A/N : Yak balas ripiw!
RosyMiranto18
Blossom : Yak, prediksi bad end-nya aku kasih nilai seratus. *thumbs up* Tapi sebenarnya aku ngarepin jawaban 'bagaimana' Suzu mati... ekh. *dibekuin Takatora*
Scarlet : Soal shiro-baka, aku sengaja. Yoshitsugu yang duluan pernah manggil Takatora itu maniak kastil alias shiro-baka di drama cd Yozakuranite. Aku udah pernah kirim link buat donlot itu kan?
Suzu : Ah panah ya? Sejujurnya aku bisa membidik seperti shuriken, kunai, senbon atau sejenisnya tapi tidak termasuk panah, karena tanganku selalu bergemetar jadi kurasa tidak bisa. Terima kasih atas review-nya!
Hayashinkage17
Scarlet : Kimura siblings udah tau kok. Umm coba liat lagi ya owo
Blossom : Yokatta~ *ikutan wibu* Rasanya buat Kage-senpai puas dengan gimana tiap karakter di chapter 22 ya. Habisnya di chapter sebelumnya Hana dan Nagachika apalagi Chie baru dapat sedikit bagiannya lol.
Suzu : Ya, aku pastikan untuk tidak akan melupakannya!
Takatora : *elus kepala Suzu* ...Terima kasih atas review-nya.
-xxx-
Disclaimer : Samurai Warriors belongs to KOEI. OCs and story plot belongs to me. Kimura Siblings belongs to RosyMiranto18. Kobayakawa Shinhana, Nomi Nagachika and Kikkawa Chie belongs to Hayashinkage17. Cover milik saya sendiri, udah diganti.
Warning : Mainly OC x Tōdō Takatora. OOC yang mungkin tidak disengaja atau sengaja demi alur cerita, SERING typo, diksi dan narasi yang tidak baku, suram dan abal. Saya usahakan ceritanya bisa disusun berdasarkan dari game dan atau sejarahnya. DON'T LIKE DON'T READ NO FLAMES. REVIEW PLEASE!
-xxx-
-XoX-
Bell of the White Hare
-XoX-
CHAPTER 23
Close Our Wounds
-XoX-
Setelah mendeklarasikan kemenangan yang jatuh pada pihak Hashiba serta sekutunya, Mōri. Hidenaga bersama Kanbei dan pengawalnya kini tengah mengadakan pertemuan singkat dengan kepala klan Chōsokabe, Motochika. Tentunya dalam era peperangan, sebagai pihak yang kalah patut mematuhi perintah pihak yang menang.
Salah satunya yaitu putri dari Akechi Mitsuhide akan berada dibawah pengawasan Hashiba. Chacha telah meyakinkan hal itu pada Hideyoshi sebelum keberangkatannya.
"Kau sudah mengemas semua barangmu?" tanya Chacha pada gadis belia bersurai keunguan yang bersamanya, Gracia.
"Umu..." Dia mengangguk, lalu kepalanya menunduk. Tersirat jelas sedih pada wajahnya dan tak mau menerima bahwa dirinya akan meninggalkan klan yang selama ini telah merawatnya dengan baik.
"Mau sampai kapan kau memasang wajah seperti itu? Tidak ada gunanya untuk menyesalinya." Meski cara berbicaranya terkesan sopan, namun kata-katanya sama sekali tak diisi dengan keinginan untuk menghibur suasana hati gadis tersebut.
Melihat Gracia semakin menurunkan kepala, gadis berambut pirang itu menghela napas panjang. "Katakan, apa yang menganggu pikiranmu?"
Gracia mengangkat sedikit kepalanya. "Aku... tak sempat mengatakan apapun pada Motochika dan shishō."
"Tak perlu khawatir. Saya sudah tahu apa keputusan Hideyoshi-sama nanti. Saya yakin kau masih bisa bertemu dengan mereka lagi saat peperangan berikutnya." Dia memang bukan ingin menghiburnya, Chacha hanya mengatakan kenyataan. Sekarang pun wajahnya tak memancarkan senyuman meyakinkan, yang seperti Gracia harapkan. Tapi dia sudah bisa memaklumi bagaimana kepribadian Chacha.
"Sungguh?"
Chacha menjawab dengan anggukan.
Raut wajahnya berubah drastis berganti dengan senyuman lebar yang terpapar di wajah Gracia. "Syukurlah!"
Chacha membisu sejenak, kedua alisnya naik begitu melihat pancaran wajah teman lamanya. Dia memainkan helaian rambut pirang yang di sisi kanan wajahnya setelah mengalihkan pandangan. "...Baiklah." Chacha menurunkan tangannya. "Kuberi kau izin untuk bertemu dengan mereka, tapi besok pagi kau harus sudah berada di kapal. Paham?"
"Sungguh!? Aku boleh bertemu dengan mereka sekarang?" tanya Gracia kegirangan. Lagi, Chacha menjawab dengan anggukan. Tapi kali ini sorot matanya melembut. "Terima kasih, Chacha! Kau memang baik!" Gracia langsung menyusupkan kedua tangannya di sekitar leher Chacha dengan gembira.
"H-Hei..." desah Chacha tertegun, berusaha melepas pelukan.
"Baiklah! Aku akan memanggil Natsuko dulu! Sampai jumpa nanti, ya, Chacha!" Baru beberapa langkah ia hendak meninggalkan kapal, Gracia berhenti, berbalik menghadap putri dari klan Azai tersebut. "Chacha, sebelum itu bolehkah aku bertanya sesuatu?"
Chacha mengerjapkan mata begitu melihat raut wajah gadis berkuncir dua itu. Pertanyaan yang berkumpul di manik hijaunya membuat Chacha sedikit penasaran.
"Kenapa kau rela datang sejauh ini untuk menjemputku?"
Kedua alisnya kembali naik setelah mendengar pertanyaan yang dilontarkan Gracia. Namun dengan cepat ia mengalihkan pandangan. "...Apa saya harus mengatakannya?"
Gracia tertawa kecil, dia menyadari jawabannya hanya melihat dari air muka yang tertulis di wajah Chacha. "Tidak. Aku sudah tahu jawabannya. Terima kasih, Chacha!" ujar Gracia senang.
Memang Chacha belum bisa mengakuinya secara langsung, namun jika diingat kembali masa yang mereka habiskan bersama dahulu, sudah menumbuhkan jawaban.
"...Sebaiknya kau pergi sekarang," ucap Chacha tanpa menoleh kearahnya.
"Baiklah! Aku akan segera kembali, ja!"
Gracia pun bergegas turun dari kapal, bertolak meninggalkan Chacha sendirian. Manik kuning kecoklatnya berpindah melirik kearah Gracia yang berlarian, begitu antusias untuk bertemu kembali dengan orang-orang yang telah merawatnya sejak kepergian ayah kesayangannya.
Sorot mata Chacha kembali melembut. "Walau orang yang amat kau sayangi sudah pergi. Tampaknya kau telah menemukan tempat yang baru, ya."
Namun dengan sekejap, sepasang pelupuk matanya menurun. Seisi benaknya berkelana pada masa pahitnya. "Sedangkan aku..." Chacha membisu, tenggelam ke dalam renungan sembari memandang laut yang terpantul oleh cahaya malam.
-XXX-
Sementara itu di kapal yang berbeda, dalam salah satu ruangan. Tampak seorang gadis bersurai putih keperakan tengah menemani suaminya yang terlelap.
Suzu baru saja selesai merawat luka pada punggung Takatora. Bisa dikatakan ia beruntung, karena saat itu reruntuhan kayu bakar hanya membentur punggungnya, tak mengeluarkan banyak darah. Bukan menindih hingga tak bisa bergerak seperti Suzu alami beberapa tahun yang lalu. Namun itu tidak mengubah kenyataan bahwa suaminya terluka.
Bekas luka yang lain masih banyak membekas di tubuhnya. Maupun itu bekas sabetan, tusuk dan tembak hingga diantara lukanya tersebut harus dijahit. Itu karena Takatora yang selalu menempatkan dirinya di paling depan dalam medan perang. Suzu tak mungkin bisa menyangkal maupun menyalahkan Takatora. Menyibukkan diri sekaligus menorehkan nama dalam pertempuran memang sudah diterapkan di hati mereka para pejuang yang bertempur. Selain itu, beberapa diantara lukanya juga disebabkan karena kesalahan dirinya, menurut Suzu.
Suzu menggeleng kencang, membuang pikiran buruk itu sejauh mungkin. Takatora takkan senang jika dirinya masih saja meratap. Selama mereka berdua masih hidup, itu sudah cukup. Padahal ia sudah pernah mengatakan itu pada Takatora.
Kemudian Suzu mengunci pandangannya memerhatikan wajah tidur suaminya. Tukang tidur, pikiran itu membuat Suzu tertawa geli. Kerutan diantara alisnya pun tak terlihat. Rambut hitam legamnya tak lagi disisir rapi keatas, kini terlihat hampir menutup tengkuknya.
Suzu mulai mengusap rambutnya dengan lembut, sambil berharap sentuhannya tak membuatnya terbangun. Namun tangannya berhenti membelai tatkala mendengar suara ringisan perih. "Tuan...?" panggil Suzu pelan.
Raut wajahnya tampak kesakitan, namun Suzu tahu itu bukan sakit karena lukanya saja. Karena Suzu sudah sering melihat mimik wajah yang sama seperti sekarang.
Dia bermimpi buruk, dia ingat Takatora pernah menyebut nama mereka― mendiang majikan yang amat dia hormati dan percayai. Terkadang pun ia juga pernah menyebut nama Suzu.
Suzu menjalinkan tangannya dengan milik Takatora. Tangannya begitu besar namun dingin. Suzu sudah terbiasa, setidaknya ia dapat menenangkan dan menghangatkannya. Memerhatikan wajah sang suami membuat Suzu menyempitkan kedua alis, bibirnya dirapatkan sambil menahan sesak di dada.
Tapi Suzu berusaha untuk tetap tersenyum, tak ingin sendu menyinggahi hatinya ikut tersambung pada Takatora, itu hanya akan semakin memberatkannya.
Takatora tak pernah menceritakan padanya apa yang merasuki saat tidurnya, bahkan dia mau berbohong mengatakan bahwa dia sudah lupa. Jelas sekali dia tak ingin Suzu ikut memikirkannya. Dia selalu seperti itu, hal sepele pun terkadang tak ingin membuat istrinya ikut memikirkannya. Tapi itu tak berhasil, Suzu tak bisa menahan rasa penasarannya.
Sakit yang terukir di wajahnya juga melukiskan rasa penyesalannya yang amat terdalam. Suzu sangat tahu itu. Kehidupannya selalu abu-abu. Bahkan di dalam mimpinya pun dirinya tak dibiarkan tidur dengan tenang.
Mengingat jalan kehidupannya murni sebatas demi menaati perintah mendiang majikannya yang telah tiada. Namun Takatora tak pernah merasa keberatan, malah dia bersedia mengemban tanggung jawab itu dengan segenap jiwa.
Meski tak jarang menganggap dirinya sendiri sebagai yang terburuk, bahkan ia pernah mengatakan tak memiliki harapan untuk dirinya sendiri di masa depan. Namun niat Takatora demi menorehkan nama, di kala ia sibuk merancang istana pun terkadang dapat mengubur hal itu, perlahan-lahan membuatnya merasa menjadi orang yang lebih berguna.
Itu merupakan salah satu alasan Suzu tak ingin membiarkan dirinya berjuang sendirian. Setidaknya ia dapat di sisinya, menggandeng tangannya seraya menuntun dan memberikan warna dalam jalan kehidupannya. Karena Suzu yakin mereka tidak akan senang jika Takatora hanya hidup sebatas mematuhi perintah mereka saja.
Jika Takatora berusaha dengan segenap jiwa akan hal itu, maka Suzu juga akan berjuang dengan segenap jiwa demi memberikan makna baru dalam tiap langkahnya.
Takatora akhirnya membuka mata perlahan sembari mengumpulkan nyawa. Tubuhnya yang berbaring terlengkup diatas tikar hanya dapat menolehkan kepala ke samping agar dapat bertatapan dengan gadis bersurai perak itu. Lalu pandangannya teralihkan melihat tangannya terjalin dengan milik Suzu. Dia mengerjapkan mata sembari mencoba menebak mengapa tangan mereka saling bertautan, tapi sayang Takatora tak mendapatkan jawaban.
"...Sudah berapa lama aku tertidur?"
"Hm... sejak kita kembali ke kapal Takatora-sama langsung tertidur. Perangnya sudah lama selesai. Kita menang, lho, Takatora-sama. Tuan juga sudah berjuang keras. Otsukaresama desu," jawab Suzu tersenyum.
Takatora menghela napas panjang, ia sempat meringis kesakitan sebelum berusaha bangkit. Luka pada punggungnya masih terasa sakit menggerayangi tubuhnya. Dengan segera Suzu membantu sang suami mengubah posisi agar dapat duduk. Takatora berusaha menyeimbangkan dan tak terlalu menyandarkan tubuhnya ke Suzu.
"...Kenapa kau tidak membangunkanku?"
"Habisnya Hidenaga-sama menyuruhku untuk tidak membangunkan Tuan, lagipula Takatora-sama 'kan sedang terluka. Kalau Tuan bertanya dimana Hidenaga-sama sekarang, beliau sudah lama berangkat bersama Kanbei-dono ke Kastil Ichinomiya untuk bernegosiasi," jelas Suzu. "Jadi Takatora-sama istirahat saja, ya? Jangan memaksakan diri! Tidur, tidur!" Suzu berusaha mendorongnya lagi untuk berbaring.
"Tidak, aku sudah cukup lama beristirahat."
Kedua alis Suzu bertaut tak suka. Meskipun sudah banyak bekas luka di sekujur tubuhnya dan mengaku ia sudah terbiasa pun, itu tidak mengubah kenyataan kalau dia merasakan perih pada lukanya. Dia memang keras kepala.
"Lagipula luka ini tak sebanding dengan milikmu."
"Eh?" Suzu langsung mengangkat wajahnya. Poninya yang panjang membuat Suzu sedikit kesulitan untuk melihat sorot matanya. Dengan perlahan, Suzu menurunkan kedua tangannya dari dada Takatora yang berbalut perban. Hening menyambut kedua pihak.
Takatora tak pernah tahu persis apa yang Suzu rasakan saat dirinya terperangkap dalam kobaran api dahulu. Seberapa banyak kayu bakar yang menghimpitnya, seberapa sesak napasnya, seberapa besar rasa sakit yang menusuk kulitnya dan seberapa putus asa dirinya saat itu.
Sedangkan Takatora tak merasa putus asa setiap mendapat luka. Sebagai ksatria, luka adalah makna terhormat dimana seberapa besar ia berjuang demi menorehkan nama. Bahkan luka yang menggerayangi tubuhnya sekarang sekadar sebuah benturan. Tak seperti Suzu yang sudah merasakan panasnya kayu bakar yang menghimpit tubuh rapuhnya.
Luka yang mereka miliki amat berbeda.
"Waktu itu, kau terperangkap seorang diri. Aku tak dapat... bukan, aku menyerah menyelamatkanmu padahal kau sangat membutuhkan pertolongan. Aku selalu saja terlambat. Semua yang berharga bagiku selalu saja terselip di jari-jariku. Andai saja aku bisa sempat menyelamatkanmu, kau tidak akan mendapatkan luka itu dan―"
Kalimat Takatora terpotong, lengan ramping Suzu melingkar di lehernya. Membenamkan wajah di pundak lebar pria itu, surai peraknya terasa sedikit menggelitik menyapu kulit Takatora.
"Takatora-sama. Aku memang tidak memintamu untuk melupakannya. Tapi kumohon jangan merasa bertanggung jawab. Jangan berpikir kalau apa yang telah Tuan lakukan salah." Suzu memejamkan mata. "...Tinggalkan saja semuanya seperti itu tidak apa, kok. Nee, Takatora-sama?"
Tak ada jawaban, kedua kelopak mata Takatora tertutup, lalu kembali terbuka. Ia menghela napas panjang, mencoba untuk menenangkan pikirannya yang sempat kalut. Lengan kuatnya melingkar di pinggang Suzu, membalas pelukannya. Sedangkan sebelah tangannya menahan punggung kepala Suzu. Tiap helai rambut peraknya menyusup diantara jemarinya. Dengan sekejap kehangatan yang mereka bagi membuatnya dapat bernapas dengan lega.
Dan lagi-lagi ia tak sengaja memperlihatkan kelemahannya pada istrinya.
Jika memang mengubah masa lalu bisa mereka lakukan. Suzu selalu percaya Takatora bisa mengubahnya. Tapi mungkin saja bagaimana mereka mengisi hari-hari itu akan berbeda dengan masa yang sekarang.
Namun itu artinya mereka juga akan melupakan masa yang sekarang. Bahkan mungkin, Takatora tidak akan menjadi Takatora yang sekarang, yang Suzu kenal. Dan begitu pula dengan Suzu, mungkin ia menjadi orang yang berbeda dari yang sekarang. Melarikan diri lebih mengerikan daripada menerima takdir.
Satu-satunya hal yang amat berharga baginya masih disini, berada di pelukannya.
Dia benar. Ini sudah lebih dari cukup.
Lagi, Suzu telah membimbing tangannya untuk menutup luka itu.
"...Ya, maaf," bisiknya.
"Jangan minta maaf," jawab Suzu lembut sembari melepas pelukan. Di saat pandangan mereka bertemu, Suzu tersenyum. "Baka yarou."
Takatora mengerjapkan matanya kaget. Melihat reaksinya, Suzu tertawa kecil. Kebiasaan suaminya setiap mengatakan 'bodoh' sudah mulai mencemari cara bicara Suzu yang padahal biasanya terkesan sopan. "Aku selalu ingin mengatakan itu."
Senyuman khasnya dengan cepat menghilang, berganti dengan wajah cemberut. "Selain itu, baru saja Takatora-sama bilang lukaku tak sebanding dengan milik Tuan? Kurasa itu terbalik. Malahan luka Takatora-sama yang tak sebanding dengan punyaku." Lalu Suzu menuding tubuh Takatora. "Lihat, bekas sayat dimana-mana..."
Takatora masih membisu. Ia merasa mereka masih salah menanggapi luka yang mereka miliki. Bukan, sekarang Takatora bukan membicarakan luka yang membekas di tubuh. Namun di hati mereka.
Dirinya teringat kejadian di Kitanoshō yang merenggut nyawa istri dari mendiang majikan pertamanya, Oichi. Saat itu juga dirinya pun hanya bisa melepas tangisan yang berbalut penyesalan. Hanya bisa berharap segalanya dapat kembali sebagaimana seharusnya. Tapi harapan itu tak terkabulkan.
Sedangkan dalam kasus Suzu, tatkala Takatora mencoba menyelamatkannya, ia mendengar jeritan. Tangisan penyesalan yang berasal dari istrinya sendiri. Mengapa dikatakan 'penyesalan', dia sudah memiliki jawaban yang pasti.
Luka lamanya kembali terbuka.
...benar juga. Mengapa Takatora baru menyadarinya sekarang?
Mereka memiliki luka yang mirip, malahan bisa jadi dikatakan sama. Luka pada hati mereka sama sekali bukan tidak sebanding.
Suzu menaikkan alis kebingungan begitu melihat sengiran tipis terbentuk di bibir Takatora. "...Entahlah. Tapi kurasa kita sudah sama."
"Masa'?" Suzu memiringkan kepala bingung.
"Kenapa kau protes? Bukankah itu lebih baik? Atau kau ingin menentukan siapa yang menang banyak memiliki bekas luka?" dengus Takatora.
"B-Bukan begitu! Tapi yang bilang tidak sebanding itu duluan 'kan Takatora-sama. Makanya aku..." jawab Suzu mencebik.
Takatora terkekeh. "Kau mengenaiku kali ini."
Seketika manik merah sang istri setengah melebar, Suzu mengerjapkan mata tak karuan, tak menyangka Takatora akan langsung mengakuinya. Dia mengatakannya seolah mengejek dirinya sendiri.
Telapak Suzu hampir menutup mulutnya, tak sengaja ia melepas tawa. Kehangatan menyusup di dalam ruangan tersebut, diisi dengan tawa kecil dan senyuman tulus terhias di wajah kedua pihak. Meski mereka tahu kehangatan itu akan berlangsung sebentar, mereka pasti bisa menemukannya lagi kelak.
"Mau jalan-jalan sejenak?" Takatora mengulurkan tangan pada Suzu setelah bangkit.
Dengan senyuman yang masih mengembang pada paras manisnya, tangan kecil itu menerima uluran tangan Takatora.
Ya. Selama hati mereka tetap bersatu. dengan langkah mereka yang selaras, badai bahkan lautan air mata pun akan mereka lewati bersama.
-XXX-
"Onii-chan! Dengar, Gracia-chan mengajakku pergi ke onsen, lho! Boleh 'kan, kalau aku menerima ajakannya?"
Kesibukan Aki memeriksa kerusakan kapal tertunda begitu sang adik memohon dengan mata berbinar. Aki tersenyum tipis. "Tentu. Bersenang-senanglah."
Natsuko meloncat kegirangan. "Bagus! Sekarang aku akan mengajak Suzu-chan, Hana-chan, dan Chie-chan!" Natsuko mengepalkan kedua tangannya dengan semangat. "Baiklah, sampai jumpa nanti, Onii-chan!"
Aki melanjutkan pekerjaannya kembali setelah memerhatikan adiknya yang berlarian masuk ke kapal lain. "Dasar Koshōshō itu, sekarang dia merusak kapalku dan membuatku sibuk dengan pekerjaan ini. Enaknya kalau sudah bisa beristirahat dalam onsen," keluh Aki menghela napas panjang.
Sementara itu Natsuko baru saja sampai di dalam kapal, ia menolehkan kepalanya sembari memerhatian sekitar. "Oh iya, pasti Suzu-chan sedang merawat luka suaminya sekarang." Natsuko menyengir tipis mencoba menebak apa yang tengah Suzu dan suaminya lakukan saat ini.
Natsuko langsung berlari masuk ke dalam salah satu ruangan. "Suzu-chan!" Tapi yang di dapatinya disana hanyalah ruangan kosong. "Lho? Tidak ada? Kemana mereka pergi?" Natsuko langsung menutup ruangan itu dan keluar mencari tempat lain.
Manik hijaunya langsung berpindah kearah pesisiran. Natsuko tersenyum lebar begitu menemukan orang yang ia cari, gadis berambut perak itu tengah berjalan sembari memerhatikan laut bersama seorang pria. Tanpa berpikir panjang Natsuko segera turun dari kapal dan mengejarnya.
"Suzu-chaaan!" teriak Natsuko kegirangan sambil mengagetkannya dengan memeluknya dengan erat.
"N-Natsuko!? Tunggu―uwaa!" Suzu pun ambruk karena tak sempat menyeimbangkan tubuhnya akan kontak dadakan temannya sehingga mereka berdua tercebur ke tepi pantai.
"Yah, basah!" Natsuko mencebik kesal sambil meremas seragamnya yang basah kuyup. "Payah, apa boleh buat. Lagipula kita mau―"
"Dasar bodoh!" Pria yang bersama Suzu langsung menjitak kepala Natsuko. Spontan Natsuko meringis kesakitan sambil memegang kepalanya. "Apanya yang 'apa boleh buat'!? Kau juga sudah membuat Suzu ikut basah kuyup karena kecerobohanmu!" bentaknya.
"Jahatnya! Jangan pukul kepalaku, dong―eh? Maaf, Tuan siapa?" tanya Natsuko kebingungan, memperhatikan pria bertubuh tegap dengan rambut hitamnya yang agak panjang hampir menutup tengkuk lehernya. Namun aneh bagi Natsuko, ia mengenakan jinbaori dan tenugui yang sama dengan milik Takatora. Tetapi Natsuko belum sadar kalau pria itu memang Takatora. "Sepertinya orang ini mencoba untuk meniru suamimu, Suzu-chan..."
"Kau bilang apa...?" Takatora mengernyitkan alis semakin jengkel. Seketika Natsuko menjarak darinya, bergidik ngilu saat menatap sorot tajamnya yang terpatik api kemarahan.
Dengan panik Suzu langsung bangkit untuk menenangkannya. "T-Takatora-sama, aku tidak apa kok! Aku bisa mengganti pakaianku jadi―"
Tak sempat selesai bicara, Natsuko langsung menggandeng lengan Suzu. "Tidak perlu, Suzu-chan!"
"Hah?" Sepasang sejoli itu setengah kaget mendengar ujarannya, langsung menolehi Natsuko.
"Gracia-chan mengajakku ke onsen terbaik di tempat ini! Katanya aku boleh mengajakmu! Lalu dia bilang di onsen itu sangat cocok untuk menyembuhkan luka juga, lho! Ah, kalau Suzu-chan mau merebus telur juga bisa!"
"O-Oh, menyembuhkan luka, ya? Kalau begitu Takatora-sama juga bisa ikut―"
Takatora menaikkan sebelah alisnya mendengar jawaban Suzu.
"Tidak boleh! Laki-laki tidak boleh ikut, hanya perempuan!" potong Natsuko sambil menyilangkan tangannya. "Ayo, Hana-chan dan Chie-chan juga harus kita ajak!" jelas Natsuko sambil menyeret Suzu.
"E-Ekh..." Suzu hanya bisa pasrah, dia hanya bisa tersenyum canggung sambil mengisyaratkan pada Takatora untuk meminta izin pergi bersama Natsuko.
Takatora menghela napas panjang. Dia mengira dia akan mendapatkan waktu luang untuk ia habiskan bersama istrinya sampai Hidenaga kembali, tapi tampaknya tidak untuk malam ini.
Sekarang pun tak ada tugas yang diserahkan padanya. Terpaksa, dia memutuskan untuk berjalan-jalan sampai ia menemukan sesuatu untuk menghalau kebosanannya.
Sepanjang jalan, ia memperhatikan kondisi kapal. Para prajurit tampak sibuk memperbaiki kerusakan dan ada juga yang tengah menyiapkan perbekalan. Ada pula yang tengah merawat luka bahkan sudah ada yang terlelap. Wajar, serangan dadakan saat pertempuran di pesisir tadi benar-benar menguras tenaga mereka.
Beruntung dengan ratusan kapal yang dikirim, hanya terdapat sedikit kerusakan pada beberapa kapal. Walaupun ada juga beberapa diantaranya tenggelam karena ledakan akibat ulah pasukan Chōsokabe.
Pandangannya beralih begitu melihat Aki yang tengah memperbaiki salah satu kapal dengan jeli, dibantu oleh para prajuritnya. Ia juga tampak tak menyadari keberadaan Takatora yang menghampirinya.
"Kastil, lalu sekarang kapal... rupanya kau memiliki bakat yang berguna. Pantas saja kau terlihat selalu sibuk. Gokurou."
"Hmph! Kau baru menyadarinya? Sekarang kau takkan bisa lagi merendahkanku, Takato―" Begitu Aki berbalik, ia berhenti berbicara. Matanya memperhatikan lawan bicaranya dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Takatora tampak muak melihat ekspresi muka Aki yang sama dengan Natsuko sebelumnya. Mulutnya terbuka begitu akhirnya dia mendapatkan jawaban yang muncul di kepalanya. Kepalan tangannya langsung menepuk telapak sebelahnya. "Oh! Kukira siapa, ternyata kau rupanya, ya, Takatora."
"Kau dan adikmu sama saja. Apa yang membuatmu tidak mengenaliku...?" gumam Takatora.
Aki kembali memusatkan pandangannya sembari melanjutkan perbaikan. "Oh, ayolah. Jangan memasang tampang kusut seperti itu. Kau sedang bosan makanya datang kemari karena istrimu diseret Natsuko, 'kan?"
"Memang," jawab Takatora singkat setelah duduk di jenjang kapal.
"Eh, tidak kusangka kau mengakuinya," komentar Aki heran. "Lalu, kau mau protes padaku?"
"Apa aku terlihat seperti itu?"
"Hei, jangan bertanya balik." Aki kemudian menghela napas, dia tampak sedikit ragu untuk berbicara. "Omong-omong, aku belum memberitahukan alasan kenapa aku tidak ingin Natsuko terlibat dalam perang ini..."
"Tidak perlu dijelaskan, aku tidak tertarik."
"Setidaknya dengarkan aku dulu, oi! Aku tidak akan bisa tenang kalau kau tidak mau mendengarkan!" bentak Aki kesal.
"Apa tidak ada orang lain yang mau mendengar ceritamu?" cetus Takatora datar.
"Ugh." Aki tertegun seketika. "Hei, ucapanmu itu agak menyakitkan. Bisakah kau diam dan dengarkan alasanku?"
Takatora menghela napas berat, terpaksa. "Baik, terserah."
Sambil melanjutkan pekerjaan, Aki mulai bicara. "Kau mungkin sudah sadar kalau aku memiliki ikatan tertentu dengan Chōsokabe Motochika. Saat pertempuran Asan, kami saling berkenalan. Tetapi pada tahun 1575, pertempuran Sungai Shimanto antara Chōsokabe dan Ichijou. Natsuko mengalami koma selama tiga tahun akibat ulah selir Motochika. Dia menyebut dirinya sebagai wanita pembawa sial. Awalnya aku berpikir semua itu adalah kesalahan wanita itu, tapi aku keliru."
Dengan wajah kesakitan tatkala mengingat peristiwa itu, Aki mengepalkan sebelah tangannya. "Setelah mencari kebenarannya, ternyata Natsuko menjadi korban salah tembak oleh pasukan Chōsokabe. Aku begitu murka pada Motochika yang sudah hampir membuat nyawa adikku nyaris dalam ambang kematian." Aki menghela napas.
"Karena aku tidak ingin Natsuko tahu kebenarannya terlalu cepat dari siapapun, makanya aku melarangnya untuk ikut denganku ke Shikoku. Aku khawatir kalau wanita itu... atau Motochika mengatakannya terlalu cepat, dan itu akan menghancurkannya. Membayangkan bagaimana reaksinya nanti, aku belum siap untuk itu. Jadi aku menahannya hingga urusanku dengan Motochika selesai."
Aki lalu menoleh kearah Takatora yang belum berkomentar apapun, dengan postur khasnya melipat kedua tangan di depan dada. Tangan Aki langsung berhenti bekerja. "Oi, setidaknya katakan sesuatu."
"Apa yang harus kukatakan? Kau hanya butuh telingaku untuk mendengar ceritamu, bukan?" jawab Takatora dengan ekspresi minim.
"...Kau mau kuhajar?" gerutu Aki semakin jengkel begitu mendengar jawaban tak acuhnya.
"Hmph, tapi pada akhirnya kau membiarkan adikmu pergi bersamamu," dengus Takatora.
"Apa boleh buat, 'kan? Kuakui, aku yang sebagai kakaknya sulit mengatasi sifat keras kepalanya itu." Aki menggaruk punggung kepalanya yang tidak gatal.
"Lalu, itukah sebabnya negosiasi yang seharusnya menjadi tanggung jawabmu itu gagal?"
"Bukan!" bentak Aki menyangkal. "Negosiasi itu nyaris mustahil untuk berhasil. Kebenaran itu hanya sekadar paku terakhir dalam kegagalan negosiasinya."
"Begitu, 'kah." Takatora tak berkomentar apapun lagi.
Jika dirinya berada di posisi Aki, mungkin Takatora juga akan melakukan hal yang sama. Namun dia tahu, sekeras apapun dia berjuang untuk menutupi kebenarannya. Lama atau tidaknya mereka akan mengetahuinya. "Tapi tetap saja, aku tidak paham mengapa kau mau repot-repot menceritakan ini padaku."
"Oh, kurasa itu karena..." Aki mengusap tengkuk. "Yah, bagaimana mengatakannya ya...? Kurasa aku sudah bisa menaruh kepercayaan padamu."
Takatora mendengus pelan, kemudian berdiri. "Hmph, kau tak perlu menyia-nyiakan kepercayaan pada orang sepertiku."
"Hah? Kenapa kau berkata begitu?"
Jeda sejenak, Takatora memalingkan wajah. "...Entahlah. Tapi yang kutahu, kepercayaan yang kau tanamkan padaku akan menyulitkanmu di masa yang akan datang."
Aki terdiam, menaikkan alis sembari mencerna perkataan Takatora.
"Tapi aku memegang kepercayaanmu itu, setidaknya untuk sekarang." Takatora pun berbalik pergi meninggalkan Aki.
"Oi, Takatora!" Takatora berhenti dan menoleh ke belakang. "Hal semacam itu takkan menghambatku, tahu!"
Takatora hanya menaikkan bahu kemudian pergi meninggalkan Aki. "Ah, begitu 'kah? Sebaiknya pertama-tama kau harus selesaikan pekerjaanmu terlebih dulu. Pastikan kau bisa menyelesaikannya sebelum keberangkatan kita besok pagi," jawab Takatora tanpa menoleh ke belakangnya.
"Argh, sial! Aku malah menyia-nyiakan waktuku yang sempit ini!" Aki pun bangkit, bergegas melanjutkan perbaikan di kapal lain.
-XXX-
Di sisi lain, Suzu yang diajak Natsuko untuk berendam bersama di pemandian air panas terbaik di Shikoku, setidaknya itu yang dijelaskan Natsuko padanya, baru saja selesai melepas pakaian. Shinhana dan Chie yang juga telah diundang tengah membersihkan diri sebelum berendam ke dalam kolam.
Pandangan Suzu mengarah dengan seorang gadis bersurai keunguan yang tengah berbincang dengan wanita berambut afro. Ia baru tahu kalau gadis itu memiliki ikatan tertentu dengan Chacha. Saat perang berakhir, kebetulan Suzu melihat keakrabannya dengan Chacha.
Tak sengaja memindahkan pandangan ke Koshōshō, dengan sengiran tipis wanita itu mengedipkan sebelah matanya. Suzu langsung mengalihkan pandangan setelah mendapat kontak mata singkat tersebut dari Koshōshō.
Memang saat ini kedua belah pihak dalam gencatan senjata. Tapi Suzu merasa sedikit canggung mengingat dirinya sempat berhadapan dengan wanita itu. Walau begitu Suzu tahu yang ia lakukan tidaklah salah, hartanya yang sempat direbut oleh Koshōshō telah ia dapatkan kembali.
Setelah selesai membantu Natsuko menggisikkan punggung, kini giliran Natsuko yang menolong Suzu.
"Maaf, ya, Suzu-chan. Aku tidak pernah tahu kalau kamu memiliki bekas luka seperti ini. Mengerikan..." Natsuko merasa takut untuk menyentuh luka bakar pada punggung Suzu yang sudah bertahun-tahun, tak ingin Suzu akan kesakitan.
Suzu tersenyum tipis. "Tidak apa kok. Tapi sejujurnya, aku tidak begitu menyesalinya."
"Eh? Kenapa?" Natsuko langsung menatapnya penuh pertanyaan.
Sorot mata Suzu melembut. "...Awalnya aku memang selalu takut melihat luka ini." Sebelah tangan Suzu menyusup ke punggungnya, meraba sembari merasakan lekukan tipis pada luka tersebut. "Tapi setelah melewati masa itu, aku sudah mendapatkan sesuatu yang lebih berharga. Jadi aku sama sekali tak menyesal meski tubuhku seperti ini. Setidaknya aku masih bernapas, dengan demikian aku dapat melindungi hal itu dengan segenap jiwaku."
Natsuko mengedipkan mata, menatap Suzu seraya mencoba mencerna maksud perkataan temannya. Begitu dia mulai memahaminya, senyuman simpul terukir pada wajah gadis bersurai merah jambu itu. "...Begitu, ya! Ah, itu memang Suzu-chan yang kukenal. Sekarang wajahmu terlihat berseri dari biasanya, lho!" sahutnya sembari menyusupkan lengannya disekitar bahu Suzu, memeluknya dari belakang. Menekan tubuhnya yang tak dibalut sehelai kain ke punggung Suzu.
Suzu berjengit kaget. "Uwaa! N-Natsuko, tunggu sebentar...! D-dadamu...!"
"Eh? Suzu-chan kenapa?" Natsuko langsung melepas pelukan dan menatapnya bingung.
"...T-Tidak. Aku hanya..." Begitu Suzu menoleh ke belakang, sekilas mata Suzu tak sengaja terkunci melihat tubuh bagian atas Natsuko. Meski tubuhnya sedikit lebih pendek dari Suzu, tetapi buah dadanya lebih besar darinya. Suzu langsung berbalik memunggunginya. "...Ini tidak adil," keluh Suzu menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"S-Suzu-chan, kenapa kamu malah tiba-tiba murung!?" tanya Natsuko panik. "A-Ayo kita berendam sekarang! Suzu-chan pasti masih kedinginan, 'kan?"
Setelah membilas tubuhnya, dengan hati-hati agar tak terpeleset mereka berjalan dengan pelan menuju kolam.
"Wah... rasanya nyaman sekali," lirih Suzu setelah memejamkan matanya, seakan menyuruh tubuhnya untuk meresapi air hangat dimana ia berendam.
"Enak, ya!" ucap Natsuko kegirangan.
"Aku benar, 'kan?" ucap Gracia senang begitu melihat ekspresi mereka mulai rileks.
"Ya, tak ada yang lebih baik selain berendam. Beban di pundakku rasanya mulai hilang," ucap Koshōshō sambil meregangkan kedua lengannya keatas.
"Tapi, apa tidak masalah jika kami juga ikut diundang?" tanya Shinhana sedikit enggan.
"Hana-chan bicara apa sih? Hana-chan dan Chie-chan adalah temanku. Tidak apa-apa kok! Aku senang kalian ikut menemaniku kesini!" jawab Natsuko tersenyum lebar. "Ditambah, aku juga senang bisa memberanikan diri pergi ke Shikoku. Aku bisa bertemu dengan Gracia-chan lagi! Tapi aku tidak paham kenapa onii-chan bersikeras ingin menahanku di Osaka."
"Ara, kamu tidak tahu? Sudah jelas, bukan? Kalau dia..." Seketika Koshōshō berhenti berbicara.
"Eh, apa?" Natsuko memandang penuh pertanyaan ke Koshōshō.
Koshōshō membisu sejenak, lalu mendengus geli. "Bukan apa-apa."
Gracia menghela napas. "Tapi sayang sekali Chacha menolak ajakanku."
"Kau bisa mengajaknya lain waktu, Warawa-chan," hibur Koshōshō sembari mengusap kepalanya.
Manik kelabu Koshōshō berpindah ke Suzu yang masih membisu, merasa canggung untuk angkat bicara. "Omong-omong. Kamu, sekarang kita sudah menjadi rekan. Apa kamu menaruh dendam padaku?" ucap Koshōshō tak senang memandang Suzu yang hanya membisu di depannya.
"Um... maaf. Tapi aku tidak bermaksud begitu kok. Hanya saja..."
"Kau baik-baik saja, 'kan, Suzu-san?" tanya Shinhana cemas.
Suzu berjengit kaget begitu Hana mendekatinya. "S-Saya baik-baik saja kok!" jawab Suzu panik sembari mundur sedikit. Diam-diam Suzu melirik kebawahnya, lalu menghela napas.
Melihat reaksinya Koshōshō mulai paham, sebuah sengiran terbentuk di bibirnya. "Oh, tak perlu malu begitu. Apa ini pertama kalinya kamu berendam bersama teman-temanmu? Atau..." Koshōshō menghampirinya, dengan perlahan tangannya meraih kedua pundak Suzu, kemudian mencondongkan tubuhnya ke depan. "...Kamu merasa tak percaya diri dengan ukuran dadamu?" tanya Koshōshō dengan nada menggoda.
"Uwaa! Jangan mendekat!" jerit Suzu langsung menepis tangan Koshōshō dan kembali mundur lebih jauh.
"Wah wah. Kamu sensitif sekali, ya." Koshōshō tertawa kecil.
Sementara itu Natsuko dan Gracia hanya memandang mereka bingung, dan Chie hanya tersenyum canggung.
"S-Suzu-san, tenanglah," ujar Hana.
"Benar, benar. Lagipula dadamu tidak sekecil itu 'kan?"
"E-Eh!?" Suzu hanya mengerjapkan mata tak karuan.
"Lihatlah dirimu. Tubuhmu begitu ramping, tak ada lemak berlebih yang terlihat. Oh, perutmu juga rata. Dan dadamu tidak kecil dan tidak besar. Kau beruntung. Ditambah, pria kebanyakan menyukai gadis dengan tubuh kecil sepertimu."
Mendengar komentar Koshōshō, Suzu langsung menyusupkan kedua lengannya di depan dadanya. Alisnya bertaut malu dicampur tak suka. "...T-Tapi, bukannya kebanyakan pria menyukai wanita berdada besar?" gumam Suzu mengalihkan pandangan.
"Ekh...?" Setetes keringat menitik dari pelipis Hana, tak dapat berkomentar sepatah kata pun.
"Tergantung." Koshōshō kembali menyeringai jahil. "Ahh, kalau kau mau dadamu lebih besar. Aku punya saran yang bagus. Kau harus mengurutnya setiap hari."
"H-Hei, Koshōshō-san...!" Hana sadar Koshōshō tengah menjahilinya. Wajah Suzu pun ikut memerah padam mendengar saran Koshōshō. Ia langsung merendamkan wajah dan menutup mata.
"Wah? Jangan-jangan kamu sudah pernah melakukannya?"
"B-Bukan! A-Aku tidak pernah melakukan hal semacam itu!" bentak Suzu gelagapan.
Sebelah alisnya naik. "Hm...? Benarkah itu? Oh, tampaknya kamu bukan lagi shojo, ya? Enaknya yang sudah menikah."
"Eh." Wajah Hana dan Suzu semakin merah padam.
"Shōjo? Suzu-chan memang perempuan, kok?" jawab Natsuko kebingungan, diikuti dengan Gracia yang hanya mengangguk kencang. Mereka berdua tampak belum bisa mencerna maksud Koshōshō.
"Koshōshō-san! Sebaiknya jangan bicarakan hal sensitif itu di depan mereka berdua!" ujar Hana panik.
"Ah, benar juga. Habis reaksinya lucu sekali, sih. Aku jadi kelepasan." Koshōshō tertawa kecil. "Baiklah. Sebagai permintaan maaf, minumlah ini."
"...?" Suzu menolehinya, memandang bingung cawan kecil yang diberikan Koshōshō.
Koshōshō kemudian mengambil botol ditaruh diatas nampan dekat tepi kolam. Kemudian menuangkannya di cawan yang dipegang Suzu. "Minumlah. Atau kau tak mau meminumnya karena tak mau memaafkanku?"
"Ah, tidak, bukan itu maksudku tapi aromanya seperti sake―"
"Sudahlah, ayo minum." Koshōshō kemudian menuangkan sake untuknya sendiri lalu meminumnya. Diikuti dengan Suzu yang menghirupnya dengan pelan sembari menahan aroma tajam sake tersebut. "Fuh, dengan begini aku bisa istirahat dengan nyenyak nanti malam. Ah, Shinhana-chan mau sake?"
"T-Tidak, terima kasih." Hana langsung mundur dan menggoyangkan kedua tangan.
"Jangan menolakku," Koshōshō langsung menuangkan sake setelah memaksanya memegang cawan kecil pada Hana.
Shinhana tersenyum pahit. "Uh, terima kasih..." Dengan perlahan Shinhana meminumnya dengan sekali teguk.
"Aku mau mencobanya, shishō!" pinta Gracia.
"Tidak boleh. Maaf, ya, Warawa-chan, tapi kamu akan membuat ayahmu sedih dari alam sana," ujar Koshōshō menaikkan telunjuknya di depan wajah Gracia.
"Aku juga mau!" seru Natsuko.
"Kamu juga tidak boleh. Aku tidak mau tanggung jawab apalagi menghadapi ocehan kakakmu nanti."
"Eeh?" desah Natsuko kecewa.
"Lalu perempuan bisu disana, kamu juga mau?" Chie tersenyum canggung lalu menggeleng. "Mou, membosankan. Kalian sama sekali tidak menyenangkan! Aku tidak terima ditolak seperti itu, jadi kau harus menerimanya juga!"
Sekarang Koshōshō memaksa Chie untuk meminum sake. Mengambil cawan kecil yang ditaruh diatas nampan lalu memberikannya pada Chie, kemudian menuangkan sake-nya. Chie menghela napas, tapi setelah itu ia memberikan senyuman, mengisyaratkan terima kasihnya pada Koshōshō.
Sementara itu, Suzu mendadak merasa pusing. Sekujur tubuhnya terasa panas. Dengan sisa tenaganya, tanpa mengatakan apapun Suzu keluar dari kolam lalu memasang handuknya kembali.
"Suzu-san? Kau baik-baik saja?" tanya Shinhana sembari menghampirinya.
"Ah, aku harus kembali ke Takatora-sama... jadi..." jawab Suzu lemas. Namun kesadarannya mulai menipis, Suzu pun ambruk.
"Uwaaa! Suzu-chan pingsan!" jerit Natsuko panik.
"Dia pasti kepanasan! Ayo cepat kita bawa dia keluar!" Shinhana pun bergegas menopang tubuh Suzu, dibantu dengan Chie.
"Ah, bukannya dia tidak tahan dengan sake? Oh, kurasa juga bukan. Tampaknya dia sudah jatuh ke dalam ketidakberuntunganku kedua kalinya." Koshōshō tertawa pelan, menumpukan dagu di atas batu sambil memerhatikan keributan di hadapannya.
"Memangnya sake itu tidak enak, ya?" tanya Gracia penasaran.
"Tergantung," jawab Koshōshō terkekeh. Setelah puas tertawa, maniknya menatap lurus ke arah Gracia. "Warawa-chan..."
"Ada apa, shishō?" Gracia menoleh kearah wanita itu. Tak ada tanda ia sedang tertekan dari raut wajahnya, senyuman khasnya yang cerah terpapar di wajahnya.
Koshōshō mendengus pelan. "...Rasanya aku terlalu mencemaskanmu. Tapi aku yakin kau akan baik-baik saja disana. Gadis pirang itu sudah berjanji untuk menjagamu, walau terdengar kurang meyakinkan." Wanita itu kemudian mengusap kepala Gracia. "Jadi anak baik disana, ya? Di saat luang, aku akan mengunjungimu."
"Ya, shishō!" Gracia mengangguk, melebarkan senyumannya.
-XXX-
Keesokan harinya, pasukan Hashiba telah bersiap untuk kembali ke ibukota. Beberapa kapal yang telah diperbaiki siap untuk berlayar.
Sementara itu, pasukan Mōri akan berlayar pulang menuju Aki.
"Sampai jumpa lagi, ya, Suzu-san, Natsuko. Aku mendapatkan banyak pengalaman saat bersama kalian," ucap Shinhana tersenyum. "Kalau begitu, kami akan kembali ke Aki. Semoga kita dapat bertemu lagi."
"Baik. Jaga dirimu, Hana-dono, Chie-dono," ucap Suzu membungkukkan badan.
"Sampai jumpa lagi!" kata Natsuko sambil melambaikan tangan.
Shinhana dan Chie kemudian menyusul keluarganya ke dalam kapal Mōri. Tak lama kemudian mereka berlayar pulang kearah berlawanan dengan kapal Hashiba.
Suzu berjalan menghampiri tepi kapal, memperhatikan laut biru yang berkilauan memantul cahaya matahari.
"Indah..." lirih Suzu. "Tapi saking indahnya, kenapa aku jadi mual...?" desah Suzu menutup mulutnya dengan sebelah tangan.
"Kau bukannya mabuk laut, tapi karena semalam kau menerima sake dari wanita itu, bukan...? Suzu," jawab Takatora jengkel. Terlihat jelas dia sangat marah, selama ini Takatora melarangnya mengonsumsi sake. Menghirup aromanya saja sudah membuatnya mual apalagi meminumnya.
Malam setelah mereka mengunjungi pemandian air panas. Shinhana dan Chie yang membantu Suzu untuk kembali ke kapal sudah menjelaskan semuanya pada Takatora.
"M-Maafkan aku..." Setitik keringat menurun dari pelipis Suzu.
-XXX-
-XxX-
-XXX-
A/N : Update-nya lama lagi ya, alasannya yah biasa, mager, langka motivasi plus inspirasi. Saya mulai risih baca tulisan saya sendiri. Lagian saya ngetiknya gak lagi produktif, dipaksakan malah. Jadi chapter ini rasanya... what the heck.
Oke, maaf kalau chapter ini agak... *cough*. Lagian kapan lagi mau bikin fs kan? Tapi sejujurnya susah bikin. *muka lenny* Dan saya kasih tau soal perbedaan kata pas di scene(?) onsen di chapter ini. Shojo = 処女 artinya semacam virgin gitu buat cewe *muka lenny-slapped* Sedangkan shōjo = 少女 artinya perempuan, atau lebih tepatnya gadis. Tapi kalau dalam bahasa indo keknya sama aja ye lol. Maaf kalau melenceng, ini masih rating T kok. *plak*
Untuk chapter berikutnya, saya gak tau apa benar bakal langsung loncat ke Odawara atau lanjut ke Kyushu. Sebenarnya saya gak ada... maksudku satu-dua buah ide doang buat kedua battle. Mungkin langsung ke Odawara... duh au ah. Saya mesti baca ulang soal kedua battle dan susun plot. Jadi rasanya bakal update lama. Yah, doain aja kalau bisa cepat ntar... itu kalau lagi produktif, keajaiban itu lol. Tenang aja, saya lagi susah move-on dari Takatora. Jadi fanfic ini gak bakal di diskontinu. Harap aja gitu. *plak*
Yak seperti biasa, thanks for reading dan review, please? Jika ada typo atau semacamnya mohon kasih tau ya biar bisa langsung diperbaiki.
またねー!
