a BTS fic
Choose Me
.
.
I'm alright, even if I can't have you.
.
.
Cast : BTS's Member
Pair : KookV ; HopeV ; JiminV ; Slight MinYoon ; Slight NamJin
Rate : T maybe will change into M for safe
.
.
Pt.4 First Love?
.
Jungkook membuka mata, hal pertama yang ditangkap pupil matanya adalah langit-langit kamar yang ditimpa sekelebat cahaya matahari pagi yang masuk menembus tirai kain disisi kanan pintu geser. Hal kedua yang dirasakannya adalah sakit mendera dibagian belakang tengkuknya dan pening didalam kepalanya yang membuat segala memorinya kacau tak tertata. Hal ketiga yang dia sadari adalah tubuhnya saat ini setengah telanjang dibungkus sebagian oleh selimut tebal, ulangi, dibungkus selimut tebal bersama dengan satu tubuh lain dibawahnya. Jungkook agak melonjak kaget melihat surai halus berwarna cokelat tua keemasan berantakan mencuat dari dalam selimut diantara himpitan tubuhnya. Hal selanjutnya yang tertangkap oleh indra penciumannya adalah bau cologne yang agak memudar dan bau khas sisa orang bercinta disekitaran tempatnya berbaring.
Kemudian segala ingatan seperti pecah dan mendesak berantakan di kepala pening Jungkook, mendudukkan diri sambil menautkan alis mencoba mencari alasan masuk akal kenapa posisi dan kondisinya ada pada titik ini. Jungkook mencoba mengingat, apa, bagaimana, kapan, siapa, mengapa—apapun untuk menelusuri seperti apa peristiwa yang telah terjadi. Kulit lengannya bergesekan dengan bahu telanjang lain yang bergerak di sebelahnya. Jungkook semakin menautkan alis dan menyalang tak percaya. Apa yang terjadi?
"Selamat pagi, tuan kasar." Yang disebelahnya bangkit, mata masih menutup tapi mulutnya mengeluarkan sebaris kalimat.
"..." Jungkook masih terdiam tak merespon, mengusap tengkuknya agak grogi. Matanya melirik di beberapa sudut kamar nuansa asia semi modern ini.
"Hei, kau tak usah malu-malu begitu setelah apa yang kita lakukan semalam." Yang barusan bangun ikut mendudukan diri disisi Jungkook, menyandarkan kepalanya santai di bahu Jungkook. Jari tangannya naik untuk mengusap matanya yang sedang beradaptasi dengan silau sinar matahari yang masuk. Badannya agak bergidik merasakan angin pagi membelai kulitnya, sehingga dia semakin merapatkan selimutnya.
"Tae-Hyung, Aku ingat.. kau dan aku sudah?"
"Belum, kingkong. Kau tidak menuntaskanku, kau tertidur seperti om lemah yang suka ejakulasi dini." Taehyung menjawab asal, menyembunyikan fakta perihal dia yang menghajar tengkuk Jungkook agar laki-laki itu berhenti.
"Kau manis tapi brengsek, aku baru saja mengumpulkan ingatan tentang malam panas kita, dan aku ingat betul kau memuaskanku, tapi aku lupa kita habis beranda ronde?"
"Sudah kubilang, mungkin kau mimpi basah karena gagal meniduriku."
"Serius kita tidak?"
"Seratus rius, aku sama sekali tidak merasakan perih lain selain tubuhku yang lebam karena kau gigiti dengan gigi kelincimu Jungkook-a, senyummu tampan tapi ternyata mulut dan gigitanmu ganas"
"Mana, coba kulihat?" Jungkook menelengkan kepala, menabrakkan pipinya dengan puncak kepala Taehyung yang ada di bahunya, tangannya bergerak membawa Taehyung untuk menghadap kearahnya, dan laki-laki itu hanya bergerak cuek. Setelah berhasil menilik dan mengusap beberapa bekas kemerahan dan keunguan di tubuh Taehyung, Jungkook berkata lagi.
"Kalau kita belum, kita lakukan saja sekarang. Bisa rugi aku kalau pulang begitu saja."
"Ha? Jangan bercanda. Kembali lagi besok malam kalau kau benar-benar ingin, jam kerjaku sudah habis." Taehyung menepis jari-jari provokatif Jungkook yang menggerayang di sekitar pinggangnya. Menggeser duduknya hingga membelakangi Jungkook, kemudian mengurut sendiri tengkuk dan lehernya yang agak pegal.
Jungkook mengikutinya, merapatkan tubuhnya dibelakang Taehyung hingga kedua paha tebal Jungkook memerangkap duduknya Taehyung. Disana Taehyung berdecak cuek, menaikan hakama nya dengan benar agar punggung telanjangnya tidak bertabrakan langsung dengan dada bidang Jungkook.
Dibelakangnya, Jungkook ikut membantunya mengurut leher sambil bibirnya bergerilya di punggungnya. Menghirup sisa-sisa wangi cologne Taehyung, Jungkook bisa bertahan dalam posisi ini lebih lama.
Pintu geser di ujung ruangan di ketuk dua kali. Jungkook agak kaget dan Taehyung tak memberikan reaksi berarti.
"Aku masuk." Itu suara halus Seokjin. Langsung masuk ke kamar Taehyung walau disana mereka belum tuntas membenahi pakaian. Jungkook masih sibuk dengan kancing kemeja ketiganya saat laki-laki cantik Hyung-nya Taehyung itu masuk.
"Jadi, sudah selesai bukan urusanmu, tuan Jeon Jungkook-ssi? Kau bisa meninggalkan kami dan menemuiku di ruang tengah setelah ini." Seokjin mematai Taehyung yang balas menatapnya datar sambil menelengkan kepala polos. Jungkook berdeham, celingukan mencari dompet dan kunci mobilnya, kemudian menyahut.
"Oke, aku akan kesana setelah membereskan barang-barangku."
"Ya, sebaiknya kau keluar duluan Jungkook-ssi, karena aku akan berbicara dengan adikku dulu."
Jungkook menemukan sabuknya, memasangnya dengan benar, merapikan kemeja dan celana ketatnya, lalu mengantongi dompet dan kunci mobilnya. Dia mematut diri didepan cermin, lalu berjalan pelan menghampiri Taehyung yang masih berantakan duduk diujung kasur. Mendekat untuk membelai pipi kenyal berwarna agak tan dengan lembut sebelum meluncurkan kecup manis sehalus kupu-kupu di pelipis Taehyung. Taehyung memperlihatkan tampang heran sambil menutup salah satu mata saat Jungkook mengecupnya.
"Sampai ketemu lagi, gorgeous." Jungkook kemudian berlalu keluar, membuka pintu geser agar semakin lebar.
"Heee..." Seokjin menaikan satu alisnya, memandang usil Taehyung yang memasang wajah sebal.
"Apa?"
"Bagaimana? Kalian tidak keluar semalaman, hingga restoran tutup dan pagi sudah menunjukan pukul delapan. Sedang terlalu asik ternyata?"
"Ya tidak bagaimana-bagaimana Hyung, kau kan juga pernah bekerja seperti ini."
"Aku heran saja karena kau sampai betah lama."
"Aku ketiduran, jadi tak sempat bangun untuk menendangnya keluar sebelum jam segini."
"Capek? Kalian main apa?, kemari biar kulihat."
"Aku masih belum kehilangan keperjakaanku Hyung."
"Astaga, serius? Aku kira dia tak bisa menahannya lagi setelah terkurung denganmu semalaman disini." Seokjin tertawa agak canggung dengan pernyataan adiknya yang gamblang. Mengecek tubuh Taehyung apakah ada yang kelewat lecet atau tidak. Agak meringis melihat kulit Taehyung yang dipenuhi bekas merah sangat kontras.
"Itu karena, aku menghajarnya sampai pingsan.."
"Mwo? Taehyungie.. kau jangan ulangi lagi ya, kalau sampai ada rumor aneh keluar bagaimana."
"Dia tak ingat soal aku menghajarnya, jadi tak masalah Hyung."
"Kupikir kau penasaran."
Taehyung tertawa, mereka kemudian larut dalam percakapan singkat, Taehyung menceritakan garis besar dari malam yang barusan dia lalui pada Seokjin, dia sebal setiap kali Hyungnya itu mencela rona merah yang tak sengaja muncul dipipinya.
.
.
.
.
Jungkook menyetir pelan-pelan, keluar dari kawasan gedung House of Cards setelah mengobrol dengan Seokjin mengenai totalan biayanya semalaman disana. Dia sama sekali tidak mempermasalahkan digit yang akhirnya deal ditulis di atas kertas.
Beberapa rambutnya masih agak mencuat, dan dia memasang senyum tuntas di bibirnya. Saat lampu merah menghentikan laju mobilnya, dia menggasak rambutnya yang mencuat sambil terkekeh kecil mengintip bekas kemerahan di lehernya lewat kaca spion diatasnya. Masih bisa merasakan gerit gigi dari laki-laki yang menyebabkan tanda itu ada. Matanya kembali focus pada jalanan didepannya, saat lampu hijau menyala Jungkook memindahkan perseneling lalu mengambil jalan untuk kembali ke apartemennya. Sebaiknya dia mengecek jadwal yang telah dikirim sekertarisnya hari ini, karena dia akan agak terlambat sampai di kantor.
.
.
Jam sepuluh pagi Jungkook baru terlihat di kantor. mendapat beberapa bungkukan sopan dari bawahannya, dan dia masih sempat menghadiri meeting dan mengecek dokumen-dokumen yang harus diperiksa hari itu juga. Satu map silver mengkilat diantarkan oleh sekertarisnya Hyerin ke atas mejanya. Memeriksanya untuk mengetahui bahwa isinya adalah resume mengenai lokasi dan prospek dari investasi nya di tambang bersama Jimin dan Jung Hoseok. Dia membuka leptopnya sebentar, mengirimkan beberapa email ke ayahnya di Eropa.
Jungkook sudah selesai dengan beberapa pekerjaannya. Jam masih menunjukan pukul setengah tiga sore. Masih ada satu jam untuknya, karena jam empat nanti dia diundang Jimin untuk mampir ke kantornya melakukan pertemuan dengan pemegang saham di project baru mereka. Di sana akan ada Jung Hoseok yang baru kembali dari Bangkok. Untuk mendapatkan kesempatan bertemu dengan direktur Hope Corp itu agak sulit, jadi saat laki-laki Jung itu memiliki waktu mereka akan segera mendiskusikan prospek kerja pada suatu meeting.
Jungkook menyesap kopi yang baru saja diantar di ruangannya. Jari tangannya yang lain mengetuk-ngetuk layar smart phone nya yang berwarna hitam mengkilat. Dia memikirkan hal konyol seperti mengirim pesan atau menelepon seseorang yang ada dipikirannya. Menimang-nimang lagi keinginan itu, mencari sebaris kalimat apa yang akan dia sampaikan dan Jungkook pun tak tahu apa kepentingan dari idenya barusannya. Jungkook menggaruk pelipisnya, dia bingung kenapa dia menjadi bertingkah aneh untuk berhadapan dengan Kim taehyung. Dan laki-laki itu seenaknya melintasi pikiran Jungkook. Pada akhirnya jemari tangannya bergerak juga membuka screen lock lalu menekan beberapa menu disana.
.
.
.
.
Setengah tiga sore, Tangan Taehyung sedang sibuk membungkusi belanjaan di meja kasir. Ibu dihadapannya ini belanja banyak sekali dan mengoceh soal produk popok apa yang berkualitas tapi murah. Taehyung hanya menjawab sekenanya sambil senyum-senyum kotak bodoh. Mengabaikan smart phone nya yang berdengung dan membuat paha nya agak geli. Taehyung berulang kali menaikan kerah sweater yang digunakan sebagai dasar seragam kerjanya, berusaha untuk menutupi bekas-bekas kemerahan di lehernya.
Selesai dengan ibu tadi, di antrian belakangnya masih ada dua orang pelanggan lain mengantri. Kesal dengan ponselnya yang tak kunjung berhenti mendengung menggelitik pahanya, Taehyung mengambil ponselnya keluar lalu memasukannya ke dalam laci lain disisi tubuhnya. Bergerak cepat melayani anak laki-laki kisaran belasan tahun yang membawa lima buah es krim ditangannya, karena adik disebelahnya itu mulai merengek ingin makan es krim bagiannya. Selesai dengan belanjaan anak-anak tadi, Taehyung mengelus puncak kepala adik yang lebih kecil yang hampir menangis, mengucap terima kasih lalu melambai dengan wajah lucu.
Pelanggan yang selanjutnya tersenyum aneh sambil meletakkan dua kaleng kopi dingin didepannya. Taehyung menyipitkan mata merasa kenal dengan wajahnya.
"Jimin?"
"Hai, Taehyungie."
"Apa-apaan itu, kepalamu kenapa?" Taehyung mengabaikan panggilan aneh Jimin padanya karena warna kepala Jimin lebih menarik perhatiannya.
"Keren tidak? Aku mengecatnya lho." Jimin menyahut, memajukan sedikit badannya hingga perutnya menabrak ujung meja kasir diseberang Taehyung.
"Uhm, kau oke. Cocok." Taehyung mengangguk-angguk sambil meraih kaleng kopi pertama, mendekatkan barcode nya ke laser pembaca berwarna merah.
"Oh ya tentu saja." Disekanya surai berwarna itu keatas oleh Jimin, membuat warna silver dipermukaannya beradu warna dengan lembutnya warna ungu di surainya yang lain. Lilac.
"Jadi, kau ada urusan apa disekitar sini? beli-beli kopi saja sampai kesini." Itu Taehyung, yang selesai menghitung berapa yang harus dibayar untuk dua kaleng kopi Jimin.
"Aku kangen, dengan seseorang yang manis."
"Kau mulai lagi."
"Kau kenapa? Merasa menjadi manis-ku yang kumaksud?" Jimin terkekeh, sipit matanya menambah ketampanannya saat tertawa.
"Ya terserah, jawab aku dengan benar, Jimin."
"Aku tadi habis datang ke sebuah observasi dan perencanaan seperti itu, lalu aku harus bertemu orang juga disekitar sini, dan sekalian saja karena aku haus jadi aku kesini saja berharap mendapatkan pelayanan yang ramah tapi yang kudapat malah ini?"
"Jadi, kau selesai dengan urusanmu lalu kurang kerjaan merecoki ku disini?"
"Kesimpulan yang agak meleset sih."
"Intinya kau modus mau mengobrol denganku?" Taehyung memberikan kembalian Jimin. Membenahi lagi leher turtle neck sweaternya.
"Boleh tidak?"
"Kau akan lebih enak mengobrol denganku kalau datang lagi ke tempat kakakku."
"Uhmm... bisa dipertimbangkan kalau aku tidak sibuk. Kapan ya enaknya aku kesana lagi.."
"Biarkan aku tahu kalau kau akan mampir lagi, Jimin."
"Jimin?" Suara lain menyahut, itu milik laki-laki pucat yang berdiri di ambang pintu minimarket. Agak kesulitan membawa tas leptop dan map transparan yang memperlihatkan kertas dengan tulisan penuh coretan sana-sini dan not balok lagu.
Jimin disana agak gelagapan, menarik diri mundur dari posisi yang terlalu dekat dengan meja kasir. Diseberangnya Taehyung menaikan salah satu alisnya memandang bergantian antara Jimin dan laki-laki pucat bersurai hitam yang semakin mendekat kearah mereka.
"Kau sudah selesai, Hyung?" Jimin memindahkan fokusnya untuk membantu membawakan tas leptop laki-laki tadi sambil sebelah tangannya menggenggam kantong plastik isi dua kaleng kopi.
"Sudah, aku mencarimu didekat sana tapi ternyata kau ada disini. Kenalanmu?"
Jimin salah menduga karena mengira Yoongi tidak memperhatikan dia berbincang dengan Taehyung.
"Uh, ya.. namanya.."
"Kim Taehyung." Taehyung yang merasa dianggap kenalan Jimin berucap sopan, mengangguk sekilas saat Yoongi tersenyum tipis untuknya.
"Aku bekerja disana, digedung sebelah yang itu. Min Yoongi."
"Kalau begitu kita langsung saja ya Hyung, setelah ini aku masih ada meeting." Jimin menyela cepat, menggiring Yoongi keluar dari mini market. "Sudah dulu, ya." Tingkah Jimin agak berbeda dari sebelumnya, tapi Taehyung mengabaikannya dan membiarkan dua laki-laki itu keluar dan menghilang dibalik pintu.
Semenit nganggur, Taehyung baru ingat kalau tadi ponselnya terus memberikan indikasi panggilan telepon yang masuk. Tangannya bergerak mengusap tengkuk saat tahu kalau panggilan tak terjawab yang masuk ke ponselnya adalah dari Jeon Jungkook. Taehyung sekali lagi bingung harus bereaksi bagaimana.
.
.
.
"Sebenarnya kalau kau sibuk, kau tak perlu menjemputku segala. Aku bisa pulang sendiri, aku hanya sedang malas membawa mobil." Disebelahnya Yoongi memulai bicara, duduk sambil membuka segel kaleng kopi dingin yang barusan dibeli Jimin. Disana dia diam saat dipakaikan seat belt oleh Jimin.
"Aku ingin bertemu denganmu dan pamer sesuatu." Jimin kemudian bergerak memakai seat belt nya sendiri. Melirik Yoongi untuk menantikan reaksinya.
Yoongi meminum likuid pahit manis itu. Menggoyang-goyangkan kalengnya kemudian melirik balik ke Jimin. "Kau mau pamer ini?" Sebelah tangannya naik menggasak surai silver Jimin agar berantakan. Jimin diseberang sana tak bisa melawan karena sibuk fokus pada jalanan didepannya, hanya bisa pura-pura merengek sambil sedikit menjauh-jauhkan kepalanya dari tangan Yoongi.
"Bagaimana Hyung? Keren kan."
"Itu ideku, dan kau cocok dengan warna itu, Jim." Yoongi memiringkan tubuhnya untuk memandangi Jimin yang menyetir sambil menghabiskan kopi dinginnya. Tangan Yoongi naik lagi, bermain di ujung surai rambut di sekitar tengkuk Jimin. Saat lampu merah, Jimin menarik rem tangan, menangkap jemari Yoongi yang tadi bermain disisi belakang kepalanya lalu membawanya untuk kena kecup bibirnya.
Entah kenapa ada di dasar hati Jimin ada seberkas rasa tidak enak pada Yoongi. Bagaimana kalau Yoongi tahu dia dan Taehyung bukan hanya sekedar kenalan biasa? Bagaimana bila Yoongi tahu kalau mereka pernah melakukan hal yang lebih dari sentuhan teman?. Jimin menggelengkan kepala sekilas lalu menengok kesamping. Membalas menatap Yoongi, tersenyum dan kemudian maju mendekat untuk mengecup sekilas bibir Yoongi.
"Kau ada waktu untuk menemaniku makan malam nanti, Hyung?"
.
.
.
.
Mood Jungkook sedang tidak bagus, tapi dia harus professional. Sepanjang perjalanan ke kantor Jimin untuk melakukan meeting dia memandang keluar jendela mobil. Membiarkan supirnya memacu sedan hitam mengkilat milik kantor untuk membelah ramai jalanan dan mengantar sampai ke tempat tujuannya. Jam menunjukan setengah empat sore, tiga puluh menit lagi dia akan bertemu dengan Jimin dan Hoseok untuk meeting. Penyebab mood Jungkook jelek adalah Taehyung yang tidak mengangkat teleponnya tadi.
Harga diri Jungkook cukup tinggi untuk merasa kesal hanya karena hal yang mungkin orang lain anggap sepele. Dia tidak pernah menerima penolakan. Tidak dari bawahannya, tidak dari semua yang harusnya ada pada kendalinya. Dan taehyung tidak diperbolehkan untuk menolaknya. Sok cuek padanya setelah tingkahnya membuat Jungkook uring-uringan.
Bunyi blink pelan berasal dari smart phone Jungkook. Mendadak mood nya agak sedikit membaik.
.
From : Kim Taehyung
Message :
Ini telepon iseng, atau kau ada ketinggalan sesuatu di kamarku?
.
Merasa konyol karena sikapnya yang labil, Jungkook membalas pesan itu cepat. Menyampaikan protesnya karena Taehyung tidak mengangkat teleponnya. Kemudian moodnya semakin membaik lagi karena Taehyung membalasnya lebih cepat dari perkiraannya. 'Aku tadi sedang sibuk melakukan sesuatu, ada apa?' itu adalah sebaris kalimat balasan lain dari Taehyung. Jungkook menyimpan lagi senyumannya karena mobilnya sudah berhenti didekat pintu besar lobby gedung mewah dengan tinggi puluhan lantai dibawah kuasa keluarga Park. Turun dari mobil diikuti asistennya yang tadi duduk di sebelah supir. Jungkook agak menunduk untuk mengetik kalimat balasan yang akan ditujukan ke nomor Taehyung. "Aku perlu meneleponmu lagi nanti. Pastikan kau mengangkatnya'
.
.
.
.
"Kenapa kepalamu?"
"Keren, kan?" Jimin menyisir sedikit rambutnya dengan tangan, ikut masuk ke dalam kotak lift berdampingan dengan Jungkook, asistennya dan sekertaris Jimin. Jungkook disana memutar bola matanya jengah.
"Kupikir kau ketumpahan apa sampai warnanya campur begitu."
"Ya! Sudah banyak yang memujiku, hanya kau yang mempunyai selera kuno."
Tombol dengan nomor dua belas ditekan, asisten dan sekertaris masing-masing dari Jungkook maupun Jimin berusaha mengabaikan obrolan direktur mereka yang terkesan sangat tidak dewasa itu. Menunggu lampu indikator seven segment diatasnya berubah menjadi kedip ke dua belas. Mereka akan memasuki salah satu ruang meeting disana, terkunci di dalam sana selama kurang lebih dua tiga jam kedepan dan Hoseok sudah sampai terlebih dulu ke ruangan itu.
Menjelang petang mereka keluar dari ruangan meeting bersama beberapa pemegang saham dari proyek yang mereka kelola. Hoseok menawarkan untuk keluar makan malam, namun Jimin dengan sopan ijin untuk skip, dia sudah ada janji dengan orang lain. Jungkook disana juga memberikan ide lain waktu saja mereka makan bersama, karena akan sangat canggung bila dia hanya dengan Hoseok.
Tiga direktur dan asistennya itu menggunakan lift yang sama untuk meluncur ke lobby. Jimin mendampingi mereka selaku pemilik gedung kantor mewah itu. Sampai di lobby, duduk untuk menunggu mobil dari arah parker basement menjemput. Masing-masing dari mereka sibuk dengan ponselnya. Jimin berusaha menghubungi Yoongi, dan Hoseok terlihat bertelepon dengan seseorang. Jungkook juga mengecekkotak masuk untuk membalas beberapa mail penting, bolak balik menuju menu dial call di ponsel menimang-nimang kapan akan mencoba menelepon Taehyung lagi.
Mobil mereka sampai, bersalaman satu sama lain dengan professional lalu pamit undur diri masuk ke kursi penumpang mobil masing-masing. Hoseok menyambut salaman setelah agak menjauhkan ponsel dari telinganya.
Didalam mobil Jungkook langsung mencoba menelepon Taehyung, dia tidak tahu kenapa tapi dia perlu berbicara dengannya. Ada apa sih dengannya?
.
.
.
.
"Halo?" Taehyung tidak sempat membaca nama si pemanggil di ponselnya, karena sedang sibuk berganti baju seusai mandi. Dia di apartemen kecil yang berada disekitan minimarket tempatnya bekerja. Dulu dia tinggal disini bersama Seokjin-Hyung, namun Seokjin dan dirinya jarang pulang kemari karena biasanya sibuk di House of Cards. Taehyung hanya sesekali ampir kesini untuk mandi sepulang kerja atau sekedar istirahat saat dia tidak di House of Cards.
Menggeser ikon hijau cepat lalu mencepitkan ponsel antara pipi dan bahunya, sementara kedua tangannya sibuk dengan resleting dan kancing celananya.
"Hei, ini aku."
"Oh, Hyung, kau masih di Bangkok?" Cepat Taehyung mengenali suara itu, sesaat dia berpikir yang meneleponnya ini mungkin adalah Jungkook.
"Tidak, aku sudah ada di Seoul, barusan selesai meeting aku ingin mendengar suaramu." Jung Hoseok disana sedang duduk di lobby kantor Jimin sambil tersenyum kecil.
"Kau tidak capek, Hyung?"
"Tidak terlalu, aku cukup istirahat diperjalanan."
"Tidak bawa oleh-oleh buatku?" Taehyung tertawa.
"Ada, dan bagaimana kalau oleh-olehnya bonus ah—" Diseberang sana terdengar sayup suara Hoseok dengan beberapa orang. "Maaf, bonus dengan aku?"
"Boleh saja, kau sungguhan membelikanku oleh-oleh? Aku hanya bercanda, Hyung, kau tahu." Taehyung bisa mendengar suara pintu mobil ditutup dan suara mesin mobil dinyalakan lewat panggilannya dengan Hoseok.
"Kau cukup terima saja."
"Memangnya kau membelikan apa?"
"Nanti kau akan tahu, Hei, malam ini kau ada waktu?"
"Uhm.. Kau mau aku buatkan teh?"
"Tentu, mau kau temani untuk mengobrol juga."
"Jam delapan kau bisa temui aku." Taehyung menggigit bibirnya sekilas.
"Tunggu saja aku disana."
.
.
.
.
Nomor yang anda tuju sedang sibuk, silahkan hubungi beberapa saat lagi
Suara itu berasal dari mail box saat Jungkook mencoba menelepon Taehyung. Menggerutkan keningnya karena merasa tak beruntung lagi memilih waktu untuk menelepon Taehyung. Jungkook mematikan panggilannya, menyimpan ponselnya lagi ke saku dalam jas formalnya. Jungkook bersidekap, membuang pandangan ke jalan raya dan berkata pada supirnya untuk mengantarkanya pulang ke apartemen.
.
.
.
.
"Yoona-noona kau harus melakukan sesuatu pada ini." Taehyung sampai di House of Cards setengah delapan malam, belum sempat bertemu Seokjin-Hyung karena laki-laki itu terlihat sibuk berbincang dengan Kim Namjoon diruangan depan sambil membawa-bawa beberapa helai hakama. tiga puluh menit lagi tempat ini akan buka dan kemungkinan Hoseok-Hyung juga akan segera datang.
"Aigoo... kau dapatkan ini kemarin? Sampai bagian mana saja?" Yoona, stylist dan tukang make up ditempat itu agak menyerngit melihat beberapa bekas merah dan sedikit lebam di leher hingga ke sekitaran tulang selangka Taehyung.
"Iya, baru kemarin malam, bisa kau menutupinya?"
"Mungkin aku bisa pakai foundation." Yoona terkekeh, meminta beberapa asitennya disana untuk membantunya menyiapkan alat untuk memoles Taehyung. "Malam ini kau ingin terlihat bagaimana? Warna baju apa yang akan kau pakai?"
"Aku tidak pernah suka yang terlalu mencolok, tapi orang yang akan kutemui suka warna hijau."
"Hmm... okay, serahkan saja padaku, sepertinya kakakmu punya hakama warna hijau tua juga."
"Aku mengandalkanmu." Taehyung tersenyum kotak.
"Kau sudah sampai disini ternyata, mau ada tamu lagi?" Seokjin masuk ke kamar itu membawa dua kotak lebar warna hitam.
"Hoseok-hyung berkata akan kesini dan menemuiku." Taehyung menjawab sambil memejamkan mata karena Yoona sedang memoles shadow warna cokelat untuk menimpa shadow sebelumnya yang berwarna hijau lembut di kelopak mata Taehyung.
"Aih, laris sekali adikku ini."
"Itu apa Hyung?"
"Hakama baru, Namjoon-ssi memberikannya, dia sponsor paling top untuk soal menyiapkan ini."
"Untukmu ya? Wow romantisnya."
"Ini ada dua, satu untukku dan yang lainnya untukmu."
"Hyung, saat aku main ketempatnya untuk memperbaiki hakama tempo hari, Namjoon-hyung bilang dia ingin berkenalan dan dekat denganmu."
"Oh dia memang orang yang baik, tadi dia sangat sopan padaku."
"Kau tau kemana arah bicaraku, Hyung."
"Sudah, aku ingin menyiapkan lainnya dulu ya, Yoona kau tahu kan dimana aku menyimpan pakaian dan aksesoris anak ini kan?" Seokjin menyudahi pembicaraan mereka, menggeser pintu sambil menoleh sekilas.
"Yup, biar aku urus dia." Yoona menyahut sekenanya saat tangannya sibuk mengelap lip balm Taehyung yang agak belepotan karena Taehyung tadi berbicara.
.
.
.
.
Taehyung selesai dengan kain obi yang meliliti pinggangnya. Mematut diri sekali lagi di cermin besar di kamarnya yang biasa dia pakai di House of Cards. Berulang kali menjilat bibirnya yang agak kemerahan menjadi berubah warna lebih muda, dan berulang kali menggelengkan kepala agar poninya menyigar untuk memperlihatkan alisnya. Dia terlihat sempurna, hakama satin cantik berwarna hijau tua menempel pas sekali di tubuhnya. Dengan hiasan bulu-bulu berwarna hitam merah membentuk beberapa bentuk artristik burung, dan juga beberapa helai bulu hitam lain terselip di belakang telinga beradu dengan surai coklat tuanya. Taehyung duduk dipinggir kasur, masih memandangi refleksi dirinya, agak kaget saat ponselnya yang tadi dilempar asal itu bergetar. Oh, Taehyung ingat, Jungkook bilang ia akan meneleponnya, dan dia tidak tahu ide apa yang ada di kepala Jungkook untuk mengharuskan dia mengobrol dengannya.
"Annyeong." Taehyung membuka suara setelah menempelkan ponsel ke telinga.
"Memangnya kau ini orang sibuk ya?, daritadi aku mencoba meneleponmu tapi tak kau angkat." Jungkook berkata dengan nada ketus tapi ada senyum tertarik di bibirnya.
"Ini jam-jamnya kami buka, aku juga mondar-mandir tentunya. Jadi?"
"Jadi apa?"
"Jadi , ada apa kau mencari-cari ku?"
"Oh.."
"Hanya 'oh'?"
"Begini, aku juga tidak tahu, aku.. entahlah."
"Kenapa kau jadi transparan sekali? Kau kangen padaku, tapi kau belum mengakuinya." Disana Taehyung terkekeh usil.
"Mungkin ada benarnya, kalau aku bertemu kau lagi, boleh?" Jungkook menjawabnya lambat-lambat, menelan ludahnya dengan pelan setelah menyahut.
"Whoa boleh saja, sepertinya aku akan dapat tamu langganan."
"Setelah ini aku kesana, oke?"
"Terserah kau mau kesini atau tidak... –eh, sekarang?" Yah, bodoh, Taehyung sesaat tadi lupa untuk siapa dia berdandan ala hijau ini.
"Kubilang nanti, setelah ini. Aku barusan pulang."
"..."
"Ada masalah?"
"Kalau hari ini aku sepertinya kesulitan untuk menemuimu."
"Kenapa?"
"Aku sudah ada tamu, aku harus menyiapkan teh dan menemani mengobrol, kau tahu kan."
"Kau tak akan lama kan?"
"Aku tidak tahu, kau kesini saja besok lain kali."
"Aku akan tetap kesana." Jungkook menyahut lebih cepat.
"Jungkook, aku tidak tahu kapan aku akan selesai."
"Aku tunggu, aku akan kesana agak larut."
"Memangnya kenapa, sih? Harus sekarang?"
"Seperti katamu tadi, mungkin aku merindukanmu. Entahlah aku hanya ingin melihatmu."
"Aku sudah memperingatkanmu, jadi, kalau kau tak bisa menemuiku nanti bukan salahku." Taehyung menggelengkan kepala sekilas tapi Jungkook tak dapat melihatnya, menampik semu aneh yang membuat perona pipinya lebih kentara.
.
Setelah selesai dengan beberapa patah kata lain, Jungkook menutup panggilannya saat Taehyung bilang dia harus pergi menyiapkan teh. Jungkook baru saja selesai mandi, dia sudah makan malam saat diperjalanan pulang dari kantor Jimin tadi. Menghempaskan tubuh letihnya di atas fabrik halus dan empuk dari kasurnya. Dia masih memikirkan ini, hal sama yang melintasi pikirannya sejak semalam lalu. Kim Taehyung, laki-laki itu terlihat cantik, manis, dan seduktif secara bersamaan. Kadang terlihat cuek dan agak bosan apabila terjadi hening diantara obrolan mereka semalam. Laki-laki yang baru saja dikenalnya namun mampu mengambil atensinya. Jungkook tidak mengenal Taehyung, seperti apa laki-laki itu jika tanpa dandanan malamnya, apakah ia akan tetap indah?, hal apa yang dikerjakan Taehyung saat pagi dan siang hari saat dia selain di House of Cards, Jungkook sama sekali belum mengenalnya cukup detail.
Jungkook berpikir, kalau Taehyung mendapat tamu malam ini, apakah tamunya itu bisa seenaknya menyentuh Taehyung juga. Oh ya tentu saja. Apa yang dia pikirkan? Itu adalah pekerjaannya jauh sebelum mereka bertemu. Tapi kenapa Jungkook merasa sulit menerimanya.
.
.
.
.
Taehyung menyimpan ponselnya diatas meja nakas disamping kiri kasurnya, tepat saat terdengar suara pelayan memanggilnya dari luar pintu geser. Jung Hoseok sudah datang, pada pukul delapan lebih lima belas menit. Mengambil langkah untuk datang ke ruangan yang tadi diberitahukan. Taehyung menarik nafas pelan dan panjang lalu menghembuskannya agak berlebihan. Dibelakangnya sudah ada dua pelayan lain yang membantunya membawa cangkir teh, teko dan beberapa piring berisi kudapan teman minum teh.
Hal pertama yang ditangkap Taehyung saat memasuki ruangan itu adalah Hoseok sedang bersandar, di dinding yang dilapisi wallpaper berwarna kombinasi kuning pucat dan hijau dari gambar tanaman bamboo yang tercetak artristik. Jas formalnya dia lepas dan ditaruh begitu saja di lantai tatami beberapa jengkal jarak dari dia duduk.
Hoseok memejamkan mata, ada sedikit gurat lelah di wajahnya tadi dia tetap menawan dipeluk kemeja warna merah maroon yang sudah agak kusut, lengan panjangnya sudah dilingkis sesiku. Taehyung tidak banyak bersuara saat meletakan bawaannya dan dua pelayan tadi diatas meja. Dia duduk disisi kanan Hoseok menopangkan sebelah pipinya pada telapak tangan yang sikunya menyangga diatas meja. Memperhatikan wajah Hoseok dari samping, hidung mancungnya, mata terpejamnya. Lalu sebelah tangannya terangkat menyeka sedikit surai cokelat kehitaman hoseok agar agak menyamping, memperlihatkan sedikit keningnya.
Saat melakukan hal itu, lengan hakama Taehyung yang lebar menabrak hidung Hoseok, yang disentuh lalu membuka mata. Menangkap pergelangan tangan Taehyung lalu menggenggamnya diatas perutnya bersama tautan jemarinya yang lain. Hoseok menoleh untuk menatap balik Taehyung.
"Kau tidur, dan kau capek." Taehyung masih menopang miring di meja, membiarkan sebelah tangannya yang lain digenggam dan dielus Hoseok.
"Aku tidak tidur, hanya memejamkan mata sebentar. Aku tahu kau sudah ada disini."
"Berarti untuk pernyataan capek itu benar?"
"Maka itu aku kemari, kau bisa jadi penghilang capekku. Lakukan sesuatu."
"Mungkin dimulai minum teh chamomile kesukaanmu?"
"Kedengaran bagus." Hoseok melepas tangan Taehyung agar laki-laki itu bisa bergerak menyiapkan tehnya. Sekarang gantian dia yang memandangi Taehyung. Kadang iseng mengelus-elus surai cokelat keemasan Taehyung. "Kau bisa memijat?"
"Memijat apa?" Sebenarnya Taehyung mau memprovokasi tapi sepertinya Hoseok tak menangkap sinyalnya.
"Ini, pegal rasanya." Hoseok menunjuk bahunya, sambil menunjukan muka lucu.
"Kau habiskan ini dulu. Jangan biarkan mendingin" Taehyung menyodorkan teh nya. "Sebenarnya kalau kau mencari yang pandai memijat, Seokjin-Hyung yang terbaik disini."
"Tapi aku maunya adiknya." Hoseok menjawab setelah melepaskan bibisnya dari cawan teh. "Kenapa kau selalu berhasil membuat ini enak? Skil mu membuat teh benar-benar mengagumkan.
Taehyung tersenyum kotak, dia sangat senang apabila ada orang memuji hal yang dia sukai juga.
"Pada dasarnya minum teh akan membuat orang menjadi rileks, disamping kandungan apapun didalamnya itu punya khasiat yang berbeda juga. Campuran itu akan lebih mengeluarkan aroma dan rasa yang lebih enak."
"Intinya kau yang lebih ajaib disini, karena kau yang membuatnya."
"Jadi dipijat?" Taehyung tersenyum lagi.
"Oke, coba trial dulu untuk bahu yang ini." Hoseok menyandarkan diri lagi pada dinding wallpaper dibelakangnya, sebelah kanan tubuhnya dia sodorkan pada Taehyung.
Kemudian Taehyung mencoba menggerakkan tangannya, dia sama sekali tak punya ide tentang memijat. Tapi bukannya memijat itu cukup simple bukan?. Diluar dugaan, Hoseok tertawa disela kegiatannya makan kue manju. "Lakukan pada bahuku dan punggung atas." Hoseok duduk membelakangi Taehyung, menaik turunkan bahunya untuk memberi kode. Dan disana Taehyung bergerak menurutinya, menyingkap hakama sedikit agar dia bisa berdiri diatas lututnya.
Beberapa gerakan dilakukan, Hoseok tertawa lagi, dan Taehyung gemas dengan itu. Pasti ada yang salah dengan pijatannya. Dia mengubah gerakannya menjadi mencubit agak keras bahu Hoseok, lalu laki-laki itu semakin tertawa dan menarik kedua tangannya kedepan. Posisinya sekarang memeluk Hoseok sambil memberengut agak sebal, dagunya tenggelam di puncak kepala cokelat gelat milik Hoseok, dan kedua tangannya digerakkan mengalung di leher laki-laki itu.
"Kalau tidak enak, kau bisa menyuruhku berhenti."
"Siapa yang bilang tidak enak? Mau ini menghilangkan pegalku atau tidak, aku tetap suka kau sentuh." Hoseok tertawa lagi, mengusap pergelangan tangan Taehyung halus sekali.
"Aku tahu aku buruk memijat, aku akan berhenti melakukannya daripada tulangmu rontok, Hyung." Taehyung memindahkan kepala untuk bersandar di bahu Hoseok, disana Hoseok agak geli karena pipinya bertabrakan dengan bulu hitam di rambut Taehyung.
"Kita lakukan hal lain kalau begitu."
.
.
.
.
Jungkook benar-benar datang ke House of Cards. Dia tidak menemukan Seokjin yang biasanya berjaga di ruang depan. Dia memilih untuk melangkahkan kaki begitu saja masuk ke lorong menuju kamar Taehyung tanpa terlalu diperhatikan pelayan yang lalu lalang. Membuat sepatunya berdentum di lantai kayu. Udara berhembus lebih dingin di sepanjang lorong yang langsung bersebelahan dengan taman yang memiliki kolam ikan disisinya. Sweater lengan panjang dan kemeja hitam yang dikenakan berlapis oleh Jungkook menyelamatkannya dari menggigil. Menemukan kamar Taehyung yang kosong, Jungkook mengingat-ingat ucapan Taehyung jika dia memiliki tamu, berarti dia benar-benar belum selesai saat ini.
Jungkook kemudian menyeret langkahnya lagi untuk kembali ke ruang depan, berniat memesan tempat atau sekedar mengobrol dengan Seokjin dulu untuk menanyakan soal adiknya. Melewati lorong tadi, ada salah satu ruangan yang agak terbuka pintunya dan menyelipkan keluar cahaya temaram. Jungkook mencoba untuk tidak mempercayai apa yang dia lihat dari sela pintu geser itu.
.
.
.
Taehyung terbaring bebas di atas beberapa bantal duduk, merasakan agak pening di belakang kepalanya karena Hoseok kurang hati-hati membalikan posisinya. Diatasnya Hoseok tersenyum padanya, hangat dan sangat tampan, poni cokelat gelapnya jatuh ke kening dan Taehyung merasakan tangan lain merambati lehernya. Taehyung kemudian lebih gencar lagi mengusap bahu Hoseok saat tangan Hoseok mengelus pipinya lalu turun ke leher. Foundation dari Yoona-noona menyelamatkannya dari kemungkinan pertanyaan heran Hoseok, lehernya rata sewarna kulit lain tanpa bekas kemerahan.
Taehyung menarik nafas bersamaan dengan semakin dekatnya wajah Hoseok dan semakin dekatnya bibir Hoseok memburui miliknya. Mereka berciuman, basah dan menuntut, membiarkan tubuh Taehyung agak meronta karena Hoseok menekan lehernya agak keras.
"Hey, Aku rasa aku mencintaimu." Hoseok berbisik rendah sekali didepan bibirnya yang basah dan semakin berwarna pudar.
"Ngh.. Jangan sekarang, Hyung.."
Saat mengatakannya, saliva meleleh dari bibir mereka. Dan Hoseok menambahkan satu lagi ciuman saat dirasa Taehyung menggerakkan tangannya di belakang kepala Hoseok frustasi. Lalu ia benar-benar melepaskannya saat mendengar gemeratak berisik dibalik pintu ruangan mereka.
.
.
.
Jungkook merasakan amarahnya naik, melihat laki-laki itu mencumbui bibir Taehyung. Dia sangat mengenal siapa dua orang yang ada disana. Jung Hoseok rekan kerjanya dalam proyek bersama Jimin dan Kim Taehyung yang sedari tadi dia cari. Tak lagi bisa berfikir lurus dan tidak mempedulikan mengenai privasi, Jungkook membuka pintu itu cepat, namun secepat itu pula gagal karena ada tangan lain menahannya dan mendorong pintu itu agar tertutup kembali sehingga menimbulkan bunyi debum gemeratak yang jelas.
"Bukankah tidak sopan membuka ruangan yang sedang dipakai Jeon Jungkook-ssi? Tolong jangan buat keributan disini." Suara itu milik Kim Seokjin, nyaris mendesis rendah berbahaya dan kentara sekali tidak sukanya. Genggaman tangan halus Seokjin yang menahannya semakin mengerat agak menyakitkan.
Tak butuh banyak menit berlalu, dari balik lain pintu geser itu terasa dorongan lain mencoba membuka. Tangan Jungkook turun dan mengepal bersamaan dengan lepasnya cekalan tangan Seokjin. Mereka menemukan Taehyung yang keluar dari dalam sana setelah membenahi asal hakamanya yang agak kusut. Bibirnya masih basah dan Jungkook makin muak ditambah dengan pandangan kaget Taehyung.
"Jungkook.."
.
.
Jungkook belum menyadari bahwa amarah yang dirasakannya adalah bentuk refleksi dari sebuah kecemburuannya dari dirinya yang menginginkan Taehyung hanya untuk jadi miliknya.
.
TBC
.
.
Im so done with this 'ngambang' chapter wkwk. Makasih udah baca sampai sini, buat yang follow dan fav dan review yang belum bisa aku balas satu persatu. Thanks pokoknya buat feedbacks nya reader-nim.
Chapter depan akan mulai konflik, konflik sama pasangan MinYoon juga. Please anticipate it LOL.
.
Semoga cerita aneh ini bisa dimaafkan dengan segala typos yang mungkin muncul didalamnya.. Beritahu aku apa yang kalian pikirkan mengenai fic ini di review box. Love sign.
.
Jangan lupa vote Bangtan di MAMA :"
.
.
[ Sapa aku disini Tweet : sugarunning95]
