PROLOGUE
Kau tahu?. Menjadi kru Event sekaligus konten kreator itu bukanlah hal yang mudah, tapi tidak terlalu sulit juga. Kelihatannya pekerjaanku hanya mengeluarkan ide dan berkutat didepan komputer ataupun handphone dan bisa aku lakukan dimana saja. Tapi, tidak semudah itu. Hanya saja akan sangat sulit jika kau terserang sebuah penyakit menyebalkan bernama Writers Block. Apalagi kau terkejar dengan deadline dan pekerjaan konten kreator memaksamu untuk membuat konten setiap hari.
Siang itu, kau baru selesai syuting. Tidak biasanya kau mengajakku untuk makan siang bersama di kafe dekat kantor. Entahlah, mungkin kau memiliki firasat kalau aku sedang mengalami mood yang buruk dan Writers Block yang masih bersarang nyaman di kepalaku. Aku datang dengan wajah masam. Aku baru saja di damprat habis-habisan karena konten kemarin dinilai tidak bagus. Aku sudah katakan bukan?, aku terserang Writers Block beberapa hari ini. Hal yang membuatku semakin kesal adalah tidak ada satupun rekan divisi ini yang memberikan sedikit saja ide untukku.
"Kau mengalami hari yang buruk sayang?"tanyamu begitu aku menjatuhkan diri di bangku di hadapanmu sambil mendengus kesal
"Tanya saja pada si botak tua dan menyebalkan itu"kesalku
"Sayang apakah Writers Block itu masih bersarang di kepalamu?"tanyamu lagi, kau mengelus punggung tanganku yang aku letakan di meja. Rasa kesalku menguap dalam setiap usapan lembut tanganmu di punggung tanganku
"Iya, dan penyakit itu datang diwaktu yang tidak tepat oppa. Satu bulan lagi ada event penting dan aku tidak bisa memikirkan konten bagus selanjutnya" ucapku, kau menghela nafas. Berdiri dari tempat dudukmu, dan berdiri dibelakangku. Memijat kepalaku hingga pelipis dan juga leher dan bahuku.
"Relaks sayang, jangan terlalu tegang begitu"katamu masih memijatmu, kau menarik kedua pipiku hingga memandangmu
Chu~
"Hai Writers Block, pergilah yang jauh. Jangan ganggu istriku dulu"katamu tepat setelah mencium keningku, kemudian kau lanjut lagi memijat tubuhku yang terasa lelah. Kau benar, mungkin aku terlalu memaksa diri ini berpikir sehingga tubuhku tegang.
Aku meraih wajahmu, mengelus pipimu yang masih tebal dengan make-up. Aku yakin kau lupa menghapusnya. Tak lupa aku menyisir suraimu kebelakang dan mengusap keningmu. Matamu terpejam dengan setiap sentuhanku. Entah datang darimana, aku malah mendapatkan sebuah, tidak, dua buah ide sekaligus. Satu ide untuk konten hari ini.
"Terima kasih oppa"kataku, kau duduk lagi ditempat dudukmu. Tak lama makan siang yang telah kau pesan sebelum aku datang telah disajikan.
Dan satu ide lagi adalah...
"Oppa, aku rasa ada pekerjaan yang lebih mudah dari Konten kreator"kataku
"Apa?. Semua pekerjaan, mudah atau sulit tergantung bagaimana hatimu mengerjakannya"
"Ya aku tahu, dan hatiku 100% pasti sangat menyukai pekerjaan ini"
"Apa itu?. Darimana kau bisa yakin kalau pekerjaan itu akan lebih mudah?"
"Pekerjaannya adalah menulis tentangmu"kataku. Kau langsung beralih melihatku, tidak mempedulikan makananmu
"Iya, menulis tentangmu. Tidak ada deadline, tidak ada tema khusus, tidak ada plot. Karena kau adalah inspirasiku" Kataku, kali ini aku berhasil membuatmu tersipu. Telingamu berubah menjadi merah karena malu
Ya, menulis tentangmu tidak memerlukan apapun, selama aku masih mencintaimu, selama aku masih bernafas dan selama kau masih hidup. Kisah baru akan terus bermunculan. Akan ada saja ide-ide baru setiap kali kulihat sosokmu. Sejak hari itu, aku pun mulai menulis tentangmu, disetiap waktu senggangku dan setiap kali kisah baru muncul. Bahkan aku lebih sering mengerjakan tulisan ini daripada pekerjaan lain, dan aku juga akan meninggalkan saja konten dengan writers block dibelakang karena setiap kali aku selesai menceritakan dirimu, aku akan mendapatkan ide baru untuk semua hal.
