Disclaimer: Samurai Warriors belongs to KOEI TECMO. Kimura Siblings belongs to RosyMiranto18. Kobayakawa Shinhana, Nomi Nagachika and Kikkawa Chie belongs to Hayashinkage17. Cover illustration by me.

Warning: Mainly Tōdō Takatora x Suzu (OC). OOC yang mungkin tidak disengaja atau sengaja demi alur cerita. Ada typo, diksi dan narasi yang tidak baku. Diusahakan ceritanya bisa disusun berdasarkan dari game dan atau sejarahnya serta saran dari teman. DLDR, NO FLAMES. REVIEW PLEASE!

-XoX-

Bell of the White Hare

-XoX-

CHAPTER 29

Stained in Black

-XoX-

Horagai telah bergema, diiringi derapan telapak kuda pasukan Shimazu yang berlari memacu melewati Sungai Sendai. Walau jumlah tempur mereka tak setara dengan Toyotomi, yang hanya berjumlah sekitar lima ribu. Mereka masih bertaruh dengan semangat serta tekad sampai detik ini.

Ii Naomasa, yang turut mengajukan diri di gelombang pertama; menemukan lawan. Padahal sebagian besar pasukan Shimazu sedemekian putus asa hingga dengan bodohnya mengambil tindakan dengan serangan bunuh diri. Namun lawan Naomasa itu sama sekali tak terlihat bimbang. Dengan bangga diacungkannya kapak raksasa itu kearah Naomasa.

"Hei, kau yang berzirah merah! Kau tampak kuat! Aku Shimazu Toyohisa, lawanlah aku!" seru Toyohisa penuh semangat.

"Bocah tengik sepertimu berani menantangku? Buruk, sangat buruk." Naomasa mengambil ancang-ancang dan bersiap menyerang Toyohisa. "Baiklah. Pertarungan takkan terhormat tanpa pertukaran nama. Ii Naomasa, maju!"

Sementara itu, Shinhana bersama Chie memantau arus pertempuran sebelum menginjak medan.

"Mereka sampai nekat... Tidak, atau lebih tepatnya ini serangan bunuh diri," gumam Shinhana dengan tatapan sayu. "Memang bukan hal yang baru lagi."

"Ya, tapi halangan seperti ini jangan sampai mencegatmu agar bisa berbicara lebih dengan ibumu." balas Chie tersenyum, seperti biasa berbicara menggunakan bahasa isyarat.

"Tentu saja. Bahkan setelah berbicara dengannya, harapanku terasa lebih luas." Hana tertawa kecil. "Nah, sebaiknya kita segera maju. Setidaknya kita akan menahan mereka sampai Nagachika dan pasukan gelombang kedua yang lain datang." Wanita bermanik biru cerah itu menerawang jauh kearah pasukan Shimazu yang hendak mendekat, memasang ancang sembari mengeratkan genggaman pada tombaknya.

Dua onna bugeisha itu pun bergabung bersama menuju medan laga.

Disisi lain, Takatora yang juga berada di garis depan; tampak tidak mengalami kesulitan sama sekali. Meski terdapat beberapa luka sayat di tubuhnya, sama sekali tak menghentikannya untuk meneruskan pertempuran. Tak ada keraguan, menyerang tanpa belas kasih. Bilah pedang tipisnya basah akan darah, bahkan sorot mata biru dingin itu dibuat bimbang lawan-lawannya.

"Inilah akibatnya kalian berkepala batu," ketus pria itu mengusap percikan darah yang mengotori wajah dengan punggung tangan. "Meski sudah melawan dengan kekuatan penuh sekalipun, kalian hanya akan mati membusuk disini."

Tak terima mendengar hinaan itu, prajurit-prajurit Shimazu yang menjadi lawannya pun geram. Mereka berteriak penuh amarah dan mulai menyerang tanpa perhitungan.

Ketika pedang Takatora berhasil menghentikan serangan, dia bergerak maju seiring saiken-nya bergesekan dengan tombak lawan hingga melukai genggaman tangannya. Takatora langsung menebas musuhnya yang kehilangan jarak serangan.

Musuh lain berkesempatan menyerang Takatora dari belakang. Belum sempat membalas, seseorang mengambil alih mangsanya dan mati. Bisa dikatakan dirinya tertolong, memang. Tapi itu membuat Takatora mengerutkan dahi. "Sebaiknya kau mencari lawanmu sendiri daripada merebut prestasi milik orang lain, Kimura. Tapi, terima kasih."

"Kau juga sebaiknya memilah ucapanmu kalau mau berterima kasih. Ya, sama-sama." Aki menghela napas.

Perhatian mereka beralih ketika mendengar sorakan Shimazu semakin membara, tak memperdulikan sudah banyak diantara mereka yang meregang nyawa.

"Jangan menyerah! Serbu markas utama Toyotomi! Temukan celah dan buka jalan! Semuanya maju!" seru Shimazu Iehisa, memerintah pasukan berkuda maju terlebih dahulu.

Takatora mendengus. "Masih saja berharap memenangkan perang rupanya. Gigih sekali. Tapi kuakui itu rencana yang tidak buruk. Melihat Hideyoshi dipenggal secara langsung itu sangat menarik."

"Oi oi, jangan bicara enteng begitu! Sudah jelas itu buruk, 'kan? Masih beruntung ucapanmu hanya aku yang mendengar..."

"Berisik. Aku lebih tahu bagaimana peranku sekarang. Kita mundur sejenak."

"Kau punya rencana?"

Pria dengan jinbaori kelabu-biru itu mengangguk, kemudian segera memerintahkan pasukannya untuk mengambil posisi bertahan di parit. Unit pasukan senapan yang mengambil posisi di belakang parit bergegas mengisi peluru kemudian membidik, menunggu aba-aba dari Takatora sebelum melepas tembakan.

"Tembak!"

Shimazu pun dikejutkan oleh suara tembakan kearah mereka. Satu persatu pasukan berkuda jatuh terguling ke tanah. Akan tetapi sebagian dari mereka yang mampu bertahan berkat keberuntungan langsung mengubah arah serbuan demi menghindar dari bidikan pasukan senapan.

Akibat terlalu memusatkan perhatian ke markas utama Hideyoshi, Iehisa mendecak. "Aku hampir lupa. Bukan hanya kita yang mampu memanfaatkan senapan."

Telah menduga prajurit Shimazu mulai berjatuhan. Kendati demikian Yoshihiro berinisiatif mengubah arus. Kuda yang ditungganginya meringkik dan membuka jalan menuju markas utama Toyotomi.

"Jangan gentar! Chesto!"

Shimazu pun menerobos jajaran pertahanan unit Mōri, dimana Hana dan Chie mengambil posisi.

Tembakan pun dihentikan. Memang cukup efektif untuk menggulingkan pasukan berkuda dengan senapan. Namun pasukan berkuda Shimazu yang berada di barisan belakang bergerak cepat mengganti arah serangan.

Takatora mempersiapkan diri untuk melakukan pengerjaran. "Sial. Ini semakin merepotkan..." decak Takatora.

"Kalau begitu aku akan mengatasi sisanya!" Aki pun keluar dari parit bersama pasukannya.

Tak mengira pasukan berkuda Shimazu datang kearah Mōri, Hana dan Chie mengalami sedikit kesulitan menahan serangan.

"Hanya karena kita berdua perempuan di pertempuran ini, mereka seenaknya meremehkan pertahanan kita," gerutu Hana kesal. "Chie, berhati-hatilah!" Chie menjawab dengan anggukan paham.

Pertempuran kian sengit, masih tak ada tanda Shimazu hendak menyerah. Ketika Hana menemukan sang panglima perang, Shimazu Yoshihiro. Wanita itu menerjang kearahnya dengan menusuk kuda yang ditungganginya. Tersadar, Yoshihiro dengan sigap bangkit setelah jatuh dari tanah.

"Cukup sampai disana! Kau sudah terlalu banyak menyia-nyiakan nyawa pengikutmu!"

"Simpan nasihatmu itu, wanita. Tak seorang pun sudi menuruti perkataan lawan dan bermandikan aib. Jika kalian berniat menentang kami, maka bertempurlah!"

Tanpa memandang lawannya adalah seorang wanita, Yoshihiro tak segan-segan menghadang Hana. Ayunan palunya luar biasa kuat membuat Hana kesulitan menolak serangannya, membalas pun tak mampu. Dia berusaha keras mengelak serangan Yoshihiro. Akibat terlalu sering mengelak, perlahan Hana mulai kehilangan tenaga.

"Lamban!" Walau dia mampu menghindari serangan, ayunan palunya mampu menjangkau sehingga tepat mengenai badan Hana.

"...!" Chie mendesah kaget, dia berbalik setelah mendengar suara Hana yang berteriak kesakitan. Pandangan Hana dengan sekejap menghitam seiring tubuhnya terhempas ke tanah.

Menyaksikan pemandangan itu, benak Chie seketika hancur luluh lantak. Dia bergegas menghampiri Hana, berlutut di sampingnya. Ditutupnya luka di perut Hana dengan tangan, tetapi darahnya tak berhenti mengalir.

"Kau berikutnya? Rasakanlah kekuatan Oni Shimazu!" Yoshihiro mengambil ancang-ancang, bersiap untuk melawan Chie.

Darah Chie mendidih akan amarah. Ia menggertakkan gigi, matanya terkunci pada Yoshihiro seorang. Dia pun bangkit dan mengacungkan mata pedangnya pada Yoshihiro, bersiap untuk melawan.

Chie menghadapi Yoshihiro dengan gelap mata. Napasnya keras, sorot mata terpatik amarah. Lantaran tak mampu berucap dan mengumpat pria paruh baya itu, dirinya tak henti melampiaskan seluruh emosi seakan tak ada habisnya. Akan tetapi Yoshihiro dengan mudah membaca serangan Chie, tachi dan palu raksasa mereka saling membentur satu sama lain.

Tak ingin membuang waktu lebih lama, Yoshihiro berniat membuka celah pada serangan Chie. Namun tangannya berhenti bergerak saat melihat darah yang entah sejak kapan sudah mengalir deras dari lengannya. Yang jelas itu bukan perbuatan Chie, tapi—

"Hmph, bala bantuan, 'kah..." desah Yoshihiro sambil menahan sakit pada lengannya. Dia mundur beberapa langkah, menatap tajam pria bermanik biru gelap yang sempat menjadi lawannya saat di Nejiro-zaka.

Kedatangan Takatora langsung membuyarkan kesadaran Chie. Darahnya yang sempat menggolak mendingin seketika. Takatora menyelipkan diri diantara mereka kemudian melayangkan serangan kedua. Akan tetapi serangannya meleset, Yoshihiro sudah terlebih dahulu mengelak.

"Bodoh! Apa yang kau lakukan!?" sergah Takatora pada Chie. "Cepat bawa dia ke kemah! Selama dia masih bernapas, dia bisa diselamatkan!"

"...!" Chie pun berlari menghampiri Hana yang tak sadarkan diri. Wajahnya berubah pucat, air mata membendungi penglihatannya. Bagaimana ia harus menjelaskan semua ini pada Nagachika?

"Inilah alasan mengapa aku benci membiarkan istriku menginjak medan perang," Takatora membuang napas pelan. "Kau bisa anggap ini sebagai balas budiku pada kalian saat di Shikoku. Walaupun sebetulnya aku sudah salah perhitungan. Aku akan bertanggung jawab. Lekaslah!"

Chie membungkuk 'terima kasih' padanya. Dengan perlahan dan hati-hati, ditopangnya sebelah lengan Hana di belakang leher lalu menahan pinggangnya. Ia pun melarikan diri bersama dari medan.

Ketika hendak kembali menuju markas, Chie terbelalak melihat kedatangan Nagachika bersama bala bantuan yang dikerahkan pada gelombang kedua.

"Hana!" Nagachika berlari menghampiri mereka berdua. Sukmanya seakan tersayat melihat kondisi sang istri yang kehilangan kesadaran. Tak hanya itu, luka di perutnya pun parah sehingga darah tak berhenti menetes. Chie enggan menatap suami dari sepupunya itu, merasa sudah gagal untuk melindungi salah satu keluarganya. Dengan berurai air mata Chie menunduk minta maaf.

"Tidak. Ini bukan salahmu. Aku juga yakin Hana sama sekali tak menyalahkanmu. Bagaimanapun juga kita harus segera merawat lukanya...!"

Mereka pun berkesempatan untuk menarik pasukan, sementara Takatora berusaha memojokkan Yoshihiro.

"Kali ini tampaknya kalian sudah mulai putus asa, nekat menyerang padahal jumlah kalian sama sekali tak bisa menandingi kekuatan tempur Toyotomi. Apa semua orang-orang Shimazu berpikiran dangkal?"

"Kau hanya tidak mengerti prinsip kami. Shimazu takkan menyerah apapun yang terjadi. Yang terpenting adalah mutu dibandingkan jumlah."

Suara dengus getir terlepas dari hidung Takatora. "Ironis sekali jika mendengar itu darimu. Memang aku sepenuhnya setuju, tapi ucapanmu sama sekali tak menggambarkan situasi pasukanmu. Bahkan, jika jumlah itu memiliki mutu yang mumpuni... kau pasti sudah bisa membayangkan hasilnya. Kau juga sepertinya tak paham kalau sang Tenkabito takkan menyerah hingga kalian bersedia turun tangan. Pemimpin kami sangat gigih, kau tahu."

Yoshihiro menyeringai. "Jangan buang napasmu. Berperang tanpa tekad untuk mati merupakan penghinaan bagi seorang prajurit. Lebih baik kita menguji siapa yang lebih gigih sekarang juga!"

Dia mulai mengayunkan palunya pada Takatora. Namun serangannya terasa kurang kuat dibandingkan sebelumnya, lantaran lengan sebelahnya terluka akibat tebasan dalam yang Takatora berikan. Hindaran Takatora pun cepat sehingga dia mampu mengungguli Yoshihiro.

Tak ingin membuang waktu, Takatora berniat untuk memenggal kepalanya seketika. Demikian pedangnya hendak menyasar leher Yoshihiro, namun serangannya meleset mengenai bahu panglima tersebut. Tapi itu tak mengubah kenyataan bahwa Yoshihiro kesulitan untuk membalas dan terluka lagi.

Panglima Shimazu itu terkekeh sembari mencengkram luka baru yang menyayat bahunya. Meski dalam keadaan tidak menguntungkan pun, itu sama sekali tak menggetarkan semangatnya. "Begini lebih baik."

"Yoshihiro-sama! Mohon mundur sekarang juga!" pinta Niiro Tadatomo; salah satu kashin dibawah naungan Shimazu, datang padanya. Dia menunggangi kuda sembari menahan kekangan kuda satu lagi yang nanti akan diberikan pada Yoshihiro.

Sang majikan menghiraukan permohonannya, senjata yang diggenggam sama sekali tak ada tanda keraguan. Setelah berjuang susah payah, darah yang telah tercucur akan berakhir percuma jika dia menyerah. Ia tak sudi mundur dengan tangan kosong. Dia lebih baik mati dalam perang daripada menarik mundur pasukan dan mencoreng citra mereka.

"Ini adalah perintah dari Yoshihisa-sama, Tuanku!"

Kali ini Yoshihiro berjengit, dahinya berkerut. Diturunkannya palu besar itu ketika mendengar nama kakaknya. Matanya kemudian dialihkan ke lautan prajurit Toyotomi.

Yoshihiro tak pernah takut pada laut biru. Meski selalu membawa petaka buruk, dia siap sedia untuk menghadapi siapapun. Tapi lautan manusia yang padahal tak seluas laut biru, sedemikian mengancam nyawa anak buahnya dibandingkan amukan ombak.

"Beliau meminta Anda untuk kembali ke Kastil Kagoshima. Sisanya serahkan pada saya! Saya akan menahan mereka selagi Anda mundur."

Yoshihiro pun menunggangi kuda yang diberikan Tadamoto. Sebelum menarik pasukan, matanya mengedar di sekitar medan. Banyak yang telah gugur, banyak juga yang kehilangan semangat tempur. Tak perlu dipertanyakan mengapa, mereka sudah sangat kewalahan— tak henti bertempur selama beberapa bulan sehingga tenaga mereka terkuras sehabis-habisnya. Melihat pemandangan itu menggerakkan hati Yoshihiro untuk menarik pasukan. Namun Yoshihiro sama sekali tak menyesali pilihannya dahulu untuk bertempur. Karena dia melakukannya demi mempertahankan keberadaan Shimazu.

"Kuserahkan semuanya padamu. Seluruh pasukan, mundur!" sorak Yoshihiro.

Yoshihiro pun memacu kudanya. Setelah memastikan sang majikan meninggalkan medan bersama anak buahnya, Tadamoto mengangkat tombaknya.

"Shimazu masih belum kalah!" soraknya. "Aku menantang siapapun untuk berduel! Jika kemenangan ada di tanganku, kuanjurkan untuk meninggalkan wilayah kami! Namun apabila aku kalah, segala keputusan ada di tangan kalian."

Pasukan Toyotomi mengurung niat untuk melakukan pengejaran setelah mendengar tuntutan tersebut. "Jika Toyotomi mengabaikan tantangan ini, silakan saja! Sebagai gantinya kalian akan menelan aib karena telah menelantarkan kebanggaan kalian sebagai pendekar."

Tak memiliki pilihan lain, para prajurit Toyotomi lebih memilih menunggu perintah sang atasan dan berhenti bertempur. "Langkah yang cukup cerdik. Tidak, ini lebih baik. Dengan begini kita tak perlu menghabisi Shimazu sepenuhnya," gumam Aki.

"Nah, kirimkanlah salah satu pendekar terbaik Toyotomi padaku. Niiro Tadamoto, pendekar terkuat Shimazu ini!"

Pasukan pun mengirim pembawa pesan untuk melaporkan situasi. Setelah tantangan itu sampai ke telinga Hideyoshi, dia tampak sama sekali tak terkejut maupun tertekan. Hideyoshi menatap salah satu anak didiknya, Kiyomasa.

"Bisakah aku mempercayakannya padamu, Kiyomasa?" tanya Hideyoshi dengan seringai di wajahnya. Seolah dirinya sudah merasa menang tatkala musuh mengambil keputusan di ujung tanduk. Upaya mereka untuk mempertahankan wilayah berakhir sia-sia. Nyawa terbuang percuma. Mereka hanyalah batu pijakan demi mempersatukan negeri.

Tidak, Kiyomasa tak berpikiran seperti itu. Hanya satu orang yang ia tahu yang pasti berpikiran demikian.

"Jika mereka menentang, lain lagi ceritanya, bukan?"

Perkataan Takatora kembali terngiang dalam ingatan. Kiyomasa benci mengakuinya tapi dia benar. Pada akhirnya Toyotomi hampir membantai pasukan Shimazu dengan jumlah yang luar biasa ini.

Membantai? Tidak. Ini sudah seharusnya. Inilah perang. Kiyomasa berusaha membuang ingatan itu. Dia tak sudi termakan hasutan Takatora, tak peduli bagaimana pun anggapannya terhadap Hideyoshi.

Kiyomasa menundukkan kepala memberi hormat. "Baik, Hideyoshi-sama!"

Pria berambut kelabu itu pun berangkat dan memacu kuda menuju medan laga. Seiring perjalanannya, seisi kepalanya kembali berkelana. Di pandangan Kiyomasa, itu adalah pertanda Tuannya teramat lega dikala musuhnya telah menunjukkan tanda akan menyerah. Tak ada lagi nyawa yang perlu dikorbankan.

Hanya itu. Tak kurang, tak lebih.

Sesampainya di medan, Kiyomasa mengumumkan kedatangannya. Seluruh pasukan Toyotomi dan unit Niiro Tadamoto memusatkan perhatian pada Kiyomasa. "Atas perintah Hideyoshi-sama, aku yang akan menerima tantanganmu. Niiro Tadatomo, ingatlah nama pendekar yang akan mengalahkanmu ini. Katō Kiyomasa, maju!"

-XXX-

Pasukan Nagachika yang terpaksa mundur akhirnya sampai di markas utama. Dia bergegas membawa sang istri ke dalam tenda kemudian membaringkannya diatas tikar.

Dia masih tak sadarkan diri, darahnya juga masih menetes. Kapan terakhir kalinya Nagachika memandang istrinya tak berdaya seperti ini? Bagaimana caranya agar Hana mau membuka matanya lagi?

"Hana!" Seorang wanita bersurai hitam panjang bergegas memasuki tenda. Wajah jelitanya tersirat putus asa, merasa teramat takut kehilangan putrinya yang padahal selama ini ingin ia temui.

Nagachika berbalik menghadap Hayakawa. "Hayakawa-dono," gumam Nagachika, kemudian dia membungkuk dalam. Kedatangannya seolah semakin menggulung paru-paru Nagachika akan rasa bersalah. "Maafkan saya, seharusnya saya tidak—"

Chie langsung memotong, ikut menunduk dalam dihadapan Hayakawa. "Tidak, ini semua salahku! Aku lengah!" ucap Chie dengan berbahasa isyarat dengan tangannya yang bergemetar.

"Kumohon, angkat kepala kalian berdua. Aku akan merawatnya." Hayakawa lalu duduk disamping kepala Hana, meratapi kondisi putrinya. "Tidak apa. Kamu akan baik-baik saja, Hana," lirih Hayakawa sembari membersihkan lukanya dari darah.

Chie ikut membantu Hayakawa dengan membawakan air, pakaian baru dan perban. Sementara Nagachika hanya berdiam diri. Sukmanya terasa sesak, merasa telah gagal melindungi istrinya. Dia tahu tak ada gunanya menyalahkan diri, tapi Nagachika membenci ketidakmampuannya.

"Hana-chan!"

"Tu-Tunggu, Natsuko. Tidak sopan kalau seenaknya masuk ke tenda Mōri..."

"Tapi..."

Nagachika tersentak ketika mendengar suara dua perempuan dari luar tenda. "Celaka..." Jika Suzu dan Natsuko menemukan Hayakawa disini. Kemungkinan identitas istrinya yang merupakan anak Hayakawa akan terbongkar.

Tak ada gunanya berpikir panjang sekarang. Nagachika pun berusaha menenangkan diri, menarik napas lalu keluar dari tenda. "Tidak perlu khawatir. Hana akan baik-baik saja."

Suzu dan Natsuko berbalik menghadap Nagachika. "Tapi kalau dikatakan terus terang, lukanya memang cukup parah..."

"Umm, apa ada yang harus kulakukan untuk Hana-chan? Setidaknya aku ingin membantu!" pinta Natsuko.

"Ti-Tidak apa, sungguh. Sebenarnya salah satu perwira Mōri sudah menanganinya. Beliau... cukup berpengalaman dalam medis," jelas Nagachika berbohong, masih berdiri di depan kemah.

"Begitu, ya." Suzu menghela napas lega. "Ah, aku hampir lupa. Ramuan salep yang kuberikan tempo hari juga bisa bekerja untuk mengobati luka Hana-dono. Silakan dipakai, semoga ramuannya bisa membantu."

"Oh! Benarkah? Kami tertolong." Nagachika tersenyum lega. "Tapi, maaf ya. Kurasa saat ini bukan waktu yang tepat untuk menjenguk Hana. Jika keadaannya membaik, aku akan memberitahu kalian berdua secepatnya."

"Baiklah. Terima kasih, Nagachika-dono."

"Ah, tidak tidak." Nagachika menggoyangkan kedua tangannya. "Sepanjang perjalanan tadi, Chie memberitahuku kalau Takatora-san menolongnya saat terdesak. Jadi seharusnya kami yang berterima kasih."

Suzu mengerjapkan mata setengah terkejut. Sepintas Suzu berpikir Takatora melakukannya demi membalas budi pada Munekatsu dan Nagachika yang sempat menolong mereka saat pertempuran di Shikoku. Dia tersenyum simpul kemudian mengangguk. "Begitu, 'kah."

Ketika mereka mendengar suara horagai pertanda pasukan Toyotomi sudah kembali, perhatian mereka pun beralih.

"Apa pertempurannya sudah berakhir...?" gumam Nagachika.

"Ng... Onii-chan dimana, ya?" Natsuko tanpa berpikir panjang mencari sang kakak di kerumunan pasukan, tanpa perlu menunggu kemunculannya.

Sementara Suzu menautkan kedua tangannya gelisah sembari menunggu kemunculan sang suami. "Takatora-sama...!" Setelah menemukan Takatora bersama pasukannya, Suzu segera berlari menyambutnya.

Pedang dan jinbaori kelabu-biru yang Takatora kenakan kumuh akan darah. Luka sayat disana-sini tapi beruntung pria itu masih dapat bertahan. Melihat Suzu berlari menghampirinya, Takatora mengisyaratkan tangan untuk berhenti di depannya.

"Jangan mendekat dulu," tegur Takatora tenang lantaran tidak ingin mengotori tangan istrinya.

"Tapi, Tuan. Lukamu..."

"Ini sudah biasa, bukan? Hanya luka baru untuk koleksi."

"Mou, Takatora-sama. Itu tidak lucu," rungut Suzu. Sepasang sejoli itu pun bertolak ke kemah mereka.

"Bagaimana kondisi istrimu?" tanya Munekatsu, dia baru saja kembali dari posisinya mengawasi markas utama.

"Hana sedang dirawat oleh Chie... dan juga—" Menyadari kontak mata Nagachika, Munekatsu sudah paham bahwa Hayakawa juga berada di dalam tenda. "Lalu, bagaimana situasinya sekarang, ayah?"

"Shimazu telah mundur ke benteng utama mereka. Hanya saja salah satu perwira Shimazu turun tangan untuk mengulur waktu. Dia menantang siapapun untuk berduel dengannya. Hideyoshi-dono mengirim Katō Kiyomasa-dono untuk menyanggupi tantangan itu," jelas Munekatsu. "Sementara Katō-dono mengatasinya, pasukan gelombang pertama diizinkan untuk menyembuhkan diri."

"Begitu ya."

Nagachika memindahkan perhatiannya pada Takakage yang baru saja datang. "Takakage-sama..." lirih Nagachika.

Alisnya bertaut, langkahnya berhenti tepat di depan kemah dimana putrinya dirawat. Tapi Takakage tampak belum ingin menginjakkan kaki ke dalam. Ekspresi wajahnya seakan sudah menyadari keberadaan seseorang yang sudah lama... sangat lama tak ia temui.

-XXX-

Matahari tak lama lagi terbenam, namun pertarungan antara Kiyomasa dan Tadamoto di Sungai Sendai masih belum berakhir. Kiyomasa memacu kudanya lalu menghadang bawahan Yoshihisa itu. Tadamoto yang juga menunggangi kuda, berusaha menolak serangan kuat lawannya.

Seharusnya tak seperti ini.

Dia adalah pendekar terkuat diantara perwira yang lain di klan Shimazu. Akan tetapi pemuda yang menjadi lawannya ini juga tak kalah kuat darinya. Apa dia terlalu tua untuk berduel dengan pendekar muda itu?

Kiyomasa sadar Tadamoto tampak kecapaian, kemungkinan akibat terlalu lama bertempur semenjak melawan klan Tachibana. Kini ia harus bertempur mati-matian melawan Toyotomi.

"Sampai disini saja, 'kah?"

"Jangan bercanda. Ini belum berakhir!" sergah Tadamoto.

"Kalau begitu, aku akan mengakhirinya terlebih dahulu." Kiyomasa kembali menghadang Tadamoto, mengayunkan sabit besarnya hingga ia jatuh dari kuda.

Tadamoto berteriak kesakitan setelah terhempas ke tanah. Tombaknya pun terlepas dari genggaman. "Sial...!"

"Menyerahlah." Kiyomasa menghunuskan ujung mata sabitnya kearah Tadamoto. "Kemampuan orang yang lebih berpengalaman sepertimu memang tak bisa diremehkan. Tapi jika Anda menyimpan tenaga lebih banyak, aku yakin pertarungan tidak akan berakhir secepat ini."

Kedua alis Kiyomasa menyempit. "Sekali lagi, aku minta padamu untuk menyerah. Ini perintah dari Hideyoshi-sama."

Tadamoto menggertakkan gigi, tak terima dengan kekalahannya. Namun perintah Kiyomasa yang terdengar tulus tak bisa ia abaikan. Apabila dia gugur disini, ia takkan bisa membimbing dan menjaga nama Shimazu.

Tadatomo menurunkan senjatanya lalu membuang napas dengan pelan. "Baiklah. Aku menyerah."

Kiyomasa menurunkan tombaknya dari leher Tadamoto lalu mengangguk. Pasukannya bersorak penuh kemenangan. Menandakan perang di Sungai Sendai telah berakhir.

-XXX-

Di dalam kemah lain, Suzu baru saja selesai membantu Takatora membebatkan perban di tubuh kekarnya.

'Dia memikirkan sesuatu lagi...' batin Takatora.

Suzu termangu, tangan kecilnya meraba dada bidang Takatora dengan pelan. Sentuhan dan hela napas lembutnya seakan menggoda Takatora untuk membalasnya. Tapi Takatora tahu kalau istrinya tak mahir menggoda suaminya. Bahkan setelah memerhatikan suasana hatinya, jelas sekali Suzu tengah merenungkan sesuatu.

"Ada apa? Bukankah kau sudah terbiasa melihatku penuh luka seperti ini?" Takatora menahan pergelangan tangan Suzu dengan pelan, menghentikan usapannya.

"Eh?" Suzu mengerjapkan mata, telat menyadari apa yang baru saja ia lakukan. Semburat merah menghiasi wajah manisnya, lalu tersenyum masam. "Terbiasa melihat Takatora-sama terluka terdengar menyeramkan."

Senyuman itu selalu memberi firasat kalau Suzu tengah menyembunyikan sesuatu. Tidak, lebih tepatnya dia bimbang untuk memberitahunya. Suzu selalu membiasakan diri memendam perasaan sendirian. Tidak, bukan hanya Suzu. Takatora pun sama. "Lalu? Kali ini ada angin apa yang mengganggumu?"

"Um..." Wanita muda itu memalingkan pandangan, enggan untuk berkontak mata. "Ah, bagaimana perasaan Tuan sekarang?" tanya Suzu sambil meraba luka yang sudah diperban di lengannya.

"Aku merasakan keberadaan wanita di dekatku," jawab Takatora tanpa berpikir panjang.

Suzu mengedipkan matanya lagi, rona merahnya semakin menggelap. Padahal air mukanya datar, ucapan yang terdengar rayuan itu membuat Suzu gelagapan. "B-Bukan itu maksudku. Aku menanyakan luka Tuan..." sahutnya tersipu sambil menggoyangkan kedua tangannya di depan wajah Takatora.

Takatora menghela napas. "Percuma saja. Aku sudah tahu kebiasaan burukmu. Kau tak ingin aku mengkhawatirkanmu makanya kau mengalihkan pembicaraan."

Sang istri semakin merunduk, tak bisa berkata apa-apa lagi. Rona merahnya menghilang, berganti dengan keringat menitik dari pelipisnya.

Entah apa yang Suzu pikirkan sekarang, Takatora hanya bisa membongkarnya sendiri dan membuang kegelisahannya itu.

Suzu mulai bisa memaklumi perang brutal kali ini. Takatora sudah mengatasinya. Ataukah Suzu masih memikirkan ketidakmampuannya memberikannya keturunan? Tidak, disaat perang seperti ini dia tidak mungkin memikirkan itu. Mengkhawatirkan Senmaru yang berada di Ōsaka? Tidak, Senmaru terlindungi disana. Dia tak merasa kesepian setelah putri-putri Azai itu menemaninya.

Hanya satu masalah yang tertinggal. "Kau masih memikirkan keberadaan shinobi yang kakakmu sebut itu?"

Suzu berjengit, dia semakin tak berani menatap Takatora. Kedua matanya layu dan bibirnya dirapatkan. Suzu hanya bisa menjawab dengan anggukan pelan.

"Tepat sasaran, 'kah. Baiklah, jelaskan padaku."

Dia terdiam sesaat sebelum mengutarakan keluh kesahnya. "...Aku sudah berusaha untuk tidak terbawa. Tapi... sebelum pertempuran dimulai, aku merasakan kehadirannya lagi. Hawanya begitu bengis, haus darahnya tak pernah terpuaskan... terasa lebih kuat dibandingkan saat keberangkatan kita."

Dengan suara bergemetar, Suzu menautkan kedua tangannya yang terasa dingin. Manik birunya terkunci memandang wajahnya diselimuti ketakutan, tapi ia memilih diam terlebih dulu dan menunggu Suzu selesai berbicara.

"Bagaimana bisa orang lain sama sekali tidak menyadarinya? Hanya aku yang tahu. Dia menyusupkan diri dalam bayangan Hayakawa-dono. Tapi setelah itu dia menghilang lagi."

Kini napasnya terengah, darahnya terpompa kencang. Kedua matanya ikut bergemetar dan terbeliak. "Aku terus berharap kalau dia hanya mempermainkanku. Aku sudah berusaha mengabaikannya saja. Tapi aku tidak bisa...! Aku... aku tidak mengerti apa yang dia inginkan. Jika dia sampai membunuh seseorang..."

"Suzu, tenanglah." Takatora menahan bahunya.

"Tapi...! Bagaimana kalau ucapan nee-sama benar...!?" Suzu menjambak rambut peraknya, batinnya semakin runyam. Seisi pikirannya kalut akan hal-hal yang tak ingin dia bayangkan. Suzu tak pernah sedemikian takut sejak terjebak di dalam kapal saat pertempuran Shikoku dulu. Ketakutan itu seolah memperdayakan dirinya. Dia terlihat seperti kelinci yang tak terlindungi, berusaha sekuat tenaga melindungi diri dari terkaman predator. Entah darimana dia akan menyerang, apa yang dia tunggu diluar lubang galiannya, Suzu sama sekali tak tahu.

Bagaimana cara dia melangkah nanti, dan bagaimana cara memastikan tak ada yang akan menikamnya dari belakang. Menutup mata saja tidak akan bisa melenyapkan ketakutan yang mengambil alih pikirannya. "Merasakan hawanya saja sudah cukup mengerikan. Apa yang harus kulakukan. Aku tidak mungkin bisa lari dan menganggapnya hilang begitu saja. Aku tidak bisa... Aku takut—"

Matanya kembali terbuka tatkala Takatora menyandarkan kepala Suzu di dadanya bidangnya, membiarkan istrinya mendengar detak harmonis jantung Takatora. Wanita muda itu membeku, namun kehangatan yang dirasakan setelahnya berhasil menentramkan sanubari gadis itu.

Dibelainya rambut perak Suzu dengan lembut, kemudian mendaratkan kecupan di kepalanya. Takatora berbisik ke telinganya. "Jangan dirasakan. Jangan dipikirkan. Semuanya akan baik-baik saja."

Untaian kalimat sederhana itu bagaikan mantra bagi Suzu. Kalimat yang selalu dibisikkan bibinya ketika dia kehilangan arah. Suzu membalas pelukan, melingkari lengan kurusnya di punggung lebar Takatora. Gemetar tubuhnya perlahan menghilang. Ritme napasnya kini kembali teratur seiring memejamkan mata. Membiarkan dirinya hanyut dalam kehangatan pelipur laranya.

Senyuman lembut terukir di wajah tirus Takatora, lega melihat raut istrinya mulai tenang. Setiap kali Suzu memperagakan kelemahannya, disaat itulah Takatora merasa dibutuhkan olehnya.

Tapi...

Manik birunya melirik kearah tantou yang Suzu taruh di dekat saiken-nya. Senjata pemberian Takatora, dimana ia telah menanamkan niat yang tidak diinginkan oleh kedua pihak. Takatora mengeratkan dekapan.

...Entah sampai kapan dia bisa mempertahankannya seperti ini.

"Takatora-sama... sesak," desah Suzu yang masih membenamkan wajah di dada Takatora. Sang suami perlahan meregangkan pelukan.

"...Sudah merasa lebih baik?" tanya Takatora lembut.

Suzu mengangguk setelah menarik napas. "Um..."

"Jika kau takut, kau hanya akan jatuh dalam jebakannya. Jangan berpikir kau akan mengatasinya sendirian, aku tidak akan membiarkan itu. Sudah pernah kubilang, bukan?"

"Um." Suzu mengangguk lagi, kemudian melepas pelukan.

Diangkatnya wajah Suzu dengan menahan dagunya. Mempertemukan netra biru dengan netra merah Suzu yang sedikit dibendungi air mata. Takatora menurunkan kepala, mendekatkan wajah ke Suzu kemudian memagut bibir gugupnya. Memberi istrinya waktu lebih lama untuk menenangkan diri.

Tidak, Takatora juga membutuhkannya untuk menenangkan gejolak batinnya. Saling menjilat luka masing-masing, itu tak ada salahnya.

Suzu memejamkan mata, tubuhnya meleleh setiap Takatora berhasil mendominasinya. Gadis itu takkan bisa menandinginya. Tapi Suzu teramat senang. Afeksi Takatora padanya tak pernah disembunyikan. Meski Suzu sudah merasa seringkali menyusahkannya.

Bukan, jika dia memang beban bagi Takatora, dia tidak akan pernah mencoba menyelamatkan Suzu. Dulu Takatora pernah mengatakan itu padanya. Dia selalu saja...

"...!" Suzu mendesah ketika dikagetkan dengan suara gaduh horagai pertanda perang telah usai. Terpaksa Takatora memutus kecupan kemudian mendecak kesal.

"Toragara keparat..." umpat Takatora sambil menatap tajam kearah luar tenda.

"Ah, tapi tapi! Kiyomasa-san menang, 'kan? Itu berita bagus," jawab Suzu pelan berusaha meringankan suasana hati suaminya.

"Hm..." Takatora pun bangkit kemudian memasang seragam baru, bersiap-siap untuk berkumpul di markas utama.

"Lagipula berkat Tuan, aku sudah tidak apa, kok. Terima kasih, Takatora-sama." Wajah jelitanya kembali terhias oleh senyuman kecil.

Takatora memandang wajah Suzu sejenak, lalu mendengus. "Masih saja berkeras kepala." Tangannya kembali mengusap kepala Suzu. "Yah, meskipun masih berlagak kuat... setidaknya wajahmu sudah terlihat lebih enak dipandang dari sebelumnya."

-XXX-

Kiyomasa berhasil memenangkan pertarungannya melawan Niiro Tadamoto. Kendati Tadamoto merasa terhina saat dinyatakan bahwa nyawanya diampuni, dia tak bisa melawan perintah sisi yang menang. Sudah sepatutnya dia melakukan seppuku demi mempertahankan kehormatan. Tapi Kiyomasa tak membiarkannya.

Di hari berikutnya, pasukan Toyotomi serta Mōri mengejar Shimazu yang tengah bertahan di Benteng Kagoshima. Perjalanan menuju wilayah utama Shimazu tak memakan waktu lama, hanya memakan waktu setengah hari.

Setelah sampai di ibukota Shimazu, Hideyoshi mengerahkan para bawahan untuk mengepung benteng. Lagi, Shimazu dikelilingi oleh pasukan Toyotomi yang tak setara jumlahnya dengan mereka. Tak sanggup melawan, alhasil Shimazu menyerah tanpa melakukan perlawanan.

Yoshihisa, pemimpin klan Shimazu mencukur ubun rambutnya sebagai tanda penyerahan diri atas kewenangan Hideyoshi. Ia pun pensiun dan melanjutkan kehidupan sebagai biksu. Sebagai gantinya Yoshihiro ditunjuk untuk meneruskan kewajiban kakaknya sebagai kepala klan.

Hideyoshi mempercayakan saudaranya, Hidenaga untuk melakukan perundingan damai dengan Shimazu di benteng mereka, Kagoshima. Sang tangan kanan Tenkabito itu dikawal oleh karō-nya; Takatora dan juga penasihat Toyotomi; Kanbei. Terumoto juga berpatisipasi sebagai perwakilan klan Mōri lantaran Takakage ingin menjaga putrinya yang terluka parah. Maka dari itu ia meminta Terumoto untuk menggantikannya.

Sesuai perintah Hideyoshi, Hidenaga menyampaikan bahwa Shimazu diwajibkan ikut andil dalam perang menginvasi klan Hōjō. Kemudian pembagian wilayah untuk Shimazu adalah Satsuma dan Ōsumi. Sementara wilayah lain yang sempat dikuasai akan diserahkan pada sekutu dan bawahan Toyotomi.

Kanbei dihadiahkan wilayah Bunzen. Kemudian Tachibana mendapatkan Istana Yanagawa. Takakage mendapatkan Chikuzen dan Chikugo. Sassa Narimasa mendapatkan Higo.

Mendengar pernyataan itu, Yoshihiro sama sekali tak menentang, atau lebih tepatnya dia tahu takkan ada gunanya jika menentang kewenangan mereka sebagai pemenang. Dia takkan bertindah sebodoh itu. Dia akan melihat sampai dimanakah Hideyoshi bersiasat memanfaatkan jumlah dan membantai musuhnya dengan cara yang sama seperti Shimazu.

-XXX-

Sementara itu, Suzu dan Natsuko tengah menjenguk Hana. Lukanya sudah terawat dengan baik, namun Hana masih belum membuka matanya.

"Ramuan buatanmu sangat membantu, Suzu-san. Terima kasih," ucap Chie sambil menuliskan ucapannya diatas telapak Suzu.

"Ah, tidak... Aku tidak melakukan apapun, kok."

"Tapi, syukurlah! Wajah Hana-chan sudah tidak pucat lagi. Kuharap sebentar lagi dia bangun..." kata Natsuko. "Oh oh! Kalau Nagachika-dono berbisik ke telinga Hana-chan, kira-kira dia akan siuman, tidak?"

Wajah Suzu dan Chie langsung memerah. "Mou, Natsuko. Kecilkan suaramu..." tegur Suzu dengan suara pelan. Natsuko membalas dengan tawa kecil.

Seorang prajurit Toyotomi memasuki tenda, perhatian mereka pun teralih. "Permisi. Maaf menganggu, okugata-sama. Hidenaga-sama meminta nona untuk datang ke kuil segera."

"Oh, baiklah. Aku akan segera kesana." Tanpa bertanya apapun Suzu langsung bergegas ke kuil, dimana Hideyoshi menetap sementara.

Tapi disaat seperti ini, kira-kira apa yang akan dibahas Hidenaga padanya nanti? Perang melawan Shimazu sudah selesai. Perundingan damai tampaknya juga sudah. Jika dia ditugaskan lagi untuk mengawasi Shimazu, Suzu merasa itu juga tidak mungkin. Mereka takkan bertindak sebodoh itu. Atau mungkin saja Hidenaga membutuhkan ramuan untuk meredakan sakitnya lagi.

Apapun itu, Suzu hanya perlu mempersiapkan diri dan mendengar apa yang Hidenaga perintahkan.

Sesampainya di kuil, Suzu duduk dihadapan pintu shoji dan mengumumkan kedatangannya.

"Hidenaga-sama, aku sudah datang."

"Oh, masuklah, Suzu," jawab Hideyoshi yang ternyata juga berada di dalam ruangan. Suzu menggeser pintu lalu membungkukkan badan memberi hormat pada Hideyoshi dan Hidenaga yang duduk saling berhadapan, kemudian masuk ke dalam.

Manik merah Suzu mengedar di sekitarnya, dia tak melihat Takatora maupun kashin yang lain yang berkumpul dalam ruangan itu. Hanya mereka bertiga.

"Ah, saat ini Takatora sedang bertugas mengumpulkan pasukan. Tak lama lagi kita akan kembali ke ibukota," ucap Hidenaga tersenyum.

Suzu tersentak, tak menyangka Hidenaga membaca pikirannya. "B-Begitu ya. Anu... apa Tuan membutuhkan sesuatu?" tanya Suzu.

"Aku ingin kau melakukan sesuatu untukku." Kali ini Hideyoshi yang menjawab. Dia mengeluarkan sebuah botol kecil yang berisikan cairan ramuan. "Bawa ini."

"Ini...?"

"Suzu. Aku ingin kamu tetap tenang dan dengarkan permintaanku. Nene memberitahuku kalau kau cukup berpengalaman dalam obat-obatan dan ramuan. Dan kupikir kau tahu tentang ramuan ini."

Suzu mengambil botol itu lalu membuka penutupnya kemudian mencium aromanya. "Ah, maaf. Aku berbohong. Lebih tepatnya... botol itu berisikan racun. Jadi jangan diminum-" lanjut Hideyoshi.

Denyut jantung Suzu mendadak terasa sakit seakan dicengkram setelah mencium aromanya. Bukan, aromanya sama sekali tak mematikan. Hanya saja kenangan buruk menyergap batinnya.

Saat pertama kalinya menelan racun, Suzu ingat betul bagaimana rasa sakit dan sesak yang menggulung paru-parunya. Tenggorokannya terbakar sampai memuntahkan darah. Seisi kepalanya seakan ingin meledak.

"S-Suzu!? Kau baik-baik saja!?" tanya Hidenaga langsung menangkap tubuh gadis itu yang hampir rubuh.

"T-Tidak... aku tidak apa-apa kok, Hidenaga-sama..." jawab Suzu terengah-engah sambil mencoba duduk kembali.

"L-Lalu apa yang terjadi padamu? Kenapa kau mendadak kesakitan, Suzu?" tanya Hideyoshi yang ikut panik.

Suzu mengenal aroma racun itu. Harumnya memikat seperti mencium aroma bunga, tapi rasanya amat mematikan meski hanya dicicip setetes. Suzu yang memiliki kepekaan akan bau ramuan, dia hampir saja mual di hadapan Hideyoshi dan Hidenaga, tapi Suzu berusaha menahan dengan menutup mulutnya.

Tapi syukurlah. Sepertinya dulu Nene hanya tahu bahwa dirinya hanya dikejar oleh kunoichi dibawah naungan Takeda. Dia tak tahu bahwa Suzu diracuni oleh Sango. Karena dia sudah diberi obat penawar setelah dia kehilangan kesadaran pada saat itu juga.

Suzu menarik napas dalam kemudian menghembuskannya dengan pelan, berusaha menenangkan diri. "Apakah racun ini dari Shimazu, Hideyoshi-sama?"

"Ah, bukan. Terus terang aku meminta seseorang untuk membuatkannya untukku."

"Eh!? Kenapa...? Untuk apa?" tanya Suzu tak menyangka jawaban Hideyoshi.

Hideyoshi tak langsung menjawab, kedua tangannya menahan lututnya dan ekspresinya berubah serius namun tersirat rasa bersalah.

"Hanya kau yang bisa melakukannya, Suzu. Tolong. Aku memintamu untuk meracuni Shimazu Iehisa."

-XXX-

-XxX-

-XXX-

A/N: Yak, balas review pindah disini. Tapi pertama-tama–

[1] Horagai: Sebuah conch shells yang gunanya untuk memerintah pergerakan pasukan dengan cara ditiup.

[2] Onna bugeisha: Pendekar wanita.

[3] Jinbaori: Sejenis seragam seperti coat tapi sleeveless, go google untuk lebih jelasnya lol.

[4] Tenkabito: Unifier alias Hideyoshi.

[5]Karō: Chief retainer.

[6]Toragara: Tiger Pants kalau di SWC3, tapi lebih terjemahannya lebih tepat Tiger Pattern. Itu nickname gaje buat Kiyomasa... official. XD

[7] Okugata-sama: Panggilan wanita yang sudah bersuami.

Senang banget ada tambahan fav/follow, untuk kedepannya saya mengharapkan review juga hehe nwn

Balas review!

RosyMiranto18

Scarlet: Sebenarnya fanfic ini yang ulang tahun jadi... mungkin lebih bagus dianggap anniversary antara Takatora-Suzu.

Blossom: Tapi dari sejarah sebenarnya mereka menikah tahun 1581, dua tahun lebih awal dari fic ini sih.

Scarlet: Next. Ya, Koeiwikia dan wikipedia jepang juga aku periksa. "Ken's Storage: Pictures of Japanese Castles", juga banyak disana. Dimana pun aku cari.

Blossom: Next. Uh... bukannya kita udah pernah bahas ultah Suzu di fb? Zodiak Gemini, tapi belum ditentukan tanggalnya. Lupa?

Scarlet: Next. Nah, kalau dibilang maksain diri gak gitu juga kok. Cuma aku gak mau hasilnya setengah-setengah. Walopun sejujurnya kadang2 aku susah bangga sama hasil sendiri bahkan cringe lol.

Blossom: Nice. Kamu orang kedua yang nganggap Takatora itu pragmatis. Satu orang lagi dari pengguna tumblr. Dia pernah bikin rant soal Takatora.

Scarlet: Omasa itu ya namanya istri Masanori. Tertulis di wiki, kalau Masanori itu punya kebiasaan buruk yang mirip sama Hideyoshi, goda cewek. Pas ketahuan sama Omasa, bininya langsung bawa naginata buat buru Masanori. Kurang lebih seperti itu lol. Bisa dilihat lebih detil di wiki.

Blossom: Dan buat jaga2, aku gak ada niat pasang scene Hayakawa vs Suzu. Thanks for the review.

YASS AKHIRNYA UPDATE. OTW NGAMBAR YAY. *ehem* Oke, sampai disini. Just saying, Battle of Sendaigawa cuma ada di wiki eng sedangkan di wiki jp gak ada. Entah urutannya sudah benar, saya juga gak yakin seratus persen. Lagian Kyushu tidak terlalu diutamakan. Odawara juga tbh.

Saking lamanya update tulisan saya jadi kurang enak dibaca. Saya lebih suka tulisan saya pas chapter 20-an keatas. Maaf saya selalu minder soal itu lol.

Sampai jumpa lagi di chapter depan! Harap saja nanti bisa update lebih awal hiks. Gambaran alurnya udah ada dalam kepala, masalahnya pas diketik lol. Jangan lupa review-nya buat nambah semangat!

またねー!