Summary: Mungkin di mata orang lain, Naruto hanya seorang pemuda yang ceria dan kekanak-kanakan. Tapi bagi dua bersaudara Shiba, dia adalah orang yang sangat kejam saat berada di pertarungan. Meski begitu, Naruto sangat menyayangi kedua keponakannya.

.

.

.

Rating: M

.

Disclaimer

Naruto by Masashi Kishimoto

Mahouka Koukou No Rettousei by Tsutomu Satō

.

.

.

Genre: Magic, Adventure, Family (Akan bertambah seiring berjalannya cerita)

.

.

.

Pair: (?)

.

.

.

Warning: Pemula, Acak-acakan, Ga jelas dsb

.

.

.


Naruto dan Tatsuya berjalan mengelilingi sekolah ingin menghabiskan waktu luang mereka sebelum berkumpul di auditorium. Di saat yang bersamaan, hinaan, cacian dan cemoohan terdengar di telinga mereka, baik kelas satu seperti mereka sampai kelas tiga.

Tidak-tidak, bukannya tersinggung dengan kata-kata tersebut. Hanya saja mereka berdua tidak perduli dengan apa yang di sekeliling mereka, terutama Tatsuya. Ada satu hal yang membuatnya penasaran.

"Oji-sama, Apa Oba-ue yang memasukkan mu ke sekolah ini?"

Ekspresi Naruto berubah menjadi cemberut. "Kalau bukan karena aku ingin bersama kalian, mana mungkin aku mau menerima permintaan Nee-san. Dan juga blabla..."

Disaat Naruto masih mengungkapkan gerutuannya, Tatsuya memasang senyuman tipis di wajahnya. Dari semua keluarga Yotsuba, hanya Naruto yang sangat memerdulikan dirinya dan Miyuki. Bahkan kalau tidak ada urusan yang penting, bibinya tidak akan menghubungi dirinya maupun Miyuki.

Pandangan Tatsuya berubah datar saat mendengar ocehan Naruto. Ia benci mengakuinya, tapi ia sedikit mengerti apa yang di rasakan oleh pemimpin keluarga Yotsuba.

Orang gila mana yang membekukan 5 hektar pepohonan menggunakan magic tingkat A, [Niflheim] dengan alasan bosan?

Dan kejadian waktu itu membuat ia memijat hidungnya lelah, sedangkan Miyuki malah kagum terhadap sihir yang dikeluarkan oleh Naruto. Hah~ Sasuga pamannya. Sangat kekanak-kanakan.

"Sa-

"Naruto-kun."

Ocehan Naruto akhirnya berhenti saat sebuah suara menawan memanggil Naruto. Mereka berdua melihat seorang perempuan yang Naruto kenal saat menegurnya tadi pagi.

"Ohayou, Senpai." sapa Naruto dengan ceria sembari mengangkat tangan kanannya.

'Senpai?' batin Tatsuya heran. Jadi mereka sebelumnya sudah saling kenal?

"Fufufu Ohayou, Naruto-kun." Perempuan itu tidak bisa menahan tawa anggunnya melihat sikap unik dari pemuda itu. "Sebentar lagi akan ada penobatan murid baru, jadi cepat berkumpul di aula ya?"

"Ha'i~"

"Terima kasih atas peringatannya." Tatsuya membungkuk sedikit. Matanya tanpa sengaja melihat sebuah gelang yang di pakai di pergelangan tangan Senpai di depannya.

Itu bukan sekedar gelang untuk penampilan semata.

Gelang itu adalah CAD atau Casting Assistant Device.

Jaman dahulu, orang menggunakan alat-alat tradisional seperti mantra, jimat, segel tangan, buku sihir atau lainnya untuk merapal sihir. Namun seiring waktu, alat-alat tersebut mulai di tinggalkan seiring dengan mulainya kemajuan teknologi yang di miliki manusia.

Jika menggunakan jimat atau buku sihir memerlukan waktu terpendek sekitar 10 detik sampai satu menit tergantung dari tingkat sihir itu di lakukan, tapi sekarang dengan CAD, sihir bisa di lancarkan dalam waktu kurang dari satu detik.

Walaupun merapal sihir bisa di lakukan tanpa CAD, tapi tidak ada pengguna sihir yang tanpa menggunakan CAD bisa mempercepat perapalan sihirnya.

Akan tetapi, bukan berarti setiap orang yang memiliki CAD dapat menggunakan sihir. CAD hanya memudahkan dalam rangkaian aktivasi, semua tergantung pada kemampuan penggunaannya.

Omong-omong soal CAD. Seingat Tatsuya, jika ada murid yang diizinkan membawa alat tersebut ke dalam lingkungan sekolah, berarti perempuan tersebut anggota dewan eksekutif seperti Osis atau komite tertentu.

"Ne ne. Nama Senpai siapa? soalnya Senpai belum memberi tahuku tadi pagi."

Naruto dengan tanpa dosanya bertanya dengan cerianya menyadarkan analisis Tatsuya.

"Ah, maafkan aku." Perempuan itu membenarkan helai rambutnya yang sempat tertiup angin ke belakang telinganya. "Namaku Saegusa Mayumi. Walau di tulis dengan 'Nanakusa', tapi tetap di baca 'Saegusa. Aku adalah ketua OSIS di sini. Kalau perlu bantuan, jangan sungkan ya..." lanjut Mayumi mengedipkan sebelah matanya kepada kedua pemuda tersebut.

"Yoroshiku ne... Senpai!"

Meski ia membalas perkataan dari Mayumi, tapi di dalam hati Naruto, ia terlihat seperti menemukan sesuatu yang menarik.

'Number 7 kah?... Sepertinya sekolah ini tidak terlalu buruk.'

Awalnya Naruto berfikir kalau ia akan melewati hari-hari membosankan di sekolah. Tapi setelah ini, ia mungkin akan menarik pemikiran tersebut. Apakah ada Number lain di sekolah ini?

"Aku... tidak. Namaku Shiba Tatsuya."

ucap Tatsuya tersenyum sopan sambil membungkuk sedikit.

Mata dari ketua OSIS menunjukkan kekagetannya.

"Apa kalian-"

"Kaichou!"

Naruto, Tatsuya dan Mayumi mengalihkan pandangan mereka pada sosok perempuan bertubuh mungil yang memanggil Mayumi dengan sebutan Kaichou.

"Gladi bersihnya sudah mau mulai lho." Gadis itu baru menyadari kalau ada dua pemuda di sekitar Mayumi. "Apa aku mengganggu kalian?" tanyanya menatap bergantian ketiga orang tersebut.

"Tidak. Kami permisi dulu."

Tatsuya pamit pergi duluan. Naruto yang di tinggal langsung saja panik, ibarat seorang anak yang takut di tinggal ibunya.

"Eh? Tunggu aku, Tatsuya-chan. Jaa ne, Senpai."

Setelah pamit, Naruto menyusul Tatsuya yang berjalan dahulu mengabaikan Mayumi yang masih penasaran tentang mereka.

-o0o-

Percakapan dengan Ketua OSIS sepertinya telah menyita banyak waktu. Saat Naruto dan Tatsuya memasuki auditorium, lebih dari setengah tempat duduk yang tersedia sudah terisi.

'Jadi begitu, huh...'

Naruto menyadari kalau pembagian tempat duduk terlihat jelas berbeda. Setengah tempat duduk di depan di isi oleh para Bloom dan sisanya di belakang di isi oleh Weed.

'Jadi tidak ada yang menyadari diskriminasi ini, selain mereka yang terdiskriminasi kan, ya?'

Tapi Naruto tidak perduli pada hal tersebut.

Tanpa bermaksud menentang arus yang ada, Naruto dan Tatsuya memilih duduk di paling atas.

"Ah... padahal aku ingin bicara lagi dengannya."

Tatsuya menatap datar pada Naruto yang mengerucutkan bibirnya seolah tidak suka dengan barusan di luar.

"Kalau di teruskan, pasti akan berbahaya bukan?"

Mungkin bagi orang lain yang mendengarnya, mereka tidak paham perkataan tersebut. Tapi Tatsuya yakin kalau Naruto mengerti yang ia maksud. Apalagi mereka baru saja bertemu dengan salah satu Number, akan sangat berbahaya jika mereka terlalu lama di sana.

"Ya, ya, terserah..."

"Ano..."

Suara perempuan menghentikan perdebatan mereka. Naruto dan Tatsuya melihat dua orang siswi datang mendekat kepada kedua pemuda itu.

"Apa kursi di sebelah kalian kosong?"

Naruto melihat kursi sebelahnya.

"Tentu, kenapa tidak?"

"Arigatou."

Gadis itu kemudian duduk di sebelah Naruto di ikuti gadis yang satunya di sebelah juga. Jadi saat ini, Tatsuya duduk di kursi di ujung sebelah tangga, Naruto di sebelah kanan, dan kedua gadis itu bersebelahan di kanan Naruto.

"Ano..."

Lagi-lagi gadis itu mengucapkan kata yang sama. Apa yang di inginkan oleh gadis ini? pikir kedua pemuda tersebut.

"Namaku Shibata Mizuki. Yoroshiku Onegaishimasu."

Tak di sangka gadis yang bernama Mizuki itu mengenalkan dirinya sembari menjulurkan tangannya dengan nada yang tampak malu-malu. Meskipun tidak baik menilai seseorang dari penampilannya, gadis itu tampaknya bukan tipe yang terbiasa berkenalan dengan orang asing.

Namun gadis itu mungkin melakukannya dengan harapan kalau mereka akan saling membutuhkan dan saling membantu karena mereka sama-sama siswa Weed.

"Shiba Naruto, desu. Yoroshiku."

Naruto menjabat tangan Mizuki, tidak lupa nada bicaranya yang ceria. Gadis berkacamata?

Setahunya, sejak pertengahan abad 21, prosedur penyembuhan penglihatan semakin maju, penyakit mata seperti miopia hanya telah menjadi sesuatu dari masa lalu di negeri ini. Kecuali kalau mereka memiliki kelainan serius dari keturunan keluarga. Walau memang membutuhkan alat bantu penglihatan, umumnya orang akan memakai lensa kontak yang walau di pakai selama 10 tahun, tidak akan berbahaya bagi tubuh.

Jika gadis itu tetap memakai kacamata, bisa jadi karena hobi, aksesoris, fashion, atau-

'Ah... jadi karena itukah.'

Satu kesimpulan telah di dapat setelah Naruto memutar otaknya. Dan ternyata memang gadis itu memiliki 'sesuatu'. Ia harus memperingati Tatsuya untuk berhati-hati.

"Namaku Shiba Tatsuya. Yoroshiku."

Berbeda dengan Naruto, Tatsuya mengenalkan dirinya dengan nada yang kalem.

Kedua gadis itu sedikit terkejut kalau para pemuda itu memiliki Marga yang sama.

"Ano... apa kalian kembar?" tanya Mizuki ragu-ragu. Memang kalau di teliti, memang wajah mereka 'Sedikit' mirip, selebihnya sangat berbeda, mulai dari warna mata hingga sifat mereka. Selain itu...

"Kami bukan saudara kembar, aku adalah adik dari ibunya Tatsuya-chan. Dengan kata lain, bisa di bilang aku adalah pamannya. Iyakan, Tatsuya-chan?" tanya Naruto melihat sepenuhnya ke arah Tatsuya. Namun sesudahnya, Naruto menggerakkan mulutnya tanpa suara.

'Hipersensitif Pancaran Partikel Spirit'

Sekilas dari jauh, Tatsuya tidak bergerak, tapi di pancaran matanya terlihat sedikit bergetar. Jadi begitu...

Tatsuya mengangguk "Ya... "

Kedua gadis itu mengangguk mengerti satu sama lain. Pantas saja tidak terlalu mirip, ternyata mereka paman dan keponakan. Kali ini gadis satunya memperkenalkan diri.

"Namaku Chiba Erika! Salam kenal ya, Shiba-kun."

Gadis itu memiliki ciri-ciri rambut berwarna merah terang, iris mata merah juga, dan berwajah cantik juga. Tapi buka itu yang jadi perhatian, melainkan...

'Kali ini 100 keluarga, ya...' batin Naruto dan Tatsuya. Tapi dia berada di kelas Weed, mungkin dia bukan keturunan langsung.

Selain sepuluh klan master, di negara ini juga ada yang namanya seratus keluarga. Mungkin tidak sebesar sepuluh klan master, tapi 100 keluarga ini juga berpengaruh bagi negara.

Mungkin lain kali akan di rincikan...

"Panggil saja Naruto, Erika-chan." jawab Naruto seenaknya memanggil Erika dengan suffix chan. Tatsuya hanya memijat hidungnya lelah. Astaga, pamannya ini...

"Oke. Tapi, ini benar-benar kebetulan yang menarik, bukan?"

Berbeda dengan Mizuki, Erika kelihatan seperti orang yang terbuka dan ceria. Bahkan ia tidak memperdulikan panggilan dari Naruto.

"Apa itu?" tanya Tatsuya bingung.

"Soalnya kalau di urut, jadi Shiba, Shibata, dan Chiba. Kedengarannya seperti irama lagu, 'kan?"

"Oh, benar."

"Wah, itu benar-benar keren, Erika-chan!"

"Iya kan?"

Tatsuya tersenyum tipis melihat interaksi Naruto dengan Mizuki dan Erika. Syukurlah, dia benar-benar terbuka pada orang lain selain dirinya dan Miyuki. Awalnya ia agak khawatir kalau pamannya tertutup pada orang lain, namun sekarang ia tidak perlu khawatir lagi.

Mereka terus mengobrol sampai suara di auditorium memberitahukan kalau acara sudah mau di mulai.

-o0o-

Kata sambutan dalam pidato Miyuki memang luar biasa seperti yang sudah di perkirakan. Walaupun Miyuki sangat bersemangat dan memakai beberapa kata yang cukup riskan seperti 'setiap orang setara', 'sebagai satu kesatuan', 'tanpa mempersalahkan kemampuan sihir' atau 'secara bersama-sama', gadis itu menyusunnya dengan sangat baik dan tidak terdengar menyakitkan sama sekali.

Sikap terbuka Miyuki, kemurniannya, dan kerendahan hatinya, ditambah lagi dengan penampilannya yang cantik dan mempesona, telah mencuri hati setiap orang, tidak hanya laki-laki tapi perempuan juga, bahkan sampai kakak kelas juga.

Awalnya setelah acaranya selesai, Naruto ingin menuju ke tempat Miyuki untuk memeluknya seperti biasa, tapi Tatsuya menghentikannya terlebih dahulu sebab masih ada yang perlu di urus, yaitu kartu ID mereka. Tatsuya pergi ke tempat administrasi sembari menyeret Naruto yang tentu saja memberontak tidak terima, dan semua kelakuan mereka di lihat oleh Mizuki dan Erika yang sweatdrop.

Dan sekarang, mereka berada di lorong sekolah yang tentu saja ramai oleh para siswa.

"Naruto-kun, Shiba-kun, kalian masuk di kelas mana?"

"Etto..." Naruto membaca kartu ID nya "Kelas E."

"Aku juga kelas E." ujar Tatsuya.

"Yay!! Kita berada di kelas yang sama!"

"Yay!"

Naruto dan Erika seolah sepemikiran, mereka berdua bertepuk tangan merasa kegirangan. Memang terlihat sedikit berlebihan, tapi...

"Aku juga di kelas E."

Mizuki sama halnya dengan Naruto dan Erika juga tampak senang, ini adalah reaksi alami dari siswa baru.

"Mau lihat-lihat kelas?" ajak Erika sambil melihat wajah dari Tatsuya, Naruto dan Mizuki.

Naruto menepuk kedua tangannya di depan muka. "Gomen ne... Sebenarnya aku ingin ikut, tapi hari ini aku akan pulang terlebih dahulu dengan Tatsuya-chan dan Miyuki-chan." Ia menolaknya dengan halus. Sejujurnya itu bukan alasan sesungguhnya, tapi biarlah untuk mengalihkan perhatian mereka.

Tatsuya yang tidak tahu apa-apa hanya mengikuti alur dari Naruto.

"Miyuki-chan itu... apakah dia adalah perwakilan dari siswa baru, Shiba Miyuki-san?"

Tatsuya mengangguk atas jawaban dari pertanyaan Mizuki. "Ya. Dia adikku." jawabnya singkat.

"Jadi, kau dan adikmu itu kembar?"

Pertanyaan yang alami dari Erika. Untuk Tatsuya, itu adalah pertanyaan yang sudah dia dengar dari kecil.

"Banyak yang bilang begitu, tapi kami bukan saudara kembar. Aku lahir di bulan April..." Tatsuya melirik ke arah adiknya yang sedang berkumpul "...dan adikku lahir di bulan Maret."

"Lalu Naruto-kun?"

"Aku di bulan Februari, Erika-chan."

Tatsuya berfikir kalau Naruto benar-benar menyembunyikan banyak fakta tentang dirinya.

"Begitu... Aku mengerti."

"Tentang apa, Mizuki-chan?"

Yah sekarang Tatsuya tidak perduli lagi dengan sikap sembrono pamannya.

"Aura kalian bertiga hampir sama. Untuk Naruto-san agak berbeda, tapi untuk Tatsuya-san dan Miyuki-san, aura kalian berdua begitu serupa."

Naruto dan Tatsuya terdiam sesaat. Memang mereka sudah mengetahui kalau Mizuki adalah orang dengan penglihatan sensitif. Oleh karena itu, mereka harus berhati-hati dalam mengambil tindakan di sekitar Mizuki atau Rahasia akan terbongkar dengan sendirinya tanpa mereka sadari.

"Matamu pasti benar-benar bagus, Mizuki-chan."

Umumnya, seorang wanita akan merasa senang kalau dia puji oleh orang lain, namun tidak bagi Mizuki, ia terlihat menundukkan kepalanya, seolah tidak suka dengan pujian Naruto.

.

"Onii-sama, Oji-sama, maaf membuat kalian menunggu."

Di belakang Tatsuya dan lainnya, suara yang di tunggu akhirnya datang. Miyuki yang di kelilingi oleh kerumunan, menyelinap keluar dari sana.

Meskipun Miyuki bukan orang yang menghindar dari sosialisasi, tapi tidak terbantahkan kalau ia tidak senang dengan sanjungan dan pujian berlebihan. Di antara pujian-pujian itu, ada kalanya pujian itu terkandung dengan rasa cemburu dan iri yang jumlahnya tidak sedikit.

Bisa di katakan Miyuki berusaha bertahan dari pujian-pujian yang agak mencurigakan hari ini.

Kecuali..

"Sugoi... Pidatomu sangat bagus, Miyuki-chan!"

Tanpa ada yang menyangka kalau Naruto akan merendahkan tubuhnya lalu memeluk dan mensejajarkan pipinya ke pipi Miyuki yang merona malu.

Sontak, orang-orang yang melihat mereka jadi terkejut. Tatsuya hanya memegang sebelah kepalanya dan menghela nafas lelah atas reaksi dari orang dari sekitar mereka.

"A-arigatou Gozaimasu, Oji-sama." Meskipun sedikit memalukan, tapi nampaknya Miyuki merasa senang atas pujian dari Naruto. Rasa kesal yang sebelumnya di rasakan olehnya menguap begitu saja.

"Ara... Jadi Naruto-kun adalah paman dari Shiba-kun dan Miyuki-san?"

Di belakang, ada orang-orang yang tak di sangka akan menemani Miyuki. Hal itu membuat Naruto melepaskan pelukannya dan melihat Mayumi yang tersenyum padanya.

"Itu benar, Senpai."

'Kun? Senpai? Sejak kapan Oji-sama dan Kaichou sudah saling mengenal?' batin Miyuki yang sedikit terganggu. Meski begitu, Miyuki lebih penasaran tentang kedua gadis yang bersama Naruto dan Tatsuya tadi.

"Oji-sama, mereka..."

Mereka? Ah, jadi yang di maksud... Naruto menggeserkan badannya "Miyuki-chan, mereka adalah teman baru ku. Gadis yang berkacamata itu adalak Shibata Mizuki-chan, kalau yang rambutnya seperti cabe itu Chiba Erika-chan. Kita teman sekelas Iho~."

Perempatan tercipta di kening Erika saat Naruto mengejek warna rambutnya. "Apa kau bilang, Naruto-kun!?"

"Waaa!! Tolong aku, Miyuki-chan!"

Seolah merasa dia terancam di balik kata tersebut, Naruto bersembunyi di belakang punggung Miyuki.

"Jadi begitu, kalian benar-benar akrab ya?"

Miyuki memiringkan kepalanya dengan gemas. Tapi di mata Tatsuya, adiknya itu sepertinya tidak menyukai kalau Naruto dekat dengan gadis lain. Mungkin dia sudah lupa sifat Naruto seperti apa atau mungkin.. la harus mengalihkan perhatiannya.

"Miyuki! Itu tidak sopan. Dan Oji-sama, bisa kau hentikan itu?"

"Eh? Baiklah."

Naruto menuruti perkataan Tatsuya dan melepaskan tangannya dari bahu Miyuki. Lalu Tatsuya menyadarkan Miyuki yang sempat terbawa perasaan, takutnya itu akan membuat reputasinya kurang baik di mata teman sekelas dan kakak kelas. Miyuki tersentak kecil, dan setelahnya Miyuki memasang senyum yang lebih ramah di wajahnya.

"Maafkan aku. Hajimemashite. Aku Shiba Miyuki" Miyuki memperkenalkan dirinya dengan sopan sambil membungkuk sedikit.

"Aku Shibata Mizuki. Salam kenal juga."

"Aku Chiba Erika. Panggil saja aku Erika. Bolehkah aku memanggilmu Miyuki?"

"Iya, dengan senang hati."

Ketiga perempuan muda itu saling memperkenalkan diri satu sama lain. Salam yang di pakai Miyuki dan Mizuki sepertinya cocok untuk orang yang pertama kali bertemu. Tapi untuk Erika, dia memang orangnya terlalu santai dan bersahabat. Dan nampaknya Miyuki tidak keberatan dengan itu

"Miyuki, ternyata kamu ini ramah sekali, ya..."

"Kamu juga cukup terbuka, Erika-san."

Kelihatannya Miyuki cukup menyukai sikap terus terang Erika. Lebih dari itu, sepertinya mereka berdua entah bagaimana telah mengerti satu sama lain. Itu bisa dilihat dengan Miyuki dan Erika saling bertukar senyum.

Tetapi, kelompok yang bersama ketua OSIS yang mengikuti Miyuki-chan cukup ramai, walau mereka tidak menghalangi siapapun. Namun jika mereka terus berdiri di sini, mereka akan menjadi halangan untuk orang-orang yang akan melewati tempat itu.

Dan Naruto menyadari itu...

"Miyuki-chan, apa urusanmu dengan Senpai sudah selesai?"

"Eh?" beo Miyuki.

Ini yang membuat orang-orang penasaran. Sedekat apa hubungan orang itu dengan Kaichou?

"Sudah, kok."

Orang yang menjawab pertanyaan dari Naruto adalah Mayumi.

"Hari ini kami cuma ingin memperkenalkan diri padanya saja."

Laki-laki yang tepat di sebelah Mayumi yang sebelumnya dengan bangga menyombongkan dadanya, yaitu lambang bunga bertangkai delapan seolah hal yang wajar melakukan protes, tapi di abaikan begitu saja oleh Mayumi.

"Miyuki-san."

"Ha'i?"

"Kita lanjutkan lagi pembicaraan ini lebih detail di lain hari."

Iris mata merah delima Mayumi melirik ke arah Naruto dan Tatsuya. "Kalian juga, Naruto-kun, Shiba-kun."

"Ha'i~"

Tidak seperti Naruto yang langsung membalasnya, Tatsuya hanya membungkukkan badannya sopan.

"Lain kali, mari kita membicarakan lebih banyak hal lagi."

"Kaichou!"

Setelah mengucapkan beberapa kata salam, Mayumi pergi meninggalkan laki-laki yang lagi-lagi protes. Merasa percuma saja, Laki-laki itu menatap Naruto dan Tatsuya dengan sorot mata yang tajam, lalu mulutnya berdecak... ck... dan pergi menyusul Mayumi.

"Ne.. Tatsuya-chan. Orang itu kenapa ya?" tanya Naruto memiringkan kepalanya polos.

"Entahlah..."

Orang itu atau mungkin seluruh anggota OSIS tampaknya tidak menyukai dirinya dan Naruto, itu adalah sesuatu hal di luar kendali.

"Maafkan aku, Oji-sama, Onii-sama. Ini semua salahku..."

Tanpa membiarkan Miyuki yang tampak tertekan menyelesaikan kata-katanya, Naruto mengangkat tangannya dan menepuk pelan kepala Miyuki.

"Tidak perlu minta maaf. Jadi jangan bersedih ya?"

Naruto tersenyum sambil membelai pelan rambut Miyuki yang mulai tenang. Miyuki tanpa sadar menutup mata menikmati elusan yang terasa hangat.

Tatsuya hanya menatap pemuda dan pemudi itu yang asik dengan dunia mereka. Kalau di lihat, mereka akan mendekati batas yang berbahaya. Hah~ biarlah, mungkin sebentar lagi...

"Halo, yang disana..."

Ucapan dari Erika menghancurkan momen romantis sepasang paman dan keponakan tersebut.

"Bukankah waktunya sudah pulang?"

-o0o-

Untuk beberapa alasan, Naruto sementara ini akan tinggal bersama dengan Tatsuya dan Miyuki. Seperti sekarang, Naruto sedang duduk melihat Tatsuya yang mengerjakan sesuatu dengan laptopnya.

"Onii-sama, Oji-sama, kalian ingin minum?

"Boleh."

"Seperti biasa, Miyuki-chan."

"Ha'i"

Berbeda saat di sekolah, Miyuki cenderung lebih terbuka saat berada di rumah.

Saat Miyuki menuju dapur, rambut panjangnya berayun di belakang tubuh langsing nya. Itu mencegah rambutnya berantakan agar pekerjaan di dapurnya tidak terganggu. Tapi melihat sekilas ke pangkal lehernya, yang biasanya tertutup rambut panjangnya, sebuah keindahan yang tidak dapat di ungkapkan kata-kata terpancar dari leher pakaian Miyuki.

Dan itu membuat Tatsuya harus berhati-hati terhadap pandangannya. Kalau Naruto? dia tidak memahaminya karena ia masih polos tentang wanita.

Beberapa saat kemudian, Miyuki keluar dari dapur membawa tiga buah gelas dengan nampan.

"Silahkan..."

Miyuki meletakkan cangkir yang berisi kopi kepada Tatsuya sedangkan didepan Naruto adalah Susu kesukaannya.

""Arigatou...""

Miyuki tersenyum manis. Lalu ia duduk di samping Naruto sembari memegang cangkir kopi susunya.

Dengan itu, mereka bertiga saling mengobrol satu sama lain. Topik yang bisa di bicarakan cukup banyak seperti apa yang di lalui oleh mereka, teman baru, bertemu kakak kelas yang merepotkan.

Semua itu terus di nikmati oleh mereka sampai di mana Naruto berkata yang cukup mengejutkan bagi Tatsuya dan Miyuki.

"Oji-sama membuat CAD baru!?" tanya Miyuki kaget

"Um." Naruto mengangguk cepat. Tatsuya dan Miyuki saling memandang. Mereka penasaran CAD seperti apa yang di ciptakan oleh paman mereka.

"Boleh aku melihatnya, Oji-sama?"

"Tentu saja, Miyuki-chan."

Naruto mengarahkan tangan kanannya ke arah meja. Kedua saudara itu melihat aura Psion yang terpancar dari tubuh laki-laki paling tua di sini. Meski sudah berkali-kali melihatnya, tetap saja mereka kagum dengan sihir yang di miliki oleh Naruto.

Tiga detik kemudian, sebuah pentagram berwarna biru muncul di atas meja. Pentagram itu menghilang perlahan dan menunjukkan sebuah koper ukuran kecil.

"Inventory Magic ya..."

Tatsuya bergumam pelan. Sihir ini di beri nama seperti itu oleh Naruto yang menciptakannya. Inventory Magic adalah sihir yang berfungsi untuk menyimpan benda apapun ke dalam ruang tak terbatas. Menguasai sihir ini sangatlah sulit karena harus memahami konsep ruang dan waktu yang rumit.

Tatsuya dan Miyuki memang sudah memiliki sihir ini, tapi mengaktifkannya cukup lama, walaupun di bantu dengan CAD. Miyuki membutuhkan waktu 5 detik untuk mengaktifkannya, Tatsuya bahkan lebih lama dari Miyuki, yakni 12 detik. Tapi Naruto hanya perlu tiga detik saja dan tanpa CAD, itu benar-benar luar biasa!

Naruto menghembuskan nafas sebentar. Ia mengambil koper kecil itu dan meletakkannya di atas pahanya. Saat di buka, wajah Tatsuya dan Miyuki menunjukkan keheranan.

"Pistol?"

"Seperti milik Onii-sama?"

Naruto mengambil pistol tersebut. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Aku tidak bisa membuat desain. Makanya aku menirukan milik Tatsuya-chan. Selain itu, CAD ini masih kurang efisien dalam penggunaan Psion dan Pushion. Oleh karena itu, aku butuh bantuan Tatsuya-chan."

Sekilas di lihat, Pistol tersebut modelnya memang mirip dengan milik Tatsuya. Jika milik Tatsuya berwarna silver kehijauan, maka milik Naruto berwarna merah ruby seperti warna matanya.

"Naruhodo... Jadi CAD apa ini?"

Tatsuya sudah mengerti garis besarnya. Mah, mungkin tidak masalah ia membantu sedikit.

Naruto menatap pistol itu dalam diam sembari memikirkan nama yang cocok yang sesuai dengan hasil ciptaannya.

"Aku menamainya...

.

.

.

.

.

.

...CAD Elemental."

.

.

.

.


Aaaaarggghh.

Memikirkan alur dari Mahouka memang menyulitkan, apalagi ada istilah-istilah yang susah. Jadi kalau ada yang salah, tolong review ya.

Gitu aja dulu dah

See You Next Time