Ada daerah di mana aktifitas iblis berhenti becara total dalam waktu beberapa abad, lokasinya adalah ibukota Lucifaad. Tempat penuh akan sejarah iblis di masa lalu namun kini telah terlupakan, tempat di mana 6 Pillar iblis utama tinggal itu tidak lebih dari lokasi mati.

Berbicara mengenai masa lalu, Lucifaad adalah pusat operasi pergerakan Satan generasi pertama dan tempat di mana para Extra-Demon melayani rumah Lucifer secara langsung. Selain itu, Lucifaad lah tempat di mana akhir pergerakan Militer terbesar dalam sejarah iblis terjadi dan merubah masa depan dalam kurun waktu 500 tahun.

Dan kini, Bunshin yang Naruto kirim berdiri di tanah Lucifaad setelah merasa berdiam di wilayah Gremory tak membuahkan hasil signifikan. Hanya pengetahuan umum dan itu bukan hal yang Naruto butuh kan, ia butuh suatu informasi untuk memulai pergerakan dan itu berakhir dengan ia berada di sini.

Berbekal pengetahuan umum itu, Naruto berpikir jika Lucifaad adalah tempat terakhir yang ia kunjungi sebelum melesat jauh ke wilayah Da-tenshi. Kesan pertama Naruto mengenai Lucifaad adalah, tempat ini penuh akan bahaya sehingga orang akan berpikir untuk menjauh apapun alasannya tanpa terkecuali.

Naruto menyadari betapa bahaya nya tempat ini setelah ia memasuki Sage of six Path mode. Ini adalah upgrade secara total dari Sage Mode biasa milik nya. Sensor alami yang ia gunakan sama sekali tidak mendeteksi banyak hal bahaya seperti sumber nya terhalangi oleh sesuatu.

Tetapi dalam mode ini, sensor di tingkatkan, cukup untuk memahami segala hal di dunia dalam skala universal. Tidak ada harapan untuk siapapun bersembunyi, karena hal itulah kini ia berakhir di sebuah reruntuhan. Aura berbahaya semakin dekat, dalam sekejap saja Naruto berasumsi jika apa yang ada di dalam nya memenuhi syarat untuk memiliki julukan Tirani!.

"Itu tidak mengejutkan, pengetahuan universal ku sama sekali tidak bisa mengukur seberapa kuat energi ini." Hal ini karena unsur unsur pembentukan energi sama sekali tidak ada hubungannya dengan Senjutsu atau energi yang memiliki keterkaitan nya dengan cakra, atau dengan kata lain, kepemahaman tentang segala hal dalam segala universal hanya berlaku di dunia asalnya.

Tentu, ini sangat merugikan Naruto dan ia tidak bisa mengeluh. Dengan ketajaman sensor super akurat dari Sage of six Path mode aku merasa sudah sangat beruntung, pikir Naruto lagi.

Tidak mau memikirkan apapun lagi, segera setelah nya pintu reruntuhan di buka paksa. Naruto menggunakan kekuatan tidak terlalu berlebihan dan kini, lokasinya jauh di bawah tanah.

Matanya menangkap banyak hal menakjubkan, ini pertama kali ia melihat susunan ruangan sebagus ini. Kondisi nya 180 derajat dari pertama kali Naruto menampakan kakinya di atas. Dengan begitu saja, asumsi baru terpikirkan oleh nya.

"Aku mengerti, reruntuhan ini tidak lebih dari tempat dengan banyak energi tersegel. Kedok reruntuhan bukan apa yang ku anggap penting, tidak salah lagi. Ini rahasia tingkat internasional, tidak ada kemungkinan selain ini." Ada kilatan tertarik di mata nya. Terlebih dengan 12 patung yang mengambil banyak bentuk aneh namun tidak begitu asing bagi Naruto. Seperti raksasa berekor, chimera, pria gendut dengan janggut kriting, anjing kelalawar dan berbagai bentuk mengerikan lainnya.

Tekanan di sini sangat berbeda jauh, meski Naruto sudah menahan, ia tidak mampu mempertahakan kestabilan dari setiap hela nafas yang di keluarkan. Sangat berat, bahkan iblis kelas atas pun terbunuh begitu mudah hanya dengan menghirup banyak energi negatif ini. Ruangan itu adalah ruangan tersegel mencegah keberadaan kekuatan jahat itu di ketahui umum.

Tidak salah lagi, 12 patung ini bukan hanya sekedar kerajinan. Kebocoran ini berasal dari mereka, jika bisa Naruto menebak hanya berdasarkan dari informasi minim, seluruh kekuatan ini setara dengan kelas bencana, atau dalam sistem ranking iblis, mimpi buruk Satan kelas tertinggi.

"Ini bagus, setidaknya aku tidak akan menulis laporan kosong. Aku akan waspada dengan penemuan ini." Dengan mengangguk puas, keberadaan Naruto tidak bisa di rasakan lagi. Teleportasi instan membawa Naruto ke tempat berikutnya, perbatasan antara Mekkai dan wilayah organisasi Grigory.

.

.

.

Sekarang beralih ke Castle Lucifer. Ini tepat seminggu setelah kepergian kelompok Rias, namun bukan itu yang akan di ceritakan, tapi lebih ke apa yang saat ini sedang di bicarakan oleh kedua pemimpin iblis.

Sirzechs menatap kedatangan Ajuka senang, bukan tanpa alasan dengan banyak sekali pekerjaan sebagai seorang Maou, Ajuka bersedia datang atas permintaan nya. Mereka berdua sahabat, namun dalam ruang lingkup pekerjaan, keprofesional adalah hal utama.

"Baiklah, kau ingin bicara dengan ku, bukan? Aku rasa itu bukan hanya undangan minum teh biasa." Ajuka memulai dengan senyuman. Dari garis pandang nya, ia melihat ekspresi Sirzechs seperti ingin mengutarakan sebuah permintaan.

"Untuk sekarang memang bukan." Terdiam beberapa saat, Sirzechs datang dengan kalimat lain, "Tetapi untuk kedepannya, aku ingin menyusahkanmu kawan."

Karena bingung, Ajuka memilih menarik satu alis nya ke atas. "Sekarang, bolehkah aku mendengarkan keinginanmu? Aku tidak tau akan membantu atau tidak, kau seperti terlihat membutuhkan itu."

Sirzechs tersenyum simpul. Ajuka memang selalu bisa dia andalkan. "Bisakah kau memastikan ini? Aku mendapatkannya secara tidak sengaja, kau tahu. Rasa penasaran ku sama sekali tidak menyenangkan."

Mata Ajuka jelas melihat sehelai rambut yang di letakan di atas kain lembut. Tanpa bertanya pun Ajuka tahu dari mana Sirzechs mendapat kan itu. "Kau masih tetap ingin mengetahui nya meski kau sudah tahu jawabannya?"

"Tidak ada jaminan jawaban itu benar. Ini kesempatan terakhir, dan setelahnya. Aku akan menyerah dengan apa yang sudah terjadi." Tidak ada perubahan ekspresi apapun dari Sirzechs. Dia seperti sudah menyerah namun langkahnya tak berhenti untuk mencapai keinginannya. Tentu saja Ajuka tidak ingin menolak keinginan Sirzechs.

"Apa ini permintaan Grayfia? Sirzechs, aku tahu kau merasa sangat bersalah dengan takdir yang menimpa anak kalian. Rasa bersalahmu pada Grayfia membawa pada titik terendahmu, tapi Sirzechs, kau tidak harus melakukan itu."

Tapi saat saat berikutnya, kekehan lucu datang dari arah Sirzechs. Lucifer itu merasa jika Ajuka saat ini mengalami kesalahan persepsi. Sirzechs berhak memperbaiki kesalahan itu. "Kenapa kau terlihat senang? Apa aku salah memberikan saran?"

"Itu memang kesalahan, Ajuka. Tapi tidak apa apa, aku menghargai kekhawatiran mu. Kau sedari dulu memang selalu seperti ini kan?"

Ajuka menanggapi dengan desahan lelah. Meskipun Ajuka tidak terlalu khawatir, tapi jauh dari dalam dirinya ia ingin mengembalikan Sirzechs seperti dulu. "Perubahan mu selama setahun membawa banyak kekhawatiran bagi kami, kau tahu itu kan Sirzechs? Jadi jangan salahkan aku jika terlalu banyak bicara, semua untuk kebaikan mu."

"Aku tahu, aku berjanji untuk kedepannya tidak akan membawa kekhawatiran kalian lagi. Setelah ini, aku akan belajar menerima kenyataan meskipun aku tidak sekuat Grayfia. Untuk alasan itulah, aku meminta pertolongan dari mu, kau tidak keberatan bukan?"

"Sirzechs, jika aku melakukannya justru membawa banyak harapan samar untuk mu, tak apa aku di benci oleh mu, terus terang aku sedikit keberatan, kawan." Seperti yang di harapkan, Ajuka selalu melakukan apapun setelah memikirkan resikonya. Namun itu lah yang Sirzechs pikirkan, lagipula Sirzechs tidak seperti yang Ajuka kira.

"Tidak apa, Ajuka. Aku mengerti maksud mu. Aku meminta kau melakukannya semata mata hanya karena keinginan pribadi, aku sama sekali berharap banyak dengan hasil. Tapi jika bisa, aku ingin lebih." Ajuka tidak langsung menjawab, ia terlihat ingin memberikan suatu informasi namun sesuatu lagi terpikirkan oleh nya. Dengan anggukan yakin, Ajuka lebih memilih untuk menahannya.

"Sirzechs, ada hal yang ingin aku sampaikan padamu. Itu tergantung bagaimana hasil nya nanti, ah tolong juga bawa Grayfia. Aku yakin istrimu ingin mendengar ini."

"Ku rasa itu penting, tapi baiklah aku paham. Aku tidak akan memaksamu untuk mengatakan sekarang, tapi jika itu membawa luka lama bagi Grayfia, bisakah kau merahasiakannya untuk sementara waktu? Meskipun aku tahu Grayfia kuat, aku tidak ingin dia terluka lebih dari ini."

"Aku tidak tahu kau berpikir seperti itu." Ajuka tertawa, "Satu tahun dan kau benar benar berubah banyak, Sirzechs. Aku menangkap sisi baik nya, kau sekarang lebih serius, ku rasa siscon mu berlahan berkurang, dan sifat kekanak kanakan tak tau malu itu entah bagaimana kabar nya."

"Hei kita di sini tidak sedang membicarakan ku kan?" Mengabaikan protes ringan dari Sirzechs, sang Maou Beelzebub lebih memilih untuk diam. "Sekarang aku sama sekali tidak memiliki selera untuk bersikap seperti itu, lagipula Grayfia tidak sebaik di masa lalu, dia akan membunuhku kau tahu itu kan?. Dia lebih mengerikan setahun belakangan ini, temperamen nya kadang ada pada puncaknya."

"Aku tidak bisa protes, itu nasib mu. Kau memilih wanita cukup merepotkan, seperti yang selalu di katakan Falbium."

"Kau benar, lagipula aku tidak memiliki banyak alasan untuk menolak ucapanmu."

"Cinta huh? Itu di luar pengetahuanku."

Pembicaraan kemudian selesai. Selebihnya mereka membicarakan banyak hal hal di luar pekerjaan. Kesempatan bagi keduanya bertukar kata sebagai seorang sahabat jarang terjadi, dan ketika kesempatan itu ada, mereka akan memikirkan bagaimana memaksimalkan waktu lebih efisien.

.

.

.

Menyusup bukan hal asing bagi Naruto. Ia melewati banyak sekali makhluk dengan sayap gagak tanpa satupun kecurigaan mengarah pada nya. Naruto memiliki suatu kemampuan di mana dia mampu mencuri sedikit energi musuh menjadi milik nya. Tidak besar namun cukup untuk menipu mereka dengan kemampuan sensor biasa.

Markas utama malaikat jatuh, Grigory. Ada banyak bangunan tinggi seperti apa yang Naruto jumpai di Rouran. Pada dasarnya Grigory adalah markas militer, perbedaan sangat jauh dari pemukiman sipil dari bangsa iblis, karena hal inilah menyusup untuk mereka tidak terbiasa bukan ide baik.

Tetapi Naruto, menyusup hanyalah sepotong kue baginya.

Berdasarkan informasi dasar yang dia curi, pusat informasi Malaikat Jatuh ada di dalam satu bangunan. Chi Bunshin itu mengunci tatapannya pada satu objek, tidak salah jika itu adalah pusat para petinggi Malaikat jatuh bekerja dan aura berbahaya dari puluhan makhluk di dalam bangunan adalah apa yang seharusnya makhluk berpikiran sehat hindari.

Namun ketidakpedulian itu memaksa Naruto bertindak lebih jauh.

Ketika ia ingin melompat dari menara pencakar langit, sesuatu menginterupsi kan nya untuk segera meraih kunai. Dengan kecepatan seperlunya, sekejap saja ujung kunai bisa kapan pun memotong leher seseorang dalam kunciannya. Naruto bisa melihat ekspresi terkejut namun tidak lama dari itu, hanya wajah bersalah yang membuat nya heran.

"M-maaf maaf jika aku mengejutkan mu, aku sungguh tidak bermaksud apapun." Suara lembut dari seorang perempuan menarik minat Naruto untuk bertanya. Tanpa melepaskan ancaman, Naruto membuka mulut, "siapa kau?" Alih alih menanggapi permintaan maaf, Naruto datang dengan pertanyaan lain.

Perempuan itu terlihat sedikit takut, ia paham situasinya buruk. Salah berbicara ucapkan selamat tinggal untuk kepala nya, meskipun hal yang tidak di ketahui gadis itu, Naruto tidak sekejam apa yang ia pikirkan. Naruto melihat gadis itu berusaha bersikap tenang.

"Aku hanya Fallen Angel biasa, kau tidak perlu se waspada itu, sungguh aku tidak berbohong." Dengan cepat, ia menambahkan ketika mata nya menangkap kilatan tak percaya Naruto.

Bukan tanpa alasan Naruto curiga, aura nya tersamarkan tidak ada perbedaan antara Naruto dan Fallen Angel biasa di tambah ia tidak merasakan aura apapun dari perempuan itu. Bertambahlah kecurigaannya. Tidak peduli seberapa keras usahanya mempertajam sensor, perempuan itu tidak memiliki aura atau hawa apapun seperti entitas nya terpisah oleh dunia, aneh.

Ini pengalaman pertamanya, ia tidak pernah meragukan sensornya, mengetahui Fallen Angel biasa mampu mengelabuhi Naruto, rasa nya ada hal aneh di hatinya. Benar, ia tertarik.

Gadis itu menghela nafas lega. Rasa ia benar benar akan mati hanya dengan manatap dingin nya mata biru seperti dalam nya samudra yang aneh bagi gadis itu, sangat menenangkan. Ia membalas tatapan ingin tahu Naruto dengan sebuah perkenalan.

"Aku Kuroba Sayuki, hanya malaikat jatuh kelas bawah seperti yang kau lihat." Perempuan itu langsung memberitahu kelas nya karena ia yakin Naruto pasti mengerti setelah melihat sayap nya.

Tingkat kekuatan Fallen Angel di ukur berdasarkan pasang sayap, itu pengetahuan umum, jadi Naruto tanpa curiga apapun lagi melepaskan kewaspadaan. Gadis ini bukan ancaman, terbukti dengan satu pasang sayap gagak yang tidak di sembunyikan, jika pun perlu, menyingkirkan Fallen Angel ini hanya sepotong kue baginya.

"Kenapa kau mengikuti ku?" Sebenarnya ini kalimat lain dari 'bagaimana kau mengetahui keberadaan ku?'.

Sayuki hanya tersenyum senang, terlepas dari ancaman berbahaya Naruto beberapa saat lalu. "Aku tertarik padamu." Telunjuk kecil gadis itu di arahkan tepat ke wajah nya. Tidak ada jarak lebar antara mereka, jadi Naruto bisa memperkirakan usia dan menilai paras gadis ini.

Kuroba Sayuki, dari tinggi dan aura, Naruto bisa menyimpulkan jika usia gadis ini tidak jauh dari 17 tahun, satu tahun di bawah nya. Penampilan cantik, rambut hitam yang sebagian tersemat oleh bando hitam, beberapa membentuk anak rambut dari kedua sisi wajah nya. Mata bulat berwarna coklat kusam dan bentuk tubuh ideal, hanya setinggi hidung Naruto.

"Maksud ku, baumu." Sayuki segera menambahkan ketika matanya menangkap tatapan curiga untuk nya. Naruto masih menunggu penjelasan, "kau bisa saja tak percaya, tapi aku benar benar mampu membedakan ras dari setiap bau nya, kau tahu."

"Baiklah, jadi kau mengenali ku sebagai apa?" Tanya Naruto minat. Itu tidak mengejutkan baginya, di Uzushigakure ada satu Shinobi berkemampuan hampir mirip, Kakak angkat nya Uzumaki Karin.

"Sejauh ini aku hanya mengetahui beberapa macam jenis bau, kau tau jika dunia sangat lah luas, untuk alasan tertentu sulit untuk ku bertemu banyak ras sekaligus. Angel, Fallen Angel, Akuma atau bahkan manusia, aku bisa membedakan bau nya." Sayuki mulai dengan penjelasan. "Bunga lily identik pada sosok Angel, berkebalikan dari itu, aroma seperti rendaman kaos kaki berbulan bulan benar benar busuk untuk iblis, aku tidak menyukai bau mereka, kemudian amis, entah bagaimana aroma manusia hampir sama seperti ikan ternak, dan terakhir Fallen Angel, ku rasa karena akibat dari masa lalu membuat aroma mereka seperti bunga telah layu."

Kini terjawab bagaimana ia bisa di temukan. Ada sedikit gambaran sederhana sosok Naruto menurut aroma bau, itu ada di kepala nya. Naruto rasa 90 persen kemungkinan benar jika saat ini Naruto adalah setengah Fallen Angel.

"Bagiku menemukan blasteran sepertimu seperti mencari baju badut di antara baju renang. Ketika dua aroma bersatu, hidungku mendeteksi bau aneh seperti radar, dan begitulah, aku tidak menyangka menemukan mu di sini." Reaksi nya berlebihan, Naruto seperti melihat seseorang ibu yang menemukan anak nya, mungkin ada alasan tertentu untuk itu.

"Itu kekuatan aneh, tetapi cukup membantu." Tanggap ringan Naruto. Ia menangkap kilauan bintang antusias dari kedua mata coklat sang Fallen Angel.

"Aku lebih suka menyebutnya berkah Tuhan." Kata nya, "Untuk seorang Fallen Angel, aku ada di kelas terbawah, itu jauh lebih menyedihkan ketika kau mengetahui seperti apa kekuatan Fallen Angel satu sayap." Sayuki memulai dengan bercerita. Ia tampak tidak masalah memiliki sedikit kekuatan, sebuah kelangkaan ketika segalanya membutuhkan kemampuan lebih.

"Yang membuatku tampak seperti Fallen Angel hanya sepasang sayap ini saja. Aku lebih dominan kepada hakikat sebagai Manusia, dan penciuman ku adalah sedikit keberuntungan yang membawaku berasa sedikit di atas Manusia biasa, yah semacam Manusia super atau apapun itu." Sejujurnya ini bukan ranah Naruto. Ia sendiri terheran bagaimana seseorang begitu mudah membuka identitasnya? Mungkin di dunia ini, identitas membuktikan seberapa besar peran mu di sini? Entahlah.

"Apa mungkin itu hal aneh?"

Ketika pertanyaan itu keluar, ada sedikit perubahan ekspresi dari Sayuki. Entah apapun yang gadis itu rasakan, sepertinya bukan hal baik. "Keberadaan blasteran seperti kita adalah kesalahan. Pada dasarnya, kita tidak seharusnya ada, bagaimana mungkin ras campuran terendah berbaur normal ke dalam ras, bagaimana pun aku mengatakannya, memiliki harga diri selangit."

Meskipun Naruto langsung memahami penjelasan Sayuki, ia masih bisa bertanya untuk memastikan. "Kau setengah manusia?"

Sayuki tersenyum sedih, "Itu benar, ibuku manusia. Maka dari itulah aku bercerita kepada mu karena ku yakin, kau pasti mengalami hal serupa sepertiku." Tidak sampai beberapa detik, begitu saja Naruto mengerti bagaimana gadis Fallen Angel ini menemuinya. Sayuki merasa diam nya Naruto karena ia tengah menghindari Fallen Angel, meski itu benar, tetapi bagi Sayuki, Naruto seperti tidak ingin terlihat oleh hal apapun karena dirinya seorang Blasteran, sebuah kesalahan. Niat Sayuki dari awal tulus ingin membantu dirinya.

"Apa itu persisnya diskriminasi?" Tatapan Naruto beralih jauh ke pusat Grigory. Ada banyak makhluk terbang beraktivitas, namun tak satupun dari mereka merasakan keberadaan Naruto. Itu bagus.

"Banyak dari mereka menganggap derajat Fallen Angel jauh dari manusia. Tentu saja begitu, manusia hanya makhluk lemah, tidak ada ubahnya dari ternak, mainan atau apapun jauh lebih buruk di mata makhluk Supranatural. Mungkin beberapa dari mereka memiliki nilai tertentu dari masa lampau." Mata secoklat permen paskah itu mengikuti arah pandang Naruto. Semua tampak normal, kira kira begitulah dari pandangannya.

"Kau tak perlu cerita." Namun bukan hal sedih lagi di sana, Sayuki tersenyum seolah olah tanpa beban. "Tidak masalah, justru aku sangat bersyukur hakikat ku sebagai manusia lebih kuat. Aku tidak perlu membunuh sesama, menjadi senjata perang, bahkan bisa sedikit hidup normal. Mungkin kau akan berpikir ini impian anak anak, tentu saja begitu. Tapi aku berpikir jika menjadi Arsitek adalah mimpiku."

Sayuki merentangkan tangannya seolah olah ingin terbang. Ia seperti memeluk seluruh bangunan tinggi Grigory dalam jangkauannya, "aku ingin merubah seluruh tempat ini, tidak, bahkan tempat berguna di seluruh dunia, bangunan dan Monumen di mana bisa kokoh dalam kurun waktu ribuan tahun. Itulah alasan bagaimana aku tidak menyesal terlahir lemah." Sayuki alihkan pandangannya pada wajah tenang Naruto. Ia menjadi sangat senang menceritakan mimpinya, matanya berkilau layaknya bintang,

Tersenyum lembut sejujurnya bukan gaya Naruto, tapi ia merasa perlu tersenyum seadanya. "Kau pasti bisa meraih mimpimu." Bibir tipis Sayuki semakin mengembang, ia mengangguk antusias, "itu pasti."

Dan banyak waktu kembali berlalu. Pembicaraan ringan dimulai dari perkenalan, Sayuki mengaku hidup cukup normal di dunia atas. Bekerja, memperoleh uang untuk kebutuhannya, berbaul bersama anak seusianya minus hal hal berbau supranatural. Bahkan gadis itu sama sekali tak keberatan menceritakan kehidupan masa kecilnya.

Gadis itu beruntung bertemu dengan nya, itu bukan hal aneh jika saja keadaan berbalik di mana ia adalah Naruto asli, maka semua akan berakhir singkat. Meskipun ia hanya bunshin, ia masih memiliki sedikit selera humor. Jauh berbalik di banding Naruto. Naruto tak pernah ingin mendengarkan kisah hidup orang lain, tak akan pernah.

"Ngomong ngomong, setelah ini kau ingin kemana, Naruto?"

Naruto diam beberapa saat. Ia mengedarkan pandangannya ke kiri dan kanan. Menurut sudut pandang Sayuki, Naruto tampak bingung dan inisiatif muncul dari dalam hatinya, "Bagaimana jika kau ikut denganku? Aku hanya tinggal bersama ayah ku." Raut wajah Sayuki tampak sulit untuk di tolak, Naruto hanya tersenyum.

"Baiklah... "

...

...

...

Tidak di ketahui sudah berapa banyak buku selesai dia baca, kebiasaan baru Naruto menjadi perhatian bagi sebagian orang. Tatapan mereka tampak aneh, namun ketidakpedulian Naruto terhadap apapun di sekitarnya menjadi dinding kokoh pertahanannya. Ninja itu seolah olah memasang pembatas bagi siapapun mencoba menganggu waktu nya.

Terutama Rias. Iblis itu memperlakukan Naruto sangat baik demi menjaga hubungan mereka untuk masa depan, namun tidak satupun dari banyak hal kebaikan di gubris oleh Naruto. Seakan akan Uzukage muda itu dapat menyelesaikan apapun sendiri. Meskipun begitu, Naruto masih menjaga sikap baik nya, sudah sedari dulu dia sama sekali tidak fasih untuk mengakrabkan diri, alhasil semua orang akan berpikir jika Naruto tidak membutuhkan siapapun namun semua orang membutuhkan Naruto.

Tidur dengan tenang di satu sofa empuk. Entah sudah di angka ke berapa Naruto menyelesaikan buku nya hari ini. Dia tidak menunjukan tanda lelah, ekspresi di wajah nya sama sekali tidak ada perubahan apapun sejak awal. Mata Naruto hanya fokus pada apa yang dia baca, namun telinga nya terus menyaring segala informasi dari pembicaraan Rias dan lainya.

Sekarang tatapan Naruto beralih ke atas nya. Ia merasa sesuatu yang menutupi cahaya di wajah nya. Naruto menatap dua balon milik Rias datar, tidak lama ia beralih pada senyuman Rias. "Kau terlihat sangat menikmati waktu mu, jadi sedikit tidak mengenakan untuk meminta pengertian mu sebentar." Nadanya terdengar sopan, meski Naruto paham jika keindahan fisik tidak ada hubungannya dengan etika, namun dalam diri Rias, Naruto melihat hal baik.

Naruto mengangguk. Posisi nya sekarang berganti menjadi duduk, menyesuaikan posisi nya. "Aku mengerti, aku akan mendengar nya." Setelah melihat ruangan telah kosong, Naruto menyimpulkan jika pekerjaan Iblis adalah hal penting. Menurut Rias, setiap pekerjaan mempengaruhi status iblis kelas bawah untuk beranjak ke tingkat atas atau menengah.

Kata Issei-san, menjadi iblis kelas tinggi adalah keharusan. Impian itu membawa alasan untuk Issei bekerja sangat keras. Setiap hari, banyak wanita menatapmu dengan pandangan penuh cinta bukan hal normal jika lelaki manapun tidak tertarik akan hal itu. Sejujurnya Naruto sama sekali tidak mengerti, Ninja itu beranggapan jika wanita adalah anomali, sangat susah di pahami.

Bukankah jika setiap hari ada banyak wanita di sekelilingmu, tidak baik untuk kesehatan pikiran? Belajar memahami sesuatu tentu saja menguras banyak sekali tenaga, dan itu adalah anomali seperti wanita. Maka dari itu, Naruto menganggap wanita itu beban pikiran dan dia berusaha sekeras apapun untuk tidak terlibat urusan itu.

"Terima kasih."

"Bukan masalah, akan ku dengarkan." Bersama dengan kata kata nya, secangkir teh mengebul dalam balutan aroma menenangkan di samping kirinya. Remaja itu melirik sesaat dan kembali pada objek sebelum nya. Seseorang membawakan minuman santai ini tanpa dia memintanya.

Naruto merasa meskipun ia tidak begitu membutuhkan, ia harus mengungkapkan rasa syukur atas apa yang gadis ini berikan. "Terima kasih, Akeno-san." Di luar dugaan, Akeno justru menemani Rias malam ini. Entah apa yang ingin Rias katakan, Naruto hanya perlu mendengarkan dan sedikit menanggapi. Naruto berada di dalam kondisi di mana ia harus menjaga setiap kata kata nya.

Setelah ada jeda keheningan beberapa saat, Rias mengeluarkan sesuatu dari balik saku nya, itu adalah secarik kertas yang terlipat. Naruto menarik sebelah alis nya heran. "Ini adalah formulir pendaftaran, mulai besok kau akan bersekolah di sini, aku dan Sona telah mengurus semua nya." Singkat saja Rias menjelaskan. Ia tahu Naruto bukan type orang yang suka basa basi.

Hingga beberapa detik berselang, tidak ada suara balasan apapun dari Naruto. Rias maupun Akeno tetap setia menunggu. Naruto mengangguk, "hm aku mengerti situasi nya." Senyum merekah begitu saja tercipta di wajah cantik dua Iblis itu.

"Entah itu atas keinginan Sirzechs atau inisiatif dirimu, aku sungguh menghargai itu, Rias." Air manis teh membasahi tenggorokannya yang kering. Ia menjadi lebih heran melihat ekspresi senang mereka.

"Itu bagus, maka... "

"Tapi Rias, bolehkah aku bertanya sebelum nya." Singkat saja, Rias memperbolehkan Naruto mengatakan apapun. Naruto menghela nafas pelan, tatapannya sama sekali tidak berubah, masih datar. "Apa kau tau, tentang perjanjian tak tertulis?" Melihat Rias hanya diam, cukup bagi Naruto mengerti semua situasinya. Rias diam seperti tidak tau apa yang ia lakukan ini.

"Aku benar benar tidak mengerti kenapa aku harus mengikuti permintaan aneh mu ini? Dan kenapa aku harus bertindak seolah olah bagian dari kalian?" Berbicara panjang lebar dan to the point bukan lah gayanya. Tapi Naruto merasa jika ia menanggapinya biasa, semua tidak akan selesai begitu saja.

"I-itu. Aku melakukannya karena aku pikir akan jauh lebih mudah jika mengawasimu secara langsung." Terdengar seperti alasan sempurna, tetapi tidak bagi Naruto. Di samping, Akeno hanya diam tanpa berniat membantu karena dari awal, itu bukan niat Akeno di sini.

"Atau karena alasan lain? Aku minta maaf sebelumnya jika aku salah, Rias." Atmosfer semakin tidak mengenakan dengan Naruto menjeda kalimat nya, "kau tidak berniat mengikat ku bukan?" Dan Rias spontan terdiam.

Naruto menghela nafas ringan, "Aku mengerti jika kau tidak percaya padaku. Aku hanya lah orang asing dan sebuah kebetulan terlibat oleh keluarga mu, tidak percaya dengan orang asing memang pilihan bagus, Rias. Aku mengerti perasaan mu."

Rias tersentak, "tidak, mana mungkin. Aku hanya tidak ingin kau bosan melakukan kegiatan yang sama berulang." Rias menyanggah lagi. Naruto tidak tersinggung jika Rias tidak mempercayainya, namun hati Rias semakin tidak enak seolah olah dirinya terganggu oleh keberadaan Naruto meski pada kenyataan nya itu tidak benar. Ia takut Naruto merasa tidak nyaman.

"Aku mengikuti semua kata kata mu seminggu ini, tidak bergerak mencurigakan, dan aku berniat untuk terus seperti itu hingga masa hukuman ku selesai. Sejak awal ini sama sekali bukan kehendaku, aku tersesat dan Grayfia menarik ku ke dalam masalah meskipun untuk beberapa hal tidak ku sesali. Jadi aku pikir, dengan menolak tawaran mu tidak melanggar perjanjian antara aku dan Sirzechs."

Benar. Akhirnya Rias sadar jika saat ini Naruto tengah membicarakan perjanjian tak tertulis itu. Naruto bebas melakukan apapun selama itu dalam pengawasan Rias dan lebih dari itu, Naruto menolak. Naruto sangat paham jika ia menerima penawaran itu, sama hal nya ia terikat oleh keluarga Gremory, Naruto tidak ingin itu jadi dengan ketegasan yang ia miliki niat baik Rias gagal total.

Namun apakah Rias akan menyerah? Penolakan pertama bukan akhir dari segala nya.

"Benar, bagaimana menurut mu tentang perasaan Grayfia yang begitu menyayangimu." Mata Naruto menyipit. Arah pembicara mulai belok, Naruto tidak senang seseorang mengalihkan topik pembicaraan. Hawa tidak mau kalah yang Rias keluarkan cukup menggangu nya.

"Aku tidak mengerti maksud mu, Rias." Naruto berujar tanpa menatap lawan bicaranya. Ia lebih fokus kepada sisa teh yang telah hampir habis itu. "Lagipula terdengar konyol perasaan itu datang secara instan." Cukup realistis.

"Aku merasakannya, tatapan Grayfia, sikap nya, aku benar benar mengerti apa yang Grayfia rasakan saat itu. Aku tidak pernah melihat nya sehangat itu, kau mungkin tidak tau, tapi perasaan Grayfia pada mu benar benar nyata." Tatapan Rias menajam, itu bukan karena ia kesal atau apapun. Ia paham kesedihan Grayfia, ia merasakan perasaan itu. Ketika Ia melihat perlakuan Grayfia di dapur, Rias pun tau betapa wanita itu memperlakukan Naruto spesial. Aneh, hanya dalam waktu sesingkat itu.

"Hanya karena aku mirip anak nya." Balasan singkat Naruto sangat menggambarkan situasinya saat ini. Ia masih tenang, tidak ada emosi berlebihan sama seperti Naruto biasa nya.

"Itu benar, karena itulah Grayfia menyayangi mu, sama seperti dia menyayangi Naruto." Katanya tanpa basa basi sedikitpun justru membuat Naruto terdiam. Di luar dugaan, Rias tidak mengelak atau berusaha agar Naruto mengerti jika perasaan Grayfia natural, Rias meyakinkan Naruto tanpa kebohongan apapun.

"Maka perasaan itu dari Grayfia untuk Naruto Gremory bukan untuk ku." Sekarang Rias-lah tidak bisa berkata apapun. Rias tidak mengira jika kejujurannya membuat Naruto berpikir seperti itu. Hal yang tidak pernah Rias ketahui adalah jalan berpikir Naruto. Uzukage itu egois di beberapa sisi, sifat yang tidak di ketahui oleh siapapun bahkan "Nyonya Uzukage" sekalipun.

Sedetik saja, Ninja itu melihat kilatan alasan alasan lain yang tidak ia pahami lagi. "Bagaimana jika kita berandai andai, Grayfia benar benar menyayangi mu sebagai Uzumaki Naruto bukan Naruto Gremory?" Tatapan Rias tidak seberani sebelum nya. Ia merasa akan kalah kapanpun jika sedikit saja mengeluarkan argumen memaksa. Hatinya berkata seperti itu.

"Tentu itu bisa terjadi, lalu aku akan bangun, menggosok gigi dan cuci muka, melakukan kegiatan memaksa ini kemudian menunggu kapan waktunya aku benar benar bebas." Sekali lagi Rias di buat diam hanya karena satu jawaban aneh. Secara tidak langsung, ia mengatakan hal itu tidak lebih dari mimpi indah bagi Naruto. Sang Uzukage benar benar tidak memberikan satupun kesempatan bagi Rias mengkorupsi dirinya, tidak akan pernah.

Naruto tahu akan batas nya, ia bukan lah siapa siapa di dunia ini, ia hanya penyintas dan sebuah kebetulan ia terlibat oleh hubungan aneh. Ia mengerti keinginan Rias, ia tidak mempermasalahkan itu andai saja bukan melibatkan Naruto.

Sekarang, suasana menjadi canggung karena ulah Rias sendiri. Padahal sebelum nya mereka tampak seperti saling mengenal jauh andai saja Rias tidak egois.

Memang harus di akui jika niat sebenarnya Rias adalah mengikat Naruto, bukan untuk nya tapi untuk seseorang yang lebih membutuhkan meskipun kenyataan nya tidak begitu. Salah persepsi membuat hubungan baik kedua nya sedikit retak, meski bagi Naruto ia tidak begitu mempermasalahkan itu.

Lihat lah sekarang, Naruto bahkan masih bersikap rilex tanpa sedikitpun memikirkan pembicaraan barusan.

Tapi Naruto merasa jika ia tidak menuntaskan segalanya saat ini, Rias akan membawa dirinya ke dalam pembicaraan lebih merepotkan.

"Sejujurnya aku sama sekali tidak mempercayai suatu kebetulan. Semua hal di dunia terkutuk ini ada dasarnya, baik itu sikap Grayfia ataupun aku. Aku benar benar menghargai niat baik mu, Rias." Keinginan Rias untuk mengobati kerinduan Grayfia merupakan kesalahan, gadis itu hanya tau kepedihan Grayfia tanpa ia ketahui jika keinginan Grayfia untuk Naruto bukan membuat pemuda itu berada di sisi nya. Grayfia hanya ingin Naruto hidup bahagia tanpa atau dengan Grayfia di sisinya.

Baik Rias ataupun Naruto tidak tau itu. Kedua nya bertolak belakang bahkan tujuan kedua nya pun berbeda. Saling bertentangan maka terciptalah keretakan seperti ini. Rias percaya dengan ada nya Naruto, mampu merubah Grayfia seperti yang seharusnya, namun di sisi lain Naruto mengira jika kasih sayang sederhana dari Grayfia untuk Naruto Gremory bukan untuk nya.

Semua hal berhubungan dengan Grayfia. Dan itu seperti Rias terlihat menggunakan Grayfia untuk dirinya sendiri, untuk beberapa alasan aneh Naruto tidak suka itu. Jadi ia ingin mengakhiri nya segera.

Naruto menutup matanya, tatapan selanjutnya tampak netral meski bagi Rias itu tidak sama sekali. "Tolong jangan libatkan aku dalam perasaan pribadi mu, Rias."

Selesai. Baik Rias maupun Naruto sama sekali tidak mau bersuara lagi. Rias hanya mengangguk lemah, merasa usaha nya telah tertutup sepenuhnya, disisi Naruto, ia tampak tidak peduli, mulut nya sibuk mengunyah camilan meskipun mata nya sesekali beralih kepada Akeno yang sedari awal diam. Akeno terlihat seperti pihak yang mendukung kedua nya.

Tetapi tak lama suara Kurama muncul, ia datang dengan pernyataan aneh nya. "Kau tidak terlihat seperti bukan dirimu, Naruto? Ada apa? Apakah sesuatu yang menganggu mu?"

"Rias tidak akan menyerah hanya dengan aku menolak nya, ia akan terus berusaha meskipun ia tahu akan gagal. Setidaknya itu yang ku ketahui." Kata Naruto, "Bagaimana kau tau? Itu terlihat seperti kau mengenal banyak gadis itu?"

Naruto berhenti mengunyah. Ia mengerutkan dahinya keheranan. Ia seperti menemukan sesuatu yang salah dari dirinya entah apapun itu, dan pertanyaan Kurama seakan mengingatkan itu. "Aku mengatakan spontan seperti aku harus mengatakan nya, mungkin." kata nya ragu, Kurama tertawa aneh.

"Jika kau mengetahui sesuatu, katakan saja, Kurama." Ia merasa camilan ini lebih menarik dari pada setiap kata Kurama.

"Kau kan pintar, kenapa kau tidak mencari tahu sendiri?" Seakan mengejek, Kurama tertawa lebih keras, ia abaikan delikan membunuh Naruto pada nya, ia seperti tidak menerima sarkastik Kurama meskipun sejalan pada kenyataan.

Kemudian Kurama datang pada kenyataan lain, "Aku banyak menangkap perubahan menarik dalam dirimu, Naruto. Tepat dari awal kita menginjakan dunia ini." Pernyataan aneh Kurama tentu saja menarik minat nya, "Kurasa itu tidak mungkin, aku merasa seperti diriku biasa nya."

"Itu mungkin, hanya karena kau tidak merasakan perubahannya. Impulsif. Aku akan senang hati memberitahu mu satu persatu jika kau meminta." Kurama memberikan tawarannya, "Kalau begitu jelaskan!"

"Baiklah dari hal terkecil, sejak berapa lama kau menjadi sangat menyukai makan? Itu terjadi setelah kita menginjak dunia manusia, kau tidak bisa membantah karena aku mengawasimu, Naruto." Tanpa basa basi, Kurama memotong. Naruto tentu saja merenungkan itu, camilan yang Rias siapkan untuk nya membuka hasrat baru yang tidak bisa Naruto pungkiri lagi sekarang.

"Lalu, kau jadi lebih tidak memilih makanan manapun. Traumatik aneh mu pada makanan di luar sepenuh nya menghilang, aku tidak akan mengatakan pengaruh lingkungan, traumatik tidak akan hilang hanya karena hal itu." Itu perubahan kedua, Naruto tidak membantah lagi seperti saat Kurama mengatakan perubahan Naruto pertama.

"Terakhir, ini perubahan bagus dan sejujurnya aku lebih menyukai dirimu sekarang. Itu bukan berarti kau bermasalah atau apapun tapi Naruto, di sini, di tempat ini, kau sedikit merasa lebih hidup." Naruto menatap Kurama dengan pertanyaan, "Apa maksud mu?"

"Kau tampak seperti Uzumaki Naruto, namun di sisi lain, bukan. Kau sekarang terlihat seperti terlahir kembali, yah itu hanya pendapatku, kadang kata kata punya maksud ganda, kau tak perlu memikirkan itu, Naruto."

Bagi Naruto itu terlihat seperti pernyataan ambigu. Tapi tidak seperti saran Kurama, Naruto justru memikirkannya dan entah bagaimana, api dalam dirinya berkedip seperti ada faktor lain dalam perubahannya.

TBC...

Akhirnya selesai pembukaan arc Kokebiel. Itu akan berjalan jauh berbeda, meskipun intinya sama, aku tidak tertarik melibatkan pihak surga lebih banyak. Fallen angel lebih menarik ku rasa. Sebagai tumbal.

Sayuki adalah karakter anime Accel World. Aku membuatnya berbeda karena aku cukup butuh perannya di arc ini. Dia akan cukup berguna nanti, dia akan membawa Naruto ke sesuatu yang ia butuh kan.

Nah Flashback Naruto Gremory selesai sampai di situ. Ada banyak hal yang memengaruhi masa depan tentang kematian Naruto Gremory. Aku tertarik untuk menceritakan di lain waktu, di mana satu persatu kepingan bersatu, akan ada plot twist sederhana di sana.

Hanya itu yang dapat aku sampaikan. Sampai jumpa di lain waktu, dahh~