a BTS fic

Choose Me

.

.

I'm alright, even if I can't have you.

.

.

Cast : BTS's Member

Pair : KookV ; HopeV ; JiminV ; Slight MinYoon ; Slight NamJin

Rate : T maybe will change into M for safe

.

.


Pt.5 Jealous

.

.

Suara geritan gigi dan desis rendah terdengar saat Jungkook berpaling untuk membuang muka. Masih berdiri tegas disana dengan kedua tangan tergenggam, mengepal erat.

Memuakkan sekali menatap Taehyung dengan dandanan yang kelewat indah dan dengan bibir merah basah namun bukan karena dirinya. Dan dia tidak peduli lagi pada decakan tidak suka Seokjin disampingnya yang jengah melihat sikap Jungkook.

"Beri aku err.. sepuluh menit untuk bicara berdua dengannya, Hyung." Taehyung mengerling ragu ke arah Seokjin-Hyung nya. "Aku janji dia tidak akan mengacau."

"Lima menit dan kau kembali kedalam sana."

"Sepuluh Hyung, dan aku pastikan tidak akan lebih."

"Oke, Kau pasti sadar betul waktumu untuk siapa sekarang." Seokjin berlalu, melirik sekilas pada Jungkook yang menolak menatap satupun antara dia atau Taehyung. Dia mempercayai adiknya, sehingga dia melangkahkan kaki menjauh sambil mengurut tangan halusnya yang tadi beradu dengan kekuatan lengan Jungkook saat memaksa membuka pintu geser.

Sesaat setelah Seokjin menghilang dari tikungan lorong, setelah tolehan sekilas laki-laki cantik itu, Taehyung membuka suara, memecah hening yang bertensi tinggi dan agak berat diantara mereka. Dia tak punya waktu banyak, karena akan sangat tidak sopan meninggalkan Hoseok terlalu lama seorang diri di dalam ruangan itu. Dan ribut dengan Jungkook didepan pintu buka ide yang bagus.

"Aku ada dua pilihan untukmu, pulang dan temui aku.. lain waktu atau kau menungguku hingga selesai." Taehyung menarik nafas lebih cepat, melanjutkan "Karena aku sudah bilang sebelumnya, kalau aku ada tamu sebelum kau memintaku untuk menemuimu."

"Harusnya aku sadar lebih awal, aku tidak bodoh untuk menyambutmu kembali tepat setelah kau ditiduri orang itu."

"Oh..." Taehyung merasakan nyeri dan campuran amarah berkubang dalam hatinya menjadi satu. Kalimat tajam dari bibir Jungkook agaknya menggeritkan luka tipis dihatinya, tapi hal tersebut tak dapat ia tampik. "Jadi.. Kau memilih opsi untuk pulang."

"Kenapa kau seperti ini?"

"Harusnya aku yang bertanya padamu Jungkook, kenapa kau seperti ini?" Suara Taehyung mengalun dalam dan terdengar tegas tanpa ragu.

"Jangan jawab aku dengan pertanyaan lain." Disana Jungkook tidak kalah.

"Dari caramu menyinggungku yang akan ditiduri orang, sepertinya kau tahu betul bagaimana posisiku saat ini." Jungkook pasti sudah memikirkan segala hal rendah tentang dirinya, jadi Taehyung tak mau merepotkan diri untuk menjelaskan sesuatu tentang harga dirinya yang nyatanya tidak serendah yang dipikirkan Jungkook.

"Tentu saja, kau sedang dipakai orang lain dan aku tak ada hak untuk menahanmu, begitu kelihatannya?"

"Nah.. kau boleh saja pernah mendapatkan waktuku kemarin malam, dan hanya itu Jungkook. Seluruh waktuku tidak selalu untuk kau miliki."

Untuk selanjutnya tangan Taehyung dicekal oleh Jungkook, agak kasar. Menariknya untuk lebih mendekat dengan Jungkook. Dihadapannya Jungkook menusuk mata bening cokelat kemerahan milik Taehyung dengan kelam dan pekatnya tatapan iris hitam Jungkook. Mencoba menyatakan pada Taehyung bahwa Jungkook benar-benar kesal dengannya.

Taehyung tak mengerti, agak meringis dan mencoba lepas dari Jungkook saat tangan Jungkook yang lain mencoba mencengkram dagunya. Sekali lagi Taehyung tidak punya ide kenapa Jungkook terlihat semarah ini, yang Taehyung pikirkan adalah bagaimana caranya agar tidak jatuh pada permainan apapun yang Jungkook pikirkan. Hoseok menunggunya.

"Maaf Jungkook, aku benar-benar memintamu untuk berhenti bersikap begini sekarang."

"Tak pernah kupikirkan bahwa aku akan dipermalukan seperti ini olehmu."

"Aku tak mencoba mempermalukanmu, aku sudah memperingatkanmu untuk datang bukan hari ini"

"Aku pulang." Jungkook merenggangkan dan melepaskan cekalan tangannya pada Taehyung pada detik setelah dia menjawab tuntas.

"Pilihan yang bagus kurasa."

Jungkook menggeram rendah lagi, amarah belum susut menyesak paru-paru. Dia butuh kembali disadarkan bahwa memang benar Taehyung bukan miliknya, bahwa memang benar Taehyung tidak hanya akan meladeninya. Saat kenyataan menunjukkan bahwa taehyung bisa saja dicium dan disentuh oleh Hoseok atau siapapun itu di luar sana adalah diluar kendalinya. Namun kamarahan ini merangsek begitu saja.

Jungkook tidak pernah merasa semarah ini beberapa waktu terakhir, karena tidak, dia tidak pernah mendapat penolakan, pengesampingan untuk ektensinya, hal yang paling dia benci, dan hal itu malah didapat telak dari laki-laki yang entah kenapa harusnya dapat Jungkook kuasai juga. Harusnya dia laki-laki yang memiliki posisi yang kuat untuk mencampakan segala sesuatu yang tak penting untuknya. Harusnya dia yang memiliki posisi untuk memakai atau membuang Taehyung setelah Jungkook tak tertarik lagi padanya. Harusnya dia yang memutuskan dia butuh atau tidak pada Taehyung bukan sebaliknya.

Membawa langkah kaki lebarnya untuk menjauhi tempat itu, Jungkook membanting kasar pintu mobil disambing tubuhnya hingga terdengar suara debum cukup keras. Badannya ia hempaskan di sandaran kursi dibalik kemudi, matanya menatap nyalang kedepan dengan sebelah tangan menggenggam tuas perseneling kencang. Jungkook akan pastikan bahwa Taehyung akan menyesal telah menolaknya dan membuatnya terusir dari sana seperti pecundang yang kalah memperebutkan Taehyung.

Emosi menutup kubangan perasaan lain di dasar hati Jungkook, dia hanya terlalu keras kepala untuk menyadari bahwa dia telah cemburu.

.

.

Tehyung sendiri cukup terhenyak saat Jungkook pergi menjauhinya, dia tak mengharapkan obrolan sengit lain atau sekedar tolehan dari Jungkook. Memutar ulang rangkaian peristiwa sebelumnya saat terdengar gemeratak pintu dan mengharuskannya keluar, dia mulai menerka-nerka. Apakah gemeratak pintu geser barusan itu terjadi karena Jungkook tak sengaja telah melihat apapun kegiatannya dengan Hoseok didalam? Kalau hal itu benar, apakah benar karena itu Jungkook terlihat luar biasa marah? Untuk apa dia harus marah?. Semakin memikirkan itu Taehyung semakin menyerngit dan menggeleng kan kepalanya tipis. Tidak, tidak, sekarang bukan saat yang tepat untuk mengurusi keegoisan Jungkook. Dia hanya laki-laki lain yang menjadi salah satu pelanggannya beberapa hari terakhir. Tidak ada yang istimewa antara mereka.

Untuk itu kemudian dia melangkahkan kakinya kembali masuk ke balik pintu geser dibelakangnya. Saat masuk, Hoseok terlihat lagi-lagi bersandar pada dinding wallpaper dan memejamkan mata seperti posisi awal laki-laki darah Jung ini dia temui beberapa jam lalu. Menyeret langkah dengan pelan, Taehyung kembali duduk disisi kanan dekat sekali dengan tubuh Hoseok yang bersandar. Teh buatannya sudah lama habis, juga suguhan kue cemilan lain sudah cukup banyak berkurang digitnya.

Taehyung disana lagi-lagi hanya bisa memandangi Hoseok, menyentuh hidung mancung laki-laki yang kelihatan agak lelah itu dengan pelan. Mencoba sekedar menarik kesadaran Hoseok lagi. Dikepalanya berputar lagi kalimat Jungkook yang seakan menuduhnya akan tidur dengan laki-laki tamunya malam ini. Tapi tidak, Hoseok-Hyung nya ini tidak pernah sampai mencoba menelanjangi Taehyung seperti yang Jungkook coba lakukan malam lalu. Hoseok begitu lembut pada Taehyung, terlihat begitu mengagumi dan menghargai dari tatapan mata sewarna karamelnya pada Taehyung.

Mengingat tentang Hoseok, Taehyung teringat kembali pada ungkapan perasaan Hoseok sebelum ini. Ungkapan Hoseok tidak hanya sekali didengarnya, dan sebanyak itulah kalimat itu menusuk dada Taehyung karena dia tidak menemukan jawaban yang tepat untuk Hoseok. Jangan pernah membawa perasaanmu. Itu yang selalu dirapalkan kakaknya Seokjin-Hyung pada Taehyung. Dan Taehyung tahu betul bagaimana posisinya, dan untuk apa dia melakukan ini.

Telunjuk panjang Taehyung yang mengetuk-ngetuk sekitar hidung Hoseok merasakan sentuhan jemari tangan lain. Hoseok telah terbangun dari tidur singkatnya, sepertinya dia barusan benar-benar tidur tidak seperti awal pertemuan mereka tadi.

"Mm.." Dengung pelan dan pendek saat Hoseok membuka mata sambil menangkap jemari Taehyung yang tadi agak menggelitik permukaan hidungnya. Membawa tautan tangan mereka keatas perut rata namun padat dengan otot terbentuk Hoseok, Hoseok menoleh dan menemukan senyum Taehyung yang terlihat agak tak enak hati.

"Jangan bantah aku saat aku bilang kau tertidur dan terlihat luar biasa capek, Hyung."

"Oke, aku mengaku, aku memang agak ngantuk dan capek, sedikt." Balas Hoseok, mengasak sedikit poni rambutnya sendiri dengan sebelah tangan hingga terbelah dan menunjukkan dahinya. Hoseok disana dengan senyum tipis yang terpulas samar di bingkai wajahnya. Sangat tampan.

Taehyung membalas senyumnya, "Aku khawatir bagaimana kau akan menyetir pulang."

"Karena itu aku akan tidur sebentar disini, boleh?" Hoseok menepuk-nepuk paha Taehyung, memberi gesture kalau dia ingin tidur dipangkuan Taehyung.

" Uhm, boleh saja, Hyung."

Taehyung menyangga kepala cokelat kelam Hoseok, mengarahkannya hati-hati untuk jatuh dan menggelitik kedua pahanya. Dia menunduk untuk menemukan senyum samar lain dari Hoseok. Hoseok mengangkat sebelah tangannya yang dilingkari jam tangan rolex platinum, menilik denting jarum disana. Dia berbisik dengan nada mengantuk kemudian.

"Bangunkan aku sekitar dua jam lagi, aku mungkin sudah cukup segar untuk menyetir pulang."

"Kau ada urusan besok pagi-pagi sekali, Hyung?" Tanya Taehyung dengan tangan bermain menyigar poni Hoseok lalu mengusap keningnya.

"Tidak, kau juga butuh tidur dengan nyaman." Hoseok membalas dengan mengelus pelan puncak surai cokelat keemasan Taehyung, membiarkan poni lucu Taehyung semakin turun menutupi sebagian mata Taehyung. "Aku bisa pulang dini hari atau pagi-pagi sekali."

Taehyung agak kaget saat tangan Hoseok turun ke tengkuknya, menariknya agar menunduk dekat sekali dengan wajah Hoseok dibawahnya. Dan hal selanjutnya terjadi begitu membuai dan lembut. Hoseok menciumnya lagi, walau kepala taehyung ada diatas, dia tetap tak kuasa mendominasi. Ciuman lembut dan hangat tipikal Hoseok terjadi hanya sekejap, karena tangan Hoseok kembali membebaskan kepala Taehyung dan memilih untuk memburui jemari dan lengan halus Taehyung. Mengelusnya pelan hingga laki-laki yang menopang tanggung jawab besar Hope Corp dipundaknya itu perlahan masuk ke alam mimpi di pangkuan Taehyung. Taehyung menyandarkan tubuh dan kepalanya lebih nyaman di dinding wallpaper dibelakangnya setelah berhasil menarik selimut tebal yang memang selalu tersedia di setiap ruangan minum teh. Menyelimuti tubuh padat Hoseok agar lebih nyaman dalam tidurnya. Untuk sekilas tatapannya matanya sulit ditebak.

.

.

Taehyung juga jatuh tertidur, melupakan janjinya yang akan membangunkan Hoseok dua jam setelah laki-laki itu terlelap. Entah sejak kapan dia sudah berpindah posisi tidur bebas terlentang dengan Hoseok memeluknya dibawah selimut tebal. Pahanya tidak terasa kebas, mungkin Hoseok sendiri yang telah bangun lebih awal untuk dengan hati-hati merubah posisi tidur mereka. Taehyung mengerjap samar lalu merangsek masuk lebih dalam ke pusat kehangatan didekatnya, menutup matanya kembali dan melewatkan jam jam tidur berikutnya.

Hingga pagi menjelang dia merasakan ada bisikan ditelinganya. 'Good Morning, angel'. Dan saat Taehyung mencoba membuka mata dia tak melihat Hoseok ada disana, hanya menangkap dengan mata buram pintu geser yang bergerak menutup dari luar.

Dan hal kedua yang ditangkap mata Taehyung yang berangsur memberikan pandangan lebih jelas adalah satu kotak antik yang cantik, dengan ukiran berbentuk sulur-sulur misterius dan berujung membentuk menyerupai gajah yang sangat gagah. Disisi bawah kotak mungil tersebut tercetak indah tulisan Bangkok. Dan taehyung lebih terkejut lagi saat menemukan apa isi kotak mungil tersebut. Hoseok-Hyung nya benar-benar membelikannya hadiah oleh-oleh.

.

.

.

.

Pagi yang buruk untuk Jungkook. Raut wajahnya lebih tegas dan terlihat lebih tegang dari biasanya. Aura hitam bagai menguar dari balik punggungnya. Setiap decakan tipis tanda tak senang dari Jungkook mampu membuat pegawai Jungkook agar bergidik mendengarnya. Jungkook melewati jadwal meetingnya dengan profesional, memulai dan menyelesaikan semua kewajibannya untuk kantor dengan baik. Saat kembali ke ruangan pribadinya, Jungkook sempat terpejam sejenak karena semalam kepalanya terasa pening dan sulit untuk tidur.

Dia kembali terjaga saat sekertarisnya menelepon lewat intercom bahwa Park Jimin datang (lagi) berkunjung ke kantornya. Jimin tipe yang sangat playful, bisa santai dan berubah menjadi keras untuk kepentingan perusahaannya agar tetap maju. Rela mondar mandir kesana kemari, karena ya, Jimin selalu terjun sendiri ke dalam tiap rapat tender dan kadang ikut main ke wilayah research. Itulah yang membuat Jimin banyak menghabiskan waktu berkeliaran diluar kantornya karena ayahnya masih duduk di bangku presdir utama perusahaan Park.

"Jeon Jungkook, been a while." Ucap Jimin main-main menggoda ekspresi wajah keras Jungkook yang kentara sekali sedang bad mood.

"Baru kemarin aku melihat warna kepala konyolmu menyakiti mataku." Ucapan non formal meluncur begitu saja dari mulut Jungkook, karena mereka hanya berdua dalam ruangan ini dalam mode santai.

"Tebak siapa yang sedang, bad mood." Jimin terkikik kurang ajar, tertawa hingga menyipitkan mata saat Jungkook memutar bola mata jengah. "Kau kenapa?" Tambah Jimin.

"Tidak kenapa-kenapa, hanya agak lelah."

"Kau yakin, Jungkook-ah?" Jimin masih mengerling menyebalkan.

"Apa maumu, aku tak ingat kita ada jadwal penting."

"Oke, tahan saraf tegangmu, Aku kesini tentunya ada misi khusus." Jimin membuka kancing jas formal ketat berwarna hitam dengan garis navy disepanjang pundak hingga lengannya. Membiarkan fabric berat itu terbuka memberikan akses untuk bergerak lebih leluasa. Badannya sekilas terlihat semakin berisi oleh otot yang cukup padat. "Kita akan ada rapat lagi tiga hari mendatang, jam nya belum ditentukan."

"Rapat apa?"

"Ya ampun Jungkook, tentu saja rapat untuk proyek jenius-luar-biasa-menguntungkan kita, dengan Hope Corp."

Uh. Jungkook merasakan memori yang menyentak amarahnya naik itu kembali terulang, memicu kejengkelannya untuk lebih menumpuk saat ini. Membuang nafas dengan kasar dan keras saat ingat bahwa dia dan Jung Hoseok masih ada urusan sebagai satu kerabat kerja.

"Oh, ya aku baru saja ingat."

"Kenapa kau seperti tak semangat begitu. Lihat ini ada beberapa sample, hasil dari tambang benar-benar bagus." Jimin di sofa seberang tempat dia duduk kembali berceloteh sambil membuka-buka map bersi beberapa lembar log sheet dan foto hasil tambang. Beberapa foto ada yang terlihat konyol karena disana ada jimin memegang sendiri butiran intan berkilauan dengan sebelah tangan mengacungkan jempol mantap. Laki-laki ini perlu menghentikan sikap hipernya itu terkadang.

Jungkook mengangguk-anggukan kepala singkat, dia tidak dalam mood bagus tetapi dia harus tetap professional, mempelajari beberapa laporan dan log sheet, karena ini adalah tanggung jawabnya sebagai satu-satunya anak laki-laki kepercayaan tuan besar Jeon. Obrolan diantara mereka mengalir lebih heboh dari yang dia kira, Jimin menjelaskan secara detail tentang prospek kerja dan Jungkook mendengarnya patuh. Sekali-kali menyesap kopi dan balik memberikan kritik dan masukan.

"Ini apa?" Obrolan mengenai pekerjaan sudah final sekitar sepuluh menit yang lalu. Dan Jungkook dibuat menaikkan salah satu alisnya saat Jimin menyodorinya satu tas kertas ukuran sedang yang didalamnya terlihat kotak yang membungkus sesuatu.

"Aku punya dua lagi di mobil, hadiah oleh-oleh dari relasi kerja perusahaanku, kan sekalian saja kau kubagi satu."

"Apa isinya?"

"Relasi ku ini dari tanah Jepang. Aku sempat membuka isinya tidak lebih dari beberapa obat dan minuman bubuk khas negeri sakura."

Tangan Jungkook bergerak membuka kotak tersebut, mengeluarkan dan melihat-lihat isi bingkisan kecilnya. Ada kotak-kotak lain yang mengindikasikan sebagai bubuk teh hijau kombinasi seperti matcha late dan beberapa bungkus kopi bubuk dari Okinawa. Ada obat herbal yang kurang Jungkook mengerti apa itu fungsinya karena tulisan dibungkusnya penuh huruf kanji. Bungkus-bungkus lain dukeluarkan ada ornament kecil lucu berbentuk kucing warna emas.

"Yang ini dia bilang obat herbal, kalau kau merasa tubuhmu mudah lelah kau bisa pakai ini, dia mengatakan soal gingseng merah atau apa." Jimin menunjuk salah satu bungkus yang terlipat rapi dan elegan, tidak terlalu besar tapi sepertinya ada beberapa isinya. "Kalau yang ini.. uh, kau tau.. obat penambah gairah."

"Obat perangsang maksudmu?" Jungkook sedikit menyerngit.

"Yah, dia berkata agak cepat dan aku tidak semahir itu mengerti bahasa Jepang. Yang aku tangkap seperti itu."

"Bejat juga ternyata. Barang begini disandingkan dengan oleh-oleh berbungkus kalem lainnya"

"Disamping bejat atau tidak, itu adalah produk-produk unggulan yang dijual disana jadi khasiatnya tidak main-main. Siapa tau kau mau pakai juga." Jimin mengedikkan bahu sekilas menoleh dan menyembunyikan tawa.

"Kau sudah membuktikannya?"

"Apanya?"

"Khasiatnya, bodoh."

"Kalau kau bertanya soal obat gingseng nya aku sudah buktikan, badan jadi lebih bugar kurang lebih begitu."

"Yang obat bejat ini?" Jungkook mengangkat-angkat satu bungkusan warna keemasan.

"Astaga, tidak.. atau belum.. aku tidak berfikir mencobanya, memang asyik apa main pakai obat." Jimin membalas lagi sekenanya. Benar, dia belum pakai dan tidak terpikir untuknya untuk memakai hal-hal macam itu. Membayangkan dia bercumbu dengan Yoongi yang kelewat bergairah? Kok malah seram ya. batin Jimin.

"Beberapa hari lalu kau membicarakan soal pacarmu, kan. Siapa tau kau pakai dengannya." Itu Jungkook, dia malah menanyakannya sekarang.

"Yang aku bicarakan itu belum pacarku, hubungan kita rumit tidak bisa dikatakan begitu."

"Belum pacaran tapi sudah melakukan macam-macam, Jim?"

"Maaf aku tidak terlalu suka arah pembicaraan kita."

"Seharusnya kau coba saja."

"Untuk apa, dia sudah sepanas neraka, tak perlu dipicu lagi."

.

.

.

.

Jungkook pulang selepas jam 7 malam, keluar kantor dan melewatkan makan malamnya di restoran berkelas bersama teman lamanya; Mingyu, Eunwo dan Yugeom. Menutup pelan pintu apartemen dibelakang tubuhnya. Jungkook menaruh tas oleh-oleh pemberian Jimin diatas meja nakas disamping tempat tidurnya. Jam digital berkedip menunjukan angka sembilan malam. Matanya memindahi Memutuskan menyeret tubuhnya untuk mandi lalu segera beringsut menenggelamkan diri untuk istirahat.

Selesai dengan acara mandinya, Jungkook membuka-buka lagi bingkisan dari Jimin dan mengambil satu kotak macha latte dalam kemasan bubuk, berfikir sepertinya menyeduh itu sebelum tidur boleh juga. Jungkook berjalan lamat-lamat di apatemennya, dengungan pendinging ruangan terdengar kentara. Kadang apartemen ini benar-benar terlihat terlalu besar dan sepi untuk dirinya seorang. Selesai dengan urusannya menyeduh teh. Jungkook membawa dirinya ke atas kembali kedalam untuk bersantai diatas kasur sambil menekan-nekan remote TV untuk menemani malam di apartemennya.

Satu hirupan lalu teguk selanjutnya, rasa dari teh ini benar-benar lembut. Jungkook mengikuti instruksi cara membuatnya dengan benar dan dia berbangga diri karena hasilnya jauh dari kata buruk. Ditengah acaranya menikmati isi mug nya, dia teringat sesuatu, tepatnya seseorang yang tak jauh dari frasa teh. Kim Taehyung.

"Aish.."

Meringis sendiri karena sedikit tersengat panas dari likuid teh lembut yang dia minum buru-buru sesaat setelah Taehyung mampir dalam pikirannya. Jungkook sedikit banyak merasa bersalah dan tidak sopan. Mana etika dan kontrol dirinya yang biasanya dijunjung tinggi-tinggi walau dalam emosi apapun. Dan Taehyung bisa membuatnya buyar begitu saja, Siapa dia? Bahkan Jungkook tidak menemukan alasan yang tepat dari sikapnya yang kelewat meledak dan mungkin akan menyakiti hati Taehyung malam kemarin. Semua kalimat Taehyung benar, dan sikapnya mungkin memang salah. Mengingat dengan jelas bagaimana dia merendahkan Taehyung lebih dalam karena pekerjaannya. Apa ini, Jungkook merasa tidak enak? Bukankah itu semua fakta?. Namun hati kecil dari Jungkook mengatakan bukan begitu seharusnya dia berucap semalam. Mungkin dia hanya cemburu.

Ha? Cemburu?.

Sayup suara orang bercakap pada acara talkshow dalam TV diabaikan oleh Jungkook, matcha latte nya yang tinggal seperempat gelas mug mulai mendingin, dan dia sibuk dengan batinnya.

Sadar Jeon, itulah kenyataannya, Taehyung bisa dipakai siapa saja, tidak lebih dari –kata kasarnya jalang lain dan Jungkook tak sepantasnya meratapinya. Dia dicium Hoseok, lalu kenapa? Jungkook pun juga pernah melakukannya dan Taehyung menerimanya. Uh.

Jungkook mwnghabiskan matcha latte nya sekali teguk menaruhnya diatas nakas, besok pagi pasti sudah ada orang yang membereskannya. Tak sengaja menyenggol satu bungkus lain warna keemasan hingga jatuh dari atas meja kecil disamping kasurnya itu. Jungkook memikirkan satu ide gila dalam otaknya. Kalau memang benar itu pekerjaan Taehyung dan dia dengan mudah bisa dipakai orang, kenapa dia harus marah? Dia juga mampu menguasai ekstensi laki-laki cantik mata kucing itu, dan masalah selesai. Besok dia akan kesana. Jungkook mengulas senyum remeh sambil sebelah tangannya menggenggam obat dari negeri sakura itu.

.

.

.

.

Tengah malam dan Yoongi tidak ada kabar seharian. Jimin agaknya sedikit kesal. Berulang kali mengecek ponselnya namun pesan kirimannya masih saja ceklist dan belum ada tanda-tanda terbaca oleh laki-laki Min itu. Juga jangan lupakan semua panggilannya ke nomor ponsel Yoongi yang berakhir masuk mailbox. Kemana Hyung nya itu?. Di basement terparkir mobil Yoongi yang tandanya laki-laki itu tidak naik mobil pribadi untuk melintasi kota Seoul. Biasa, katanya kalau sedang ingin mencari inspirasi lirik lagu, Yoongi akan mendadak berubah mellow dan drama, menaiki bus dengan tujuan asal tak tentu arah lalu wajah lucu menatap luar jendela dan tangan sibuk mengetuk pulpen pada notes hitam yang penuh coretan lirik lagu. Jimin pernah membuntuti kegiatan Yoongi itu sekali dua kali. Dan itu menarik. Tapi ini? Tidak mungkin dia pergi sampai larut malam tanpa mengabari, mungkin ponselnya memang mati. Namun bayangan Yoongi yang pulang naik taksi agaknya mengganggu pikiran Jimin, kalau bisa Jimin mau menjemputnya, berlari ke studio sekarang, barangkali laki-laki itu masih—

Suara decitan sepatu dan bunyi pintu tertutup terdengar. Jimin beranjak dari duduk bengongnya di balkon samping. Menuju raung depan atau ruang tamu apartemennya dan melihat Yoongi membelakanginya, dia tanpa sadar mengeluarkan nafas lega. Jimin mendekat pelan-pelan tanpa suara, ruang tamunya sudah dimatikan lampunya. Dia sekilas melihat Yoongi menggunakan penerima pesan untuk tamu yang ada di lantai bawah apartemennya. Sorot layar kecil hitam putih itu menampilkan sosok laki-laki yang berguman samar ke Yoongi, dan Yoongi membalasnya dengan kalimat 'Iya, aku sudah masuk dan akan istirahat'. Well shit? Siapa itu?.

Tidak terlalu lama memang mereka berbicara, tak sampai satu menit lalu Yoongi mematikannya. Yoongi beralih sibuk meraih map nya yang melorot sampai kakinya. Berbalik dengan lambat dan agak menunduk, namun terlambat menyadari bahwa dirinya harus bertabrakan dengan tubuh bidang Jimin yang tepat didepan hidungnya.

"Larut sekali, sayang?"

"Apaan sih, Jim. Aku ngantuk sekali, pusing rasanya mau mati."

"Kerjaan, Hyung? Kemarin kau bilang sedang ikut mengkomposeri beberapa lagu dalam album."

"Tentu saja, sebenarnya hari ini aku selesai mengerjakannya, dan di cek sana-sini oleh produser lain, lalu tadi perayaan sedikit."

Jika mata Jimin tidak jeli, pasti rona merah di hidung Yoongi akan lolos dari pandangannya dalam ruang tamunya yang minim cahaya ini. Itu tanda bahwa Yoongi habis mengenggak beberapa gelas alkohol.

"Kau diantar siapa tadi, Hyung. Kenapa tidak memintaku menjemput." Suara Jimin lebih terdengar dingin dari keinginannya, tidak ,Jimin tak seharusnya begini.

"Hm? Temanku. Dan ponselku tadi mati." Oh ternyata Jimin berdiri dibelakangnya lebih lama dari yang Yoongi pikirkan, untuk megetahui dia berpamitan dengan teman kantornya.

"Kupikir kau hafal nomor ponselku, Hyung."

"Jim, aku tak sekejam itu mengganggu jam istirahatmu. Dan maaf sepertinya aku membuatmu menungguku."

"Itu temanmu di kantor yang sama?" Jimin memburui topik sebelumnya.

"Iya, satu gedung. Kau tidak keberatan membiarkanku meminjam kamar mandi dan tempat tidur? Aku mau pingsan kalau kita ngobrol sambil berdiri begini."

Jimin membiarkan Yoongi berlalu dengan sempoyongan namun samar. Mengamati bagaimana laki-laki yang lebih tua dan semanis gula itu melepas sepatu, membuka coat dan menaruh mapnya diatas sofa. Kalau boleh jujur Jimin memang sudah jengah berdiri lama didepan Yoongi, bukan karena badannya bau alkohol, tapi Jimin bisa dengan samar mencium parfum lain yang berbaur dengan wangi alami tubuh Yoongi. Membayangkan Yoongi setengah mabuk dengan orang lain, diantar pulang naik mobil hingga larut malam, hal itu cukup membuat Jimin kesal. Apa pikir Yoongi? Membiarkan dirinya tanpa pertahanan berduaan dengan temannya yang mungkin saja bisa bermaksud lain. Kekanakan memang, mengingat Yoongi bukan.. atau belum kekasih Jimin. Jimin kemudian tertawa hambar tanpa suara.

Yoongi sudah segar, bersih, wangi dan beraroma mirip seperti Jimin yang tidur satu selimut dengannya, bersidekap dan membelakangi nya. Mereka berdua biasa membagi kasur, selain memang hanya satu kamar di apartemen Jimin dan mereka tidak perlu dikata canggung lagi untuk tidur bersama setelah macam-macam diantara mereka.

"Aku tau kau belum tidur." Kata Yoongi setelah berdeham kecil, surai hitamnya mudah berantakan tergerus diatas bantal. Air hangat dengan campuran madu yang sebelumnya telah dia minum agaknya membuat tubuh mabuknya lebih baik.

"Kau bilang kau capek, ngantuk dan pusing mau mati. Tidurlah, Hyung."

"Aku cukup kenal kau yang ngambek, Jim." Yoongi menarik ujung kaus Jimin, mencoba membuat laki-laki bersurai silver lilac itu menghadap dia. "Kau marah karena aku tak ada kabar, atau karena aku pulang malam tidak minta dijemput olehmu, atau karena hal lain."

"Tidak, aku tidak." Jimin berbalik berhadapan dengan Yoongi yang sudah memiringkan tubuh kearahnya. Dia menjawab tidak karena memang Jimin tidak marah lagi dengan dua hal itu, melainkan karena dia tidak suka Yoongi dengan orang entah siapa yang bersikap lembut pada Yoongi-Hyung nya.

"Hmm.. " Wajah mengantuk Yoongi makin mendekati Jimin, menopang pipinya diantara bantalnya dan bantal Jimin. Tangannya terangkat mengusap pipi jimin dengan jempol kanannya, "Oke, kalau memang tidak ngambek, kau tentu masih ingat kalau aku suka tidur dipeluk setelah capek seharian, Jim."

Tidak menunggu lebih dari tiga detik lengan Jimin merengkuh tubuh mungil Yoongi. Rasa kesal Jimin dia biarkan menguap bersama dengan hangat yang dia bagi dengan Yoongi. Seketika rasa tidak enak kembali masuk ke relung hatinya. Jimin mencurigai Yoongi tidak-tidak? Padahal dia juga pernah bermain lebih dibelakang Yoongi. Lalu seberkas bayangan Taehyung menyelip pada bunga tidurnya malam ini.

.

.

.

Normalnya dapur House of Cards akan mulai sepi pesanan saat melampaui jam dua pagi. Siapa yang akan makan dan minum berlebihan jam segitu?. Pengunjung akan pulang, atau beberapa akan menyewa kamar yang kau-tau-untuk-apa dan bermalam, lalu esok pagi-pagi akan dikejutkan oleh muka Seokjin yang sudah segar menyodori tagihan mereka dan mengusir secara halus. Taehyung berjalan dibuat dramatis menyeret menapaki lorong sepi yang ujungnya akan menuju kamarnya. Sebelah tangannya memukul pelan punggungnya yang agak terasa pegal dan mulutnya mengerucut lucu, capek sekali.

Semalam ini dia disibukan dengan acara membuat teh tentu saja, untuk pertemuan beberapa bos yang taehyung tidak mengerti membahas apa, diruangan yang paling besar di House Of Cards itu ada delapan mulut yang berbincang bersahutan, laki-laki dan perempuan salah satunya adalah kenalan dekat; Kim Namjoon. Setelah bubar, Namjoon menanyakan dimana kakaknya Seokjin secara pribadi, dan Taehyung memanggilkannya untuknya. Entah apa tapi yang Taehyung tau sepertinya kakaknya dan Namjoon-hyung (orang yang berjasa pada hakama-hakama mewah disini) sudah berakhir disalah satu kamar sayap utara untuk dipijat, dipijat katanya. Dan Taehyung dibebas tugaskan setelahnya.

Sampai di dalam kamarnya, hal pertama yang dilakukan Taehyung adalah mengganti baju dan mempersihkan diri. Setelah selesai dengan itu, dia berguling diatas kasurnya, kelihatan rindu sekali dengan nyaman dan empuk kasur itu yang dia tinggalkan sejak siang. Tangannya meraih ponsel dibawah bantal, hendak main games sampai menunggu ketiduran namun dialihkan oleh sesuatu.

.

.

Dari : Jeon Jungkook

Pesan :

Kalau memang untuk bertemu denganmu aku harus memesan terlebih dahulu, aku katakan sekarang, kau besok malam hanya boleh bertemu denganku.

.

.

Pesan itu diterima ponselnya jam sepuluh malam lalu. Taehyung mencibir, menjulurkan lidah pada ponselnya. Dia kira dia akan kehilangan salah satu pelanggannya mengingat kemarin malam Jungkook kelihatan marah setengah mati. Namun hal itu ditampiknya, berniat membalas tapi matanya sudah berat sekali. Dan Taehyung tertidur dengan ponsel di genggamannya dan melewatkan membuka satu pesan lain;

.

.

Dari : Hoseok-Hyung

Pesan :

Bagaimana harimu, kau suka hadiahnya?

.

.

TBC


.

Masihkah ada yang bersama sayaaa di chap ini?

Wkwkwk lelet banget ni updatenya soalnya ada satu dan banyak sebab yang membuat waktu saya tersita, mian yhaa huhu.

Makasih untuk yang Fav, Follow, dan Review, wow made my day banget looh, bikin semangat nulis seriusan deh hihi, jangan kapok yaa? Maaf aku belum bisa bales satu persatu karena mungkin aku akan bales review dipenghujung chapter yang gatau ujungnya berapa ga dikira-kira LOL belum klimaks yang bener2 ini soalnya, dan aku uda nyiapin plotnya sebenernya, dan plot itu agak.. penuh tipu muslihat *senyum maksa*

Oh! kayanya disini banyak typos nya deh, maaf dan kasih tahu ya kalau ada yang tidak nyaman?

.

Anyway, chapter depan isinya ena-ena... buat KookV dan bakal ada yang berantem-berantem gitu besok.. so...brace yourself... tolong antisipasi. Ehe. See Ya!

.

.

[ Sapa aku disini Tweet : sugarunning95]