A/N: Sudah tiga tahun fanfic ini berjalan, senang bisa lanjut sampai sekarang walopun banyak cobaan hiks. Dan makasih banyak yang buat mengikuti cerita ini terutama dua reviewer setiaku. Hontou ni arigatou gozaimashita!
Oke langsung saja, kali ini pengen cepat selesai battle karena lebih memprioritaskan aftermath. Maaf kalau terburu-buru kayak chapter sebelumnya. Sorry not sorry lol. Tentunya kuusahakan yang part2 OC milik reviewer setiaku. Ngomongnya gitu tapi update-nya kelamaan. *tampar diri sendiri*
Balas review!
RosyMiranto18
Blossom: Karena Chōsokabe udah disuruh balik sama Hideyoshi, jadi aku usahakan Aki/Natsuko interaksi sama Tachibana.
Scarlet: Sayangnya aku gak ambil banyak dari game, karena di SW4 sesuai galianku itu ngambil setting battle di tahun 1586, bukan 1587 menurut sejarah. Lagian di wiki jepang lebih menarik… walaupun nguras isi otakku lol. Aku rela kok, because I want to... plus aku gak punya ide sendiri soal battle.
Blossom: Soal tanggung jawabnya Mitsunari dan Yoshitsugu, itu kebetulan pas ketemu di wiki jepang. Natsuka Masaie juga.
Scarlet: Next. Koshōshō punya kok anak bukan dari Motochika, tapi dari Miyoshi Yoshikata. Namanya Sogō Masayasu. Coba liat di Vault SW4. Udah di-mention juga di chapter 26 lho. Pay attention okay?
Blossom: Instant retreat lol. Rasanya sakit tapi BENER BANGET orz. Aku ngaku aku nulis terlalu terburu-buru, tapi kalau mood bisa kutulis ulang di bagian battle-nya aja, tambah dikit. Seperti yang sudah kuberitahu seringkali,I m suck at writing battle scenes so don't expect too much from me qwq.
Scarlet: Btw, nama battle-nya itu Nejirozaka berdasarkan wiki jepang.
Blossom: Ahh, dari awal aku udah kepikiran buat kasih semacam note arti2 dari kata kayak Yoriki dsb. Buat chapter belakang, silakan go google aja. *plak* Tapi udah kuputuskan untuk membuatnya sekarang. Sori telat lol. Note-nya bisa dilihat di A/N yang dibawah. Thanks for the review!
Hayashinkage17
Scarlet: Halo, Kazato dan Rikka!
Blossom: Yup, kombinasi Takatora-Kanbei-Takakage itu juga berdasarkan wiki jepang lho.
Scarlet: Three heads are better than one, jadi keingat pas scene Motonari kasih panah ke Tachibana buat coba patahin di SW3. Cutscene kayak itu juga ada di SW4E, tapi Motonari diganti sama Takakage di cutscene-nya. Mungkin udah tau. XD
Blossom: Duh, kalau ngomongin Empires bangkit lagi kumatku ntar, Let! AKU PENGEN MAIN SW4E AAAHH!
Scarlet: Hush! Ah ya, aku juga ngusahain Suzu bisa ngikutin headcanon istri Takatora berdasarkan sejarah yah walopun infonya hampir gak ada sih. Hiks. Tapi setidaknya kita tahu kalau mereka berdua hubungannya langgeng banget walopun gak punya anak kandung. Jadi bahagia ehe :3
Blossom: Bagaimana Takatora mempertahankannya , eh? Mweheheh, welp, stay tune. Makasih review-nya! Aku selalu menantikan review dari reader-ku. XD
-xxx-
Disclaimer: Samurai Warriors belongs to KOEI TECMO. Kimura Siblings belongs to RosyMiranto18. Kobayakawa Shinhana, Nomi Nagachika and Kikkawa Chie belongs to Hayashinkage17. Cover milik saya sendiri.
Warning: Mainly Tōdō Takatora x Suzu (OC). OOC yang mungkin tidak disengaja atau sengaja demi alur cerita. Ada typo, pemborosan kata, diksi dan narasi yang tidak baku. Diusahakan ceritanya bisa disusun berdasarkan dari game dan atau sejarahnya serta saran dari teman. DLDR, NO FLAMES. REVIEW PLEASE!
-XoX-
Bell of the White Hare
-XoX-
CHAPTER 28
Unwavering Conviction
-XoX-
Spring, April 1587
Semerbak musim semi mendatangkan pengalaman baru bagi para pendekar Toyotomi yang pertama kali menginjakkan kaki di Kyūshū. Namun sayang, terlepas dari pertempuran yang tak memberi pertanda baik bagi Akizuki; tak satu pun dari mereka sempat untuk meringankan segala beban di pikiran serta tubuh sembari memandang bunga sakura.
Bagaimana tidak, terlepas Akizuki Tanezane tak menerima tuntutan menyerah, Hideyoshi pun mengambil tindakan untuk melawan mereka secara paksa. Banyak diantara mereka merasa diremehkan, tapi lebih banyak pula yang mencaci pemimpin mereka sendiri lantaran diperintahkan untuk membuang nyawa sendiri untuk melawan Toyotomi yang padahal memiliki jumlah pasukan yang tak mungkin bisa ditandingi. Tanezane hanya mampu mengumpulkan tiga ribu prajurit untuk bertahan dalam Kastil Ganjaku.
Di sisi lain, pasukan Toyotomi hanya bisa menebak mengapa Hideyoshi memutuskan untuk mengerahkan sedikit pasukan saja. Entah karena tak membutuhkan banyak; entah demi mengurangi korban, tak ada yang mempertanyakan hal itu. Mereka memercayakan segala keputusan pada sang Tenkabito.
Gamo Ujisato ditunjuk untuk memimpin penyerangan, dikawal bersama Toyotomi Hidekatsu; kemenakan Hideyoshi dan Maeda Toshinaga; putra kandung Maeda Toshiie untuk menyerbu Istana Ganjaku.
Kastil Ganjaku berada di pegunungan bebatuan, terletak di pinggiran timur wilayah klan Akizuki. Dengan memanfaatkan rute panjatan pada kastil, Istana Ganjaku dicegat dari segala penjuru sehingga jatuh ke pihak Hideyoshi hanya dalam satu hari. Berkat kekuatan tempur mereka yang brutal, tak sedikit pasukan Akizuki yang meregang nyawa.
Ini bukan pertama kalinya Hideyoshi menggunakan siasat perang dengan memanfaatkan jumlah tempur. Ini sudah ketiga kalinya, sudah pernah dilakukan saat pertempuran melawan Tokugawa dan Chōsokabe. Hideyoshi menghadiahkan koin emas pada tiap kashin yang berhasil membawakan kepala musuh.
Salah satu diantaranya, Kiyomasa juga mendapatkan imbalan langsung. Tak seperti para bawahan yang lain yang puas dan bangga, pemuda berambut keabuan itu hanya terdiam memandangi beberapa koin emas di tangannya.
"Hideyoshi-sama sudah pasti memiliki rencana. Dengan jumlah sebanyak itu, peluang Shimazu menyerah akan lebih tinggi. Tentu saja, sekaligus demi menghindari pertumpahan darah sebanyak mungkin,"
"Jika mereka menentang, lain lagi ceritanya, bukan?" ucap Takatora menyela pembicaraan. "Artinya tak ada pilihan selain membantai mereka secara habis-habisan. Sama seperti saat penyerangan di Shikoku, banyak nyawa yang melayang percuma. Tapi ada baiknya lantaran kelak semua kekacauan bisa padam. Mungkin itu yang orang lain pikirkan. Namun tetap saja meragukan entah akan berakhir sepenuhnya."
Seperti inikah 'membantai' yang Takatora katakan? Sampai sejauh mana pandangan Takatora terhadap siasat Hideyoshi?
Tidak, yang lebih penting dari itu apa yang ia maksud 'berakhir sepenuhnya'? Apa yang ingin dikatakan Takatora? Apakah kedamaian yang diraih Hideyoshi di masa depan takkan berlangsung lama? Jika itu benar, apa cara yang dilakukan ini salah?
Kiyomasa menggeleng pelan sambil mengurut kening, langsung mengubur semua pertanyaan yang sempat membuat dirinya kalang kabut. Entah perkataan Takatora sekadar gertakan atau tidak, dia belum tahu. Pandangan pria itu tak naif, sama sekali tak berpaling dari kenyataan... tak seperti Mitsunari. Kendati Kiyomasa tahu dendam Takatora terhadap Hideyoshi; selama dia tak berbuat diluar batas, Kiyomasa tak perlu mengambil tindakan.
"Lho? Kiyomasa? Kau sudah capek?" tanya Masanori.
"Bukan. Aku hanya sedang memikirkan sesuatu."
"Heh! Kau terlalu banyak berpikir! Kau memang tak bisa bertindak terlebih dulu baru berpikir sepertiku!" Masanori membusungkan dada.
"Itu lebih buruk, bodoh. Dan yang benar itu berpikir dulu baru bertindak."
"Hah? Begitu, ya?" Masanori menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Bahkan aku mendapatkan koin emas sedikit lebih banyak darimu. Itu sudah cukup menjadi bukti kalau kau masih sembrono di medan laga."
"Geh." Masanori tak mampu berkilah dan hanya bisa mengalah. "Maafkan hamba."
Kiyomasa hanya mendengus. "Yah, sekarang kita hanya perlu menunggu gerak-gerik musuh. Kuharap mereka tak mengambil keputusan konyol untuk melawan kita hingga darah penghabisan."
"Kalau itu mau mereka, aku siap untuk meladeni mereka kapan saja!" Masanori menggertakkan jemarinya dengan seringai menantang di wajahnya.
"...tergantung keputusan Hideyoshi-sama."
Sial, runtuk Kiyomasa dalam hati. Lagi-lagi dia mengingat perkataan Takatora. Kekhawatirannya kembali bangkit, dia muak. Padahal dia hanya perlu mempercayakan segalanya pada Hideyoshi. Apa kegoyahan yang selalu datang dan kembali itu akan mempengaruhi keputusannnya di masa nanti?
Kiyomasa tak ingin dan tak mau tahu jawaban dari seluruh pertanyaan itu. Andai kata itu benar, dia hanya perlu melawan arus dan meluruskan semua pada tempat yang seharusnya.
Perkara yang terdengar mudah, tapi sulit diselesaikan.
-XXX-
Pada malam harinya, Toyotomi mendapat laporan Tanezane meninggalkan Istana Masutomi; kediaman klan Akizuki yang terletak di tengah wilayahnya. Dia menetap di istana itu selama peperangan. Tak dapat dipungkiri lagi keputusan Tanezane untuk melawan rupanya pilihan yang salah. Ia pun menyampaikan pada seluruh pasukan yang tersisa untuk mundur ke Kastil Koshosan. Lantaran klan Akizuki kewalahan dan tak mampu menentang dalam segi jumlah.
Mendengar kabar itu, Hideyoshi kembali mengumpulkan seluruh pasukan untuk menyusun taktik.
"Apa sebaiknya kita mengejar mereka, Hideyoshi-sama?" tanya Kiyomasa.
Hideyoshi menggeleng sembari menutup tessen di tangannya. Dia menyeringai lebar. "Tidak perlu. Aku punya rencana." Kiyomasa menatap sang majikan dengan tatapan penasaran. "Kita akan membangun dinding palsu. Ini taktik yang paling kusuka semasa aku masih dibawah naungan Nobunaga-sama."
Kiyomasa mengerjapkan mata sembari berusaha menebak taktik apa yang Hideyoshi rencanakan. "Maksud Tuan seperti Istana Sunomata yang dibangun dalam satu malam saja?" tanya Kiyomasa lagi.
Hideyoshi mengangguk antusias. "Aku yakin dengan cara ini klan Akizuki akan angkat tangan. Dengan begini kita bisa mengurangi korban."
Sekumpulan kashin yang berkumpul dalam kemah utama takjub. Seperti yang diharapkan dari sang Tenkabito, tak pernah mengecewakan dengan ide-ide cemerlangnya.
Demikian para kashin mulai melaksanakan tugas sesuai perintah Hideyoshi. Malam itu juga, para penduduk setempat berkumpul diizinkan untuk membuat api unggun yang tersebar dimana-mana. Lalu memerintah mereka untuk membawa pintu dan partisi untuk membangun dinding palsu yang Hideyoshi maksud. Tak hanya tipuan dinding, Hideyoshi juga menggunakan tipuan menggunakan beras yang berlimpah seolah ia memiliki pasokan air yang lebih dari mencukupi.
Sementara para kashin disibukkan menutup dinding palsu tersebut dengan kertas putih, Natsuko yang hanya bisa menunggu sang kakak selesai bekerja, memutar-mutar tanbō senjata miliknya sembari memerhatikan istana dari kejauhan.
"Bosan..." keluh Natsuko sambil bertopang dagu.
"Sayang sekali kita yang sebagai wanita tak bisa membantu banyak, ya?" Natsuko menoleh kearah wanita berseragam biru-putih yang menghampirinya.
Dia memiliki tinggi badan sebanding dengan Suzu. Kulit putih dan tubuh yang kurus. Rambut hitam panjangnya yang berkilau dihias dengan kanzashi bunga sakura di belakang rambutnya. Tak hanya itu, manik biru yang seakan menandingi langit cerah. Serupa dengan kenalan terdekatnya.
"Wah, Hayakawa-dono rupanya? Kukira Hana-chan, ternyata aku salah. Umm... kalau tidak salah nona adalah utusan dari Tokugawa, ya?"
Wanita itu tak langsung menjawab, kelopak matanya setengah terbeliak sekilas. "Ya... Apakah kamu teman Hana?"
Natsuko mengangguk senang. "Yup! Walaupun dari klan berbeda, aku dan Hana-chan berteman baik!" Natsuko berhenti berbicara. "Lho? Apa nona kenal Hana-chan?"
Hayakawa tersenyum tipis. "...Bisa dibilang begitu."
"Hee! Begitu, ya! Sayang sekali Hana-chan dan keluarganya bertempur di selatan Kyūshū. Tapi aku yakin kita bisa bertemu dengannya nanti!"
"...Kamu benar. Aku tak sabar menunggunya"
"Omong-omong, apa hubungan nona dengan Hana-chan?"
Hayakawa terdiam, namun senyumannya masih terukir di paras cantiknya. "Aku... bertalian dengannya."
"...?" Kedua alis Natsuko bertaut, tak dapat menangkap maksud Hayakawa.
"Kira-kira, apa dia mau menerimaku, ya? Seharusnya aku datang padanya lebih awal..." gumam Hayakawa dengan mata menerawang jauh.
"Umm... aku masih tidak mengerti apa hubungan nona dengan Hana-chan. Tapi aku yakin dia pasti senang bertemu denganmu!" Natsuko memberi senyuman meyakinkan pada Hayakawa.
Tanpa mengatakan apapun, Hayakawa hanya membalas senyuman Natsuko. Namun, gadis berkepala merah jambu itu masih bisa merasakan kesedihan dibalik senyumannya.
-XXX-
Seraya berjalan menuju istana, Aki mengambil koin emas dari kantong dalam jinbaori-nya. Dirinya juga mendapat ganjaran setelah berpatisipasi menyergap Istana Ganjaku. Tetapi Aki tak merasakan puas atas keberhasilannya, lantaran mengingat pembicarannya dengan Kiyomasa dan Takatora tempo hari.
"Sepertinya aku mulai sedikit paham maksud Takatora. Hideyoshi seharusnya mampu memperoleh hati rakyat bukan dengan uang maupun ganjaran. Dia tak bisa membeli tiap orang semaunya. Yang lebih buruk dari itu, dia mendesak dan merampas musuh dengan jumlah kekuatan yang brutal. Mereka para pendekar, menjunjung tinggi kehormatan... takkan mudah mendorong mereka untuk membuang kehormatan itu." Aki menghela napas. "Tak mengherankan dia semakin muak dengan Hideyoshi. Tapi di sisi lain, Hideyoshi sering mengeluh kenapa Takatora tak bernaung dibawahnya," gumam Aki sambil menyimpan kembali koinnya.
"Kau tampak sibuk, ya, Aki."
Aki menoleh ke belakangnya ketika dikagetkan dengan tepukan kecil di pundaknya. Sepasang sejoli lengkap dengan seragam perang kebanggaan Tachibana, lambang klan yang amat familiar di mata Aki. "Muneshige-dono, Ginchiyo-dono! Sejak kapan kalian datang?"
"Baru saja. Kami juga sudah berhadapan dengan Hideyoshi-sama. Tapi sayang kami diminta untuk mundur. Dilihat darimana pun, jumlah kekuatan tempur kami tak sebanding dengan Toyotomi."
"Bicara apa kau ini? Kita sudah banyak kehilangan bawahanmu, bahkan kau sudah kehilangan ayahmu. Jika kita kehilangan prajurit lebih dari ini, maka sia-sia saja bantuan yang kita dapat sekarang," balas Ginchiyo.
"Ya, istrimu benar. Kalian sudah hebat sekali menahan mereka hingga kini. Serahkan saja pada kami dan rehatlah. Hideyoshi pasti akan memberikan imbalan yang pantas untukmu."
"Ya, aku mengerti." Muneshige mengangguk. "Lalu, bagaimana kabar adikmu?"
"Dia baik-baik saja. Sekarang dia sedang menetap di markas. Terima kasih sudah bertanya." Aki menjernihkan tenggorokan sebelum kembali bicara. "Muneshige-dono, aku minta maaf atas semuanya dan—"
Muneshige menepuk sebelah pundaknya, Aki langsung berhenti bicara. "Setelah perang ini berakhir, bagaimana kalau kita minum bersama dan mengobrol?"
Aki tersenyum lebar. "Tentu saja! Aku juga ingin menyampaikan banyak hal padamu."
Muneshige mengangguk. "Nah, kalau begitu kami kembali ke Kastil Tachibanayama. Semoga beruntung."
Aki mengangguk. Setelah berpamitan, sepasang sejoli itu pun undur diri bersama para bawahan. Setelah melihat kepergian mereka, Aki kembali melanjutkan pekerjaannya hingga segala persiapan rampung.
...
Ketika fajar terbit, pasukan Akizuki terkejut melihat perubahan drastis Kastil Masutomi yang terbengkalai hanya dalam satu malam. Tidak disangka oleh Tanezane bahwa Hideyoshi mampu memulihkan istana dalam sehari. Pasukannya mulai kehilangan kemauan untuk melawan. Dari awal mereka tak mungkin bisa mengimbanginya dari segi jumlah maupun kecerdikan.
"Tanezane-sama! Jika kita tetap melawan, tak ada jaminan bagi klan ini untuk bertahan! Mohon pertimbangkan, Tuanku!" pinta salah satu bawahan.
Tak ada rencana yang terlintas untuk membalikkan keadaan. Meskipun ada, itu hanyalah cara yang akan mengorbankan kehormatannya sebagai pemimpin. "Aku tahu itu!" bentak Tanezane.
Sebagai pertanda penyerahan dirinya, Tanezane memberikan guci teh bernama 'Narashiba' pada Hideyoshi. Juga menyerahkan putranya sebagai sandera. Hideyoshi memerintahnya untuk memindahkan wilayah kepemilikannya ke provinsi Hyūga. Sang Tenkabito juga tak lupa untuk memberikan ganjaran pada penduduk yang sudah membantu dengan memberikan mantel miliknya pada mereka.
-XXX-
Satsuma, dimana pasukan Shimazu melepas lelah setelah meloloskan diri dari pertempuran Nejirozaka. Namun, sayang, pasukan Toyotomi berhasil melacak keberadaan mereka. Sekali lagi, para pemimpin keluarga Shimazu kembali berdebat, terpaksa terburu-buru mengambil keputusan.
"Yoshihiro. Apa kau sudah buta!? Kita sudah berada di ujung tanduk! Tidakkah kau lihat seberapa besar jumlah kekuatan Toyotomi!?" bentak Yoshihisa memukul meja. "Dan apa kau masih belum sadar prajurit-prajurit kita sudah kelelahan!?"
"Tentu saja, aku sudah melihatnya, sangat jelas," jawab Yoshihiro. Alisnya tak bergeming sedikit pun, tak ada tanda ia mau menurut. "Tapi jika ani-ja tak bersedia memimpin, biarkan saya yang mengambil alih," potong Yoshihiro.
"Apa kau bilang!?"
Yoshihiro kemudian berlutut dihadapan sang kakak. "Ani-ja, yang memutuskan untuk melawan bukan hanya saya sendiri. Prajurit-prajurit kebanggaan kita, bersedia menumpahkan darah demi meraih impian kita untuk menguasai penjuru Kyūshū."
"Dan sekarang semua itu sudah mustahil!" bentak Yoshihisa lagi. "Apa kau ingin membuang nyawamu!?"
"Kami hanya tak ingin membuang tekad dan impian itu, ani-ja!" balas Yoshihiro dengan suara lebih keras, kemudian keningnya bersentuhan dengan tanah. Yoshihisa terperangah. "Memang mustahil, memang kita tak mungkin menang. Tapi kita, Shimazu, disegani akan keberanian dan kehormatan yang tinggi! Aku takkan membiarkan kehormatan yang sudah susah payah kita bangun akan hancur begitu saja!"
"Aku juga mohon padamu, Yoshihisa-sama!" Toyohisa, putra Iehisa ikut menuduk dalam di hadapannya. "Biarkan kami melanjutkan pertempuran!"
Sang kakak tertua terbungkam sejenak, lalu menghampiri Yoshihiro dan memintanya untuk mengangkat kepala. "Tak ada jaminan kalian akan selamat, Yoshihiro."
"Saya tahu. Tapi kami tetap akan melakukannya. Shimazu takkan menyerah. Kita akan tunjukkan pada Hideyoshi bahwa jumlah tempur takkan menghanguskan pendirian kita."
Bimbang masih menggantung dalam diri, namun melihat keyakinan saudaranya, Yoshihisa pun bangkit; memberi satu perintah pada seluruh pasukan. "Kerahkan seluruh kemampuan kalian! Tunjukkan pada mereka kekuatan Shimazu yang sesungguhnya!"
Para prajurit pun bersorak sembari mengangkat senjata mereka dengan penuh semangat.
Ditengah sorakan seisi istana, figur mungil dengan mantel bertudung kepala berwarna hitam kemerahan bersembunyi dibalik bayangan; memantau tak jauh dari kemah utama. Menyaksikan kobaran semangat juang dan kegigihan Shimazu membuat tubuhnya bergemetar. Manik merah delimanya menurun; tersulut kegelisahan bercampur sedih.
"...Dimana pun itu, kehormatan adalah sesuatu yang tak dapat seorang pendekar jual begitu saja. Baik Chōsokabe maupun Shimazu, semua orang. Apa mereka tidak akan menyesali keputusan itu? Sebesar apa pentingnya hingga harus mendorong diri mereka sejauh ini?" Suzu meremas ujung tudung kepalanya, disandarkan punggungnya pada pohon. Sukmanya seakan tergulung dan sesak. Dirinya tergerak akan keteguhan hati Shimazu. Kendati mereka adalah musuh dalam perang ini.
Namun Suzu hanya tahu betapa berharganya nyawa dibandingkan kehormatan. Hanya itulah yang tak dimiliki oleh Suzu.
-XXX-
Pertempuran belum berakhir, terlepas Akizuki telah menyerah namun Shimazu masih menolak untuk melucuti senjata. Setelah mendapat laporan kemenangan Hidenaga di Nejirozaka, Hideyoshi bergegas menyusul saudaranya di Satsuma, dimana pasukan klan Shimazu bertahan. Meski perjalanan cukup jauh dari Istana Ganjaku sampai Satsuma, Hideyoshi mampu datang tepat waktu.
"Ah, ani-ue. Baguslah kau datang secepat ini, apa tak ada hambatan selama perjalanan?" tanya Hidenaga.
"Melelahkan, memang. Tapi setidaknya tidak seburuk situasi Shimazu. Kami baik-baik saja berkat pasokan suplai sangat mencukupi. Bagaimana denganmu sendiri, Hidenaga? Kondisimu masih belum baik, bukan?"
Hidenaga tertawa pelan. "Tenang saja. Aku sudah seringkali dipaksa Suzu untuk meminum ramuan buatannya." Sang tangan kanan Tenkabito mulai mengganti pembicaraan. "Jadi apa langkah kita selanjutnya?"
"Sepertinya tak ada pilihan selain menyerbu secara besar-besaran, benar, Hideyoshi-sama?" tanya Kanbei.
Hideyoshi menggeram pelan mendengar lontaran Kanbei, tapi ia langsung mengesampingkan amarah itu. Dia mengurut dagu seraya berpikir, menyusun rencana yang ada di dalam kepala. "Mari kita lihat..."
Sementara para kashin duduk sambil menyimak, Masanori yang bersebelahan dengan Kiyomasa; meregangkan tubuhnya karena lelah jauh-jauh menuju Satsuma. Pandangannya teralih ketika melihat Suzu yang baru saja memasuki kemah, seperti biasa membawa laporan hasil spionasenya.
"Hideyoshi-sama. Hidenaga-sama." Suzu membungkuk dalam setelah menyingkap tudung kepalanya.
"Ah, Suzu. Bagaimana hasilnya?" tanya Hideyoshi.
Ketika Suzu mulai menjelaskan hasil penyuluhannya pada Hideyoshi dan Hidenaga. Masanori terkekeh pelan sembari diam-diam memandang Suzu.
"Hehe. Ternyata membawa Suzu-chan ada untungnya. Sekaligus untuk cuci mata."
"Kau ini, masih saja terobsesi padanya..." desah Kiyomasa menghela napas.
"Jangan khawatir! Jangan khawatir! Aku tidak akan terlalu mendekatkan diri, kok! Yah, sejak lakinya muncul, aku jadi susah mengobrol dengannya seperti dulu."
Kiyomasa menyilangkan kedua tangan di depan dada. "Tahu, tidak, Masanori? Onene-sama telah mempercayakanku untuk mengawasi Hideyoshi-sama apabila beliau berniat melirik wanita lain. Tapi tidak hanya Onene-sama, Omasa-dono juga. Dia takkan senang jika dia mendengarmu melirik wanita lain. Kalau dia tahu..."
Mendengar nama istrinya, Masanori spontan menenggak ludah. Dia tak mungkin bisa membantah istrinya apalagi jika Omasa sudah memegang naginata. "B-Baiklah, aku mengerti! Aku tidak akan berbuat macam-macam! Aku akan membantumu mengawasi Ojiki jadi jangan beritahu dia!" pekik Masanori panik.
"Ya, ya..."
Di sisi lain, pasukan Mōri yang juga sudah berada dalam kemah. Nagachika yang hanya bisa membisu melihat kecanggungan istrinya sejak sebelum pertempuran dimulai. Tak hanya itu, dia sempat heran bagaimana ayahnya Hana, Takakage itu masih bisa memusatkan pikirannya terhadap pertempuran sedangkan wanita itu sudah ada di dalam kemah.
Tak ada sapaan, mereka pun juga tak berkontak mata. Apabila mereka berniat untuk mengurangi kewasapadaan di sekitar, mungkin Nagachika bisa memahami itu. Tapi terlihat menyakitkan jika mereka terus seperti orang tak dikenal.
Nagachika mengalihkan pandangan tatkala istrinya bangkit dari kursi. "Hana?"
"Aku sudah memutuskan, Nagachika. Aku tidak ingin membiarkan niatnya terbuang sia-sia. Dia rela datang sejauh ini demi diriku." Lalu Hana tersenyum lembut pada sang suami. "Lagipula, banyak sekali yang ingin kuceritakan padanya."
Manik biru pirusnya berpindah kearah wanita berambut hitam panjang dengan seragam biru-putih. Sadar akan kontak mata Hana, Hayakawa tersenyum lembut lalu mengisyaratkannya untuk berbicara diluar kemah. Hana mengangguk pelan kemudian mengikutinya setelah Hayakawa keluar.
Awalnya Nagachika ingin mengikuti Hana, tapi ia langsung mengurung niat itu.
"Mungkin ini waktu yang tepat bagi mereka untuk berbicara sendirian. Kita percayakan saja padanya, jadi jangan khawatir." Chie yang duduk disamping Nagachika menepuk bahunya sembari berbicara dengan isyarat tangan.
"Ya, kau benar." Nagachika tersenyum dan mengangguk.
Setelah Suzu menjelaskan laporannya, dia diperbolehkan undur diri. Dia bergegas menghampiri pria dengan jinbaori biru yang memiliki tubuh tinggi dan tegap; yang sedang menerawang perbukitan dari kejauhan, dimana Shimazu menempatkan posisi sementara.
"Tak ada hambatan?" tanya pria itu yang sudah menyadari keberadaan Suzu tanpa mengalihkan pandangan.
Suzu tersenyum dan menggeleng. "Um. Tidak ada, kok, Takatora-sama." Dia pun ikut menyamakan perhatiannya dengan Takatora. "Apa sejak tadi Tuan berada disini?"
"Begitulah. Aku bisa memantaumu saat berpergian dan kembali. Sayang aku tak tahu apa yang terjadi di markas Shimazu. Dan baguslah kau tak berbohong." Suzu hanya tersenyum canggung mendengar lontaran terus terang khas suaminya.
"Hanya saja aku harap ini akan menjadi terakhir kalinya mereka melawan arus..."
"Memang—" Tatkala Takatora mengerling kearah Suzu, dia mengedipkan matanya separuh kaget. Takatora menghela napas. "Kau terlalu mudah terbawa perasaan."
"Eh?" Tangan kuat Takatora yang bersarung tangan hitam meraih wajah Suzu dengan lembut.
"Kelopak mata dan hidungmu memerah. Kau menangisi mereka, bukan?"
Suzu tak dapat berkilah, pandangannya mulai sayu. "...Aku tidak bisa berhenti memikirkannya." Tangannya berpangku, meremas sode seragamnya. "Menurut Takatora-sama, apa Hideyoshi-sama sudah mempertimbangkan semua ini...?"
Takatora menurunkan tangannya. "Aku tak ada niat ingin tahu soal itu," jawabnya tanpa ekspresi. Tapi bagaimana pun perasaanmu, sebagai pendekar, mereka; Shimazu, tak ingin merasa dikasihani. Itu penghinaan bagi seorang pendekar."
"Ya...Tuan benar."
"Sepertinya kau mulai sependapat denganku."
"Sependapat?" Suzu mengangkat wajah kebingungan.
"...Kau pasti tahu maksudku." Takatora menaikkan bahu. Dari tatapannya, Suzu langsung mencerna maksud suaminya.
Tanpa memandang hutang budi Suzu pada pemimpin Toyotomi itu, cara-cara yang diterapkannya memang buruk lantaran sebagian besar Hideyoshi mencontoh prinsip Nobunaga. Tak ada belas kasih jika mereka sudah menentang.
Namun bagaimana pun juga ini adalah perang. Perang tetap ada sekalipun tak ada kebencian. Hasrat untuk menguasai, itulah alasan perang berlangsung. Bila hasrat itu tercapai, perang akan usai.
Tapi ini? Apakah suaminya menganggap cara Hideyoshi sudah melampaui batas kewajaran? Suzu tak mungkin paham, pola pikir seorang pendekar bahkan seorang pemimpin... dia tak mungkin bisa memahami itu. Dia tak memilikinya.
Suzu menurunkan pandangannya lagi. "Aku..." Sulit untuk menjawabnya, karena Suzu—
"Kau hanya membiarkan kemana semua kartu jatuh di tempat. Seperti itu?"
Suzu terdiam sejenak, masih mengalihkan pandangan. "Kurasa. Tapi..."
Melihat Suzu yang terbawa arus alam bawah sadarnya, Takatora mendaratkan telapaknya diatas kepala Suzu. "Baiklah, cukup. Lupakan. Kau mulai berpikir terlalu keras. 'Seperti inilah arus yang kita dan mereka hadapi,' padahal aku sendiri yang mengingatkanmu," ujar Takatora sambil membelai rambut peraknya. "Nah, kemana perginya dirimu yang selalu optimis, hm?"
Suzu mulai tertawa geli saat Takatora memainkan pipinya. Resah gelisahnya pun hanyut. Lega istrinya kembali tersenyum, diturunkannya tangan dari wajah Suzu, kembali memindahkan manik biru safirnya kearah bukit.
"...Lagipula tampaknya mustahil bagiku untuk mengubah sentimenmu."
Suzu mengerjapkan mata, tak menangkap monolog Takatora lantaran suara angin yang menggelitik telinga Suzu. Sejoli itu tak mengindahkan pandangan dari kelopak-kelopak sakura yang menari mengelilingi mereka. "Takatora-sama...?"
Tak sempat bertanya, Suzu dikagetkan oleh seorang gadis berambut merah jambu berkuncir dua dan dipeluk dari belakang.
"Suzu-chan! Kita bertemu lagi!" seru gadis itu senang sambil menyondolkan pipinya dengan Suzu.
"Wah, Natsuko! Kamu membuatku kaget..." pekik Suzu.
Tak hanya Natsuko yang datang, kakaknya, Aki mengikutinya dari belakang. Ia menghela napas sambil menggeleng melihat tingkah adiknya.
"Masih hidup rupanya," ucap Takatora sarkas.
"Jangan katakan padaku kalau kau marah karena sudah menganggu waktu kalian berdua. Tapi maaf saja, aku tak berniat mati secepat itu, tahu!" balas Aki jengkel. "Berkat jumlah tempur yang brutal ini, aku nyaris saja tak mendapat imbalan. Yah, bukannya aku mengharapkannya." Aki berkacak pinggang. "Memang terdengar sedikit kejam, tapi berkat itu juga aku mulai paham bagaimana anggapanmu."
"...Begitu," jawab Takatora acuh tak acuh.
Suzu yang masih dipeluk Natsuko, memandang Aki dan Takatora penuh pertanyaan. Sang suami yang tak membalas tatapan penasaran istrinya hanya menutup mata sambil bersandar dan menyilangkan tangan.
Beruntung Suzu tak bersamanya saat Takatora ditugaskan bersama Aki dan Kiyomasa untuk membangun Jurakudai. Takatora tak mungkin membiarkan Suzu menyelami pembicaraan mereka tentang masa depan Toyotomi yang tak meyakinkan... juga tentang perundingannya dengan Kiyomasa.
"Apa yang Tuan bicarakan?"
"A-Ah, bukan apa-apa kok!" Aki menggoyangkan kedua tangannya sedikit panik, lalu Aki berbisik ke Takatora. "Hei. Kalau diberitahu, kira-kira situasinya akan memburuk, ya? Mengingat istrimu tak mau diam membiarkan orang yang dikenalnya sedang kesulitan. Apa dia akan turun tangan?"
"..." Takatora hanya terdiam memandang Suzu, yang masih dipeluk Natsuko. "Tentu saja buruk. Tapi soal dia akan turun tangan atau tidak, itu tidak ada hubungannya denganmu."
"Hah? Jangan bilang padaku kalau kau tidak yakin. Masa' tidak bisa menebak apa yang dipikirkan istrimu sendiri?" Aki menaikkan sebelah alis dan menyeringai sarkas.
Takatora menyipitkan mata, menatap tajam lawan bicaranya. Merasakan aura dingin menusuk sekujur tulang punggung Aki, dia spontan menenggak ludah dan mengangkat rendah kedua tangan pertanda menyerah sambil mundur dua langkah.
"Omong-omong, Natsuko. Hana-dono ada dimana? Aku lihat dia tidak ada di kemah."
"Oh, Hana-chan sedang mengobrol dengan Hayakawa-dono sebentar. Hayakawa-dono bilang kalau dia dan Hana-chan itu bertalian, lho.".
"Bertalian...?" gumam Suzu bingung.
"Apa maksudmu, Natsuko?" tanya Aki yang baru saja mengikut pembicaraan mereka.
"Entahlah. Aku juga penasaran." Natsuko menaikkan bahu.
"...Bertalian?" gumam Suzu lagi. Dia ingat bagaimana rupa wanita itu, terutama warna biru cerah matanya serta wajah yang mirip. Jika dikatakan bertalian, maka satu-satunya kemungkinan hubungan mereka adalah...
"Um, apa mungkin wanita itu adalah kelurga—"
Tiba-tiba terdengar suara langkah yang terburu-buru berkelebat memasuki kemah. Seluruh perhatian berpindah ke seorang prajurit pembawa pesan yang terlihat panik. "Hideyoshi-sama! Keadaan darurat! Seluruh pasukan Shimazu telah bergerak dan berniat untuk melancarkan serangan besar-besaran!"
Hideyoshi sempat membelalakkan mata terkejut, tapi kemudian dia menghela napas. "Mereka memang tak rela menyerah begitu saja, sesuai perkataanmu, Hidenaga."
"Ya, tapi harap saja ini akan menjadi terakhir kalinya mereka menentang," ucap Hidenaga.
Hideyoshi manggut-manggut, lalu memberi perintah pada seluruh pasukan. "Semuanya, segeralah menuju posisi masing-masing. Kita akan halau serangan Shimazu!"
"Baik!"
-XXX-
Pasukan Toyotomi serta Mōri mulai mengambil posisi bertahan, namun tak sedikit juga yang mengambil posisi garis depan. Bersiap kapanpun untuk menghalau serbuan Shimazu.
Sementara Suzu dan Natsuko disuruh untuk menetap di kemah, mereka hanya bisa melihat seluruh medan dari atas seiroyagura.
"Daripada disebut serangan besar-besaran, rasanya mereka melakukan serangan bunuh diri. Ya, 'kan, Suzu-chan?"
"...Kurasa begitu," desah Suzu.
Manik merah Suzu berpindah kearah salah satu sekutu yang berasal dari Tokugawa. Wanita berseragam biru-putih yang bernama Hayakawa itu terlihat baru saja selesai mengobrol dengan Shinhana di dalam tenda. Mereka tersenyum, tersirat kerinduan dan senang diantara keduanya.
Sesaat Suzu merasa tenang, tiba-tiba denyut jantungnya berdegup cukup keras ketika Suzu merasakan hawa keberadaan yang bengis. Perasaan ini lagi, persis saat keberangkatan mereka dari Osaka. Tapi ini jauh lebih kuat. Apakah karena kehadiran penyusup itu sangat dekat?
Tidak, yang lebih penting dari itu... mengapa dia menyelinapkan hawanya pada Hayakawa? Dia pun tampak tak menyadarinya. Tak satu pun yang bisa merasakan kehadirannya, hanya Suzu.
"Suzu-chan? Ada apa? Wajahmu tiba-tiba pucat. Kamu tidak perlu memaksakan diri, lho."
"..." Suzu hanya bisa bergemetar memandang Hayakawa dari kejauhan.
Ia mulai mengingat perkataan Sango sebelum keberangkatan mereka ke Kyūshū. Fūma Kotaro, yang kini bersemayam dibalik bayangan Hayakawa. Suzu tak punya bukti kuat apa tujuannya. Jika benar dia mengincar Hideyoshi, mengapa dia tak melakukannya dari awal? Lantas apa tujuannya?
Suzu menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri. "...Aku tidak apa-apa. Maaf sudah membuatmu cemas." Suzu menggeleng pelan sambil mengusap dada.
Apa mungkin dia hanya berniat untuk memantau pertempuran Toyotomi, atau mengawasi Hayakawa... Suzu tak bisa menjawab sekarang. Dia tak mungkin bertanya pada Hayakawa untuk memastikan keberadaannya. Sebisa mungkin Suzu ingin menjauhkan diri dari percekcokan dan kecurigaan. Bagaimana pun juga, dia harus tetap berhati-hati.
Bahkan saat ini Takatora sudah berada di garis depan, dia tak bisa memberitahunya sekarang.
-XXX-
Canggung menyusup diantara mereka. Hayakawa tetap berdiri di hadapan Hana, kelembutan dan keramah di wajahnya sama sekali tak menghilang seraya menunggu Hana angkat bicara.
Tidak, mungkin sebaiknya dia yang harus berbicara duluan agar bisa meringankan hatinya.
"Bagaimana kabarmu, Hana?"
Hana langsung mengangkat wajah dan tersenyum canggung. "Y-Ya. Aku baik-baik saja. Ayah juga baik, lho."
"Begitu. Syukurlah..."
"Um... bagaimana denganmu, ibu?"
Hayakawa mengerjapkan matanya. Ini pertama kalinya Hana memanggilnya 'ibu' setelah sekian lama. Hayakawa tersenyum lembut. "Aku baik."
Kelopak mata Hana sayu, meski ia mendapat kabar baik dari ibu kandungnya. "Pasti sulit bagimu, ibu sampai jauh-jauh datang dan menemuiku," gumam Hana kembali menurunkan kepala. "Maaf, tapi terima kasih, ibu."
Hanya dengan kalimat sederhana itu berhasil menggerakkan hati Hayakawa. Dipeluknya Hana dengan penuh kasih sayang.
Akhirnya sentuhan dan kehangatan yang sudah lama ia tahan tersalurkan. Hana membalas pelukan, bulir air mata bahagia menetes dari sepasang matanya. Mereka selalu menantikan ini, seolah-olah kedua mampu bernapas untuk pertama kalinya.
"Sepertinya pilihanku tidak salah untuk bertempur... hingga akhirnya aku bisa bertemu dengan ibu lagi."
"Ya, kau sudah berusaha sangat keras, Hana," bisiknya sembari membelai kepala putrinya.
"Ibu?" panggil Hana sambil mengusap air matanya.
"Ya, Hana?"
"Apa ibu sudah bertemu dengan ayah...?"
Tangannya berhenti membelai rambut pirang Hana, lalu melepas pelukan dengan perlahan. "Itu... rasanya sulit."
"Kenapa? Apa ibu gugup karena sudah lama tak menemuinya?"
"Bukan, bukan itu." Hayakawa menggeleng pelan. "Jika dikatakan, sebenarnya aku takut. Kamu tahu sendiri, bukan? Aku berasal dari Hōjō, dan ayahmu Mōri. Bahkan Hideyoshi-dono berada disini. Apabila beliau tahu, aku takut sesuatu buruk terjadi padanya."
"Tapi..."
"Jangan khawatir, Hana. Memang dia sudah ada di hadapanku, tapi ini bukan waktu yang tepat. Pasti ada kalanya bagi kami agar bisa bertemu lagi. Aku yakin ayahmu juga berpikiran sama. Percayalah," ucapnya sembari meraih wajah Hana dengan kedua tangan. Senyuman lembut kembali menghiasi wajah anggun Hayakawa.
Hana tidak bisa menjawab, raut wajahnya masih tersirat kesedihan. Meski Hana lega sudah bisa menemui ibu kandungnya, tapi kedua orangtuanya masih berusaha menjaga jarak lantaran posisi mereka saat ini.
"Nah, pergilah temui suamimu. Kalau kamu terlalu lama bersamaku, mereka akan mencurigai kita."
Hana mengangguk pelan, lalu mundur beberapa langkah tanpa memalingkan pandangan dari sang ibu. "Aku menyayangimu, ibu."
Hayakawa melebarkan senyumannya. "Ya, aku juga menyayangimu."
Walaupun Hana sudah meninggalkannya sendirian dalam tenda, senyuman Hayakawa masih tak menghilang dari wajahnya. Tak ada kata-kata yang bisa diucapkan lagi selain merasa senang dan lega setelah berbicara dengan putrinya setelah sekian lamanya.
"Sangat menyentuh."
Hayakawa tersadar setelah mendengar suara kekeh yang familiar itu. Dia menghela napas. "Kumohon berhenti meledekku. Fūma-san, aku bisa menjaga diri, seharusnya kau berada di Odawara dan melindungi Hōjō... bukan mengurusiku."
Hayakawa berbalik menghadap pria yang memiliki postur kekar dan sangat tinggi. Kepangan rambut merah menyala itu diikat ekor kuda. Aura yang mencekam menguar di sekelilingnya, layaknya iblis. Tapi Hayakawa sudah bisa memaklumi sosok Fūma Kotarō.
Dia kembali terkekeh. "Aku menemukan sesuatu yang menarik."
"Eh? Apa aku boleh tahu apa itu?" tanya Hayakawa.
"Kelinci putih."
Hayakawa menaikkan alisnya semakin bingung. "...Aku tidak tahu apa maksudmu tapi jangan melakukan sesuatu yang memancing kewaspadaan para kashin disini."
"Ini hanyalah permainan," kekehnya sambil menghilang di telan bayangan.
Hayakawa menghela napas lagi, sadar bahwa ia tak mau menurut. "Ternyata tak ada yang bisa mengikatmu..."
-XXX-
-XxX-
-XXX-
[1] Kashin: 家臣 = vassal, bawahan.
[2] Tessen: 鉄扇 = kipas tangan terbuat dari besi.
[3] Sode 袖 = sleeve, atau lengan baju.
[4] Seiroyagura = tower atau keep yang terbuat dari kayu.
A/N: 21 Juli lalu ada event 15 tahun SW yang mengambil setting Sekigahara. Karakter utamanya Takatora, Mitsunari, Yoshitsugu dan Ieyasu. I was so hyped tapi mesti nunggu orang baik yang mau upload CD event-nya :"3
Dan, sheesh... WO4U juga udah muncul. Not that hyped tho. Yah, kecuali kalau voting pas Musou Fest 2019 lalu dikabulkan, saya pasti hype sampe meledak duar memek *gak*. Karena di voting itu Takatora dianggap karakter nomer 3 paling diinginkan punya Deify Form. Membayangkannya aja udah bikin saya gila. *elus dada*
Kesampingkan itu, karena disini aku lebih memprioritaskan kejadian di aftermath yang bakal di up chapter berikutnya. Udah dapat sebagian gambarannya jadi tinggal diketik. Oh, kuharap gak ada kesalahan besar soal hubungan Hayakawa dan Hana disini. Karena fanfic ini duluan dari fanfic-nya Hayashinkage18-senpai, The Forbidden Girl. Yuk mampir kesana! *promo-wkwk*
As always, review please!
