a BTS fic

Choose Me

.

.

I'm alright, even if I can't have you.

.

.

Cast : BTS's Member

Pair : KookV ; HopeV ; JiminV ; Slight MinYoon ; Slight NamJin

Rate : M

.

.


Pt.7 You Did It First

.

.

.

Dering ponsel ketiga, tepat saat itu pintu kamar Taehyung terbuka dan Jimin berhenti bergerak ditempat, ah iya benar akan tidak sopan rasanya kalau kepergok buka-buka ponsel orang.

Taehyung celingukan, tangan kanan turun dari acara mengeringkan rambut basahnya dengan handuk. Dia dengar suara ponselnya, dimana dia meletakkannya?

"Disini, Taehyung. Dari tadi berbunyi." Jimin membuka suara, menunjuk atas meja.

"Oh, terima kasih, Jim." Tadi dia sempat agak lupa kalau Jimin ada didalam kamarnya.

Duduk diatas kasur, disamping Jimin. Ponsel Taehyung yang berdering sudah pindah ke telapak tangan Taehyung yang lembab.

Jeon Jungkook is calling...

Mata Taehyung mendelik melihat nama kontak yang menghubunginya.

"Tidak diangkat?" Jimin di sebelahnya kembali tiduran, memandang Taehyung yang hanya diam-diam bengong saja menatap layar ponsel yang berdering untuk dering yang keenam.

"Aku akan mengangkatnya, diluar." Taehyung bangkit dari atas kasur, membuat gestur meminta ijin untuk meninggal Jimin lagi. Pikirannya berputar cepat, seingat dia Jungkook pernah bersama Jimin dan Hoseok mampir ke House of Carrds bersama. Entah kenapa canggung saja kalau membiarkan Jimin tau kalau yang meneleponnya ini Jungkook.

"Oke, Silahkan." Jimin mengedikan bahu. Memperhatikan Taehyung yang berjalan cepat keluar mengarah ke ruang tamu.

.

.

.

"Halo." Taehyung menjawab dengan suara yang dibuat senormal mungkin.

"Lama sekali mengangkatnya, kau menghindariku?" Jungkook diseberang sambungan telepon menjawab dengan agak tak sabaran.

"Tidak, aku barusan selesai mandi."

"Sejak kemarin kau tidak membalas pesanku."

"Oh, maaf, aku sudah membacanya, Jungkook. hanya saja aku lupa membalas."

"Aku mendengarnya seperti beralasan."

"Astaga, kau akan datang kan nanti malam, menemuiku, eh? Lihat, aku baca pesanmu." Taehyung mencoba membuat obrolan mereka terdengar lebih santai. Mendudukan diri diatas sofa, kakinya dia lipat bersila.

"Oke.. pastikan kau tidak ada janji dengan siapapun."

"Kau ini kenapa sih, kau tenang saja, seperti tidak pernah mampir ke tempat kami saja."

"..." Ada hening dari Jungkook, Jungkook tak tahu harus menjawab apa.

"Kau.." Apa tujuanmu sebenarnya, kenapa harus aku? Itu tertahan dimulut Taehyung, dia sebenarnya bertanya-tanya, kenapa Jungkook harus menemuinya, ada banyak orang di House of Cards yang bisa menemaninya, kenapa harus bertemu Taehyung.

"Apa?" Jungkook menimpali santai.

Mencoba mengalihkan pikirannya, karena itu bukan urusannya. Taehyung mengganti rasa penasarannya denga pertanyaan lain. "Kau akan datang jam berapa."

"Seingatku jam delapan kalian buka."

"Tapi kalau kau minta aku menemanimu sepanjang malam, biarkan kita mulai jam sembilan. Aku akan membantu di dapur dulu untuk membuat teh."

"Oke, deal." Jungkook mengiyakan dengan sedikit hembusan nafas tipis yang terdengar hingga sambungan telepon antara mereka, jeda sejenak untuk panggilan lain "Taehyung.."

"Mm, hm?" Taehyung menyenderkan rambut separuh basahnya pada sofa, membuar sofa beludru halus di ruang tengahnya merembes sedikit air.

"Aku suka warna hitam."

"Hah?" Keheranan, Taehyung mencoba mencari kejelasan lain. Lalu kenapa kalau Jungkook suka hitam?.

"Pakailah warna hitam, seperti saat kita pertama kali bertemu."

"Oh.. ah.. Oke."

"Sampai ketemu nanti malam."

"Nanti malam, jam sembilan."

"Dan biarkan aku dikamarmu seperti malam hingga pagi itu." Diucapkan Jungkook dalam satu tarikan nafas lainnya, tegas dan tak terbantah.

"..."

"Bye."

Taehyung membuang ponselnya jauh ke tumpukan bantal dan sofa di seberangnya setelah sambungan telepon mereka diputuskan oleh Jungkook. Apa-apaan ini, wajahnya panas sekali, antara malu Jungkook terang-terangan mengingatkan dia malam panas mereka beberapa hari lalu, terang-terangan mengingatkan malam demonstrasi darinya saat mereka pertama kali bertemu, dan entahlah, Taehyung pening kala tidak percaya karena nyatanya mereka pernah sejauh itu.

Taehyung bingung, tangannya gemetar tipis karena nada bicara Jungkook yang sangat sensual mampir masuk ke gendang telingannya. Jelas sekali Jungkook benar-benar menginginkan bertemu dirinya malam ini. Taehyung membayangkan, apa lagi hal gila yang akan terjadi, apakah Jungkook akan mengoceh soal kehidupan pribadinya yang penuh kekang dan aturan lagi, atau apa? Kenapa harus dirinya? Hitam? Dan dikamarnya? Astaga, Taehyung merasa pening lagi.

.

.

.

.

Pelan Taehyung masuk ke kamarnya lagi, setelah tadi penuh mengumpat mencari ponselnya yang jatuh antara selipan dua sofa karena lemparannya tadi. Dia yang berlebihan sih.

Dia melihat Jimin berbaring diatas kasurnya, laki-laki itu terbaring dan matanya terpejam. Melirik jam diatas meja sudah jam enam, dia harus berangkat membantu kakaknya jam tujuh, dan Jimin yang tidur-tiduran begini tidak membantunya untuk bisa segera bersiap-siap. Taehyung mendekatinya, masih ingat dipikirannya tadi Jimin yang tiba-tiba bad mood, tiba-tiba aneh, lalu tiba-tiba mengeluh pusing. Sedikit banyak Taehyung khawatir pada laki-laki itu, apa dia sakit?.

"Aku tidak tidur." Yang merasakan hawa keberadaan Taehyung di dekatnya itu membuka mata.

"Kau oke? Sudah mendingan, pusingnya?" Terdengar sedikit nada khawatir Taehyung saat menanyakannya.

"Sudah, terima kasih tehnya, Taehyung."

"Aku sebenarnya harus pergi lagi jam tujuh nanti, kau tau, ke House of Cards. Tapi aku khawatir padamu. Aku tanya sekali lagi, apa kau oke?"

"Aku juga tidak tahu, tapi kalau pusingnya sudah hilang, sumpah." Jimin mulai bergerak duduk merapikan jasnya yang agak kusut juga rambutnya yang mencuat tergilas bantal.

"Uhm, ada hal yang mengganggu pikiranmu?"

"Kau bilang kau pergi jam tujuh, kau belum makan kan, ayo makan denganku siapa tau aku akan lebih baik." Itu Jimin mencoba mengalihkan pembicaraan, karena sesungguhnya dia sedang tidak ingin membahas soal Yoongi.

"Oke, makan." Taehyung memandangnya sedikit heran, tapi mengangguk saja setelah itu. Dia harus buru-buru bersiap juga.

.

.

.

.

"Astaga, Mc Donals?" Jimin dibelakang Taehyung mengikuti langkah kakinya, mereka berjalan kaki hingga perempatan jalan raya. Memenuhi penolakan Taehyung pada Jimin yang tadinya mau mengelurkan lagi mobilnya yang sudah terparkir. Jarak restoran makanan cepat saji itu sangat dekat.

Beberapa pasang mata memandang mereka, ada yang berbisik-bisik dan ada wanita yang menjerit bahkan berkedip genit setelah bersitatap sejenak dengan Jimin. Mereka ini mencolok sekali, Jimin dengan penampilan semi formalnya dan Taehyung dengan baju rumahan dan sneakers.

"Kau keberatan?" Taehyung tertawa tipis, punggungnya bergetar kecil ditangkap pengelihatan Jimin.

"Tidak, tidak." Tawa renyah Jimin terdengar juga menyahuti. "Berapa sih umurmu, kau masih senang makan junkfood." Jimin dan Taehyung sudah masuk dan antri di nomor dua kasir nomor tiga. Mata Taehyung sibuk memindahi papan menu yang dipasang diatas kepala pelayan. Tangannya bergerak-gerak seperti memindai. Lucu batin Jimin.

"Dua puluh lima." Jawab cepat Taehyung.

"Hah? Serius, kita sama." Jimin yang selesai mengatakan pesanannya ke pelayan kemudian menimpali.

"Kupikir kau lebih tua? Dari penampilanmu dan cara pakaianmu yang sepertinya orang kantoran penting." Tak kalah terkejutnya, Taehyung berkomentar.

"Nah, don't judge book by its cover" Jimin terkekeh membawa pesanan mereka ke meja terdekat yang kosong, taehyung mengambil dua sedotan dan saus botolan untuk mereka.

Percakapan mereka berlangsung dengan cukup santai, Taehyung bersyukur ternyata Jimin orang yang juga easygoing. Menurut Taehyung, Jimin pada beberapa waktu pertemuan mereka terlihat berbeda dari imej nya.

"Oke paham, paham. Lagi pula kau pendek."

"Sialan, hey kurasa mungkin karena line yang sama ini yang membuat kita jadi nyambung." Disamping terkejut, Jimin lebih merasa lucu karena obrolan santai begini bisa tercipta diantara mereka. Sepertinya ada banyak sisi dari Kim Taehyung yang belum dikenalnya.

"Mm, hmm." Taehyung hanya bergumam karena mulutnya penuh dengan gigitan burger.

"Hey, Kau marah?" Jimin memburu pertanyaan lain,

"Untuk apa?"

"Untuk aku cium tadi?"

"Oh tentu saja! Kau itu aneh, Bukannya harusnya kau heran kalau aku tak marah, untung tadi aku bukan dalam jam bekerja malam, kalau Seokjin-hyung tau kau akan ditagih." Taehyung mengomel setelah meminum segelas colanya. Wajahnya dibuat-buat sebal.

"Lalu kau bilang impas hanya dengan satu set paket deluxe burger dan kentang, waw aku yang untung berarti."

"Sudah, lagi pula kau melakukannya tak sadar, kau mabuk dua kaleng bir."

"Aku tidak—" Jimin baru akan menyuarakan kalau dia tadi sungguhan mencium Taehyung karena ingin, bukan karena mabuk, tapi dia tepis. Dan berdeham untuk melanjutkan kalimat lain. "Kau sepertinya tidak keberatan ya dekat dengan siapa saja, lihat kita bisa akrab."

"Aku sudah menemui ratusan orang asing, mencoba membuka perbincangan dan mengakrabkan diri sekarang kurasa bukan hal yang sulit, kenapa?"

"Kau bisa nyaman dengan kedekatan kita?" Jimin memastikan bagaimana pandangan taehyung kepadanya, apakah dia yang sok dekat dengannya ini terlihat aneh dimata Taehyung.

"Kenapa jadi sentimentil, makan saja."

"Tapi serius, Tae. Terima kasih."

Jimin merasa lega, dan Taehyung disini agak tidak mengerti untuk apa terima kasih dari Jimin itu.

Taehyung memang pada dasarnya tidak mudah menjalin hubungan dengan orang asing, dia menghindarinya untuk merasa dirinya aman dan terjauhkan dari kedekatan yang akan berujung dengan ikut campur di kehidupannya. Tapi untuk Jimin, Taehyung rasa dia pengecualian. Hanya Jimin yang tau beberapa keadaannya, bekerja di House of Cards, menjadi pelayan minimarket, dan punya rumah flat sederhana digang sempit. Untuk fakta itupun, Jimin tak pernah merendahkan Taehyung. Jadi Taehyung berkesimpulan Jimin mungkin memang orang yang baik.

"Aku suka kau." Tiba-tiba keluar dari mulut Jimin tanpa banyak prasangka, karena itu kenyataan, Taehyung itu unik dan Jimin penasaran dan juga tertarik.

"Aku juga suka kau, kita cocok, nyambung, mari berteman?" Taehyung menjawab ceria, setelah mengelap tangannya yang penuh minyak dan bumbu kentang goreng, Taehyung menyodorkan jari kelingking ke Jimin. Ajakan berteman yang sangat polos dari orang dewasa berumur dua puluh lima.

"Teman? Kau membawa perbincangan ini ke arah yang salah." Jimin tertawa hingga hanya segaris matanya yang terlihat.

.

.

.

.

Jam tujuh tepat, Jimin bisa menjadi pribadi yang disiplin. Dia seorang direktur Park kalau kalian lupa. Membawa mobilnya mengantar Taehyung hingga kedepan House of Cards untuk memenuhi janjinya yaitu tak akan membiarkan Taehyung telat.

"Terima kasih sudah mengajakku makan, dan antar-antar aku juga, Jim."

"Aku juga berterima kasih atas tumpangan tempat berbaringnya, tehnya, dan untuk semua hal yang menyenangkannya."

"Oke, impas kurasa. Kuharap kau sudah benar-benar baikan, walau kau akhirnya tak bercerita denganku."

"Aku sudah cukup oke."

"Kalau begitu, sampai ketemu lagi."

Setelah Taehyung keluar dan lambaian tangan tipis kearahnya diberikan. Jimin putar balik melajukan mobilnya ke jalan raya. Dia senang bahwa dia bisa mengetahui sisi Taehyung yang lain, dia yang sangat berbeda dengan Taehyung malam itu. Taehyung mengingatkan Jimin dengan asyiknya persahabatan saat kuliah. Kalau sebelumnya Jimin jatuh dalam pesona Taehyung karena keindahan laki-laki itu, maka sekarang Jimin merasa lebih oke untuk menjalin kedekatan yang lain, jadi teman? Sepertinya tidak buruk. Jimin hanya harus menjaga mata, pikiran dan tangannya untuk tidak kurang ajar.

Memindahkan perseneling dan ada getaran tipis disana, Jimin mengambil jalan untuk kembali ke apartemennya. Dia belum menghubungi Yoongi dan tak ada ide bagaimana membawa kegundahan hatinya nanti untuk berhadapan dengan Yoongi.

Akan dia pikirkan nanti...

.

.

.

.

Jam enam sore Jeon Jungkook masih duduk manis di singgasana ruangan pribadinya. Tatapan matanya tembus kaca jendela besar menatap sembruat jingga gelap yang mulai menggerogoti berkas-berkas cahaya dilangit. Suasana hatinya hari ini sangat bagus, setelah mengurus proyek tender yang berjalan mulus, Jungkook mendapat pujian dari ayahnya di eropa. Suasana hatinya semakin bagus setelah bertelepon singkat dengan Taehyung, mendapat konfirmasi dari permintaannya kemarin.

Senyumnya mengembang, tipis, setipis garis awan yang mulai pupus di bagian kanan pengelihatannya. Malam ini dia akan bertemu dengan Taehyung, laki-laki yang dengan tidak masuk akalnya kelewat manis dan cantik itu mengiyakan permintaan untuk menemaninya sepanjang malam.

Jungkook berulang kali menemukan Taehyung hadir dalam sudut pikirannya, hingga hadir dalam mimpinya. Dia pun tidak tahu karena apa, dan bagaimana bisa orang yang baru beberapa kali ditemuinya itu sanggup membuatnya begini mendamba. Aneh. Taehyung indah namun selalu luput untuk bisa digenggam bebas hanya untuk dirinya.

Jungkook mengingat pagi dimana dia terbangun linglung dengan Taehyung dalam dekapannya. Dia menginginkan rasa hangatnya lagi, dia menginginkan bagaimana ramah dan easy Taehyung menanggapi semua obrolannya, dia menginginkan merekam lebih banyak macam senyum yang laki-laki itu ciptakan. Semakin Jungkook menginginkannya, semakin Jungkook sadar, Taehyung memang dapat jatuh dalam pelukannya namun hanya dalam satu keadaan. Karena laki-laki itu harus, dan itu adalah pekerjaannya, setelah itu semua selesai.

Jungkook juga masih mengingat saat dia dengan mata kepalanya sendiri melihat Taehyung dicumbui Hoseok. Sekilas Jungkook meremas posel ditangannya. Ah iya, saat itu dia luar biasa marah. Kemarahannya memiliki alasan namun tak memiliki hak untuk diadukan. Dia kesal mengetahui kenyataan yang semakin membuat jelas bahwa Taehyung sulit dijadikan hanya miliknya. Siapa yang tau berapa lama Taehyung melakukan pekerjaan itu, berapa banyak orang yang telah berinteraksi dengannya. Jungkook seketika merasa kesal.

Malam ini sudah bulat rencananya, dia akan bertemu dengan Taehyung. Walau hanya malam ini, dia tak akan melepaskan pandangan Taehyung darinya. Kalau seorang Jeon Jungkook bisa jatuh pada pesonanya, maka Taehyung harus merasakan bagaimana kepayahannya dia. Taehyung juga harus jatuh dalam pesonanya.

Derit kursi terdengar halus saat beban tubuh Jungkook terangkat dari atasnya. Jungkook berisi, memasukan ponselnya ke saku celana beratnya, meninggalkan ruangan dengan langkah tegap yang kasual. Jam sembilan malam nanti diingatnya dalam kepala, dia tidak boleh melupakan rencananya membawa obat bejat yang diberikan Jimin padanya.

.

.

.

.

.

Taehyung masuk ke House of Cards dan langsung mencari Seokjin. Saat ditemukannya, kakaknya itu memakai kaca mata baca dan buku notes sedang ditangannya, sibuk mencoret sesuatu sambil mengecek dan masuk beberapa ruangan.

Taehyung mendekatinya, mengibaskan tangan didepan muka Hyung nya. "Hyung, jam sembilan nanti akan ada yang mencariku."

"Siapa? Sekarang kau sudah dipesan-pesan secara pribadi begitu ya, aku jadi curiga." Seokjin tertawa dengan tingkah adiknya yang mengganggunya.

"Jeon Jungkook, yang dulu itu, tidak ada yang khusus, dia pernah kesini."

Reaksi Seokjin adalah melepas kaca mata bacanya dan menyelipkan di persilangan kain hakama di dadanya, lalu mengomentari cepat. "Oh, yang bos itu! Yang kemarin tempo hari marah itu?! Astaga serius, dia itu milyader atau apa, dia sama sekali tak gentar menulis nominal pada kertas cek yang diberikannya padaku. Juga kelakuannya, dia sepertinya keras kepala, heh, jangan-jangan kalian ada lebih-lebihnya?"

"Lebih-lebih apa sih, Hyung? Dia memang orang kaya terserah dia kalau mau buang-buang uang. Dan kalau sifatnya mana aku tau, kita tidak kenal dekat" Taehyung tersenyum jenaka, aneh juga cara Seokjin-hyung berkomentar.

"Yasudah, terserah kau, jada dirimu, Tae. Aku merasa beberapa firasat saja."

"Apa-apaan itu, sejak kapan kau memperhatikan orang yang datang untukku selain Hoseok-Hyung?" Satu alis Taehyung terangkat heran.

"Entahlah, aku cuma mau bilang begitu saja. Malam kemarin itu, kalian kan nyaris begitu kan. Jaga dirimu, jangan lakukan kalau kau tidak mau. Serius, Tae." Seokjin mengelus kepala adiknya sayang.

Taehyung mengambil tangan Hyungnya dari kepalanya, meremasnya singkat lalu membalas tatapan sayang itu dengan binar dan tersenyum kotak. "Tenang saja, Hyung. Jadi aku bisa mulai bantu apa sekarang?"

"Ikut aku ke dapur, seperti biasa, kalau kau jam sembilan sudah sibuk, jam delapan kau aku bebas tugaskan. Ayo kita tak punya banyak waktu" Seokjin mencubit pipi adiknya, dia ini kadang masih terlihat menggemaskan.

"Siap, komandan! Serius, kalau boleh jujur aku lebih suka kegiatanku di dapur membuat teh ketimbang kegiatan lain, harusnya aku jadi pelayan saja, ya."

"Aish! Barang seperti kau jadi pelayan, sia-sia nanti wajahmu."

Taehyung mencibir karena jitakan tipis kakaknya. Kemudian dia teringat sesuatu yang disampaikan Jungkook tadi sore. Ah iya, Hitam. "Oh iya Hyung, nanti aku.. mau pakai hakama hitamku, yang lebar lengannya itu. Ada kan?"

.

.

.

Mobil gagah BMW Individual 760Li Sterling berwarna hitam pekat masuk parkiran dengan mulus. Satu kali hembusan nafas kasar keluar setelah Jungkook terdiam dibalik kemudi sambil memejamkan matanya erat. Untuk alasan yang tidak dia tahu, Jungkook merasa agak nervous. Satu jam yang lalu dia dibuat sibuk setelah membersihkan dirinya. Baru pertama kali ini setelah lepas dari masa sekolahnya, seorang Jeon Jungkook kebingungan memilih baju seperti apa yang akan dia gunakan untuk pergi keluar. Biasanya Jungkook tidak pernah kesulitan memilihnya, karena pada dasarnya dia selalu oke memakai apapun.

Jungkook dan ambisinya, dia harus membuat Taehyung yang bertekuk lutut padanya. Jatuh dalam pelukannya tanpa dia minta. Kalau si cantik itu bisa dengan yang lain, tentunya Jungkook harus bisa lebih dari menarik untuk membuat Taehyung terengah karenanya.

Dia suka warna hitam, hitam yang sepekat warna rambutnya, hitam yang sedalam warna bola matanya. Maka dari itu hari ini Jungkook menggunakan warna hitam juga untuk memeluk tubuhnya. Setelan kemeja kasual warna hitam berlengan panjang, terlihat licin dan kaku disaat bersamaan. Ujung lengannya sewarna merah darah, mengingatkannya pada mata Taehyung yang kadang berkilat diterpa cahaya. Celana hitam cukup ketat, dan rambut yang di tata santai dibiarkan jatuh dan menyigar di dahinya.

Malam ini penampilannya cukup atraktif karena baju yang dia pilih membalut badan jantannya dengan sempurna, memamerkan hasil pahatan tubuh yang rajin berolahraga. Jungkook keluar dari mobilnya setelah melapisi badannya lagi dengan coat cokelat gelap, jam yang melingkar ditangannya menunjukan pukul sembilan lebih sepuluh menit. Hal pertama yang harus dilakukannya adalah menemui Seokjin terlebih dahulu.

"Aku kesini untuk Taehyung."

"Oh, Dia sudah berpesan padaku kalau kau mencarinya." Seokjin tersenyum walau bola matanya tampak menelisik, Jungkook adalah orang yang kemarin nyaris membuat keributan di depan ruangan yang dipesan Hoseok, Seokjin masih ingat itu.

"Bisa aku kesana sekarang?"

"Silahkan, dia sudah ada ditempat yang katanya kalian janjikan."

"Biarkan dia semalam bersamaku, untuk biaya terserah kau yang urus." Itu kalimat Jungkook, setelah mereka selesai berbincang singkat menjelaskan berbagai paket jamuan dan hidangan. Tampaknya Jungkook tidak terlalu memperhatikannya, laki-laki itu jelas datang kesini lebih tertarik untuk menemui Taehyung.

"Oke, nanti akan ada pelayan yang mengantarkan sajian, mereka akan menganggu waktu kalian beberapa saat, jadi mari saya antar."

.

.

.

.

Taehyung mondar-mandir di kamarnya yang sudah sangat rapi, selimut dan seprai baru, lilin aroma terapi baru, juga karpet dan korden lain yang sudah bersih dan wangi.

Tangannya naik menekan pangkal hidungnya, gugup rasanya. Taehyung membayangkan akan bertemu Jungkook yang mana; yang akan marah-marah seperti kemarin, yang hangat dan santai seperti saat dulu mereka mengobrol, atau yang panas dan menggoda disetiap sentuhannya. Ah astaga. Taehyung lebih gusar kalau Jungkook akan marah-marah lagi, merendahkannya dengan kata-kata tajamnya, dan mereka akan berakhir pukul-pukulan diatas ranjang kalau Taehyung tak bisa menahan emosinya.

Akhirnya dia duduk diatas ranjang, melihat pantulan dirinya di cermin besar yang yang berdiri berjarak dua setengah meter tepat di depan ranjangnya. Menghela nafas sekali, dua kali. Hakama hitamnya tadi sempat terlipat dan dia injak sedikit, maka dari itu Taehyung menghentikan aksi mondar-mandir tak tentunya yang beresiko pada kerapian dandanannya. Tangan Taehyung naik sambil menggerutu sebal karena hiasan bulu putih yang ada dikepalanya mudah melorot karena surai cokelatnya yang kelewat halus. Taehyung menyela ramput disamping telinganya sambil menjejalkan hiasan bulu putih itu dengan asal-asalan. Yoona noona selalu sempurna mendandaninya, tidak pernah terlalu tebal, dan saat Taehyung bilang persis pada malam itu, maka benar Taehyung akan di disulap persis malam itu.

"Hei jagoan," Taehyung berkata pada pantulan dirinya sendiri dicermin. "Pernahkah kau menyangka kau bisa berubah seperti kupu-kupu padahal nyatanya kau adalah ulat bulu?"

Ada sedikit kandungan humor tidak penting dari ungkapan Taehyung, tapi dia mengatakannya dengan sungguh-sungguh. Dia sungguh-sungguh heran dengan perubahan dirinya sendiri.

Taehyung merapatkan kakinya yang tadi duduk agak mengangkang, kebiasaan buruknya dan Seokjin tidak suka kalau itu dibawa-bawa kesini. Helaan nafas ketiga setelah menatap dirinya sendiri dicermin lagi. Taehyung benar-benar tak menyangka kalau dia bisa terlihat begini cantik dan seduktif dengan dandanannya, dan kenyataannya itu memang diharuskan untuk menunjang pekerjaannya juga Taehyung selalu mengingat-ingat selalu agar tampil ramah dan hangat dalam otaknya.

Jam sembilan lewat dua puluh, terlambat memang, dan saat itu pintu kamarnya diketuk pelan. Taehyung terlonjak kaget tapi segera membawa langkahnya menghampiri pintu geser.

Saat dia membuka pintu, Seokjin-Hyung ada disana dengan dua pelayan yang langsung masuk setelah permisi, menata makanan yang beraroma manis, gurih, legit, juga beberapa botol minuman dan satu set alat meracik teh. Disebelah Seokjin ada Jungkook, laki-laki itu belum menatapnya karena kelihatan sibuk melepas sepatu dan coatnya.

Taehyung entah kenapa ingin menjerit 'Seokjin-Hyung, tolong aku'.

"Silahkan ambil waktu kalian." Seokjin tersenyum geli setelah sekilas melihat raut memelas adiknya.

Mereka hanya berdua setelah sepeninggal Seokjin dan dua pelayan wanita tadi. Taehyung melongok keluar, sudah hilang, lorong menuju kamarnya terlihat sepi sekali karena kamar pribadinya ini letaknya ada di paling ujung.

Lalu urusannya saat ini adalah dengan Jungkook.

"Apa?" Jungkook menaikan alisnya karena diperhatikan Taehyung.

"Silahkan masuk, Jungkook" Taehyung membalasnya, sedetik setelah menanggalkan wajah polos nya yang tak sengaja keluar, lalu mengubahnya menjadi senyum yang ramah.

"Santai saja, wajahmu itu seperti ketakukan. Aku tidak akan mencekal tanganmu kasar dan marah-marah lagi." Jungkook tersenyum miring sambil melepaskan coat cokelat tua hangatnya, menyadari perubahan ekspresi Taehyung yang diusahakan oleh laki-laki itu.

Taehyung tertegun, seakan Jungkook bisa membaca pikirannya, "Iya, aku akan santai. Karena memang peranku adalah membuat pelangganku rileks." Taehyung menerima uluran coat yang diberikan Jungkook, saat mengantungnya ada gemerincing singkat sepertinya handphone dan kunci mobil Jungkook disimpan didalam saku coatnya.

Taehyung baru menyadarinya sekarang, saat dia menengok ke arah Jungkook yang dengan santai berjalan mendekati karpet yang tergelar tak jauh dari ranjangnya. Walau pencahayaan kamarnya dibuat redup dengan neon yang meremangkan sinar cokelat hangat, dan hanya beberapa lilin aroma terapi, tapi Taehyung bisa menangkap kalau penampilan Jungkook hari ini benar-benar oke.

Bukan main.

Badannya yang bidang itu tercetak jelas dan menawan di kemeja yang mungkin puluhan juta harganya, hitam pekat sewarna rambut dan bola matanya. Ujung lengan panjang yang berwarna merah darah dilepas kancingnya saat Jungkook berjalan, untuk dilingkis naik hingga ke siku.

Taehyung langsung memikirkan kata keren dan maskulin saat Jungkook mempertontonkan semua gesture itu didepan matanya.

Kemudian, lepas dari pemikirannya tadi, merah meradang ke pipi Taehyung saat Jungkook sudah duduk diatas karpet beludru, bersandar di ranjangnya, tersenyum kearahnya sambil menepuk sisi disebelahnya.

Yang laki-laki penggoda sebenarnya dia atau Jungkook sih?

Taehyung berjalan pelan-pelan, mempertahankan senyum diwajahnya agar penampilan yang sudah diusahakan Yoona noona padanya tidak wasted.

Sampai di sebelah Jungkook, Taehyung sengaja menggeser duduknya agar lebih rapat. Yang adalah kesalahan besar. Parfum Jungkook memenuhi paru-parunya membuatnya agak sesak dan pusing. Sesak dan pusing yang menyenangkan, laki-laki ini punya selera yang bagus untuk wewangian. Sekilas, demi berapa ratus juta yang Jungkook habiskan untuk membeli kemeja itu, Taehyung bersumpah kalau kancing kemeja atas Jungkook bisa loncat apabila dada bidang laki-laki itu terlalu banyak bergerak. Uh, ngepas begitu kenapa dibeli.

"Kau oke malam ini, aku suka penampilanmu."

Jungkook menatap lawan bicaranya satu-satunya, entah itu Taehyung ucapkan untuk basa-basi saja atau berdasarkan kesungguhan, Jungkook tak tahu.

"Kau juga oke malam ini, persis seperti saat kita pertama bertemu."

"Jadi bagaimana harimu?" Taehyung membalas lagi cepat, merasa tidak enak dengan senyum kurang ajar Jungkook yang seperti akan membahas sesuatu lain yang memalukan.

"Hah?"

"Kita harus ngobrol kau tau, aku mulai salah fokus." Taehyung jujur.

"Tunggu, kau dari tadi mencoba basa-basi atau sungguhan?. Kau memuji penampilanku lalu sekarang kau seperti melebih-lebihkannya."

"Serius, kau sadar tidak sih, kalau kau itu tampaaaan sekali. Aku sungguh-sungguh, kalau tampan itu dosa, kau bisa dipenjara." Sedikit heran dengan kosa katanya sendiri, Taehyung terkekeh tipis merasa gagal memuji.

"Terima kasih. Kau juga cantik sekali. Kalau aku bisa dipenjara, maka kau harus diikat karena berbahaya bila dibiarkan ngelayap." Jungkook menimpalinya dengan garis pujian lainnya. Namun lebih menjurus.

"Terima kasih kembali," Tawa lain dari Taehyung, terdengar menggoda seperti mengiyakan pernyataan Jungkook. "Dan aku bukan wanita, jangan bilang aku cantik."

"Lalu apa? Precious, gorgeous, baby?"

"Oke cukup sampai disitu, Jadi kau ada apa cari-cari aku? Seingatku kemarin kau marah padaku."

"Karena kemarin aku marah, maka dari itu aku ingin kau membayarnya, buat aku tidak marah lagi misalnya."

"Nah sekarang memangnya masih marah?"

"Masih."

"Aish, bukannya kau kemarin marah karena tidak dapat waktuku, sekarang kan sudah terbayar. Kita impas."

"Entahlah Aku masih merasa tidak senang saja soal kemarin."

"Oke, maaf, sebaiknya kita jangan mulai lagi, Jungkook. aku capek menjelaskannya. Teh?" Taehyung sekilas mencebik, lalu sedetik kemudian berubah menjadi senyum tipis defaultnya. Orang ini banyak sekali ekspresinya, batin Jungkook.

"Hari ini apa?" Jungkook tertarik, jangan ditanya lagi kalau soal skil membuat teh, selain Taehyung yang menawan dalam penampilan, kemampuannya yang satu itu mengagumkan.

"Untuk tuan tampan yang masih marah padaku, bagaimana kalau kita turunkan tensinya dengan teh chamomile dulu?"

"Kau ahlinya."

Taehyung memang ahlinya, membuat satu ruangan penuh dengan aroma teh yang lembut dengan aroma manis yang tipis berbaur, pas rasanya dan dengan panas yang tepat. Taehyung juga ahlinya, menciptakan sebuah suasana hangat dan membuat siapapun membalas ocehannya, bercerita tentang harinya.

Tak terkecuali Jungkook, walau Jungkook tak terlalu banyak menjelaskan tapi obrolan antara mereka mengalir menyenangkan. Jungkook dibuat cerita apapun, dari menceritakan sekertaris pribadinya yang ulet hingga bagaimana Jungkook mendapat bingkisan jam tangan swiss dari kliennya. Jungkook heran, tapi inilah yang dilakukannya bersama Taehyung, menghabiskan kudapan, dan mencoba berbagai jebis teh lain yang dibuatkan. Hingga suguhan soju membuatnya sedikit mabuk. Jungkook menarik Taehyung dalam pelukannya mencari hangatnya.

Diantara telesik matanya yang mengamati indah Taehyung yang berbincang santai. Jungkook kembali mengingat satu bungkus obat bejat yang dibawanya. Dia ingin melakukannya tapi setengah hati ragu melakukannya. Terombang-ambing dengan kesadarannya yang semakin menipis disetiap gelas soju yang terteguk.

"Aku ingin tahu banyak tentangmu." Punggung jari telunjuk Jungkook naik menyentuh pipi hangat Taehyung. Halus sekali. Dan Taehyung menanggapinya dengan merapatkan diri, merangsek seperti kucing.

"Tahu banyak yang bagaimana?" Taehyung menjawab, menuang soju lain dicawan hingga cukup penuh. Ini tradisi, jangan biarkan gelas itu kosong kecuali kalau kau diminta berhenti.

"Dimulai dari hal sederhana saja, apa warna favoritmu, apa makanan kesukaanmu, apa hobimu, dan.. apa yang kau lakukan disiang hari." Jemari Jungkook naik ke surai cokelat tua Taehyung. Sensasi halus yang lain. Dan Jungkook diam-diam menghitung jumlah hiasan bulu putih yang tersemat diantara sela surai itu. Berbeda dari yang malam itu, karena Jungkook dulu sempat mencurinya satu.

"Aku suka semua warna, tidak ada yang spesifik, tapi kalau seringnya aku akan memilih putih, aku suka japchae, daging? Semua orang suka daging kan?, untuk hobi aku suka eksperimen, teh khususnya, baca buku, dan komik juga termasuk." Taehyung menjawabnya dengan jelas, menyamankan sandarannya di dada Jungkook. Tangannya gemas ingin meluciti satu kancing kemeja teratas yang seperti akan meledak karena sesak itu.

"Aku akan mengingatnya."

"Untuk apa?" Tawa lain dari Taehyung.

"Lalu untuk pertanyaan terakhir, belum kau jawab." Jungkook masih memburui pertanyaan lain yang dia rasa belum terjawab.

"Apa yang aku lakukan disiang hari ya.. kalau siang aku... jadi sisa bunga tidurmu, karena tiap malam yang kau habiskan denganku adalah mimpi. Siang, Kim Taehyung yang seperti ini tidak ada."

Tidak mendapat jawaban logis, Jungkook mendapatkan jawaban lain diluar dugaan pemikirannya. "Jadi ini hanya mimpi?"

"Anggap saja begitu." Taehyung tersenyum, mendongak kearah Jungkook lalu memberikan kecupan ringkas di dagunya sebagai balasan tangan kiri Jungkook yang membelai pinggangnya.

"Kenapa begitu nyata? Aku bisa menyentuh malaikat dalam mimpiku, atau kau ini setan? Lihat kulitmu saja sepanas ini." Jemari Jungkook lainnya lari mengusap dagu Taehyung, membuat bibir bawah Taehyung sedikit tertarik kebawah dan terbuka.

"Kau berlebihan, ambil saja waktumu bersamaku, Jungkook."

"Kalau aku ingin mengambil semuanya, bagaimana caranya? Kau yang seperti ini tidak boleh hanya jadi mimpi, jadilah kenyataan untukku."

"Jungkook, kau mabuk, jangan ngawur."

"Serius, berapa banyak? Berapa banyak orang yang jatuh untukmu?"

"Tidak ada yang benar-benar jatuh padaku. Bagaimana mereka bisa mengaku jatuh kalau yang dihadapannya bukan diriku yang sebenarnya. Aku boneka, hanya untuk dilihat dan dimainkan."

"Jadi ini bukan kau?" Jungkook menyerngit, oh tentu saja apa yang dilakukan Taehyung ini tidak nyata, dia begini karena ini pekerjaannya. "Kau senang?"

"Ini bukan aku, tapi aku mencoba menjadi aku yang seharusnya ada disini. Sesederhana itu."

"Jawab aku, apa kau senang?"

"Jungkook, kau terlalu banyak bertanya, berikan giliran untuk aku bertanya."

"Kim Taehyung—"

"Untuk apa kau bertanya semua itu padaku? Yang kau lakukan disini seharusnya hanya makan, minum, berbincang soal harimu yang menyenangkan, atau harimu yang buruk, lalu kau bersenang-senang denganku. Bukan kau mencoba menggali kisah hidupku."

"Jelas, aku hanya ingin tau banyak tentangmu." Jungkook melepaskan dekapannya pada Taehyung. Menyandarkan laki-laki itu di badan ranjang.

"Kau sudah cukup mengenal Taehyung, yang ini, Taehyung yang bisa kau sentuh saat ini." Tangan Taehyung terulur, mengetuk dada bidang Jungkook lalu melepas kancing kemeja teratasnya pelan. Entah kenapa Taehyung suka bagaimana cara mata Jungkook teralih mematai gerak jemarinya.

"Ada yang lain, aku ingin tau Taehyung yang lain." Mata Jungkook kembali memanah tepat ke dalam bola mata sewarna madu bercampur kilat merah milik Taehyung, terpatri. Mencari kebenaran disana yang seakan dihalangi kabut tebal.

"Jungkook, jangan bertanya. Tidurlah dalam mimpimu."

Taehyung kembali menarik Jungkook mendekat dengannya, kedua tangan Taehyung mampir mengalung dibahunya. Taehyung beringsut di atas pangkuan Jungkook. Suara gemerisik hakamanya hitamnya yang bergesek memberinya antusias lebih. Jungkook bertanya, dan Taehyung tidak bisa memberikan jawaban yang diinginkan laki-laki itu.

Dua bola matanya mencoba membaca, tapi Taehyung tidak mengijinkan dirinya terbaca.

Satu kecupan mampir di bibir Jungkook yang terasa manis dan asam karena soju. Mereka sama-sama tidak total dalam kesadaran, dan Taehyung akan membuat Jungkook berhenti bertanya dengan lupa dan tenggelam dalam kecupan lain di wajah tampan itu. Satu, dua, tiga, hingga lima dihitung oleh Taehyung dalam hati, jejak lembab buatannya malah membuat wajah Jungkook semakin menyerngit.

Respon dari Jungkook adalah emosi yang mulai naik, marah untuk suatu pemberontakan dalam dasar hati Jungkook yang tak terjawab baik. "Ternyata kau lebih senang seperti ini."

"Tidurlah, jatuhlah dalam mimpi yang indah, Jungkook. Inilah yang kau cari kan sejak awal."

Taehyung selalu melabeli semua pelanggannya dengan plester besar bertuliskan nol kesungguhan, merapal mantra dalam hati agar tidak mempercayai semanis apa kemungkinan yang akan terjadi antara dia dan lawannya.

Tidak dia tidak akan percaya, tak akan membawa perasaannya, tapi mengapa hanya dengan Jungkook dia gemetar? Hanya dengan Jungkook dia ketakutan?.

"Bukan ini yang kumau, jadilah nyata."

"Tidurlah, aku tidak bisa menawarkan apapun yang seharusnya memang tak bisa kau minta."

"Persetan." Jungkook mudah sekali marah, dengan segala pembangkangan Taehyung, dengan segala penolakan Taehyung dan dengan semua kalimat jawaban penenang yang berujung tipuan dari Taehyung. Jungkook bisa menangkap ada selipan sosok lain dalam diri Taehyung yang tersenyum menggodanya.

Puluhan kali Jungkook menangkap senyum kekanakan yang tak sengaja keluar. Puluhan kali Jungkook menangkap petuah dewasa yang tak sengaja terujar, dan Puluhan kali Jungkook menangkap sifat berani yang kadang lepas dari gesture Taehyung yang tak sengaja terbongkar.

Kalau Taehyung bilang ini hanya mimpi, berarti ada benar adanya bahwa diri Taehyung yang sesungguhnya sedang terpenjara dalam jeruji. Sosok lain itulah yang membuat Jungkook penasaran, ingin mencarinya, ingin melihat bagian itu. Bukan Taehyung yang bersikeras memperkenalkan dirinya sebagai laki-laki nakal yang boleh dia sentuh dimana saja.

Kalau itu mau Taehyung.

Jungkook mengeluarkan bungkusan keemasan dari saku celana berbahan beratnya. Kemeja Jungkook sudah cukup berantakan sekarang, keluar dari kungkungan gesper, mencuat sana sini karena Taehyung dipangkuannya terlalu banyak bergerak, menggodanya.

Membuka bungkus itu dengan cepat dan mengambil satu butir obat sewarna merah darah digenggamannya. Jungkook melingkarkan jemari di tengkuk Taehyung dan menjauhkan kecupan lain di wajahnya. Dipandang heran, Jungkook tersenyum miring. Mencengkram rahang Taehyung halus lalu membawa Taehyung dalam ciuman basah dibibir, didalam mulut. Taehyung menerimanya tentu saja, terlampau baik dan lebih memprovokasi.

Taehyung yang selalu membawa ini ke arah yang salah, disaat Jungkook tidak tahu batasan apa yang diperbolehkan Taehyung untuknya. Karena nyatanya, Taehyung tau bagaimana membuat Jungkook tak melewati batasannya itu. Taehyung bisa menarik diri kapanpun, seperti saat dia membuat pingsan Jungkook ditengah kegiatan panas mereka.

Tapi tidak untuk malam ini.

Ciuman basah ketiga, decak basah terdengar saat lidah mereka beradu, menghisap habis bagai meneguk madu didalam sana. Dan saat itulah Jungkook melakukannya.

Tangan kiri masih dirahang Taehyung, tangan lainnya mengambil botol soju yang tinggal separuh. Menarik ciuman itu untuk lepas sejenak, Taehyung dihadapannya masih terengah didepan bibirnya, lengah. Satu butir kapsul merah darah masuk ke belah bibir Taehyung yang juga bengkak sewarna darah. Matanya melebar kaget, lalu menjadi terpejam erat saat Jungkook memaksa Taehyung meminumkan sisa soju. Terbatuk sekilas, Taehyung menjauhi tempatnya dipangkuan Jungkook namun ditahan oleh ciuman lain dibibirnya.

Jungkook tak merapal doa untuk tuhan agar Taehyung dapat menelan obat itu dengan mulus, sekarang dia meminta pada setan lain pada dirinya. Apabila benar obat bejat ini adalah obat perangsang, kita akan lihat hasilnya. Kegilaan dalam kepalanya akan terjadi setelah kesuksesannya membuat Taehyung menelan obat itu.

Dan saat itu akan tiba, dikala semua tertelan habis, bersama sisa soju dan decak ciuman yang berakhir.

"Apa yang kau berikan padaku?"

"Kau sudah menelannya, kau minta aku bermimpi? Buat mimpi ini jadi indah."

Jungkook menarik Taehyung ke atas ranjang. Ini seperti déjàvu, pikir mereka berdua. Jungkook melucuti gesper dipinggangnya sendiri. Meniti satu persatu kancing kemejanya yang sudah agak kusut sambil sebelah tangan mengacak rambut frustasi. Apakah ini hal yang benar?

Jungkook mulai gentar ketika dia melihat sendiri bagaimana wajah Taehyung berubah semakin memerah dan laki-laki itu semakin menyerngit dengan terengah dibawah kungkungannya. Luar biasa, cepat sekali bereaksi.

"Jungkook?" Taehyung mulai bertanya-tanya, ada sesuatu yang aneh terjadi pada dirinya.

"..."

"Astaga, ada yang salah." Panas. Badan Taehyung terasa panas, agak geli dan gerah. Ada apa?.

"Jungkook, Hei—Aahh..." Satu desah terlepas, dan Taehyung tidak suka bagaimana dirinya tak bisa menahan itu untuk keluar. Demi tuhan ini hanya Jungkook bertelanjang dada, dan mengelus wajahnya, Taehyung bisa saja menantangnya, namun kenapa dia jadi selemah ini.

"Kau pasti akan suka." Jungkook sejenak melupakan obrolan mereka yang sengit, karena Taehyung yang mulai menggeliat atas semua sentuhan tipisnya benar-benar harus diurus sekarang. Taehyung memberengut manis seperti kucing saat Jungkook melucuti sabuk tipis obi beserta hakamanya, dan kadang mendesah berat saat merasakan jemari Jungkook yang panas tak sengaja menggesek kulit Taehyung. Sensitif sekali.

Taehyung tidak senang dengan kontrol dirinya yang terlepas, tapi dia menikmati sensasinya lebih dari gila. Dia mau lebih, menginginkan lebih, sesuatu hal yang dapat Jungkook lakukan untuk menuntaskan kebutuhannya.

Setelah dirinya tak tertutupi seutas benang pun di bawah kungkungan Jungkook, Taehyung mendesah hebat kala Jungkook mencicipi kulit lehernya, meninggalkan tanda seperti rantai merah keunguan disana. Gigit, hisap dan jilat, berlanjut hingga tulang selangka dan area dada Taehyung yang rata. Taehyung mendesah dengan suara yang terdengar tidak masuk akal, manja dan serak. Kedua tangannya meremas surai arang Jungkook yang menjajah tubuhnya dengan kecupan lain yang semakin menaikkan gairahnya.

"Jungkook— Nghh.. pelan-pelan."

Paha bagian dalamnya digigit Jungkook dengan keras, merah disana. Bersamaan dengan tangan Jungkook yang menggenggam pusat gairah Taehyung dan mengocoknya kurang ajar. Taehyung dibuat merengek saat pandangan matanya menangkap kerlingan berbahaya dari Jungkook. Karena saat pusat gairahnya yang menegang masuk ke rongga mulut Jungkook, dihisap dan dijilat. Astaga, Taehyung rasanya seperti melayang antara surga dan kobaran api neraka. Dia akan naik bertemu titik kepuasannya di surga lalu akan dihempaskan dalam kobaran api karena dosa yang disebabkan oleh dirinya yang menginginkan sentuhan lebih.

Bukan main. Taehyung datang dalam mulut Jungkook setelah hisapan kuat laki-laki itu untuknya. Menggerang ditambah desah yang memalukan. Tubuhnya luar biasa aneh, dirinya pada kondisi normalnya bisa berlagak seperti pemain juga untuk melawan tawanan gairah Jungkook. Namun saat ini, dia seperti hanya akan menerima dan meminta apapun.

Taehyung menatap wajah Jungkook yang kembali pada area pandangannya setelah bermain dengannya dibawah sana. Cepat tangan Jungkook membuka kait celananya, menurunkan resletingnya yang terlihat menyesakkan. Hanya itu, kebanggan Jungkook belum keluar dari sarangnya, tapi Taehyung bersumpah dia terlihat sangat keras disana.

Ciuman lain mampir di mulutnya, belepotan, sangat intim dan bercampur dengan sisa rasa cairan miliknya sendiri. Taehyung ingin lari, mengejar dan menangkap gairahnya yang membumbung agar turun, tapi semua yang dilakukan Jungkook hanya semakin membuatnya melambung. Jungkook melepas ciumannya, menyodorkan jari-jarinya agar dijilat Taehyung. Walau heran untuk apa, tapi Taehyung melakukannya.

Menit lain dimana Taehyung kembali ditawan ciuman dibelah bibirnya, Taehyung tersentak hebat saat seketika dua jari basah Jungkook yang tadi dijilatnya habis hingga basah masuk kebagian bawah diri Taehyung. Lorong sempit, basah, dan rahasia miliknya. Taehyung bersumpah tidak pernah memasukan apapun kedalam sana. Namun, sekarang, untuk pertama kalinya, Jungkook seakan mencoba menggalinya dengan jemarinya, menggerakannya penuh dosa didalam sana.

"Jungkook, jangan.. keluarkan.. Aah—" Bibir Taehyung berkata tidak tapi tubuhnya membutuhkannya, sekali lagi ini diluar kendali diri Taehyung.

"Kau ketat sekali.." Luar biasa rapat, pikiran Jungkook yang berkabut nafsu telah macet untuk memikirkan inilah bukti nyata bahwa Taehyung sesungguhnya belum pernah melakukan ini sebelumya.

"Jungkook, kumohon..." Taehyung sendiri tidak tahu dia memohon untuk apa. Dilepaskan atau memohon untuk dituntaskan. Taehyung gemetar membayangkan apa yang selanjutnya akan terjadi, tapi tubuhnya tak dapat berkerja sama untuk menghentikan. Lemas dan ingin mencari puas.

Dengan tidak tahu malu Taehyung kembali tegang dibagian tengah selangkangannya. Astaga, tiga jari yang mengobrak-abrik dalam dirinya membuatnya gila. Dan lubangnya yang memijat dan mencengkram itu benar-benar tak mengizinkan mereka untuk berhenti.

"Kau punya kondom?" Jungkook mengeluarkan ketiga jarinya cepat, bernafas berat diatas kulit Taehyung. Lenguhan Taehyung terdengar samar, seperti lega dari belenggu atau kecewa ditinggalkan tak tersentuh.

"Apa? Nghh.." Taehyung bergerak gelisah, tubuhnya semakin memanas, dan pemandangan Jungkook yang melucuti celananya didepannya semakin membuat seluruh titik sensitif tubuhnya menegang.

"Cepat katakana dimana kau menyimpannya?" Jungkook tak sabar, kembali mengungkung tubuh Taehyung. Bibirnya tak berhenti mencumbu leher Taehyung yang telah basah oleh keringat, dan tangannya kembali bergerak menggoda pusat gairah Taehyung yang menegang dan memerah.

"Mmm.. Aku tidak punya." Taehyung datang untuk kedua kalinya, suara kepuasannya tertutup gumaman karena dia menggigit bahu Jungkook untuk meredamnya.

"Tidak punya? Nakal sekali," Diantara gairah Jungkook yang membumbung naik, marah kembali menyelinap, membayangkan Taehyung juga melakukan hal seperti ini dengan orang lain tanpa kondom, atau mungkin Hoseok juga pernah. Persetan. "Sekarang giliranku."

"Aku tidak—Hhhhng! Jungkook jangan, hentikan— Aah!"

Jungkook memasukan bagian dirinya begitu saja. Awalnya kasar menusuk, lalu berubah perlahan setelah menerima cakaran dan teriakan kencang dari Taehyung. Jungkook bersumpah bahwa Taehyung amat sangat ketat membungkus kesejatiannya, dan Taehyung bersumpah bahwa Jungkook amat sangat besar dan panas mengisi dirinya.

Taehyung menangis, dan Jungkook tau itu. Dia memejamkan mata kuat, membuang tatapannya jauh dari Jungkook saat Jungkook mulai bergerak. Namun belaian jemari yang gusar, cakaran, dan kedua kaki Taehyung yang melingkar manja di pinggangnya tak membuktikan kesengsaraan dan penolakan dari laki-laki indah yang sedang diselimuti nafsu dibawahnya.

Jungkook terengah, membisikan betapa enaknya penyatuan tubuh mereka, dan Taehyung yang sangat sensitif itu kembali menggigil dibawahnya, mulai mengikuti gerakan keluar masuknya dibawah sana. Taehyung masih menangis, giginya gemeretuk geram tapi tubuhnya menikmatinya. Dan lubang dirinya seakan menyedot masuk Jungkook untuk lebih kedalam dirinya.

Taehyung kehilangan hitungannya, berapa kali dia datang dan membasahi perutnya dan perut Jungkook karena cairannya. Dan dia tidak tahu pada irama keberapa dari gerakan mereka saat Jungkook akhirnya bernafas semakin berat, memuji Taehyung ditelinganya untuk kemudian dia datang. Lepas. Menjemput titik teratas kepuasannya dengan memenuhi Taehyung dengan cairan panas dan banyak. Masuk mengalir membuat sekujur tubuhnya gemetar, lalu mengalir keluar karena terlalu penuh.

Mengumpulkan tenaganya yang tersisa saat Jungkook melepaskannya. Taehyung sesungguhnya adalah laki-laki yang tangguh. Melawan tubuhnya yang berontak meminta ronde permainannya lainnya, dia berhasil mendorong Jungkook kuat. Menarik hakamanya yang tadi terjatuh di atas karpet memakainya lalu berlari tertatih dengan sisa tenaganya menuju satu-satunya pintu keluar di kamarnya. Taehyung harus keluar, minta tolong pada kakaknya untuk mengembalikan kontrol dirinya.

Jungkook tak membiarkan itu. Setelah berhasil meraihnya, Jungkook membalik kasar tubuh Taehyung yang tertutup hakama yang menggantung malas di tubuhnya hingga punggungnya menabrak kusen pintu geser.

"Kau mau kemana, kita belum selesai."

"Jungkook... lepaskan aku, ini tak benar kau melakukan sesuatu dengan obat tadi." Taehyung mencoba memasng ekspresi marah, namun dia lebih lemas saat ditahan Jungkook di pintu. Masih terengah karena tubuhnya membutuhkannya, tapi harga dirinya marah. Ini salah, Jungkook memaksanya.

Suara Taehyung yang terdengar sangat sensual membutakan semua rasa kasian Jungkook yang melihat Taehyung kepayahan bersandar di pintu geser. Kedua kaki Taehyung gemetar, Taehyung bisa jatuh terduduk kalau bukan Jungkook yang menahannya.

"Kau milikku malam ini, jangan menolaknya. Aku tau tubuhmu menginginkannya." Tali obi ikat pinggang hakama Taehyung entah sejak kapan sudah dalam proses diikatkan Jungkook ke kedua tangannya hingga menyatu.

"Kau harus diikat." Jungkook melanjutkan, membisikannya tepat ditelinga, lirih dan dalam. Kemudian segala perlawanan Taehyung berakhir saat tangan Jungkook kembali diantara pahanya, bersamaan dengan pintu geser yang dikunci Jungkook diam-diam. Mereka akhirnya melakukannya lagi, disana dengan posisi mereka yang berdiri, dan satu kali lagi diatas ranjang tidur Taehyung.

.

.

.

.

.

Pagi hari jam tujuh. Jungkook yang pertama kali membuka mata. Hidungnya berkerut mencium aroma bekas bercinta yang menyebar dalam kamar Taehyung. Jungkook terduduk, badannya pegal dan lemas secara bersamaan, tapi pegal dan lemas yang menyenangkan. Mata dan kesadarannya berangsur jelas dan terkumpul. Dia memindahi isi kamar Taehyung yang sekarang kacau karena ulah mereka, ulahnya. Badannya lengket lagi oleh keringat, dan wajah dan lehernya semalam digigit dan dijilat Taehyung habis. Semalam mereka sempat mandi bersama pukul tiga, tapi akhirnya mereka kotor kembali karena Taehyung dan efek obatnya yang belum mereda.

Taehyung...

Apakah dia semalam terlalu kasar padanya?.

Jungkook menemukan Taehyung tertidur disampingnya, dalam posisi memunggunginya. Dari tengkuk hingga punggung penuh bekas merah keunguan, itu baru belakang tubuhnya belum bagian depannya. Jungkook teringat sesuatu, semalam dia sempat mengikat kedua tangan Taehyung dengan cukup keras, pasti lengannya memar sekarang.

Jungkook membalikan pelan badan Taehyung agar terlentang. Laki-laki itu masih terlelap saat tangan Jungkook menurunkan selimut yang tadi membungkus hingga bahunya. Menemukan dua pergelangan tangan yang terikat bersidekap di dada Taehyung yang penuh juga dengan tanda merah. Jungkook mengelus tangan itu perlahan. Wajahnya turun untuk mengamati paras Taehyung dan sisa-sisa polesannya semalam, matanya terlihat sembab, dan kelopaknya memerah.

Semalam saat melakukannya Jungkook bersumpah kalau laki-laki itu menangis, namun pada akhirnya respon tubuhnya memintanya memintanya menuntaskan permainan mereka, ditemani dengan desahan hingga suaranya menjadi pecah dan serak. Seakan terombang-ambing antara pengaruh obat dan kesadarannya yang menolak. Kenapa emosional bawah sadar Taehyung menolak?.

Dia terlihat begitu polos saat tidur begini, Jungkook merasa berdosa telah merusak tubuh itu. Jungkook bergerak melepas perlahan ikatan kencang kain sabuk obi yang melilit di lengan Taehyung, sambil mengecupi kedua mata Taehyung. Belum tuntas dia melepasnya, dahi Taehyung terlihat menyerngit, satu kecupan lain di kelopak matanya membuatnya terbangun.

Saat membuka matanya, Taehyung sontak terkejut dengan Jungkook yang mengungkungnya mendorong dada Jungkook keras untuk menjauhinya. Terduduk cepat, Taehyung merasakan pening dikepala, serta nyeri dan perih disekujur tubuhnya.

.

.

Seokjin berjalan hati-hati, sudah segar dan wangi sabun. Jam tujuh pagi, dan satu kamar di House of Cards belum keluar pemakainya. Kamar pribadi Taehyung. Seokjin khawatir meninggalkan adiknya dengan laki-laki itu, entah kenapa. Dari perangainya, Seokjin tidak terlalu suka. Padahal Taehyung adalah tipe yang pemilih untuk menemui tamu, tapi kenapa dia mau dengan Jungkook?. Harga tinggi yang dijatuhkan Jungkook juga bukan main-main, itu membuat Seokjin semakin khawatir adiknya akan direndahkan dengan embel-embel uang yang terlampau banyak dibuang laki-laki itu disini.

Sampai didepan kamar Taehyung, Seokjin mengetuk pelan, sangat pelan karena gusar. Dia tak butuh ijin untuk masuk sesungguhnya, maka dari itu dia mencoba menggeser pintu didepannya.

Terkunci.

Apa ini, dia tidak dizinkan masuk?. Taehyung tahu benar bahwa tidak boleh pintu kamar, atau ruang penjamuan terkunci digedung itu. Kemarahan dan kecemasan mengudara, firasatnya tidak mengarah pada jarum penunjuk yang aman.

"Taehyung?"

"Taehyung buka pintunya."

"Kim Taehyung! Kamar ini tidak diijinkan untuk terkunci! Aku minta kalian keluar, sekarang."

.

.

.

Taehyung memejamkan matanya erat saat sakit yang tertinggal ditubuhnya perlahan menghantamnya. Bagian bawah tubuhnya, bekas gigitan dilehernya, di kedua pergelangan tangannya, pening dikepalanya, semuanya, sakit.

"Kau baik-baik saja, Taehyung?" Jungkook bertanya hati-hati, membawakan hakama Taehyung untuk disampirkan pada tubuh berselimut itu.

"Menjauh dariku." Taehyung mundur, membuat punggungnya menabrak kepala ranjang. Kedua tangannya bergerak-gerak cepat untuk membuka ikatan di pergelangan tangannya.

"Pelan-pelan, Taehyung. Aku akan bantu kau melepaskan ini."

"..." Tangan Jungkook ditepis setelah Taehyung berhasil lepas dari ikatan, ada merah melintang di pergelangan tangannya dan sentuhan Jungkook semakin membuatnya sakit.

"Taehyung, dengarkan aku..."

"Aku tau kau telah melakukan sesuatu padaku hingga kita berakhir seperti ini, Aku ingat obat aneh yang membuatku pusing itu." Taehyung berusaha menekuk lututnya, membawanya ke dada untuk dipeluk.

"Taehyung, dengar, aku menyesal."

"Kau pikir aku semurahan itu, kau memaksaku, Jungkook." Suaranya marah dan terdengar pecah.

"Dengarkan aku.."

"Tega sekali, ini sakit.. aku tak pernah diperlakukan seperti ini sebelumnya."

"Taehyung, maafkan aku.."

"Kupikir kau berbeda." Taehyung menggeleng singkat, entah untuk apa. Dia mengeratkan hakama untuk lebih menutupi tubuhnya.

"Taehyung, sumpah.. aku menyesal, maafkan aku. tidak, aku tidak menyangka akan seperti ini. Kau harus dengarkan aku." Jungkook mencari kedua bola mata sewarna campuran emas merah Taehyung yang lari menghindari tatapannya. Taehyung tak mau menatapnya.

"Menjauh dariku. Ini hanya mimpimu, keluar, tinggalkan aku, waktu kita sudah habis."

Terdengar suara debuman pintu dan suara Seokjin yang meninggi dibalik pintu, memintanya untuk membukanya. Jungkook menjauh dari Taehyung yang sudah terbalut hakama, dia memeluk kedua kakinya sambil memalingkan wajah kemanapun yang bukan menghadap pada Jungkook. Dahinya masih menyerngit dan matanya mulai memerah, entah dia akan menangis, mnahan sakit, atau karena kepalanya yang masih pusing. Melihat itu Jungkook entah mengapa juga merasakan sakit.

"Aku tau kalian didalam, Taehyung, Jungkook-ssi, buka—"

Jungkook membuka pintu yang semakin keras digedor. Berhadapan dengan Seokjin, dirinya sudah lengkap memakai celana panjang dan sedang dalam proses mengaitkan kancing kemeja hitamnya. Seokjin memandang Jungkook sekilas, mencoba tetap mengangguk singkat sebagai bentuk sopan karena bagaimanapun Jungkook adalah pelanggan. Lalu dia beralih mendekati Taehyung. Ada yang aneh dengan adiknya.

"Aku tidak pernah mengijinkanmu mengunci pintu. Ada apa hei, hei." Kedua tangan Seokjin menangkup wajah Taehyung agar memandangnya. Seokjin kebingungan, tak mengerti arti apa dari tatapan Taehyung padanya.

Seokjin mengalihkan pandangan ke penjuru kamar yang kacau dank e arah Jungkook yang berdiri dalam diam menatap Taehyung. Seokjin berbisik pada adiknya pelan dan bernada sayang yang sedih. "Taehyung, kau..?"

.

.

.

.

Jungkook salah mengartikannya, hal pertama yang dirasakannya pada Taehyung, saat laki-laki itu bersama Hoseok atau membayangkan Taehyung jatuh kepelukan tangan lain adalah kemarahan. Dia tidak suka melihatnya, seakan tidak sepantasnya Taehyung melakukan itu walau itu bukan haknya melarang.

Jungkook kembali salah mengartikannya, setiap saat Taehyung masuk dalam pikirannya, menghiasi lamunannya dengan berbagai ekspresi senyumannya, yang dia putuskan adalah dirinya harus bertemu laki-laki itu barang sebentar, mengenyahkan bayang semu itu dengan melihat yang asli.

Jungkook selalu salah mengartikannya, saat segala rasa bersalahnya meradang ikut menyesakkannya, saat dia merasa sedih melihat Taehyung sakit karenanya, Jungkook merasa dia telah membuat sesuatu yang tidak benar, menyakiti seseorang atas dasar uang itu bukan sepantasnya, itu adalah dosa.

Jungkook belum mengetahui bahwa semua yang dia rasakan akan bermuara pada frasa lain yang telah dia pikirkannya, harusnya dia sadar lebih awal kalau itu adalah kecemburuan, kerinduan, dan seberkas perasaan lain yang telah tumbuh dan sebentar lagi membuncah.

.

.

.

.

TBC

.


Rasanya pengen nyadarin Jungkook biar berhenti jadi brengsek. Padahal aslinya Jungkook tu ga brengsek, dia cuma kebingungan. Wkwkwwk.

Fiuh, aku update lelet tapi berusaha all out dan long story. Semoga kalian suka dan membayar kekangena kalian sama kookv di chap kemarin :") Ini panjang banget guys suwerr, kaget sendiri yang ngetik tapi kalo di cut tengah2 nanti nanggung juga ehehehe. Mabok mabok deh yang baca. Udah asem belum lemon a.k.a naena nya? Astaga ternyata yang bangsat disini bukan cuma cast nya tapi authornya. LMAO. Maafin mengotori kalian.

Besok rada soft lagi yha ceritanya, lagi ada masalah minyoon soalnya sih uhuhuhu :')

Makasih banyak buat baca reader-nim yang udah baca, kasih komen juga nyemangatin aku. Make my day tho :')

Biarkan aku tau apa yang terlintas dipikiran kalian mengenai tulisan ini di kotak review. See ya!

.

.

.

[ Sapa aku disini Tweet : sugarunning95]