DO NOT ENTER ! (CHANBAEK)

BOYSLOVE/YAOI

Main Cast :

Byun Baekhyun

Park Chanyeol

Summary :

Jangan masuk ke dalam sana! Tidak ada yang diperbolehkan masuk ke dalam sana! Larangan tersebut telah diketahui oleh setiap penghuni rumah. Namun Byun Baekhyun, laki-laki yang mendadak menjadi seorang penyusup telah melanggarnya.

~Keseluruhan cerita berasal dari imajinasiku sendiri~

.

.

BB922016


Do Not Enter ! : Chapter 12

Nama aslinya adalah Wu Yi Fan. Ia dan kedua orangtuanya merupakan asli Kanada yang merubah kewarganegaraan mereka menjadi Republik Korea dan itu sebabnya Yifan mengganti namanya menjadi Kris Park.

Jika ditanya apa yang paling ia sukai di dunia ini, maka Kris akan menjawab kesunyian.

Melihat jauh ke belakang, bertahun-tahun menjadi seorang anak tunggal di keluarga Park membuat Kris menjadi anak yang pendiam dan lebih suka menghabiskan waktu dengan menyendiri.

Kedua orangtuanya terlalu sibuk dengan urusan pekerjaan mereka yang mengharuskan untuk melakukan perjalanan dinas ke luar negeri, sehingga menelantarkan Kris sendirian bersama para pelayan di rumah mereka yang berada di Kanada sejak umur 1 tahun.

Kedua orangtuanya hanya akan kembali ke rumah setidaknya dua kali dalam sebulan hingga membuatnya terlihat seperti anak pelayan dibandingkan anak dari kedua orangtuanya yang merupakan pengusaha kaya raya dan paling berpengaruh di negaranya. Namun meski begitu, semua orang berkata bahwa keluarga mereka adalah keluarga yang harmonis. Ya, mungkin.

Beruntungnya Kris adalah anak yang pintar meski harus tumbuh dari didikan para pelayan dan pengawal. Anak itu cepat dalam mempelajari sesuatu dan menghapal.

Di umurnya yang ke 2 tahun, Kris selalu menyaksikan kedua orangtuanya bertengkar hebat di setiap sudut rumah. Saling memukul dan memaki dengan kata-kata kasar yang tak Kris harapkan akan ia dengar seumur hidupnya.

Hal itu terjadi selama bertahun-tahun.

Keadaan rumah selalu menjadi kacau tiap kali pasangan itu bertatap muka. Bahkan para pelayan maupun pengawal tak berani ikut campur dengan berusaha memisahkan keduanya.

Kris pernah tak sengaja mendengar para pelayan bergosip jika pertengkaran orangtuanya bermula dari perselingkuhan sang ayah dengan seorang sekretaris yang tak Kris ingat namanya dan hal itu diketahui oleh Nyonya Park.

Semua itu semakin lama membuat Kris perlahan-lahan terbiasa dengan keadaan rumah. Tiap kali ia melihat kedua orangtuanya bertengkar, ia hanya akan menyaksikannya dengan tatapan datar. Bahkan ia tak merasa ketakutan lagi ketika kedua orangtuanya saling berteriak dan melempar benda yang ada di sekitar. Justru diam-diam ia akan mengharapkan hal itu terjadi dengan menghitung sampai sepuluh dan melihat siapa yang akan menjadi orang pertama yang melakukannya.

Meski begitu, baik ayah maupun ibu sering kali berkata kepadanya bahwa mereka sangat menyayanginya lebih dari apapun yang ada di dunia ini. Namun Kris tidak merasakan hatinya bergetar saat mendengar hal tersebut. Mungkin karena ia tak tahu apa arti menyayangi, atau mungkin karena ia tidak pernah merasa seperti layaknya orang yang disayangi.

Kris yang merasa jika dirinya terlahir kesepian dalam keadaan rumah yang seperti itu memilih untuk tidak dekat dengan siapapun. Ia menjauhkan diri dan lebih banyak diam. Kris merasa kesunyian adalah satu-satunya teman terbaiknya dan itu membuatnya selalu menghabiskan waktu di dalam kamar luasnya yang sunyi.

Karena sikapnya itu, ia menganggap semua orang di sekitarnya adalah orang asing dan tak lebih dari sekadar serangga pengganggu. Jika siapapun berani mengganggu ketenangannya, maka mereka akan merasakan akibatnya.


Ketika itu, Kris sering kali menyakiti para pelayan yang selalu mengajaknya bermain. Ia akan mendorong atau memukul para pelayan seperti yang ia ingat dari bagaimana perlakuan ayahnya kepada ibu. Namun seolah tak jera, pelayan-pelayan tersebut terus saja mengganggunya. Hingga suatu hari Kris melempar vas bunga ke wajah salah seorang pelayan. Tentu semua orang berteriak dengan histeris, terkecuali Kris yang menatap dingin pada pelayan wanita dengan wajah yang dilumuri darah dan pecahan keramik itu.

Tuan Park dan Nyonya Park akhirnya mulai merasa cemas dan sangat khawatir melihat sikap Kris yang sangat jauh dari dugaan mereka. Akhirnya, pasangan itu memilih untuk rujuk. Melupakan segala pertengkaran yang pernah terjadi dan berusaha sekuat tenaga membangun kembali rumah tangga yang harmonis.

Namun semua itu seolah tak berlaku bagi Kris. Karena meski kedua orangtuanya memutuskan untuk berubah, Kris tetap sama.

Akhirnya, mereka memutuskan pindah ke Korea Selatan dan mengubah kewarganegaraan mereka. Mencoba menemukan kehidupan baru dengan suasana yang baru.

Setahun kemudian hadirlah seorang anak perempuan di keluarga Park. Seorang perempuan cantik bernama Park Yoora. Kehadirannya membuat semua orang berbahagia. Namun tidak dengan Kris.

Adik perempuannya itu terlahir dengan kondisi yang sangat lemah. Karena itu, kedua orangtuanya selalu menjaga Yoora dengan ketat dan pada akhirnya Kris kembali terabaikan. Ia selalu berada pada posisi terbelakang. Yoora lah yang menjadi prioritas utama bagi kedua orangtuanya. Lagi-lagi Kris sendirian.

Namun Kris tak pernah meminta lebih. Ia tak pernah berusaha mencari perhatian kedua orangtuanya. Kris tak peduli akan hal itu. Ia hanya ingin ketenangan dan kesunyian yang seperti biasa ia rasakan.

Tahun berganti tahun. Saat itu terdengar suara tangisan bayi dari dalam ruang operasi. Kris bersama Tuan Park hanya bisa menunggu di luar ruang operasi atau tepatnya di kursi ruang tunggu.

Tuan Park terlihat bernapas dengan lega dengan Yoora yang tertidur pulas digendongannya sesaat setelah mendengar suara tangisan bayi dari dalam ruang operasi yang menandakan bahwa kelahiran bayi ketiga berjalan dengan lancar dan selamat.

Kris hanya terdiam tak menunjukan ekspresi apapun selain datar. Ia hanya memperhatikan kedua orang yang berada di sampingnya sekilas dan kembali fokus pada lantai koridor.

Kris hanya ingin pulang ke rumah dan mengunci diri di kamarnya. Ia hanya ingin sendirian dibandingkan berada di tempat umum seperti ini. Kris benci rumah sakit.

Nyonya Park yang telah bisa dikunjungi di kamar pasien vip membuat Kris, Yoora, dan Tuan Park segera menuju tempat tersebut.

Pintu kamar terbuka dan menampilkan sosok sang ibu yang tengah menggendong seorang bayi mungil dalam pelukannya sembari bersenandung pelan.

Iris mata Kris menatap pada bayi mungil yang tertidur lelap di dekapan Nyonya Park tanpa suara.

"Kris, beri salam pada keluarga baru kita. Dia adalah anak laki-laki yang sehat dan tampan sepertimu. Kami memberinya nama Park Chanyeol." Suara ayah terdengar dipendengaran Kris. Namun ia tak menjawab apapun dan hanya terdiam.

Pada detik yang sama, Kris percaya jika cinta pada pandangan pertama itu nyata. Karena ia baru saja jatuh hati pada sosok bayi yang menjadi adik kandungnya itu.

Kris menyentuh permukaan kulit Chanyeol dengan jemarinya dan siapa yang akan menyangka jika bayi itu terlihat nyaman dengan sentuhan tersebut. Bayi itu bahkan tersenyum untuk pertama kalinya dengan mata yang masih terpejam.

Reaksi itu memberikan sesuatu yang baru pada diri Kris. Kris merasa bahwa ia disanjung oleh sikap bayi tersebut. Untuk pertama kalinya, Kris merasa bahwa kehadirannya diinginkan.

Dan sejak itu daftar hal yang ia sukai bertambah satu. Kesunyian, dan seorang anak bayi bernama Park Chanyeol.


Kris merasa akhirnya ia bisa mengetahui bagaimana rasanya tersenyum sejak kehadiran Chanyeol di sisinya. Lelaki yang jauh lebih muda darinya itu selalu ingin berada di dekatnya dan selalu ingin bersamanya. Kris tentu senang akan hal itu karena ia juga merasakan hal yang sama, bahkan sejak ia menemaninya adik lelakinya itu dari semasa bayi.

Apa yang Chanyeol suka akan menjadi kesukaan Kris. Apa yang Chanyeol inginkan akan menjadi sesuatu yang ingin Kris capai untuk lelaki itu. Dan apa yang Chanyeol benci, tentu adalah sesuatu yang harus Kris singkirkan dari muka bumi ini.

Katakanlah Kris gila jika ia menyukai adiknya sendiri dengan perasaan yang menggila dan berlebihan. Ia menyukai bagaimana cara adiknya merengek padanya. Ia menyukai bagaimana cara adiknya memandang dirinya seperti seorang pahlawan dan ia menyukai Chanyeol yang selalu menjadikan dirinya sebagai sesuatu yang berharga.

Mungkin Kris pernah membuat sebuah kesalahan hingga sang adik tahu sisi lain dari dirinya yang senang menyakiti seseorang atau binatang-binatang. Tapi di dalam hatinya, Kris sangat ingin Chanyeol tahu apa yang dirinya rasakan. Ia ingin membuat adiknya paham bagaimana perasaannya saat menghancurkan hal-hal yang dibencinya. Kris ingin dimengerti.

Chanyeol yang kelewat polos membiarkan dirinya terbawa arus kakak pertamanya. Ia mencontoh hal yang tak seharusnya dicontoh pada anak seusianya dan yang lebih parahnya, sejak saat itu ia menjadi lelaki tak berperasaan.

Hal itu membuat kakak keduanya heran dengan perubahan drastis sang adik. Yoora tak mengerti mengapa Chanyeol mulai bersikap tidak peduli dari biasanya. Yoora pun menjadi semakin kebingungan dengan Chanyeol yang mulai bersikap aneh seperti halnya kakak pertama.

Yang Yoora inginkan dalam hidupnya hanya hidup bahagia dengan keluarga kecil mereka. Meskipun ia tak pernah bertegur sapa dengan kakak pertama, namun tak masalah jika mereka tak bertengkar. Mungkin memang begitulah hubungan mereka berjalan.

Untuk sang adik, yang ia harapkan adalah adiknya akan lebih menyenangkan dibanding Kris. Ia berharap adiknya akan bersikap seperti anak lelaki pada umumnya yang senang bermain game online atau melakukan sesuatu yang baru. Ia ikut senang saat Chanyeol menjadi anak yang disukai teman-teman di sekolah.

Tetapi semakin hari yang Yoora lihat hanyalah perubahan yang semakin menjadi. Tak ada lagi Chanyeol yang bersikap manis. Tak ada lagi Chanyeol yang sopan. Dan bahkan tak ada lagi Chanyeol yang bersemangat. Semua itu seakan-akan hilang dalam sekejap saja.

Yoora mencoba bertanya mengenai apa yang terjadi. Ia mencoba bertanya tentang situasi saat ini. Namun ia tak mendapat jawaban apa-apa. Yang ia dapatkan hanyalah panggilan dari guru yang mengatakan bahwa sang adik memukuli teman sekelasnya sendiri sampai pingsan.

Yoora tak pernah mengira jika Chanyeol bisa sekasar itu. Terlebih lagi saat ia mengetahui fakta jika teman sekelas adiknya hanya mencoba menggoda Chanyeol dengan menyembunyikan tempat pensil milik lelaki itu.

"Chanyeol, sebenarnya ada apa denganmu?" Tanya Yoora pada sang adik saat mereka hanya berdua saja di dalam kamarnya. "Kau berubah, Chanyeol. Kau menjadi lebih kasar sekarang."

"Ada apa? Katakan pada noona. Jika bisa, pasti noona akan membantumu." Lanjutnya.

Namun Chanyeol hanya tersenyum kecil. Berbanding terbalik dengan Yoora yang tampak sendu dan khawatir akan sikap sang adik.

"Aku hanya menjadi lebih kuat untuk menjaga diriku sendiri, noona, hyung, dan keluarga kita." Balas Chanyeol. "Tidak akan ada yang bisa menyakiti kalian."

Bukan itu yang ingin Yoora dengar. Ia tak ingin mendengar nada angkuh dari ucapan Chanyeol. Ia tak ingin merasakan perasaan tak bersalah Chanyeol sama sekali.

Chanyeol memeluk Yoora sejenak sebelum ke luar dari kamar meninggalkan sang kakak yang terdiam membeku.

Yoora yakin pasti ada yang salah. Yoora yakin pasti sesuatu telah terjadi pada adiknya. Karena itu, ia berusaha menyelidiki semuanya seorang diri.

Dan akhirnya saat itu tiba, ketika keluarga Park tengah makan bersama di ruang makan. Yoora melihat dengan kedua matanya sendiri saat sang adik mengarahkan pisau daging ke perut seorang pelayan. Ia melihat bagaimana tatapan Chanyeol yang membara. Ia melihat semuanya. Namun saat itu Chanyeol berkata dengan santai, "Maaf, aku tidak sengaja." Rasanya seperti berbohong bukanlah sebuah masalah besar.

Setelah pelayan itu pergi dengan bantuan para pelayan lain, diam-diam Chanyeol mengulum senyumnya. Lelaki itu menoleh pada kakak pertama yang tengah tersenyum miring padanya.

Yoora melihat kejadian itu. Ia memperhatikan bagaimana kedua saudaranya yang terlihat bahagia dengan hal kejam seperti itu dan ia menahan perasaan kecewa dan terkejut saat ia mulai mengetahui rahasia-rahasia jika kedua saudara kandungnya adalah orang-orang berdarah dingin. Betapa hancur hatinya tiap kali menyaksikan kedua saudara kandungnya yang tampak senang menyakiti binatang atau bahkan para pelayan.

Yoora menatap tajam dari tempatnya berada pada Kris yang tengah berjalan santai di lorong rumah berlawanan arah dengannya.

Lantai tiga menjadi saksi bisu bagaimana Yoora mencoba berbicara dengan sang kakak untuk pertama kalinya.

"Aku tahu kau yang membuat Chanyeol seperti ini." Yoora langsung menuduh tepat pada Kris. Ia yakin jika firasatnya tak mungkin salah. Ia yakin Chanyeol berubah seperti ini karena pengaruh kakak pertama.

Kris berhenti dan menoleh dengan alis terangkat. Tak begitu peduli.

"Aku tahu Oppa yang memberi pengaruh buruk pada Chanyeol." Ucap Yoora. Gadis itu nampak marah dan sangat amat sakit hati karena Kris yang berperan sebagai kakak pertama nyatanya tak dapat memberikan contoh yang baik. "Aku sudah tahu semua yang kalian berdua lakukan."

Yoora mengepalkan tangannya dengan erat. "Bagaimana bisa kau mengajarkan Chanyeol seperti itu? Kau tidak pantas menjadi seorang kakak. Kau hanyalah pengaruh buruk untuk ChanㅡAAKKH..!"

Dengan sebelah tangan, Kris langsung menyudutkan Yoora ke dinding dengan mencengkram leher Yoora hingga kukunya menancap tajam pada permukaan kulit sang adik. Meskipun Yoora meronta kesakitan, Kris seolah tak peduli. Ia justru semakin menguatkan cengkramannya dengan Yoora yang membuka mulutnya serta dahi yang mengkerut.

Gadis itu berkali-kali menepuk lengan Kris.

"Jangan pernah ikut campur, sialan. Kau harusnya bersyukur aku masih memberimu kesempatan hidup sampai sekarang. Aku memberkatimu." Bisik Kris sebelum akhirnya menghentakkan tubuh Yoora dan pergi begitu saja.

Gadis itu langsung jatuh terduduk dan menangis kesakitan diselimuti ketakutan. Entah karena perlakuan sang kakak atau karena kenyataan yang sulit ia terima.

Satu hal yang pasti, Yoora merasa tertekan dengan situasi di dalam keluarganya saat ini. Dan ia sama sekali tak tahu harus berbuat apa. Ia hanya menangis dalam diam setiap harinya. Memohon pada tuhan untuk memberinya kekuatan agar dapat membuat keadaan kembali normal seperti yang seharusnya.


Tiga jam sebelum perayaan natal di mulai.

Yoora memandang pada dinding kamarnya yang di penuhi foto-foto bintang yang ia ambil bersama Chanyeol. Biasanya mereka selalu menghabiskan waktu di malam hari dengan melihat cahaya bintang dari teleskop di kamar Yoora. Sayang sekali mereka tak pernah melakukannya lagi.

Hatinya merasakan denyut sakit. Yoora mengusap lembut salah satu foto dirinya dan Chanyeol yang sedang memegang teleskop baru hadiah dari sang ayah untuk ulang tahunnya yang ke-15.

Pikiran Yoora terus melayang dan tanpa sadar pipinya sudah basah. Betapa ia sangat merindukan adik kecilnya itu.

Selama ini Chanyeol memang tak pernah menyakitinya. Chanyeol memang selalu melindunginya dari segala macam bahaya seperti janji yang lelaki itu pernah katakan padanya. Namun tetap saja, siapapun orang di dunia ini pasti ingin jika adiknya bersikap 'normal'. Begitu juga dengan Yoora.

Gadis cantik itu menghapus air mata yang membasahi pipinya dan mencengkram tangannya berusaha menguatkan diri. Tak akan ada gunanya menangis. Ia harus kuat dan lebih kuat lagi. Bagaimanapun caranya, ia akan membuat keadaan menjadi lebih baik.

Yoora keluar dari kamarnya dan menoleh pada kamar di ujung lorong. Kamar Chanyeol. Ia ingin menemui Chanyeol dan mengajak lelaki itu untuk turun ke bawah karena perayaan natal sebentar lagi akan dimulai.

Gadis itu bermaksud mengetuk pintu tersebut namun tertahan ketika melihat pintu kamar sedikit terbuka. Akhirnya Yoora mendorong pintu tersebut tanpa suara.

Kedua matanya sontak membulat. Yoora tak menyangka pada apa yang sedang ia lihat saat ini. Rasanya ribuan ton baru saja jatuh tepat di atas kepalanya. Ia mendapati Kris tengah mencium mesra punggung tangan Chanyeol yang tengah tertidur lelap.

'Apa-apaan ini?!'

"Oppa.." Yoora mencoba memanggil sang kakak yang nampaknya tak peduli dengan kehadirannya.

Kris menjauhkan wajahnya dari tangan Chanyeol dan menghela napas pelan sebelum menoleh dengan jengah pada adik perempuannya yang berdiri di ambang pintu.

Tubuh Yoora bergetar hebat sementara Kris tetap bertahan dengan wajah datarnya.

"O-Oppa, mengapa kau melakukan itu?"

"Aku menyukainya."

Yoora menggeleng pelan, sedikit terkejut mendengar apa yang Kris ucapkan kepadanya.

"T-Tapi.. kita ini saudara." Ujar Yoora. "Oppa, aku, dan Chanyeol adalah saudara kandung. O-Oppa tidak bisa seperti ini."

Kris menatap kembali kepada Chanyeol yang tengah tertidur pulas dan menarikan jemarinya di wajah Chanyeol dengan lembut seolah sedang mengagumi paras sang adik yang sangat ia sayangi. Ia bisa merasakan debaran halus di dadanya setiap kali menatap wajah Chanyeol.

"Aku tidak mengharapkan pendapatmu. Jadi tutup mulutmu itu." Sahut Kris dengan santai.

Tapi Yoora tak menurut. Yoora tak ingin tinggal diam kali ini. Gadis itu merasa ia harus bertindak sesuatu atau situasi akan jauh lebih buruk dari ini. Kris benar-benar memberi dampak yang sangat buruk untuk Chanyeol.

"Aku akan mengadu pada Eomma dan Appa." Yoora menatap Kris dengan dagu yang terangkat seolah menantang sang kakak. "Apa yang akan kau lakukan dengan itu?"

Kris menghentikan gerak tangannya dan diam untuk sesaat sebelum menolehkan kepalanya menatap Yoora. "Aku akan membunuhmu." Wajah Kris tampak datar meski ia memberi sebuah ancaman yang menakutkan dan terlihat tak bermain-main dengan kata-katanya.

"Ah, tidak. Aku akan membunuh kalian semua." Koreksi Kris.

Yoora meneteskan air matanya lagi dan lagi mendengar penuturan sang kakak. Ia tidak percaya kakaknya sangat menyeramkan. Lelaki itu bukan manusia.

Kris tersenyum miring. "Jadi kau seharusnya tutup mulut jika tak ingin sesuatu yang buruk terjadi."

Yoora mengepalkan tangannya. Ia berharap ia bisa menyembunyikan hal ini lebih lama lagi, namun ia tak akan sanggup melihat kedekatan kedua saudaranya yang mungkin semakin hari semakin tak wajar.

Orang tua mereka berhak tahu dan Yoora akan melanggar peringatan Kris untuk itu. Ia akan mengatakan kepada orangtuanya tentang semua kebenaran yang selama ini ia tutupi demi menjaga aib kedua saudara kandungnya tersebut.

Yoora lantas pergi melarikan diri secepat mungkin keluar dari kamar Chanyeol. Langkah kakinya menuruni anak tangga dengan cepat menemui kedua orang tuanya. Hal yang tak seharusnya gadis itu lakukan karena Kris tak pernah main-main dengan ancamannya.

Hari itu menjadi hari yang kelam dan terakhir kalinya keluarga mereka bersama-sama.


Dapat Kris rasakan seluruh pasang mata menatapnya dengan tatapan yang menghakimi. Terlebih dari sang ayah yang berdiri tegap tepat di hadapannya.

"Apa itu benar, Kris?" Tanya Tuan Park dengan suara tajamnya, mencoba memastikan tentang apa yang Yoora katakan padanya beberapa menit lalu.

"Ya."

Jawaban Kris membuat sang ayah menampar keras pipinya hingga sudut bibirnya berdarah.

Kris terdiam dengan pandangan yang menatap ke lantai sementara semua orang yang berada di sana tak bergerak dari posisi mereka seolah tak ingin melakukan apa-apa untuk menenangkan kemarahan Tuan Park.

"APA KAU SUDAH GILA?!"

Kris melarikan bola matanya melihat ke sekeliling ruangan. Semua orang menyembunyikan suara mereka. Para pelayan dan pengawal yang berjaga di sana menundukan kepala mereka tak berniat ikut campur.

Nyonya Park yang duduk di sofa ruang keluarga hanya menutup mulutnya dan menangis dalam diam bersama Yoora yang merangkulnya dan menatap ke arahnya penuh kecewa.

Kemudian Kris melihat sang kepala pelayan ada di antara orang-orang. Memandangnya begitu sendu di raut wajah tuanya.

"BAGAIMANA BISA KAU MENYUKAI ADIKMU SENDIRI? DAN APA TADI? KAU MENGAJARKAN CHANYEOL HAL BURUK?! KAU MEMPERMALUKAN KELUARGAKU!"

Suara bentakan Tuan Park kembali menyadarkannya.

Jari telunjuk milik Tuan Park menunjuk tepat ke wajah Kris. Wajahnya merah padam dan rahangnya mengeras menangkap ekspresi Kris yang datar seolah tak merasa bersalah.

"Seharusnya aku tahu kau adalah pembawa sial! Kau tidak pantas menjadi anakku apalagi pewarisku!"

Kris mengepalkan tangannya menahan semua kekesalan di hatinya mendengar setiap ucapan yang sang ayah lontarkan untuknya. Pria tua itu berbicara seolah ia adalah pendosa dan manusia paling jahat di sini sementara Kris tahu ayahnyalah monster paling jahat yang telah membuatnya menjadi seperti ini.

Tuan Park menghela napas kasar dan mengambil ponselnya. Mengetik sebuah pesan sebelum kembali menatap Kris.

"Kemasi barangmu sekarang. Aku sudah memesankan tiket ke Kanada. Tinggalah di sana dan pikirkan apa kesalahanmu!"

Kris merasakan suara panah melesat menembus jantungnya. Ia menatap sang ayah dengan terkejut dan tak terima.

"Appa..!'"

Pergi dari Korea? Itu tandanya ia akan berpisah dengan Chanyeol. Itu tandanya ia tak bisa melihat Chanyeol lagi.

"Apa kau berniat membantahku?" Tuan Park mengerutkan dahinya dengan marah sementara Kris menatap lurus matanya dengan ekspresi datar yang tak berubah. Namun emosinya terlihat jelas dari kepalan tangannya yang memutih.

"Kau tidak bisa menjauhkanku dari Chanyeol."

"Apa kau bilang? Anak gila! Kau masih belum sadar juga?!"

"Aku tidak akan pergi kemana-mana dan kau tidak bisa memaksaku."

Tuan Park berjalan mendekat dan memberikan tinjuan di wajah Kris. Dadanya naik turun merasakan emosinya memuncak mendengar penuturan dari sang anak.

"BAGAIMANA BISA AKU MEMILIKI ANAK SEPERTIMU?! KAU DAN PERASAAN TERLARANGMU SAMA-SAMA MENJIJIKAN! CEPAT PERGI DARI RUMAHKU!"

Kris menatap nyalang mendengar ucapan tersebut. Tidak. Ia tak marah ketika sang ayah menghinanya, namun ia merasa sangat murka ketika perasaannya untuk Chanyeol dianggap sebagai sesuatu yang salah.

Lelaki itu mengeraskan rahangnya. Sebelah tangannya mengeluarkan sebilah pisau dari balik punggung yang sedari tadi bersembunyi di belakang bajunya. Mata Kris melotot tajam saat ia mengarahkan tangannya menghujam pisau tersebut tepat ke perut sang ayah.

Semua orang menarik napas terkejut. Membelalak tak percaya pada tindakan Kris yang di luar dugaan.

"Suamiku!"

Tuan Park mundur selangkah sembari memegangi perutnya. Ia mengerang kesakitan. Mulutnya menganga menatap Kris tak percaya.

Namun Kris layaknya orang yang dirasuki setan. Lelaki itu berjalan menghampiri sang ayah dan kembali menghujami tubuh renta tersebut dengan tusukan pisau berkali-kali tanpa ampun. Wajahnya tampak sangat menyeramkan.

"AKU BILANG! AKU! TIDAK! AKAN! PERGI!"

Nyonya Park memekik melihat Kris masih tetap memberikan tusukan di tubuh sang ayah dengan ekspresi yang sangat marah.

"Hentikan Kris! Hentikaan!"

Wanita itu menangis keras dan berjalan panik mendekati sang suami yang terbujur lemah di lantai sementara Yoora jatuh terduduk dengan ketakutan. Kakinya lemas hingga ia tak punya kekuatan menopang tubuhnya lagi menyaksikan bagaimana Kris sungguh melakukan ancamannya.

Para pengawal mencoba bergerak mendekat menyelamatkan tuan mereka namun Kris segera berdiri dan mengarahkan pisau kepada siapapun yang mencoba melangkah mendekatinya.

"JANGAN BERGERAK!" Bentaknya kemudian ia beralih menarik sang ibu dan melingkarkan pisau di leher wanita lemah tersebut.

"BERHENTI MENDEKAT ATAU AKU AKAN MEMBUNUH WANITA INI." Ancaman itu membuat semua orang lantas mematung. Mereka saling bertukar pandang dalam kepanikan yang mendera ditambah tangisan dari Nyonya Park yang begitu membuat frustasi semua orang.

Kris tersenyum miring melihat semua orang menuruti perintahnya. Bagaimana mereka seperti budak yang tengah mematuhi atasannya.

Ia berbisik di telinga sang ibu yang tengah menangis dan memohon untuk dilepaskan.

"Kau lihat bagaimana orang-orang mencoba menyelamatkanmu? Ini lucu karena mereka sungguh berpikir aku akan melepasmu."

Nyonya Park memejamkan matanya dengan bibir yang bergetar ketakutan. "K-Kris.."

"Tapi aku sangat membencimu karena harus terlahir dari perutmu, Eomma. Aku paling membencimu karena kau membuatku dan Chanyeol harus terlahir sebagai saudara."

Dan itu adalah ucapan terakhir yang Nyonya Park dengar ketika Kris menggorok lehernya dengan sekali goresan.

Darah merah pekat muncrat mengenai semua orang yang ada di sana dan tubuh Nyonya Park akhirnya jatuh tak bernyawa di sebelah sang suami.

"EOMMAAAA!"

"Nyonya!"

Para pengawal menatap takut pada Kris yang tersenyum lebar dan mata membelalak melihat keadaan kedua orang tuanya. Tak ada satupun dari mereka yang mencoba mendekat. Mereka mulai berlomba-lomba memundurkan langkah takut menjadi target berikutnya.

Yoora menangis sangat keras menyaksikan kedua orang tuanya tak lagi menghembuskan napas. Mereka dibunuh dengan cara keji oleh sang kakak yang menyeramkan. Kakak psikopatnya.

Kris mengalihkan pandangannya pada sang adik perempuan yang tengah menatapnya balik dan lelaki itu semakin melebarkan senyumnya.

"Aku sudah memperingatimu, bukan? Mengapa kau keras kepala sekali?" Suara Kris terdengar sangat menakutkan di telinga Yoora.

Gadis itu menyeret dirinya mundur sementara Kris menaikan kedua alis dengan ekspresi jenaka. "Apa ini? Kau takut? Kenapa? Kau yang membunuhnya, Yoora. Kau yang membunuh orangtuamu."

Kris terkekeh sembari menatap darah yang berlumuran di pisau dan tangannya. Menatapnya berbinar seolah itu adalah sebuah mahakarya.

"Lihat darah ini, Yoora. Kau menginginkan ini. Kau yang membuat rumah ini penuh darah dari orang yang paling kau sayangi."

Kris melangkahkan kakinya perlahan ke arah Yoora yang terduduk di lantai dan berusaha keras menyeret tubuhnya menjauh dari lelaki itu. Gadis itu menangis dan menggelengkan kepalanya.

"Kau menyesali perbuatanmu, kan? Ayo, menyesal! Katakan! Ayo! Ini salahmu! Mereka mati karenamu, Yoora! Kau pembunuhnya! HAHAHAHAHA!"

Semua orang merinding ketakutan mendengar suara tawa lelaki tersebut. Kris benar-benar psikopat. Lelaki itu seperti orang gila!

Yoora membalik tubuhnya dan berusaha merangkak, mencoba melarikan diri dari Kris yang ia anggap sebagai iblis itu.

Melihat hal tersebut membuat perasaan Kris bergejolak menyaksikannya. Ia melangkah cepat mengejar sang adik dan menarik sebelah kaki perempuan itu hingga tergeletak lemah kemudian ia tertawa kembali.

"Kenapa kau kabur? Kau akan menyusul mereka sebentar lagi." Kikik Kris membuat Yoora menangis lebih keras. Gadis itu meronta sebisa mungkin.

"Tidak... hikss.. ampuni aku..! Tolong lepaskan akuu..!"

Kris tersenyum sembari mengusap sayang rambut sang adik yang bergetar amat ketakutan bahkan sulit untuk sekadar bernapas.

"Maka seharusnya kau mendengarkan ucapanku. Kau tidak seharusnya melawanku. Sekarang lihat kekacauan yang telah kau buat."

"T-Tolong jangan bunuh aku hiks..! Ampun..! maafkan aku, Oppa.. Ampun.. Aku menyesal.."

"Katakan lebih keras."

"Maaf.. maaf.. Ampuni aku..! Aku bersalah..! Ampuni aku..! Jangan bunuh-AKKH!"

Yoora dapat merasakan perutnya seperti dikoyak ketika tajam pisau menembus kulitnya. Jemari gadis itu meraba tangan Kris yang masih bertahan menekan pisau di perutnya. Dapat ia lihat Kris menatapnya dengan penuh rasa bersalah yang dibuat-buat.

"Maaf.. Aku hanya berpikir rasanya tidak adil jika aku membiarkanmu hidup. Kau anak baik yang harus menemani kedua orangtuamu."

Kris tersenyum manis setelahnya dan mengeluarkan pisau itu untuk menusuknya lagi tepat di bagian jantung Yoora. Erangan Yoora tertahan merasakan sakit yang luar biasa menjalari setiap inci aliran darah di tubuhnya sehingga perlahan membuat pandangannya kabur.

Kris tak menghentikan aksinya meski Yoora sudah mulai kehilangan kesadaran. Lelaki itu menyeringai dan mengangkat tangannya tinggi-tinggi dan menusuk di bagian manapun yang ia suka. Ia seperti orang kesetanan.

Cipratan darah sudah mengotori wajah Kris dan lelaki itu justru semakin senang menghujami sang adik hingga napas gadis itu dengan teratur mulai terlihat berhenti.

"Hm? Kenapa kau cepat sekali mati?" Gumam Kris sedikit kecewa ketika akhirnya Yoora menutup matanya tanpa ada denyut nadi yang tersisa. "Hah.. Benar-benar lemah. Inilah salah satu alasan aku membencimu."

"Hyung?"

Detak jantungnya seolah berhenti.

Kris menghentikan aksinya saat suara yang amat ia hapal menyapa pendengarannya.

Kris melupakan satu hal. Ia lupa akan kehadiran adik tercintanya di rumah ini dan itu berarti semua perbuatannya dapat disaksikan tanpa diduga-duga.

Kris mengangkat wajahnya dan melihat raut terkejut Chanyeol yang berdiri di anak tangga terakhir tengah mengamati bagaimana ruang keluarga mereka berubah menjadi ruangan penuh darah. Para pelayan dan pengawal berdiri di pojok ruangan dengan penuh ketakutan.

Chanyeol membawa langkahnya ke ruangan itu untuk melihat lebih dekat ayah dan ibunya terbaring tak bernyawa dengan banyak darah yang melumuri tubuhnya.

"E-Eomma.. Appa..!"

Tubuh Chanyeol bergetar hebat. Ia lupa caranya bernapas. Kekuatannya seolah hilang meninggalkan tubuhnya.

Ia menatap tak percaya orang-orang yang berharga baginya kini telah tiada dengan kondisi yang mengenaskan. Ia bertanya-tanya akan apa yang terjadi dan keributan macam apa yang ia dengar sebelumnya dari kamar?

"T-Tidak mungkin.. B-Bagaimanaㅡ"

Mata Chanyeol beralih pada sang kakak yang mematung dengan seorang gadis lemah di dalam kungkungannya. Dapat Chanyeol lihat sebuah pisau berada di genggaman lelaki itu dan untuk beberapa detik akhirnya ia menyadari bahwa gadis tersebut adalah kakak keduanya.

Mata Chanyeol membelalak tak percaya. Lelaki itu merasakan darahnya mendidih dan ia menatap penuh marah kepada Kris saat dirinya menarik sebuah kesimpulan atas apa yang ia saksikan.

"APA YANG KAU LAKUKAN?!" Amuk Chanyeol dan langsung berlari mendekati Yoora dan Kris.

Ia mendorong lelaki yang lebih tua tersebut dan mencoba menggoyangkan tubuh Yoora dengan kepanikan terlihat jelas di raut wajahnya. "N-Noona.. Noona! Bangun!"

Namun Chanyeol terlambat, karena Yoorapun telah pergi meninggalkannya beberapa detik yang lalu.

"T-Tidak..! Tidak! Kumohon..!"

Mata Chanyeol bergetar dan air mata lolos di pipinya. Ia begitu sedih dan terpuruk kehilangan anggota keluarganya secepat ini tanpa bisa berbuat apa-apa. Ia mengalihkan pandangannya pada Kris yang membisu.

"Apa.. Apa yang terjadi?! Apa yang kau lakukan, brengsek?! Kenapa kau membunuhnya?!"

Untuk pertama kalinya Kris melihat Chanyeol sangat marah. Adiknya itu terlihat sangat kecewa dan sedih. Kondisinya sangat kacau dan Kris menyadari betapa menyakitkan rasanya melihat Chanyeol menangis seperti itu.

Mata Kris mendadak bergerak gelisah. Lelaki itu kebingungan bagaimana cara untuk menjelaskan kepada Chanyeol tentang perbuatannya. Ia hanya membuka dan menutup mulutnya kembali tanpa benar-benar menjawab. Ia seolah tak memiliki sesuatu untuk dikatakan.

Kris mengepalkan tangan dan mengalihkan pandangannya. Ia tak mungkin merasa bersalah atas apa yang telah terjadi namun ia juga tak mungkin mengatakan hal yang membuat Chanyeol semakin sedih.

Keputusan yang ia ambil adalah berdiri pergi meninggalkan Chanyeol. Kris menghindari lelaki itu.

"KRIS! Mau kemana kau, brengsek?!"

Chanyeol memandang kepergian Kris dengan emosi yang memuncak. Tanpa sadar ia mengambil pisau yang tergeletak di lantai dan berlari mengejar lelaki tersebut.

Dalam sekejap mata rasa sayang dan bangga yang selalu Chanyeol miliki untuk kakaknya berubah menjadi kebencian, marah dan dendam yang menumpuk di hatinya.

Seluruh penghuni rumah yang tersisa mulai bergerak panik saat akhirnya tersadar dari ketakutannya ketika melihat kedua tuan muda mereka keluar dari rumah dan berkeliaran dengan darah di sekujur tubuh mereka.


Lonceng-lonceng dan lagu natal mulai terdengar di seluruh toko di pinggir jalan dengan kerlap-kerlip lampu warna-warni yang menghiasi.

Seorang pria paruh baya terlihat tengah menggandeng seorang anak perempuan manis berambut panjang dengan wanita cantik berperut buncit berjalan sembari memeluk lengannya.

"Baekhyun oppa pasti suka ini." Kikik Nara sambil melihat ke dalam kresek putih di tangannya yang berisikan banyak permen. "Appa, ayo jalan lebih cepat!"

Tuan Byun tersenyum hangat seraya mengusap pucuk kepala sang putri. "Pelan-pelan, Nara. Eomma bisa kelelahan."

Bola mata Nara melirik ke arah sang ibu yang berjalan seraya memegangi perutnya yang besar. Ia mengerjap sejenak. "Eomma, apa berat membawa adik di perut seperti itu?" Tanyanya dengan polos.

Usia kandungan Nyonya Byun sudah menginjak bulan ke tujuh. Kelahiran anak ketiga mereka adalah hal yang paling ditunggu-tunggu.

"Tidak, sayang. Hanya saja Eomma tidak bisa berjalan terlalu cepat." Nyonya Byun menggeleng disertai senyuman cantiknya yang mampu melelehkan hati siapapun yang melihatnya.

Mereka berjalan bersama-sama menuju arah pulang ke rumah. Mereka akan merayakan natal bersama sang putra yang menunggu di rumah dengan antusias.

Tiba-tiba dari arah belakang seseorang tak sengaja menabrak bahu Nyonya Byun hingga wanita itu mengaduh seraya memegang perutnya.

"Yeobo, kau baik-baik saja?!" Panik Tuan Byun kemudian menoleh pada seorang lelaki muda yang berhenti sejenak bertatap mata dengannya dengan darah di wajah dan pakaiannya. Tetesan darah itu memberi jejak pada jalanan yang dipenuhi salju.

Nara memekik terkejut dan Nyonya Byun menutup mulutnya ketika mereka melihat Kris.

"A-Apa yang terjadi denganmu, nak?" Tuan Byun menatap khawatir pada Kris sementara lelaki itu langsung berlari kembali menjauhi keluarga Byun tanpa jawaban.

Nyonya Byun langsung berjalan memeluk Nara yang menutup wajahnya ketakutan. Ia mencoba menenangkan gadis mungil tersebut sementara Tuan Byun masih memandang kepergian Kris dengan penuh tanda tanya.

Kemudian tak lama seorang lelaki berlari melewatinya dengan pisau di tangannya. Tuan Byun yang melihat itu lantas mencegahnya. Pria paruh baya itu sangat terkejut melihat tangan lelaki itu juga berlumuran darah.

"Hei, apa yang kau lakukan?" Tanya Tuan Byun seraya menahan lengan lelaki itu.

Chanyeol menoleh dan menghempaskan tangannya tanpa sepatah kata. Ia mencoba mengejar Kris yang mulai jauh dari jarak pandangnya namun Tuan Byun lagi-lagi menghentikannya.

"Apa kau yang melukai lelaki tadi? Ini bahaya, nak. Lepaskan benda ini."

Chanyeol memicingkan matanya pada pria itu. "Bukan urusanmu." Ucapnya seraya mendorong pria itu dan kembali berlari.

"Berhenti."

Namun Tuan Byun tak menyerah. Ia merasa ia harus bertindak. Ia memang tak tahu apa yang sedang terjadi namun ia tak bisa membiarkan seseorang berkeliaran dengan benda tajam dan berlumuran darah terlebih lagi itu anak muda. Ini berbahaya. Pria itu mengejar Chanyeol dan menahan lengan lelaki itu.

"Lepaskan pisaunya, nak. Ini berbahaya. Apa yang akan kau lakukan dengan ini?"

"Lepaskan, sialan!"

Chanyeol merasa sangat kesal karena pria itu kerap menahannya sementara ia berniat membunuh Kris.

Chanyeol berusaha menarik tangannya dari pria itu namun pria itu tak ingin melepas. Tarik-menarik terjadi hingga Chanyeol tak dapat mengontrol emosinya hingga ia menusuk pria tersebut dengan pisaunya.

"Kubilang lepaskan!"

"Yeobo!"

Nyonya Byun berteriak menyaksikan bagaimana suaminya langsung terjatuh di aspal yang tertutupi salju. Pria itu tergeletak sambil memegang perutnya.

Nara menangis kencang sembari memanggil ayahnya. "Appaa!"

Nyonya Byun menatap takut ke arah Chanyeol seraya masih tetap memeluk Nara. Mencoba menutupi wajah sang putri dari kejadian yang baru saja terjadi sembari memegangi perutnya.

Napas Chanyeol memburu. Wajahnya terlihat sangat marah. Ia menatap Tuan Byun sejenak kemudian beralih pada Nyonya Byun. Wanita itu menangis ketakutan seraya mendorong Nara menjauh darinya. Mencoba membuat sang putri berada di jarak paling aman.

"Tolong j-jangan lukai kami.."

Wanita itu memohon seraya menggelengkan kepalanya. Ia meringis kesakitan ketika rasa nyeri menyerang perutnya. "Akkh."

Wanita itu mengerang kesakitan namun saat melihat Chanyeol berjalan mendekatinya membuatnya bergerak panik. Ia segera berjalan mundur menjauhi Chanyeol sebisanya namun jalanan yang licin tertutupi salju membuatnya tergelincir.

Kepala wanita itu langsung terbentur jalanan dan darah mengalir keluar.

Nara semakin menangis kencang. Ia mencoba mendekati sang ibu dengan langkah yang bergetar.

"L-Lar..i.."

"Hiks.. Eommaa!"

Nyonya Byun yang masih memiliki sedikit kesadaran, menatap wajah Nara. "La-ri.. Nar..a.."

Langkah gadis itu terhenti. Ia menangis dan menatap kepada sang ibu dan Chanyeol dengan sangat kebingungan. Anak kecil sepertinya tak tahu apa yang harus dilakukan pada situasi seperti ini. Ia tak tahu harus bagaimana sehingga ia memilih untuk mengikuti ucapan ibunya meski itu berarti ia harus meninggalkan kedua orangtuanya bersama paman tersebut.

Nara berlari menjauh dengan tangisan yang tak hilang dari wajahnya. Ia berlari tak tahu arah akan kemana. Ia hanya akan menjauh dan menjauh seperti yang ibunya perintahkan.

Dan saat itu ia bertemu seorang nenek. Wanita tua yang menatapnya dengan terkejut.

Bibir Nara bergetar seiring langkahnya mendekati nenek itu. "T-Tolong.. Hiks.. To..long.." Tubuh gadis itu mendadak terjatuh dengan kesadaran yang hilang. Gadis kecil itu pingsan, membuat wanita tua tersebut lantas mendekatinya dengan panik.

.

.

.

.


Setelah kepergian Baekhyun dari rumah, Chanyeol sudah berada dalam pengaruh obat bius. Lelaki itu terbaring di tempat tidurnya tak berdaya hingga pagi menjemput.

Matanya mengerjap pelan ketika ia akhirnya terbangun, mencoba menyesuaikan retinanya dengan cahaya yang masuk melalui celah jendela.

"Kau sudah bangun?"

Suara berat itu membuat Chanyeol mengerutkan dahinya. Ia mengalihkan pandangannya pada seseorang yang berdiri menatap keluar jendela.

Chanyeol bangkit dari posisinya dengan sedikit erangan saat merasakan saraf tubuhnya kembali bekerja.

"Yifan." Chanyeol menggeram menyebut nama itu.

Kris lantas menoleh dengan wajah tenangnya. "Kau mau sarapan? Aku akan meminta pelayan menyiapkannya."

Chanyeol menggertakan giginya. Ia menyibak selimut dan mencoba berdiri dengan sisa tenaganya.

"Persetan. Apa yang kau lakukan pada Baekhyun? Dimana dia sekarang?!"

Raut wajah Kris terlihat berubah mendengar pertanyaan tersebut. Pria itu mengeraskan rahangnya mendengar nama yang terlontar dari mulut Chanyeol.

"Berhenti menyebut nama lelaki itu." Ucapnya dengan nada memerintah. Pria itu berjalan selangkah demi selangkah mendekati Chanyeol. "Aku tidak akan mendengar lagi nama itu mulai sekarang."

Kris muak. Kesabarannya sudah habis. Ia tak bisa membiarkan Baekhyun mengambil alih seluruh pikiran sang adik. Kris ingin Chanyeol melihat dirinya mulai sekarang. Hanya ialah yang berhak untuk berada di sisinya.

Chanyeol mengepalkan tangannya. Ia menatap benci pada sang kakak dan mencengkram kerah baju pria itu dengan penuh emosi.

"Sebenarnya apa maumu, brengsek?! Mengapa kau melakukan semua ini padaku?!" Bentak Chanyeol.

"Jika kau tidak ingin melihatku bahagia kenapa kau tidak membunuhku saja!? Mengapa kau selalu menghancurkan hidupku?!"

Chanyeol sungguh tak mengerti. Mengapa Kris selalu merusak kebahagiaannya? Mengapa Kris menyiksanya dengan cara seperti ini?

Sorot mata Kris begitu tajam menatap ke dalam iris mata Chanyeol. Pria itu berbisik. "Kau sungguh tidak tahu?"

Chanyeol hanya diam membisu, membuat Kris lumayan kecewa pada fakta bahwa Chanyeol tak pernah sedikitpun menyadari arti dari semua perlakuannya selama ini. Lelaki itu buta pada perasaan Kris.

Kris melepaskan tangan Chanyeol dari kerahnya seraya mengalihkan pandangannya. "Lupakan."

Pria itu membalik badannya mencoba meninggalkan kamar lelaki itu. Namun suara Chanyeol menghentikan langkah kakinya.

Chanyeol berteriak padanya. Lelaki itu mengerutkan dahinya penuh tanda tanya.

"Katakan, sialan! Kenapa?! Kenapa kau melakukan semua ini?! Kenapa kau terus-menerus menyingkirkan orang-orang yang kucintai?!"

Kris lantas menatap Chanyeol dengan amarah yang menyelimutinya. Obsesi cintanya seolah membara.

"Aku mencintaimu, Park Chanyeol!" Jawabnya dengan lantang. "Aku menginginkanmu. Aku ingin memilikimu untuk diriku sendiri."

Pernyataan itu sontak membuat Chanyeol terdiam. Otak lelaki itu seolah berkerja dengan sangat lambat. Ia menatap sang kakak dengan kebingungan seolah meminta penjelasan lebih lanjut dari kata-kata itu.

Lelaki itu mundur satu langkah sementara Kris menatapnya dengan tatapan yang berbeda.

"Aku akan menyingkirkan semua orang yang berani merebutmu dariku. Aku akan menyingkirkan siapapun yang berani memisahkanmu dariku."

Ekspresi Kris terlihat berubah-ubah. Pria itu mengeraskan rahangnya dengan tangan yang mengepal dan sedetik kemudian ia menundukan kepalanya seraya memejamkan mata ketika terlintas kembali di kepalanya ingatan tentang Baekhyun dan Chanyeol bercinta.

Kris menggeleng pelan merasakan darahnya mendidih mengalir ke seluruh tubuhnya.

"Byun Baekhyun sialan itu. Dia berani menyentuhmu." Geramnya.

Kris menatap Chanyeol kembali seraya menunjuk ke arah dadanya sendiri. "Harusnya aku. Aku, Chanyeol. Hanya aku yang boleh menyentuhmu." Pria itu terlihat begitu tersiksa, raut wajahnya seolah mengatakan ia akan menangis.

Pria itu mencoba mengambil langkah mendekat pada Chanyeol yang masih diam pada posisinya dan mengerutkan dahi. Chanyeol tak percaya dengan apa yang ia dengar. Tidak mungkin. Ia tak pernah menduga kakaknya memiliki perasaan seperti itu untuknya.

"Lalu eomma..appa.. dan.. noona.. Kenapa.. katakan kenapa kau membunuh mereka?" Suara Chanyeol melemah.

"Mereka pantas mendapatkannya, Chanyeol. Mereka mencoba menjauhkanku darimu. Mereka memaksaku pergi darimu."

Chanyeol menundukan kepala mendengar jawaban yang keluar dari mulut Kris. Tubuhnya bergetar. Chanyeol merasakan hatinya seolah ditusuk ribuan kali. Ia sama sekali tidak menyangka alasan dibalik kejahatan sang kakak adalah tentangnya.

"Menjijikan."

Kris menatap terkejut. "M-Mwo?"

"Perasaanmu padaku menjijikan, Yifan. Aku ingin muntah mendengarnya." Ucap Chanyeol seraya mengangkat wajahnya menatap sang kakak. Chanyeol terlihat sangat marah.

"Park Chanyeol."

Chanyeol langsung melayangkan tinjuan di tulang pipi pria itu hingga terjatuh dan menimbulkan suara debuman keras.

"BAGAIMANA BISA KAU MEMBUNUH MEREKA HANYA KARENA PERASAAN MENJIJIKAN ITU?!" Amuk Chanyeol.

"KAU BAJINGAN! AKU AKAN MEMBUNUHMU!" Chanyeol menyerang Kris kembali dengan pukulan yang bertubi-tubi. Ia mengamuk seperti hewan buas. "KAU PANTAS MATI! KAU MENJIJIKAN!"

Air mata mengalir keluar dari pelupuk mata Chanyeol. Ia menyesali bagaimana semua ini terjadi karena cinta Kris padanya. Keluarga yang ia sayangi harus pergi karena perasaan pria itu.

Kris menahan pukulan Chanyeol dan membalas tinjuan lelaki itu. Ia lantas bangkit berdiri ketika Chanyeol tersungkur di lantai.

"Kau tidak akan mengatakan hal seperti itu lagi, Chanyeol." Kris mengusap sudut bibirnya yang berdarah. Ia mengepalkan tangannya menahan marah. "Kesabaranku sudah habis. Aku akan membuatmu menjadi milikku meski itu artinya aku harus menyakitimu."

Chanyeol memicingkan matanya. Dadanya naik turun merasakan emosi yang membara. Hatinya berdenyut sakit mengingat semua seolah hancur tepat di depan matanya. Ia kehilangan segalanya.

Kris menatap Chanyeol dengan aura yang menyeramkan. Sorot matanya seolah menusuk tepat ke iris mata Chanyeol.

"Aku bisa membunuhnya, Chanyeol. Aku bisa."

Byun Baekhyun. Nama itu langsung terlintas di kepala Chanyeol saat mendengar ancaman dari pria tersebut.

Chanyeol menggertakan giginya menatap sang kakak yang berdiri tegap membalas tatapannya dengan angkuh.

Kris menepuk bajunya sendiri, membenarkan kemejanya yang kusut karena perbuatan Chanyeol.

"Jadilah anak baik dan turuti semua perkataanku. Aku sudah muak mendengar penolakanmu, Park Chanyeol. Kau milikku."


Merenung dalam diam memandang keluar jendela, Baekhyun berdiri di sana untuk waktu yang cukup lama.

Memorinya memutar kembali awal pertemuannya dengan Chanyeol. Setiap kenangan akan lelaki itu di pikirannya bagaikan tali yang mengikatnya erat seolah tak ingin melepasnya.

Air matanya sudah mengering. Baekhyun tak bisa lagi menangis. Yang ia rasakan tersisa lelah.

Baekhyun mengeratkan cardigan saat dingin menusuk kulit, namun ia tak memilih untuk beranjak sedikitpun dari tempatnya berada. Ia bertahan memandang gelapnya langit tak berbintang.

"Baekhyun."

Jongdae memanggil namanya sembari berjalan menghampiri.

Baekhyun menoleh dan memaksakan dirinya tersenyum singkat membalas panggilan itu meski terlihat begitu lesu dengan bibirnya yang pucat.

Jongdae tahu ada sesuatu yang lelaki itu sembunyikan sebab Baekhyun tak mengatakan sepatah kata mengenai apa yang terjadi sejak ia menginjakan kakinya di rumah Jongdae kemarin. Sahabatnya itu sama sekali tak memberi penjelasan dan Jongdae dibuat sangat khawatir.

"Kau baik?" Tanya Jongdae yang mengambil posisi di sebelah Baekhyun.

Baekhyun memandang kembali keluar jendela. Tatapannya terlihat bergetar tak fokus, berkelahi dengan emosinya. Ia menghela napas dan menundukan kepala. Baekhyun sangat linglung.

"Mau bercerita padaku?"

Baekhyun menatap ke manik mata Jongdae. Bibirnya terasa kaku saat ia memaksakan diri untuk menjawab.

"Rumit. A-Aku tak tahu harus memulai dari mana, Jongdae-ah.. Aku merasa begitu sakit.."

Jongdae hanya tersenyum. Sebuah senyuman hangat tanpa ingin menghakimi atau memaksa. Ia menyadari bahwa kali ini sahabatnya berada dalam masalah yang sangat sulit, karena itu ia segera bergerak memeluk Baekhyun mencoba memberi ketenangan.

Meski banyak pertanyaan di dalam kepalanya yang belum terjawab, namun Jongdae tahu saat ini kehadiran Baekhyun sudah cukup untuknya. Setidaknya ia tahu Baekhyun baik-baik saja.

"Aku akan selalu ada untukmu, Baek. Aku akan selalu di pihakmu."

Tepukan pelan di pundak yang Jongdae berikan membuat Baekhyun semakin rapuh. Jongdae membuatnya ingin jujur akan segalanya meski ia tak bisa mengekspresikan perasaannya. Ia tak bisa mengatakan rasa yang ia rasakan dan bahkan tak bisa mengatakan alasan sejujurnya ia menangis dan bersedih.

Baekhyun hanya terdiam menerima pelukan itu. Mencoba susah payah menenangkan hatinya meski ia tahu itu tak berguna.

Siapa yang akan menyangka jika tak ada yang bisa terlupakan pada natal hari itu, tak peduli seberapa keras mereka coba untuk tutupi dan lupakan. Nyatanya, kejadian 10 tahun yang lalu masih tetap berhubungan dengan masa sekarang.

Tapi seandainya kebenaran itu tetap terkubur di tempatnya, mereka akan baik-baik saja di masa ini, bukan?

.

.

.

.


{ To Be Continued }


6k words..

HAAAAAAAI.. kirakira masih ada yang inget ff ini ga ya hehehikshiks ff ini udah basi belum sih?

Semoga chap ini bisa menjawab pertanyaan kalian dan semoga tidak mengecewakan ya. Sebenernya ff ini bentar lagi udah mau tamat. Kayaknya 4 chap lagi deh.. makasih ya yang masih setia nunggu ff ini. Kalian terbaik banget hiks sehat sehat terus ya kalian

Oiya ini telat banget tapi selamat ya chen. Aku selalu pingin banget punya suami kayak kamu loh btw wekwekwek /plak

Terakhir aku ucapin terima kasih banyak untuk yang fav/foll/review sampai detik ini. Kritik dan saran yang membangun akan selalu aku terima dengan senang hati. Sampai jumpa di chap selanjutnya! Bye~