DO NOT ENTER ! (CHANBAEK)
BOYSLOVE/YAOI
Main Cast :
Byun Baekhyun
Park Chanyeol
Summary :
Jangan masuk ke dalam sana! Tidak ada yang diperbolehkan masuk ke dalam sana! Larangan tersebut telah diketahui oleh setiap penghuni rumah. Namun Byun Baekhyun, laki-laki yang mendadak menjadi seorang penyusup telah melanggarnya.
~Keseluruhan cerita berasal dari imajinasiku sendiri~
.
.
BB922016
Do Not Enter ! : Chapter 11
Kris melempar koran-koran itu ke meja sementara ia menyandarkan punggungnya pada kursi kerja dengan mata yang terpejam.
Lirikan mata Sekretaris Hong menunjukan raut kebingungan menatap koran-koran tersebut.
Pria yang tak dapat ditebak pikirannya itu membuka kelopak matanya menatap lurus kepada sang sekretaris diiringi ketukan jari telunjuk di mejanya yang terdengar berirama.
"Cari tahu tentang keluarga Byun yang dimaksud. Semuanya. Jangan lewatkan satu halpun dan laporkan padaku secepatnya."
Banyak sekali dugaan yang melintasi pikiran Kris saat ini dan ia rasa ia perlu memeriksa kebenaran asumsinya sebelum bertindak. Jika semua sudah dipastikan seperti yang ia duga, maka Kris pastilah orang yang paling beruntung di dunia ini. Ia telah menggenggam kunci emas di tangannya. Solusi dari masalah besarnya.
Sekretaris Hong mengambil koran-koran itu dan membaca satu per satu hingga mendadak tersentak lalu menatap kembali kepada Kris.
"I-Ini mengenai Tuanㅡ?"
Berita di semua koran itu adalah berita lama mengenai pembunuhan yang terjadi di hari yang sama dengan kematian beberapa anggota Keluarga Park. Dua pembunuhan yang menggemparkan Korea Selatan selama berminggu-minggu dan hampir membuat beberapa anak perusahaan Park bangkrut.
Sekretaris Hong bertanya-tanya dalam hati apa alasan tuannya ingin mengorek kembali cerita lama yang seharusnya dibiarkan terkubur selamanya. Ia rasa Kris telah membereskan semua yang berhubungan dengan kejadiaan waktu itu dan Ilnam adalah saksi terakhir yang sudah berhasil disingkirkan.
Lantas apa rencana tuannya?
"Aku tidak akan mentoleransi sikapmu ini, Hong."
Tatapan mata Kris berbeda, mengeluarkan aura yang mencekam. Pria itu semakin hari semakin terlihat gila. Ia mulai menunjukan sifat aslinya yang sesungguhnya.
Sekretaris Hong langsung membungkuk hormat menyadari ia telah bersikap tidak sopan dengan mempertanyakan perintah Kris. "M-Maafkan saya, Tuan."
"Aku ingin semua informasi itu sudah ada hari ini. Aku menunggunya."
"Baik, Tuan."
Sesuai janji Baekhyun, hari ini mereka akan pergi bertamasya ke Lotte World. Baik Baekhyun maupun Chanyeol telah lengkap menggunakan mantel karena cuaca yang masih sangat dingin di luar sana.
Chanyeol tak dapat menahan senyumnya saat melihat Baekhyun yang melompat-lompat kecil di setiap langkah mereka menuruni anak tangga.
"Kau sesenang itu?"
Baekhyun mengangguk seperti anak kecil. Lelaki itu tak sabar untuk mencoba seluruh wahana yang ada di Lotte World. Meski semua ini rencana membujuk Chanyeol, namun justru Baekhyunlah yang lebih bersemangat.
Baekhyun senang karena mereka bisa keluar dari rumah yang membosankan ini meski hanya untuk beberapa jam.
Kedua tangan mereka bergandengan erat dan bersama-sama keluar dari pintu utama kemudian menaiki mobil yang telah disiapkan untuk mereka berdua pergi dengan seorang supir dan satu pengawal berbadan besar. Satu mobil lagi mengikuti mereka dari belakang.
Baekhyun harus berterima kasih banyak kepada Yeri yang telah meminjamkan kameranya secara sukarela agar Baekhyun dan Chanyeol dapat mengabadikan momen bahagia mereka di Lotte World.
Karena sesampainya di sana, kedua lelaki itu langsung berfoto bersama di Magic Island dengan berbagai pose dan spot foto yang berbeda. Meski Chanyeol terlihat kaku, namun keceriaan Baekhyun menular sehingga lelaki yang dikenal psikopat itu dapat tersenyum cerah ketika hitungan ketiga jepretan kamera.
"Mari berhenti berfoto dan masuk ke dalam." Chanyeol mencuri satu kecupan di pipi Baekhyun yang sibuk melihat-lihat hasil foto. Mereka sudah melakukan lebih dari sepuluh pose berfoto namun Baekhyun nampaknya belum ingin berhenti hingga Chanyeol harus mengingatkannya.
Lelaki mungil itu langsung menoleh dan mengangguk setuju. Baekhyun terkekeh pelan menyadari kebodohannya lalu menggandeng tangan hangat Chanyeol untuk masuk ke dalam.
Mereka menaiki banyak wahana seperti Lotty's Train dan roller coaster. Tentu Baekhyun menjadi satu-satunya orang yang heboh berteriak dan memejamkan mata, sementara Chanyeol lebih terlihat tenang dan hanya sibuk memandangi semua ekspresi Baekhyun yang baru pertama kali ia lihat. Baekhyun tidak pernah sebahagia ini saat di rumah. Ia berpikir jika lelaki itu memang cocok berada di tempat yang bebas seperti ini.
"Chanyeol, ayo kita pergi ke rumah hantu!"
Chanyeol hanya bisa mengangguk dan Baekhyun akan tersenyum sangat lebar sehingga bulan sabit terbentuk di matanya. Namun yang paling Chanyeol sukai adalah Baekhyun akan selalu menggenggam tangannya kemanapun lelaki itu ingin pergi. Itu membuatnya merasa tak terabaikan.
Rumah hantu yang saat ini mereka kunjungi memiliki banyak mainan maupun boneka menyeramkan dengan suara-suara yang tak kalah membuat bulu kuduk merinding.
"AAAAAA!" Teriakan Baekhyun menyatu bersama teriakan pengunjung lain. Lelaki mungil itu meremas lengan baju Chanyeol dan menutup matanya rapat-rapat saat melihat seseorang yang bertingkah seperti hantu sedang mencoba menakut-nakutinya dengan rambut hitam panjang sepinggang disertai wajah super seram.
Chanyeol langsung membawa Baekhyun ke dalam pelukannya dengan begitu posesif dan melotot tajam pada hantu jadi-jadian itu seolah mengancam si hantu untuk tidak membuat Baekhyun ketakutan lagi atau Chanyeol sungguhan akan membuat ia menjadi hantu gentayangan.
'Berani-beraninya kau mengganggu Baekhyunku.' Kira-kira seperti itulah arti tatapannya.
Chanyeol menggeram seperti serigala yang bersiap-siap untuk menyerang membuat hantu tersebut sontak diam kebingungan melihat tingkah Chanyeol yang jauh berbeda dengan mayoritas pengunjung lain yang ketakutan. Hantu jadi-jadian itu melirik ke arah lain selain ke mata Chanyeol yang terlihat lebih menyeramkan dari dirinya sendiri, dan memutuskan untuk menghentikan aksinya lalu pergi bersembunyi ke asalnya.
Chanyeol langsung beralih menatap Baekhyun dengan khawatir. "Tenang, Baek. Jangan takut. Aku sudah mengusirnya."
Baekhyun perlahan-lahan mengangkat wajahnya menatap sang kekasih. "Kau melakukannya?"
Mendapati Chanyeol yang mengangguk serius, membuat Baekhyun mengerjap cepat dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Mau tak mau Baekhyun terkekeh pelan ketika sungguhan tak mendapati hantu tadi di sekitarnya.
"Ayo segera keluar dari sini." Ajak Baekhyun yang kembali menarik Chanyeol pergi.
Dan di sinilah mereka. Menatap kagum kepada ikan yang berenang bebas dari luar kaca bening pembatas. Mereka sedang mengunjungi aquarium.
"Wuuaa.." Mulut Baekhyun menganga saat melihat betapa besarnya ikan hiu yang sedang berenang melewatinya.
"Kau senang, Baek?" Tanya Chanyeol sembari menarik pinggang Baekhyun untuk mendekat kepadanya lalu menautkan kedua jemarinya di pinggang belakang Baekhyun.
Baekhyun mengangguk cepat menatap kedua bola mata Chanyeol bergantian. "Bagaimana denganmu? Kau senang?"
Chanyeol mengangguk. "Karenamu."
Baekhyun lantas mencubit pelan perut Chanyeol dengan main-main sementara Chanyeol terkekeh dan beralih mengusap dengan sayang pucuk kepala Baekhyun. Sepersekian detik tatapannya berubah menjadi lebih serius namun tetap hangat di saat yang bersamaan.
Lelaki itu menatap Baekhyun dalam-dalam, menghipnotis kerja tubuh Baekhyun. "Aku harap kita bisa terus bersama dan saling mencintai seperti ini, Baek. Aku ingin terus bahagia bersamamu seperti ini." Ucap Chanyeol.
Baekhyun tersipu malu mendengar kalimat tersebut. Ia tak dapat menyembunyikan rona merah di kedua pipinya saat menarik sudut bibirnya untuk tersenyum. Chanyeol selalu saja mengatakan hal-hal manis seperti ini dan Baekhyun selalu menahan dirinya untuk tidak menerjang lelaki itu dengan ribuan kecupan.
Harus berapa kali Baekhyun bilang bahwa Chanyeol sangat tidak cocok dengan julukan psikopat?
Tangan Chanyeol yang besar menangkup kedua pipi Baekhyun dan mengusapnya begitu lembut. Ia menatap dengan teliti senyuman manis sang kekasih.
"Jangan pernah menunjukan senyum ini kepada orang lain, Baekhyun. Hanya aku satu-satunya orang yang boleh melihatnya."
Baekhyun semakin melebarkan senyumannya dengan mata yang menatap Chanyeol dengan jenaka. "Baik, Tuan Mudaku yang tampan. Aku akan mengingatnya."
Chanyeol mengerutkan dahi tak suka mendengar panggilan itu, namun melihat Baekhyun yang tertawa riang membuatnya membiarkan lelaki kesayangannya berbuat sesuka hati.
Yang Chanyeol inginkan saat ini hanya membawa Baekhyun lebih dekat lagi hingga jarakpun malu berdiri di antara mereka. Dan begitulah bagaimana Chanyeol mendekatkan wajahnya untuk mencium bibir tipis Baekhyun yang selalu terasa manis seperti pertama kali mencicipinya.
Mereka saling melumat satu sama lain tanpa mempedulikan orang lain yang akan melirik ke arah mereka atau sekawanan ikan yang menatap mereka dengan pandangan aneh. Kedua mata mereka terpejam menikmati permainan lembut itu.
Chanyeol memperhatikan wajah Baekhyun ketika ciuman mereka terlepas. Lelaki mungil itu masih memejamkan kedua matanya dengan bibir merahnya yang sedikit terbuka. Chanyeol bersumpah Baekhyun adalah makhluk terindah di bumi. Ia sangat cantik dan menawan. Dan Chanyeol menyesal tak pernah mengatakan hal itu sesering mungkin.
"Aku sangat mencintaimu, Baek. Kurasa aku bisa gila jika kehilanganmu."
Baekhyun membuka matanya dan kembali tersenyum manis. Ia melingkarkan kedua tangannya di leher Chanyeol dan menatap lelaki itu dengan mesra. "Aku juga sangat mencintaimu, Yeol."
Ia mendekatkan bibirnya pada bibir sang kekasih, hampir bersentuhan. "Kau adalah orang pertama yang kucintai dengan segila ini."
Oh, Baekhyun sangat pandai dalam membuat Chanyeol semakin jatuh cinta. Semua hal tentang Baekhyun selalu saja membuat Chanyeol ingin bersikap posesif kepadanya. Selalu membuat Chanyeol ingin lebih protektif kepadanya. Dan semua itu terlihat jelas dari tatapan mata Chanyeol, bahwa ia ingin Baekhyun selalu ada dalam pengawasannya. Ia tak ingin melepaskan pandangannya dari Baekhyun sedikitpun.
Lelaki tinggi itu menatap kedua bola mata Baekhyun secara bergantian. "Biar kuperjelas, Baekhyun. Kau adalah Byun Baekhyunku. Kau milikku."
"Ya. Aku milikmu, Chanyeol. Hanya kau seorang."
Chanyeol tersenyum bangga, kemudian meraup kembali bibir pujaan hatinya yang cantik. Sebelah tangannya menangkup pipi Baekhyun dan sebelah tangan yang lain masih melingkar erat di pinggang ramping Baekhyun. Tak berbeda jauh dengan Baekhyun yang saat ini menangkup kedua pipi Chanyeol dan rela berjinjit untuk merasakan lebih dalamnya ciuman mereka.
Mereka sungguh melupakan keberadaan orang sekitar, seolah dunia hanya milik mereka seorang. Mereka bertindak jauh dengan saling berperang lidah dan menggigit dengan penuh gairah sehingga mungkin saja mereka bisa bercinta di sana.
Tanpa di duga sebelah tangan Chanyeol turun meremas bokong sintal Baekhyun membuat sang empu berjengit kaget dan membuka matanya. "Yeol!"
Namun yang ia dapati hanya kekehan kecil dari kekasih tingginya sebelum kembali membuainya dengan ciuman yang manis dan memabukan. Baekhyun hampir gila karena ia menyukai semua yang Chanyeol lakukan padanya. Sekecil apapun itu.
Yeri mengetuk pintu kamar Sehun dan langsung masuk ke dalam tanpa menunggu terdengarnya suara lelaki itu mempersilahkan.
Sehun yang baru saja menyelesaikan makan siangnya menatap Yeri dengan sebelah alis terangkat. Menanyakan kehadiran pelayan termuda itu lewat ekspresi wajahnya yang datar. Sementara gadis remaja tersebut tersenyum hingga menunjukan deretan giginya lalu berjalan mendekat dengan sebuah nampan di tangan yang berisi buah-buahan yang telah ia kupas dan dipotong menjadi beberapa bagian.
"Bagaimana keadaanmu, Oppa?" Tanya Yeri setelah menaruh nampan di atas nakas di samping tempat tidur.
Gadis itu memperhatikan Sehun dari ujung rambut sampai kaki. Untung saja wajah lelaki itu tidak lagi bengkak. Hanya menyisakan warna biru di tulang pipi dan sobekan di bibir. Selebihnya, tubuh lelaki itu masih terbalut perban.
"Aku gay."
Jawaban yang sungguh tidak diharapkan.
Yeri mendengus kesal dan memutar bola matanya dengan malas. Seperti yang sudah bisa ia duga, ia tak akan mendapat jawaban yang ia inginkan sebelum mendengar kata-kata itu. Ia sudah sangat hapal kata-kata yang selalu keluar dari mulut lelaki berkulit putih dan tampan bak malaikat tersebut.
"Berhenti mengatakannya. Aku sudah tahu! Aku hanya menanyakan keadaanmu saja!" Kesal Yeri.
Sementara Sehun nampak tak acuh dengan nada suara Yeri yang terdengar merajuk. Lelaki itu melirik sekilas pada buah yang ada di nampan. "Aku baik seperti yang bisa kau lihat. Apa itu mangga?"
Yeri menghela napasnya. "Hm. Dan semangka kesukaan oppa."
"Terima kasih. Kalau tidak ada yang ingin kau katakan lagi silahkan keluar." Usir Sehun dengan santai sembari menyandarkan tubuhnya pada kepala ranjang. Seperti biasa lelaki itu sangat dingin dan kejam.
"Ck. Apa jika aku laki-laki, oppa mau membiarkanku lebih lama di sini?"
Sehun menatap gadis itu dengan pandangan bingung. Tak mengerti dengan sikap Yeri yang selalu di luar dugaannya.
"Aneh sekali kau ini."
"Apa itu Baekhyun oppa?"
Kali ini pertanyaannya jauh lebih konyol. Sehun hampir tersedak salivanya sendiri. Gadis itu sedang mempertanyakan perasaannya kepada Baekhyun seolah ia memiliki rasa cinta atau semacamnya. "Menyukainya saja aku tidak berani. Mungkin aku sudah mati di tangan Tuan Muda jauh-jauh hari."
"Lalu siapa?" Desak gadis itu.
"Berhentilah, Yeri. Aku tahu kau tidak benar-benar menyukaiku."
Yeri mengerjapkan matanya dan menatap Sehun tak percaya. "Apa?"
"Kita mungkin memiliki kesamaan, tapi itu bukan berarti kita berjodoh. Jadi jangan memaksakan diriku padamu hanya karena sebuah persamaan konyol itu."
Sehun seolah bisa membaca pikiran Yeri selama ini. Benar, Yeri terus berpikir mungkin ia ditakdirkan bersama Sehun karena persamaan yang mereka miliki dan berakhir mengejar lelaki itu terus.
Yeri berdiri dengan tubuhnya yang mulai gemetar. Mata Yeri hampir berkaca-kaca menatap Sehun yang balik menatapnya dengan tatapan dingin dan datar.
"K-Kupikir karena kau mungkin saja bisa mengerti d-diriku. Perasaan kehilangan seseorang yang sangat berarti."
"Kenapa tidak kau coba dengan mengingat masa lalumu itu?" Tanya Sehun dengan nada yang tegas. Jemarinya memegang perban yang melilit di tubuhnya saat ia berbicara cukup panjang. Menahan rasa nyeri yang ditimbulkan dari jahitan di dada dan perutnya. "Kau yakin tidak ada yang terlewatkan jika kau mengubur masa lalumu dalam-dalam?"
Yang dapat Sehun lihat selama ini bahwa Yeri hanyalah gadis kecil yang tersesat dan sedang mencari seseorang untuk membantunya berjalan. Gadis itu masih sangat muda dan tak mengerti bagaimana cara yang benar dalam menghadapi suatu masalah. Yang Yeri terus lakukan selama ini hanya bersembunyi di balik lupa ingatannya tanpa berniat untuk merangkak keluar. Gadis itu takut menghadapi kenyataan.
"Bukankah kematian orangtuamu berhubungan dengan Tuan Muda?"
Yeri terdiam. Gadis itu tak bisa menjawab pertanyaan lelaki itu karena ia sungguh tak tahu harus mengatakan apa. Ia sangat bingung.
Sehun menghela napasnya melihat sikap diam Yeri yang sedang berpikir keras atas kata-katanya. "Kenapa kau tidak mencoba mengerti dirimu sendiri lebih dulu daripada memintaku melakukannya?"
"Oh, astaga. Aku tidak percaya ini. Kita hampir saja diusir!"
"Nada suaramu terdengar senang."
Baekhyun terkikik pelan. "Yeah, aku tidak pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya dan menurutku itu lucu."
Satu alis Chanyeol terangkat. "Kita hampir saja diseret, Baek."
Ia kira Baekhyun akan memarahinya setelah aksi ciuman di tempat umum yang membuat mereka ditegur security, namun reaksi Baekhyun sungguh di luar dugaannya.
"Hampir." Baekhyun menyengir lucu. Wajahnya terlihat sangat senang.
Mereka bergandengan tangan lagi dengan sebelah tangan Baekhyun yang lain memegang gulali.
Chanyeol terkekeh. "Haruskah kita melakukannya lagi?" Aksi ciuman di tempat umum yang lelaki itu maksud.
Mata Baekhyun membulat menoleh pada sang kekasih. "Maka kau akan membuat kita sungguhan diseret, Chanyeol!"
Tak ingin menanggapi keanehan Chanyeol lebih lanjut, lelaki mungil itu mengajak Chanyeol untuk menaiki komedi putar dan menikmati kebersamaan mereka lebih lama. Tentu Baekhyun tak ingin menyiakan setiap detiknya. Mereka tidak pernah bebas berpergian dan berjalan-jalan dengan suasana sebersemangat ini.
Setelah puas mencoba semua wahana, mereka duduk dengan nyaman di taman memandang manusia-manusia yang berlalu-lalang.
"Kau tahu, Chanyeol..."
Chanyeol menoleh dengan tanda tanya di wajahnya. "Hm?"
Keadaan sunyi untuk sesaat. Baekhyun memandang lurus ke wajah orang-orang yang tertawa lepas dengan begitu bahagianya.
"Sejujurnya.. aku senang bisa bertemu denganmu di taman waktu itu. Meskipun kau harus melihatku menangis dengan jelek kkk.."
Baekhyun menoleh pada Chanyeol dengan sisa-sisa tawanya. Mengingat masa lalu mereka dulu membuat Baekhyun merutuki dirinya yang samgat cengeng dan dengan tak malunya mencium lelaki asing hanya karena sebuah ketertarikan singkat. Namun kini Baekhyun tak ingin menyesalinya sama sekali.
"Dan aku sangat senang bisa mencintaimu." Lanjut Baekhyun dengan kedua pipi yang mulai merona. "Aku senang terkurung di rumah keluarga Park dan menghabiskan banyak waktu bersamamu."
Tak mudah untuk Baekhyun yang dulu. Berulang kali ia memikirkan cara untuk pergi dari rumah. Tapi Baekhyun yang sekarang adalah lelaki pemberani yang tak takut berhadapan dengan berbagai rintangan demi bersama Chanyeol.
"Setiap detiknya aku merasa begitu bahagia."
Chanyeol menatap bola mata Baekhyun dalam-dalam. Mencoba mencari keraguan dalam kata-kata Baekhyun, namun ia tak menemukannya.
"Meskipun aku psikopat?" Tanya Chanyeol dengan suara yang parau.
Baekhyun mengangguk dengan cepat. Sekarang itu bukan masalah baginya sama sekali. Asal Chanyeol tidak akan pernah menyakitinya, itu sudah cukup untuknya. Ia bisa mengatasi untuk hal lainnya. "Ya. Meskipun kau psikopat atau vampir atau hantu, aku sungguh tidak peduli."
"Bahkan terkadang aku berpikir bahwa kau bukanlah orang yang seperti itu. Kau terlalu manis untuk disebut psikopat." Kekeh Baekhyun.
"Aku tidak manis." Sanggah Chanyeol.
"Katakan itu pada lelaki yang merajuk seharian hanya karena dipaksa meminta maaf."
Chanyeol merenggut tak suka mengingat kembali kejadian itu. Namun Baekhyun mengulas senyumnya yang mampu meluluhkan Chanyeol.
"Tapi sungguh, Chanyeol. Julukan itu sama sekali tidak cocok untukmu. Meski kau terkadang berhati dingin."
"Kenapa kau bisa berpikir seperti itu?"
Baekhyun memiringkan kepalanya mencoba menemukan jawabannya. "Mmm.. Hanya feeling?"
Chanyeol tersenyum singkat dan mengacak rambut Baekhyun dengan asal. "Kau juga tidak terlihat seperti pelayan."
"Apa?"
"Kau terlalu cantik untuk menjadi pelayan. Kau lebih cocok menjadi istriku."
Baekhyun terbatuk-batuk dengan kedua pipinya yang merona merah seperti kepiting rebus. Ada apa dengan rayuan itu? Tepatnya, ada apa dengan Chanyeol? "Kau belajar dari mana berkata manis begitu?"
"Kau tadi bilang aku manis. Sudah sewajarnya aku berkata manis, bukan?"
Baekhyun mengerjapkan matanya dengan cepat menatap Chanyeol yang memandangnya dengan datar. Baekhyun menggigit pipi dalamnya. "Aku semakin tidak percaya kau psikopat!" Jeritnya tertahan karena tak ingin orang lain mendengar pembicaraan mereka.
Lelaki yang lebih mungil menyipitkan matanya dengan pandangan menyelidik.
"Kau semakin manis akhir-akhir ini. Ada apa denganmu?"
Chanyeol mengangkat bahunya, tak memberi jawaban pasti. Ia menatap Baekhyun sekilas dan mengusap belakang lehernya dengan canggung. "Kupikir itu karena aku merasa sangat bahagia?"
Baekhyun masih mendengarkan saat tatapan Chanyeol turun menatap sepatu yang lelaki itu kenakan sendiri.
"Akupun tidak tahu ada apa dengan diriku. Aku hanya ingin selalu berbuat hal-hal manis padamu. Aku ingin selalu mendapat perhatianmu. Kau tahu, aku ingin kau memberi seluruh perhatianmu hanya padaku seorang."
Baekhyun terdiam sesaat memperhatikan tingkah lelaki itu yang bersuara dengan nada sedih sebelum akhirnya ia memeluk leher Chanyeol dengan erat dan berbisik. "Kau membuatku selalu ingin mengantongimu."
Chanyeol selalu berada dalam mode menggemaskan saat berduaan dengan Baekhyun, namun akan berbeda 180 derajat jika ia berhadapan dengan orang yang ia anggap musuh. Menurut Baekhyun, Chanyeol tak bisa lebih menggemaskan dari itu. Baekhyun sangat menyayanginya.
Lelaki yang lebih tinggi melingkarkan sebelah tangannya di pinggang Baekhyun. "Aku terlalu besar. Seharusnya aku yang mengantongimu."
"Kau bilang aku kecil?"
"Imut." Koreksi Chanyeol.
Baekhyun tak protes. Ia hanya tersenyum di ceruk leher lelaki itu.
Tanpa mereka sadari, mereka sama-sama memohon agar waktu berjalan sangat lambat dan biarkan mereka menikmati momen saat ini dan membuatnya berarti. Mungkin hanya ingatan ini yang akan tersisa. Ingatan di saat mereka saling mencintai.
Kedatangan Sekretaris Hong tak pernah Kris tunggu-tunggu sebelumnya seperti saat ini.
Begitu ketukan pintu terdengar dan Sekretaris Hong melangkah masuk menghampirinya, Kris tak bisa duduk lebih tegang saat melihat sesuatu yang berada di tangan sekretaris setianya. Tubuh pria itu berdesir merasakan aliran darahnya meningkat tak sabar menunggu kabar baik yang ingin ia dengar.
Seharusnya Kris menghabiskan waktunya untuk beristirahat, namun pria itu tak bisa mengabaikan hal yang sangat penting seperti ini. Hal yang membuatnya bahkan sulit untuk berpikir normal.
Sekretaris Hong berhenti tepat di depannya yang terhalang meja kerja. Pria itu membungkuk hormat sebelum menyerahkan amplop cokelat yang cukup tebal ke tangan Kris.
Kris langsung mengambilnya dengan kasar dan mengeluarkan berkas-berkas berharga yang sudah ia nantikan sedari pagi. Pria itu melempar asal amplop yang telah kosong sementara ia sibuk membuka lembar demi lembar berkas yang berhasil Sekretaris Hong kumpulkan.
Matanya bergerak sebanyak tulisan yang tertulis di tiap lembarnya. Foto tkp dan bukti-bukti dari pembunuhan kala itu ikut disertakan. Bukan itu saja, namun foto-foto keluarga Byunpun terpampang dengan jelas. Sepasang suami-istri dan dua anak berjenis kelamin laki-laki dan perempuan. Hanya saja anak perempuan itu dinyatakan hilang pada saat kejadian dan belum ditemukan sampai saat ini. Namun Kris pasti tahu siapa gadis itu.
"Putra yang tersisa adalah Byun Baekhyun dari Keluarga Byun." Ucap Sekretaris Hong memperjelas semua informasi yang telah ia dapatkan.
Kris tertawa pelan dengan kedua matanya yang membelalak melihat foto Baekhyun yang ia kenal berada di antara lembaran-lembaran itu.
Tawa Kris lama-lama terdengar semakin keras dan menyeramkan seiring dengan cengkraman tangannya pada kertas tersebut.
Kris merasa sangat bahagia seperti baru saja berhasil memenangkan sebuah lotre. Aliran darahnya berdesir hebat pada kenyataan ia tak perlu bersusah payah menghancurkan hubungan menjijikan di antara Chanyeol dan Baekhyun, karena kunci dari permasalahannya telah ada di tangan Kris sejak lama. Sayang sekali Kris baru menyadarinya hari ini.
Kini dunia sungguh berpihak kepadanya. Kris bisa mencium bau-bau kemenangannya.
Deru mobil yang terdengar memasuki halaman rumah membuat Kris mengganti ekspresinya kembali menjadi datar dan lantas berjalan menuju jendela besar di kamarnya, mengintip kedatangan dua orang yang hampir menghancurkan dirinya namun gagal karena ia dapat bangkit kembali dengan segala hal gila yang ia rencanakan di dalam kepalanya.
Kris sempat melihat bagian saat Chanyeol dan Baekhyun keluar dari mobil dengan tangan yang saling bergandengan seperti lem. Senyum bahagia tak pernah lepas dari wajah keduanya seolah mereka adalah pasangan paling sempurna di dunia ini. Hanya tunggu saja hingga Kris menghancurkan kebahagiaan itu.
"Adakah yang harus saya lakukan kepada pelayan itu, Tuan?"
"Tidak. Tidak. Biarkan mereka menikmati saat-saat terakhir mereka." Kris bersedekap memandang kedua insan yang tengah berjalan menuju pintu utama itu.
Oh, manisnya.. mereka pasti mengira bahwa mereka akan selalu bahagia. Dan Kris sangat penasaran bagaimana jadinya jika ia menjatuhkan bom waktu yang ada di tangannya saat ini.
Kris tersenyum miring dan bersenandung pelan menuju kamar mandinya. Moodnya sangat bagus dan ia ingin berendam malam ini sembari menunggu dengan tidak sabar kemenangannya sebentar lagi. Ia akan segera menyingkirkan Baekhyun dan merebut Chanyeol kembali.
Pria itu menyempatkan diri berhenti tepat di depan pintu kamar mandi dan menjentikan jarinya. Tanpa menoleh, ia berkata kepada sang sekretaris yang masih berdiri dengan setia.
"Ah, aku ingin besok Baekhyun ada di ruang bawah tanahku."
Gerak tangannya menunjukan kegelisahan. Ia tidak dapat memejamkan matanya dan pergi tidur karena suatu hal yang mengganjal di hatinya setelah percakapannya dengan Sehun siang tadi.
Yeri menatap langit-langit kamar dengan pandangan menerawang. Mencoba menemukan jawaban dari segala hal yang berkecamuk di kepalanya.
"Ada apa?"
Gadis itu menoleh pada seberang tempat tidur Nyonya Kim dan menemukan kepala pelayan tengah menatapnya dengan raut khawatir. Nyonya Kim ternyata belum tidur sama sepertinya.
"Aku.. tidak bisa tidur, Halmeoni." Entah mengapa suaranya terdengar sedikit bergetar. Gadis itu melirik Nyonya Kim dengan ragu.
"Kenapa? Sesuatu terjadi?"
Yeri menggeleng pelan kemudian kembali menatap ke langit-langit kamarnya yang bernuansa putih. "Aku.. Aku mulai berpikir tentang masa laluku."
Nyonya Kim terlihat sedikit tersentak, namun dengan cepat dapat mengendalikan raut wajahnya. Wanita tua itu memiringkan tubuhnya agar dapat melihat anak gadis yang ia rawat selama bertahun-tahun tersebut dengan lebih jelas.
"Apa yang kau pikirkan?" Tanyanya.
"Entahlah. Aku merasa telah melewatkan banyak hal selama ini."
"Mungkin." Nyonya Kim mengangguk setuju. "Jadi apa yang akan kau lakukan?"
"Aku.. ingin mencari kembali ingatanku yang hilang." Yeri menarik napasnya mencoba mengumpulkan seluruh keberanian yang selama ini ia sembunyikan di dasar hatinya. "Kurasa aku sudah cukup dewasa untuk menerima kenyataan. Aku tak ingin menghindarinya lagi."
Peran Sehun sangat berpengaruh pada dirinya, meski lelaki itu menolak ikut andil. Yeri tak pernah merasa sepercaya diri ini menyangkut kenangan buruk di masa lalunya jika bukan karena pencerahan yang Sehun berikan.
"Akhirnya saat ini tiba." Nyonya Kim tersenyum lega.
Ia sengaja tak pernah menceritakan kepada gadis itu tentang hal yang menimpanya 10 tahun lalu karena ia tahu Yeri masih terlalu muda untuk menerimanya. Nyonya Kim bahkan masih mengingat dengan jelas bagaimana terpukulnya anak kecil berusia sembilan tahun yang harus kehilangan ingatannya saat itu.
Tetapi kini waktu yang sudah ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Ia sudah lama menunggu-nunggu saat yang tepat bagi Yeri untuk mampu menghadapi masa lalunya.
"Mau mendengarku bercerita tentang hari itu? Mungkin itu akan membantu memulihkan ingatanmu." Suara lembut Nyonya Kim mengalun dengan lembut bersama senyum hangat.
Perasaannya kalut. Ia tahu ia harus menjadi gadis yang kuat demi mencoba keluar dari tempat persembunyiannya selama ini. Jantung Yeri berdegup cepat saat ia menganggukan kepalanya dengan mantap.
Mungkin memang ini saatnya untuk mengingat kembali semuanya. Entah ia akan menangis atau mengutuk seseorang setelah mendengar kisah tragisnya, Yeri tak peduli. Ia hanya ingin mengakhiri rasa tidak tenang yang ada di hatinya selama ini.
Baekhyun sudah rapih dengan seragam pelayannya setelah meminjam kamar mandi milik Chanyeol. Lelaki itu menatap lembut pada Chanyeol yang masih terlelap tanpa sedikitpun terusik dengan suara-suara. Sepertinya lelaki itu sangat kelelahan.
Baekhyun tersenyum singkat dan mengecup pipi Chanyeol sebelum melangkah keluar dari kamar lelaki tersebut dan menjalani rutinitasnya sebagai seorang pelayan dan bukan kekasih dari majikannya.
Ia tersentak saat membuka pintu kamar dan mendapati beberapa pengawal berdiri di depan pintu. Mereka berjumlah tiga orang.
Baekhyun menatap dengan bingung kehadiran mereka yang tak biasanya ada di sana dan salah satu pengawal akhirnya berbicara kepadanya.
"Tuan Kris sedang menunggumu."
Baekhyun mengernyit. Untuk apa pria itu menunggunya? Ia bertanya-tanya dalam hati hal apa yang membuat Tuan Kris tiba-tiba ingin bertemu dengannya, sampai ia mengingat kejadian di mana pria itu hampir saja melukainya beberapa hari yang lalu.
Pikiran negatif seketika menghantuinya. Jantung Baekhyun berdegup cepat. "Ada apa?"
Ia berharap mendapatkan alasan yang jelas namun yang ia dapatkan hanya gelengan tidak tahu dari pengawal yang ia ajak bicara.
"Beliau hanya ingin kau segera menemuinya." Katanya.
Baekhyun mengepalkan tangannya dengan kuat mengumpulkan seluruh keberaniannya. Tentu ia akan menemui pria itu. Baekhyun yakin tujuan Kris memanggilnya tak lain dan tak bukan karena Chanyeol. Dan Baekhyun tak ingin bersikap lemah dengan meminta perlindungan Chanyeol.
Baekhyun melirik kembali ke dalam kamar memastikan Chanyeol masih beristirahat dengan nyaman sebelum ia menatap lagi pada pengawal-pengawal tersebut.
"Dimana beliau menungguku?"
"Ruang bawah tanah."
Baekhyun langsung terdiam. Kris sedang menunggunya di ruang bawah tanah atau yang lebih sering dianggap oleh seluruh penghuni rumah sebagai ruang kematian. Mendengar namanya saja membuat bulu kuduk merinding, dan kini Kris sedang menunggunya di sana. Kris si psikopat.
Baekhyun seharusnya sudah bisa menduga apa yang akan terjadi di sana jika ia memilih datang, namun Baekhyun tak ingin menjadi pengecut. Sudah saatnya giliran ia yang melindungi Chanyeol.
Langkah kaki Baekhyun terdengar cukup keras saat dirinya berjalan memasuki ruang bawah tanah.
Tempat yang disebut-sebut sebagai ruang kematian itu masih mengeluarkan bau yang sama seperti waktu pertama kali ia datangi saat Chanyeol menyiksa Sehun beberapa hari lalu. Bau anyir darah yang sangat menyengat. Tempat itu sangat lembab.
Namun saat ini ruangan itu dibiarkan gelap. Baekhyun tak bisa melihat setiap sudut ruangan yang tanpa adanya cahaya sama sekali. Namun dengan keberanian yang ia miliki, Baekhyun tetap melangkah dengan percaya diri untuk masuk lebih dalam.
Jantungnya berdegup cepat seiring dengan langkah kakinya.
Lelaki itu memutuskan untuk berhenti ketika akhirnya ia tak bisa merasakan tanda-tanda kehadiran Kris di tempat itu.
"Tuan..?"
Bersamaan dengan gema suaranya, lampu ruangan itu menyala dengan terang hingga Baekhyun harus menyipitkan mata mencoba menyesuaikan penglihatannya.
Saat pandangannya mulai semakin jelas, Baekhyun bisa melihat tiga langkah di depannya terbaring seorang gadis berpakaian pelayan dengan tangan dan kaki yang terikat dengan tali. Gadis itu tidak sadarkan diri.
Mata Baekhyun membulat terkejut menyadari siapa gadis tersebut. "Yeri-ah!" Ia langsung mendekat dan mengguncang tubuh lemas gadis itu. Berusaha mengembalikan kesadaran Yeri yang untungnya masih terlihat bernapas.
Mata Baekhyun bergerak panik. Ia tak mengerti mengapa gadis itu bisa berada di ruangan ini dengan keadaan pingsan. Ada apa dengan gadis itu?
Dan di tengah kekalutannya, atensinya berhenti pada sesuatu yang berada di belakang tubuh lemah Yeri. Dengan gerakan yang lambat, Baekhyun berdiri dari posisinya. Ia terdiam melihat papan tulis besar yang mencoba mengambil alih secara paksa seluruh perhatiannya dari Yeri.
Papan tulis itu ditempeli dengan foto-foto kejadian yang selalu membuat Baekhyun menangis sangat keras ketika itu. Salju. Pisau. Tubuh kedua orangtuanya yang bersimbah darah.
Napas Baekhyun tercekat dan ia gemetar hebat melihat potongan-potongan koran lama dan foto anggota keluarganya yang disertai biodata lengkap di papan tersebut. Foto kedua orang tuanya dicoret menggunakan spidol merah dan hanya menyisakan foto dirinya dengan adiknya.
"A-Apa maksud semua i-ini?" Gumamnya.
Baekhyun tak mengerti bagaimana bisa semua hal itu ada di sini? Lelaki itu hampir tak bisa mengendalikan dirinya sendiri jika saja ia tak mencoba mengatur napasnya secara perlahan.
Baekhyun menundukan kepalanya sejenak sebelum melihat kembali ke papan tersebut. Ia mencoba berpikir keras mengapa bisa kejadian yang menimpa kedua orangtuanya sepuluh tahun lalu dipajang dengan sengaja seperti ini seolah mengundangnya untuk melihat dan mengingat kembali?
Kemudian terlintaslah nama satu orang di pikiran Baekhyun saat ini. Seseorang yang memanggilnya untuk datang ke tempat ini. Kris.
Bagaimana bisa Kris mendapatkan semua informasi mengenai keluarganya? Apa yang pria itu inginkan darinya dengan memanggilnya kemari lalu menunjukan semua ini? Dan kenapa ada Yeri di sini? Mengapa pria itu melibatkan seorang gadis tak bersalah?
Baekhyun terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri hingga tak menyadari seseorang sedang berjalan mendekat dari arah belakang dengan suara seminim mungkin.
Baekhyun sontak menahan napasnya saat seseorang melingkarkan tangan di lehernya dengan pisau tajam yang menempel di kulitnya. Bergerak sedikit saja ia bisa kehilangan nyawanya.
"Byun Baekhyun."
Itu suara berat milik Kris.
Pria itu mendesah dengan nada yang sangat kesal di balik punggungnya. "Ck, seharusnya aku sudah menyadarinya saat pertama kali mendengar namamu."
Baekhyun masih menutup mulutnya dengan tubuh yang berdiri kaku. Ia tak bisa bergerak atau sekadar membuka mulut. Pisau itu sangat mengancamnya.
Kris mendekatkan wajahnya ke telinga Baekhyun dan berbisik di sana. "Seharusnya aku sudah menyingkirkanmu sejak dulu, Byun Baekhyun."
Oh, Kris akui itu kesalahannya karena tidak menuntaskan pekerjaannya dengan baik sehingga harus selalu menemui beberapa tikus berkeliaran di sekitarnya. Kris terlalu muda saat itu untuk berpikir lebih rinci.
Baekhyun meremas celananya sendiri saat rasa takut menyelimutinya melihat Kris tengah mengancam nyawanya. Namun ia tahu ia tak boleh menjadi lemah dan memberi kesenangan pada Kris.
Dengan suara yang hampir tidak terdengar, lelaki itu mencoba bertanya. "Apa maumu?"
Baekhyun masih tidak mengerti semua perbuatan Kris saat ini. Atas dasar apa pria itu berbuat seperti ini? Apa pria itu melakukannya karena Chanyeol?
Kris berdecak dengan gelengan kecewa. Ia masih setia memegang pisau di leher pelayan laki-laki itu tanpa berniat menggoresnya. Setidaknya untuk sekarang.
"Aku sangat tidak suka tingkah sok beranimu itu. Sangat menjijikan dan membuatku muak."
Baekhyun tak bereaksi apa-apa atas kata-kata yang Kris lontarkan. Ada baiknya ia sering berinteraksi dengan Chanyeol sehingga melatih keberanian dirinya, meski Kris berpuluh kali lipat lebih menakutkan dibanding kekasihnya. Kini mata Baekhyun hanya tertuju pada Yeri yang masih terbaring lemas.
"Jika ini tentang Chanyeol, tolong lepaskan Yeri. Dia tidak ada hubungannya dengan semua ini."
Mendengar itu, Kris lantas mengalihkan pandangannya pada gadis yang terbaring di lantai dan senyum jahatpun terukir di bibirnya.
Kris tentu sengaja membawa anak remaja itu ke sini untuk sebuah alasan. Tidak ada hubungan? Konyol.
Kris menurunkan tangannya dan berpura-pura bingung. "Yeri? Bukankah kau seharusnya memanggilnya Byun Nara?"
Tubuh Baekhyun seperti tersengat saat mendengar nama itu. Byun Nara. Nama adik kecilnya yang selalu ia rindukan. Adiknya yang telah lama menghilang dan tak pernah ia temukan seberapa keras usahanya.
Baekhyun mengepalkan tangannya dan membalik tubuh menatap Kris dengan seluruh nyali yang ia kumpulkan. Ia menatap Kris dengan marah. "Apa maksud ucapanmu!?"
Berani-beraninya Kris menyebut nama adiknya. Sekalipun ia psikopat, Baekhyun tak peduli. Terlepas dari apapun niatnya, pria itu sudah keterlaluan membawa-bawa keluarganya.
Kris menunjuk Yeri dengan dagunya. "Anak hilang itu. Bukankah kau mencarinya?" Tanya pria itu tak acuh.
Baekhyun mengerutkan dahi tak mengerti apa maksud Kris. Ia menatap kembali Yeri yang belum sadarkan diri dan terdiam beberapa detik sebelum menggelengkan kepalanya tak percaya. Tidak mungkin. Pria itu pasti konyol. Pria itu gila. Bagaimana mungkin Yeri adalah adiknya? Jelas-jelas Yeri adalahㅡ
"Setahuku Nyonya Kim membawa Yeri ke sini setelah kedua orangtuanya meninggal. Setelah itu Yeri mengalami amnesia karena syok berat di umurnya yang masih sangat muda. Ia tidak ingat siapa dirinya atau keluarganya dan Nyonya Kim memutuskan mengangkatnya sebagai cucu."
Sendi Baekhyun terasa lemas. Napasnya memburu dengan segala pikiran yang merasuki kepalanya. Sungguhkah Yeri adalah adiknya?
"Ck.. ck.. Bagaimana bisa kau tidak mengenali adikmu sendiri? Kau yakin kau kakaknya?" Kris mengejeknya. Namun Baekhyun terlalu tak acuh untuk menyadarinya karena yang saat ini ia butuhkan hanya sebuah penjelasan untuk membuatnya mengerti.
Baekhyun menatap Kris dengan tubuh yang gemetar. "S-Sebenarnya apa yang terjadi di sini?"
Bagaimana bisa Yeri adalah adiknya yang hilang selama ini?
Alih-alih menjawab, Kris justru memainkan pisau di tangannya dengan lihai seperti seorang profesional dan menatap Baekhyun dengan senyuman miring yang menunjukan keangkuhannya.
"Kau harus berterima kasih padaku, Byun. Beruntung aku tidak membunuhnya setelah kejadian hari itu."
Sebuah fakta yang mengejutkan lagi.
Baekhyun tak tahu ada berapa banyak fakta lain yang akan ia dengar.
"K-Kau.." Baekhyun menarik napasnya susah payah. "Kau tahu kejadian itu?"
"Menurutmu?" Kris mengangkat sebelah alisnya memancing emosi yang Baekhyun sedari tadi coba untuk pendam.
Tangan Baekhyun mengepal dengan kuat. Hanya satu pertanyaan yang begitu mengusiknya setelah mengetahui fakta bahwa Kris mengetahui kejadian 10 tahun lalu dan seolah memberi petunjuk padanya bahwa pria itu ada di sana saat hal buruk itu terjadi.
"Apa.. Apa kau yang membunuh keluargaku?"
Sunyi sesaat di antara kedua orang itu.
"Aku..?"
Kris menunjuk dirinya sendiri dengan wajah yang pura-pura terkejut. Kemudian detik setelahnya pria itu tertawa dengan sangat keras hingga gema suaranya terdengar begitu menakutkan. Sementara Baekhyun masih bertahan dengan pendiriannya menatap Kris dengan segala perasaan yang bercampur aduk.
"Hahaha.. Kau pasti berharap itu aku, 'kan?" Pria itu kembali menunjuk dirinya sendiri dan Baekhyun memilih untuk tidak menjawabnya sampai pria itu berbicara kembali dengan ekspresi yang telah berubah total. Pria itu memasang raut wajah dingin.
"Sayang sekali, Byun. Bukan aku yang membunuh orangtuamu."
Baekhyun menatap pria itu dengan mata yang berkaca-kaca dan perasaan yang ikut memberontak.
"Lalu siapa? Siapa? Apa kau tahu orangnya?"
Kris tersenyum dengan sangat licik.
"Kau dan aku mengenalnya."
Erangan kecil keluar dari bibir Chanyeol saat lelaki itu membuka matanya menyambut pagi.
Matanya mengerjap pelan saat tak mendapati kekasih mungilnya di sampingnya. Ia lantas bangun dan mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Namun nihil. Baekhyun tak ada bersamanya.
Chanyeol mengacak rambutnya dan berpikir mungkin Baekhyun telah meninggalkannya demi pekerjaan yang menurut Chanyeol tak perlu terus lelaki itu lakukan karena posisi Baekhyun saat ini jauh di atas kata pelayan. Baekhyun adalah kekasihnya, dan posisi itu sangat tinggi. Tapi mau bagaimana lagi, sepertinya Baekhyun menyukai pekerjaan itu.
Chanyeol memutuskan untuk segera pergi mandi dan akan menemui lelaki itu saat sarapan. Ia memakai kaos putih dan celana joggers yang santai setelah menyelesaikan ritual mandinya.
Lelaki itu berjalan menuju pintu dan mengernyit saat tak dapat membuka pintu kamarnya.
"Ada apa dengan pintu ini?" Bingungnya. Meski Chanyeol sekuat tenaga menaikturunkan gagang pintu, pintu tersebut tetap tak bisa dibuka.
Hingga akhirnya sebuah suara terdengar dari luar kamar.
"Maaf, Tuan Muda. Saat ini anda tidak diijinkan keluar."
Di luar kamar tersebut, pengawal yang sebelumnya menemui Baekhyun kini tengah berjaga di sana ditambah dengan dua orang pengawal lagi sehingga kini jumlah pengawal yang menjaga Chanyeol ada lima orang.
Mendengar itu, tentu membuat Chanyeol naik darah.
"Apa maksudnya? Cepat buka pintu sialan ini!" Lelaki itu terus menaikturunkan gagang pintu dengan kencang dan mulai menggedor pintu.
Chanyeol sungguh tak dapat mengerti jalan pikiran kakaknya yang tiba-tiba mengurungnya kembali seperti sepuluh tahun lalu setelah memutuskan untuk membebaskannya, hingga Chanyeolpun terdiam saat tersadar akan sesuatu. Pikirannya langsung tertuju pada kekasihnya yang sedang tak bersama dengannya.
Mata Chanyeol membulat. Ia memiliki firasat buruk tentang ini dan menjadi sangat ketakutan jika sesuatu sungguh terjadi kepada lelaki itu. "Dimana Baekhyun?! Dimana Baekhyunku, sialan!"
Chanyeol terus menggedor pintunya namun pengawal-pengawal tersebut menulikan telinga mereka dan tetap berdiri tegap.
"BUKA PINTUNYA, BRENGSEK!"
Kini Chanyeol berusaha mendobrak pintu kamarnya sendiri. Pikirannya kalut. Ia sangat khawatir sesuatu terjadi kepada Baekhyun dan ia tak ada di sana untuk menyelamatkannya. Ia takut Kris akan berusaha mencelakai Baekhyun.
Pengawal-pengawal itu panik melihat usaha Chanyeol yang tak gentar.
"Tuan Muda, kami mohon tenanglah."
"CEPAT BUKA PINTUNYA! AKU AKAN MEMBUNUH KALIAN SEMUA JIKA SESUATU TERJADI KEPADA BAEKHYUN!"
"Kami tidak bisa melakukannya, Tuan Muda. Ini perintah Tuan Kris."
"Persetan! Cepat buka pintunya!"
Para pengawal saling berpandangan satu sama lain melihat pintu kamar yang terus didobrak secara paksa oleh tuan mereka. Chanyeol terdengar sangat marah dan itu sangat menyeramkan sekaligus mengancam mereka semua yang ada di sana.
BRAKK..
Para pengawal menatap terkejut pada Chanyeol yang akhirnya berhasil menjeblak pintu dan keluar dari dalam kamar dengan kemarahan yang luar biasa.
Chanyeol langsung menghampiri salah satu pengawal dan mencekik leher pengawal tersebut dengan kuat.
"Dimana Baekhyun?! Cepat katakan!"
"J-Jangan seperti ini, Tuan Muda."
"Tenanglah, Tuan Muda."
Sang pengawal merintih kesakitan sementara pengawal lain mencoba menarik tubuh Chanyeol menjauh. Namun tentu itu bukan hal yang seharusnya dilakukan karena Chanyeol semakin marah dan menyerang kelima pengawal yang sayangnya selalu diberi perintah untuk tak boleh membalas sedikitpun perlakuan dari tuan mereka.
Yang mereka bisa lakukan hanya memegang kedua tangan Chanyeol, menahannya untuk memberontak. Sementara Chanyeol memiliki insting membunuh yang baik dan selalu memiliki cara untuk melakukan serangan kepada lima pengawal tersebut.
Tentu Chanyeol memenangi perkelahian sepihak ini sementara lima pengawalnya sudah terbaring kesakitan.
Chanyeol kembali melayangkan tinjuannya yang ke sekian kali pada wajah pengawal yang sudah terbaring lemas di lantai.
"Cepat beritahu aku dimana Baekhyun!" Amuk lelaki itu.
"R-Ruang b-bawah ta-tanah.."
Dan secepat kilat Chanyeol melepaskan pengawal itu untuk berlari menuruni tangga dan menyusul sang kekasih dengan perasaan khawatir sekaligus gelisah yang mendominasi begitu kuat. Ia hanya bisa merapalkan nama Baekhyun di dalam hatinya dan berharap lelaki itu baik-baik saja.
"Akkh, kenapa kau memberitahu Tuan Muda?!"
"A-Aku hampir sekarat, bodoh!"
"Cepat kejar Tuan Muda!"
'Siapa?'
Kris bilang mereka berdua mengenal siapa pembunuh keji itu. Tentu sangat membingungkan sekaligus mendebarkan untuk Baekhyun.
Sudah lama sekali Baekhyun menanti waktu menjawab pertanyaannya mengenai kematian orangtua dan hilangnya sang adik. Mungkinkah ini saat yang tepat?
Ia hanya mampu terdiam seribu kata saat Kris melangkah mendekat kepadanya, sedikit merendahkan tubuhnya untuk berbisik di telinga Baekhyun tentang sebuah rahasia yang tak banyak orang tahu selain penghuni rumah ini, terkecuali dirinya.
Yaitu, nama pembunuh tersebut.
Baekhyun sangat menyesalinya. Sungguh, ia menyesal puluhan ribu telah bertanya kepada pria itu. Baekhyun menyesali segala rasa penasarannya. Karena apa yang dikatakan pria tersebut setelahnya berhasil membuat seluruh persendian Baekhyun lemas. Membuatnya hampir lupa cara untuk bernapas.
"Park. Chanyeol." Bisik pria itu dengan dramatis.
"Park Chanyeol, Baek. Kekasihmu."
Lutut Baekhyun terasa lemas. Ia hampir kehilangan keseimbangan tubuhnya ketika nama itu keluar dari mulut Kris. Namun lelaki itu menggeleng cepat dengan ekspresi yang sulit diartikan, berusaha menolak mentah-mentah informasi yang Kris berikan. Baekhyun tidak ingin mempercayainya.
Omong kosong macam apa yang mengatakan bahwa Chanyeol membunuh seseorang? Terlebih lagi itu adalah orangtuanya?
"Tidak.. Tidak mungkin! Kau pasti berbohong!"
Baekhyun berteriak sekencang hatinya yang remuk dan hancur berkeping-keping mendengar nama kekasihnya disebut.
Namun satu tetes air mata berhasil lolos dari pelupuk matanya. Meski ia berusaha menolak kenyataan, tetapi reaksi tubuhnya berkata lain.
Pikiran Baekhyun sangat kacau. Ia mencengkram kerah kemeja yang pria itu kenakan dengan sangat emosional tanpa mengingat bahwa Kris adalah seseorang yang sangat berbahaya dan bisa kapan saja membunuhnya tanpa perasaan.
Baekhyun melampiaskan amarahnya pada pria itu.
"Kau berbohong, Kris! Katakan itu tidak benar! Cepat katakan padaku bukan Chanyeol pelakunya!"
PLAKK..
Tubuh Baekhyun jatuh tersungkur setelah mendapat tamparan keras dari pria gila itu.
Kris menatapnya dengan jijik seolah Baekhyun sama rendahnya dengan sampah.
"Berani sekali kau menyentuhku, Jalang!"
Tak sampai di situ, Kris menyeret lelaki mungil itu ke dinding dan membenturkan kepalanya di sana. Pria itu menginjak-injak tubuhnya berkali-kali.
Baekhyun merasa dirinya sangat hancur. Ia sangat sedih dan tidak berdaya. Tubuhnya nyeri dan hatinya terluka. Baekhyun tak bergeming setelah mendapat semua perlakuan kejam itu dan hanya terduduk lemah dengan kepala yang menunduk. Membiarkan wajahnya tertutupi helaian rambutnya.
"Kau sangat menjijikan, kau tahu?!"
Kris bergerak menjambak rambut lelaki tersebut untuk mendongak menatapnya.
"Aku sangat ingin membunuhmu, Byun Baekhyun. Kau sudah cukup menguji kesabaranku selama ini." Geramnya dengan sebelah tangan yang masih setia memegang pisau yang kini diarahkan kembali ke leher lelaki itu.
Namun Baekhyun hanya diam tak menunjukan raut yang Kris inginkan sehingga pria itu mengerutkan dahinya.
Tidak ada ekspresi ketakutan sama sekali atau tatapan memohon yang Baekhyun berikan kepadanya karena ancaman yang ia berikan. Lelaki itu hanya diam membisu dan terlihat kosong dengan pandangan yang menatap entah kemana. Baekhyun seperti manusia tak bernyawa.
Di balik tatapan kosong itu, tersirat kesedihan yang sangat dalam.
"Chanyeol.. sungguh melakukannya?" Suara parau itu terdengar sangat menyedihkan di telinga siapapun yang mendengarnya. Namun Baekhyun memang merasa bahwa ia sangat menyedihkan dan tak bisa lebih parah dari itu setelah mengetahui kekasihnya sendiri yang telah membunuh orangtuanya.
Hatinya seolah di remas dan ia dipaksa untuk berhenti bernapas. Rasanya sangat menyesakan. Baekhyun mati-matian menahan isak tangisnya yang memberontak ingin keluar dari pelupuk matanya.
Kris mendecih tak berminat. Dibanding menjawab, pria itu justru mengangkat pisau di tangannya tinggi-tinggi untuk menusuknya tepat di leher lelaki menyedihkan tersebut. Kris ingin segera mengakhiri hidup seorang pengacau kecil itu. Ia hanya ingin ini segera berakhir dan Chanyeol akan kembali menjadi miliknya.
Suara keributan akhirnya terdengar dari luar ruangan bersama beberapa langkah kaki tergesa-gesa. Kris sontak menoleh ke arah pintu dan memejamkan matanya meredam emosi sebelum menatap kembali pada Baekhyun. Sial.
Kris menggeram tertahan. "Kenapa kau tidak bertanya sendiri kepadanya?"
Dan setelah itu, seolah sudah memprediksi kedatangan adiknya, Kris berdiri bertepatan dengan Chanyeol yang mendobrak pintu dan menghampiri Baekhyun dengan tergopoh-gopoh.
Kris mengumpat dalam hati tentang betapa bodohnya pengawal yang tak becus menjaga Chanyeol hingga harus menginterupsi aksinya.
"Baekhyun!"
Chanyeol mendekat dengan wajah panik dan langsung membantu Baekhyun berdiri. Rasa cemas yang menghantuinya sedari tadi kini menghilang setelah menemukan lelaki tersebut.
Tapi Baekhyun langsung mendorong tubuh lelaki itu ketika ia telah berdiri dengan benar dengan kedua kakinya.
Sayangnya, fokus Chanyeol saat ini hanya kepada sudut bibir Baekhyun yang berdarah dan pisau yang ada di tangan Kris sehingga tak menyadari penolakan dari sang kekasih. Yang Chanyeol ingin lakukan saat ini hanya mengamuk kepada pria yang menjadi kakak kandungnya tersebut atau membunuh pria itu sekarang juga mungkin terdengar lebih baik.
"Brengsek kau, Yifan."
Chanyeol menatap Kris dengan rahang yang mengeras. Ia sudah akan memukul pria itu karena telah berani-beraninya menyentuh Baekhyun setelah semua peringatan yang ia katakan kepada pria itu selama ini, jika saja Baekhyun tidak bertanya kepadanya dengan suara yang bergetar.
"Apa kau yang melakukannya?"
Chanyeol menahan aksinya untuk beralih menatap Baekhyun dengan raut bingung. "Apa, Baek?"
Baekhyun mengusap kasar pipinya saat dirasa air mata perlahan mulai berlomba-lomba mengalir.
"Aku tanya apa kau yang melakukannya?" Kini Baekhyun memberanikan diri menatap mata Chanyeol meski harus membuat air mata semakin turun dengan derasnya.
Chanyeol mengerutkan dahinya dan mencoba berjalan mendekat namun Baekhyun bergerak mundur sehingga Chanyeol berhenti. Ia dapat melihat tatapan mata lelaki itu yang tersirat banyak luka dan Chanyeol mencoba mengingat-ingat kapan terakhir kali Baekhyun menangis di hadapannya seperti ini. Ternyata tidak pernah, dan Chanyeol merasa jauh lebih bingung.
"Baekhyun, apa yang terjadi padamu? Aku sungguh tidak mengerti apa yang kau bicarakan sekarang."
"Aku bilang apa kau yang membunuh kedua orangtuaku?!"
Chanyeol tersentak mendengar teriakan marah Baekhyun. Lelaki itu mengerutkan dahinya tak mengerti situasi macam apa yang sedang ia hadapi. Mengapa Baekhyun tiba-tiba menuduhnya?
Ia menatap ke arah lain mencoba mencari jawaban di dalam kepalanya namun ternyata jawaban itu ada tepat di depan matanya saat ia menatap papan tulis besar yang ada di ruangan itu.
Ia sedikit tersentak saat memorinya bergerak cepat memutar ulang kejadian yang terpapar di papan tersebut di dalam kepalanya tentang sepasang suami-istri dan seorang anak kecil. Kejadian sepuluh tahun lalu yang hampir ia lupakan karena tertutupi rasa bencinya terhadap Kris dan kenangan orangtuanya.
Diamnya Chanyeol membuat Baekhyun kembali bertanya dengan suara yang tercekat. "Apa kau yang membunuh pejalan kaki itu?"
Chanyeol menoleh kembali pada Baekhyun dengan tatapan bersalah yang mulai Baekhyun benci. Chanyeol sangat panik, namun Chanyeol berani bersumpah ia tidak tahu jika pejalan kaki itu adalah orangtua Baekhyun. Tapi ia tahu itu tak dapat dijadikan sebuah alasan karena ia telah melakukan kesalahan yang fatal. Yaitu, mengecewakan Baekhyun.
"B-Baek, a-aku bisa jelaskan."
"Aku sedang bertanya padamu, Park Chanyeol!" Teriak Baekhyun sambil mengepalkan tangannya.
Biarlah semua hancur sekaligus. Biarlah Baekhyun terbakar bersama kepedihan hidupnya mendengar jawaban lelaki yang ia cintai. Jadi biarkan ia mendengarnya sekarang.
"A-Aku.. Aku.. Aku m-melakukannyaㅡTidak! Tunggu, Baek! Kumohon dengarkanㅡ"
Baekhyun menggelengkan kepalanya dengan wajah penuh tangis yang menyayat hati saat Chanyeol mencoba meraih tangannya. Tak pernah sekalipun terpikirkan oleh Chanyeol bahwa ia dapat melukai Baekhyun sedalam ini.
"Kenapa..?! Hiks.. kenapa kau melakukannya, Chanyeol?!" Lelaki itu terus melangkah mundur memberi jarak di antara mereka.
Ia bertanya-tanya kenapa Chanyeol setega itu? Kenapa Chanyeol harus membunuh orangtuanya? Apa dosa mereka?
"Kenapa kau mengecewakanku di saat aku mempercayaimu?!"
Dan seharusnya Baekhyun sudah menemukan jawabannya. Ya, Chanyeol adalah psikopat yang haus akan membunuh. Psikopat selalu membunuh untuk memuaskan hasrat gilanya tanpa memandang siapa yang mereka lukai. Tidak mungkin selama hidupnya, psikopat seperti Chanyeol tidak pernah membunuh seseorang sementara mereka ditakdirkan untuk menjadi seperti itu.
Kini Baekhyun sadar betapa menyeramkannya seorang psikopat itu dan ia dengan bodohnya telah menerima Chanyeol dengan sepenuh hati.
"Baek, kumohon.."
Chanyeol merasa sangat lemas tak jauh beda dengan Baekhyun. Ia gelisah dan ketakutan jika lelaki mungil itu akan membencinya atau lebih buruknya lagi menjauhinya. Chanyeol tak ingin jika hal itu sampai terjadi.
Tetapi Baekhyun telah sakit hati. Lelaki yang biasanya selalu ceria dan tersenyum itu kini menangis dan terluka.
"Aku hiks membencimu, Park Chanyeol." Dada Baekhyun naik-turun mengatakannya dengan penuh emosi. "Kau menjijikan dan menakutkan!"
Chanyeol merasa tak ada yang lebih buruk dari ucapan Baekhyun saat ini. Lelaki tinggi itu mulai berkaca-kaca.
Chanyeol selalu takut jika Baekhyun akan menganggapnya seperti monster, namun kali ini Baekhyun sungguh-sungguh mengatakan hal yang paling Chanyeol takutkan.
"Kau bertingkah seolah kau orang yang paling tersakiti di dunia, tapi nyatanya kaupun adalah seorang pembunuh!" Lanjut Baekhyun yang masih menangis dengan bahu yang bergetar hebat. Jika diingat kembali, Baekhyun sangat menyesal telah menaruh rasa iba kepada lelaki itu atas apa yang telah menimpa keluarganya.
"Kau bahkan lebih buruk, Chanyeol.."
Baekhyun terlihat sangat kacau, namun itu yang juga terjadi pada Chanyeol. Lelaki tinggi itu merasa hatinya sangat terluka mendengar penuturan dari seseorang yang ia cintai.
"B-Baekㅡ"
Baekhyun mengangkat tangannya tepat di hadapan Chanyeol seolah menyuruh lelaki itu berhenti.
"Cukup. Aku menyesal mencintai seorang pembunuh sepertimu dan aku sangat menyesal telah menghabiskan waktu dengan seorang pembunuh. Kau mengerti?"
Chanyeol terdiam menatap kedua bola mata Baekhyun bergantian, dan ia tak bisa menahan lagi tetesan air mata yang mengalir di pipinya setelah itu. Ia membuka dan menutup mulutnya berulang kali tak tahu harus mengatakan apa.
"T-Tapi.. kau bilang kau tetap mencintaiku meskipun a-aku psikopat seperti ini.."
"Aku menarik ucapanku kembali. Aku menarik semuanya. Psikopat sepertimu tidak pantas dicintai." Raut wajah Baekhyun jelas menunjukan betapa tegasnya ia mengatakan hal tersebut.
Chanyeol lagi-lagi dibuat terkejut mendengarnya. Lelaki itu terdiam membiarkan air mata terus mengalir turun bersama bunyi retakan hatinya. Baekhyun sungguh-sungguh membencinya saat ini. Lelaki itu bahkan membuang semua kata cinta yang sempat diucapkan kepadanya.
Kris yang sedari tadi tersenyum jahat di sisi ruangan menyaksikan dua insan yang sedang bertengkar itu akhirnya bersuara untuk mengakhiri keduanya. Ia berjalan mendekat dengan santai dengan kedua tangan di dalam saku.
"Pengawal, bawa Chanyeol ke kamarnya."
Seperti perintah mutlak, semua pengawal yang ada di sana lantas bergegas menangkap lengan Chanyeol dan menariknya pergi. Yang menguntungkannya, Chanyeol sedang lemah dan tak mampu melawan seperti sebelumnya. Terlebih lagi, kini jumlah pengawal lebih banyak.
Chanyeol berusaha memberontak namun pengawal-pengawal itu berhasil menyeretnya. "Tidak! Lepas! Baekhyun, aku mohon dengarkan aku! Aku tak mau kehilanganmu. Kumohon, Baek!"
Baekhyun membalik tubuhnya memunggungi Chanyeol tak ingin melihat lelaki itu yang ditarik paksa keluar dari ruangan. Baekhyun menangis lagi dalam diam. Sudut hatinya merasa ingin melindungi Chanyeol, namun rasa kecewanya jauh lebih besar dan ia merasa terombang-ambing.
"Jangan tinggalkan aku, Baek! Kumohon! Baekhyuun!" Tak peduli betapa kerasnya Chanyeol berteriak, Baekhyun tetap tak berbalik menatapnya. Baekhyun tidak peduli lagi padanya, itu yang bisa Chanyeol tangkap.
Saat dirasa Chanyeol telah pergi cukup jauh, Baekhyun jatuh terduduk dan membiarkan pertahanannya runtuh dengan tangisannya yang pecah. Ia meremas rambutnya sendiri dan menangis sekencang mungkin tanpa mempedulikan hal lain, memperlihatkan betapa hancur hatinya saat ini tentang semua fakta menyakitkan mengenai kematian kedua orangtuanya.
"Hikss.. hiks...!"
Jika saja ia bisa memutar waktu, ia berharap tak akan pernah datang ke ruang bawah tanah. Ia berharap tak pernah tahu siapa orang yang telah menghancurkan hidupnya.
Dan air mata Baekhyun saat ini untuk perasaannya yang bercampur aduk. Ia bahkan tak tahu tengah menangisi fakta bahwa Chanyeol membunuh orangtuanya atau karena ia telah mengatakan kalimat-kalimat benci kepada lelaki tersebut.
Yang pasti ada rasa sedih di hati Baekhyun karena ia harus kehilangan orang yang ia sayangi lagi. Ada perasaan sedih karena ia lebih mendengarkan perasaan kecewanya daripada perasaan tulus cintanya selama ini dan mengabaikan fakta bahwa ia sangat membutuhkan Chanyeol di sisinya.
Untuk yang kesekian kali, ia harus menderita seorang diri lagi.
Kris menutup mulutnya menahan senyuman bahagianya menyaksikan betapa menyedihkannya seorang Byun Baekhyun saat ini. Ia tak menyangka rencananya akan jadi semenyenangkan ini untuk ditonton.
Pria itu kemudian berdeham pelan dengan wajah kaku tepat di hadapan Baekhyun.
"Berdirilah. Ada hal lain yang harus kita bicarakan sebelum terlambat." Ucap Kris.
Ya, plan B.
Kris akan melakukan segala cara untuk menyingkirkan Baekhyun dari hidup Chanyeol. Jika Kris tak dapat membunuh Baekhyun, maka ada satu cara lain yang Kris rasa akan jauh lebih menyiksa untuk Baekhyun.
Hampa. Baekhyun menatap kosong pada jari telunjuknya yang masih mengeluarkan sedikit darah. Pikirannya melayang kembali pada perjanjiannya dengan Kris beberapa saat lalu hingga mengharuskannya untuk menandatangani surat perjanjian dengan darahnya sendiri.
"Sebenarnya kau tidak memiliki pilihan lain selain mati, Byun. Tapi aku akan berbaik hati menawarkan sebuah pilihan yang akan menguntungkanmu."
Kris tersenyum jahat di kursi kerjanya sementara Baekhyun bersusah payah mencoba berdiri tegap di depannya meski tengah dirundung kesedihan dan kemarahan besar.
"Aku akan melepasmu dengan senang hati jika kau ingin pergi dari rumah ini." Ucap Kris yang mana membuat Baekhyun sangat terkejut saat mendengarnya.
Pergi dari Chanyeol dan semua kegilaan ini adalah hal yang paling Baekhyun inginkan sekarang. Ia ingin bebas dari rumah ini apapun yang terjadi.
"Tapi dengan satu syarat." Lanjut pria itu. "Kau harus menutup rapat mulutmu mengenai segala hal yang kau ketahui tentang rumah ini. Termasuk kenyataan bahwa Chanyeollah yang membunuh orangtuamu."
Baekhyun mengepalkan tangannya dengan rahang yang mengeras. Sial, seharusnya Baekhyun sudah menduganya. Kris tak mungkin membiarkannya lolos semudah itu.
Dan Kris tak melewatkan tatapan marah dan benci yang Baekhyun tunjukan untuknya. Kris semakin melebarkan senyuman penuh kemenangan karena berhasil membuat Baekhyun tidak berdaya.
"Jika kau berani melanggar atau melapor polisi, maka aku tak akan segan-segan membunuh adikmu dan semua orang terdekatmu. Kau pasti tahu aku tidak bermain-main dengan ucapanku, bukan?"
Yah, Kris tetaplah seorang Kris Park yang mencintai Chanyeol dan akan selalu melindungi Chanyeol sampai mati.
"Baekhyun.."
Panggilan itu membuat Baekhyun tersadar dari lamunannya dan kembali melanjutkan aktivitasnya memasukan baju-baju Yeri ke dalam koper.
"Ada apa, Nyonya Kim?" Balasnya tanpa menatap seseorang yang saat ini berdiri dengan canggung di sampingnya.
"Aku sungguh meminta maaf."
Baekhyun terdiam beberapa saat merasakan lagi denyut sakit di dadanya yang mati-matian ia coba sembunyikan. Setelahnya lelaki itu memaksakan bibirnya menarik sebuah senyuman yang palsu.
"Tidak, saya justru berterima kasih karena Nyonya Kim mau merawat adik saya selama ini."
Nyonya Kim menitikan air matanya dan memilih duduk di ranjang di sebelah lelaki mungil itu.
"Aku.. sungguh merasa sangat bersalah karena mengambil Yeriㅡmaksudku Nara darimu. Aku juga merasa bersalah telah memintamu untuk bersama dengan Tuan Muda tanpa tahu apa yang terjadi, Baekhyun."
Baekhyun hanya mampu tersenyum singkat membalas ucapan Nyonya Kim. Mendengar panggilan itu hanya membuat Baekhyun ingin menangis kembali. Baekhyun sungguh lelah dan ingin segera keluar dari rumah terkutuk ini, meninggalkan semua yang pernah terjadi beberapa bulan belakangan ini tanpa sisa.
Ya, Baekhyun memutuskan untuk memilih keluar dari rumah ini, meski ia harus menelan kenyataan pahit bahwa kematian orangtuanya tetap akan menjadi kasus yang tidak akan terungkap. Semua itu karena Baekhyun sudah tak tahan lagi.
Baekhyun semakin mempercepat gerakannya. Ia menutup koper hitam Yeri setelah dirasa sudah cukup barang yang perlu dibawa untuk gadis itu. Sementara dirinya sendiri tidak ingin keluar dari rumah ini dengan membawa apapun. Ia bahkan mengenakan kembali pakaian lusuhnya yang ia kenakan saat pertama kali datang ke rumah ini.
Nyonya Kim merasa sangat bingung apa yang harus ia lakukan saat ini. Wanita itu ayalnya tak ingin Baekhyun maupun Yeri pergi dengan cara seperti ini. Wanita tua itu masih ingin mempertahankan kedua kakak-beradik tersebut.
"Baekhyun-ah, tidak bisakah kau tetap tinggal di sini bersama Nara?"
Ucapan Nyonya Kim sukses membuat Baekhyun lagi-lagi menghentikan gerak tubuhnya.
Nyonya Kim ikut merasa frustasi. Wanita tua tersebut tak tahu harus dengan cara apa lagi untuk menahan keinginan Baekhyun untuk pergi.
"Tidak bisakah.. kau memaafkan Tuan Muda Chanyeol?"
Baekhyun menoleh tidak percaya dengan apa yang ia dengar selanjutnya. Lelaki itu menatap Nyonya Kim dengan raut kecewa. Ini menjadi pertama kalinya Baekhyun tak menyetujui ucapan wanita tersebut.
Memaafkan? Bagaimana bisa semudah itu? Memangnya semua penderitaan Baekhyun selama ini bisa dibalas hanya dengan kata maaf? Kenapa pula Baekhyun harus menjadi pihak yang mengalah?
"Ucapan anda sangat keterlaluan, Nyonya Kim." Ujar Baekhyun dengan nada yang terdengar kesal.
Namun Nyonya Kim seolah menulikan pendengarannya. Ketua pelayan itu kini berani meraih tangan Baekhyun.
"Jika kau pergi seperti ini Tuan Muda Chanyeol pasti akan sangat menderita karena tak dapat menemukanmu di seluruh penjuru rumah, Baek. Ia pasti akan kacau."
Baekhyun langsung menepis kasar tangan Nyonya Kim.
"Lalu anda pikir saya tidak menderita? Selama ini.. sepuluh tahun saya menderita seorang diri. Apa anda bahkan tahu rasanya?"
Baekhyun sungguh benci mengingat-ingatnya namun telah banyak perjuangan yang ia lakukan setelah kehilangan kedua orangtuanya dan sang adik. Baekhyun bahkan harus rela membanting tulang untuk menghidupi dirinya sendiri. Ia begitu tersiksa dengan situasi kala itu andaikan tiada sosok neneknya yang mengulurkan tangan.
Nyonya Kim bungkam ketika melihat jelas tatapan mata Baekhyun yang memupuk banyak kesedihan dan luka. Lelaki itu terlihat sangat rapuh di dalam. Dan apa yang baru saja ia lakukan dengan tidak sopannya?
Nyonya Kim mengedarkan pandangannya dengan gelisah, merasa bersalah atas ucapan bodohnya barusan.
"A-Aku.. Maafkan aku, Baekhyunㅡ"
"Oppa.."
Suara itu membuat kedua orang tersebut langsung menoleh dan menatap Yeri yang mulai bergerak tak nyaman dari tidurnya.
Akhirnya Yeri tersadar dari obat bius yang sempat diberikan pengawal suruhan Kris sebelum membawanya ke ruang bawah tanah.
"Nara-ah, kau sudah bangun?" Baekhyun berjalan mendekati Yeri dan mengusap lembut kepalanya.
Oh betapa ia sangat merindukan adik kecilnya tersebut.
Mungkin terasa tidak nyaman jika gadis itu harus merubah namanya kembali. Namun Baekhyun hanya tak ingin adiknya memakai nama pemberian dari rumah ini. Baekhyun membencinya. Baekhyun hanya akan memanggil Yeri dengan Nara, nama gadis itu yang sesungguhnya.
Yeri bangkit sembari memegangi kepalanya yang terasa sedikit pusing. Namun ketika netranya menangkap kehadiran Baekhyun di sampingnya, ada sebuah dorongan di dalam dirinya yang membuatnya ingin menangis. Gadis itu merasa sangat sedih.
"O-Oppa.. hiks.." Yeri menatap Baekhyun dengan penuh rasa bersalah. "Oppa.. Maafkan aku hiks.. Aku.. Aku tidak mengingat Oppa.."
Cukup melegakan ketika Yeri mulai dapat mengingat masa lalunya. Berkat bantuan Nyonya Kim, Yeri mulai mengingat namanya sendiri dan keluarganya. Ia ingat memiliki seorang kakak laki-laki yang manis.
Hanya saja ia tak sepenuhnya mengingat masa lalunya. Karena memori tentang sepuluh tahun lalu di musim salju saat kematian orangtuanya tak bisa ia ingat sama sekali, seolah menjadi sesuatu yang paling terkubur begitu dalam.
Baekhyun tersenyum lega dan memeluk sang adik dengan penuh sayang dan kerinduan. Ia sungguh tak mempermasalahkan hilang ingatan sang adik selama gadis itu telah dipertemukan kembali dengannya.
"Tidak apa. Jangan menangis. Oppa di sini."
Sesungguhnya Baekhyun sedang menahan tangisnya. Ia hanya berusaha terlihat tegar sembari sesekali memberi usapan pada rambut Yeri dengan lembut.
Baekhyun memejamkan matanya sesaat kemudian beralih menatap Nyonya Kim yang sedari tadi hanya mampu memandangi dalam diam.
Baekhyun sangat yakin dengan apa yang akan ia ucapkan saat ini setelah melihat keadaan Yeri. Ia tahu ia telah mengambil langkah yang tepat, satu-satunya cara yang akan membuat semua orang bahagia. Dirinya, adiknya, Kris, dan juga untuk Chanyeol.
"Saya akan tetap pergi bersama Nara. Itu keputusan terakhir saya."
Langit terlihat sangat cerah dengan warna birunya bersama awan yang menari-nari seolah mengatakan hari ini adalah hari yang baik untuk memulai sesuatu.
Baekhyun menghentikan langkahnya ketika telah sampai di gerbang dengan Yeri di sampingnya.
Untuk terakhir kalinya, Baekhyun menoleh ke belakang. Memperhatikan setiap detail rumah Keluarga Park yang selalu terlihat seperti istana mewah di matanya. Atensinya berhenti pada sebuah jendela yang sangat ia hapal. Ruang kamar Chanyeol.
Singkatnya Baekhyun sudah mendengar melalui Nyonya Kim bahwa Chanyeol kembali diperlakukan seperti sepuluh tahun lalu. Kini lelaki itu pasti tengah berbaring tidak berdaya dengan obat bius mengalir di tubuhnya dan kamar yang kembali di kunci sebanyak mungkin untuk mencegahnya kabur.
Entah apa yang merasuki pikirannya namun Baekhyun ingin mengucapkan salam perpisahan. Bahwa ia ingin mengatakan sesuatu untuk yang terakhir kalinya, di luar rasa kecewanya terhadap lelaki tersebut.
'Ketika aku mengatakan bahwa aku mencintaimu segila ini, itu benar adanya. Mengetahuimu adalah seorang psikopat yang memiliki kesedihan dibalik wajah palsumu membuatku selalu ingin memelukmu, melindungimu, dan menyayangimu dengan cara yang berbeda.
Namun kini aku tak tahu harus bagaimana. Sekarang hanya ada rasa sakit yang balik menusukku segila ini.'
Susah payah Baekhyun mencoba menekan perasaan itu. Perasaan cintanya.
Sepenuhnya Baekhyun hanya akan menggunakan akal sehatnya mulai sekarang dibandingkan hatinya. Ia tahu ia harus berpikir logis dalam hal ini bahwa apa yang telah Chanyeol perbuat tak akan pernah bisa termaafkan dan ia telah memutuskan untuk lepas tangan dari tanggung jawabnya terhadap lelaki tersebut. Bahwa kini mereka tak akan memiliki hubungan apapun lagi yang mengikat. Termasuk membiarkan lelaki itu menjadi seorang tahanan lagi yang dikurung di kamar terlarang.
Baekhyun mengepalkan tangannya, memberi dirinya kekuatan besar untuk melangkahkan kakinya pergi.
'Aku berhenti sampai di sini, Park Chanyeol. Aku akan meninggalkan perasaan itu di sini, dan aku.. akan meninggalkan kenangan kita disini. Selamat tinggal.'
Dan begitulah bagaimana Baekhyun dapat melanjutkan langkahnya sembari menarik koper milik Yeri. Mengabaikan perasaannya yang kini sudah remuk tak berbentuk dan air mata yang bersembunyi di pelupuk matanya.
Baekhyun akan memulai segalanya dari awal lagi.
Tanpa Chanyeol.
Ding.. Dong..
"Aish.."
Jongdae menggerutu kesal mendengar bunyi bel yang mengambil seluruh kesadarannya secara paksa untuk membuka mata dari tidur nyenyaknya. Ini adalah hari yang sangat panjang untuknya bersantai di rumah setelah hari-hari yang melelahkan.
Lelaki itu menguap lebar dan berjalan malas-malasan menuju pintu rumahnya. Siapa orang yang datang pagi-pagi begini dan berani mengganggu waktu emasnya? Mungkin ia harus memberi tendangan di bokong orang tersebut supaya jera.
"Tunggu sebentar!" Ujar Jongdae sambil membuka kunci rumahnya kemudian membuka pintu selebar mungkin.
Tapi semua pemikiran jahat yang ingin ia lakukan kepada pelaku yang telah mengganggu tidur nyenyaknya hilang begitu saja ketika ia mendapati kehadiran seseorang yang tak pernah ia duga akan ada di depan rumahnya.
Tubuh Jongdae seolah kaku melihat seseorang yang telah pergi meninggalkannya begitu saja dengan penuh tandanya kini berada tepat di hadapannya.
Jongdae mengucek matanya untuk memastikan.
"Baekhyun..?" Panggilnya ketika menyadari bahwa ia tidak sedang bermimpi.
Baekhyun sungguhan ada di depan rumahnya dengan senyuman manisnya yang sangat khas.
Rasa khawatir dan rindu langsung menyerang Jongdae tanpa ampun. Ia hampir saja menyerah mencari lelaki itu ketika pembicaraan terakhir mereka waktu itu dan betapa bersyukurnya sekarang Baekhyun kembali muncul di hadapannya.
"Jongdae-ah.."
Tetapi ketika mendengar suara itu yang menyapanya begitu lirih membuat Jongdae akhirnya tersadar ada sesuatu yang tak beres.
Lelaki itu mengerutkan dahinya menyadari keadaan Baekhyun yang tampak kacau tak seperti yang terakhir kali ia lihat. Wajahnya terlihat memiliki beberapa luka. Mata sipitnya sangat sembap seperti telah menangis berpuluh-puluh hari dan suaranya terdengar begitu lemah. Apa yang terjadi?
Namun yang membuatnya bingung adalah kehadiran seorang gadis yang masih sangat muda di sebelah Baekhyun tengah menatapnya dengan canggung. Membuat pikiran negatif langsung menghampirinya tanpa permisi.
Apa Baekhyun yang menghilang selama ini berakhir menghamili anak orang dan baru saja di pukul oleh orangtua gadis itu? Melihat koper yang Baekhyun bawa sepertinya memperkuat asumsi bahwa mereka diusir.
Tapi.. kenapa justru Baekhyun yang menangis?
.
.
.
.
{ To Be Continued }
10k words..
Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu semua orang tiba. Akhirnya kita sampai di klimaks dan bbh udh tau :""")
Kenapa Kris mutusin buat ngeluarin bbh dari rumah? Karena Kris ngerasa ngebunuh bbh gak akan terlalu menyiksa. Yang justru akan nyiksa bbh lebih lama adalah rasa bersalah bbh kepada orangtuanya, perasaan cintanya kepada pembunuh orangtuanya, dan fakta bahwa bbh gak bisa berbuat apa2 untuk ngehukum ceye. Pasti rasanya frustasi banget sampe mau matek wkwk KOK MALAH JADI AKU YANG SENENG YA WKWK aku yakin aku normal wkwkwkwk just kidding. Untuk flashback 10 tahun lalu akan ada di chap depan ya yorobun. Oh iya, Sehun ga akan sama Yeri atau Kris ya. Kalem beb wkwkwk
Tentunya ff ini masih memiliki banyak kekurangan dan sebisa mungkin aku bekerja keras untuk memberikan yang terbaik. Aku selalu usahain lebih cepat update okeh. Sampai jumpa di chap selanjutnya! Terima kasih banyak untuk yang fav/foll/review. Kritik dan saran yang membangun akan selalu aku terima dengan senang hati. byebye
