Gaes jangan lupa minum dulu, ini bakal panjang

.


a BTS fic

Choose Me

.

.

I'm alright, even if I can't have you.

.

.

Cast : BTS's Member

Pair : KookV ; HopeV ; JiminV ; Slight MinYoon ; Slight NamJin

Rate : M

.

.


Pt.9 Complicated

.

.

.

"Kenapa diam?"

Hoseok kembali mempertanyakan diantara diamnya Taehyung. Sekelebat bayangan tak menyenangkan berusaha ia tepis. Hoseok ingin dan harus tahu bagaimana jawabnya, maka itu dia kembali bertanya.

"Kau memikirkan siapa?"

Taehyung dibawah kungkungan Hoseok memberikan pergerakan. Mengerjap lambat dengan raut setengah linglung khas bangun tidur. Ia menggenggam kedua tangan Hoseok yang bertenger di atas sulur kalung yang melingkari lehernya. Menelan ludah kelu.

Disana Taehyung masih kehilangan suaranya, dan pikirnya Hoseok akan tega mencekiknya. Bodoh.

Satu-satunya penyebab yang membuat Taehyung terlalu takut mengeluarkan jawaban; adalah jika ia mengatakan sesuatu yang salah.

Dua obsidian beradu. Sepasang milik Taehyung bergerak cepat tidak menentu, milik Hoseok agaknya tersendu.

Diantara dua tangan yang saling membagi kehangatan dibawah tensi yang menyesakkan, kemudian Hoseok akhirnya melunak. Dikendurkan jemarinya yang telah menyakiti leher Taehyung yang mulai memerah beradu dengan sulur perak kalung pemberiannya.

Hoseok membaca, dan selalu berusaha mengerti.

Kedua bola mata cokelat kemerahan itu gentar dengan pertanyaannya, Taehyung tidak bisa menjawab kegundahan Hoseok, dan Hoseok mengerti.

Berkali-kali Hoseok melihat sorot serupa dari dua bola mata kesukaannya. Di tiap malam dirinya mempertanyakan perasaan Taehyung padanya, di tiap malam dirinya mengajak Taehyung untuk pergi, di tiap malam mereka nyaris bersetubuh, Hoseok selalu melihat kilat keraguan dan kegentaran itu.

Dan Hoseok selalu lemah akan Taehyung.

Terlalu.

Satu helaan nafas menyerah. Hoseok adalah laki-laki dewasa yang berpikiran berdasar rasionalitas, maka itu dia menyudahi tensi berat ini.

"Maaf, sakitkah?"

Taehyung menyadari, kala Hoseok berusaha mengerti akan keraguan dirinya, segala penolakannya, segala keras kepalanya, segala ketakutannya. Maka Taehyung akan merasa luar biasa bersalah, ketika Hoseok selalu mampu memberikan segalanya, sedangkan Taehyung hanya terus mengecewakannya.

"Mmm.." Gelengan teramat samar dari si surai karamel.

Jung Hoseok yang sehangat ini, tidak akan pernah pantas untuk seorang Kim Taehyung. Itulah yang sejak dulu terpatri dan tergurat dalam batin Taehyung. Dan semua telah kacau.

"Hoseok-Hyung.." Taehyung terdengar serak dan setengah merengek.

"Kenapa kau sulit sekali untuk dibuat menjawab dengan benar, hm?"

"Uhm.. ini tidak sakit, sungguh." Taehyung akhirnya menjawab vokal satu pertanyaan terakhir ketika dirasa Hoseok tidak menyadari gelengannya.

Dua namja itu kemudian bergerak dari posisi terbaring.

Mereka duduk bersisian, danTaehyung tanpa alasan yang ia tak ketahui segera menggengam telapak tangan Hoseok yang mulai menghindari tatapannya.

"Hoseok-Hyung, sejak kapan disini? Tadi aku tertidur, aku tidak tahu kalau Hyung datang." Taehyung menyesali nada bicaranya yang terdengar sedikit tercekat.

"Baru saja, maaf mengganggu jam istirahatmu." Hoseok menjawab sambil menggulirkan pandangannya ke telapak yang digenggam Taehyung.

"Hyung.. marah?"

"Ani-ya, haha, aku hanya selalu kesulitan bila berhadapan denganmu."

"Aku melakukannya lagi."

"Hm?"

"Mengecewakanmu."

"Ah.." Hoseok tersenyum getir.

"Maaf.."

"Kalau kau tak ingin mengecewakanku lagi, mungkin menjawab pertanyaanku dengan benar bisa jadi ide yang bagus." Hoseok melihat raut menyesal Taehyung yang begitu tulus. Menggemaskan. Begitu mudahnya Taehyung kembali menghangatkan hatinya.

"..."

"Sudahlah, lupakan yang barusan. Aku tak memiliki hak mempertanyakan siapa yang kau pikirkan.. dan juga.." Hoseok mengantung kalimatnya lalu menarik telapak tangan Taehyung untuk membuat tubuh mereka lebih rapat.

Dahi mereka bersentuhan, Hoseok kembali menatap cokelat kemerahan kesukannya dan Taehyung memberikan satu senyuman tak enak hati.

"...aku tidak berhak memaksakan siapa yang ada disini." Jemari Hoseok yang bebas menunjuk dada Taehyung, tepat diantara degup jantungnya, definisi untuk hati Taehyung, definisi untuk segala perasaan yang bermuara.

"Cepat atau lambat kau akan jatuh cinta, dan aku tetap berharap itu adalah aku, yang memenuhi pikiran dan hatimu, yang membuatmu pusing karena terlalu memikirkanku, yang mungkin.. bisa sampai hadir dalam tiap mimpi dan igauan mu." Hoseok mengelus kepala Taehyung sayang.

Dan Hoseok masih berangan.

"Kalau begitu, istirahatlah," Hoseok berujar sambil bangkit dari sana, merapikan jas kasualnya yang sedikit kusut kemudian melempar senyuman ringkas terakhir.

"Sudah mau pergi?" Taehyung mengerjap cepat melihat pergerakan Hoseok.

"Kau demam, badanmu hangat, makan atau minumlah sesuatu lalu tidurlah."

"Hyung, datanglah lagi, jika.." Ragu, aku Taehyung.

"Jika?"

"Jika ingin mempertanyakan sesuatu, besok.. atau kapan, aku akan mencoba menjelaskan."

"Aku tetap akan datang lagi, kau tahu."

"Selamat malam, Hyung." Taehyung kembali memberikan senyumannya, walau hatinya masih merasa tidak enak karena peristiwa canggung sebelumnya.

"Ppakailah kalung itu terus, aku akan senang melihatnya."

"..Oke."

Pintu geser kamarnya tertutup sempurna. Taehyung membanting tubuh untuk kembali terlentang dikasur. Memejamkan mata erat sambil menutup mulutnya dengan telapak kanan.

Bodoh.

Kacau.

Bagaimana bisa seorang Jungkook menghantui pikirannya hingga sedemikian.

Dan lagi, bukankah Hoseok dan Jungkook saling mengenal?

.

.

.

Dibalik pintu yang menyimpan Taehyung bersama pikiran kusutnya. Hoseok menyandarkan diri di kusen kayu. Mengeluarkan sebatang rokok dan gagal mematiknya karena tidak fokus. Dahinya menyerngit sambil mengusap bibirnya cepat. Satu helaan nafas berat dikeluarkan tuan muda Jung sambil mengetuk-ngetukan ujung filter rokok pada telapak tangannya.

Jungkook?

Jeon Jungkook kah?

Apakah Taehyung mengenal Jungkook yang itu?

Sejak kapan? Dan apa hubungan mereka? Apa mereka pernah bersentuhan sejauh itu?

Jikalau Hoseok boleh jujur, dirinya cemburu. Sangat.

Suatu perasaan tak ingin kalah dan tak rela apabila Jungkook bisa memiliki Taehyung berkelebatan.

Hoseok harus memastikannya.

.

.

.

.

Petang di belahan lain distrik Gangnam. Apartemen putih milik Jeon Jungkook, dengan pemiliknya yang sedang duduk di ruang tamu ditemani segelas kopi, bising televisi dan dengungan rendah pendingin ruangan.

Jungkook merenung, mengabaikan tiap kepul panas kopi yang menguap, mengabaikan ponselnya yang setiap menit berdenting, juga mengabaikan siaran berita politik di televisi.

Pikirannya kembali pada sore tadi, ketika Jungkook menghubungi Taehyung. Dia berharap banyak itu akan membuahkan hasil yang bagus untuk melunakan kecanggungan diantara dirinya dan Taehyung. Bohong kalau dia tak mencemaskannya, karena kondisi terakhir mereka bertemu sama sekali jauh dari kata baik.

Ketika ia tak menemukan titik terang, Taehyung pun selalu mendorongnya menjauh ketika dasar hati Jungkook masih memiliki hati nurani untuk tidak abai pada keadaan Taehyung yang terlihat trauma mental dan memar mencoreng tubuh karena perlakuannya yang semena-mena.

Kerisauan ini menggali cukup dalam relung hatinya, bersinggungan dengan perasaannya.

Telah lama hati Jungkook tak merasakan cinta, rasanya kebas, karena tiap tekanan dan tanggung jawab yang harus dipikul dibahunya, Jungkook masih merasa sulit untuk menemukan arti spesial dari yang dirinya rasakan sekarang. Walau kenyataannya Taehyung benar-benar menjadi prioritas pada rasa penasarannya.

Entahlah.

Jungkook menekan tubuhnya lebih dalam ke bantal sofa, berusaha rileks walau pikirannya penuh dengan flower boy sekaligus tukang pembuat teh Kim Taehyung.

Jungkook berpikir, ia sangat payah untuk hal seperti ini namun dirinya mencoba. Meraih ponsel pintarnya menghubungi sekertarisnya untuk memesan sesuatu. Dirinya sendiri pun tak percaya bahwa ia melakukan ini.

.

.

.

.

.

"Kau bisa katakan saja, Seokjin-ssi." Hoseok memutar jarinya diatas cawan teh yang dipegangnya. Dia mulai tidak sabar.

"Hoseok-ssi memang memiliki wewenang penuh disini mengingat tempat ini adalah milik keluarga anda, tapi untuk hal sepribadi ini saya agak sungkan." Seokjin menjawab sesopan mungkin, memberikan senyuman khasnya dan terlihat tenang menghadapi Hoseok.

"Aku hanya bertanya soal Taehyung."

"Untuk alasan apa Hoseok-ssi ingin selalu tau apapun soal Taehyung?"

"Kau menolak menjawabku?"

"Maaf, Hoseok-ssi, mungkin anda bisa bertanya pada Taehyung langsung saja. Atau kalau dia tidak menjawab, itu hal yang wajar karena itu adalah urusan pribadinya."

"Aku ingin tau soal adikmu karena aku menyukainya, dan mendengar dia berhubungan dengan laki-laki lain sangat mengganggu pikiranku."

"Itu pekerjannya. Bukankah keluarga anda yang memutuskan nasib kami begini?"

"..."

"Ini akan terdengar tidak sopan, tapi.. bukankah memang seperti itu? Ayah anda yang meminta kami berdua melakukan ini, bekerja disini, sebagai bentuk balas budi. Aku tahu, bahwa mungkin aku dan Taehyung tak bisa bertahan hidup sampai hari ini kalau bukan karena pertolongan keluarga anda, Tapi bukankah memang beginilah ini semua berjalan? Lantas, kenapa anda keberatan melihat Taehyung melakukannya."

"Aku secara pribadi ingin Taehyung berhenti melakukannya."

"Kalau begitu lepaskan apa yang menjeratnya, yang menjerat kami."

"Tak akan semudah itu melakukannya, terlebih kedua orang tua kalian telah melakukan kesalahan besar sebelum ini. Ayah tak akan semudah itu membiarkan hutang kalian direlakan."

"Kurasa itu pun tak akan berhasil, walaupun hutang kami akan lunas setelah ratusan tahun kami bekerja disini, tuan besar Jung sampai kapanpun tak akan merestui hubungan Hoseok-ssi dengan adikku. Yang kau tau, hanya-seorang-apa disini."

.

.

.

.

.

Pagi dengan suhu yang lebih dingin dari biasanya, Seokjin masih terbayang obrolan singkatnya dengan Hoseok semalam. Seokjin tidak buta untuk mengetahui bahwa Hoseok menyukai adiknya, Taehyung. Dan Seokjin sadar betul walau sebesar apapun perasaan Hoseok pada Taehyung, hal tersebut tidak akan berhasil.

Petinggi Jung atau ayah Jung Hoseok tak akan mengijinkan anak satu-satunya, penerus perusahaan dan kekayaannya itu jatuh pada pesona seorang jalang terlebih yang tak bisa memberikan keturunan. Ini semua terdengar lucu dan klasik seperti dongeng. Saat sang pengeran jatuh dan terjerat cinta pada penduduk miskin pribumi.

Seokjin hendak berjalan ke lorong paling barat untuk mengecek keadaan Taehyung, tapi langkahnya terhenti saat salah satu pelayan House of Card berlari tergopoh dari pintu depan.

"Seokjin-Hyung!"

"Ada apa Jihan?"

"Pagi ini, penjaga menerima sebuah kiriman."

"Kiriman? Untuk siapa?"

"Untuk Taehyung."

.

.

"Bangun, Hei tukang tidur." Lemparan bantal mampir ke punggung Taehyung yang sedang tidur dalam posisi membelakangi Seokjin.

Gerung suara manja bersamaan dengan bantal putih yang berguling ke kolong kasur.

Taehyung menggulung badan ke samping, mendudukan diri pelan-pelan. Mengerjapkan mata, mengumpulkan nyawa untuk selanjutnya memandang Seokjin yang berdiri tak jauh dari ranjangnya.

"Hyung... kemarin Hoseok-Hyung kesini." Taehyung berujar agak serak, mengusap mata sekilas untuk menjelaskan pandangan.

"Iya memang, dia mengunjungimu kan?" Seokjin mendudukan diri disebelah Taehyung.

"Mm Hm."

"Apa dia mengganggu waktu istirahatmu?"

"Tidak, hanya saja aku sedikit kaget saat terbangun." Taehyung mengusap sekilas tengkuknya, mencoba mengikis kecanggungan karena mengingat kejadian semalam.

"Yang lebih penting bagaimana kondisimu? Sudah baikan?" Seokjin menggasak surai cokelat Taehyung. Jemarinya dia tautkan disela rambut karamel adiknya sambil memijitnya pelan.

"Aku oke, sudah baikan."

"Kau yakin?"

"Yakin."

"Bagus, aku kesini ingin menyampaikan kalau ada kiriman untukmu."

"Kiriman apa?"

Satu buah buket bunga raksasa dari puluhan mawar masuk ke dalam kamar. Jihan tersenyum jahil saat membawanya dan hampir terjatuh saat menaruhnya didepan kaki Taehyung yang duduk bersila. Seokjin melihat buket bunga itu sambil menggelengkan kepala.

"Ini.. apa-apaan, Jihan?" Taehyung menaikan alisnya pertanda heran.

"Bunga, kiriman untukmu, mungkin dari seorang pangeran." Jihan berujar sambil menahan tawa.

"Aku ini laki-laki, demi tuhan. Bunga? Mawar? Yang benar saja."

"Kau ini terlalu banyak fans." Seokjin ikut mengolok sambil memperhatikan buket bunga yang dibungkus dengan kertas krep tebal berwarna cokelat. Cantik sekali.

"Hyung, jangan mulai."

"Coba kau lihat dulu."

Diantara bungkus krep warna cokelat, diantara kungkungan merah darah dari mawar dan hijau segar dari dedaunan hiasan, tersembul satu kartu yang bertuliskan nama pengirimnya. Taehyung mengambilnya cepat tak menyadari ada satu kelopak mawar yang terlipat karena gerakan terburunya.

"—Jeon Jungkook"

"Oops, itu bukannya yang beberapa hari lalu main ke kamar ini ya." Jihan ikut duduk melingkar memperhatikan kartu pengirim itu, nama yang familiar.

"Ini sepertinya ada tulisannya."

Seokjin menemukan gulungan pita putih kecil yang diikatkan pada tiap tangkai mawar.

Dengan rasa penasaran Taehyung menarik lepas simpul pita itu lalu membaca apa tulisannya.

"Mianhae?" Taehyung mengejanya agak lambat, lalu menemukan kata yang sama ditiap pita putih lainnya.

"Aku tidak terlalu menyukai perangai anak itu, tapi ini romantis, sungguh." Aku Seokjin.

"..."

"Apa ada hal serius terjadi diantara kalian?"
"Tidak."

"Lalu kenapa dia meminta maaf?" Jihan disana juga ikut penasaran.

"Mungkin karena.. sesuatu yang terjadi di beberapa malam lalu."

"Hm?"

"Astaga, aku sudah bilang padanya untuk melupakannya." Taehyung mulai menarik satu persatu pita lainnya dari tangkai mawar.

"Lalu?" Seokjin mengamati raut adiknya sambil khawatir.

"Lalu? Dia malah ngotot ingin bertemu dan sekarang mengirimkan ini. Aneh sekali."

"Apa Jungkook ini menyukaimu Tae?" Jihan bertanya dengan polosnya.

"Apa maksudmu?"

"Suka, yah maksudku.. suka padamu. Karena suka maka itu dia peduli padamu dan juga berusaha meminta maaf dan sungguh-sungguh seperti ini."

"..."

Taehyung mengedikan bahu, terkekeh singkat merasa ada yang lucu dari pernyataan Jihan sambil menepis gemuruh pada relung dadanya.

Taehyung melirik Seokjin dan mendapati kakaknya itu memandangnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Namun Taehyung tau, selalu tau bagaimana seharusnya jawabnya.

.

.

.

.

"Sudah mendapat beberapa informasi?"

"Yang kami dapat ada dalam map ini, tentang beberapa penjabaran dan info yang telah kami saring. Memang benar dulu ada satu perusahaan yang membuat kontrak dan penanaman saham kerjasama dengan Jung Corp, dan ada beberapa peristiwa aneh dibalik runtuh dan hilangnya satu direksi yang mengelola perusahaan kerjasama tersebut. Untuk lebih jelasnya bisa Tuan baca laporan tersebut."

"Oke, kau boleh pergi."

Jungkook melirik pria berjas necis yang telah undur diri dengan sopan, kemudian mengamati map hitam dari kulit di tangannya. Menimang sebentar lalu meletakannya di atas meja. Kursi tingginya dia putar membelakangi meja dengan meninggalkan decit samar. Jungkook berganti menatap keluar jendela kaca dihadapannya.

Raut langit yang mulai memudar dan mendung menyita perhatiannya.

Dirinya dilanda kepenatan. Setelah seharian ini sibuk dengan meeting, urusan kantor dan tuntutan pekerjaan. Jungkook kembali dijejali beberapa pikiran lain, apakah hal ini pantas jika dia terlalu banyak mencari tahu tentang kehidupan Taehyung? Segala masa lalunya, hubungannya dengan Hoseok. Jungkook tidak dapat mengungkapkan alasan yang tepat dibalik semua itu, tapi dirinya ingin tahu.

Akhirnya dibukanya map hitam itu, didalamnya berisi beberapa lembar informasi yang tertulis runtut. Jungkook membaca dalam diam, lalu menyerngitkan dahi setelah habis membaca lembar pertama.

Disana tertulis bahwa saat ini Kim bersaudara itu adalah yatim piatu. Kedua orang tuanya meninggal dalam tragedy pembunuhan yang telah lama ditutup kasusnya oleh kepolisian. Jungkook bertanya-tanya, membawa kedua iris matanya untuk membaca halaman selanjutnya.

Pada halaman selanjutnya ada foto Kim Seokjin dalam acara kelulusan sekolah menengahnya. Kemudian sosok lain dalam foto mencuri perhatian Jungkook. Disana ada Kim Taehyung kecil dengan coat hangat merah maroon memeluk tubuhnya, ia terlihat menggandeng bangga lengan kakaknya. Lucu, pikir Jungkook. Foto itu membuktikan bahwa Taehyung memang telah memiliki mimik manis saat tersenyum sejak kecil. Menyeret Jungkook untuk ikut tenggelam dalam serpihan memori bahagia disana. Hingga satu tarikan senyum dibibir Jungkook terbit.

Mereka berdua diamit oleh tuan dan nyonya Kim yang tengah mengenakan pakaian formal sambil tersenyum cerah. Mereka terlihat bahagia.

Dipaling bawah foto terdapat kop nama sekolah menengah mereka yang artinya foto ini dapat di akses secara umum di web sekolah. Dua foto selanjutnya adalah foto acak pers yang memperlihatkan orang tua Taehyung yang berkunjung ke salah satu gedung mewah Jung Corp. Berjabat tangan dengan pria tua lain dan beberapa kolega.

Foto lain yang menyita perhatiannya adalah foto Kim Taehyung saat kelulusan di sekolah menengahnya. Masih dengan kop nama sekolah yang sama, disana Taehyung hanya berdua dengan Kim Seokjin yang memakai pakaian kasual sederhana dengan buket bunga matahari di tangannya.

Sesuatu telah terjadi, dibalik senyum mereka yang tercetak dalam foto, Jungkook tahu ada perubahan disana. Jungkook kembali membaca dan dibuat menyerngit lebih dalam ketika membaca profil singkat kedua Kim bersaudara itu. Mereka diangkat sebagai anak asuh tak resmi oleh keluarga Jung. Namun ada informasi lainnya yang menyatakan bahwa nama Kim Seokjin masuk pada daftar pegawai di anak perusahaan Jung. Dipercaya sebagai manager sekaligus pengurus di House of Card.

Detail lain yang membuat Jungkook terkejut adalah kenyataan dimana Kim Taehyung bekerja paruh waktu di sebuah minimarket pada pagi hingga siang hari. Satu foto terlampir, Taehyung bersama dengan Minjae sedang memenuhi etalase minimarket.

Jungkook tercenung. Taehyung mengenakan apron cokelat yang berwarna lebih tua dari surai karamel yang masih Jungkook ingat bagaimana halusnya di telapak tangannya. Bulu matanya terlihat panjang alami, dan belah bibirnya lebih pucat dari biasa Jungkook melihatnya di beberapa malam. Tapi satu yang Jungkook tak bisa sangkal. Dia tetap terlihat menawan, menggemaskan dan menarik perhatiannya tak kurang dari biasanya.

Inikah,

Kim Taehyung yang nyata?

.

.

.

.

.

"Shit."

"Ada apa?" Yang terusik karena umpatan itu kemudian mematikan puntung rokok dengan tekanan diatas asbak, mengalihkan perhatian dari katalog besar yang berisi rancangan fashion, untuk kemudian memberikan atensi pada sosok dihadapannya.

"Yoongi-Hyung, tidak menjawab semua pesan atau teleponku."

"Oh, Yeah? Bukankah dia memang selalu seperti itu? Cuek, sibuk, kau tahu. Seingatku, kau tak pernah mempermasalahkannya sebelum ini."

"Memang, tapi ini berbeda.."

"Kalian bertengkar hebat?"

"..." Jimin diam, dia merasa apabila hal yang menggeluti pikirannya diutarakan itu akan menjadi boomerang untuknya. Karena sesungguhnya ini seratus persen salahnya.

Tak mendapatkan jawaban dari Jimin, Laki-laki itu terkekeh. Melanjutkan.

"Nah, aku terkadang heran dengan hubungan yang kalian sendiri biarkan nelangsa. Kau dan Yoongi itu sama-sama sudah dewasa, jangan kucing-kucingan begini."

"Namjoon-Hyung, aku.. hanya merasa, itu hak Yoongi-Hyung untuk melakukan apapun kehendaknya"

"Dan sekarang kau keberatan saat dia tak ada kabar, apa yang kau ucapkan dan yang kau lakukan itu kontradiksi Direktur Park Jimin."

"Entahlah, Kami ini rumit."

"Bukankah semua sudah jelas? kau menciumnya, dia mau, kau memeluknya dia merengkuhmu balik, kau.. yea,meminta having sex? Dan dia tidak akan berusaha menolak. Lalu sejauh ini kau tak merasakan bagaimana seharusnya hubungan kalian? Bodoh. Feel it, siapa dirinya untukmu."

"Aku suka padanya, aku ingin dia disisi ku."

"Dan dia?"

"Aku tidak tahu, Hyung. Dia bebas."

"Maka pastikan."

.

.

.

.

Kemarin sudah terima kirimannya?

Aku harap kau suka.

Maafkan aku.

Merah tipis merambati pipi Taehyung, Minjae yang heran kemudian ikut mencondongkan diri mengintip isi ponsel Taehyung yang barusan berdenting. Taehyung harus berusaha keras menghindari desakan Minjae yang penasaran dengan berkelit; Bukan apa-apa, Minjae.

Taehyung tertawa menanggapi Minjae yang menuduhnya memiliki pacar dan macam-macam. Kemudian tawa itu pudar saat ia berbalik dari meja kasir dan melihat jauh di seberang minimarket. Dia melihat laki-laki yang sangat dikenalnya baru saja keluar dari mobil dan mengarah ke arah tempatnya bekerja.

Taehyung melebarkan mata, memutuskan mundur seribu langkah, kebingungan dan terlalu banyak mengedipkan mata untuk memastikan.

"Min-Minjae, aku ke belakang dulu, tolong kau gantikan aku disini."

"Eh? Okay."

Bell sensor di pintu masuk berbunyi lebih cepat dari dugaannya, dan Taehyung tidak memperkirakan dirinya akan terlambat menghindar.

Suara 'Selamat datang' samar dari Minjae membuatnya sedikit panik. Taehyung berjalan tergesa, sepatu terketuk di lantai dengan pelan, ia sengaja berkelok di lorong-lorong etalase, beberapa kali menengok ke belakang memastikan tidak ada sosok itu dibelakangnya. Dari sekian ratus mini market di distrik ini, kenapa orang itu harus kemari?

Namun Taehyung sial, sesaat setelah dia bergegas secepat angin pamit dari Minjae, sosok itu sudah melihatnya sambil tersenyum kecil melihat tingkah lucu Taehyung yang seperti kabur dari kejaran anjing.

Taehyung yang mengambil jalan berkelok di beberapa etalase menyebabkan dirinya membutuhkan waktu sedikit lebih banyak untuk sampai di ruang loker khusus pegawai. Saat dia hendak membuka pintunya, tangannya digenggam oleh orang di belakangnya.

Taehyung menahan diri untuk tidak berteriak atau memaki.

Ketahuan.

"Tae, kemarin sudah dapat kirimannya?" dalam gerak lambat telapak tangan itu mengelus tangan Taehyung yang digengamnya diatas knop pintu. Terdengah kekeh tipis menyusul. Rindu.

Suara itu terdengar nyata dan dekat sekali dengan tengkuknya. Taehyung hanya meringis mengejek kebodohan dirinya yang sedikit terlena dengan kontak fisik setipis itu.

"Aku harap kau suka." Suara itu terdengar menyebalkan masuk ke telinganya.

Dan tubuh Taehyung dibalik untuk dihadapkan kearah sosok itu. Sosok tampan dengan setelan jas kasual dan aroma parfum yang Taehyung kutuk ke dasar neraka karena membuatnya sesak dengan cara yang menyenangkan.

Satu senyum tulus dari sosok itu terbit dan Taehyung membuang muka. Entah malu, gugup atau kesal.

"Maafkan aku."

"—Jungkook, jangan begini." Taehyung menepis genggaman tangan Jungkook dimiliknya, mendorong tubuh Jungkook untuk menjauh darinya. Dan saat Taehyung menunjukan gestur akan kabur lagi. Jungkook segera menangkap lengannya kembali dengan tergesa.

Ini mungkin tidak akan mudah, pikirnya.

"Aku sungguh-sungguh."

"Iya, iya, cukup." Taehyung memutar bola mata jengah, sambil lagi-lagi menghindari kontak mata.

"Jadi, kau sudah memaafkanku?" Jungkook tersenyum tipis memperhatikan gelagat laki-laki kurus dihadapannya.

"Anggap, saja begitu."

"Tae—"

"Kau— iish, ngotot sekali. Dan demi tuhan, berhenti memojokkanku, tubuhmu itu lebih besar dariku—" Taehyung meringis, sekelebat bayangan tubuh jantan Jungkook yang menindih diatas linen kasur malam sebelumnya mampir di otaknya. "—aku bisa gepeng." Uh. Taehyung tidak mengerti apa yang sedang dia pikirkan.

"Oke." Jungkook menjawab ringkas sambil mengambil satu langkah mundur. Membuat punggung Taehyung bisa berdiri sedikit kendor dari pintu di belakangnya.

Jungkook masih berdiri disana dengan senyum tipis yang sama. Benaknya sedikit lega melihat tingkah Taehyung yang tidak dingin padanya. Laki-laki itu memaafkannya, walau Taehyung masih nampak kaget dan canggung dengan pertemuan mereka.

Ia menatap jemari Taehyung yang bergerak gugup memelintir ujung seragam kerjanya. Bola mata hitam kelamnya naik untuk memperhatikan Taehyung secara keseluruhan. Benar-benar berbeda namun tetap semanis yang Jungkook ingat.

Rambut coklatnya, mata karamel kemerahannya, bulu mata panjangnya, belah bibirnya, pinggang rampingnya. Semua ada disana, namun dengan raut dan rona berbeda. Mengingatkan Jungkook dengan potret manis bocah sederhana pada foto berwarna pudar yang disimpan dimeja kantornya.

"Apa yang aku lakukan disiang hari ya.. kalau siang aku... jadi sisa bunga tidurmu, karena tiap malam yang kau habiskan denganku adalah mimpi. Siang, Kim Taehyung yang seperti ini tidak ada."

"Jadi ini hanya mimpi?"

"Anggap saja begitu."

"Ini nyata.."

"Apa?" Taehyung memotong perkataannya untuk kemudian ditangkis kembali oleh Jungkook.

"... kalau boleh jujur, ini.. sedikit mengejutkanku. Kau.. yang seperti ini."

Terdapat jeda beberapa detik. Taehyung mengetukan kakinya tak sabar. Batinnya bertanya-tanya. Bagaimana bisa orang ini disini? Kenapa dia ngotot sekali mencarinya?

Dan..uh Taehyung sedikit malu,

"Seokjin-hyung kah yang memberitahumu?"

"Memberitahu?"

"Memberitahu kalau aku ada disini." Taehyung cepat-cepat menambahkan.

"Tidak. Aku punya caraku sendiri untuk menunaikan keinginanku." Jungkook memiringkan kepalanya sekilas. Rambut legamnya turun menutupi pelipisnya.

"Kau mesum, penguntit paling buruk yang pernah kutemui."

"Whoa tahan itu, Taetae."

"Jangan panggil aku begitu, brengsek."

"Tapi disana, tertulis begitu."

"Uhh.." Taehyung meremas name-tag di dadanya, berbalik cepat lalu masuk ke dalam ruang loker tujuan awalnya tadi.

Diluar dugaan Jungkook mengikutinya.

"Apa sih maumu, Jungkook?" Taehyung menaikan alis, bersedekap menghalau tubuh Jungkook untuk masuk lebih jauh.

"Aku ingin melihatmu apakah kau baik-baik saja, memastikan kau terima kirimanku, dan.. yah, seperti itu." Jungkook sekali lagi tidak pandai dalam menangani obrolan macam ini dengan Taehyung.

"Kau sudah mendapatkan apa yang kau mau, aku baik, bernafas, hidup—aku sudah terima pemberianmu, aku sudah memaafkanmu, oke, lalu habis perkara. Terima kasih kedatangannya, kepeduliannya, dan maaf kau telah melewati teritori kami, tuan. Ini loker pegawai. Internal okay, khusus staf. Keluar-keluar."

Jungkook tertawa mengamati raut menggemaskan Taehyung yang bicara nyerocos tadi. Itu lucu.

"Kau senyum-senyum lalu sekarang tertawa, itu menakutiku."

"Aku ingin kau tunjukan lagi semuanya padaku, sisi lain yang ada di dirimu. Aku senang mengenal dirimu yang berbeda."

Rongga dada Taehyung menghangat, debaran didalam sana dua kali lebih menghentak, flower boy House of Cards itu menggeleng menyadari ada sensasi aneh dalam dirinya ketika mengetahui ada orang yang peduli padanya, yang ingin mengenalnya dengan cara yang benar. Dan sedikit banyak mengungatkannya pada Hoseok-Hyung.

Ah.. tapi pria ini berbeda.

"Kau aneh, Jungkook."

"Aku juga tidak mengerti. Pun tidak mengerti mengapa aku...merindukanmu?"

Begitu pula denganku.

Jungkook melangkah maju, melingkarkan lengannya pada pinggang Taehyung. Taehyung sendiri tidak terdeteksi ekspresinya. Dirinya total membeku ketika lengan kuat itu menggesek tubuhnya, dan hidung Jungkook mulai mengendusi pucuk kepala. Sikap manisnya itu membuat distraksi tersendiri di batin Taehyung, dia nyaman dengan tindakan itu namun juga luar biasa canggung.

"Jungkook disini ada kamera cctv, menjauh dariku atau kutendang selangkanganmu."

"Galak sekali ya."

"Karena ini bukan di House of Card." Taehyung merendahkan suaranya di akhir kalimat.

"Hm?"

"Kau harus bayar kalau sentuh-sentuh aku."

"Reaksi tubuhmu tidak menolakku sejauh ini." Bersamaan dengan ucapannya itu Jungkook lebih mengeratkan pelukannya. Mengendusi bau melon mint yang menguar manis dari balik telinga Taehyung.

"Cukup, lepas." Taehyung berjengit karena sedikit geli.

"Tae—"

"Tae, bisa kau cepat? Aku juga harus ke toilet—"

Pintu masuk di dekat mereka terbuka dengan bunyi cepat dan mengagetkan.

Minjae membeku, Tehyung mendorong, dan Jungkook meringis karena kakinya terantuk kursi.

"Eh.. sorry..." Minjae tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Dia tersenyum canggung lalu membuat gestur permisi.

Pintu tertutup kembali.

Jungkook dan Taehyung berbagi lirikan untuk sedetik kemudian—

"Yah! Kau siapa, keluar dari sini! ini ruang loker, internal, staff only. Keluar-keluar. Tidak kuijinkan kalian mesum di tempat ini!"

Pintu terbuka kembali menampilkan Minjae yang berteriak hingga menggema diseluruh ruangan.

.

.

.

"Jadi... kalian pacaran?."

"Kuharap begitu—" itu Jungkook

"Tidak!" dan jawaban sengit dari Taehyung.

"Tolong tuan Kim tenang, jangan berteriak." Minjae menengahi. "Oke, aku rubah pertanyaanku. Kau orang mana ha? Bekerja dimana? Jam segini kenapa keluyuran?"

"Sebelumnya biarkan aku memperkenalkan diriku."

Oh oke jawab Minjae.

"Namaku Jeon Jungkook—" tunggu, sepertinya marga itu tidak asing terdengar ditelinga Minjae. "—Aku tinggal di Gangnam, aku bekerja untuk , tepatnya pemiliknya, jadi aku bebas bukan? Banyak anak buahku disana untuk mengurus.. yah banyak hal."

Ah.. itu dia.

Minjae meneguk ludah susah payah, disenggolnya kaki Taehyung di bawah meja hingga bunyi gemeratak keras terdengar diantara mereka. Taehyung melotot dengan raut aneh dan Minjae berbisik-bisik kampungan –Bagaimana kau bisa kenal orang seperti dia-

"Uhm.. oke... jadi Jungkook-ssi, bisa kau jelaskan kenapa kau ada disana saat itu?"

"Aku hanya ingin bertemu dengan dia, ngobrol, dia ini keras kepala jadi kuikuti sampai didalam sana."

"Iya aku setuju mengenai keras kepalanya, Tae—"

"Minjae!"

"—Jadi kalian baik-baik saja bukan?"

Jungkook menaikan alis meminta penjelasan. Minjae melanjutkan "Kupikir kau ini maling sekaligus melecehkan temanku. Kalau kalian telah mengenal dengan baik itu bagus. Tapi silahkan ambil waktu kalian nanti, saat ini Taehyung harus bekerja."

Taehyung bersedekap, sudah masa bodoh dengan forum kecil ini.

"Kapan kalian selesai?" Jungkook bertanya, tatapannya tertuju pada Taehyung.

"Hyung-nim akan menggantikan kami jam enam sore."

"Oke, itu sebentar lagi. Aku akan menunggu disini."

"E-eh?"

.

.

.

.

Minjae gusar melihat sikap temannya yang berekspresi biasa saja sambil menselotip produk sabun cair berpromo. Berkali-kali dirinya memindahi pandangannya ke Taehyung lalu melongokan kepala melihat Jungkook yang masih duduk tenang diluar minimarket.

"Kau macan kecil licik, apa yang kau lakukan dengan bos-bos muda itu, gila."

"Sudah tak usah kau pikirkan, Jae-yah. Dia hanya kenalanku." Taehyung entah kenapa merasa sepuluh kali lipat lebih capek meladeni temannya ini. Ia benar-benar melupakan insiden canggung dalam ruang loker beberapa menit yang lalu.

"Tidak usah mengelak, demi tuhan aku melihatnya memelukmu dan mengendusi lehermu! kalau dia benar pacarmu, kau harus mentraktirku Pepero sebanyak ini, maksudku segini, setinggi ini, yah! Kau dengar?" Minjae menggerakkan tangan abstrak sambil berteriak-teriak heboh.

" . .ku."

"Kau yakin Kim Taehyung?"

"Seratus persen yakin."

"Ayolah~~ dalam fantasi terliarku, kupikir kau menjual tubuhmu lalu bertemu dengannya disuatu tempat, ini tidak masuk akal, kau tahu?"

Walau Minjae mengatakan itu hanya sebagai gurauan, hati Taehyung tetap tesengat rasa sakit. Taehyung menutupinya dengan tertawa jenaka dan memukuli punggung Minjae sambil bergurau kembali; Yah! Apa yang kau katakan, jaga ucapanmu.

Dua jam kemudian Taehyung keluar setelah mengganti baju seragamnya.

Dia melihat Jungkook duduk dibawah payung raksasa didepan minimarket tempatnya bekerja. Jungkook terlihat sibuk dengan telepon yang diterimanya sambil tangan memainkan kunci mobilnya.

Taehyung berjalan mendekat. Meraih gelas kertas bekas kopi diatas meja Jungkook. Membuangnya ke tempat sampah terdekat. Jungkook membiarkan tatapannya bertemu dengan bola mata karamel Taehyung. Menaikkan satu alisnya. Berkata beberapa patah kata pada panggilan di telinganya. Lalu menyimpan ponsel kembali kedalam kantong blazernya.

"Tidak kusangka kau benar-benar masih disini."

"Tujuanku memang menunggumu."

Bunyi kring-kring bell sepeda mengalihkan atensi keduanya.

"Aku duluan ya, Tae, Jungkook-ssi tolong temani dia!" Minjae melambaikan tangan dengan ekspresi lucu kearah mereka. Taehyung meringis saja melihat reaksi Jungkook yang membungkuk kelewat sopan.

"Jadi? Aku akan pulang, ada yang ingin dibicarakan lagi?"

"Kau ke House Of Cards jam berapa, kuantar."

"Sebaiknya selesaikan disini saja urusanmu."

"Aku ingin lebih lama bersamamu."

Taehyung meniup poninya, mengangguk samar sekali lalu membawa diri berjalan mendahului Jungkook. Dirinya tau kalau Jungkook keras kepala dan dia taka akan berhenti sebelum dia mengabulkan keinginannya.

Lewat sini. Jungkook berbisik manis seraya menggenggam tangan Taehyung untuk membimbingnya masuk kedalam mobil mewahnya.

.

.

.

.

Jungkook tidak mengantarnya ke House of Card.

Tidak sekarang.

Karena sedari tadi laki-laki itu hanya menyetir dengan tenang, dan parahnya tanpa mamulai topik pembicaraan untuk mengudara. Taehyung yang sudah bosan mengalihkan perhatian dengan bermain fitur di ponselnya pun akhirnya menyerah.

Taehyung melirik jam tangan yang melingkar ditangan kanannya, kalau dihitung-hitung mereka sudah lebih dari tiga puluh lima menit terdiam begini.

Menghela napas berat. Taehyung berdehem. Memiringkan tubuhnya untuk menghadap sang penculik yang duduk tenang dibalik kursi kemudi.

"Hei."

"Hm?"

Taehyung bersumpah kalau Jungkook tadi tersentak kecil karena panggilannya. Tapi laki-laki maskulin itu pintar memperbaiki emosinya dengan balasan gumaman halus.

"Katakan sesuatu, tuan. Apapun. Kau ada perlu denganku bukan? Ingin membicarakan sesuatu? Kalau tidak, oke, bawa aku ke tempat kakakku sekarang. Aku mau istirahat sebelum bekerja lagi."

"Kau buru-buru?"

Taehyung menangkap kegugupan Jungkook yang lain, mengamati jakun Jungkook yang bolak-balik bergerak naik turun. Taehyung ingin usil menggodanya. Kemana perginya Jeon Jungkook yang angkuh?

"Tidak terlalu, tapi aku tidak bodoh untuk bisa menyadari kau sudah mengambil jalan ini untuk ketiga kalinya." Tunjuk Taehyung pada persimpangan Jalan Myungpong.

"Uh, sebenarnya ada hal yang ingin aku katakan. Biarkan aku menatanya dulu dalam pikiranku."

Taehyung tertawa lucu. Jungkook benar-benar berbeda hari ini.

Sambil menunggu Jungkook meneguhkan hatinya, Taehyung terkadang berceloteh asal mengomentari tempat-tempat yang dilewati mereka. Ah aku pernah lihat tempat itu di internet. Taehyung jarang sekali memiliki waktu berkeliling kota Seoul. Distrik Gangnam saja belom habis dia jelajahi. Paling-paling ia hanya melihat sekeliling Hongdae saja karena rute bis nya.

Jungkook akan menanggapinya dengan menawari untuk turun dan mencoba makanan disana, tapi Taehyung menolak keras dan melonjak-lonjak menggelikan dikursinya ketika Jungkook mau memarkirkan mobilnya. Dia benar-benar tidak mau ditraktir tapi mengomentari ingin makan ini itu dan menunjuk kafe disana dan disitu. Aneh.

"Berhenti melakukan itu, aku bukan kekasihmu yang sedang kau ajak kencan."

Ah kekasih.. ini dia. Pikir Jungkook.

"Kalau begitu ayo jadi sepasang kekasih."

"Hah? Oke, salahku. Lupakan saja yang tadi Jungkook."

"Tidak, aku serius. Memang ini yang mau kubicarakan."

Bertepatan dengan itu, mobil sedan Jungkook berhenti didepan gedung House of Card. Taehyung sedikit tersentak kedepan karena rem mendadak dari Jungkook. mata mereka beradu.

"Maaf?"

"Ayo jadi sepasang kekasih."

"Hari ini kau yakin seratus persen sehat? Tidak terbentur? Atau ada makanan yang meracunimu?"

"Berhenti bersikap main-main. Daritadi kau seperti tidak menemukan kesungguhanku."

"Ah.. daebak... ini sangat tiba-tiba, kau cukup sulit ditebak."

Taehtung diam-diam menggeser pengunci pintu. Terkunci. Pandangannya nanar mengantisipasi tangan Jungkook yang merambat diatas tangannya yang disimpan diatas paha. Digenggam dengan tegas.

"Aku Jeon Jungkook, dua puluh tiga, aku bukan orang yang sabar ataupun romantis, aku bukan orang yang mudah. Aku punya banyak hal yang harus kutanggung dan kupikirkan. Aku biasa mamaksakan dan mendapatkan apapun yang aku mau. Kau tahu, sejak pertama bertemu denganmu aku menemukan hal lain pada diriku yang tak pernah ku fokuskan pada orang lain sebelumnya. Kuakui aku penasaran. Aku menyukai celotehanmu, membuatku lupa atas lelah yang kutanggung, aku suka teh buatanmu, aku suka senyumanmu, kutegaskan kembali aku menyukaimu." Jungkook menelan liur untuk membasahi kerongkongannya yang tiba-tiba mengering. "—Entah sejak kapan aku tidak bisa berhenti memikirkanmu. Aku memiliki segalanya yang bisa kau miliki juga, maka, maukah kau menjadi kekasihku? Cobalah denganku, aku menginginkanmu."

"Apa...? Aku tidak bi— "

"Kau tidak boleh menolakku."

Tatapan Jungkook padanya mengingatkan Taehyung pada Hoseok-Hyung. Dan Taehyung menghela nafas lemah.

"Atas dasar apa."

"Karena aku sungguh-sungguh. Apa kau tidak menyadarinya? Aku berusaha memperbaiki, minta maaf, mengirimkan bunga, mengantarmu pulang, bukankah begitu caranya ini bekerja?"

"Jungkook, sadarlah dengan siapa kau bicara, dan apa yang barusan kau bicarakan. Apakah kau sebegitu mengenalku? Tidak. Kau tidak. Aku tidak seperti yang ada dibayanganmu."

"Kau harus mendengarkan aku, cobalah menerimanya dan kau tidak perlu bekerja lagi disana."

Kau tidak perlu bekerja lagi disana. Aku mencintaimu.

"Tapi aku tidak bisa. Dan lagi ini buka hanya tentang pekerjaanku saja. Kekasih kau bilang? Kau membicarakan sebuah perasaan. Dan itu bukan main-main."

"Apa kau tidak menyukaiku?"

"Kau pikir aku menyukaimu?" Taehyung tertawa. "Lihat tempat itu." Tehyung menunjuk House of Card dengan telunjuk gemetar lalu segera dia genggam kembali dengan kuat. "—Kau pasti tidak sebodoh itu kan? Aku ini kotor, didalam sana aku sudah... disentuh oleh laki-laki atau wanita sesuka mereka. Silahkan kau pikirkan. Seseorang yang terhormat sepertimu, tak akan mau dapat barang bekas bukan?" Taehyung bersumpah dirinya menahan tangis kala menjelaskan itu.

"Aku tidak peduli tentang semua itu, yang aku pedulikan adalah apa yang akan terjadi setelah ini."

"Oh tuhan. Cukup, keluarkan aku dari sini."

"Kau ketakutan."

"Apalagi sekarang?"

"Aku tahu semuanya, tentangmu. Tentang Hyung mu, keluargamu, semua. Kalau yang kau takutkan adalah Jung Hoseok, aku bisa menghancurkannya untukmu."

"A-apa..."

"Dia yang mengekangmu, menyiksamu perlahan-lahan, membelenggumu. Ini semua karena kalian berhutang nyawa dan uang padanya? Katakan, Kau menyukainya? Menyukai caranya membuatmu terjerembab dalam masa depan yang gelap?"

"Jeon Jungkook." Taehyung terengah-engah, nafasnya memberat. Telinga nya sudah memerah dan matanya memanas setelah mendengar segala hal buruk dan memori menyedihkan yang kembali terputar karena ucapan Jungkook. "Jangan sekalipun kau berkata buruk tentangnya."

"Inikah alasanmu sebenarnya, untuk menolakku?"

"Cukup."

"Kalau begitu buat aku mengerti!"

Taehyung beringsut menjilat bibirnya sekilas, tangannya diletakkan pada pundak Jungkook. Detik selanjutnya yang terjadi adalah hal yang dirinya sendiripun tidak dapat pahami.

Taehyung mencium Jungkook tepat dibibir.

Rasanya berbeda berciuman dengan bibir polos, tanpa lipbalm dan tanpa polesan samar lipgloss. Keduanya sama-sama merasakan sensasi mengelitik itu.

Jungkook sempat menegang di atas kursi di balik kemudi karena perbuatan Taehyung. Ia kemudian kembali rileks, saat Taehyung mengusapkan jemarinya ke kelopak matanya untuk menutup khidmat dan menuntunnya merasakan nikmat. Jilat, Gigit, Basah, Sesak.

Ikut aku, aku tak akan membiarkanmu tenggelam di kubangan kotor itu.

Mimpi itu. Bergulung bagai roll film rusak yang berputar berulang-ulang di kepala Taehyung.

Selamatkan aku.

Taehyung memutar kepalanya ke sisi sebaliknya, memperdalam ciuman mereka yang oh-astaga-sungguh terasa nikmat. Jungkook memperlakukannya dengan baik, tidak ada kekasaran, punggungnya dielus berulang seakan Jungkook mengerti kalau Taehyung begitu ketakutan dan kebingungan.

Tangannya mencengkaram pundak Jungkook masif, Taehyung lupa sejak kapan dirinya sudah berada diatas pangkuan Jungkook yang duduk bersandar dengan sandaran kursi yang sudah mundur jauh dari kemudi. Memeluk tubuh pria beraroma maskulin itu kelewat erat dengan nafas terengah disamping lehernya. Seperti anak kecil yang takut kehilangan rengkuhan.

Mengapa kau begitu peduli?

"Be honest, dear. Aku bisa mendengar detak jantungmu. Kau menginginkanku sama besarnya. Apa yang menahanmu?"

"Ini semua hanya mimpi, aku tidak bisa mencintaimu, sayang."

Yang hitam akan tetap hitam. Yang tergurat dan tercetak jelas tidak akan bisa terkikis bersih.

Taehyung menurunkan tubuhnya diantara kaki Jungkook. Dan Jungkook menatapnya kebingungan.

Inilah dirinya. Taehyung akan menegaskan, dan mencoba membuat Jungkook mengerti.

Bersamaan dengan makin menggelapnya hari, pandangan Jungkook menggelap kala Taehyung melakukannya. Kepalanya tersentak kebelakang sembari telapak tangan lebarnya bergerak meremas surai karamel Taehyung yang terselip diantara jemarinya. Gila.

"Uhh..."

Puluhan menit selanjutnya, Taehyung menarik cepat ranselnya di atas kursi penumpang, keluar dari mobil Jungkook setelah membuka kunci pintu disamping kursi kemudi. Membenahi rambutnya yang kusut dan kerah bajunya untuk kemudian berujar dengan bibir basah belepotan;

"Jangan hancurkan siapapun untukku. Akan lebih baik kalau perasaan ini yang hancur."

Lalu Taehyung berlari menghilang dibalik pagar House Of Card, meninggalkan Jungkook begitu saja.

"Kau salah, Kim Taehyung. Taehyung-ku."

.

.

.

.

"Aku salah pilih teman ngobrol kelihatannya, kau sama kusutnya denganku."

Jungkook menghela nafas memandang Jimin yang tanpa minat memutar gelas kaca dan memainkan es batu didalam sana.

"Yeah, dan aku cukup terkejut, kenapa tiba-tiba mengundangku minum?"

"Suntuk. Aku sedang kebingungan." Jungkook menenggak lagi isi gelasnya. slow play. Dia tidak ingin mabuk, hanya ingin dialihkan dari high nya setelah quicky tease dari Taehyung.

"Masalah apa?"

"Tentang hal –hal... percintaan, dan sejenisnya."

"Whoa, playboy gadungan. Jangan tanya aku soal itu, aku pun sedang rumit dengan pacarku." "Pacarmu yang katanya galak dan panas itu?"

"Dan boom, dia meledak sekarang." Jimin menghela nafas, menyender sambil mengamati lampu neon dengan tulisan 'Shoot' nyentrik diatas kepala bartender. "Kau sudah menemukan tambatan hati? Apa dia manis?" Jimin melanjutkan.

"Sangat, dan dia laki-laki omong-omong."

"Welcome to the club, budy." Jimin menaikan alis jahil.

"Screw you."

"Tapi dia membingungkan." Ini Jungkok, menenggak lagi minumannya.

"Apa-apa yang berhubungan dengan perasaan, cinta, dan semacamnya itu memang selalu membingungkan."

"Jawaban yang sangat tidak membantu. Jim"

"Panggil aku Jimin-Hyung, bocah –tunggu sebentar." Jimin menggali saku celananya ketika terdengar bunyi khas telpon dari ponsel pintarnya.

"Halo, Namjoon-Hyung? Ada apa?"

"Aku melihat Yoongi, aneh sekali dia datang di tempat seperti ini sendirian tanpamu."

"Yoongi-Hyung? Dimana?" Jimin menegakkan tubuhnya dari sandaran, Jungkook mengamati perubahan wajah Jimin saat senior sepak bolanya dulu itu sedikit meninggikan suara karena bisingnya klub.

"Kau tau House of Card, kan, dia kemari sendirian. Seokjin—" Ada jeda dan deheman disana. "—temanku bilang Yoongi mencari lelaki. Kalian putus atau dia berselingkuh? Aku merasa harus memberitahukan ini padamu sebagai teman."

"Hyung, Hyung! Siapa yang dia cari?"

"Adik Seokjin, namanya Taehyung."

Mata Jimin melebar, dugaannya benar. "Bisa kau pastikan apakah mereka sudah bersama?"

"Hey, hey ada apa?"Namjoon menangkap ada yang tidak beres dari cara Jimin berucap.

"Jawab saja, Hyung!"

"Sudah sekitar tiga puluh menit yang lalu merekla berdua.."

"Aku kesana sekarang! Sampai bertemu disana Namjoon-Hyung."

"Hey, Jim-"

"Ada apa?" Jungkook menyerngit saat melihat Jimin turun dari kursi tinggi setelah menaruh beberapa lembar uang diatas meja.

"Aku akan ke House of Card sekarang, Jungkook!" Jimin mencari kunci mobilnya, kemudian disusul Jungkook.

"Kenapa kau panik? Hey, aku ikut." Jungkook bertanya-tanya, ada masalah apa sebenarnya disana? Yoongi? Bukankah dia nama pacar Jimin. Lalu House of Card? Itu bukankah tempat Taehyung bekerja?

"Aku harus cepat sebelum pacarku melukai seseorang disana!"

.

.

.

.

Taehyung heran dengan pelanggannya malam ini.

Taehyung tidak bisa berkata tidak ketika Seokjin-Hyung menyuruhnya bersiap pukul delapan malam. Dan disinilah dia sekarang, berhadapan dengan pelanggannya yang sedari tadi menatapnya tajam. Taehyung berulang kali membuka obrolan, tapi laki-laki dihadapnnya hanya menjawab dengan dengusan tanpa minat dan suara malas.

Kalau boleh jujur, laki-laki dihadapannya ini cukup manis, tapi karena mimiknya saja dia jadi terlihat galak. Rambutnya hitam, sangat cocok dengan kulit seputih susunya. Dan Taehyung merasa seperti pernah melihat orang ini disuatu tempat.

Oke, dia mulai lagi.

Menatap Taehyung dengan tajam dari ujung rambut hingga ujung kaki.

"Katakan, kau menemaniku disini tidak mungkin hanya untuk duduk dan mengobrol saja bukan?" Suara Yoongi menyadarkan Taehyung dalam lamunannya.

"Eh?" Taehyung mengerjap.

"Lakukan sesuatu."

"Yoongi-ssi," Begitu Taehyung baru saja mengenalnya. "—ingin aku mendominasi atau aku ada dibawahmu?" Yoongi melirik cawan kecil yang Taehyung isi dengan soju.

Dan Taehyung takjub ketika Yoongi merampas botol soju ditangannya tanpa mempedulikan cawan yang diserahkannya. Yoongi meminum soju itu langsung hingga tandas. Mendorong Taehyung dengan kasar hingga Taehyung terlentang diatas tatami.

Taehyung meringis merasakan sakit pada kepalanya yang terantuk cukup keras. Pening yang dirasakannya membuat matanya kabur saat Yoongi dengan sigap menindihnya.

Yoongi menekan dagu Taehyung hingga bibirnya terkuak dan menuangkan soju dari botol lain ke mulut Taehyung. Tatapan Yoongi berbahaya, wajahnya sudah sedikit memerah dan Taehyung dibawahnya berusaha menelan soju yang mengalir di kerongkongan tanpa tersedak.

"Kuakui kau... cukup cantik, dan manis, eh?"

Taehyung menyerngit, dia mencoba bergerak tapi gemerisik hakama nya mengganggu Yoongi, sehingga Yoongi menekan tubuhnya sebagai peringatan.

Taehyung memilih untuk tidak menunjukan penolakan, saat wajah Yoongi sudah sejajar dengan wajahnya. Dipayungi bayangan gelap badan Yoongi, Taehyung dapat merasakan jemari Yoongi menyentuh dan agak menekan beberapa bagian wajahnya.

Dahi, kelopak mata, pipi, rahang, leher, lalu bibirnya.

Taehyung menebak apakah Yoongi akan menciumnya.

"Bagaimana rasanya, dicium Park Jimin, hm? Bagaimana rasanya tidur dengannya?"

Jimin? Ah! Laki-laki ini pernah bersama Jimin saat itu di minimarket. Taehyung mulai merasa ada yang tidak beres dari tatapan berbahaya Yoongi.

"Yoongi-ssi, apakah—"

"Akan kubantu menghilangkan bekas pakainya." Yoongi terkekeh kecil, wajahnya semakin bersemu merah, dan Taehyung yakin pria kulit putih susu ini sudah mabuk. "Jimin itu, suka sekali menciumi wajah." Yoongi kembali meraba wajah Taehyung, dan paling lama di bibirnya.

Taehyung meronta saat dia dengan jelas melihat Yoongi mengeluarkan pisau lipat dari sakunya. Tangannya dicekal ketika Yoongi mencoba memperlebar sobekannya pada hakama Taehyung.

"Yoongi-ssi!" Taehyung kalah cepat, dan Yoongi dengan tubuh yang lebih mungil nyatanya lebih kuat dari perkiraannya.

"Kembalikan Jimin, padaku."

Logam dingin menempel pada rahang Taehyung, siap mengoyak.

"Yoongi-ssi!"

.

.

.

.

.

TBC


.

Its been a long long ass time. Im so so so sorry for it.

**blue screen**

O-Hello I'm comeback :D

adakah yang masih bersama saya disini?

Anyway, #HappyPacarnyaJungkookDay #VeautifulDay #WePurpleYouTaehyung maaf ya cintanya JK, aku telat ngasih birthday fic ini ke kamuu (yaudah iya)

Sejujurnya sempet kecewa banget sama diri sendiri yang susah banget produktif dan susah berhasil untuk menghidupkan satu cerita. Oh-god-why. Aku gabisa nyalahin kesibukan kerja juga sih mengingat petuah dari kak Arrate di WP (ehehe apa sih random).

Tapi disamping itu semua, aku kembali hype lagi ngebacain review yang ternyata masih nunggu cerita ini, dan how sweet, aku terharuu bacainnya TTTTATTTT. Semoga chapter ini engga mengecewakan kalian ya! soalnya aku bener-bener engga pd gitu, merasa too much, terlalu bertele-tele, dan dipaksakan gitu **gross sobbing**

Sampe ketemu lagi, don't forget to hit me on review box jadi aku bisa tahu apa-apa aja yang kurang di cerita ini dan bisa bagusin lagi kedepannya. Aku ngga gigit kok. Masukan sangat kuterima, and I promise, aku engga akan meninggalkan kalian selama itu lagi. Love sign.

.

.

.

[ Sapa aku disini Tweet : sugarunning95]

[ Sapa aku disini IG : nuranindah]