A/N : Duh, aku kangen main SW4-II di PC, walaupun udah berulang kali main sempat bosan tapi kangen mulu. Tapi aku mesti cari kerja buat... eh udahan curhatnya woy!

Shikoku Arc kali ini masih ada satu lagi chapter, atau mungkin dua, atau mungkin dicampur dengan aftermath. Atau mungkin tidak. Soalnya bakalan panjang dari battle yang sebelumnya, ugh. *plinplan* Oke, balas review!

RosyMiranto18

Blossom : Gak gak, 'kan udah dibilang gak naruh bad end. Emang ada idenya tapi kurang greget soalnya.

Takatora : Aku tidak paham apa maksudmu, tapi kalau kau menulis bagian yang kau sebut 'bad end', aku akan memenggalmu-

Blossom : Yee! Udah dibilang aku gak bakalan naruh bad end, mas bro! Cuma kebayang dikit kok!

Takatora : Terserah.

Scarlet : Oke, tentang PM yang dikirim agak bingung gimana mau nyusunnya jadi berbeda dari yang diperkirakan. So sorry. Makasih review-nya~

-xxx-

Disclaimer : Samurai Warriors belongs to KOEI. OCs and story plot belongs to me. Kimura Siblings belongs to RosyMiranto18. Kobayakawa Shinhana, Nomi Nagachika and Kikkawa Chie belongs to Hayashinkage17. Cover belongs to the artist, NOT MINE. Bagi yang tau siapa artist-nya, mohon dikasih tau.

Warning : Mainly OC x Tōdō Takatora. OOC yang mungkin tidak disengaja atau sengaja demi alur cerita, SERING typo, diksi yang tidak baku, suram dan abal alias amburadul. Saya usahakan ceritanya bisa disusun berdasarkan dari game dan atau sejarahnya. DON'T LIKE DON'T READ NO FLAMES. REVIEW PLEASE!

-xxx-

-XoX-

Bell of the White Hare

-XoX-

CHAPTER 20

Finding Your Warmth

-XoX-

Semenjak pertempuran di mulai, Takatora tak melihat burung berterbangan di langit. Dan baru ia sadari matahari mulai terbenam. Sepanjang jalan Takatora masih mencari petunjuk yang telah Suzu tanamkan. Dia juga telah memerintahkan pasukannya untuk memerhatikan sekitar jika menemukan kejanggalan. Beruntung pasukan Chōsokabe tersisa sedikit di garis depan tak menghambatnya.

Begitu ia menemukan petunjuk pada salah satu pohon. Takatora bergegas menghampiri pohon tersebut lalu berlutut. Tepat dibawahnya terdapat beras warna yang telah Suzu tanam tepat dibawah pohon tersebut. Takatora mengambil empat biji goshiki-mai yang telah disusun itu. Terdapat beras yang diurut dari warna biru dan kuning, lalu merah dan kuning.

"Barat..." gumam Takatora seraya kembali berdiri dan menyimpan beras tersebut. Tak terlintas di kepalanya untuk istirahat sejenak. Saat ini Takatora tak peduli. Yang ada di nalurinya hanyalah keselamatan Suzu, yang mungkin... bukan, tapi pasti, menunggu Takatora untuk datang padanya.

-XXX-

Sementara itu, markas timur laut baru saja telah diambil alih oleh Aki. Pemuda itu rehat sejenak walaupun ia tahu bukan waktunya untuk berdiam diri. Seisi kepalanya tak henti mengulang ucapan Motochika saat ia bernegosiasi.

"Terima kasih atas kerja kerasnya, Kimura-san." Seorang pria paruh baya dengan tubuh tegap menghampiri Aki. Pedang zanbatō di tangannya diistirahatkan di sekitar bahunya. Nada suaranya terdengar akrab tapi juga sedikit sarkas.

"Shima Sakon, apakah kau datang kesini untuk memberikan laporan dari atasan?"

"Lebih tepatnya tugas," jawaban Sakon membuat Aki menaikkan kedua alisnya. "Anda mungkin sudah menyadarinya kalau pertahanan markas garis depan ini tidak terlalu ketat. Namun kurasa Anda tidak tahu apa alasannya."

Tatapan Aki terlihat jengkel mendengar cara bicaranya, Sakon menyadarinya, kemudian melanjutkan penjelasannya. "Sebenarnya dari sekian banyak pasukan Chōsokabe tengah mengambil posisi di barat laut, untuk mengawali selir dari Chōsokabe Motochika yang ikut berpatisipasi dalam perang ini."

"Selir...?" Sepintas sosok wanita berambut afro merah jambu muncul di dalam kepala Aki. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan frustasi.

"Perintahnya adalah mengumpani wanita itu menuju markas ini. Bagaimana, Kimura-san? Tak lama lagi malam akan datang, di saat itu peluang untuk mengumpaninya akan lebih mudah. Apakah Anda ingin saya melakukannya atau..."

"Tidak. Biarkan aku yang melakukannya," tegas Aki sembari mengambil pedangnya.

Sakon terkekeh pelan. "Sudah kuduga Anda akan berkata begitu. Kurasa Anda memang memiliki hubungan tertentu dengan mereka. Tapi saya takkan bertanya apa itu."

Aki tak menjawab apapun, ia langsung mengalihkan pandangan dan memerintah pasukannya untuk bergerak.

Seorang prajurit berlari menghadap mereka, kemudian berlutut. "Tuanku! Ada pasukan Chōsokabe yang hendak bergerak menuju kearah sini."

"Kita tak bisa membiarkan markas ini akan diambil alih oleh mereka."

"Tak masalah, serahkan padaku. Anda sebaiknya bersiaga untuk melakukan rencananya. Begitu Anda berhasil menariknya, markas ini telah dalam keadaan aman."

Aki mengangguk setuju. "Baiklah, aku mengandalkanmu."

-XXX-

"Gelap. Sesak. Sakit."

Itulah hal pertama yang Suzu rasakan ketika membuka mata. Dirinya terbaring diatas tikar kecil. Sembari mengumpulkan nyawa, Suzu mengusap pelupuk matanya hingga penglihatannya jernih.

Rasa sesak yang menggerogoti tubuhnya belum hilang. Suzu berusaha untuk duduk namun rasa kaku dan nyeri di sebelah bahunya menghentikannya untuk menggerakkan tubuhnya lebih jauh. Digerakkan sedikit saja membuat Suzu ingin menjerit, tapi beruntung ia dapat menahan.

"Benar juga... Ramuan obat yang nee-sama berikan padaku. Mungkin aku akan merasa lebih baik..." gumam Suzu setelah menarik napas panjang.

Dengan lemah tangannya mencari obat yang ia simpan di dalam lengan pakaian. Kedua matanya berkedip, Suzu tidak menemukan apapun. Kedua matanya mulai sayu begitu mengingat keadaannya sekarang.

"...Aku benar-benar sudah ditangkap, ya," gumam Suzu lagi.

Tak hanya obat pemberian Sango yang hilang. Perlengkapan senjata kecilnya juga tak ada. Sudah jelas pasukan Chōsokabe yang menangkap Suzu yang menyitanya.

Suzu menghela napas panjang. "Apakah nee-sama sudah tahu kalau aku akan melemah seperti ini? Berarti dia juga sudah tahu kalau aku..."

Pikiran Suzu teralihkan begitu kedua matanya mengedar di sekitarnya. Tempat asing, di dalam kapal atakebune tak memiliki ruangan seperti ini. Di dalamnya tak terdapat apapun, lantainya bukan dari kayu tetapi hanya tanah. Hanya diberi penerangan api kecil yang dinyalakan di dinding. Tak terdapat jendela satupun sehingga tak terlihat cahaya matahari yang menyusup di dalam ruangan yang Suzu huni. Entah sudah berapa lama dirinya terlelap, Suzu sama sekali tidak tahu.

Merasa dirinya disekap di dalam kurungan bawah tanah, seisi pikirannya menerawang ke masa lalu. Dimana ia terkurung sendirian. Tapi beruntung tak ada api yang berkobar di sekitarnya seperti pada waktu itu. Walau begitu, rasanya tidak berbeda jauh. Dia hanya bisa terdiam dalam kesendirian.

"Dingin..." Suzu kembali merebahkan tubuhnya diatas tikar yang berdebu. Menyusupkan kedua lengan di sekitar tubuhnya. Matanya kembali dipejamkan, setitik air mata mengalir dari pelupuk matanya. "Takatora-sama..."

Sembari berharap ada seseorang yang datang menemukan dirinya, hal yang bisa membuatnya tenang hanyalah dengan menggenggam lonceng kecil dan tua yang ia kalungkan bila suaminya tak bersamanya.

"Loncengku...?" Degup jantungnya terasa sakit tatkala menyentuh lehernya yang tak dikalungi lonceng kecilnya. Ia baru menyadari sejak tadi tak terdengar suara dentingan.

Benda itu satu-satunya pemberian mendiang orang tuanya. Tidak mungkin Suzu bisa membiarkan benda itu menghilang begitu saja. Sango telah menemukan pecahan lonceng itu untuknya. Takatora bahkan telah memperbaiki lonceng itu. Suzu pun telah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menghilangkannya lagi. Selama ia hidup, lonceng itu tak hanya sekedar barang berharga peninggalan orang tuanya, namun benda itu bagaikan separuh nyawanya.

Bahkan disaat Takatora tidak bersamanya, dirinya merasa semakin kehilangan arah jalan kehidupan.

Tetes demi tetes bulir bening mengalir deras dari pelupuk mata Suzu. Dia langsung bangkit dan memukul kurungan kayu itu dengan beruntun. "Kumohon...! Keluarkan aku, siapa saja...!"

Namun sayang, sekeras apapun ia berteriak dan memukul kurungan itu, tak ada orang yang datang padanya. Pasukan yang menyekapnya kemungkinan sudah berada di luar. Suzu tidak merasakan hawa keberadaan satu orang pun.

Tangannya berhenti memukul kayu itu begitu melihat kulit tangannya lebam hingga terasa sakit. Bahunya kembali berdenyut nyeri, Suzu pun menyerah. Sepasang maniknya kembali sayu, kakinya juga tak sanggup untuk berdiri.

"Aku menghilangkannya lagi..." lirih Suzu dengan suara bergetar.

Kendati misalkan dia bisa melarikan diri, tapi Suzu tak akan bisa diam membiarkan lonceng itu menghilang. Tak tahu apa yang harus ia katakan pada kakaknya yang telah menemukan loncengnya bahkan pada Takatora yang telah menyatukan tiap pecahannya.

Suzu mulai takut, hanya membayangkan betapa kecewanya mereka yang telah susah payah melakukan semua itu demi dirinya.

"Ara, ternyata kamu sudah siuman?"

Dia ingat suara itu, seorang wanita. Suzu mengangkat kepalanya, bertatapan dengan wanita yang sama saat dirinya dikepung oleh pasukan Chōsokabe. Wanita itu berdiri di hadapan kurungan kayu dimana Suzu disekap, ia melipat kedua lengan di bawah dadanya.

"Aku mendengar suaramu jadi aku datang untuk melihat." Sengiran tipis terukir pada wajah menawan wanita tersebut. "Kenapa gadis sepertimu ikut berperang? Apalagi kondisimu saat itu tidak memungkinkan."

Suzu menunduk, menjauhi kontak mata dengan wanita itu. Ia merapatkan bibirnya, tak mau menjawab pertanyaannya.

"Yah, memang bukan urusanku," Wanita itu menaikkan bahu. "Oh, ya, namaku Koshōshō. Senang bertemu denganmu gadis pemilik 'bel'," lanjut wanita yang menyebut dirinya Koshōshō seraya mengeluarkan sesuatu dari jinbaori putih-pink yang ia kenakan.

Indera pendengaran Suzu langsung menangkap suara dentingan kecil. Kedua netra merahnya membulat sempurna begitu melihat lonceng tersebut berada di tangan Koshōshō.

"...Itu milikku!" Suzu langsung bangkit dan berusaha meraihnya dari dalam kurungan. Tapi tangannya tak dapat menggapainya dari tangan Koshōshō.

"Maaf, ya," Koshōshō menjauhkan tangannya dari jangkauan Suzu. "Aku belum sempat bilang kalau aku adalah wanita pembawa nasib buruk. Artinya, kau yang disekap di dalam sini adalah korbanku. Aku tidak begitu hobi memeras orang yang baru saja kutemui, tapi untuk sementara aku akan menjaga lonceng kecil ini untukmu. Ya?"

Koshōshō memiringkan kepalanya, ia tak dapat melihat raut wajah gadis itu karena anak rambut yang panjang hampir menghalangi kedua matanya. Koshōshō tertawa pelan begitu terpintas di pikirannya bahwa gadis itu putus asa.

"Oh, tak apa. Jangan khawatir." Koshōshō meraih wajah Suzu, dengan pelan ujung telunjuk Koshōshō bergerak turun ke dagu Suzu, kepalanya diangkat sedikit agar dapat melihat wajahnya. "Aku sudah bilang kalau aku akan menjaganya, bukan? Lagipula kita sedang berada di medan perang. Tak ada alasan untuk berbelaskasih pada musuh."

Koshōshō meluruskan pandangannya ke manik merah Suzu yang tampak hampa, sementara gadis itu mengunci pandangannya ke tangan Koshōshō yang menggenggam lonceng kecilnya.

"Koshōshō-sama! Anda sebaiknya jangan berada disini terlalu lama." Seorang prajurit bergegas berlutut di hadapan wanita itu.

"...Oh, kalian benar-benar merepotkan. Kalian membutuhkanku, hm?" ucap Koshōshō pada prajurit tersebut dengan nada menggoda. "Nah, kalau begitu mengobrolnya kita lanjutkan nanti saja, nona kecil." Koshōshō membalikkan badan, bertolak meninggalkan Suzu.

"Tidak. Tidak...! Tidak!"

Suzu belum bisa membiarkan wanita itu pergi sampai ia berhasil merebutnya kembali. Apa yang bisa ia lakukan sedangkan dirinya berada dalam kurungan sempit ini?

...

Tidak. Hanya satu cara agar ia bisa mendapatkannya kembali.

Suzu membuka mulut, menjulurkan lidah, kemudian menekan giginya pada lidah. "Ukh...!" Gigitannya yang semakin kuat pada lidahnya sehingga darah mulai mengalir dari mulut Suzu.

Suzu tahu betul yang dilakukanya saat ini sangat gila. Tapi jika itu menyangkut sesuatu yang amat berharga baginya. Suzu akan melakukan apapun demi merebut tiap kepingan hartanya. Ia takkan membiarkan siapapun merebutnya.

Koshōshō yang mendengar jeritan kecil spontan menoleh. Matanya terbelalak melihat tetesan darah mengalir di mulut Suzu."H-Hei! Apa kamu sudah tidak waras!? Hentikan!" bentak Koshōshō.

"Itu... sangat berharga... bagiku!" desahnya dengan suara parau. Ia juga kesulitan berbicara saat harus menggunakan lidah.

Masih belum, Suzu menggigit lidahnya lagi, kali ini lebih kuat. Suara jeritan Suzu kembali pecah memenuhi ruangan gelap itu. Darah segar semakin mengalir dari mulutnya hingga membasahi tanah.

Koshōshō bergegas menyuruh prajurit yang tengah mengawalnya untuk membuka kurungan. Koshōshō menahan kedua bahunya dan berusaha keras menghentikan Suzu. "Apa yang kamu lakukan-"

Tak sempat selesai bicara, Suzu langsung menghadang kearahnya. Koshōshō merintih kesakitan begitu punggungnya membentur tanah. "Lon... cengku...!" pekik Suzu lagi mencoba merebutnya dari tangan Koshōshō. Meski kedua tangannya bergemetar dan lemah, kedua manik Koshōshō terkunci memandang sorotan mata Suzu yang berubah tajam. Seakan terdapat api yang menyala di manik merahnya. Seolah-olah sosoknya yang bagai kelinci putih telah berubah wujud menjadi binatang buas.

"Hentikan! Apa yang kau lakukan pada Koshōshō-sama!?" Seorang prajurit segera masuk ke dalam kemudian menarik rambut Suzu dengan kasar, menghempasnya ke dinding. Koshōshō sempat mengira dia akan kembali bangkit, tapi tampaknya telah kehabisan tenaga.

Koshōshō yang dibuat kaget belum bisa berkata apapun, masih terpaku dan berusaha mengingat kembali apa yang dia maupun gadis itu lakukan. Jika gadis itu memegang pedang, dirinya pasti sudah mati ditikam.

"Koshōshō-sama! Nona baik-baik saja!?"

"...Y-Ya. Aku tak apa." Koshōshō mengusap pelan rambut merah jambunya sambil menghela napas. Setelah keluar dari kurungan, sekilas wanita itu menoleh ke belakang melihat Suzu yang masih terbaring tak berdaya, masih belum bergeming. Rambut peraknya hampir menghalangi wajah Suzu sehingga wanita itu tak dapat melihat bagaimana mimik mukanya saat ini. Meski begitu beruntung dia masih bernapas.

Beruntung...?

Mengapa dikatakan 'beruntung' padahal gadis itu adalah salah satu lawannya?

Koshōshō menggeleng, menghiraukan dan membuang pertanyaan itu dari dalam pikiran.

Tanpa berpikir panjang lagi, dia melempar lonceng itu masuk ke dalam kurungan. Suara dentingannya membuat Suzu membuka matanya kembali. Dengan lemah, tangannya berusaha menggapai bel tersebut. Setelah berhasil menggenggamnya dengan sisa tenaganya, senyuman kecil terukir pada parasnya. Suzu memejamkan mata dan kembali terlelap. Terlalu banyak mengeluarkan darah telah memudarkan kesadarannya. Koshōshō terdiam sejenak memerhatikan gadis itu.

"Setahuku lonceng kecil itu dianggap sebagai pembawa keberuntungan. Hm, kebalikan dariku rupanya," dengus Koshōshō seraya berjalan keluar dari kurungan. "Selain itu, tampaknya benda itu seolah setara dengan nyawamu sendiri..."

-XXX-

Aki mengalihkan pandangannya dari langit malam. Meski sasarannya kali ini bukan untuk mengambil alih markas barat laut, melainkan untuk mengumpani Koshōshō yang berada disana.

"Mungkin malam ini beberapa dari mereka sedang beristirahat. Ini waktu yang tepat untuk melaksanakan rencananya..."

Aki memerintah pasukannya untuk bergerak perlahan menghampiri markas barat laut. Namun begitu melihat gerbang terbuka, Aki segera menyuruh mereka untuk berhenti, menanti apa yang sedang mereka lakukan sampai sengaja membuka gerbang.

Di luar dugaan, seorang wanita berambut afro merah jambu serta beberapa pasukan yang mengawalinya berjalan keluar dari markas. Mereka tampak hendak pergi kearah istana Ichinomiya.

Mendapat kesempatan yang memudahkannya, Aki segera meminta sebagian dari pasukannya untuk bersembunyi lalu ia mengejar wanita itu.

Koshōshō mengalihkan perhatiannya pada Aki yang tengah bergerak kearah mereka. Menaikkan alis heran begitu melihat jumlah mereka yang sedikit. Para pengawalnya mulai bersiaga melindungi Koshōshō.

"Koshōshō-sama, apakah sebaiknya kita langsung menyerang mereka?"

"Tidak sekarang. Kurasa dia tidak datang untuk membunuhku." Koshōshō membaca raut wajah Aki yang tampak berbeda dari sebelum ia datang untuk bernegosiasi. Pasukannya pun tak memegang pedang, membiarkannya di dalam sarung. Sedikit mencurigakan, memang. Tapi tak ada salahnya untuk mendengar apa yang dia inginkan.

"Ada yang ingin kubicarakan," ucap Aki tanpa basa-basi.

"Oh, ya? Apa itu?" Koshōshō melipat tangannya di depan dada.

"Aku sudah mendengar kebenarannya dari Motochika. Maaf telah menuduhmu,"

Koshōshō tertawa pelan. "Kau sempat datang kesini hanya untuk mengatakan itu?"

Aki terdiam, namun mimik wajahnya masih belum berubah.

"Terserah jika kau mempercayai kebenaran itu. Tapi itu tak mengubah kenyataan kalau aku adalah wanita pembawa nasib buruk. Kau cukup bodoh datang kemari hanya untuk meminta maaf. Kau tahu sendiri, bukan? Saat ini kita berada di medan tempur." Koshōshō langsung memberikan aba-aba untuk mulai menyerang Aki. "Jatuhkan mereka untukku."

"Tentu saja aku sadar!" Aki memerintah pasukannya untuk mundur.

Koshōshō terkekeh, mengerjar Aki serta pasukannya. "Lalu mengapa kau melarikan diri?"

Setelah jauh berlari, Aki berhenti. "Kau terlalu meremehkan pria." Tanpa disangka, sebagian dari pasukan Aki yang bersembunyi mulai muncul dari belakang pasukan Koshōshō. "Sekarang siapa yang bodoh?"

Sedikit lagi, mereka terus menarik Koshōshō menuju markas timur laut. Dengan panik mereka berusaha untuk membuka jalan, tapi gagal dikarenakan pasukan Aki yang terus mendorong mereka ke dalam.

"Terima kasih atas kerja kerasmu, Aki-san!" Kini pasukan Nagachika dan Shinhana muncul. Mengunci markas dan mengepung Koshōshō dari segala arah. Pasukan yang mengawal Koshōshō semakin panik.

"Kami akan mengatasinya, serahkan pada kami!" ucap Shinhana.

"Nagachika, Shinhana-dono?" gumam Aki.

"Semuanya, serang!" seru Nagachika.

Pasukan Mōri tersebut mulai menjatuhkan prajurit yang mengawali Koshōshō dengan mudah. Tanpa seorang pun pasukan Mōri yang mati, rencana mereka berhasil berjalan dengan mulus, Nagachika memerintah pasukannya untuk menyekap Koshōshō.

"Kau terlihat kecewa, Aki-san." Nagachika menghampiri Aki yang tak berbuat banyak setelah pasukan Nagachika datang.

Aki menaikkan alis. "Apa aku terlihat seperti itu?"

"Entahlah. Mungkin hanya perasaanku saja." Nagachika terkekeh. "Sepertinya ada sesuatu yang terjadi. Bukan hanya dengan wanita itu, tapi sejak kau bernegosiasi dengan Chōsokabe. Kau terlihat berbeda..."

Aki mendengus pelan. "Kau tajam juga."

Shinhana menghampiri dua pemuda itu. "Aku sudah menyekap selir Chōsokabe Motochika itu. Tapi apakah benar dia orangnya?" tanya Shinhana sambil memiringkan kepala.

"Eh? Apa maksudmu?" tanya Nagachika menaikkan alis.

"Dia memang selirnya, kok. Namanya adalah Koshōshō," ujar Aki.

Hana manggut paham. "Hm... tapi bukankah dia terlihat aneh? Itu, lho. Rambutnya berantakan sampai menggunung diatas kepalanya."

Nagachika dan Aki hanya terdiam heran. Memang mencolok, sangat. Tapi mereka tidak terlalu memerhatikannya saking terlalu memfokuskan pikiran mereka pada pertempuran.

"Uhh, hal yang seperti itu... dia terpengaruh budaya Nanban, kurasa?" Nagachika menoleh kearah Aki.

"Mana kutahu," ujar Aki dengan nada datar.

-XXX-

Takatora telah berjalan cukup jauh kearah barat. Jauh di depannya ia sudah bisa melihat sebuah markas yang tertutup dan tak terdapat pasukan Chōsokabe yang berjaga. Tak hanya itu, Takatora melihat sebuah jembatan yang telah hancur. Ia bisa mencium bau mesiu dari sana.

"Tōdō-sama! Disini masih ada petunjuknya!" seru salah satu prajuritnya. Tanpa berpikir panjang Takatora menghampirinya kemudian berlutut, membaca kode yang ditinggalkan oleh istrinya.

"Maaf, Tuanku, entah mengapa kali ini urutannya sedikit berantakan. Saya tak dapat membacanya," jelas prajuritnya.

Takatora mengurut dagu. Meski sedikit berantakan setiap dua biji beras berwarna ditanam berdekatan hingga terdapat satu huruf. "Te, ke, su, dan ta."

Kedua kelopak mata Takatora melebar begitu memerhatikan kembali beras berwarna tersebut. Napasnya terasa sesak begitu membaca kode itu. "'Tasukete'...!"

"'Tolong aku'...?" tanya prajurit itu mengulang ucapan Takatora. "Tuan membacanya dari biji yang belakang?"

Takatora langsung bangkit tanpa memberikan penjelasan apapun pada prajuritnya. Lalu matanya mengarah ke markas di tak jauh di hadapannya. "Buka gerbang markas itu! Sekarang!" sergah Takatora.

"B-Baik!" Beberapa prajuritnya langsung menuruti perintah Takatora. Berlari ke depan gerbang kemudian bekerja sama mengangkat tonggak kayu yang memalang pintu gerbang markas tersebut.

Manik birunya langsung menangkap seorang pria berkerah tinggi yang menutup sebagian wajahnya. Juga terdapat sedikit prajurit yang masih hidup di dalam markas tersebut.

"Sudah kuduga kau akan datang kemari, Takatora," ucap pria itu setelah gerbang terbuka lebar.

"Yoshitsugu?" Matanya mengedar di dalam markas tersebut. Hanya ada pasukan Yoshitsugu dan Hidehisa di dalam. "Dimana Suzu? Apakah dia bersamamu?"

Yoshitsugu menggeleng. "Memang seharusnya dia bersamaku, tapi kenyataannya dia tidak datang menemuiku. Tapi sayangnya, kurasa saat ini dia tertangkap oleh pasukan Chōsokabe."

Kedua matanya seketika terbeliak. "...Apa yang kau-"

"Sebelum kau kemari, kau melihat jembatan penghubung di dekat sini, bukan? Dialah yang menghancurkan jembatan itu untuk membantuku agar pasukan bala bantuan Chōsokabe tidak datang menyerang kami. Aku sempat berpikir dia akan menunggu disini bersamaku sampai kau datang, karena ia tahu mustahil untuk kembali ke kapal dengan selamat."

Manik kelabu Yoshitsugu melirik ke tangan Takatora yang dikepalkan. "Sial...!"

Yoshitsugu menepuk pelan bahu Takatora. "Daripada mengumpat dirimu sendiri, sebaiknya kau pergi mencarinya di markas barat laut. Aku yakin dia berada di sana."

Begitu Yoshitsugu memberitahunya dimana Suzu berada, tanpa mengatakan apapun, Takatora langsung bertolak dari markas. Derap langkah larinya yang cepat meninggalkan pasukannya yang kebingungan dan berusaha mengikutinya.

Yoshitsugu menghela napas. "Segalanya telah ditentukan oleh arus itu sendiri. Terlambat atau tidak, aku yakin kelincimu tak ingin kau berpikiran seperti itu, Takatora," gumam Yoshitsugu.

Tak lama kemudian, gerbang lain di markas itu terbuka. Kali ini pasukan Mitsunari serta dua rekan dekatnya, Kiyomasa dan Masanori yang datang.

"Yoshitsugu! Kau masih hidup!?" seru Mitsunari berlari kearahnya.

Yoshitsugu mendengus pelan. "Itu pertanyaan yang terdengar tidak menyenangkan, Mitsunari."

Kiyomasa mengerjapkan matanya bingung memerhatikan gerbang arah berlawanan telah terbuka lebar. "Padahal gerbang sebelah sana sudah terbuka, tapi bagaimana bisa?" tanya Kiyomasa.

"Kami terkunci di sini sehingga kami tak dapat keluar. Mustahil untuk membukanya dari dalam," jawab Yoshitsugu.

"Lalu siapa yang membukanya?" tanya Masanori menggaruk kepala kebingungan.

"Takatora."

Mitsunari tampak kesal begitu Yoshitsugu menyebut nama pria itu. "Lalu dimana dia? Dia tak bersamamu?" tanya Mitsunari menaikkan nada suaranya.

"Dia tak punya urusan disini. Jadi dia langsung pergi."

Ketiga anak didik Hideyoshi itu hanya memasang wajah bingung mendengar jawaban Yoshitsugu.

Mitsunari menghela napas. "...Ya sudahlah, yang penting kau selamat. Ayo, kita pergi dari sini. Selanjutnya kita harus membuka jalan untuk kapal pasukan Hidetsugu-sama yang akan berlabuh di arah selatan. Beliau akan diperkirakan berlabuh besok."

-XXX-

Nomi Munekatsu dan Shishigo Mototaka yang merupakan perwira militer dibawah naungan Mōri tengah memantau situasi markas barat laut. Para pasukan tampak resah begitu menyadari selir Motochika menghilang begitu saja. Mereka telah memastikan Koshōshō pergi ke istana Ichinomiya. Namun kenyataannya Koshōshō tak ada disana.

"Bagus, sekarang saatnya untuk melancarkan serangan," ucap Munekatsu.

"Baik!"

Mereka pun turun dari bukit secara bersamaan, seketika mengagetkan pasukan Chōsokabe yang berada di dalam markas.

"Ada serangan dadakan!" sorak salah satu prajurit Chōsokabe.

"Jangan panik! Tetaplah berada di posisi dan kalahkan mereka!"

Namun beberapa dari mereka masih ragu untuk maju begitu melihat jumlah mereka tak sebanding. Dengan mudah, mereka berhasil mengambil alih markas barat laut.

Setelah berhasil membersihkan markas dari rombongan pasukan Chōsokabe. Munekatsu dan Mototaka memeriksa sekitar untuk memastikan tak ada musuh yang tengah bersembunyi.

"Munekatsu-sama! Disini ada seorang perempuan yang disekap!" seru salah satu prajurit yang bertugas memeriksa bawah tanah.

Munekatsu bergegas masuk ke dalam ruangan bawah tanah tersebut. Kedua matanya berkedip tak percaya melihat seorang gadis tak sadarkan diri di dalam kurungan. Terdapat sedikit darah yang mengering di tepi bibirnya. Rambut peraknya terurai sedikit kusut menghalangi wajahnya. Tangan kanannya tampak menggenggam sesuatu.

Munekatsu segera menghancurkan kunci dengan pedangnya. Begitu kurungannya berhasil terbuka, Munekatsu berlutut di hadapannya. Lalu menyusupkan telunjuknya di depan hidung gadis itu untuk memastikan kondisinya.

"Dia masih bernapas. Kita harus segera membawanya ke kapal."

"Taka... tora-sama..." Munekatsu melirik kearah kearah gadis itu tatkala mendengar desah napasnya. Kedua matanya separuh terbuka, dia tampak masih kesulitan untuk mengumpulkan nyawa.

"Maaf, nona, sebaiknya jangan bergerak dulu. Kau harus segera dirawat."

"Takatora-sama... dimana?"

Suaranya yang sedikit serak kurang bisa menangkap pendengaran Munekatsu. "...Takatora, katamu?"

"Ah, kalau tidak salah Takatora adalah bawahan Hidenaga-dono. Aku dengar saat ini dia juga sedang mencari istrinya yang melacak keberadaan rombongan pasukan yang datang mendahului kita ke Shikoku sebagai umpan," jelas Mototaka.

"Lalu, artinya gadis ini adalah mata-mata yang dikirim? Dan dia adalah istrinya?" tanya Munekatsu lagi.

"Takatora... -sama..." desah Suzu lagi berusaha untuk bergerak. Tapi seluruh tubuhnya terasa kaku dan berat. Terdapat beberapa luka memar di lengan dan kakinya membuatnya kesulitan untuk bangkit.

"Bertahanlah, Nona. Kami akan segera membawamu ke tempat yang aman. Permisi." Munekatsu mencoba untuk mengangkat Suzu, menahan punggung dan kakinya dengan kedua tangan.

Suzu kembali memejamkan mata, tangannya masih menggenggam lonceng dengan sisa tenaganya di depan dada.

"...Entah kenapa aku jadi teringat masa lalu," gumam Munekatsu sembari berjalan keluar dari ruangan gelap tersebut.

"Apakah itu mengenai Shinhana-sama?" tanya Mototaka.

Munekatsu terkekeh pelan. "Ya... Beliau sekarat karena luka parah saat pertama kali menginjak tanah medan tempur bersama putraku. Melihat nona ini membuat dadaku sedikit sesak..."

Dari kejauhan Munekatsu melihat rombongan pasukan Hashiba yang tengah bergerak kearahnya. Memang mereka tak meminta bala bantuan, tapi dia yakin bahwa pemimpin pasukan tersebut adalah Takatora. Dia pasti sudah menyadarinya bahwa istrinya ditangkap.

Takatora berhenti berlari di depan Munekatsu begitu kedua manik birunya menangkap sosok gadis yang tak sadarkan diri terlelap di pangkuan Munekatsu. "...Suzu!?"

"Anda Takatora-dono? Kami menemukan istrimu disekap di dalam penjara bawah tanah markas ini," jelas Munekatsu sembari membantu Takatora untuk menggendongnya. "Maaf kami tak dapat berbuat apapun."

Takatora belum menjawab, matanya masih terkunci memandang Suzu yang masih belum membuka matanya. Kulitnya terlihat lebih pucat dari biasanya. Melihat istrinya dalam keadaan lemah sudah cukup membuat putus asa, hatinya seakan pecah menjadi ribuan keping. Dirinya yang tak dapat menyelamatkan istrinya yang dalam keadaan bahaya membuat Takatora ingin menghukum dirinya sendiri. Tak cukup hanya dengan mengumpat kebodohannya di dalam kepala. "...Tidak, aku harus berterima kasih. Kalau begitu aku harus segera kembali ke kapal."

"Baik."

Takatora pun langsung pergi, tatapannya berubah sendu tatkala memerhatikan wajah tidur sang istri di pangkuannya. Matanya sedikit membengkak, dia pasti menangis saat sendirian di dalam sana. Tangan mungilnya menggenggam lonceng kecil. Takatora tahu, dia menggenggamnya karena percaya dan tak henti mengharapkan dirinya datang untuk menyelamatkannya.

"...Takatora-sama."

Mendengar bisikan kecil itu, seketika Takatora berhenti berjalan. Matanya masih terkunci memandang Suzu yang kini telah siuman.

Kedua matanya terlihat sipit hingga sedikit sulit untuk membuka lebar matanya yang masih lelah. Meskipun begitu, dia sangat menawan saat membuka matanya. Terlebih saat ia menyinggungkan senyuman kecil penuh syukur pada paras manisnya. Wajah itu selalu berhasil membuat hati Takatora hangat dan lapang.

Akan tetapi kenyataan bahwa Suzu ketakutan dan menangis saat dia terkurung sendirian. Dia pasti merasakan trauma yang mirip dengan saat dia terperangkap dalam kebakaran istana beberapa tahun lalu. Hanya memikirkan pengandaian jika ia dapat menyelamatkannya tepat waktu membuatnya terlihat bodoh. Seharusnya ia menyadarinya sejak awal.

Takatora tersenyum lembut. "Kau sudah berjuang keras, Suzu. Sekarang istirahatlah..."

Dia tampak begitu lega setelah mendengar suaranya. Terlebih mendengar pujian akan niat dan kerja keras Suzu yang ia lakukan demi membuat Takatora bangga padanya.

Suzu kembali memejamkan mata, meremas pelan dan membenamkan wajah ke jinbaori biru Takatora. Merasakan kehangatan suaminya seolah ia telah kembali ke tempat asalnya. Akhirnya dia tertidur dengan tenang di pangkuan Takatora. Pemuda itu tahu reaksinya tersebut menandakan keinginan untuk menyalurkan perasaan bahagia yang bermekaran di hati Suzu.

Awalnya Takatora mengira dia akan menangis. Tapi ketakutannya sejak ia terperangkap seorang diri telah sirna begitu saja. Meski begitu, Takatora masih belum bisa memaafkan dirinya sendiri.

Senyuman yang terukir pada wajah maskulinnya menghilang, ia menggigit bawah bibirnya dengan putus asa yang sulit ditaklukkan. Kemudian dia membawanya lebih dekat, mendaratkan kecupan singkat di atas kepala Suzu.

"Dan, maaf. Aku terlambat..."

-XXX-

-xxx-

-XXX-

A/N : Phew, rumit tapi untung jalannya udah ada di dalam kepala jadi lega bisa selesain chapter kali ini. Nulisnya agak buru2 jadi maaf kalau ada yang mengecewakan dan diksinya kurang.

Masih ada satu lagi lanjutan pertempurannya, harap aja bisa lebih cepat update. Yah tergantung kalau nanti saya udah dapet kerja jadi waktu bebas jadi berkurang orz.

Seingatku di wiki, Hideyoshi gak memimpin perang di Shikoku, gak kayak di game jadi yah aku ikutin yang sejarah tapi plotnya dari game lol.

Oke! Mind to review?