a BTS fic

Choose Me

.

.

I'm alright, even if I can't have you.

.

.

Cast : BTS's Member

Pair : KookV ; HopeV ; JiminV ; Slight MinYoon ; Slight NamJin

Rate : M

.

.


Pt.8 Sorry

.

.

"Maaf.." Sekali lagi terdengar dari celah bibir Jungkook, ringkas, tegas, namun terdengar cemas.

Dia mengatakan itu sambil menghadap Taehyung yang membuang muka entah dari dirinya ataupun Seokjin. Pakaian Jungkook telah terpakai sempurna walau beberapa bagian terlihat agak kusut. Jungkook menunggu balasan yang ia tau tak akan terdengar. Taehyung diam.

"Hei, Taehyung." Seokjin menghadapkan wajah Taehyung padanya, menatap iris cokelat yang memerah. Dengan situasi ini, Seokjin menerka apakah hal terburuk telah terjadi.

Taehyung masih diam walau mulai balas menatapnya. Kedua tangan adiknya terkepal diatas bahu mencengkram hakamanya agar tidak kembali meluruh dari tubuhnya.

"Jungkook-ssi, kau bisa menunggu di ruang depan. Aku akan berbicara dengan Taehyung."

Jungkook menuruti itu, walau dalam dadanya masih bergemuruh segala perasaan yang bertubrukan. Dia tak mengerti kenapa berat sekali rasanya meninggalkan Taehyung disana dalam kondisi terakhir mereka yang buruk.

Coat nya disampirkan di lengan, sepatunya berdetak tipis seiring langkah yang pelan. Jungkook berusaha memakai jam tangan pada lengan kirinya untuk kemudian menyadari satu baritan cakaran halus seperti bekas cakar kucing di sekitar lengannya. Menggulung kemeja hitamnya hingga se siku, disana makin banyak terlihat bekas cakaran yang masih memerah. Semalam tubuh Taehyung menerimanya, tapi tidak dengan beberapa titik kesadarannya. Jungkook masih ingat, diantara desah dan geraman Taehyung, laki-laki itu tidak sepenuhnya menyukai sentuhannya. Tentu tida, karena dia adalah bajingan yang telah memaksanya.

Sampai di ruang depan, Jungkook duduk disalah satu sofa merah maron dari beludru yang jarang sekali terlihat di ruangan semi tradisional lain, Jungkook membuang nafas berat. Menaikan telapak tangan ke sisi leher dan tengkuknya. Lalu Jungkook memejamkan mata. Segalanya masih terasa, gerit gigi Taehyung, atau nafas senggal Taehyung disana. Semuanya nyata tapi terasa tidak benar, dan Jungkook luar biasa menyesal.

.

.

"Hei, kau menakutiku.. Hyung ingin kau bercerita agar aku tau.. Jungkook harus membayar bagaimana."

"Hyung, apakah.. semua orang yang datang disini memang boleh seenaknya?"

"Tae, ini bukankah—"

"Apakah, Hyung juga pernah dipaksa? Apakah Hyung bisa terima setelah diperlakukan semena-mena? Kasar?"

"Tunggu, tahan, tahan, pelan-pelan.. ada apa?"

"Dia melakukannya, Hyung, dan sama sekali tidak memperdulikan aku. Aku nyaris lupa detail segalanya tapi aku masih cukup waras untuk ingat aku melakukannya karena dipaksa dan diluar kesadaran."

"Maksudmu, kalian sudah?"

"Benar, bajingan." Umpatan kebencian itu Taehyung tujukan pada Jungkook.

"..." Seokjin tau, begitupun juga Taehyung tau, hal ini akan cepat atau lambat terjadi. Walau Taehyung sudah benar-benar dewasa untuk mengerti, tapi Seokjin belum mengantisipasi untuk melihat respon yang akan seburuk ini.

Apakah seburuk itu?

Karena ia pikir, dengan segala pikiran egoisnya, Taehyung akan mau, akan menikmati ini dan melupakan semuanya dengan mudah seperti biasanya. Karena di malam-malam lain make outnya, Taehyung selalu baik-baik saja. Selalu tak apa, pikirnya.

"Aku tau Hyung ini pekerjaanku, tapi untuk pertama kali pengalamanku, kenapa dia bersikap seperti itu? aku bisa memberikannya, tapi dengan kemauanku. Aku merasa lebih rendah dari yang seharusnya, Hyung."

Seokjin menemukan mata adiknya yang semakin memerah setelah penjelasannya, ia menarik pelan hakama adiknya yang tergantung lemas agar terbuka bebas. Seokjin kemudian tau apa yang Taehyung maksud dengan seenaknya dan semena-mena. Merah memar melintang, paling parah di kedua tangan adiknya. Seprai dan tubuh yang ternoda membuktikan segalanya. Dan kemudian Taehyung diantarkannya pada dekapan rasa bersalahnya, kakak macam apa yang ikut membawa adiknya tersungkur pada lubang dosa.

"Taehyung, dengar, maafkan aku, maaf.. maaf... maafkan, Hyung."

Mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing dan perasaannya masing-masing. Taehyung ingin melupakan ini semua, mengucap segala sumpah serapah lalu berharap itu dapat mengikis segala yang menyakiti tubuh dan dasar hatinya. Kenapa harus terjadi? Kenapa harus dia dan Jungkook? Kenapa laki-laki itu tadi merasa bersalah dengannya? Kenapa ini tak hanya menyakitkan di tubuhnya? Bagaimana dia bisa melupakannya kalau semua dosa akan tercetak jelas di tubuhnya untuk beberapa hari kedepan?

Jungkook di ruang lain membawa badannya kedepan, menyangga dan membenturkan kepala pada kedua tangan yang terkepal di tumpuan pahanya. Tanpa memungkiri segala nikmat yang dilewatinya semalam, Jungkook tetap tak bisa berpikir benar, dia menganggap semua ini salah, dia ingin menyalahkan setan dalam dirinya yang seharusnya tak boleh muncul malam itu. Kenapa harus terjadi? Apa yang akan dipikirkan Taehyung tentangnya? Apakah dirinya merasa direndahkan? Bagaimana jika nanti Taehyung membencinya?

Bisakah hal ini di abaikan dan semua berjalan lagi sebagaimana mestinya?

.

.

.

Pagi ini bukan pagi yang baik untuk beberapa orang. Termasuk Jimin. Setelah melarikan diri dan tinggal di kantor, untuk melakukan apapun agar terlupa dari rasa sakit hatinya, Jimin begadang disana, walau sekertaris pribadinya jelas melarangnya. Bahkan direktur utama Park-Ayahnya keheranan mendengar informasi itu.

Jam delapan pagi, Jimin akhirnya meneguhkan diri pulang ke apartemennya. Walau dalam ruang pribadi di kantornya terdapat fasilitas seperti kamar hotel untuk mandi atau apapun, tapi Jimin akan pulang. Alih-alih untuk berganti baju, dia merasa harus bertemu Yoongi.

Nomor tiga ratus dua di muka pintu, apartemen mewah di deretan distik Gangnam. Setelah gesekan kartu dan kode yang diketahui Jimin sendiri dan Yoongi. Jimin masuk tanpa suara. Sesuatu yang ditangkap Jimin pertama adalah dentingan suara instrumental piano. Jimin punya satu disana, untuk menemani bosan Yoongi apabila prianya itu berkunjung dan dia tak ada disana. Saat terdengar nada sedih dimainkan diantara tuts bersamaan dengan apartemennya yang masih gelap gulita belum tersibak korden di jendela, Jimin menemukan dirinya tersulut marah yang tiba-tiba merebak meradang. Marah untuk alasan mengetahui Yoongi ada didalam sana. Entah menungguinya atau apa, setelah jelas berselingkuh, Yoongi masih kemari. Apakah selama ini selalu begini?

Pelan langkahnya, mendekat dan memperhatikan punggung sempit Yoongi yang sudah berpakaian rapi dengan mantel disampingnya seperti siap untuk pergi. Jimin disana diam, sampai selesai not terakhir instrument piano yang memainkan lagu I Need You , salah satu masterpiece Yoongi yang dulu pernah di mainkan pertama kali di depan Jimin.

"Baru pulang." Satu desah nafas gusar terdengar, dan Jimin yang marah seakan tuli. Hingga tubuh Yoongi berputar dari kursi tinggi di depan piano dan menampilkan wajah mungil yang muram.

"Baru pulang pagi begini? kau sering sekali ya, Jim, pergi-pergi sampai pagi kalau kuingat-ingat." Yoongi mengulang lagi saat Jimin hanya diam dan memandangnya berani.

"Hyung, disini? Sejak kapan?" Satu desah dengan nada tak stabil dengan sedikit marah lolos tanpa Jimin kendalikan.

"Kemarin sore."

"Ah, ya kemarin sore, tidak ikut ke tempat temanmu saja, hm? Daripada menungguiku sampai pagi."

"Apa maksudmu, aku mau mengambil barang-barangku." Yoongi masih menjawab dengan dingin, belum memperdulikan apa yang Jimin katakan.

Jimin melirik tas dibawah kaki kursi tinggi, mendekati Yoongi dan menatapnya tepat dimata dengan tatapan hancur. "Hah? Mau pindah sekalian ternyata."

"Park Jimin! Aku tidak peduli apa perkataanmu, dimana kau menyimpan kunci mobilku. Aku mau pergi."

"Begini caramu meninggalkanku, Hyung?" Jimin menggeleng sekilas, dia sedikit bingung pada situasi. Disini dia marah, tapi dia juga bisa merasakan kekecewaan dalam tatapan Yoongi,

"Aku merasa jijik berada disekitar sini, kau tau."

"Jadi sentuhan bos mu atau siapamu itu tidak membuatmu jijik begitu?"

"Apa maksudmu Park?"

"Sayang, aku tidak bisa dibodohi lagi, pergilah dengan laki-laki itu, taukah kau betapa sakitnya melihatmu disentuhnya."

Apa itu? Yoongi hilang kendalinya, memukulkan tangannya pada tuts piano hingga berbunyi nyaring. "Apa—kapan? Keparat! Kau, hanya kau bajingan yang pernah menyentuhku, bajingan yang juga suka pulang pagi hanya untuk bersama yang lain kalau aku tak disisimu, aku bekerja Jim, kenapa kau menuduhku!"

"Aku melihatnya, Hyung!" Jimin membela diri, Yoongi yang sudah mengumpat dan menaikan nada bicaranya tidak akan membawa pembicaraan ini menjadi baik-baik.

"Melihat apa? Dimana? Katakan mana buktimu, bahkan diriku sendiri masih sadar betul kalau aku tak pernah melakukan apapun dengan orang lain, hanya dengan kau bocah brengsek!"

"Aku ke kantormu kemarin sore, Hyung! Dan aku lihat kau dengan temanmu itu berduaan. Aku tidak tahu apa yang kau lakukan tapi kedekatan kalian sudah lebih cukup menjelaskan." Jimin semakin tak mengerti kenapa saat seharusnya dia marah, disini Yoongi juga menyalak. Apakah perkataan Yoongi benar kalau hari itu yang dilihatnya hanya salah paham karena dia tak melihat mereka benar-benar berciuman?.

"Aku bersumpah tidak pernah melakukan apapun dengan Seonwoo, tidak, apapun, tau apa kau Park?! Kalau aku berani bersumpah, bisakan kau juga bersumpah kalau kau tidak bersama orang lain juga, bisakah?!"

"..." Jimin mundur, kemarahannya surut melihat kesungguhan di mata Yoongi. Apakah benar? Begitukah? Lalu kenapa Jimin gentar saat Yoongi memintanya bersumpah juga?

"Bajingan kenapa kau diam saja?!" Yoongi maju menarik kerah Jimin, berteriak didepan muka laki-laki yang bertahun ini selalu bersamanya, mata Yoongi memerah saat sekilas melihat bibir Jimin yang terkatup. Kecewa merebak didadanya mengingat bibir yang dijanjikan Jimin hanya untuknya itu telah mengecap bibir lain.

"Aku tidak..." Jimin berusaha menenangkan situasi yang sepertinya tidak menguntungkan untuknya. Menggenggam kepalan tangan Yoongi di kerahnya berusaha menarik akal sehat mereka untuk kembali.

"Aku disana, keparat! aku lihat kau dengan siapapun itu yang aku pernah lihat di minimarket, kau kesana bukan untuk menemuiku kan, katakan? Bisakah kau bersumpah?!"

"..." Skak, hal yang di takutkan Jimin terungkap. Matanya melebar selepas Yoongi mengatakan itu, dia tergugu, membayangkan benar Yoongi melihatnya bersama Taehyung kemarin, padahal sebelumnya Jimin lah yang menghakimi Yoongi. Astaga, astaga.

"Kau tidak bisa bersumpah hah?! Aku benci padamu, hanya kau Jim untukku, kau yang selalu membuatku gila, kau yang selalu ku pikirkan saat aku menulis lagu, hanya kau! Lalu apa yang telah kau lakukan, pikirmu bagaimana aku?!" Yoongi mendorong Jimin seketika setelah melihat perubahan pada ekspresinya. Tubuh keduanya agak terguncang dan terdorong mundur. Ini benar, dan Jimin tak bisa menyangkal.

"Hyung, dengarkan aku dulu, ini salah paham.."

"Bajingan, jangan sentuh aku. Apa ini? Sekarang kau pulang pagi setelah pergi bersama jalang murahan itu, menciumnya sampai kehabisan nafas, eoh? Tidur dengannya? Melakukan apapun yang pernah kau lakukan juga padaku? Kau menjijikan!"

Jimin kehilangan ide bagaimana untuk membuat semua ini kembali benar. Tidak, Jimin menyesal, demi tuhan dia merapal dalam hati bagaimana untuk meredakan semua ini. Dia semakin kebingungan saat Yoongi mengebrak pintu kamarnya menyuruh Jimin mengambil sisa barang Yoongi yang disimpan Jimin saat laki-laki itu memberikan pembelaan tak berarti bagi Yoong. "Tidak, bukan begitu, aku tidak seperti itu..."

"Berikan kunci mobilku, aku mau pergi! Kuingatkan padamu, Park, kau harus membayar semua ini!"

.

.

.

.

Walau pagi mereka buruk, hari harus tetap berjalan.

Siang ini diruangan yang sama di salah satu ruang meeting di kantor Jungkook. Ada Jungkook sendiri, Jimin dan Hoseok. Pada satu kesempatan yang jarang, Hoseok bisa hadir dalam salah satu meeting mereka, namun hal tak mengenakan malah terjadi. Didepan beberapa komisaris dan pemegang saham di project kerja sama mereka, Jungkook beberapa kali mengacau, dan Jimin kehilangan fokusnya. Yang paling parah adalah Jungkook yang lebih dari dua kali menyanggah gagasan Hoseok dengan kurang masuk akal. Menimbulkan kernyitan di dahi Hoseok dan decakan tipis dari Jimin. Rapat selesai dan membuahkan agenda positif dari notulen walau tak terlalu berjalan mulus.

Setelah saling bersalaman, Hoseok secara pribadi menghampiri Jungkook yang masih berdiri didepan setelah menyalami beberapa anggota meeting lain.

"Jungkook-ssi, kau kelihatannya tidak senang."

"Ah maaf sepertinya aku yang membuat kesalahan."

"Kau bisa katakan padaku bagian mana dari kerjasama kita yang mengganggumu, apakah kau berpikir aku tidak professional?"

"Bukan begitu, hanya saja aku berkata sebenarnya soal apa yang aku singgung didalam, mungkin bisa dipertimbangkan."

"Konyol sekali jika kau mengatakannya tanpa alasan mendasar. Hm?"

"Maaf menginterupsi, maaf Hoseok-Hyung. Ada baiknya kita tunggu keputusan pemegang saham yang lain, apabila proyek masih berjalan lancar dengan cara lama, mungkin hal-hal lain bisa dijadikan plan b. oke? Jungkook juga?"

"Masuk akal, kalau begitu aku pamit dulu, mungkin lain kali aku akan duduk saja mempersilahkan kau memimpin rapat, Jungkook-ssi."

Hoseok pergi masih dengan senyum ramahnya menghiasi. Menunduk sekilas ke arah Jungkook dan Jimin.

"Kid, jangan mengacau oke? Apa masalahmu?" Jimin menggeram pelan, jengkelnya kembali terpancing dengan sikap Jungkook siang ini.

"Entah, aku benar-benar sedang dalam suasana hati yang tak bagus, Jim."

"Okay, kau badmood, dimengerti. Aku juga sedang dalam masalah sekarang, semua orang juga, dan kepalaku sudah nyaris pecah ditambah kau mengacau dengan mempermalukanku juga disana. Demi tuhan Kook-a, aku yang merekomendasikanmu, ikuti alurnya."

"Kau cerewet sekali, aku mencoba melakukannya, tapi aku membenci orang itu."

"Orang itu? Hoseok-Hyung?"

"Benar sekali,"

"Ada masalah pribadi apa kau dengan dia?"

"..." Jungkook diam. Mengabaikan pertanyaan Jimin.

"Oke terserah apa masalahmu, bocah. Kuharap kau tidak mengulanginya lagi, kau harus professional oke? Kalau kita kehilangan ini, kita bisa kehilangan tambang emas."

.

.

.

.

"Taehyung? Kau sakit?" Minjae menilik wajah teman seprofesinya. Taehyung sedari tadi jam masuknya hanya diam sambil lebih banyak mengambil waktunya meringkuk di balik meja kasir.

"Sedikit tidak enak badan, Minjae." Taehyung mendongak, balik menatap Minjae yang berdiri menjulang dibalik meja kasir sambil memperhatikannya.

"Kau bisa ijin dulu, kau terlihat kacau."

"Aku masih cukup kuat sampai jam lima."

"Atau tidak, wajah muram mu menakutkan, dan lihat dirimu, kau memakai sweater panjang begitu, kau demam?" Tangan panjang Minjae mencoba meraih dahi Taehyung.

Lalu ditepis Taehyung dengan halus sambil bergumam. "Mungkin, sedikit."

"Sumpah, Taehyung. Pulanglah, tiga jam lagi Wonu dan Mingyu akan datang menggantikan kita. Aku oke kau tinggal sendiri, jadi pulanglah."

"Tidak." Saat mengatakannya, Taehyung berdiri, mencoba terlihat biasa saja dan sehat di mata Minjae.

Berdecak karena melihat tingkat Taehyung, Minjae gemas sendiri. Dia memutari meja kasir, menggandeng lengan Taehyung yang dia tak tau sebenarnya ada memar disana. "Minimal kau istirahat ke loker saja, kau menakuti pelanggan."

"..." Lalu Taehyung hanya menurut sambil menggerutu saat Minjae menariknya ke ruang loker. Menekan kedua bahunya agak keras untuk duduk diatas kursi busa panjang di area loker atau space pribadi mereka.

"Sudah, duduk disini, berbaring atau apapun, kau sudah besar untuk membuat teh hangatmu sendiri kan? Jadi aku akan tinggal kau kedepan. Istirahatlah."

Taehyung berbaring di atas sofa panjang setelah melepas seragam apron berlogomya. Ya, hari ini dia tidak mengenakan kemeja, karena memaksa untuk tak mengganti sweater lengan panjangnya yang menutupi tanda-tanda merah di tubuhnya. Mata Taehyung memendar memandang lagit-langit ruangan yang serasa tinggi, rasa-rasanya kesadarannya belum benar-benar terkumpul sejak bercerita dengan kakaknya tadi pagi. Taehyung yang tersakiti, namun mata Seokjin-Hyung lah yang terlihat lebih sembab. Seakan Hyung nya tau dan pernah merasakan apa yang pernah dia rasa. Tentu saja, kakaknya dulu lah yang menderita, punya hak apa Taehyung untuk begini saja mengeluh.

Satu yang dia ingat, masih terasa membakar di tubuhnya karna tanda masai yang belum memudar masih disana. Sentuhan Jungkook semalam. Dia melupakan detailnya, tapi Taehyung masih ingat dan menyadari dibalik nafsu ada sesuatu mendamba yang terpatri di kilat mata Jungkook. Sesuatu yang kadang dia temukan di balik sepasang karamel teduh mata Hoseok saat mereka berciuman sambil beratatapan. Nyata kah?.

Taehyung menggulung lengan sweaternya, menampakan merah bekas ikatan melintang disana, mengamatinya untuk mengigatkan akal sehat Taehyung agar membenci apapun yang telah Jungkook lakukan semalam. Memejamkan matanya erat untuk menggali dan meresapi rasa sakit yang menjalar ditubuhnya, bahkan Taehyung tadi sulit untuk berjalan dengan benar walau Seokjin-Hyung sudah memijat tubuhnya. Dibalik patuh matanya yang terpejam untuk mencoba mencari kantuk. Satu kata ternyiang di telinga Taehyung.

'Maaf.'

Dari Jungkook. Taehyung tak menjawabnya karena dia kebingungan akan mengutarakan jawaban seperti apa. Antara 'Untuk apa?' atau 'Maaf setelah apa yang kau lakukan?'

Dia tidak tahu mana yang benar.

Ponselnya berdengung, dan Taehyung gagal mengejar kantuknya yang tipis. Taehyung mengeluarkannya dari saku celana. Untuk mengetahui dial call, dan disana dia mengetahui Jungkook meneleponnya.

Dengungan itu dibiarkan menghantar di meja kayu disebelah kursi busa yang Taehyung tiduri. Hingga Taehyung kehilangan hitungan untuk dengungan keberapa, bunyi blink singkat menyusul mengudara. Tanda satu pesan masuk, dan Taehyung masih membelakangi meja itu mencoba tak peduli. Bersamaan dengan itu, entah kenapa matanya terasa kembali memerah dan berair, disusul pergelangan tangannya semakin perih saat memikirkan laki-laki itu.

Pada blink ke empat Taehyung menyerah, meraih ponselnya untuk membuka satu persatu pesan dari pengirim sang Jeon. Taehyung mengerjapkan mata cepat membaca baik-baik apa yang tertulis disana. Isinya adalah Jungkook mengatakan Taehyung untuk mengangkat teleponnya, memintanya untuk memberikan informasi sekarang Taehyung ada dimana, dan dia ingin menemuinya. Taehyung tertawa tanpa suara. Hak apa yang Jungkook punya untuk menanyakan itu? Menemuinya? Bukankah kemarin sebelum malam berkabut nafsu mereka dia jelas sudah mengatakan kalau dirinya ini hanya mimpi. Jungkook semestinya melupakannya. Semua mimpinya.

Dengung lain saat Taehyung berbaring sambil menutupi wajahnya dengan lengan. Ponsel belum lepas dari tangannya. Menimbang dari ya atau tidak. Ada jeda sekian detik untuk akhirnya Taehyung mengangkatnya, dengan tujuan mencoba mendengar apapun yang akan Jungkook katakan.

Pip.

"Hei, aku tau kau disana." Suara Jungkook selalu terasa tegas dan berat, mengalun bebas di gendang telinga Taehyung.

"..." dan disini Taehyung masih enggan menjawab.

Jungkook memulai lagi, menarik perhatian Taehyung untuk menjawab tiap untaian katanya. "Aku tidak tahu harus memulai ini dari mana, tapi sungguh.."

"..."

"Aku, butuh bertemu kau."

"..."

"Taehyung?"

"..."

"Hei, katakan sesuatu. Aku kehabisan ide bagaimana aku bisa menebus semuanya. Jadi bicaralah, dimana kau? akan ku buktikan kalau aku sungguh-sungguh ingin meminta maaf." Tanpa gentar Jungkook masih mencoba.

"..."

"Taehyung? Astaga... bagaimana bisa kau membuat ku begini.."

"..." Taehyung masih diam, hingga;

"Maaf, Aku menyakitimu.." Terucap dari belah bibir Jungkook dengan nada bergetar tipis.

Sebentar membuka dan mengatupkan bibirnya, Taehyung akhirnya mencari suaranya.

"...Tidak."

"Apa?"

"Tidak perlu kau pikirkan, kau sudah bayar kan?" Tawa hambar dari Taehyung hadir dikoneksi hubungan telepon mereka. "Sudahlah, Jungkook."

"Bagaimana mungkin aku tenang kalau saat aku akan pergi, kau sama sekali tak mau melihatku."

"Ah, itu salahku. Aku tak seharusnya melakukan itu pada pelanggan." Aku Taehyung, Kekehan lain terdengar menyusul, membuat dasar hati Jungkook ragu dengan kalimat pembelaan itu.

"Jangan bicara seperti itu, ini tentang aku yang memperlakukanmu buruk..."

"Kau aneh Jungkook, tujuanmu datang ke tempat kami memang untuk itu bukan? Sudahlah. Kita sama-sama untung, oke? Jadi sudah."

"Katakan, apa yang kau pikirkan sekarang."

"Kita harus sudahi telpon ini, aku ngantuk mau tidur." Kilah lain dari Taehyung dan Jungkook tau itu.

"Serius Taehyung,"

"Aku serius kalau ngantuk."

"Ini soal aku dan kau."

"Ada apa antara aku dan kau? Rasanya aneh menyandingkannya. Jungkook, kita ini tidak kenal dekat. Kita cuma.. yah kau tau, langit dan bumi, antara mimpi dan imajinasi, anggap aku tak ada dan semua selesai. Kau tak perlu merasa bersalah."

"Aku tidak mau menganggap semua ini seperti itu,"

"Apa maumu? Katakan, ingin sesi kedua, Hm? Ronde tambahan? Kau senang melihat orang lain tak berdaya dengan kau berbuat seenaknya diatasnya? Tolong datang lagi lain waktu, tubuhku sudah hancur karena kau yang sewenang-wenang me—"

"Kau memikirkannya..." Satu desah mengandung rasa bersalah keluar dari celah bibir Jungkook. Menyadari sedikit banyak pasti itu lah yang ada dipikiran Taehyung.

"Apa?"

"Kau tadi bersikap seolah tak peduli, tapi detik barusan kau mengungkapkan kalau kau juga memikirkannya. Jadi.. maaf oke? Kau dimana?"

"..."

"Taehyung."

"Hentikan, tuan muda." Ujung pita suara Taehyung bergetar lebih rendah demi kembali menjawab dengan suara lebih dalam.

"Kenapa? Aku sungguh-sungguh ingin bertemu dan minta maaf, sekarang atau sekarang. Katakan kau ada dimana?" Dan Jungkook tak menyerah untuk mendesak.

"Kau siapa, Jungkook? laki-laki yang secara harfiah baru kemarin sore bertemu denganku, kenal aku? Kenapa kau selalu mencari sesuatu yang salah dalam obrolan kita?" Taehyung menjawab, agak gamang, dia menerka untuk apa omong kosong ini terus belanjut.

"Maka itu aku ingin memperbaiki semuanya, aku tidak ingin mengenalmu dengan cara seperti ini, Taehyung"

"Cara seperti apa? Kau ingat apa perkataanku saat masih sober kemarin? Aku ini mimpi, bunga tidurmu, oke?, Taehyung yang kemarin malam atau malam lain yang bersamamu tidak pernah benar-benar ada. Aku hanya ingin kau melupakan semuanya, sudah, hentikan. Dan aku akan melupakannya juga."

"Karena itu, ini berdasarkan karena itu semua. Aku tidak ingin kau berfikir seperti itu. Aku ingin mengenalmu dengan benar, tidak, kau bukan mimpi, aku bisa merasakannya, aku tidak mau melupakannya aku akan membuat semuanya menjadi benar kembali."

"Bagian mana yang salah Jungkook?"

"Bagian kau yang saat ini membenciku." Jungkook mengungkapkan risau hatinya dengan ringkas.

Ada hening sekian detik diantara mereka, untuk kemudian Taehyung menarik nafas berat dan menjawab. "Astaga, ada hak apa aku membenci semua perlakuan mu? Aku menerimanya, itu pekerjaanku, kau puas? Oke cukup, habis perkara."

"Tidak begini, Taehyung. Aku tidak mau ini tergantung di batin dan pikiranmu. Dan aku tau, sesuatu yang buruk ada disana meski kau menyangkalnya. Dengar, aku ingin bertemu denganmu."

"Jeon Jungkook, lupakan, demi tuhan." Nada milik Taehyung tertahan saat Jungkook masih mencoba.

"Aku mau memperbaiki semuanya, aku harus, atau aku akan gila karena mu."

"Kalau begitu silahkan jadi gila."

"Tae—"

Panggilan terputus sepihak, yang adalah Taehyung pelakunya. Kepalanya terasa semakin pening, belum lagi badannya yang belum mereda dari perih. Sekarang apa lagi? Sesuatu dalam dirinya, didasar hatinya, di satu sudut perasaannya meneriakan kebebasan. Mendesaknya mengatakan kejujuran saat apa yang barusan Taehyung lakukan hanyalah mendorong Jungkook menjauh. Apa yang sebenarnya dia inginkan? Kenapa Taehyung sama sekali tak merasa baik-baik saja dengan penyangkalannya barusan?

Taehyung ingin berteriak, memaki Jungkook, dengan apapun yang menggambarkan kekecewaan atas dosa apa yang mereka lakukan semalam. Taehyung ingin merengek, harusnya bukan seperti itu cara mereka, Taehyung ingin meyakinkan Jungkook bahwa dia tidak suka, tidak ingin Jungkook memandang Taehyung lebih rendah dari seharusnya. Kemana sebenarnya gusarnya ini bertajuk?. Kenapa separuh akal sehatnya berkata bahwa dia butuh Jungkook menjelaskan semua tujuannya, semua alasannya, namun separuh rasionalitasnya menyuruhnya abai demi menyandang fungsi kotor dari pekerjaannya.

Semuanya berputar di kepala, kacau dan kusut. Tidak menemukan ujungnya.

Tidak kalah kusutnya dengan Jungkook di belahan lain Seoul. Duduk dalam area pribadi kantornya dengan campur aduk emosi dalam batinnya. Menggenggam ponsel pintarnya kelewat kencang seakan tak peduli kalau benda mati persegi panjang itu akan retak dan hancur berhamburan. Bagaimana? Bagaimana? Dan Bagaimana?. Jungkook orang yang cukup jenius untuk dijadikan direktur di kantor kebanggan Jeon. Tapi segala keangkuhan, harga diri, egoisme, dan sudut hatinya yang telah kebas sudah lama lupa bagaimana menyampaikan apa maksud dirinya sebenarnya. Seandainya, Taehyung cenayang, seandainya Jungkook bisa lebih jujur dan lugas, dia tidak akan kesulitan seperti ini.

Barangkali dua anak manusia itu sama-sama keras kepala. Sama-sama tak mengerti bagaimana harus menyampaikan apa yang dirasa dalam dasar hati. Apabila Jungkook berani menyebut demi tuhan dia merasa bersalah dan bersungguh-sungguh ingin meminta maaf, harusnya hal tersebut cukup menjadi bukti atas hati yang masih memiliki perasaan. Atas segala kebingungan Jungkook untuk mengutarakannya. Apabila mereka lebih jujur, melebur dan sama sama menghirup rasionalitas berbumbu romansa yang sama, ini akan lebih mudah juga bagi Taehyung untuk mengerti.

Apa yang ingin diungkapkan Jungkook? Apa lagi?

Apa yang sebenarnya dipertanyakan Taehyung? Apa saja?

.

.

.

.

.

Ketika pagi dan siang telah menjadi kacau untuk Taehyung. Taehyung berharap sisa harinya masih bisa terselamatkan.

Sepulang dari minimarket setelah diberi kelonggaran jam kerja, Taehyung diantar sampai halte bus terdekat dengan rentetan omelan Minjae. Taehyung hanya meringis, mengucapkan terima kasih dengan nada yang masih diusahakan jenaka. Karena kalau bukan karena tumpangan sepeda motor Minjae, mungkin pinggang dan kedua kaki Taehyung akan semakin memburuk sakitnya.

Taehyung memutuskan akan langsung ke tempat kakaknya tanpa terlebih dulu mampir di flat mereka, untuk mengadukan badannya yang masih agak terasa sakit dibeberapa sisi. Segila apakah ia dan Jungkook lakukan hingga sekujur tubuhnya terasa habis-habisan?. Selain semuanya memar dan memerah, tadi pagi sekilas dirinya juga melihat tubuh telanjang Jungkook menanggung dampak yang sama. Beberapa cakaran dan bekas gerit gigitan, apakah itu ulahnya? Astaga, mengandung setan apa obat laknat yang diberikan Jungkook padanya hingga mereka bisa bereaksi begini kerasukan.

Bus nya datang, Taehyung masih mencoba berjalan se macho mungkin membawa tubuh kurusnya ke dalam badan Bus. Bersyukur ada kursi yang kosong sehingga dia bisa duduk dengan tenang. Taehyung memejamkan mata sepanjang perjalanan untuk memusatkan dimana saja titik sakit yang masih dirasanya agar ia mudah mengatakan saat di pijat oleh Seokjin-Hyung. Meresapi ini sama saja mengingat-ngingat Jungkook, Jungkook kemarin malam dan Jungkook yang gusar tadi siang. Taehyung menggelengkan kepala singkat, ponsel yang tadi terkoneksi dengan Jungkook dia matikan setelah perdebatan mereka. Sudahlah Taehyung, batinnya.

.

.

Sampai di halte besar di pusat kota distrik Gangnam. Taehyung turun dengan sukses karena badannya berangsur pulih -walau sedikit- setelah duduk tenang menikmati senja di sepanjang perjalan pendeknya. Melihat jam tangan yang melingkar di lengan, denting jarumnya yaris menunjukan jam setengah enam sore. Dan Taehyung membawa dirinya ke salah satu gang besar diantara selipan gedung-gedung tinggi. Menuju House Of Cards tanpa suara sambil menaikan kerah turtle necknya. Tanpa menyadari ada mobil sedan hitam yang mengikutinya.

.

.

Yoongi dan mata kucingnya memicing saat di lampu merah dirinya menangkap keberadaan sosok yang baru saja masuk dalam list orang yang sangat dibencinya. Si laki-laki minimarket keparat –yang ia berusaha ingat-ingat namanya- yang berciuman dengan Jimin. Selingkuhan murahan itu selain hanya seorang penjaga toko ternyata memang terlihat memiliki kehidupan sederhana. Turun dari angkutan umum; bus, dengan setelan baju kasual yang sesungguhnya sangat tidak menarik perhatian. Membayangkan laki-laki seperti itu menyandingi nya dan merebut perhatian Jimin. Yang muncul adalah pikiran klasik dari jalang yang hanya bermodal tampang lumayan menyempatkan diri menempel pada pangeran Park yang memiliki tanggungan harta milyaran won demi keuntungan finansialnya sendiri. Menggelikan.

Dendam yang masih baru merebak dalam dada nya membuat Yoongi memindah perseneling dan memutar stir untuk mengikuti laki-laki itu. Menyetir mobil pelan-pelan dengan separuh akal sehat Yoongi tertawa menertawakan such a waste time nya mengikuti laki-laki yang tak jelas asal-usulnya.

Atau tidak.

Yoongi dibuat menyerngit sekali lagi saat mengetahui tujuan dari si penjaga minimarket. Siapa namanya... Kim siapa Yoongi melupakan perkenalan perdana mereka. Dan disamping otaknya yang berputar mengingat seberkas nama, Yoongi menerka tempat macam apa yang telah ia masuki itu. Gedungnya sungguh indah, terkesan mewah dan hanya beberapa orang yang dapat menyentuhnya mengingat letaknya di lorong gang besar paling ujung.

Tunggu dulu, apakah ini tempat judi atau semacamnya? Mengingat kalau memang ini adalah restoran normal dan baik-baik, pastilah pada senja segini tempat ini sudah buka untuk meraup konsumen. Apakah ini tempat yang buka saat malam? Dan semua yang menawarkan keruhnya kegiatan malam seperti bar?. Yoongi mendecih samar, semua kepingan informasi itu berkumpul jadi satu. Menghasilkan sekutu yang bergabung untuk memprovokasi sisi keji yang tersembungi dalam diri Yoongi. Dia masih ingat akan apa yang telah laki-laki itu perbuat dengan Jimin-nya hingga memporak-porakdakan hatinya. Yoongi memutar balik mobil sedan hitamnya, merapal dalam hati ia harus melakukan minimalnya satu perhitungan untuknya.

.

.

.

.

"Sakit?"

"Sedikit, tapi aku yakin kau akan membuat ini membaik." Taehyung memejamkan mata saat Seokjin memijatnya dalam posisi tengkurap. Punggung dan pinggangnya benar-benar bermasalah.

"Oke, tahan sebentar, ya?" Cairan lengket dengan wangi aroma terapi ikut membaur dalam pijatan pelan namun tepat dari Seojin di kulit tubuhnya untuk titik yang terakhir.

"Mm, Hm."

"Hari ini kau boleh istirahat saja, Taehyung"

"Tidak perlu begitu, aku masih bisa membantu di dapur seperti biasa kok, Hyung."

"Taehyung, please?"

"Aku itu laki-laki Hyung, memar begini bukan masalah besar. Kau tenang saja."

Seokjin membereskan semuanya saat selesai. Memberikan sweatshirt adiknya untuk dikenakan kembali dan membantunya untuk duduk. "Bukan itu yang aku khawatirkan, ini soal dirimu, dan mentalmu. Aku tau bagaimana rasanya.."

"Jangan membebankan ini semua pada pikiran dan rasa bersalahmu, Hyung. Detik dimana aku memutuskan untuk membantu meluruskan nasib kita disini, saat itulah aku sepakat untuk menerima segala resikonya, aku oke, Hyung." Selesai mengenakan pakaiannya kembali. Taehyung menatap Seokjin dimata, berusaha membuang kekhawatiran dengan sorot yakinnya.

"Kalau saja sejak awal..."

"Hyung."

"Aku pun tak tau kapan kita bisa melepaskan jeratan dari sini, dengan semua jaminan dan janji. Kakak macam apa aku yang tak bisa menjagamu, dan malah mengajakmu berkubang di sarang mimpi buruk. Aku bahkan tak bisa melihat akhirnya, Tae. Aku—" Seokjin menggeleng ringan, tak sampai menyelesaikan kalimatnya karena disana Taehyung memotong sambil memegang kedua bahunya erat.

"Hyung, aku disini, dan ini bukan hanya kewajibanmu. Kita saling menjaga, oke? Aku akan membantumu. Tak usah khawatirkan apapun, semua akan berakhir.. baik-baik saja."

"Andai saja, Appa dan Eomma tidak meninggalkan kita dengan tanggungan seperti ini."

"..."

"Maaf, aku membahas ini... Tapi tolong kau turuti aku. Kau bisa bantu dengan teh seperti biasa, lalu langsung kembali lah untuk istirahat, tidak ada bantahan."

"Paling tidak di dapur hingga jam sembilan."

"Jam delapan, dan kau kembalilah ke kamar. Sudah ada orang yang merapikan."

Nada bicara Seokjin yang terdengar berbeda membuat Taehyung tak dapat membantah. "Oke,"

"Sepakat. Dan aku sayang sekali padamu." Lalu satu elusan singkat mampir di surai halus cokelat keemasan Taehyung dari Seokjin.

.

.

.

.

Seperti kesepakatan, bersamaan dengan berangsur membaik tubuh dan suasa hatinya. Jam delapan Taehyung undur diri dari dapur setelah menemukan celoteh riang dan tawa terlukis di bibirnya kembali. Melakukan sesuatu yang Taehyung suka tak pernah gagal untuk mengembalikan mood nya ke jalan yang menyenangkan. Meracik sesuai takaran standart atau beberapa list pesanan khusus, Taehyung tenggelam dalam daun dan rempah kering yang menguarkan bau tenang merasuk ke rongga dadanya. Ditambah dengan semua pelayan yang memiliki selera humor tinggi dan tak membeda-bedakan pangkat atau umur disini, Taehyung kembali merasa baikan untuk beberapa alasan.

Masuk ke kamar pribadinya sambil masih mengantongi gelitik jenaka dari lelucon terakhir yang dilemparkan Seokjin-Hyung di dapur, Taehyung terkekeh tipis dengan tampang bodoh. Karena pasalnya lelucon kakaknya itu selalu garing dan aneh, tapi justru disanalah bagian lucunya, dan sekutunya yang ada di dapur selalu sekongkol untuk balik meledek leluconnya. Entah koki tua atau muda, pelayan laki-laki atau wanita, dan laki-laki penghibur lainnya, paling tidak mereka memang memiliki latar belakang orang yang berhati baik. Dan setidaknya hal itulah yang membuat Taehyung lebih betah nongkrong di dapur daripada di pegang-pegang dan mabuk tak jelas di ruang penjamuan.

Semuanya kembali rapi, bahkan warna seprainya pun sama walau sudah diganti dengan putih bersih lainnya. Kamar yang diberikan pribadi untuk Taehyung agak temaram dalam kondisi normal, dan itu selalu berhasil membuat Taehyung agak mengantuk apabila sendiri disini tak ada kerjaan.

Taehyung merenggangkan tubuhnya sekilas. Mendudukan diri, lalu berbaring dengan kaki yang masih menggantung ke lantai. Taehyung memijat tengkuknya samar, membawa tangannya bergesekan dengan lembar seprai dan kulitnya sendiri. Kakaknya memang juranya, pantas saja Namjoon-Hyung bilang badannya jadi rileks dan mengantuk setelah pijatannya, ternyata ini memang benar kenyataannya. Semuanya kembali membaik, mendapatkan tubuhnya tanpa perih atau pegal, namun berdampak dengan badan yang seperti diistirahatkan paksa karena saraf yang dipijat Seokjin dengan ajaibnya merespon demikian. Tadi Taehyung sempat mlipir di dapur setelah mencicipi makan malam spesial penuh gizi dari paman koki (karena dia mengaku sakit), Taehyung juga menyempatkan diri membuat teh jahenya sendiri, dan itu berdampak baik juga pada tubuhnya.

Oke, jadi kepentingannya saat ini adalah mengejar kantuk yang sudah mengetuk kedua kelopak matanya. Taehyung mengangkat tubuhnya ringkas untuk menyeret ke posisi yang benar. Sekilas matanya menatap cermin besar yang selalu berdiri disana, dihadapan ranjangnya. Memamerkan refleksi dirinya yang sangat sederhanya. Kim Taehyung yang biasanya. Dengan kaos hitam, sweatpants abu, dan rambut halus yang turun mencuat masih agak berantakan. Taehyung tersenyum pada perpotongan bayangan dirinya di cermin. Kemudian ia memposisikan diri, tidur dengan selimut yang ditarik asal diatas tubuhnya. Bergelung dengan bantal empuk menyambut jam istirahatnya.

.

.

.

"Dia sakit.. Mmm.. bagaimana aku harus mengatakannya.."

"Sakit? Parah kah? Seharian ini ponselnya sepertinya mati."

"Mengenai itu, mungkin Taehyung agak kecapekan, bukan masalah besar."

"Jadi kau membiarkan dia istirahat?"

"Iya, bisa dibilang begitu, Taehyung sedang kuijinkan untuk tidur."

Jeda sejenak setelah gumaman 'Aku mengerti'. "Apakah ayah ada disini?"

"Tuan Jung sudah kemari siang tadi, jadi aku rasa beliau tidak akan datang lagi untuk malam."

Ada gumaman lagi bernada lega disana. "Oke, jadi boleh aku melihatnya?"

"... maaf, tapi, aku khawatir Taehyung sedang tertidur."

"Aku janji tidak akan mengacaukan waktu istirahatnya, aku hanya ingin lihat dia."

"..."

"Kenapa? Untuk mengabulkan permintaan sederhanaku saja kau kesulitan?"

"Bukan, maaf Hoseok-ssi, hanya saja aku sedang berfikir."

"Dikamarnya kan? Aku akan kesana, aku berjanji tidak akan membuat dia tambah capek."

.

.

.

.

Dalam alam bawah sadarnya, Taehyung telah mengarungi mimpi. Sebelum terlelap Taehyung sempat sedikit mensyukuri jam tidur awal yang sangat langka di kehidupannya saat ini. Berpikir apakah besok dia akan bangun pagi lebih awal atau akan tetap kesiangan? Itu urusan belakangan. Karena saat ini dalam buai mimpinya, Taehyung merasa dirinya benar-benar ringan.

Sebentang padang rumput di kungkung suasana pagi ditambah semilir angin, cerah. Taehyung sempat menoleh ke kanan, ada sebuah rumah apik warna putih tapi ringkas. Lalu menoleh ke kiri, ada bentangan danau biru yang sedikit beriak. Taehyung memilih membawa dirinya ke danau biru. Ada beberapa bunga popies tumbuh disana, aneh. Dan hal aneh selalu terjadi dalam mimpi.

Ketika Taehyung menceburkan diri, menenggelamkan baru kedua kakinya. Sebentang danau itu berubah menjadi bernoda, hitam dibawah kakinya yang kemudian menyebar, hingga membuat Taehyung kebingungan karena tak lagi menemukan pantulan dirinya di bening air karena semuanya menjadi sangat keruh. Taehyung mundur, apakah ini ulahnya? Dia yang mengotorinya?

Taehyung mundur, menyerngit dan memukul balik riak air dibawah kakinya. Kau kenapa danau? Dan danau itu seakan marah padanya, dasarnya berubah menjadi lebih dalam dari saat kakinya berpijak. Taehyung limbung, nyaris tenggelam, tangannya berkecipak bergerak bebas dalam danau keruh yang masih mencoba menenggelamkannya. Taehyung mencari jangkauan untuk lepas, dan disana dia menemukan pegangangannya. Seseorang menariknya, memeluk tubuhnya hingga ke tepi danau. Taehyung membuka kedua matanya yang sebelumnya terpejam ketakutan. Berniat menatap pahlawan walau ini hanya mimpinya. Dan Taehyung terkejut, bagaimana bisa laki-laki ini hadir dalam mimpinya.

Jeon Jungkook dengan tangkas menarik Taehyung untuk berdiri teguh, menyeret lengannya lembut tapi menuntut. Menyelamatkan dari kubangan hitam yang nyaris meluap dari bibir danau. Gigi Taehyung gemeretuk saat menatap paras tampan Jungkook yang berhasil membawanya masuk pada rumah putih dan apik yang dilihatnya tadi. Jungkook dihadapannya, demi tuhan, walau ini hanya mimpi tapi laki-laki ini terlihat seperti nyata adanya. Gurat di wajah tampan pahlawannya tak tertebak saat laki-laki itu memangkas jarak bibir mereka. Tubuh basah tak menghalangi untuk merapatkan diri, dan disana Jungkook membisikan sesuatu tepat didepan bibir ranumnya;

'Ikut aku, aku tak akan membiarkanmu tenggelam di kubangan kotor itu.'

Lalu mereka berciuman.

.

.

.

Diantara batas kewarasan, imajinasi, rasionalitas, kenyataan, kesadaran dan beberapa sudut gagasan membingungkan lainnya, Taehyung terbuai. Dengan kedua belah bibir yang menjajahnya hingga tak peduli memberikan dampak pada bibir penuh basah saliva atau sesak nafasnya. Taehyung menikmati sesi panjang ciuman yang dirinya sendiri tuntun ke arah yang lebih menggairahkan. Mengalungkan kedua tangannya erat, satu pada bahu kokoh dan lainnya berpegangan posesif pada tengkuk lawannya. Memori dosa nikmat kemarin malam terputar kembali, bagaimana Jungkook berulang kali menciumnya dengan terlalu berani. Saat Taehyung mulai kepayahan, satu hembusan desah nafas keluar diantara kecipak basah ciuman. Dan Taehyung mendesahkan nama orang dalam mimpinya, nama orang yang tidak masuk akal malah ia rindukan sentuhannya. Karena dosa semalam terbukti telah jadi candu baginya mulai hari ini.

"Nghh.. Jungkook—"

Ciuman mereka berhenti saat desahan milik Taehyung itu keluar dari selipan lidah dan bibir yang bertaut. Taehyung sudah kembali ke kenyataan semesta dan diatas ranjangnya tepat setelah dia merasakan basah dibibirnya. Dan Taehyung terlambat menyadarinya. Karena saat dia membuka mata untuk merengek. Pemandangan rumah putih itu hilang, Jungkook tak ada disana, dan yang mengungkung diantara dekap tangannya bukan pahlawan dalam mimpinya.

Jung Hoseok memandangnya dengan lipatan kernyitan di dahi, memandangnya dengan mata memicing tidak suka.

"Jungkook?"

Dan Taehyung menyesali kebodohannya, serta mengutuk Jung Hoseok yang sudah hadir menciumnya tanpa permisi saat dirinya tertidur.

"Kau memikirkan siapa, Taehyung-ah?" Taehyung menatapnya balik dengan nanar dan kehilangan suara, saat tangan Hoseok turun ke lehernya mencengkram dan agak menarik bandul kalung sewarna merah darah yang entah sejak kapan telah digantungkan di lehernya. Menyakiti tengkuk yang kulitnya tergores karena sulur perak kalung yang dia kenakan.

Menatap Jung Hoseok yang kecewa dan terbakar emosi di atasnya adalah hal tek terduga dalam benaknya.

.

.

.

.

.

.

TBC.


.

Kinda feels not good nulis ini. Takut kalian marahin hehehehehe. Karena... yah karena masalahnya makin rumit dan nyaris klimaks ke deretan kisah yang lebih intense. Delapan itu lucky number ku, jadi aku tumpahin aja disini perasaan Jungkook dan Taehyung yang udah makin berkembang (walau mereka disini bingung dan kesulitan untuk menyadarinya).

Berita penting lainnya (buat siapa?) (buat readers yang masih sudi nungguin fic kawakan hasil ketikan aing), aku untuk beberapa bulan kedepan mungkin.. bakal amat slow update, masalah real life, tho. Pekerjaan baruku yang barusan aku dapet setelah lepas dari euphoria wisuda. Dan aku harus mengikuti wamil (aku cewek kok ini persyaratan wajib aja dari BUMN) dan pendidikan kilat (yang mungkin ditempatkan) di luar jawa dengan alasan yang sangat penting. Gadjet ku bakal disita duh mama T_T, paling pegang hape sama leptop saat weekend aja, dan itupun waktu ngetik pasti bakal terkikis banyak (mengingat aku kalo ngetik lelet dan panjang, bakal susah kelar. Haft). Jadi untuk kedepan tolong antisipasi kehadiran aku yang makin jarang-jarang. Tapi aku ga bakal ninggalin kalian dan cerita ber- chapter di akun ini kok. Aku pastikan lanjut.

Akhir kata makasih udah baca sampe sini, udah review dengan kata-kata yang bikin membakar semangat dan moodbooster banget. TTTATTTT. Uhu. Semoga chapter ini bisa membalas perasaan kalian yang masih mau hadir sama aku disini.

Love sign.

.

.

.

[ Sapa aku disini Tweet : sugarunning95]