DO NOT ENTER ! (CHANBAEK)

BOYSLOVE/YAOI

Main Cast :

Byun Baekhyun

Park Chanyeol

Summary :

Jangan masuk ke dalam sana! Tidak ada yang diperbolehkan masuk ke dalam sana! Larangan tersebut telah diketahui oleh setiap penghuni rumah. Namun Byun Baekhyun, laki-laki yang mendadak menjadi seorang penyusup telah melanggarnya.

~Keseluruhan cerita berasal dari imajinasiku sendiri~

.

.

BB922016


Do Not Enter ! : Chapter 15

Kerjapan mata lelah memandang tak minat bubur yang ada di hadapannya tanpa disentuh sedikitpun. Chanyeol menghela napas sejenak lalu menyingkirkan nampan ke nakas di samping tempat tidur.

Terhitung sudah hari kedua sejak ia siuman, namun entah mengapa Chanyeol merasakan ada suasana yang berbeda di rumah. Setelah hari di mana ia melihat Kris tertidur menemaninya malam itu, ia tak lagi menemukan keberadaan pria tersebut. Kris tak pernah berkunjung ke kamarnya setelah ia dinyatakan sepenuhnya sadar. Pria itu seolah menghilang dari pandangannya begitu saja seperti bersembunyi.

Semakin hari bertahan untuk hidup pun terasa sulit bagi Chanyeol. Tidak ada tempat yang terasa nyaman baginya. Semua hanya menyisakan perasaan asing. Waktu selalu berlalu ditemani rasa bosan. Chanyeol sempat berpikir mungkinkah seharusnya ia pasrah saja ketika Kris berniat membunuhnya?

Pintu yang dibuka membuat Chanyeol menoleh dengan datar. Sehun masuk mengenakan seragamnya dan membungkuk hormat pada Chanyeol yang hanya dibalas dengan sebuah lirikan malas.

"Bagaimana keadaan anda pagi ini, Tuan? Apa anda tidak ingin keluar?" Tanya Sehun ramah.

"Pergi."

Sehun tak bergeming. Lelaki itu justru berjalan dan menyibak tirai jendela agar kamar tersebut tak terlihat temaram. "Anda harus berjalan keluar sesekali untuk menghirup udara segar, Tuan. Matahari sangat cerah pagi ini."

Chanyeol sedikit menyipitkan mata ketika melihat ke luar jendela di mana cahaya mentari tengah menyinari bumi. "Keluar." Desisnya tajam tak ingin dibantah.

Sehun yang lagi-lagi mendapat pengusiran, akhirnya membalas tatapan sang majikan. "Maafkan saya, sebenarnya Tuan Kris memberi perintah agar membawa anda keluar dari kamar."

Chanyeol mengernyit tertegun. Sebuah kejutan baru yang tak pernah ia duga. "Apa maksudmu?"

Merupakan hal konyol untuk bisa mendengar bahwa Kris yang jelas-jelas menginginkannya mengurung diri di kamar, kini berharap ia mau melangkah keluar. Lelucon macam apa ini?

"Tuan Kris sudah membebaskan anda." Jelas Sehun disertai senyuman yang meyakinkan. "Anda bisa pergi kemanapun sekarang."

Tiba-tiba?

Chanyeol balas mendengus remeh, meski cukup terkejut dengan penjelasan tersebut. "Setelah semua yang ia lakukan baru sekarang ia membebaskanku? Setelah ia hampir membunuhku?" Chanyeol tentu saja merasa marah. Ia membenci pria tersebut setelah apa yang dilakukan padanya dan ia semakin benci karena setelah membuatnya mengucap semua kata-kata di hatinya, pria itu justru berbalik mengabaikannya.

Kris mengabaikan semua ungkapan Chanyeol hari itu.

Sehun memudarkan senyumnya dan menghela napas. Ia pun terkejut mendengar keputusan Kris pagi ini yang disampaikan melalui sekretarisnya secara mendadak bahwa pria itu membebaskan Chanyeol tanpa pidato panjang. Pria itu terlihat kacau, namun berusaha menyembunyikannya dibalik sikap kejam seperti biasa. Kini pria itu juga belum keluar dari kamarnya sejak dua hari lalu.

"Mari keluar, Tuan. Saya akan menemani anda."

Chanyeol berdecih. Sudah sangat terlambat. "Aku sudah tidak mempunyai alasan lagi untuk keluar." Lelaki itu mengalihkan tatapannya ke arah lain. Benar, ia tak memiliki tujuan lagi.

Saat ini rasanya seperti mengulang kembali beberapa bulan lalu. Hanya saja yang berbeda, dulu Chanyeol tak berusaha melarikan diri dari kamar ini karena sudah ada kehadiran Baekhyun di sisinya. Tetapi sekarang, ia tak ingin melarikan diri justru karena Baekhyun tak ingin berada di sisinya lagi.

Fakta ini membuat Chanyeol merasa akan bersedih sepanjang sisa hidupnya.

Sehun paham betul tanpa harus mendengar penjelasan. Tuan mudanya masih berduka atas cintanya yang kandas dengan sadis. Nyatanya Chanyeol bersedih lebih panjang dari yang ia perkirakan.

"Meskipun begitu, apa tidak ada seseorang yang ingin anda temui di luar sana? Atau tempat yang ingin anda kunjungi?" Tanya Sehun.

Chanyeol terdiam. Memikirkan kata-kata Sehun membuatnya teringat akan sesuatu. Sorot tajamnya melemah dan ekspresinya ikut berubah. Mendadak tenggorokannya terasa kering.

Perasaan sesak menyita paru-parunya hingga Chanyeol kesulitan mengambil napas. Lelaki itu melirik Sehun kembali.

"..Apa.. aku memang boleh keluar?" Tanya Chanyeol pelan.

"Tentu saja, Tuan muda. Anda tidak akan lagi dikurung seperti sebelumnya. Anda sudah bebas mulai sekarang. Itu yang Tuan Kris sampaikan."

Chanyeol memegangi perutnya yang terasa nyeri. Ia berdeham pelan. Chanyeol cukup penasaran pada apa yang kakaknya pikirkan saat membuat keputusan mengejutkan tersebut. Chanyeol bukan mengenalnya satu atau dua hari, ia telah bertahun-tahun mengenal pria tersebut. Kris bukanlah sosok yang mudah menyerah. Lalu mengapa mendadak Kris seperti telah menyerah atas dirinya?

"Aku.. Ada.. suatu tempat yang ingin kukunjungi."

Sehun tersenyum lega mendengar ucapan sang majikan. Dadanya terasa sedikit lapang. Akhirnya ia bisa membuat lelaki itu mau keluar. Akhirnya apa yang ditunggu-tunggu oleh semua penghuni rumah terkabul, bahwa lelaki itu akhirnya meninggalkan kamarnya yang terasa seperti neraka.

"Saya akan membantu anda." Dengan sigap, Sehun segera berjalan mendekat saat melihat Chanyeol mencoba bangkit dari duduknya.

"Aku tidak butuh." Tolak Chanyeol yang langsung bangkit berdiri meski merasa jahitan di perutnya terasa akan robek saat ia bergerak.

"Di mana Yifan?" Tanpa bisa berpura-pura mengabaikan, Chanyeol memutuskan bertanya sambil berjalan perlahan-lahan menahan rasa ngilu pada jahitan lukanya.

"Tuan Kris berada di kamarnya sejak dua hari yang lalu, Tuan. Beliau belum keluar dari kamarnya sama sekali sampai saat ini."

Chanyeol mengerutkan dahi meminta penjelasan namun Sehun hanya balas menunduk tanpa bisa memberi jawaban dari sikap Kris yang aneh. Karena Sehun pun tak tahu apa yang tengah pria tersebut pikirkan. Sehun tak bisa membaca emosinya.

"Maafkan saya, namun saya tidak tahu apa yang terjadi. Tuan Kris tidak ingin berbicara dengan siapapun selain sekretaris Hong."

Membingungkan. Sebuah hal yang tak pernah terjadi sebelumnya.

Chanyeol mengernyit dengan pandangan jatuh menatap lantai yang ia pijak.

Semua keanehan ini. Semua kejanggalan ini. Sikap Kris yang mendadak terasa begitu ganjil. Semua ini.. sebenarnya ada apa?

Chanyeol merasa pening menjalari kepalanya. Ia memilih bungkam sampai keluar dari kamar menuju kehidupan di luar sana.


Tubuh Kris menggigil. Tangan yang ia kepal di atas meja bergetar hebat seiring dengan kertakan giginya yang menimbulkan bunyi. Namun hal itu bukan disebabkan oleh suhu kamar yang dingin, melainkan karena perasaan cemas yang membuatnya amat gelisah.

Kris menelan obat penenang yang mulai sejak kemarin ia konsumsi dan meneguk air minum lalu menjatuhkan kepala di atas meja. Keringat bercucuran dari pelipisnya dengan mulut yang sedikit terbuka. Anehnya ia mulai merasakan rasa sakit ini dua hari lalu ketika ia mendapat laporan bahwa Chanyeol telah siuman.

Apakah ini bentuk ketakutan Kris yang harus melepaskan lelaki itu? Mungkin ada benarnya.

Ketukan pintu dan suara sepatu pantofel mengambil netra Kris untuk memandang ke arah pintu kamar di mana Sekretaris Hong terlihat baru saja masuk dan mengambil langkah mendekatinya.

Sekretaris Hong sudah layaknya kaki dan tangannya. Sejak beberapa bulan ini, perusahaannya menjadi sangat berantakan. Jika itu bukan karena kelihaian Hong dalam menangani situasi keterpurukan Kris, pastilah perusahaan mereka akan mengalami kerugian dalam jumlah besar dan mungkin tak bisa terselamatkan. Pengaruh Chanyeol benar-benar sebesar itu untuk Kris.

Tubuh Kris perlahan-lahan mulai lebih tenang. Napasnya telah kembali normal. Ia meneguk air untuk menetralkan diri kemudian menatap pada sosok yang tengah memberi hormat.

"Kau sudah mengurus semuanya?" Tanyanya.

"Semua sudah diselesaikan sesuai dengan permintaan anda, Tuan. Kita hanya perlu waktu untuk mengatakan kepada Tuan muda." Tangan Sekretaris Hong menyodorkan berkas di dalam sebuah amplop cokelat kepada Kris.

Kris menerima dan membuka map tersebut dan mengecek apakah semua permintaannya telah terpenuhi dengan baik. Ia menganggukan kepala dan bergumam kecil.

Sekretaris Hong yang sejak tadi menatap cemas akhirnya memberanikan diri untuk bertanya. "Apa anda baik-baik saja, Tuan?"

Pasalnya, sang sekretaris yang telah lama mengabdi untuk pria tersebut bisa merasakan betapa besarnya perubahan sikap Kris. Pria itu terlihat lebih diam dari biasanya. Bukan itu saja, Kris terlihat pucat dan banyak pikiran. Seperti tidak memiliki tidur yang cukup dan memaksa kepalanya terus bekerja.

Kris melirik tak suka. "Simpan pertanyaanmu untuk dirimu sendiri."

Namun nyatanya Kris masih tetaplah sosok dingin yang tak tersentuh. Hatinya pasti terbuat dari besi atau mungkin memang ia hanya mencoba berusaha bersikap sok kuat sementara hatinya telah hancur berantakan.

Sekretaris Hong menunduk dalam dan menghela napas pasrah. "Saya yakin keputusan Tuan adalah yang terbaik. Saya percaya kepada anda, Tuan, jadi anda juga harus percaya kepada diri anda." Ujarnya seraya membungkuk patuh dan pamit pergi dari hadapan tuannya.

Kris mengerti maksud ucapan itu. Ia menghempaskan amplop di meja dan berjalan ke sisi jendela. Ia menghembuskan napas kasar seraya menatap langit cerah dengan raut tak senang. Semua ini membuatnya stres.

Apa ia baik-baik saja? Sesungguhnya Kris pun tak tahu jawabannya. Bagaimana bisa ia mengekspresikan perasaannya? Kris payah tentang itu.

Matanya beralih pada sebuah bingkai foto keluarga yang baru pagi tadi ia pajang di meja. Keluarga. Ya, Kris sudah berkali-kali merapalkan kata itu di dalam hati.

Sejak dulu Kris tak pernah merasa bahwa dirinya memiliki keluarga. Bisakah kedua orang tua yang tak pernah memperhatikannya dianggap sebagai keluarga? Ia bahkan tak pernah dekat dengan adik perempuannya. Tak pernah satu kali pun Kris merasa nyaman berada di antara orang-orang tersebut.

Tapi pengecualian untuk Chanyeol. Hanya Chanyeol saja bagian dari keluarganya yang membuatnya tahu bahwa ia juga berhak dicintai. Lelaki itu menyadarkannya dengan semua perhatiannya. Karena itu, Kris ingin selalu mendapat cintanya. Kris ingin selalu merasakan rasanya menjadi orang yang dianggap dan dibutuhkan.

Jadi, andaikata Chanyeol menghilang dari hidupnya, Kris benar-benar akan kesepian lagi. Kris akan kembali ke tempat awal di mana ia tak memiliki siapa-siapa. Sendirian.

Dan rasanya.. pengandaian itu seperti sungguh akan terjadi sebentar lagi.


Sehun menatap iba kepada sosok Chanyeol yang tengah bersimpuh. Helaan napas sedih menjadi pengiring langkahnya yang bergerak menjauh untuk memberikan privasi kepada Tuan mudanya yang sedang menemui seseorang.

Tubuh Chanyeol bergetar menatap sebuah guci berisi abu dengan nama yang terukir pada guci. Sedari tadi wajahnya menunjukan penuh penyesalan dengan tangan meremas celana yang ia kenakan.

"..Saya tahu sudah sangat terlambat untuk meminta pengampunan.. Mungkin anda pun akan berpikir bahwa saya tidak tahu malu karena berani menemui anda lagi setelah apa yang terjadi." Ucap Chanyeol sungguh-sungguh seraya menatap abu kedua orang tua Baekhyun seakan dirinya memang tengah berhadapan dengan sosok mereka. "Saya mengaku salah. Saya.. mohon maafkan saya." Lelaki itu menundukan kepalanya dalam-dalam, menunjukan seberapa tulusnya ia meminta ampun. Sebesar rasa cintanya untuk Baekhyun.

"Saya.. Saya sadar saya adalah orang yang paling tidak tahu diri dengan mencintai putra anda. Tapi saya tidak akan pernah menyesal telah melakukannya. Saya sangat mencintainya. Baekhyun adalah segalanya bagi saya jadi.. saya mohon.. ijinkan kami bersama. Saya akan memperbaikinya. Saya akan menjaganya sepenuh hati. Saya berjanji tidak akan pernah mengecewakannya lagi.. Jadi saya mohon.."

Terlalu banyak yang Chanyeol sampaikan dari dalam lubuk hatinya di hadapan kedua orang tua Baekhyun. Sebuah paragraf yang panjang untuk mencurahkan seluruh perasaannya pada lelaki itu yang benar-benar ia sanggupi di dalam hatinya. Ia ingin memiliki Baekhyun sekali lagi. Ia menginginkan kesempatan sekali lagi. Sebuah harapan kecil itu masih terselip di celah hati Chanyeol.

Tidak bisakah ia mendapatkannya? Ia tak ingin berjauhan dengan Baekhyun dan tersiksa seperti ini.

"Bisakah.. B-Bisakah anda meminta pada Tuhan untuk menyatukan kami?" Lirih Chanyeol.

Semua orang selalu salah mengartikan jika Chanyeol dan Kris sama. Tapi kebenarannya Kris bukanlah Chanyeol, dan Chanyeol tidak akan pernah menjadi seperti Kris. Mereka jelas berbeda.

Tentu mereka berdarah dingin. Tapi bukankah Chanyeol terlihat jauh lebih manusiawi daripada sang kakak?

Setelah selesai dengan ungkapan kalimat-kalimatnya, kini lelaki itu beralih berdiri di depan abu keluarganya yang berjejer rapi. Hatinya sesak dipenuhi kerinduan memandangi guci satu per satu. Chanyeol membiarkan perasaannya luruh pada akhirnya dengan tangisan tanpa suara yang begitu menyakitkan.

Ia ingin mengadu pada seseorang. Chanyeol sudah sangat lelah.

"Eomma.. Appa.."

"Noonaku.."

"..Apa yang harus kulakukan? Haruskah.. aku kehilangan seseorang yang kucintai lagi?"


Sejak momen yang penuh haru, Chanyeol memutuskan untuk mengunci mulutnya di sepanjang perjalanan menuju kembali ke istana mewah mereka. Rumah yang sejujurnya terasa menyeramkan untuknya.

Lelaki itu memandang ke luar jendela dalam keheningan sejak saat ia mendudukan diri di kursi belakang mobil. Tatapannya sendu dan sedih, seperti suasana hatinya yang sangat buruk.

Sehun yang memperhatikan lewat kaca spion menghela napas untuk kesekian kalinya. Sehun hanya bisa berharap kesedihan ini akan segera pudar bersamaan dengan mobil yang dibawa menuju suatu tempat yang bukan jalan ke rumah mereka.

Chanyeol terlalu sibuk melamun untuk menyadarinya, atau mungkin karena ia sudah lupa jalan menuju rumahnya sendiri. Sampai akhirnya ia tersadar ketika suara Sehun menyapanya.

"Kita sudah sampai, Tuan."

Chanyeol mengerjap pelan melihat lingkungan di luar mobil. Ini jelas bukan rumahnya. Samar-samar ia bisa mengenali tempat tersebut yang sejujurnya telah banyak berubah dari sepuluh tahun lalu. Atensi lelaki itu melirik Sehun dengan pandangan bingung.

"Silahkan turun, Tuan."

"Kenapa kau membawaku ke sini?"

Sehun menarik senyum simpul. "Untuk menghirup udara segar."

Chanyeol mengerut tajam. "Jangan konyol."

"Keluarlah, Tuan. Anda akan menemukan jawabannya."

Chanyeol sedikitnya merasa cukup kesal. Ia belum mengerti apa maksud Sehun menyuruhnya ke sini. Namun ucapan Sehun agaknya membuat ia lumayan penasaran.

Lelaki itu memandang ke luar sejenak sebelum akhirnya membuka pintu mobil dan berjalan sedikit tertatih seraya memegang perutnya. Sehun beserta sang supir tak terlihat seperti berniat turun untuk menyusul. Mereka justru bertahan di dalam mobil, membuat semua semakin mencurigakan.

Chanyeol akhirnya memutuskan untuk mencari tahu sendiri. Ia membawa dirinya memasuki pekarangan taman dengan kerutan di dahi saat merasakan perasaan familiar namun juga asing yang melingkupi tubuhnya, sampai akhirnya ia menegang saat menemukan sosok lelaki yang tengah duduk di bangku taman.

Napas Chanyeol tercekat. Untuk beberapa saat dunia seolah tak memiliki oksigen untuk ia hirup.

Pandangannya meredup menemukan kehadiran Baekhyun yang tengah mendongak menatap langit berawan. Seketika itu juga puluhan bisikan rindu mulai disuarakan oleh hatinya bersama degupan jantung yang cepat.

Lelaki cantik itu. Sang pujaan hatinya. Chanyeol sungguh hampir mati karena merindukannya setiap waktu.

Apa Sehun sengaja mempertemukan mereka?

Namun Chanyeol segera tersadar dari kehanyutan perasaannya. Tidak, ia sudah berjanji pada Baekhyun untuk tidak muncul lagi di hadapannya. Siapalah dirinya yang berhak untuk menunjukan eksistensi di depan Baekhyun yang telah membencinya setengah mati.

Chanyeol segera membalik tubuhnya diam-diam, mencoba mengambil satu langkah berjalan menjauh sampai sebuah suara menghentikannya.

"Apa kau masih ingat hari pertama kita bertemu?"

Suara Baekhyun mengalun lembut menghampiri pendengarannya. Hatinya meleleh tersapu oleh rasa rindu yang menjalar ke seluruh tubuh. Chanyeol merindukan suara itu. Suara yang selalu mengantarkan rasa hangat dan nyaman bak api unggun di musim salju.

Tempat ini. Tentu Chanyeol tahu bahwa taman ini adalah tempat pertemuan pertama mereka.

Chanyeol lantas menoleh ke arah Baekhyun yang masih setia menatap langit tanpa senyuman di wajahnya. Pandangannya kosong.

"Baek.." Panggil Chanyeol dengan suara tercekat.

"Hari itu salju turun sangat lebat, bukan? Dan.. dingin.." Lanjut Baekhyun.

Chanyeol menurunkan sebelah tangan yang memegang perut dan memberanikan diri untuk tetap bertahan di sana. Memandang penuh kehancuran pada sosok Baekhyun yang berada beberapa meter di hadapannya tanpa berniat untuk mendekat. Karena ia sadar, ia mungkin akan menyakiti hati lelaki itu lagi jika berada terlalu dekat. Ia khawatir dapat melukainya.

Baekhyun menghembuskan napas dengan tersiksa. Andai saja Chanyeol melihatnya dari jarak dekat, ia pasti akan menemukan tatapan sedih dan kacau di mata Baekhyun saat ini.

Dadanya sesak oleh rasa perih, namun ia mengepalkan tangan mencoba memberi kekuatan pada dirinya sendiri. Lelaki itu pun memutuskan untuk berdiri dari duduknya.

"Aku akan pindah ke Jepang."

Satu kalimat itu cukup menghancurkan dunia Chanyeol dalam sekejap.

Lelaki tinggi itu membisu dengan keterkejutan yang tak bisa dikendalikan. Nyawanya seakan baru saja dicabut secara paksa oleh sang pencabut nyawa.

Mata mereka bertemu.

Bibir Chanyeol kelu untuk mengeluarkan sepatah kata. Ia terlalu terkejut dan sakit hati. Baekhyun akan pergi. Tidak cukupkah menghukumnya dengan fakta bahwa ia harus menjauhi Baekhyun? Kini Baekhyun justru ikut menjauh darinya.

Chanyeol tersenyum pahit. "Kau pasti sangat membenciku sampai ingin pergi jauh." Gumam Chanyeol dengan tatapan terluka.

Baekhyun tak menyahut. Tatapannya masih terlihat datar dan membuat Chanyeol lagi-lagi tak nyaman pada fakta bahwa Baekhyun benar-benar muak dengannya. Baekhyun sangat membencinya.

"Jika itu bisa membuatmu bahagia, maka lakukanlah. Pergilah, Baekhyun. Aku harap.. kau baik-baik saja di sana. Hiduplah dengan baik. Kebahagiaanmu adalah hal yang lebih penting dari segalanya."

Bohong jika Chanyeol mengatakan hatinya tidak tergores perih saat mengucapkan semua itu. Ia tak ingin Baekhyun pergi. Ia tak ingin semua pertunjukan menyakitkan ini. Tapi siapapun tahu bahwa Chanyeol tak berdaya.

Chanyeol menundukan kepalanya dalam-dalam. "Bisakah.. aku mengucap beberapa kalimat perpisahan?"

"..Katakan."

Chanyeol mengangkat wajahnya menatap Baekhyun yang balas menatapnya. Ia menarik napas mencoba mengisi oksigen dalam tubuhnya.

"Aku tahu, Baekhyun.. Aku tidak berhak mencintaimu setelah semua yang kulakukan. Aku tahu aku tidak pantas berada di sisimu setelah memberimu semua penderitaan yang menyakitkan. Tapi Baekhyun, aku sungguh mencintaimu. Rasanya aku akan mati jika sehari tidak mencintaimu seolah itu sama saja seperti bernapas." Chanyeol menghentikan sejenak kata-katanya saat dirasa suaranya mulai bergetar karena emosi yang bercampur aduk.

Kenangan melintasi pikirannya. Semua cerita manis dan pahit tentang mereka mengaburkan pandangannya.

"Jika boleh jujur, saat ini aku ingin sekali menahanmu pergi. Aku sangat ingin memperjuangkanmu agar kau tahu bahwa aku tak akan pernah menyerah atas dirimu. Tapi seperti yang kita tahu, itu hanya akan menyakitimu lebih lagi. Tidak ada yang bisa kulakukan untuk membawamu kembali padaku. Aku hanyalah rasa sakit untukmu.."

Rasanya Chanyeol sudah tak sanggup lagi menopang tubuhnya. Ia merasakan persendiannya lemas. Yang membuatnya bertahan adalah Baekhyun harus mendengarnya. Setidaknya, Baekhyun harus tahu seperti apa perasaannya sebelum lelaki itu memutuskan menghilang dari jarak pandangnya. Mungkin untuk selamanya.

"Namun Baek.. Ijinkan aku satu hal sebelum kau pergi. Ijinkan aku terus mengingatmu. Ijinkan aku untuk terus mencintaimu sampai aku menua dan mati. Sampai aku yakin kau sudah mendapatkan semua kebahagiaan yang ada di dunia ini. Biarkan aku untuk tetap bersama perasaan ini. Bersama rasa cintaku untukmu.." Karena hanya itu yang tersisa untuk Chanyeol. Hanya itu.

Baekhyun meremas ujung bajunya. Rahangnya mengeras mencoba menahan luapan di dalam hatinya yang sedari tadi ia tahan. Jika Chanyeol pikir hanya dirinya yang terluka, maka lelaki itu salah. Baekhyun tak berbeda jauh. Lelaki itu sama kacau dengan dirinya.

"Apa kau sudah selesai bicara?" Tanya Baekhyun dengan tajam.

"..Ya. Maaf aku berbicara terlalu banyak dan membuatmu lelah. Aku berharap kau bahagia di Jepang, Baek."

Baekhyun mengalihkan pandangannya ke arah lain ketika dirasa pelupuk matanya basah tergenang oleh air mata yang memaksa ingin turun. "Kalau begitu, biar aku yang berbicara sekarang."

Chanyeol diam dan menurut. Lelaki itu menatap Baekhyun yang kini terlihat menahan marah.

"Aku sangat membencimu, Park Chanyeol." Ungkap Baekhyun.

Chanyeol mengangguk mengerti. "Aku tahu." Lirihnya.

Baekhyun menggigit bibir bawahnya dengan dada naik turun. Ia merasa sangat kesal mendengar semua ucapan lelaki itu sebelumnya.

"Kau berharap aku akan bahagia di Jepang? Kau bilang tidak ada yang bisa kau lakukan lagi untukku? Kau tahu..? Kau konyol, Chanyeol." Wajah Baekhyun memerah dan setitik air mata jatuh dari pipinya membuat Chanyeol tersentak.

Baekhyun mulai terisak tak karuan. Ia bahkan bersusah payah mengatur pernapasannya. "Kau hanya butuh dua kata untuk membuatku tetap tinggal. 'Jangan pergi', 'Aku mencintaimu', kau hanya membutuhkan itu untuk menahanku di sini.." Baekhyun mulai menangis dengan nada lebih keras.

Chanyeol menampakan raut kebingungan yang kentara. Ia belum paham apa maksud lelaki mungil itu dengan ucapannya. Bukankah Baekhyun sangat membencinya?

Tubuh Baekhyun berguncang hebat. Ia mengusap kasar air matanya dan menatap Chanyeol sama terlukanya. "Apa kau sungguh ingin aku pergi? Kau yakin aku akan bahagia di Jepang? Apa kau sungguh berpikir aku bisa melakukannya? Kau bodoh, Chanyeol! Bagaimana bisa aku bahagia jika tidak ada kau di sana.. hiks?!"

"Baekhyun.." Akhirnya, Chanyeol mulai mengerti semua perkataan tersebut.

Baekhyun terus menangis dan meracau sambil memaki lelaki itu bodoh. Tak peduli siapa sosok lelaki tersebut namun yang Baekhyun tahu Chanyeol benar-benar bodoh untuk berpikir bahwa Baekhyun bisa bahagia sementara dua bulan ini telah membuktikan bahwa ia tak akan pernah bahagia jika berada jauh dari lelaki tersebut.

Baekhyun menutup wajahnya dengan kedua tangan dan mulai menangis sedikit lebih keras. Tetapi ketika ia merasakan sebuah lengan melingkari kepala dan pinggangnya kemudian membawanya pada sebuah pelukan, Baekhyun meruntuhkan lebih jauh semua egonya. Membiarkan pertahanannya selama ini hancur di hadapan lelaki tersebut dan jujur pada kenyataan bahwa ia sangat merindukannya. Ia sangat mencintainya.

Chanyeol bisa merasakan beberapa kali Baekhyun memukul dadanya dengan tinjuan lemah dan tak ada lagi yang lebih terluka dari melihat orang yang ia cintai merelakan segalanya untuk mengatakan kata cinta pada dirinya. Mengabaikan fakta bahwa ia adalah penyebab rasa sakit di hati lelaki itu.

"Aku mencintaimu, Chanyeol.." Isak Baekhyun dengan suara yang lemah.

Chanyeol semakin membawa lelaki itu ke dalam dekapannya. Dan rasanya setelah berkelana cukup lama ia kembali menemukan jalan pulang. "Aku lebih mencintaimu, Baekhyun. Maafkan aku, seharusnya kukatakan lebih awal.. Aku mohon jangan pergi dariku. Jangan pergi kemanapun tanpa diriku." Bisik Chanyeol membalasnya.

"Aku tidak akan pernah melepasmu lagi, Baekhyun. Jadi aku akan memohon padamu selamanya untuk menerimaku kembali."

Baekhyun masih sesegukan di dalam pelukan itu. Ia mengeratkan lingkaran tangannya di pinggang lelaki tersebut. "Buktikan padaku, Chanyeol.. Buktikan bahwa aku tak salah mencintaimu.." Lirih Baekhyun dengan mata yang terpejam.

"Aku akan membuktikannya, Baek. Jadi tunggu dan lihatlah semua yang akan kulakukan untukmu."

Chanyeol memberi kecupan di puncak kepala lelaki itu. Memeluknya sedikit lebih erat setelah kerinduan yang panjang, tanpa seorang pun tahu bahwa Chanyeol ikut menjatuhkan air matanya.

Lelaki itu mendongak menatap langit dan tersenyum singkat. Siapa pun orang di atas sana yang telah meminta pada Tuhan untuk membiarkan mereka bersatu kembali, Chanyeol sangat berterima kasih.

"Maafkan aku, Baek.. Dan terima kasih.."

Terima kasih..


Suasana nampak canggung untuk beberapa menit tanpa suara selain suara jarum jam yang mendominasi. Jongdae melirik ke arah beberapa orang di hadapannya dengan ekspresi yang sulit diartikan.

"Hm.. Jadi apa ada yang bisa menjelaskanku sesuatu?" Tanya Jongdae sambil menatap ke setiap orang yang ada di ruang keluarga bersamanya.

Sehun dan Yeri saling melirik kemudian menjatuhkan tatapan kepada Baekhyun dan Chanyeol yang duduk di seberang kursi Jongdae.

Sebuah kejutan besar untuk sang sahabat mendapati Baekhyun pulang ke rumah bersama dua lelaki asing berwajah datar nan dingin. Mereka belum mengucapkan sepatah katapun semenjak kedatangannya beberapa menit yang lalu.

Baekhyun meringis pelan. "Jongdae, perkenalkan ini Chanyeol dan ini Sehun."

Jongdae hampir saja tak bisa mengontrol ekspresi terkejutnya. Ia berdeham pelan mencoba menyembunyikan raut wajah konyolnya ketika mengetahui bagaimana rupa Chanyeol. Tepatnya bagaimana bisa lelaki itu berada di hadapannya seperti ini.

"O-Oh.. Senang bertemu denganmu." Gugup Jongdae sambil mengulurkan tangan mengajak Chanyeol untuk berjabat tangan.

Chanyeol mengerutkan dahi tak ramah. Sebenarnya sedari tadi ia melarikan pandangannya ke seluruh sudut ruangan dan ia merasa sangat tidak nyaman memikirkan bahwa selama ini Baekhyun tinggal bersama lelaki tersebut. Meski ada kehadiran Yeri juga, tetap saja Chanyeol tak suka.

"Aku kekasih Baekhyun." Tegasnya, membuat semua pasang mata sontak tertuju kepada Chanyeol. Terlebih lagi Jongdae yang sudah semakin terkejut dengan bola mata yang hampir menggelinding keluar.

Baekhyun mendadak ingin menepuk dahinya sendiri. Jongdae mungkin tak akan tahu seberapa protektifnya seorang Park Chanyeol. Bahkan lelaki tinggi itu terus menggenggam tangan Baekhyun tanpa tahu malu.

"Jongdae, bisa kita bicara berdua?" Ajak Baekhyun pelan.

Chanyeol lantas menoleh. "Kalian ingin bicara apa? Aku ikut."

Semua lagi-lagi memandang terkejut. Selain Baekhyun, siapa lagi yang tahu bahwa Chanyeol hanyalah seorang bayi besar? Sangat jauh dari kata psikopat yang sering kali tersisip dalam panggilannya.

"Hanya sebentar saja. Tidak akan lama, Chanyeol. Tunggulah di sini."

Baekhyun langsung menarik Jongdae yang masih mencerna apa yang terjadi untuk menjauh dari ruang keluarga.

Merekapun tiba di kamar Jongdae.

"Jadi ini sungguh keputusanmu, Baek?" Jongdae yang membuka suaranya lebih dulu. "Kau kembali bersamanya?"

Baekhyun yang semula nampak sedikit canggung akhirnya mengangguk. Ia menunduk lemah. "Ya.. Aku tahu ini bukan hal yang benar dan aku merasa seperti telah mengkhianati kedua orang tuaku untuk kesekian kalinya. Tapi aku tidak bisa kehilangannya. Aku.. tidak bisa lagi kehilangan orang yang kucintai lagi, Jongdae." Sahut Baekhyun.

Jongdae tersenyum lembut dan menepuk bahunya menyemangati. "Aku di pihakmu, Baek. Selalu." Hiburnya. "Pastikan dirimu bahagia dengan pilihanmu. Kurasa itu akan menjadi yang paling penting di sini."

Baekhyun balas tersenyum. "Terima kasih, Jongdae. Kau selalu berada di sisiku selama ini."

"Itu gunanya sahabat, Baek." Balas Jongdae dengan ekspresi jenaka yang dibalas dengan kekehan pelan dari Baekhyun.

Akhirnya Jongdae kembali melihat aura cerah lelaki itu setelah waktu yang cukup lama. Baekhyun terlihat sangat ceria sekarang seperti bagaimana ia mengenal lelaki tersebut. Ternyata benar semua ucapan Baekhyun malam itu ketika mengatakan keputusannya mengenai kepindahan ke Jepang. Kini Jongdae tak perlu meragukannya lagi.

Diam-diam Jongdae tersenyum.

"Aku sudah memutuskannya."

"Benarkah?" Jongdae mengangkat kedua alisnya dengan penasaran sambil tersenyum hangat menanti apa yang akan keluar dari mulut Baekhyun. "Jadi.. apa jawabanmu?"

Baekhyun menghembuskan napasnya panjang.

"Aku tidak akan pergi."

Jongdae terdiam. "Kenapa? Bukankah tinggal di Jepang adalah penawaran yang bagus?"

"Karena di manapun aku berakhir, aku tidak akan pernah bahagia jika tidak berada di sisi lelaki itu." Jawab Baekhyun dengan yakin. "Di Jepang atau pun di sini, tidak akan ada yang berubah. Hanya dia. Hanya Chanyeol yang bisa membuatku bahagia."

"Baek, kau yakin?"

Baekhyun mengangguk. "Aku sangat mencintainya, Jongdae.. Yang kutahu, dia adalah sumber kebahagiaanku."

Senyum Jongdae pun perlahan memudar ketika ia tersadar akan sesuatu yang lain. "Tapi, Baek.."

Baekhyun menoleh.

"Bagaimana dengan Kris?"

Pertanyaan itu membuat Baekhyun bungkam seketika.

Jongdae seperti baru saja menjatuhkan bom di atas kepala Baekhyun. Lelaki cantik itu baru mengingatnya. Kris adalah neraka yang sesungguhnya.


"Tenanglah, Baek. Semua akan baik-baik saja." Ucap Chanyeol menenangkan.

"Bagaimana aku bisa tenang? Aku sudah membayangkan dia akan sangat murka pada kita."

Jemari besar Chanyeol meraih lembut tangan Baekhyun dan membawa ke dalam pangkuannya seraya mengusapnya. Mata lelaki itu menatap Baekhyun. "Percayalah padaku, Baek. Aku akan berbicara dengannya, meski harus disertai perkelahian jika memang itu diperlukan."

Tapi itu tak membuat Baekhyun sedikit lebih tenang. Lelaki itu jauh lebih merasa cemas setelah mendengar kata-kata Chanyeol. Mobil yang membawa mereka semakin berjalan mendekat ke arah rumah Chanyeol.

"Tuan, anda tidak boleh berkelahi. Luka anda bahkan belum sembuh." Sehun menyela di tengah percakapan tanpa tata krama. Membuat Baekhyun sontak kaget sementara Chanyeol memberi tatapan membunuh karena sang pengawal membahas tentang lukanya yang tak seberapa.

"Apa? Kau sakit? Apa yang terjadi padamu, Chanyeol? Kenapa kau tidak memberitahuku?" Panik Baekhyun.

"Aku tidak apa-apa, Baek."

"Tuan muda mengalami kritis selama 6 hari. Ada luka tusuk di perutnya." Sahut Sehun sekali lagi yang membuat Chanyeol mendadak ingin mencekiknya. Jika tidak ada Baekhyun, mungkin ia akan memberi pelajaran yang pantas untuk lelaki tersebut.

Baekhyun menautkan alisnya khawatir. "Apa? Bagaimana bisa?! Kenapa kau terlihat baik-baik saja sedari tadi? Biarkan aku melihatnya. Aku ingin lihat.." Wajah Baekhyun memerah dan seperti ingin menangis. Lelaki itu sangat cemas sekaligus sedih karena ia baru mengetahui kenyataan ini. Ia tak tahu jika Chanyeol akan kesulitan berada satu rumah dengan Kris.

Jika sudah seperti ini, Chanyeol jadi tidak tega melihat Baekhyun yang nampak begitu risau meski ia juga merasakan sebuah perasaan senang karena Baekhyun sangat memperhatikannya.

Chanyeol mengangkat bajunya sampai ke atas dada dan membiarkan Baekhyun melihat perban besar di perutnya. Lelaki itu semakin sedih dengan jemari yang mencoba menyentuh perban tersebut.

"Maafkan aku.. Aku tidak tahu kau terluka, Chanyeol.. Apa yang harus kulakukan dengan ini..?"

Chanyeol tersenyum tipis membalasnya. Ia mengecup pelan pipi Baekhyun sehingga si mungil menoleh. "Tidak apa. Yang penting kau ada di sisiku sekarang."

Baekhyun menatap sendu kedua bola mata Chanyeol. Ia lantas bergerak mendekat dan memeluk leher lelaki itu sementara Chanyeol menyambutnya dengan senang hati. Bibir mungilnya terus menggumamkan kata maaf yang seharusnya tak Chanyeol terima karena Chanyeol sadar ialah yang pantas meminta maaf.

"Baekhyun.."

"Mm?" Lelaki cantik itu masih bertahan memeluk leher Chanyeol dengan nyaman. Seolah itu adalah tempat di mana seharusnya ia berada. Di pelukan Chanyeol.

"Apa kau mau menerimaku kembali?"

Pertanyaan itu membuat Baekhyun perlahan melepas pelukannya dan menatap Chanyeol. "Setelah semua ini kau masih menanyakannya?" Tanya Baekhyun tak percaya. "Aku ingin bersamamu, Chanyeol. Aku tidak ingin jauh darimu."

"Meski aku menyeramkan? Meski aku menakutkan?" Bisik Chanyeol pelan.

Dan Baekhyunpun sadar bahwa kata-katanya telah menyakiti Chanyeol. Bahwa ternyata lelaki itu menyimpan semua kata-kata jahat yang ia ucapkan.

"Ya, meski kau psikopat gila. Meski kau seorang monster jahat."

"Meski akulah penyebab deritamu di masa lalu?"

Baekhyun terdiam. Dan untuk waktu yang terasa sangat lama itu, Chanyeol merasa sangat gelisah.

"Aku memang sangat marah padamu, tapi bukan berarti aku tidak ingin bersamamu. Masa lalu akan selalu berada di masa lalu. Aku tidak ingin melihat ke belakang lagi. Kau mungkin bisa menyakitiku dulu, tapi aku percaya tidak untuk sekarang dan nanti. Aku percaya kau tidak mungkin mengecewakanku lagi.. Kau tidak akan melakukannya.."

Keberuntungan macam apa yang Chanyeol miliki untuk bisa mendapatkan seseorang seperti Baekhyun? Ia pasti telah melakukan sebuah jasa besar di kehidupan sebelumnya.

"Kau benar. Aku tidak akan pernah menyakitimu lagi, Baekhyun. Aku akan memperlakukanmu dengan baik mulai sekarang. Jadi tolong ingat janjiku ini."

Baekhyun mengangguk dan tersenyum.

"Kita sudah sampai, Tuan."

Akhirnya kedua lelaki itu keluar dari mobil dan berjalan bersama berpegang tangan memasuki halaman rumah menuju pintu utama. Pandangan terkejut tersirat di setiap wajah penghuni rumah saat mendapati sosok mungil yang berjalan di samping Chanyeol. Sebuah kejutan yang tak pernah dibayangkan oleh siapapun.

Jantung Baekhyun berdegup cepat bersama rasa rindu yang memasuki rongga dadanya. Ini terasa sangat aneh karena ia bisa merindukan suasana rumah menyeramkan ini. Tiap sudutnya memberi kenangan yang berkesan.

Langkah mereka pun terhenti. Tubuh mereka menegang ketika melihat sosok pria berdiri tak jauh dari hadapan mereka. Sosok itu juga menatap keduanya dengan kaku. Menciptakan suasana mencekam menyelimuti sekitar mereka.

Kris tak buka suara. Pria itu hanya memandangi jemari kedua lelaki di hadapannya yang saling bertautan.

Kris seharusnya bisa menduga bahwa Chanyeol akan membawa Baekhyun kembali ke rumah ini. Dan seharusnya ia telah siap di saat ia membuat keputusan untuk membiarkan Chanyeol keluar dari kamarnya.


Apa mereka pandai berbasa-basi? Tidak. Keduanya terlalu kaku untuk hal semacam itu. Bahkan ketika puluhan menit telah terbuang sia-sia, tak ada satupun yang mencoba angkat bicara seakan membiarkan situasi menjadi tak terkendali seperti ini.

Kris memandang ke luar jendela kamar, membelakangi Chanyeol yang berdiri beberapa meter darinya. Sama dengan Kris, Chanyeol pun tak berusaha untuk menatap pria itu dan memilih mengalihkan pandangannya ke arah lain. Mereka dikendalikan oleh rasa canggung.

"Apa yang ingin kau bicarakan?" Tapi akhirnya Kris yang pertama kali berani memulai percakapan.

"Aku mencintai Baekhyun."

Kris mengepalkan tangannya. Masih bertahan pada posisinya untuk tidak menatap wajah sang adik yang berbicara dengan lantang. "Lantas?"

Chanyeol serta nada seriusnya adalah apa yang membuat Kris merasa tak nyaman saat ini. "Kau tidak bisa memisahkan kami lagi. Kau tidak bisa mengambilnya dariku lagi, karena aku tidak akan membiarkan itu terjadi." Jawab Chanyeol.

Kris tersenyum miris. Seberapa besar dan kerasnya usaha yang ia korbankan, ternyata semua tetap tidak berubah. "Apa itu yang bisa membuatmu bahagia?"

"..Ya."

Kris membalik tubuhnya hingga kini kedua pemuda itu bertatapan. Kris bersusah payah mencoba terlihat baik-baik saja, namun sayang sekali matanya menyiratkan yang berbeda.

"Apa aku tidak bisa menjadi orang itu..?"

"Apa tidak bisa kau memberikanku sedikit saja dari hatimu?"

Semua pertanyaan itu tak mendapat jawaban. Karena sepertinya Kris pun sudah tahu apa jawaban yang akan Chanyeol katakan.

Perasaan Kris membuncah di dalam dada. Memberontak dan meraung marah pada keheningan yang Chanyeol ciptakan. Lagi-lagi perasaannya tak dapat terlihat di mata lelaki itu. Bahkan meski Kris berteriak, Chanyeol tak akan mendengar jeritan hatinya.

Sangat menyedihkan untuk mengingat semua yang telah Kris lakukan demi lelaki itu. Kris telah memberi segalanya.

"Kenapa bukan aku? Seseorang yang selalu melindungimu sejak awal.."

"Kau adalah kakakku."

Kakak. Kris merasa lelah mengingat status mereka.

Pria tinggi itu menahan napasnya. "Jadi kau tidak bisa? Kau lebih memilih mencintai Baekhyun daripada aku?"

"Ya. Tentu saja." Tegas Chanyeol.

Kris terdiam sesaat lalu mengangguk-anggukan kepala. "Kalau begitu pergi dari sini."

Chanyeol mengerutkan dahinya tersentak. "Apa?"

"Angkat kaki dari rumah ini, Park Chanyeol. Hanya itu pilihanmu yang tersisa." Kris mengambil amplop cokelat di meja dan menyodorkannya pada Chanyeol yang masih kebingungan dan belum berniat mengambil amplop tersebut.

"Tinggallah di Kanada. Kau bisa memulai hidupmu di sana. Memulai segalanya. Belajar dan mengurus perusahaan cabang di sana. Aku telah membeli rumah dan semua yang kau butuhkan. Aku telah menyiapkan semua keperluanmu tanpa terlewat sedikitpun."

Chanyeol memandang bergantian wajah Kris dan amplop tersebut. Ia kira percakapan ini akan berakhir menjadi salah satu perkelahian mengerikan lainnya, tapi tidak. Ini jelas bukan yang ia bayangkan.

"Kenapa..? Kenapa.. aku harus pergi?"

Kris mengeraskan rahangnya dengan tangan terkepal. Pisau seolah menancap di hatinya dan merobek hingga tak berbentuk. Benar-benar sebuah luka yang menyesakan. "Karena.. Karena ini sulit untukku. Berada di dekatmu, dan mungkin melihatmu bahagia. Itu adalah hal yang tak ingin aku saksikan.."

Kris sadar betul jika Chanyeol tetap berada di sekitarnya, ia akan semakin berat untuk melepas lelaki itu. Ia mungkin akan menggila dan mengurung lelaki itu lagi. Ia bisa saja akan kesulitan mengendalikan diri dan bertindak tak seperti yang ia harapkan. Satu-satunya cara adalah memisahkan mereka sejauh mungkin.

Mereka harus berpisah.

Chanyeol menerima amplop itu perlahan.

"Setelah ini, kau bisa anggap aku bukan bagian dari keluargamu lagi." Lanjut Kris.

Apa lagi ini? Chanyeol sangat terkejut dengan semua sikap Kris yang benar-benar seperti bukan dirinya.

"Kenapa?"

Kris mengedikan bahunya. "Kau membenciku, kan? Aku sudah membunuh orang-orang yang kau sayangi. Aku bahkan tak meminta maaf dan menyesal melakukannya. Kau pasti tak ingin menganggapku keluargamu."

Chanyeol menghela napasnya, tapi tak berniat memberi jawaban. Lelaki itu pun tak juga berusaha mengecek sesuatu di balik amplop tersebut. Ia tak tertarik. Saat ini kepala Chanyeol tak bisa memikirkan apapun.

Kris mengantongi kedua tangannya di saku celana dan berdeham pelan. "Apa ada lagi yang bisa membuatmu bahagia? Akan kuwujudkan untukmu."

"Aku ingin kau tetap menjadi kakakku." Balas Chanyeol cepat.

Kris sontak membeku. Tatapannya meredup untuk beberapa saat yang sedikit lama. "Aku sudah membunuh mereka, Chanyeol."

"Aku tahu. Tapi aku ingin memberimu kesempatan kedua." Chanyeol mengepalkan tangannya dengan erat. "Aku tidak ingin melihat ke belakang lagi. Mulai sekarang aku ingin percaya padamu bahwa kau tidak akan pernah mengecewakanku lagi."

Kris sangat tertegun. Tak pernah ia bayangkan Chanyeol akan mengampuninya semudah ini.

"Baekhyun.. ia yang mengajariku itu."

Ternyata benar dugaan Kris, Baekhyun pasti sangat mempengaruhi bagaimana lelaki itu berpikir dan merasa sekarang. Baekhyun benar-benar merupakan sebuah perubahan pada Chanyeol. Kris tersenyum pahit di dalam hati.

"Kita adalah perpaduan yang buruk. Kau dan aku pasti sangat menyadari itu. Tapi baik dulu maupun sekarang, kau tetaplah kakakku. Kita hanya memiliki satu sama lain yang tersisa, jadi bisakah.. kita terus seperti itu? Menjadi kakak dan adik?"

Kris merasa hatinya diremas. Tatapan sendu Chanyeol memperburuk segalanya.

Chanyeol menghela napas dan menarik senyum tipis. "Aku menyayangimu, hyung."

Perasaan Kris benar-benar tak terdeskripsikan.

Chanyeol mengucapkan hal yang paling ingin Kris dengar. Meski itu bukanlah pernyataan cinta dari sepasang kekasih dan hanya pernyataan sayang dari anggota keluarga, tetapi Kris merasa sangat bahagia mendengarnya. Sepertinya ia memang sungguh bahagia meski hanya dengan menjadi seorang kakak untuk lelaki tersebut.

Chanyeol langsung pergi dari ruangan. Menyisakan Kris yang termenung sendirian. Tatapannya berubah dengan sangat sendu. Begitu menyakitkan. Kini Kris sungguh kembali menjadi sosok kesepian itu. Ia sendiri lagi.

Kris mengepalkan tangan hingga buku-buku jarinya memutih dengan tatapan penuh luka. Tubuhnya memanas oleh rasa perih yang menyatu dalam darahnya.

"Jika kehidupan selanjutnya benar-benar ada.., maka aku tidak ingin terlahir kembali bersamamu, Richard."


Setelah keluar dari kamar Kris, Chanyeol segera menghampiri Baekhyun yang berada di ruang keluarga di tengah-tengah para pelayan dan juga Nyonya Kim. Mereka terlihat memiliki waktu yang tenang meski Baekhyun terlihat sangat diam karena sibuk mengkhawatirkan Chanyeol. Hatinya tak tentram.

"Baekhyun."

Panggilan itu membuat semua orang yang asyik melepas rindu menoleh. Baekhyun langsung berjalan mendekat dengan rasa cemas.

"Chanyeol.. Bagaimana? Apa yang ia katakan, Yeol? Kau baik-baik saja, kan? Dia tidak melukaimu, kan?"

Chanyeol tak menjawab dan hanya menatap dengan intens setiap inci dari pahatan indah wajah mungil sang kekasih. Perasaannya bergejolak. Ia lantas meraih pinggang lelaki itu dan menyatukan bibir mereka di hadapan semua orang.

Tak ada lagi yang bisa Chanyeol katakan, ia begitu mencintai Baekhyun sampai di titik di mana ia tak bisa menyampaikan seluruh perasaannya.

Baekhyun sedikit tersentak pada awalnya namun sentuhan lembut bibir Chanyeol menghanyutkannya. Ia bahkan melupakan rasa malu karena menjadi tontonan orang-orang. Ia justru membalas ciuman Chanyeol dan saling melumatkan bibir mereka, mencicipi rasa manis dan hangat dalam sentuhan tersebut.

Orang-orang mulai terlihat membubarkan diri dengan rona merah di pipi. Mereka tentu merasa senang namun juga canggung harus menyaksikan adegan intim tuan mereka bersama kekasihnya. Privasi sangat dibutuhkan hingga beberapa detik kemudian ruangan tersebut benar-benar sepi dan hanya menyisakan Baekhyun dan Chanyeol.

Ciuman mereka terlepas. Baekhyun menatap sendu Chanyeol dengan kedua tangan yang terangkat menangkup pipi tirus lelaki itu. "Chanyeol, ada apa?" Bisiknya.

Sesungguhnya Chanyeol pun tak tahu ada apa dengan dirinya. Harusnya ia bahagia karena Kris telah membebaskannya. Namun ia seperti sedikit tak rela karena hubungannya dengan sang kakak harus berakhir seperti ini. Benar-benar buruk.

Chanyeol menggeleng pelan dan mengusap lembut pipi Baekhyun. Memandangi kecantikan lelaki itu dengan tatapan memuja. Chanyeol sangat mencintainya.

"Baekhyun-ah.." Panggilnya pelan. "Maukah kau ikut denganku ke Kanada?"

Baekhyun membulatkan matanya terkejut, sementara jemari Chanyeol telah beralih menggenggam tangannya dalam kelembutan dan hangatnya tatapan di bola matanya.

"Yeol.."

"Ikutlah denganku ke Kanada. Mari kita mulai semuanya dari awal, Baek. Hiduplah denganku di Kanada."

Baekhyun terdiam dengan degupan cepat di dadanya. Ia menatap kedua bola mata Chanyeol bergantian untuk menyalurkan apa yang tengah ia rasa. Semua ini terlalu cepat untuknya berpikir. Tetapi jika itu bersama Chanyeol, Baekhyun ingin pergi. Baekhyun ingin pergi kemanapun asal bersama lelaki itu.


Lima bulan kemudian~

"Aish! Kubilang aku akan menulis berita yang bagus. Kenapa kau tidak percaya?" Seorang lelaki terlihat tengah memaki sambil menutup pintu mobilnya dengan sebelah tangan memegang ponsel.

Suara dari seberang telepon menjawab, "Berita apa yang kau maksud, hah? Kau sudah tidak datang ke kantor dua hari! Bosmu selalu menanyaiku, bodoh."

"Sst! Ini misi rahasia. Sudahlah, aku tutup!"

"Yakㅡ"

Lelaki itu segera memasukan ponsel ke saku celana. Sebuah kamera dikalungkan di lehernya sementara ia memegang teropong kecil. Ia berjalan mengendap-endap ketika dirinya melewati beberapa perumahan mewah. Sesekali ia bersembunyi di balik pohon dan mengawasi kejauhan dengan teropongnya.

Ia tersenyum licik. "Hari ini aku pasti akan mendapat berita hot."

Huang Zi Tao, itu namanya. Ia adalah seorang wartawan dari perusahaan yang terkenal dalam mengekspos informasi maupun skandal dari orang-orang berpengaruh di Korea. Pekerjaannya selalu tak jauh dari memburu berita yang dapat dibawa ke publik dengan cara sensasional.

Dan kali ini incarannya adalah keluarga konglomerat Park yang sudah beberapa bulan ini ia awasi secara diam-diam. Akhirnya, sejak dua hari lalu ia memutuskan keluar dan mengawasi di jarak dekat.

Sejujurnya sudah banyak rumor yang beredar dan orang-orang yang menghubunginya untuk melakukan penyelidikan terhadap keluarga tersebut. Namun ternyata sangat sulit untuknya mendapat informasi seolah rumah itu memang sangat tertutup dari dunia luar.

Jantung Tao berdegup cepat ketika dirinya berada di sebelah rumah Kris Park. Ia mengintip dengan teropongnya melalui celah besi-besi yang menyatu dengan tembok yang tak dijaga oleh para pengawal. Matanya menyipit penuh rasa penasaran. Ia bisa melihat banyak pelayan dan pengawal hilir mudik melakukan tugas mereka.

Satu hal lagi, perusahaan di mana Tao bekerja terkenal hebat dalam kualitas foto yang didapat. Mereka bahkan rela memanjat pohon untuk mengambil gambar yang bagus dan jelas. Semua wartawan di perusahaan mereka memiliki jiwa nekat dan siap mengambil risiko. Seperti Tao salah satunya.

Tao menajamkan indera dan mengawasi situasi. Saat dirasa telah cukup sunyi, ia mencoba memanjat tembok tersebut dengan suara seminim mungkin. Kakinya menapak sempurna di atas rumput halaman Kris dan ia langsung bergerak cepat untuk mencari tempat yang lebih aman dari mata pengawal.

Ia menghembuskan napas lega ketika berada di sebuah bangunan di bagian belakang rumah. Ia menepuk pelan kameranya. "Tenang saja. Kita sudah sering melewati ketegangan seperti ini." Gumamnya menyemangati.

Ia pun melangkahkan kakinya menaiki satu-satunya tangga yang ada di sana sebagai petunjuk jalan untuk masuk ke dalam rumah. Anak demi anak tangga ia pijaki dengan keringat yang mulai sedikit membasahi rambut ashgreynya. Lelaki itu kemudian membuka sebuah pintu ketika telah berakhir di anak tangga terakhir.

Bola matanya berlarian kesana-kemari memandangi kemewahan lorong di mana ia berada. Benar-benar layaknya rumah orang kaya. Hanya saja ini memang terbilang cukup mewah dan dikategorikan tak wajar. Tao tanpa sadar menjepret kameranya pada lukisan maupun pajangan mahal seperti ia bisa menemukan sesuatu dari itu.

Kakinya berjalan pelan mengawasi sekitar. "Kenapa sepi sekali?" Bisiknya pelan. Lantai tempatnya berada seperti tak pernah dikunjungi oleh siapapun. Bahkan ia tak menemukan adanya tanda-tanda kehidupan.

Suara-suara samar terdengar membuat Tao lantas berjongkok sambil memperhatikan dari celah pembatas di samping ujung tangga ke arah lantai dua di mana para pelayan sedang sibuk membersihkan ruang keluarga.

Semua tampak normal. "Tidak ada satupun yang mencurigakan." Gumamnya. Ia menggaruk tengkuknya bingung.

Yang ia dengar Kris memberlakukan kerja paksa. Ia menculik orang-orang dan memperbudaknya. Namun mengapa rasanya semua terlihat baik-baik saja saat ini?

Setelah para pelayan terlihat pergi seluruhnya, Tao dengan pelan-pelan menuruni tangga tanpa suara. Ia memperhatikan setiap sudut bagian rumah mewah tersebut. Benar-benar luar biasa besarnya. Tao kembali menjepretkan kamera pada setiap sudut ruangan.

Iris matanya terhenti pada foto besar Kris yang terpajang di dinding. Ia berdecak kagum. "Wuah.. harus aku akui dia memang sangat tampan." Pujinya dengan gelengan kepala.

Kakinya melangkah kembali menyusuri ruangan di lantai dua. Ia berjalan di lorong yang memiliki beberapa pintu. Dengan hati-hati ia mencoba membuka tanpa suara salah satu pintu tersebut. Benar-benar tidak sopan, namun ini memang telah menjadi pekerjaannya sehari-hari.

"Wuah.. Dia pasti sangat senang membaca." Ucapnya pelan di ambang pintu dengan kepala terjulur ke dalam memperhatikan ruang perpustakan besar yang Kris miliki di rumah mereka.

Ruangan itu seperti perpustakaan untuk umum. Dipenuhi dengan buku-buku dan sebuah meja di sudut tengah ruangan. Pasti Kris sering duduk di sana, pikirnya.

Setelah puas melihat-lihat tanpa ijin, Tao menutup kembali pintu itu dengan perlahan. Ia kemudian membalik tubuhnya namun tersentak ketika bibirnya menyentuh bahu seseorang. Jantungnya langsung berdetak cepat seperti baru saja melihat sosok hantu.

Sebenarnya Tao lebih berharap itu hantu sungguhan dan bukan seorang pria tampan dengan kaos abu-abu serta rambut acak-acakan sehabis bangun tidur yang tengah menatapnya tajam dengan kerutan alis tebalnya.

Tao mengerjap menatap wajah Kris. Tubuhnya kaku dan otaknya bergerak lambat. Sebelum ia sempat bertindak, tahu-tahu sebelah tangan Kris telah memukul pintu di samping telinga Tao hingga tubuhnya berjengit kaget. Kini Tao berada dalam penjara tangan pria itu.

Wajah Kris benar-benar menyeramkan. Suara pria itu begitu berat dan tajam. Sangat mengancam nyawanya.

"Siapa kau?" Geram Kris.

Tao menatap takut. Belum pernah ia merasa sangat terintimidasi oleh seseorang. Jika ada yang bisa melihat lelaki itu di jarak dekat, mereka pasti bisa menemukan bagaimana jemari Tao bergetar hebat.

"Aku tanya, siapa kau?!"

'Astaga..'

.

.

.

.


{ To Be Continued }


7k words

Song : Juniel - Standing Here

Terima kasih untuk support kalian selama ini. Sampai jumpa di chap terakhir!