"Kunikida-san!!" Atsushi berusaha mengatur napasnya. Ia habis lari dari kamarnya menuju kantor Agensi Detektif secepat yang ia bisa. Beruntungnya dia Kunikida sudah ada di sana.

"Ada apa, Atsushi? Pagi-pagi sudah ribut. Kalau Dazai bikin ulah lagi, jitak saja kepalanya." ujar Kunikida sadis.

"Kyo-Kyouka-chan menghilang!"

Grow Up

Pair: Nakajima Atsushi x Izumi Kyouka (mungkin bakal ada beberapa pair lain yang nyelip, terutama Soukoku)

Disclaimer: Bungou Stray Dogs (c) Asagiri Kafka n Harukawa35

Warning: OOC, Gaje, dan kawan-kawan

Genre: Romance, Hurt/Comfort

Happy Reading~

Chapter 2

"Sebentar, apa maksudnya hilang?" Kunikida mengulang kata terakhir yang diucapkan Atsushi.

"Hilang, Kunikida-san, hilaaangg!" ulang Atsushi lagi.

"Nada bicaramu jangan seperti cewek yang kehilangan jerawat setelah mencoba pelembab baru gitu dong! Iya, aku tahu hilang. Tapi apanya yang hilang?"

"Kyouka-chan sendiri!"

"Ada apa ini? Pagi-pagi sudah ramai." Yosano Akiko memasuki ruangan, kemudian menguap.

"Yosano-sensei, Kyouka-chan menghilang!"

Dua puluh menit kemudian, seluruh anggota dan staf dari Agensi Detektif sudah berkumpul dan berusaha menenangkan Atsushi yang panik.

"Jangan terlalu panik begitu. Coba ceritakan dulu, Atsushi-kun." ujar Dazai.

"Ah, jadi begini. Semalam sepulangnya aku dari kerjaan, Kyouka-chan menyambutku di kamar seperti biasa. Setelah itu kami bercakap-cakap ringan dan tiba-tiba saja dia minta izin keluar. Kukira dia hanya ingin pergi ke minimarket atau apa, jadi aku membiarkannya sendiri. Tapi setelah itu, aku diserang rasa kantuk yang berat mungkin karena beban pekerjaan kemarin, jadi aku langsung tertidur pulas. Bangun-bangun, aku menyadari bahwa Kyouka-chan sudah tidak ada, tidak, atau tepatnya ia tidak kembali dari semalam."

Seluruhnya mendengarkan cerita Atsushi dengan saksama.

"Atsushi-kun, kamu ingat apa yang kamu katakan padanya tepat sebelum Kyouka-chan izin keluar?"

"Eh? Apa ya? Kalau tidak salah aku mengatakan bahwa aku menganggapnya saudara yang sangat kusayang, seperti adik sendiri."

Sepertinya dari statement Atsushi barusan saja, ada beberapa orang yang langsung mengerti apa masalahnya, termasuk Dazai.

"Atsushi-kun, itu artinya kamu yang tidak peka."

"Hah?"

"Ohh, jadi masalah tentang itu toh." Naomi manggut-manggut. "Ya ampun, tidak kusangka Kyouka-chan sampai kabur begitu."

"Kyouka-chan kabur? Naomi-san, kamu tahu sesuatu?!"

Pandangan Atsushi beralih pada Naomi.

"Ah ya, kemarin Kyouka-chan terlihat galau, dan juga menanyakan sesuatu padaku. Dan aku memberinya sedikit pendapatku lalu mengatakan padanya kalau aku bisa membantunya kalau ia ingin."

"Galau? Soal apa? Padahal kemarin-kemarinnya semua berjalan seperti biasa. Kami bahkan mengobrol seperti biasa semalam."

"Kyouka akhirnya dalam masa-masa sulit ya. Aku paham perasaannya." Yosano mengangguk singkat. "Tapi kalau soal posisi Kyouka, seharusnya kamu tidak perlu khawatir, Atsushi. Kamu tinggal minta tolong Rampo-san saja kan."

Sebuah lampu menyala dalam kepala Atsushi. Benar juga. Kenapa ia tidak kepikiran sebelumnya?

"Rampo-san! Tolong beritahu aku lokasi Kyouka-chan sekarang!" Atsushi beralih ke Rampo, yang sedang memakan manjuunya.

"Ehh? Aku sih tidak masalah. Tapi dalam situasi seperti yang kudengar tadi, gadis itu tidak akan mau kembali kalau kamu yang menjemputnya, Atsushi-kun. Dia yang sekarang, akan berlari menjauh darimu begitu kamu menampakkan diri di hadapannya." Rampo memaparkan situasinya.

"Ke-Kenapa? Tidak mungkin Kyouka-chan akan menghindariku."

"Apa yang membuatmu berpikir begitu, Atsushi-kun?" sahut Dazai.

"Ka-Karena ... kami kan sangat dekat. Dia bahkan selalu menempel padaku. Kami selalu bersama, tidak mungkin dia akan ..."

"Menghindar? Naif sekali pemikiranmu, Atsushi-kun." ujar Dazai lagi. "Pemikiran perempuan tidak sesederhana laki-laki. Karena mereka berpikir menggunakan perasaan, tidak dengan logika seperti laki-laki."

Atsushi terdiam. Sebenarnya apa yang salah? Kyouka tidak akan pernah pergi darinya kecuali ada tugas penting yang harus ia selesaikan.

"Jadi ... apa yang harus kulakukan?" ucap Atsushi putus asa."Kalau Kyouka-chan saja seperti perkataan Rampo-san dan Dazai-san barusan, tidak mau menemuiku, apa yang harus kulakukan?"

Para anggota dan staf Agensi Detektif saling berpandangan satu sama lain, akhirnya Dazai memutuskan untuk turun tangan.

"Pertama, Atsushi-kun. Cari tahulah apa yang sebenarnya kamu inginkan. Dari lubuk hatimu yang paling dalam, tanyakanlah pada dirimu sendiri apa yang kamu mengerti soal Kyouka-chan."

"Apa ... yang sebenarnya kuinginkan? Itu sudah jelas kan. Aku ingin membuat Kyouka-chan kembali."

"Alasannya?"

"Eh?"

"Alasan kenapa kamu ingin Kyouka-chan kembali. Sewaktu perseteruan dengan Guild, kamu juga sangat mengkhawatirkannya, tidak rela kalau ia menjadi korban. Tapi itu semua karena apa? Untuk apa? Hanya sekadar rasa kasihan?"

Kali ini Atsushi benar-benar terdiam.

Benar. Selama ini ia menyelamatkan Kyouka dari kegelapan, tapi untuk apa? Karena tatapannya perlu dikasihani? Matanya yang gelap tanpa cahaya pada saat itu, memegang telepon genggam yang memanggil Yasha Shirayuki yang menebasnya tanpa ampun. Kata-kata yang keluar dari mulut kecilnya tanpa emosi, seperti mesin pembunuh.

"Aku menyelamatkannya, aku mengkhawatirkannya ..."

Sewaktu mata Kyouka perlahan-lahan mulai terisi dengan cahaya saat kencan bersamanya, ia merasa lega. Juga sedikit senang, ia rasa.

"..itu semua karena..."

Kyouka mengatakan bahwa dengan bersamanya ia tidak ragu. Kyouka mempercayainya, lebih dari siapapun.

"...aku menganggapnya berarti untukku."

Senyumannya yang hanya ditampakkan pada Atsushi setelah ia berhasil kembali dengan selamat dari tabrakan pesawat dengan Moby Dick, senyumnya saat menyambut Atsushi setelah mengalahkan Shibusawa, senyumannya saat memakan crepe yang dibelikan Atsushi untuknya ...

Semua itu ...

"Ia berarti bagiku."

"...sebagai?"

"Eh?"

"Kamu mau bilang kalau dia berarti untukmu sebagai seorang adik kan?"

"..."

"Tapi bagaimana kalau pihak yang kamu maksud tidak berpikir demikian?"

"...bagaimana kalau Kyouka-chan yang justru tidak menganggapmu hanya sekadar seorang kakak?"

(_)

Kyouka membuka matanya. Ia tidak begitu ingat rincian kejadian semalam. Yang ia ingat hanya ia yang menangis berlarut-larut di dermaga dengan sinar bulan yang menemaninya.

Ia kaget saat menemukan dirinya tidur di sofa yang lumayan mewah. Di tempat yang sepertinya sangat dikenalinya.

"Oh, kamu sudah bangun?" sebuah suara menegurnya.

"Kamu .." ucap Kyouka, kaget.

"Ah, aku diminta Ane-san untuk menjagamu. Daerah di sekitar sini sedang tidak aman dengan adanya pemilik kemampuan misterius. Bawahannya sedang melakukan penyelidikan."

Orang itu, salah satu eksekutif Port Mafia, Nakahara Chuuya.

"Dan kenapa anggota Agensi Detektif termuda sepertimu bisa berkeliaran malam-malam? Bukankah kamu punya bodyguard? Si manusia harimau itu?"

Mendengar ciri-ciri Atsushi disebut, tubuh Kyouka menegang. Mendadak ia teringat dengan tangisannya semalam. Sialnya, ternyata ia masih cukup sedih untuk mengingat hal itu, sehingga tidak sadar air matanya kembali mengalir.

"Oi, oi, kenapa mendadak menangis begitu?" Chuuya kaget.

Tapi Kyouka tidak menjawab. Lagipula ini sama sekali tidak ada hubungannya dengannya maupun Port Mafia juga Agensi Detektif. Ini hanya masalah pribadinya.

Sejujurnya Kyouka sendiri membenci fakta baru bahwa ia masih sangat rapuh soal perasaan antar manusia, benci dengan kenyataan bahwa ia yang sudah membunuh 35 orang bisa menangis dengan begitu mudahnya oleh perkataan yang mungkin dianggap pelontarnya adalah hal sepele.

Tapi tidak bisa. Hati kecilnya tidak bisa menghindar atau menutup-nutupi rasa sedih itu. Terlebih ini pertama kali ia merasakan perasaan seperti itu.

"Aku tidak begitu mengerti tapi setidaknya hapuslah air matamu." Chuuya melempar sekotak kecil tisu. "Kalau Ane-san masuk dan melihatmu menangis, ia bisa membunuhku."

Kyouka perlahan menarik secarik tisu, mengusap air matanya, berusaha menghentikannya secara paksa, setidaknya untuk sementara ini. Saat itu pula, pintu kamar terbuka. Ozaki Kouyou masuk, raut wajahnya cemas.

"Kyouka! Ya ampun, matamu merah, kamu menangis lagi? Chuuya, apa yang sudah kamu perbuat?!" Kouyou menatap Chuuya dengan pandangan mengancam.

Chuuya menggeleng kuat. "Bukan aku, Ane-san! Gadis kecil itu tiba-tiba menangis sendiri saat baru sadar. Aku tidak melakukan apa pun, sumpah!"

Kouyou menatap sengit, kemudian menghela napas. Ia mempercayai Chuuya.

"Ada apa, Kyouka? Semalam bawahanku menemukanmu tidak sadarkan diri di dermaga. Sedang apa kamu sendirian di sana? Apa Agensi Detektif itu yang mengirimmu kesana? Kalau iya, aku tidak bisa maafkan." Kouyou mengeratkan pegangan pada pangkal payungnya.

Kyouka menggeleng lemah. Bukan Agensi Detektif yang menyuruhnya kesana, melainkan ia kesana atas kemauannya sendiri.

"Sebenarnya aku ingin mencegahmu untuk kembali ke Agensi Detektif itu, kalau kamu mau, Kyouka." Kouyou menggigit bibirnya pelan. "Aku bisa membujuk Mori-san untuk memasukkanmu kembali ke Port Mafia. Seperti yang sudah kukatakan, kamu bisa menjadi dirimu yang sesungguhnya di sini. Agensi Detektif seperti itu tidak cocok untukmu."

Kyouka meremas yukatanya, kemudian menggeleng. Ia tidak mau kembali pada hari-harinya di Port Mafia, dimana ia selalu mendapat tugas untuk membunuh orang yang sedikit demi sedikit juga membunuh hatinya.

Kouyou menghela napas lagi.

"Baiklah, aku tidak bisa memaksamu lagi. Setidaknya tinggallah di sini sampai keadaan lebih aman. Di luar sedang berkeliaran pengguna kemampuan misterius, dia berbahaya. Aku akan meneruskan pekerjaanku. Selamat beristirahat, Kyouka. Chuuya, kamu tetap di sampingnya. Jaga dia." Kouyou pun meninggalkan ruangan.

"Eh? Gadis seperti ini akan baik-baik saja kok kalau sendirian. Dia juga punya kemampuan khusus kan?"

Kyouka setuju pada penyataan Chuuya. Dia tidak butuh dilindungi, setidaknya untuk saat ini. Terlebih dia ingin sendiri.

"Tidak boleh. Tidakkah kamu tahu betapa berbahayanya orang itu? Informasi yang kita miliki tentangnya sangat sedikit. Kita bahkan tidak tahu kemampuannya apa. Dengan info seminim itu menjadikannya tidak diketahui dan menjadi ancaman. Tetap di tempatmu, Chuuya. Aku akan mengabarimu kalau situasinya sudah lebih aman dan Kyouka sudah bisa kembali ke tempatnya." Kali ini Kouyou benar-benar pergi.

"Yang benar saja." Chuuya menggaruk kepalanya yang tidak tertutup topi.

"Aku baik-baik saja." ucap Kyouka tiba-tiba. "Tidak apa kalau kamu mau pergi meninggalkanku."

"Yah, aku juga berpikir begitu. Tapi Ane-san yang mengeluarkan perintah seperti itu, apalagi sambil marah. Tidak mungkin untuk kubantah." Chuuya pun duduk di sofa lain.

Keheningan tinggal untuk waktu yang lama, sampai sebuah suara aneh menggema dalam ruangan itu.

"Apa itu?!" Chuuya bangkit, menatap sekelilingnya. Kyouka juga melakukan hal yang sama.

Suara itu, entah datang dari mana, semakin detik semakin kencang. Dan sampai akhirnya keduanya tahu bahwa suara itu datang dari pipa bawah tanah yang ujungnya berakhir di ruangan yang mereka tempati.

Braaakkk!!

Sebuah sosok berjubah hitam, melompat keluar dari lubang pipa. Berdiri di sana, dan sebelum Chuuya maupun Kyouka sempat bereaksi, sosok itu sudah mengarahkan kedua telunjuknya pada mereka. Dan dalam sekejap saja, sosok itu membisikkan kata "Switch", sebuah cahaya terang melesat keluar dari kedua telunjuknya, menghantam Chuuya dan Kyouka sekaligus.

"Selamat menikmati tubuh baru kalian." Sosok itu menyeringai, kemudian kembali ke dalam pipa.

Kyouka mengerjap-ngerjapkan matanya. Tidak sakit. Tapi kenapa rasanya aneh?

Kemudian Kyouka menatap tangannya, entah kenapa lebih besar dari sebelumnya? Lalu ia juga menatap tubuhnya. Yang tadinya rata sekarang berisi. Buru-buru Kyouka mencari cermin dalam ruangan itu, dan menemukan cermin berukuran satu badan di sudut ruangan. Di sana Kyouka memeriksa apa yang terjadi dengan tubuhnya.

Dan betapa terkejutnya Kyouka bahwa yang didapatinya bukanlah ia yang dulu, melainkan seorang gadis dewasa yang cantik berambut panjang, umurnya mungkin sekitar 17 atau 18 tahun, dengan bulu mata lentik, tubuh kurus, dan kaki yang jenjang.

Kyouka memegang pipinya kemudian mencubitnya, memastikan bahwa ia tidak sedang bermimpi. Dan kenyataannya, tidak. Sosok gadis cantik yang dilihatnya di cermin saat ini adalah dirinya sendiri.

"Eeh?!"

~To be continued~

Yaa yaa, ternyata Nii menyukai fanfic ini lebih dari yang Nii kira, jadi Nii bisa menulisnya lebih cepat dan semangat. Andai saja fanfic-fanfic lainnya juga bisa begini, hiks..

Oke, balik ke plotnya! Jadi disini inti dari fanfic Grow Up, dimana Kyouka berubah menjadi dirinya yang lebih dewasa, seumuran atau mungkin dibawah Atsushi satu tahun. Jadi seharusnya nggak ada masalah kalau mau ngeceng kan ya, hehehe.. /plak

Yosh, itu aja. Nantikan chapter berikutnya yaa XDD