A/ N : Balas review langsung saja!

-RosyMiranto18

Takatora : ...aku tidak pernah meminta penjelasan tentang hal yang kalian sebut modern itu. *sweatdrop* Ya sudahlah.

Suzu : Rumah tangga... listrik... Kulkas... *bingung*

Blossom : Mau aku bawain kulkasnya?

Takatora : Tidak perlu.

Suzu : (Aku jadi penasaran bagaimana bentuk kulkas itu...) Oh, loncengku? Yah, kurasa aku tidak mungkin bisa menemukannya sekarang. Aku ingin mencarinya tapi aku tak punya waktu untuk itu. Kalau aku mencarinya sesudah perang usai, aku pasti ditinggal sendirian sedangkan semua orang mau pulang ke Osaka...

Takatora : Jangan khawatir. *elus kepala Suzu terus pergi*

Suzu : Eh? Ah... baiklah. Terima kasih atas review-nya.

-Hayashinkage17

Suzu : Eeeh!? Haneda-dono sudah... terus kenapa aku bisa melihat... h-hantu... B-Baik! Aku tidak akan menyalahkan diri lagi kok! Jadi kumohon jangan merasukiku! *panik*

Takatora : Tenanglah, Suzu. Lagipula tidak mungkin ada hantu yang menasehatimu. *sweatdrop*

Scarlet : Kok tahu sih.

Blossom : ...tapi kalau gak salah Takatora itu juga takut sama hantu deh. Dari drama cd-nya...

Scarlet : Heh, sok tegar rupanya.

Takatora : *bekuin Scarlet*

Suzu : Benarkah?

Takatora : Jangan dengarkan dia, Suzu! Ehem, terima kasih atas review-nya...

-xxx-

Disclaimer : Samurai Warriors belongs to KOEI. OCs and story plot belongs to me. Kimura Siblings belongs to RosyMiranto18. Shinhana Kobayakawa and Nagachika Nomi belongs to Hayashinkage17.

Warning : Mainly OC x Tōdō Takatora. OOC yang mungkin tidak disengaja atau sengaja demi alur cerita, sering typo, diksi yang tidak baku, suram dan abal. Saya usahakan ceritanya sama dengan game, anime dan atau sejarahnya. Kalimat digaris miring menandakan FLASHBACK atau suara hati(?). DON'T LIKE DON'T READ NO FLAMES. REVIEW PLEASE!

-XoX-

Bell of the White Hare

-XoX-

CHAPTER 14

The Fruit of Genuine Faith

-XoX-

Hari berikutnya, setelah mendapat laporan mengenai formasi yang digunakan Tokugawa, para jendral kembali mengadakan pertemuan singkat di tenda utama. Masing-masing jendral duduk di tempat yang telah disediakan. Sedangkan Hidenaga berdiri di hadapan para jendral, dimana sang bawahan setianya, Takatora, menemaninya bersama istrinya yang bertugas mengumpulkan informasi.

"Kerja bagus, Suzu. Apakah kau sempat diserang lagi saat kau menyelinap?"

"Tidak sama sekali, Hidenaga-sama. Saya telah memastikan Nobukatsu masih berada di istana Obata. Setelah mengumpulkan keterangan dan menyatukannya dengan milikku. Tetapi... ada satu hal penting yang tidak dapat saya tuntaskan." Nada suaranya berubah menurun ketika hendak melaporkannya pada Hidenaga.

"Hm? Apa itu?" Hidenaga menaikkan alis.

"Saya juga telah menyelinap ke istana Komakiyama untuk memastikan kembali, tetapi saya tidak menemukan Tokugawa Ieyasu disana. Mohon maafkan saya..."

Para jendral yang mendengar laporan itu mulai kebingungan dan saling berbisik.

"Tidak ada...?"

"Apakah Ieyasu telah melarikan diri?"

Kegagalan yang tak dapat memenuhi kewajibannya membuat Suzu hanya bisa terdiam mendengar bisikan para jendral.

"Apakah kau sudah mencarinya dengan benar?" tanya Mitsunari mulai angkat bicara, melipat tangannya di depan dada.

"Aku sudah melakukannya..." Suzu hampir tak sengaja menjawabnya dengan cepat dan meninggikan suaranya pada Mitsunari. "Bahkan aku telah meminta mata-mata yang lain untuk mencari keberadaannya, tapi kami tidak menemukan sebuah markas Tokugawa yang mencurigakan dekat istana Komakiyama dan―"

"Dan kau menyerah mencarinya?" potong Mitsunari.

Takatora menyipitkan matanya ketika mendengar perkataan Mitsunari, lalu melirik kearah sang istri.

"..." Suzu menurunkan kepalanya, meremas dadanya. Ia merasa dirinya terlalu memikirkan lonceng kecilnya yang hilang sehingga kesulitan berkonsentrasi untuk mencari keberadaan Ieyasu. "...mohon maafkan saya."

"Oi, Mitsunari! Kenapa kau menyalahkan Suzu-chan!? Minta maaf padanya!" bentak Masanori sambil memukul meja.

"Masanori, tenanglah...!" Kiyomasa berusaha menarik Masanori untuk kembali duduk dan mendinginkan kepala.

"Aku tidak pernah mengatakan itu, bodoh. Selama ini aku hanya berpikir kalau dia mulai tak memenuhi kewajibannya sebagai anak didik Hideyoshi-sama, karena dia mulai enggan sejak Oichi-no-Kata bunuh diri tahun lalu."

Sepasang mata Suzu terbelalak. "Itu tidak benar―"

"Cukup omong kosongmu, Ishida Mitsunari." Takatora mulai angkat bicara. "Atas dasar apa kau berkata demikian? Mengungkit masalah pribadi yang mungkin kau sebut dendam, istriku tak pernah membawanya. Apakah kau sadar dengan posisimu sendiri saat ini? Aku paham kau menginginkan hasil yang sempurna dalam perang ini demi Hideyoshi-sama, tetapi kau sendiri yang mendapat peran untuk melindungi Hidetsugu-sama telah membiarkan bawahan beliau mati."

Sorot mata Mitsunari mulai tajam. "Kau sendiri bukankah demikian, Tōdō Takatora? Sejak mantan majikanmu bunuh diri, kesetiaanmu pada Hashiba mulai melemah. Jika firasatku benar, sepertinya kau mulai menaruh kepercayaan pada Ieyasu―"

"Mitsunari-san." Suzu menaikkan nada suaranya untuk memotong perkataan Mitsunari. Semua perhatian kembali padanya. Ia menarik napas dalam diam, lalu mulai berlutut.

Tak sempat memposisikan lututnya di tanah, Takatora segera menahan lengannya. Ia yakin bahwa Suzu akan melakukan dogeza pada semua jendral yang tengah berkumpul. "Kau tak pantas melakukan itu. Dan takkan ada yang berubah jika kau melakukannya..."

Sepasang mata Suzu yang setengah melebar mengarah pada Takatora. Lalu ia menurunkan pandangannya ke bawah. Lalu Takatora melepas genggamannya dengan pelan. "Jika permintaan maafku tidak cukup, aku bersedia mendapat hukumannya saat ini juga, Mitsunari-san." Mitsunari tak menjawab, sepasang alisnya menyempit.

Tak hanya sebagai yoriki, Yoshitsugu dapat membaca dengan jelas raut wajah Mitsunari. Ia menutupi wajah aslinya, sadar bahwa dirinya tak sengaja melepas emosinya. Namun ia tak bisa meminta maaf karena tak ingin harga dirinya jatuh. Pria berkerah tinggi itu terkekeh pelan dalam diam.

"Yang memutuskan hukuman bukan aku. Tapi Hideyoshi-sama. Jika saat itu tiba, persiapkan dirimu."

Gadis bersurai perak itu tak langsung menjawab, ia masih menundukkan kepalanya. "...baik."

Atmosfer di dalam tenda mulai berat, para jendral yang lain tak bisa mengucapkan sepatah kata pun. Hidenaga menguak keheningan dengan menjernihkan tenggorokan sebelum kembali berbicara. "...Sakon, bagaimana dengan perintah Hideyoshi? Apakah dia setuju mengirim Hidetsugu kembali untuk menangkap Nobukatsu di istana Obata?"

Sakon menganggukkan kepala. "Ya, Tuan. Sementara itu, Hideyoshi-sama akan mengambil alih istana Komakiyama. Beliau menganggap ini kesempatan baik untuk menjatuhkan semangat juang pasukan Tokugawa yang ada di istana Obata."

"Hm, jadi yang masalah yang tersisa hanya Tokugawa Ieyasu. Entah benar ia melarikan diri, atau mungkin merencanakan sesuatu." Hidenaga mengusap dagu. "Sebaiknya kita kesampingkan dulu hal ini. Jika kita mendapat laporan tentangnya, persiapkan diri kalian untuk menanggulanginya dengan segera. Baiklah, sekarang silakan pergi menuju posisi kalian. Bubar."

Para jendral pun segera keluar dari tenda utama dan bergegas menuju posisi mereka. Yang tertinggal di dalam hanya Hidenaga, Takatora dan Suzu.

"Nah, Suzu. Jangan terlalu memikirkan ucapan Mitsunari. Kau sendiri tahu 'kan? Mitsunari memang keras kepala, tetapi dia tak bermaksud sengaja menghinamu, terkadang dia menyesal setiap ia bersikap keterlaluan pada orang di dekatnya." Hidenaga menepuk pelan bahu Suzu lalu keluar dari tenda. Meninggalkan sejoli itu sendirian di dalam.

Takatora yang berdiri di sampingnya menunggu Suzu untuk berbicara, melipat tangan di depan dada dan memandang raut wajah Suzu yang masih belum berubah.

"Takatora-sama, dia ada benarnya. Aku menyerah. Sebagai anak didik Hideyoshi-sama, aku merasa sangat malu karena tak dapat melaksanakan tugasku. Ternyata aku memang tak pantas melibatkan diri dalam perang..."

"Dasar bodoh, kau lebih mendengarkan rubah angkuh itu daripada ucapanku tadi malam? Kau benar-benar ingin aku mengurungmu disini?" Takatora mengurutkan dahi sembari menghela napas.

Sang istri tertegun sejenak kemudian sebuah tawa kecil meluncur dari bibirnya. Dia benar, dia selalu berhasil membangkitkan semangatnya. Meski ia gagal berkali-kali, kesempatan selalu terbuka untuknya. "Terima kasih, Takatora-sama. Omong-omong,'rubah angkuh' itu siapa?" Suzu memiringkan kepalanya bingung.

"Tentu saja maksudku itu Mitsunari." Ia menaikkan alis mendengar jawaban Takatora. Memang dari kepribadiannya ia terlihat cukup sombong, air mukanya selalu berkerut dan kusut menandakan ia tak senang berada di dekat orang yang dia anggap penganggu. "Dia hanyalah rubah dalam kulit harimau. Menganggap dirinya lebih baik dibandingkan siapapun. Seolah-olah dirinya memiliki derajat yang melebihi orang dibawahnya. Sampai kapan pun ia terus mempertahankan kekonyolannya, aku yakin dia akan tertimpa sial suatu saat."

"Benar juga sih, memang terkadang aku kesal dengan kepribadiannya itu. Tapi, Hidenaga-sama bilang dia tidak bermaksud sengaja. Mungkin dia ingin orang disekitarnya mengerti bahwa dia mengatakan itu demi Hideyoshi-sama..."

Takatora menoleh kearah Suzu, ia sudah menduga ia akan mengatakan itu. Bukan bermaksud membelanya, Takatora tahu kalau ia mengatakan itu dari sudut pandangnya. "Hmph, justru itu. Tak ada yang lebih buruk selain ketidaksengajaannya. Ia mempertahankan harga diri dan sikap keras kepalanya. Dia bodoh. Wajar saja dia menyimpan penyesalannya itu sendiri, ia tak mempercayai rekannya." Kemudian ia berjalan keluar, tapi kemudian berhenti di depan luar tenda. "Dia berbahaya, bahkan pada rekannya sendiri."

Suzu mengerjapkan mata. "Berbahaya...?" Lalu ia menyusul suaminya. "'Berbahaya' bagaimana maksud Tuan...?"

Takatora menghela napas. "Sulit dipercaya kalau kau jarang sekali beranggapan buruk bahkan pada orang sepertinya. Jika kau sudah menyadari bagaimana sikapnya, kurasa kau akan langsung memperingati orang itu..."

Suzu hanya menatapnya bingung ketika mendengar perkataan suaminya. "Anu, sekarang aku tidak tahu harus menjawab apa..."

Takatora mendengus pelan. "Lebih baik kau cari tahu sendiri, dengan demikian kau akan mengerti."

"...um, baiklah." Suzu mengangguk pelan. "Tapi, aneh. Yoshitsugu-san sepertinya lebih paham dengan Mitsunari-san."

"Apapun yang terjadi dengan rubah itu, sama sekali bukan urusanku. Dan aku tidak berharap apapun padanya. Ayo, aku akan tetap berada di markas utama menjaga Hidenaga-sama. Jika kau ingin melakukan sesuatu, aku tidak akan melarang."

Mengingat ia tak diberi perintah apapun selain tetap berada di markas utama untuk menjaga Hidenaga dan istana Gakuden, Takatora tidak akan bergerak kemana pun.

Di sisi lain, Mitsunari dan dua sahabatnya bergerak menuju istana Obata bersama Hidetsugu untuk menangkap Nobukatsu. Sedangkan istana Komakiyama akan diambil oleh pasukan rombongan Hideyoshi yang dikawal bersama pasukan perwakilan Mouri.

"Ah, kalau begitu..."

Takatora kembali memandang sang istri, dari tatapannya terlihat sangat jelas kalau dia ingin Takatora mengizinkannya.

-XXX-

Sementara itu, rombongan pasukan Hidetsugu dalam perjalanan menuju istana Obata terasa cukup jauh dan lama. Ditemani dengan Kiyomasa dan Masanori berjalan di depan untuk mengiring Hidetsugu, Mitsunari tak bisa tenang menghadapi dua sahabatnya itu.

Bagaimana tidak, Masanori dengan geram menatap tajam kearahnya. Ia berusaha keras untuk mengabaikannya dan memusatkan pikirannya pada perang.

"Si kepala besar itu, akan kubuat dia minta maaf pada Suzu-chan...!" geram Masanori.

"Kau bisa memikirkan itu lain kali. Sekarang kita harus menjaga Hidetsugu-sama," sahut Kiyomasa.

Setibanya mereka sampai di depan honmaru istana Obata. Mitsunari memerintah beberapa pasukan untuk mendobrak gerbang setelah menghabisi pasukan yang berjaga di depan honmaru. Meski gerbang tersebut sudah diperbaiki, namun masih belum sempurna. Mitsunari juga telah memerintah sisa pasukan untuk berjaga untuk memastikan tidak ada pasukan serangan kejutan yang akan menyerang mereka.

"Dobrak!" sorak para prajurit yang mendobrak dengan kayu gelondongan. Akhinya gerbang tersebut hancur. Para prajurit mulai bersorakan dan masuk ke dalam istana Obata.

"Serang! Jatuhkan pasukan Tokugawa!" seru Mitsunari memerintah pasukannya.

"Akhirnya datang. Tahan mereka!" perintah jendral berbaju besi merah menyala, Ii Naomasa, pada pasukannya. Mereka mulai bergerak mengikuti formasi, para prajurit Tokugawa menutup jalan keluar dan gerbang istana Obata. Sedangkan sisanya menyerang pasukan rombongan Hidetsugu.

"Menuju istana Obata! Semua, serang!" seru Hidetsugu. "Kiyomasa, Masanori, sisanya kami serahkan pada kalian!"

"Dimengerti!"

Dengan membiarkan pasukan Tokugawa yang memblok jalan keluar, Hidetsugu mulai menerobos masuk ke dalam istana Obata. Sedangkan Kiyomasa dan Masanori mulai menahan pasukan Naomasa yang berusaha menghalangi Hidetsugu.

"Lawanmu adalah aku! Maju!" seru Kiyomasa menolak serangan Naomasa. Jendral berbaju besi merah itu menggertakkan gigi, tak punya pilihan selain membiarkan Hidetsugu dan Mitsunari memasuki istana Obata.

"Oda Nobukatsu, menyerahlah! Kau takkan bisa lolos!" seru Hidetsugu.

"Apa!? Mereka sudah sampai disini!? Sial, sepertinya aku tak punya pilihan selain melarikan diri dari sini," gumam Nobukatsu. "Semua, kepung mereka! Dorong mereka keluar dari istana ini!" perintahnya pada seluruh pasukan di dalam istana untuk membuka gerbang belakang lalu melarikan diri bersama beberapa pasukan untuk mengawalinya.

"Sial! Mereka menghalangi kita...!" geram Hidetsugu. Mitsunari menoleh ke sekitarnya, mencari celah agar dapat membuka jalan, namun ia sepenuhnya telah di kepung.

"Gawat! Ada pasukan bala bantuan dari musuh!" seru salah satu prajurit Tokugawa.

"Kiyomasa dan Masanori berhasil menjatuhkan musuh yang berada diluar?" gumam Mitsunari.

Pasukan bala bantuan Hashiba tersebut mulai membuka jalan, membebaskan Mitsunari dan Hidetsugu dari kepungan musuh. "Sayang sekali, bukan dua bodoh itu yang datang menolongmu. Tapi aku..." ucap seorang pria berkerah tinggi dengan senjata saihai di tangannya.

"Yoshitsugu! Kenapa kau datang...!?"

"Sebenarnya bukan hanya aku, seharusnya kau sadar kalau Shirousagi juga datang bersamaku."

"Shiro—" Tak sempat menyelesaikan ucapannya, manik coklatnya menangkap seorang ninja dari Tokugawa yang menghadang kearahnya. Namun serangannya meleset ketika sosok perempuan bertudung merah gelap yang menghadang ninja tersebut dengan bilah pisau pada sepatunya. "Bahkan kau..."

"Penjelasannya mohon ditunda nanti saja. Yang penting bergegaslah untuk mengejar Nobukatsu-dono. Aku akan berusaha menahannya."

"Kau gila. Kau tidak mungkin bisa—" Suzu menoleh ke belakang, menatap Mitsunari dengan kedua matanya setengah terbelalak. Merasa ditatapi dengan wajah terkejut tersebut, Mitsunari berhenti berbicara sejenak. "Apa?"

"Tidak, hanya saja aku tidak mengira kau akan mengatakan itu padaku. Maaf atas kelancanganku jika menanyakan ini tapi... Mitsunari-san, apakah kau mencemaskanku?"

Mitsunari tertegun. "Bodoh, mengapa aku harus mencemaskanmu."

Sebuah tawa kecil meluncur dari bibirnya. "Nah, sekarang aku mohon bergegaslah. Jika tidak kita tidak akan bisa menangkap Nobukatsu-dono."

"Mitsunari, jangan sia-siakan tekadnya. Kurasa kali ini kau telah berhutang nyawa pada Shirousagi."

"Baiklah. Kami serahkan padamu, Yoshitsugu-dono, Suzu-dono!" ucap Hidetsugu.

"...huh." Mitsunari hanya membuang wajah, lalu segera mengejar Nobukatsu bersama Hidetsugu.

Ketika mereka mulai keluar dari istana, ninja Tokugawa tersebut kembali mengejarnya. Namun Suzu kembali menghalanginya dengan melempar beberapa kunai kearahnya, lalu berdiri di hadapan ninja tersebut.

"Aku masih tidak mengerti mengapa Nobukatsu-dono tetap bertahan disini sedangkan Tokugawa Ieyasu sudah meninggalkan posisinya. Tapi aku bersyukur aku masih bisa membantu rekanku..."

"Kau rupanya. Aku masih ingat manik merah berkilauanmu itu."

"Setidaknya aku ingin Anda melupakannya. Hattori Hanzo-dono, sebenarnya aku tak ingin melawan jendral yang terlalu kuat untuk pertama kalinya. Jika aku terus berlama-lama disini, aku akan mati." Suzu lalu menoleh kearah Yoshitsugu. "Yoshitsugu-san, aku akan mengatasi mereka."

Yoshitsugu terkekeh pelan, dia masih sempat melayaninya meski kini ia adalah mantan majikan Suzu. "Baiklah, kalau begitu aku akan menyusul Hidetsugu-sama dan Mitsunari. Berhati-hatilah, Takatora pasti akan membunuhku jika aku membiarkanmu mati disini."

"Aku akan baik-baik saja, aku akan mengulur waktu sampai Hidetsugu-sama berhasil menangkap Nobukatsu-dono."

Yoshitsugu mengangguk, lalu memerintah beberapa pasukannya untuk membantu Suzu kemudian segera menyusul Hidetsugu dan Mitsunari.

Shinobi bernama Hanzo itu mendengus, lalu tanpa menunda ia langsung menghunuskan kusarigama-nya kearah lawannya. Suzu langsung menolak serangan lalu mulai menendang kearah shinobi tersebut. Hanzo langsung menangkis dengan armor lengan, menahan bilah pisau Suzu yang hampir melukai lehernya.

"Pertama kali, katamu? Gerakanmu, bukanlah gerakan amatiran, Shirousagi."

"Aku merasa sangat terhormat. Setidaknya aku bisa mengasah kemampuanku sampai Mitsunari-san dan Yoshitsugu-san berhasil menangkap Nobukatsu-dono." Mereka kembali mundur dan mengambil jarak. "Dan satu lagi, aku tidak suka dipanggil dengan sebutan Shirousagi. "

-XXX-

Di sisi lain, pasukan rombongan Hideyoshi baru saja berhasil mendobrak honmaru istana Komakiyama. "Semua, serang!" perintah Hideyoshi. Para prajurit pun bersorak memasuki istana dan langsung menyerang pasukan Tokugawa yang menjaga istana.

Natsuko tertawa kecil. "Ini mudah! Kita hanya perlu mengalahkan mereka semua, ya, 'kan?"

"Entah mengapa ada yang aneh. Dengan mudahnya kita bisa masuk menyerang istana Komakiyama." Nagachika mengurut dagu.

"Kukira akan ada serangan kejutan. Padahal aku sudah mempersiapkan diri." Hana menghela napas panjang.

"Yang penting sekarang kita harus mengambil alih istana ini secepatnya," sahut Nagachika.

"Aku tahu!" Hana mulai menghadang pasukan Tokugawa, menyerang satu demi satu prajurit berbaju besi biru tersebut dengan tombak bermata dua miliknya. "Jumlah mereka tak banyak, kita lebih unggul!"

"Kepada seluruh pasukan, halangi jalan keluar agar mereka tak dapat melarikan diri!" seru seorang perempuan surai hitam berkuncir kuda, Ina.

"Ina-dono, mohon izinkan kami membantu. Kami akan menahan mereka." Seorang wanita selain dia menghampiri putri dari Tadakatsu tersebut. Memiliki surai hitam yang panjang, mengenakan gaun biru-putih serta memiliki senjata tongkat dakyu. Ina mengangguk setuju, dua wanita itu segera maju dan berdiri berdasarkan formasi.

Nagachika langsung berhenti menyerang ketika pandangannya menangkap seorang wanita bergaun biru terang itu. "Mengapa beliau ada disini...?"

Nagachika langsung menorobos jalan agar dapat mengejar wanita itu. Hana mengalihkan pandangan ketika melihat gerakan suaminya yang tiba-tiba mengencang. "Nagachika...?" Hana tak dapat mengunci pandangannya terus menerus pada suaminya karena serangan prajurit Tokugawa yang tak ada habisnya, namun beruntung ia dapat membalas dan Natsuko mengawasi belakangnya.

"Hana-chan! Aku bantu, ya!"

"Oh! Terima kasih, Natsuko!"

"Tak ada gunanya melawan! Kemenangan berada di pihak kami!" seru Nagachika sambil terus membuka jalan. Setelah ia berhasil, ia mulai berjalan menghampiri wanita bersurai hitam panjang bergaun biru terang itu. Namun seorang pria yang merupakan suami dari wanita itu langsung berdiri di depannya, melindunginya dari Nagachika. Sepasang manik biru pirusnya membulat ketika melihat Nagachika berada di hadapannya.

"Ujizane-sama, tidak apa." Wanita itu tersenyum pada suaminya yang bernama Ujizane tersebut, menahan tangannya dengan lembut untuk menurunkan senjatanya dari Nagachika. Lalu ia memindahkan iris biru pirusnya kearah Nagachika. "Sudah lama tak bertemu..."

-XXX-

Suara hantaman senjata yang bergesekan mengisi seluruh dalam istana. Dengan kesulitan yang tengah dialami Suzu, ia terus menghindar serangan Hanzo. Terkadang ada kalanya dia harus menolak serangan dengan kunai. Shinobi tersebut memang lawan yang terlalu berat untuknya.

Mendapat celah terbuka, Hanzo langsung menendang perut Suzu sehingga ia terpental jauh, punggungnya kesakitan ketika membentur tiang kayu. Tudung kepalanya pun tersingkap sehingga surai perak Suzu mulai tergerai. Dia berharap luka pada punggungnya tak parah dan tidak akan terbuka mengingat ia masih memiliki bekas luka pada di tempat yang sama.

Tak sempat Suzu menghindar, Hanzo langsung menghunuskan senjatanya ke leher Suzu, menancap tiang tersebut agar dia tak bisa melarikan diri. Belum selesai, Hanzo menginjak kakinya, mencegah Suzu agar tak dapat menyerangnya.

"Sampai disini saja―"

"Masih belum...!" Beruntung Hanzo tak sempat mengunci tangan Suzu, dia bergegas menebasnya dengan kunai. Namun keberuntungannya langsung terputus, Hanzo dengan mudahnya memukul tangan Suzu, sehingga kunai tersebut terlepas dari genggaman.

"...!?" Sepasang mata tajam Hanzo terbelalak melebar ketika ia melihat sebuah bom kilat jatuh bersamaan dengan kunai. Hanzo dengan segera mundur dan menutup matanya dengan lengan sebelum bom kilat tersebut bekerja.

Seluruh penglihatan shinobi tersebutmemutih akibat ledakan bom kilatnya. Suzu langsung menerjang kearah Hanzo, melayangkan serangan bilah pisau pada sepatunya ke lehernya.

Namun sayang karena tubuhnya masih kesakitan akibat benturan tadi, kakinya hanya dapat mencapai lengan Hanzo. Pria itu langsung mundur ketika merasakan sakit dan melihat darah segar mengalir pelan.

"Tak kusangka kau berhasil melayangkan serangan padaku. Ternyata sosokmu bagaikan kelinci putih hampir membutakan mataku..."

Suzu berusaha untuk mengatur napas sebelum menjawab. "Bukankah seorang shinobi tak seharusnya meremehkan lawan?"

"'Meremehkan lawan'? Kau salah..." jawab Hanzo dengan nada tenang. Nada suaranya tak pernah berubah sedikit pun sejak tadi. "Kami, tak pernah memandang ke bawah. Siapapun yang menghalangi jalan, kami takkan membiarkan mereka melewati kami."

Suzu terdiam, sambil menyeka darah yang mengalir dari ujung bibirnya, ia mengambil napas dalam untuk menenangkan diri. Mengingat ia berhasil melayangkan serangan, ia yakin Hanzo tidak akan segan-segan membunuhnya meskipun ia seorang wanita.

"Oi, tunggu!"

Indera pendengaran mereka menangkap suara seorang laki-laki. Tak hanya itu, sebuah shuriken mengarah pada mereka, Hanzo langsung menghindar sedangkan Suzu hanya terkejut. Beruntung arah lempar shuriken tersebut tak mengenainya.

Seorang laki-laki dengan sebuah topeng menutupi mulutnya berdiri muncul dari belakang Suzu. Ia langsung membalikkan badan menghadap laki-laki itu.

Ia mendecis. "Hah, merepotkan sekali." Pemuda itu kemudian berdiri di depan Suzu. "Untuk sementara aku bukan musuhmu, nona. Aku datang sebagai bala bantuan."

"Bala bantuan...? Uesugi?"

"Benar, tapi sayangnya aku bukan dari Uesugi. Nah, sekarang sebaiknya kau cepat pergi dari sini. Memang merepotkan tapi aku akan mengurusnya."

"Eh? Baiklah... Terima kasih banyak... um..."

Pemuda itu menghela napas berat. "Dasar, apa aku harus memperkenalkan diri pada orang yang kutolong? Ah, terserah." Ia menghadap kearah Suzu. "Sarutobi Sasuke, itu namaku. Aku tak butuh namamu, jadi cepatlah pergi dari sini."

"I-Iya..." Suzu pun mundur lalu bergegas keluar dari istana.

Menatap kepergian Suzu, Sasuke kembali mengarahkan perhatiannya pada Hanzo. "Yo, shishou. Aku tak pernah berpikir kalau kau tidak memberi ampun bahkan pada perempuan." Sebuah seringai terbentuk pada wajahnya. Hanzo hanya mendengus pelan mendengar komentar Sasuke yang merupakan muridnya.

-XXX-

Takatora tengah berdiri di luar istana Gakuden, memerhatikan gerakan musuh dari jauh sembari menunggu Suzu kembali. Ia mengeluarkan sebuah omamori dari jubahnya.

"Aku sudah menerima begitu banyak hal darinya. Mungkin aku harus mencari sesuatu sebagai ganti loncengnya yang hilang." gumamnya.

Pandangan Takatora teralihkan ketika melihat prajurit pembawa pesan berlari dengan paniknya, lalu ia langsung berlutut. "Lapor, Tuanku! Honda Tadakatsu tengah bergerak menuju istana Gakuden!"

Takatora membelalakkan matanya, lalu ia mendengus pelan. Hidenaga lalu berjalan menghampiri Takatora. "Jadi inikah rencana Ieyasu. Tak salah lagi, dia memang luar biasa."

Takatora berbalik menghadap tuannya. "Ya, dengan sengaja Ieyasu meninggalkan istana Komakiyama dan istana Obata. Kemudian membuat kedua rombongan pasukan sibuk untuk mengambil alih istana kemudian langsung mengincar kamp utama Hashiba yang kini mulai kekurangan pertahanan..."

Hidenaga mengurut dagu. "Tak ada pilihan lain. Takatora, aku mengandalkanmu. Tahan mereka sejenak sampai pasukan Uesugi datang membantu kita."

"Dimengerti." Takatora bergegas memerintah pasukan untuk bergerak menghalangi Honda Tadakatsu yang bergerak menuju markas utama Hashiba. "Honda Tadakatsu, 'kah? Hm, memang lawan yang sangat layak untuk menorehkan nama. Kurasa ini tidak akan mudah," gumam Takatora.

-XXX-

"Nobukatsu-dono. Ini adalah permintaan dari Hideyoshi-sama. Mohon menyerahlah. Hideyoshi-sama tak memiliki niat buruk pada Anda," ucap Hidetsugu pada Nobukatsu yang tersudut. Mitsunari yang di dampingi dengan Yoshitsugu memerintahkan pasukannya untuk menurunkan senjata.

Nobukatsu tak punya pilihan selain menyerah pada mereka. Ia menjatuhkan tombaknya ke tanah. Dengan jumlah pasukan mereka yang lebih banyak, ia yakin bahwa pasukannya takkan menang melawannya. "Baiklah. Bawa aku pada Hideyoshi."

"Baik. Terima kasih banyak telah menaruh kepercayaan pada kami, Nobukatsu-dono,"

Mitsunari menghela napas, meski mereka berhasil meminta Nobukatsu untuk menyerahkan diri. Hatinya masih tak bisa tenang. "Nobukatsu-dono, bolehkah saya mengajukan pertanyaan?"

"Apakah kau ingin bertanya dimana Ieyasu?" Nobukatsu melipat tangannya di depan dada. "Aku tidak tahu dimana posisinya, tapi aku yakin dia akan menyerang istana Gakuden, jadi kurasa dia mendirikan markas tersembunyi di sekitar sana."

"Apa...!?"

"Laporan darurat, Tuanku!" Prajurit pembawa pesan Hashiba menghampiri Hidetsugu. "Honda Tadakatsu tengah bergerak menuju istana Gakuden!"

"Ini buruk, pertahanan markas utama saat ini sangat lemah! Kita takkan sempat tiba di istana Gakuden..." ucap Hidetsugu.

"Hideyoshi-sama saat ini masih tengah merebut istana Komakiyama. Kami telah mengirimkan pesan pada mereka tapi kami belum mendapatkan perintah."

"Begitu rupanya. Kurasa mereka sudah menutup kembali jalan menuju istana Komakiyama dan memperketat pertahanan. Tapi kurasa pasukan Hideyoshi-sama akan baik-baik saja," ucap Yoshitsugu. "Tapi kurasa kita bisa mengandalkan pasukan bala bantuan dari Uesugi. Aku yakin tak lama lagi ia pasti akan datang membantu untuk meningkatkan pertahanan istana Gakuden."

"Hmph, kau cukup tenang seperti biasa bahkan disaat genting," dengus Mitsunari.

-XXX-

"Gamo Ujisato, aku minta padamu untuk tidak terlalu menggerakkan pasukanmu ke garis depan. Aku yang akan maju untuk menahan mereka. Setidaknya sampai pasukan bala bantuan datang, kau harus berjaga di gerbang barat," perintah Takatora.

"Dimengerti!"

Takatora lalu maju bersama prajurit-prajuritnya melewati gerbang di sebelah tenggara. Sedangkan pasukan Ujisato mengambil posisi di depan gerbang tersebut.

"Pasukan teppou, bersiap!" aba Takatora. Para pasukan bersenjata api langsung bersiap mengisi amunisi. Kemudian pasukan perisai membuat formasi horizontal di depan pasukan teppou. Sedangkan pasukan bersenjata jarak dekat tengah bersiap sebelum mengambil posisi di depan pasukan perisai.

Dari kejauhan, sejumlah prajurit dibawah naungan Tadakatsu maju sambil bersorakan, bersiap menghadang mereka. Namun ia tak menduga pasukan perisai Tokugawa tersebut mengambil barisan depan, seolah-olah sudah membaca rencana formasi Takatora. Meski demikian, kerusakan sekecil apapun dapat meningkatkan peluangnya untuk menang. "Tembak!"

Pasukan teppou langsung melaksanakan aba-aba dari Takatora. Tembakan mereka tepat mengenai perisai pasukan Tokugawa, meskipun dapat merusak perisainya, ia membutuhkan pasukan lebih banyak untuk menghentikan mereka.

Setelah itu, Takatora langsung memerintah pasukannya untuk mendorong mereka sementara para pasukan teppou mulai mengisi kembali amunisi.

Meski jumlah pasukan Hashiba tak kalah jumlah dibandingkan Tokugawa. Pasukan dibawah naungan Tadakatsu tersebut lebih kuat dari yang dia kira. Takatora memutuskan menarik pedangnya, maju bersama pasukannya demi menorehkan nama.

"Takatora-sama! Tuan baik-baik saja!?"

Mendengar namanya dipanggil oleh istrinya, Takatora langsung menjatuhkan musuhnya sebelum mennghampiri Suzu. Sepasang iris birunya membulat ketika meratapi kondisinya.

"Dasar bodoh! Dengan keadaan babak belur seperti itu, seharusnya kau lebih mencemaskan dirimu...!" Takatora menahan bahu istrinya seraya meratapinya dari ujung kaki sampai kepalanya. Terdapat beberapa luka memar dan sayat di anggota tubuhnya.

"Y-Yah, bukankah itu lebih baik daripada aku tak bisa kembali lagi pada Tuan?" Suzu tersenyum canggung menanggapi kekhawatiran suaminya.

"Jangan ucapkan itu lagi dan tetaplah di belakangku," ucap Takatora sambil menebas musuh yang menerjang kearahnya.

Suzu tersenyum lega, Takatora tak mengatakan padanya untuk mundur dan berdiam diri di markas. Ia pun tak menyesali keputusannya mengizinkan Suzu untuk bergerak bersama Yoshitsugu untuk mengejar Nobukatsu. "Baik!"

Mereka berdua kembali maju mendorong pasukan Tokugawa. Walau sejak tadi ia hampir tak sempat mengistirahatkan diri sejak ia berangkat menuju istana Obata, namun ketika suaminya masih mengizinkannya untuk bertarung bersamanya. Kelelahannya sejak itu perlahan berkurang.

Takatora mendecis, musuh yang ia hadapi cukup tangguh. "Ah, Takatora-sama. Bala bantuan sudah datang!" seru Suzu menunjuk kearah timur, sebuah bendera dengan lambang Uesugi sudah berada tepat di depan mata mereka masing-masing.

"Uesugi, telah datang sebagai bala bantuan! Naoe Kanetsugu, maju!" Pria yang menyebut dirinya Kanetsugu memerintah pasukannya untuk menyerang secara besar-besaran. "Apakah kami datang tepat pada waktunya, wahai rekanku?" Kanetsugu menghampiri Takatora setelah memberi perintah pada pasukannya untuk mendorong mundur Tokugawa.

"Sejujurnya hampir. Tapi kuucapkan terima kasih telah datang membantu," sahut Takatora.

Kanetsugu tertawa lebar. "Tak masalah! Nah, mari kita jatuhkan Tokugawa di tanah ini! Bukankah demikian, Kagekatsu-sama?"

Majikan dari Kanetsugu tersebut menghampiri mereka. "Umu... Kemenangan pasti―"

"Kemenangan pasti berada di pihak kita!" potong Kanetsugu. Takatora dan Suzu hanya bisa terdiam melihat sikap bawahan Kagekatsu yang langsung memotong ucapan tuannya. Kemudian Kanetsugu langsung berbalik dan kembali menuju medan pertempuran, disusul dengan sang majikan, Kagekatsu.

"Eh...? Orang itu siapa?" gumam Suzu menunjuk seorang pemuda berzirah merah menyala dengan ikat kepala berlambangkan enam koin. Ia bergerak mengikuti Kagekatsu.

Takatora memindahkan sorot matanya pada pria yang ditunjuk oleh istrinya. "Sanada...?"

Setelah cukup lama mendorong pasukan Tokugawa, akhirnya mereka mundur. "Mereka terlalu banyak! Mundur! Mundur!" teriak prajurit Tokugawa.

"Jangan biarkan mereka lolos! Temukan Ieyasu!" Takatora memerintahkan pasukannya untuk mengejar mereka, namun banyak pasukannya yang jatuh gagal akibat Honda Tadakatsu yang mulai bergerak untuk membukakan jalan mundur. Para prajurit terintimidasi oleh kekuatan jendral Tokugawa tersebut.

"Hentikan penyerangan!" Takatora menoleh ke belakang ketika mendengar perintah tersebut. Hideyoshi yang telah kembali dari invasi ke istana Komakiyama memerintahkan pasukan Takatora dan Uesugi untuk menahan pasukannya. "Jangan mencelakainya. Tarik pasukan kalian," lanjut Hideyoshi.

"Hm, sepertinya kita punya pilihan. Lagipula kita tak mungkin bisa menjatuhkan Tadakatsu. Tak salah ia dijuluki sebagai jendral terkuat dari timur," ucap Kanetsugu.

Takatora melirik kearah Hideyoshi, nampaknya ia begitu kagum melihat kegagahan dan keberanian Tadakatsu sehingga ia tak ingin menyia-nyiakan pasukannya. Terpaksa, Takatora menarik pasukannya kembali menuju istana Gakuden.

Hideyoshi telah mengumumkan bahwa kemenangan berada di pihaknya. Pasukan Hidetsugu pun telah berhasil mengambil alih istana Obata. Di sisi lain, Hideyoshi mengusulkan perdamaian dengan Nobukatsu dan diterima olehnya.

Sebelum pasukan Hashiba berangkat pulang ke Osaka. Terlebih dahulu ia memerintah pasukan untuk mengumpulkan korban dan menyembuhkan diri.

"Uwah! Suzu-chan! Kenapa bisa kamu babak belur seperti ini!?" pekik Natsuko kaget melihat kondisi Suzu.

"Tapi syukurlah kau terlihat baik-baik saja," lanjut Hana seraya tersenyum lega sembari membantu Suzu untuk merawat lukanya.

Suzu hanya bisa tertawa paksa menanggapi mereka. "Natsuko dan Hana-dono sepertinya baik-baik saja saat penyerbuan istana Komaki tadi."

Hana tertawa pelan "Ya, begitulah. Tapi, rasanya ada yang aneh..." gumam Hana sembari melihat Nagachika dari kejauhan. Melihat sikap suaminya mendadak tegang dan berpikir keras.

"Aneh?" tanya Suzu dan Natsuko serentak.

"Ah, bukan apa-apa. Mungkin hanya perasaanku..." Hana menggoyang kedua tangannya.

"Tapi yang tadi itu hampir saja, ya! Jendral Tokugawa yang namanya Tadakatsu itu sangat kuat. Kalau Onii-chan ada disini, dia pasti akan menantangnya untuk bertanding satu lawan satu."

"Onii-chan...?" tanya Hana penasaran siapa yang Natsuko maksud.

"Ah, saat ini Onii-chan sedang pergi jauh ke suatu tempat. Tapi dia pasti akan kembali kok!" sahut Natsuko tersenyum lebar.

Hana manggut-manggut. "Omong-omong, apakah orang itu juga salah satu pasukan Uesugi? Kenapa seragamnya berbeda?"

Suzu memindahkan pandangannya sama dengan Hana. Pandangannya terkunci menatap Chacha yamg tengah berbincang dengan seorang pemuda berzirah merah dengan ikat kepala berlambangkan enam koin emas. Ini pertama kalinya Suzu melihat senyuman simpul menghiasi wajah sang putri sulung Azai tersebut.

-XXX-

A/N : Nulis terburu-buru gegara ada action heu. Btw, apa readers sekalian udah ada yang lihat event atau cutscene dari Sanadamaru? Saya juga munculin Sarutobi Sasuke di fic ini. Saya usahain supaya character baru SW (Chacha, Sasuke, Masayuki) gak OOC.

Chapter berikutnya akan ada karakter baru lagi. Bukan OC. Ada sih OC baru tapi belum waktunya, perannya gak banyak sih hehe. Yak, nantikan saja.

Seperti biasa, mohon berikan review!