A/N : Akhir-akhir ini saya malah nge-edit Secret Chapter. Tapi waktu saya periksa lagi masih ada typo hadeh. Silakan mampir kalau mau ya! *eh* Dan maaf saya kelamaan lagi, motivasi makin berkurang...
Satu lagi, buat chapter Shikoku kali ini... jangan terlalu bandingkan dengan stage SW4-II. Karena aku tulis sedikiiiit berbeda. Mungkin. Nanti tau sendiri kalau udah baca. *plak*
Balas review!
RosyMiranto18
Scarlet : Nah, maksudku 'kan aneh kalau Chacha menyusup. Menyusup. Aku liat kata 'menyusup' ini loh. Lmao why. Bukannya itu agak... OOC? Ah ya sudahlah. Just... read it okay?
Blossom : Pengennya 2, dan bisa saja 3 chapter buat battle of Shikoku. Tapi keknya chapter yang ketiga aftermath gitu. Mungkin.
Scarlet : Soal PM, memang ada yang terbantu tapi ada juga yang bingung saking panjangnya keterlaluan lmfao.
Blossom : Kalau udah nulis sepanjang itu harusnya udah bisa bikin fic. Ah tapi akan kutulis apa yang ada di kepala termasuk di PM tentunya, maybe. Oke, makasih review-nya!
Hayashinkage17
Blossom : Nishida-kun...! Kamu itu badass sekali di mataku! *mata cling2*
Scarlet : Oi, dia udah punya Miyukicchi. Jangan ditindas.
Blossom : Tindas ndasmu.
Scarlet : *sweatdrop* ...Oke next!
Suzu : *blush* Mesra? U-Um... Hana-dono dan Nagachika-dono juga mesra kok! Contohnya waktu di pertempuran Komaki-
Blossom : Eh nak! *masukin manju ke mulut Suzu* Makasih udah me-review!
-xxx-
Disclaimer : Samurai Warriors belongs to KOEI. OCs and story plot belongs to me. Kimura Siblings belongs to RosyMiranto18. Kobayakawa Shinhana, Nomi Nagachika and Kikkawa Chie belongs to Hayashinkage17. Cover belongs to the artist, NOT MINE. Bagi yang tau siapa artist-nya, mohon dikasih tau.
Warning : Mainly OC x Tōdō Takatora. OOC yang mungkin tidak disengaja atau sengaja demi alur cerita, SERING typo, diksi yang tidak baku, suram dan abal alias amburadul. Saya usahakan ceritanya bisa disusun berdasarkan dari game dan atau sejarahnya. DON'T LIKE DON'T READ NO FLAMES. REVIEW PLEASE!
-xxx-
-XoX-
Bell of the White Hare
-XoX-
CHAPTER 19
Out of Reach
-XoX-
Suzu mengambil pijakan diatas dahan pohon yang paling tinggi. Ditariknya napas sebelum sepasang netra merah itu mengedar tiap tempat untuk melacak keberadaan Yoshitsugu.
Belum terlihat. Suzu menarik tudung kepalanya yang hampir tersingkap, berusaha untuk menyembunyikan tiap helai rambut serta wajahnya. Suzu tak mau menyerah, ia mencari tempat pijakan yang lebih tinggi. Dengan hati-hati agar tidak terlalu mengalihkan perhatian prajurit yang berjaga di sekitarnya, Suzu bergegas mencari jalan lain, tetap menyembunyikan diri di balik bayangan.
Sebenarnya Suzu sedikit kesulitan ketika melakukan tugas jika bukan di malam hari. Memang mungkin saat ini Chōsokabe memusatkan perhatiannya pada Hashiba. Tapi beruntung wilayah tersebut di penuhi dengan hutan, Suzu masih bisa mendapatkan jalan untuk menyembunyikan diri.
Tak ingin membuang waktu lebih lama, Suzu mempercepat langkah, dirinya mengkhawatirkan keadaan Yoshitsugu yang pasti didesak oleh Chōsokabe.
-XXX-
Di salah satu markas Chōsokabe, pasukan Yoshitsugu yang telah diberi peran sebagai umpan tengah menahan para pasukan Chōsokabe yang bersikeras untuk mengalahkannya. Beberapa prajurit Yoshitsugu sedikit demi sedikit mulai berguguran dikarenakan kalah dalam jumlah. Tapi beruntung lelaki berkerah putih tinggi itu masih dapat bertahan bersama dengan Sengoku Hidehisa serta sisa prajurit yang masih hidup.
"Ōtani-sama! Pasukan utama telah berlabuh dengan selamat dan melakukan penyerangan secara langsung," lapor prajurit pembawa pesan pada Yoshitsugu.
Pria berkerah tinggi itu manggut paham. "Dan artinya pasukan Mōri juga telah sampai. Meskipun jumlah Chōsokabe kini tak sebanding, tapi itu bukan artinya mereka tak memiliki peluang untuk memenangkan pertempuran. Sekecil apapun kemungkinannya dapat mengubah momentum," gumam Yoshitsugu. "Segera laporkan pada mereka untuk berhati-hati terhadap serangan dadakan. Sudah dipastikan incaran mereka adalah meledakkan semua kapal sekaligus," perintah Yoshitsugu dengan nada tenang khasnya.
"Baik, Tuanku!" Pembawa pesan pun undur diri dan melanjutkan tugas.
Yoshitsugu menoleh begitu menyadari jumlah pasukan musuh bertambah. Sampai saat ini dia masih belum bisa untuk meninggalkan markas dikarenakan gerbang yang ditutup sejak kedatangannya.
"Meski ada ratusan kapal yang berlabuh, mereka pasti telah mempersiapkan diri dengan matang. Entah seperti apakah arus yang akan membawa kami."
-XXX-
Di sisi lain, pekarangan Ōsaka yang damai dimana tak terjadi peperangan seperti Shikoku. Senmaru kembali ke istana setelah pulang untuk mengambil sebuah buku cerita rakyat dari rumahnya. Senmaru yang sudah pandai membaca, dia semakin ingin meluaskan wawasan dengan membaca buku cerita yang sudah dikoleksi sang ibu.
Ketika ia masuk ke dalam rumah, tak ada seorang pun yang menyambutnya. Wajar, kedua orang tua barunya saat ini berada di medan pertempuran. Senmaru tak merasa asing dengan kesepian yang malah datang menyambut, karena ini bukan pertama kalinya.
Di saat ia masih menyandang klan Niwa, masih berumur kecil, ayah dan kakaknya juga berpatisipasi untuk berperang. Bahkan saat Hidenaga pun mengadopsinya, ia masih belum terlepas dari kesepiannya.
Namun kini perasaan kesepian itu mulai bercampur, menjadi suatu hal yang lebih baik. Mengingat ayah dan ibunya berjanji akan membawanya ke pesisir untuk memandangi laut. Senmaru merasa tak sabaran dan berharap kedua orang tua angkatnya dapat pulang dengan selamat.
Selama ini ia hanya pernah bermain di sungai. Berkat ibunya yang pernah membacakan sebuah cerita padanya setiap sebelum Senmaru tidur. Kalimat yang terus terulang dalam ingatannya seperti 'laut itu lebih luas dari sungai, lebih luas dari danau,' selalu membuatnya penasaran. Bahkan bisa melihat ribuan kilauan air yang memantulkan cahaya matahari terbenam. Senmaru merasa tak puas melihat laut hanya dari gambar buku cerita yang dibacanya. Sekarang pun ia berencana untuk memperlihatkan buku itu pada putri-putri Azai yang merawatnya untuk sementara.
Bayangan Senmaru akan laut di dalam pikirannya teralihkan begitu melihat seorang gadis anggun bersurai pirang di dalam ruangan Ohatsu.
"Aku harus bertemu dengannya. Aku yang akan melindunginya."
Ohatsu dan Oeyo bertatapan wajah pada sang kakak, sepasang mata mereka tak berkedip seakan tak dapat menentang ketetapan hatinya. Gadis berambut pirang itu kemudian membalikkan badan.
"Baiklah, jika itu keputusanmu, ane-ue. Aku percaya kakak dapat kembali dengan selamat," ucap Ohatsu dengan tenang dan tersenyum simpul, diikuti dengan adik bungsu, Oeyo mengangguk kencang dan memberikan senyuman meyakinkan.
Anak laki-laki bermanik hijau zamrud itu berjalan menghampiri Chacha, menyinggungkan senyuman polos. "Chacha-sama. Semoga nona selamat dalam perjalanan!" Senmaru yang dirawat oleh kedua adik Chacha itu, dia hanya mengerti bahwa putri sulung Azai akan pergi untuk sementara dimana kedua orang tuanya bertempur.
"...Terima kasih," gumam Chacha setelah menoleh ke belakang. Lalu ia mulai bertolak meninggalkan ruangan dan segera menemui Hideyoshi di pekarangan Istana Ōsaka.
Chacha telah seringkali melihat para prajurit yang berkumpul, berlalu lalang kian kemari untuk bersiap menuju medan perang. Beberapa diantara prajurit menatap gadis bersurai pirang itu dengan tatapan terpesona akan keanggunannya.
Hideyoshi sedikit terkejut ketika gadis itu muncul. Ekspresi wajah yang jarang tersenyum seperti biasa terukir pada wajah anggunnya. Tetapi ada sesuatu yang berbeda, gadis itu seolah-olah telah membulatkan tekad, dimana Hideyoshi tak dapat menebak apa yang ada di dalam pikiran Chacha.
"Oh, Chacha-sama. Ada apa?" sapa Hideyoshi.
"Hideyoshi-sama, mohon biarkan saya melibatkan diri ke Shikoku. Saya ingin ikut berperang," pinta gadis bersurai pirang itu dengan nada tegas, namun masih terdengar halus di telinga Hideyoshi.
Hideyoshi tampaknya kesusahan menanggapi permintaan putri dari klan Azai tersebut. Sebelumnya ia juga telah dibiarkan untuk memperhatikan medan perang sesuai permintaannya saat di Owari. Dan sekarang pun ia rela membahayakan dirinya sendiri.
Chacha membenci dirinya yang lemah, maka dari itu dia ingin menjadi lebih kuat. Hideyoshi dan Nene sudah tahu itu terutama alasan yang tumbuh dari dalam diri gadis itu. Tak pernah bosan untuk melatih dan mempersiapkan dirinya. Namun sekarang tampaknya ada alasan lain mengapa dirinya berkeinginan kuat untuk menginjak medan pertempuran.
"Saya memang tak cukup berpengalaman. Namun saya telah melihat situasi medan tempur. Jika saya tidak memulainya dari sekarang, aku akan menyesali kesempatan yang seharusnya bisa kuraih. Selain itu, saya telah berlatih mengayunkan senjata."
"Y-Yah, Chacha-sama... Aku mengerti itu. Tapi Anda terlalu memaksakan diri," ucap Hideyoshi terbata-bata.
"Tidak. Aku bukan memaksakan diri. Terlebih, dari awal aku tak pernah meminta perlindungan darimu. Namun jika Anda masih menganggapku sebagai putri dari Azai. Mohon biarkan aku menginjak medan tempur."
Hideyoshi tak dapat berkata-kata apapun, ketetapan hatinya telah membuat Hideyoshi tak dapat memaksa gadis itu untuk menyerah dari niatnya. Ia tak mungkin membentak atau pun memohon pada Chacha untuk mengubah pikirannya.
Sang istri dari Hideyoshi, Nene, menghampiri mereka. Tak seperti suaminya yang cemas akan keselamatan putri sulung Azai. Sebaliknya, hati Nene tergerak begitu melihat kebulatan tekad yang terpancar pada paras anggunnya. "Omae-sama. Biarkan Chacha melakukan apa yang dia inginkan. Apapun alasannya, Chacha tidak berniat untuk mati di medan perang, bukan?"
"Ya, tentu saja," tegasnya mengangguk.
Sementara itu, Senmaru duduk diatas pangkuan Ohatsu, memperhatikan Chacha dari jendela lantai atas.
"Ohatsu-sama dan Oeyo-sama tidak mau ikut ke medan perang bersama Chacha-sama?" Senmaru memiringkan kepala, memberikan tatapan penuh pertanyaan pada dua gadis belia tersebut.
Ohatsu tersenyum lemah. "Tidak," jawabnya dengan lembut seraya menggeleng. Membelai rambut pendek Senmaru dengan perlahan. "Memang akan lebih baik jika kami ikut bersama kakak. Tapi sejak dahulu, mendiang ibu kami tak ingin kami menyentuh senjata."
"Tapi Chacha-sama sering berlatih mengayunkan senjata. Kenapa?"
"Karena kakak memiliki alasannya sendiri. Kami tak memiliki alasan untuk bertempur seperti kakak."
"Alasan...?" Senmaru menurunkan kepala. Dia ingat sebelumnya Takatora pernah bertanya pada Senmaru alasan apa yang ia miliki agar bisa ikut bertempur bersama ayah dan ibunya. "Dulu, aku pernah bilang pada ayah kalau aku juga ingin bertarung seperti pendekar!" sahut Senmaru dengan girang.
Oeyo yang duduk di samping Ohatsu, tertawa kecil. "Yah, Senmaru 'kan laki-laki. Kalau kamu sudah dewasa, aku yakin kamu pasti bisa!"
"Ya!" Senmaru mengangguk kencang, senyuman polosnya melebar begitu mendapat dukungan dari mereka.
-XXX-
Pertempuran telah berlangsung lama, sudah banyak prajurit Chōsokabe yang berguguran di tanah yang mereka lindungi. Mitsunari berhasil mengalahkan beberapa dari mereka, ia tampak tak peduli untuk memenggal salah satu pengikut Chōsokabe untuk dijadikan persembahan untuk Hideyoshi. Ia terus maju menghadang lawannya meski ia sedikit kesulitan untuk menerobos.
"Oi, mau sampai kapan kau memasang wajah kusut seperti itu, Mitsunari!" seru Masanori sembari mengayunkan senjata pada musuh, menyempatkan diri melihat keadaan rekan dekatnya.
Mitsunari tak mau menoleh maupun menjawab, ia hanya menggeram kesal. Tanpa ragu menerobos sambil menebas pasukan Chōsokabe dengan kipasnya.
Tak sadar salah seorang prajurit hendak menghadangnya dari belakang, beruntung Kiyomasa berhasil menahan serangan kemudian membalasnya. Mitsunari terpaku, seisi kepalanya seketika membayangkan apa yang akan terjadi jika dirinya berhasil terbunuh.
"Mitsunari, aku paham kau mencemaskan Yoshitsugu," kata Kiyomasa dengan nada tenang. "Tapi setidaknya kau menaruh kepercayaan padanya. Bertindak gegabah seperti itu tak ada gunanya. Seharusnya kau sudah menyadari itu, " ujar Kiyomasa menoleh ke Mitsunari.
Mitsunari hanya membuang muka dan mendengus kesal.
"Benar, benar! Apalagi kau lemah dibandingkan kami berdua! Maju sendirian sama sekali tidak cocok untukmu!" Masanori tertawa lebar. Mitsunari mengernyitkan alis begitu mendengar komentar Masanori.
Setitik keringat menurun dari pelipis Kiyomasa begitu melihat ekspresi pria bermanik coklat itu. "...Mitsunari, jangan salah paham dulu. Masanori mengatakan itu karena dia ingin kau mengandalkannya. Aku pun sama."
Mitsunari terdiam sejenak tanpa mengarahkan pandangan ke dua rekannya itu, lalu menghela napas panjang, menyerah daripada terus berdebat dengan mereka. "Lakukan sesukamu..."
Kiyomasa mengangguk puas. "Baiklah. Sebelum kita maju, sebenarnya sudah ada perintah dari Kanbei-dono."
"Aku sudah tahu, pasukan yang diawaki Hachisuka terhalang oleh pasukan Chōsokabe. Menerobos kearah tengah kemungkinan akan mempercepat kita menemukan Yoshitsugu," jawab Mitsunari.
"Oh, pantas saja kau terlihat tergesa-gesa!" Masanori tertawa lebar. "Baiklah, serahkan pada kami!"
-XXX-
Sementara itu, Aki tengah berusaha membuka jalan untuk mengambil alih markas timur laut. Diantara ratusan pasukan Hashiba yang menyerang, Aki mengambil posisi di garis depan.
"Minggir!" Tanpa segan Aki serta pasukannya menerobos masuk ke dalam markas Chōsokabe. Dia berhenti sejenak untuk melihat sekitarnya. "Pertahanan mereka sangat lemah disini. Apa mereka tidak peduli kalau salah satu markas mereka jatuh ke tangan kami?" gumam Aki.
Pikiran Aki teralihkan begitu punggungnya ditabrak oleh seorang perempuan. "Onii-chan, kamu terlalu cepat!"
"Natsuko!?" Aki menoleh ke belakang dengan tatapan kaget. "Jangan ikuti aku! Cepat kembali ke kapal!" bentak Aki.
"Eeh?" Natsuko menggembungkan pipinya kecewa.
"Jangan mengeluh! Kau tidak mau menuruti perkataanku?" gerutu Aki.
Tak mau mengalah, Natsuko ikut meninggikan nada suaranya. "Apa salahnya kalau aku ingin membantu onii-chan!? Jadi biarkan aku ikut!"
Aki terdiam sejenak, tangannya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Berusaha untuk mengendalikan emosi, amarahnya dengan cepat memudar. Lelaki itu mengusap kepala Natsuko dengan lembut. "Memang tidak salah. Tapi saat ini aku ingin kau tetap berada di kapal. Jadi tunggu aku sampai aku kembali. Paham?"
Natsuko tampak tidak terima, tapi juga tak bisa melawan begitu nada suara Aki berubah halus tapi juga terdengar serius. "...aku mengerti," jawabnya pelan, masih dengan wajah cemberut. "Hati-hati, onii-chan."
"Ou, tentu saja!" jawab Aki dengan senyuman meyakinkan.
Lega melihat raut wajah sang kakak, Natsuko membalas senyuman sang kakak. Lalu bergegas kembali ke kapal, bersedia menunggu kakak kesayangannya kembali padanya.
-XXX-
Suzu menaruh beberapa biji goshiki-mai di hadapan sebuah pohon. Dimana pohon tersebut telah ia berikan tanda berupa sayatan kunai. Memang terlihat sedikit mencolok, tapi Suzu yakin musuh tidak akan menyadarinya. Dia hanya berharap pasukan Hashiba mengetahui petunjuk yang telah ia tanam.
"Aku yakin Takatora-sama bisa mengerti dengan petunjuknya..." Tak ingin ditemukan oleh prajurit Chōsokabe, Suzu bergegas kembali melompat keatas pohon.
Padahal Suzu merasa belum cukup lama berada di tengah wilayah Chōsokabe, dadanya terasa sesak seolah pernapasannya digulung erat. Ia merasa lebih cepat lelah dibandingkan saat berada di Shizugatake. Dirinya hampir kehilangan keseimbangan saat baru saja melompat.
Ditangkup kedua belah tangannya pada pipi, jemarinya hampir menutup daun telinganya. Sepasang kelopak matanya terpejam lalu menghela napas dengan lembut.
'Jangan rasakan... jangan dipikirkan. Aku akan baik-baik saja,' batin Suzu dengan tenang. berusaha untuk mengabaikan sakit yang menggerogoti tubuhnya.
Suzu masih mengingat untaian kata itu. Mendiang bibinya yang selalu membisikkan ke telinganya dengan lembut tatkala ia sakit maupun ketakutan. Meski Suzu tak ingat lagi seperti apa kelembutan suaranya, tapi sosoknya selalu berhasil menenangkan raga.
Kedua pendengarannya mendadak menangkap suara sorakan. Suzu bergegas memusatkan pikirannya untuk melihat apa yang terjadi.
Sorakan pasukan Chōsokabe terdengar begitu keras dan tak wajar. Padahal saat ini mereka dalam bahaya mengingat jumlah pasukan mereka tak sebanding dengan Hashiba. Mereka terdengar gembira. Apakah mereka membangun perangkap atau semacamnya, Suzu masih belum yakin.
Manik merahnya menangkap sosok wanita anggun dengan pakaian yang agak terbuka berwarna merah jambu, senada dengan rambut afronya. Lekuk tubuhnya yang indah serta belahan dada yang ia pamerkan membuat Suzu menggigit jari. "...aku tak bisa menandinginya," gumam Suzu menggembungkan kedua pipi. Para pasukan Chōsokabe tampak bersemangat tatkala menyambut wanita itu memasuki medan perang.
"Dan, apakah yang di kepalanya itu... rambut?" gumam Suzu heran, setetes keringat menetes dari pelipisnya. Suzu dengan cepat menghiraukan wanita itu. Ia kembali berlari melintasi hutan, menginjak setiap dahan pohon. Ia meneruskan tugasnya untuk melacak rombongan pasukan Yoshitsugu.
Begitu ia melihat sebuah bendera Hashiba di salah satu markas tengah. Suzu menghela napas lega, lalu menambah kecepatan langkahnya. Memang akan membuat napasnya semakin tidak beraturan, tapi Suzu ingin cepat menyelesaikan tugasnya.
Suzu berhenti, ia melihat sebuah jembatan penghubung ke markas dimana Yoshitsugu berada. Tak hanya itu, dari kejauhan dia juga melihat rombongan pasukan musuh yang hendak bergerak menuju markas dimana Yoshitsugu berada. "Kenapa mereka mengirim pasukan hanya untuk menjatuhkan rombongan Yoshitsugu-san?" Suzu menggeleng pelan, terlalu cepat untuknya mengambil kesimpulan. Tapi jika itu benar, Suzu memiliki rencana kecil agar dapat menghentikan serangan musuh yang hendak menyerang rombongan Yoshitsugu.
Dia turun dari pohon, lalu menempel sebuah peledak di jembatan tersebut. Kemudian membakar tali pendek yang telah dipasang pada peledak. Suzu segera bersembunyi kembali diatas pohon tak jauh dari jembatan.
Setelah tali tersebut habis terbakar, peledaknya meletus sehingga jembatan tersebut rubuh. Kayu-kayu yang hancur bersamaan mulai dibawa arus air sungai yang deras. Meskipun Suzu berhasil, dia merasa khawatir karena suara ledakannya yang cukup keras. Kemungkinan besar pasukan musuh akan mencari asal ledakan, sehingga akan mempersulit Suzu untuk kembali ke kapal tanpa ditemukan oleh musuh. Terpaksa ia harus menemui Yoshitsugu sambil menunggu bersamanya.
Gadis itu menghela napas berat, kini tubuhnya semakin lemah. Tak ingin terjatuh, Suzu menyandarkan punggungnya sembari mengatur napas. "Setidaknya aku bisa membantu walaupun tidak banyak. Sekarang aku harus bertemu dengan Yoshitsugu-san."
Tangannya mengambil sesuatu dari lengan bajunya. "...Sebenarnya aku ingin memberikan keduanya pada Takatora-sama, tapi dia bilang sebaiknya aku harus menyimpan satu." Dengan tangan bergemetar ia berusaha mengambil obat yang telah dibungkus dalam kantong kecil. "...Ada apa denganku hari ini?" keluh Suzu.
Ketika jemarinya berhasil mengambil sebutir obat tersebut, tak sengaja ia melepas genggamannya pada obat itu hingga terjatuh ke tanah. Suzu langsung panik turun dari pohon dan mengambilnya.
Namun sayang, karena terlalu memaksakan diri, Penglihatannya sempat menggelap sejenak sehingga Suzu kehilangan keseimbangan. Seisi kepalanya terasa sangat sakit luar biasa. Ia memekik kesakitan begitu tubuhnya terbentur ke tanah dengan keras.
"Suara ledakannya dari sini!"
"Ada penyusup! Pasti dialah dalangnya, tangkap!"
Kini detak jantung Suzu berdetak semakin cepat, sepasang matanya terbelalak melebar begitu melihat pasukan musuh hendak mendekat. Dengan sekuat tenaga, Suzu berusaha meraih obat itu. Kendati ia dapat mengambilnya, kini Suzu kesulitan untuk bangkit. Benturan tadi sangat keras hingga sebelah bahunya mati rasa.
Dengan ragu dan tangannya yang bergemetar, Suzu menaruh beberapa biji goshiki-mai di rerumputan di dekatnya. 'Kumohon, tolong aku...'
"Wah? Ternyata penyusupnya hanya seorang perempuan?"
Kini Suzu mendengar suara seorang wanita. Ia mengangkat kepala, sepasang kelopak matanya masih terbeliak tatkala penglihatan Suzu menangkap seorang wanita bersurai afro merah jambu yang senada dengan pakaian menggoda yang memaparkan kulit tubuhnya yang ia kenakan.
Sebuah sengiran terbentuk di wajahnya. "Kali ini tampaknya kamu yang jatuh ke dalam ketidakberuntunganku."
Tubuhnya semakin bergemetar ketakutan, tak bisa melakukan apapun tatkala para prajurit mulai mengepungnya. Dia menyembunyikan wajah dengan menarik lebih dalam tudung kepalanya. Jemarinya menggenggam kuat lonceng kecil yang di kalungkan pada leher.
"Kamu masih menyayangi nyawamu, bukan? Hanya orang bodoh yang akan melawan sementara kau hanya sendirian," ujarnya dengan nada yang terdengar seperti merayu. "Kedatanganmu sebenarnya sama sekali tidak membuat kami puas. Entah apa yang mereka pikirkan sampai harus mengirim gadis sepertimu... Tapi setidaknya kita memiliki tawanan baru. Entah pemilikmu akan sadar atau tidak kau tiba-tiba menghilang. Kita lihat saja nanti."
Kesadaran Suzu perlahan menipis, sangat sulit untuk bernapas dan tetap membuka matanya. Seisi tubuhnya terasa masih sakit dan berat. Andai saja ia dapat menahan diri dan lebih memperhitungkan keselamatannya.
Dirinya pasti bisa kembali ke pangkuan suaminya. '...Takatora-sama.'
-XXX-
Di markas tengah, rombongan Yoshitsugu berhasil menjatuhkan musuh yang mendesaknya di dalam. Sekarang pun tak ada lagi bala bantuan Chōsokabe yang terlihat akan menyerangnya lagi. Baru saja, sepasang indera pendengar Yoshitsugu menangkap suara ledakan dari luar markas. "Suaranya terdengar sangat dekat," gumam Yoshitsugu.
Sesaat kepalanya berpikir mencoba menebak kemungkinan apa yang terjadi, Yoshitsugu mendengus pelan begitu ia mengetahui jawabannya. "Hmph, begitu rupanya. Shirousagi , dia benar-benar melakukannya."
Meski begitu, Yoshitsugu merasa tak nyaman dengan arus yang membawanya saat ini. "Tapi, mengapa dia tidak datang menemuiku? Padahal aku sudah yakin dia akan menunggu disini bersamaku sampai pasukan Hashiba menjemput kami. Dia tidak mungkin bisa kembali ke kapal setelah meledakkan jembatan penghubung..."
Yoshitsugu menghela napas. "Memang rencananya berjalan mulus, namun tidak untuknya. Jika benar dia tertangkap, tapi aku yakin nyawanya tidak terancam."
-XXX-
Sementara itu di salah satu atakebune, Takatora memberikan aba-aba pada pasukan panah untuk menjatuhkan pasukan Chōsokabe yang berniat untuk meledakkan kapal. Tak hanya itu, Kanbei juga telah memerintahkan pasukan untuk mengambil posisi di sekitar pesisir dari serangan pasukan Chōsokabe. Selain itu, memberikan penjagaan yang ketat pada markas utara yang telah diambil alih.
"Tampaknya mereka sudah menyerah untuk menyerang kapal. Mereka mulai mundur," ucap Hidenaga. "Meski begitu, masih belum bisa dikatakan aman. Mereka pasti akan menyusun rencana. Satu persatu kapal kita saling terhubung, tidak diragukan lagi mereka ingin menurunkan hasrat bertarung kita dengan meledakkan seluruh kapal sekaligus. Chōsokabe ingin mengurung kita di pulau ini."
Hidenaga lalu menoleh kearah Takatora yang belum menjawab apapun. Sang majikan sudah paham kalau Takatora mencemaskan istrinya. Walaupun sorot mata tajamnya terlihat lurus seperti biasa, Hidenaga sadar dia menggenggam kuat sebuah omamori di tangannya dan memusatkan pandangannya lurus ke medan tempur, menunggu sembari berharap istrinya kembali.
Firasat buruk tak henti menggebu di dalam kepala Takatora, mempermainkan kepercayaannya pada sang istri. Memang bukan hanya Suzu yang diberi tugas melacak rombongan Yoshitsugu, mata-mata selain dia juga ikut berpencar seraya mencari informasi penting.
Memang Suzu adalah seorang wanita, tidak banyak wanita yang biasanya menginjak tanah pertempuran. Akan tetapi hatinya selalu senantiasa untuk membantu, menumbuhkan kemauannya untuk ikut bertempur. Walau ia tidak suka melihat manusia saling menyakiti, pemandangan seperti itu selalu membuatnya sedih.
Tak hanya itu, dia juga selalu ingin mendampingi Takatora. Sudah seharusnya batin dan pikiran Takatora terasa lapang tatkala Suzu di dekatnya. Tapi juga terkadang membuat dirinya merasa bodoh. Seperti sekarang, ia kesulitan menetapkan hatinya untuk selalu percaya seperti Suzu mempercayai Takatora.
Istrinya tak pernah meragukan Takatora, mempercayai kekuatan dan ketetapan hatinya.
Kekhawatirannya kali ini terasa sungguhan. Di dalam pikiraannya yang kalut tak henti berdebat akan firasat itu. Takatora ingin menemukan Suzu, tetapi saat ini Takatora hanya bisa mengharapkan Hidenaga mengizinkan dirinya untuk mencari Suzu.
"Dengan begini tampaknya kita bisa melakukan penyerbuan secara besar-besaran. Tentu saja untuk keamanan, sisakan beberapa prajurit untuk menjaga kapal. Bagaimana, Kanbei?"
Kanbei mengangguk. "Kami juga telah mendapat laporan bahwa pasukan Chōsokabe saat ini memiliki semangat juang yang tinggi."
"Hm? Bagaimana bisa?" tanya Hidenaga.
"Seorang wanita, menurut laporan dia adalah salah satu selir Chōsokabe Motochika," sahut Kobayakawa Takakage. "Saya dan Kanbei-dono telah memiliki rencana untuk mengatasinya."
"Begitu? Bisakah dijelaskan apa rencananya?" tanya Hidenaga.
"Baik. Begitu pesan telah tersampaikan pada pasukan yang telah merebut alih markas timur laut, kami memberinya tugas untuk mengalihkan perhatian wanita itu. Begitu berhasil menariknya ke dalam markas timur laut, pasukan Mōri yang akan menyegelnya di dalam," jelas Takakage. "Itu akan membuat Chōsokabe kebingungan dan hasrat bertarung mereka akan menurun. Di saat itu, kami akan melancarkan serangan dadakan di markas barat laut, tempat dimana wanita itu sebelumnya berada. Di saat itu, kita bisa melaksanakan serangan secara besar-besaran."
"Begitu. Baiklah, aku mengandalkan kalian." Hidenaga manggut paham.
Takakage kemudian menghampiri putrinya, Shinhana bersama suaminya, Nagachika. "Aku telah mengirim pembawa pesan untuk melaporkannya pada pasukan Hashiba yang berada di posisi terdekat. Jadi sebaiknya kalian segera mempersiapkan diri di markas timur laut. Aku yakin mereka sudah berhasil mengambil alih tempatnya. Kalian sudah paham dengan rencananya, bukan?"
"Ya, percayakan pada kami, chichi-ue!" Hana memberikan senyuman meyakinkan pada sang ayah.
Nagachika membungkukkan badan. "Baik, Takakage-sama. Kami pastikan rencananya berjalan mulus."
Chie yang berdiri di samping Takakage, memberikan isyarat tangan dan menyinggungkan senyuman tipis pada Hana. "Berjuanglah, Hana."
Hana mengangguk kencang. "Tentu saja. Kau juga, Chie!"
"Eeh!? Hana-chan juga mau pergi?" keluh Natsuko mencebik. Dia bisa kembali ke kapal dengan selamat setelah menyusul kakaknya.
"Yah, begitulah. Tapi Chie juga bersamamu, bukan?" sahut Hana menghibur Natsuko sembari mengusap kepalanya. "Dan aku yakin sebentar lagi Suzu-san akan kembali, kok! Jadi bersabarlah, ya?"
Nagachika menepuk pelan bahu istrinya. "Ayo, Hana." Hana menjawab dengan anggukan kepala, sepasang sejoli tersebut kemudian bertolak keluar dari kapal.
"Takatora, sebaiknya kau juga berada di garis depan setelah pasukan Mōri berhasil melakukan tugasnya. Kau boleh pergi sekarang."
Bawahan Hidenaga itu mengedipkan kedua matanya begitu melihat ekspresi ramah khas majikannya. Hidenaga tampak sadar apa yang terus mengganggu pikiran Takatora sejak Suzu pergi.
"Ah, maaf menyela." Takakage memghampiri Hidenaga dan Takatora. "Jika Anda tidak keberatan, bagaimana jika saya usulkan Takatora-dono untuk melakukan serangan dadakan bersama pasukan Mōri ke markas barat laut?"
"Tentu, aku memberinya izin. Tapi apakah tidak masalah untukmu, Takatora?" Hidenaga lalu menatap bawahannya.
"Sayang sekali. Aku ingin menerima tugas itu, tapi aku sudah memiliki tugas yang harus kuselesaikan terlebih dahulu. Istriku, Suzu, saat ini sedang melacak keberadaan rombongan Yoshitsugu dan Hidehisa. Dia memberitahuku untuk mengikuti jejak yang sudah dia tinggalkan agar dapat menemukan mereka. Sejujurnya, aku mengkhawatirkan keselamatan istriku," jelas Takatora dengan tenang. "Tapi jika saya boleh tahu, mengapa Anda ingin melibatkanku ke dalam serangan dadakan?"
"Sebenarnya saya hanya ingin membesarkan peluang kita untuk menjatuhkan mereka dalam jumlah. Karena menurut laporan ada beberapa perwira yang mengambil posisi bertahan di markas barat laut." Takakage terkekeh pelan. "Tak masalah jika Takatora-dono menolak. Kami akan berusaha sebisa kami untuk menjatuhkan mereka."
"Begitu. Lega mendengarnya." Takatora manggut, lalu menghadap pada Hidenaga, meminta persetujuan darinya. "Hidenaga-sama."
"Ya, kau boleh pergi. Berhati-hatilah," Hidenaga tersenyum ramah.
Takatora membungkuk memberi hormat sebelum pamit undur diri. Bergegas mengambil saiken lalu memerintah pasukannya untuk mulai bergerak. Meski pancaran mimik mukanya tenang, akan tetapi langkah kakinya cepat seiring firasat buruk yang mempermainkan kepercayaannya semakin kacau.
Memori masa pahit kembali diputar di dalam ingatannya. Kegagalan yang tak dapat ia maafkan saat malam berapi itu.
Ingin sekali dirinya membuang bayangan itu dengan membentur keras kepalanya. Kepalan pada kedua tangan begitu kuat hingga kukunya menekan telapak tangannya meski telah mengenakan sarung tangan hitam. Genggaman pedang pada tangan kanannya siap untuk menebas musuh yang menghalangi. Bersikukuh menaklukkan keraguan yang mempermainkan pikirannya dengan cepat.
"Aku takkan gagal lagi. Akan kupastikan aku berhasil menyelamatkanmu, Suzu."
-XXX-
-xxx-
-XXX-
A/N : Apakah saya bakal naruh bad end lagi di chapter depan? Nope, aku memang ada idenya tapi gak. Entah kenapa rasanya membosankan kalau dibikin dan... ah sudahlah. *plak*
Sejujurnya mulai patah semangat lanjutin fic. Ngingat harus nulis battle bikin 'ugh males' mulu. Pengen skip tapi sayang. Tapi akhir-akhir ini perlahan semangatnya muncul lagi. Yah harap aja chapter depan gak selama kayak sekarang.
Nulis chapter Shizugatake malah 5k tapi battle-nya gak gitu detil. Saya lebih mendingan tulisan saya yang di chapter2 awal dibandingkan yang sekarang.
Kalau saja udah ada Empires buat PC atau mainin Sanada Maru mungkin bisa semangat lagi... *sigh*(Saya gak tertarik dengan Sanada. DAN, gak bisa bikin character alasan utama gak beli game-nya. Makanya sampe sekarang belum dibeli, plus mahal walopun kaset bajakan(?) dan gak kuat buat laptopku karena ukurannya gede amat. Open world sih.)
Kendala keduanya, kuota. Jadi sambil cari kerja, saya kepikiran buat commision. Tapi masih cari informasi, plus masih gak yakin soal gambar saya yang masih butuh improve. Apalagi saya ngikutin males mulu dan motivasi langka bener apalagi buat lanjut fic.
Enough about me, malah dijadiin tempat curhat. *sweatdrop* As always please review! Follow atau dan Favorite sesuai keinginan.
またね!
