DO NOT ENTER ! (CHANBAEK)

BOYSLOVE/YAOI

Main Cast :

Byun Baekhyun

Park Chanyeol

Summary :

Jangan masuk ke dalam sana! Tidak ada yang diperbolehkan masuk ke dalam sana! Larangan tersebut telah diketahui oleh setiap penghuni rumah. Namun Byun Baekhyun, laki-laki yang mendadak menjadi seorang penyusup telah melanggarnya.

~Keseluruhan cerita berasal dari imajinasiku sendiri~

.

.

BB922016


Do Not Enter ! : Chapter 8

Pagi yang cerah dengan cahaya matahari yang perlahan menyusup di balik tirai membangunkan kedua pasangan yang tengah tertidur pulas dalam posisi berpelukan mereka yang nyaman.

Lelaki bertubuh mungil terlebih dulu membuka kelopak mata mencoba menyesuaikan matanya dengan cahaya yang masuk.

Ia mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah seseorang yang masih terlelap di dalam mimpi. Dan senyuman manis sejenak mengembang sebelum akhirnya dengan jahil ia menyentuh wajah itu, untuk menganggu tidur nyenyak sang pemilik wajah.

Terkadang ia akan mencubit dengan gemas hidung mancung majikannya yang kini telah berubah status menjadi kekasihnya. Membuat sang empu langsung menangkap tangan nakal Baekhyun untuk berhenti mengganggu, dan bergerak mengecup telapak tangan si mungil.

"Bagaimana tidurmu?" Chanyeol membuka mata dengan senyum terulas di wajah tampannya.

Baekhyun tersenyum malu. "Lebih nyenyak dari biasanya." Jawab lelaki itu.

Mereka berakhir dengan saling melempar senyum manis di pagi ini. Senyuman yang cukup lebar dibandingkan biasanya. Menyesuaikan dengan perasaan menggebu-gebu mereka saat ini. Bahkan yang mereka rasakan kini hanya dunia yang penuh dengan kebahagiaan kecil mereka. Tanpa mengingat bahwa semalam telah terjadi hal menegangkan dan hampir merenggut nyawa.

Jam menunjukan pukul 9 pagi. Tak biasanya mereka berdua bangun sangat telat. Namun sepertinya baik Chanyeol maupun Baekhyun sama-sama berada dalam kondisi yang lelah setelah semalam telah terjadi kericuhan yang menguras fisik dan mental mereka. Kini tenaga mereka seharusnya telah terisi penuh kembali.

"Kurasa kita harus mandi sekarang." Chanyeol menatap Baekhyun setelah sebelumnya ia melirik pada jam yang berada diatas nakas. Hari ini mereka akan berziarah, jadi seharusnya mereka segera bersiap-siap untuk pergi, bukan?

Tetapi yang lebih mungil nampaknya masih terlalu nyaman dengan posisi mereka sekarang. Lelaki itu justru memejamkan matanya kembali dengan senyuman manis menghiasi wajahnya. Seolah ia sengaja tak mengindahkan ucapan Chanyeol.

"Baek, kita harus bangun."

Namun Baekhyun semakin menyamankan posisinya di pelukan Chanyeol. Membuat Chanyeol yang memperhatikannya tak dapat menahan rasa gemas akan tingkah manja si mungil.

Chanyeol bergerak merubah posisi mereka. Lelaki itu memposisikan dirinya berada di atas tubuh Baekhyun dengan tangan di kedua sisi kepala lelaki itu untuk menjaga keseimbangannya.

Baekhyun membuka matanya saat merasakan helaan napas meniup helaian rambutnya. Dan tatapan mata mereka langsung bertemu. Chanyeol membawa tubuhnya mendekat dan semakin mendekat hingga ia dapat menggigit bibir Baekhyun saat merasa bibir lembut itu berada dalam jangkauannya. Ia melumat dengan pelan dan menghisap bibir mungil yang entah mengapa mulai menjadi candu bagi Chanyeol.

Sekedar bergurau di pagi hari nyatanya justru membawa Chanyeol pada kegilaan. Ia menjelajahi mulut Baekhyun dengan penuh gairah.

Tak ingin membiarkan perasaan itu lenyap seketika, ia membiarkan nalurinya mengambil alih kesadarannya untuk bergerak lebih intim. Menarikan jemarinya masuk melewati celah baju si mungil.

Baekhyun tak dapat menolak perasaan yang menggelitik hatinya. Membuat darahnya berdesir dan hampir tak terkendali kala Chanyeol terus menyentuhnya dengan sentuhan lembut namun terlihat menuntut menginginkan lebih dari sekedar sentuhan-sentuhan kecil itu.

Dengan mata yang terpejam, Baekhyun menikmati segala yang Chanyeol lakukan pada tubuhnya. Ia mengalungkan tangannya pada leher lelaki tersebut dan terkadang mengusap punggung sang kekasih dengan gerakan sensual yang tanpa sadar telah membuat Chanyeol semakin menginginkan lebih dari ini.

"Nghh.." Lenguhan demi lenguhan yang keluar dari bibir tipis itu mulai memenuhi keheningan ruangan.

Chanyeol berhenti dan melepas ciuman mereka. Ia menatap kekasih yang berada di bawahnya. "Kau berbahaya, Baek." Ucap Chanyeol dengan napas yang masih terengah-engah.

Wajah Baekhyun yang merah padam dan kondisi yang berantakan membuat Chanyeol berusaha mati-matian menahan suatu gejolak yang masih menggila dalam dirinya. Chanyeol menggigit bibirnya sendiri sebelum akhirnya memalingkan wajah. Ia hampir saja melupakan tujuan mereka pagi ini.

Chanyeol lantas bangun dari atas tubuh Baekhyun. "Kau mandi terlebih dulu saja, Baek. Aku akan berbicara dengan Kris."

Baekhyun bangkit dari posisinya. Ia tak banyak bicara dan hanya balas mengangguk mengerti. Sialnya, lelaki itu tampak menggoda bahkan ketika tak melakukan apapun.

Chanyeol mengacak rambutnya sendiri. Merasa sesuatu yang berada di tubuhnya berteriak ingin dirinya melanjutkan kegiatan tadi. Namun ia tak bisa meniduri Baekhyun begitu saja. Chanyeol memang suka berlaku seenaknya, tetapi ia sangat menghargai Baekhyun. Karena itu, ia tak ingin semua ini berjalan terburu-buru. Ia tak ingin membuat lelaki itu merasa tak nyaman.

Nyatanya pemikiran itu berlainan dengan si mungil. Baekhyun memang sangat gugup kala Chanyeol membuat dirinya bergairah. Namun ia tak bisa menyembunyikan setitik perasaan kecewa yang muncul. Sesungguhnya Baekhyun menginginkan lebih. Ia menyukai bagaimana jemari itu memujanya.

"Baiklah." Jeda Baekhyun gugup. "Kuharap akan baik-baik saja."

"Ya. Semua akan baik-baik saja." Chanyeol tersenyum manis sembari mengusap puncak kepala Baekhyun lalu bangkit dari duduknya.

Meskipun tidak ingin, tapi pada akhirnya Chanyeol harus berbicara dengan sang kakak. Situasi mereka kini yang memaksa Chanyeol mau tak mau harus melakukan kontak dengannya. Lagipula Chanyeol sendiri akan ikut berziarah ke makam keluarganya juga. Rindu yang tak pernah tersampaikan itu, Chanyeol akan meluapkannya sekarang.

Namun baru beberapa langkah, Chanyeol segera berhenti. "Tunggu." Ia berbalik kepada Baekhyun yang sedang duduk di tepi ranjang. Dirasanya, ia melupakan sesuatu yang penting. Yang seharusnya ia ajukan sejak tadi kepada si mungil.

"Apa kau bisa mandi dengan tangan seperti itu?"

Baekhyun terdiam sejenak memperhatikan luka tembak ditangannya yang dibalut perban. Sebenarnya akan sangat sulit untuknya mandi dengan kondisi seperti ini. Ia tak bisa bergerak leluasa secepat biasanya. Akan tetapi mau tak mau, ia akan menyampingkan rasa sakit tersebut karena ia harus tetap mandi.

"Ah, tak apa. Jangan khawatir. Aku bisa mengatasi ini."

Namun Chanyeol tahu Baekhyun berbohong. Ia yakin lelaki itu pasti akan sangat kesulitan. Jadi Chanyeol menggulung lengan kemejanya dan berjalan kembali pada Baekhyun, yang membuat si mungil sontak bergerak panik.

"Biarkan aku membantumu."

Mata Baekhyun mengerjap dengan cepat. Apa Chanyeol bermaksud untuk memandikan Baekhyun? Atau hanya melepas pakaian ditubuhnya?

"T-Tidaak!" Baekhyun menyengir canggung dan menggeleng. "Kau tidak perlu repot-repot."

Chanyeol mengerutkan dahinya bingung. Mengapa Baekhyun tak mengijinkan dirinya membantu? Sekali lagi, Chanyeol itu sangat menghargai Baekhyun. Ia tak mungkin akan berbuat yang tidak-tidak di balik niat baiknya. Chanyeol tak menerima penolakan itu. Lagipula ia tidak salah, bukan? Ia hanya ingin membantu si mungil.

Baekhyun menyilangkan tangannya didepan dada. Akan tetapi dengan mudah, Chanyeol menyingkirkannya dan meraih kancing kemeja yang Baekhyun kenakan untuk dibuka satu per satu. "T-tunggu!" Ia bahkan tak menanggapi Baekhyun yang kesibukan untuk menutupi tubuhnya.

"C-Chanyeol.."

Wajah Baekhyun telah merah padam. Kulit seputih susunya terekspos didepan mata. Ia belum siap untuk disaksikan oleh Chanyeol dalam keadaan telanjangnya.

Namun Chanyeol masih terlihat tanpa ekspresi meski gerakannya sedikit gugup. Kini ia meraih celana Baekhyun dan menurunkannya dalam sekali tarikan.

"ANDWAAAAEE..!"

PLAAKK..

Baekhyun benar-benar bertingkah seakan ia baru saja di perkosa. Beruntung saja Chanyeol tidak melanjutkan 'kegiatan' tadi. Mungkin ia akan bernasib lebih parah dari ini.


Kris tak gemetar. Ia bahkan tak menunjukan rasa takutnya sama sekali. Kris tetap menunjukan wajah yang angkuh sembari menyaksikan dari jendela kamarnya para wartawan serta polisi yang mulai keluar dari lingkungan rumahnya. Sama sekali ia tak merasa gelisah apabila orang-orang tersebut akan menemukan sesuatu yang mencurigakan di sini.

Bukankah seluruh penghuni rumah sangat pandai berakting? Dan Kris adalah rajanya. Ia bersikap sangat normal seakan-akan memang tak ada rahasia apapun yang di simpan rapat-rapat di rumah ini.

Kris menyeruput kopinya dan berjalan ke meja kerjanya. Namun seseorang yang membuka pintu kamar tanpa permisi membuatnya sedikit terkejut. Terlebih lagi orang itu adalah Chanyeol.

"Ada apa, Chanyeol-ah?" Sapa Kris dengan hangat. Seperti yang biasa ia lakukan kepada sang adik.

Chanyeol mengabaikan sapaan hangat tersebut dan langsung berbicara pada intinya. Ia tak akan basa-basi dan membuang waktu hanya untuk berada satu ruang dengan pria itu. Chanyeol menarik napasnya. "Aku akan pergi berziarah hari ini."

Kris memiringkan kepalanya. "Apa?" Ia jelas sangat terkejut mendengar hal itu. Ia tak mungkin salah dengar, bukan? Chanyeol akan keluar dari zona aman. Apa lelaki itu sudah gila? Susah payah Kris tak membiarkan dunia luar tahu keberadaan Chanyeol. Terlebih lagi si bajingan Ilnam yang entah berada dimana. Yang mungkin saja memiliki rencana lebih buruk kepada sang adik jika berkeliaran di luar sana tanpa penjagaan darinya. Tetapi sekarang Chanyeol justru ingin pergi? Kris berharap ia memang salah dengar apa yang baru saja lelaki itu ucapkan.

Kris mengatur napasnya. Ia menyeruput kopinya mencoba bersikap tenang dan bertanya dengan nada datar. "Kurasa kau tak butuh persetujuanku, lantas mengapa kau mengatakan ini padaku?"

"Aku akan pergi bersama Baekhyun."

Kris merasa sangat lebih tertohok. Ia mengerjapkan matanya dengan cepat. Tetapi ia tidak bisa menyembunyikan perasaannya kala rahangnya mengeras menahan emosi. "Kau ingin pergi bersama pelayan itu? Kau sudah gila?"

Sekarang apa yang akan dikatakan oleh orang-orang jika seandainya mereka melihat Chanyeol yang sudah bertahun-tahun tak ada kabar kini berada di Korea bersama orang lain? Apa lagi yang akan menjadi perbincangan masyarakat nanti?

Meskipun Chanyeol jelas menyadari perubahan raut wajah Kris namun ia memilih mengabaikannya. Tak ingin ambil pusing. "Kurasa kau sudah tahu bahwa aku tak akan mempedulikan laranganmu. Aku pergi."

Tanpa membungkuk hormat, Chanyeol langsung membalik tubuhnya saat merasa tak perlu ada yang mereka bicarakan lagi. Ia tak tahan berada dalam satu ruangan dengan sang kakak. Rasanya segala emosi menguar dari tubuhnya begitu melihat wajah pria itu. Lagipula alasan ia berbicara pada Kris, karena ia tak ingin Baekhyun mendapat masalah jika pergi begitu saja.

Namun suara Kris berseru memanggil namanya. "Park Chanyeol."

Dan ia pun memilih berhenti sejenak tanpa menatap sang kakak.

"Mereka masih mengincar kita. Banyak orang jahat yang akan melukaimu jika kau pergi." Kris mengepalkan tangannya di atas meja. Dan ia beralih menatap marah pada punggung sang adik namun masih menjaga nada suaranya. "Tetap disini."

Sayangnya, Chanyeol yang sangat keras kepala hanya mendengus dan melanjutkan langkahnya. Ia segera pergi keluar dari kamar tersebut tanpa mengindahkan ucapan Kris sebelumnya.

Pria itu langsung menggebrak meja begitu Chanyeol menutup pintu kamar. Pria itu kesal setengah mati dengan ucapan-ucapan Chanyeol. Harus dengan cara apa ia menahan lelaki itu? Kris benar-benar kehilangan akal. Tapi ia sadar bahwa ia terlalu lemah untuk bersikap keras pada Chanyeol. Dan kini Kris berusaha berpikir bagaimana cara untuk melindungi adik kesayangannya. Ia tak akan membiarkan lelaki itu terluka sedikitpun.

Jari-jemari Kris meraba sebuah tombol yang ada di meja kerjanya. Dan selang beberapa detik kemudian, sekretaris Han masuk.

"Ada apa tuan memanggil?"


Baekhyun memutuskan menunggu Chanyeol diluar. Ia berjalan dengan gontai melewati halaman rumah dengan sebuah mantel kebesaran yang sebelumnya dipinjamkan oleh Chanyeol kepadanya.

Dari tempatnya berada, ia dapat melihat masih banyak wartawan di depan rumah yang untung saja jumlahnya tak sebanyak kemarin malam. Namun wartawan-wartawan itu tetap saja bersikeras mewawancarai para bodyguard perihal kejadian kemarin. Tak peduli seberapa keras usaha mereka, bodyguard-bodyguard tersebut lebih memilih diam seribu bahasa. Seolah memang begitulah seharusnya mereka bersikap.

Disisi lain, seseorang dengan wajah yang sedikit berantakan dengan lebam dimana-mana tengah berjalan ke arah Baekhyun yang tengah melamun.

"Nyalimu cukup berani juga dengan tubuhmu yang sekecil itu."

Baekhyun tersentak mendengar sebuah suara yang menyapa pendengarannya. Dan begitu ia menoleh, ia dapat melihat wajah familiar seseorang.

Oh tentu saja lelaki itu adalah lelaki yang sama dengan yang menangkapnya saat ingin kabur. Dan juga lelaki itulah yang kemarin malam ikut terlibat dalam percakapan dengan penjahat.
Lelaki tersebut memiliki tinggi yang tidak jauh beda dengan Chanyeol dan Kris. Membuat Baekhyun lagi-lagi terlihat seperti kurcaci saat lelaki itu berhenti di sampingnya.

Baekhyun mendelik tak senang. Merasa tak menyukai sikap sok kenal Sehun padanya. Baekhyun tak mungkin melupakan apa yang laki-laki itu pernah lakukan kepadanya. Namun sang pengawal tampan itu nampaknya tak menyadari raut wajah tak suka dari Baekhyun.

"Namaku Oh Sehun."

Baekhyun memandang datar pada uluran tangan Sehun sebelum akhirnya menerima ajakan berjabat tangan tersebut.

"Aku Byun Baekhyun." Ketusnya.

Sehun mengangguk-anggukan kepala merasa sudah tahu nama laki-laki itu. Bagaimana tidak? Tak mungkin jika ada seseorang di rumah ini yang tidak tahu mengenai pelayan lelaki tersebut. Terlebih lagi mengetahui bahwa adanya hubungan spesial antara Baekhyun dengan tuan muda Chanyeol membuat nama Baekhyun selalu menjadi gosip utama yang dibincangkan oleh para pelayan maupun pengawal.

"Kau mau pergi kemana?" Tanya Sehun dengan ramah.

Tetapi pertanyaan itu membuat dahi Baekhyun berkerut. "Bagaimana kau bisa tahu jika aku ingin pergi ke suatu tempat?" Seingatnya ia tak pernah membuka mulut tentang kepergiannya pada siapapun.

Sehun dengan santai menjawab seraya memasukkan tangannya ke dalam saku celana.

"Kau berpakaian sangat rapi. Dan sebenarnya, Tuan Kris memerintahkan beberapa pengawal untuk menjaga kau dan tuan muda Chanyeol."

"B-Benarkah?"

Sehun mengangguk. Memperjelas ucapan sebelumnya. "Ya, tentu saja. Tidak ada yang tidak bisa tuan Kris lakukan untuk tuan muda."

Kalimat sederhana itu membuat Baekhyun tersadar. Ya, benar. Bukankah semua orang sudah tahu betapa Kris menyayangi adiknya itu? Namun sampai sekarang mereka tak kunjung mengambil jalur tengah dan berdamai dengan masa lalu. "Sepertinya ia benar-benar menyayangi Chanyeol." Gumam Baekhyun.

Mendengar hal itu, Sehun langsung memandang lelaki mungil disampingnya dengan perasaan yang sulit diartikan. Ia mengingat betapa keras kepalanya Baekhyun yang selalu melanggar peringatannya selama ini tanpa memikirkan hal yang akan terjadi pada dirinya sendiri nanti. "Jika kau memang berpikiran seperti itu, seharusnya kau menjauh dari tuan muda."

"A-Apa?"

Baekhyun terkejut. Ia lupa jika Sehun selalu bersikap seperti ini padanya. Melarangnya untuk dekat dengan tuan muda tanpa alasan yang benar-benar dapat dimengertinya. Pengawal itu selalu berkata dengan misterius membuatnya harus bertanya-tanya dan menjawab sendiri.

"Baek?"

Panggilan itu membuat keduanya menoleh. Baekhyun yang paling terlihat gugup ketika menyadari kehadiran Chanyeol diantara mereka. Bukannya apa-apa, ia masih tak dapat melupakan kejadian memalukan tadi pagi. Baekhyun ingin mengubur dirinya sendiri jika mengingat hal tersebut.

Bagaimana tidak? Karena terlalu panik saat Chanyeol menurunkan celananya, tanpa sadar Baekhyun melayangkan tamparan pada wajah Chanyeol. Tentu saja Chanyeol terkejut bukan main begitu pula dengan Baekhyun yang tak percaya dengan apa yang ia lakukan barusan. Ia baru saja menampar seorang psikopat. Sepertinya ia sudah bosan hidup. Beruntung Chanyeol tak membunuhnya dan hanya mengerutkan dahi dengan tatapan tajamnya.

Chanyeolpun akhirnya mengerti setelah Baekhyun menjelaskan bahwa ia terlalu malu saat Chanyeol melepas pakaiannya. Karena itu, Chanyeol segera memanggil para pelayan untuk mengurus lelaki tersebut dan pergi menuju kamar Kris.

Chanyeol mengalihkan pandangannya pada Sehun. Siapapun yang melihat tatapan tuan muda, pasti dapat melihat jelas betapa tajamnya tatapan itu yang seakan dapat menusuk bola mata Sehun. Sehun sedikit merasa tak nyaman sekaligus terancam hanya dengan tatapan dari majikannya itu.

"Ng.. Bagaimana?" Tanya Baekhyun dengan canggung.

"Kita pergi sekarang." Chanyeol berhenti menatap Sehun dan memfokuskan untuk menatap si mungil. Tetapi ia mengernyit heran melihat kedua pipi Baekhyun yang merah merona.

Kedua tangan Chanyeol menangkup pipi Baekhyun. "Ada apa dengan pipimu?"

"T-Tidak.." Meski berkali-kali Baekhyun mengelak, namun kedua pipinya justru semakin memerah.

Chanyeol mencoba mencerna dan memahami maksud sikap Baekhyun yang merona terhadapnya. Hingga akhirnya beberapa detik kemudian, ia teringat kejadian tadi pagi.

Chanyeol segera melepas tangannya.
"Ah, maaf. Aku.. tidak bermaksud agresif padamu saat itu." Ia berdeham pelan mencoba menghilangkan rasa canggung yang mendadak menyelimuti mereka.

"TIDAK! AHAHA.. TIDAK APA-APA. JANGAN KHAWATIR." Suara Baekhyun tiba-tiba meninggi diiringi tawanya yang entah mengapa membuat sikapnya benar-benar terlihat aneh. Baekhyun, kau benar-benar bodoh.

Chanyeol dan juga Sehun yang masih ada disana hanya terdiam memperhatikan betapa konyolnya Baekhyun saat ini. Si mungil pun menyengir canggung dan memutuskan untuk melangkah pergi lebih dulu meninggalkan keduanya. Sepertinya ia teramat sangat malu akan sikapnya sendiri dan ingin segera menenggelamkan diri di Sungai Han.

"Tuhan, bunuh saja aku." Gumam Baekhyun.


Beruntung sekali para pengawal dengan cepat menyingkirkan wartawan-wartawan yang menghalangi gerbang hingga akhirnya Chanyeol dan Baekhyun dapat pergi dengan damai tanpa gangguan.

Saat mereka sampai, tempat pemakaman kremasi terlihat lumayan ramai pengunjung. Nampaknya hampir sebagian orang sedang menghabiskan waktu mereka melakukan hal-hal menyenangkan dengan berpergian ke tempat-tempat indah di hari natal seperti ini. Mereka pasti sibuk mengisi waktu bersama orang terkasih.

Siapa sangka jika baik orangtua Chanyeol dan Baekhyun, mereka di makamkan di satu tempat yang sama. Dengan sebuah rangkaian bunga yang dipegang oleh pasangan tersebut, mereka melangkah bersama menuju sebuah tempat dengan lemari kaca yang mengelilingi sekitar ruangan.

Mereka terlebih dulu mengunjungi orangtua Baekhyun. Baekhyun yang memang terbiasa mengunjungi makam kedua orangtuanya nampak lebih tegar dari sebelum-sebelumnya. Ia justru tersenyum tiap kali langkah kakinya membawa dirinya lebih dekat dengan foto keluarga bermarga Byun.

Baekhyun menaruh bunga kecil yang digenggamnya di kedua lemari kaca ayah dan ibunya.

"Bagaimana kabar kalian?" Baekhyun menaruh sejenak tangannya di kaca yang membatasinya dengan guci dari abu orangtuanya. Ia mengusap lembut seakan mencoba merasakan kehadiran mereka. "Jangan khawatir dan terlalu sering merindukanku. Aku baik-baik saja disini." Senyuman hangat itu terulas di wajahnya yang tenang bercampur sendu. Tak perlu ia mengucap berjuta-juta rindu yang ia rasakan, kini ia hanya ingin keluarga kecilnya baik-baik saja di surga.

Ia menghela napasnya sebelum akhirnya tersenyum dengan sangat amat cerah. Terlihat sekali ia berusaha keras untuk lebih tegar lagi. "Ah, omong-omong aku ingin memperkenalkan seseorang pada eomma dan appa. Ini Chanyeol, kekasihku."

Chanyeol lantas membungkuk sopan kepada dua buah foto dihadapannya. Menyapa dengan ramah kepada calon mertuanya. "Annyeong haseyo. Namaku Park Chanyeol."

Baekhyun tersenyum menatap pada lelaki disampingnya. Hatinya ikut berdebar memperhatikan sosok Chanyeol yang sangat tampan. "Eomma, Appa.. Dia benar-benar berbeda dari lelaki yang pernah kutemui. Jangan bertanya kenapa, aku hanya menyukai setiap perlakuannya padaku yang berhasil membuatku jatuh cinta."

Baekhyun memang membicarakan kekasihnya kepada kedua orangtuanya namun pandangannya tetap tertuju pada lelaki itu. Menatapnya sedalam mungkin hingga secara tak langsung ia telah mencurahkan perasaan yang ia rasakan pada lelaki tersebut.

"Dan aku.. kurasa aku tidak bisa hidup jika harus kehilangannya seperti saat aku kehilangan kalian."

Kedua mata Baekhyun terlihat sedikit berkaca-kaca. Dan hal itu membuat Chanyeol segera menangkup sebelah pipi Baekhyun dan mengusapnya lembut.

"Eommonim, Abeonim, Baekhyun akan baik-baik saja disini. Aku akan menggantikan kalian untuk menjaganya."

Baekhyun terkekeh pelan mendengar itu dan menggenggam tangan Chanyeol sebelum beralih menatap foto kedua orangtuanya. Menatap dengan penuh harapan. "Karena itu, kumohon restui hubungan kami. Dan aku berjanji akan bahagia selamanya."

Saat ini, yang Baekhyun inginkan hanyalah kebahagiaan. Setelah semua masalah yang terlewati menghancurkannya berkeping-keping, kini ia mulai merangkainya kembali seperti puzzle dengan bantuan Chanyeol. Baekhyun berjanji ia akan baik-baik saja mulai sekarang.

"Dan juga eomma, appa.. meskipun sudah bertahun-tahun lamanya, aku yakin akan menemukan'nya'. Pasti."

Baekhyun mengulum senyum pahitnya. Baekhyun selalu menanamkan hal itu dalam dirinya sejak 10 tahun yang lalu. Ia tidak akan pernah menyerah meski segala usaha pencariannya akan berakhir sia-sia. Meski hal itu akan memakan waktu bertahun-tahun, Baekhyun percaya ia dapat menemukan orang yang ia cari. Dan ia harap ia dapat menemukannya dalam keadaan hidup sehat. Memang begitulah seharusnya yang terjadi.

"Aku mencintai kalian." Ucap terakhir Baekhyun sebelum akhirnya ia pamit pergi meninggalkan tempat tersebut bersama Chanyeol dan menuju ke tempat dimana keluarga Chanyeol berada.

Mereka berjalan berdampingan dengan gugup. Namun Baekhyun harus dibuat terkejut begitu Chanyeol mengajaknya pada sebuah lemari kaca yang berada di paling ujung. Sebenarnya yang membuatnya terkejut adalah saat ia menatap foto keluarga yang terpajang. Dan secara berurutan, ada tiga guci abu bermarga Park disana.

Chanyeol tampak diam sejenak sebelum mengambil tarikan napas. "Ini adalah kedua orangtuaku." Jelas Chanyeol dengan suara rendahnya. Namun kalimat selanjutnya membuat mata Baekhyun membelalak tak percaya. "Dan.. kakak perempuanku."

Baekhyun menutup mulutnya. Ia tentu sangat amat terkejut. Fakta bahwa Chanyeol memiliki seorang kakak selain Kris, merupakan sebuah kejutan tak terduga baginya. Siapa yang akan menyangka jika lelaki itu ternyata memiliki satu saudara kandung lagi?

Tunggu. Baekhyun sepertinya mengingat sesuatu saat memperhatikan foto kakak perempuan Chanyeol. Ia teringat dengan sebuah bingkai foto yang ia lihat di kamar kekasihnya itu. Dalam foto tersebut, ada seorang perempuan cantik disana yang berdiri diantara Kris dan Chanyeol dengan senyum menawannya. Gadis cantik itu nampak merangkul pundak kedua saudaranya. Ia terlihat sangat bahagia.

'Jadi.. itu noonanya?'

Tetapi yang menjadi pertanyaan bagi Baekhyun adalah mengapa kakak perempuannya meninggal? Mungkin terdengar tidak sopan, namun ia berpikir gadis itu ikut serta dibunuh. Jika memang yang Kris lakukan adalah pembunuhan pada keluarganya sendiri, mengapa tersisa Chanyeol saja? Begitu pula sebaliknya. Jika Kris melakukan pembunuhan hanya pada orangtuanya, lalu mengapa perempuan itu ikut terbunuh? Sebenarnya apa maksud dibalik sikap Kris? Apa alasan sesungguhnya lelaki itu membunuh orang-orang tak bersalah ini?

Chanyeol terdiam untuk beberapa saat. Tak bersuara. Hanya helaan napas berulang kali yang terdengar oleh Baekhyun. Chanyeol menatap guci-guci dimana terukir nama orang-orang yang sangat berarti untuknya. Sudah 10 tahun lamanya dan untuk kali pertama, Chanyeol dapat mengunjungi keluarganya. Ia dapat melihat tempat dimana keluarganya beristirahat dengan tenang.

"Aku datang terlambat. Maafkan aku." Lirihnya.

Baekhyun melihat kesedihan yang mendalam dari raut wajah Chanyeol saat ini. Pasti ia sangat merindukan keluarga yang tak pernah dapat ia temui. Pasti berat untuknya melewati setiap hari bersama seseorang yang telah membunuh keluarganya sendiri. Pasti sulit untuk sekedar bernapas saja.

"Bagaimana kabar kalian? Apa kalian baik-baik saja tanpaku?" Tanya Chanyeol dengan nada lemah tak seperti biasa. Ia benar-benar berharap akan mendapat sebuah jawaban dari segala pertanyaan-pertanyaan yang ia ajukan.

Jemari mungil Baekhyun tergerak untuk mengusap punggung Chanyeol dengan perlahan. Mencoba menyalurkan kekuatan untuk kekasihnya tersebut.

Meski tak setetes air mata pun jatuh dari pelupuk mata Chanyeol. Namun Baekhyun tahu Chanyeol tak sekuat itu. Ia teringat kembali pada malam dimana lelaki itu memeluknya sembari menangisi kejadian 10 tahun lalu. Lelaki itu pasti telah menahan segalanya sendirian.

Baekhyun memutuskan untuk pergi dari sana dan memberikan waktu sendiri untuk Chanyeol bersama keluarganya.

Baekhyun berjalan mendekat ke tempat dimana para pengawal berada. Dan ia menatap Chanyeol dari kejauhan. Mengawasi lelaki itu dari tempatnya kini.

Baekhyun menoleh ke samping dimana Sehun tengah berdiri. Ia tak tahan untuk bertanya sedari tadi. "Apa kau tahu Chanyeol memiliki kakak lain?"

Sehun menoleh sekilas. "Ya, tentu saja. Park Yoora, kakak perempuannya setelah Tuan Kris." Jawab Sehun dengan santai.

"Kalau begitu, apa kau tahu alasan Kris membunuhnya?"

Mendengar pertanyaan itu, Sehun melirik Baekhyun lebih lama sebelum menatap kearah lain dengan pandangan menerawang. Mencoba mengingat kembali ucapan Kris waktu itu padanya.

"Seharusnya gadis itu menutup mulut. Seharusnya gadis itu memilih diam dan tak berbuat apa-apa setelah mengetahui hal yang tak seharusnya diketahui." Sehun menghela napasnya. "Karena gadis itulah Tuan Kris akhirnya membunuh keluarganya sendiri."

Baekhyun mengernyit bingung. Seperti biasa Sehun selalu mengatakan hal misterius yang membuat Baekhyun penasaran dan dibuat semakin bertanya-tanya tentang kejadian sesungguhnya. Sebenarnya ada apa? Apa yang telah Yoora lakukan hingga Kris dapat berbuat hal seperti itu?

Baekhyun menggigit bibir bawahnya dengan ragu. Hingga ia memutuskan untuk mengajukan pertanyaan lagi. "Apa tepatnya yang gadis itu lakukan?"

Sehun terdiam. Mungkin ia berusaha tak menjawab. Atau sepertinya ia tengah mencari jawaban untuk diberikan pada Baekhyun. "Gadis itu telah membocorkan rahasia."

"Rahasia? Rahasia seperti apa? Lalu kenapa hanya Chanyeol yang tak dibunuh? Tunggu, apa Chanyeol bahkan tahu tentang ini?" Baekhyun langsung memborbardir Sehun dengan banyak pertanyaan. Semua terasa tidak masuk akal baginya hanya mendengar jawaban singkat itu. Akan tetapi sang pengawal lebih memilih menutup mulutnya. Sehun tak berniat menjawab lebih lanjut pertanyaan-pertanyaan itu.

"Kau terlalu banyak bertanya." Sehun akhirnya mengalihkan pembicaraan.

"Aku tahu kau sangat penasaran. Mungkin kau juga bermaksud ingin membantu menyelesaikan permasalahan di keluarga ini." Helaan napas terdengar lagi dari mulut Sehun. "Tetapi nanti, kau akan mengerti mengapa tuan Kris dan Tuan muda Chanyeol lebih baik berada dalam situasi seperti ini."

Ucapan Sehun membuat Baekhyun lagi-lagi tak mengerti. Sebenarnya apa yang terjadi? Dan mengapa seolah-olah kejadian sebenarnya ditutupi dari Chanyeol? Mengapa Chanyeol harus menanggung segalanya sendirian dan merenungi kematian keluarganya tanpa alasan yang jelas?

Baekhyun mengerutkan dahinya dan memutuskan untuk memperhatikan Chanyeol kembali yang saat ini nampak begitu rindu pada keluarganya.

Baekhyun tahu bahwa mereka sama-sama merasa kehilangan. Namun jelas sekali dengan rasa sakit yang berbeda dan dengan kekuatan diri yang berbeda.

Mungkin Chanyeol tak bisa sekuat dirinya. Ya, mungkin begitu..


"Tetap awasi mereka. Dan aku tak ingin mendengar sesuatu terjadi kepada Chanyeol. Kau mengerti?" Suara Kris nampak dalam dan mengancam. Pria itu langsung menutup telepon dan mengusap wajahnya dengan kasar.

Ia cukup frustasi mengurus adiknya yang satu itu. Mungkin saat kecil ia lebih mudah mengaturnya, tetapi sekarang Chanyeol telah tumbuh menjadi anak yang keras kepala dan sulit untuk di atur. Sama sepertinya. Bersikeras dengan pilihan yang tak tahu baik atau buruknya. Mereka sama-sama bodoh dalam gilanya perasaan yang mereka candui. Psikopat. Apa jiwa mereka tak bisa di sucikan lagi?

Kris memutuskan duduk di sofa dan menekan remote tv mencari sebuah saluran yang menarik untuk membunuh rasa khawatirnya. Sontak saja ia memiringkan kepalanya begitu melihat sosok orang yang berada dibalik layar televisi saat ini. Sepertinya acara itu berhasil menarik perhatiannya.

"Aku turut berduka atas apa yang telah menimpa Kris. Sungguh hal yang tak bisa kita duga.." Layar televisi menampilkan Ilnam yang tengah menunjukkan raut wajah sedih dan simpati yang bagi Kris sangat di buat-buat. Lelaki itu pun menunjukkan perasaan tak menyangka dan juga cemas teramat dalam saat mengetahui berita penyerangan pada kediaman Kris. Namun satu hal yang dapat Kris ambil dari sikap Ilnam saat ini. Aktingnya sangat buruk.

Perlahan seringaian nampak terulas di wajah pria yang saat ini terlihat sangat menikmati acara yang disiarkan. Ia mendengarkan seluruh kalimat demi kalimat yang menjadi topik dari berita di televisi saat ini.

Konyol sekali saat mendengar pernyataan Ilnam bahwa pria itu berada di Jepang saat ini, dan menyampaikan duka citanya melalui sebuah video yang disebar oleh wartawan media. Pria itu bertingkah seolah tak tahu-menahu akan kejadian penyerangan semalam. Seolah ia bukanlah dalang di balik semuanya. Ilnam benar-benar tak memiliki rasa malu sehingga dengan santai muncul di televisi.

"Kau kira aku akan diam saja, Ilnam?" Seringaian Kris terlihat semakin menakutkan. Detik selanjutnya pria itu mengubah seringaian tadi menjadi senyuman lebar. "Haruskah kita mulai bermain sekarang?" Tanya nya pada sosok Ilnam di layar kaca.

"Ilnam, aku berjanji akan membuat kejutanku untukmu lebih istimewa dari kejutanmu sebelumnya." Wajah Kris detik demi detik terus berubah-ubah. Kini pria itu terkekeh pelan tanpa sebab.

Televisi tak kunjung berhenti memberitakan mengenai kejadian tadi malam. Wajah Ilnam pun kini selalu ikut terpasang dalam setiap berita mengenai hal yang menimpa Kris. Membuat pria itu menggigit bibir bawahnya dan bersedekap mengamati wajah Ilnam di televisi.

"Bagian mana yang harus ku patahkan terlebih dulu?" Gumam Kris memperhatikan seluruh anggota tubuh Ilnam dengan sangat teliti. Mata Kris seolah berkabut mengamati dengan sangat rinci dan memikirkan kejutan apa yang cocok untuk ia berikan kepada pria hebat di televisi tersebut.

"Ah.. aku tak sabar bertemu denganmu, Ilnam." Kris sepertinya merasakan gairah itu datang dan mengelilinginya. Berbisik memenuhi ruang dalam pikirannya.

Ia ingin membunuh pria itu.


"Bagaimana perasaanmu sekarang?" Tanya Baekhyun kepada Chanyeol yang tengah memandang keluar jendela mobil sedari tadi.

Pertanyaan itu membuat Chanyeol menoleh dan meraih tangan mungil milik Baekhyun untuk ia bawa ke dalam sebuah pelukan.

Baekhyun menatap Chanyeol yang tengah memejamkan matanya seraya memeluk sebelah tangan miliknya. Lelaki itu sepertinya belum ingin pulang. Lelaki itu sepertinya masih rindu dan ingin berbicara lebih lama dengan keluarganya. Mungkin bercerita dan berkeluh kesah tentang apa yang dirasakannya selama ini.

Baekhyun tersenyum lembut dan mengusap kepala Chanyeol dengan perlahan. "Anak baik." Pujinya.

Chanyeol beralih menatap pada si mungil. "Aku.. apa aku cukup baik untuk mereka?" Pertanyaan sedih itu membuat Baekhyun semakin tersenyum. "Kau lebih dari sekedar baik. Kau hebat. Mereka pasti bangga karena kau bisa melewati segalanya meski sendirian."

Chanyeol menundukan wajahnya dan menatap jemari Baekhyun dengan perasaan yang bercampur aduk.

"Aku tidak ingin sendirian lagi, Baek. Jangan pergi. Temani aku." Chanyeol semakin mendekap tangan Baekhyun di pelukannya dan menyandarkan tubuhnya kepada Baekhyun. "Aku benci sendirian." Gumam lelaki itu.

Saat ini Baekhyun kembali menemukan sisi Chanyeol yang lain. Semakin jauh melihat ke dalam diri lelaki itu, membuat Baekhyun semakin ingin melindunginya dari masa lalu yang kelam. Baekhyun ingin mengusir perasaan yang terus menghantui Chanyeol. Baekhyun ingin menjaganya dengan sepenuh hati. "Aku tidak akan pergi kemanapun. Tidak akan pernah."

Chanyeol tersenyum kecil dengan mata yang terpejam. Perasaannya terasa menghangat mendengar kalimat tersebut memenuhi pikirannya. Baekhyun tak akan meninggalkannya.

Ia tak menyangka jika kehadiran lelaki mungil itu disisinya merupakan sebuah keistimewaan. Layaknya sihir, Baekhyun mampu mengobati lukanya secara perlahan-lahan. Entah bagaimana jadinya jika ia kehilangan Baekhyun setelah semua yang mereka lewati bersama.

"Karena kita sudah di luar, apa tidak ada yang ingin kau lakukan?" Tanya Baekhyun membuka topik baru. Membangunkan Chanyeol dari kesedihannya.

Chanyeol mengerjapkan matanya dan berpikir cukup lama. Memilih kegiatan apa yang cocok untuk mereka lakukan di hari natal ini.

"Baek, ayo bermain ice skating."

Pilihan itu mungkin ide yang bagus. Meski tak akan ada yang tahu alasan di balik Chanyeol memutuskan ingin bermain ice skate.

Kegiatan itu adalah kegiatan yang sering Chanyeol lakukan bersama Kris dulu. Mereka berdua hebat dalam bermain ice skate. Tetapi kini kenangan buruk itu ingin Chanyeol hapus dan menggantinya bersama Baekhyun. Kris mungkin tak akan pernah lagi berada dalam memori bahagia Chanyeol.

Kris, kau benar-benar telah dibuang. Sekarang kau hanya bagian dari rasa sakit yang akan memudar terlupakan.

"Baiklah, ayo ke sana."


Mereka telah siap dengan perlengkapan ice skate. Ternyata tempat yang mereka kunjungi cukup banyak sekali pengunjung dari tua hingga muda. Tawa dan canda mengelilingi sekeliling mereka. Tak hanya itu, teriakan kagum maupun ceria ikut memenuhi suasana.

"Ah, aku rindu dengan keramaian seperti ini." Baekhyun tersenyum memperhatikan orang-orang yang tengah sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Baekhyun merasa seakan hidup kembali pada akhirnya ketika dapat merasakan kebebasan dari istana sang raja meski hanya sejenak. Suasana keramaian yang bising, membuat Baekhyun tersenyum lebar. Ia hampir saja lupa bagaimana rasanya berada di lingkungan seperti ini.

Berbeda dengan Chanyeol yang tampak mengerutkan dahinya tiap kali memandang ke arah orang-orang di sana. Bukannya tak suka, ia hanya tak terbiasa melihat keramaian dan kebisingan yang terjadi. Ia juga tak nyaman melihat banyaknya manusia di sekitarnya. Rasanya ia ingin menutup mulut mereka dengan lakban.

"Yeol, aku tidak bisa berdiri." Cicit Baekhyun membuat lelaki tinggi itu menoleh.

Ia tersenyum geli melihat Baekhyun yang tampak kesusahan menyeimbangkan tubuhnya dengan sepatu ice skate. Kekasihnya itu hanya akan kembali jatuh terduduk tiap kali mencoba berdiri.

Dengan senang hati Chanyeol akan memeganginya dan menuntunnya mengelilingi tempat bermain itu. Dengan kedua tangan yang saling menggenggam erat, Chanyeol membawa Baekhyun berseluncur di atas es dengan hati-hati. Suara tawa takjub terdengar berulang kali dari mulut Baekhyun. Lelaki itu nampak sangat gembira dapat merasakan sepatu yang ia kenakan menggesek permukaan es dengan indah.

"Wuaaahh, ini hebat!" Mungkin sedikit berlebihan. Semua itu karena ini pertama kalinya lelaki itu mencoba bermain ice skating. Dan ternyata sensasinya sangat luar biasa.

Chanyeol tanpa sadar kembali mengulum senyum melihat tingkah Baekhyun yang hampir sama persis seperti anak kecil yang juga berada di tempat itu.

Tanpa di sadari, mereka telah menghabiskan waktu dengan perasaan bahagia yang mengelilingi mereka. Sekarang seharusnya perasaan mereka lebih baik dari sebelumnya. Baekhyun harap Chanyeol sama bahagia dengannya saat ini. Begitu pula pikir Chanyeol. Ia harap senyuman Baekhyun akan terus menghiasi wajah manis itu.

"Apa kau ingin minum?" Tanya Baekhyun ketika waktu bermain mereka telah selesai.

Chanyeol balas mengangguk seraya melepas sepatu yang ia pakai.

"Kalau begitu aku akan membelikan minuman untukmu."

Namun Chanyeol segera mencegah lelaki itu. "Biar pengawal saja yang melakukannya."

Baekhyun tersenyum singkat lalu menatap lelaki itu dengan jenaka. "Park Chanyeol, aku ini pelayanmu. Biar aku yang membelinya." Tentu fakta itu tak dapat disingkirkan. Bagaimanapun juga, Baekhyun masih tetap menjadi pelayan pribadi lelaki itu.

"Kau kekasihku." Ujar Chanyeol mengoreksi. Ia seribu kali lebih suka menyebut Baekhyun sebagai kekasihnya.

Tetapi berbeda dengan Baekhyun. Lelaki itu tak ingin melupakan jati dirinya di rumah. "Dan juga pelayanmu." Tambah Baekhyun. Lelaki itu tersenyum manis seraya menepuk pundak kekasihnya. "Aku akan membelinya. Tunggulah di sini."

Ya. Seharusnya Baekhyun membeli minuman seperti yang ia katakan pada Chanyeol. Seharusnya memang itu yang terjadi.

Baekhyun mengantri untuk membayar minuman di kasir. Ia memilih untuk membeli dua kaleng minuman penyegar daripada soda. Jangan tanya bagaimana cara Baekhyun membayar. Apa gunanya pengawal jika mereka tak bisa memberikan atm yang dititipkan Kris kepada mereka.

Lelaki itu bersenandung kecil dan nampak baik-baik saja sebelum ia mendengar percakapan seseorang yang mengantri didepannya.

Lelaki itu terdiam. Pandangan Baekhyun entah mengapa tak bisa lepas dari gadis yang saat ini tengah berbicara lewat telepon dengan seseorang.

"Mengapa kau tak mengabariku saat pergi? Teman macam apa kau ini?" Suara gadis cantik itu seolah memenuhi pendengaran Baekhyun. Setiap kalimat yang gadis itu ucapkan terasa berbisik di telinganya.

"Apa kau tahu betapa khawatirnya aku saat kau menghilang begitu saja?"

Baekhyun mendengarkannya. Dan saat itu pikirannya melayang pada Jongdae. Baekhyun berpikir mungkin Jongdae tengah mengalami apa yang gadis dihadapannya rasakan. Sahabat baiknya itu, mungkin selama ini tengah mengkhawatirkannya dan menunggu kabar darinya. Dan semua pemikiran-pemikiran itu membuat Baekhyun pada akhirnya bertindak di luar kendalinya.

Baekhyun segera pergi dari antrian itu tanpa kata. Ia menaruh kaleng minuman tersebut dengan asal dan menatap kesana kemari dengan kebingungan.

Ia memutuskan bertanya pada salah satu pengunjung yang ada di sana. "Permisi, apa kau tahu dimana letak telepon umum?"

Pria yang ditanyai oleh Baekhyun lantas menunjuk ke arah luar. "Kau akan menemukannya saat keluar dari tempat ini."

"Baik. Terima kasih." Lelaki itu membungkuk sopan dan bermaksud untuk pergi. Sampai ia kemudian menyadari sesuatu. "Ah, tunggu. Bolehkah aku meminta koin padamu? Aku harus menelepon seseorang."

Mungkin wajah melas Baekhyun berhasil membuat pria itu memberikan koin agar Baekhyun dapat menghubungi seseorang yang sangat penting untuknya. "Terima kasih banyak."

Baekhyun segera melangkah pergi menjauh dari kasir. Seperti yang ia rencanakan, ia akan keluar dari tempat Ice Skate.

Lelaki itu berjalan menghindar dengan hati-hati agar tak tertangkap oleh pengawal maupun Chanyeol. Dan langkahnya perlahan-lahan semakin cepat ketika ia berhasil menemukan telepon umum.

Tak perlu waktu yang lama, Baekhyun segera memasukan beberapa koin sebelum menekan nomor yang sangat ia hapal di luar kepala.

Tubuhnya bergetar hebat. Baekhyun merasa takut dan gugup bersamaan. Tidak akan ada yang tahu betapa berbahayanya perbuatan yang Baekhyun lakukan sekarang. Namun ia tak peduli.

Baekhyun menggigit bibir bawahnya dan menunggu sampai terdengar nada sambung sebelum akhirnya sebuah suara yang Baekhyun rindukan menyapanya. "Halo?"

Perasaan Baekhyun runtuh begitu saja. Lelaki itu tak dapat menahan perasaan sedih sekaligus senang saat mendengar suara itu saat ini. "Jongdae-ah.." Panggilnya dengan sendu.

"B-Baekhyun? Itukah kau? Apa kau benar Byun Baekhyun?"

Pertanyaan-pertanyaan itu membuat air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Baekhyun sangat merindukan teman kecilnya tersebut.

"Ng, ini aku."

"Baekhyun-ah, sebenarnya kau ada dimana? Mengapa aku tak bisa menghubungimu? Kau juga tak ada di rumah."

Baekhyun membuka mulutnya hendak menjawab. Ia ingin menangis dan mengatakan tentang semua yang telah terjadi akhir-akhir ini. Ia ingin mengatakannya. Namun ia berhenti. Bayangan wajah Chanyeol mendadak terlintas dalam pikirannya dan mengacaukan perasaan Baekhyun dalam sekejap.

Seharusnya Baekhyun meminta bantuan Jongdae untuk dapat lari dari segala kerumitan ini. Seharusnya Baekhyun mengatakan yang sejujurnya kepada sahabatnya. Namun yang keluar dari mulut Baekhyun tak sama dengan apa yang telah ia rencanakan.

Lelaki itu mengggenggam telepon dengan sangat erat mencoba menguatkan diri. "Aku.. aku sedang dalam perjalanan jauh." Bukan itu yang seharusnya Baekhyun katakan. Ia berharap.. ia bisa mengatakan yang sejujurnya.

"Kemana? Kau akan pergi kemana? Sebenarnya apa yang terjadi, Baek?"

Satu tetes air mata lolos mengalir di pipinya. Baekhyun mengusap air mata itu sebelum kembali berbicara. "J-Jongdae-ah, kau harus menjaga dirimu baik-baik."

"Baek, katakan padaku dimana kau sekarang?" Suara itu terdengar sangat khawatir. Lelaki itu pasti sangat terkejut mendengar ucapannya.

Baekhyun berharap ia dapat mengucapkan kata perpisahan yang lebih baik. Namun tak banyak waktu yang tersisa untuknya melakukan panggilan itu. Jadi Baekhyun mengakhirinya dengan ucapan, "Selamat tinggal, Jongdae-ah."

Baekhyun menaruh kembali telepon tersebut pada tempatnya dan menunduk dalam-dalam.

Baekhyun yakin lelaki itu saat ini tengah memanggil namanya atau mungkin memaki dirinya. Namun Baekhyun tak dapat berbuat apapun. Ia telah memilih keputusan yang akan ia jalani. Baekhyun tersadar bukan pertolongan yang ingin ia ambil. Mulai sekarang, Baekhyun akan melupakan kebahagiaan dunia luar serta kebebasannya. Ia telah memutuskan untuk tak akan pernah pergi dan mengikhlaskan sisa hidupnya di rumah keluarga Park.

Baekhyun menghela napasnya untuk yang kesekian kali. Ia tak boleh terus berada di sini. Ia harus kembali menemui Chanyeol.

Baekhyun membalik tubuhnya. Dan ia tersentak saat mendapati Chanyeol berdiri tak jauh darinya. Hanya memandangnya tanpa berkata apapun. Di belakang lelaki itu, beberapa pengawal menjaganya. Dan saat itu, Baekhyun sadar lelaki itu telah mendengar semuanya.

Chanyeol melangkah mendekati Baekhyun. Ia tak menunjukkan rasa marah ataupun kesal. Chanyeol segera menarik lelaki mungil itu ke dalam dekapan hangatnya dan berbisik, "Kau melakukan hal yang benar. Terima kasih, Baek."

Kata-kata itu sangat berpengaruh bagi Baekhyun. Kini ia tak dapat lagi menyembunyikan perasaan sedihnya. Lelaki itu menangis sejadi-jadinya dipelukan Chanyeol. Ia tak peduli jika orang lain mungkin akan memperhatikan mereka.

Baekhyun tak bisa lagi mencoba untuk tegar. Hari ini, Baekhyun telah resmi melepas segala keinginannya untuk bebas demi lelaki itu. Dan demi kebahagiaan yang ia sebut cinta. Baekhyun ingin bersama Chanyeol selamanya. Meskipun harus berada di balik kurungan istana.

.

.

.

.


{ To Be Continued }


6k words..

Mungkin kata maaf dan penyesalan sudah bosan untuk kalian dengar. Tapi aku benar-benar meminta maaf atas keterlambatan mengupdate kelanjutan cerita DNE. Yea, but here i am :) im back. Aku tidak ingin mencari simpati dengan menjelaskan satu per satu permasalahan hidup yang aku lewati akhir-akhir ini. Aku hanya berharap kalian memaklumi kehidupan pribadi aku :")

Iya, aku tahu jika kalian kecewa. Mungkin chap ini tidak sesuai ekspetasi kalian tentang keromantisan kisah-kasih pasangan baru. Tapi demi kebutuhan cerita, aku harus menyampingkan romansa itu karena ada hal yang lebih penting. Sedikit-sedikit mulai terkuak. Satu fakta yang mungkin tidak di sadari oleh banyak readers ( iya ga?) wkwk Chanyeol punya kakak selain Kris. Dan sudah mulai terbongkar juga kalau semua kejadian itu berawal dari kakak perempuan Chanyeol. Silahkan menebak-nebak sendiri apa yang dimaksud oleh Sehun.

Terakhir, berjuta-juta terima kasih aku ucapkan untuk kalian pembaca setia yang menunggu dan juga yang menghubungi aku lewat dm, pm, dsb. Sempat sedih setiap baca review kalian tapi aku tidak ada waktu untuk mengetik kelanjutan cerita. Sampai saat ini aku tidak memaksa kalian untuk tetap menunggu ff DNE. Tapi aku berterima kasih banyak kepada kalian yang mau setia.

Dan satu hal yang pasti, aku tidak mungkin berhenti di tengah jalan. Aku tidak mau cerita ini tidak ber-ending. Karena aku mau kalian tahu bagaimana sulitnya cinta Chanyeol dan Baekhyun di dunia per-ffan sudah sama sulitnya seperti di real life hehehe

Sebagai hadiah kecil, aku membuat teaser untuk ff DNE. Silahkan di cek di akun instagram baekconybekun92

Dan seperti biasa, terima kasih kepada yang sudah fav/foll/review. Kritik dan saran yang membangun akan selalu aku terima dengan senang hati. Sekian. Tetap semangat dan sehat selalu. Mohon maaf lahir dan batin semuanyaaa

Ps. Jangan tagihin nc mulu woi;_; wkwkwkwk