A/N: Another chapter refill, tapi berikutnya gak lagi kok. Seperti biasa mari balas review!
Hayashinkage17
Blossom: Nah kita sama-sama belajar dan berkembang. So keep writing biar impruv~
Scarlet: Dalam ya? Habisnya karakter Takatora itu complex, strong character development menurutku, jadi aku mesti perdalam juga. Gak kayak fic lamaku... *dihajar Xujie & Shu*
Blossom: Banget! Daku beruntung jadikan engkau husbu-ku oh mas!
Takatora: *pasang tampang jijik*
Blossom: Next, aku jadi seneng senyum2 sendiri pas baca review Kage-san yang ini "...bagiku Suzu kuat kok, walaupun bukan secara fisik." Aku ngerasa... akhirnya ada yang notice bagaimana diri Suzu itu. *terharu*
Scarlet: Oh soal ide Kyūshū aku usahakan! Makasih atas masukan dan review-nya!
RosyMiranto18
Scarlet: Kalau belum kebayang anggap saja ukuran dadanya itu kayak... hmm... Duh au ah. Yang penting ukurannya tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil.
Blossom : Mungkin ukuran dadanya cup C deh, Let. Much better. Ku gak tahan liat milf seriously... *glare emaknya Naomasa*
Scarlet: Yup, Kyō itu memang Kyōto. Orang jepang nyebut Kyōto itu Kyō. Mungkin lebih baik diketik Kyōto aja deh ya lol.
Blossom: Next! Heh? Gubernur? Apanya? Maksudnya? *gagal paham* Well whatever.
Scarlet: Next! Masa gak ingat Ryōko? Dia bibinya Suzu lho. Coba liat awal chapter atau flashback pas Azai biar ingat lagi. Tapi no worries, akan ada flashback tentang Suzu dan Takatora pas mereka gabung Azai in future chapters. Masih jauh, padahal ideku numpuk disana. *pundung*
Blossom: Next! Aku gagal paham soal 'Suzu itu anak angkat bla bla bla'. Tapi yang pasti bukan itu yang dibisik Sango.
Suzu : In.. cest? Apa itu? Aku tidak pernah menyebut kata incest. Tapi kurasa kamu salah paham. Baiklah, terima kasih atas review-nya.
-xxx-
Disclaimer : Samurai Warriors belongs to KOEI TECMO (selama ini aku lupa nambahin TECMO di belakangnya lol). Kimura Siblings belongs to RosyMiranto18. Kobayakawa Shinhana, Nomi Nagachika and Kikkawa Chie belongs to Hayashinkage17. Cover milik saya sendiri.
Warning : Mainly Suzu (OC) x Tōdō Takatora. OOC yang mungkin tidak disengaja atau sengaja demi alur cerita. Ada typo, diksi dan narasi yang tidak baku. Saya usahakan ceritanya bisa disusun berdasarkan dari game dan atau sejarahnya. DLDR, NO FLAMES. REVIEW PLEASE!
-XoX-
Bell of the White Hare
-XoX-
CHAPTER 25
Remaining Sense of Pain
-XoX-
Winter 1587
Kendati memiliki ketenaran sebagai ahli dalam membangun dan merancang istana, suara bising pukulan palu terkadang cukup mengganggu bagi Takatora. Apalagi suasananya yang riuh ketika memerhatikan para prajurit berlalu lalang kian kemari membawa bebatuan dan kayu-kayu. Jurakudai saat ini telah memasuki tahap akhir, sesudah itu akan dilakukan pemeriksaan ulang sebelum menata properti dalam mansion tersebut.
"Wah wah. Ini sangat megah." Hidenaga menatap kagum mansion tersebut. "Kau memang patut diberi gelar chikujō no meijin, Takatora. Membangun mansion bukan hal yang sulit bagimu apalagi benteng."
"Tidak, Tuan. Pencapaian ini bukan berkat saya seorang."
Hidenaga tertawa pelan. "Jangan merendah. Aku yang merupakan majikanmu sudah memperhatikan bakatmu sejak kau bernaung dibawahku. Bahkan Istana Yamatokoriyama tampak berbeda setelah kau memperbaikinya dulu."
Takatora tersenyum tipis, merasa tersanjung dia menundukkan kepala. "Terima kasih atas pujian Anda, Hidenaga-sama."
Hidenaga manggut-manggut, kemudian mengalihkan perhatian kearah Jurakudai, kagum akan hasil kerja keras para kashin.
Akan tetapi, tiba-tiba Hidenaga terbatuk keras sehingga mengagetkan Takatora. Pria paruh baya itu mencengkram dadanya dengan erat, melawan sakit yang menggerogoti dada. "Hidenaga-sama!?"
Setelah batuknya mereda, Hidenaga terkekeh pelan, cengkraman pada pakaiannya pun mengendur. "Tidak perlu khawatir. Mungkin ini hanya karena umurku sudah tua. Wajar aku sakit-sakitan seperti ini. Hidup manusia memang singkat, ya." Hidenaga tersenyum ramah pada sang bawahan.
Meski Hidenaga telah meyakinkannya, kecemasan Takatora masih belum pudar. "...Kalau begitu saya akan meminta Suzu untuk membuat ramuan agar dapat meredakan penyakit Tuan."
"Oh, aku berterima kasih! Dengan demikian kondisiku akan membaik," kata Hidenaga tersenyum lega. "Nah, aku harus berkunjung ke Ōsaka dulu. Kuserahkan padamu, ya, Takatora."
"...Baik."
Hidenaga pun bertolak pergi dari pekarangan Jurakudai. Kondisinya yang jelas tidak dalam keadaan prima, ingin sekali Takatora membujuk Hidenaga untuk menarik keputusannya untuk ikut serta dalam peperangan menuju Kyūshū nanti.
Hidup manusia yang singkat, katanya.
Sangat singkat sehingga terasa menakutkan.
Apabila tak lama lagi garis kehidupan Hidenaga memang singkat. Itu artinya permintaan Oichi untuk bernaung dibawahnya akan terpenuhi, ia paham kata tersebut terdengar sedikit kejam. Berikutnya, harus kepada siapakah Takatora mencurahkan loyalitasnya?
"Apakah mustahil jika aku mengharapkan Hidenaga-sama menjadi penerus Toyotomi di masa depan nanti?" gumam Takatora, pikiran itu seketika terlintas di dalam kepalanya.
...Celaka. Banyak sekali hal yang berkecamuk dalam dirinya sehingga kepala Takatora pusing. Dia ingin cepat pulang dan istirahat. Untuk sementara Takatora hanya bisa rehat di tenda.
Di dalam sebuah tenda besar terbuka, beberapa kashin yang ditunjuk dalam pembangunan Jurakudai tengah melepas penat setelah memberi berbagai arahan kepada para prajurit. Salah satunya yaitu Kiyomasa.
"Kuharap mansionnya akan selesai malam ini. Lebih cepat, lebih baik. Setelah itu kita bisa memusatkan perhatian ke penyerangan Kyūshū nanti."
Kiyomasa bukan berbicara padanya, tapi pada Aki. Takatora kebetulan mendengar pembicaraannya hanya duduk tak jauh dari mereka, kemudian mengambil gulungan rancangan mansion diatas meja dan menelitinya.
"Bicara soal penyerangan, kudengar Sanada berhasil memukul mundur pasukan Tokugawa beberapa waktu lalu di Ueda."
"Ya, aku juga sudah mendengarnya. Jumlah mereka tak sebanding, tapi mudah sekali bagi Sanada untuk mendorong mereka. Klan Sanada memang tak bisa dianggap remeh," sahut Kiyomasa.
"Tapi disisi lain, Hideyoshi-sama sudah mengerahkan pasukan Chōsokabe untuk membuka jalan menuju Kyūshū terlebih dulu. Bahkan Hideyoshi-sama segera mengerahkan pasukan sebanyak dua ratus ribu prajurit untuk menjatuhkan Shimazu."
"Apa kau ingin membandingkan Toyotomi dengan Sanada?" tanya Kiyomasa mengernyitkan dahi.
"Yah... aku tidak bermaksud demikian." Aki tak bisa berkilah, hanya mengalihkan pandangan sambil mengusap tengkuk.
"Hideyoshi-sama sudah pasti memiliki rencana. Dengan jumlah sebanyak itu, peluang Shimazu menyerah akan lebih tinggi. Tentu saja, sekaligus demi menghindari pertumpahan darah sebanyak mungkin," jelas Kiyomasa.
"Jika mereka menentang, lain lagi ceritanya, bukan?" Takatora mulai angkat bicara. Kiyomasa dan Aki memindahkan pandangan ke arah Takatora. "Artinya tak ada pilihan selain membantai mereka secara habis-habisan. Sama seperti saat penyerangan di Shikoku, banyak nyawa yang melayang percuma." Takatora mendengus. "Tapi ada baiknya lantaran kelak semua kekacauan bisa padam. Mungkin itu yang orang lain pikirkan. Tapi tetap saja meragukan entah akan berakhir sepenuhnya."
Kiyomasa dan Aki terperangah sejenak mendengar ucapan Takatora. "...Yah, benar juga."
Di pandangan Aki, pertempuran yang harus dihadapi oleh Motochika waktu itu sangat mengerikan baginya. Dia berakhir kehilangan bawahan setianya yang tak cukup dihitung dengan jari. Tak hanya itu, wilayah yang telah susah payah ia kuasai, darah daging yang telah dikorbankan berakhir percuma. Menganggap posisinya sebagai pemimpin sekedar bualan semata. Jiwa pemberontak yang tertanam dalam dirinya sama sekali tak ada artinya.
"Tapi, Takatora, dari caramu mengatakannya, kau terdengar agak risih."
"Tidak juga. Aku hanya penasaran sampai kapan siasatnya untuk menekan musuh seperti itu akan terus berlanjut. Dengan jumlah sebanyak dua ratus ribu yang dikerahkan Hideyoshi... -sama nanti, apa penerusnya sanggup melakukan hal yang sama?"
Dia terdengar tak sudi menyebut Hideyoshi dengan kata '-sama'. Tapi dengan cepat Kiyomasa mengabaikannya. "Itu tidak masalah, di pihak kita sudah ada Ieyasu yang akan mendukung Toyotomi sampai penerusnya ditentukan," jelas Kiyomasa. "Ieyasu adalah dinding bagi Toyotomi. Dinding yang mampu melawan para daimyō luar sana. Beliau sangat berpengalaman dan memiliki kekuatan serta kecakapan yang menjanjikan. Masa depan Toyotomi sudah aman."
Takatora terdiam sejenak, kemudian menggulung kertas di tangannya. "Ieyasu, 'kah?"
Itu pilihan yang tidak buruk.
Dia menatap Kiyomasa. "Setahuku orang terdekatmu tidak menyukai Ieyasu. Aku yakin dia tidak akan senang mendengarmu menyebut namanya."
"Maksudmu siapa? Mitsunari?" tanya Aki.
Alis lawan bicara Takatora menyempit dalam amarah. "...Memangnya kenapa?" tanya Kiyomasa berusaha tenang.
"Bukan apa-apa." Takatora menaikkan bahu. "Tak hanya itu, kurasa Ieyasu juga berpotensi untuk menyatukan negeri. Jika kau begitu mengandalkannya, mengapa kau tidak bernaung saja pada Ieyasu?"
Kiyomasa terbelalak. "Yang benar saja! Kenapa aku harus melakukan itu!? Aku tidak mungkin berkhianat pada Hideyoshi-sama!" ketusnya geram.
"Berkhianat terdengar berlebihan," Takatora menyela. "Ieyasu telah tunduk pada Hideyoshi, berpihak padanya tidak akan mengubah kenyataan kalau kau juga tunduk pada Toyotomi. Lagipula jika kekuatannya dibutuhkan untuk menyatukan negeri. Bukankah akan lebih meyakinkan jika mengabdi dibawahnya?"
"..." Kiyomasa membisu, tampak kehabisan kata-kata untuk membalas. Dia benar. Memang, tapi tetap saja, para kashin pasti akan menganggap itu adalah sebuah pengkhianatan. Meski diizinkan oleh Hideyoshi sekali pun, ia tak mungkin mampu menanggung aib tersebut.
Selain itu, apa tujuan Takatora mengatakan semua itu pada Kiyomasa? Ia terdengar seolah memancingnya untuk bergabung dengan Tokugawa.
'"...Aku tak keberatan bila kepalaku dipenggal sekalipun. Tapi pengabdianku pada Toyotomi dan kewajibanku untuk melindunginya... aku tak harus berpihak pada Tokugawa. Karena aku hanya tunduk pada Hideyoshi-sama seorang. Setiap orang memiliki perasaan masing-masing. Jangan samakan aku seperti kau yang tak berperasaan memutuskan ikatan bahkan dengan mudahnya mengibaskan ekor pada majikan lain," sanggahnya. Melihat Takatora tak bereaksi sedikit pun, Kiyomasa langsung bertolak pergi meninggalkan mereka. "Permisi."
Sorot manik biru laut yang dingin dan redup itu tak berubah, tak peduli dengan lontaran Kiyomasa meskipun baru saja jalan kehidupannya dihina. "Hmph, pria yang keras kepala..."
Atmosfer dalam tenda yang awalnya tegang berubah hening. Aki mulai angkat bicara. "Hei, Takatora. Kenapa kau berkata seperti itu pada Kiyomasa? Mana mungkin dia bisa melakukannya, 'kan?"
Takatora melirik kearah Aki, tidak berucap sepatah kata pun. "Memang kita membutuhkan dukungan Ieyasu. Tapi kalau kau mengeksploitasinya untuk bergabung dengan Tokugawa agar dia mampu mempercayakan Ieyasu untuk mendukung Toyotomi, bisa saja para kashin yang lain akan salah paham terhadap tujuannya. Bahkan kudengar ada rumor bahwa diantara mereka masih ada yang menaruh dendam terhadap Tokugawa setelah pertempuran di Owari dua tahun yang lalu."
"Mengeksplotasi, katamu? Jadi kau mengira aku juga akan memihak pada Ieyasu dari awal? Hmph, kau dan Mitsunari berpikiran sama." Masih terngiang di pikiran Takatora saat pertempuran itu, Mitsunari menduga dirinya menaruh secercah kepercayaan pada Ieyasu sedangkan pada Hideyoshi sedikitpun tidak ada.
"Soal itu mana kutahu, aku hanya merasa demikian. Apabila aku salah, aku minta maaf. Tapi selain itu..."
Takatora memilih menunggu Aki menyelesaikan pendapatnya di yang menyangkut di dalam pikirannya.
"Selain itu, bukankah istrimu adalah anak didik yang dibesarkan oleh Hideyoshi seperti Kiyomasa dan yang lain? Jika dia tahu kalau Kiyomasa akan tunduk pada Tokugawa, dan kau merupakan dalangnya. Kaulah yang paling tahu apa yang terbesit dalam pikirannya nanti..."
Hening, Takatora masih memalingkan wajah, entah apa alasan Takatora tak mau menjawab pertanyaan Aki. Akan tetapi, ia belum mau menyerah untuk bertanya. "...Apa kau ingin merenggangkan ikatan istrimu dengan mereka?"
Mulut Takatora yang tertutup berkedut kecil, ia langsung beranjak dari kursi dan menaruh gulungan kembali ke dalam rak. "...Aku ingin berkeliling sebentar. Jika ada tugas, tinggalkan saja untukku atau kau boleh mengambil alih."
Aki mengernyitkan alis jengkel, jelas sekali Takatora mengelak semua pertanyaannya. Memang Takatora orang yang tidak banyak bicara dan tak berniat menyia-nyiakan waktu, terkadang menyisihkan diri dari orang banyak selain pada orang terdekatnya seperti Suzu dan Yoshitsugu. Lagipula, ia tahu tidak ada untungnya bagi Takatora jika dia menjawab semua pertanyaan Aki. "Memangnya kau mau kemana?"
"Pandai besi."
"Pandai besi?"
"Senjata Suzu disita saat di Shikoku. Jadi aku mau mencarikan senjata yang baru untuknya."
Kini sepasang alis Aki naik dan menatap Takatora heran. "Sepertinya kau tidak khawatir lagi kalau istrimu ikut menginjak medan perang bersamamu."
"..." Takatora tak menjawab lagi, ia bertolak keluar tenda dan menyusuri kota Kyōto sendirian.
"Payah, aku sama sekali tidak bisa membacanya. Tidak, tunggu... ataukah dia tidak menyangkalnya?" Aki menghela napas panjang, membiarkan pertanyaan itu menguap di udara.
-XXX-
Setelah diumumkan Jurakudai selesai dibangun, keesokan harinya Takatora langsung pulang menuju Istana Wakayama. Beruntung tugasnya kali ini tidak memakan waktu terlalu lama. Di depan istana, Takatora turun dari kuda kemudian menyerahkannya pada sang bawahan. "Apa ada laporan penting?" tanya Takatora pada Kurodo.
"Ya, Tuan. Hideyoshi-sama mengumumkan kepada seluruh kashin untuk berkumpul di Ōsaka empat hari lagi."
Tak diragukan lagi mereka diperintahkan untuk bersiaga menuju Kyūshū. Empat hari, entah itu waktu yang cukup bagi Takatora untuk melepas penat setelah menyelesaikan pembangunan mansion.
"Hmph, ketamakan tentu membuatnya tak sabar untuk menyatukan negeri, ya," gumam Takatora.
Perhatian Takatora beralih tatkala ia mendengar alunan suara fue. Tunggu, siapa yang memainkannya? Semenjak pindah ke Wakayama, sekalipun belum pernah terdengar olehnya suara seruling.
"Ah, akhir-akhir ini okugata-sama berlatih shinobue sejak kepergian Tuan ke Kyōto," jelas Kurodo.
"Begitu."
Takatora pun berjalan masuk ke pekarangan istana, mengikuti arah asal iringan seruling yang dimainkan sang istri. Memang nada yang ia mainkan seringkali terdengar sumbang dan terputus-putus. Berulang kali ia mencoba hingga iringannya benar.
Dia menemukan Suzu yang duduk diatas pohon, seperti biasa. Dia terlihat tak menyadari kedatangan Takatora. Kini pun lantunan suling itu berubah merdu. Kelopak matanya dipejamkan seakan menghayati alunan yang ia mainkan. Angin lemah menerpa dirinya berdesir lembut membuat surai peraknya melambai pelan mengikuti arah angin. Lantaran terbuai akan permainan seruling atau keanggunan Suzu, Takatora hanya terdiam, terpana memperhatikan sang istri dari bawah pohon. Seakan dimanjakan oleh pemandangan sekaligus pendengaran yang memikat hati.
Takatora tersentak saat mendengar nada tangga yang dimainkan sumbang lagi. Suzu menghela napas panjang, mengurut dadanya yang sedikit sesak karena tak sempat menarik napas. "Aku memang tidak bisa..." gumamnya setelah menurunkan shinobue tersebut dari bibirnya.
"Tapi aku yakin kau akan mencobanya lain waktu. Aku ingin mendengarnya lagi," sela Takatora. Spontan Suzu langsung mengalihkan pandangan ke bawah. Melihat sebuah sengiran tipis tersungging di wajahnya membuat muka Suzu memanas akan rasa malu.
"Ta-Takatora-sama!" pekik Suzu kaget. Kulit wajahnya yang putih pualam langsung dihiasi rona merah jambu yang mirip dengan warna sakura. "Kukira Tuan akan pulang besok."
"Bukankah aku sudah mengirim surat padamu kalau aku pulang lebih awal?" Takatora berjalan menghampiri pohon itu. "Selain itu, kukira kau akan berhenti memanjat setelah tinggal di istana. Tapi tampaknya kau mulai bosan menyaksikan pemandangan dari atas tenshu."
"Tidak kok! Aku hanya merasa ingin memanjat pohon lagi. Um... tidak boleh, ya?"
Pria itu menaikkan alis. Apa yang dia maksud itu kalau dia rindu memanjat lagi? Takatora mendengus menahan tawa.
"Ah, Tuan mau naik? Sebaiknya jangan! Takatora-sama baru saja pulang jadi..."
"Bodoh. Apa aku tidak diizinkan duduk di tempat favoritmu?" Takatora pun melompat, menangkap dahan dengan satu tangan kemudian naik dengan mudah dan duduk disamping Suzu. "Lalu, dimana Senmaru?"
"Dia bermain layang-layang di lapangan bersama teman barunya," sahut Suzu tersenyum senang, menuding layangan yang menggantung dilangit dari kejauhan.
"Baguslah. Disamping itu, kenapa kau memainkan fue?"
Gadis berkepala putih itu mengalihkan pandangannya ke suling yang ia pegang. "Ah, aku hanya... terkenang masa lalu."
Takatora mengamati raut wajahnya yang berubah sedih namun samar, bibir tipisnya mengerucut, kedua matanya separuh menurun dan alisnya bertaut. Sejak keberangkatan Takatora menuju Kyōto, dia terlihat memikirkan berbagai hal sendirian. Meninggalkan Suzu bahkan di istana seluas ini, seringkali membuatnya murung.
"Dulu, saat kedua orang tuaku mati... aku hanya bisa mengurung diri di dalam rumah bersama tubuh mereka yang sudah membusuk. Aku terlalu takut melihat dunia luar yang tak henti berperang. Hanya dapat berharap ayah dan ibu membuka matanya lagi. Aku pernah cerita pada Tuan, kan?"
Takatora memutuskan untuk tetap diam sampai ceritanya selesai. Yoshitsugu benar, dia memang kelinci.
Sebuah senyuman kecil mengembang di wajah Suzu. "Tapi ketika aku mendengar suara seruling, aku amat terpukau dengan alunannya yang menyejukkan hati. Seolah-olah jiwa yang menggantung di jasad kedua orang tuaku dituntun menuju surga. Saat aku mencari darimana asal suaranya, yang memainkan seruling itulah ternyata adalah bibi. Disaat itu aku pertama kali bertemu dengan beliau."
Tanpa mereka sadari, langit kelabu telah menitikkan butiran putih yang tak terhitung jumlahnya, saling menyusul menuju permukaan. "...Kau merindukan mereka, ya."
Suzu menengadahkan kedua tangan di depan dada, setitik salju turun diatas telapaknya kemudian meleleh. Sepasang manik merah kelinci itu memandang butiran putih tersebut layaknya kenangan yang tak terlupakan meski telah mencair sekalipun, terpancar keinginan untuk bertemu dengan mereka. "Selalu. Setiap waktu, aku merindukan mereka."
Mereka membisu beberapa saat. Namun tak ingin atmosfer canggung terus menyelimuti mereka, Suzu melepas tawa kecil. "Aku tidak boleh seperti ini terus, ya? Aku malah membuat mereka mengkhawatirkanku dari alam sana."
"Tidak apa, malahan itu sebagai bukti seberapa besar sayangmu pada mereka," ucap Takatora dengan sebuah senyuman terukir di wajah tampannya. "Bukankah begitu?"
Kedua mata Suzu berkaca-kaca, tapi dia cepat-cepat mengusap matanya yang sempat dibendungi bulir bening. Suzu mengangguk pelan.
Bukti, 'kah?
...Mendadak ucapan Aki terngiang di kepala Takatora.
"...Apa kau ingin merenggangkan ikatan istrimu dengan mereka?"
Jika tindakannya tersebut diakukan demi membuktikan keinginannya untuk melindungi Suzu, apakah Suzu sanggup menerimanya?
Entahlah. Takatora tahu bukan perkara mudah bagi Suzu untuk mengatakan 'mengerti' tanpa ada rasa tanggung jawab, bahkan menelantarkan semua yang telah diberikan padanya. Tapi jika Suzu menerimanya, itu merupakan hal yang tak bisa Takatora bayangkan.
Memang Suzu adalah istrinya, namun masih ada sesuatu yang tak dapat ia pahami. Takatora percaya padanya, mungkin belum cukup mutlak seperti kepercayaan Suzu padanya.
Ada bagian mengerikan dalam dirinya merasa bahwa lebih baik Suzu tak pernah menjadi istrinya. Seperti yang pernah ia katakan dulu.
"Sejujurnya, awalnya aku merasa... mungkin lebih baik kita tak pernah bertemu. Atau mungkin lebih baik aku tidak terlahir. Dengan demikian, Takatora-san tidak akan menderita karena diriku sekarang dan bisa memahami diri sendiri tanpa orang lain yang akan terluka akibat percikan kepiluan yang dirasakan. Bisa mengemban kesetiaan Tuan tanpa halangan... tanpa diriku."
Ah... benar. Memang benar. Dia takkan pernah merasakan kepiluan ini jika Suzu tidak pernah hidup bersamanya. Hidup sendirian akan mengurangi luka dalam hatinya.
"Takatora-sama memikirkan hal yang rumit lagi, ya?"
Takatora tersentak, degup jantungnya seketika berdetak keras sehingga terasa sedikit menyakitkan. Ia menoleh kearah istrinya, air mukanya berubah khawatir. "Aku baik-baik saja," sahut Takatora sembari mengusap rambut peraknya. Kemudian menariknya lebih dekat, pria itu mendaratkan kecupan di bibir Suzu.
Takatora mengutuk diri ketika pemikiran buruk itu sempat menyergap hatinya.
Gadis itu hanya bisa memejamkan mata dan kebingungan. Ia dapat merasakan ritme napas memberat dan sesak. Pegangan pada bahunya pun terasa kuat. Di saat Suzu membuka separuh kedua matanya, sepasang alisnya menyempit seakan menahan rasa sakit di dada.
Setelah Takatora memutuskan kecupan, Suzu menarik napasnya. Mereka saling bertatap mata. Dengan lembut ditangkupnya wajah tirus Takatora seraya membaca raut mukanya. "...Takatora-sama kelelahan?" tanya Suzu dengan suara lemah.
"...Mungkin," sahutnya singkat sembari mencium telapak tangan kecil yang berada di pipinya. "Udaranya semakin dingin. Ayo kita turun."
"Baik—wah!" Tanpa aba-aba, Takatora menyusupkan kedua lengan ke punggung dan kaki Suzu, mengangkatnya lalu turun dari pohon, mendarat dengan mudah. "P-Padahal aku bisa turun sendiri..."
"Tubuhmu ringan, jadi tak masalah," dengus sang suami sembari menurunkan Suzu dari dekapannya.
Kepala Suzu menunduk sambil meremas ujung lengan baju kimono dengan tangan kiri. "Anu... Takatora-sama, maafkan aku. Seharusnya aku menunggu dan menyambut kepulangan Tuan. Tapi aku malah menyibukkan diri."
Takatora membelai kepala istrinya, kemudian tangannya bergerak turun menuju pipi seraya menikmati kelembutan kulitnya. "Kau ingin menebusnya?"
Suzu menjawab dengan anggukan.
"Kalau begitu..." Ditariknya Suzu lebih dekat, merengkuh tubuh yang lebih pendek darinya dengan erat. "Aku pulang," bisiknya.
Suzu refleks menengadahkan wajah dengan mata setengah melebar. Itu tebusan yang teramat tulus. Senyum cerah bak bunga bermekaran menghiasi wajah manisnya. "Um! Selamat datang kembali, Takatora-sama!" Suzu membalas pelukannya dengan senang. Sang suami terkekeh sembari menenggelamkan separuh wajah diatas kepala Suzu.
Hanya ditinggal kurang lebih satu bulan untuk bertugas ke Kyōto, mendengar suaranya saja bagai buluh perindu bagi Takatora. "...Sejujurnya aku jadi ingin menghangatkan futon bersamamu sekarang."
"E-Eh!?" Suzu mengedipkan kedua matanya tak karuan, wajahnya kembali merona merah lebih dalam.
Tapi dia membutuhkan sesuatu untuk melupakan semua jenuh yang membebaninya. Namun jika bersama Suzu, terkadang itu hanya akan membuatnya semakin sulit untuk menguburnya, bukan artinya menganggap Suzu penghalang. Terkadang Takatora butuh waktu untuk sendirian. Masih ada cara lain untuk menyeimbangkan semua pikiran dengan menyibukkan diri. Memang itu akan mengurangi waktu istirahatnya.
"Tapi sayang sekali masih ada yang harus kutuntaskan, jadi aku takkan sempat menjemput Senmaru."
"Eh? Tidak apa kok, aku yang akan menjemputnya. Tapi Takatora-sama sebaiknya jangan memaksakan diri."
"Aku tidak memaksakan diri. Aku bisa istirahat penuh nanti malam. Oh, dan satu lagi. Bisakah kau membuatkan ramuan untuk Hidenaga-sama? Beliau tampaknya menderita batuk keras..."
"Ah, bisa. Aku akan berusaha!"
"Bagus, aku mengandalkanmu." Takatora pun berbalik dan meninggalkan Suzu sendirian setelah memberikan kecupan singkat di puncak kepalanya.
Gadis bermanik merah besar itu menghela napas kecewa, tak dapat mencegatnya dari kesibukan yang selalu saja menyita waktunya untuk istirahat. Suzu pun bertolak keluar istana untuk menjemput Senmaru, khawatir putra angkat mereka kedinginan diluar.
-XXX-
Setelah mengadakan pertemuan singkat dengan para bawahan, Takatora mengubah jalur menuju ruang kerja, bukan ke kamar. Mengingat masih ada tanggung jawab yang mesti diselesaikan. Walau Takatora baru saja pulang dari Kyōto, dia harus menyiagakan pasukan untuk bertempur menuju Kyūshū lebih awal. Sebelum itu dia berencana menyerahkan penjagaan Istana Wakayama pada Kuwayama Shigeharu.
Dan kali ini ia harus menitipkan Senmaru pada Hatsu dan Oeyo kedua kalinya. Tidak mungkin Takatora meninggalkan Senmaru disini tanpa penjagaan yang tak cukup dipercayai meski di istananya sekalipun. Namun jika ia berhasil membujuk Suzu untuk tetap tinggal bersama Senmaru, ia tak perlu lagi merepotkan dua putri dari klan Azai tersebut.
Walau Takatora tahu mustahil untuk membujuk sang istri, tapi tak ada salahnya untuk mencoba. Menyadari langit yang telah menggelap dan sunyi, ia yakin Suzu pasti datang ke ruangannya untuk menyuruh Takatora istirahat. Dia akan menanyakannya pada saat itu juga.
Takatora melirik kearah tantou diatas mejanya. Dia telah meminta salah satu penempa terbaik di Kyōto untuk membuat belati tersebut. Jika istrinya masih menolak, ia harus memberikan senjata itu pada Suzu.
Bukan hanya sebagai pengganti senjatanya yang hilang, Takatora memiliki tujuan lain yang tak bisa ia katakan pada Suzu. Tujuan demi menghukum kebodohan dirinya—
"Takatora-sama, ini aku. Apa aku boleh masuk?" Suara lembut dari luar ruangannya seketika membuat pikiran Takatora berhenti.
"Masuklah," ucap Takatora sembari menyimpan belati tersebut ke dalam laci meja.
Digesernya pintu dengan pelan, Suzu masuk sambil membawa segelas teh dan sebuah kantung diatas nampan. "Takatora-sama, aku sudah selesai meracik ramuan untuk Hidenaga-sama. Beruntung para pelayan istana menyediakan bahan yang cukup, jadi aku tak perlu jauh-jauh mencari semua bahannya," ucap Suzu seraya memberikan kantung berisi ramuan tersebut pada Takatora.
"Begitu 'kah. Kerja bagus, Suzu. Semoga saja dengan ini penyakit beliau akan cepat memulih." Takatora pun menyimpan kantung tersebut ke dalam laci mejanya. Sepintas, Suzu mengerjapkan mata ketika melihat sesuatu di dalam, sebuah tantou. Sadar Suzu memerhatikannya, Takatora langsung menutup laci.
"Takatora-sama sendiri juga sebaiknya istirahat. Wajah Tuan pucat lho," tegurnya lembut.
"Jangan khawatir. Aku sudah terbiasa seperti ini jadi tak masalah."
Sang istri menautkan alisnya tak senang, dia menghela napas lalu menyuguhkan segelas teh hangat di atas mejanya. "Apa boleh buat, silakan minum tehnya, Takatora-sama."
Takatora menatap istrinya penuh pertanyaan. Suzu hanya tersenyum, mengisyaratkannya untuk meminum teh tersebut.
Aneh, jika ia meminum teh pada malam larut, itu akan membuatnya tetap terjaga. Memang, itu tergantung jenis tehnya. Namun setelah melihat senyuman meyakinkan dari Suzu, Takatora tak ragu untuk meminumnya. "...Terima kasih."
Diteguknya teh tersebut sedikit demi sedikit kemudian meminumnya sampai habis. Setelah menaruh gelas tersebut diatas nampan, entah mengapa kedua mata Takatora mulai terasa berat. Saat tersadar ia mengurut kepalanya sambil menghela napas. "Suzu... kau menaruh sesuatu dalam tehnya?"
Suzu tersenyum masam, merasa bersalah. "Iya, hanya bubuk tidur kok. Habisnya Takatora-sama terlihat pucat sekali. Tuan kurang tidur lagi, 'kan?"
Takatora menghela napas panjang. "...Kau ini. Hmph, firasat istriku memang tak bisa diremehkan, ya." Tak mampu mengendalikan kesadaran sepenuhnya, Takatora mengistirahatkan kepalanya di bahu Suzu, menyempatkan diri untuk menghirup aroma wangi istrinya yang tak berubah.
"Ah, gawat! Ternyata pengaruh ramuannya bisa secepat ini...! Takatora-sama, jangan tidur dulu!"
"Cerewet, kau sendiri yang menyuruhku istirahat, bukan? Aku terlalu lelah untuk bangun sekarang," gumam Takatora dengan suara mengantuk, matanya telah terpejam. "Tampaknya ini bukan waktunya untuk saling melepas rindu..."
Suzu mencebik malu, dia membicarakan itu lagi. Memang sudah seharusnya Suzu senang lantaran suaminya ingin meluangkan waktu bersamanya. Dan sudah wajar pula pria menginginkan hal semacam itu. "T-Tapi, aku 'kan tidak bisa me—aduh!"
"Kau masih mengkhawatirkan itu?" potong Takatora jengkel setelah menggigit leher kurusnya.
"Ah, tidak kok! M-Mungkin ini hanya masalah waktu, ya! Harap saja suatu saat aku bisa memberikan adik untuk Senmaru," jawab Suzu tersenyum canggung.
"Hmm..." Tak mampu mengontrol kesadarannya lagi, tubuh Takatora semakin bersandar pada Suzu. Dekapan lengannya yang melingkar di tubuh gadis itu pun meregang.
"Takatora-sama berat sekali— wah!" Suzu tertindih oleh tubuh Takatora. Ia sempat takjub lantaran badan kekarnya seakan menjadi selimut yang pas untuknya. Tapi disaat yang sama agak memalukan baginya saat merasakan kepala sang suami terbenam di dadanya. Beruntung Senmaru tak melihat mereka dengan posisi seperti itu. "Ta-Takatora-sama...?"
Dia benar-benar sudah tertidur, sudah cukup nyaman seolah berkat mendengar detak jantung sang istri yang dianggap sebagai pengantar tidurnya.
Apa boleh buat. Dengan sekuat tenaga, Suzu mengesampingkan tubuhnya agar dapat saling berhadapan. Namun tetap membiarkan Takatora terlelap di dadanya. "Uh, andai saja dadaku... bisa lebih b-besar sedikit seperti Onene-sama bahkan Koshōshō-san. Mungkin dadaku bisa jadi bantal yang lebih empuk untuk Takatora-sama—"
Sadar ia berbicara sendiri, Suzu menepuk mulutnya. "Ah, tidak tidak! Apa yang kupikirkan! Takatora-sama tidak mendengarnya, 'kan?"
Tak ada jawaban, suara Suzu tak lagi terdengar oleh Takatora. Suzu menghela napas lega. Lalu wanita muda bersurai putih keperakan itu terdiam mengamati wajah tidur suaminya. Terlihat seperti pria yang tak berdaya, berbeda jauh saat kedua matanya terbuka; sorot matanya yang dingin, tak pernah terlihat gentar dan mampu mempertahankan emosinya dikala apapun.
Dengan perlahan direngkuhnya kepala Takatora kemudian membelai rambut hitam legamnya yang terurai. "Hangatnya..." lirih Suzu tersenyum geli.
Namun angin sepoi yang menyelinap masuk melewati jendela seketika memecah kehangatan yang dirasakan Suzu. Angin bodoh perusak suasana, batin Suzu kesal. Terpaksa, ia melepas rengkuhan dengan perlahan kemudian bergegas menutup jendela.
"Uh, aku tidak mungkin membiarkan Takatora-sama tidur disini. Tapi sebaiknya aku bawa bantal dan selimut untuknya..."
Penglihatan Suzu berpindah ke meja yang dipenuhi buku yang berserakan. Tanpa berpikir panjang, Suzu langsung membenahi semua buku dan gulungan, merapikannya di sudut meja. Setelah berbenah, Suzu menemukan sesuatu saat ia hendak menyimpan kuas dalam laci meja tersebut.
"...Tantou?" Suzu mengambil belati yang masih disarung tersebut, kemudian mengeluarkannya dari saya. "Ini... baru ditempa."
-XXX-
Fajar telah terbit, atmosfer dingin mulai merambat seakan menusuk kulit. Berkatnya Takatora mulai mengumpulkan nyawa sembari membuka mata yang masih mengabur dengan perlahan. Entah sejak kapan dia sudah diselimuti dan diberi bantal, namun tak beralas futon. Dia baru ingat tadi malam dia tertidur di ruang kerjanya bersama Suzu.
Takatora bangkit, mencoba untuk duduk. Berkat ramuan Suzu yang diberikannya, entah bagaimana tubuhnya terasa lebih ringan. Walaupun demikian, ia bangun sedikit terlambat dari biasanya.
Ketika keluar dari ruangan, Takatora menemukan Suzu yang tengah berlatih dengan mengayunkan sebuah belati. Itu adalah tantou yang baru saja Takatora beli di Kyōto. Dia menghela napas. Ternyata percuma untuk menyembunyikannya. Entah ini cara yang lebih baik tanpa memberikannya secara langsung.
Menyaksikan kelincahan ayunan pedangnya serta pemandangan serba putih yang mengelilingi Suzu mengunci perhatian Takatora. Tak hanya itu, sorot merah matanya tampak bukan mata seekor kelinci, mata yang siap menyerang mangsanya; lebih menarik perhatiannya. Merupakan pemandangan langka baginya melihat sorot merah lembut itu bisa setajam itu.
Suzu mendadak berhenti ketika tantou-nya tak sengaja menemukan lawan, bergesekan dengan sebuah pedang dengan bilah panjang dan tipis, yang tak lain sebuah saiken yang merupakan pedang milik Takatora.
"Eh, Takatora-sama!" Suzu segera menurunkan tantou, menyembunyikannya di belakang punggung. Ia tampak gelagapan menjelaskan apa yang baru saja ia lakukan.
Takatora memasukkan saiken miliknya kembali ke dalam saya. Takatora tersenyum tipis. "Aku terkesan melihat kelihaianmu menggunakan belati itu."
"Maaf, Takatora-sama. Tadi malam aku menemukannya di laci d-dan..."
"Aku mengerti, tak perlu berterus terang. Dari awal aku memang bermaksud untuk memberikannya untukmu."
Suzu mengangkat wajahnya. "Ah, sungguh? Tapi kenapa?"
"Bukankah senjatamu diambil saat pertempuran sebelumnya?"
"Iya, tapi bukan itu maksudku." Suzu menggeleng kencang. "Kukira Tuan akan menyuruhku tetap tinggal bersama Senmaru. Jadi..."
Takatora terdiam sejenak, kedua pelupuk matanya menurun, senyumannya menghilang. Tanpa Suzu sadari, kedua tangan Takatora dikepalkan dengan kuat, menggigit bawah bibirnya sedalam mungkin.
Ingin ia katakan, tapi tak mungkin dikatakan terus terang. Karena niat yang Takatora tanamkan pada tantou yang ia berikan pada Suzu adalah demi mengumpulkan keberaniannya di medan perang agar menetapkan hatinya untuk dapat menghunuskan tantou tersebut ke arah Takatora dikala ia memilih jalan yang salah.
Dasar bodoh.
Tentu saja dia tak mungkin langsung mengatakan itu pada istrinya sendiri. Takatora akan semakin membenci dirinya jika melihat senyuman Suzu akan memudar dan membuatnya berurai air mata. Setelah apa yang ia bicarakan pada Kiyomasa dan Aki pada waktu itu. Ia takkan bisa menariknya kembali sampai kapanpun. Suzu memiliki hutang nyawa yang besar pada Toyotomi, sedangkan ia menyerah menyelamatkannya pada malam berapi itu. Dia pasti lebih memilih untuk tetap bersama keluarganya yang telah menyelamatkan nyawanya.
Setelah mengkhianti kepercayaan mutlak Suzu pada Takatora, perbuatan busuknya pantas mendapat pembalasan yang setimpal, harus... dengan kedua tangan kecilnya itu.
"Anu... Takatora-sama?" panggil Suzu menarik pakaiannya.
Takatora kembali menoleh kearahnya. "...Tidak ada alasan khusus. Aku hanya mengira kau masih berkemauan untuk mengikutiku menuju medan perang."
"Ah, haha... Begitu ya." Suzu tertawa canggung. "Tuan sudah tahu, ya."
Naif, sangat naif.
"Tentu saja. Tapi biar kupertegas, aku sengaja tak memberimu katana atau bahkan naginata. Dari awal aku tak mau membiarkanmu terlibat terlalu dalam saat peperangan. Karena itu anggap ini sekaligus sebagai pengingat untuk tetap di berada belakangku. Jadi jaga itu baik-baik."
Senyum cerah khasnya kembali menghiasi wajahnya, Suzu menggenggam tantou tersebut di depan dadanya. "Ya, aku akan tetap bersama Tuan! Disaat Tuan dalam bahaya, aku ingin menjadi orang yang pertama menolong Tuan. Bagaimana pun bahayanya medan pertempuran. Aku tidak mau ikatan kita sia-sia. Aku ingin mengikuti langkah Takatora-sama kemana pun itu."
Ya, Takatora tahu. Keinginan murni itu tumbuh dalam dirinya. Tidak pernah berubah. Entah itu hal yang patut disyukuri atau disesali.
Suzu tertawa kecil. "Ah, sebenarnya ada sesuatu yang ingin kulihat di Kyūshū! Takatora-sama tahu Jurang Takachiho? Di dalam buku cerita ternyata disana tempat Ninigi-no-Mikoto diturunkan oleh Amaterasu, lho! Bahkan disana ada air terjun. Walaupun sekarang sudah memasuki musim dingin, aku masih tetap ingin melihatnya."
Dia bahkan masih saja tak berprasangka lain terhadap niatnya. Selalu saja naif. Meski demikian, itu salah satu dari ribuan alasan mengapa Takatora amat mencintainya.
"Begitu, 'kah? Baiklah, aku akan membawamu kesana setelah kita memenangkan perang nanti."
Senyumannya melebar, Suzu mengangguk antusias. "Ya! Aku menantikannya!"
Tapi setidaknya jangan sekarang. Untuk saat ini, dia harus tetap memendamnya. Karena pria itu masih berkeinginan untuk menggenggam tangannya. Walau ia tahu ada kalanya ia harus melepas tangan itu. Walau ia tahu akan menyakitkan bagi keduanya setelah kenyataan tersebut tersampaikan. Dia pun telah menetpkan diri menjadi iblis sekali pun. Sampai pada saat yang tepat, dia masih ingin melindungi gadis itu.
-XXX-
-XxX-
-XXX-
A/N: Walaupun chapter filler, tapi ini chapter yang rumit. Butuh pencerahan, SANGAT. Bahkan udah berapa bulan saya gak main game buat lepasin stres dan akhirnya udah bisa main lagi tapi malah makin hilang semua passion. Fic ini cuma jalan buat ngehibur diri saya yang no life. /heh
Btw, MO3 keliatan kurang memuaskan. Memang belum main, tapi udah liat gameplay-nya di yutub. Seperti biasa KOEI hobi banget ngekecewain fans-nya. Stay lazy. *notgomen*
TAPI! Takatora makin gagah pegang Dainsleif pas aku liat di situs resmi MO3. Daku meleleh~
Oke, review pretty please?
