étranger © heureuxeum

han seungwoo × lee jinhyuk [seunghyuk]

romance-drama

rate-T

[chapter one]

...

pintu dibuka dengan derit samar. seungwoo mengamati ruangan yang akan ia tempati bersama si lee itu malam ini. pria dua puluh delapan tahun itu menoleh dan mendapati pria di belakangnya sibuk mengatur koper, meletakkannya bersandingan dengan milik seungwoo.

"kita belum berkenalan, namaku seungwoo. han seungwoo." "lee jinhyuk." setelah membalas jabat tangan seungwoo, jinhyuk menatap ruang kamar sederhana itu. "pantas saja nona kwon mengatakan kamarnya sedikit sukit untuk digunakan berbagi, ternyata hanya ada satu ranjang." seungwoo mengangguk setuju saat menatap ranjang double bed itu.

"tapi tak masalah bukan?" jinhyuk mengangguk sebagai balasan. "lagipula aku juga takkan bisa tidur." jinhyuk bersuara samar, seungwoo bahkan tak sempat mendengar kalimatnya. pria lee itu lantas bergerak menuju balkon kecil, mengeluarkan sekotak rokok dan berniat menyalakannya saat seungwoo mengekor.

"mau api?" jinhyuk menawarkan pematiknya pada seungwoo yang menggeleng. "aku sedang tak berminat merokok." jinhyuk mengangkat bahu acuh, menyesap lamat-lamat lintingan tembakaunya yang sudah menyala. kepulan asap tipis ia keluarkan dari belah bibirnya. dibiarkannya terbang searah angin, menjauh dari seungwoo.

"kau ada urusan apa ke paris?" jinhyuk menghembuskan asap rokoknya sekali lagi sebelum menjawab pertanyaan seungwoo. "datang ke pernikahan mantan kekasihku. kau sendiri?" seungwoo menoleh dengan mata teebuka lebar, jinhyuk terkekeh. "ah, aku ... urusan pekerjaan." jinhyuk mengangguk sekilas sebelum memberi komentar. "pakaianmu lebih terlihat seperti kau akan berlibur dibanding bekerja." seungwoo tertawa pelan tanpa menjawab dan jinhyuk pun tak berniat memperpanjang percakapan.

rokok di tangan jinhyuk sudah mati dan berpindah menuju tempat sampah. pria itu masih menyandarkan tubuhnya pada pagar balkon, membiarkan angin mengusak rambutnya sambil sesekali melirik seungwoo. bisa jinhyuk lihat surai yang sebelumnya hampir menutup mata itu berkibar. "jangan menatapku begitu, hati-hati kau bisa jatuh cinta." jinhyuk terkekeh. "memang apa salahnya jatuh cinta padamu?" seungwoo menoleh, menatap pongah pria di hadapannya. "aku ini ahlinya mematahkan hati. kau harus waspada." jinhyuk tertawa melihat raut sombong main-main yang tercetak jelas di paras seungwoo. "bukan masalah, aku juga sudah terbiasa patah hati."

mendadak seungwoo menyesal dengan ucapannya. tapi jinhyuk tampak tak peduli. pria itu justru menerawang langit sore. seungwoo diam di tempatnya, kini giliran ia yang mengamati jinhyuk hingga pria itu menoleh. "kau mau mandi?" seungwoo tergagap dengan pertanyaan jinhyuk, melihat seungwoo yang panik jinhyuk buru-buru meralat ucapannya. "maksudku apa kau akan mandi? jika tidak aku mau mandi." "oh, kau mandi saja duluan." jinhyuk mengangguk lantas masuk kembali ke dalam kamar. meninggalkan seungwoo yang memegang dada kirinya.

"astaga, jantungku hampir berhenti rasanya."

...

seungwoo tengah memainkan ponselnya sambil merebahkan diri di atas ranjang saat pintu kamar mandi terbuka. jinhyuk muncul dengan pakaian santainya, juga rambut yang setengah basah. seungwoo melirik sebentar lantas kembali sibuk dengan pesan pada rekan kerjanya mengenai keterlambatannya tiba di paris. beruntung pekerjaan yang harus ia lakukan baru akan dimulai lusa.

"kau tak mandi?" "sebentar, aku masih menghubungi temanku di paris." jinhyuk hanya mengangguk sebelum mendudukkan diri si kursi kayu dekat jendela. pria itu lebih sibuk mengusak rambutnya dengan handuk dibanding mengindahkan kehadiran seungwoo. tak lama, pria yang berada di atas ranjang bangkit, membuka koper demi pakaian santai dan melenggang menuju kamar mandi.

seungwoo selesai dengan mandinya dan mendapati kamar yang ia tempati bersama jinhyuk kosong. ia mengangkat bahu acuh, lantas kembali melempar tubuhnya ke sofa di dekat ranjang, memainkan beberapa permainan yang tersimpan dalam ponselnya. lama waktu berselang hingga terdengar suara pintu terbuka. jinhyuk datang dan segera melempar diri ke ranjang, tepat di sisi seungwoo.

pertanyaan sederhana seperti 'dari mana?' hampir seungwoo lontarkan, tapi buru-buru ia telan kembali. tak ada gunanya menjadi dekat dengan jinhyuk. mereka hanya orang asing yang tak sengaja terjebak di satu kamar hotel karena keteledoran masing-masing.

"seungwoo." pria itu menoleh pada jinhyuk yang menatapnya. "kau lapar tidak?" "jika kau bertanya begitu aku jadi lapar tiba-tiba." jinhyuk segera bangkit dan menyambar ponsel yang sebelumnya ia lempar ke ranjang. "aku pesan jajangmyeon, kau mau?" seungwoo mengangguk saja, lagipula wajah cerah jinhyuk tak bisa ditolak.

dua puluh menit keduanya menunggu dan akhirnya pintu kamar mereka diketuk. jinhyuk berlari dengan penuh semangat. setelah bercakap sebentar dengan sang pengantar makanan, jinhyuk berbalik dan memamerkan senyum cerah pada seungwoo. pria yang masih duduk di atas ranjang itu tak bisa menahan tawa pelan.

keduanya memilih makan sambil berbincang. "kenapa bisa terlambat? bukankah kau harusnya teliti untuk urusan pekerjaan?" seungwoo meneguk air mineralnya sebelum menjawab. "ini pekerjaan dadakan, tiket sudah dipesan tapi aku baru mendapat kabar siang tadi. kukira waktunya cukup, tapi ternyata aku terlambat lima menit." jinhyuk tertawa mendengar penjabaran seungwoo. "kau sendiri kenapa terlambat?" "aku ... sebenarnya tak berniat untuk datang. tapi mengingat ini mungkin terakhir kalinya aku bertemu dengan mantan kekasihku, aku memilih berangkat."

seungwoo menatap lekat jinhyuk, tapi pria itu justru tertawa. "tak usah mengasihaniku, aku baik-baik saja." jinhyuk tersenyum, tapi seungwoo tetap merasa bersalah. setelahnya mereka melanjutkan makan malam itu dalam hening.

menjelang pukul sembilan malam seungwoo sudah merebahkan diri. jinhyuk ada di balkon, menikmati angin malam. seungwoo menatap langit-langit kamarnya, hingga akhirnya jatuh tertidur. seungwoo tak pernah tahu, tak lebih dari sepuluh menit setelah napasnya teratur, jinhyuk masuk dan menatapnya dalam diam sebelum keluar dari kamar.

...

tepukan pelan di pipi membuat seungwoo terbangun. di hadapannya jinhyuk sudah rapi, seolah siap untuk pergi. dua detik berselang, seungwoo segera bangkit dengan mata terbelalak. "ini jam berapa?!" jinhyuk tertawa sebelum menunjukkan jam di ponselnya. "jam dua kurang. mandilah, ayo kita pergi ke bandara bersama." seungwoo mengangguk dan segera melesat menuju kamar mandi.

menjelang pukul setengah tiga keduanya sudah berada di bandara, bersiap untuk terbang menuju paris. seungwoo dan jinhyuk masih akan bersama hingga keduanya sampai di paris nanti, masih ada waktu empat belas jam. dan setelahnya mereka akan berpisah. kembali menjadi orang asing.

begitu sampai di bandara charles de gaulle, seungwoo menatap jinhyuk. pria itu mengulurkan tangan untuk saling berjabatan. "terima kasih untuk waktu yang singkat ini. dan kurasa sudah waktunya untuk mengucap selamat tinggal?" jinhyuk membalas jabat tangan itu lantas mengangguk dan berujar pelan.

"ya, selamat tinggal."

[tbc]