Chanyeol mengerjapkan matanya mencoba membiasakan dirinya dengan cahaya yang masuk melalui sela fentilasi kamarnya. Dia menguap selebar lebarnya. Dengan mata yang masih tak rela untuk terbuka Chanyeol meraba setiap sisian kasurnya mencari benda pipih yang sekarang makin canggih luar biasa. Chanyeol sedikit berdecak sebal, tak menemukan juga dimana benda itu ia letakkan sampai akhirnya dia menemukan itu ada di sela kasur dan tembok. Chanyeol tersenyum bersyukur, untung tidak jatuh ke dalam lagi. Tapi selanjutnya bukan rasa syukur yang ia lontarkan melainkan matanya yang melebar secara otomatis.

"Sial jam 9 "

Ya karena jam 9 tepat, dia ada mata kuliah, yang ya tidak bisa ditinggalkan. Sebut saja begitu karena terlihat Chanyeol yang kelimpungan kesana kemari mencari baju dan memasukkan buku asal ke tas nya. Bodoh bukan, bahkan dia tak repot repot mencuci muka. Chanyeol berlari kalang kabut, menutup pintu flatnya kasar dan berlari keluar dengan sepatu yang belum benar benar terpasang. Tapi ditengah gang dia berhenti.

"B ? Aish sudahlah, dia bisa mencari makanan di kulkas "

Tapi bodohnya Chanyeol tak ingatkah dia, kalau dia selalu miskin dan hanya ada air putih dan kimchi didalam kulkasnya kalau itupun sedang hari beruntung.

Chanyeol kembali berlari, tapi diujung gang yang akan menampilkan jalanan besar, sekali lagi kakinya berhenti mendadak. Dia menoleh ke arah kiri. Ini kedai toko itu. Tepat disebelah kiri gangnya. Matanya mencoba menyipit, lalu ia menoleh ke kanan, itu tembok dengan tulisan random. Seingat dia bukankah kemarin tembok itu ada disebelah toko dan gangnya berada beberapa meter setelahnya. Dan sekarang kembali gang itu tepat berada disamping kedai toko. Pikirannya berkecamuk, mencari jawaban dengan langkahnya yang tadi terlihat tergesa sekarang berjalan perlahan mencari jawaban atas suatu kejanggalan. Dia jadi lupa ada dosen luar biasa killer sedang mengajar dikelasnya yang memperhatikan satu absen kosong disana atas nama Park Chanyeol.

Hingga dia menyadari kedai toko itu sudah tak tampak seperti biasanya. Apa terjadi sesuatu batinnya? Dilihatnya pria yang sedang beragumen serius didepan kedai. Chanyeol tahu persis itu pemilik kedai.

"Apa yang terjadi? "

Tanya Chanyeol ke pemilik kedai. Chanyeol cukup mengenal pria paruh baya itu karena dia juga sering berada dikedainya.

"Terjadi kecelakaan semalam "

Chanyeol manggut manggut mengerti, dia sudah mengira.

"Sampai separah ini ? "

Tanya Chanyeol lagi penasaran. Dia benar benar lupa dengan kuliahnya.

"Ya, sebuah truk oleng dan menabrak kedaiku "

Jawab sipemilik. Chanyeol dapat melihat gurat frustasi disana. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain rasa simpati. Ia juga terlalu miskin untuk membantu menggantikan kaca kaca yang pecah dan tembok yang hancur itu.

Tapi seingat Chanyeol semalam baik baik saja. Ya mungkin terjadi di subuh hari, pikirnya. Matanya melirik meneliti keadaan yang berantakan itu sebelum akhirnya ia terpaku dengan garis polisi yang berada ditepi jalan. Dia mengernyit, itu lelehan darah yang sudah mengering. Dia memang jijik melihat darah juga membayangkan betapa naasnya seseorang itu. Tetapi melihat darah, Chanyeol jadi teringat wajah dosen killernya. Chanyeol berdecak kesal dengan keteledoran nya sendiri. Akhirnya dia kembali berlari sebelum lagi lagi kakinya berhenti mendadak. Ada satu hal lagi yang mengganjal pikirannya. Dia mundur beberapa langkah dan kembali menghampiri si pemilik kedai.

"Emm, itu kau mengecatnya lagi ke kuning ya? Sepertinya kemarin sudah berubah warna biru "

Ya, Chanyeol yakin kedai itu berwarna biru kemarin.

"Apa maksudmu? Ah Sepertinya tidak buruk. Aku akan merubahnya menjadi warna biru setelah ini "

Jawab si pemilik kedai. Dan Chanyeol diam sejenak sebelum akhirnya mengambil nafas sedalam dalamnya dan hitungan ke tiga berlari sekencang kencangnya tapi bukan ke arah kampus melainkan ke arah flatnya. Dia sudah masa bodoh dengan dosen killer yang akan mengancamnya dengan nilai merah karena tidak datang tanpa alasan. Ada sesuatu yang lebih mendesak menurutnya. Ya, keganjalan yang untuk pertama kali dalam hidupnya rasanya akan membuat kepalanya pecah. Ia berlari dengan pikiran terus menerka, sampai ia di flatnya dan membuka pintu dengan tergesa hingga terpampanglah ruangan berangakan seperti biasanya.

"B ! Oeh B, kau dimana ? "

Ya, makhluk itulah sesuatu terakhir yang paling mengganjal dari paginya yang sudah rusak.

"Hey ! Orang aneh ! Kau dimana? "

Chanyeol mencari ke setiap sudut ruangan meskipun pada faktanya ruangannya itu itu saja. Chanyeol membatin, apa dia sudah pergi ? Akhirnya Chanyeol ke salah satu sudut ruang disamping kamar mandi. Seingatnya ia meletakkan baju pria aneh itu disana, tapi tidak ada. Apa dia yang salah? Akhirnya ia mengobrak abrik ke tempat lain. Sampai dia berdiri didepan sofanya.

"Botol saus tomat"

Botol saus yang terbuka. Tapi isinya masih penuh dan sofanya baik baik saja. Seingat dia, ah dia sangat ingat botol itu tak sengaja diduduki si pria aneh dan membuat isinya menyembul keluar mengotori baju si aneh dan sofanya. Ia ingat. Tapi ?

Chanyeol kembali berlari kekamarnya kini dia mengobrak abrik isi almarinya. Benar dugaannya, baju dan celana kebesaran itu ada disana dengan posisi sama persis tepat berada disebelah boxer kesayangannya. Sebenarnya apa yang terjadi ? Terakhir yang di ingat dia,

"Baiklah, sekarang namamu B"

Ternyata hanya mimpi.

.

.

.

"Dia hanya bertanya kemana sahabat rasaksamu dan tak ada lagi "

Jelas Oh Sehun, pria yang sekarang sedang memeluk bahu lebar Chanyeol dari samping. Mereka sambil berjalan menyusur koridor kampus menuju tempat favorit mereka. Kantin.

Dia Oh Sehun, sahabat Chanyeol yang ia panggil seseorang kekurangan zat warna kulit, baik itu kepanjangan. Jadinya Chanyeol menyingkat menjadi si albino. Sebenarnya itu bukan dari Chanyeol tapi dari sahabatnya yang lain, yang sekarang tengah melambai ke arah mereka.

"Oeh dude ! "

Sapa si pria melambai saat Oh Sehun dan Chanyeol sekarang duduk didepannya. Ya mereka sudah di kantin.

"Chanyeol sedang tak berselera "

Itu Sehun.

"Aku bisa melihat itu. Kenapa ? Si perempuan bernama Wendy lagi ? "

Tanya pria itu. Baiklah, dia adalah Kim Jongin sahabat Chanyeol yang lain. Dialah orang yang dimaksud Chanyeol, yang suka memanggil Sehun dengan sebutan si albino. Tapi lebih dari itu Sehun juga punya sebutan untuk temannya yang memiliki zat warna coklat lebih banyak itu. Kamjong tentu saja.

"Jangan kau sebut nama itu lagi. Tak semua masalahku berasal dari Wendy "

Jelas Chanyeol.

"Syukurlah, kau sadar "

Itu Jongin lagi.

"Dimana Luhan ? "

Itu Sehun kini. Siapa lagi Luhan? Tentu saja sahabat yang lain. Sedikit cerita, Oh Sehun adalah sahabat Chanyeol sejak 3,5 tahun yang lalu saat masa orientasi perkuliahan. Mereka satu jurusan dan satu kelas, banyak kemungkinan mereka menjadi teman dekat dan dua pria tampan itu memang pada akhirnya berteman dekat. Lalu Jongin, dia dalam jurusan yang sama hanya saja beda kelas. Mereka juga kenal dalam masa orientasi, sayangnya mereka tidak berada dalam satu kelas tapi siapa sangka pertemanan itu tidak sesingkat masa orientasi buktinya mereka sering sekali dalam banyak kesempatan menghabiskan waktu bersama. Dan Luhan, dia adalah sahabat Chanyeol sejak kecil. Chanyeol dan Luhan adalah anak rantauan dari desa yang pergi ke kota untuk menimba ilmu. Dan dengan alasan itu sahabat Chanyeol juga akan bersahabat dengan sahabatnya yang lain karena Luhan juga berada dikampus yang sama meskipun berbeda jurusan. Tetapi gedung jurusannya juga kebetulan bersebelahan dengan gedung Chanyeol, Sehun dan Jongin.

"Ada kelas mungkin. Akhir akhir ini ku pikir kau selalu mencarinya "

Itu Jongin.

Sehun mendengus.

"Ya, saat kau tak ada aku juga akan menanyakan kau dimana. Itu hanya dalam bentuk basa basi kau tahu ! "

Jelas Sehun.

"Baiklah, teruslah seperti itu ".

Jongin lagi.

"Maksudmu ? "

Sehun.

"Sudah, kalian makin membuat kepalaku mau pecah. Bisakah jangan berdebat sekarang anak anak? Aku ingin menikmati makan siangku "

Protes Chanyeol, setidaknya yang sedikit memiliki kewarasan satu tingkat dari 2 sahabatnya itu.

.

.

.

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, Chanyeol adalah anak rantauan dari desa. Jadinya ia juga harus sedikit menambah penghasilan untuk memenuhi kehidupannya dikota. Karena uang kiriman dari orang tuanya tidak terlalu cukup untuk hidup di kota. Orang tuanya melakukan perhitungan uang saku yang pasti dibutuhkan Chanyeol dari garis dasar perhitungan keuangan desa. Tentu itu sangat berbeda dengan dikota, karena bisa saja sesuatu yang dijual didesa akan menjadi 2 bahkan berkali lipat lebih mahal. Tetapi Chanyeol tidak ingin memprotes dan membebani orang tuanya lebih lagi. Makanya ia bersyukur saja, setidaknya orang tuanya sudah menyekolahkannya sampai setinggi ini. Jadinya untuk memenuhi kehidupannya yang lain, Chanyeol bekerja paruh waktu disebuah bar kopi atau biasa disebut kafe ditengah kota. Hanya membutuhkan satu halte dari kampusnya menuju ke kafe.

Chanyeol membersihkan meja counter yang sebenarnya tidak begitu kotor. Hanya saja ia ingin mencari kegiatan selain melamun memandangi derasnya hujan diluar sana. Mungkin itu alasan kafe tempatnya bekerja menjadi agak sepi dari biasanya. Dikala kegiatannya yang tak berguna itu. Sekelebat sosok B menyita pikirannya. Dia terkekeh bodoh mengingat betapa kepalanya akan pecah dipagi itu, hanya karena memikirkan hal hal ganjal yang ternyata hanya sebuah mimpi. Tentu saja itu hanya sebuah mimpi, gang yang bergeser, dan pria mungil yang seperti hantu tiba tiba muncul dihadapannya dengan segala ketidakwarasan yang diberikan. Tapi mimpi itu memang terlalu nyata, sampai Chanyeol menyadari hal yang lain. B disini.

"Chanyeol ? "

Dia berdiri didepan counter dengan senyumannya dan eye smile yang dia tampilkan disana.

"B- B ? "

Bibir Chanyeol bergetar. Apa dia berhalusinasi karena mimpinya baru saja merenggut sebagian akal sehatnya? Pria mungil aneh dengan baju kebesaran milik Chanyeol itu sekarang tengah berdiri tepat didepannya.

"Ka- kau ? Ba- bagaimana kau ada disini? "

Chanyeol menjadi gagap. Dia ketakutan juga kebingungan. Baru saja ia mengklaim kalau pria mungil didepannya ini hanya sebuah mimpi. Atau mungkin selama ini Chanyeol salah ? Inilah kehidupan aslinya dan selama ini dia yang bermimpi berteman dengan Oh Sehun, Kim Jongin dan sahabat cantiknya Xi Luhan. Tapi demi Tuhan dia tak mengenal pria mungil didepannya ini.

"Chanyeol ? "

Panggilnya lagi menyentak kesadaran Chanyeol.

"B ? Bagaimana bisa kau ada disini? "

Tanya Chanyeol masih dalam keadaan mengendalikan dirinya mencari jawaban mana realita dan mimpi.

"Aku melihatmu dari balik kaca besar itu, kau meninggalkanku tadi pagi "

Jelasnya dengan lagi lagi menggunakan ekspresi puppy nya dan bibir yang mengerucut lucu.

"B ta tapi, bukankah kau hanya sebuah mimpi? "

"Mimpi ? "

Pria mungil itu memiringkan sedikit kepalanya. Oh kalau saja ada telinga yang mencuat lucu seperti anak anjing, mungkin itu juga akan ikut bergoyang.

"Oh Chanyeol, siapa dia ? Kenapa kau malah diam saja, tidak melayani "

Itu seseorang, teman kerja Chanyeol. Biasanya dia yang dibagian memasak dessert.

Chanyeol terkejut tentu saja. Bukan mimpi ? Atau seperti apa? Rasanya ia ingin berteriak dan menggunduli rambut Kim Jongin. Dia kebingungan.

"Hyung, kau melihatnya ? "

Tanya Chanyeol ke teman kerja yang memang 3 tahun lebih tua darinya.

"Siapa ? "

Tanya Hyung itu.

"Pria mungil ini "

Ucap Chanyeol dengan menunjuk hati hati ke arah pria mungil yang ia maksud yang masih berdiri didepan counter.

"Chanyeol, kau menghinaku karena pakai kaca mata atau menghina dia yang mungil ? "

Hyung itu.

Chanyeol mendelik mendengar jawaban itu. Jadi Hyung temannya bekerja itu melihatnya juga. Bukan mimpi ? Jadi pria mungil ini bukan mimpi ?

"Ada yang bisa saya bantu? Kau mau memesan sesuatu "

Hyung itu mengambil alih job Chanyeol, karena pria itu masih mematung bukannya melayani pelanggan didepan yang terlihat menunggu itu apalagi mata lucu yang sekarang terlihat berkaca kaca itu. Tega sekali Chanyeol, pikir hyung itu.

"Aku tidak ingin memesan sesuatu. Aku hanya ingin melihat Chanyeol "

Hyung itu menaikkan satu alisnya. Ternyata teman Chanyeol, tapi kenapa ekspresi Chanyeol ketakutan seperti melihat hantu begitu. Pikir hyung itu.

"Kau ini, dia mengenalmu begitu. Kenapa ucapannya tega sekali tadi? Lihatlah bajunya juga basah kuyup. Cepat, dibelakang sepertinya ada sebuah handuk bersih "

Hyung itu sambil sedikit menepuk bahu Chanyeol. Karena pria itu masih diposisi yang sama dengan ekspresi menegang.

"Chanyeol, maafkan aku. Kau tak suka ya ku datangi kemari. Baiklah aku akan pulang "

Pria mungil itu menunduk lalu melangkahkan kakinya keluar. Kaki itu telanjang lagi.

"B ? "

Panggil Chanyeol setelah melihat tetesan air dari baju pria mungil itu atau bisa disebut bajunya yang dipakai dia, apalagi telapak kaki telanjang itu. Si empu yang dipanggil berhenti dan berbalik.

Chanyeol menarik tangan mungil kedinginan itu, untuk masuk kebagian dalam ruangan kafe. Itu loker tempatnya mengganti baju kerjanya. Ada kamar mandi kecil juga disana. Chanyeol tak tahu handuk bersih yang dimaksud hyungnya itu. Tapi Chanyeol memiliki handuk miliknya dibalik lokernya. Karena biasanya pria itu pulang kuliah memilih mandi ditempat ini sebelum memulai bekerja.

"Keringkan tubuhmu dulu "

Perintah Chanyeol dengan melermparkan handuk kecilnya ke pria mungil itu yang langsung ditangkap dengan tanggap juga. Terpaksa Chanyeol meminjamkan bajunya lagi, baju tadi siang yang ia pakai. Dan dia ? Tentu saja akan pulang dengan seragam kerjanya. Bagaimana lagi, kalau dipikir pikir Chanyeol tidak sadar perbuatan baiknya yang kini terlihat tulus daripada sebelumnya yang selalu ada niat lain.

"Pakailah ini. Maaf mungkin akan sedikit bau keringat, tapi tenang bau ku sangat enak "

Ucap Chanyeol lagi, tapi kini memberikan baju dan celananya dengan baik baik tidak dengan melempar. Pria mungil itu mengangguk dan saat akan menanggalkan bajunya Chanyeol menghentikan pergerakannya.

"Apa yang kau lakukan ?! "

Tanya Chanyeol.

"Kau bilang aku harus ganti baju ? "

Lagi lagi muka polos itu pikir Chanyeol.

"Jangan disini, masuklah ke kamar mandi "

Pria mungil itu menangguk lagi. Benar benar seperti anjing yang sangat patuh.

Setelah beberapa saat Chanyeol menunggu, pintu kamar mandi itu terbuka sedikit lalu kepala si mungil menyembul dari sana.

"Chanyeol ? "

Panggilnya hati-hati.

"Kenapa? "

Si punya nama menyahut.

"Celanamu sangat kebesaran untukku. Saat aku memakainya dia akan jatuh melorot "

Jelas si B.

Chanyeol berfikir, tapi sebelum menemukan jawaban B keluar begitu saja dari kamar mandi.

"Yak, yak apa yang kau lakukan? Hey kau tidak memakai celana ! "

Chanyeol kelimpungan. B hanya menggeleng.

"Tidak apa apa, kemeja ini juga sangat besar. Lihatlah, dia menutupi pahaku "

Dan Chanyeol malah mengikuti arah pandang Baekhyun. Oh itu mulus sekali. Apa ? Chanyeol langsung menegakkan kepalanya dan menggeleng.

"Tetap saja, tampilanmu sekarang seperti artis artis Jav. Aku akan mencarikan celana untukmu "

Sebelum B menjawab Chanyeol sudah pergi keluar.

"Artis Jav ? "

B tersenyum. Itu bukan tentang Jav, tapi kata artis didepannya. B tak mengerti apapun itu, tapi yang ia tahu artis bukankah mereka yang ada didepan layar televisi dengan tampilan menarik juga segudang bakat.

Selanjutnya Chanyeol kembali masuk.

"Ini pasti pas untukmu, ini celana ukuran perempuan. Ini seragam kerja disini. Pakai saja celananya. Atasnya kau tetap pakai punyaku "

Sekali lagi B mengangguk.

Akhirnya Chanyeol meneruskan pekerjaannya sampai jam kafe menunjukkan angka 10 malam saatnya tutup. Dan B dengan sabar menunggu berjam jam duduk dengan tenang dan satu americano yang Chanyeol suguhkan didepannya.

"Ayo pulang "

Itu Chanyeol setelah membenahkan semua pekerjaanya. B berdiri dan megangguk dengan senyumannya.

"Kau tidak menghabiskan americanomu ? "

Tanya Chanyeol.

"Emm, maaf itu sangat pait aku tidak suka "

"Seharusnya kau bilang "

"Aku tidak tahu kalau itu akan pahit"

"Baiklah, lupakan. Ayo pulang. Hyung aku duluan ! "

"Ya! "

Sahut yang lebih tua dari dalam ruang loker.

Mereka berjalan diterotoar dan pulang dengan bus malam terakhir lalu turun dihalte daerah flat Chanyeol. Halte yang terletak beberapa meter dari kedai toko. Seturunnya, Chanyeol berjalan dengan B yang mengekor dibelakang tetapi tiba-tiba langkah Chanyeol berhenti, dan kaki telanjang Baekhyun ikut berhenti. Kini B tidak menabrak punggung itu lagi karena dia tidak lagi memakai sepatu kebesaran Chanyeol.

"Ya, sekarang aku tahu jawabannya "

Itu Chanyeol, dan setelahnya ia berbalik mantap ke arah B yang ada dibelakangnya membuat si mungil tersentak kaget.

"Kau lihat kedai itu "

Ucap Chanyeol sedikit memutar badannya dengan menunjuk sebuah kedai yang tak jauh dari mereka.

"Aku yakin pagi tadi, kedai itu benar benar berantakan dengan pecahan kaca dimana mana tapi tidak mungkin kalau pemiliknya memperbaikinya hanya dalam satu hari, warnanya pun sekarang biru padahal tadi pagi masih kuning. Dan kau lihat pintunya juga bergeser, seharusnya dia ada ditengah "

Lalu Chanyeol memutar badannya lagi menghadap B yang masih mengerjap bingung.

"Dan disini "

Chanyeol menunjuk tepat kesamping kanannya, diantara terotoar dan jalan.

"Disini seharusnya ada garis polisi dan bekas darah yang mengering. Tapi lihatlah bersih tak ada apapun "

Jelas Chanyeol lagi, B juga ikut memandangi terotoar yang bersih itu masih dengan raut bingung.

"Dan yang terakhir gang itu "

Chanyeol sedikit memutar tubuhnya ke arah belakang. Menunjuk gang sempit yang ia maksud.

"Seharusnya gangku tepat berada disamping kedai toko, tapi lihatlah dia bergeser lagi beberapa meter"

B pun sedikit memiringkan kepalanya menyembul dari tubuh Chanyeol yang begitu rasaksa untuk melihat pemandangan yang dimaksud Chanyeol. Tapi lagi lagi Chanyeol menoleh dengan cepat ke arahnya yang membuatnya terkejut lagi.

"Jadi sekarang aku sudah tahu jawabannya "

Ucap Chanyeol dengan terus menyelidik ke arah B yang lagi lagi hanya mengerjap bingung. Oh ayolah, siapapun yang melihatnya pasti sangat gemas tak terkecuali Chanyeol. Tetapi pria itu terlalu naif untuk mengakuinya.

"Sekarang sudah kupastikan kau memang - "

"Chanyeol ! "

Chanyeol terkejut dan mengerjap.

"Bisa bisanya kau tidur disini "

"Oh hyung, maaf "

Cicit Chanyeol.

Chanyeol menghela sambil menatap keluar, hujan masih deras.

"Dia memang hanya mimpi "

.

.

.

.

To be Continued...

bagaimana menurut kalian ? :)

Mohon saran sarannya yah, ini cerita Chanbaek pertamaku.