a BTS fic

Choose Me

.

.

I'm alright, even if I can't have you.

.

.

Cast : BTS's Member

Pair : KookV ; HopeV ; JiminV ; Slight MinYoon ; Slight NamJin

Rate : T

will change into M for sex scene later

.

.


Pt.6 Caught In

.

.

Pagi hari. Tepat pada jam delapan lewat menit kesepuluh, Taehyung dibangunkan Seokjin. Pagi itu agak lebih dingin dari biasanya, mungkin karena memasuki pergantian musim, atau entahlah Taehyung tak ambil pusing. Seokjin sudah segar sejak pagi, terlihat agak menggerutu saat kelima kalinya dia membangunkan Taehyung. Memang jam tidur mereka terlaru larut, tapi Seokjin tak akan membiarkan adiknya itu melewatkan sarapan.

Setelah sikat gigi dan cuci muka, Taehyung yang hanya memakai kaos putih dan celana lebar warna cokelat membawa dirinya menuju ruang makan di sisi lain restoran dan kamar-kamar penjamuan. Masuk dengan mata yang terlihat masih sipit dan raga yang mencoba mengumpulkan nyawa, Taehyung nyaris menabrak orang.

"Kumpulkan kesadaran dulu, baru kau berjalan-jalan. Salah-salah guci indah di lorong bisa berubah jadi kepingan kalau kau tabrak." Suara berat terdengar.

"Uhm? Hyung? Belum pulang?" Taehyung mendongak, matanya sudah agak jernih sekarang, tidak seperti mayat hidup seperti sebelumnya. Dia membalas senyum hangat yang berhias lesung pipi itu dengan cengiran.

"Ini aku baru saja akan pulang." Namjoon mengedik sekilas sambil sibuk memakai jam tangan untuk melingkar di lengan kirinya.

"Semalam menginap ya?" Taehyung menaik turunkan alisnya sambil memasang senyum jail.

"Iya, aku ketiduran, kemarin capek sekali lalu pijatan kakakmu malah membuat rileks dan mengantuk."

"Yakin malah mengantuk?"

"Kau mengharapkan apa?" Namjoon dihadapannya terkekeh.

"Yah, apapun, Hyung ku paling pengalaman disini untuk melakukan apapun."

Namjoon menggusak surai cokelat tua Taehyung, gemas. Yang lebih muda tekekeh jenaka sambil mencoba menjauhkan kepalanya dari jangkauan tangan lebar Namjoon.

"Kau ini pintar bicara, dan Tae.. kau mau menyusul sarapan kakakmu kan? Kau yakin akan berpenampilan begitu?"

"Memangnya ada yang salah? Aish, Namjoon-Hyung kepalaku makin pusing jangan kau gasak rambutku." Masih mencoba melepaskan kepalanya dari jajahan, Taehyung mengamati penampilannya sendiri. Kaos oblong dan kulot warna cokelat.

"Tidak ada yang salah, tapi mungkin kau akan menyesal karena keluar kamar masih muka bantal begini."

"Heh, aku masih muka bantal jam segini juga karena kau, kau dan acara menyebalkanmu semalam. Badanku pegal bolak-balik ke dapur menyiapkan jamuan. Belum lagi wajahku yang jadi kaku karena terlalu banyak pasang senyum lebar."

"Hei, nak. Itu pekerjaanmu. Seokjin saja tidak pernah mengeluh walau dia sibuk semalam hingga pagi harinya lagi."

"Kenapa jadi bawa-bawa kakakku? Kau suka sekali memperhatikan dia"

"Memangnya mau dibandingkan dengan siapa lagi?"

"Kan itu memang tugasnya untuk mengatur ini-itu, kakak ku itu memang suka repot." Taehyung agak mencebik.

"Dan kau itu tukang keras kepala." Namjoon gemas sekali ingin menoyor kepalanya dari pada mengasak surai halusnya hingga berantakan.

"Hyung, rambutku, Hyung—"

"Haha, mian, sudah bercandanya, kau sedang ditunggu kakakmu didalam sana."

"Mereka sudah sarapan?" Tangan Taehyung berusaha menata rambutnya lagi.

"Dari tadi, dan berhubung dengan penampilanmu yang aku komentari, mungkin kau akan menyesal seperti yang kubilang."

"Wae?"

"Ada orang spesial di ruang makan. Sedang mengobrol dengan Hyung-mu."

"Hah? Kalau itu tamu penting, lalu kenapa Seokjin-Hyung menyuruhku turun dan bergabung."

"Entahlah, mungkin orang itu yang pagi-pagi sudah ingin melihatmu."

Tepat setelah titik dari ucapan Namjoon, pintu geser yang mengarah ke ruang makan yang tak jauh dari tempat mereka berdiri itu terbuka, menampilkan satu sosok yang tak asing untuk keduanya. Taehyung agak kaget dan berdampak salah tingkah mendapati sorotan hangat dan senyuman orang itu menuju ke arahnya. Namjoon di depannya tertawa lagi melihat reaksi Taehyung yang berubah tegang tapi tetap menggemaskan.

"Kalian menggosip sampai terdengar dari balik pintu."

"Siapa yang menggosip, Hoseok-ssi—" Seokjin dari belakang Hoseok muncul mengikuti arah pandang laki-laki itu. Ekspresi santainya berubah menjadi menggerutu dan agak dipaksakan galak. "Yah! Kau lama sekali, aku sudah menyuruhmu sarapan sejak tadi, tapi kau susah sekali dibangunkan. Kita sudah selesai."

"Ee.. maaf, dan selamat pagi Hyung, selamat pagi juga Hoseok-Hyung."

"Aigoo.. langsung jinak, bocah ini." Namjoon berkomentar untuk mendapat injakan kaki dari Taehyung. Dia meringis diam-diam.

"Selamat pagi." Hoseok tersenyum sekali lagi, agak geli dan aneh juga melihat penampilan Taehyung yang tidak seperti biasa dia bertemu dengannya. Dia lalu mengalihkan pandangannya ke jam tangan rolex silver yang melingkar penuh wibawa di lengan kirinya. "Ah, Seokjin-ssi aku akan pamit sekarang, kurasa cukup sampai situ dulu obrolan kita. Ayahku mempercayakan semuanya padamu, begitu pula aku."

"Tolong sampaikan salamku pada beliau, dan terima kasih atas segalanya, Hoseok-ssi." Seokjin membalasnya dengan sopan dan lembut walau dia lebih tua.

"Kau sudah mengatakan itu berulang kali. Kami percaya padamu" Hoseok tersenyum "Uhm sebelumnya, bisakah aku pinjam sepuluh menit dari adikmu?"

Yang dituding mengerjapkan kelopak mata lamat-lamat saat Hoseok mendekatinya. Disamping Taehyung, Namjoon bersiul samar untuk kemudian minggir memberikan ruang bagi mereka. Hoseok sudah didekat teritori Taehyung, menggiringnya dengan meyentuh pelan lengan tangannya tanpa persetujuan Seokjin. Karena, ya, Seokjin akan selalu mengijinkannya. tentu saja.

"Silahkan, adikku juga pastinya tidak keberatan."

Seokjin tersenyum manis sekali lagi, mempersilahkan privasi bagi mereka berdua dan meningkalkan lingkup ruang itu. Tangannya menggenggam erat beberapa buku berisi perkembangan keuangan House of cards dan segala catatan kebutuhannya. Seokjin mengerling ke Taehyung dengan mata sengaja mengancam, menggerakan bibir dengan untaian frasa bisu; 'Jangan sampai lupa sarapan setelah itu' pada tangkapan mata Taehyung. Lalu berubah mengerling cantik lagi pada Namjoon, mengisyaratkan untuk meninggalkan tempat itu dengannya.

.

.

.

"Hyung, aku tidak tahu kalau kau datang." Taehyung menatap Hoseok dimata sambil menjilat bibir bawahnya cepat. Dia gugup.

Mereka berdua agak bergeser masuk ke ruang makan sekaligus ruang santai yang barusan digunakan Hoseok dan Seokjin berbincang. Tangan Hoseok masih belum absen menyentuh lengan Taehyung. Sekarang malah mengelusnya seperti apa yang selalu jadi kebiasaannya.

Tak mengindahkan pertanyaan Taehyung, Hoseok menyela. Dia tak punya banyak waktu dan meeting sudah menunggunya. "Kau suka?"

"Maaf?"

"Kalung itu, ada dimana? Kau tidak memakainya." Tangan Hoseok yang satu lagi terangkat, sama melakukan aksi mengelus Taehyung, namun yang ini di area leher dan pertengahan tulang selangkanya.

"Ah, aku suka tentu saja." Taehyung agak gemetar dibawah tawanan halus jemari panjang Hoseok yang lebih hangat dari kulit lehernya. "Itu sangat indah, Hyung, terima kasih. Dan aku menyimpannya, barang seindah itu kupikir harus aku jaga dan simpan baik-baik—"

"Aku ingin kau selalu memakainya." Hoseok mengucapkan dalam satu tarikan nafas. "Merah.. sangat cocok untukmu." Hoseok mendekatinya lebih rapat, Taehyung semakin terbisu. Dia membuat ekspresinya mengatakan antara persetujuan dan agak kebingungan atas ungkapan Hoseok. Separuh pikirannya menerawang membayangkan detil dari bandul kalung yang entah berharga sekian ratus juta yang Hoseok berikan tempo hari. Hadiah dari Bangkok. Lalu separuh pikirannya lagi menerawang berfikir untuk agak menjauhkan diri, karena sedikit banyak dia agak malu dengan fakta dirinya yang belum mandi, dan hanya menyempatkan berbersih diri dengan mencuci muka dan bersikat gigi, Taehyung takut kalau Hoseok tidak nyaman dengan itu.

Namun diluar dugaannya, Hoseok tampak baik-baik saja menghirup sisa-sisa wewangian Taehyung semalam, menangkap aroma facial foam samar yang menguar, hingga menarik laki-laki itu mencium pipi Taehyung yang halus dan kenyal. "Mmm'kay?" Itulah suara samar yang terdengar antara bibir dan pipi yang bertemu menimbulkan gumaman menggemaskan.

Taehyung dibuat mabuk sepagi ini, semua aroma musk maskulin Hoseok yang menguar dari ceruk leher laki-laki itu memenuhi paru-parunya dalam jarak sedemikian tipis. Belum lagi elusan jemari yang tadinya hangat sekarang memanas menari diatas kulit lehernya.

"Okay.." Untuk itu, permintaan terjawab oleh Taehyung dengan agak terengah.

.

.

.

.

.

"Hyung?"

Tidak ada jawaban. Tidak ada sesosok lain yang semalam dipeluknya hingga jatuh terlelap.

"Hyung? Sayang?" Yang tadinya berguman kini menyuarankan suaranya lagi dengan agak lantang. Tak ada jawaban, oh tentu saja, kamarnya ini luas dan suara serak bangun tidurnya tak akan menjangkau hingga jauh.

Tubuh jantan yang padat itu terduduk. Badannya sesungguhnya masih agak terbuai dengan hangat dan halusnya ranjangnya tapi dia paksa diri untuk bangun. Kaos oblong putihnya sudah terlihat agak kusut dibeberapa sisi dan rambutnya berantakan tentu saja. Dia mengusap wajahnya lalu melarikan jemarinya menyigar keatas helai rambut silver lilacnya. Mata sipit dia paksa buka selebar yang dia bisa. Jam delapan pagi.

Dia menarik diri keluar kamar. Celingukan ke ruang tamu mewahnya untuk menemukan kepala warna hitam menyembul dibalik sofa, penampilan laki-laki itu sudah rapi dan sibuk dengan beberapa file dan headphone di leptopnya. Maka dari itu dia menarik diri lagi, ke kamar mandi, untuk mengutamakan berbersih tubuh, agar bisa melakukan percakapan dengan raga yang sudah jauh dari sebutan muka bantal dan bisa lebih beradab untuk duduk disebelah Hyung manis yang tadi berusaha dipanggilnya.

"Kau.. sudah mau berangkat, Hyung?" Belum lewat sepuluh detik bokong montok Jimin menyentuh sofa disebelahnya, Yoongi sudah terlihat berkemas, menyimpan semua barang-barang, memasukkan coretan kertas berisi not balok lagu dan beberapa lirik yang Jimin tak mengerti.

"Mm, hmm.. aku baru saja menemukan sesuatu untuk tambahan instrument lagu dan ini mau segera kuurus. " Tangannya masih bergerak, kali ini membuka lipatan pada jaketnya, menguntai untuk dikenakan di tubuh mungil yang semalam dipeluk habis oleh Jimin.

"Kalau begitu tunggu sebentar, oke? Aku ambil jas ku, kita sarapan, dan aku antar." Jimin kelabakan, buru-buru beranjak tak mempedulikan kalau sebenarnya dia juga belum rapi betul. Rambut tebalnya masih ada yang mencuat, walau sudah memakai setelan kemeja licin dan celana hitam berbahan berat formalnya, dia masih jauh dari kata siap untuk pergi sekarang, dasinya saja masih menggantung.

Yang ditanya tertawa tipis, ikut beranjak, menarik halus Jimin dan menyempatkan diri menyisir rambut silvernya yang agak mencuat dengan tangan. "Tidak usah, Jim. Aku tidak langsung ke studio, aku akan menemui teman dulu untuk membicarakan soal satu dua lagu ini." Kedua tangan Yoongi lalu turun, dengan telaten dan tanpa diminta membantu membuat simpul dasi hingga rapi.

"Untuk sarapan bersamanya? Sebentar saja, please? Aku tak mau kau ketinggalan makan."

"Tidak, kau tenang saja. Aku oke," Selesai dengan simpul, Yoongi menarik dan melirik layar ponsel yang tadi disakunya sekilas. "Dan temanku sudah menungguku di lantai dasar."

"Yang kemarin?"

"Yang kemarin, kenapa wajahmu?" Yoongi terkekeh melihat wajah tampan Jimin yang berubah agak berkerut.

"Cium aku dulu sebelum kau pergi dengan laki-laki lain." Masih agak merengut, Jimin mengajukan permintaan.

"Astaga aku ini bekerja, kemari bayi besar." Satu ciuman dari Yoongi mendarat manis. Sepihak. Dan kemudian dilepas dalam detik yang singkat. Sepihak juga.

"Kalau begitu, Jim. Aku—"

Tangan Yoongi yang semula mencoba mengangkat tas besar berisi barang-barangnya dicekal, tasnya jatuh dengan bunyi 'Duk' samar karena didalamnya ada laptop miliknya, bersamaan dengan tubuh pucat yang dibanting diatas sofa beludru yang empuk. Jimin menguasai tentu saja, ibujari tangannya mengelus halus pipi Yoongi, berbeda dengan bibirnya yang menawan bibir lawannya dengan serakah. Ciuman basah, intim, yang sempat nyaris memantik birahi itu terlepas dengan satu kecipak panjang dua pasang bibir yang terpisah. Astaga ini masih pagi dan dingin, mereka bisa lupa diri. Jeda diam sebentar, untuk kemudian satunya meniupkan kalimat;

"Jangan nakal disana ya, Sayang." Dan aksi selanjutnya adalah tercipta satu tanda merah dosa yang kontras dikulit leher Yoongi.

.

.

.

.

.

Taehyung menariknya keluar, mengamati bandul kalung itu sebentar, melepasnya dari leher lalu menyimpannya di saku terdalam. Dia belum nyaman memakai barang mewah begitu untuk sehari-hari. Pun sedari tadi kalungnya dia sembunyikan di balik baju.

Menguap satu kali. Menguap dua kali. Lalu detik selanjutnya belakang kepalanya nyeri terkena sabetan serbet, yang adalah hukuman karena memasang tampang jelek di meja depan kasir.

"Kerja itu—"

"—dengan senyuman cerah dan penuh semangat. Iya, iya Minjae. Aku masih ingat briefing dari bos. Aku mengantuk sore hari begini, itu manusiawi kurasa."

"Taehyung, Kau, selalu mengantuk jam-jam segini. Ada apa sih? Biasa mengambil jam 3 untuk rentang jam tidur siang saat sekolah dasar?"

"Ani, capek saja rasanya, Minjae. Tidak ada alasan khusus."

"Mmm.. kalau capek jangan terlalu kentara begitu. Aku hanya kasihan kalau nanti pelanggan yang datang melihat penjaga kasir gantengnya pasang muka bantal yang jelek sekali."

"Bagaimana kalau kau saja yang gantikan aku kalau begitu?" Taehyung merentangkan tangannya keatas, ngantuk, pegal rasanya.

"Kuingatkan, tugas kita sendiri-sendiri kalau kau lupa. Kita belum rolling karena bulan belum berganti." Minjae menjulurkan lidahnya sekilas, mencibir.

"Aku kan juga sering membantumu berjongkok memajang display."

"Kau sebegitu perhitungannya?" Minjae memasang tampang syok yang dibuat-buat.

"Kau menyebalkan, tapi terima kasih rasa mengantukku cukup hilang sekarang."

"Tahan sebentar lagi, jam lima nanti pulang. Mumpung tidak ada pelanggan dan kau nganggur, bagaimana kalau sibukan dirimu dengan beberapa kantong sampah di ruang loker, bae?"

"Tuh kan, kau menyebalkan."

.

.

Dua kantong sampah ukuran sedang telah berpindah tempat dari sudut ruang loker, ke kedua tentengan tangan Taehyung, lalu berakhir dengan debum di kotak sampah raksasa didepan minimarket tempatnya ia bekerja. Menepuk tangan sekilas untuk sisa debunya, Taehyung kemudian menutup rapat lagi kotak raksasa itu, menjaga agar lingkungannya tetap bersih agar sampah tak berceceran. Taehyung mengambil gagang sapu, dia akhirnya menyibukan diri dengan pekerjaan lain. Membereskan bangku-meja santai dibawah beberapa payung teduh raksasa yang berjajar tiga buah di depan minimarket, itu adalah fasilitas untuk pelanggan kalau ditanya.

Setengah lima dan sudah beres semuanya. Satu setengah jam dihabiskan dia beres-beres dan bersih-bersih. Tadi sempat bos nya mampir ke minimarket, dan Taehyung terlonjak dari acara lap-lap mejanya di bawah payung raksasa ketiga karena ketahuan mangkir dari tugas jaga kasirnya dan membuat Minjae terpaksa menggantikannya. Beruntung bos nya hanya mengangguk bangga tanpa mempersoalkannya, malah memuji kaca pintu yang sekarang mengkilat, lantai dan halaman yang bersih karena tenaga babu Taehyung. Taehyung dapat mencium bau-bau uang bonus.

Kadang dia geli sendiri, dia adalah seorang diva, laki-laki cantik yang dikenal murah senyum dalam setiap ruang penjamuan yang dimasukinya, pengracik teh paling menawan yang digadang-gadang seantero pelanggan menyimpang di House of Cards. Tapi di lain jam-jam malamnya, dia bekerja sebagai penjaga minimarket paruh waktu. Bersih-bersih, buang sampah, hingga mencuci lap pel sudah menjadi hal biasa.

Taehyung sesungguhnya adalah pekerja keras, dia hidup sulit dengan kakaknya sejak kejadian itu. Menempati flat kecil yang berdiri pada selipan distrik yang tidak terlalu mewah dan biasa saja kalau tidak mau dibilang nyaris kumuh tak jauh minimarket ini. Semuanya berubah sejak ada milyader kaya pemilik perusahaan yang bercabang bagai batang pohon dan berkuasa dititik-titik kota Seoul. Menjatuhkan kabar buruk dan dalam waktu bersamaan mengulurkan tangan penuh duri racun. Bagai belenggu yang menyelamatkan dari keterpurukan. Awal mula bagaimana akhirnya bersaudara Kim itu diharuskan menginjakan kaki di House of Cards. Kakaknya bisa dibilang korban pertamanya, namun mereka cukup tau balas budi dan takut mati apabila melepas tanggung jawab ini.

Taehyung termenung, duduk di salah satu bangku besi dengan ornament indah dibawah payung teduh ketiga, diterpa angin sore yang berhembus lembut di halaman tempat kerjanya. Kadang dia mengawang apa yang dipikirkan oleh kakaknya beberapa tahun terakhir. Hingga akhirnya dia ikut terjun pada pekerjaan itu untuk mengurangi sedikit kesulitan kakak tersayang satu-satunya. Tepat setelah dia ikut memakai hakama licin itu, dipoles menawan tiap malamnya, tepat saat itulah dia berhenti melihat Seokjin dalam keadaan menyedihkan.

Definisi menyedihkan untuk kakak cantiknya yang berjalan tertatih tiap dini hari atau malam buta, agak mabuk namun cukup sadar untuk mengetuk pintu flat rapuh mereka tak terlalu keras (apa nanti kata tetangganya), badan memerah, dan bau parfum memuakan. Taehyung selalu disana, menunggunya dengan badan menggigil tak menentu, menyaksikan kakaknya yang terus muntah dan membantunya mandi air hangat, berharap tiap bercak laknat di tubuh kakaknya mencair dan hilang tersurut ikut air.

Untuk keseokannya, mereka menangis bersama saat Taehyung bilang memutuskan mengambil paruh waktu dari jam penuh bekerja di minimarket ini. Taehyung disana, menjadikan Seokjin seperti naik jabatan, lebih rapi dan tidak terlalu direndahkan seperti sebelumnya walau pekerjaannya masih nyaris sama. Intensitas pulang ke flat mereka menurun derastis karena pekerjaan ini seperti membelenggu mereka. Seokjin berulang kali bilang pada Taehyung, tidak usah lagi bekerja di minimarket. Menyuruhnya untuk menemani kakaknya mengurus segala keperluan gedung yang tiap malam tak pernah sepi itu. Tapi Taehyung menolak, berada disana 24 jam? Taehyung jujur sedikit muak.

Dengan beberapa syarat, hidupnya dan kakaknya berubah pada sumbu kompas yang lain. Dan pada malam pertama resminya Taehyung, saat itulah untuk pertama kalinya dia bertemu Jung Hoseok, berdiri di sebelah laki-laki tua gagah lainnya. Memandangnya tak berkedip dengan sedikit keterkejutan yang sama sekali tak menggangu wajah tampannya. Kemudian Seokjin berbisik halus pada gendang telinga Taehyung. Membisikan kalimat yang menjadikan Taehyung mengangkat wajah dan dengan berani menatap balik putra mahkota dari penyebab terdamparnya bersaudara Kim itu disini. Kata Seokjin-Hyungnya ; 'Jangan pernah melawan atau menolaknya'.

Walau nyatanya, putra mahkota itu tetap dikatakan salah satu pelanggan oleh Seokjin, di masukan pada jajaran orang yang mencari Taehyung namun dengan posisi yang lebih spesial. Seokjin kerap kali menyinggung kedekatan mereka berdua, meledeknya, namun mereka tau, antara dia dan kakaknya tahu benar bahwa mereka memang tak ada kuasa untuk menolak dan melawan permintaan ayah maupun si tampan Hoseok, dan mereka melakukan semua ini dengan garis batas aman. Membisikan diri dengan segala ungkapan Seokjin yang memperingati jangan membawa perasaan dalam pekerjaan. Pun jangan bawa sesuatu yang dalam itu antara dirinya dengan Hoseok yang jelas mata menginginkannya, mencoba mengeluarkan Taehyung dari sana untuk dibawa lari menjadi miliknya. Taehyung dan Seokjin tau benar, sekeras apapun Hoseok menginginkannya dalam ungkapan perasaan yang lebih, Taehyung hanya salah satu sampah yang dipungut mereka, tak ada pantasnya sama sekali untuk Hoseok, dan Taehyung maupun Seokjin akan habis apabila ayah Hoseok pengendali atas mereka ini mengetahui segala maksud lain Hoseok padanya. Untuk itu Seokjin selalu disana, mencoba tak melepaskan Taehyung, tidak untuk siapaun.

Taehyung menggelengkan kepala singkat, menyadarkan diri dari lembaran-lembaran kisahnya yang bertumpuk mengusang dan akan terus tertimbun hingga besok ataupun setelahnya. Dia berdiri membereskan lap dan beberapa botol spray pembersih yang beraroma bunga. Setengah jam lagi dia bisa menagih jatah jam pulangnya.

.

.

.

Pintu kaca bertuliskan selamat datang besar-besar bergerak melawan tuas nya untuk berbalik menutup lagi tepat setelah tubuh ramping sang penjaga kasir masuk ke dalam minimarket. Bersamaan dengan itu tiba satu mobil putih mewah Mercedes-Benz SLK350 parkir tak jauh di seberang minimarket. Pria yang menungganginya mematai gedung lain yang berdiri disebelah supermarket. Sebuah studio musik. Tanpa basa-basi Park Jimin turun. Merapikan sedikit jasnya dan agak melonggarkan dasinya. Dia sudah menyelesaikan segala kewajibannya di kantor. Jam segini adalah biasanya dan seharusnya Yoongi pulang bekerja. Jimin akan menjemputnya, tidak mau lagi menanggung kesal karena tau Yoongi kelayapan dan diantar laki-laki lain. Jika Yoongi pamit padanya bekerja, maka dia akan menjemputnya sepulang bekerja.

Jimin berdiri dan memandang pintu lebar yang terbuat dari kaca dua detik dalam diam, sebelum pintu otomatis itu terbuka dengan sendirinya. Yang menyambutnya pertama kali adalah gadis cantik dengan baju yang agak kemungilan ditubuhnya duduk dibelakang meja besar yang diatasnya terdapat beberapa sambungan telepon dihadapannya. Dapat dilihat oleh Jimin, bola mata gadis itu mengkilat tertarik detik setelah memandang tak sopan padanya.

"Maaf, noona. Aku butuh sedikit bantuanmu." Jimin menjatuhkan diri dengan kasual diatas sofa bulat dihadapan gadis itu. Jessica namanya, Jimin mengintip dari name tag yang menggantung.

Jessica itu mengerling, pelan dan cantik, Jimin akui itu. Menatapnya penuh minat. "Memang pekerjaanku disini, Tuan. Ada yang bisa saya bantu? Apa yang anda butuhkan?"

"Aku butuh bertemu seseorang, sekarang jam pulang kerja bukan?" Jimin memastikan.

"Benar, jam lima tepat adalah saatnya. Karena ini belum jam lima tepat, ada keperluan apa dan dengan siapa?"

"Aku boleh mengetahui dimana ruang studio pribadi produser Min Yoongi?"

"Min Yoongi-ssi?" Gadis itu membeo, agak menyerngit dampak dari penasaran, ada urusan apa laki-laki ganteng kantoran ini dengan produser paling dingin se-tujuh tingkat kantornya dia bekerja. "Anda sudah membuat janji? Anda bisa memilih menunggunya disini sampai jam lima.. um sebentar lagi, atau aku akan menelepon ke ruangannya meminta ijin terlebih dahulu." Tangan gadis itu sudah terulur pada gagang pesawat telepon, siap menekan dial yang hanya diketahui olehnya.

"Tidak, tidak, maka dari itu aku butuh bantuanmu. Tunjukan saja aku ruangannya, kau tidak perlu meneleponnya. Aku temannya, dia akan tahu kalau aku datang." Dan itu adalah bohong, Jimin tidak pernah mengabari Yoongi kalau hari ini akan langsung menjemputnya.

"Maaf saya tidak bisa, anda tidak boleh sembarang masuk tuan. Itu ruang kerja pribadi, anda bisa mengganggu dan menyebabkan tidak nyaman Yoongi-ssi."

"Aku temannya, astaga. Kau tenang saja." Jimin menyigar surai lilac silvernya dengan gerakan keatas. Pose pamungkas ditambah senyum menawan. "Percayalah, dilantai dan ruangan mana, hm?"

Jessica berdeham sekilas "Saya menawarkan anda menunggu sekitar setengah jam lagi. Mungkin Yoongi-ssi akan keluar kalau tidak memilih lembur mengerjakan project."

Jimin gemas sekali, tujuannya kesini adalah membuat kejutan untuk Yoongi, sekaligus ingin tau seperti apa ruang kerja Yoongi, sekaligus memastikan dengan siapa Yoongi berinteraksi dikantor, dan ya Jimin mencurigai pria yang mengantar Yoongi kemarin. Menjemput sekaligus inspeksi tidak ada salahnya kan. Tangan Jimin dengan berani terulur diatas tangan bebas Jessica, masa bodoh gadis itu terlonjak dan masa bodoh bila ada cctv yang merekam. Sekarang. "Jessica-noona, bantu aku please? Aku bisa dipercaya." Tangan Jimin yang lain sengaja mengendurkan lagi dasi dilehernya agak turun.

Bangsat memang. Dengan satu barisan kalimat dan kode ruangan yang diingatnya di kepala, Jimin melangkah agak riang. Selelah berhasil memberi rayu tipu muslihat pasa gadis Jessica yang untungnya tidak pingsan dimejanya, Jimin memacu langkahnya pasti. Sampai didepan pintu itu terdengar instrumental lembut dan denting piano yang tuts nya ditekan pada titik not tertentu. Jimin beruntung karena pintunya tidak terkunci, dan sebelum membukanya Jimin sempat melihat siluet kecil terbayang jauh dari pintu kaca buram, pasti Yoongi didalam.

Dibukanya pintu kaca buram itu perlahan tanpa suara, pita suaranya nyaris menyebut nama laki-laki kesayangnya itu sebelum mata awasnya menangkap sosok lain dihadapan Yoongi. Mereka berhadapan, berbincang sesuatu dan menunjuk layar lebar komputer. Menekan lagi tuts piano lain, menggeser kurson pada layar komputer kearah beberapa garis yang Jimin tak mengerti. Namun satu yang Jimin mengerti. Dia tidak suka kedekatan mereka. Laki-laki yang dia tau lebih tinggi darinya itu dekat sekali dengan Yoongi-nya. Definisi dekat untuk tangan menyentuh bahu Yoongi yang luput tertutupin kaos berkerah lebar. Definisi dekat untuk tangan lain yang kadang menyentil lembut dahi Yoongi. Definisi dekat untuk Yoongi yang tidak canggung mengembangkan tawa untuk entah apa yang lucu, dan definisi dekat untuk laki-laki yang berdiri itu memeluk Yoongi dari belakang saat seperinya mereka berhasil menuntaskan satu lagu.

Definisi dekat untuk—what the fuck mereka membuat gesture seperti akan berciuman. Yoongi menoleh masih tertawa dan laki-laki itu memandangnya masih dengan rangkulan yang sama. Dan Jimin memutuskan untuk hengkang dari sana saat tawa Yoongi sirna digantikan tatapan lain, dan wajah mereka berangsur mendekat sepihak. Peselingkuh.

.

Jimin menuruni tangga, otaknya macet untuk memilih mengambil lift untuk turun dari lantai tiga.

.

"Maaf, Seonwoo-Hyung. Ini terlalu dekat." Yoongi mencoba melepaskan diri saat sinyal berbahaya datang dari temannya, Produser yang lebih senior darinya. Wajah mereka saat ini benar-benar terlalu dekat.

.

Jimin terengah sedikit, didepannya ada pintu yang mengarahkannya keluar dari deretan tangga. Dia tak membukanya, memutuskan turun dengan meniti tangga lain. Ini masih lantai dua.

.

"Hey, aku bangga sekali padamu. Terima kasih sudah membantuku sejauh ini." Yang disebut Seonwoo belum menyerah untuk mengkurung tubuh Yoongi, dan dengan berani menyentuhkan jemarinya pada dagu yang berkulit pucat.

.

Jimin sampai pada lantai satu. Menganbil jalan memutar untuk melewati lobi dan Jessica.

.

"Ini kerja kerasmu juga. Dan maaf aku tidak nyaman kalau kita begini." Yoongi menepis tangan di dagunya dengan sopan. Mencoba meronta lebih keras.

.

Jimin menemukan pintu samping studio itu, membukanya sebagai akses keluar.

.

"Jadi ini penyebab aku tidak boleh menciummu." Tangan Seonwoo bergerak menemukan bekas merah buas tercetak di leher kiri Yoongi yang tadi luput dari pengelihatannya. "Kau sudah ada yang punya, hm?"

.

Jimin berhasil keluar dengan nafas terengah. Bola matanya antara kosong dan tenggelam dalam kelamnya kekecewaan. Berjalan lurus menjauhi studio itu.

.

"Iya, Seunwoo-Hyung. Aku sudah ada yang punya." Yoongi berusaha menepisnya lagi, dan itu berhasil. Seunwoo menatapnya maklum kemudian. Ucapan 'Jangan nakal disana ya, Sayang' dari Jimin ternyiang di benak Yoongi.

.

.

.

.

Jimin sudah berdiri berhadapan dengan Taehyung dan Minjae yang asik bercanda di balik meja kasir. Entah kenapa tatapan Jimin membuat Minjae rasanya ingin mengusir diri dari sana, meninggalkan Taehyung mengurusi pembeli yang kelihatannya sedang bad mood. Taehyung tersenyum cerah ke arah Jimin tapi diabaikan. Jimin diam menyodorkan empat kaleng bir dihadapan Taehyung untuk dihitung totalnya sambil berguman sesuatu.

"Apa?" Taehyung yang sudah selesai membungkus belanjaan dibuat menyerngit kedua kalinya saat tak menangkap jelas gumaman Jimin. Yang pertama terbit saat dia melihat Jimin belanja bir.

"Ada waktu temani aku sebentar?" Jimin mengulang kalimat kaburnya tadi.

Lalu mereka berakhir dibawah payung teduh nomor dua. Duduk bersisian dibatasi meja bulat. Duduk bersisian dengan Jimin yang diam saja mengenggam kaleng bir keduanya yang tinggal separuh. Disebelahnya Taehyung selesai meresletingkan tas ranselnya dan menaruhnya disebelah kaki kursi, dia sekalian membereskan barang dan berganti baju tadi karena sebentar lagi adalah jam pulang. Ditempat itu, Taehyung hanya mengamati.

"Kau juga minum lah." Jimin menengok padanya masih luput dari tampang bahagia.

Taehyung disebelahnya yang tadinya duduk macho agak mengangkang merapatkan duduknya otomatis. Kalau diajak minum dia jadi terbawa suasana jam malamnya. Jimin sepertinya akan tahu lebih banyak sisi berbedanya. Taehyung mengambil sekaleng bir, menghargai permintaan Jimin, walau ia tidak terlalu suka sebenarnya. Enak cola.

"Jimin kenapa?"

"Aku sendiri juga bingung, rasanya ingin menyibukan diri dan melupakan sesuatu."

"Ingin ngobrol denganku? Maksudku cerita masalahmu?" Itu adalah keahlian dan kebiasan Taehyung seperti pekerjaannya tiap malam.

"Aku pun bingung mau membicarakan apa." Ada jeda "Dan bingung ingin cerita atau tidak."

"Kalau begitu aku tidak akan memaksamu." Tehyung masih menggulirkan kaleng bir ditangannya, tidak berniat membukanya.

Hening yang menyiksa selama lima belas menit, Taehyung gatal ingin membuka handphone dan memainkannya, tapi tidak enak hati dengan Jimin yang sedang mendung berpetir di sampingnya.

"Jim.. apa sebaiknya kau tidak pulang saja? Kalau suasana hati mu memburuk cari hiburan mungkin?"

"Hmm.. " hanya gumaman.

"Dan maaf sekali sebenarnya jam lima atau tepatnya sekarang, aku harus pulang. Jam ku sudah habis." Taehyung melambai pada Minjae yang sudah berganti seragam dan pulang menaiki motor skuter. "Jadi aku undur—"

"Dimana? Aku antar kau pulang." Tadinya Jimin kemari juga berniat mengantar pulang seseorang bukan?. Tadinya.

"Tidak usah, bukan kewajibanmu. Uh kau mungkin bisa cari hiburan saja karena sepertinya kau sedang bad mood sekali." Taehyung bangkit mengembalikan bir tadi ke kantong plastiknya.

"Tidak, aku antar, Taehyung. Kau hiburanku."

.

.

Yoongi membereskan barang-barangnya. Pukul lima sudah waktunya ia pulang. Melirik handphone nya sekilas, untuk mengingat bahwa tidak mampir sama sekali kabar dari Jimin. Tadi pagi dia tidak berangkat bersama Jimin, Yoongi merasa tidak enak hati kalau minta-minta jemput, dan lagi memilih pulang bersama Seonwoo-Hyung yang tadi pagi menjemputnya dan barusan nyaris melakukan sesuatu padanya pasti akan sangat canggung. Yoongi merasa baik-baik saja untuk memilih mencari taksi.

Dia lalu bergerak keluar, Jessica agak menyerngit melihat Yoongi yang keluar sendirian.

.

.

"Hah?" Taehyung agak bingung, sepertinya pikiran Jimin sudah tidak terlalu benar karena bir dua kaleng yang dihabiskannya. Dia mau menolak tapi cekalan tangan di lengannya tidak akan membiarkannya.

"Aku merasa tidak enak, sungguh. Flat ku tidak jauh dari sini dan aku bisa berjalan kaki." Taehyung tergiring mendekati mobil mewah Jimin di seberang jalan. Warna putih. Beberapa pasang mata memandangnya. Mereka kontras sekali dengan Jimin yang tampil rapi dan formal dan Taehyung dengan ransel sepatu kets dan jaket parkanya.

"Jim? Aku tidak bisa membalas kebaikan hatimu loh." Taehyung terkekeh mencoba mencairkan suasana, dia sudah sampai di pintu sebelah kemudi dan masih memunggungi pintu itu. Dihapannya Jimin memasang gesture berfikir.

"Balas dengan ini."

Badan Taehyung terhimpit begitu saja dengan sisi mobil. Jimin dihadapannya tanpa aba-aba menekan pinggangnya. Hal terakhir dan bahkan nyaris tak pernah melintasi pikiran Taehyung adalah tindakan Jimin saat ini. Dia menciumnya. Kenapa lagi dia?. Pertamanya hanya menekan, kemudian Taehyung merasakan perihnya gigitan, basah dan lembabnya lidah. Dia menciumnya. Dalam, basah dan frustasi. Jimin gusar dan Taehyung gemetar ditawan tiba-tiba dan tanpa alasan pasti. Malu juga karena mereka ada di tempat umum dan benar-benar tempat terbuka. Dua laki-laki berciuman panas sambil bersandar di mobil. Astaga sore-sore begini masih ada manusia lain yang lalu lalang disana.

Taehyung menempatkan pada nomor dua fakta dimana Jimin melakukan ciumannya dengan benar. Nomor satunya dia membuat otak dan tangannya yang mencengkram kaku jas Jimin untuk bekerja menyelamatkan harga diri mereka dari kepergok banyak orang, yaitu bergerak dan membuka pintu mobil dibelakang punggungnya. Mereka berdua jatuh terjerembab dengan posisi yang aneh saat pintu itu terbuka setelah Taehyung bergeser dengan cepat. Taehyung tidak mengantisipasi berat tubuh Jimin karena dia benar-benar malu dipergoki orang yang berlalu lalang.

Jimin tertawa dengan tingkahnya. Tertawa yang puas sekali. Tawa yang mencerahkan suasana hati mendung berpetirnya tadi. Entah kenapa. Dan Taehyung semakin heran dengan tingkah Jimin. Kenapa lagi dia? Taehyung bertanya kesekian kali dalam batinnya.

"Minggir, kau aneh. Berat. Minggir. Aku mau pulang jalan kaki saja." Taehyung berujar seperempat jengkel, seperempat salah tingkah, seperempat menahan sakit, dan seperempat lagi menahan tawa juga. Tangan nya mendorong badan Jimin yang ambruk menubruknya. Ulahnya sih.

"Hahaha, astaga. Tidak-tidak aku akan tetap antar kau. Janji, karena sudah kau bayar." Jimin beranjak sendiri kemudian, menutup pintu dengan kekehan sambil mengelap bibirnya yang basah. Dia berputar melewati moncong depan mobil lalu masuk ke kursi kemudi. Tidak tau bahwa kelakuan cari hiburannya tadi direkam manik hitam dari mata Yoongi yang berdiri setengah goyah di depan gedung studionya.

Pada jarak segini Yoongi memperhatikannya dengan jelas. Sejelas Yoongi mengenali mobil Jimin yang terparkir di seberang. Dimulai dari sejelas dimana saat Yoongi melengok melihat Jimin duduk bersisian dengan laki-laki itu. Sejelas dimana Yoongi tau kalau laki-laki itu adalah penjaga supermarket disebelah tempatnya bekerja. Sejelas dimana Yoongi tahu Jimin lah yang menggandeng laki-laki itu terlebih dahulu. Sejelas dimana Yoongi memergoki ciuman mereka yang tidak tahu malu.

"Park Jimin?" Bisik yoongi hanya untuk dirinya saat melihat lelaki yang mengaku-ngaku miliknya itu pergi dengan yang lain. "'Jangan nakal, sayang?' Heh, katakan itu pada dirimu sendiri, Park. Bajingan bermain dengan yang murahan."

Sesuatu dalam dirinya hancur, dan kepingan itu membentuk pasukan serpihan kecil yang dirasuki kebencian. Jimin seharusnya miliknya, Jimin atau jalang itu akan membayar apa yang telah mereka perbuat dan telah menyakitinya.

.

.

.

.

Sampai di flat nya Taehyung tidak ada bayangan apa yang ada dikepala Jimin soal tempat tinggalnya. Mereka mengemudi hanya 5 menit. Sangat dekat, dan benar-benar hanya di selipan kota. Gang yang mungkin luput dari pengelihatan. Rumah susun. Sederhana dan cukup bersih, tapi kelewat biasa. Naik tangga satu kali lalu belok ke kiri, Taehyung menengok kebelakang. Laki-laki ngawur itu masih mengikutinya. Tadi saat di mobil, Jimin mengeluh pusing ingin ikut Taehyung istirahat dan numpang minum air hangat. Akan terdengar jahat apabila Taehyung langsung mengusirnya. Dan hal lain dipikirannya adalah; ternyata benar tadi tingkah anehnya itu mungkin disebabkan karena dia sedikit mabuk bir. Taehyung sempat-sempatnya membayangkan, kalau kepergok Seokjin-Hyung, mungkin Jimin akan dapat totalan karena cium-cium dia.

"Jim, aku mandi dulu, kau boleh lakukan apapun terserah. Buat minum lagi, atau apapun. Maaf tempat ini berantakan." Taehyung mengumpulkan beberapa kekacauan yang berceceran di tempat tinggalnya, membereskan seadanya. Baju, buku, dan apapun yang berserakan.

"Aku oke duduk disini?" Ditangan jimin sudah ada segelas teh hangat nyaris panas. Teh biasa tapi dari indera penciuman Jimin, dia bisa menangkap kalau teh ini pasti akan enak. Yang membuatkannya adalah pengeracik teh handal, jangan tanya lagi soal hasilnya. Dia menyamankan diri duduk bersandar di kasur Taehyung karena ruang tamu tidak bisa digunakan, berantakannya sudah seperti kapal pecah.

"Mm hmm, Oke. Maaf membuatmu tak nyaman, kita tak pernah menerima tamu. Dan kau taulah aku dan kakakku lebih banyak menghabiskan waktu di House of Cards."

"Santai saja, lagi pula aku yang memaksa masuk. Sumpah kepalaku sakit. Terima kasih Taehyung" Jimin tersenyum. Meminum tehnya dan ajaib seperti biasa, sakit kepalanya berangsur agak mereda.

"Sama-sama. Istirahatlah dulu." Taehyung menghadap lemari, mengambil handuk dan satu pasang baju bersih membelakangi Jimin.

"Tiduran sebentar disini boleh?"

"Ya, ya boleh. Aku mandi dulu."

Sepeninggal Taehyung ke kamar mandi, mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing.

Pertama, untuk Jimin yang masih memikirkan pemandangan buruk di studio Yoongi. Dipikiran nya, selingkuh adalah hal terakhir yang akan disandingkannya dengan Yoongi. Yoongi tak pernah seperti itu. Dia memang cuek, dan hanya memiliki beberapa waktu untuknya karena kesibukan mereka masing-masing, tapi Yoongi tak pernah suka dengan interaksi berlebihan dengan orang. Kalau boleh sombong baru Jimin lah yang saat ini mampu melelehkan petahanan Yoongi. Jimin kemudian tertawa pelan, untuk dirinya sendiri. Tunggu sebentar, Selingkuh?. Pikirnya siapa dia?, Walau dia memang ada sesuatu dengan Yoongi, berulang kali membagi kehangatan tubuh, tapi kenyataannya dia tak bisa mempertanggung jawabkan kekesalannya pada Yoongi. Hubungan resmi saja tidak pernah ada, mana boleh dia berprasangka dan menuntut banyak. Dan lagi lihat apa yang telah dilakukannya.. siapa yang player sekarang? Berapa kali dia sudah menghianati sumpah tak tertulis yang dia ikrarkan dengan Yoongi, berapa kali dia jatuh dan tak bisa mengendalikan diri dari pesona Taehyung?.

Kedua, untuk Taehyung. Saat melepas pakaiannya yang sudah bercambur bau dengan aroma pewangi pendingin di mobil Jimin, Taehyung terdiam sebentar. Menoleh ke pintu kamar mandinya yang terkunci seakan dia bisa tembus pandang melihat Jimin yang sedang baring-baring dikasur. Dia memikirkan beberapa hal, tentang anehnya Jimin hari ini, tentang betapa anehnya hubungan mereka. Teman saja bukan, bertemu hanya sesekali, tapi kenapa Taehyung mengizinkan Jimin dan mempersilahkan semua sikap kedekatannya?. Mereka hanya beberapa kali bertemu, memang pernah aneh-aneh tapi itu karena pekerjaan malamnya. Tapi disisi lain hanya Jimin lah pelanggan biasanya yang tahu bagaimana wujudnya saat bukan di House of Cards dan hanya Jimin yang sampai sudah seperti akrab bisa masuk flatnya. Hah aneh lainnya, Taehyung nyaman-nyaman saja. Dia merasa sangat nyambung dengan Jimin, dan melihat sifat anehnya barusan Taehyung bingung sebenarnya kenapa laki-laki itu.

.

.

.

Bunyi bip berulang datang dari benda persegi panjang tipis diatas meja dengan laci dua tingkat disamping kasur Taehyung. Diatas Kasur Taehyung, ada Jimin yang sudah selesai dengan acara minum teh gratisnya dan tidur-tiduran dengan pikiran resah. Bunyi bip lain dengan rentang yang lebih panjang. Jimin bangun, terduduk dan heran dari mana suara itu berasal. Oh, disana rupanya, diatas meja diujung lain kasur yang ditidurinya, itu ponsel Taehyung.

Jimin celingukan sebentar, tak ada tanda-tanda Taehyung kembali dari kegiatan pribadinya. Jimin entah kenapa tak enak hati melihat ponsel yang berdengung tanpa ada jawaban. Jimin beringsut mencoba mendekatinya.

.

.

.

Bip berulang pertama untuk message.

.

Pesan :

Aku mengingatkanmu kalau aku telah memesanmu. Malam ini kau harus menemuiku.

.

Bip kedua panjang untuk panggilan masuk dari pengirim pesan dengan kontak yang sama.

Jeon Jungkook is calling...

.

Jimin dalam proses pergerakan mengambil ponselnya.

.

.

.

TBC


.

Guys, im really sorry because ena-ena nya ke delay. Jangan pukul ya cium ajaa. Aku paham betul udah aku lelet update karena satu dan banyak hal, terus sekarang aku ngelanggar janji aku di kolom cuap-cuap kemarin huhu sedih. Chapter ini udah terlalu panjaang buat aku, jadi aku potong sampai disini dulu. Chapter depan baru deh nanti full kookv nya keluar, yang ngetik tak kuasa (?) sampean ini LOL.

.

Disini aku berusaha nyinggung soal masa lalu atau awal mula Kim bersaudara bisa jatoh ke tempat itu. Baru dikit sih nanti lama-lama menjadi bukit (?), juga bakalan mulai berantem deh yoongi ke jimin sama tete, ntah besok aku bikin mereka jambak2an atau guyur2an air dari gelas ala sinetron, antisipasi aja yaa, kan sayang nya jimin (aka yoongi) galak LOL. Ada yang kurang dipahami? Kasi tahu aku ya?

.

Also, maafin kalau ada typos menyebar dengan tidak sopannya. Aku berusaha re-edit lagi. Daan makasih buat yang masih nungguin fic ini. Aku udah nulis sebagian nganu part kookv, semoga update cepet. Astagaaaa, seriusan aku lagi bolak-balik luar kota karena perkerjaan :') makasih buat dukungannya! Aku ga akan ninggalin cerita ini dan kalian!. Spreads love 3

.

.

[ Sapa aku disini Tweet : sugarunning95]