Chanyeol duduk diam diatas kasur empuknya dengan laptop yang masih menyala. Tengah malam itu ia masih berkutat dengan tugasnya yang benar benar tak berujung. Tapi sebenarnya tugasnya bisa saja selesai beberapa jam yang lalu, hanya saja ia tak benar-benar fokus dengan apa yang sedang ia kerjakan. Karena apa lagi kalau bukan mimpi anehnya yang semalam dan tadi saat ia tak sengaja tertidur dengan menopang kepalanya di counter kafe tadi. Hanya sebuah mimpi sudah berhasil memenuhi kepala Chanyeol bagian sebelah, maksudnya pikirannya tak lagi dipenuhi tugas dan uang. Ada satu sosok, yang bodohnya sosok itu hanya sosok yang ada dimimpinya.
"Daripada hal mengganjal yang lain. Dia lebih nyata "
Gumam pria tinggi itu.
"Jadi kalau aku tidur malam ini, aku akan bertemu dia ? "
Baiklah, dia harus memastikan semuanya.
Park Chanyeol menutup laptopnya dan menyingkirkan semua bukunya.Kali ini dia akan mencoba membuat persiapan. Memastikan sekali lagi segala keanehan yang baru saja menimpa dirinya.
"Chanyeol ? "
"Huwaaa !!! "
Chanyeol meloncat dari kasurnya. Terkejut bukan main tiba-tiba ada kepala mencuat dari luar pintu kamarnya.
"Kau terkejut ? "
"Ka- ka kau, ba- bagaimana kau ada disana !!!? "
Chanyeol meringkuk ketakutan dengan kalimatnya yang gelagapan.
"Maaf seharusnya aku mengetuk pintu dulu"
Cicit Baekhyun. Kepalanya perlahan dia tarik keluar lagi lalu menutup pintu kamar Chanyeol perlahan.
Tetapi Chanyeol masih dalam keterkejutannya. Badannya masih kaku, meringsut ke pojok kasurnya. Ia menatap ke laptop yang baru saja ia tutup tadi. Sekali lagi dia tak memiliki persiapan bertemu pria mungil itu. Apa dia sekarang berada di alam mimpinya ? Atau
Tok tok tok.
Chanyeol langsung menoleh lagi ke arah pintu. Menatap pintu itu horor. Menyadari ini hanya mimpi, pria mungil itu terlihat menjadi sangat menakutkan. Sungguh. Sangat. Tapi benarkah ia sudah bermimpi? ia baru saja akan tidur tadi.
Chanyeol perlahan menapakan kakinya ke lantai dingin flatnya berjalan perlahan menggapai pintunya. Tangannya yang berkeringat menarik gagang pintu itu sampai terbuka. Disana berdiri pria mungil itu, dengan senyuman yang dulu Chanyeol klaim menggemaskan sekarang menjadi sangat menakutkan. Bulu kuduk Chanyeol meremang.
"Chanyeol ? "
Panggilan dari suara menggemaskan itu, membuat pendengarannya kaku dan sekali lagi kulitnya meremang.
"Y ya ? "
Gagap Chanyeol.
"Kau kenapa? Kau sakit ?"
Tanya B dan Chanyeol menggeleng dramatis.
"Emm, sebenarnya aku hanya lapar Chanyeol. Tapi aku tak bisa memasak mie itu"
B memilin kaosnya.
Kalau saja pria itu benar benar ada, pasti semua orang akan mengklaim pria mungil itu begitu menggemaskan. Sayangnya Chanyeol menyadari pria didepannya ini hanya sebuah fantasi yang berskenario nyata. Itulah yang dipikirkan Chanyeol. Bahkan dia masih belum benar 100 persen percaya apa yang tengah ia alami sekarang. Jadinya pria fantasi yang ada dimimpinya menjadi terlihat menakutkan dimata Chanyeol.
"Chanyeol ? "
Lagi lagi Chanyeol terkejut gelagapan.
"Ah i iya, aku akan membuatkannya untukmu "
Pria mungil itu tersenyum.
Ingatkan, sejak kapan Chanyeol mudah sekali disuruh ? Bahkan bila Sehun yang merengek minta dibuatkan mie sampai Luhan tumbuh tinggi pun, Chanyeol tak akan peduli. Tapi pria yang semungil Luhan itu, memiliki sorot mata yang menakutkan dan Chanyeol baru menyadari itu. Apalagi senyuman yang sebelumnya sangat manis, ternyata Chanyeol juga baru menyadari. Itu seperti senyuman seorang psikopat yang sedang hati-hati membunuh korbannya, tidak ingin melewatkan ekspresi kesakitan mangsanya barang sedetik pun.
Dan bodohnya lagi setelah memasakkan mie untuk B, Chanyeol duduk menemani karena pria mungil itu yang meminta. Chanyeol merasakan suasana menjadi mencekam, udara yang semakin dingin padahal Chanyeol pastikan penghangat ruangan ia set sehangat mungkin atau perlukah Chanyeol mengaturnya di suhu yang paling tinggi. Tapi pria itu cukup waras, meskipun ini hanya mimpi, dia juga tak ingin mati karena dehidrasi dan kulit terbakar.
"Chanyeol ? "
Oh Tuhan, Chanyeol berdoa dalam hati meminta agar pria mungil yang ia beri nama B itu berhenti memanggilnya dengan nada seperti itu. Menakutkan.
"Ada apa? Kau sepertinya memang demam "
Chanyeol terkejut saat tangan mungil itu menyentuh dahinya. Otomatis ia memundurkan kepalanya. Tapi bukan itu yang membuat syok, melainkan tangan pria mungil itu yang benar benar dingin. Seperti, emm seperti...
Orang mati.
"Ah maafkan aku "
Ucap B langsung menarik tangannya.
Ini mimpi, ini mimpi Chanyeol. Kenapa harus ketakutan ? Tapi tangan pria itu benar benar dingin. Bahkan saat Chanyeol menyentuh tangannya sendiri, hangat. Seperti halnya didunia nyata. Kalaupun dia kedinginan, tidak mungkin. Dia terlihat baik baik saja dengan suhu tangannya yang seperti itu.
"Tanganmu sangat dingin. Kau kedinginan ? "
Itu Chanyeol. Baiklah ini hanya mimpi. Semua mimpi. Ini bukan mimpi buruk tapi hanya tidak indah.
"Tidak, aku emm sebenarnya tanganku sudah seperti ini. Apa aku sedingin itu Chanyeol ? "
Chanyeol mengangguk.
"Kenapa ya? Saat aku menyentuhmu juga sangat hangat. Tapi sungguh aku tidak kedinginan "
Chanyeol menggeleng sambil mengatakan aku tidak tahu tanpa suara. Tapi yang Chanyeol lupa sadari, pria mungil yang ditemukan Chanyeol dalam keadaan ketakutan itu sekarang lebih cerewet dari biasanya.
"Emm Chanyeol ? "
Chanyeol mengangkat alisnya tanda menyahut panggilan yang masih terdengar menyeramkan untuk Chanyeol.
"Terima kasih "
Ucap si mungil.
"Tidak masalah "
Jawab Chanyeol santai tapi itu hanya luarnya, didalam ia terus meyakinkan dirinya kalau semua ini hanya mimpi dan dia akan segera terbangun.
"Nama B sangat bagus "
Itu seseorang yang kini memiliki nama itu.
Chanyeol mengangguk dengan senyum yang sangat ketara dipaksakan.
"Chanyeol, bisa kah kau menceritakan sesuatu untukku ? "
Alis Chanyeol bertaut mendengar itu.
"Ah, maafkan aku. Hanya saja aku merasa bosan sekarang. Mungkin kau ingin sedikit bercerita tentang kehidupanmu sehari hari ? "
Chanyeol masih terdiam. Sejak kapan pria mungil itu jadi merasa sedekat itu dengan dirinya ? Bahkan menceritakan sesuatu tentang kehidupannya. Itu terlalu berlebihan untuk mereka yang baru bertemu kemarin malam. Tapi Chanyeol mengingat kalau memang ini hanyalah mimpi. Semua berjalan tak terduga bukan. Chanyeol tidak akan tahu kalau-kalau pria mungil menggemaskan seperti puppy itu akan berubah menjadi monster mengerikan yang siap menyerang dia kapan saja.
"Haaa ! "
Chanyeol lagi berteriak dengan mendekap tubuhnya sendiri. Benar ini mimpi, semua akan terjadi tidak sesuai dengan keinginannya. Entah tiba-tiba monster akan menyerangnya, atau rumahnya akan berada di ujung jurang. Dia tidak tahu kemungkinan gila apa yang akan terjadi setelah ini.
"Chanyeol kau kenapa? "
Chanyeol melirik pria didepannya itu dengan hati-hati. Dia masih mungil, tak menunjukkan tanda apapun. Dan akhirnya Chanyeol membenarkan duduknya kembali dan menegakkan badannya.
"Jadi kau ingin cerita darimana ? "
Sudahlah, toh ini mimpi. Tak masalah sekalipun itu hal buruk. Dalam kehidupan nyata pun juga dia sudah biasa mengalami banyak hal buruk daripada bertemu monster. Contohnya dia tak memiliki uang barang sepeser pun, jadinya ia harus berpuasa hanya dengan memakan nasi dan rumput laut. Itupun hanya satu kali sehari dan ia lakukan itu dalam waktu seminggu sampai akhirnya gajinya turun. Realita kehidupan seperti itu lebih menakutkan.
"Mungkin tentang seseorang yang kau sukai ? "
Itu B.
"Langsung ke situ ? Bukankah itu terlalu menjurus "
Chanyeol tak habis pikir, dia ingin mendengar kisah kehidupan yang ada beribu cerita tapi kenapa harus memilih satu hal itu.
"Karena kau bilang kemungkinan aku penggemar rahasiamu. Aku hanya ingin tahu kau sedang menyukai siapa. Jadi saat ingatanku kembali aku bisa memutuskan "
"Memutuskan apa? "
"Tetap menyukaimu atau menyerah "
Jawab B dengan senyuman puppy mematikannya dan matanya yang membentuk bulan sabit. Oh Chanyeol melemah melihat itu. Kalau saja ini nyata, Chanyeol juga akan mempertimbangkan.
Oh Tunggu! Apa ?
"Jadi kau benar benar ingin tahu ? "
Itu Chanyeol dan B mengangguk antusias.
"Aku sedang menyukai, emm diriku sendiri mungkin "
B mengernyit dengan jawaban Chanyeol.
"Itu artinya aku sedang tak menyukai siapapun "
Raut wajah B melesu tiba tiba. Chanyeol sadar perubahan mimik wajah itu.
"Jadi cintaku bertepuk sebelah tangan ya ? "
Chanyeol terkekeh mendengar itu. Pria mungil ini malah menganggap cerita buatan Chanyeol sungguhan terjadi.
"Itu karena aku tidak tahu kau menyukaiku. Kalau saja kau memunculkan dirimu dihadapanku dan mengatakan terang terangan, mungkin akan beda situasinya "
Pria mungil bernama B itu kembali merekah mendengar penuturan Chanyeol.
"Jadi, aku memiliki kesempatan ? "
Ini sudah terlalu jauh, menurut Chanyeol. Pria mungil itu malah membuat situasi ini menjadi serius.
"Tunggu B, aku kemarin hanya mengatakan kemungkinan. Jadi aku tidak tahu fakta yang sebenarnya terjadi, kau penggemar rahasiaku, menyukaiku. Itu hanya kemungkinan, oke "
Ah ya, pria mungil itu lupa dengan fakta kemungkinan yang diucapkan Chanyeol.
"Tapi aku yakin, kau orang yang berarti untukku Chanyeol. Tidak mungkin kan, hanya kau yang kuingat dan hanya ada namamu dipikiranku "
Chanyeol tidak tahu harus menjawab seperti apa, yang ada pikirannya hanya tersenyum bangga mendengar itu. Jujur ini pertama kalinya seorang pria baru saja mengatakan kalau sosok Chanyeol sangat berati untuknya. Mungkin ini yang dirasakan sahabatnya Oh Sehun dan Kim Jongin saat jatuh cinta dengan seorang pria.
Tapi tunggu,
Jatuh cinta ?
Oh jangan katakan Chanyeol kau mulai menaruh hati ke pria mungil yang baru saja kau sebut monster itu. Baru seperkian menit tadi kau menandai dia menjadi sosok makhluk menakutkan, tapi kenapa kini malah pipinya memanas hanya ucapan sosok makhluk mungil itu. Dan parahnya lagi ini semua terjadi di mimpi.
"Ya aku tidak tahu kalau itu "
Ucap Chanyeol sekenanya. Jujur dia memang tidak tahu.
"Jadi Chanyeol, emm apa kau seorang gay ? "
Chanyeol mendelik dengan pertanyaan itu. Bukankah pembahasan ini sudah terlalu jauh ? Bagaimana bisa makhluk mungil itu juga menanyakan orientasi seksualnya yang mana itu merupakan sebuah privasi dengan kenyataan mereka yang baru mengenal.
Ah ya, tapi Chanyeol lupa ini hanya mimpi.
"Aku tidak bisa menyebut diriku gay, emm mungkin bisex "
Jawab Chanyeol. Ya, jujur memang seperti itu. Chanyeol tidak memungkiri kalau dia juga pernah menyukai laki laki tapi dia sekalipun tak pernah berkencan dengan laki laki. Hanya berkencan dengan perempuan beberapa kali, dan nama Wendy yang pernah disebutkan Jongin lah mantan dia yang terakhir.
"Ah syukurlah "
Chanyeol berkerut kening. Syukur ?
"Maksudmu ? "
"Jadi aku memiliki kesempatan bukan ? "
Ucap B dengan lagi-lagi menampilkan senyum manis dengan eyesmile nya. Oh setelah beberapa kali melihatnya Chanyeol menyadari lagi, dia menggemaskan. Sekali lagi pipi Chanyeol mulai memanas.
"Tunggu B, kau sudah terlalu jauh. Kau membuat ini semua jadi terlihat serius "
B merengut saat mendengar ucapan Chanyeol. Bibirnya mengerucut lucu. Oh ayolah B jangan berekspresi seperti itu dihadapan singa buas yang masih didalam kandang.
"Tapi, bagaimana kalau aku membuat Chanyeol jatuh cinta ? "
Chanyeol tersedak dengan ludahnya sendiri. Tidak hanya pipinya yang memanas sekarang tapi seluruh tubuhnya. Mimpi ini terlalu nyata untuk ukuran bermain dengan perasaan. Bagaimana bisa Chanyeol merasakan detak jantung berpacu begitu cepat ? Ini tidak bisa dibiarkan. Mimpi ini sudah keterlaluan memainkan perasaannya. Tapi tidak ada yang lebih keterlaluan kecuali ada benda lunak begitu dingin yang kini menempel dibibir Chanyeol. Mentalnya jatuh turun ketanah saat sepasang mata dengan bulu mata panjang itu menyapu permukaan pipinya. Dia mendelik menatap betapa dekatnya, oh tidak ini sudah sangat dekat. Oh bukan dekat lagi, bibir itu sudah menempel dengan bibirnya. Untuk seperkian detik dia masih mematung, sebelum akhirnya B melepaskan tautan itu dan kini malah tersenyum dihadapan Chanyeol.
Mengerjap 1 mengerjap 2 mengerjap 3.
Alarm ponsel berbunyi*
Chanyeol mengusap peluh keringatnya. Luar biasa, bahkan Chanyeol masih merasakan degupan jantungnya masih berpacu didalam rongga dadanya. Dan rona merah juga masih ada di pipi pria itu. Chanyeol menghela dan bangun lalu duduk dipinggiran kasurnya, meraih ponselnya dan mematikan alarm paginya.
Itu tadi gila. Mimpinya.
.
.
.
"Kau kenapa? "
Tanya pria cantik berperawakan mungil. Seseorang yang dimaksud itu menoleh, dia Chanyeol dan yang bertanya adalah sahabatnya. Melihat Luhan jadi semakin mengingat pria mungil yang ada dimimpinya. Mereka sama sama mungil dan cantik.
Luhan tahu ada sesuatu yang terjadi pada sahabatnya. Chanyeol lebih pendiam dari biasanya dan pandangannya sangat kosong.
"Lu ? "
"Hmm ? Kenapa? Ceritakan "
Sebenarnya Chanyeol tidak ingin menceritakan hal aneh ini kepada siapapun, karena pasti mereka akan menertawakannya apalagi dua sahabatnya yang berbeda warna sangat kontras itu. Tetapi hanya satu sahabatnya mungkin yang masih waras, kalaupun kadang juga sama, setidaknya otaknya masih ada urat normal didalamnya. Apalagi Luhan sepertinya sangat mengerti ada perubahan besar pada sikap Chanyeol. Jadi pikir Chanyeol bercerita sedikit tak apa apa, siapa tahu Luhan bisa membantu ? Ya siapa tahu.
"Aku sedang bermimpi aneh "
Luhan mendengus, dia mengira itu suatu masalah yang cukup besar karena bukanlah waktu yang sebentar dia mengenal seorang Park Chanyeol. Sahabat raksasanya itu tipe seseorang yang sangat masa bodoh dengan sesuatu hal. Masalah dalam hidupnya itu sudah dia anggap sebagai keluarga sendiri. Gila kan ? Iya, tapi sayangnya Chanyeol adalah sahabatnya yang setidaknya sedikit paling waras dari 2 yang lain siapa lagi kalau bukan si albino dan si kamjong yang entah kemana dijam makan siang ini.
"Kau bercanda Park. Kau loyo seperti ini karena alasan sebuah mimpi? "
Sahut Luhan.
"Sungguh Lu, sulit untuk menjelaskan ini. Tapi aku bersumpah dia seperti nyata. Bahkan aku sempat tak bisa membedakan aku berada di dunia nyataku atau mimpiku "
Luhan memutar bola matanya jengah. Ya namanya juga bermimpi pasti aneh, pikirnya. Tapi ayolah sahabatnya terlalu berlebihan.
"Dia sangat menakutkan Lu "
Sambung Chanyeol saat mengingat bagaimana senyuman pria mungil itu dan juga tatapan matanya.
"Kau sedang mimpi buruk ? Ayolah Park kau bukan bocah sd lagi "
Mata Chanyeol terus bergulir kesana kemari. Anak itu tidak berbohong tentang dirinya yang sedang ketakutan. Luhan bersumpah mimpi seperti apa yang membuat Chanyeol sampai seperti ini ?
"Baiklah, ceritakan mimpi seperti apa itu ? "
"Lu, hari ini menginaplah ditempatku"
Itu Chanyeol secara tiba-tiba.
Tidak biasanya Chanyeol seperti ini. Dia tipe cowok yang bahkan hantu saja bisa berteman baik dengan dia. Tapi kenapa hanya dengan mimpi sampai membuat dia memohon temannya untuk menginap ditempatnya.
"Apa dia semenakutkan itu? "
Chanyeol mengangguk.
"Aku merasa dia terus mengawasiku Lu, bahkan sekarang. Aku merasa memang dia benar benar ada "
Luhan semakin mengernyit bingung. Akhirnya dia menghela.
"Baiklah untuk malam ini saja "
Setuju Luhan.
"Kenapa dengan malam ini ? "
Itu Jongin yang tiba tiba bergabung, dan duduk disamping Luhan dan diikuti Sehun yang duduk disamping Chanyeol. Mereka berempat saling berhadapan dengan makanan Luhan dan Chanyeol sudah habis dan Kai Sehun yang baru saja mengambil senampan makanan.
"Aku akan menginap ditempat Chanyeol "
Jawab Luhan.
"Menginap ? Wah ada apa ? Tidak biasanya, apa kalian - yak sakit bodoh "
Itu Jongin yang belum sempat meneruskan kalimatnya karena tangan mungil Luhan sudah mendarat dibelakang kepalanya.
Sehun melirik Chanyeol. Sangat melirik. Oh dengan bibir sedikit merenggut dengan kening berkerut. Tidak ada yang menyadari kecuali semut yang tak sengaja masuk ke supnya.
"Aku juga merasa kesepian, bagaimana kalau aku menginap ditempatmu juga "
3 pasang mata itu kini menatap Oh Sehun. Lelaki albino itu hanya mengangkat bahu setelah mengatakannya, lalu terkejut ada semut yang sedang berenang di supnya. Dia komat kamit melihat makanannya sudah tak higienis itu. Tetapi 3 orang itu masih setia menatapnya.
"Kau yakin ? "
Itu Jongin.
"Terakhir kali kau menginap ditempatku, jam 1 malam ada mobil terpakir didepan rumahku. Aku pikir seorang mafia akan menggrebek rumahku. Ternyata mereka hanya bodyguard suruhan ayahmu untuk menjemput anak sematang wayangnya"
Itu Jongin. Lagi.
"Diamlah! itu dulu"
Renggut Sehun sambil terus berusaha mengambil semut yang setengah tenggelam dengan sendoknya.
"Baru 2 bulan yang lalu ngomong-ngomong "
Sahut Jongin.
Seperti yang dikatakan Kim Jongin. Oh Sehun anak semata wayang dari seorang CEO kaya raya dengan marga Oh di Korea dan ibu cantik mantan model yang dulu sempat menghiasi beberapa majalah sebelum akhirnya mengandung Oh Sehun dan memilih menjadi ibu rumah tangga. Sehun sangat disayangi keluarganya, sangat sekali. Sebenarnya tidak apa apa, tapi berlebihan pada akhirnya. Orang tuanya sangat over protektif terhadap anak tampan satu satunya itu. Orang tuanya tidak akan memperolehkan anaknya menginap diluar, bahkan ketika ada hal mendesak yang mengharuskan Sehun berada diluar rumah selama seharian atau lebih, akan ada orang orang kekar yang setia mengelilinginya, siapa lagi kalau bukan bodyguard ayahnya. Sungguh ironi memang, itu pikir Sehun. Kebebasannya merasa direnggut. Tetapi orang tuanya sangatlah baik terhadap teman Sehun, tidak mengijinkan menginap dirumah mereka bukan berati orang tuanya yang tidak percaya tetapi hanya ya rasa khawatir yang sangat besar. Sesungguhnya itu semua ada alasan. Ya, Sehun pernah diculik waktu kecil dulu. Itulah yang membuat orang tuanya menjadi sangat trauma. Tapi sungguh, penculikan itu karena Sehun masih berumur 5 tahun yang belum mengerti apapun. Tapi sekarang ? ia akan menginjak umur 22 tahun. Meskipun belum pernah mendapat ciuman pertama, tapi dia sudah bisa merasakan bagaimana rasanya jatuh cinta. Ya dia tahu, dia sedang jatuh cinta. Tidak terlambat diumur 20an baru merasakan jatuh cinta hanya saja Sehun yang terlalu kolot untuk mengerti perasaannya.
"Tidak perlu, aku tidak ingin tetanggaku menganggap aku melakukan tindakan kriminal karena bodyguard-bodyguard ayahmu yg mengelilingi flatku "
Itu Chanyeol.
"Tenanglah, aku akan meminta ijin eommaku sekarang"
Sehun mengambil ponselnya disaku dan segera mendial nomor ibunya.
"Eomma, aku malam ini ingin me-, ya ini aku sedang makang siang... Tidak ada yang spesial, hanya sup, ayam dan sedikit salat... Iya, baik aku akan makan banyak... Oh eomma, ada semut masuk ke supku... Tidak higienis ?? Oh baiklah aku akan menyuruh Jongin memakannya... Ya...Emm... Nado Saranghae "
Setelah panggilan itu terputus, Sehun langsung memasukan kembali ponselnya ke dalam saku.
"Makan saja supku "
Ucapnya sambil meletakan satu mangkok kecil supnya di nampan Jongin.
"Kenapa? "
Tanya Sehun saat merasa risih dengan tatapan ketiga sahabatnya.
Dan ketiga sahabatnya menghela nafas kasar secara kompak. Sudahlah, tidak ada yang ingin berurusan dengan anak kecil seperti Oh Sehun. Bahkan tidak ada satu menit dia mengatakan akan meminta ijin ke eommanya tapi berakhir dia merengek hanya karna masalah semut yang sebenarnya tak sengaja tergelincir itu. Temannya terlalu mengenal dia.
.
.
.
"Aku sudah menduga anak itu tidak akan ikut"
Itu Luhan dengan membereskan sisa makanannya dengan Chanyeol, yang tentu saja seperti yang dibicarakan tadi siang, Luhan menginap di flat Chanyeol hanya karena pria rasaksa itu mengalami mimpi buruk.
"Ya, dia bilang eommanya tidak memperbolehkan dan dia langsung di iming-imingi akan dibuatkan kue krim blueberry kesukaannya "
Jelas Chanyeol juga membantu Luhan.
"Dia itu hanya satu tahun lebih muda dari kita, kenapa sifatnya benar benar seperti anak 5 tahun. Aku tidak mengerti lagi dengan jalan pikiran si albino itu "
Luhan mendumel dengan menggosok piring kotor dengan sabun cuci Chanyeol yang sudah habis tapi di isi air.
"Ya kau tau sendiri, dia benar benar dimanja oleh orang tuanya "
Dan Luhan hanya mengangguk-angguk seratus persen mengiyakan apa yang diucapkan Chanyeol.
Setelah makan malam tanpa sisa itu, mereka meneruskan hanya dengan mengobrol diatas tempat tidur Chanyeol. Ya itu karena memang Chanyeol hanya memiliki satu kamar, ditambah lagi mereka sudah sahabat dekat sejak lama tak masalah tidur bersama pun. Dia juga tak mungkin membiarkan Luhan tidur di sofa kecilnya tapi kalo itu Sehun atau Jongin kasusnya akan berbeda.
"Apa kau ada air dingin Chanyeol?, aku sangat haus "
Chanyeol mengangguk dan di iringi Luhan yang berjalan keluar untuk meneguk air dinginnya. Chanyeol sudah bersiap akan tidur sebelum ada teriak an Luhan.
"Park Chanyeeooollll ! "
Chanyeol terkejut, dia langsung turun dari kasurnya dan menghampiri Luhan.
"Ada apa Lu ?!"
Tanya Chanyeol panik. Dia hanya takut ada seorang maling yang salah tempat. Dia akan merasa kasihan dengan maling tersebut yang sudah membuang-buang waktu datang ketempatnya.
Tapi bukan malinga yang dia dapat melainkan pukulan dibelakang kepalanya. Ada apa dengan sahabatnya ini? Kenapa suka sekali memukul dengan tangan sekecil itu ?
"Yak, kenapa kau tidak pernah menceritakan kepadaku ada makhluk semenggemaskan dia dirumahmu? "
Chanyeol diam lalu memutar sedikit tubuhnya dan disanalah pria mungil yang tengah tersenyum dengan eyes smile itu, pria yang memiliki wajah menggemaskan seperti puppy dan pria yang ia berinama B.
"Tidak mungkin, apa aku ada di alam mimpi sekarang? "
Gumamnya lebih ke dirinya sendiri.
"Chanyeol! "
Itu Luhan.
"Lu, kita sedang bermimpi "
.
.
.
To be Continued...
Jujur, aku masih sedikit asing dengan ffn ini.
Dan Mohon maaf masih ada beberapa kata yang kurang baku, atau alur cerita yang aneh ;)
