DO NOT ENTER ! (CHANBAEK)

BOYSLOVE/YAOI

Main Cast :

Byun Baekhyun

Park Chanyeol

Summary :

Jangan masuk ke dalam sana! Tidak ada yang diperbolehkan masuk ke dalam sana! Larangan tersebut telah diketahui oleh setiap penghuni rumah. Namun Byun Baekhyun, laki-laki yang mendadak menjadi seorang penyusup telah melanggarnya.

~Keseluruhan cerita berasal dari imajinasiku sendiri~

.

.

BB922016


Do Not Enter ! : Chapter 13

Dua bulan terlewati seperti berada di neraka.

Tidak, Chanyeol tak berada dalam api ataupun siksaan yang meleburkannya setiap hari.

Satu hal yang jelas mengapa dunia terasa seperti neraka, itu karena tidak ada kehadiran Baekhyun di sisinya.

Chanyeol menatap kosong ke luar jendela dengan tubuh yang bersandar pada kepala ranjang. Langit gelap pertanda akan datangnya hujan seolah menggambarkan suasana hati Chanyeol dengan baik. Semua terasa gelap bagi Chanyeol. Dirinya dan dunianya. Ia seolah kembali ditarik pada kegelapan yang menyakitkan.

Chanyeol memejamkan mata, merasakan bagaimana setiap hari hatinya berontak marah kepada dirinya sendiri yang tak dapat berbuat apa-apa. Waktunya habis terbuang untuk berada di dalam kamar seperti tengah mengulang kembali kejadian 10 tahun yang lalu.

Andai itu bukan tentang Baekhyun, Chanyeol pasti telah membangkang pada setiap perlakuan yang Kris lakukan kepadanya. Namun di sinilah dirinya. Ia harus menjadi sosok lemah yang menjijikan.

Chanyeol mendengar suara kunci berputar dan pintu kamarnya yang terbuka, namun ia tak ingin membuka matanya barang sejenak untuk memastikan siapa yang datang. Chanyeol sudah tak peduli lagi sejak dirinya menjadi robot penurut yang hanya duduk diam tanpa suara di dalam kamarnya seperti yang Kris inginkan darinya.

Ia sungguh layaknya benda mati.

"Chanyeol.."

Sayangnya suara itu membuatnya membuka kelopak mata untuk menatap sosok wanita tua yang berdiri di ambang pintu dengan raut wajah khawatir.

Chanyeol menatap sosok itu amat tajam. Ekspresinya menunjukan betapa ia tak menyukai kehadiran orang tersebut.

"Apa yang kau lakukan di sini? Pergi." Usirnya dengan suara serak.

Nyonya Kim seolah tak peduli dengan pengusiran yang lelaki itu lakukan padanya. Kalimat kejam yang keluar dari mulut lelaki itu seolah tak dapat menyakitinya lagi. Wanita itu justru berjalan masuk mendekati Chanyeol dan berhenti ketika tepat berada di sisi tempat tidur.

"Apa sekarang kau mau bertingkah seperti seorang nenek yang peduli terhadap cucunya?" Sindir Chanyeol dengan decihan yang mengikuti. Tatapan sinisnya menusuk tepat ke bola mata.

Nyonya Kim masih tetap terdiam memperhatikan Chanyeol lamat-lamat. Hatinya hancur menyaksikan perubahan drastis pada kondisi tuan mudanya. Lelaki itu kehilangan berat badan. Pipi yang tirus dan hitamnya lingkaran mata menjelaskan betapa tersiksanya lelaki tersebut dua bulan ini.

Ia tahu Chanyeol tak makan dengan baik dan tak tidur dengan nyenyak. Lelaki itu hanya sibuk memandang keluar jendela setiap harinya. Melamun dan merenung pada sesuatu yang bisa ia artikan sebagai penyesalan. Chanyeol terlihat jauh lebih buruk dibandingkan 10 tahun yang lalu.

"Pergilah." Ucap Nyonya Kim dengan suara lemahnya yang khas.

Chanyeol lantas mengerutkan dahi memandang bingung kepada wanita itu atas ucapannya, meminta penjelasan.

"Temui dia, Chanyeol." Lanjut Nyonya Kim seraya mengulas senyum lembut di wajah hangatnya. Ia tidak tega melihat Chanyeol seperti ini. "Temuilah Baekhyun. Setidaknya ia harus mendengarkan sepatah dua patah kata darimu."

Chanyeol seolah menemukan kembali detak jantungnya ketika Nyonya Kim menyelesaikan ucapannya. Kata-kata itu membuat setitik harapan muncul di hati Chanyeol. Membayangkan dirinya dapat bertemu dengan Baekhyun membuat sesuatu dalam dirinya memberontak tak karuan. Ia bersumpah demi seisi dunia bahwa ia merindukan lelaki mungil tersebut.

Chanyeol sangat ingin mengatakan betapa menyesalnya perbuatan yang ia lakukan di masa lalu hingga harus membuat mereka berada dalam posisi sulit ini. Ia ingin sekali mengutarakan maafnya kepada lelaki tersebut.

"Kau tidak bisa membiarkan hubungan kalian berakhir seperti ini. Baekhyun pantas untuk diperjuangkan lebih dari apa yang kau bayangkan, dan kuyakin sebesar itu cintamu padanya."

"Tidak."

Itu jawaban Chanyeol tentang menemui Baekhyun.

Otaknya bekerja lebih baik dari hatinya. Meski Chanyeol harus tersiksa ingin bertemu dengannya, Chanyeol masih mengingat jelas ancaman yang Kris berikan dan Chanyeol tak ingin mengambil langkah untuk membahayakan kekasihnya. Tidak untuk kesekian kalinya.

Nyonya Kim kembali tersenyum, seolah sudah menduga reaksi yang akan Chanyeol berikan. "Dia akan baik-baik saja." Suara wanita itu terdengar begitu menenangkan seperti bagaimana Chanyeol mengenalinya dalam pikirannya. Wanita itu menganggukan kepala seolah mencoba meyakinkan Chanyeol.

"Percaya padaku, Chanyeol. Tak akan ada bahaya yang mendekatinya seujung jaripun."

Chanyeol memicing tajam penuh rasa curiga. Ia jelas kebingungan pada sikap Nyonya Kim yang seolah berdiri di pihaknya. Ada yang salah dengan wanita itu. "Kenapa kau melakukan ini? Bukankah kau tidak peduli pada monster sepertiku?"

Tatapan Nyonya Kim berubah sendu. Ia meminta ampun dalam hatinya. Ia tahu hal itu sangat menyakiti Chanyeol bertahun-tahun dan ia menyesali sikap pengecutnya yang hanya mampu tunduk pada perintah Kris untuk menjauhi Chanyeol. Seharusnya ia tak membiarkan satu langkahpun terhenti untuk merengkuh cucu kesayangannya itu.

Tapi kini semua berbeda. Ia bukan dirinya yang dulu. Nyonya Kim akan melakukan segalanya untuk membuat Chanyeol bahagia, meski itu harus mengorbankan nyawanya.

"Tolong anggap ini sebagai penebus dosaku."

Chanyeol menatap datar pada Nyonya Kim yang membungkukan badan hormat padanya dan mengalihkan pandangannya ke luar jendela.

Iris mata lelaki itu gemetar menunjukan adanya secercah keinginan untuk pergi dari rumah dan menemui keberadaan Baekhyun.

Ia sangat ingin melihat sosok itu, meski Chanyeol tahu pertemuan mereka mungkin tak akan berakhir seperti yang ia harapkan dan ia sangat menyadarinya. Lagipula tak akan ada penjelasan. Chanyeol yakin tak ada satupun hal yang bisa ia jelaskan kepada Baekhyun tentang hari itu. Chanyeol hanya butuh pengampunan dan hal yang bisa ia lakukan untuk membuat lelaki itu merasa lebih baik.

"Kalian akan baik-baik saja. Kau tak perlu khawatir. Aku berjanji. Aku akan membantumu pergi untuk menemuinya tanpa sepengetahuan Tuan Kris."

Chanyeol menatap ke dalam bola mata Nyonya Kim. Wanita itu tak berbohong. Wanita itu terlihat serius dengan ucapannya dan entah mengapa Chanyeol merasa ia bisa mempercayainya.

"Percayalah, Chanyeol."

Ucapan itu pada akhirnya berhasil membuat Chanyeol menurunkan kakinya menapak lantai yang dingin dan saat itu ia menemukan kembali tenaganya bersama senyuman Nyonya Kim yang terharu, karena telah menanti sejak berhari-hari akan kehidupan di sorot mata Chanyeol.

Lelaki itu berdiri tegap sepenuhnya dengan kedua kakinya. Tangannya mengepal kuat namun tatapannya menyiratkan penuh kerinduan yang menggebu siap untuk mengambil resiko besar bertemu cintanya.

Nyonya Kim mengangguk bangga ketika Chanyeol menatapnya sejenak sebelum mengambil langkah melewati Nyonya Kim untuk berjalan keluar dari kamarnya bersama semua tenaga dan keberaniannya. Chanyeol bukanlah seorang pengecut.

"Chanyeol-ah.."

Lelaki itu lantas menghentikan langkahnya saat mendengar suara wanita itu memanggil lembut namanya. Chanyeol mendengarkan tanpa perlu membalik tubuhnya. Suara wanita itu cukup jelas terdengar oleh telinganya dan ia bahkan bisa merasakan senyuman di wajah wanita itu.

"Aku.. tak pernah satu kalipun menganggapmu sebagai monster." Wanita itu tersenyum menatap punggung lebar Chanyeol. Memberikan degupan keras pada detak jantung lelaki itu.

"Bagiku.. kau adalah Park Chanyeol cucuku."


Rintik-rintik kecil hujan turun membasahi jalanan kota Seoul.

Baekhyun membuka payung transparannya dan berjalan dengan sekantung plastik camilan untuk adik kesayangan yang senantiasa menunggu di rumah. Lelaki itu menghembuskan napas berat seraya menatap jalanan yang ia lewati.

Dua bulan sudah berlalu begitu cepat. Baekhyun tak menyangka jika dirinya sekuat ini. Ia melewati masa sulitnya dengan sangat hebat. Ia bisa kembali menjadi dirinya sendiri, bekerja paruh waktu di sebuah mini market, dan hidup dengan sebaik mungkin. Ia bersungguh-sungguh saat mengatakan ingin memulai kembali segalanya dari awal.

Mungkin luka yang kemarin tak bisa lebih buruk dari yang ia rasakan 10 tahun lalu, atau mungkin Baekhyun mulai terbiasa dengan kejadian-kejadian tak adil yang terjadi di hidupnya.

Udara terasa mendingin. Baekhyun sedikit menggigil ketika rintik hujan mulai ramai berjatuhan ke bumi. Tidak cukup ramai namun cukup untuk membuat percikan-percikan di jalanan yang ia lalui dan membasahi sepatu yang ia kenakan.

Tetapi langkah kakinya harus terhenti tanpa aba-aba. Tubuhnya membeku berdiri dengan kaku sementara sebelah tangannya yang mulai pucat mengepal dengan kuat. Ia harap itu karena dingin yang menusuk kulit, namun sayangnya bukan itu jawabannya. Baekhyun menatap ke arah laki-laki tinggi yang berdiri kehujanan tak jauh dari tempatnya berada.

Dadanya bergemuruh. Alarm di hatinya berbunyi dengan sangat nyaring merusak segala kerja tubuhnya.

Chanyeol di sana.

Baekhyun tak menyangka dapat kembali bertemu dengan laki-laki itu. Sorot matanya mengisyaratkan banyak arti. Selama ini Baekhyun selalu berusaha keras melupakan perasaannya, namun hal itu sia-sia ketika kini ia dihadapkan kembali dengan laki-laki itu. Laki-laki yang dibencinya setengah mati namun tak dapat dipungkiri juga menjadi laki-laki yang paling ia cintai.

Kini perasaan itu seakan meluap-luap mengatakan padanya betapa ia merindukan sosok itu. Ternyata hanya butuh dua bulan baginya untuk hancur kembali berkeping-keping.

"Baekhyun.."

"Kenapa kau disini?" Tanya Baekhyun menyela.

Baekhyun harap ia bisa mengabaikannya. Berpura-pura seolah iris matanya tak menangkap tatapan sendu Chanyeol padanya. Seolah tak menemukan perubahan besar yang terjadi pada diri lelaki itu.

Chanyeol merasakan nyeri di dadanya ketika tatapan benci laki-laki itu menghakiminya. Baekhyun terlihat seperti sudah muak dengan keberadaan dirinya.

Sungguh menyakitkan. Rasanya seperti baru kemarin mereka menghabiskan waktu bersama, mengucap kata-kata cinta, dan di sinilah mereka kini. Saling menatap dalam kesedihan yang seolah tak berujung.

Bahu Chanyeol merosot seiring dengan kedua lututnya yang mendarat di tanah. Menundukan kepala sedalam-dalamnya dan membiarkan dirinya dihujami deras hujan karena ia pantas menerimanya.

Tak ada yang bisa dijadikan alasan. Tak ada pembelaan diri. Chanyeol tahu mulutnya hanya tercipta untuk mengatakan permohonan maaf kepada lelaki tersebut.

"Maaf. Maafkan aku, Baekhyun." Lirih Chanyeol. Chanyeol tidak pernah merasa sefrustasi ini dalam hidupnya. Baekhyun satu-satunya penyebab ia mulai membenci jiwa yang ia miliki dalam dirinya.

Pembunuh. Chanyeol membenci fakta itu.

Lelaki itu mengangkat kepalanya. "Aku tahu kau tak akan menerima ribuan kata maaf dariku. Namun aku bersungguh-sungguh saat mengatakannya padamu."

Untuk semua yang telah terjadi, untuk semua rasa sakit yang harus Baekhyun tanggung seorang diri, Chanyeol meminta maaf. Jika bisa, ia akan mengambil semua rasa sakit itu menggantikan Baekhyun. Jika bisa, ia akan menjadi satu-satunya yang terluka.

Mata Baekhyun memerah menahan tangis. Raut wajahnya terlihat sangat marah penuh kebencian. Ia menguatkan kepalan tangannya.

"Pergi, Chanyeol. Pergi. Aku tidak ingin melihatmu lagi."

Tubuh Baekhyun bergetar hebat. Ia mencoba sebisa mungkin menahan perasaannya yang bercampur aduk. Tak ingin menjadi cengeng pada hal yang ia ucapkan karena ia tahu Chanyeol pantas menerimanya. Bahkan kata makian lebih baik untuk diberikan padanya.

Deras hujan seolah tak mematikan niat Chanyeol. Lelaki itu tetap bersimpuh pada tempatnya dengan tubuh yang basah dan menatap Baekhyun penuh rasa bersalah. Lelaki itu hampir gila. Lelaki itu menangis frustasi. "Apa yang harus kulakukan agar bisa menebus dosaku padamu, Baek?"

Baekhyun mengeraskan rahangnya. "Enyah dari hadapanku."

"Apa itu yang benar-benar bisa membuatmu memaafkanku?"

"Ya."

Tatapan Chanyeol bergetar. Lelaki itu menundukan kepalanya. Bagaimana bisa ia mengabulkan permintaan Baekhyun jika satu-satunya hal yang Chanyeol inginkan adalah berada di samping lelaki itu? Kehilangan Baekhyun adalah hal yang tak pernah ingin Chanyeol rasakan seumur hidupnya.

"A-Aku.. tidak bisa.."

Baekhyun mengepalkan tangannya dan menatap lelaki itu dengan tajam. Chanyeol mempersulit semuanya. Mereka akan baik-baik saja jika Chanyeol tetap mengurung dirinya di istana seperti pecundang dan membiarkan Baekhyun menjalani sisa hidupnya dengan kenyataan bahwa kematian orangtuanya tak pernah bisa diadili. Mereka akan baik-baik saja.

"Kau gila, Chanyeol. Kau psikopat. Kau pembunuh. Tidakkah kau menyadari betapa menyeramkannya dirimu? Kau.. lebih buruk dari monster. Aku membencimu dan aku takut padamu."

Chanyeol terdiam pada posisinya. Kalimat demi kalimat itu berhasil menusuk Chanyeol tepat pada jantungnya. Ucapan Baekhyun membuat Chanyeol kembali memikirkan betapa buruk dirinya. Bagaimana bisa ia masih memiliki wajah untuk bertemu dengan Baekhyun? Baekhyun benar. Ia menakutkan.

Lelaki itu mengepalkan tangan di atas pahanya.

"Jika aku menghilang.. Bisakah kau berjanji akan baik-baik saja?" Pinta Chanyeol.

"Aku akan baik-baik saja. Dan akan selalu baik-baik saja."

Chanyeol menatap kedua bola mata itu bergantian. Mencoba mencari-cari cinta yang tersisa dalam tatapan Baekhyun. Namun Chanyeol hanya menemukan rasa sakit yang tak terobati. Chanyeol telah melukai lelaki itu dengan sangat buruk.

Chanyeol menundukan kepalanya dan tersenyum pahit. Hatinya berteriak. Ia tak ingin melepaskan Baekhyun seperti ini, namun ia tahu bahwa kehadirannya hanya akan membuat lelaki itu semakin terluka. Ia adalah rasa sakit.

Jika itu satu-satunya cara untuk menebus dosanya, Chanyeol akan melakukannya. Jika itu satu-satunya cara untuk membuat lelaki itu bahagia, Chanyeol akan kehilangan Baekhyun demi Baekhyun.

Chanyeol menghela napasnya dengan perlahan-lahan hingga tak tersisa lagi oksigen di dalam dadanya. Lelaki itu menatap Baekhyun.

"Kau harus menepati kata-katamu, Baek."

Baekhyun harus menepatinya. Baekhyun harus bahagia.

Kebahagiaan yang sebelumnya Chanyeol renggut dari Baekhyun, lelaki itu harus mendapatkannya lagi dengan menjalani hidupnya dengan baik. Hanya itu cara untuk membuat Chanyeol dapat bernapas. Mengetahui bahwa lelaki itu dalam keadaan baik-baik saja.

Chanyeol menatap lama wajah lelaki itu untuk terakhir kalinya. Ia tersenyum penuh luka. Ini akan menjadi pertemuan terakhir mereka. Ini akan menjadi akhir untuk segalanya. Chanyeol akan menghilang dari hadapan Baekhyun bagai debu setelah ini.

Cinta mereka yang Chanyeol kira tak akan pernah berakhir harus mereka tutup, dan disimpan untuk dirinya sendiri karena Baekhyun tak berniat untuk menulis cerita mereka lagi.

"Aku mencintaimu, Byun Baekhyun. Aku mencintaimu."

Baekhyun mengeratkan genggamannya pada payung. Meremasnya seiring dengan bunyi remukan hatinya. Baekhyun hancur.

Lelaki itu mengalihkan pandangannya selain mata Chanyeol. Ia memaksakan kakinya yang terpaku untuk bergerak melangkah meninggalkan lelaki tersebut tanpa sepatah kata sebagai balasan dari ungkapan cinta yang Chanyeol berikan untuk terakhir kalinya.

Baekhyun menulikan telinganya, hingga suara hujanpun tak terdengar olehnya. Ia terus berjalan melewati Chanyeol dengan sisa tenaganya, membiarkan Chanyeol menatap kepergiannya dengan air mata yang bercampur dengan hujan.

Namun yang tak lelaki itu tahu, Baekhyun memejamkan mata pada akhirnya membiarkan tetesan air mata perlahan-lahan jatuh dari pelupuk matanya. Itu adalah bukti bahwa ia juga menderita sama seperti yang lelaki itu rasakan. Karena perasaan cinta yang selalu ada di hatinya menyiksanya untuk berkata, 'Aku juga mencintaimu, Park Chanyeol'.


Tubuh Nyonya Kim terlempar ke lantai merah. Wanita paruh baya itu mengerang kesakitan dengan sudut bibirnya yang berdarah dan kondisinya yang berantakan.

Kris terlihat mengambil sebuah palu dari dalam lemari kaca. Pria itu bersenandung pelan seraya mengelus benda di genggamannya tersebut.

"Menjadi sok pahlawan tidak akan membuatmu tinggi." Ucap pria itu mengisi gema dalam ruangan kematian yang menjadi tempat kebahagiaan kecilnya. Tempat yang istimewa.

Nyonya Kim memandang Kris dengan pasrah. Wajahnya basah penuh air mata. Ia tahu saat ini akan datang. Ia sudah lebih dari siap sehingga ia tak lagi harus memohon kepada Kris untuk melepaskannya. Permohonannya hanya akan ia panjatkan pada Tuhan untuk melindungi Chanyeol dan mengharapkan kebahagiaan yang tanpa batas kepada lelaki tersebut.

Kris menggeram tertahan dengan mata terpejam. Darahnya berdesir. Ia tidak bodoh untuk tidak mengetahui kepergian Chanyeol. Banyak mata yang mengawasi lelaki kesayangannya itu dan fakta bahwa pelayan tua tak tahu diri seperti Nyonya Kim membantu Chanyeol pergi sama sekali tak mengejutkannya.

Pria itu berbalik badan menatap Nyonya Kim yang terduduk lemah dengan tubuh rentanya. Begitu menyedihkan. Sebenarnya Kris tak ingin membunuh seseorang yang rapuh sepertinya. Sangat tidak menyenangkan. Namun Kris harus melakukannya untuk melindungi Chanyeol di sisinya.

Nyonya Kim menahan napasnya ketika Kris berjongkok di depannya dengan jemari menjambak rambut putihnya.

Pria itu mengangkat wajah itu untuk menatapnya dan berbisik,

"Aku akan mematahkan setiap tulangmu dan membuatmu sadar kau tengah berurusan dengan siapa."

Kris menyeringai mendapati raut ketakutan dibalik wajah sok berani wanita tersebut. Kris mengarahkan palunya menuju lutut Nyonya Kim. Ia melirik sekilas kepada wanita itu dan lututnya bergantian.

Nyonya Kim mengepal erat tangannya, bersiap menahan rasa sakit luar biasa yang akan segera menjalari seluruh kakinya dan naik ke tubuhnya. Ia mungkin akan langsung mati dalam dua pukulan, ia tak tahu. Namun ia sangat pasrah dengan keadaannya.

Kris terkekeh geli melihat ekspresi Nyonya Kim. Wanita itu jelas sangat ketakutan namun mencoba tetap bersikap tenang. "Ini mungkin akan sedikit sakit. Jika kau bisa menahan teriakanmu, aku akan membebaskanmu, bagaimana?"

Nyonya Kim tak bodoh untuk menerima penawaran itu. Kris penuh muslihat. Benar-benar seorang psikopat sejati.

Pria itu menyeringai saat tak mendapati jawaban selain tatapan tak berarti dari Nyonya Kim. Ia segera mengatur posisi palunya supaya mendarat dengan tepat di lutut wanita itu. Setelah dirasa pas, ia mengangkat tangannya tinggi-tinggi bersiap untuk memberi pukulan keras yang akan menghancurkan tempurung lutut wanita tua tersebut.

"Tuan."

Ayunan tangan itu terhenti ketika suara salah satu pengawalnya menginterupsi.

Kris menoleh dengan raut tak senang. Oh, Kris mungkin bisa menambah satu orang lagi yang harus ia habisi nyawanya. Berani-beraninya seseorang mengganggu kegiatannya!

Pengawal itu membungkuk penuh hormat memohon maaf.

"Tuan muda Chanyeol telah kembali." Ucapan itu membuat Kris menghentikan segala kerja tubuhnya.

"Laporkan apa yang terjadi."

"Mereka berpisah, Tuan. Byun Baekhyun meminta Tuan Muda Chanyeol untuk pergi dan tak muncul lagi di hadapannya."

Kris menurunkan palunya dan melempar ke sembarang arah. Pria itu bergumam pelan seraya mengangguk-anggukan kepalanya.

"Byun Baekhyun.. anak itu tahu apa yang harus dilakukannya." Kris tersenyum penuh kemenangan kemudian menoleh pada Nyonya Kim yang menelan salivanya susah payah.

Kris menyeringai kembali dan berdiri tegap. "Kau beruntung hari ini." Ucap pria itu seraya melangkah santai keluar dari ruangan tersebut dengan hati yang lega. Meninggalkan Nyonya Kim yang menundukan kepala dan mengambil napas sebanyak-banyaknya. Ia selamat dari kematian.


Jika Baekhyun kira dirinya sudah kembali menjadi dirinya yang dulu maka ia salah. Dirinya yang dulu tak mungkin menghabiskan berjam-jam di sore hari untuk memandang ke luar jendela seolah mengharapkan keajaiban akan turun dari langit.

Baekhyun menghela napasnya lagi dan lagi. Lelaki itu tak tahu sebenarnya perasaan apa yang tengah mendera hatinya. Mencekiknya hingga sekarat. Baekhyun tak bisa menafsirkan itu semua.

"Oppa.."

Yeri yang sedari tadi memandangi kakaknya dari jauh akhirnya berjalan menghampiri Baekhyun yang berdiri memandang keluar jendela di ruang tamu.

Baekhyun menoleh dan tersenyum lembut, seperti yang selalu ia lakukan. Namun yang membuatnya berbeda adalah raut sedihnya yang seolah tak pernah bisa lepas.

Yeri datang menghambur ke pelukan lelaki itu yang disambut baik dengan pelukan tak kalah erat dari Baekhyun. Mereka selalu merindukan kehadiran satu sama lain, tak peduli sedekat apa jarak mereka kini. Waktu yang telah terbuang di antara mereka membuat hubungan mereka semakin dekat.

"Oppa." Panggil Yeri sekali lagi.

"Hm?"

Gadis itu menghela napas sedih seraya menaruh pipinya di bahu lelaki tersebut.

"Bukankah sudah waktunya oppa memaafkan Tuan Chanyeol?"

Tubuh Baekhyun langsung menegang. Ia terkejut dengan pertanyaan tiba-tiba yang diajukan gadis tersebut. Lelaki itu langsung melepas pelukan mereka dan menatap Yeri dengan raut tak percaya.

"Apa maksudmu?" Tanyanya dengan kerutan di dahinya.

Yeri menundukan kepala dengan suaranya yang mengecil. "Aku.. tidak ingin keadaan menjadi seperti ini. Aku ingin kembali seperti dulu, di saat kita semua baik-baik saja.."

"Apa kau sadar dengan apa yang kau ucapkan, Byun Nara?"

"Aku tahu.. Aku hanya merasa bahwa ini sudah cukup.."

"Apa kau sedang membelanya?"

Baekhyun terlihat sangat sensitif dengan pembicaraan mereka. Baekhyun tak menyukai pertanyaan Yeri. Gadis itu mempertanyakan sikapnya seolah ialah yang berbuat kesalahan. Baekhyun tak menyukai bagaimana gadis itu seakan tengah membela pembunuh orangtua mereka.

Baekhyun mengepalkan tangannya tak mendapati jawaban lain dari sang adik. Ia lelah. Sungguh. Ia hanya ingin melepas semua penderitaan ini.

"Mari kita hentikan percakapan ini."

Baekhyun langsung menjauh dan membalik tubuhnya dari Yeri. Namun suara gadis itu menghentikan langkahnya.

"Sepuluh tahun."

Baekhyun terdiam tanpa membalik tubuhnya sementara Yeri berdiri di belakangnya dengan wajah sendu.

"Mengurungnya selama sepuluh tahun bukankah sudah cukup untuk menghukumnya?" Tanya gadis itu. "Tuan Muda juga sangat menderita."

Baekhyun menundukan wajahnya dengan tangan yang mengepal. "Berhenti membelanya."

"Tuan muda sudah menerima hukumannya, Oppa. Sepuluh tahun adalah waktu yang lama."

"Hentikan."

"Oppaㅡ"

"Kau tidak mengerti!" Baekhyun berbalik menatap Yeri dengan marah dan kesedihan yang bercampur aduk. "Kau tidak mengerti beratnya penderitaanku selama ini! Kau melupakan semuanya dan bisa hidup nyaman bersama orang lain, tapi aku?! Aku berjuang sendirian! Kau tidak akan pernah mengerti bagaimana sulitnya masa-masa itu untukku. Aku merindukan kalian dan setiap hari dihantui pikiran bahwa seharusnya tuhan mengambilku juga saat itu!"

Yeri tersentak dan membisu. Gadis itu meneteskan air matanya setelah apa yang kakaknya ucapkan dengan lantang.

"Ya, Oppa benar.. Aku tidak mengerti apapun hiks.. Tapi aku tidak ingin melihat oppa tersiksa lagi.."

"Kenapa.. kenapa oppa harus menanggung semuanya sendirian?" Yeri menangis terisak. Gadis itu menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Aku hanya ingin melihat oppa bahagia.."

Baekhyun mengalihkan pandangannya ketika air mata ikut menetes di pipinya. Semua ini berat untuk mereka. Atau mungkin untuknya yang menutup mata dan telinga pada teriakan hatinya.

"Saat itu.. saat itu oppa sangat bahagia bersamanya.."

Ucapan Yeri membuat air mata semakin turun dengan deras tanpa bisa Baekhyun kendalikan. Lelaki itu mencoba mengusap air matanya, namun yang terjadi adalah air mata semakin berlomba-lomba keluar dari pelupuk matanya.

Baekhyun menundukan kepalanya dan terisak sedih. Ia membiarkan tangisan itu menguasi dirinya.

Jika bisa meminta, Baekhyun akan memilih untuk tidak mengetahui apapun. Baekhyun ingin terbebas dari rasa sakit seperti ini. Namun sebesar apapun Baekhyun memohon, ia tetap tidak menemukan obat untuk menyembuhkan lukanya.

Jongdae yang sedari tadi melihat kedua kakak beradik itu dari balik tembok hanya mampu menghela napas tanpa berniat untuk ikut campur pada permasalahan yang terjadi di hidup mereka.


Baekhyun mengadahkan kepalanya menatap langit yang gelap tak berawan. Entah mengapa akhir-akhir ini hujan terus menyapa kota seolah langitpun sedang bersedih.

Baekhyun menghela napas sejenak dan melanjutkan kembali langkahnya memasuki Rumah Abu dengan sebuah bunga di tangannya. Sudah berapa lama Baekhyun tak mengunjungi kedua orang tuanya? Ia merasa malu pada dirinya sendiri.

Sesungguhnya itu semua karena ia merasa sangat buruk. Setelah apa yang terjadi ia merasa tak punya muka untuk bertemu kedua orang tuanya. Karena itu, butuh waktu yang lama mengumpulkan keberanian untuk bisa berdiri tegap menemui mereka lagi.

Baekhyun mengulas senyum sendunya menatap guci abu kedua orang tuanya. Hatinya sesak. Ia merasa begitu bersalah.

"Eomma.. Appa.. Bagaimana kabar kalian?" Tanyanya dengan jemari yang menyentuh lemari kaca.

"Aku menemukan Nara. Akhirnya aku menemukannya." Baekhyun semakin tersenyum lebar. "Dia baik-baik saja. Dia telah tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik, dan apa kalian tahu? Dia masih menjadi gadis periang seperti dulu."

Baekhyun terkekeh pelan mengingat sifat ceria Yeri saat pertama kali mereka bertemu kembali. Yeri tampak senang dengan kehadirannya kala itu. Kebahagiaan selalu menyertai gadis tersebut. Baekhyun bersyukur adiknya itu baik-baik saja.

Baekhyun mengulum senyumnya dan menghela napas.

"Eomma.. Appa.. Aku.. A-Aku.." Bibirnya bergetar. Lelaki itu menundukan kepalanya dalam-dalam. "Maaf.. Maafkan aku.."

"Aku mengecewakan kalian, bukan?"

Lelaki itu mendongakan kepalanya mencoba menahan tangisan untuk tidak jatuh di hadapan kedua orang tuanya. Baekhyun tak ingin menangis di hadapan mereka.

Baekhyun menatap kembali kepada abu kedua orang tuanya. "Maaf karena aku tidak berguna.."

Kata maaf tak henti terucap dari bibirnya. Perasaan bersalah itu terus menyelimutinya setiap hari. Membayangkan bahwa kedua orang tuanya di atas sana mungkin memandang kecewa ketika ia membawa Chanyeol menghadap mereka saat itu. Membayangkan bagaimana kecewanya mereka karena dirinya menjalin hubungan dengan seorang pembunuh.

"Bisakah kalian datang ke mimpiku?" Tanya lelaki itu dengan tatapan memohon.

"Aku.. sangat merindukan kalian."


"Tuan Muda masih tak menyentuh makanannya, Tuan."

Kris yang tengah duduk di meja kerjanya dengan berkas-berkas perusahaan lantas menghentikan kegiataannya. Pikirannya tak fokus.

Terhitung sudah dua hari sejak Kris mendapat laporan dari para pelayan dan pengawal bahwa Chanyeol tak menyentuh makanannya sedikitpun.

Yang bisa Kris rasakan sejak pertemuan terakhir Chanyeol dengan Baekhyun adalah lelaki itu menjadi sangat murung dan kondisinya semakin memburuk. Lelaki itu hanya berdiam diri di kamarnya, tak berbicara, bahkan tak bergerak ketika pelayan mengantarkan makanan untuknya. Lelaki itu terlihat sangat patah hati.

Kris memijat dahinya frustasi. Ia benci pada fakta bahwa lelaki itu menjadi kacau karena seorang mantan pelayan seperti Byun Baekhyun. Perasaannya sangat marah dan kesal. Namun ia juga ketakutan. Ia takut sampai kapanpun lelaki itu tak akan melihat ke arahnya dan hanya mencintai Baekhyun seorang. Apa yang harus ia lakukan?

Chanyeol adalah orang yang sangat keras kepala. Meskipun kehadiran lelaki itu ada si sisinya, namun hati dan pikiran lelaki itu tidak ada bersamanya. Chanyeol hanya menjadi sesuatu yang hadir namun tak bisa ia rasakan. Kris menggeram tertahan dan menggebrak mejanya dengan kepalan tangan.

Harus berapa lama lagi Kris menunggu? Butuh waktu berapa lama untuk Chanyeol bisa mencintainya seperti yang ia inginkan?

Kris sengaja mengurungnya kembali di dalam kamar itu untuk membuat Chanyeol sadar dan memikirkan kembali perasaannya bahwa selama ini cintanya adalah untuk Kris. Bukan Baekhyun. Namun Chanyeol seperti orang bodoh karena tak kunjung melakukan hal yang Kris inginkan.

"Byun Baekhyun.." Ucap Kris penuh amarah.

Kris melirik ke arah laci meja dan membukanya. Sebuah pisau tajam yang ada di sana seolah menggodanya untuk diambil dan bayangan-bayangan sensasi penyiksaan di dalam pikirannya membuat dirinya tak menahan diri untuk tidak mengambil pisau tersebut.

Ia menatap pisau di genggamannya dengan beribu pikiran acak yang melintas. Haruskah ia membunuh Baekhyun untuk membuat semua ini berakhir bahagia untuknya?

Baekhyun adalah penghalang untuknya. Jika tidak ada lelaki itu, Kris akan merasa sangat tenang. Ia tidak perlu khawatir dan gelisah jika suatu saat kedua insan itu akan kembali bersama. Ia bahkan tak perlu takut jika mereka berdua akan menjalin hubungan tanpa sepengetahuannya. Kematian Baekhyun akan memberi kebahagiaan dan kemenangan yang telak untuk Kris. Chanyeol akan menjadi miliknya seutuhnya.

Kris menganggukan kepalanya yakin. Ia lantas bangkit dari duduknya. Ia harus membunuh Baekhyun untuk mengakhiri semua ini.

Namun langkahnya mendadak terhenti.

Tidak. Tunggu.

Kris mengerutkan dahinya saat pikiran lain mengganggunya.

Bagaimana jika setelah ia menyingkirkan Baekhyun, datang orang lain yang akan merebut Chanyeol? Bagaimana jika ada Baekhyun lain yang mampu mencuri hati Chanyeol? Bagaimana jika hal itu sungguh terjadi?

"Tidak.. Itu tidak boleh terjadi." Pria itu menggeleng keras dengan tangan yang mengepal marah.

Lalu apa yang harus Kris lakukan? Apa yang harus ia lakukan untuk membuat Chanyeol menjadi satu-satunya miliknya? Apa cara terbaik yang harus ia pilih?

Raut wajah Kris berubah 180 derajat ketika ia menemukan jawaban dari setiap pertanyaan dalam kepalanya. Ya, benar. Ia mengangguk dengan napas memburu. Tidak ada lagi rencana sebaik yang ia pikirkan. Hanya itu satu-satunya cara untuk membuat Chanyeol hanya menjadi miliknya.

Kris segera melangkah keluar dari ruangannya dan membawa kakinya menaiki lantai tiga untuk menemui Chanyeol.

Tiap langkahnya terasa begitu berat dan menyiksa, namun ia percaya kepada dirinya dan apa yang ada di kepalanya.

Kris langsung membuka pintu kamar Chanyeol dan menemukan lelaki itu tengah duduk bersandar pada kepala ranjang seraya menatap ke luar jendela. Hal yang selalu dilakukannya semenjak kepergian Baekhyun.

Kris melangkah masuk dengan tangan yang berada di belakang punggungnya. Ia berjalan perlahan menghampiri Chanyeol yang kini tengah menatapnya tanpa minat atau mungkin lebih tepatnya muak.

"Apa yang kau inginkan?" Sinis Chanyeol.

Tatapan Kris terlihat berbeda dari biasanya. Pria itu terlihat sedih namun juga bersemangat. Merupakan sesuatu yang tak pernah Chanyeol lihat sebelumnya di iris mata itu. Rasanya sangat aneh dan menyeramkan hingga membuat Chanyeol mengerutkan dahinya.

Kris berhenti ketika berada di samping tempat tidur lelaki itu. Ia menundukan kepalanya sejenak dan matanya terlihat berkaca-kaca. Chanyeol semakin mengerutkan dahinya kebingungan karena ini pertama kali baginya melihat pria tersebut menangis.

"Chanyeol, maafkan aku.."

Ucapan itu membuat Chanyeol semakin tak mengerti dengan perubahan drastis sikap pria tersebut. Air mata Kris mengalir jatuh ke lantai dan itu membuat Chanyeol sangat tidak nyaman.

"Apa maumu, brengsek?" Tanya Chanyeol.

"Maaf.. Aku.. Tidak ada yang bisa kulakukan." Sahut Kris. "Hanya ini satu-satunya cara untuk membuatmu menjadi milikku."

"Apa?"

"Maafkan aku, Chanyeol."

Mata Chanyeol langsung membelalak terkejut ketika sang kakak menusukan pisau di perutnya secara mendadak. Ia melirik Kris yang masih menunjukan raut sedihnya berbanding terbalik dengan tangannya yang menusuk pisau itu semakin dalam.

"Maafkan aku, Chanyeol. Kuharap kau mengerti." Ucap pria itu.

"Aargh..! B-Brengs-sek!"

Chanyeol langsung mendorong pria tersebut dengan tenaga yang berhasil ia kumpulkan. Ia lantas memegangi perutnya yang mengeluarkan banyak darah mencoba untuk menghentikan pendarahan yang terjadi dan menatap balik pada sang kakak.

"Chanyeol, mengertilah. Aku hanya bisa memilikimu dengan cara ini."

Kris sudah kehilangan kewarasannya. Ia berniat membunuh Chanyeol. Baginya, itu satu-satunya cara untuk membuat Chanyeol menjadi miliknya tanpa ada seseorangpun yang bisa merebut lelaki tersebut dari genggamannya. Ia akan membunuh lelaki itu, mengawetkannya, dan menyimpannya untuk dirinya sendiri. Itu adalah rencana paling terbaik yang bisa Kris pikirkan.

"Sial."

Chanyeol langsung bangkit dari duduknya ketika Kris terlihat berusaha menyerangnya lagi. Lelaki itu melawan dengan tenaga yang masih tersisa di tubuhnya meski sesungguhnya ia merasa sangat lemas karena tak ada makanan yang masuk ke dalam perutnya di tambah luka yang Kris berikan padanya.

Namun psikopat memiliki kemampuan bertahan hidup yang hebat melebihi orang biasa. Begitulah bagaimana bisa Chanyeol mati-matian melawan Kris.

"Kau yang seharusnya mati, Yifan!"

Keduanya saling memperebutkan pisau itu. Chanyeol berusaha mengambilnya dari tangan Kris dan berniat untuk menusuk pria tersebut sementara Kris tak ingin mengalah. Kris yang masih percaya pada keyakinannya berusaha mendorong pisaunya untuk mengenai tubuh Chanyeol. Ia harus membunuh Chanyeol.

Mereka terlibat perseteruan yang sengit. Chanyeol mengeluarkan seluruh tenaganya ketika mengarahkan pisau itu berbalik arah untuk menusuk Kris dan mengenai bahu pria tersebut.

"Argh.." Erang Kris ketika ia berusaha mencabut pisau itu dari kulitnya dengan Chanyeol yang masih menekannya lebih dalam.

Pria itu mendorong Chanyeol dengan seluruh kekuatannya hingga pisau tersebut terlempar jauh dari keduanya. Mendapati hal itu Chanyeol tak mengambil jarak menjauh sedikitpun dan langsung menyerang Kris dengan tinjuan hingga pria itu kehilangan keseimbangan dan terjatuh.

Chanyeol mengeluarkan semua amarahnya yang bertumpuk di hatinya dengan tinjuan di tulang pipi pria tersebut. Bibir maupun tulang pipi Kris berdarah akibat pukulan Chanyeol.

"Argh! Kau pantas untuk ini, Yifan!" Chanyeol seolah tak mau berhenti untuk membuat pria itu babak belur.

Meski Kris terlihat sudah kehilangan tenaganya, Chanyeol masih tetap memberi pukulan yang kuat hingga berakhir dengan tulang hidung pria tersebut patah.

Dada Chanyeol naik turun menatap Kris yang terkapar lemah dengan napas yang tersendat-sendat. Lelaki itu memegang perutnya sendiri dan berjalan menjauh untuk duduk bersandar pada dinding. Napas lelaki itu masih memburu karena emosi. Ia sedikit meringis merasakan nyeri di perutnya.

"Hhh.. Hentikan, Yifan.."

Kris terbatuk-batuk dengan darah yang muncrat dari mulutnya. Nyeri menjalari seluruh tubuh. Ia kesakitan menggerakan anggota tubuhnya namun pria itu memaksakan diri menoleh menatap ke arah Chanyeol.

"Hentikan obsesimu, Yifan. Kau.. tidak akan pernah bisa memilikiku. Tidak dengan hatiku ataupun tubuhku." Ucap Chanyeol.

Kris mengerang tak suka.

"Apa yang kau.. harapkan? Aku menganggapmu sebagai adikku..?" Tanya Kris dengan susah payah.

"Aku membencinya, namun itu lebih baik."

Kris tertawa remeh di balik giginya yang terkena darahnya sendiri. "Aku tidak tahu bagaimana menyayangi seorang adik. Selama ini aku menganggapmu sebagai lelaki bukan adikku."

"Aku selalu memandangmu sebagai kakakku."

Ucapan itu membuat Kris langsung terdiam dan menatap Chanyeol dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Aku membencinya. Namun sialnya aku selalu.. menganggapmu kakakku." Chanyeol sedikit mengerang diakhir kalimat.

Kris mengepalkan tangannya dengan tatapan sekaku mungkin.

"Aku membunuh eomma, appa dan Yoora."

"Aku tahu."

Dada Chanyeol terasa sesak jika mengingatnya lagi. Chanyeol tahu. "Aku sangat membencimu untuk itu. Namun aku tak bisa berbohong bahwa akan selalu ada kesempatan di mana aku ingin memaafkanmu. Meskipun kau tak berhak mendapatkannya sama sekali."

Pengakuan itu membuat sesuatu dalam diri Kris tergerak dan seolah menghidupkannya kembali dari kemarau yang sangat panjang. Ini aneh. Bagaimana bisa ungkapan sayang seorang adik pada kakaknya membuat Kris merasa tenang? Itu bahkan bukan ungkapan cinta yang romantis.

Chanyeol menundukan kepalanya menatap darah yang mengalir keluar dari perutnya karena ia terlalu banyak berbicara.

"Hh.. Aku tahu ini konyol. Tetapi.. jika aku terlahir kembali di kehidupan selanjutnya dengan situasi yang jauh berbeda dengan saat ini.. Aku ingin.. menjadi adikmu sekali lagi."

Chanyeol tahu itu adalah ungkapan teraneh yang terucap dari mulutnya setelah apa yang terjadi di antara keduanya selama ini.

Sorot mata mereka bertemu. Tatapan Chanyeol menyiratkan semua luka yang telah Kris torehkan di hati lelaki tersebut selama ini. Dan Kris menemukan kembali rasa nyeri di dadanya melihat kesedihan lelaki tersebut. Chanyeol selalu menjadi seseorang yang berarti untuk Kris.

"Sekarang.. tidak bisakah.. kau berhenti?" Tanya Chanyeol dengan suara yang mulai melemah.

Hal yang tak Kris ketahui adalah bahwa Chanyeol selalu menyayangi Kris sebagai kakaknya. Chanyeol tak sekalipun menyingkirkan posisi hebat kakaknya dari daftar keluarga yang ia sayangi. Kris selalu ada di sana sejak awal hingga saat ini. Tak peduli seberapa seringnya Chanyeol melontarkan kalimat makian pada pria tersebut.

Chanyeol menghembuskan napasnya susah payah. Ia merasa mulai kesulitan mengambil napas namun ia masih tetap memaksakan dirinya menatap Kris.

Bolehkah Chanyeol berharap sesuatu kepada pria yang menyandang status sebagai kakaknya itu?

"Jika kau benar-benar mencintaiku, lepaskan aku. Biarkan aku bahagia.."

"Jika kau sungguh mencintaiku.. jangan pernah membuatku kecewa lagi padamu."

Semua ucapan Chanyeol bagai taburan garam di atas luka. Perasaan Kris mendadak menjadi suatu hal yang rumit untuk Kris terangkan. Ia hanya mampu menahan semua itu dalam hatinya.

Kris mengeraskan rahangnya dan menatap tajam pada lelaki tersebut.

"Aku.. membencimu, Park Chanyeol."

Itu adalah kalimat terakhir yang Chanyeol dengar sebelum ia menutup matanya bersama kesadarannya yang hilang.

Setidaknya, Chanyeol telah mengatakan segala yang ingin ia sampaikan.

.

.

.

.


{ To Be Continued }


5k words..

SILAHKAN KELUARKAN KATA KATA UMPATAN UNTUK ENDING CHAPTER INI WKKWKWKWKWK ADAKAH YANG MENYANGKA KRIS BAKAL BUNUH CY? WGWG

Aku langsung upload begitu kelar nulis nih kalo berantakan mon maap ya wkwk asli ngetik DNE itu nguras otak banget hohoho

Btw aku ada ff baru mungkin bisa coba dilirik (~˘▾˘)~ hahaha

DAN SEPERTI BIASA terima kasih untuk yang fav/foll/review. Percayalah aku tau siapa yang masih suka review dari awal sampe saat ini wkwk kamu jjang banget sini aku kasih cinta mau ga WKWK Kritik dan saran yang membangun akan selalu aku terima dengan senang hati yoow. Sampai jumpa di chap 14 wkwk Bye bye jan lupa stream lets love wgwg