DO NOT ENTER ! (CHANBAEK)

BOYSLOVE/YAOI

Main Cast :

Byun Baekhyun

Park Chanyeol

Summary :

Jangan masuk ke dalam sana! Tidak ada yang diperbolehkan masuk ke dalam sana! Larangan tersebut telah diketahui oleh setiap penghuni rumah. Namun Byun Baekhyun, laki-laki yang mendadak menjadi seorang penyusup telah melanggarnya.

~Keseluruhan cerita berasal dari imajinasiku sendiri~

.

.

BB922016


Do Not Enter ! : Chapter 14

Ini buruk.

Sudah memasuki hari ke lima namun Chanyeol masih tetap terbaring lemah di atas tempat tidur dengan selang infus di tangannya. Lelaki itu tak kunjung membuka mata seolah ia memang tak ingin terbangun lagi.

Kris memandang kosong pada wajah sang adik. Sudah berjam-jam pria itu menghabiskan waktunya untuk berada di kamar menemani Chanyeol. Ia berdiri dalam kesunyian seraya memperhatikan keadaan lelaki itu yang tak terlihat menunjukan adanya kemajuan.

Seharusnya Kris tengah beristirahat memulihkan lukanya saat ini setelah perkelahiannya terakhir kali. Namun pria itu seolah tak mempedulikan banyaknya sobekan di sekitar wajah maupun hidung serta bahunya yang diperban. Kondisi pria itu seolah tak menjadi penghalang bagaimana ia ingin tetap berada di samping Chanyeol.

Hari pertama, hari kedua, tak terasa begitu menakutkan untuk Kris. Namun setelah hari demi hari terlewati, Kris mulai merasa gelisah jika Chanyeol tak ingin membuka mata selamanya.

Dokter bilang Chanyeol tengah melewati masa kritis akibat luka yang Kris berikan padanya terlalu dalam dan mengenai organ vital. Lelaki itu kehilangan banyak darah.

Kris sempat mengira jika ia akan senang dengan ide hebat di kepalanya saat itu ketika ia berniat membunuh Chanyeol. Akan tetapi setelah ia menyaksikan bagaimana sang adik harus terbaring tak berdaya seperti ini membuatnya sangat terluka. Ia tak ingin melihat Chanyeol tak bernyawa. Ia tak suka melihat lelaki itu hanya berbaring tanpa suara.

Kris menghela napas berat. Wajahnya menyiratkan kekhawatiran dengan kerutan samar di dahinya. Ia bertanya-tanya dalam hati, apakah mimpi panjang lelaki itu sungguh lebih indah dari kenyataan sehingga membuat Chanyeol tak ingin terbangun?

Kris tak tahu apa yang salah dengan dirinya. Ia menjadi semakin gila dan tidak dapat mengendalikan dirinya sendiri seperti yang biasa ia lakukan hingga hal buruk tempo hari harus terjadi. Ia mulai kehilangan kontrol atas dirinya sendiri.

Kris selalu meyakini di dalam dirinya bahwa seumur hidup ia tak akan pernah menyesal pada apa yang telah ia lakukan. Namun kini ia mulai menyesali apa yang telah ia perbuat pada Chanyeol. Ia terlalu banyak melukai lelaki itu dan mungkin ini adalah hukuman yang diberikan untuknya.

Beberapa pengawal dan pelayan yang bertugas mengurus Chanyeol hanya mampu berdiri di sudut ruangan seraya menunduk dalam menyaksikan hal tersebut. Mereka tak berniat untuk mengganggu atau mengajak bicara Kris yang terlihat sangat sedih dibalik raut datarnya.

"Sungguhkah ini yang anda inginkan, Tuan?"

Tapi pengecualian untuk Sehun. Pengawal itu dengan beraninya berjalan mengambil langkah mendekati Kris tanpa rasa takut kepada sosok tersebut. Yang diajak bicara sayangnya bersikap tak acuh, tak sedikitpun menoleh saat Sehun telah berdiri di sebelahnya. Mulut pria itu tetap terkunci rapat tak berniat menanggapi kata-kata dari lelaki tersebut.

"Melihatnya terbaring seperti ini bukankah sangat menyakitkan?" Tanya Sehun seraya menatap wajah Chanyeol yang pucat.

Sehun tahu betapa gilanya Kris. Ia tahu sebesar apa obsesi yang dimiliki psikopat itu dan Sehun rasa semua ini sudah keterlaluan. Sudah cukup membuat Chanyeol tersiksa seperti ini. Sehun merasa sangat iba atas apa yang terjadi kepada tuan mudanya.

"Tolong lepaskanlah Tuan Chanyeol."

Kris lantas menoleh dengan tatapan tajam dan Sehun balik menatapnya dengan kedua bola mata yang tegas tanpa menyiratkan rasa takut.

"Mengurungnya, menahannya, menyiksanya, tak akan membuat ia bahagia. Ia akan semakin dan semakin membenci anda. Tuanpun tak ingin ia terus membenci anda, bukan?"

"Lancang sekali kau."

Tangan Kris mengepal erat hingga urat-uratnya menonjol. Ia merasa sangat terhina karena orang rendahan seperti Sehun berani menceramahinya.

Namun Sehun tak peduli apa yang akan terjadi pada dirinya setelah mengatakan semua ini. Ia tetap tak akan berhenti karena ia tahu seseorang harus menghentikan Kris jika tak ingin keadaan semakin kacau-balau, dan ia tahu hanya dirinyalah yang mampu melakukan ini. Hanya dirinya seseorang yang berani mengambil resiko sebesar ini.

"Saya mohon tolong lepaskan Tuan Chanyeol. Jangan menyakitinya. Jangan menyiksanya lebih jauh dari ini. Tidakkah anda merasa kasihan padanya, Tuan?"

"Kasihan?" Kris mendengus tertawa mengejek. "Aku tak punya hati."

Bagaimana bisa Kris menghentikan ini semua jika hanya dengan cara itu ia bisa membuat Chanyeol berada di sisinya? Ia tak mungkin berhenti. Memangnya apa yang bisa diharapkan dari orang sepertinya?

"Lantas apa yang selama ini anda rasakan pada Tuan Chanyeol jika anda memang tak punya hati?"

Pertanyaan Sehun membuat Kris tertohok tepat di jantungnya. Sorot mata Kris berubah kaku bersama wajah angkuh pria itu yang perlahan luntur.

"Bukankah selama ini Tuan mencintainya? Atau apakah selama ini anda tidak pernah mencintai Tuan Muda?" Tanya Sehun lagi.

Kris langsung merubah ekspresinya secepat kilat. Ia mengeraskan rahangnya dengan tangan yang mengepal kuat, tak menyukai bagaimana Sehun menghakimi perasaannya. "Aku mencintainya." Geramnya dengan nada rendah yang berbahaya dan penuh penekanan. Kris selalu merasa sangat marah jika seseorang berani menyinggung tentang perasaannya. Kris tak main-main saat mengatakan bahwa ia mencintai Chanyeol.

Sehun mengangguk-angguk paham. "Cinta." Bisiknya pelan.

Sehun melarikan tatapannya ke arah Chanyeol dan kantung infus lelaki itu yang mulai berkurang isinya. Sehun menarik sudut bibir sebelum kembali berbicara, "Hal itu lebih luas dari yang anda bayangkan, Tuan."

Kris mengernyitkan dahinya tak suka. "Apa?"

"Cinta bukan hanya sekadar perasaan sayang dan ketertarikan terhadap seseorang." Ucap Sehun dengan suara dan tatapan yang lebih lembut dari sebelumnya. "Cinta jauh lebih dalam dari itu, Tuan."

"Cinta adalah segala hal baik yang anda inginkan untuknya. Bukan apa yang ingin anda dapatkan darinya."

Cinta adalah tentang memberi.

"Cinta adalah ketika segala yang anda inginkan untuknya adalah kebahagiaan."

Memaksa dan menuntut seseorang untuk melihat kita bukanlah cinta. Karena cinta bukan meminta. Tak seharusnya kita meminta balasan karena cinta tak mengajari itu.

"Bukankah itu yang selalu anda lakukan dulu? Tuan selalu ingin melihat Tuan Muda Chanyeol bahagia. Saya setuju untuk menganggapnya sebagai cinta."

Sehun tersenyum seraya mengangguk-angguk.

Jauh sebelum keserakahan menguasai Kris, pria itu selalu melakukan segalanya untuk membuat Chanyeol bahagia. Ia merelakan apa yang menjadi miliknya untuk lelaki itu seolah ia mampu memberi seisi dunia hanya untuk membuat Chanyeol dapat bahagia. Suci dan putih perasaan Kris untuk Chanyeol kala ini.

Tetapi melihat keadaan sekarang, Kris tak pernah lagi membuat Chanyeol bahagia. Ia selalu memaksa dan menahan lelaki itu untuk tinggal di sisinya yang mana membuat lelaki itu sangat tersiksa. Kris menjadi terlalu serakah atas cintanya. Berpikir bahwa ia seharusnya mendapat balasan yang setimpal atas apa yang selama ini ia berikan.

"Apa Tuan tahu hal bahagia apa yang Tuan Chanyeol inginkan saat ini? Saya yakin tak mungkin anda tidak mengetahuinya."

Sehun menatap kembali wajah Kris di sampingnya. Ia melihat begitu banyak emosi yang bersembunyi di iris mata pria itu saat mendengar setiap rentetan ucapannya. Sepertinya apa yang Sehun katakan memberikan efek pada kerja otak pria itu.

Kris terdiam sangat lama. Tatapan pria itu kosong saat matanya beralih menatap Chanyeol. Perasaan bersalah semakin menjalarinya. Bayangan kenangan masa lalu yang membuat sang adik tersenyum dan tertawa mulai mengisi setiap ruang di pikirannya. Hatinya menghangat menemukan hal itu pada Chanyeol. Betapa damai perasaannya saat itu dapat melihat Chanyeol bahagia. Ia merindukannya.

"Saat ini sungguhkah yang anda rasakan untuknya adalah cinta?" Tanya Sehun kembali mencoba meyakinkan Kris.

"Jika memang benar itu masih cinta seperti bagaimana dulu, bisakah anda membiarkan dia bahagia sekali lagi?"

Iris mata Kris bergetar kebingungan menatap Chanyeol yang masih setia terpejam. Ia tak tahu apa yang salah dengan dirinya namun mendengar semua ucapan Sehun seolah membuka sebuah ruang di hatinya.

Hal yang paling sulit dalam mencintai adalah berkorban. Itu adalah hal paling berat yang tak sanggup banyak orang lakukan ketika pengorbanan tersebut harus melukai dirinya sendiri untuk membahagiakan yang tercinta. Kris selalu berjanji pada dirinya untuk mengorbankan apa yang ia bisa untuk lelaki itu, namun ia tak akan pernah mengira bahwa salah satunya adalah melepaskan lelaki itu dari rantai cintanya.

Sehun menghela napas dan mengulum senyumnya saat tak mendapati jawaban apapun. Kris masih membisu.

Sehun memutar tubuhnya untuk berjalan keluar dari kamar dan memberi perintah kepada pelayan serta pengawal yang masih ada di ruangan untuk segera keluar dengannya meninggalkan Kris sendirian bersama Chanyeol. Sehun yakin Kris membutuhkan waktu berdua saja dengan sang adik.

"Jika kau benar-benar mencintaiku, lepaskan aku. Biarkan aku bahagia.."

Sudah cukup lama Kris menahan Chanyeol. Bertahun-tahun ia memaksa lelaki itu untuk berada di sisinya namun tak ada yang bisa Kris lakukan untuk membuat Chanyeol mencintainya. Lelaki itu tak memiliki rasa yang sama untuknya. Chanyeol bahkan tak pernah tersenyum saat bersamanya. Tak peduli seberapa keras Kris berusaha, ia tak bisa memberi kebahagiaan yang Chanyeol inginkan.

Kris mengepalkan tangannya.

Apa melepaskan adalah satu-satunya cara untuk membuat Chanyeol bahagia? Apa merelakan lelaki itu adalah apa yang bisa membuat Chanyeol tersenyum?

Kedua lutut Kris mendarat perlahan di lantai dengan jemarinya yang menggenggam erat tangan Chanyeol. Ia menundukan kepalanya dalam-dalam dan memohon dalam hati agar lelaki itu membuka matanya. Chanyeol harus bangun dan mengajaknya berkelahi dengan gila seperti sebelumnya atau memakinya dengan semua kata-kata kasar. Ia tidak bisa memberikan siksaan kepada Kris dengan cara seperti ini.

Kris takut. Ia takut kehilangan Chanyeol melebihi apapun.

"Aku mencintaimu, Park Chanyeol." Akunya dengan tatapan yang melembut dan berubah sendu. Iris matanya berkaca-kaca menatap jemari sang adik dan ia tak bisa menyembunyikan lagi seluruh perasaan sedihnya.

"Apa hanya itu yang bisa membuatmu bahagia?" Bisik pria itu dengan suara serak yang hampir menghilang. Akhirnya air mata berhasil jatuh meleleh di pipi Kris bersama tetesan cintanya yang mengucur tanpa bisa dihentikan.

Kris tak bisa rela. Kris sungguh tak ingin. Namun jika itu satu-satunya cara untuk menunjukan pada Chanyeol betapa ia sangat mencintainya, maka ia akan melepas Chanyeol. Ia akan membuatnya bahagia lagi.

"Aku akan mengabulkannya jika itu bisa membuatmu bangun, Chanyeol."

"Jika kau sungguh mencintaiku.. jangan pernah membuatku kecewa lagi padamu."

Kris meremas jemari Chanyeol dengan perasaan yang hancur lebur dan retakan hatinya yang berbunyi amat keras. Ia tak pernah selemah ini. Kris tak pernah merasa begitu tak berdaya akan sesuatu seperti detik ini. Bagaimana mungkin semudah itu untuk Kris melepas Chanyeol?

"Aku sangat membencimu karena membuatku melakukan semua ini. Jadi seharusnya kau bangun, Richard.." Napasnya memendek. Kris menahan mati-matian air mata untuk tidak kembali jatuh dengan sangat memalukan. Sejatinya ia tepat bersikeras dirinya bukan sosok yang lemah.

"Bangunlah dan katakan padaku. Katakan dengan jelas apa yang bisa membuatmu bahagia."

Kris setuju menganggap dirinya adalah monster tak berperasaan. Kris adalah seburuk-buruknya manusia. Namun jauh di dalam sudut hatinya, Kris tetaplah sosok naif yang masih ingin menjadi sosok yang Chanyeol banggakan. Sisi itu tak pernah hilang dari dirinya bahwa ia ingin melakukan semua yang Chanyeol minta.

"Kau harus bangun supaya aku dapat mengerti. Beritahu aku, Richard."

Rasa cinta Kris akhirnya kembali menemukan keinginan untuk melihat Chanyeol bahagia.

Sekarang biarkan Kris mengabulkannya lagi. Biarkan dirinya menjadi sosok itu lagi. Semua yang Chanyeol inginkan akan Kris capai untuk lelaki itu meski itu artinya ia harus siap terluka. Tidak ada yang tidak bisa Kris lakukan di dunia ini. Ia bisa memberi seisi alam jika itu yang Chanyeol inginkan.

Karena ia adalah pahlawan Chanyeol.

Karena ia adalah kakaknya.


Jongdae yang sedari tadi mencari keberadaan Baekhyun akhirnya berjalan ke arah dapur saat mendapati siluet punggung lelaki itu tengah sibuk mencuci piring dalam keheningan.

"Baekhyun." Panggilnya.

Yang dipanggil menoleh sekilas dan kembali melanjutkan kegiatannya menyabuni piring kotor dengan spons. "Ada apa, Jongdae-ah?"

"Bisa kita bicara sebentar?"

Baekhyun terdiam sejenak. Pikirnya, tak biasanya Jongdae mengajak dirinya bicara dengan cara yang seserius itu. Hal tersebut membuat Baekhyun menoleh kembali untuk menganggukan kepalanya. Mendadak ia jadi sedikit gugup karena Jongdae menunjukan raut wajah serius yang sangat berbeda.

"Aku akan menyelesaikan ini terlebih dulu."

"Baiklah. Aku akan menunggu di ruang makan." Sahut Jongdae seraya melangkah pergi.

Baekhyun memandang kepergiannya dengan tanda tanya sebelum kembali membersihkan piring kotor dan menyelesaikannya beberapa menit kemudian.

Lelaki itu berjalan menuju ruang makan di mana Jongdae tengah duduk di salah satu kursi menunggu kedatangannya. Baekhyun langsung mengambil tempat di hadapan lelaki tersebut.

"Ada apa?" Tanyanya penasaran seraya mendudukan dirinya.

Suasana menjadi sunyi untuk beberapa saat dan Baekhyun bisa merasakan perubahan atmosfir di sekitar mereka. Jongdae menatap Baekhyun dengan jemari yang bertautan di atas meja. Lelaki itu menghela napasnya kemudian membuka suara,

"Baekhyun, apa kau mau pindah ke Jepang?"

Pertanyaan itu cukup mengejutkan Baekhyun. Lelaki mungil tersebut membelalakan matanya tak menduga pertanyaan tiba-tiba yang Jongdae ajukan untuknya. Ia mengangkat alisnya meminta penjelasan lebih lanjut.

"Apa maksudmu, Jongdae-ah?"

"Aku sudah memikirkannya, Baek. Setelah mendengar ceritamu hari itu aku terus memikirkan cara terbaik yang bisa membuatmu merasa nyaman." Ucap Jongdae dengan nada suara yang sangat lembut.

Semua kegilaan tentang Keluarga Park yang selama ini hanya dikira rumor tak beralasan bagi masyarakat nyatanya sungguh mampu menghancurkan kehidupan seseorang. Jongdae tak bisa membiarkan Baekhyun terlibat lebih jauh dengan orang-orang kaya tersebut. Jongdae sangat khawatir dengan keselamatan temannya itu.

"Dan kurasa cara terbaik adalah meninggalkan negara ini." Lanjut Jongdae dengan mantap.

Baekhyun yang mendengar penuturan itu hanya dapat terdiam. Semua ini terlalu tiba-tiba untuknya hingga ia tak dapat berpikir apapun dalam kepalanya. Tatapannya menerawang jauh pada segala pemikiran yang acak. Begitu banyak hal yang hinggap di kepalanya secara mendadak.

"Bukankah kau sudah muak dengan negara ini? Jika kau pindah ke Jepang, kau bisa melupakan semuanya dan memulai hidup baru. Kau akan terlepas dan bebas, Baekhyun."

Terlepas dan bebas. Itu adalah hal yang paling Baekhyun inginkan setelah apa yang sudah ia lalui sejauh ini. Baekhyun sangat ingin pergi meninggalkan semua rasa sakit yang memberatkan hatinya. Menjauh dari apa yang menyiksa batinnya. Tetapi meninggalkan negara kelahirannya adalah hal yang tak pernah Baekhyun bayangkan.

"Tidakkah kau ingin bahagia?" Pertanyaan Jongdae membuat Baekhyun mengangkat kepalanya membalas tatapan lelaki itu dengan raut bingung.

"A-Aku.."

Jongdae terdiam menunggu apa yang akan Baekhyun katakan, namun yang ia lihat adalah keraguan di mata Baekhyun. Tatapan lelaki itu bergetar dan ekspresinya linglung. Baekhyun kebingungan untuk memberikan jawaban dan Jongdae menyadari bahwa ada sesuatu yang menahan lelaki tersebut.

"Kau tidak perlu mengkhawatirkan apapun, Baek. Aku akan mengurus segalanya dan yang kubutuhkan untuk itu adalah persetujuanmu. Jadi, maukah kau tinggal bersama Nara di Jepang?"

Meski Jongdae hanyalah seorang karyawan di sebuah perusahaan kecil, ia memiliki cukup tabungan untuk mengurus semua keperluan yang dibutuhkan Baekhyun untuk pindah negara dan merubah kewarganegaraannya. Baekhyun adalah satu-satunya sahabat yang ia miliki dan ia sayangi. Jongdae tak bisa dengn teganya membiarkan Baekhyun harus menjalani kehidupan di Korea dengan perasaan tersiksa setiap hari.

Itu adalah penawaran yang bagus. Seharusnya Baekhyun tak perlu berpikir dua kali untuk mengiyakannya. Namun beberapa detik telah berlalu, dan Baekhyun tak kunjung memberikan jawaban. Lelaki itu memandang bola mata Jongdae bergantian dengan mulut yang terbuka dan tertutup kembali tanpa ada suara yang keluar.

Kini Jongdae semakin yakin bahwa ada sesuatu yang menahan Baekhyun. Sesuatu yang rumit yang mungkin tak bisa Jongdae bantu selesaikan. Jongdae menarik senyumannya. Sedikitnya ia mendapatkan jawaban yang sebenarnya lebih ia perlukan dibanding perihal tinggal di Jepang.

"Apa yang menahanmu, Baek?" Tanyanya pelan tanpa ingin menghakimi.

Baekhyun menundukan kepala dan meremas celananya. Ia sendiri tak mengerti ada apa dengan dirinya namun sesuatu memberatkan hatinya seakan tak ingin dirinya meninggalkan Korea. Ada perasaan tak rela yang muncul.

"Aku.. tidak tahu, Jongdae." Keluh Baekhyun. Lelaki itu mengusap wajahnya dengan kasar. "Aku sungguh tidak tahu."

Baekhyun ingin pergi, tentu saja. Tak bisa dibayangkan betapa Baekhyun menginginkan hal itu terjadi. Namun sesuatu yang tak kasat mata mencoba menahannya mengucapkan kata 'iya'.

Jongdae sudah tahu tanpa perlu diberitahu. Beberapa bulan tinggal bersama dengan Baekhyun sudah cukup baginya untuk melihat bahwa Baekhyun sangat mencintai salah satu bagian dari Keluarga Park. Sejujurnya Jongdae tentu tidak setuju, namun apa yang bisa ia lakukan jika bahkan Baekhyun sendiri tak dapat menghapus rasa cintanya? Cinta adalah hal paling rumit yang tak bisa dipikirkan secara logis.

Jongdae memang mengkhawatirkan lelaki itu, namun kebahagiaannya akan selalu menjadi prioritas utama. Jongdae tak bisa membantu banyak. Yang bisa ia lakukan hanyalah mengajukan penawaran ini dan membiarkan Baekhyun berpikir tentang perasaannya sendiri. Apapun pilihan Baekhyun, Jongdae tak akan kecewa selama Baekhyun bahagia.

"Mungkin kau bisa membohongi dirimu sendiri, tapi perasaanmu akan selalu mengatakan yang sebenarnya, Baek."

Bola mata Baekhyun bergerak gelisah. Ia ingin menyanggah namun semua tertahan di ujung lidahnya. "Aku.."

Jongdae bangkit dari duduknya dengan senyuman yang masih terpatri di wajahnya. "Aku akan memberimu waktu berpikir."

Ia berjalan mendekati Baekhyun dan menepuk singkat pundak sempit lelaki itu membuat si mungil mendongak dengan tatapan sendu.

"Ketika kau sudah menemukan jawabannya, tolong berikan aku jawaban yang sejujurnya."

Tapi untuk itu dapat terjadi, Baekhyun harus menata hatinya lebih dulu.


Sehun menyipitkan mata ketika sinar matahari pagi menyorot dirinya yang berjalan santai dengan setelan jas memasuki area mini market. Ini adalah pertama kalinya untuk Sehun bepergian seorang diri saat keluar dari rumah. Hebatnya ia dengan mudah diberi ijin secara sukarela dan tanpa adanya pengawasan yang seharusnya memang tak perlu lelaki itu dapatkan.

Lelaki tampan tersebut mendorong pintu dan masuk ke dalam sebuah market.

"Selamat dataㅡ"

Sambutan itu terhenti ketika sang kasir bertatap mata dengan Sehun. Sosok lelaki mungil bermata sipit berdiri di meja kasir dengan tegang dan gugup ketika mendapati adanya kehadiran Sehun.

"Baekhyun." Sapa Sehun dengan ramah.

Baekhyun meremas jemarinya sendiri. Jantungnya berdetak cepat. Ia tak menyangka akan kehadiran pengawal itu di tempat kerjanya. "Apa yang kau lakukan di sini, Sehun?" Tanyanya dengan nada terkejut.

Mata Sehun sekilas mengitari isi toko sebelum kembali menatap ke arah Baekhyun tanpa basa-basi. "Bisakah kita bicara sebentar? Sepertinya sedang tidak ada pengunjung saat ini."

Baekhyun mengerutkan dahinya dengan sikap yang sedikit defensif. "Apa yang ingin kau bicarakan denganku, Sehun?"

"Sebentar saja, Baek. Aku berjanji tidak akan lama. Biarkan aku tahu kabarmu."

Bola mata Baekhyun bergerak gelisah saat menatap Sehun yang tengah memohon padanya. Lelaki itu berpikir sejenak sebelum mendesah pelan kemudian mengangguk kecil sebagai persetujuan.

Mereka akhirnya memutuskan untuk duduk di meja payung yang ada di luar mini market. Dua botol kopi tersaji di atas meja menemani mereka.

"Bagaimana kabarmu?" Tanya Sehun memecah keheningan seraya membuka tutup botol.

"Aku baik. Seperti yang kau lihat, sekarang aku bekerja paruh waktu di tempat ini." Jawab Baekhyun seraya menghela napas kecil. "Hm.. Bagaimana denganmu, Sehun?"

"Baik. Aku masih menjadi pengawal Keluarga Park."

Sudah dua bulan sejak mereka terakhir bertemu membuat Sehun tanpa sadar memperhatikan hal-hal kecil yang berubah dari lelaki tersebut dan ia tak bisa menahan senyumnya melihat bahwa keadaan Baekhyun tak beda jauh dengan Chanyeol. Mereka sama-sama kacau. Jelas sekali mereka memang sangat mencintai dan sama-sama tersiksa dengan kenyataan pahit yang harus mereka terima.

Baekhyun menganggukan kepalanya singkat dengan tangan yang memegang botol tanpa berniat meminumnya. "Lalu apa yang sedang kau lakukan di sini?"

"Menemuimu."

Baekhyun memandangnya penuh tanda tanya. Ia mengerutkan dahinya. Menemuinya? Kenapa? "Apa tidak apa-apa kau pergi tanpa pengawasan seperti ini?"

Sehun menenggak minumannya. "Bukankah sudah pernah kubilang bahwa aku bebas kemanapun?" Tanyanya diiringi dengan tawa pelan.

Baekhyun menganggukan kepalanya dan ikut tertawa kecil ketika teringat bahwa Sehun memang memiliki kebebasan seperti itu. Pengawal itu memang berbeda dengan anggota rumah yang lain.

Suasana menjadi sunyi sejenak. Semilir angin menerpa rambut kedua lelaki itu dengan kicauan burung yang sesekali terdengar menginterupsi.

Sehun menaruh minumannya dan menghembuskan napasnya dengan nada frustasi. Tatapan lelaki itu mulai sedikit berubah. "Sebenarnya keadaan rumah sangat kacau saat ini."

Baekhyun tersentak mendengar hal itu. Ia menatap Sehun dengan tangan yang mengepal erat. Tubuhnya terasa mendidih. Tiba-tiba Baekhyun merasa sangat marah. Wajahnya memerah. Apa ini alasan Sehun mendadak menemuinya?

"Itu bukan menjadi urusanku lagi, Sehun." Ujarnya dengan nada tak suka. Lelaki itu mengalihkan tatapannya ke arah lain dengan rahang yang mengeras. "Aku tidak ingin membahas apapun yang bersangkutan dengan lelaki itu."

Sehun melihat jelas bagaimana Baekhyun sangat menghindari segala yang bersangkutan dengan Chanyeol. Baekhyun sudah banyak berubah. Entah waktu yang merubahnya atau luka yang melakukannya.

Sehun menghela napasnya lagi. Ia mengutuk bagaimana bisa dirinya harus repot-repot melibatkan diri pada cinta segitiga tuan rumahnya dengan harapan ingin membuat keadaan menjadi normal.

"Maaf mengecewakanmu, Baek. Tapi tujuanku menemuimu memang untuk membicarakan Tuan Chanyeol." Ucap Sehun.

Baekhyun mendelik tajam seraya meremas botol kopinya. Untuk tepatnya Baekhyun tak mengerti mengapa semua orang selalu mencoba membuat dirinya kembali pada lelaki pembunuh itu. Baekhyun tak menyukai saat semua orang nampak membela Chanyeol sementara seharusnya lelaki itu menerima hukuman berat. Semua orang seperti berada di pihak Chanyeol.

Baekhyun menggebrak mejanya saat ia berdiri dengan penuh emosi.

"Apa..? Apalagi yang ingin kalian katakan padaku? Itu tetap tidak merubah fakta apapun bahwa ia adalah pembunuh kedua orangtuaku!"

Mata Baekhyun terlihat berkaca-kaca. Ia merasa sangat marah, dan ingin menangis. Ia hanya ingin melupakan Chanyeol dan segalanya namun semua orang seolah mempersulit hal itu terjadi. Baekhyun hanya ingin menyingkirkan semua tentang Chanyeol dari pikiran dan hatinya. Baekhyun ingin berhenti mencintai lelaki itu. Ia ingin bebas.

"Aku hanya ingin mengakhiri semua ini." Lirih Baekhyun dengan tatapan sendunya. "Aku lelah.."

Sehun memejamkan matanya sejenak. Ia jelas tahu perasaan Baekhyun. Sehun mengerti karena ia pernah merasakan berada di posisi Baekhyun saat ini, menjadi korban dari pembunuhan tak adil.

"Aku ada di sana, Baek."

Baekhyun menatap Sehun dengan dada yang naik turun. Mulutnya terkunci menunggu Sehun melanjutkan ucapannya.

"Sepuluh tahun yang lalu.. aku ada di sana menyaksikannya." Aku Sehun.

Baekhyun membulatkan matanya. Bibirnya kelu. Ia menatap Sehun dengan ekspresi yang tak percaya.

.

.

.

Sehun menundukan kepalanya dengan bosan dan menatap mangkuk ramyunnya yang telah kosong. Di sampingnya ada sang ayah yang tengah terlibat perbincangan seru dengan rekan kerjanya membahas seputar pekerjaan yang tak Sehun mengerti.

Ia menghela napas kecil. Seharusnya Sehun sudah menduga bahwa acara ini tidak akan berjalan seperti yang ia harapkan karena sang ayah terlalu sibuk dengan teman-temannya hingga mengabaikan keberadaan dirinya. Sejak siang mereka telah disibukan dengan proyek-proyek, dan setelah mereka memutuskan makan malam pun Sehun masih belum juga mendapatkan jatah berbicara. Tidak ada perbincangan santai antara ayah dan anak. Sehun merasa dirinya hanyalah patung berjalan yang kebetulan dibawa mengikuti para pria dewasa.

Rintik salju putih turun dengan perlahan-lahan. Sehun mengadahkan tangannya menampung salju yang berjatuhan dengan wajah tanpa ekspresi. Ia menoleh sekilas ke dalam restaurant di mana para pria paruh baya masih dalam obrolan panjangnya dan ia menghela napas sedih. Kali ini pun, Sehun tak memiliki banyak waktu bersama sang ayah.

"Hei, apa yang kau lakukan?"

Sehun menoleh ke arah lain saat mendengar suara orang berbicara dari arah kanannya. Lelaki itu berjalan pelan dan berbelok pada sebuah jalanan yang tampak sepi. Ia mengintip dari balik tembok dengan sebelah matanya ketika melihat ada beberapa orang di sana yang terlihat sangat mencurigakan.

Sehun menutup mulutnya dengan mata sedikit membelalak saat pandangannya menemukan seorang lelaki dalam kondisi berlumuran darah. Lelaki itu tengah bercekcok dengan seorang pria paruh baya.

"Kubilang lepaskan!"

"Yeobo!"

Tubuh Sehun menegang ketakutan saat darah pekat mengalir dari perut pria tua itu setelah Chanyeol menikam pisaunya. Pria itu tumbang dengan erangan tersiksa.

Jantungnya berdegup cepat. Sehun memegang ujung mantelnya dengan rasa cemas, namun kakinya seolah tak bisa bergerak menjauh hingga ia hanya mampu berdiri menyaksikan itu semua sambil ketakutan.

Mata Sehun memperhatikan dengan gelisah Nyonya Byun yang tengah melindungi anaknya dari Chanyeol. Wanita itu sangat waspada setiap Chanyeol mengambil langkah mendekat dengan perlahan. Namun naasnya, tak lama wanita itu harus tergelincir kencang hingga tengkorak kepalanya retak dan darah merembes keluar. Darah yang lain pun terlihat mengalir dari paha wanita itu. Ia mengalami pendarahan hebat akibat benturan tersebut.

Chanyeol mendadak diam membeku untuk beberapa saat. Lelaki berlumuran darah itu tak bergerak dari posisinya dan hanya menatap sepasang suami istri tersebut dengan wajah linglung. Mendadak pandangannya berubah. Entah bagaimana bisa suami istri yang ia lihat kini tiba-tiba berubah menjadi sosok kedua orang tuanya yang terbaring di lantai ruang keluarga. Ingatan itu menyiksa pikiran Chanyeol.

Chanyeol meremas rambutnya dan menggeleng keras. "Ti-Tidak.." Bibirnya bergetar hebat. Napasnya memburu. Ia melepas pisaunya dan berlutut di hadapan kedua orang tersebut.

"E-Eomma.. Appa.." Chanyeol menangis sambil menggoyangkan pasangan suami istri itu. "Tidak.. Jangan.. Ti-Tidak.."

Chanyeol ketakutan. Melihat tubuh lemas itu membuatnya seperti tengah menyaksikan kembali kematian kedua orang tuanya. Chanyeol histeris. Ia tak ingin melihat kedua orang itu tergeletak lemah seperti orang tuanya. "Ba-Bangun..!"

Nyonya Byun terlihat sedikit menggerakan matanya dengan jemari yang susah payah terangkat mencoba meraih lengan Chanyeol. Mulutnya bergetar seperti ingin mengatakan sesuatu. Chanyeol yang menyaksikan itu lantas menangkap jemarinya. Ia kembali memikirkan sosok sang ibu yang tengah ada di hadapannya.

"Jangan mati. Tidak. Kau tidak boleh mati." Ucap Chanyeol panik.

"An..ak..ku.." Bisik Nyonya Byun tanpa suara dan setelahnya wanita itu memejamkan matanya perlahan dengan tubuh yang lemas hingga jemari itu lolos dari tangan Chanyeol. Jiwanya telah melayang pergi dari tubuhnya secepat itu.

Chanyeol melotot takut. Ia menggeleng dan berusaha menggoyangkan wanita itu lagi. "K-Kau harus bangun.." Racaunya.

Kematian kedua orang itu membuatnya mengingat kembali bagaimana orang tuanya harus kehilangan nyawa. Mereka seperti cerminan dari kedua orang tuanya.

Chanyeol menatap ngeri pada kedua tangannya dengan perasaan sangat kacau. Saat itu, ia tiba-tiba mengingat sosok kakak laki-lakinya sehingga membuatnya tersadar bahwa dirinya adalah monster seperti Kris.

Kris adalah Chanyeol. Chanyeol adalah Kris.

Chanyeol meremas dadanya sendiri yang terasa sangat sesak.

Sehun masih mematung di tempatnya berada. Bola matanya tak pernah lepas dari lelaki itu meski ia mulai bernapas tersendat-sendat karena rasa takutnya.

"Chanyeol!" Sebuah suara datang bersama kehadiran seorang wanita tua dengan anak perempuan tak sadarkan diri dalam gendongannya. Beberapa pengawal datang setelah wanita tua itu.

Chanyeol menoleh dengan raut sedihnya. "Halmeoni.." Adunya dengan nada suara yang lemah.

"Astaga." Pelayan Kim menatap syok melihat kedua mayat tergeletak. Ia beralih menatap ke sekeliling mencoba mengamankan situasi.

"Tuan Muda, ayo kita kembali." Ajak Nyonya Kim seraya meraih lengan Chanyeol namun Chanyeol tetap tak bergerak dari posisinya. Air mata masih mengalir dari pelupuk matanya.

"Aku tidak.. berniat membunuhnya.." Gumam Chanyeol frustasi. Membayangkan dirinya membunuh kedua orang itu membuatnya terlihat seperti Kris. Ia tak menyukainya. Untuk pertama kalinya ia tak ingin disamakan seperti Kris.

Nyonya Kim menatap dengan sendu. Wanita tua itu menggenggam erat lengan Chanyeol dan memaksa lelaki itu untuk berdiri. "Aku tahu, Chanyeol. Tenanglah. Kami akan membereskan ini." Ucap Nyonya Kim dengan suara yang lembut berusaha menenangkan.

"Apa yang kau lakukan di sini?"

Suara itu mengagetkan Sehun. Ia menoleh ke belakang dan melihat Ilnam, kerabat ayahnya tengah menatapnya bingung kemudian mengalihkan pandangannya pada sesuatu yang sedari tadi Sehun saksikan.

Mata Ilnam membelalak. "I-Itu.."

Sehun dan Ilnam terbungkam tanpa suara saat memperhatikan bagaimana Chanyeol yang dibawa pergi bersama Nyonya Kim sementara para pengawal terlihat mencoba menghilangkan barang bukti dan jejak-jejak Chanyeol maupun Kris di tempat itu.

"Kalian sedang apa?"

Suara itu membuat Sehun maupun Ilnam langsung menoleh ke belakang. Sang ayah dan Hanjoon, pamannya berjalan mendekat dengan penuh tanda tanya. Sehun bergerak gelisah sementara Ilnam nampak tenang dengan memberi gelengan pelan serta tawa kecil.

"Haha.. Bukan apa-apa. Ayo kita kembali." Ajak Ilnam seraya merangkul kedua sahabatnya itu dan mengajaknya pergi dari sana. Sekilas Ilnam nampak memberi isyarat kepada Sehun untuk menutup mulut.

Sehun hanya menundukan wajahnya dengan gemetar tangannya yang tak bisa ditutupi. Apa yang ia lihat sebelumnya memberi serangan panik padanya. Bola mata Sehun bergerak dengan sangat cemas.

"Ayo, Sehun. Kau tidak ingin ikut?"


"Kabar mengejutkan datang dari keluarga konglomerat terbesar sekaligus CEO dari 'Park Corp' yang pagi ini dikabarkan meninggal dunia bersama istri dan anak perempuannya. Saat ini polisi masih menyimpulkan bahwa kasus ini merupakan kasus perampokan dengan adanya bukti pembobolan danㅡ"

"Tak jauh dari kediaman Keluarga Park, secara mengejutkan dua orang pejalan kaki ikut ditemukan tewasㅡ"

"Polisi masih terus menyelidiki dan membuka segala kemungkinan jika kasus ini bisa menjadi pembunuhan berencanaㅡ"

"Ditemukannya saksi mata dari kematian Keluarga Park memberi pernyataan mengejutkan yang bertentangan dengan kesimpulan polisiㅡ"

"Saksi?"

Kris tertawa pelan dan membuka mata tajamnya. Tubuhnya yang sedari tadi bersandar pada sandaran kursi di ruang kerja milik ayahnya itu berdiri tegap menatap para pengawal yang berbaris di hadapannya.

Kris mematikan layar televisi sejenak dan kembali menghadap bawahannya dengan angkuh. Menghantarkan aura panas seperti neraka di sekeliling ruangan yang mencekam.

"Aku menyuruh kalian membereskan semua." Geram Kris. Urat nadi terlihat samar di pelipisnya dengan tangan yang mengepal kuat, menjelaskan betapa marah dirinya sekarang. "Dan ini yang kalian sebut sudah beres?"

Kris menggebrak mejanya dengan penuh amarah.

"APA KALIAN BODOH?! SAKSI?! AKU BAHKAN BARU TAHU JIKA ADA SAKSI MATA SAAT KEJADIAN ITU!" Amuk Kris.

Kris tak percaya jika ia melewatkan hal penting dari insiden tersebut. Kris sudah bersusah payah untuk mengarang kejadian itu menjadi kasus perampokan disertai bukti-bukti hasil rekayasa. Secara matang ia telah mempersiapkan segalanya namun dengan adanya pernyataan konyol dari saksi yang muncul entah darimana membuat goyah perencanaannya.

Para pengawal menunduk dengan tubuh yang gemetar ketakutan. Tuan rumah mereka yang baru terlihat sangat menyeramkan. Bayang-bayang kejadian beberapa hari lalu yang lelaki itu lakukan masih tetap menghantui mereka. Mereka tak ingin mati di tangan lelaki tersebut.

Kris melempar kencang asbak yang ada di meja ke arah kepala salah satu pengawal hingga sosok itu jatuh dengan darah yang mengalir dari kepalanya. Pengawal lain menahan napas mereka.

"BODOH! BODOH! KALIAN SEMUA SAMPAH!"

Kris mengerang marah dengan kedua dada naik turun ketika ia menumpukan kedua tangannya di meja. Lelaki itu memejamkan mata sejenak seraya menelan salivanya. Mencoba untuk bisa mengontrol emosi yang meluap-luap bagai air terjun.

"Bereskan semua tanpa tersisa. Cari tahu siapa saksi mata itu dan berikan padaku informasi tentangnya hari ini juga!"

"B-Baik, Tuan."

Pengawal-pengawal itu membungkuk hormat secara serentak.

"Dimana Richard?"

"T-Tuan muda masih berada di rumah duka, Tuan."

Kris menghela napas dan menyisir rambunya ke belakang. "Bawa dia pulang. Tak ada yang boleh melihat keberadaannya."

"Baik, Tuan."

Setelah para pengawal berjas hitam keluar seluruhnya dari ruangan, Kris kembali mendudukan dirinya di kursi dengan napas yang mulai teratur. Ia menggertakan giginya seraya mengepalkan tangannya.

"Aku akan melindungimu, Richard."


"Saya menyaksikan langsung saat putranya membunuh para pejalan kaki itu. Saya sangat yakin putranya juga yang telah membunuh keluarganya sendiri.."

Sehun langsung mematikan televisi dan mengusap wajahnya kasar. Ia memeluk dirinya dengan ketakutan. Suara itu.. suara orang yang telah memberi kesaksian itu adalah suara teman ayahnya, Jung Ilnam. Sehun sangat yakin. Meskipun wajahnya tak ditampilkan di televisi, namun ia bisa mengenali suaranya dengan jelas.

Sehun tak tahu apa alasan Ilnam untuk mengatakannya ke media sementara ketika di hari kejadian pria tersebut bahkan seolah tak ingin melaporkan kejadian tersebut kepada siapapun termasuk menelpon polisi.

Ketukan di pintu rumah membuat Sehun tersentak dan bangkit perlahan kemudian berjalan menuju pintu utama dengan langkah gontai.

Seorang lelaki tampan berdiri menatapnya dengan senyuman hangat di depan pintu.

"Hai, perkenalkan aku Kris Park." Sapanya ramah.

Sehun memandang bingung dan memberi hormat singkat. "A-Ada perlu apa?" Gugupnya. Kepalanya mencoba mengingat-ingat siapa sosok yang ada di hadapannya yang terasa sedikit familiar.

Kris tersenyum miring dengan pandangan yang tak sopan melirik ke dalam rumah dari celah pintu di antara Sehun dan mendapati betapa sunyinya rumah tersebut.

"Bisakah aku menemui ayahmu? Aku ada sedikit urusan dengannya."

Sehun memandang dengan ekspresi bertanya-tanya namun tak menaruh rasa curiga sedikitpun. "Appa sedang ke luar kota saat ini. Ada yang bisa saya bantu?" Tanyanya.

Kris sontak terdiam. Ia menelisik penampilan Sehun kemudian mengangguk pelan dan menepuk singkat bahu lelaki itu. Ia bergumam singkat. "Baiklah. Sepertinya aku bisa menemuinya dengan cara lain."

Sehun mengerutkan dahinya. "Ya?"

"Ah, bukan apa-apa. Sampai jumpa, Oh Sehun." Kris tersenyum kembali dengan wajah yang menyeramkan kemudian melambaikan tangannya saat melangkah pergi.

Sehun hanya bisa memandang kosong dan kembali menutup pintu rumahnya meski dipenuhi banyak tanda tanya dalam benaknya.

Hari itu, Sehun tak menyadari bahwa lelaki yang mendatanginya merupakan keluarga dari Park si konglomerat dan kedatangan Kris tiba-tiba mencari ayahnya adalah untuk menyingkirkan saksi mata.

Sayangnya, Kris salah orang. Ia justru membunuh Tuan Oh yang bukanlah saksi dari kejadian tersebut. Ia salah langkah. Karena sesungguhnya yang memberi kesaksian adalah Ilnam, lawan bisnisnya yang licik.

Setelah hari itu, sebagai gantinya, Kris membiarkan Sehun tinggal di rumahnya. Tidak, ia tidak merasa bersalah. Alasan sesungguhnya ia menahan Sehun di rumahnya karena lelaki itu adalah saksi mata sesungguhnya.


Chanyeol memberontak di antara pegangan para pengawal yang mencengkram lengannya. Lelaki itu mengamuk penuh marah ketika tanpa alasan yang jelas ia dibawa paksa dari taman menuju rumahnya seperti seorang pendosa.

Kris hanya menatapnya tanpa suara. Tak sedikitpun berniat menolong lelaki itu.

"Kris.." Geram Chanyeol.

Chanyeol mulai membenci lelaki itu setelah apa yang terjadi pada kedua orangtua dan kakak perempuannya. Yang paling membuat Chanyeol membencinya adalah Kris tak sekalipun menginjak rumah duka dan menyembunyikan dirinya dengan baik di dalam rumah. Lelaki itu tak pantas ia anggap sebagai kakak. Lelaki itu harusnya di penjara atau mati mungkin akan lebih baik.

"Maafkan aku, Richard."

Kris mengedikan kepalanya yang langsung diangguki oleh para pengawal untuk membawa Chanyeol ke kamarnya dan menjatuhkan lelaki itu di lantai dengan debuman suara yang timbul. Setelahnya mereka bergegas menutup pintu dan menguncinya dari luar.

"SIALAN! APA YANG KAU LAKUKAN?! BUKA PINTUNYA!" Amuk Chanyeol dengan gedoran pintu yang memekakan telinga.

"WU YIFAN, AKU BILANG BUKA PINTUNYA!"

Kris menghela napas tenang seolah suara itu tak bisa mengganggunya sama sekali dan menyuruh semua orang yang ada di sana untuk meninggalkan mereka berdua saja, sehingga siapapun lantas pergi secepat yang mereka bisa tanpa ingin berlama-lama dengan sang psikopat. Lelaki itu kemudian menatap sendu kepada pintu yang bergetar akibat pukulan tangan Chanyeol.

"KUBILANG BUKA, BRENGSEK!"

Kris menulikan telinganya. Meski ia tak ingin melakukan ini, ia tetap tak akan membuka pintunya karena ia yakin hanya ini satu-satunya cara untuk melindungi Chanyeol. Kris telah membuat semua orang percaya bahwa hari ini Chanyeol telah berangkat ke Amerika untuk studinya. Kris hanya tak ingin ada seorangpun yang bisa menyelidiki sang adik atau membawa lelaki itu dari sisinya.

"Maafkan aku, Richard."

"Maaf kau bilang?! Seharusnya kau katakan itu kepada mayat orangtuamu, bajingan!"

"Selama ini kita sudah saling mengerti satu sama lain," Ucap Kris dengan tenang. "Tapi kurasa yang satu ini, kau terlalu muda untuk mengerti."

Sunyi untuk sesaat sebelum terdengar suara keras Chanyeol tertawa di balik pintu. Lelaki itu menutup wajahnya tak bisa menahan tawa pada kata-kata konyol yang kakaknya katakan. Chanyeol sungguh tak bisa menahan betapa lucunya lelaki itu. Setelahnya, lelaki itu berhenti. Ia menggertakan giginya terbakar amarah.

"Apa yang harus kumengerti dari pembunuhan itu, sialan?!" Suara Chanyeol berubah tajam. Lelaki itu menatap pintu kamarnya seakan bisa menembus tebal kayu pintu untuk menatap sosok kakaknya. Dadanya naik turun. Chanyeol harap ia bisa mencekik Kris sampai mati.

"Sesuatu yang akan membuatmu menyadariku."

Ya, bahwa pembunuhan itu terjadi karena Kris berusaha melindungi hubungan mereka berdua. Kris tak akan melepas Chanyeol dan Chanyeol tak boleh pergi darinya. Itu yang Kris sebut cinta.

Karena yang Kris percaya di hari itu, suatu saat Chanyeol akan menyadari betapa besar rasa cinta Kris untuknya.

"Apa maksudmu, sialan?!"

Kris tersenyum dan mengusap pintu yang menghalangi mereka. Mencoba menyalurkan cintanya lewat sentuhan tak kasat mata itu.

"Kau akan mengerti suatu saat nanti, Richard. Untuk saat ini, bertahanlah di dalam sana."

.

.

.

"Aku tak akan membelanya di hadapanmu, Baekhyun."

Baekhyun yang telah duduk kembali di hadapan Sehun mengepalkan tangannya meremas celana yang ia kenakan. Hatinya begitu sesak mendengar cerita Sehun tentang hari itu yang selama ini tak Baekhyun ketahui. Napasnya bergerak tak teratur dengan mata yang berkaca-kaca pada kenyataan bahwa Chanyeol tak sepenuhnya ingin membunuh kedua orangtuanya karena rasa ingin membunuh yang gila.

"10 tahun kurasa sudah cukup untuk menghukumnya." Lanjut Sehun. Lelaki itu menatap bagaimana Baekhyun semakin bersedih hati setelah mendengar cerita panjangnya. "Berada di kamar itu untuk 10 tahun tak ada bedanya dengan penjara, bahkan jauh lebih buruk dari penjara sesungguhnya. Ia sudah mendapat ganjarannya jika itu yang kau inginkan, Baek."

Baekhyun belum mau membuka suaranya. Lelaki itu menutup wajahnya dengan kedua tangan dan berharap pikirannya bisa berjalan normal namun semua telah mengacaukan kerja otaknya. Baekhyun tak mampu memikirkan apapun saat ini.

Sehun menghela napas ikut bersedih. Kedua alisnya turun. "Aku mengerti apa yang kau rasakan saat ini karena ayahku pun meninggal secara tidak adil. Aku pun sama sepertimu yang tidak pernah berpikir bahwa ayahku akan terbunuh di tangan seorang psikopat."

Sehun mengingat betapa menyiksa dan menggila dirinya kala itu. Kematian ayahnya yang mendadak memberi lubang besar di hatinya hingga membuatnya frustasi dan hampir berpikir bahwa ia ingin mengakhiri hidupnya. Saat itu, ia bahkan bertindak lebih liar dari apa yang Baekhyun lakukan sekarang.

"Tapi satu hal yang membuatku tetap bertahan sampai saat ini adalah, bahwa mereka yang masih hidup harus tetap melanjutkan hidupnya."

Baekhyun terisak sedih. Lelaki itu menatap Sehun dengan perasaan bercampur aduk. Ia hanya ingin menangis dan menangis. Baekhyun tak kuat menahan semua ini. Seberapa keras Baekhyun mencoba membuat dirinya terlihat baik-baik saja semua itu tak kunjung membantu perasaannya membaik.

"Kau dan aku tak bisa terus terjebak dalam masa lalu yang menyakitkan, Baek. Kau harus melanjutkan hidupmu."

Sehun benar. Namun saat ini Baekhyun bahkan tak mengerti lagi apa yang sesungguhnya ia inginkan setelah rasa benci di hatinya perlahan-lahan terhapus.

"Yang ingin kukatakan adalah, aku tidak memintamu memaafkannya." Sehun menggeleng pelan dengan senyuman tulus yang sedikit menenangkan hati resah Baekhyun. "Aku hanya memintamu.. untuk melihat ke dalam hatimu."

Bola mata Baekhyun bergetar memandang Sehun. Hatinya sangat perih dan ia sesak tak bisa bernapas.

"Pilihlah apa yang akan membuatmu bahagia. Kau harus lebih bahagia daripada Tuan Chanyeol."

Satu tetes jatuh sekali lagi menyentuh pipi mulus itu. Baekhyun mengusap air matanya dengan gemetar tubuhnya yang kentara. Tatapan matanya bergerak kesana-kemari mencoba mencari kata-kata yang ingin ia ucapkan.

Apa yang Baekhyun inginkan sekarang?

Apa yang sesungguhnya hati Baekhyun rasakan?

Baekhyun menelan salivanya dan menatap Sehun dengan segala pikiran yang berkecamuk. Mencoba mencari kalimat tepat yang bisa ia ucapkan selain isakan tangis namun ia tak bisa menemukan apa-apa. Baekhyun tahu ia kacau.

"Temukan jawabannya, Baekhyun."

"Apapun itu, temukan jawabannya. Meski kau harus melakukan pengampunan besar karena apa yang kau inginkan." Lanjut Sehun.

"S-Sehun, a-aku.."


Suara napas yang teratur memenuhi seisi ruangan. Jemari lelaki yang sedang terbaring di tempat tidur sedikit berkedut ketika kelopak matanya perlahan-lahan mulai terbuka dengan pandangan gelap dan buram yang menyambut.

Ia bernapas dengan tenang sambil menggerakan matanya menatap ke sekeliling ruangan tanpa cahaya selain dari arah jendela besar di mana sang rembulan sedikit mengintip dari sana.

Lelaki itu kembali memejamkan matanya sejenak sebelum membukanya lagi dan menatap ke arah tubuhnya yang merasa sangat nyeri sekaligus perih di bagian perutnya. Ia bertanya-tanya dalam hati sudah berapa lama ia tertidur seperti ini. Kemudian ia menoleh kepada seseorang yang tengah terlelap dalam posisi duduk di sisi ranjang sambil menggenggam tangannya.

Luka-luka terlihat memenuhi wajah seorang pria yang duduk di kursi sembari menemaninya dalam kesunyian. Pria itu tertidur cukup nyaman tanpa merasa terganggu dengan posisi yang mungkin akan membuat punggungnya sakit setelah pagi datang.

Chanyeol menatap Kris tanpa suara. Ia membiarkan waktunya terbuang untuk menikmati kebersamaan dengan sang kakak tanpa adanya keributan yang menyertai. Rasanya sangat asing namun juga damai mendapati keadaan seperti ini yang menyambut kesadarannya. Andai saja jika semua ini dapat bertahan lebih lama.

Tak lama Chanyeol mulai mengerjap lambat saat rasa kantuk kembali menghampirinya hingga ia membiarkan dirinya terbawa lagi ke alam mimpi yang berhari-hari tak ingin melepaskannya pergi. Mimpi di mana ia dan lelaki yang ia cintai hidup bersama selamanya dengan kebahagiaan yang mengelilingi mereka.

Chanyeol menghembuskan napas sangat tenang. Di waktu-waktu yang sulit dan melelahkan ini, mendadak ia merindukan Baekhyun. Sangat merindunya hingga ia bisa mati karena perasaan menyiksa itu.

'Baekhyun-ah..'


Angin dingin berhembus dengan lembut menerpa surai rambut milik Baekhyun dan Jongdae.

Kedua lelaki itu terdiam duduk di tangga teras depan rumah sambil menatap langit malam yang lagi-lagi tak dipenuhi bintang. Cahaya-cahaya indah itu seolah memilih bersembunyi takut dan meninggalkan sang bulan seorang diri dalam kesepian yang panjang.

Tak ada yang memulai percakapan sejak beberapa puluh menit lalu. Baik Baekhyun dan Jongdae sama-sama membiarkan keheningan malam menyelimuti mereka dengan pikiran masing-masing yang melayang-layang di udara. Hanya ada harapan yang terselip bahwa angin malam mampu menyejukan hati yang berat dan menyesakan dada.

Baekhyun menghela napas ringan dengan tatapan kosong. Kepalanya dipenuhi hal-hal berat yang tak bisa ia abaikan beberapa hari ini. Baekhyun mulai merasa dirinya seperti antara hidup dan mati. Ia tak tahu apakah ia sungguh-sungguh bernyawa saat ini. Ia merasa jiwanya telah mati di hari ketika ia meninggalkan Chanyeol.

"Jongdae.." Panggil Baekhyun dengan suara yang sangat pelan, hampir terdengar berbisik.

Jongdae balas menggumam. Lelaki itu tak mengalihkan pandangannya dari langit sedikitpun. "Kenapa, Baek?"

Suasana kembali diselimuti keheningan untuk beberapa detik sebelum suara Baekhyun terdengar.

"Menurutmu.. bagaimana tentang Chanyeol?"

Jongdae menoleh dan mendapati Baekhyun yang tengah memeluk kedua lututnya dengan tatapan sendu yang menatap ke tanah. Lagi-lagi lelaki itu berpikir terlalu keras di dalam kepalanya seorang diri.

Jongdae mengalihkan kembali pandangannya ke atas dan tampak berpikir. "Hm.. Aku tak pernah bertemu dengannya, jadi aku tak tahu dia orang yang seperti apa. Kurasa aku tak bisa memberi pendapat banyak." Jawab Jongdae.

"Tapi jika dia bisa membuatmu semerana ini saat jauh darinya, kurasa dia memperlakukanmu dengan sangat baik."

Baekhyun tercenung mendengar ucapan Jongdae selanjutnya. Tanpa disadari ia mengakuinya di dalam hati bahwa Chanyeol memang selalu memperlakukannya dengan baik. Lelaki itu seolah menjadi pelindungnya. Sudut hati Baekhyun kembali tersentuh.

"Katakan padaku, Baek. Apa yang paling membuatmu marah saat itu?" Tanya Jongdae lembut. "Fakta bahwa dia membunuh orangtuamu, atau dia pelakunya?"

Baekhyun memejamkan mata sejenak.

"..Mungkin keduanya. Aku tak tahu. Aku hanya.. kukira aku bisa mempercayainya."

"Kau berhak kecewa, Baekhyun. Itu bukan masalah yang kecil."

Baekhyun kembali menghela napas. Ia menggerakan matanya menatap dedaunan kering di tanah yang tertiup angin. Sejak pertemuannya dengan Sehun, kepalanya tak bisa berhenti memikirkan Chanyeol barang sejenak.

"Mengenai tawaranmu untuk tinggal di Jepang.." Baekhyun menoleh perlahan menatap Jongdae. "Apakah.. aku akan bahagia jika pindah ke sana?"

Jongdae tersenyum seraya menepuk singkat puncak kepala Baekhyun. "Mungkin akan sulit pada awalnya namun aku yakin kau akan hidup dengan baik di sana."

Ucapan Jongdae terdengar sangat meyakinkan. Lelaki itu membuat Baekhyun sungguh percaya jika meninggalkan Korea akan membuatnya terbebas dari semua rasa sakit ini. Ia mungkin sungguh akan hidup dengan nyaman dan tenang di sana.

Baekhyun mengerjap dengan lambat kemudian beralih menatap lurus ke depan. "Aku sudah memutuskannya." Ucapnya sungguh-sungguh.

Sorot mata Baekhyun terlihat begitu yakin dengan keputusan yang akan ia ambil.

"Benarkah?" Jongdae mengangkat kedua alisnya dengan penasaran sambil tersenyum hangat menanti apa yang akan keluar dari mulut Baekhyun. "Jadi.. apa jawabanmu?"

Baekhyun menghembuskan napasnya panjang.

"Akuㅡ"

.

.

.

.


{ To Be Continued }


7k words..

Aku mau ngasih tau kalo ff ini 2 chap lagi bakal tamat alias di chap 16. Happy ending/sad ending menurut kalian yang mana? Aku gamau spoiler. Jawabannya ada di chap depan wkwk

Kris emang jahat, tapi dia tetep seorang kakak. Serakah dan egois adalah hal yang wajar buat orang2. Disini aku ngebuat kris seperti itu. Dulu Kris gapernah berharap cinta dari cy tapi ya namanya serakah bisa dateng kapan aja makanya dia bisa ngelakuin sejauh ini.

Aku gabikin semudah itu untuk cb bersatu. Meskipun ini fiksi tapi setidaknya aku ingin buat sedikit realistis wkwk kadang menerima kenyataan itu butuh waktu yorobun

Terma kasih banyak untuk kalian yang fav/foll/review. Tanpa kalian yang dukung ff ini, aku gamungkin bisa sampai di chap ini. Sampai jumpa chap 15!