A/ N : Udah lewat 10 hari, maaf kelamaan. Tapi terus terang author lagi sibuk ngurusin lamaran pekerjaan sejak awal bulan Februari. Dan buat istirahat saya malah main game dan menggambar, bukannya lanjut fic. Oke, tampar aku, nak Suzu. *plak* Baiklah ini dia rute yang benar, teehee!
-RosyMiranto18
Blossom : Waduh, tiga pertanyaan itu gak bisa dijawab disini nih. Tapi soal fic ehem ehem-nya nak Xujie tolong dilupain aja. Saya gak mahir bikin 'ehem-ehem' kek gitu.
Scarlet : Hah? Ngomong apaan sih, som? Kalau gak salah kamu simpan dokumen one-shot soal ehem-ehem buat nak Suzu dan lakinya.
Blossom : Sst!
Suzu : Kalian bicara apaan sih? Minum air hangat sono.
Takatora : ...sepertinya aku paham. *urut dagu*
Suzu : EH.
Blossom : Dense-nya mas bro udah hilang woey! Ehem, makasih review-nya!
-Hayashinkage17
Scarlet : Yeah... klan Mouri masih lama buat gabung Hideyoshi. Tapi gak apa! Akan dipastikan Hana-chan muncul disini! *thumbs up*
Blossom : Halah, ngomongnya gitu tapi fic fandom sebelah belum siap.
Scarlet : Elu juga iya kan woi!
Takatora : Kalian berdua berisik sekali. Lalu apa maksudmu ciuman? Aku belum pernah melakukannya sekali pun bahkan pada Suzu.
Suzu : A-A-APA YANG TUAN BICARAKAN!? *blush akut*
Takatora : Kau juga dinginkan kepalamu, Suzu. Aku hanya mengatakan yang sebenarnya. Aku tidak bermaksud apapun. Kau sendiri sudah tahu bukan? *straight face*
Suzu : ... y-ya. *sweatdrop*
Scarlet : Chapter ?-A udah dilupain, atau lebih tepatnya kalian udah dicuci otak ye...
Takatora : Ha?
Suzu : He?
Blossom : Ho! Yosh, makasih banyak atas reviewnya!
Disclaimer : Samurai Warriors belongs to KOEI. OCs and story plot belongs to me, except Kimura Siblings belongs to RosyMiranto.
Warning : Mainly OC x Todo Takatora. OOC yang mungkin tidak disengaja atau sengaja demi alur cerita, sering typo, diksi yang tidak baku, suram dan abal. Saya usahakan ceritanya sama dengan game, anime dan atau sejarahnya. Kalimat digaris miring menandakan FLASHBACK atau suara hati(?) *plak*. Mohon maaf atas kesalahannya. DON'T LIKE DON'T READ NO FLAMES. REVIEW PLEASE!
-XxX-
Bell of the White Hare
-XxX-
CHAPTER 8-B
Healing Old Wounds and Finding New Hope
-XxX-
Sorot mata yang merah itu bergejolak, namun tak terdapat kebencian atau pun kesenangan. Pria itu terlihat sama sekali tidak terlihat puas oleh anak perempuan itu. Padahal saat pertama kali ia menemuinya, sebelum menjadikannya sebagai anak angkat, ayahnya terlihat bersenang-senang ketika membunuh mangsa yang ada di depannya. Bahkan ia mendapat bayaran cukup besar berkat hasil pekerjaannya.
Namun kini ayahnya perlahan berubah.
Pria itu mengambil topeng hitam berbentuk burung yang ia pasang di samping atas kepalanya, memandang benda itu sejenak.
"Ah, sial. Aku lupa memakai topeng ini. Jika aku lupa memakainya lagi, mereka pasti dengan mudah menemukanku. Menjadi pembunuh bayaran memang merepotkan," keluh pria itu. Ia lalu mencoba memasang topeng berbentuk burung itu ke wajahnya. "Merepotkan," keluh pria itu lagi, merasa tidak cocok memakai topeng tersebut. "Hei."
Anak perempuan bermanik emas itu menoleh. Pria itu melempar topeng itu padanya.
"Ambillah, untukmu. Anggap saja sebagai hadiah."
Anak itu menatap lurus ayah angkatnya. "Aku tidak suka bentuknya."
Sang ayah tertawa pelan. "Aku juga. Tapi kurasa itu lebih cocok untukmu." Lalu ia tiba-tiba berhenti tertawa, ia menatap putri angkatnya sejenak, pikirannya mulai berkelana. "Ah, benar juga." Ia mendekati putrinya dengan senyuman terukir pada wajahnya. "Padahal selama ini kau sudah menjadi murid sekaligus putri angkatku tapi aku masih belum memberimu nama. Bahkan kau tidak tahu kapan ulang tahunmu, benar?"
"Ulang tahun?" tanya anak itu. "Apakah ulang tahun itu penting?"
"Tentu saja penting, bodoh. Meski kau tidak tahu tanggal kelahiranmu, aku yang kini sebagai ayah seharusnya wajib memberi nama dan menentukan tanggal kelahiran pada putrinya."
"Benarkah?" tanya gadis itu lagi.
"Benar. Nah, bagaimana kalau menurutmu jika ulang tahunmu adalah hari ini?"
Anak perempuan itu hanya diam menatap lurus ayah angkatnya. "...kau belum menjawab pertanyaanku, ayah. Kenapa ulang tahun itu sangat penting?"
"Kau ini... Seenaknya saja memberi pertanyaan yang aneh. Apa boleh buat, aku akan memberitahumu. Bagaimana menjelaskannya ya...?" Pria bermanik merah itu berlutut di depan putrinya lalu menahan kedua bahunya. "Dengar, ulang tahun bisa dikatakan umurmu bertambah. Setiap tahun dan di tanggal yang sama, sepatutnya kau bersyukur karena masih hidup di dunia ini. Kau juga boleh membuat harapan untuk dirimu tahun berikutnya. Bagaimana? Kau mengerti?"
"Harapan... masih hidup... " gumamnya.
"Baiklah, sekarang nama apa yang cocok untukmu?" Sang ayah mengurut dagu sembari berpikir. Mata mereka saling bertemu, merah dan kuning keemasan. "Hm, aku punya nama yang bagus untukmu. Sekarang aku tidak akan memanggilmu, 'nak' atau 'hei'. Baiklah, ingat baik-baik. Namamu adalah-"
-XxX-
Suzu berhasil turun dari tebing dengan selamat, disana Kagome sedang menunggunya. Meski Suzu tahu bahwa ia akan dijebak olehnya, bagaimanapun juga ia harus menghentikan Kagome. Manik emasnya tertuju ke langit mendung lalu berpindah menatap Suzu.
Auranya yang tak berubah, masih sama seperti dulu- selalu berhasil membuat batin Suzu terancam. Dirinya seolah-olah ditusuk ribuan jarum di seluruh tubuhnya. Takut akan tiap gerak-gerik Kagome.
"Apa? Mengapa kau memasang wajah seperti itu? Kau ingin bertanya padaku apa itu dendam? Hah, bukankah kau sudah pernah merasakannya? Disaat bibimu mati, kau meluapkan segalanya dengan membunuh orang-orang yang telah merenggut nyawanya. Bukankah saat ini kau juga dendam padaku karena aku ingin membunuh Oichi? Oh, dan saat kedua orang tuamu mati, kau juga melakukan hal yang sama, bukan? Mereka semua, SEMUANYA- mati konyol. Menggelikan sekali."
Sorot mata Suzu berubah tajam. Wanita itu tak tahu apapun, ia tak tahu bahwa Kagome tak pernah merasakan hal yang sama seperti dirinya, kehilangan sesuatu yang berharga. "Mungkin bagimu mereka semua mati konyol, tapi kau salah. Kagome, kau tak tahu apapun."
Mata kuning giok Kagome mengerjap sekali, lalu menyipitkannya. "Apa...?" ucapnya dengan nada rendah.
Suzu mulai semakin takut akan perubahan nada suaranya, tatapan yang selalu membuatnya tak memiliki keberanian untuk bergerak sedikit pun. Ia tahu bahwa ia harus menaklukkan kelemahannya. Ia harus berubah- bukan. Lebih tepatnya tumbuh menjadi kuat. Itu adalah jawaban yang tepat yang selama ini ia cari. Kuat dalam artian mampu menaklukkan kelemahannya. Suzu mencengkram roknya dengan kuat dan berusaha untuk mengumpulkan keberanian. "Kedua orang tuaku, mereka melindungiku dari kematian. Mereka ingin aku bertahan hidup. Juga Obaa-sama, Nagamasa-sama dan Oichi-sama. Bagaimanapun juga, aku adalah harapan mereka. Aku tak akan membuang nyawaku lagi."
Benar.
Dahulu ia pernah mencoba untuk membuang segalanya. Harapan, nyawa serta kenangan, ia hampir membakar semua itu. Tapi ia takkan mengulang kesalahan yang sama. Kesempatan mungkin takkan datang dua kali. Ia tak ingin menyia-nyiakan apapun yang berharga, takkan menyerah dan takkan menyesali apapun yang telah lewat.
Kagome yang sedari tadi terdiam mulai angkat bicara setelah menaruh telapak tangannya di pinggang. "Mengejutkan, sangat mengejutkan. Ternyata masih ada orang bodoh yang mempercayai hal busuk semacam itu."
Suzu mulai terbiasa akan cemoohan wanita itu, dia jauh lebih buruk daripada Mitsunari yang berlidah tajam. "Kali ini biarkan aku bertanya. Kau sendiri datang padaku sejauh ini hanya untuk mempermainkanku lagi, bukan? Kagome, aku tak ingin lagi dendam. Jika aku melakukannya, aku pasti akan menyesalinya. Aku tak ingin meluapkan penderitaanku dengan cara yang salah."
"Menyesal? Cara yang salah? Konyol sekali." Kagome menaikkan sebelah alisnya. "Kau ingin mengatakan cara pandangan kita berbeda jauh?"
Suzu mengepalkan tangannya. "Kau sudah tahu jawabanku."
Tatapan yang tajam diantara mereka saling bertemu. Mereka berdua telah memiliki keinginan kuat untuk tidak menyerahkan nyawa, namun memiliki cara yang berbeda.
"Bagaimana dengan kau? Kau sendiri datang sampai sejauh ini hanya karena ingin membunuh kami. Apa kau juga memiliki dendam pada Oichi-sama?" Suzu menggeleng, setelah apa yang ia lakukan saat mereka bertemu di Nagashino. Ia tahu bahwa Kagome memiliki dendam bukan pada Oichi. "Mm, bukan, bukan itu. Pastinya kau memiliki dendam padaku?"
Kagome terdiam sejenak, mata mereka saling bertemu. Wanita itu cukup terkejut dengan perubahannya sejak ia memprovokasinya beberapa tahun lalu. Suara lembutnya terdengar begitu tenang. Disamping itu, ketatapan hatinya-lah yang membuat Kagome semakin ingin memusnahkan gadis itu. Sorot matanya yang lurus, tak ada tanda dendam.
"Ya, benar. Kau memang benar. Aku dendam padamu, aku sangat membencimu," sahutnya sambil menekan kata 'benci'.
Tentu saja Kagome membencinya, jika tidak wanita itu tidak mungkin datang sejauh ini untuk mempermainkannya. Kini semuanya sudah jelas. Aneh, namun Suzu lega mendengarnya. Jika itu benar, maka orang yang ia kasihi takkan ada sangkut pautnya. Jika ia masih bersikeras merenggut nyawa mereka, Suzu takkan mungkin tinggal diam. "...begitu 'kah."
Alisnya menyempit, Kagome tak pernah menyangka Suzu terlihat lega akan jawabannya. "Ya. Kau sendiri, mengapa kau sama sekali tidak dendam padaku? Aku telah mempermainkan nyawa serta jiwamu dan mendorongmu kearah keputusasaan. Mengapa kau tidak membenciku?" Kagome berjalan mendekati Suzu.
Suzu tak bergeming, membiarkan wanita bersurai hitam dengan topeng burung gagak diatas kepalanya menghampirinya. "Wajar jika kau tidak mengerti diriku. Aku juga demikian, aku juga tidak mengerti dengan dirimu. Kita seimbang."
"'Kita seimbang', katamu?" Kagome langsung menggunakan kedua tangannya untuk mencengkram keras leher kurus Suzu. Sorot matanya yang tajam seolah-olah bersiap untuk memangsanya. "Jangan bercanda!"
Gadis bersurai perak itu berusaha melepas tangan Kagome, namun cekikannya terlalu kuat membuatnya kesulitan untuk berbicara bahkan bernapas. Tubuhnya tiba-tiba melemah, kakinya perlahan tak sanggup untuk berdiri. Kedua matanya terpejam rapat dan mulutnya terbuka.
"Apanya yang seimbang!? Memang kau tidak tahu apapun tentang diriku tapi aku tahu tentang dirimu!" bentak Kagome. Ini pertama kalinya Suzu melihat dan mendengar wajah serta suara penuh amarahnya. Namun itu adalah pertanda baik bagi baik, tidak memandang situasi mencekam yang menimpa Suzu. "Apa yang membuatmu berhenti membenciku? Kalau saja aku merenggut nyawa mereka yang kau hargai atau bahkan nyawamu, kau pasti akan mengerti diriku!" Kagome kemudian membenturkan kepala Suzu ke tanah hingga Suzu merintih kesakitan. "Hanya kau yang bisa mengerti dengan penderitaanku! Jadi kau seharusnya lebih membenciku. Lagi, lagi, lagi dan lagi!" teriaknya berulang kali sambil terus mengguncangi tubuh Suzu. "Sebelumnya aku sudah memberitahumu, bukan? Seluruh yang kau genggam erat itu hanyalah ilusi! Penderitaan akan terus berulang dan akhirnya pasti berujung pada kematian-!"
Kagome berhenti berbicara ketika Suzu perlahan membuka matanya. "Begitu... rupanya..." Tangannya yang lemah dengan lembut menggenggam tangan Kagome. Terukir senyuman sedih pada bibir gadis bersurai perak tersebut. Kagome membelalakkan mata. Setelah apa yang ia lakukan padanya mengapa ia masih bisa tersenyum?
Tanpa ia sadari, Kagome melepaskan cengkramannya pada leher Suzu dengan pelan. "Kagome, memang dulu aku sangat membencimu. Tapi aku telah menerima segalanya, meski semua itu telah membuat diriku menderita, tapi aku sudah memahami rasa sakit itu."
Mereka kembali saling berpandang, sorot mata Suzu yang tak terisi oleh kebencian membuat Kagome terus bertanya-tanya.
"Yang kau takutkan adalah kematian dan penderitaan. Kau ingin aku merasakan penderitaan yang sama seperti dirimu, bukan?" Suaranya begitu lemah lembut, alisnya sama sekali tak bergeming, mata merahnya memancarkan kepedulian.
Kagome tak dapat menjawab. Manik emasnya masih terkunci memandang Suzu, seisi kepalanya mencerna kalimat yang baru saja gadis itu ucapkan. "Kau boleh saja membenciku, tapi aku takkan tinggal diam jika kau ingin melukai orang yang sangat berharga bagiku. Tapi..." Suzu berhenti sejenak, menyentuh tangannya yang mulai regang. "Bisakah kau memberitahuku atas dasar apa kau membenciku? Jika memang ada, biarkan aku memutuskan tali kebencianmu itu."
Kedua kelopak Kagome melebar, lalu ia tertawa lepas. "Yang benar saja! Kau pikir kau bisa melakukannya?"
"Ya, aku akan berusaha semampuku. Aku ingin tahu tentang dirimu, apa yang membuatmu benci padaku, apa yang telah membuatmu takut. Semuanya." Suzu kemudian bangkit dari posisinya yang terkapar.
Kagome mendengus. "...baiklah." Ia melepas topeng burung gagak yang ia pasang diatas kepalanya. Lalu memperlihatkan sebuah tulisan kanji yang diukir dibalik topeng tersebut.
Nama marga.
Nama yang Suzu sandang sejak ia dilahirkan.
"Shiraishi...?" gumam Suzu. Sepasang mata merah Suzu membulat sempurna. Lalu ia kembali menemukan manik emas Kagome, memintanya untuk menjelaskannya lebih jauh lewat tatapannya.
"Apa kau mengerti? Kau dan aku adalah-"
"Suzu-chan!"
Suzu langsung menoleh ke arah asal suara. Seorang gadis bersurai merah jambu melempar sebuah tongkat. Kagome yang menyadari keberadaan perempuan itu langsung menolak serangan dengan kaki.
"Sepertinya ada penganggu yang berusaha mengikutimu, kelinci."
Gadis itu berlari menghampiri Suzu, rambut merah jambunya berkibaran oleh hembusan angin membuatnya langsung mengenalnya. "Natsuko...! Bagaimana bisa kau menemukanku-"
"Cepat lari! Jika tidak dia akan membunuhmu!" Natsuko langsung menarik tangannya lalu berlari secepat mungkin. Suzu membatalkan niatnya untuk menghentikan Natsuko. Meski ia merasa bahwa Kagome takkan menyerang lagi, namun masih ada hal yang ingin ia pastikan mengenainya. Karena tak punya pilihan selain menuruti Natsuko, ia hanya bisa berharap Kagome tidak akan pergi mengincar Oichi kembali.
Setelah cukup jauh berlari, mereka berdua mencoba untuk mengatur napas. Mereka masih belum keluar dari hutan.
"Natsuko... bagaimana bisa kau menemukanku?" tanya Suzu yang sedari tadi berusaha menyimpan pertanyaannya.
"Eh? I-Itu... hanya intuisi kok!"
"Na-tsu-ko-san?" Suzu yang mulai sedikit frustasi.
"W-Waah! Jangan marah dulu, Suzu-chan! Aku sangat mencemaskanmu, jadi aku mengikutimu! Tapi karena aku tidak bisa ikut masuk ke kamp Shibata, aku hanya bisa sembunyi diam-diam sambil memerhatikan Suzu-chan. Lalu aku mengejarmu lagi saat perempuan tadi ingin membunuhmu-"
"Baik, baik. Aku paham, kamu terus terang sekali. Tapi rasanya aneh sekali sampai aku tidak menyadari keberadaanmu sampai sejauh ini." Suzu menghela napas. "Terima kasih. Tapi lain kali aku minta padamu untuk tidak mengikutiku. Aku bukannya menganggapmu beban, tapi aku lebih terbiasa melakukan tugasku sendirian. Mengerti, Natsuko?"
"I-Iya deh." Natsuko mengangguk pelan.
"Nah, sebaiknya kamu cepat lergi kearah barat untuk keluar dari hutan. Aku harus pergi dulu."
"Suzu-chan! Tunggu dulu! Kamu mau kemana lagi?" Natsuko kembali menggenggam tangan Suzu.
"Aku... aku harus... Masih ada yang harus kulakukan." Ia tahu bahwa Oichi takkan berniat untuk berubah pikiran. Selain itu, ia harus menjaganya agar Kagome tidak mencoba untuk membahayakan nyawa Oichi.
Tidak. Sebagian dari Suzu mengatakan bahwa wanita itu tidak akan mencoba untuk menghalanginya. Aneh namun ia akui bahwa kepercayaannya pada Kagome mulai tumbuh meski hanya sedikit.
Setidaknya ia harus tahu lebih banyak mengenai Kagome.
"Jangan pergi, Suzu-chan! Oichi-sama akan baik-baik saja kok! Pasukan Shibata pasti akan menyerahkan Oichi-sama!"
Natsuko benar. Suzu menganggap Hideyoshi yang merupakan pengikut setia dari Nobunaga tak mungkin memiliki niat untuk mengakhiri hidup Oichi. Meskipun kini Nobunaga telah tiada, Hideyoshi menganggap bahwa ia memiliki kewajiban untuk melindungi Oichi. "...kau benar. Aku harap demikian."
Suzu menoleh ke belakang. Kepalanya masih dipenuhi pertanyaan yang tak terkira jumlahnya mengenai Kagome.
Wanita itu, memiliki marga yang sama dengannya.
Suzu menghela napas, dia berharap akan mendapatkan kesempatan untuk menemui Kagome lagi. Namun ia sama sekali tak tahu dimana keberadaannya.
Untuk sekarang, ia harus memberitahu Takatora mengenai Oichi. Suzu merasa cemas setengah mati karena ia tak tahu bagaimana Takatora menanggapinya. Meski ia pernah mengatakan bahwa ia takkan kecewa pada Suzu. Tetap saja itu tidak mengubah fakta bahwa dirinya telah gagal mencegah Oichi.
-XxX-
Suzu dan Natsuko akhirnya berhasil keluar dari hutan. Meski demikian, mereka masih berada di wilayah Shibata. Di setiap sudut mereka mengambil posisi tanpa meninggalkan ruang kosong. Meski nampaknya jumlah mereka berkurang, namun mereka dapat menempatkan posisi bertahan dengan ketat.
"Hebat, sepertinya kita terjebak," komentar Suzu datar.
"Ini sama sekali tidak hebat, Suzu-chan!" balas Natsuko. "Bagaimana caranya agar kita bisa keluar dari wilayah musuh? Kita harus lewat mana?"
"Sepertinya jalan pintas yang kugunakan tadi sudah dijaga ketat oleh Shibata. Kurasa hanya dua cara yang bisa kita lakukan."
"Wah! Benarkah itu? Bagaimana caranya?"
"Caranya sederhana kok. Pertama, kita sembunyi dan menunggu sampai pasukan Takatora-san atau yang lain datang. Tapi hanya masalah waktu sampai kita ditemukan. Kedua, kita harus nekat menerobos pasukan Shibata sampai kita menemukan rekan kita yang lain. Tapi resiko terbesarnya adalah Maeda Keiji. Kita tak tahu dimana dia mengambil posisi. Yah, kalau saja pendekar hebat sepertinya mempersilahkan kita lewat, aku benar-benar lega meski aku gagal mencegah Oichi-sama. Dan resiko keduanya adalah tenagaku hampir mencapai batas, kita bisa saja tertangkap."
"Dua cara itu sama bahayanya, Suzu-chan! Uuh, Onii-chan..." rengek Natsuko.
"Selain itu, sebenarnya masih ada satu cara lagi."
"Eh? Bagaimana?"
"Aku akan memancing perhatian musuh, disaat itu kau harus melarikan diri secepatnya. Aku akan menyusulmu. Yah, ini memang cara yang sama seperti pilihan kedua. Tapi kita harus pergi dari sini secepatnya."
"Eeeh!? Jangan lakukan itu, Suzu-chan!" Namun Suzu mengabaikan peringatannya ia langsung berlari memasuki medan tempur. Ketika beberapa pasukan Shibata yang mengambil posisi di dekat tebing dimana sebelumnya Suzu mengambil jalan pintas, perhatian mereka langsung teralihkan saat Suzu melempar houroku-hiya yang menghasilkan ledakan cukup besar sehingga dapat menumbamg satu pohon.
"Natsuko! Cepat, aku akan membukakan jalan untukmu!" seru Suzu.
"T-Tapi...! Padahal seharusnya aku yang-"
"Sudahlah! Kubilang cepat!" Suzu mengeraskan nada suaranya membuat Natsuko tak punya pilihan selain menuruti perintahnya. Gadis bersurai merah jambu itu segera berlari melewati bukit. Lega melihat Natsuko sudah mendahuluinya, Suzu bersiap untuk menghadang beberapa prajurit Shibata yang mengejarnya.
Namun belum sempat ia maju, tiba-tiba para prajurit tersebut jatuh ketika seorang wanita menyerang mereka dengan sekali serangan. Cakar yang menjadi senjata wanita tersebut berlumuran darah.
"Apa kau mengerti kalau kau melakukan hal yang paling bodoh? Yah, kau memang perempuan yang seperti itu."
"... Kagome!? Kenapa-"
"Simpan dulu pertanyaanmu. Dasar, kau ini benar-benar nekat. Kali ini kau berhutang nyawa padaku, kelinci bodoh. Setidaknya kau menjaga nyawamu itu dengan baik sampai masalah kita berdua selesai. Jika tidak, kau pasti tahu bahwa usahaku akan sia-sia, bukan?"
Tak seperti dulu, ia menyelamatkan nyawanya karena Kagome ingin terus mempermainkan Suzu. Mencoba membunuh jiwanya berulang kali. Namun kini tidak, Kagome menyelamatkannya karena di dalam benaknya ia tak ingin Suzu mati. Meski ia berkata bahwa ia hanya ingin mendapatkan penjelasan dari Suzu setelah perang usai, itu sudah membuatnya cukup senang.
"...terima kasih, Nee-sama."
Kagome masih belum mau menoleh, terdiam setelah mendengar panggilan tersebut. "Hah, padahal aku belum selesai menceritakan semuanya. Kau terlalu cepat percaya bahkan pada orang sepertiku," gumamnya. Ia memasang topeng burung gagak pada wajahnya sebelum kembali menyerang pasukan Shibata yang terus berdatangan. "Cepat pergi sebelum aku berubah pikiran."
"Ya." Suzu tersenyum tipis sebelum pergi menyusul Natsuko.
"Penyusup ditemukan! Tangkap!" Para pasukan Shibata mengejar Kagome yang hanya berdiam diri, mereka segera mengepungnya.
Ia mengeluarkan cakar panjang dari armor pelindung lengan. Sorot matanya yang tajam berbeda dari yang dulu. "...tidak. Malahan aku harus bertanya pada diriku sendiri mengapa aku mempercayai kata-katanya." Seringai terbentuk di bibirnya. "Sayangnya aku tidak akan tertangkap dengan mudahnya. Jangan pernah berani mencoba untuk menyentuh kelinciku. Menjadi pembunuh tanpa mengenal rasa kasihan, bagiku kalian tak lebih dari serangga."
-XxX-
"Kau seharusnya berkewajiban untuk melindungi adikmu. Membenci Suzu hanya karena orang tuamu lebih menyayangi mereka adalah alasan yang paling kekanakan yang pernah kudengar."
Ryoko membelai rambut anak perempuan bersurai perak yang tertidur pulas sambil berbicara dengan tegas pada gadis bermanik emas itu.
"Mengapa kau tidak merasakannya? Ibumu dan ayahmu amat menyayangimu, tetapi kau mengabaikan kasih sayang mereka."
"Tapi mereka akhirnya menyerah padaku." Sepasang mata hijau Ryoko membulat, lalu ia mulai menjauhi kontak mata dengan gadis itu. "Jadi? Menurutmu siapa yang salah?"
Ryoko tak menjawab.
"Andai saja dia tidak dilahirkan atau bahkan mungkin jika pria tua bangka itu tidak bertemu dengan wanita jalang itu. Aku tidak akan seperti ini. Aku masih merasakannya, rasa sakit yang tak berdarah, rasa sesak pada dadaku dan kebencianku pada mereka masih membekas hingga kini. Karena itu, aku membuang segalanya."
"Sango-chan...!" Ryoko meninggikan nada suaranya.
"Dari awal aku tak memiliki nama, jadi jangan memanggilku dengan sebutan itu lagi." Gadis yang dipanggil dengan nama Sango itu bertolak meninggalkan ruangan. "Aku hanyalah 'Kagome'. Akan kupastikan dia akan dikurung dalam sangkarku. Dengan demikian, ia pasti akan merasakan apa yang kurasakan sejak aku dilahirkan di dunia ilusi ini."
-XxX-
Tiap bilah pisau pada cakarnya mulai basah akan darah. Kagome mulai meratapi pemandangan mengerikan di depan matanya, tubuh para prajurit yang bercucuran darah membasahi tanah, bau darah segar serta bau besi yang menusuk hidung sudah menjadi pemandangan biasa baginya.
"Aku yakin kau tidak mungkin bisa melakukan hal yang sama sepertiku, Suzu. Tapi apakah kau tahu? Perasaanku saat ini amat berbeda dari biasanya. Dulu aku sangat puas akan mencucurkan darah orang lain. Namun berbeda dengan hari ini, puas bukan akan nafsu membunuh. Akan tetapi puas akan keinginan untuk melindungi. Ternyata tak ada yang lebih baik dari ini. Bahkan aku seperti bernapas untuk pertama kalinya ketika memikirkan semua ini." Kagome terkekeh, menertawai dirinya sendiri. "Melampiaskan penderitaan dengan membunuh dan membunuh, bukan hal yang dilakukan oleh ayah. Ternyata dulu dia juga tersesat di dalam hatinya sendiri. Begitu juga aku. Membunuh orang dan menganggap 'mereka' sudah mati di tanganku- konyol sekali. Seharusnya dari awal aku menyadarinya. Aaah, Sango. Kau memang bodoh, ya."
-XxX-
Suzu terus berlari sambil melemparkan houroku-hiya ke belakangnya. Para pajurit yang mengejarnya terpental jauh seketika bom tersebut meledak. Merasa ia tak dikejar lagi, Suzu berhenti.
"Sepertinya Natsuko sudah aman. Takatora-san dan yang lain pasti melewati jalan arah kesini." Setelah ia turun dari bukit, didapatinya para pasukan Hashiba yang tengah menyerang pasukan Shibata. Jauh dari garis depan, pasukan teppou bersiap menembak.
"Jika dibiarkan mereka akan kesulitan bergerak." Suzu langsung turun dari bukit dan mengendap ke belakang pasukan teppou Shibata. Ia melemparkan jarum kearah leher mereka masing-masing membuat pasukan teppou tersebut mati seketika.
Merasa sudah aman untuk bergerak, para pasukan Hashiba langsung bersorak dan maju dan menyerang pasukan Shibata tanpa harus mengkhawatirkan tertembak dari belakang.
Suzu mulai mencari Takatora. Bagaimana pun tanggapan Oichi, Takatora sudah mengatakan untuk memberitahunya. Meski ia masih cemas dengan tanggapan Takatora nanti, ia tak ingin Takatora mengkhawatirkannya.
"Itu dia," gumam Suzu yang akhirnya menemukan Takatora yang tengah menyerang pasukan Shibata. Ia mempercepat langkahnya untuk segera menolongnya.
Pakaiannya berlumuran darah, wajahnya kotor karena percikan darah dan tanah. Tak kalah mengejutkan bagi Suzu, sorot matanya bergejolak akan amarah. Pria itu terlihat seperti orang asing, ia belum pernah melihatnya dengan mata seperti itu.
Namun tiba-tiba, Takatora tertembak peluru yang berasal dari pasukan Shibata yang bersembunyi di balik semak-semak. Sepasang mata merah rubinya mengerjap seketika, dadanya seolah-olah ikut tertusuk ketika memandang Takatora yang mulai rubuh.
"Takatora-san!" pekik Suzu berlari kearahnya. Ia mengabaikan tembakan teppou yang masih terus berlanjut. Gadis itu berlutut di sampingnya lalu mengguncang tubuh Takatora. "Takatora-san!" Kedua matanya mulai perih menandakan air matanya akan menetes, tangannya bergemetar ketakutan dan isakan tangisnya tak mau berhenti.
"Kau- bodoh!" Takatora yang masih sadarkan diri menariknya. Tak sengaja terlalu kasar, belakang kepala Suzu terbentur tanah. Dengan posisi Takatora berdominasi diatas tubuh Suzu yang terbaring, Takatora menurunkan kepalanya agar bisa bersembunyi di balik rerumputan. "Kau mau mati!? Kau pikir memangnya ada orang yang nekat berlari sedangkan musuh masih menyerang!? Kau hampir saja ditembak!"
"Tapi Takatora-san, lukamu...!"
"Tahan dulu! Mereka masih menembak kearah sini."
Karena tak menduga situasi mereka saat ini, Suzu hanya bisa menurutinya dan diam. Ia menahan napas dan memejamkan matanya dengan rapat. Jarak mereka yang sangat dekat membuatnya gugup. Takatora masih belum bergeming, ia menahan pergelangan tangan Suzu, sedangkan tangan sebelahnya melindungi kepalanya. Napasnya menggelitik pada telinga Suzu. Kepalanya tiba-tiba memanas, degup jantungnya keras. Ia merasa malu setengah mati karena Suzu tak ingin Takatora mendengar detak jantungnya yang keras. Gadis itu tak bisa bergerak sedikitpun karena Takatora masih menahan pegelangan tangannya dan kakinya yang terkunci.
"Sepertinya mereka sudah dijatuhkan, tembakannya berhenti." Takatora melihat sekitar lalu bangkit dari posisinya. Melihat kelopak Suzu yang basah akan air mata membuatnya merasa bersalah. Ia berpikir bahwa Suzu menganggapnya hampir mati karena tembakan barusan. "Kecerobohanku hampir membuat nyawamu dalam bahaya. Maaf," ucapnya sembari membantu Suzu bangkit dengan menahan kedua bahunya.
"...t-tidak kok. Lalu bagaimana dengan luka tembakan Tuan tadi?" tanya Suzu masih tersipu dengan suara pelan.
"Pelurunya tak menembus baju besiku. Jadi, tidak masalah." Setelah mendengar jawabannya, Suzu menghela napas lega lalu menyeka air matanya. Namun kelegaan Takatora langsung menghilang ketika kedua mata biru Takatora membulat ketika melihat sebuah bekas cengkraman yang memerah pada leher kurus Suzu. "Suzu, mengapa lehermu bisa terluka!?"
"A-Ah. Ini... bukan apa-apa kok," ucap Suzu sambil tertawa paksa sambil menutup lehernya dengan sebelah tangan.
"Bodoh! Kau pikir aku langsung menerima jawabanmu itu!" bentak Takatora sembari memeriksa lebih lanjut lehernya.
Lagi-lagi terkejut akan sentuhannya, Suzu langsung mengalihkan pembicaraan. "Sungguh, aku tidak apa kok. Aku akan memberitahu Tuan nanti. Ceritanya panjang." Takatora menyipitkan matanya. Meski Suzu memintanya untuk membicarakannya setelah perang usai, ia masih penasaran mengapa Suzu bisa mendapatkan luka cengkraman pada lehernya. "Anu, mengenai Oichi-sama, aku-"
"Aku tahu. Beliau tidak menerimanya, bukan?" potong Takatora sembari menurunkan tangannya dari leher Suzu.
Suzu menurunkan kepalanya, tak berani menatap pria itu. "I-Iya. Aku mohon maaf."
"Bodoh, jangan berkecil hati," ucap Takatora sembari memukul ringan kepala Suzu dengan punggung jemarinya. "Kau masih berpikir kalau aku akan kecewa padamu? Bukankah sudah kubilang pasti masih ada jalan lain untuk menyelamatkannya?"
Suzu menengadahkan kepalanya, lalu menyinggungkan senyuman pada bibir merah jambunya. Padahal ia berusaha membantunya namun ia merasa bahwa dirinyalah yang terbantu oleh Takatora. Takatora belum menyerah, maka ia juga tak mau menyerah. Masih ada waktu dan kesempatan. "Ya. Aku percaya padamu, Takatora-san."
Takatora membalas senyumnya. "Senang mendengarnya. Lagipula, kau sudah kembali dengan selamat. Aku khawatir kau tidak akan kembali. Kemauanmu yang ingin meringankan pundakku saja sudah lebih dari cukup." Takatora lalu membantu Suzu berdiri dengan menarik tangannya. "Nah, kali ini kau harus bergerak bersamaku."
"Baik!" Takatora lalu menyeret pergelangan Suzu. "Eh, Tuan?"
"Apa?"
"Ah tidak... hanya saja Tuan tidak perlu repot menyeretku. Aku akan tetap mengikutimu kok..."
Sepasang manik mereka saling bertemu, biru dan merah. Rasa keingintahuan pada mata rubinya itu membuat dirinya juga ingin tahu apa yang membuatnya menahan pergelangan tangannya begitu kuat. Takatora lalu memfokuskan matanya pada pergelangan tangan Suzu lalu melepasnya dengan pelan. "Apa aku menahan tanganmu terlalu keras?"
"...tidak, aku tidak apa."
"Baguslah. Nah, ayo."
Mereka berdua mulai bergerak menuju garis depan, beberapa pasukan Shibata yang mengambil posisi bertahan di jalan menuju markas utama Shibata telah dijatuhkan. Yang tertinggal hanyalah pasukan yang menjaga di sekitar luar markas utama.
"Ada banyak tebing di sekitar sini," gumam Suzu.
Takatora dari awal sudah menyadarinya dan menduga kemungkinan ada pasukan yang bersiap untuk meluncurkan serangan dadakan. Ia memberi isyarat pada pasukannya untuk berhati-hati sambil memperhatikan sekitar.
"Aku akan memeriksanya," ucap Suzu sembari memasang tudung kepalanya.
Takatora langsung menahan lengannya. "Kau mau melakukannya sendirian?"
"Eh, yah... Aku 'kan sudah sering melakukan hal seperti ini sendirian. Aku akan baik-baik saja, Takatora-san. Secepatnya aku akan memberitahu situasinya pada Tuan."
Melihat Suzu memberinya senyuman yang selalu berhasil menenangkan hatinya, Takatora menyerah. Ia melepas genggamannya pada lengan Suzu. "Hati-hati."
Suzu melebarkan senyumannya dan mengangguk. Kemudian langsung melompati dahan pohon untuk mencari tempat yang aman dan mudah untuknya melihat sekitar. Sementara Takatora memerintahkan pasukannya untuk bergerak dengan tenang.
Ketika Suzu telah mendapatkan posisi yang pas untuknya memastikan sekitarnya, penglihatannya menangkap pasukan Uesugi yang telah datang sebagai bala bantuan yang sudah berada di sekitar markas utama Shibata. Selain itu ia juga melihat pasukan panah yang tengah bersiap untuk menyerang. "Mereka terlalu jauh, tebingnya terlalu tinggi. Aku tidak bisa pergi kesana sendirian untuk menjatuhkan mereka. Setidaknya aku harus memberitahu Takatora-san-"
Namun niat Suzu langsung tertunda ketika ia melihat seorang wanita bersurai hitam panjang yang dikepang satu menjatuhkan pasukan panah sekaligus. Pasukan panah Shibata yang tak menduga serangan dari belakang panik seketika. Beberapa dari mereka mulai berjatuhan dari tebing. "Dia... datang menyelamatkan lagi. Kagome..." Suzu tak bisa menahan senyuman syukurnya ketika melihat wanita tersebut menolongnya untuk kedua kalinya.
Kagome yang sudah menyadari tatapan Suzu dari jauh mulai angkat bicara. Karena ia tak dapat mendengar perkataannya, Suzu hanya bisa menebak ucapannya lewat gerakan mulutnya. "'Anggap sebagai... pembalasan perbuatan burukku'?" gumam Suzu. Kagome tersenyum tipis lalu menghilang seketika Suzu mengedipkan mata. Merasa lega Takatora akan baik-baik saja, Suzu pergi langsung menyusulnya. "Ternyata aku tidak salah untuk mempercayainya."
Setelah turun dari pohon yang cukup tinggi, ia langsung berhenti di depan Takatora. "Semua aman. Kita bisa maju tanpa mengkhawatirkan serangan dadakan, Takatora-san."
Takatora menaikkan alisnya. "Benarkah? Tapi aku tak mengira kau sampai begitu lega."
Karena belum waktunya ia memberitahu mengenai Kagome, Suzu lebih memilih untuk menyimpan pembicaraan tersebut untuk sementara. "Yah, itu tentu saja aku lega, 'kan? Nyawa Takatora-san akan aman melewati jalan pintas disini. Selain itu, pasukan Uesugi sudah datang membantu," jelas Suzu.
"Begitu. Baiklah, kita harus cepat menuju kamp utama Shibata."
"Kita bisa menyelamatkan Oichi-sama, 'kan? Takatora-san."
"...kuharap begitu."
Suzu mengerjapkan matanya ketika ia mendengar nada suaranya yang pelan. Meski Takatora sudah memberitahu Suzu bahwa mereka pasti bisa menyelamatkan Oichi, namun ia tak bisa memegang ucapannya itu pada dirinya sendiri. Firasatnya entah mengapa mulai memburuk.
Kemenangan sudah hampir di depan mata. Mereka mempercepat langkah untuk segera ikut mengepung Shibata.
Yoshitsugu yang bersama Aki dan adik perempuannya sudah berada di depan kamp utama Shibata, semua pasukan Hashiba telah mengepung mereka dari berbagai sisi.
"Suzu-chan! Syukurlah kau baik-baik saja!" Natsuko langsung melompat kearah Suzu, memberinya pelukan.
"N-Natsuko! Aku juga senang kau baik-baik saja tapi kumohon nanti saja pelukannya, kita masih di medan perang!" jerit Suzu panik. Namun Natsuko tak mendengarkan, ia malah mengeratkan dekapannya sedangkan Suzu berusaha melepaskannya.
"Natsuko, jangan abaikan Suzu-dono. Masih terlalu cepat untuk senang. Pekerjaan kita masih belum sepenuhnya selesai," kata Aki sambil menarik adik perempuannya. Natsuko menggembungkan sebelah pipi.
"Bagaimana keadaannya sekarang, Yoshitsugu?" tanya Takatora.
"Hideyoshi-sama sudah berada di dalam kamp Shibata bersama Kanbei-gunshidono. Mereka kembali mendebatkan persoalan pertemuan mereka saat di Kiyosu."
"Tapi beliau masih belum kembali," lanjut Aki.
Karena tak bisa memastikan lebih dekat, Suzu menyempitkan kedua alisnya. Khawatir akan Oichi tidak akan mengubah keputusannya. Suzu melirik kearah Takatora yang tak memindahkan pandangannya pada kamp Shibata.
Entah mengapa ketika ia membaca mimik wajah Takatora. Ia tahu bahwa Takatora sangat mempedulikan keselamatan Oichi. Namun jauh dari lubuk hatinya, ia juga ingin Takatora mempedulikan dirinya seperti kepeduliannya pada Oichi. Suzu tak menyalahkan siapa pun, ia hanya ingin Takatora menyisakan kepeduliannya meski hanya sedikit.
"Suzu-chan? Kenapa kau tiba-tiba murung? Kau juga terlihat lelah." Sentuhan Natsuko pada lengannya membuat Suzu terbangun dari lamunannya.
"Apakah kau terluka, Suzu-dono?" tanya Aki.
Suzu menggeleng pelan dan memberikan senyuman. "Aku tidak-"
"Pasukan Shibata telah mundur menuju Kitanosho! Hideyoshi-sama memberi perintah untuk seluruh pasukan untuk melakukan pengejaran sekarang juga!" seru prajurit pembawa pesan.
Semuanya terkejut mendengar berita tersebut. Suzu tak pernah berpikir mereka akan mundur. Selama ini ia hanya berharap Oichi akan selamat, diserahkan pada Hideyoshi. Ia tak pernah memikirkan kemungkinan yang lain. Kenaifannya sekali lagi telah membutakan matanya. "...mereka mundur? Lalu bagaimana dengan Oichi-sama?" gumam Suzu.
Yoshitsugu yang telah menduga arus yang akan datang mulai angkat bicara ketika membaca mimik wajah Suzu. "Tidak perlu ditanya lagi. Seperti yang sudah kau ketahui, Oichi-sama adalah wanita yang tidak akan mengubah keputusannya. Setiap orang... memiliki peran di dunia ini."
Takatora menggertakkan gigi, ia langsung berlari mengejar dengan menunggangi kuda. "Aku tidak peduli semua itu! Aku akan menyelamatkan Oichi-sama!" bentak Takatora. Sorot matanya mulai kembali tajam.
Meski Suzu yang sedikit takut melihat raut wajah Takatora, keputusan miliknya juga tidak akan berubah. "Takatora-san! Aku juga ikut bersamamu!"
Takatora berhenti dan menoleh ke arah Suzu. Ia tahu Suzu takut akan dirinya, namun ia masih tetap menatapnya dengan lurus. Ketetapan hatinya tertulis jelas pada wajahnya. Takatora mengulurkan tangan untuk membantu Suzu menaiki kuda. "Ya, ayo."
-XxX-
A/N : Oh ya aku hampir lupa. Kagome pake senjatanya Nouhime.
Betewe, aku gak pernah kepikiran kalau nama Kagome itu berasal dari anime Inuy*sha, apalagi Sango (yang artinya 'coral'). Saya cuma cari nama yang cocok sesuai dengan plotnya. Sekedar kebetulan kok.
Yosh, see you in the next chapter! As always thanks for reading and review, please! XD
