A/N : Maaf telat, gegara gak punya kuota dan mood yang bagus buat ngetik. Welp, enough about me. Mari langsung balas review!

-RosyMiranto

Blossom : Huahahaha! Ini pencetak review terpanjang yang pernah kubaca! *garuk dinding*

Takatora : *sweatdrop*

Suzu : Ah, coklat? Terima kasih banyak.

Takatora : *lirik coklatnya* Aku punya firasat buruk...

Suzu : Eh? Kenapa?

Scarlet : Sekali kamu gigit, kamu bakal pingsan lho nak.

Takatora : BAKAYARO! Seharusnya kau bilang dari tadi! Kalian ingin membunuhnya apa!? *buang Mystery Food X jauh-jauh*

Suzu : Ah, mubazir. Tapi dia sudah susah payah membuatkannya untukku...

Takatora : *sigh* Suzu, kau terlalu baik. Kalau kau memakannya, itu artinya kau bunuh diri!

Suzu : E-Eh, ya... Maaf.

Takatora : Jangan minta maaf padaku. Harusnya orang yang tadi minta maaf!

Scarlet : PMS mulu sih mas bro.

Blossom : Yosh, terima kasih banyak telah mereview! *unyel- ditendang*

Disclaimer : Samurai Warriors belongs to KOEI. OCs and story plot belongs to me.

Warning : Mainly OC x Tōdō Takatora. OOC yang mungkin tidak disengaja atau sengaja demi alur cerita, sering typo, diksi yang tidak baku, suram dan abal. Saya usahakan ceritanya sama dengan game, anime dan atau sejarahnya. Kalimat digaris miring menandakan FLASHBACK atau suara hati(?) *plak*. Mohon maaf atas kesalahannya. DON'T LIKE DON'T READ NO FLAMES. REVIEW PLEASE!

-XxX-

Bell of the White Hare

-XxX-

CHAPTER 4-B

A Light in the Darkness

-XxX-

"Ini adalah dunia yang palsu. Kau harus sadar akan hal itu."

Suzu terpaku seketika mendengarnya. Seisi kepalanya mengingat waktu yang telah ia habiskan dengan orang-orang yang ia sayangi. "Semuanya... palsu...?"

"Akhirnya kau mengerti juga. Nah, lakukanlah. Kau pasti tahu bagaimana caranya untuk memusnahkan semua kebohongan yang telah membodohi dirimu."

Tangannya bergemetar ketika menatap botol kecil berisi racun tersebut. "...ya." Wanita yang menyebut dirinya Kagome itu menghilang dari pandangan Suzu. "Aku... benar-benar tidak tahu apapun. Apa dengan ini... aku bisa...?"

-XxX-

Ah, begitu rupanya. Dari awal seharusnya aku telah menyadarinya. Menginjak medan perang artinya bersedia mempertaruhkan nyawa dan terluka. Tak hanya itu, kehilangan seseorang yang dekat dengan dirimu, saling membunuh tanpa mengenal rasa kasihan. Itu hanya membuang nyawa, tidak ada artinya bagiku untuk melakukannya.

Percuma.

Segalanya percuma.

Ternyata dunia yang seperti ini tak cocok untuk diriku.

Aku tak bisa menganggung semuanya. Kenapa? Jawabannya mudah, itu karena aku sendirian. Bergantung pada seseorang pun tak ada gunanya, karena pada akhirnya satu dari mereka akan sendirian. Tak ada yang bisa diselamatkan. Dan tak ada alasan yang pantas bagiku untuk tetap bertarung.

Meski awalnya aku berniat untuk membalas budi pada Tuan Hideyoshi dan Nona Nene yang telah merawatku dengan baik. Tetapi aku melakukannya hanya demi diriku sendiri, sekadar membalas kebaikan mereka sepenuhnya. Bukan demi mereka. Tidak kurang, tidak lebih. Namun apapun yang kulakukan meski dimana aku harus memaksakan diriku, semuanya takkan cukup.

Dan segalanya akan percuma.

Lebih baik aku melarikan diri dari awal. Semua penderitaan yang kualami selalu mendorongku untuk menyerah. Betapa bodohnya aku baru menyadarinya sekarang. Namun kemana pun aku pergi, aku tidak tahu harus melangkahkan kakiku kemana. Tidak tahu dimana tempat yang aman, dimana bisa berlindung, dan tak ada tempat yang ingin kulindungi dengan segenap hati.

Aku tak memiliki apapun.

Ayah dan ibu mati karena diriku yang lemah.

Bibi juga mati karena diriku yang naif.

Wanita itu benar.

Aku tak tahu apapun karena diriku yang bodoh.

Aku tak mau menjalani hidup dengan jalan yang kejam dan menakutkan seperti ini.

Bagaimana aku bisa melarikan diri?

...

Wanita itu bilang, jika aku terus berjuang. Jalan yang kutapaki hanya akan berujung pada kematian. Jika itu benar-

Aku akan...

-XxX-

Klan Takeda sudah berakhir. Meski cukup sulit untuk menghentikan pasukan berkuda dan memutar balikk keadaan, namun berkat Oda berhasil memenangkan perang.

Meskipun demikian, Tuan dari Tōdō Takatora, Tsuda Nobusumi, sama sekali tidak merasa puas dengan kerja kerasnya. Apa dirinya masih belum cukup? Apa ia melewatkan sesuatu?

Pertanyaan itu seketika menghilang saat mata birunya terkunci pada sosok gadis berkerudung hitam. Melihat helai demi helai rambut perak miliknya, ia mengenal gadis itu. Sudah dua tahun ia tak bertemu dengannya. Tentu ia merasa senang, namun sesuatu yang mengganjal menganggu pikirannya.

"Suzu, sejak kapan kau berada di sini?"

"Aku..." Aneh, dulu biasanya ia selalu melepas kerudung hitamnya setiap ia ingin berbicara dengannya. Namun sekarang semuanya berbeda. Anak rambutnya yang panjang membuat Takatora tak dapat bertatapan mata dengan gadis itu. Melihatnya menggigit bawah bibirnya, Takatora menduga bahwa ia dalam masalah.

"...aku... ingin bertemu dengan Oichi-sama." Dari lantunan nadanya, ia mulai curiga. Mengapa dia terlihat begitu takut? Bukan, lebih dari itu. Gadis itu mengepalkan kedua tangannya, sekuat tenaga untuk menghentikan getaran tubuhnya.

"Katakan, Suzu. Kenapa kau-"

"Kumohon jangan menghalangiku...!" Suzu memotong perkataan pemuda itu dengan meninggikan nada suaranya. Perlahan, Suzu berjalan menghampirinya. Sedangkan Takatora hanya berdiri menunggunya berhenti tepat di depannya. Nafas gadis itu terdengar berat. "Ada sesuatu yang harus kulakukan. Hanya ini, satu-satunya jalanku... jalan kehidupanku seorang."

"Apa yang kau bicarakan-"

Kedua kelopak mata Takatora melebar ketika melihat tangan kanan Suzu menggenggam sebuah tantou yang hendak mengarah ke lehernya.

"Eh...?"

Beruntung, Takatora berhasil mencegahnya. Walaupun hasilnya telapak tangannya tersayat cukup parah. Darah segar pun mulai mengalir. Takatora menarik tantou tersebut lalu membuangnya sejauh mungkin.

"Demi apa kau membunuhku?" Tanya pria bermanik biru tersebut dengan tenang dan menatap tajam gadis bersurai perak yang berusaha untuk menghentikan getaran ketakutannya. Suzu menjalin kedua tangannya dan menggigit bibirnya lebih keras sehingga darah mengalir dari ujung bibirnya.

"...hanya ini satu-satunya jalan... agar aku bisa bebas." Gumamnya.

"Sudah kubilang, apa maksudmu!?" Takatora meninggikan nada suara seraya mencengkram kedua bahu Suzu. Ia memekik kaget, kedua tangannya menahan kerudung hitam yang semakin membuat Takatora tak bisa bertatapan wajah dengannya. "Suzu!"

"Aku tidak mengerti...! Aku tidak mengerti...! Aku sudah muak dengan dunia ini!" Suzu berteriak sangat keras. Dia mendorong Takatora, tubuhnya mulai kehilangan tenaga sehingga Suzu tak dapat berdiri. Sebuah botol kecil jatuh dari pakaiannya. Penglihatannya terarah pada botol itu.

"..." Nafasnya terengah-engah, kedua tangannya tak bisa berhenti bergemetar, pikirannya sangat kacau. Lalu ia mengambil botol itu dan langsung meminumnya. Takatora merasa sedikit lega ketika melihat raut wajahnya yang mulai tenang.

"...daripada bertahan di dunia ini... lebih baik aku mengakhirinya sekarang." Gumamnya setelah meminunya sampai habis.

Takatora mengutuk dirinya sendiri, ia sungguh tak mengerti apa yang perempuan itu bicarakan. Penyandang marga Tōdō itu menghela napas untuk menenangkan diri, lalu berlutut di depannya. "Suzu...?"

Tangannya yang masih bergemetar mencengkram pakaiannya dengan erat. "Takatora-san. Aku ingin Tuan mengabulkan permintaanku." Ia menengadahkan kepalanya. Sebuah senyuman terulas pada wajahnya, namun berbeda dari senyuman khasnya seperti dulu. Baginya itu bukanlah senyuman kebahagiaan atau kesedihan.

Ia hanya tahu bahwa senyumannya itu palsu.

Bukan senyuman yang ingin ia lihat.

Sama sekali tidak membuat semua perasaannya hangat dan ringan, bahkan sebaliknya- hatinya semakin membeku, tak dapat dicairkan dengan mudah.

"Sejujurnya aku ingin bertemu dengan Obaa-sama, juga kedua orang tuaku di alam yang jauh. Karena hanya dengan itu, aku bisa bahagia. Karena itu... kumohon bunuhlah aku."

Mendengar permintaannya, dadanya terasa berat dan sesak. Kedua mata Takatora melebar tak percaya apa yang baru saja ia katakan. "Apa...?" Tiba-tiba Suzu merintih kesakitan, kedua tangannya mencengkram semakin kuat dadanya. Suzu memuntahkan darah sehingga membuat mengotori rerumputan dan pakaiannya. "Suzu!"

Nafasnya semakin terasa berat, air matanya mengalir deras. Betapa bodohnya ia baru menyadari kalau air yang minum tadi adalah racun. "...aku... tidak membutuhkan apapun..." Isakan tangis dan mulut yang penuh darah membuatnya kesulitan berbicara. "...secepatnya... aku ingin menemui mereka. Kumohon, Takatora-san..."

"Dasar bodoh! Sebenarnya apa yang terjadi padamu!? Kenapa kau-"

"Aku... tak akan bisa bahagia di dunia ini... Semua yang ada di dunia ini adalah kebohongan dan palsu. Kedua orangtuaku... dan bibi... ada di dunia yang tak bisa kuraih. Terlahir di dunia dimana aku harus menerima orang yang kusayangi menghilang, aku tidak akan bisa menerimanya. Aku lebih baik mati daripada hidup untuk saling membunuh."

"Itu tidak benar! Aku tidak akan membiarkanmu mati! Bukankah dulu sudah kubilang untuk tetap bertahan hidup!?"

"Takatora-san!" Ia meninggikan nada suaranya yang serak. "Aku... aku memihak Takeda, bukan Oda! Aku adalah musuhmu! Aku diperintahkan untuk membunuh Oichi-sama!"

"Apa katamu...?"

"Jika Tuan membiarkanku hidup, aku tak akan menyerah untuk melakukan cara apapun untuk membunuh Oichi-sama. Takatora-san tidak akan membiarkannya, 'kan!?"

... ...

Tidak, Takatora tidak akan membiarkan siapapun yang mencoba untuk membunuh Oichi. Meski sekarang ia bukanlah majikannya, ia masih memiliki kewajiban untuk melindunginya. Dari semua orang, mengapa dirinya?

"...u-uhh!" Suzu kembali memuntahkan darah. "...aku tidak akan bisa bertahan hidup dengan cara seperti ini. Karena itu..."

"...sekuat itukah keinginanmu, Suzu?"

"... aku... mengatakan yang sesungguhnya. Aku sungguh ingin menemui mereka. Aku sudah tidak tahan dengan penderitaan ini. Hanya ini... permintaan terakhirku..."

"Apa kau tidak takut dengan kematian?"

"...aku tidak tahu. Tapi aku tidak peduli... aku hanya ingin menemui mereka..."

Kedua alis Takatora menyempit, ia menggertakkan giginya kemudian mencengkram kedua bahu Suzu. "Tidak peduli, katamu? Bagaimana bisa kau mengatakannya dengan mudah!?"

Suzu mengangkat kepalanya, cahaya pada manik merahnya itu menghilang. Hanya kekosongan, layaknya seperti orang yang sudah mati. Meratapi matanya itu sudah cukup membuat hati Takatora berlubang.

Tetapi sekarang, gadis itulah yang harus ia sembuhkan- dari semua penderitaan yang ia alami semenjak terlahir di dunia bagaikan neraka. Meski ia bukanlah kerabat dekat ataupun teman, Suzu telah memasuki kehidupannya. Takatora mengenali wajahnya, suaranya, kepribadiannya. Meski ia belum tahu sepenuhnya tentang Suzu. Namun ia tahu dirinya yang selalu percaya pada segala hal. Mengingat bagaimana senyuman lembutnya pada waktu itu, Takatora mulai mengerti bagaimana sosok gadis itu. Seburuk apapun hal yang terjadi, ia akan tetap percaya bahwa suatu hal yang baik- sekecil apapun kebaikan itu, ia akan tetap menyimpannya dan tidak membuang hal buruk yang telah mempermainkan perasaannya.

Namun sekarang, Suzu menyerah dari kata 'percaya'. Dia bukan dirinya yang dulu- dirinya yang biasanya. Hatinya mulai terkurung oleh rasa keputusasaan yang tak bisa dibuka dengan paksa.

"Suzu, aku tidak akan membunuhmu."

Kelopak mata Suzu melebar, alisnya menyempit, seolah-olah ingin memaksa Takatora untuk mengabulkan permintaannya. "Kenapa tidak...?"

"Jika kau ingin mati, jangan melibatkanku. Tetapi sekarang, aku tidak akan membiarkanmu mati." Jawab Takatora dengan tenang. Mempertemukan mata birunya dengan manik merah Suzu.

Suzu kembali menggigit bawah bibirnya. "...Takatora-san. Apa Tuan tidak mendengar perkataanku tadi? Sekarang aku adalah kunoichi di bawah naungan Chiyome-sama! Aku adalah musuhmu!" Bentak Suzu berusaha untuk meninggikan nada suaranya.

"'Kau adalah musuhku', katamu? Sayang sekali, aku tidak pernah menganggapmu 'musuh' bagiku, Suzu. Tidak akan pernah."

"Na-"

"Suzu." Takatora memotongnya. "Apakah membuang nyawamu sendiri adalah keinginanmu yang sesungguhnya?" Suzu terbungkam, mencari kalimat yang tepat untuk membalas perkataan Takatora agar ia bisa menang. Namun tak sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. "Kau sama sekali tidak seperti dulu. Hal sekecil apapun, kau selalu percaya bahwa pasti ada harapan agar-"

"Takatora-san tahu apa tentang diriku!? Aku ini lemah, kecil, tidak berdaya. Aku tidak bisa melindungi Obaa-sama, kedua orang tuaku bahkan Oichi-sama dan Nagamasa-sama! Obaa-sama mati karena diriku! Orang tuaku juga mati karena diriku! Nagamasa-sama juga telah mati karena aku tidak berguna! Aku sudah kehilangan semuanya! Orang yang kusayangi dan hal yang kupercayai, sudah menghilang begitu saja. Semuanya karena ketidakmampuan dan ketidakberdayaan diriku hingga sekarang! Di dunia yang hancur ini, tak akan ada yang akan selamat. Mereka semua akan mati! Termasuk Takatora-san dan juga aku! Hidupku tanpa mereka... sudah tidak ada artinya. Melarikan diri pun tidak ada gunanya, kemana aku harus melangkahkan kakiku? Apapun yang akan kulakukan semuanya percuma! Jika tanganku terselip sedikit saja, aku hanya akan menjadi beban. Aku tidak akan mendapatkan apapun... Daripada menghadapi semua penderitaan ini, aku lebih baik menghilang! Jadi, kumohon... aku ingin semua tali kehidupan penderitaanku putus... Hanya itu."

Ia menggenggam dadanya erat sembari menahan kesakitan dari dalam tubuhnya. Takatora meraih wajahnya, jemarinya menyeka darah pada tepi bibirnya. "Memang benar aku masih belum tahu sepenuhnya tentang dirimu. Tapi, apa kau ingat, Suzu? Kau pernah bilang padaku, 'ksatria adalah orang yang mengayunkan pedangnya demi melindungi orang lain.'" Suzu menengadahkan kepala. "Memang mustahil jika aku melindungi semua orang. Tapi, meskipun begitu. Aku akan melindungimu."

"...kenapa? Aku ini lemah, tidak berguna dan-"

"Bukan hanya kau. Aku juga lemah."

"...eh?"

"Saat Istana Odani terbakar, kau terjebak di dalam sendirian disana. Aku sudah melakukan apapun tetapi aku tak mampu menyelamatkanmu. Aku merasa bahwa diriku bukanlah ksatria hebat yang bisa menyelamatkan siapapun. Dan aku membenci diriku akan hal itu..." gumamnya. "Tapi sekarang, kau hidup, Suzu. Itu karena kau masih memiliki kesempatan."

"Bukankah sudah kubilang? Aku sudah tidak punya siapapun lagi! Aku sudah kehilangan jalanku, kepercayaanku dan kebahagiaanku!" Ia menampar tangan Takatora dari wajahnya. "Sebelum aku bertemu dengan kalian semua, sebelum aku kehilangan mereka. Begitu banyak waktu dan kebebasan agar aku tetap bahagia bersama kedua orang tuaku. Tapi, dunia ini tidak menginginkanku bahagia! Mereka sudah meninggalkanku sendirian! Disaat Obaa-sama menyelamatkanku, bertemu dengan Nagamasa-sama dan Oichi-sama. Kukira aku masih memiliki kesempatan untuk menemukan kebahagiaanku bersama mereka. Tapi aku salah. Lagi-lagi, aku tidak dibiarkan hidup bahagia!" Suzu menyeka air matanya. "Menangis pun tidak ada gunanya, kebahagiaan itu hanyalah kebohongan. Semuanya adalah ilusi! Dunia ini sangat kejam, semua kebahagiaan yang kutemukan selalu saja menghilang seketika. Jika aku terus hidup, tidak ada yang akan berubah. Sudah jelas... aku tidak akan bisa bahagia." Suzu memeluk kakinya dan menyembunyikan wajah diantara lututnya sembari menahan isakan tangisnya.

Takatora terdiam setelah mendengar semua keluh kesah yang telah ia keluarkan dari mulutnya. Sepasang manik birunya menatap lurus gadis bersurai perak tersebut. "Suzu." Takatora meraih tangan kanannya, Suzu mengangkat kepalanya untuk kembali menatap pria itu. "Apakah kebahagiaan di saat kau bersama kedua orang tuamu itu adalah kebohongan juga?"

Kelopak matanya melebar. "...eh?"

"Di saat kau bersama Bibimu? Nagamasa-sama dan Oichi-sama? Dan juga bersama Yoshitsugu dan aku? Senyuman dan tawamu itu juga kebohongan? Kau tidak bahagia bersama mereka?" Kedua alis Takatora menyempit.

"T-Tidak... aku..."

"Apa semua itu ilusi?"

"Tidak! Bukan...! Bukan!" Bentaknya dengan suaranya yang sedikit serak dan menggeleng kencang. "Aku sangat bahagia... tapi, ayah dan ibuku tidak akan pernah kembali lagi! Obaa-sama dan Nagamasa-sama juga! Aku..."

"Tapi kau masih mengingatnya, bukan?" Takatora menggenggam tangan kanan Suzu dengan kedua tangannya. Darah yang mengalir pada telapak tangan Takatora sudah berhenti namun masih meninggalkan rasa sakit. Meskipun demikian, rasa sakit yang tak berdarah yang membekas pada hati Suzu membutuhkan lebih daripada luka pada tangan Takatora. Jika bukan dia yang menolong perempuan itu, lalu siapa?

"Jika kau kehilangan jalanmu, kepercayaanmu dan kebahagiaanmu. Aku akan membantumu mencarinya. Kau bisa mempercayakan segalanya padaku, Suzu."

Meski rasa sakit dan berat di dadanya masih tersisa, kata-katanya membuat hatinya hangat dan ringan. "...eh?" Kelopak matanya melebar.

Takatora tersenyum tipis. "Kau telah menjadi salah satu bagian dari kehidupanku juga. Kau sangat penting bagiku. Karena itu, aku tidak akan membiarkanmu mati. Aku ingin kau tetap hidup."

Mendengar bahwa dirinya masih berharga, Suzu tak pernah tahu bahwa dia juga dianggap sebagai orang yang terpenting di kehidupannya. Air mata mulai mengalir deras.

"Suzu, apa kau percaya padaku?"

Suzu menurunkan kepalanya. "Takatora-san juga orang yang paling berarti untukku, tapi jika aku percaya. Tuan pasti akan pergi menyusul mereka..."

"Tidak akan."

"Bohong. Meski Takatora-san berusaha untuk tidak mati, pada akhirnya nyawamu pasti akan menjadi taruhannya."

"Kau benar. Tapi aku tidak akan mati sampai kau menemukannya. Janji atau bukan, aku hanya ingin kau percaya padaku."

"Sampai aku... menemukannya...?" Suzu menggeleng, berusaha untuk termakan oleh kata-katanya. "Kenapa... Takatora-san sampai begitu..." Suzu mencengkram tanah dengan kedua tangannya.

"Aku tidak mungkin bisa membiarkanmu menderita sendirian. Kau telah menjadi bagian dari kehidupanku-"

"Kalau begitu, kumohon keluarkan aku dari kehidupanmu!" bentak Suzu. "Semuanya percuma! Meski Tuan berusaha untuk bertahan hidup, semua orang tak akan tahu apa yang akan terjadi! Kenapa Tuan begitu bersikeras melakukan ini padaku!? Aku ini-"

"Apa aku salah jika aku peduli padamu!?"

Suzu kembali terbungkam.

"Kau pikir mereka yang kau sayangi ingin kau membuang nyawamu!?" Takatora kembali menahan bahunya. "Kau pikir aku akan puas jika aku membunuhmu!? Yang kau tahu hanyalah dirimu sendiri, tapi kau tidak memikirkan bagaimana dengan orang yang masih peduli padamu!"

Suzu tak bisa menjawab. Sepasang matanya masih basah akan air matanya. Kemudian Takatora merengkuh tubuh mungil Suzu ke dalam pelukannya. "Aku tidak akan membiarkanmu mati. Kau tidak akan sendirian. Suzu, aku percaya kau masih memiliki harapan untuk menemukan kebahagiaan yang kau inginkan. Kita akan memulainya lagi dari sekarang." Takatora menahan lengan dan pinggangnya untuk membantu Suzu berdiri. Kemudian Takatora mengeluarkan sebuah benda bulat berwarna keemasan, sebuah bel kecil. "Waktu itu kau pernah memintaku untuk menjaga belmu sampai kita kembali bertemu." ucap Takatora sampai mengalungkannya di leher Suzu. "Dan mengatakan bahwa kau dan aku harus bertahan hidup apapun yang terjadi. Bukankah begitu?" Seulas senyuman lembut ia berikan pada Suzu.

Kilauan pada manik merah gadis itu kembali terpancar, air matanya kembali mengalir. "Aneh... padahal aku sudah memutuskan untuk mengakhiri hidupku. Semua perasaanku jadi hangat dan lapang, persis seperti waktu aku masih memiliki mereka semua. Ternyata, aku terlahir demi saat dimana aku diselamatkan oleh Takatora-san..." Tiba-tiba Suzu kembali batuk memuntahkan darah.

"Suzu!" Takatora segera menahan tubuhnya yang hendak jatuh. Ia menghapus darah dari mulut Suzu dengan jemarinya.

"...Takatora-san, aku merasa sangat mengantuk... dadaku sakit dan sesak. Kalau aku tertidur sekarang... apa aku... masih... bisa..." Suzu menyandarkan kepalanya di dada Takatora sembari mencengkram lemah pakaiannya.

"Kau harus tetap percaya. Jika tidak, aku akan menarikmu dari alam sana."

Takatora bergegas menggendongnya untuk membawanya ke markas terdekat. Suzu tersenyum kecil kemudian memejamkan mata, sebelumnya ia jarang mendengar Takatora mengatakan hal yang konyol dan tidak masuk akal. Gadis itu tidak tahu bagaimana cara Takatora menariknya dari alam yang tak seorang pun yang tahu, tetapi ia tahu bahwa Takatora benar-benar serius mengatakannya. Meski tubuhnya kini kesakitan, namun hatinya merasa begitu ringan dan hangat.

Suzu begitu jarang melihat Takatora tersenyum lembut seperti itu, seisi kepalanya kembali mengingat kata-kata yang telah membuka hatinya. Semua ucapan itu adalah kata-kata yang paling ingin ia dengar, disaat ia sangat ingin mendengarkannya, dan kata-kata dari orang yang paling ingin ia dengarkan. Ia yakin dari lubuk hatinya, semua kehangatan yang ia rasakan saat ini, sudah membuat dirinya bahagia dan terlepas dari keputusasaan yang mengurung hatinya. Semua berkat pria itu yang tanpa ragu mengulurkan tangan dan menariknya dari kegelapan.

Dialah yang telah memberinya secercah cahaya baru padanya.

-XxX-

Sesampainya di markas, Takatora segera memanggil tabib setelah membawa Suzu ke dalam tenda. Sementara tabib merawatnya, Takatora segera menemui atasannya.

"Apa yang kau lakukan, Takatora!? Aku tidak memberimu perintah untuk meninggalkan tugasmu!" Tertulis jelas amarah pada wajah Nobusumi membuat Takatora merasa bersalah. Namun dirinya sama sekali tidak bermaksud untuk mengecewakan tuannya. Selalu merasa dirinya masih belum cukup dan pantas untuk melayani Nobusumi.

"Maafkan saya, Tuan." Takatora langsung menunduk dalam dihadapan keponakan Nobunaga tersebut.

"Jadi? Kenapa kau membawa anak kecil yang sudah mati ke dalam markas!? Apa yang kau-"

"Nobusumi." Seorang wanita dengan gaun merah jambu menghampiri dua pemuda itu. Nobusumi membeku seketika mendengar suara tegas wanita itu.

"Oichi-sama?" gumam Takatora.

"Nobusumi. Menyembuhkan orang yang masih bisa diselamatkan adalah hal yang patut disyukuri. Anda tidak berhak melarang bawahanmu untuk itu."

"O-Oichi-sama! Maafkan hamba! Saya hanya-" Nobusumi panik dan masih berusaha membela diri.

"Dan satu hal lagi. Saya telah memerhatikan selama ini bahwa Anda telah memperlakukan bawahanmu dengan cara yang tidak pantas. Takatora dengan tulus telah memberikan segalanya agar kau dapat mempercayainya. Namun Anda sama sekali tidak menghargai kerja keras dan keberaniannya," tegas Oichi. "Anda sebaiknya bersyukur telah diberkahi kesetiaan oleh bawahan seperti Takatora."

"Y-Ya, Oichi-sama. Maafkan hamba!"

Oichi mengangguk. "Kau boleh pergi. Jangan khawatir, aku tidak akan memberitahu masalah ini pada Onii-sama. Kecuali jika Anda masih tetap memperlakukan bawahan Anda dengan buruk."

"Baik, Nona!" Nobusumi bergegas mengundurkan diri.

Melihat atasannya yang disudutkan, Takatora semakin merasa bersalah. "Oichi-sama. Maaf atas kelancanganku, tetapi Nona tidak perlu melakukannya. Saya hanya membutuhkan waktu agar Nobusumi-sama dapat mempercayaiku. Kesetiaanku padanya adalah hal yang mutlak."

Oichi menggeleng dan menyempitkan alisnya. "Takatora, apa maksudmu adalah kesetiaanmu pada Nobusumi sama dengan kesetiaanmu pada Nagamasa-sama?"

Takatora memalingkan wajah, tak dapat membalas ucapan dari istri mantan atasannya. "Itu..."

"Kau adalah pria yang bijak, Takatora. Kau seharusnya menunjukkan kesetiaanmu pada majikan yang lebih pantas untukmu, bukan pada sembarangan orang. Aku mengerti kau ingin melakukan yang terbaik demi tuanmu. Tetapi kami tidak ingin melihatmu semakin menderita. Itulah harapanku dan Nagamasa-sama."

Takatora terdiam sejenak. Ia masih menyalahkan dirinya karena telah membuat istri dari mantan majikannya cemas, namun juga bersyukur karena Oichi mempedulikan dirinya.

"Omong-omong, anak yang kau bawa tadi itu siapa?" tanya Oichi.

"Ah, anak tadi adalah Suzu."

Kedua kelopak mata Oichi melebar. "Suzu? Ternyata dia masih..."

Takatora mengangguk. "Ya. Memang dia terjebak sendirian saat Istana Odani terbakar. Beruntung istri dari Hideyoshi menemukan Suzu lalu mengadopsinya."

"Begitu. Ah, syukurlah." Oichi menghela napas lega.

"Tabib sedang merawatnya. Saat ini dia masih tidak sadarkan diri."

"Apa dia terluka?"

Takatora menggeleng, kemudian mengantar Oichi ke dalam tenda dimana Suzu dirawat. "Beruntung tidak ada luka di tubuhnya. Akan tetapi, ia meracuni dirinya sendiri." ucap Takatora seraya memandang Suzu yang belum sadarkan diri.

"Apa...?"

"Kupikir dia akan aman dibawah perlindungan Hideyoshi. Tetapi kenapa ini bisa terjadi padanya, saya pun tidak mengerti. Andai saja aku lebih cepat menyadarinya..." gumam Takatora. Pandangan Oichi terarah pada kedua tangan Takatora, ia mengepalkan kedua tangannya dengan kuat. Kemudian mata coklat Oichi berpindah pada wajahnya, alisnya menyempit, ia menggigit bawah bibirnya. Membaca raut wajahnya, Oichi yakin bahwa Takatora berniat untuk membalas perbuatan orang yang telah membuat Suzu hampir kehilangan nyawa. Ia tahu bahwa Takatora adalah pria yang menentang perbuatan yang keji serta dirinya memiliki jiwa yang mudah rapuh. Begitu mudah mempedulikan orang yang ia kenal dibandingkan dirinya sendiri.

Oichi mengeluarkan sebuah surat dari pakaiannya. "Takatora. Ini adalah surat perkenalan pada Hashiba Hidenaga. Bawalah surat ini dan bekerjalah dibawah naungannya."

Takatora menatap surat itu. "Hashiba Hidenaga, adik dari Hideyoshi? Maaf atas kelancanganku Oichi-sama, tetapi aku harus menolak. Hashiba telah menjatuhkan Nagamasa-sama. Aku tidak bisa mengabdi padanya."

"Hidenaga adalah orang yang baik hati dan tulus. Aku yakin beliau pasti akan memperlakukanmu dengan sangat baik. Selain itu, kau bilang Suzu dirawat oleh Hideyoshi, benar? Di saat itu kau juga bisa menjaganya. Aku yakin kau bisa melakukannya. Apa kau tidak percaya padaku, Takatora?"

Takatora kembali terdiam, matanya tertuju pada Suzu yang masih belum membuka matanya kemudian berpindah pada surat yang di berada ditangan Oichi. "Saya percaya, Oichi-sama. Tetapi..."

"Aku tahu Yoshitsugu juga menjadi bawahan Hideyoshi. Tapi menurut pandanganku, kau mempedulikan Suzu dari lubuk hatimu yang dalam. Mempedulikannya lebih dari siapapun. Jika kau diterima oleh Hidenaga, Suzu pasti akan senang. Tentu saja, aku dan Nagamasa-sama juga senang karena kau memenuhi harapan kami."

"Oichi-sama..." Takatora lalu menerima surat itu. "Baik, Oichi-sama. Saya akan memenuhi harapan Anda dan Nagamasa-sama. Dan aku juga akan melindungi Suzu."

Oichi mengangguk lalu tersenyum. "Senang mendengarnya." Wanita itu kemudian membelai rambut perak Suzu. Dadanya naik turun mengikuti ritme napasnya yang sedikit sesak, kulit serta bibirnya memucat dan mimik wajahnya yang kesakitan sedikit berkeringat. "Apa racunnya masih belum terangkat?" tanya Oichi pada tabib yang sedang merawatnya.

"Maafkan kami, Nona. Sayangnya kami tidak memiliki obat untuk penawar racun. Sebaiknya ia dirawat di istana agar dapat dirawat lebih lanjut. Tetapi perjalanan menuju istana sangat jauh selama lebih dari 3 hari. Jika tidak diobati segera, racunnya akan menyebar ke seluruh organ tubuhnya." jelas tabib wanita tersebut.

"Tidak mungkin..." lirih Oichi.

Tiga hari lebih. Andai saja ia bisa mencari ramuan untuk mengobatinya, Suzu bisa selamat. Namun Takatora bukan seorang tabib. Dulu dirinya memang seorang ronin, hidup sendirian. Namun semasa hidupnya, ia tidak pernah diracuni atau pun meracuni. "Apakah aku gagal lagi menyelamatkannya...?" gumam Takatora.

Mengingat gadis itu terperangkap di dalam Istana Odani sendirian, Takatora sering mengutuk dirinya sendiri. Dan bahkan sekarang ia tak dapat melakukan apapun untuk menyelamatkan nyawanya yang berada di ambang kematian. Ia merasa telah kehilangan kesempatan untuk menghapus kegagalannya.

"Takatora..." lirih Oichi.

Kemudian seorang perawat memasuki ruangan. "Maaf atas keterlambatanku, saya telah membawa obat penawar racun untuk Suzu-dono." ucap wanita itu membawa sebuah botol kecil yang terbuat dari kayu.

Oichi tersenyum penuh syukur pada perawat tersebut. "Benarkah? Ah, syukurlah!" Wanita itu berjalan menghampiri Oichi. Namun Takatora merasa tidak nyaman akan kehadiran perawat tersebut. Pertama-tama, bagaimana bisa perawat itu mendapatkan penawar racun. Menggunakan racun untuk mengalahkan musuh bagi prajurit adalah hal yang jarang dan tidak wajar. Membuat musuh menderita akan racun lebih kejam dibandingkan membunuh mereka seketika.

Kelopak mata pemuda itu membelalak ketika penglihatannya menangkap sebuah tantou di tangan kiri perawat tersebut. "Oichi-sama!" Takatora langsung menolak serangan dadakannya.

Wanita itu mundur kemudian melempar bom asap. Tabib yang sedang memeriksa Suzu berteriak ketakutan. "Disaat kita bertemu lagi, akan kupastikan untuk membunuhmu dengan tanganku sendiri."

"Sial! Beritahu pasukan untuk mengejar shinobi itu. Jangan biarkan lolos!" perintah Takatora pada prajurit yang sedang menjaga tenda. "Oichi-sama, mohon tunggu. Berlindunglah disini, saya akan mengejarnya."

"Takatora, tidak perlu. Biarkan dia pergi."

"Tapi, Oichi-sama-!"

"Aku baik-baik saja. Terima kasih telah mencemaskanku. Ini sudah sering terjadi. Selain diriku, Onii-sama lebih sering diincar oleh para ninja. Tapi aku akan baik-baik saja." bujuk Oichi tersenyum tipis.

Takatora terdiam sejenak kemudian mengangguk. "Baiklah." Lalu pemuda itu berjalan mendekati Suzu yang terbaring lemah untuk memeriksanya. Beruntung kunoichi yang baru saja menyerang mereka tidak melukai Suzu. Oichi pun ikut melihat keadaan Suzu. "Obat ini... apa benar-benar penawar racunnya? Tabib, bagaimana menurutmu?" tanya Oichi sambil memberikan obat tersebut pada tabib.

Tabib wanita tersebut segera memeriksa obat itu, ia menghirup aromanya. "Ini memang obat penawarnya, Oichi-sama. Dengan obat ini, racunnya akan hilang dalam kurun waktu kurang lebih dua minggu."

"Eh...?"

"Begitu rupanya." gumam Takatora. "Shinobi yang baru saja menyerang Oichi-sama adalah orang yang juga telah memberi racun pada Suzu. Dan sebenarnya dia memberi racun itu pada Suzu untuk meracunimu, Oichi-sama. Tetapi aku tidak tahu kenapa ia rela memberikan penawarnya pada Suzu."

"Tapi, mengapa Suzu?" tanya Oichi setelah menyuruh tabib untuk menggunakan obat penawar racun tersebut pada Suzu.

"Oichi-sama sudah tahu, bukan? Bahwa Ryouko-dono dulunya adalah kunoichi dari Takeda. Kemungkinan ia menganggapnya untuk menyelesaikan tugas bibinya yang ia batalkan. Suzu telah diprovokasi oleh shinobi itu. Sampai dia... ingin membuang nyawanya sendiri."

Oichi terdiam, ia menatap gadis itu dengan tatapan sendu. "Suzu..."

Takatora mengepalkan kedua tangannya. "Tak bisa kumaafkan."

-XxX-

Kemenangan besar berkat Oda pada Tokugawa, Takeda Katsuyori selamat dari pertempuran dan mundur kembali ke Provinsi Kai akibat banyaknya jendral Takeda yang telah gugur serta jumlah korban jiwa yang lebih dari sepuluh ribu. Sedangkan pasukan Oda-Tokugawa hanya kehilangan kurang dari enam puluh jiwa. Pasukan Oda kembali menuju Owari.

"Oichi-sama, terima kasih atas segalanya. Semoga kita bisa bertemu lagi."

"Ya, jaga dirimu."

Takatora melakukan ojigi lalu segera pergi menemui Hidenaga, untuk memenuhi harapan Oichi dan Nagamasa. Ia merangkul Suzu di depannya sambil menunggangi kuda.

"Taka...tora... -san..."

Takatora mengalihkan pandangannya pada Suzu. Kedua matanya masih terpejam, namun bibirnya bergerak. Sembari menyelitkan rambut peraknya ke belakang telinganya, Takatora berbisik. "Kau akan baik-baik saja, Suzu."

-XxX-

-XxX-