min Yoongi. Muka menyipit dengan balutan hodie abu-abu gelap agak kebesaran dan celana katun warna hitam.

"Hyung?"

"Hum.."

"Kau manis sekali dengan warna rambut itu, kapan kau menggantinya? Astaga.. astaga... Black Yoongi."

"Baru kemarin, sehabis makan siang denganmu." Yang diajak mengobrol menjawab dengan nada mengantuk sambil berjalan terseret ke wastafel. Mencuci muka lalu meraih sikat gigi biru tuanya dan mengoleskan pasta gigi rasa daun mint diatasnya.

"Serius kau cocok sekaliiii." Jimin yang gemas berdiri dibelakang Yoongi sambil mengamati rambut hitam yang mencuat-cuat khas orang bangun tidur.

"...Kau darimana saja?" sahut Yoongi disela acara sikat giginya

"Urusan kantor kan, bukannya aku sudah bilang padamu semalam?. Hyung, lihat rambut kita warnanya sama sekarang." Jimin sudah menempelkan tubuh setengah telanjangnya di bagian belakang tubuh Yoongi, memeluk pinggangnya dan menggesekan rambut hitam tebalnya dan rambut hitam-baru Yoongi. Dia gemas sekali sungguh, warna itu cocok untuk kulit pucat Yoongi-hyungnya.

"Sampai pagi? Kau tidur dimana?"

"Aku membicarakan soal rambut kembar kita, lho Hyung."

"Iya kembar sekarang, tapi aku tidak suka kalau kembar begini, kau cat warna baru, sana aku bosan melihatnya. Dan jawab pertanyaanku juga."

"Yah, sudah kembar malah menyuruhku ganti." Jimin pura-pura menampakkan wajah kecewa yang terpantul dari kaca depan wastafel ke mata Yoongi yang menyikat gigi sambil menaikkan alisnya. Lalu melanjutkan menyahut "Aku ketiduran di ruang santai kantor, kembali kesini untuk mandi, ganti baju, sarapan dan bertemu kau." Goda Jimin sambil mengeratkan pelukannya.

"Makanya kau bau, pasti belum mandi."

"Kau juga bau, kau kan juga belum mandi."

Yoongi berguman sedikit, membereskan kegiatan menggosok giginya lalu mencoba melepaskan pelukan Jimin dari pinggangnya untuk kemudian menemukan bulu angsa putih yang terselip diantara genggaman Jimin.

"Benda apa ini?"

"Itu.. aku menemukannya."

"Hah, kenapa memungut benda seperti itu, kau aneh Jim." Yoongi masih tetap mencoba lepas dari Jimin. "Park Jimin, kau bau, jangan sentuh-sentuh aku."

"Kalau bau ya ayo mandi, Hyung."

Jimin membalikan tubuh Yoongi agar menghadap padanya. Sekilas dia mendengar erangan tak suka Yoongi karena pergerakannya membuat pinggang Yoongi menabrak ujung wastafel. Pandangan mata Jimin jatuh ke belah bibir berwarna peach didepannya, sementara pandangan mata Yoongi bergulir sebentar turun ke dada Jimin yang terekspos.

"Yasudah cepat."

Jimin berguman ya sambil meraup bibir peach Yoongi, menciumnya pelan lalu berubah melumatnya, disaat bersamaan tangannya naik memasangkan bulu angsa tadi ke rambut Yoongi. Yoongi menggeram diciumannya saat Jimin memaksa membuka hodie nya untuk lolos dari tubuhnya, melepas ciuman sebentar hingga terlihat jalinan saliva antara bibir mereka berdua yang terbuka, untuk menuntaskan melucuti hodie abu gelap Yoongi. Jimin tertawa hingga menyipit karena dipandangi jengkel oleh Yoongi yang kesulitan membuka celana ketat Jimin. Melanjutkan kegitan mereka lagi dengan Jimin yang mengecupi pundak Yoongi sambil bertanya.

"Warna apa yang lebih keren dari hitam, hyung?"

"Lilac, Jim." Jawab Yoongi sebelum mereka menghilang masuk ke kotak shower.

.

.

.

.

.

Taehyung sarapan jam delapan pagi setelah diomeli Seokjin, duduk bersila diatas kusi sambil kadang memandangi smart phone nya. Dia masih belum menjawab pesan dari laki-laki bernama Jungkook. Namun sudah menyimpan nomor itu menjadi kontak dengan nama lengkap Jungkook. Menyendok nasi dan bulgogi besar-besar setelah itu menyesap sup tofu hangatnya. Seokjin didepannya menulis-nulis sesuatu seperti pembukuan administrasi House Of Cards, sambil tangan lainnya menyendok-nyendok asal nasinya lalu memakannya. Multi tasker tapi Taehyung jengah melihat kakaknya sibuk begitu. Acara makan berlalu dengan cukup singkat, setelah semua piring-piring gelas disingkirkan, Taehyung menopang kepalanya pada kedua tangan yang dilipat diatas meja, memandangi Hyung nya untuk menarik perhatiannya.

"Apa?" Seokjin sadar ditatap adiknya terus menerus. Menggeser buku-buku besar didepannya dan melepaskan kacamata bacanya.

"Hyung, kalau aku bilang aku tak mau terima tamu-tamu sembarangan bagaimana?"

"Intinya kau mau bilang boleh tidak kau pilih-pilih, begitu?"

"Uhm.. aku tak suka om-om, aku sukanya yang muda tampan-tampan saja."

"Astaga adikku ini."

"Ya, hyung?"

"Sebenarnya kau juga kurang laku sih kalo dengan om-om, mereka takut padamu."

"Makanya, seharusnya aku tak usah kerja disini." Tehyung terkekeh bercanda.

"Aish, tapi masih ada kok yang suka teh mu, jadi kau tetap bantu aku disini. Memangnya kalau mau pilih-pilih kau mau yang bagimana?"

"Ya yang tampan saja, yang tidak terlalu tua, yang kalau diajak bicara nyambung, jadi waktu disuruh berdua tidak canggung, begitu."

"Sejauh ini kau terlihat nyambung sekali dengan Hoseok."

"Oh.. yaa.."

"Tamu special seharga hakama-hakama mewah baru mu itu bagaimana? Dia menawar untuk mengeluarkanmu, berkali-kali. Tapi aku tak akan melepaskan adikku begitu saja."

"Aku tidak bagaimana-bagaimana sih, Hoseok-hyung baik padaku sih."

"Lalu kalau baik begitu kau suka? Dia masuk dalam list pilih-pilih mu?"

"Aku suka.. tapi bukan suka yang seperti itu Hyung, dan ya aku tak apa kalau menemani dia."

"Tae, aku ingatkan kau, jangan sampai kau membawa perasaanmu disini, karena.. saat itu terjadi akan ada yang tersakiti pada akhirnya."

"Ya ya aku tahu Hyung, ini bukan cerita dongeng."

"Lalu? dia sudah sampai begitu padamu?"

"Belum, hyung, katamu tidak boleh? Ijin dulu padamu?"

"Kau bebas kalau mau melakukannya, asal itu benar-benar kemauan mu dan kau bisa mengontrol diri. Kau tahu, kau tinggal cerita saja padaku, aku yang akan urus setelahnya kalau mereka-mereka yang bernafsu padamu kelewat batas."

"Yah, tahu begitu aku ijinkan dia." Taehyung tergelak main-main. "Hoseok-hyung pernah tidur dengan-ku sih. Tapi ya hanya tidur, tidur sampai pagi. Paling hanya make out, foreplay atau-apa itu, lalu kau menaikkan totalannya di bill, kejam sekali."

"Aku pikir kalian benar-benar sudah. Lagipula dia masih kuat membayar berapapun untukmu."

"Kalau aku sudah aku akan cerita, cerita sedetail-detailnya malam panas yang kulalui."

"Uh.. tak perlu detail. Tapi serius Tae, aku tak mau kau disakiti, kalau ada apapun cerita padaku, bagian mana misal kalau ada yang kelewat kurang ajar atau main kasar padamu."

"Malah aku sepertinya tertarik yang kasar- Hahaha kenapa mukamu begitu, Hyung?" Taehyung tertawa lagi karena kakaknya memberengut tak suka.

"Aku tak bisa membayangkan adikku seperti itu."

"Tentu, kau yang lebih berpengalaman disini, Hyung."

"Jadi, kau tidak akan keluar kalau malam selain untuk bertemu Hoseok?"

"Nah, ini sebenarnya intinya."

"Aku mendengarmu."

"Begini, aku masih mau membantu menyiapkan teh herbal dan lainnnya sih sehari-hari, tapi kalau ada orang yang bernama Park Jimin, atau Jeon Jungkook mencariku bilang saja aku ada."

"Alasannya?"

"Ya mereka kenalanku."

"Kau yakin hanya itu?"

"Iya hanya mereka saja."

"Maksudku kau yakin hanya itu alasannya?"

"Mereka tampan, bukan om-om, dan aku nyambung dengan mereka."

"Suka?"

"Kau ini kenapa, Hyung, daritadi bilang aku-suka aku-apa dengan orang?"

"Aku hanya bertanya."

"Pokoknya, aku berpesan begitu."

"Hahaha yasudah.. yasudah..."

"Hei, Tae, aku menyayangimu, sungguh."

"Aku juga, lalu?"

"Tae, Aku sebenarnya benar-benar tak enak hati kau terlibat disini."

"Aku oke, Hyung. Kalau dengan begini aku bisa berguna untukmu."

"Tapi pekerjaan ini... bukankah terlalu..."

"Kau juga melakukan ini demi aku terlebih dahulu. Dan aku cukup tau diri harus berbuat apa untuk membalasnya."

"Benar-benar ku hargai itu, karena memang hanya ini yang kita punya. Dan aku benar-benar terlanjur basah, kalau aku hentikan semua ini kita bisa celaka."

"Uhm.. Aku mengerti, hyung. Aku tak mau hal buruk sampai terjadi."

"Oh, kemari adikku." Seokjin mengulurkan tangannya, mengelus sayang surai halus adiknya yang sekarang sedang tersenyum kotak manis sekali diseberang mejanya namun matanya tak memancarkan keceriaan secerah seharusnya. "Aku sudah bilang aku menyayangimu kan?, aku dua kali lipat menyayangimu sekarang."

"Aku juga akan seribu kali lipat kalau begitu."

Seokjin membalas dengan senyum yang cantik sekali dengan mata sedikit meredup.

.

.

.

.

.

Direktur muda Jeon baru saja menyelesaikan sebuah rapat berhubungan dengan proyek kerjasama pengelolaan tambang perhiasan bersama perusahaan Hoseok dan Jimin. Dia bersama Jimin diruangan itu, serta dua asisten kepercayaan Hoseok yang menyampaikan beberapa outline dan informasi penting mengenai proyek ini. Keluar dari ruangan, Jimin menguap beberapa kali, sekilas wibawanya sebagai direktur yang lebih senior dari Jungkook agak meluntur.

"Kalau sampai tadi kau menguap didalam sana aku benar-benar akan memukul kepalamu."

Jungkook memulai percakapan nonformal saat mereka istirahat di kafetaria kantor Jungkook.

"Aku kepayahan sekali menahan ini. Mataku agak berat."

"Semalam kau pulang dan berpisah denganku saat jam yang sama sepertinya, dan aku masih ada cukup waktu untuk tidur."

"Aku ada beberapa kesibukan lain, jadi aku tak sempat banyak tidur." Jimin meraih lengan cangkir kopi yang dipesannya, menyesapnya sedikit-sedikit.

"Sok sibuk sekali tuan Park."

"Aku memang lebih handal dari pada kau."

"Pernyataanmu tidak valid."

"Kook-ah, Jadi bagaimana menurutmu Jung Hoseok-ssi?"

"Jung Hoseok-ssi orangnya supel dan terbuka, dia bisa diajak bekerjasama dengan baik. Proyek ini juga menarik, aku sangat optimis kalau kita akan sukses besar,"

"Nah, aku sependapat denganmu, tolong kau juga santai saja ya saat berhadapan dengannya."

"Aku bisa professional sih."

"Okay." Jimin menyesap kembali kopinyta sambil mengangguk-angguk.

"Jim, kau punya kekasih?" Jungkook memulai lagi dengan intonasi lambat-lambat.

"Apaan-apaan ini?, man, kau homo? Pantas kemarin betah disana ternyata cuci mata juga."

"Mau aku homo atau tidak itu bukan urusanku, aku kan bertanya."

"Itu urusanku, bagaimana kalau kau naksir aku?" Jimin menjawab dengan wajah yang dibuat-buat histeris sambil memeluk bahunya sendiri.

"Aku belum amnesia untuk melupakan bagaimana tak bisa diandalkannya dirimu saat sekolah menengah, aku pilih-pilih. Jadi?"

"Aku.. ada yang dekat tapi tak tau sih kekasih atau bukan, Kenapa? Kau kasmaran? Minta tips dan trik?"

"Kau bermain peran sok playboy begitu?"

"Daya tarikku memang bukan lelucon. Jungkook, kau kasmaran?"

"Tidak kasmaran, hanya aku penasaran, aku tak pernah terlibat hubungan rumit."

"Kau ingin minta tips dan trik kan? Jujur saja."

"Terserah, jadi kekasihmu itu?"

"Aku tidak tahu kekasih atau bukan, yang jelas kalau dia jatuh di trotoar dan lecet sedikit aku rela berlari membelikan dia plester dan cokelat."

"Kau suka dengannya?"

"Suka, dia manis walau galak sekali."

"Ternyata tipemu yang seperti itu, kau suka ditindas rupanya."

"Selera orang beda-beda Kook, dan aku betah-betah saja tuh asal pelukannya hangat."

"Park Mesum Jimin, pasti sudah main yang dewasa-dewasa."

"Kita kan memang sudah dewasa. Kau mau kuajari? Tutorial dulu denganku mungkin"

"Aku tak tertarik, lagipula aku juga tak sepolos itu."

"Aku percaya Jungkook pasti bisa." Jimin menepuk-nepuk pundak Jungkook sambil tertawa-tawa penuh arti, untuk kemudian menambahkan ucapannya. "Kau mau menjalin hubungan dengan orang?"

"Aku hanya mengira-ngira saja, tidak sampai ingin begitu."

"Hey, Jungkook, kuingatkan ya kalau kau jatuh cinta, itu bisa bahaya sekali, cinta memang indah dan menyenangkan seperti orang-orang bilang, tapi sifat buruk juga akan terbawa didalamnya, seperti perasaan cemburu, marah, overprotektif, hingga egois. Macam-macamlah."

"Hal seperti itu bukannya tergantung individu masing-masing."

"Kau kaku sekali, aku berani taruhan kalau kau sudah 'jatuh' pada seseorang, akan sulit mencegah beberapa hal."

"Uh, aku terkesan kau bijak sekali, Jim" Cela Jungkook sambil menjulurkan lidah main-main.

"Kau menyebalkan selalu Kook-ah, Kenalkan aku kalau kau sudah ingin pacaran."

Jimin dan Jungkook sudah berpisah dari kafetaria sekitar dua jam yang lalu. Jungkook kembali ke ruangannya, memeriksa beberapa berkas dan berbincang mengenai pekerjaan dengan sekertarisnya, memberikan arahan untuk beberapa berkas, setelah paham dengan yang dimaksud direkturnya, nona Hyerin pamit undur diri setelah membacakan schedule untuk Jungkook. Jam dinding menunjukan pukul tiga sore sekarang. Barusan Jungkook selesai menerima telpon dari ayahnya yang ada di Eropa, dan saat ini Jungkook sedang melanjutkan bersantai di kursi tingginya. Smartphone diatas mejanya berdengung, Jungkook meraihnya, dan membuka lockscreen untuk mendapati satu pesan dari Kim Taehyung.

Jungkook merapal nama itu sambil merasakan respirasinya sedikit sesak. Oh laki-laki cantik yang ada di House Of Cards. Dia teringat pada sesi agak panas yang dia habiskan kemarin bersama dengan Taehyung. Jungkook masih bisa mengingat bagaimana bau cologne Taehyung, bagaimana halusnya helai keemasannya yang menabrak pipinya berkali-kali, dan masih ingat betul gairah yang sempat tersulut karena kelakuan Taehyung semalam. Membuka pesan itu dan seketika senyum miring tercipta dibelah bibirnya.

Pesan :

Selamat sore Jungkook-a, aku nantikan kunjunganmu selanjutnya, dan jangan pakai sabuk mahal yang sulit dilepas.

.

.

.

.

Selesai mengetik dan mengirim satu baris pesan -yang ia pikir memalukan ke Jungkook, Taehyung menyimpan smartphone ke dalam saku belakang celananya, berjongkok ikut membantu Minjae menata botol-botol minuman berkarbonasi. Dia memang harus seperti itu, kalau ada orang yang tertarik padanya dia diajari untuk tetap memberikan balasan dengan tanda kutip mengundang. Taehyung menyibukkan diri dengan kaleng-kaleng soda yang lain, sambil sesekali mengobrol dengan Minjae teman kerjanya di minimarket. Setelah selesai dengan acara menata soda. Taehyung kembali ke meja kasir menata beberapa pack bubble gum disisi meja kasir.

Wajahnya terangkat saat dirasa ada satu kaleng kopi dingin dan sebungkus roti melon disodorkan didepannya Taehyung tersenyum lalu menghitung total belanjaan laki-laki yang berdiri didepannya dengan mendekatkan kaleng kopi dan bungkus susu ke laser merah pembaca barcode. Taehyung hendak membungkusnya dan mengatakan total biayanya, namun terhenti saat laki-laki yang lebih mungil darinya yang berambut hitam dengan wajah kesal campuran sedikit mengantuk itu sepertinya sedang sibuk mengangkat telpon dari ponselnya.

"Kau tak perlu menjemputku, Jim. Aku sudah bawa mobil sendiri." Sebaris kalimat itu terdengar agak sayup ditelinga Taehyung. Taehyung menunggu laki-laki itu selesai dengan teleponnya, matanya menangkap tulisan dan logo di map yang dibawa laki-laki berkulit pucat itu. Logo dan sebaris nama kantor yang sama dengan gedung yang berdiri tepat disebelah minimarket tempat Taehyung bekerja. Mungkin dia salah satu orang yang bekerja di industri musik gedung sebelah, batin Taehyung.

"Lebih baik kau selesaikan dulu urusanmu, dan aku pulang ke apartemenku malam ini."

"Kita barusan ketemu tadi pagi, Jimin"

Taehyung melirik saat dia mendengar suatu nama yang familiar keluar dari sela bibir tipis laki-laki dengan setelan hitam longgar didepannya. 'Jimin?'. Menggeleng sekilas karena tidak sopan menguping percakapan orang, Taehyung menampik pemikirannya tadi dan menyibukkan diri dengan menghitung burung camar yang hinggap pada tiang listrik diluar pintu kaca minimarket.

"Aku oke, aku akan makan setelah –Oh"

Laki-laki itu akhirnya menyadari kalau dia ditunggu, merogoh dompetnya untuk mengeluarkan ribuan won rapi dari dalamnya dan diserahkan pada Taehyung. Taehyung menerimanya dan memberikan kembalian, tersenyum lalu membungkuk sekilas untuk mengucapkan 'Terima kasih, silahkan datang kembali'. Yang diberi salam membalas dengan gumaman disela percakapan teleponnya sambil mengangguk sekilas, kemudian berlalu menghilang dibalik pintu kaca.

.

.

.

.

.

Jam tujuh malam Jungkook kembali ke apartemennya setelah menghabiskan makan malam bersama rekan bisnisnya. Masuk ke dalam apartemen mewah serba putih bersih, dengan perabot berwarna hitam dan abu-abu sangat kontras dengan dinding-dindingnya. Jungkook selalu senang atas pelayanan kebersihan yang dipesan keluarga Jeon untuk mengurus keperluan sehari-hari dan membersihkan apartemennya itu. Semua selalu rapi dan teratur. Selesai mandi Jungkook keluar dengan bathrobe membungkus tubuh basahnya dan tangan sebelah kanan menggasakkan handuk ke rambutnya. Melempar handuk kecilnya, dia kemudian melirik Benda yang ia taruh diatas meja nakas sebelah kasur berukuran queen size. Mengamati bulu angsa putih itu lalu pikirannya kembali melayang ke orang itu.

Jungkook merasa aneh, kenapa dia bisa terlampau begini penasaran dengan laki-laki bernama Kim Taehyung itu? Padahal itu baru pertama kalinya mereka bertemu. Jungkook sempat berpikir, bagaimana orang yang saat menuang teh bisa kalem begitu namun kebalikan terjadi saat mereka hanya berdua?. Apakah Taehyung melakukan hal itu dengan semua orang?. Oh tentu saja itu pekerjaannya.. tapi sorot mata itu, lebih buas daripada laki-laki kemayu murahan lainnya yang ada ditempat itu, yang bergelantung manja didada om-om. Entah kenapa Jungkook tak yakin dengan apa yang dilakukan Taehyung pada pekerjaannya, benarkah dia bisa tidur dengan mudah bersama semua orang?.

Jungkook mendudukan diri diatas kasur, menajamkan sorot matanya ke jam digital diatas meja, angka tujuh titik tiga puluh berkedip-kedip berwarna biru disana. Jungkook memilih meraih leptop yang ia letakkan disisi kasurnya, memangkunya lalu membuka-buka beberapa folder penting didalamnya, mengeceknya dan mengiirim beberapa berkas ke email orang kepercayaan ayahnya. Setelah selesai dengan berkas dan email, Jungkook makin terlihat gusar. Dia mencoba menyibukkan diri tapi gagal, pikirannya terus menerawang ke tempat lain. Dia melirik jam sudah jam delapan lebih dua menit sekarang. Jungkook bangkit dari duduknya, mondar-mandir ke dapur membuka kulkas lalu menenggak jus jeruk yang tersimpan pada botol kaca sampai setengah penuh. Matanya bergerak kekanan dan kekiri, duduk di kursi tinggi mini bar dekat meja makan sambil mengacak surai arangnya.

"Yah, Brengsek. Ada apa denganku?"

Jungkook memejamkan mata, yang tertangkap dalam gelapnya penggelihatannya malah kilas balik bagaimana mata sewarna cokelat karamel menatapnya. Membuka mata kemudian tersenyum mengecek untuk dirinya sendiri, mengolok dalam hati kenapa baru pertama bertemu laki-laki itu, pikiran Jungkook sudah dapat diobrak-abrik olehnya. Buru-buru melangkah kembali ke kamar melepas lilitan bathrobe lalu mengambil satu setelan semi formal kasual, kemeja warna putih bercorak artristik dan celana hitam ketat. Menghabiskan waktu lebih dari 5 menit untuk mencari sabuk pilihannya dan dia mengumpat lagi.

"Yah, berengsek."

.

.

.

Taehyung menaikan alisnya merasakan dengungan repititif di kantong belakang celananya saat dia sedang asik-asiknya meracik teh didapur utama House of Cards. Tepat pukul setengah Sembilan malam satu mail masuk ke smart phone nya, mengambilnya dengan satu tangan dan tangan lain mengamit sendok khusus untuk mengambil likuid madu. Nyaris menjatuhkan terlalu banyak takaran madu untuk teh spesial buatannya, Taehyung melotot dengan wajah lucu. Pasalnya, isi dari mail itu adalah dari Jeon Jungkook yang mengatakan akan sampai kesini beberapa menit lagi dan meminta untuk bertemu dengannya. Dan dia sama sekali tidak siap. Menggaruk belakang kepalanya agak kesal hingga rambut cokelat susunya mencuat karena Jungkook sangat mendadak mengabarinya.

Saat ini posisinya masih memakai celana bahan longgar tiga perempat kaki dan sweatshirt yang dia gulung sampai siku. Dia harus siap-siap dulu bukan untuk menemui tamu?. Menyelesaikan urusannya dengan teko teh dan beberapa cawan daun herbal didepannya. Taehyung terburu-buru menghampiri kakaknya Seokjin yang tengah mengecek kualitas bahan makanan dan tampilan hidangan untuk beberapa meja, berkata dia butuh didandani dan dipinjami hakama-atau apapun yang pantas untuk dirinya.

Seokjin yang heran dengan tingkah berantakan adiknya yang mendorong-dorong belakang tubuhnya keluar dari dapur itu, sambil tertawa langsung menggiringnya ikut ke kamar rias bertemu Yoona Noona untuk mengurusnya. Bertanya Siapa salah satu dari spesial list mu yang datang? Pada Taehyung, dan hanya dijawab dengan gumaman Pokoknya yang tampan oleh Taehyung. Sampai di kamar rias, ia mengeluarkan hakama navy blue dari balik lemari besar yang dibelakangi Taehyung. Seokjin mengangguk sekilas sambil tangannya sibuk mengambil kotak berat lain berwarna keemasan di balik pintu kedua lemari itu.

"Ah- Alisku, Noona, aku tak mau yang begini-"

"Tae-ya, kau percaya saja padaku, kau akan terlihat luar biasa malam ini." Gadis perias itu terkekeh saat Taehyung menjauh-jauhkan wajahnya dari gapaian tangan ajaibnya.

"Beri perpaduan warna natural tak apa, tapi buat matanya terlihat.. uhm.. efek dalam -sedalam laut Yoona-ssi, shadow atau apapun, karena kalau tampangnya masih bar-bar begitu, akan menghambur sia-sia pesona hakama ini dipakainya." Seokjin menambahi sambil mengamati wajah Taehyung yang diotak-atik.

"Bar-bar apa, begini aku masih laku Hyung walau kau buang dipinggir jalan."

Seokjin tidak menggubris protesan adiknya, sibuk memilih-milih hiasan rambut keemasan berbentuk seperti sepasang sayap yang terbuat dari jalinan bulu angsa. Seokjin selalu suka hiasan macam itu, karena akan sangat pas disandingkan dengan rambut halus Taehyung. "Warna peach saja, Yoona-ssi."

"Aye, sir. Aku mendengarmu." Yoona Noona kembali semangat melukis di wajah Taehyung. Dan Taehyung yang ada dibawah kungkungan tangannya menggerak-gerakkan bola matanya gusar melihat jam digital di sudut ruangan.

Tepat saat Yoona selesai menaruh kuas lip balm dan membereskan lip gloss warna peach. Terdengar panggilan pelayan meminta untuk Seokjin keluar ke meja utama didepan karena ada yang mengaku tamu spesial dan harus bertemu dengannya terlebih dahulu. Taehyung langsung lari keluar dari kamar khusus rias itu sambil menjinjing ujung hakama navy nya agar larinya lebih cepat. Karena entah kenapa batinnya membisikan firasat bahwa mungkin saja itu Jeon Jungkook. Taehyung berlari hanya untuk kembali ke kamarnya, di ujung lorong paling selatan dekat taman kolam batu House Of Cards.

Masuk serampangan untuk menyimpan ponselnya dan mencari-cari dimana dia meletakan parfum kesayangannya. Matanya menangkap botol kaca dengan tinggi lima belas senti berdiri kokoh diatas meja tempatnya menyimpan beberapa album foto. Meraihnya untuk kemudian membuka tutpnya dan menyemprotkan sedikit likuid dengan wangi memabukkan itu beberapa jengkal tubuhnya. Taehyung berbalik menyimpan benda itu lagi, menemukan cermin besar yang ada di seberang ranjangnya, dia mematut penampilannya sekali lagi. Tangannya naik mengasak sedikit rambutnya yang disisir terlalu rapi, kenapa dia jadi canggung begini.

Yang pertama tertangkap oleh pengelihatannya adalah dada bidang Jungkook, yang pertama tertangkap oleh indra penciumannya adalah campuran aroma mint dan maskulin yang menguar dari tubuh tegap dihadapannya. Taehyung menaikan sebelah alisnya berusaha menampik batinnya yang terpukau oleh pahatan bisep tegas dibalik kemeja putih itu.

"Kenapa kau malah kesini?"

"Kalau kau lupa, bukankah aku sudah mengirimi mail padamu."

Jungkook memindai sosok Taehyung dari ujung kepala hingga dasar kakinya dengan mata kelamnya, menggigit bagian dalam pipinya karena agak gemas. Dipantulan iris matanya Taehyung terlihat sangat sempurna, indah tapi indah yang kelelaki-lakian, dia masih memiliki wajah galak dan sedikit raut lucu, anehnya perpaduan semua itu malah semakin membuat dia terlihat seperti magnet raksasa yang siap menawan tiap pasang mata saat menatapnya sedekat ini.

"Bukan, maksudku aku biasanya bertemu tamu di ruang utama, ruang makan, ruang minum teh. Dan kenapa kau malah kesini, ini ujung privat gedung kami." Melipat tangannya defensif didepan dada, Taehyung sadar betul kalau Jungkook mengamatinya dengan agak kurang ajar.

"Kupikir kemarin kau menawariku untuk masuk kekamarmu lagi."

"Kau tau istilah ungkapan atau apapun itu Jungkook-a? kecuali kalau kau memang mau bersenang-senang denganku dengan cara lain."

"Aku mau bersantai disini, kau temani mengobrol, buatkan aku teh, terserah apa yang bisa membuat pikiranku tidak penat lagi." Jungkook salah mengartikan penat dikepalanya sepertinya, karena dengan melihat Taehyung gusarnya beberapa jam yang lalu berangsur membaik. Dan dia belum mau mengakui itu. Dia bergerak mendorong Taehyung untuk masuk kembali ke kamar.

"Whoa, tahan itu koboi. Kenapa malah main masuk." Tubuh Taehyung tersisih ke sisi kanan pintu dengan gerakan pelan karena dorongan Jungkook. Mengamati sosok yang masuk senaknya ke teritori privatnya.

"Aku kesini mau bersantai, kau ambilkan aku sesuatu, buatkan aku sesuatu, seperti apa yang biasa kau kerjakan. Dan aku menunggu disini."

"Tapi tidak disini tuan besar."

"Aku tadi bertemu Seokjin-ssi yang kau sebut kemarin, dan dia menyuruhku mencarimu di lorong paling selatan."

"Di sepanjang lorong ini juga ada ruang-ruang penjaumuan, didepan sana, dan buka kamarku yang Hyung-ku maksud."

"Tapi aku ingin disini." Jungkook sudah duduk diatas karpet merah maroon yang tergelar dekat ranjang. Menselonjorkan kaki dan menyandarkan punggungnya untuk menemukan empuknya sisi ranjang Taehyung. "Kau tunggu apa lagi? Sana."

Taehyung belum sampai genap 24 jam mengenal laki-laki didepannya, tapi mereka sudah bisa mengobrol sesantai ini. Taehyung pikir dia akan diperlakukan oleh macam laki-laki buaya berkantong tebal dengan mulut selicin dan se berbisa lidah ular. Ternyata perkiraannya salah, Jungkook mentalnya masih mental pemuda sesuai kisaran umurnya walau tidak cocok dengan imej nya, begitu penilaian Taehyung.

Lihat saja, kini malah Jungkook berlagak seperti mengunjungi sobat lama. Menyamankan diri di kamar Taehyung dengan kepala disandarkan pada ujung bedcover sambil tangan mengamit majalah musik yang diambilnya dari tumpukan rak rendah disebelah meja nakas. Taehyung bingung dengan peran kerjanya sekarang. Untuk apa dia pontang-panting dandan kalau ternyata laki-laki itu tidak ada tujuan seperti laki-laki yang lain yang biasa ditemuinya di beberapa malam sebelumnya. Mengedikan bahu sekilas, Taehyung lalu keluar dari kamarnya tanpa menyadari Jungkook yang mengangkat pandangannya dari barisan kalimat di majalah musik ke postur tubuh Taehyung hingga menghilang dibalik pintu geser.

"Kau pintar ya mengincar yang bos-bos begitu?"

"Hah? yang benar saja Jin-Hyung, aku tak mengerti." Taehyung bersama dua pelayan dibelakangnya terhenti sebentar dari langkah mereka karena Seokjin menghadang Taehyung. Tidak sampai lima detik mereka berjalan lagi karena Seokjin memilih untuk membantu mereka membawa beberapa botol soju dan berjalan beriringan menuju ke lorong selatan.

"Kau tahu, dia bilang dia ingin kau bersamanya menemaninya semalam ini, saat aku memberikan rincian dan beberapa penawaran dia hanya cuek sambil menyerahkan selembar cek padaku." Seokjin mengamati raut adiknya yang hanya memendar tanpa takjub sedikitpun, "Dan dia bilang, berapa totalannya nanti tulis saja sesuai semestinya disana. Astaga Tae."

"Woah, aku malah jadi gugup, jangan-jangan dia mau full service dariku." Taehyung menjulurkan lidah tak tertarik.

"Kau harus cerita padaku agar aku bisa menulis digit yang pantas. Dan jangan biarkan dia terlalu menyakitimu." Seokjin berbalik setelah merapikan sematan bulu sayap keemasan ditelinga Taehyung. Dan Taehyung hanya diam mengatupka belah bibirnya rapat.

.

.

.

.

Malam berlalu lebih panjang dari dugaan mereka, setelah membuatkan teh Jungkook, menyajikannya pada takaran panas yang pas, Taehyung duduk diam disisi meja dan balas menapap Jungkook yang menyesap cawannya dalam diam, memperhatikan wajah Taehyung terang- terangan sambil sesekali memuji keahlian Taehyung dalam meracik teh dengan rasa ajaib. Dia bersuara, mengatakan ingin Taehyung agar bercerita apapun untuk mengisi keheningan yang anehnya tak canggung diantara mereka. Hingga obrolan mereka menjalar pada berbagai topik.

Menjadikan Jungkook tahu bahwa Taehyung tak menamatkan jurusan hubungan internasional di kampusnya, dan membuat Taehyung tahu bahwa Jungkook adalah anak tunggal kesayangan ayahnya. Menghabiskan macam-macam cemilan manis buatan tangan handal koki mereka, menghabiskan tiga perempat teko teh herbal, hingga tak ingat lagi sejak kapan mereka mulai mengisi meja mereka dengan Soju dan Munbaeju. Taehyung akan menuangkannya saat Jungkook menyodorkan cawan tersebut padanya.

"Itu ayahku.. yang menempaku sedemikian rupa agar aku bisa menjadi pemimpin sepertinya, ayahku selalu ingin aku untuk jadi jagoan, selalu ingin aku untuk bisa melakukan hal apapun tanpa bergantung dengan orang." Jungkook mengungkapkannya setengah sadar, dia tidak peduli dirinya terekspos begini jelas di depan Taehyung. Laki-laki disampingnya ini mudah sekali menariknya untuk santai dan terbuka dengannya.

"Ayahmu semacam orang yang tegas, bukankah itu bagus?" Taehyung menyahut, dia sudah menyandarkan tubuh selonjornya di badan ranjang di sebelah Jungkook, mendengar dan menyahut setiap kali Jungkook menggetarkan aksara dari mulutnya. Ini pekerjannya, dia bisa jadi tempat curhat yang enak karena sifat dasarnya yang easygoing.

"Aku suka bernyanyi, tapi aku tak pernah bisa bernyanyi."

"Biar kutebak, kau membuang salah satu cita-cita konyolmu demi keluargamu."

"Tepat, begitu sadar aku sudah jadi laki-laki yang mengekori kemana saja ayahku menuntunku." Jungkook mengusap wajahnya dengan tangannya, merasakan kesadarannya mulai kabur karena isi botol-botol berkandungan alkohol lebih dari 40% itu menjajah suhu tubuh dan pandangannya.

"Kau akan jadi laki-laki keren, lihat kau kaya, kau terlihat sukses dan mapan, yang kau lakukan itu tidak sia-sia." Taehyung disebelahnya menyisir-nyisir poni depannya asal, menelengkan kepala untuk mendapati Jungkook yang sedikit menggeram seperti agak pusing. "Hei, kau menyetir? Kau terlalu banyak minum, kau bisa celaka saat pulang."

"Ya aku menyetir, tapi siapa bilang aku akan pulang setelah ini." Jungkook mendaratkan telapak tangannya di pipi lalu turun ke rahang tajam Taehyung, taehyung tak menunjukan terlalu banyak reaksi, dia balik menatap iris kaburnya dengan berani, menaikan satu alisnya untuk sok terlihat polos dan heran.

"Next step, sir? Mau dapat service lebih dariku?" Taehyung merapatkan tubuhnya disisi Jungkook, dia sudah menyangka alur seperti ini akan terjadi karena dia sudah melewati hal semacam ini lebih dari sekali.

"Kau biasa disentuh begini?" Jungkook memajukan wajahnya dekat sekali dengan Taehyung, wangi cologne mereka berbaur dipernafasan mereka yang berat dan agak putus-putus karena pengaruh alkohol, menggesekan hidungnya ke hidung mancung Taehyung, lalu memiringkan kepalanya untuk mencium ringkas bibir Taehyung. Jungkook pernah berciuman dengan wanita yang dia jadikan pacar semasa kuliah dulu, namun bibir Taehyung dengan tak masuk akal terasa lebih lembut dan beracun dari pada ciuman-ciumannya sebelumnya. "Kau sudah sering kan dicium? Harusnya kau sudah handal. Balas aku." Jungkook meniupkan kalimat itu saat gigi dan bibirnya selesai melumat belahan bawah bibir Taehyung.

Kalimat yang diucapkan Jungkook barusan normalnya akan menyakiti hati terkecil Taehyung, tapi Taehyung sudah lama abai akan kata-kata seperti itu, karena hal tersebut tak bisa ditampik ataupun dibantah. Taehyung hanya membalasnya dengan kekehan sekilas, menarik tengkuk Jungkook dan menyatukan bibir mereka semakin dalam dan memabukkan. Jungkook bergerak dengan cepat, menyeret tubuh keduanya naik keatas ranjang tempat mereka bersandar sebelumnya. Dia mengukung tubuh yang lebih kurus itu dengan mudah, dan Taehyung menggantungkan kedua lengannya santai pada leher Jungkook, melawan lidah Jungkook yang kurang ajar membagi asam Mumbaeju dalam mulutnya dengan cara yang begitu sensual dan tak bisa dipungkiri mematik birahi didalam tubuhnya.

Jungkook yang duluan melepaskan ciuman basah mereka, dia pikir dia berhasil merebut semua oksigen dari lelaki dibawahnya, namun laki-laki itu lebih handal dari perkiraannya. Karena Taehyung hanya terkekeh lagi dibawahnya, berkeringat tipis sambil sengaja menjilat lelehan saliva disudut bibirnya karena ciuman panas barusan dengan tatapan yang terlihat menantangnya untuk lebih melebihi batas. Mengatur nafasnya sejenak sambil menaikan ujung jarinya dan mengusap poni basah Taehyung yang menghalangi sorot mata indahnya. Jungkook lupa bagaimana cara untuk berhenti, karena tubuh dan pikirannya yang diselimuti alkohol yang memabukan tak akan menuntunnya untuk berhenti melampiaskan nafsunya yang semakin naik karena tangan Taehyung juga menyentuh dada dan perutnya dengan berani.

"You, a little kinky.." Jungkook kembali membawa Taehyung tenggelam dalam ciuman lain setelah membisikan kalimat itu tepat ditelinga Taehyung, tangannya meraba leher Taehyung yang terekspos untuk mendapatkan geraman berbahaya dari Taehyung dibawahnya. Taehyung tahu bahwa Jungkook mabuk dan kehilangan kendalinya, terlihat dari bagaimana cara laki-laki itu mencumbunya. Taehyung tak bisa menahan nafas tersedak diantara ciuman mereka saat tangan Jungkook turun dan beralih meremas pinggang dan balas meraba perutnya penuh kebutuhan.

"Apakah aku lupa bilang kalau kau indah dan mengairahkan sekali kalau begini." Jungkook melepas tautan bibirnya, menyampaikan kalimat godaan penuh provokasi sambil menjilat rahang Taehyung yang sedang sibuk menahan tangan Jungkook melepas sabuk hakama navy nya.

"Tahan itu Jeon, Kau mau apa? Menelanjangiku? Meniduriku?" Taehyung menatap Jungkook dengan kerlingan main-main. "Kau harus tau, untuk melucutiku dan menghisap habis jengkal tubuhku kau harus membayar mahal, bahkan Hyung ku akan menghitung seberapa banyak hickey yang kau buat. Jadi hati-hati kau sebelum kelepasan. Bagaimana jika kutawarkan make out?"

Jungkook tidak suka dengan Taehyung yang cerewet untuk menahan birahinya mundur, dia benar-benar butuh karena setan dibawahnya ini juga yang mengundangnya dengan sentuhannya. "Aku tidak peduli, melakukan ini sama sekali tak akan membuatku bangkrut, sekarang berhentilah cerewet. Tunjukan bagaimana kerjanya pelayananmu" Jungkook bangkit meraih lengan Taehyung hingga laki-laki dengan hakama berantakan itu agak tersentak dan melayang, untuk kemudian mendorongnya kembali agar mendarat keatas jajaran bantal empuk di ranjang Taehyung, meluruskan posisi mereka agar lebih leluasa dalam bergerak. Jungkook yang mengukungnya berdiri dengan kedua lutut nya, matanya lebih kelam dan berkabut dari sebelumnya, melepas tiga kancing teratas kemejanya lalu menarik dan meloloskan begitu saja kemeja dari tubuhnya dengan tak sabar.

"Call, jangan salahkan aku kalau kau semakin mabuk."

Mata Taehyung melirik sepintas bagian depan celana Jungkook yang menggembung, Taehyung membulatkan tekad akan mengikuti permainan Jungkook. Maka dari itu dia mencengkram tengkuk Jungkook saat laki-laki yang sudah setengah telanjang itu menggigit kulit di leher dan sekitar tulang selangkanya hingga membiru. Sentuhan lidah Jungkook terasa basah namun menimbulkan sensasi panas diseluruh jajahannya. Jungkook berhasil membuka kunci hakama Taehyung, hingga fabric halus berwarna navy itu lalai menutupi tubuh Taehyung. Tangannya naik untuk mengelusi pipi dan mata berair Taehyung. Dibawahnya Taehyung berulang kali terkekeh berat sambil menggeliatkan tubuhnya. Jungkook bangkit diatas lututnya lagi, berusaha melepas celana hitam ketatnya yang semakin sesak. Taehyung mengumpukan kesadarannya, mengusap matanya lalu bangkit merebut resleting celana Jungkook.

"Biar aku saja." Membantu Jungkook membebaskan sesaknya, Taehyung membuka resleting itu pelan-pelan untuk mendapat erangan lagi dari Jungkook yang tak sabar. Karet dalaman Jungkook bermerek Calvin Clein ikut turun dari pahanya. Membuat panas tubuh dari Taehyung naik derastis dengan tak masuk akal. Tubuh laki-laki dihadapannya kencang oleh otot yang maskulin, Taehyung agak bergidik saat melihat bagian selatan privat tubuh Jungkook sudah menegang menyakitkan.

Menelan ludahnya saat mendengar Jungkook yang kembali mengeram frustasi saat seluruh bagian tubuhnya nyaris terekspos sempurna. Taehyung mendongak saat rahangnya diangkat kasar oleh Jungkook, membawanya kedalam ciuman belepotan yang sangat menggairahkan, sebelah tangan Jungkook menarik turun bokser ketat dan dalaman Taehyung, mengantarnya untuk ikut telanjang bersamanya walau hakama masih menggantung malas di tubuh warna tan Taehyung.

Taehyung sudah terbakar oleh birahi begitu pula dengan Jungkook, mereka saling menyentuh tubuh satu sama lain dan membagi ciuman panas hingga bibir mereka memerah dan basah. Menuntun tangannya untuk mengusap dan menggenggam milik Jungkook, Jungkook menyeringai di balik hisapannya di leher Taehyung. "Wow, what a huge temptation." Jungkook mendesis, menggigiti telinga laki-laki yang mengocok selatan tubuhnya. Dia mendudukan dirinya nyaman, ikut menarik Taehyung dalam dekapannya yang sedang serius dengan kegiatan dibalik telapan tangannya. "Lakukan dengan mulutmu."

Taehyung menyalang memandang Jungkook tak percaya, serendah apapun pekerjaan Taehyung, baru kali ini dia disuruh melakukan blowjob terang-terangan. Tapi dia tidak bisa menolak, dia tidak dalam posisi untuk berhenti sekarang. Ketika setan dalam tubuhnya terbakar lebih dari biasanya, menggedor akal sehatnya untuk menyambut rasa penasaran dan menuruti dorongan Jungkook pada bahunya. Jungkook mengdongak dan memejamkan mata saat Taehyung turun dari pengelihatannya, mencium dan menggigit samar dada bidang dan perut Jungkook yang terpahat tak main-main. Nafas panas Taehyung sampai pada ujung miliknya, membuatnya dia semakin gila, pening karena alkohol menguasainya, reflek menekan kepala Taehyung untuk lebih mendekat.

"Nghh—" Itu Taehyung, mencoba memerangkap pusat gairah Jungkook sampai habis namun tak berhasil. Telapak tangan Jungkook yang bergerak berantakan diatas surai cokelat keemasannya semakin menekannya. Taehyung mencoba mengfungsikan lidahnya sebaik mungkin, memanfaatkan tangan kanannya untuk ikut mengusap dan meremas, dan tangan kirinya mengelus pelan perut Jungkook yang semakin mengencang. Mulutdan lidahnya terus bergerak membuat benda itu berkedut seakan dapat meledak kapanpun.

Jungkook sudah menunduk dan membuka kembali kedua matanya, untuk merekam kegiatan erotis Taehyung dibawahnya. Maniknya bertemu tatap dengan iris madu kemerahan Taehyung yang tajam dan sedikit berair diujungnya. Tangan Jungkook yang lain mengelus pelan pipi Taehyung yang penuh lalu bergerak menarik turun hakama dari punggung kecoklatan Taehyung.

"Kau melakukannya dengan sangat baik, Tae-Hyunghh—"

Nafas keduanya semakin berat, Mereka tetap dalam posisi seperti itu hingga Jungkook mengerang lebih keras dari sebelumnya, matanya terpejam erat saat dia lepas, rongga dadanya serasa menyempit begitu saja. Membuka matanya untuk melihat Taehyung yang menelan semuanya dengan sedikit batuk tersedak, karena saat Jungkook menumpahkannya Jungkook tak sengaja bergerak memajukan pinggulnya. Cairan itu leleh dari belah bibir Taehyung saat dia bangkit dan terbatuk tipis, Jungkook mengusapkan dengan ibu jarinya sedang Taehyung masih menyerngit merasakan rasa asing di indera pengecapnya setelah menelannya habis.

Jungkook membalikkan keadaan mereka, mendorong Taehyung hingga jatuh memantul kembali di atas tumpukan bantal. Taehyung limbung, hanya diam sambil menatap Jungkook dengan mata tajam yang tertutup separuh saat laki-laki itu menuntaskan melucuti kain yang tersisa ditubuhnya. Badannya berkeringat dan panas hebat menjalarinya saat Jungkook membalas jasanya meremas balik pusat gairahnya yang juga terbangun. Jungkook menciumnya lagi panjang dan khidmat dengan mata terpejam, sampil bermain dengannya dibawah sana.

Saat jari-jari panjang Jungkook yang lain menjelajah di teritori bawahnya yang lain, Taehyung menggerang dengan suara berat tersedak diantara lidah penuh dosa Jungkook. Mendorong keras dada bidang Jungkook, ciuman mereka terlepas tapi nafsu dikepala Jungkook belum padam. Jungkook menekan lagi tubuh Taehyung , berbisik putus-putus mengatakan, Jangan bertingkah seperti gadis perawan diantara ceruk leher Taehyung. Taehyung terkekeh diantara nafas tersenggal sekali lagi, merasakan Jungkook lebih gencar membuatnya meledak. Dalam hitungan menit, kedua alisnya bertaut rahang Taehyung mengeras saat dia menyusul naik pada tingkat tertinggi kepuasan. Dia membasahi telapak tangan Jungkook dan sebagian perut mereka. Mengatur napasnya yang masai agar tertata, saat Jungkook sekali lagi mengantarkan jarinya jauh kebawah dirinya.

Sinyal dalam tubuhnya seperti bedering keras, Tidak, Tidak, dan Tidak. Terlalu cepat untuk seorang Jeon Jungkook mengklaim setiap jengkal tubuhnya. Maka dari itu saat Jungkook sibuk menggerus kulit dilehernya dengan bibir dan lidahnya. Taehyung mengumpukan kembali kekuatannya, Jungkook mabuk tubuhnya tak terkontrol dengan baik, dan Taehyung masih mengigat Bladder-10 titik paling mematikan dalam ilmu bela diri China yang dulu sempat dia pelajari. Memusatkan kekuatan di lengan kurusnya, Taehyung memberikan pukulan telak di kepala bagian belakang Jungkook. Memberikan benturan yang dapat memicu ketidak stabilan pada sistem otak yang mengatur kesadaran yakni Reticular Activating System.

Jungkook pingsan sekejap kemudian setelah terdengar erangan tersendat. Jatuh menimpa tubuh Taehyung dibawahnya. Taehyung mendorong tubuh sebesar kingkong—menurutnya- itu ke samping, membiarkan Jungkook tertidur lalu menaikan kembali celana hitam Jungkook yang tadi sempat dibukanya separuh. Menggerutu soal lengket tubuhnya karena keringat dan aktivitas mereka barusan. Birahinya sudah menyusut, dia beranjak duduk menarik selimut untuk menutupi tubuh Jungkook, memandangnya malas dengan tangan dan siku menopang wajahnya. Taehyung menyeka keringat di dahi Jungkook, tersenyum samar lalu bangkit keluar dari kotak ranjangnya sambil memakai hakamanya asal. Berdiri didepan cermin yang ada di kamarnya, dia sedikit meringis melihat tubuhnya banyak sekali lebam dan bekas kemerahan.

"Enak saja, baru bertemu sudah mau main perkosa-perkosaan."

Taehyung mendengus, lalu hilang dibalik pintu kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.

.

.

.

.

.

TBC

.


.

*pukul tangan (lagi)*

Masih adakah yang nungguin fic nista ini? Kalo ada, oh hey makasih dah baca sampe akhir. 6,8K words, bray. Cant help. uuf kemarin-kemarin bener-bener lagi sibuk, outline cerita udah ada tapi waktu garapnya yang... ga ada. jadi semoga fic panjang ini jadi pengantar maaf karena le to the let update. next time mau diusahain semingguan sekali update. So, see ya!

.

Guys let me know bagian apa yang salah dan kurang srek buat kalian di review box ya, Hit me on Review box - Review are love - Aku bakal senang kalau kalian ninggalin feedback karena tulisan ini masih jauh dari sempurna. Dan sorry banget kalo ada typos. Huhuhu

[ Sapa aku disini Tweet : sugarunning95]