A/ N : Oke, inilah chapter yang ditunggu-tunggu. Langsung saja balas ripiw!
-Hayashinkage17
Scarlet : Kau dengar itu, tenugui-yaro!? *tarik kerah Takatora*
Takatora : Ya, aku dengar itu. Sangat jelas. Beraninya kau menghina tenugui...! *cincang Scarlet pake saiken*
Suzu : ...kok soal tenugui-nya. *sweatdrop* Eh, anu... tapi Hana-dono membicarakan soal apa? Cita-cita kehidupan seorang gadis?
Takatora : Entahlah, tapi dia menatap tajam kearahku. Apa aku baru saja melakukan sesuatu yang salah?
Blossom : Kalian udah dicuci otak lagi. Ohoho!? Suzu bakal muncul di Komaki-Nagakute di fic-nya Hayashinkage? Tentu saja mau dong! Dengan senang hati! Kyaaa! *unyel Suzu*
Suzu : E-Eh!? Ada apa!? *dorong Blossom*
Takatora : *bekuin Blossom* Terima kasih atas review-nya.
-RosyMiranto18
Takatora : Apa, lagi-lagi ada orang yang menasehatiku. Bisakah kau jelaskan, penulis tidak becus?
Blossom : Jahat amat sih mas bro! Aku tahu aku salah, cuma kurang kebayang gimana bentuk pedang Aki-kun! Sebelumnya aku malah ngira dia punya dual blade gitu.
Takatora : Itu bukan urusanku. Aku bertanya kenapa ada orang kedua yang menasehatiku? Aku tidak mengerti.
Suzu : Maa maa, kita minta maaf saja, ya? Dengan begitu masalah akan selesai kan? Yah, walaupun kita tidak tahu apa yang baru saja terjadi.
Scarlet : Wajar, kalian gak bakal tahu apa isi chapter ?-A. Kalian sudah dicuci otak.
Takatora : Heh, bicara apa kau? Cuci otak? *nyengir*
Suzu : *nahan ketawa* Fufu... Cuci otak...
Scarlet : Dasar orang jaman dulu gak ngerti arti cuci otak! Ehem, terima kasih sudah me-review!
Disclaimer : Samurai Warriors belongs to KOEI. OCs and story plot belongs to me, except Kimura Siblings belongs to RosyMiranto. Shinhana Kobayakawa and Nagachika belongs to Hayashinkage (chapter yang akan datang).
Warning : Mainly OC x Tōdō Takatora. OOC yang mungkin tidak disengaja atau sengaja demi alur cerita, sering typo, diksi yang tidak baku, suram dan abal. Saya usahakan ceritanya sama dengan game, anime dan atau sejarahnya. Kalimat digaris miring menandakan FLASHBACK atau suara hati(?). DON'T LIKE DON'T READ NO FLAMES. REVIEW PLEASE!
-XxX-
Bell of the White Hare
-XxX-
CHAPTER 10-B
Red Thread of Fate
-XxX-
Takatora membuka lebar matanya. Dirinya seperti baru saja mengalami mimpi buruk, meski hanya sejenak. Ia tak bisa langsung mengingat mimpi apa yang membuatnya tersentak kaget. Kepalanya mendongak keatas, menatap Suzu yang kebingungan dicampur setengah kaget.
"Takatora-san?"
Takatora mengedipkan matanya, lalu menghela napas sembari mengurut dahi. Tak pernah mengira Suzu terlihat menunggunya hingga tertidur. "Tidak apa, sepertinya aku hampir terlelap. Apakah tidak apa jika aku terus tidur diatas pangkuanmu?"
"Takatora-san bicara apa sih? Kalau aku keberatan, seharusnya aku tak pernah menarik Tuan untuk melakukan ini, bukan?" Suzu mencebik, mengalihkan pandangannya dengan tersipu. Takatora terkekeh, terhibur melihat raut wajah lucunya, lalu Takatora kembali memejamkan mata.
Suzu menatap wajah Takatora yang terlihat begitu tenang dan nyaman mengisitirahatkan kepalanya diatas kedua paha Suzu. Dia terlihat seperti tak sempat untuk mengistirahatkan pikiran dan tenaganya sejak ia bernaung pada Hidenaga. Seperti posisinya sebagai kepala pelayan dan keikutsertaannya dalam merancang istana. Dia sudah berjuang keras berkat kepercayaan Hidenaga padanya. Namun ia sama sekali melupakan kondisinya. Meski beban pada kedua paha Suzu membuatnya terasa sedikit berat dan geli, ia sama sekali tak keberatan asalkan Takatora bisa beristirahat dengan tenang.
Meski begitu, Suzu selalu ingin tahu bagaimana dan apa yang dipikirkan pria itu. Oichi telah pergi meninggalkan mereka dan menyerahkan mimpinya pada mereka. Mengingat hal itu, Suzu berniat untuk menyampaikan pesan terakhir Oichi pada Takatora. Tetapi sebelum itu, ia harus bertanya-
"Anu, Takatora-san..." Suzu menyelitkan rambutnya yang jatuh pada bahunya.
"Hm?" Takatora masih memejamkan mata.
"Tuan baik-baik saja...?"
Sepasang matanya separuh terbuka mendengar pertanyaan Suzu. Dirinya bertanya-tanya apakah ia membicarakan tentang luka yang ia dapat saat perang di Shizugatake? "...ya." Ia kembali memejamkan mata.
"Tuan... tidak merasa lelah?"
Takatora berhenti sejenak lalu menjawab, menjauhi kontak mata dengan gadis bersurai perak tersebut. Menolak untuk terlihat lemah di hadapan gadis itu, tak ingin mengkhawatirkannya. "...tidak."
Sekarang Suzu yakin bahwa Takatora berusaha untuk tidak membuatnya khawatir, ia mulai menyadarinya. Dia adalah pria yang memiliki jiwa yang mudah rapuh. Ia tak pernah menyembunyikan rasa pedulinya pada seseorang. Namun sebaliknya, jika seseorang memperdulikan dirinya. Takatora selalu menganggap hal itu tak pantas untuknya dan menyembunyikannya dengan berprilaku seperti orang yang berkepala dingin. Karena itu Suzu paham betul bahwa dia tak ingin orang terdekatnya ikut merasakan penderitaannya. "Apakah sulit bagi Tuan... untuk mengalami semua ini?"
Tetesan air mata jatuh membasahi pipi Takatora membuatnya langsung mendongak ingin menatap gadis itu. "Suzu?"
Suzu langsung mencegah air matanya agar tak jatuh menetes dengan jemarinya. "Bukan, bukan itu. Takatora-san seharusnya tidak perlu menahan seluruh beban sendirian terus menerus seperti ini. Jika sakit, katakan saja padaku. Bagaimana bisa aku tidak khawatir? Setelah semua apa yang terjadi... Aku tahu selama ini Takatora-san menyembunyikan kesedihan Tuan dengan bersikap tegar. Tapi, aku tahu. Karena selama ini aku selalu memperhatikan Tuan."
Takatora bangkit, membetulkan posisinya agar bisa duduk menghadapnya.
"Tuan menyalahkan dirimu dan menolak semua yang telah terjadi. Yang seperti itu, bukanlah Takatora-san yang selama ini kukenal. Saat aku bertemu dengan Oichi-sama, beliau meminta Tuan untuk tetap hidup dengan menghargai nyawamu agar Takatora-san bisa membawa mimpi mereka pada kedamaian. Aku juga sudah mengatakan pada Tuan bahwa aku tidak akan membiarkan Tuan berjuang sendirian. Tapi, Tuan-"
"Maaf." Takatora langsung memotong dengan menyandarkan kepala Suzu di dada bidangnya. "Apa aku terlihat begitu menyedihkan olehmu?" Suzu tak menjawab, ia masih menangis. Namun ia memberikan jawaban dengan melingkari lengannya ke punggung kekar pria itu. "Kau benar. Semuanya terasa begitu berat. Sangat."
Suara pria itu bergetar, ia merengkuh erat tubuh mungil Suzu. "...aku sudah berusaha agar bisa meluruskan semuanya. Tapi Oichi-sama..."
Apakah dia... menangis? Tak apa, itu bukanlah hal yang buruk. Selama ini Suzu belum pernah melihatnya meluapkan emosinya dengan berkeluh kesah dan meneteskan air mata. Sebagian dari diri Suzu merasa lega. "Um, aku mengerti..." Suzu memejamkan mata, menyandarkan kepalanya pada pundak lebar pria itu.
"Perjuanganku semuanya sia-sia...! Aku ingin menyelamatkannya, aku tidak peduli bahwa aku terlalu mementingkan tekad pribadiku. Meski beliau adalah mantan majikanku, aku tidak akan pernah menerima Oichi-sama mati...! Nagamasa-sama sudah mempercayakanku untuk melindungi Oichi-sama tapi aku gagal...!" keluhnya dengan menangis dalam diam. Ingatannya mendera ketika saat Oichi tersungkur tak bernyawa di dalam panasnya api yang membakar istana Kitanosho.
"Um, aku mengerti..."
"Bahkan jika aku akan mati sekalipun... aku ingin menyelamatkannya. Aku ingin melindungi segalanya. Tetapi Nagamasa-sama sudah memerintahku untuk tetap bertahan hidup apapun resikonya. Aku tidak mengerti apakah kesetiaanku terhadap Nagamasa-sama itu salah atau tidak...!" Kali ini pelukannya lebih erat. Terasa sedikit sesak, tapi Suzu tak mempermasalahkannya.
"Um, aku mengerti." Suzu membelai surai hitamnya dengan pelan dan lembut.
Manusia memang lemah, selalu menyalahkan takdir buruk yang menimpa mereka. Tapi setelah ini, Suzu ingin melihat Takatora berdiri dari segala yang telah menguji hatinya.
Takatora berhenti bicara namun masih belum mau melepas Suzu. Kimono pada bagian bahunya sedikit basah, menyadari bahwa dia benar-benar menangis. Namun Suzu merasa sedikit senang, selama ini ia jarang menunjukkan wajah aslinya. Sekarang ia sudah tahu semua wajah yang ia sembunyikan. "Dasar. Dikasihani olehmu... aku sungguh bukan seperti pendekar yang kau kagumi. Tapi, terima kasih." Takatora melepas dekapannya dan menatap Suzu.
Suzu menyinggungkan senyuman pada bibirnya. "Sama-sama. Aku tidak akan menceritakannya pada siapapun kok."
Takatora mengerjapkan mata lalu tangan kekarnya berpindah menuju wajah Suzu, menyeka bulir air mata yang membasahi mata indahnya. "Kau juga menangis..."
"Ah, sungguh?" Suzu tertawa kecil sambil berusaha menyeka matanya dengan jemarinya. "Disaat Tuan sedih, tentu saja aku juga merasakannya..."
Mulut Takatora sedikit terbuka. Seisi kepalanya mengulang kalimat yang baru saja Suzu ucapkan. Apakah ia baru saja mengatakan bahwa ia juga merasakan kegelisahannya? Dari semua orang, mengapa gadis itu selalu memerhatikannya? Takatora merasa tak pantas menerimanya.
Jika ikatan mereka semakin kuat, ia hanya akan berakhir menyakiti dirinya sendiri. Takatora tak menginginkan hal itu terjadi.
Apa yang harus ia lakukan?
"Begitu 'kah...?" Takatora menurunkan tangannya. Mereka kembali terdiam. Menyadari jarak mereka begitu dekat, namun Suzu terlalu khawatir untuk bergerak mengingat hening yang menyambut mereka.
"Suzu..." Suzu menengadahkan wajahnya menatap pria itu. "Aku sudah memikirkannya, jalan dimana kau bisa bahagia tanpa menderita seperti ini." Suzu mengedipkan kedua matanya, tak pernah menduga ia akan membicarakan mengenai kebahagiaan gadis itu.
"Kau... harus menjauh dariku, menjauh dari perang. Semuanya..."
Suzu tak bisa menjawab, apa yang baru saja ia katakan? Apakah ia salah dengar? Sepasang maniknya membelalak. "...eh?"
Nada suaranya terdengar lembut, namun biji mata birunya sama sekali tak menatapnya. Menghindari pertanyaan yang memenuhi seisi kepala Suzu. "Jika kau sungguh ingin hidup tenang dan bahagia, jika kau sungguh ingin menjauh dari kekejaman dunia ini... kau bisa melarikan diri. Tak ada yang orang yang akan menghalangimu, semuanya hanya demi keselamatanmu."
Suzu terbungkam, tak bisa menjawab apapun. Sepasang matanya masih membulat sempurna.
"Kau tak pernah mungkin bisa bertahan. Perempuan sepertimu tak sepantasnya mengotori tangannya yang bukan demi dirimu sendiri. Karena itu kau harus mengumpulkan segala yang telah kau dapati dan bertanya pada dirimu apakah kau benar-benar ingin berada disini untuk berjuang demi dirimu sendiri. Bertempur dan mencucurkan darah, apakah itu jalan hidupmu untuk bertahan hidup di dunia ini atau bukan. Kau harus memutuskannya. Karena itu..."
"Maksud Tuan... aku harus meninggalkan segala yang kumiliki?"
"Ya. Dengan meninggalkan segalanya, kau bisa mengulangnya dari awal. Dan membuat jalan kehidupanmu yang baru tanpa harus mengotori tanganmu menghadapi kekejaman dunia. Dengan demikian, kau akan bahagia."
Suzu terdiam, sekarang ia mulai mengerti sepenuhnya. Alasan mengapa Takatora menyuruhnya datang ke ruangannya adalah untuk ini, memintanya untuk menutup matanya dari kenyataan yang tengah mereka hadapi.
"Ah, begitu rupanya."
Suzu menghela napas berusaha untuk menenangkan diri dan tidak tenggelam akan perkataan Takatora. Semua yang baru saja ia katakan adalah demi dirinya. Memang benar itu membuatnya senang, tapi tak sepenuhnya. Takatora telah membukakan pintu kebahagiaan demi Suzu seorang. Namun itu bukanlah yang ia harapkan, kemungkinan termasuk Takatora sendiri.
"Takatora-san, aku tidak mau. Aku tidak mau meninggalkan segala yang telah kumiliki. Semua yang telah Tuan berikan padaku sangat berharga lebih dari apapun."
"..." Takatora sudah menduga gadis itu akan menolak. Ketakutan dan ketidakpercayaan pada matanya menghilang begitu saja. Tak menyangka ia begitu cepat menaklukkan ketakutannya. Senyuman yang mengembang pada wajahnya adalah buktinya.
"Apakah Tuan benar-benar ingin aku meninggalkan semuanya? Bukankah itu juga berarti aku harus meninggalkan Tuan?"
"Justru itu! Aku tidak akan mengatakan semua ini jika aku tidak menginginkannya...!" Takatora membuang muka.
"Itu bohong, 'kan?"
Takatora kembali menatapnya. Netra merahnya yamg berkilauan menemui netra biru Takatora yang melebar.
"Apa...?"
"Aku tahu kalau Tuan sedang berbohong. Aku juga tahu kalau Tuan tak bisa mengatakan alasannya. Jadi, Tuan tidak perlu menutupinya dengan kebohongan dan menyalahkan dirimu akan hal itu. Takatora-san, apakah Tuan tak punya pilihan selain membawaku ke tempat yang jauh?"
Ia merasa seperti orang bodoh ketika Suzu dapat mengetahui dirinya tertekan. Gadis itu seolah-olah dapat menebak kelemahannya. Takatora menggertakkan gigi lalu mengalihkan pandangan. "Lalu apa yang harus kulakukan?"
Suzu tersenyum lembut padanya, lalu berjalan ke tengah taman. "Syukurlah..." Ia bermain dengan menginjak batu pijakan, tiap langkahnya diiringi dengan tawa kecil.
Melupakan, melepaskan, meninggalkan. Semua itu adalah hal yang ingin ia hindari namun harus dilakukan demi Suzu. Gadis itu membalikkan badan, menatap Takatora dengan senyuman yang masih terukir pada wajah Suzu. "Sejujurnya, aku senang Takatora-san begitu memperhatikanku. Tapi bukan seperti itu."
Takatora masih belum bisa mengucapkan apapun, hanya menatap gadis yang berdiri di depannya.
"Dunia yang kita tempati sekarang memang sangat kejam dan kacau. Tapi aku yakin seburuk apapun dunia ini, aku yakin masih ada hal yang baik yang bisa kita raih. Dunia lebih luas dari yang kita kira. Karena itu aku yakin masih ada jalan lain agar aku dan Tuan bisa bahagia di dunia ini. Tidak hanya ada satu jalan, pasti masih ada."
"Tidak ada. Tak ada lagi jalan yang lain," potong Takatora. "Kau tak bisa berada di sini. Aku akan membawamu ke tempat yang aman, akan kupastikan kau akan selamat. Karena itu aku minta padamu untuk percaya padaku."
Senyuman yang terulas pada wajahnya masih belum menampakkan tanda dia akan menyerah. "Aku sudah lama mempercayaimu, Takatora-san. Apakah Tuan berpikir bahwa selama ini aku tidak mempercayaimu?"
"Kalau begitu-!"
"Semuanya sangat berarti untukku, hartaku yang terpendam. Segala yang Tuan berikan telah mengisi lubang pada hatiku. Tentu saja aku tak bisa melepasnya dengan mudah begitu saja. Aku takkan membiarkan seseorang merebut kepingan hartaku meski orang itu adalah Tuan sendiri. Aku ingin terus menjaganya."
Takatora mengerjapkan mata. Semilir angin malam yang berhembus lembut menyambut mereka. Helai demi helai surai perak bagai sutera milik gadis itu bergerak mengikuti arah angin. Pancaran cahaya rembulan yang pucat menyinari dirinya membuat gadis itu terlihat menawan. Itu pertama kalinya ia merasakan bahwa Suzu terlihat menawan di mata Takatora.
"Sejujurnya, awalnya aku merasa... mungkin lebih baik kita tak pernah bertemu. Atau mungkin lebih baik aku tidak terlahir. Dengan demikian, Takatora-san tidak akan menderita karena diriku sekarang dan bisa memahami diri sendiri tanpa orang lain yang akan terluka akibat percikan kepiluan yang dirasakan. Bisa mengemban kesetiaan Tuan tanpa halangan... tanpa diriku."
Tidak, Takatora tak pernah mengharapkan itu. Ia tak pernah ingin Suzu menghilang dari kehidupannya. Jika itu benar-benar terjadi, hatinya takkan pernah terasa ringan dan lapang berkat senyuman yang selalu gadis itu berikan selama ini. "Itu tidak-"
"Um, aku tahu kok. Aku tidak boleh seperti itu, 'kan?" Suzu kembali tersenyum, namun dahinya berkerut. Ia menjalin jemarinya di depan dada, kelopak matanya setengah terbuka. "Karena meski sesakit apapun kehidupan ini, masih ada kebahagiaan yang bisa kita kumpulkan. Aku ingin mengumpulkan semua kebahagiaan dan kesedihanku. Semuanya. Bagiku, itulah artinya untuk hidup."
Jawabannya untuk hidup. Terkadang kenaifan Suzu adalah sisi baik darinya. Segalanya memiliki keburukan dan kebaikan, hukum alam yang tak pernah bisa terlepas dari kehidupan manusia. Suzu mengarahkan manik merahnya pada Takatora yang belum bisa menjawab. "Semua kebahagiaan dan kesedihan yang telah kulewati selama ini, telah menumbuhkan perasaan penuh teka-teki di dalam benakku. Meski setiap kehidupan yang dilewati harus menanggung penderitaan yang tak ada habisnya. Hidup berarti kehilangan, namun kemudian akan diberikan sesuatu yang jauh lebih menakjubkan dari yang dibayangkan."
Gadis bersurai perak tersebut berjalan kearah Takatora dengan kedua tangannya beristirahat di dadanya. "Semua yang kurasakan sekarang, itu berkat dirimu, Tuan. Takatora-san adalah alasan mengapa aku merasakan semua ini, kebahagiaanku dan kesedihanku."
Takatora menatap lurus kearah netra merahnya, pancaran cahayanya berkilauan lebih indah dari batu giok. "Setiap pikiran dalam yang tak berdasar pada Tuan menggerakkan keingintahuanku hingga tiada akhirnya. Amarah yang pernah menguasai diriku disaat orang-orang mengatakan bahwa Tuan adalah orang yang tak memiliki kesetiaan yang mutlak, juga memiliki alasan yang sama. Juga alasanku ingin lebih mendekatkan diri pada Tuan, terus bersamamu dan ingin menggandeng tanganmu sampai akhir dari garis kehidupanku tiba..."
Suzu menahan lonceng kecil yang dikalungkan pada lehernya sembari berharap dan mengumpulkan keberanian. "...tidak akan berubah. Aku yakin perasaanku ini tidaklah salah." Suzu menarik napas sebelum kembali berkata.
「私は貴方を愛しています。」
Nada suaranya begitu lembut, senyuman yang menghiasi wajah membuat gadis itu terlihat semakin memikat hati.
Sepasang mata biru Takatora membulat sempurna. Itu merupakan untaian kata yang tak ia harapkan, rasanya menyakitkan. Namun jauh dari lubuk hatinya, ia tak membenci rasa sakit itu. Ia tak pernah menyangka semua beban yang ia pikul begitu ringan ketika untaian kata itu meluncur dari bibirnya.
Tetapi mengapa?
"...mengapa kau begitu?"
Suzu meraih tangan kanan Takatora dengan kedua tangan kecilnya, lalu mendekatkan tangan kekarnya itu dekat wajah bersihnya. "Disaat Tuan berkata kalau Takatora-san ingin menolongku mencarikan kebahagiaan untukku, aku sadar. Seiring berjalannya waktu, sekarang aku yakin bahwa kebahagiaanku adalah Takatora-san sendiri. Aku masih mengingat kata-kata yang telah membuka hatiku. Semua ucapan itu adalah untaian kata yang paling ingin kudengar, disaat aku sangat ingin mendengarkannya, dan kata-kata dari orang yang paling ingin kudengarkan. Aku percaya dari lubuk hatiku, semua kehangatan yang kurasakan hingga saat ini, membuatku bahagia dan terlepas dari keputusasaan yang mengurung hatiku. Semua berkat Tuan yang tanpa ragu mengulurkan tangan dan menarikku dari kegelapan. Tuanlah yang telah memberiku cahaya harapan baru padaku...! Tuanlah yang telah menggerakkan waktu yang terhenti di sekitarku kembali berputar...! " Air mata kebahagiaan membasahi manik merah rubinya. "Aku tidak akan pernah mau dan tidak akan pernah bisa meninggalkan semua itu. Semua yang Tuan berikan padaku tidaklah sia-sia."
Memandang air mata kebahagiaan yang mengalir pada wajah Suzu, menggerakkan hati Takatora untuk langsung merengkuh tubuh gadis itu dengan erat, lebih erat. Seolah-olah tak ingin melepasnya, menganggapnya sebagai harta yang tak tergantikan bagi pria itu. Suzu menjinjit kakinya agar dapat menyeimbangi jarak tinggi mereka yang berbeda jauh.
"Aku tak pernah tahu kau menganggapku berarti sangat besar untukmu. Itu membuatku senang, sangat. Tetapi..."
Suzu hampir memekik ketika mereka hampir roboh karena dorongan Takatora begitu kuat. Mereka berdua duduk diatas rerumputan dengan tanaman bunga di sekitar mereka, masih mendekap gadis itu dalam pelukannya. Takatora mengistirahatkan wajahnya di rambut Suzu.
"Tetapi... Aku tak pantas mencintaimu. Kau tidak bisa mencintaiku."
Sepasang kelopak mata Suzu terbelalak. Merasa hatinya sedikit retak. "Kenapa...?"
Takatora masih belum mau melepas dekapannya, dagunya tertumpu diatas kepala Suzu. "Coba kau pikirkan. Dengan dunia dimana kita hidup sekarang. Andai kata dimana aku tak mampu menyelamatkanmu di medan perang, nyawamu akan melayang karena ketidakberdayaanku. Aku akan menjadi penyebab kematianmu. Sama seperti Nagamasa-sama, Oichi-sama, dan juga bibimu." Suaranya kembali bergetar. Ketakutan yang menyelimuti hatinya terlihat jelas pada air mukanya. Pria itu menggigit keras bawah bibirnya.
Suzu yang mengenali dirinya jarang menunjukkan ketakutannya hanya bisa menatap Takatora dengan tatapan keinginan untuk membuka kurungan pada kegelapan hatinya. "Takatora-san..."
"Tak ada yang bisa menjamin nyawamu bahkan nyawaku disaat itu. Bahkan aku hanyalah seorang prajurit yang tak memahami arti kesetiaan sesungguhnya. Dengan tidak diakuinya keberadaanku, aku mungkin takkan bisa bertahan lama berada disisimu. Mungkin waktu yang diberikan pada kita sangatlah sedikit. Jika itu benar-benar akan terjadi, apakah aku pantas mencintaimu...!?" Takatora meneggelamkan wajahnya pada pundak kecil Suzu sembari kembali mendekapnya.
Rasa sakit pada hati gadis itu perlahan sembuh. Kegelisahan perasaannya membuatnya tak bisa mencintai dirinya. Semua yang perlu ia lakukan hanyalah menyembuhkan luka dan mengisi lubang kekosongan pada hati pria yang ia cintai itu. "Kematian bukanlah hukuman. Apa salahnya mencintai sesuatu yang akan menghilang? Kita tak pernah tahu apakah kita memang memiliki waktu yang sedikit atau lama untuk bersama. Dengan waktu yang akan diberikan pada kita, apakah salah jika kita menggunakan waktu itu?"
"...Kita tak memiliki penyelamat hidup, harapan takkan dikabulkan. Kita takkan pernah memiliki masa depan yang pasti. Takdir yang akan kita hadapi takkan seperti yang kita harapkan. Andai saja ada jalan yang terbuka agar aku bisa menjamin nyawamu tanpa harus melepasmu, aku pasti bisa terus mencintaimu. Karena itu, aku lebih memilih untuk sendirian." Pria bernetra biru itu melepas dekapannya dan kembali menatap Suzu.
"Takdir... masa depan..." gumam Suzu sembari membuka matanya.
"Apa kau mengerti? Cinta adalah mengharapkan penyelamat hidup dan harapan, lalu mempercayakan doa itu. Jika kekuatan hati yang kita bagi bersama masih tak bisa menandingi takdir yang akan kita hadapi. Jika di salah satu diantara kita tak bisa saling menyelamatkan, kita tak mungkin pantas saling mencintai. Bahkan meski disaat kau mencintai diriku, tetapi kau tak bisa mencintai dirimu sendiri. Buktinya di saat aku mengatakan jika kau tak bisa kuselamatkan, kau sama sekali tak bersedih. Mengorbankan diri hanya demi ketidakberdayaan diriku, itu sama sekali bukan cinta yang sebenarnya."
Takatora benar, meski begitu tak sepenuhnya benar. Pikirannya mulai berkelana mencari jawaban yang tepat demi mengisi lubang pada hatinya. "Cinta membutuhkan masa depan...?"
Takatora tertawa getir dengan pelan. "Aku harus minta maaf padamu. Betapa bodohnya diriku. Selama ini aku sudah berusaha agar kau tidak terancam oleh kengerian negeri ini. Tapi pada akhirnya, aku malah menyeretmu semakin dalam pada kekejaman takdir yang akan menimpa kita."
Suzu menggeleng pelan. "Aku tidak menyesali apapun kok. Aku sudah bilang, bukan? Yang Tuan berikan padaku adalah harta yang tak tergantikan." Tangan mungilnya meraih wajah Takatora. "Jika kita tak memiliki masa depan yang pasti. Kita hanya perlu membuat yang baru. Dari halaman awal yang masih kosong untuk masa depan kita. Aku baru saja memikirkannya!"
Takatora terpaku. Menciptakan masa depan baru untuk mereka? Bagaimana caranya agar semua itu bisa berjalan baik? "Apa katamu...?"
Tangan Suzu berpindah pada tangan Takatora, menahan tangan kekar itu dengan kedua tangannya. "Misalnya, suatu saat Tuan akan diberi penghormatan sebagai jendral atau pun daimyo. Takatora-san akan memiliki wilayah untuk tinggal, bukan? Dulu Nagamasa-sama pernah bilang, Takatora-san pasti bisa menjadi salah satu dari itu. Dengan demikian, semua orang akan mengakuimu. Ah, benar juga. Takatora-san juga hebat dalam merancang istana. Mungkin Tuan pasti bisa membuat tempat kita bisa tinggal bersama, 'kan?"
Takatora hanya bisa mengerjapkan matanya memandang gadis di depannya.
"Dan... um..." Semu rona merah yang menghiasi pipi Suzu terlihat jelas oleh Takatora. Ia memainkan jemarinya di depan mulutnya. "Rasanya memalukan untuk mengatakan ini tapi... Obaa-sama pernah bilang bahwa anak adalah harapan bagi setiap orang tua. Jika kita benar-benar bisa hidup bersama selalu... Jadi, mungkin kalau misalnya kita menikah dan memiliki anak. Aku akan merasa sangat bangga pada diriku. Dan dengan begitu, aku bisa mencintai diriku sendiri." Suara tawanya yang tersipu terlepas dari mulutnya, ia masih terlalu malu untuk menatap Takatora. "Apakah kita akan memiliki anak laki-laki atau perempuan, atau mungkin kembar perempuan atau kembar laki-laki. Aku yakin mereka akan sangat menggemaskan dan cerdas seperti Takatora-san."
"Suzu..."
"Ah! Tapi kalau mereka sudah beranjak dewasa dan sudah mandiri tanpa perlu diawasi. Aku akan tetap selalu berada di sisi Tuan. Lalu, kita bisa menghabiskan waktu bersama, sampai hari tua..." Nada suaranya mulai menurun, namun senyuman hangatnya masih belum terlepas dari wajahnya.
Takatora meraih wajah Suzu. Pikirannya kembali mendera, apa yang harus ia lakukan jika semua itu tak dapat ia kabulkan? Semua kebahagiaan yang akan ia lalui bersamanya, pasti akan berakhir dengan kesedihan. Baginya, itulah hidup.
"Suzu...!"
Suzu masih belum berhenti berbicara, ia ingin mengeluarkan semua naluri hatinya. "Sebelum itu, aku ingin minta maaf pada Tuan. Tapi jika waktunya telah tiba, aku ingin mati disampingmu, diatas futon sembari berpegangan tangan. Dan lalu dikelilingi oleh anak cucu kita. Lalu aku akan berkata, 'aku amat teramat bahagia'..."
Dahi pria itu berkerut. Suzu ikut meraih wajah pria itu. "Aku bisa mengakhiri hidupku dengan bahagia, sangat bahagia..."
"Hal yang seperti itu... tak mungkin..." Takatora menggeleng kepalanya.
Suzu mengangguk paham. "Memang segalanya tidak akan berjalan mulus seperti yang diharapkan. Terkadang ada kalanya kita harus mengubah jalur demi masa depan kita. Kehidupan ini tidak akan selalu menyenangkan. Tetapi jika aku sudah bisa mencintai diriku sendiri, aku pasti bisa berjuang demi nyawaku dan takdir masa depan yang akan membawaku, dan juga mempercayakan doa yang aku harapkan. Dan juga demi Takatora-san..."
Terpaku, ia sudah tak bisa lagi mendorong Suzu untuk membuang harapannya untuk tetap bersamanya. "Suzu, mengapa kau sampai sejauh itu...?"
"Karena aku mencintai Takatora-san." Suzu menyentuh punggung tangan kekar pria itu yang membelai wajahnya.
"Apakah tidak apa bagimu jika orang itu adalah aku?"
"Aku ingin orang itu adalah kau, Takatora-san. Perasaanku takkan pernah berubah. Karena aku mencintai Tuan seorang."
Suzu mendongak kepala, matanya menerawang jauh ke langit malam berbintang. "Di negeri dimana kita berdiri sekarang. Kemenangan dan dapat bertahan hidup dalam setiap perang menurutku semua itu hanyalah mempercepat kematian seseorang sedangkan kita berusaha untuk menjauhi malapetaka masing-masing. Itu berbeda dari keinginan untuk bertahan hidup lebih lama. Tetapi..." Senyuman yang mengembang pada wajah manisnya melebar.
"Untuk membawa keinginan untuk tetap bertahan hingga akhir hayat, pantang menyerah. Dengan demikian, menemukan jalan keluar dan mengerahkannya meski sesulit apapun... itu adalah kekuatan hati yang sesungguhnya. Jika kita percaya memilikinya, aku yakin kita pasti bisa melewatinya. Meski sekencang apapun topan yang akan datang, meski tak ada orang di dunia ini yang akan mengakui dan mempercayaimu, bahkan jika Tuan tidak percaya pada dirimu sendiri. Aku tetap percaya padamu, Takatora-san."
Takatora mengepalkan kedua tangannya dengan erat, memejam rapat matanya sejak Suzu tak hentinya memberikan kalimat bersayap padanya. Itu semua terlalu banyak untuknya.
Suzu menyusupkan tangannya pada punggung kepala Takatora, menariknya untuk dapat menyandarkan kepalanya di bahu kecilnya. "Saling percaya satu sama lain, takkan melihat ke bawah dan takkan menyerah. Dengan begitu, kita bisa menciptakan masa depan yang baru bersama-sama dari awal."
Takatora menghela napas, memejamkan mata sembari menikmati belaian tangannya yang lembut pada rambutnya. Semuanya terasa begitu ringan dan lapang, seolah-olah ia merasa pertama kalinya bernapas di dunia. Semua yang telah lewati bersama adalah demi ini.
Kini, gadis itulah yang mengulurkan tangannya.
"Dulu, Tuan pernah berkata padaku bahwa Tuan tidak akan membiarkanku mati sampai aku menemukan kebahagiaanku. Karena itu, aku juga akan melakukan hal yang sama pada Tuan. Itulah hal yang kuinginkan. Dengan begitu, kita bisa berbagi beban dan saling mendukung, kita akan berjalan bersama-sama. Karena itu, Takatora-san... Bagaimana pun dunia ini akan terus berubah, tapi jangan pernah membiarkan dirimu berubah akan hal itu."
Senyuman tulus mengembang pada wajah pria itu. "Ah, begitu rupanya..." Ia mengangkat kepala lalu bertatapan mata dengan Suzu, saling berbalas senyuman. "Kau benar... sepertinya aku sudah tak bisa menandingimu. Ketakutanku akan kehilangan dirimu malah membuatku hampir kehilangan diriku sendiri." Ia meraih tangan Suzu, memberikan kecupan singkat pada telapak tangannya.
"Aku sudah tak ragu lagi. Sekarang aku bisa yakin dengan sungguh-sungguh. Selama ini aku berjuang agar bisa menyelamatkanmu. Tapi pada akhirnya, aku yang terselamatkan olehmu."
"Aku juga merasakan hal yang sama." Suzu tertawa kecil.
Takatora bangkit dari posisi duduk lalu mengulurkan tangannya pada Suzu untuk membantunya berdiri. "Kalau begitu, aku juga harus menyatakannya padamu."
Mereka saling bergenggaman tangan dan bertatapan. Jarak diantara jemari kuat pria itu sangat pas dengan milik Suzu. Tak ada lagi keraguan dan ketakutan yang menyelimuti hati mereka. Meski begitu, mereka tahu kegelapan itu akan terus merebut harapan mereka. Namun mereka sudah siap akan kedatangan topan itu. Sesulit apapun, mereka hanya harus mendukung dan percaya satu sama lain, dan terus berjalan bersama.
Tangan kekarnya kembali meraih wajah gadis itu, Suzu dengan senang hati menahan tangan Takatora yang berada di pipinya. Pria bersurai hitam itu menurunkan kepala, perlahan mengurangi jarak wajah diantara mereka. Lalu memberikan ciuman hangat pada bibir tipis milik Suzu, menekannya dengan lembut.
Suzu tak pernah mengira ia akan merasakan suatu kelembutan pada bibirnya. Namun ia mulai mengerti bahwa kecupan itu adalah jawaban dari benak hatinya. Air mata kebahagiaan kembali membasahi manik merahnya yang indah. Suzu memejamkan mata untuk menyambut ciumannya.
Setelah memutuskan ciuman, mereka kembali saling menatap. Jemarinya yang lebih besar dari milik Suzu menyeka bulir air bening pada kelopak matanya yang melentik. Lalu ia memberikan kecupan pada keningnya setelah menyelitkan anak rambutnya. Senyuman hangat yang terulas pada wajah pria itu selalu berhasil melapangkan dan menghangatkan hati Suzu.
「俺も, お前のことを愛していた。」
Manik merahnya membulat sempurna, senyumannya yang mengembang perlahan melebar tak tertahankan, air mata kebahagiaan kembali menetes. Berpikir bahwa mereka memiliki perasaan yang sama, hatinya mulai bermekaran berkatnya. Kini ia sudah pasti segalanya tidak akan sia-sia. Sekarang, mereka bisa bergandengan tangan tanpa ragu.
Takatora melingkarkan lengannya di sekitar pundak gadis itu sembari menyeimbangi jarak mereka. Suzu dengan senang hati ikut membalas pelukannya, mengistirahatkan wajahnya di dada bidangnya dan melingkari lengannya di punggung Takatora. Merasakan kehangatan satu sama lain dan saling menyusun pecahan hati masing-masing.
Dia adalah pasangan matanya, senantiasa ikut berkedip, memejam, bahkan meneteskan air mata bersamanya. Dalam hitungan waktu, ketika kecocokan jiwa telah ada, maka cinta abadi dalam hitungan tahun bahkan abad, akan terus bertahan.
-XXX-
-xxx-
-XXX-
A/ N : Aaah romansa alay ampuni hamba~ *plak* Saya sengaja pake huruf jepang supaya lebih terasa dalamnya gitu hehe.
Nantikan chapter berikutnya! Selanjutnya Hana dan Nagachika akan muncul di chapter depan, wish me luck~
See you in the next chapter!
