Didalam sebuah bangunan tak terpakai dan tak dikunjungi satupun orang, para pria berpakaian serba hitam nampak berbaris dengan rapih menghadap tuan mereka yang berdiri angkuh dengan pengawal setia di samping kanan dan kirinya.

"Kalian siap menerima perintahku?" Tanya pria tersebut.

"Siap, Tuan."

Senyuman menakutkan terukir diwajahnya mendengar jawaban serentak dari anak buah yang ia sewa. Ilnam telah membayar mahal semua orang-orang ini untuk membunuh Kris. Ia tidak boleh kalah setelah mengibarkan bendera perang terlebih dahulu. Ia harus mengakhirinya dengan kemenangan yang bersih tanpa terbawa sedikitpun namanya dalam daftar orang yang dicurigai nanti.

"Kalian hanya perlu menghabisi keluarga itu."

Matanya melirik satu persatu orang suruhannya. Menatap mereka semua dengan rendah, karena itu sebaiknya mereka semua mematuhi perintah darinya. Jika tidak, maka hidup mereka akan berakhir sia-sia.

Ilnam berdeham dan sedikit memelankan suaranya namun tetap membuatnya terdengar tegas. Mencoba membuat semua orang hanya terfokus padanya.

"Tapi yang pertama kali harus kalian bunuh, adalah Park Chanyeol."

Mudah bagi Ilnam. Ia tahu kelemahan Kris adalah adiknya sendiri. Terlihat jelas dari bagaimana cara Kris melindungi Chanyeol. Ilnam tahu semuanya. Ia tahu kejadian 10 tahun yang lalu dimana kedua saudara kandung itu terlibat. Namun saat itu Ilnam hanya menonton dan tak melakukan apapun. Sampai akhirnya, Kris mengambil alih perusahaan keluarga Park dan membuat gebrakan besar pada industri saat itu.

Ia merasa tersaingi tentunya. Dan alasan ia ingin menghancurkan Kris sebenarnya bukan hanya itu. Jika saja bukan karena dendam pribadi, Ilnam tak akan mungkin mencoba membunuh seseorang dengan seberani ini.

Bukan sekarang saja, tetapi sudah sejak dulu Ilnam berusaha menghancurkan Kris. Namun sayangnya ia selalu gagal. Semua dikarenakan pengawal Kris yang tak dapat dihitung dengan jari. Begitu pula dengan penjagaan terhadap pria tersebut yang sangatlah ketat. Akan sulit untuk mencelakainya sedikit saja.

Tapi sepertinya sekarang tidak lagi.

Ilnam beralih pada seorang pria yang berumur tak jauh beda dengannya. Pria itu berbaris dipaling ujung dari orang-orang suruhan Ilnam. Pria itu adalah teman lamanya.

Ia lantas menepuk kedua bahu pria tersebut. "Kau harus membalaskan dendam kita."

Kali ini adalah saatnya seluruh kemenangan berpihak pada Ilnam. Karena, ia telah menemukan teman lamanya ini. Seseorang yang bisa membantu dirinya untuk mengalahkan Kris.

Karena itu, Ilnam ingin menikmati kesengsaraan Kris saat melihat adik kandungnya ditembak mati tepat dihadapannya. Ia menginginkan hal itu terjadi. Ia ingin pria itu merasakan bagaimana perasaan orang lain ketika mengetahui nyawa orang terdekatnya hilang karena sebuah alasan konyol.


DO NOT ENTER ! (CHANBAEK)

BOYSLOVE/YAOI

Main Cast :

Byun Baekhyun

Park Chanyeol

Summary :

Jangan masuk ke dalam sana! Tidak ada yang diperbolehkan masuk ke dalam sana! Larangan tersebut telah diketahui oleh setiap penghuni rumah. Namun Byun Baekhyun, laki-laki yang mendadak menjadi seorang penyusup telah melanggarnya.

~Keseluruhan cerita berasal dari imajinasiku sendiri~

.

.

BB922016


Do Not Enter ! : Chapter 7

Seharusnya setelah pernyataan cinta itu, hubungan mereka berjalan kearah yang lebih serius. Namun entah mengapa mereka justru terlihat canggung. Lebih tepatnya Baekhyun yang merasa seperti itu. Sementara Chanyeol justru terlihat datar dan biasa saja. Seperti biasanya.

"Kau menjauhiku." Tuduh Chanyeol.

Lelaki dihadapan Chanyeol lantas memejamkan matanya dengan frustasi. Ia kebingungan harus berbuat apa. Ia tak bermaksud sama sekali untuk menggantung pernyataan cinta Chanyeol dan malah bergerak perlahan untuk memberi jarak diantara mereka dikemudian hari.

Tentu saja ia senang karena perasaannya terbalas. Ia sangat senang karena Chanyeol mengatakan kata cinta yang membuat hatinya berbunga-bunga. Namun ia butuh waktu untuk berpikir.

Memang ini bukan pertama kalinya ia berpacaran. Tetapi untuk pertama kali dalam hidupnya, ia akan menjalin hubungan dengan seseorang yang 'berbeda'. Dan timbul pertanyaan-pertanyaan konyol dalam pikirannya yang terus mengganggu.

'Apa akan baik-baik saja jika aku menyukai seorang psikopat?'

'Bagaimana rasanya berpacaran dengan seorang psikopat yang terkenal kejam?'

'Apa dia akan melukaiku jika aku berbuat salah?'

Tidak jauh dari semua itu, adalah pertanyaan yang membuat Baekhyun takut untuk memulai hubungan mereka.

"Tidak. Bukan begitu." Balas Baekhyun dengan raut wajah bersalah.

"Kenapa? Apa aku membuatmu bingung lagi?"

Lagipula masih ada satu pertanyaan di dalam kepala Baekhyun. Pertanyaan yang terus mengganggu pikirannya lebih dari apapun.

Ia masih ingat saat Chanyeol mengatakan tentang 10 tahun yang lalu dalam pernyataan cinta lelaki itu padanya. Baekhyun tak mengerti mengapa Chanyeol berbicara seperti mereka pernah bertemu sebelumnya. Karena seingat Baekhyun, ia belum pernah bertemu dengan Chanyeol selain di rumah ini.

"Sebenarnya iya." Baekhyun mengangguk pelan. "Saat itu kau mengatakan tentang 10 tahun yang lalu. Apa mungkin.. kita pernah bertemu sebelumnya?"

Chanyeol terdiam untuk beberapa saat. Ia memandang wajah Baekhyun dengan perasaan yang bercampur aduk. "Jadi, kau kebingungan karena itu?" Sebelum akhirnya senyuman pahit terukir diwajah Chanyeol saat ia menyadari bahwa Baekhyun tidak pernah mengingatnya sama sekali.

Bahkan setelah ia memberi sedikit petunjuk tentang masa lalu mereka, laki-laki itu tidak ingat. Chanyeol tidak pernah tersimpan dalam memori lelaki mungil itu.

Namun jauh berbeda dengan rasa nyeri yang muncul di dalam hati, Chanyeol kembali memasang wajah datar andalannya. Dan berkata, "Mari kita bertemu di taman belakang lusa nanti. Tepat di malam natal."

Bukan sebuah jawaban yang Baekhyun dapatkan, membuat lelaki mungil itu terlihat kebingungan tak mengerti mengapa Chanyeol mengabaikan pertanyaannya. "Aku.."

"Pada hari itu, aku akan menjelaskan semuanya." Potong Chanyeol.

Lelaki itu menatap Baekhyun sekilas dan setelahnya berbalik pergi.

Baekhyun tak mengerti dengan perubahan sikap Chanyeol. Apa ia telah mengucapkan sesuatu yang salah? Apa ia membuat lelaki itu kesal? Belum pernah ia mendapati Chanyeol bersikap acuh padanya seperti tadi.

Kini, Baekhyun jadi merasa jauh lebih bersalah. Tapi ia sendiri penasaran mengenai 10 tahun lalu mereka.


Baekhyun menangkup pipinya sibuk melamun. Berpikir tentang Chanyeol yang mendadak berubah sikapnya. Siapa sangka jika setelah hari itu, Chanyeol jadi menjauhinya dalam segala hal. Lelaki itu bahkan tak perlu diberitahu tentang sarapan karena ia telah berada di ruang makan sebelum waktunya. Segala yang biasa Baekhyun lakukanpun kini menjadi tak ada gunanya.

Sementara Yeri yang berada disebelahnya nampak asyik memeluk sebuah syal abu-abu dan mengeluskan pipinya pada syal tersebut dengan senyuman teramat manis hingga dapat menakutkan siapapun yang melihatnya saat ini.

Nyonya Kim masuk ke dalam kamar dan membuat kedua orang itu menoleh secara bersamaan.

"Apa yang sedang kalian lakukan?" Tanya Nyonya Kim seraya mendudukkan dirinya disebuah kursi untuk mengistirahatkan kakinya yang sangat lelah. Ia memperhatikan kedua orang tersebut yang memiliki perbedaan raut wajah sangat jelas.

"Tidak ada." Mereka menjawab serempak.

Nyonya Kim jadi merasa bahwa ia seperti memiliki dua orang cucu kembar saat ini. Bukan hanya karena wajah mereka yang terlihat sama dalam sekilas, namun kedua anak laki dan perempuan itu memiliki tinggi yang tak jauh beda. Mereka adalah perpaduan anak-anak lucu bagi Nyonya Kim.

Melihat Yeri yang sedari tadi mengulas senyum manis membuat Nyonya Kim akhirnya terfokus pada gadis itu dan benda yang dipegangnya. "Syal siapa itu?"

Yeri menoleh. "Ini?" Begitu nyonya Kim mengangguk, gadis itu menyengir lucu dan sibuk memeluk kembali syal tersebut. Tak berniat menjawab dan hanya ingin membuat Nyonya Kim penasaran.

"Dia sudah melakukan hal itu sejak tadi." Sahut Baekhyun yang nampaknya telah jengah dengan kelakuan aneh gadis itu. Ia bahkan merotasikan bola matanya.

Mendengar hal tersebut, Yeri mengerucutkan bibirnya dengan sebal. "Aku ingin memberi syal ini di pesta natal besok." Jelasnya.

Baekhyun mengangkat sebelah alis. "Untuk siapa?"

Yeri tersenyum misterius. Ia menatap kearah Baekhyun dengan antusias. "Oppa, apa kau pernah melihat pengawal yang berwajah datar?"

Baekhyun nampak berpikir sejenak mencoba mengingat-ingat wajah para pengawal. Akan tetapi, ia tak begitu sering melihat pengawal disekitarnya. "Entahlah.. Aku tak yakin." Dan hanya satu orang saja yang ia ingat wajahnya dengan jelas. Namun, ia tak yakin apakah orang itu yang dimaksud oleh Yeri.

"Namanya Oh Sehun." Balas Yeri. "Dan aku ingin memberikan syal ini kepadanya."

"Apa kau menyukai pengawal itu?" Tanya Baekhyun.

Dan Nyonya Kim pun ikut menyahut. "Kau masih menyukainya sampai sekarang?"

Yeri hanya tersenyum polos menatap kembali syal abu-abu buatannya yang ia rajut pada bulan lalu. Ia membuat syal itu sembari memikirkan lelaki tersebut.

"Aku menyukainya karena kami memiliki sebuah kesamaan."

Tatapan mata Yeri nampak berubah sendu. Namun senyumannya berhasil mengalihkan pandangan orang-orang. Meskipun begitu, Yeri ternyata tidak pandai dalam menyembunyikan kesedihannya karena Baekhyun menyadari perubahan pada raut wajah gadis tersebut.

'Kesamaan?' Batin Baekhyun bertanya-tanya dengan bingung.

Sementara Nyonya Kim tak membalas dan hanya menghela napasnya. Nampaknya tak ada yang bisa ia lakukan lagi pada Yeri untuk melupakan hal 'itu'.

"Lalu bagaimana denganmu sendiri, Baekhyun?"

"Ne?" Baekhyun mengerjapkan matanya tak mengerti dengan pertanyaan yang dilontarkan wanita tua tersebut.

Tiba-tiba suara Yeri ikut menimpali dengan nyaring. "Ah benar! Apa yang akan oppa berikan untuk tuan muda di pesta natal besok?"

Mendadak pipi Baekhyun berubah merona. Ah, ia tidak kepikiran untuk melakukan hal itu. Ia terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri sampai tak terbesit untuk memberi sesuatu pada Chanyeol sebagai kado natal.

"Aku.. tidak menyiapkan apapun."

Lagipula Baekhyun juga bingung apa yang harus ia berikan kepada tuan mudanya. Ia bahkan tak tahu apa yang lelaki itu suka.

Dan akhirnya ia tersadar, bahwa selama ini ia tidak bisa dikatakan dekat dengan lelaki tersebut karena ia bahkan tak tahu apa yang lelaki itu suka atau apa yang lelaki itu inginkan. Selama ini mereka hanya bermain dan bercerita tentang hal-hal konyol. Dan tidak mencoba untuk membuka diri mereka lebih jauh.

Yeri menggeleng tak percaya mendengar ucapan Baekhyun. "Heol. Jika aku jadi tuan muda, aku akan sangat sakit hati tidak mendapat apapun dari kekasihku."

"Hei, kami tidak berpacaran!"

"Oh, benarkah?"

Baekhyun menggigit bibir bawahnya. "Tapi.. aku harus memberinya apa?" Tentu saja Baekhyun ingin memberi sesuatu kepada Chanyeol. Bukan hanya Yeri saja. Baekhyun juga ingin menunjukkan rasa sayangnya pada seseorang. Sekaligus mungkin dapat memperbaiki hubungan mereka saat ini.

"Menurutku, oppa cukup memberi saja sesuatu yang membuatmu teringat padanya. Atau bisa juga sebaliknya. Atau mungkin, sesuatu yang spesial baginya."

Ucapan Yeri membuat Baekhyun kembali berpikir keras. Apa yang harus ia berikan? Sesuatu yang spesial seperti apa?

Karena Baekhyun terlalu memikirkan hadiah untuk Chanyeol, tanpa sadar ia bangun terlalu pagi keesokan harinya. Bahkan belum ada satupun orang yang bangun selainnya. Hanya ada beberapa pengawal yang berkeliling untuk berjaga disekitar rumah.

Baekhyun tak mengerti ada apa dengan tubuhnya. Namun ia melangkahkan kakinya ke dapur dan membuat sesuatu disana.

Yeri bilang, ia harus memberi sesuatu yang membuatnya teringat dengan Chanyeol. Ia rasa permen dapat mengartikan segalanya.

Dibalik rasa asam, tersimpan banyak rasa manis. Meskipun rasa asam itu masih terasa, namun rasa manis mampu menutupi segalanya.

Itulah perasaan yang ia rasakan saat bersama Chanyeol. Meskipun mencintai Chanyeol adalah sesuatu yang berbahaya. Tetapi dibandingkan rasa takut yang ia rasakan, ada sebuah perasaan nyamannya yang mampu mengalahkan rasa takut tersebut.

Baekhyun harap Chanyeol akan menyukai permen buatannya ini.


Sebelum tepat jam 12 malam, semuanya telah menyiapkan sajian makanan diatas meja. Sebuah pohon natal berukuran cukup besar dengan hiasan cantiknya yang berada dipojok ruangan mendukung suasana saat ini. Warna-warni kado yang berada di bawah pohon natal juga ikut serta memperindah ruang keluarga yang menjadi tempat dimana acara tersebut berlangsung.

Para pelayan dan pengawal duduk dengan nyaman diatas karpet mengenakan pakaian senada mereka yang bernuansa natal. Biasanya, setiap hari mereka akan menggunakan pakaian kerja. Namun pada hari ini mereka terlihat lebih casual dan bebas saat memakai baju berwarna merah maupun putih. Bahkan ada beberapa juga yang memakai pakaian santa claus.

Baekhyun sendiri memakai sweater berwarna merah dan bando berbentuk telinga rusa yang dipinjamkan oleh Yeri. Poni rambut hitamnya menutupi hampir seluruh alis. Tak tertinggal, sebuah garisan eyeliner ikut menegaskan mata sipitnya. Baekhyun tampak menggemaskan dan sempurna malam ini.

Kris dan Chanyeol terlihat ikut serta dalam acara tersebut. Mereka berdua duduk di kursi yang bersebelahan namun berbeda tempat dengan wajah sama datarnya. Dan masih tetap terlihat tampan dengan kemeja putih mereka.

Acara perayaan natal yang rutin dilakukan pertahun kini bertambah dua orang. Siapa lagi jika bukan Chanyeol dan Baekhyun. Kehadiran mereka tentu menambah keramaian pesta kecil itu. Sebenarnya hanya Baekhyun saja. Karena Chanyeol sangat tidak suka keramaian. Jadi ia lebih memilih diam dan hanya memperhatikan orang-orang yang sibuk melakukan hal entah apa.

"Saya selaku pemilik rumah, membebaskan kalian semua pada malam natal ini untuk merayakan pesta yang kita adakan satu tahun sekali." Kris selalu seperti itu dalam mengatakan pembukaan acara natal mereka. Ia selalu tampak canggung, kaku dan datar. Setelahnya, ia kembali duduk di kursi.

Semua penghuni rumah bertepuk tangan dengan meriah. Hanya pada hari ini, mereka semua bisa bebas melakukan apapun yang mereka suka. Layaknya sebuah keluarga hangat dipedesaan, pada hari ini mereka lebih dekat daripada biasanya. Mereka juga tak begitu serius seperti saat mereka berada dihari kerja. Mereka semua berbaur dengan mudahnya berbicara tentang ini dan itu. Mereka tampak menikmati acara yang dirayakan satu tahun sekali ini.

"Apakah ada soju disini?" Tanya salah seorang pengawal.

Dan semua orang tampak antusias begitu mendengar kata 'soju' terlontar. Biasanya mereka tak diperbolehkan meminum soju atas dasar perjanjian tertulis yang mereka tanda tangani ketika bekerja dirumah ini. Itu semua karena Kris benci dengan lingkungan yang tak sehat. Namun seperti yang dijelaskan tadi, hari ini bagaikan hari kebebasan untuk mereka semua.

"Aku membeli soju sebelum kesini." Sahut Ahn Ahjussi. Paman itu yang bertugas membeli kebutuhan penghuni rumah ini. Ia juga yang membeli dan membawa pohon natal kesini.

Dan sorak ramai kembali terdengar. Mereka semua bergembira saat melihat botol-botol soju yang ditaruh diatas meja oleh Ahn Ahjussi.

"Omong-omong karena kita memiliki penghuni baru, akan lebih baik jika ia memberi sebuah penampilan hebat kepada kami saat ini." Ucapan pengawal tersebut langsung disetujui oleh semua orang yang sepertinya ikut menantikan adanya sebuah penampilan spesial.

Dan terdengarlah tepuk tangan yang menyuruh Baekhyun untuk berdiri dari duduknya.

"Silahkan, Byun Baekhyun-ssi."

Meskipun terasa canggung, namun Baekhyun segera berdiri ditempatnya dengan senyuman kikuk sementara semua pasang mata tertuju padanya.

"Annyeong haseyo. Perkenalkan namaku Byun Baekhyun. Aku belum lama berada disini, tapi kuharap kita bisa akrab dan berteman baik. Mohon bantuannya."

Tepuk tangan kembali terdengar setelah perkenalan singkat itu.

"Dihari yang spesial ini, aku akan membawakan sebuah lagu natal untuk kalian semua." Lanjutnya.

Baekhyun segera berjalan menuju sebuah piano putih yang ada disana dan duduk menghadap piano tersebut. Mungkin sedikit tak terbiasa sejak ia terakhir kali bermain piano, jari lentiknya mulai menekan tuts-tuts piano hingga menjadi lantunan musik yang lembut. Perlahan tapi pasti, suara merdunya mulai terdengar mengimbangi permainan pianonya.

"Have yourself a merry little christmas.."

"Let your heart be light.."

Semua orang terkagum-kagum mendengar suara Baekhyun. Tak menyangka jika dalam tubuh mungil itu terdapat suara emas yang mampu melelehkan hati semua orang. Bahkan Chanyeol tak bisa mengalihkan pandangannya sedikitpun dari lelaki manis itu. Ia sampai tak menyadari bahwa Kris tengah memperhatikan bagaimana tatapan sang adik saat ini. Baekhyun selalu berhasil membuatnya jatuh cinta untuk yang kesekian kalinya.

"Apa kau sangat menyukainya?" Tanya Kris sembari menatap kembali pada Baekhyun yang masih memainkan piano dan bernyanyi dengan merdu.

"Here we are as in olden days.."

"Happy golden days of yore.."

"Eo. Sangat."

Kris menoleh dengan gerakan tak terduga. Lelaki itu terkejut mendengar kejujuran Chanyeol.

Sementara sang adik membalas tatapan itu dengan tajam. "Kuharap kau tetap berada di tempatmu, Yifan." Meskipun mereka tak beradu argumen, namun suasana dingin diantara mereka membuat siapapun merinding. Sepertinya suasana diantara mereka berdua tak akan pernah menghangat. "Jangan sekalipun menyentuhnya."

Kris mengerti jika adiknya tengah berada pada fase jatuh cinta. Namun Chanyeol seharusnya mengerti meskipun Kris tak pernah melarang, Kris tak menyukai semua perubahan tiba-tiba ini. Apa Kris harus mengatakan dengan lebih jelas jika ia tak menyukainya? Ataukah Kris harus berteriak dengan lantang untuk membuat Chanyeol tersadar?

Mata sipit Baekhyun yang terpejam menghayati lagu perlahan-lahan terbuka.

"And have yourself a merry little Christmas.. now"

Tepuk tangan menyambut dengan meriah setelah berakhirnya penampilan Baekhyun. Mereka semua menikmati penampilan sederhana tersebut. Terlebih lagi Baekhyun terlihat sangat manis dan cantik dalam waktu yang bersamaan, membuat semua orang terpana menatapnya.

"Wuah, penampilan luar biasa dari Byun Baekhyun baru saja berakhir." Pengawal itu sepertinya menjadi MC dalam acara ini. Karena hanya ia saja yang berdiri dan berbicara panjang lebar. Sementara yang lain hanya menjadi penonton.

Pengawal itu terlihat menuangkan botol soju ke dalam sebuah gelas arak. "Sebagai penutupan dari penampilanmu, silahkan minum segelas soju ini." Pengawal tersebut menyodorkan gelas arak yang diisi soju tadi kepada Baekhyun.

"Yeaaa! One shot!"

"Minum! Minum! Minum!"

Para pelayan dan pengawal lain terlihat bersorak dengan penuh semangat.

Jauh berbeda dengan Baekhyun yang memandang ragu pada gelas arak yang disodorkan untuknya. "Ng.. Tapi aku tak pernah minum soju sama sekali."

Mendengar hal itu, dalam sekejap mendadak semua berganti menjadi hening dan mulai terdengar bisikan tak percaya.

"Apa?"

"Dia sepolos itu?"

"Benarkah?"

"Mana mungkin!"

Pengawal yang menyodorkan gelas tersebut ikut terkejut dan bingung. Namun ia masih saja membujuk Baekhyun. "Ayolah, minum sekali saja tidak akan membuatmu mabuk kok."

"Ya, benar."

"Tidak apa. Minum saja!"

Semuanya bertepuk tangan kembali sembari menyerukan nama Baekhyun agar lelaki itu mau meminum gelas arak yang disediakan untuknya.

Dari tempat duduk yang lumayan jauh, Chanyeol dapat memperhatikan Baekhyun yang bergerak tak nyaman dan canggung. Hal itu membuat Chanyeol ingin memaki pengawal tersebut. Baekhyun terlihat tak menyukainya tetapi dengan kurang ajarnya pengawal itu terus mendesak Baekhyun.

Pada akhirnya dengan ragu-ragu, Baekhyun menerima gelas tersebut dan bergerak untuk meminumnya. Mungkin benar tak akan terjadi apa-apa jika ia hanya meminum satu gelas saja.

Baru saja ia merasakan cairan soju di ujung lidahnya, gelas tersebut telah ditarik paksa.

Bahkan semua orang disana terkejut melihat hal tersebut.

Chanyeol yang mengambil gelas arak itu dari tangan Baekhyun lantas menenggaknya sampai habis tak tersisa.

Semua terperangah akan kejadian barusan.

Mata Baekhyun mengerjap melihat kehadiran seseorang disampingnya. "Chanyeol-ssi.."

Chanyeol menatap balik pada Baekhyun setelah mengembalikan gelas itu kepada pengawal yang menjadi MC tadi.

Ia berkata dengan suara yang rendah. "Byun Baekhyun.. kalau tidak ada aku, siapa yang akan meminum soju untukmu?" Ucapan itu terdengar seperti 'kau membutuhkanku' secara tidak langsung.

"Wuaaah! Apa itu pernyataan cinta?"

Pipi Baekhyun bersemu malu mendengar ucapan orang-orang yang memperhatikan mereka berdua.

Chanyeol memang berucap dengan pelan, namun suara yang satu-satunya terdengar dalam kesunyian di ruang keluarga tentunya dapat didengar oleh semua orang.

Akan tetapi Chanyeol nampak tak peduli. "Bukankah kita harus membicarakan sesuatu?" Tanyanya. Ia justru menggenggam tangan Baekhyun dengan erat. "Ayo kita ke taman belakang." Dan Chanyeol segera membawa Baekhyun pergi dari lantai dua begitu saja.

"Eo? Apa barusan itu juga ajakan kencan?"

"Mereka kencan dirumah?"

Suara godaan terus saja terdengar. Baekhyun ingin sekali mengubur hidup-hidup mereka semua karena telah membuatnya malu setengah mati. Dengan sebelah tangan yang digenggam oleh Chanyeol, Baekhyun menggunakan sebelah tangan yang satunya untuk menutupi wajahnya dari pandangan orang-orang.

Jauh berbeda dengan para pengawal yang asyik menggoda. Seluruh pelayan yang jelas-jelas adalah wanita lantas kecewa melihat tuan muda yang mereka kagumi telah berlabuh pada seseorang.

"Aku baru saja patah hati tepat dihari yang kusuka."

Yang langsung disahuti oleh beberapa wanita disana. "Yaa.. Kita semua patah hati."


Langit semakin gelap. Hanya cahaya bulan purnama yang menjadi satu-satunya saksi dari pembicaraan singkat beberapa orang misterius.

Mereka adalah pria-pria berpakaian serba hitam. Hanya saja kini mereka menambahkan sebuah topeng guna menutupi wajah mereka agar tak dikenali. Setelahnya, mereka bergerak masuk ke dalam mobil yang berkisaran empat buah mobil. Tak lupa sebuah pistol dan pisau telah mereka persiapkan di saku celana mereka.

"Kita beraksi malam ini."

Ilnam tersenyum miring dan ikut masuk ke dalam mobil pribadinya sendiri.

Mobil-mobil itu bergerak melintasi jalan raya dengan kecepatan sedang. Namun hanya mobil pribadi milik Ilnam yang tidak ikut berbelok ketika mobil-mobil lain berada di jalan menuju rumah keluarga Park. Tentu saja. Bodoh sekali jika ia ikut pergi ke rumah rivalnya itu. Disebut bom bunuh diri namanya.

Saat ini, yang akan Ilnam lakukan adalah pergi ke luar negeri untuk menghindar dari rumor aneh yang mungkin akan muncul setelah penyerangan tersebut.

Mengingat bahwa para wartawan tahu betapa sengitnya hubungan Ilnam dengan Kris, maka dapat dipastikan bahwa Ilnam akan menjadi orang pertama yang dicurigai oleh media jika sesuatu terjadi kepada Kris. Karena itu, kepergian yang telah Ilnam rencanakan ini akan menjadi alibinya ketika beberapa pertanyaan muncul setelah penyerangan pada rumah keluarga Park.


Seperti janji mereka, kini keduanya berjalan dengan bergandengan tangan menuju taman belakang. Meskipun suasana terasa sangat kikuk, tetapi mereka tak sekalipun mencoba melepas genggaman erat satu sama lain. Entah sadar atau tidak, mereka lebih merasa nyaman dengan berpegangan tangan seperti ini.

"Aku tidak pernah mendengarmu bernyanyi sebelumnya."

Baekhyun mendongak sekilas melihat kearah lelaki disampingnya yang tengah menatapnya.

"Suaramu bagus." Puji Chanyeol.

Baekhyun yang mendapat pujian mendadak dari lelaki itu sontak tersenyum malu membalasnya. "Terima kasih."

"Apa kau hobi bernyanyi?"

"Bisa dibilang begitu. Aku suka bernyanyi jika sedang bosan." Baekhyun mengangguk-anggukan kepalanya sembari menuruni anak tangga untuk turun ke lantai satu.

"Lalu apa hobimu, Chanyeol-ssi?"

Ia mulai menyukai topik pembicaraan mereka. Bukankah mereka akan jauh lebih saling mengenal jika berbicara hal seperti ini?

Dan Baekhyunpun hanya memiliki sedikit pengetahuan tentang Chanyeol. Wajar saja jika ia ingin lebih mengenal lelaki tersebut. Ia tidak ingin menjadi seseorang yang hanya menyukai, tanpa tahu apa yang lelaki itu gemari. Namun ia sendiri menebak-nebak apakah seorang psikopat bisa memiliki sebuah hobi?

"Aku tidak punya hal semacam itu." Sahut Chanyeol. Ia bahkan tak ingat kapan terakhir kali menyukai sesuatu selain Baekhyun.

Baekhyun merespon dengan mengangguk-angguk tanda mengerti. "Kalau begitu apa kebiasaan yang sering kau lakukan?"

Jika hobi tak dimiliki, setidaknya sebuah kebiasaan pasti ada karena hal itu merupakan sesuatu yang terus-menerus dilakukan setiap hari.

Chanyeol mencoba mengingat-ingat hal yang sering dilakukannya. Dan ia menemukan satu-satunya kebiasaannya. Yaitu, "Berdiam diri."

Baekhyun speechless. Tak bisa berbuat apa-apa. Benar juga yang dikatakan oleh Chanyeol. Mengingat bahwa lelaki itu selama ini hanya dikurung, tentunya tak akan ada suatu hal spesial yang dapat dilakukannya selain berdiam diri di kamar dan tak melakukan hal apapun.

"Lalu apa tidak ada kebiasaan baru yang kau lakukan akhir-akhir ini?" Tanya Baekhyun lagi.

Chanyeol nampak kembali berpikir sejenak. Dan secepat kilat ia menemukan jawabannya. "Ada." Ia menoleh menatap Baekhyun yang terlihat sangat mungil dimatanya. "Memandangimu."

DEG.

Baekhyun tahu pipinya memerah mendengar kalimat yang sangat cheesy tersebut. Namun jika bisa, Baekhyun akan menekan tombol replay pada momen ini. Agar ia dapat mendengar kembali suara Chanyeol yang mengatakan bahwa kebiasaan barunya adalah memandangi Baekhyun.

Chanyeol sangat polos dan terlalu jujur jika membahas tentang perasaannya pada Baekhyun. Dan meskipun jantungnya dibuat berdebar tak karuan, Baekhyun menyukainya. Ia suka karena Chanyeol tak sedang membuatnya tersanjung, melainkan hanya berkata sesuai hatinya.

"Mengapa kau memandangiku? Apa ada yang aneh denganku?" Baekhyun mencoba menggoda lelaki itu dengan berpura-pura tak mengerti. Namun siapa yang mengira jika Chanyeol akan menanggapinya dengan sebuah pertanyaan.

"Bukankah hal itu wajar dilakukan oleh seseorang yang tengah jatuh cinta?"

Lelaki itu dengan terang-terangan mengatakan bahwa dirinya jatuh cinta kepada si mungil.

Chanyeol yang seperti ini entah mengapa membuat Baekhyun gemas sendiri. Baekhyun membalas dengan kekehan pelan. Ia senang menggoda lelaki itu. "Ya, kau benar. Itu yang dilakukan oleh seseorang yang tengah jatuh cinta."

Suasana mereka mendadak menghangatkan udara disekitar. Baekhyunpun tersadar bahwa hubungan mereka yang sempat renggang kini kembali berbaikan. Mereka bahkan berbicara seperti tak pernah terjadi sesuatu sebelumnya.

"Omong-omong, bukankah kau sedang marah padaku?"

"Apa terlihat seperti itu?"

Baekhyun mengangguk pelan dengan raut wajah sedih layaknya seorang anak kecil yang tak diperbolehkan bermain oleh ibunya.

"Kau menjauhiku." Baekhyun mengulang kalimat yang sama dengan yang pernah Chanyeol katakan padanya. Ya, akhirnya ia pun tahu bagaimana perasaan Chanyeol ketika dirinya memberi jarak tiba-tiba. Dijauhi sementara kau tidak tahu apa yang terjadi, sangatlah tidak enak.

"Aku kira kau butuh waktu berpikir. Jadi aku membiarkanmu sendirian." Chanyeol memberi pembelaan pada dirinya. Memang benar jika ia memberi jarak pada keduanya karena ia kira Baekhyun menginginkan waktu yang lebih banyak untuk berpikir.

"Tetapi puncaknya adalah tadi." Lanjut Chanyeol. "Aku tidak suka dia memaksamu meminum soju."

Namun meskipun mereka tidak bersisian, Chanyeol masih memusatkan seluruh perhatiannya pada Baekhyun. Bahkan ia masih tetap melindungi lelaki itu tanpa lelah.

"Maaf jika aku terlihat seperti menjauhimu."

Sekarang bagaimana bisa Baekhyun tidak terharu? Chanyeol yang diketahui sangat jarang mengucap kata maaf bahkan hampir tak pernah, baru saja mengatakan kalimat tersebut kepada Baekhyun lagi setelah sebelumnya ia juga pernah mengatakan kalimat itu. Namun kali ini, Baekhyun tak meminta lelaki itu untuk mengakuinya sebagai sebuah kesalahan.

Baekhyun menggembungkan pipinya tanpa sadar. Ia sudah tidak memusingkan lagi masalah itu, ia akan mengabaikannya saja. "Tapi.. apa kau pernah meminum soju sebelumnya?"

"Tidak. Itu yang pertama kali." Chanyeol ingat bagaimana tenggorokannya yang terasa seperti terbakar setelah meminum soju. Ia bersumpah tak akan pernah meminumnya lagi jika bukan karena Baekhyun.

Mata sipit milik Baekhyun tentu saja membelalak terkejut. "Mwo? Lalu mengapa kau menggantikanku jika nyatanya kau juga tidak pernah meminum soju?"

Padahal Chanyeol tak perlu melakukannya jika ia juga tak pernah meminum soju. Baekhyun yakin dirinya akan baik-baik saja jika Chanyeol tak menggantikannya.

Namun Chanyeol sama sekali tak terlihat keberatan dengan hal itu. Ia mengembangkan senyum tipisnya. "Karena hanya aku yang akan melakukan itu untukmu."

Genggamannya pada Baekhyun semakin erat. "Aku tidak ingin kau melakukan hal yang tak kau sukai. Aku hanya ingin melihatmu melakukan hal yang kau inginkan."

Sederhana saja. Yang Chanyeol pikirkan hanyalah bagaimana cara membuat Baekhyun bahagia. "Jadi untuk beberapa hal, biarkan aku yang mengurusnya."

Setelah pernyataan cinta waktu itu, sekarang Chanyeol menjadi jauh lebih berani mengungkapkan isi hatinya. Chanyeol lebih menunjukkan perhatiannya pada Baekhyun bahkan dalam hal sekecil apapun. Semua itu dilakukan karena Chanyeol hanya ingin membuat Baekhyun merasakan cintanya. Dan ia ingin membuat Baekhyun merasa beruntung memilikinya.


Sesampainya di taman belakang, mendadak kaki Baekhyun berhenti melangkah saat matanya teralihkan oleh sebuah rumah pohon diujung sana. Rumah pohon itu dikelilingi lampu warna-warni yang berkelap-kelip di dinding rumah pohonnya. Sungguh cantik sekali.

Baekhyun sontak menutup mulutnya antara tak percaya dan terlalu gembira. Untuk pertama kalinya, ia dapat melihat rumah pohon secara langsung. Tak bisa dideskripsikan betapa bahagianya Baekhyun saat ini.

Kakinya segera melangkah dengan cepat ke arah rumah pohon itu. Bahkan tanpa sadar, ia telah melepas genggaman tangannya dengan Chanyeol dan meninggalkan laki-laki itu dibelakang. Ia bergerak memperhatikan dari bawah pohon setiap sudut yang dihiasi dengan aksesoris natal.

"Chanyeol-ssi, bagaimana bisa.."

Baekhyun tak menyangka. Terakhir kali ia pergi ke taman belakang, ia tak melihat adanya sebuah rumah pohon. Bagaimana mungkin secepat itu membuat rumah pohon seindah ini?

Chanyeol tersenyum dibelakang Baekhyun dan perlahan menyusul lelaki tersebut. "Rumah pohon itu adalah hadiah natalmu."

Baekhyun kembali dibuat terkejut untuk kesekian kalinya. 'Apa? Rumah pohon ini?'

"Kau sangat menginginkan rumah pohon, bukan?" Tanya Chanyeol.

Baekhyun mengangguk dan tersenyum teramat lebar karena terlalu gembira. Ia tidak menyangka jika perkataannya hari itu akan dikabulkan secepat ini. Bahkan tanpa sadar ia telah berlari memeluk tubuh Chanyeol hingga lelaki itu hampir saja limbung.

"Wuaaa.. aku bahagia sekali!" Serunya.

Chanyeol tersenyum mendengar itu. Dan ia membalas pelukan Baekhyun dengan erat. "Aku senang kau menyukainya."

Tak sia-sia ia menyuruh puluhan pengawal untuk membuat rumah pohon itu dalam sekejap saja. Dan tada! Rencana itu memang berhasil. Sebuah kejutan yang tak pernah terduga akan membuat Baekhyun amat sangat senang.

"Kukira kau marah padaku." Cicit Baekhyun. Ia tak menyangka jika lelaki itu akan menyiapkan kejutan seperti ini. "Tapi nyatanya kau justru menyiapkan semua ini untukku."

Chanyeol tersenyum tampan sembari mengusap puncak kepala Baekhyun. Dirinya turut bahagia melihat lelaki mungil itu. "Kau tidak ingin masuk ke dalam?"

Mereka segera menaiki tangga untuk sampai ke dalam rumah pohon itu. Dan di dalam rumah pohon impian Baekhyun, ia mendapati berbagai hal tak terduga disana. Tak pernah Baekhyun kira jika akan terdapat banyak sekali lilin yang berada di setiap sudutnya memperindah malam natal ini. Selain itu, terdapat banyak boneka dan bantal dengan bentuk yang bermacam-macam. Ia kira Chanyeol bukanlah tipe lelaki yang romantis.

Mata Baekhyun nampak berbinar-binar. "Ini hebat!" Ia sangat menyukai hadiah natal dari Chanyeol. Sudah sejak dulu ia memimpikan bisa berada dalam sebuah rumah pohon. Dan bagaikan sebuah keajaiban, kini ia dapat merasakan berada di tempat itu. Meskipun bukan dengan keluarganya, bersama dengan Chanyeol ditempat impiannya bukanlah hal yang buruk.

"Duduklah disini."

Chanyeol menepuk tempat disebelahnya. Dan Baekhyun menurut. Namun sebelumnya, lelaki itu sempat mengeluarkan sebuah permen dari saku celananya. Sebuah candy cane dengan bungkus transparan yang manis. Ia teringat untuk memberikan kado natal itu pada Chanyeol.

"Ini untukmu." Baekhyun menyodorkan permen tersebut kepada Chanyeol. Meskipun sedikit ragu karena hadiah itu tak seberapa dengan yang Chanyeol berikan, namun Baekhyun hanya bisa berdoa jika Chanyeol akan menyukainya. "Aku tidak tahu harus memberimu apa. Jadi, aku berpikir untuk membuatkan ini untukmu."

Chanyeol pikir tak akan ada hadiah natal untuknya. Meskipun banyak sekali dari para pelayan yang memberinya hadiah barang-barang dalam ukuran besar, namun Chanyeol masih merasa tak ada hadiah jika Baekhyun tidak memberi apapun. Dan ternyata, lelaki itu memberikan sesuatu untuknya.

"Kau membuatnya sendiri?" Tanya Chanyeol tak percaya. Yang langsung diangguki oleh lelaki mungil disebelahnya.

"Apa kau suka manis?" Tanya Baekhyun begitu Chanyeol mengambil permen itu dari tangannya.

"Tidak."

Mendengar jawaban itu, Baekhyun sontak merasa kecewa dan sedih. Permen yang ia buat dengan susah payah ternyata bukan sesuatu yang disukai oleh Chanyeol. "Kalau begitu kenapa kau menerimanya?"

Ia sungguh tak apa jika Chanyeol tidak menyukainya. Mungkin ia bisa memberikan sesuatu yang lain. Ia tidak ingin Chanyeol menerimanya hanya karena merasa tak enak hati padanya. Namun lagi-lagi Chanyeol mengejutkannya.

"Aku akan menyukainya mulai sekarang." Chanyeol tersenyum tampan. Setelah itu ia mencium pipi kiri Baekhyun dan berbisik dengan suara beratnya yang mampu membuat tubuh Baekhyun lemas. "Aku akan mulai menyukai sesuatu yang kau berikan untukku. Terima kasih, Baek." Baekhyun hanya tersenyum malu begitu melihat Chanyeol yang tengah menggenggam erat permen buatannya.

Siapa bilang Chanyeol tidak menyukai pemberian Baekhyun? Jika bisa, mungkin ia akan menyimpan permen itu untuk seribu tahun karena ia tidak ingin kehilangan hadiah pertama dari Baekhyun untuknya. Bahkan tanpa sadar Chanyeol masih terus saja menggenggam candy cane tersebut dengan senyuman tampannya.

Hingga Chanyeolpun teringat akan sesuatu. "Ah, sebenarnya aku memiliki hadiah lain untukmu."

Dahi Baekhyun sedikit berkerut tak percaya. "Hm? Apa itu?"

Chanyeol mengeluarkan sebuah sarung tangan dari saku dan menaruhnya ditelapak tangan Baekhyun yang membuat lelaki itu memandang bingung pada sarung tangan tersebut. Bagaimana tidak? Ukuran sarung tangan itu jelas jauh lebih kecil daripada ukuran tangannya. Sangat tidak mungkin bisa dipakai oleh Baekhyun.

Lelaki itu terdiam dan memandang Chanyeol seakan meminta sebuah penjelasan mengenai hal ini. Dan itu membuat Chanyeol perlahan-lahan tersenyum. Ia bilang, ia akan menjelaskan mengenai 10 tahun lalu mereka, bukan?

Sekarang adalah saatnya.

"Kau ingat? Aku pernah memberimu sarung tangan itu sebelumnya."

Baekhyun mengerjapkan matanya. Masih tak mengerti dengan maksud Chanyeol. 'Benarkah? Tetapi.. kapan?'

"10 tahun yang lalu.. beberapa hari setelah natal, aku menemukanmu menangis sendirian di taman." Chanyeol memperhatikan ekspresi Baekhyun mencoba melihat apakah si mungil mulai menunjukkan tanda-tanda bahwa ia mengingat kejadian pada hari itu.

"Kita berbicara banyak hal saat itu. Dan aku memberikan sarung tangan padamu karena kau tampak sangat kedinginan. Bahkan sejak dulu kau tidak tahan dingin, Baek. Bibirmu berubah menjadi pucat dan itu membuatku khawatir."

Mata Baekhyun mulai menerawang. Entah mengapa ia merasa sedikit familiar. Rasanya seperti ia pernah mengalami hal yang Chanyeol bicarakan.

"Aku menyebutkan namaku saat itu. Dan kau bilang, kau akan mengatakan namamu dipertemuan kedua kita."

"Tapi apa kau tahu bagian yang tidak pernah bisa kulupakan?" Tanya Chanyeol dengan senyuman dan tatapan matanya yang hangat. "Itu adalah saat dimana jantungku berdebar untuk pertama kalinya padamu ketika kau menyentuhku dengan bibirmu."

Baekhyun mengerjap dan ia memusatkan seluruh perhatiannya pada Chanyeol ketika lelaki itu mengakhiri ceritanya.

Mendadak dada Baekhyun kembali merasakan nyeri yang sama seperti yang pernah ia rasakan dulu, kala dirinya mulai menyusun potongan-potongan kenangan itu menjadi sempurna.

Ia mengingat setiap hal dari kejadian itu.

Baekhyun ingat betapa sedihnya ia saat mengetahui bahwa kedua orangtuanya meninggal dunia tepat disaat seharusnya mereka merayakan hari natal. Iapun mengingat dirinya yang kabur dari rumah dan pergi ke sebuah taman dimana ia bisa menangis sepuasnya selama berjam-jam. Menangisi segala kehancuran yang terjadi pada hari itu. Dan ia juga teringat bahwa tak lama kemudian seseorang datang menghampiri dan duduk disampingnya. Menanyakan apa yang terjadi dan memberi sebuah sarung tangan untuk menghangatkan tangannya yang membeku.

Tubuh Baekhyun bergetar menatap Chanyeol dengan pandangan linglung. "Itu.. kau?" Tanyanya.

Chanyeol mengangguk meyakinkan persepsi Baekhyun bahwa lelaki yang bertemu dengan Baekhyun 10 tahun lalu adalah dirinya.

Tangan Baekhyun bergerak menangkup kedua pipi Chanyeol. Mendadak air mata ingin keluar dari pelupuk matanya merasakan seluruh emosi yang ada pada dirinya saat ini.

"Kenapa? Sejak hari itu, aku selalu menunggumu dan berharap kita akan bertemu lagi. Tapi.. kenapa kau tidak pernah datang?"

Bukan Chanyeol saja yang berharap bahwa mereka dapat dipertemukan kembali setelah hari itu. Baekhyun ingin sekali bertemu kembali dengan Chanyeol dan menjalin hubungan yang lebih akrab. Namun hampir setiap harinya ia datang pergi ke taman, tetapi ia tidak menemukan lelaki itu disana.

Baekhyun sangat sedih. Ia merasa tak memiliki siapapun lagi didunia ini selain neneknya sendiri.

Chanyeol balas menggenggam tangan mungil Baekhyun yang berada dikedua pipinya. "Maaf. Aku sudah berusaha untuk menemuimu tapi mereka terus menahanku. Mereka tidak membiarkan aku keluar dari rumah ini."

"Mereka mengurungmu sejak itu?" Tanya Baekhyun yang langsung diangguki oleh Chanyeol.

"Lalu.. sejak kapan kau menyadari semuanya?"

Chanyeol terlihat menghela napas. "Sejak pertemuan kedua kita dirumah ini."

Baekhyun tentu saja terkejut sekaligus kecewa. "Itu lama sekali. Mengapa kau tak mengatakan apapun padaku?" Chanyeol tidak memberitahunya selama itu dan membuatnya menjadi orang yang tidak tahu apa-apa.

"Aku mencoba, Baek. Tapi ternyata kau sudah melupakanku. Kau tidak ingin mengingat masa itu." Jelas Chanyeol. Dan hal itu membuat Baekhyun teringat bahwa ia pernah berkata, jika ia tidak ingin mengingat masa lalunya yang kelam. Ia sudah melupakan segalanya meskipun rasa sakit itu masih membekas dihatinya.

Baekhyun menundukkan kepala dengan isak tangis yang perlahan terdengar. "Ya, aku memang melupakannya. Karena ku kira.. kau menghilang. Kukira.. semua orang akan selalu pergi meninggalkanku saat itu."

Katakanlah Baekhyun sangat cengeng. Namun saat itu, ia tidak memiliki orang lain yang berada disisinya selain neneknya yang sakit-sakitan. Setidaknya Baekhyun membutuhkan seseorang yang dapat menjadi teman berbicara. Tetapi kepergian tiba-tiba Chanyeol saat itu membuat Baekhyun menjadi sangat kesepian.

"Maafkan aku, Baek." Chanyeol segera menarik Baekhyun hingga lelaki itu menangis dibahu Chanyeol.

Chanyeol ingin menyalahkan pada segalanya karena telah mencoba menjauhi dirinya dari Baekhyun yang saat itu sangat membutuhkan kehadirannya. Seharusnya Chanyeol ada untuk Baekhyun waktu itu.

Namun akhirnya kini Baekhyun mengerti alasan Chanyeol selalu mencoba kabur dari kamar terlarang. Bukan karena Chanyeol ingin pergi dari tempat ini, namun karena lelaki itu ingin pergi menemuinya. Sekarang Baekhyun tahu seberapa besar perasaan Chanyeol untuknya.

Dan wajar saja jika Baekhyun menyukai Chanyeol saat ini dengan semudah itu. Karena nyatanya, memang ia telah memiliki perasaan untuk Chanyeol sejak pertemuan pertama mereka.

Siapa yang menduga jika mereka memang telah ditakdirkan bersama dengan kejadian yang tak pernah mereka bisa bayangkan.

"Sekarang kau sudah mengingat semuanya. Kau sudah mengerti, bukan? Aku menyukaimu sejak hari itu. Dan saat ini perasaan itu terus tumbuh didalam hatiku."

Perlahan tangisan itu mereda. Baekhyun menatap Chanyeol dengan wajah yang basah penuh dengan air matanya. "Tapi.. kenapa kau menjadi seperti ini?" Gumamnya. Ia menyentuh sebelah pipi Chanyeol dengan jari telunjuknya dan mengarahkan jarinya untuk menelusuri tiap inci wajah lelaki itu. "Dulu, kukira kau bukan.."

"Psikopat?" Sela Chanyeol. Dan ketika si mungil mengangguk kecil, Chanyeol hanya membalas dengan senyuman teramat tipis. "Aku telah menjadi seorang psikopat sejak dulu, Baek. Bahkan jauh sebelum kita bertemu."

Entah mengapa Baekhyun merasa bahwa Chanyeol tidak seperti itu. Jika memang dulu Chanyeol adalah seorang psikopat, mengapa Chanyeol begitu baik kepadanya? Chanyeol bahkan memberikan sarung tangan kepadanya. Rasanya tidak ada tanda-tanda psikopat yang membuat Baekhyun curiga.

Chanyeol menggenggam erat kedua tangan Baekhyun dan membawa Baekhyun untuk menatap matanya dalam-dalam. "Tapi dibandingkan menganggapku seorang psikopat, tidak bisakah kau menganggapku sebagai seorang laki-laki?"

Baekhyun tersentak. Ucapan itu membuatnya tersadar bahwa selama ini ia selalu menanamkan fakta itu didalam hatinya. Meskipun ia mengakui bahwa ia telah jatuh cinta pada Chanyeol, tetapi hatinya selalu mengatakan bahwa lelaki itu adalah seorang psikopat yang berbahaya. Hal itu lah yang dulu membuatnya sempat berusaha menyingkirkan perasaannya sendiri.

Dan setelah mendengar kalimat Chanyeol, Baekhyun kembali tersadar. Seharusnya ia mengabaikan fakta itu dan hanya mencintai Chanyeol karena ia memang mencintainya. Seharusnya ia tak mempedulikan keberadaan fakta tersebut. Dan dengan begitu, ia bisa mencintai Chanyeol dengan bebas karena apa adanya.

"Aku mencintaimu, Baek." Bisik Chanyeol dengan lembut.

Selama ini, perasaan Baekhyun bagaikan air yang mengalir didataran. Begitu lambat dan terkadang tak menentu arah. Namun pada hari ini, perasaan itu bagaikan air terjun yang jatuh dengan deras mengisi seluruh hatinya. Perasaan cinta untuk Chanyeol kini sepenuhnya telah mengisi seluruh ruang di hati Baekhyun.

Chanyeol maju mempersempit jarak diantara mereka. Dan mulai memejamkan matanya kala bibir mereka bersentuhan, yang diikuti oleh Baekhyun. Lelaki itu ikut memejamkan matanya sembari merasakan detakan jantungnya yang berdebar seirama dengan milik Chanyeol.

Mereka berciuman dimalam natal yang indah. Dimana perasaan mereka saling menyatu dan terbalas. Tidak ada lagi keresahan maupun keraguan. Mereka sama-sama yakin dengan perasaan yang tumbuh dalam hati mereka dan mencoba untuk masuk lebih dalam pada dunia yang baru saja mereka buat.

"Aku mencintaimu, Park Chanyeol. Dan aku tidak peduli siapa dirimu." Bisik si mungil.

Baekhyun mengalungkan lengannya dileher Chanyeol. Sementara Chanyeol semakin mempersempit jarak diantara mereka dengan terus memojokan Baekhyun ke dinding kayu. Mereka kembali saling melumat dan menyesap bibir pasangan mereka. Decakan lidah mulai terdengar dalam kesunyian tatkala pergerakan mereka semakin menuntut. Mereka bergerak sedikit lebih intim malam ini.

"Baek, kau milikku." Bisikan Chanyeol membuat debaran menggila dalam dada Baekhyun.

Baekhyun telah menjadi milik Chanyeol. Dan Chanyeol bersumpah tak akan pernah melepas genggamannya pada lelaki mungil itu.

Chanyeol kembali membawa Baekhyun pada mabuknya ciuman mereka. Lelaki yang lebih tinggi itu menggigit bibir bawah Baekhyun dengan tangan yang bergerak nakal mengusap leher si mungil. Membuat sang empu sedikit mengerang merasakan bulu kuduknya berdiri.

Ciuman itu perlahan turun pada leher jenjang Baekhyun dan semakin turun pada tengkuknya. Memberi beberapa tanda kepemilikan disana. Sebelum akhirnya, ia sedikit menjauhkan wajahnya untuk memberi jarak agar keduanya dapat saling bertatapan.

Dengan napas yang masih tersenggal-senggal dan bibir yang sama-sama membengkak, Chanyeol mencoba untuk menatap serius pada lelaki yang ada dalam kurungan tangannya.

"Byun Baekhyun, jadilah kekasihku."

Mendengar ungkapan itu, si mungil lantas mengangguk dengan senyuman manis terukir di wajahnya. Tanpa keraguan sama sekali. "Apapun itu. Selama denganmu, aku bersedia."

Mungkin orang lain akan memandang aneh padanya yang menjalin kasih dengan seorang psikopat. Namun kini ia tak akan pedulikan hal itu lagi. Hanya ada mereka berdua didalam hubungan tersebut. Jadi dibandingkan mendengar omongan orang lain, Baekhyun hanya akan peduli pada Chanyeol.

Lagipula, memangnya kenapa selama ia bahagia? Ia hanya perlu mendengar kata hatinya untuk mencintai Chanyeol sebagaimana ia dicintai.


Suara langkah kaki segerombolan orang yang berlarian mulai terdengar memasuki halaman rumah. Empat pengawal yang ditugaskan untuk berjaga didepan gerbang telah jatuh tak berdaya di tanah setelah mencoba untuk melawan serangan tiba-tiba.

Pria-pria berpakaian serba hitam segera membuka pintu utama dan mulai berpencar masuk ke dalam tiap-tiap lorong rumah mencari dimana keberadaan Kris dan Chanyeol saat ini. Namun mereka tak menyangka jika hanya akan mendapati kesunyian.

Hingga akhirnya, beberapa dari pria tersebut mendengar suara gelak tawa yang berasal dari lantai atas. Dengan gerakan waspada dan sebuah pistol di tangan, mereka mulai mengendap-endap pergi ke lantai dua. Mereka mencoba mengepung seluruh tempat agar tak akan ada yang bisa lolos.

Mendapati banyaknya orang yang berada di ruang keluarga, membuat pria-pria bertopeng itu segera mengarahkan pistol mereka kepada seluruh penghuni rumah.

"JANGAN BERGERAK!" Perintah salah satu dari pria jahat tersebut.

"AAAAAA!"

Namun kepanikan melanda para pelayan yang tak lain adalah wanita. Mereka semua menjerit dan berusaha berlari meninggalkan tempat tersebut. Sementara pengawal-pengawal yang memang memiliki pistol di saku mereka masing-masing untuk berjaga-jaga, lantas mengambil posisi dan tak menyerah untuk ikut mengarahkan kembali pistol kepada para penjahat.

Kekacauan besar benar-benar terjadi di ruang keluarga. Para pria jahat itu melakukan kekerasan kepada pelayan yang mencoba kabur atau bahkan mencari perlindungan. Hingga teriakan histeris mereka semua berubah menjadi tangisan sendu memohon pertolongan.

Sementara itu, beberapa pengawal lain segera mengamankan Kris beserta sekretaris Hong dengan membawa keduanya menjauh dari tempat tersebut ke tempat yang jauh lebih aman sejenak sebelum kembali mengarahkan pistol mereka kepada para penjahat.

Tetapi yang ada dipikiran Kris saat ini adalah adiknya. Bagaimana keadaan Chanyeol? Apa lelaki itu baik-baik saja?

Di lantai dua saat ini, para pengawal terlihat masih terus berusaha melawan pria-pria bertopeng yang mencoba untuk mengejar langkah tuan mereka. Namun keberadaan pelayan-pelayan sedikit membuat pengawal terganggu. Lantaran pria-pria jahat itu mencoba menjadikan pelayan yang lemah sebagai tameng mereka.

"Tuan, anda harus segera pergi dari sini." Ucap Sekretaris Hong yang berjaga disisinya.

Kris tidak bodoh untuk meninggalkan adiknya sendirian sementara ia akan dibawa pergi dari rumah ini oleh para pengawal. Kris tak mendengar ucapan sang sekretaris dan segera melangkahkan kakinya lebih cepat untuk menyusul Chanyeol yang ia ketahui berada di taman belakang yang ia harap tempat itu belum dijelajahi oleh para penjahat.

Namun ketika dirinya mencapai anak tangga, ada banyak sekali pria bertopeng yang menghadangnya dan menodongkan pistol kearahnya. Membuat Kris mau tak mau harus berhenti melangkah dan perlahan mengangkat kedua tangannya sesuai perintah dari pria-pria tersebut.

"Sepertinya kami berhasil menangkapmu. Bukankah begitu, Kris?" Ucap salah seorang pria bertopeng yang diiringi dengan tawa kemenangan setelahnya. Mereka sangat yakin jika kali ini mereka telah menang dan akan membuat atasan mereka terkagum-kagum akan kehebatan mereka nanti.

Namun tak lama setelah itu sebuah peluru terlihat menembus tepat ke jantung para pria bertopeng hingga mereka jatuh tak bernyawa. Yang dipelakui oleh pengawal-pengawal Kris yang baru datang menghampiri.

"Maaf, tuan. Kami terlambat."

Kris hanya balas mengibaskan tangannya menanggapi santai para pengawal setianya. Ia justru mengarahkan tangannya kepada salah satu pengawal tersebut.

"Berikan aku pistol."

Kris membutuhkan senjata saat ini. Ia tidak tahu apakah ia akan bertemu dengan pria-pria bertopeng itu lagi dalam perjalanannya menuju taman belakang. Yang jelas, ia harus melindungi dirinya. Terutama, Chanyeol.

Sekretaris Hong yang sebelumnya tertinggal di belakang, kini telah berdiri tepat di samping pria itu lagi. "Tuan, anda harus mendengarkan saya. Situasi saat ini sangat gawat. Anda tidak boleh sampai terluka."

"Aku tahu! Aku tahu! Tapi aku hanya akan pergi jika bersama Chanyeol." Amuk Kris.

"Tapi tuan-"

Belum sempat sekretaris Hong melarangnya lagi, Kris telah melangkah terlebih dahulu meninggalkannya dan para pengawal. Betapa keras kepalanya Kris saat ini menjadi bukti bahwa pria itu teramat menyayangi adiknya.


Suara baku tembakan terdengar jelas dari dalam rumah sampai ke taman belakang.

Baekhyun dan Chanyeol saling bertatapan mencoba berbicara tanpa suara lewat tatapan mata mereka. Keduanya sama-sama bingung. Apa yang baru saja mereka dengar benar-benar berasal dari dalam rumah. Tetapi, apa yang terjadi? Bukankah semuanya baik-baik saja? Bukankah semua orang tengah menikmati pesta dengan berdansa dan juga menyanyikan lagu-lagu yang terkenal pada tahun ini?

Seingat Baekhyun, Yeri tidak mengatakan bahwa ada acara tembak-menembak dalam pesta tersebut.

Lalu apa yang baru saja mereka berdua dengar?

"AAAAAAA!"

Tanpa sadar Baekhyun mengeratkan jemari tangannya meremas kemeja yang Chanyeol kenakan. Jantungnya berdegup cepat saat mendengar teriakan para pelayan dan suara hentakan sepatu yang berlari kesana-kemari.

"C-Chanyeol.." Baekhyun memanggil dengan pelan. Ia menatap Chanyeol dengan raut wajah ketakutan. Matanya bergerak tak fokus. Ia kebingungan dan tak tahu situasi apa yang tengah terjadi di lingkungan mereka saat ini.

Lelaki dihadapannya bergerak meraih tangan lentik sang kekasih dan mencium punggung tangan mulus itu. "Tenang, Baek. Kau aman bersamaku." Ia mengusap punggung tangan Baekhyun berkali-kali mencoba memberi ketenangan pada kekasihnya yang tengah dilanda panik.

Dan hal itu memang berhasil membuat Baekhyun lebih tenang. "Sebenarnya apa yang terjadi?" Gumam lelaki itu.

"Kurasa ada penyerangan dirumah ini." Chanyeol yang merasa paham dengan situasi yang sedang terjadi mencoba menjelaskan secara singkat kepada kekasihnya. "Kau tahu. Hal ini biasa terjadi kepada seseorang yang memiliki jabatan tinggi. Bukannya aku mengada-ada, tetapi Kris pasti memiliki seseorang yang membencinya."

Baekhyun menggigit bibir bawahnya dengan khawatir. Entah benar atau tidak jika sekarang tengah terjadi penyerangan dalam rumah ini, namun mereka yang hanya diam saja didalam rumah pohon sementara terjadi keributan di dalam rumah membuat Baekhyun merasa bahwa tak seharusnya seperti ini.

Mungkin saja orang-orang didalam rumah tak bisa berbuat apa-apa dan membutuhkan bantuan dari mereka berdua. Seharusnya mereka berdua pergi ke dalam, dan melihat apa yang terjadi. Dan juga membantu apa yang bisa mereka bantu untuk menolong.

"Chanyeol, kurasa kita harus masuk ke dalam."

Chanyeol mengangkat alisnya. "Apa?"

"Mereka membutuhkan kita." Baekhyun mencoba memperjelas maksud dari perkataannya.

"Kau tidak dengar teriakan-teriakan itu?" Tanya Baekhyun dengan tatapan yang menunjukkan kekhawatiran. "Jika para pengawal berhasil mengatasi hal ini, tak mungkin suara teriakan itu masih terdengar sampai sekarang. Mereka membutuhkan kita, Yeol. Kita harus ke dalam!"

Chanyeol mengerti jika Baekhyun sangat peduli kepada orang-orang yang ada didalam sana. Namun hal ini terlalu berbahaya. Bahkan suara puluhan tembakan telah memperjelas situasi saat ini bahwa mereka benar-benar berada dalam situasi yang sangat bahaya dan sulit untuk melawan.

Namun pada saat yang sama, ia tidak bisa mengabaikan perkataan Baekhyun.

Chanyeol mengacak rambutnya dengan frustasi. "Baiklah, begini saja. Aku yang pergi ke dalam, sementara kau menunggu disini."

"Aku ingin ikut ke dalam."

Chanyeol langsung menggeleng saat mendengar respon dari lelaki itu.

"Tidak, Baek. Aku tidak ingin kau terluka. Jadi tetaplah disini."

Sementara Baekhyun sama sekali tak mau mengerti betapa Chanyeol takut apabila lelaki itu terluka. "Tapi mereka membutuhkan bantuan kita. Bukan hanya salah satu dari kita." Baekhyun terus saja memaksa. "Apapun yang terjadi, aku akan tetap ikut."

"Oke, kau ikut." Pada akhirnya Chanyeol mengalah. "Aku akan mengawasimu. Jadi kau tidak boleh terluka."

Baekhyun mengangguk yakin. "Aku tidak akan terluka. Aku memilikimu."

"Ya, benar. Aku tidak akan membiarkanmu terluka. Aku akan menjagamu."

Chanyeol menatapnya dengan tajam. Oh, sebenarnya Chanyeol tengah berkelahi dengan emosinya. Ia ingin sekali mengikat Baekhyun di dalam rumah pohon agar lelaki itu tak mencoba untuk pergi ke dalam. Namun apa daya, ia tak bisa melarang kekasihnya dan hanya bisa memutuskan untuk membiarkan lelaki itu namun tetap mengawasinya dari jauh.


Oh Sehun tak terbiasa mengikuti perayaan natal bersama penghuni rumah yang lain. Ia akan selalu memilih untuk bertugas menjaga di depan gerbang bersama para pengawal yang telah berumur kepala empat dibandingkan duduk diam mengikuti acara yang sama sekali bukan gayanya.

Tetapi beruntung, kali ini Sehun ditugaskan untuk berada didalam ruangan cctv. Ia hanya perlu mengawasi setiap ruangan dari sana tanpa perlu berjaga mengelilingi sudut rumah seperti pengawal lain. Setidaknya, ia masih bisa sedikit merilekskan tubuhnya dengan bersandar pada kursi.

Suara petasan kembang api terdengar oleh Sehun yang menandakan bahwa hari baru saja berganti sekaligus memberi pertanda bahwa sekarang telah memasuki hari natal. Sehun terlihat memandang jauh pada jendela disebelahnya yang mengarah langsung pada langit malam yang dipenuhi dengan bintang dan kembang api dimana-mana.

Diam-diam, Sehun berucap di dalam hatinya membuat sebuah permohonan. Ia hanya menginginkan kebahagiaan untuk seseorang yang sangat ia sayangi dan kasihi. Yang keberadaannya saat ini tak dapat diketahui selain di surga.

Ia menghela napasnya sejenak mencoba menetralkan perasaannya dan mengalihkan kembali pandangannya pada layar yang menampilkan setiap sudut yang terpasang oleh cctv. Namun mendadak tubuhnya langsung menegak begitu melihat para pengawal yang berjaga di depan gerbang rumah kini tergeletak lemas di tanah.

"Ada apa ini?"

Sehun mengalihkan pandangannya pada kamera cctv disudut lain. Dan matanya langsung membulat begitu mendapati banyak sekali pria bertopeng yang berpencar masuk ke dalam rumah. Jarinya segera mengetik sesuatu pada keyboard dan munculah ruang keluarga yang saat ini juga telah di kepung oleh para penjahat.

"Sial." Sehun segera mengambil pistol di atas meja dan berdiri dari duduknya.

Namun bertepatan dengan itu, seseorang telah membuka pintu ruangan membuat Sehun terdiam dan menoleh kearah sumber suara dengan gerakan kaku.

Sehun dapat melihat seorang pria tinggi berpakaian serba hitam dengan topeng diwajahnya tengah berjalan mendekat. Membuat Sehun lantas mengangkat pistol tersebut tepat pada pria bertopeng itu.

"Berhenti disana!"

Pria itu segera berhenti melangkah mendengar perintah dari Sehun. Namun hal yang selanjutnya dilakukan pria tersebut sangat tidak terduga. Pria itu membuka topeng yang dikenakannya. Membuat Sehun sontak terkejut ketika melihat seseorang dibalik topeng penjahat itu adalah orang yang dikenalnya dengan baik.

"Sehun-ah." Panggil orang tersebut.

Bagaimana lelaki itu tidak kaget? Setelah sekian lama tak berjumpa, kini Sehun bertemu kembali dengan orang terdekatnya dalam situasi yang tidak baik. Ia sama sekali tak menyangka jika pamannya terlibat dalam penyerangan ini.

Sehun menurunkan pistolnya. "A-Ahjussi.."

Paman Sehun terlihat mengembangkan senyum hangatnya yang tak pernah berubah sejak dulu. Bahkan Sehun masih ingat sekali betapa lembut dan baik hatinya sang paman. Pria itu tak pernah sedikitpun menunjukkan emosi berlebihan kepadanya. Sampai sebuah kejadian berhasil merubah segalanya.

"Sudah lama kita tidak bertemu." Sapa Kwon Hanjoon, pamannya. "Bagaimana kabarmu, Sehun?"

Tetapi dibandingkan mendengar basa-basi dari sang paman, Sehun langsung bertanya pada intinya. Ia sangat penasaran mengapa pamannya memakai pakaian seperti itu dan masuk ke dalam rumah ini? "Ahjussi, mengapa kau bisa berada disini?"

Pertanyaan itu membuat pria tersebut kembali mengulas senyumnya. "Sehun-ah, aku datang memenuhi janjiku."

Hanjoon berjalan semakin mendekat dan berdiri tepat dihadapan Sehun. Ia meremas bahu sang keponakan, mencoba menyalurkan perasaan gigihnya yang menjadi bukti bahwa.. "Aku berada disini untuk datang menjemputmu sekaligus membalaskan dendam kita pada keluarga Park."

Sehun mengerutkan dahinya tak mengerti dengan ucapan sang paman. Balas dendam katanya? Apa yang dimaksud oleh pria itu adalah kejadian lampau?

"Kau harus membantuku, Sehun." Pamannya yang biasa terlihat lembut kini berubah menjadi sangat tegas dan keras. Entah waktu yang membuatnya menjadi seperti ini, atau karena masalah 10 tahun lalu yang masih membayang-bayangi pikiran pria itu.

"Setelah masalah ini selesai, kau bisa hidup dengan bebas bersama Ahjussi. Kau bisa hidup dengan lebih baik."

Jelas-jelas dulu pria itu yang membuangnya ke dalam neraka ini. Namun mendadak sekarang pria itu justru berkata akan mengeluarkannya dari sini. Tidakkah itu konyol?

"Membantu?" Tanya Sehun bingung.

Paman Sehun mengangguk dengan yakin. "Rencana kita pasti akan berhasil jika kau ikut serta." Dan ia mengulas senyumnya dengan sangat menyeramkan.

"Kau harus melakukan sesuatu, Sehun."

Dan Hanjoon mulai memberitahu strategi yang telah disusunnya sekaligus memberi tahu pada keponakannya untuk mengerjakan tugas yang sangat penting. Karena lelaki itu ditugaskan untuk membunuh Kris.

Sang paman hanya ingin membiarkan Sehun yang membalaskan dendam mereka. Karena ia tahu, bahwa Sehunlah yang paling terpukul dalam kejadian 10 tahun yang lalu.


Chanyeol tak mengira jika akan ada banyak sekali penjahat yang menelusup ke dalam rumah mereka. Dengan tangan yang menggenggam Baekhyun, ia mengajak sang kekasih untuk mengumpat sejenak di balik dinding dihalaman rumah.

"Aku akan melawan mereka semua." Ucapnya dengan kedua tangan yang menangkup pipi chubby Baekhyun. "Ketika dirasa cukup aman, segeralah pergi mencari yang lain di lantai dua. Aku akan menyusul." Baekhyun sontak mengangguk dengan patuh. Setelahnya, ia melihat Chanyeol pergi keluar dari balik dinding dan melawan para penjahat bertopeng.

Jantung Baekhyun berdegup cepat. Ia mengawasi sekitarnya yang lumayan sepi dan hanya menyisakan Chanyeol yang terlihat masih berusaha melawan beberapa orang penjahat. Chanyeol sangat pandai berkelahi. Baekhyun bisa merasakan bahwa Chanyeol berada di pihak kemenangan saat ini.

Melihat hal tersebut, Baekhyun segera melangkahkan kakinya dengan cepat untuk masuk lebih dalam ke rumah itu. Ia bergerak dengan hati-hati dan segera bersembunyi dibalik suatu benda jika dirasanya terdapat orang lain selain dirinya.

Baekhyun tentu saja takut. Ia tidak pernah berada dalam posisi seperti ini sebelumnya. Dan ia tahu bahwa sesungguhnya ia tidak cukup membantu. Ia bahkan tidak pandai berkelahi sama sekali. Satu-satunya cara agar ia dapat selamat dari incaran para penjahat hanyalah dengan pintar mencari perlindungan. Namun meskipun begitu, ia tidak bisa hanya tinggal diam saja dan menyaksikan orang lain terluka.

Baekhyun semakin masuk lebih dalam ke rumah tersebut. Dan semakin banyak pula ia menemukan tubuh-tubuh manusia yang tergeletak di lantai. Tak jarang pula ia menemukan jejak darah disekitarnya. Entah mereka semua sudah mati atau tidak. Namun yang Baekhyun bisa pastikan mereka tidak dapat lagi bergerak.

Melihat para penjahat yang tergeletak membuat Baekhyun tak menyia-nyiakan kesempatan ini dengan pergi begitu saja. Ia segera mengambil salah satu pistol dari mereka dan menggunakannya sebagai perlindungan jika nanti ia mendapat serangan secara tiba-tiba.

Baekhyun kembali berjalan dengan hati-hati disertai senjata dalam genggamannya. Matanya melirik kesekeliling dengan was-was. Ia benci fakta bahwa rumah ini sangat besar. Ia menjadi sangat kesulitan karena sampai saat ini dirinya tak kunjung sampai di tangga yang mengarah ke lantai dua.

"Byun Baekhyun."

Baekhyun menoleh begitu merasa namanya dipanggil. Ia melihat sosok Kris yang tengah berjalan kepadanya dari arah samping.

"Tuan.."

"Dimana Chanyeol?" Kris langsung mengajukan pertanyaan yang ingin ia tanyakan begitu tak mendapati Chanyeol disisi pelayan itu.

"Saat ini, tuan muda sedang melawan para pria bertopeng." Jelas Baekhyun seraya menunjuk tempat dimana sebelumnya ia lewat.

Kris tak menjawab dan segera mengambil langkah cepat untuk pergi meninggalkan sang pelayan menuju tempat dimana adiknya berada. Chanyeol mungkin hebat dalam soal mempertahankan diri. Sama sepertinya. Namun, tetap saja Kris tidak akan membiarkan lelaki itu berkelahi sendirian. Ia akan melawan penjahat itu bersama-sama dengan Chanyeol dan setelahnya mereka akan pergi dari rumah ini.

Baekhyun yang bingung hanya dapat terdiam menatap kepergian Kris. Entah mengapa ia bisa merasakan kekhawatiran yang jelas ditunjukan pria itu meskipun hanya sekilas.

Mata Baekhyun yang sedari tadi memperhatikan dari belakang tubuh Kris, sontak membulat saat pandangannya beralih pada seorang pria bertopeng yang berada tak jauh darinya tengah mengacungkan pistol dengan bidikan yang mengarah pada Tuan Kris.

Tanpa berpikir dua kali, Baekhyun langsung berlari kearah tuannya dan berteriak sekencang mungkin.

"Awas, tuaan!"

DORR..

Teriakan itu menggema diruangan diikuti oleh suara tembakan yang berhasil diloloskan oleh pria bertopeng tadi.

Kris tersentak begitu merasakan tubuh Baekhyun yang mendorongnya hingga mereka berdua jatuh dengan posisi saling menyamping. Pria itu sedikit meringis dan mengalihkan pandangannya pada sang pelayan yang terluka akibat tembakan yang mengenai lengan atasnya.

Hanya perbedaan sepersekian detik saja, peluru itu berhasil meleset namun sayangnya justru mengenai lengan Baekhyun. Darah mengalir dari lengan mulusnya yang berbalut sweater membuat Baekhyun tidak bisa menghentikan suara rintihan yang keluar dari bibirnya. Rasanya sangat perih.

Katakanlah Kris adalah seorang pria berhati dingin. Ia kejam, jahat, dan tidak berperasaan. Namun menyaksikan sang pelayan yang terluka karenanya, menyulut emosi Kris. Bukan karena apa-apa. Ia sangat marah mengetahui penjahat itu berani-beraninya melesatkan peluru kepadanya. Bahkan mengacungkan pistol saja sudah merupakan pelanggaran keras.

Pria itu lantas berdiri mengambil pistol yang ia simpan disaku celana miliknya dan langsung mengacungkannya tepat kepada pria yang baru saja menembak Baekhyun. Tanpa basa-basi ia segera mengarahkan pistolnya membidik pria tersebut. Namun belum sempat ia menarik pelatuknya, pria tersebut telah tumbang akibat tembakan dari seseorang. Yang tak lain berasal dari Chanyeol yang baru muncul kehadirannya.

"Apa tuan.. baik-baik saja?" Tanya Baekhyun yang langsung membuat Kris menoleh seketika.

"Aku tidak menyuruhmu melindungiku." Balasnya. Ia berkata seperti itu untuk menyadarkan Baekhyun bahwa luka yang didapatnya bukan atas kesalahan Kris. Ia bahkan tak mengharapkan bantuan dari pelayan itu.

Disela ringisannya, Baekhyun menyempatkan untuk tersenyum kecil kepada Kris. "Saya tahu. Tapi saya tidak bisa membayangkan betapa sedihnya tuan muda nanti jika melihat anda terluka." Ia meringis kembali sebelum melanjutkan kalimatnya. "Meskipun ia terlihat sangat membenci tuan, tapi ia tetaplah seorang adik yang menyayangi kakaknya."

Perkataan Baekhyun membuat hati Kris bergetar. Ia merasa memiliki sebuah harapan setelah mendengar penuturan dari pelayan tersebut. Benarkah begitu? Benarkah.. Chanyeol masih peduli kepadanya?

Sementara saat ini Chanyeol sangat marah mengetahui bahwa kekasihnya baru saja ditembak oleh pria bajingan itu. Bagaimana tidak, jika saat ia datang ia malah diberi tontonan seperti itu?

Dengan sengaja Chanyeol menembak tepat di tangan pria tersebut karena ia tidak mungkin membiarkan pria itu mati begitu saja.

Penjahat tersebut menjatuhkan pistolnya dan meringis dibalik topeng sembari memegangi luka disebelah tangannya. Melihat hal itu, Chanyeol segera berjalan mendekat dan menendang tubuh pria itu sampai terjatuh ke lantai. Kali ini Chanyeol menembak kedua kaki penjahat tersebut.

Tatapan mata Chanyeol terlihat buas. Rahangnya mengeras saat menatap tepat ke mata penjahat itu.

Begitu orang tersebut meringis kesakitan dengan lukanya, Chanyeol justru menginjak sebelah tangan yang tepat memiliki luka tembakan tadi. Ia menginjak tanpa rasa ampun sampai-sampai orang tersebut berteriak amat keras.

"AARGH..!"

Chanyeol lantas berjongkok menatap orang yang tergeletak tak berdaya di atas lantai dengan beberapa bagian tubuh yang berdarah itu.

"Kau tahu apa kesalahanmu?" Tanyanya. Berulang kali ia memukul kepala pria tersebut dengan pistol yang dipegangnya. "Kau baru saja melukai kekasihku. Dan itu adalah sebuah kesalahan besar."

Berbeda dengan betapa angkuhnya penjahat itu beberapa menit lalu. Kini mendadak ia meminta ampun kepada Chanyeol. Ia tidak menyangka jika Chanyeol akan menyiksanya seperti ini. Napasnya bahkan terputus-putus. Ia benar-benar kesakitan. Dan lebih kesakitan lagi karena Chanyeol tidak segera membunuhnya melainkan terus memberi luka kepadanya.

Chanyeol menyeringai kecil dan mengarahkan pistol digenggamannya tepat kedahi pria tersebut.

"K-Kumohoon-"

"Tidak ada ucapan terakhir. Kau tidak diijinkan. Segera pergilah dari dunia ini."

Dan ia menarik pelatuknya tak mempedulikan permohonan dari sang penjahat. Setelahnya Chanyeol menendang kepala pria tersebut. Meskipun tubuh itu tidak bernyawa lagi, namun amarah Chanyeol tak kunjung mereda.

Kini lelaki itu justru berjalan cepat kearah Kris berada. Ia menyalahkan semua ini kepada kakak kandungnya itu. Bahkan ia langsung mengangkat tinggi-tinggi tangannya hingga pistol yang ia pegang tepat bersentuhan dengan dahi Kris.

Jika saat ini ada pengawal yang menjaga Kris maka dipastikan mereka akan ikut mengeluarkan pistol mereka dan menyodorkan kesamping kanan dan kiri kepala Chanyeol. Jadi ketika Chanyeol menarik pelatuknya, maka pengawal-pengawal itu juga akan melakukan hal yang sama padanya. Tak peduli jika Chanyeol bagian dari keluarga Kris. Karena pengawal tersebut hanya bertugas untuk melindungi Kris dari siapapun.

Namun beruntung saat ini Kris sendirian. Jadi tak akan ada orang yang dapat menghalangi Chanyeol untuk membunuh pria itu.

"Aku sudah memperingatimu." Geram Chanyeol. Tatapan matanya tak berubah. Masih sama seperti saat ia membunuh penjahat tadi. Sangat dingin.

"Dan kau lihat apa yang terjadi sekarang. Baekhyun terluka karenamu."

Kris menatap lurus kepada adiknya. Ia melihat bagaimana amarah berkabut disekitar tubuh lelaki itu. Sangat menakjubkan karena ini kedua kalinya ia melihat Chanyeol semarah ini. Pertama kali adalah saat dimana Chanyeol menyaksikan sendiri bagaimana Kris membunuh keluarga mereka. Dan kedua.. karena seorang pelayan yang berhasil mencuri perhatian adiknya.

Percayalah, bukan sebuah teriakan dan amukan yang membuat Kris membisu. Tetapi Chanyeol yang berbisik dengan wajah mengeras dan tatapan membunuh seperti ini yang membuat Kris tak dapat melakukan apapun bahkan sekedar mengolah kata.

Sekarang Kris berpikir, apa benar ucapan Baekhyun tadi? Karena saat ini Chanyeol terlihat benar-benar akan membunuhnya.

"Jika saja penjahat-penjahat itu tidak datang karena dendam padamu, maka Baekhyun tidak akan seperti ini." Lanjut Chanyeol.

"Aku akan membunuhmu, Wu Yifan." Ia mengatakannya dengan pelan namun tegas. Jari telunjuknya segera berpindah ketempat dimana pelatuk pistol berada. "Aku bersungguh-sungguh."

Baekhyun yang terkejut mendengar pembicaraan itu tak mampu berbuat apa-apa selain berbisik agar Chanyeol berhenti melakukan hal tersebut. Lengannya sangat sakit dan terus mengeluarkan darah tanpa henti. Baekhyun tak memiliki tenaga untuk sekedar berteriak agar Chanyeol ingat bahwa Baekhyun benci ketika Chanyeol menyakiti seseorang bahkan sampai membunuh.

"Tidak, Chanyeol.. Jangan." Baekhyun mencoba untuk memanggil lelaki itu. Namun seakan-akan Chanyeol tak dapat mendengar suaranya saat ini.

Bertepatan dengan itu, seseorang tiba-tiba datang dan ikut mengangkat pistolnya dan mendekatkannya ke kepala Chanyeol. Membuat Baekhyun dan Kris sangat terkejut akan hal tersebut. Sementara Chanyeol sendiri hanya melirik kepada seseorang dibelakangnya.

"Wah.. wah.. Aku tidak menyangka akan melihat perkelahian dari kedua saudara kandung ini." Ucap seseorang yang mengarahkan pistol kepada Chanyeol. Ia adalah paman Sehun. Pria bertopeng itu melirik sejenak kepada Kris dan bertanya, "Hei Kris, mana yang harus ku bunuh pertama kali? Kau atau adikmu?"

Tangan Kris mengepal dengan kuat. Sejak dulu Kris selalu melindungi sang adik. Dan ia benar-benar tidak akan memberi ampun pada siapapun yang berani melukai adiknya. Kini orang tersebut telah berhasil menyulut api dengan Kris. Ia sangat marah melihat bagaimana pria bertopeng itu mempermainkan dirinya dan Chanyeol.

Napas Baekhyun tersenggal-senggal. Ia berusaha untuk berdiri meski tubuhnya terasa lemas tak berdaya. Ia mencoba untuk melindungi kedua tuannya dengan kondisinya yang seperti ini. Namun pergerakannya sia-sia. Nyatanya ia tak dapat sekedar bangun dari duduknya. Sampai ia teringat sesuatu. Bahwa ia memiliki sebuah pistol di dekatnya.

Dengan perlahan dan hati-hati, ia segera mengambil pistol tersebut. Dan dengan kedua tangannya, ia mengangkat pistol itu kepada pria bertopeng. "Jangan bergerak." Ucap Baekhyun dengan tangan yang bergemetar melawan rasa takut dan sakitnya lengan yang robek akibat peluru tadi.

Menyaksikan itu, Hanjoon balas tertawa remeh. "Kau yang seharusnya jangan bergerak, bodoh." Salut dirasanya saat mengetahui bahwa kedua saudara kandung ini nyatanya memiliki seseorang yang mau membela mereka. Benar-benar menjijikan.

"Kau barusan mengatakan apa?" Tanya Chanyeol dengan kepala yang menoleh kepada Hanjoon. Tanpa rasa takut jika akan ditembak, lelaki itu menatap dengan tajam kepada pria tersebut.

Oh, seharusnya Hanjoon mengetahui kesalahannya untuk tidak mengumpati Baekhyun dengan kata-kata kasar. Karena Chanyeol amat sangat tidak menyukainya. Dan ia bisa melakukan hal kejam untuk membalas perbuatan tidak menyenangkan itu.

"Apa?" Tanya Hanjoon dengan bingung. Hanjoon memang tidak tahu jika lelaki mungil yang terluka itu adalah kekasih Chanyeol. Dan hal itu membuatnya tak mengerti mengapa Chanyeol terlihat begitu marah setelah ia berucap pada seseorang yang tengah terduduk dilantai saat ini. Bahkan ketika Hanjoon mengarahkan pistolnya kepada Chanyeol, lelaki itu nampak biasa saja. Lalu mengapa sekarang lelaki itu bisa sampai semarah ini?

Sang tuan muda kembali bergerak. Ia ingin mengarahkan pistol digenggamannya yang sebelumnya ia arahkan kepada Kris untuk berganti kepada pria tersebut. Namun Hanjoon terlebih dulu berteriak. "Aku akan menembakmu jika kau bergerak lagi!"

"Lakukan saja." Ucap Chanyeol santai. Ia bahkan menyeringai menatap pria dihadapannya dengan wajah menantang. Ancaman dari Hanjoon sama sekali tidak mempan untuknya.

Tetapi jelas berbeda dengan Baekhyun yang panik bukan main. "Park Chanyeol.."

Dan juga Kris yang terdiam tak dapat berbuat apa-apa. Mungkin akan terdengar angkuh, tetapi Kris yakin jika Chanyeol yang akan memenangkan perkelahian ini.

Sebelum Hanjoon benar-benar menembak, dengan gesit Chanyeol segera menangkap pistol yang dipegang Hanjoon dan memutarnya membuat tangan Hanjoon ikut berputar. Dan setelahnya Chanyeol mengarahkan pistol itu keatas hingga pistol itu menembak ke dinding diatas mereka.

Chanyeol begitu mudah melakukannya. Ia memukul tepat diperut yang memiliki bagian titik lemah pria itu hingga Hanjoon tanpa sadar telah menjatuhkan pistolnya. Tak sampai disitu. Chanyeol menendang kepala pria bertopeng tersebut hingga jatuh terlentang.

"Apa kini kau bisa tertawa, bodoh?" Tanya Chanyeol dengan sebelah kaki yang menapak pada dada Hanjoon.

Baekhyun menghela napas dan menurunkan senjatanya. Ia lupa jika Chanyeol sepertinya hebat dalam hal semacam ini. Ia selalu melihat bahwa Chanyeol tak pernah kalah dalam sebuah perkelahian.

Tetapi saat itu, Sehun tiba-tiba datang entah dari mana dan sudah mengarahkan pistol kepada Chanyeol. Yang membuat Kris sangat terkejut saat melihat salah satu pengawal setianya justru mengarahkan senjata kepada adiknya. "Oh Sehun?"

"Kau.." Geram Chanyeol begitu ia menoleh kepada Sehun.

Dengan wajah datar andalannya, sang pengawal hanya berkata, "Tolong menyingkir dari tubuhnya."

"Kau pikir aku akan mendengarkanmu?"

"Aku akan membunuh Baekhyun jika tuan muda tidak mendengarkanku."

Mata Chanyeol berubah tajam mendengarnya. "Brengsek kau!"

Tetapi Sehun tak berniat berkelahi dengan Chanyeol. Ia bahkan sama sekali tak berniat untuk membunuh pelayan yang sedang terluka disana. Ia hanya memberi sebuah ancaman yang tanpa diduga menjadi hal yang paling Chanyeol takutkan.

"Aku hanya meminta tuan muda untuk menyingkir." Ucap Sehun kembali. Dan mau tak mau, Chanyeol segera bergerak mundur menjauhi tubuh Hanjoon.

Hanjoon tertawa senang melihat dirinya diselamatkan oleh Sehun. Tak salah jika ia bekerjasama dengan lelaki itu. Segera Hanjoon berdiri dengan bantuan Sehun dan iapun berucap disertai nada angkuh. "Kalian tidak tahu bahwa Sehun ini adalah keponakanku, bukan?"

Fakta itu membuat semua yang ada disana terdiam dengan keterkejutan mereka. Terutama Kris. Karena ialah yang paling tahu banyak cerita dibalik keluarga seorang Oh Sehun.

"Dan sekarang kami akan membalas dendam kepada keluarga ini." Lanjut Hanjoon.

Ia melepas topeng yang menutupi wajahnya dan bergerak mengambil pistol yang sebelumnya ia jatuhkan.

"Sehun, sekarang saatnya." Ia memberi aba-aba kepada sang keponakan untuk membantunya menyerang kedua saudara kandung itu. Ia sudah bersiap dengan posisinya.

Namun jawaban dari Sehun membuatnya terdiam membeku dan sangat terkejut.

"Pergilah, Ahjussi."

Hanjoon langsung menatapnya dengan tidak percaya. "M-Mwo?"

Sehun balas menatap sepenuhnya pada sang paman. "Kumohon. Hentikan segala macam pemikiranmu tentang pembalasan dendam. Dan hiduplah seperti sebelum kau datang kesini." Setelahnya Sehun beranjak pergi dari sisi Hanjoon.

Tetapi pamannya tak mungkin tinggal diam begitu saja. Ia menahan Sehun untuk pergi dari tempatnya berada. "Mengapa kau tiba-tiba seperti ini, Sehun?" Tanyanya dengan nada yang sedikit meninggi. Tentu saja Hanjoon panik. Ia berada dalam situasi yang menegangkan dan Sehun mendadak berhenti berada dipihaknya. Lelaki itu tiba-tiba melupakan kerjasama mereka.

"Apa kau sudah gila? Memangnya kau ingin terus tinggal disini? Apa mereka telah memberimu obat atau semacamnya? Katakan Oh Sehun!"

"Aku bilang pergi!"

Setelah bertahun-tahun berlalu, Sehun sudah melupakan kejadian itu. Ia bahkan tak pernah lagi meminta keadilan untuk membalas dendam semua perlakuan kejam yang telah keluarga Park lakukan padanya. Ia tak pernah lagi memikirkan hal itu dan hanya hidup seperti orang normal lainnya. Ia tidak ingin terus-menerus membawa kebencian dalam dirinya.

Terlebih, setelah apa yang keluarga ini lakukan untuknya dalam 10 tahun ini membuat Sehun merelakan rasa sakit itu pergi. Tetapi kemudian pamannya datang dan membawa pembalasan dendam bersama pria itu membuat Sehun sangat kesal. Ia hanya ingin hidup bahagia. Sekarang bagaimana bisa Sehun membunuh keluarga tersebut? Sementara keluarga ini lah yang ada untuknya selama 10 tahun. Bukan sosok pamannya.

Hanjoon menggeleng keras. Tidak. Tak mungkin ia akan mendengarkan kata-kata Sehun, setelah ia dapat berada disini dengan semua perasaan itu. "Aku tidak akan pergi sebelum dendamku terbalas." Jawabnya.

Hanjoon meninggalkan Sehun untuk mendekat kepada Chanyeol dan Kris. Ia mulai mengisi ulang pelurunya. Jika memang Sehun tak ingin membantu, tak apa. Hanjoon yakin ia bisa menyelesaikan semua ini sendiri. Ia yang akan membalaskan dendam pada keluarga tersebut sendirian.

DORR..

Tubuh tersebut langsung jatuh tak berdaya ketika peluru menembus tepat pada jantungnya dari arah belakang.

Sehun menurunkan tangannya yang menggenggam pistol. Ia menghela napasnya dengan kasar dengan sebelah tangan lain yang mengepal.

"Aku sudah menyuruhmu pergi, Ahjussi." Ucapnya dengan dingin.

Sang paman tak dapat bergerak. Hanya jari-jemarinya yang berkedut menandakan bahwa ia tengah berada diambang kematian. "S-Se..hun.."

"Maaf."

Sehun menjatuhkan pistolnya ke lantai dan ia membiarkan dirinya ikut jatuh bersama. Sama sekali tak terpikir olehnya untuk membunuh bagian dari anggota keluarganya sendiri. Namun, pamannya telah menjadi ancaman bagi sesuatu hal yang harus ia lindungi. Dan Sehun tak punya pilihan lain untuk itu. Dengan sangat terpaksa ia harus melakukannya. Ia harus membunuh pamannya sendiri.

"Saya memohon maaf atas apa yang terjadi saat ini." Ucap Sehun dengan kepala tertunduk. Sesungguhnya, ia tengah melawan rasa sedih dihatinya. "Saya berhak mendapat hukuman yang pantas dari tuan."

Kris menghela napas menyaksikan kejadian tersebut. Tak disangka ia akan mendapat sebuah pertunjukan yang mengharukan. Sementara Chanyeol nampak tak begitu ambil pusing. Ia segera berjalan cepat kearah Baekhyun yang telah begitu banyak kehabisan darah.

"Baek? Apa kau masih bisa bertahan?"

Melihat si mungil mengangguk, Chanyeol segera mengangkat tubuh itu dalam dekapannya. Membiarkan tubuh lemas Baekhyun untuk bersandar kepadanya.

"Daripada kau mengatakan hal yang tak jelas, segeralah panggil dokter ke kamarku sekarang." Ucap Chanyeol sebelum pergi membawa Baekhyun ke lantai tiga. Meninggalkan Sehun dan Kris berdua dalam kesunyian.

Kris juga mengatakan hal yang sama. "Kita bisa membicarakan hal ini nanti. Kau harus cepat memanggil dokter pribadi dan mengecek ke seluruh tempat." Tak bisa jika mereka membahas hal seperti ini dengan kondisi rumah yang sangat kacau. Mereka harus melakukan sesuatu terhadap rumah ini terlebih dulu.

Meski begitu, Sehun tak kunjung berdiri dari tempatnya. Ia masih menundukkan kepalanya dengan tangan yang mengepal. Tak ada yang tahu bahwa Sehun mencoba sekuat tenaga menahan tangisannya. Sementara Kris yang sedari tadi memperhatikan, hanya dapat menghela napasnya untuk yang kesekian kali.

"Aku tidak pernah melarangmu pergi dari sini." Kris berjalan mendekat kepada lelaki itu. Dan sedikit menunduk untuk menepuk pelan bahu Sehun. "Tetapi jika kau terus berada disini, itulah satu-satunya cara bagiku untuk menjaga janji ayahmu."


Tak ada satupun orang yang boleh keluar dari rumah ini. Karena itu, para dokter-dokter hebatlah yang didatangkan ke rumah keluarga Park untuk mengobati para penghuni rumah yang telah menjadi korban dari penyerangan beberapa jam yang lalu.

Setelah luka Baekhyun dibersihkan dan diobati, lelaki itu nampak tidur dengan lelap karena efek bius yang diberikan. Beruntung peluru yang merobek lengannya tidak tertancap terlalu dalam. Karena itu, operasi kecil yang dilakukan oleh dokter selesai dengan cepat dan Baekhyun bisa beristirahat lebih awal.

Hal yang tak bisa dihindari adalah bagaimana berita segera menyebar dengan luas. Para wartawan terlihat berdatangan dan terus mencoba menerobos masuk ke dalam rumah dan mengajukan beberapa pertanyaan. Meski para pengawal dan bahkan polisi yang bertugas telah mendorong mereka semua menjauh, mereka sama sekali tidak peduli akan hal itu.

Chanyeol menutup tirai jendelanya dan berjalan naik ke tempat tidur. Ia terdiam memperhatikan sejenak wajah terlelap Baekhyun yang sangat polos seperti anak bayi.

Jam menunjukkan pukul 4 pagi. Masih ada satu jam lagi sebelum semuanya kembali kepada aktivitas mereka masing-masing. Namun meski begitu, Chanyeol tidak memanfaatkan satu jam tersebut untuk sekedar tidur. Ia justru tetap terjaga dan mengawasi Baekhyun. Takut-takut jika Baekhyun membutuhkannya nanti.

Dalam posisinya, ia mengusap puncak kepala Baekhyun dengan penuh rasa sayang dan rasa bersalah yang terus menghantuinya mengingat bahwa lelaki mungil itu terluka karena kecerobohannya. Seharusnya Chanyeol dapat menjaga lelaki itu dengan lebih ketat. Dan seharusnya Chanyeol tidak membiarkan lelaki itu sendirian.

Usapan pada kepala Baekhyun membuat lelaki mungil itu tersadar dari tidurnya.

"Apa aku mengganggumu?" Tanya Chanyeol saat mata mereka bertemu.

Baekhyun menggeleng pelan. Ia justru tersenyum dengan mata sayunya. Masih sedikit merasa mengantuk namun Baekhyun memaksa dirinya untuk tetap tersadar. Karena ia ingin mengobrol sejenak dengan lelaki disampingnya.

"Terima kasih." Bisik Baekhyun.

"Untuk apa? Seharusnya aku meminta maaf karena tidak bisa menjagamu dengan baik."

Baekhyun menggeleng dengan mata terpejam. Ia tak setuju dengan hal itu. Karena ia tahu Chanyeol sangat menjaganya meski dari kejauhan sekalipun. Lagipula luka yang ia dapat tak seberapa. Ia baik-baik saja.

Wajah Baekhyun sedikit berubah murung. Ia baru saja mendapat sebuah mimpi bertemu dengan keluarganya. Dan hal itu mengganggu hatinya. Karena.. "Chanyeol, aku merindukan orangtuaku."

Lelaki disampingnya terdiam sejenak untuk berpikir. "Kita bisa bertemu dengan mereka hari ini."

"Benarkah? Apa.. tuan Kris akan mengijinkan kita pergi?"

"Tentu saja." Chanyeol mengusap puncak kepala Baekhyun dan tersenyum lembut. Ia akan menemui Kris untuk meminta ijin. Meski sebenarnya tak peduli apa Kris akan mengijinkannya atau tidak, karena ia dan Baekhyun tetap akan pergi. "Sekarang tidurlah. Kau butuh istirahat."

"Kau juga harus tidur."

Chanyeol mengangguk dan mendekap Baekhyun dalam pelukannya. "Aku akan tidur dengan memelukmu seperti ini."

Perlakuan Chanyeol membuat Baekhyun terkekeh pelan. Mendadak lelaki itu berubah menjadi manja sekali. Laki-laki itu juga bergerak selangkah lebih maju dalam hubungan mereka. Dan Baekhyun tak tahan untuk tidak mencubitnya dengan gemas.

Senyuman tampan Chanyeol mengembang bersamaan dengan keduanya yang saling bertatapan dengan penuh jenaka.

"Baek, tidurlah bersamaku."

"H-Ha?" Mata Baekhyun sontak membulat. Kedua pipinya merona. Ia yakin pendengarannya tidak salah. Ia yakin Chanyeol baru saja mengatakan sesuatu yang.. vulgar?

"Maksudku, tidurlah disini. Bersamaku." Jelas Chanyeol, karena sepertinya ucapan sebelumnya terdengar ambigu bagi Baekhyun. "Aku ingin kau berada di kamar yang sama denganku. Dan tidur disampingku."

Baekhyun terdiam mendengar hal itu. Ia tak tahu apakah dirinya diperbolehkan untuk berpindah kamar terlebih lagi ke kamar Chanyeol. Karena meskipun ia telah resmi menjalin hubungan dengan Chanyeol, statusnya masih tetaplah seorang pelayan dan Chanyeol adalah majikannya.

Hal tersebut akan melanggar peraturan jika keduanya tinggal dalam satu kamar yang sama.

"Mari kita bicarakan itu nanti. Karena aku sangat mengantuk." Ucap Baekhyun. Ya, efek dari obat bius itu mendadak muncul kembali.

"Baiklah. Kau pasti lelah."

Mereka seharusnya pergi tidur. Namun tak sampai 5 menit, suara Baekhyun terdengar mengalun di pendengaran lelaki itu. "Chanyeol.."

"Hm?"

"Selamat tidur."

Chanyeol hanya balas tersenyum dan mengangguk. Ia semakin mendekap erat tubuh Baekhyun dalam pelukannya. Mencoba mencari posisi nyaman untuknya tidur.

Tetapi lagi-lagi Baekhyun memanggilnya. "Chanyeol.."

"Kenapa, Baek?"

Baekhyun mengerjap pelan dengan ragu. "Tidurlah yang nyenyak."

Padahal Chanyeol baru saja akan memejamkan matanya dan terbang ke alam mimpi. Tapi Baekhyun menyadarkannya kembali dengan kalimat sepotong-sepotong. Mengapa lelaki itu tidak mengatakannya sekaligus?

"Kau juga, tidurlah yang nyenyak."

Tetapi meski mata Chanyeol terpejam, ia masih membuat dirinya terjaga. Karena ia yakin lelaki itu akan memanggilnya lagi kali ini.

"Chanyeol.."

Dan benar saja. Chanyeol akhirnya tertawa kecil karena Baekhyun tak kunjung berhenti memanggilnya. Padahal lelaki itu sendiri yang mengatakan ingin segera tidur karena mengantuk.

"Ada apa, Byun Baekhyun?"

"Aku mencintaimu." Bisik Baekhyun sebelum ia menyembunyikan wajahnya pada dada bidang Chanyeol. Mungkin tak akan ada yang menyadarinya, tetapi Baekhyun terus mengatakan hal-hal tak penting sebelumnya karena ia terlalu malu untuk mengatakan langsung bahwa ia mencintai lelaki itu.

Chanyeol tersenyum melihat Baekhyun yang nampak malu-malu. Ia mengecup puncak kepala sang kekasih dan balas berbisik, "Aku lebih mencintaimu, Byun Baekhyun."

"Jadi, bisakah sekarang kita tidur?"


27 Desember 2006

Air mata terus-menerus menetes di pipinya. Mengalir dan jatuh perlahan-lahan ke pangkuannya. Tangan lelaki itu mengepal dengan kuat. Dadanya terasa sesak kala ia terus mengucap kalimat didalam hati yang membuatnya harus menerima kenyataan bahwa seseorang yang ia sayangi telah pergi meninggalkannya pada hari ini.

Sehun tidak berasal dari keluarga yang utuh maupun harmonis. Ibu kandungnya pergi begitu saja setelah melahirkannya. Dan hal tersebut mengharuskan dirinya tinggal berdua bersama sang ayah dalam sebuah rumah yang sunyi dan hanya dipenuhi dengan banyak mainan dibandingkan tawa bahagia dari percakapan antara seorang ayah dan anak.

Ayah Sehun sibuk bekerja. Jadi, setiap hari Sehun hanya akan menghabiskan waktunya bersama para pelayan atau mungkin teman sebayanya. Sehun cukup mengerti dengan hal itu. Semakin dirinya tumbuh dewasa, ia semakin mengerti mengapa sang ayah begitu bekerja keras dalam pekerjaannya.

Mereka jarang menghabiskan waktu bersama. Sehun akan sibuk dengan sekolahnya sementara sang ayah, seperti biasa akan sibuk berpergian ke luar kota karena pekerjaannya. Melihat kondisi keluarga mereka yang seperti ini, ayah Sehun berjanji akan mengajaknya pergi di akhir pekan nanti. Meskipun bukan sebuah acara keluarga dikarenakan saat itu ayahnya juga akan melakukan pekerjaan dengan beberapa teman ayahnya yang ikut serta, namun Sehun sudah cukup senang bisa menikmati waktu bersama sang ayah.

Tetapi siapa yang akan menyangka jika hari itu adalah hari terakhir dimana ia bertemu dengan ayahnya. Dimana hari yang ia kira indah mendadak berubah menjadi neraka. Sehun tahu dan sedikit mengerti permasalahan yang terjadi kala itu. Dan ia tak hanya tinggal diam. Ia mencoba mencari arti keadilan. Namun umurnya saat itu membuatnya nampak seperti anak kecil yang konyol dan tak bisa berbuat apa-apa dengan ucapannya.

Jadi ia hanya bisa menelan kenyataan pahit berulang kali dan duduk terdiam memandang bingkai foto sang ayah dipemakaman.

"Sehun, ikutlah dengan paman."

Saat itu, Sehun merasa ada yang sedikit berbeda dari pamannya. Pria tua itu sedikit lebih dingin dan kaku dari biasanya yang selalu nampak ceria dan membawa kehangatan. Mungkin karena situasi yang tengah terjadi kala itu.

Mereka mengendarai mobil dan menempuh perjalanan yang memakan waktu tiga jam lebih. Jalanan-jalanan yang mereka lewati membuat Sehun merasa seperti dejavu. Sedikit tidak asing dengan jalanan ini, namun ia mencoba untuk tak memusingkannya. Karena iapun tak tahu mengapa sang paman tiba-tiba mengajaknya pergi tanpa memberitahu kemana tujuan mereka.

"Ayo, turun."

Sehun mengikuti perintah dari pamannya. Ia lantas turun dari mobil bersamaan dengan pria itu.

Mereka berjalan sejenak hingga berakhir pada sebuah rumah besar yang terlihat seperti istana. Sangat indah namun entah mengapa Sehun merasakan adanya aura tidak enak yang menguar dari dalam tempat tersebut.

"Masuklah kedalam, Sehun." Ucap Hanjoon.

Sehun tak langsung bergerak. Ia terdiam menatap pamannya yang tiba-tiba sama sekali tak berani untuk menatap kearahnya. "Kenapa? Sebenarnya ada apa ini? Mengapa paman tiba-tiba membawaku dan menyuruhku masuk ke dalam rumah ini?"

"Aku menitipkanmu sebentar. Aku akan datang menjemputmu nanti."

Sehun terkejut mendengarnya.
Terlebih lagi sang paman langsung pergi begitu saja dan tak memikirkan perasaan Sehun yang sangat kecewa mendengar jawaban darinya. Mengapa ia harus dititipkan? Apa ia hanya membawa kesusahan untuk pamannya?

Sehun memandang kembali pada rumah besar dihadapannya. Ia bertanya-tanya siapa pemilik rumah ini. Mungkinkah teman pamannya?

Udara yang terasa semakin dingin membuat Sehun mau tak mau segera melangkah masuk ke dalam tempat itu. Ia berjalan melewati teras rumah dan mengetuk pintu utama. Tetapi bagaikan mimpi buruk, ia justru bertemu dengan seseorang yang telah menghancurkan hidupnya. Seseorang yang dengan rasa tak berdosanya telah merenggut kebahagiaan besar dalam dirinya.

Ia adalah Kris Park. Mimpi buruk terbesar Oh Sehun.

.

.

.

.


{ To Be Continued }


12,7k words..

GAK NIAT SEPANJANG INI SUMPAH. TAPI IDE TIBA2 NGALIR PANJANG BANGET SEPANJANG JALAN KENANGAN CHANBAEK WKWK aku juga gak niat explain tapi aku terlalu sibuk sampai kondisiku sempet drop dan bener2 kecapean. Kalo kata seseorang sih = saking sibuknya napas aja sampe susah wkwk jadilah aku baru apdet sekarang.
(Kayaknya rencana aku di chap kemarin gagal semua ya wkwk)

Niat awal sih mau dibagi dua bagian aja soalnya ini kebanyakan banget. Tapi untuk mengobati rasa kangen kalian akhirnya aku tetep publish sebanyak ini YEAAYY

Akhirnya ya cb jadian juga /elap keringet/ wkwk Apakah actionnya dapet guys? (Enggak whoooo!:"""))) Kalo banyak sekali kekurangan mohon dimaklumi yaa karena aku juga sedikit ngebut ngetiknya. Dan teruntuk kalian yang khawatir maupun gelisah (cieelah), tenang guys aku gak kemana2 kok. Aku tetep ada di ffn ngelanjutin ff ini sampai tamat. (Yehet)

Aku harap dari kalian semua menyukai seluruh cast yang berada di ff ini yaah. Terutama Yeri wkwk plis jangan benci dia karena suka sama Sehuuunn wkwk

Ohya, ignya sudah kubuat. Sok atuh di follow : baekconybekun92

Terima kasih kepada yang sudah fav/foll/review. Kritik dan saran yang membangun akan selalu aku terima dengan senang hati. Dan selamat datang bagi para readers baru! Semoga kalian betah ya! Kalian yang terbaik! Sampai jumpa dichap selanjutnya! I love you with all my heart. Stay healthy and always support exo!