A/N : Oke langsung saja mari balas review!

-RosyMiranto

Blossom : *tutup telinga Suzu* Bukan waktunya kasih tau ke nak Suzu soal itu, mbak Sofia!

Scarlet : Nak, terus mas bro juga. Pasang nih headphone, untuk sementara kalian berdua gak boleh baca/denger review yang satu ini. Pasang eyemask juga. *jentikin jari*

Takatora : Telingaku! Mataku! Apa-apaan ini!? Kenapa aku tidak bisa melepasnya!?

Suzu : *pasrah*

Blossom : Rute what-if ya? Hoho, memang menarik tapi tuh tingkat kesulitannya 'nightmare'. Aku gak bisa. *pundung*

Scarlet : As always thanks for the review!

-erikfinnvladimir

Blossom : Yey! Okaeri!

Suzu : Ah, aku sudah tau kok tentang penyakit Yoshitsugu-san. Aku tidak mungkin menjauh hanya karena penyakitnya. Yoshitsugu-san adalah orang yang sangat berharga bagiku. *innocent smile*

Yoshitsugu : ... Takatora, daripada menyalahkanku, sebaiknya kau harus lakukan sesuatu dengan kepolosan si kelinci ini.

Takatora : *sweatdrop* Apa yang kau bicarakan?

Suzu : Eh? Malu-malu apanya-

Scarlet : Pasang earphone sama eyemask lagi kalian berdua! *panik*

Takatora : Lagi!? Kau mau aku bekukan kepalamu!? *emosian*

Suzu : Ekh... dipasang lagi. Gelap. *pasrah*

Yoshitsugu : *chuckle* Harus menunggu waktu sampai mereka sadar ya? Baiklah, terima kasih atau review-nya.

Scarlet : KALIMATKU WOEY!

Disclaimer : Samurai Warriors belongs to KOEI. OCs and story plot belongs to me, except Kimura Siblings belongs to RosyMiranto.

Warning : Mainly OC x Todo Takatora. OOC yang mungkin tidak disengaja atau sengaja demi alur cerita, sering typo, diksi yang tidak baku, suram dan abal. Saya usahakan ceritanya sama dengan game, anime dan atau sejarahnya. Kalimat digaris miring menandakan FLASHBACK atau suara hati dll (?) *plak*. Mohon maaf atas kesalahannya. DON'T LIKE DON'T READ NO FLAMES. REVIEW PLEASE!

-XxX-

Bell of the White Hare

-XxX-

CHAPTER 7

Cold Sun

-XxX-

"Dan ini yang... terakhir!" Natsuko menaruh sebuah peti yang berisi perlengkapan pengobatan di dalam tenda, diikuti dengan Suzu yang membawa peti yang sama. Natsuko menghela napas panjang sambil menyeka sedikit keringat di wajahnya.

"Terima kasih atas kerja kerasnya, Natsuko," ucap Suzu tersenyum.

"Nah, ini bukan apa-apa!" Natsuko mengancungkan jempolnya di depan wajah Suzu. "Apakah selanjutnya kita akan membawa bahan makanan?" tanya gadis bersurai merah jambu tersebut.

"Tidak, semuanya sudah cukup. Para prajurit sudah membawa semua perlengkapan ke tenda. Hanya perlengkapan pengobatan ini yang terakhir."

"Bagus! Sekarang kita harus bersiap untuk perang besok pagi, ya! Onii-chan juga terlihat sangat berambisi untuk memenangkan perang kali ini." Natsuko tersenyum bangga, menaruh kedua telapak tangannya di pinggang. Suzu membalas senyumnya.

"Kalau begitu, aku juga. Permisi-"

"Ah, Suzu-chan! Tunggu sebentar!"

"Ya?" Suzu membalikkan badan.

Natsuko memutar kedua jari telunjuknya di depan dada. Suzu yang membaca mimik wajahnya berpikir bahwa ia ragu-ragu memberikan pertanyaan padanya. "Um, mungkin aku seharusnya aku tidak boleh menanyakan hal ini. Aku takut kalau aku mengatakannya Suzu-chan akan semakin terpuruk. Tapi, Suzu-chan terlihat khawatir dengan perang kali ini."

Suzu menaikkan kedua alisnya. "Apa maksudmu?"

"Yah, aku hanya berpikir pasti berat untuk Suzu-chan harus ikut serta dalam perang ini. Tidak seperti saat kita menginvasi Istana Takamatsu, Suzu-chan selalu terlihat begitu tenang. Tapi sekarang Suzu-chan terlihat berbeda. Apa karena harus menghadapi Oichi-sama?"

Suzu langsung menjawab. "Tidak, Natsuko. Aku berada di sini atas kemauanku sendiri. Bukan hanya demi diriku, tapi juga demi semuanya. Tapi, kita tidak akan menghadapi Oichi-sama. Aku-... bukan, maksudku kita akan menyelamatkannya," jawab Suzu dengan seulas senyuman menghiasi wajahnya. "Lagipula jika dibandingkan dengan diriku, jalan kehidupan Takatora-san yang ia pikul selama ini lebih keras dan berat. Dia sudah lebih banyak menderita..." Suaranya terdengar pelan, namun dapat di dengar oleh Natsuko dengan jelas. Jemari ramping Suzu mencengkram sarung lengannya yang panjang, matanya menurun dan menutup rapat bibirnya.

Gadis bersurai merah jambu itu meraih kedua tangan perempuan berseragam hitam-merah tersebut dan menggenggamnya. "Suzu-chan, jangan pasang wajah sedih seperti itu. Onii-chan pernah memberitahuku bagaimana pun penderitaan itu memang sangat menyakitkan, semua orang pasti mengalaminya. Tapi berkat penderitaan itulah hati mereka semakin kuat. Jadi Suzu-chan jangan sampai kehilangan arah. Bersemangatlah!"

Suzu kembali tersenyum. "Mm, terima kasih." Natsuko membalas senyumannya lalu segera pamit untuk menemui sang kakak.

"Kau memang mudah sekali akrab dengan orang baru di sekitarmu." Seorang pria bersurai abu-abu menghampiri Suzu.

"Ah, Kiyomasa-san. Sungguh?" Suzu tertawa paksa.

"Ou! Apalagi kau penah memarahi si kepala besar! Suzu-chan sangat berani!" ucap pria disebelah Kiyomasa, Masanori. "Dia sampai kehabisan kata-kata! Ternyata Suzu-chan bisa terlihat mengerikan sama seperti Onene-sama!"

"Err... Aku tidak bisa menganggap perkataanmu tadi adalah pujian. Masanori-san," jawab Suzu datar.

"Tapi bagaimana pun juga, kau masih tetap saja tidak mau menunggu di istana setiap kali perang diadakan." Kiyomasa melipat tangannya dengan memasang tatapan penasaran.

"Ah, aku akan berusaha untuk tidak menghalangi. Aku tidak pernah berniat untuk mengambil posisi paling depan kok! Setidaknya aku bisa membantu semuanya dari belakang. Aku tidak terbiasa menyerang musuh secara langsung. Tapi aku akan berusaha sebisaku."

"Hm, terus terang sekali." Kiyomasa tertawa pelan.

Masanori tertawa lebar. "Ya! Kami sudah tahu, kok! Tapi, kalau tidak salah Onene-sama pernah memberitahu kami kalau mendiang bibimu dulu adalah pengawal pribadi dari istrinya Katsuie. Apa benar?" tanya Masanori sambil menggaruk tengkuknya.

Kiyomasa mengedipkan kedua matanya. Raut wajah yang awalnya tersenyum kini berubah. Suzu mengalihkan pandangan, ia hanya menjawab dengan anggukan kepala. Kiyomasa dan Masanori saling bertatap, Masanori menepuk kedua telapak tangannya menandakan ia minta maaf karena telah membuat atmosfer disekitar mereka menjadi berat. Kiyomasa hanya menghela napas. "Suzu. Kali ini kau pasti punya alasan lain untuk mengikuti perang kali ini 'kan? Menyangkut musuh yang akan kita lawan hari ini."

Suzu mengangguk, masih tidak mengatakan sepatah kata pun.

"Suzu, aku ingin kau berhati-hati. Jika pikiranmu hanya tertuju pada satu arah- tidak memerhatikan apa yang akan terjadi. Kenaifanmu itu bisa membunuh dirimu sendiri."

Suzu masih terdiam, ia memangku tangan dan tak berani menatap pria yang merupakan anak didik Hideyoshi sama seperti dirinya.

"Kau memang tidak memiliki niat yang buruk. Tapi cobalah kau pikirkan sekali lagi. Yang kita hadapi saat ini adalah musuh."

"Apakah maksudmu Oichi-sama juga adalah musuh bagi Hideyoshi-sama?" tanya Suzu pelan sembari mengangkat kepala.

"Aku tidak pernah mengatakan itu. Suzu, apakah kau tidak pernah berpikir bahwa dia benar-benar ingin diselamatkan?"

"Eh...?" Kedua mata Suzu membelalak melebar. Detak jantungnya tiba-tiba berdegup kencang tak beraturan. Seolah-olah jantungnya baru saja diremas oleh kekhawatirannya sendiri.

"Aku yakin beliau tidak ingin kau membuang nyawamu hanya untuk menyelamatkan dirinya. Kau sadar disini adalah medan perang, bukan?"

"Apa yang... kau bicarakan? Aku..." gumam Suzu mulai kehabisan kata-kata, berusaha mencari jawaban yang tepat dari ucapan Kiyomasa.

"Peduli terhadap nyawa musuhmu sendiri adalah penghinaan. Mereka telah memutuskan jalan mereka masing-masing, tidak pantas bagi orang lain untuk menentangnya."

"Oichi-sama bukan musuhku!" bentak Suzu langsung. Karena tak sengaja, ia langsung menurunkan nada suaranya. "Mana mungkin aku bisa menganggapnya sebagai orang yang harus kulenyapkan...! Bagiku, beliau seperti ibu bagiku. Beliau adalah orang yang sangat berarti, bagian dari kehidupanku. Takatora-san juga, sependapat denganku."

Hening mulai menyusup di sekitar mereka. Kedua alis Kiyomasa menyempit. Masanori yang kesulitan mencerna pembicaraan mereka yang berat hanya bisa terdiam kebingungan. Suzu mengerti dengan alasan Kiyomasa, dia adalah pria yang baik hati dan peduli dengan orang terdekatnya. Sejak ia diselamatkan dari penyerangan Istana Odani, Suzu yang merupakan anak didik sama seperti Kiyomasa, Masanori dan Mitsunari sudah menganggapnya seperti adik perempuan. Mereka sudah cukup lama saling mengenal. Meskipun Suzu berpikir mereka berlebihan karena menganggap dirinya seperti adik, tapi ia sangat diberkati karena telah mengenal mereka.

Sebelumnya, Kiyomasa juga telah membicarakan hal yang sama dengan Takatora. Pria itu juga bersikeras untuk melakukan hal yang ia hendaki, yaitu menyelamatkan Oichi. Mitsunari pernah mengatakan kesetiaannya pada Hideyoshi sangatlah lemah, karena ia menganggap bahwa Takatora mengabdi pada Hidenaga hanya untuk mengabulkan permintaan Oichi. Tetapi Suzu menganggap Mitsunari terlalu berlebihan menilai Takatora, ia tak menganggapnya serius. Kiyomasa tahu bahwa gadis itu sangat mempercayai Takatora.

"Kiyomasa-san. Maafkan aku, aku paham ini adalah medan perang. Aku paham jalan kehidupan mereka tidak pantas dicampur tangan oleh orang lain. Bahkan aku juga tak bisa seperti pendekar yang meninggalkan perasaan pribadinya begitu saja. Aku tidak bisa memutuskan ikatanku dengan begitu mudahnya. Dan aku mengerti, jalan yang kuambil ini mempertaruhkan nyawaku sendiri."

"Justru karena perang ini, demi kebaikanmu sendiri, kau harus melakukannya untuk tidak melibatkan perasaan pribadimu. Jika kau ingin terus bertahan hidup," tegas Kiyomasa.

"Kalau begitu apa yang harus kulakukan? Bukan hanya demi diriku saja, tapi demi semuanya. Demi Hideyoshi-sama, Takatora-san dan Oichi-sama juga. Hanya cara ini yang ada di dalam kepalaku. Aku tidak bisa menguasai perasaanku sendiri seperti Kiyomasa-san, aku tidak pintar seperti Mitsunari-san dan aku tidak bisa selalu optimis seperti Masanori-san. Aku sudah tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan."

Kiyomasa terdiam sejenak, tak ada lagi yang bisa ia jawab untuk menghentikannya. Ia menghela napas lalu mengurut dahinya. "Aku menyerah. Lakukan saja apa yang kau inginkan. Kurasa percuma saja untuk menghentikanmu. Tapi, Suzu..."

Suzu mulai menatap Kiyomasa. "Kau tidak harus menjadi seperti aku atau yang lain. Lakukan saja apa yang menurutmu benar, bertarunglah dengan caramu sendiri. Itu yang terbaik, paham?"

Suzu tersenyum tipis dan mengagguk. "Ya, terima kasih banyak."

"O-Ou! Lakukan apa yang bisa kau lakukan, Suzu-chan! Aku juga mendukungmu!" seru Masanori.

"Ekh... Y-Ya." Suzu mengangguk pelan. "Anu, aku harus bersiap-siap. Permisi." Suzu kemudian membungkukkan badan lalu segera memasuki tendanya. Kiyomasa dan Masanori menatap kepergian gadis itu.

"Suzu-chan akan baik-baik saja, 'kan, Kiyomasa?" tanya Masanori.

"Tak ada yang bisa dilakukan. Harap saja demikian. Padahal Onene-sama sudah membujuknya berulang kali untuk tidak mengikuti perang, tapi dia masih saja tidak mau menurut."

"Kalau begitu, jika terus dibiarkan Suzu-chan akan mati!" balas Masanori histeris.

"Bodoh! Jangan mengatakan hal yang tidak-tidak! Onene-sama mempercayakan kita untuk melindunginya. Bagaimana pun juga dia hanya seorang perempuan."

"Benarkah? Bukankah orang yang bernama Takatora itu yang akan melindunginya?" tanya Masanori lagi.

Kiyomasa menaikkan kedua alisnya. "Kau benar. Jadi maksudmu apakah tidak masalah menyerahkannya pada Takatora?"

"Hah? Apa aku bilang begitu?"

"Kau ini..." Kiyomasa menghela napas, pandangannya kembali terarah ke Suzu yang tengah berjalan menuju tendanya. "Demi semuanya, 'kah? Tak heran dia sering dianggap kelinci yang kesepian."

-XxX-

Suzu memasuki tenda, ia segera menyiapkan seragam dan armor ringan yang akan ia pakai untuk perang esok. Seperti yang ia katakan pada Kiyomasa, dari awal ia hanya ingin mendapatkan peran lebih kecil dari yang lain, karena perempuan sepertinya tak pantas mendapatkan peran yang lebih besar.

Suzu menyentuh punggungnya, gerakan jemarinya bergemetar. Ia tahu bahwa bekas luka pada punggungnya tak akan pernah bisa menghilang. Luka yang ia dapat saat tubuhnya terhimpit oleh reruntuhan kayu, saat ia terjebak sendirian di dalam Istana Odani.

Ia tak tahu apakah saat itu tubuhnya mengalirkan banyak darah atau tidak. Nene tidak pernah memberitahunya. Sejak dulu, Nene jarang memberikan pertanyaan mengenai masa pahitnya dulu.

Mengingat kobaran api yang sangat panas saat itu, selalu mengingatkannya saat bibinya yang mati mengenaskan. Bahkan keluarganya, dirinya yang lemah saat itu tak bisa menyelamatkan apapun. Semua kenangan buruk itu selalu menghantui dirinya. Begitu juga dengan bekas lukanya juga memiliki penyebab yang sama. Disebabkan karena ketidakberdayaan dan ketidakmampuannya.

Ia tak ingin merasakan trauma.

Ia tak ingin lagi kesalahannya kembali terulang. Meski ia tahu takdir tak pernah berhenti memutarkan roda kehidupan, ia tak ingin kehilangan arah dan terus melangkah maju. Suzu selalu mencoba untuk mengubur masa lalunya tetapi dirinya selalu tak sengaja kembali menggali kenangan dahulu. Bagaimana pun juga, yang penting adalah sekarang. Ia harus menatapkan hati untuk melakukan apa yang menurutnya benar.

"Suzu. Apa kau ada di dalam?"

Suzu meloncat kaget. Terlihat jelas dari bayangan hitam milik pria tersebut dibalik tenda, itu Takatora. Ia tak ingin Takatora melihat bekas lukanya yang tak pernah hilang itu. "Y-Ya! Mohon tunggu sebentar!" Ia segera memasang haori.

Suzu langsung keluar dari tenda. "A-Ada apa, Takatora-san?"

Kedua mata Takatora membulat, ia langsung mengalihkan pandangan. "Sebelum itu, sebaiknya kau memasang pakaianmu dengan benar."

"Eh?" Suzu memindahkan pandangan ke bahunya. Tak sengaja kulit tulang selangkanya hampir terekspos. Dengan panik Suzu langsung membalikkan badan, ia mengeratkan tali obi-nya. Di dalam kepalanya ia berharap Takatora tidak melihat bekas lukanya. "M-Maaf atas ketidaksopananku! Tadi aku-"

"Tidak, kau tak perlu meminta maaf. Lupakan itu, pakailah ini." Takatora melepaskan tenugui dari lehernya lalu memasangkannya pada Suzu.

"Ah, t-tidak apa kok, Tuan!"

"Kau tidak merasakan hembusan angin malam ini terasa dingin?"

"Sungguh? Tapi sekarang 'kan masih musim panas-" Suzu mengarahkan pandangannya menuju langit. Walaupun gelap, ia dapat melihat awan mendung yang menandakan tak lama lagi akan turun hujan. "Ah, benar juga. Bahkan aku tidak melihat bintang satu pun," gumam Suzu sedikit kecewa. Suzu menyentuh sehelai kain biru yang dipasang pada lehernya.

'...ada aroma Takatora-san.' batin Suzu. Merasa malu akan apa yang baru saja ia pikirkan, dia menggeleng kencang dan menarik keras pipinya sambil memanggil dirinya bodoh di dalam kepalanya.

"Hm, lebih baik kita berbicara di dalam." Takatora pun memasuki tenda dan duduk di kursi kecil yang sudah tersedia. "Aku baru ingat, kau sama sekali tidak memiliki tenugui, 'kan? Seharusnya kau punya satu helai-"

"Err... yah, memang. Tapi Takatora-san, tolong jangan membicarakan tenugui lagi! Tuan terlalu sering membicarakannya!" balas Suzu.

"Jangan khawatir. Jika aku memiliki waktu luang, aku akan membuatkannya untukmu."

"Ekh, t-terima kasih banyak tapi Tuan tidak perlu repot- ah. Ngomong-ngomong, apakah Tuan memiliki rencana untuk menyelamatkan Oichi-sama?" tanya Suzu mengalihkan pembicaraan sembari duduk di sebelahnya.

Takatora kembali menemukan matanya dengan manik merah milik Suzu. "Rencana?" Takatora mengurut dagu. "Memang aku khawatir Oichi-sama tidak akan berniat untuk mundur. Tapi aku yakin Hideyoshi juga akan menyelamatkannya."

Semua kekhawatiran Suzu hangat seketika, ia tak bisa menahan senyuman penuh syukurnya. "Jadi semuanya akan baik-baik saja, ya, Takatora-san?"

Takatora belum menjawab. Suzu yang melihat dahinya yang berkerut merasa bahwa ia masih mengkhawatirkan sesuatu. Pikirannya menerawang jauh, tak seperti Suzu yang langsung merasa lega. Namun dirinya juga ikut merasakan hal yang sama ketika ia memandang raut wajah Takatora.

Ia juga harus berpikir bagaimana cara meringankan kekhawatiran Takatora. Bagaimana pun juga ia telah memutuskan untuk tidak akan membiarkan Takatora berjuang sendirian.

"Takatora-san..."

"Hm?" Takatora kembali mengarahkan matanya pada Suzu.

"Aku akan menyusup ke markas utama Shibata untuk menemui Oichi-sama."

Kedua mata pria itu langsung membulat sempurna. "Dasar bodoh! Apa yang kau pikirkan!? Jika kau pergi kesana sendirian kau akan-"

"Ta-ka-to-ra-san." Suzu langsung memotong dan menyentil dahi Takatora.

"Ugh!? Kau-! Apa yang kau lakukan!?" bentak pria itu lagi.

"Justru aku yang bertanya! Takatora-san, aku marah!" bentak Suzu berkacak pinggang.

"H-Hah?"

"Tapi, sebenarnya aku juga senang karena Tuan begitu memperhatikanku." Kini nada suaranya terdengar halus dan tatapan matanya melembut.

"Mana yang benar...?" balas Takatora dengan nada datar.

"P-Pokoknya! Aku ingin Tuan menumbuhkan kepercayaan padaku! Ini memang medan perang dan negeri ini sudah gila. Kapanpun aku bisa saja terluka atau bahkan mati disana."

"Hei, apa yang kau-"

"Tapi!" Suzu mengancungkan jari telunjuknya di depan wajah Takatora, lalu tersenyum lebar. "Berusaha dengan giat adalah kunci keberhasilan! Jika hasratku lebih kuat dari ketakutanku, aku tidak akan mati! Onene-sama pernah mengatakan itu padaku."

Takatora terbungkam sejenak, indera penglihatannya terkunci memandang wajahnya yang penuh keyakinan. Ia tertawa mendesah. "Dasar. Jarang sekali aku melihatmu marah."

"Yah, sejujurnya aku selama ini selalu menahan diri. Tapi kali ini tidak akan. Aku ingin melakukan apapun bahkan sesuatu yang belum pernah kualami. Dari hal yang bodoh pun tidak masalah. Di masa sulit yang seperti ini, aku tidak ingin menyesal." Kini senyumannya melembut, penuh harapan.

Kedua mata biru Takatora terkunci memandang wajah senyum Suzu. Ia dapat merasakan kekuatan ketetapan hatinya. Takatora mengurut dahinya setelah tertawa pelan. "Semakin lama kau sudah tumbuh dewasa. Padahal saat itu kau masih seorang gadis kecil. Rasanya memalukan bagiku dinasehati olehmu."

"E-Eh? Astaga, aku bicara blak-blakkan lagi!" Suzu langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan.

Takatora tertawa mendesah. "Kau tidak perlu memikirkannya, jadilah dirimu yang seperti biasanya. Aku menyukai sisi menarik darimu itu. "

Rona wajah Suzu memerah, seisi kepalanya begitiu panas. Degup jantungnya berdetak keras. "Eh...?"

"Lalu..." Takatora memberikan isyarat tangan untuk menyuruh Suzu mendekat. Suzu tanpa berpikir panjang menurutinya. "Bagaimana pun hasilnya, kau harus kembali padaku. Mengerti?" Takatora langsung menyentil dahi Suzu.

"Auh!" Suzu langsung mengusap dahinya yang kesakitan. "P-Pembalasan, ya?"

"Benarkah?" jawab Takatora singkat sambil menumpukan dagunya dengan telapak tangan, memandangnya dengan tatapan terhibur.

"Tidak tidak tidak! Bukan 'benarkah', Tuan! Yang barusan itu pembalasan 'kan!? Tidak adil, aku yakin sentilanku tadi tidak keras- ...eh?"

Takatora mengusap dahi Suzu dengan jempolnya, kemudian telapak tangannya berpindah menuju kepalanya- membelai rambutnya dengan lembut. Lalu mempertemukan dahinya dengan milik Suzu.

"T-Takatora-san...?" lirih Suzu tersipu.

"...kau belum menjawabku."

Kedua kelopak mata Suzu masih terbelalak, bola matanya mulai berkaca-kaca, ia menahan napasnya dan rona merah pada wajahnya semakin menggelap. Sentuhannya yang lemah lembut kemudian mulai menyisir rambut perak Suzu.

Suzu berusaha untuk menyembunyikan rasa malunya. Pertanyaan Takatora barusan membuatnya berpikir bahwa ia tidak hanya mengkhawatirkan Oichi, namun ia juga mencemaskan dirinya. Kehangatan kembali menyelimuti hatinya. Suzu menarik napas dan mulai berbicara dengan pelan. "Anu... Takatora-san, bolehkah aku bertanya?"

"Hm..." Takatora masih belum bergeming.

"Apakah melindungi sesuatu yang amat berharga... sangat sulit dilakukan?" Suaranya hampir terdengar seperti berbisik, sorot matanya menurun seolah-olah cahaya pada matanya sedikit padam. "Apakah aku benar-benar bisa melakukannya? Jika aku tidak berhasil, apakah Tuan akan... kecewa padaku?"

Kedua kelopak matanya melebar, Takatora menurunkan tangannya dan beringsut. Manik birunya terkunci memandang manik merah milik gadis itu. "Kemana perginya semangatmu barusan? Kau pikir aku benar-benar akan kecewa padamu?"

Suzu mengedipkan kedua matanya, memindahkan pandangan ke bawah sembari menyelitkan anak helaian rambut peraknya ke belakang telinga. Ia tahu bahwa Takatora tidak berbohong. Namun jika benar ia tidak akan berhasil, ia takut Takatora akan kehilangan kepercayaannya pada Suzu. "Ah, t-tidak. Aku hanya penasaran..." Ingin sekali ia menarik kembali pertanyaan tadi, ia mengatakannya seolah-olah memberitahu Takatora bahwa ia tak memiliki ketetapan hati yang kuat.

"Kita bisa memikirkannya pada saat itu juga. Masih ada kesempatan. Percayalah."

Suzu membeku sejenak melihat senyuman yang terulas pada wajah pria itu. Tatapan lembut yang selalu hanya ditunjukkan padanya sendiri, tidak pada orang lain. Suzu membalas senyumannya dengan tersipu. "Mm, aku percaya."

-XxX-

Matahari tak lama lagi akan terbit. Setelah menunggu sinyal pertanda perang akan dimulai. Para pasukan pada garis depan langsung menyerbu, menyerang, menghunuskan senjata mereka masing-masing diiringi dengan tangisan perang. Takatora dan para kashin yang lain sudah berada di posisi masing-masing juga telah maju. Katsuie telah menempatkan markas utama mereka di tempat yang memiliki keunggulan pada pertahanan seperti pasukan berkuda dan teppou mengambil posisi bertahan di sekitar markas utama.

Sementara itu Suzu berdiri di tepi tebing, matanya terkunci meratapi pemandangan mengerikan yang telah menjadi bagian dari takdirnya. 'Ini sangat gila, dunia ini tidak benar', kalimat itu sudah berulang kali bergema di dalam kepala Suzu setiap kali ia melihat orang-orang yang saling berusaha mati-matian menjatuhkan satu sama lain.

"Yoshitsugu-san. Apakah Tuan ingin Oichi-sama selamat dari perang ini?" tanya Suzu tanpa mengalihkan pandangan.

Yoshitsugu berdiri di belakang Suzu. Manik abu-abunya berpindah ke gadis yang merupakan bawahannya. "Aku hanya menyerahkan segalanya pada arus."

"Begitu..." Suzu sudah menganggap wajar jawaban dari Yoshitsugu, sama sekali tidak menentang kejujurannya.

"Tapi, ketika aku melihat kau dan Takatora berusaha mati-matian demi menyelamatkan Oichi-sama. Keinginanku saat ini mulai tumbuh."

Suzu menoleh ke belakang, itu sudah cukup membuatnya senang. Dirinya mulai yakin bahwa tak ada satu pun dari seluruh pasukan Hashiba menginginkan kematian Oichi.

Yoshitsugu pun segera menyusul Mitsunari untuk mendukungnya, meninggalkan Suzu tanpa meninggalkan satu perintah pun karena ia sudah tahu apa yang akan ia lakukan.

Suzu kembali mengarahkan pandangannya ke bawah, angin sepoi menyambutnya sehingga tiap helaian rambutnya mulai berkibaran.

Dia mengerti.

Para prajurit membuang jiwa mereka demi kemenangan. Bau darah, gesekan pedang, anak panah yang berserakan, suara tembakan teppou- merupakan pemandangan yang tak bisa ia alihkan bahkan menutup matanya sekalipun. Mereka semua termasuk dirinya tak memiliki pilihan selain melewati semua kekejaman dunia, menebas tanpa ragu dan licik bagaikan iblis agar dapat menguasai tiap kelemahan masing-masing, meski harus menjadi alat sekali pun. Semua hanya demi menyatukan negeri yang hancur.

Air mata mulai berlinang, membasahi pipi dan jatuh ke tanah. Percuma, meski ia harus berteriak pada mereka untuk menghentikan perang- dia tahu bahwa itu tidak akan berhasil. Meski ia belum pernah mencoba, namun ia sudah tahu jawabannya.

Tetesan air matanya tidak akan bisa menumbuhkan bunga yang layu. Entah dia harus percaya pada keajaiban, namun keajaiban itu tak pernah ada. Meski demikian, Suzu masih percaya.

Buktinya ia masih hidup saat dirinya sudah tidak memiliki harapan untuk hidup di saat Istana Odani terbakar. Ia percaya karena semua itu berkat keajaiban.

Tak ada yang bisa diubah pada negeri ini. Meski demikian, bagaimana pun juga Suzu telah menetapkan hatinya untuk tidak berkeluh kesah terhadap dunia dimana ia dilahirkan. Seburuk apapun yang telah dan akan menimpanya, ia tak ingin mundur sebelum dia dan semua orang terdekatnya menemukan perdamaian.

Suzu melompat dari tebing, mengambil pijakan di setiap dahan pohon agar dapat mendarat dengan selamat. Ia memasang tudung merah gelap agar dapat menyembunyikan wajahnya. Ia terus berlari secepat mungkin mengabaikan manusia-manusia yang tengah menyerang satu sama lain.

Meski jaraknya cukup jauh dan memiliki pertahanan yang ketat, Suzu berusaha untuk tidak dikejar oleh pasukan Shibata. Ia mengambil jalan memutar lewat hutan agar pasukan Shibata tidak menemukannya.

"Kita bisa memikirkannya pada saat itu juga. Masih ada kesempatan. Percayalah."

Kalimat Takatora kembali terulang di dalam kepalanya. Ia ingin memercayainya. Namun mengingat sebelumnya ia mengatakan bahwa Oichi tidak berniat untuk mundur membuat perasaannya bercampur. Ditambah peringatan dari Kiyomasa saat Suzu mengatakan bahwa ia akan menyelamatkan Oichi.

"Tidak, aku tidak boleh seperti ini."

Tiba-tiba penglihatan Suzu terfokus pada sebuah ofuda yang ditempelkan pada batang pohon. Langkahnya langsung berhenti dan mundur secepat mungkin sebelum kertas jimat tersebut meledak.

Suzu langsung melindungi dirinya dengan bersembunyi di balik pohon setelah berhasil menjauh dari ledakan.

"Gawat, jika mereka menyadari adanya ledakan disini, mereka pasti akan datang kesini. Kurasa tidak mungkin para prajurit Shibata memasang jebakannya. Aku yakin pasti 'dia' datang untuk menghalangiku lagi. Tapi aku tidak punya waktu untuk meladeninya. Secepatnya aku harus pergi dari sini sebelum mereka menemukanku."

Suzu kembali berlari sambil berhati-hati melihat sekitar, memastikan tak ada lagi jebakan yang bertujuan untuk menghambatnya.

-XxX-

Sebuah suara teriakan tajam serta gesekan pedang memenuhi medan perang. Tak hanya itu, para prajurit yang telah mengorbankan nyawa mati mengotori tanah dengan darah segar yang mengalir dari tubuh mereka.

Itu semua sudah menjadi pemandangan yang wajar bagi para pendekar, termasuk Takatora.

"Jika Suzu berada di sini, aku yakin dia akan menangis..." bisiknya pada dirinya sendiri. Ia menyeka darah yang melumuri pedangnya dengan tenugui.

Pikirannya berkelana memikirkan bagaimana perasaan Nagamasa yang berada di alam jauh- mengetahui bahwa Oichi berniat untuk menyerah dari mimpinya. Apakah ia akan sedih karena Oichi tak memiliki harapan untuk terus bertahan hidup? Ataukah ia akan bahagia karena mereka bisa bersatu lagi di surga?

Takatora tertawa mendesah. Apa yang baru saja ia pikirkan? Ia seharusnya tidak meragukan mantan tuannya. Ia pasti akan menerima bagaimana pun akhirnya.

Namun Takatora tak bisa seperti mendiang tuannya, meski dirinya dianggap keras kepala pun ia ingin Oichi terus bertahan hidup. Sampai akhir dari garis kehidupannya, ia ingin melindunginya sesuai dengan harapan Nagamasa sebelum ia menemui ajal, tak ingin mengkhianatinya.

Selain itu, tak hanya dirinya yang memiliki harapan seperti dirinya. Suzu, gadis bersurai perak itu saat ini berusaha mati-matian. Bukan hanya demi Suzu sendiri, namun juga demi Takatora. Tak ingin kehilangan sesuatu yang berarti baginya adalah harapan Suzu.

Meski negeri yang ia tinggali adalah negeri yang hancur. Dirinya merasa diberkati berkat kehadiran gadis itu yang meringankan semua bebannya.

"Semua, maju!" seru Takatora pada pasukannya. Manik birunya terkunci pada seorang musuh yang merupakan komandan pasukan Shibata, Shibata Katsuie.

Orang itu, sama seperti Hideyoshi. Dulu ia juga ikut menyerbu Istana Odani. Dia juga merupakan salah satu penyebab Nagamasa mati. Dan orang itu pulalah yang menjadi penyebab Oichi memiliki keinginan untuk mati bersama suaminya.

Takatora mengeratkan genggaman pada pedangnya, mengepalkan tangan dan menggertakkan gigi. Sorot matanya mulai tajam, seakan sebuah api kedendaman pada matanya tak bisa dipadamkan dengan paksa.

-XxX-

Suzu berhasil menyusup ke markas utama Shibata. Lalu ia melepas tudung kepalanya, dengan sengaja membiarkan dirinya dikepung oleh para prajurit Shibata. Helai demi helai rambut peraknya berkibaran menangkap perhatian seluruh pasukan. "Aku tahu caraku ini memang gila..." gumamnya.

"Ada penyusup! Tangkap dia!" seru salah satu prajurit Shibata.

Suzu tak bergeming. "Aku sama sekali tidak berniat untuk melawan. Aku hanya ingin menemui Oichi-sama."

"Tutup mulutmu! Kami takkan membiarkanmu begitu saja."

Suzu menghela napas. "...inilah alasan aku sangat membenci perang. Tak ada sedikit pun kepercayaan tertanam di dalam diri kalian. Memang wajar, tapi sama sekali tidak masuk akal."

"Dia hanya sendirian! Tangkap!" Para prajurit langsung menghadang segera menghunuskan tombak mereka ke leher Suzu, ia masih tak bergeming. Ia mengepalkan kedua tangan dengan erat.

"Aku sudah tidak tahan, aku benar-benar marah. Kenapa tidak ada satu orang pun dari kalian tidak paham dengan perkataanku? Aku hanya ingin menemui Oichi-sama, kalian boleh saja mengawasiku tapi aku minta pada kalian untuk membawaku ke hadapan beliau. Di saat seperti ini aku tidak boleh mati..."

"Hentikan ocehanmu! Musuh adalah musuh, kau tidak akan bisa-"

"Turunkan senjata kalian!" perintah seorang wanita dengan gaun berwarna merah jambu muncul di hadapan para prajurit. "Jika salah satu diantara kalian berani melukai gadis itu, kalian tak akan kuampuni. Atas nama istri dari Shibata Katsuie, kuperintahkan sekali lagi untuk menurunkan senjata kalian!" tegas wanita itu.

"B-Baik!" Para prajurit segera menurunkan senjata dan mundur.

Wanita bersurai coklat panjang tersebut menghampiri gadis bertudung merah gelap, telapak tangannya yang lembut mengusap setitik darah di leher Suzu. "Syukurlah aku bisa menemuimu. Kau sudah tumbuh dewasa, ya, Suzu."

"Oichi-sama..." gumam Suzu.

-XxX-

Menebas, menusuk- Takatora tak mau berhenti menghabisi tiap prajurit Shibata yang menghalangi jalannya. Tak hanya pedangnya yang mulai kotor akan darah, wajah serta pakaiannya ikut ternodai. Namun ia sama sekali tak peduli.

"Takatora-dono! Tenangkan dirimu!" Aki menerobos musuh di hadapannya dengan satu serangan. Takatora mengabaikannya dan terus menghadang para prajurit Shibata yang menghalangi. Sorot matanya yang tajam menunjukkan amarah yang sulit dikendalikan- mengunci pandangannya pada Shibata Katsuie yang memimpin.

Lumuran darah yang membasahi pedangnya kini bersiap untuk menebas Katsuie. Ia mengeluarkan teriakan yang tajam untuk melampiaskan amarahnya yang bergejolak. Dengan cepat Katsuie menahan serangan dengan sepasang kapak miliknya.

Takatora menggeram, menggertakkan giginya, ia terus mendorong pedangnya agar dapat menusuk pria paruh baya tersebut. "Mengapa kau memaksa Oichi-sama ke medan perang!?"

"Itu semua adalah keputusan Oichi-sama sendiri! Musuh sepertimu tidak berhak untuk menentang!" Katsuie mundur sehingga membuat Takatora tak sengaja kehilangan posisi bertahan. Dengan sekejap ia menyerang Takatora dengan punggung kapak menyebabkan Takatora terpental jauh.

Takatora memuntahkan darah, tak sengaja pedangnya terlepas dari genggamannya.

"Semua, mundur!" perintah Katsuie pada sisa pasukannya yang masih hidup.

"S-Sial...! Keparat, takkan kubiarkan kau melarikan diri!" Takatora mengambil pedangnya yang menancap ke tanah kemudian memaksa dirinya untuk berdiri sambil menyeka darah di tepi bibirnya. "Jika tidak, aku tidak akan bisa... menyelamatkan Oichi-sama...!"

Aki berjalan menghampiri Takatora, menepuk bahunya. "Mereka sudah mundur. Anda sebaiknya mundur untuk sementara dan menyembuhkan diri, Takatora-dono."

"Tutup mulutmu. Kau tidak berhak menashatiku." Takatora melepas genggaman pria itu dari bahunya dan menjauh. Ia menyeka darah pada pedangnya dengan tenugui. "Lakukan saja apa yang menjadi tanggung jawabmu sendiri. Jangan pernah mencoba untuk menghalangiku."

"Anda sebaiknya menyerahkannya pada pasukan bala bantuan. Gunakan kesempatan ini untuk menyembuhkan diri. Jika tidak, kau akan kehilangan nyawamu, Takatora-dono."

"Kubilang tutup mulutmu," geram Takatora. Ia kemudian memerintah sisa pasukannya untuk kembali maju.

"...pria yang keras kepala. Andai saja Suzu-dono bersamanya, aku yakin dia bisa membujuk Takatora-dono," gumam Aki setelah menghela napas panjang. "Tapi akan berbahaya jika dibiarkan Takatora-dono menyerang sendirian. Sebaiknya aku segera menyusulnya. Aku yakin bala bantuan dari Uesugi akan datang menyerang lewat sini."

-XxX-

"Sudah lama sekali kita tak berjumpa. Aku senang kau selamat dari kebakaran Istana Odani. Sepertinya mereka telah memperlakukanmu dengan sangat baik." Oichi berdiri di tepi tebing, manik coklatnya terkunci meratap pemandangan yang mengerikan. Tak satu pun diantara mereka berdua dapat menghitung sudah berapa nyawa yang telah melayang. Darah yang membasahi tanah serta bau mayat yang diikuti dengan tangisan para prajurit.

Suzu tak bisa membalas senyuman Oichi, mantan majikan dari bibinya tersebut. Sebagian dari dirinya juga bersyukur dapat menemui wanita itu. Meski begitu tetap saja ia takkan pernah bisa tersenyum padanya.

"Oichi-sama, aku akan mengatakannya langsung. Kumohon, berikan peritah pada Shibata Katsuie serta pasukannya untuk mundur sekarang juga. Perang ini tidak ada gunanya."

Oichi masih tersenyum. "Maaf, tapi aku tidak akan melakukannya."

Itu adalah jawaban yang paling tidak ingin ia dengarkan. Namun apapun alasannya, ia tidak akan mengubah keputusannya. Ia harus tahu apa alasan mengapa Oichi menolak. "Mengapa?"

"Takkan ada yang bisa menghentikan takdirku." Suzu mengedipkan kedua matanya yang mulai sedikit melebar. "Karena mimpiku akan berakhir saat ini juga."

Sepasang mata Suzu membulat sempurna, dahinya berkerut, mulutnya terbuka. "Itu... tidak! Nona keliru! Oichi-sama, aku mohon padamu! Takatora-san saat ini terus bertarung dan memikirkan cara agar Oichi-sama bisa bertahan hidup. Takatora-san berharap untuk mengejar mimpi Nagamasa-sama bersama kami, Oichi-sama! Dia... dia juga dengan sepenuh hati mengabulkan permintaan Oichi-sama untuk tetap hidup demi membangkitkan kesetiaannya!"

Senyuman yang terulas pada wajah Oichi masih belum menghilang. Sosok hangat yang telah menjaganya seperti seorang ibu, masih belum menghilang. Suzu ingin membalas kebaikannya, ia ingin menyelamatkannya. Ia ingin mempercayai bahwa keinginannya tidaklah egois.

"Aku juga. Aku juga tidak ingin suatu hal yang buruk terjadi padamu, Oichi-sama. Aku tak ingin lagi orang yang sangat berharga bagiku meninggalkanku begitu saja. Oichi-sama akan aman bersama kami! Di saat itu juga, aku bisa melindungimu. Tidak ada satu pun disini yang menginginkanmu mati. Tapi aku tidak mengerti! Kenapa Oichi-sama begitu bersikeras untuk menyerah!?" Suzu mengepalkan kedua tangannya. "Kenapa Oichi-sama masih bisa tersenyum seperti itu!?" ucap Suzu mulai meninggikan nada suaranya. Napasnya mulai berat, matanya mulai perih seakan-akan air mata mulai membasahi kedua bola matanya.

"Apakah kau ingat, Suzu? Saat Istana Odani terbakar, aku tak bisa melakukan apapun untuk Nagamasa-sama. Aku hanya bisa menangis dan meratapi Nagamasa-sama berdiri sendirian. Yang kuinginkan saat itu hanyalah berdiri di sampingnya. Tapi aku gagal sebagai pendamping hidup semati untuknya."

"Tidak! Kau salah, Oichi-sama-"

"Aku sangat putus asa, sampai sekarang perasaan ini tidak pernah sirna. Karena itu, aku selalu menutup mataku dari kenyataan dan mengejar mimpi. Namun, kini aku mulai mengetahui bagaimana caranya untuk menguasai perasaan bersalahku." Oichi meraih kedua tangan Suzu. "Aku tak ingin lagi mengulangi kesalahan yang sama. Maka dari itu, aku tidak akan mengkhianati kepercayaan suamiku yang sekarang, Katsuie. Meski nyawaku sebagai taruhannya, aku rela memberikan nyawaku demi apapun. Termasuk kamu, Suzu. Dan juga Takatora dan Yoshitsugu. Itu sudah menjadi hal yang layak kulakukan pada dunia yang kejam namun indah seperti ini."

Suzu mulai menundukkan kepala, ia berusaha menyembunyikan bulir air matanya yang bening- yang sudah menggenang di kelopak matanya. Jika ia tak bisa membujuk Oichi untuk mundur, ia takkan mampu berhadapan dengan Takatora. Ia tak ingin mengecewakan pria yang dulu telah mengulurkan tangannya dengan tulus. Setidaknya ia melakukan ini untuk membalas kebaikannya. Selain itu, ia juga tak pernah menginginkan Oichi pergi mendahuluinya, wanita yang dengan sepenuh hati menerima takdir kejam yang akan dihadapinya. "Mengapa...? Mengapa Oichi-sama rela melakukannya sampai sejauh itu?"

"Tentu saja, karena aku sangat mempercayai kalian. Karena itu, bolehkah aku menyerahkan kepercayaanku pada kalian untuk menemukan kedamaian negeri ini?"

Suzu menggeleng kencang. "T-Tidak! Oichi-sama juga harus tetap hidup! Bersama-sama kita akan merealisasikan mimpi Nagamasa-sama!"

"Suzu, ini pesan terakhirku. Kumohon beritahu pada Takatora, 'Bawalah harga dirimu untuk tetap bertahan hidup.'" Oichi membuka telapak tangan kanan Suzu, memberikannya sebuah omamori yang pernah ia buat dulu.

"Oichi... sama." Air matanya akhirnya mengalir deras membasahi pipi. Suzu menggenggam erat omamori yang pernah ia beri pada Oichi saat ia masih kecil. Namun kini Oichi mengembalikannya. Takdir hidup atau mati takkan bisa ditentukan walaupun ia telah membuatkan jimat perlindungan. Masa depan untuk Oichi telah ditentukan. Berpikir betapa kejamnya semua itu, Suzu mulai membenci dirinya yang tak mampu melakukan apapun untuk mengubah takdir serta masa depannya.

Oichi meraih wajah gadis itu, menyeka air mata yang membasahi wajah dengan jemari rampingnya. Merasakan kelembutan dan kehangatan pada sentuhannya membuat Suzu meluapkan segala kesedihannya, air matanya tak bisa berhenti mengalir dan suara tangisannya kencang. Ia tak bisa menahan segalanya. Oichi dengan perlahan membawa Suzu ke dalam pelukannya. Lalu membelai rambut perak Suzu yang halus seperti sutra. Memberi kecupan kasih sayang bagai seorang ibu sungguhan pada keningnya. Dari buku cerita yang pernah Suzu baca, dia ingat bahwa kecupan pada kening menandakan orang itu dengan sepenuh hati ingin melindunginya.

"Terima kasih atas segalanya, Suzu."

Suzu tak menjawab, masih membiarkan dirinya didekap oleh Oichi. Karena ia tahu, bahwa ia tidak akan bisa merasakan kehangatan dari dirinya lagi. Setidaknya ia ingin merasakannya lebih lama.

Setelah beberapa lama Suzu berhenti menangis, namun isakan tangisnya belum berhenti. Ia merasa seluruh air matanya sudah mengering. Oichi melepas pelukannya. "Suzu, kau tidak boleh terus berada disini terlalu lama. Sebaiknya kau kembali sekarang juga..."

Suzu mengangguk pelan. Ia masih tak berani berkontak mata dengannya. Tak ada lagi yang bisa ia lakukan. Semuanya menjadi percuma. Dia telah gagal.

"Maaf mengganggu reuni kalian berdua. Tapi bagaimana jika aku membunuhmu sekarang juga?"

Seorang wanita bersurai hitam dengan mata emas muncul di belakang Oichi. Dengan cepat, ia bersiap untuk menusuk wanita itu.

"Oichi-sama!" Suzu langsung menolak serangannya. Namun terdapat luka gores pada leher Oichi. Oichi langsung mundur dan mengambil senjata.

"Suzu!"

"Kagome, ternyata dugaanku benar. Lagi-lagi kau..."

Kagome segera beringsut. "Jika kematiannya dipercepat, aku yakin dia bisa menemui suaminya yang berada di neraka. Bukankah itu hal yang baik? Bukankah begitu, Shirousagi?"

-XxX-

-XxX-

A/ N : Wao, 5ribu words lebih wkwkwk. *plak* Btw, Author saat ini berencana cari kerja di Jakarta. Belum pergi sih sebenarnya tapi bentar lagi. Saya asalnya asli orang Bukittinggi. *gaknanyawoi-plak*. Jadi saya mau kasih tau kalau saya mohon maaf kalau update-nya di chapter yang akan datang kelewat lama. Saya sebenarnya mau banget cepat update fic ini, tapi masalahnya tergantung mood dan waktu.

Yosh, see you in the next chapter and please review!