BAB I : Our Journey

Aku tak tahu apakah kisah kita adalah perjalanan cinta yang paling hebat atau tidak. Mungkin diluar sana ada yang lebih menakjubkan dari perjalanan kita. Tapi bagiku, perjalanan kita ini adalah kisah cinta yang paling luar biasa. Perjalanan ini sering membuatku menerka-nerka apa yang akan terjadi dengan kita dikemudian hari. Membuatku selalu bertanya-tanya bagaimana jika kisah ini bukan denganmu. Melewati semua hal ini bersamamu membuatku terus berdoa dan berharap agar semua ini akan berakhir bahagia. Tapi, seperti kisah cinta yang lain, perjalanan yang kita lalui juga banyak melewati berbagai rasa, cobaan dan tantangan. Hal itu bukannya semakin memperjauh jarak diantara kita, tetapi hal itu membuat kita semakin dekat, semakin mengenal dan semakin mencinta.

Aku selalu menikmati gelombang pasang dan surut yang menghempas perjalanan kita, mencabik perasaan kita dan campur seluruh emosi yang ada. Kunikmati semua waktu bersamamu yang mengikis sisa waktuku secara perlahan. Menikmati setiap hasrat cinta yang berdesakan didadaku dan membuat gemuruh didalam hati. Aku menikmati perasaan seperti ribuan kupu-kupu yang menggelitik dadaku setiap kali kulihat sosokmu. Aku menikmati semuanya, setiap detik, disetiap hela nafasku, setiap waktu yang tersisa untukku hanya untuk menikmati perasaan yang bertubi-tubi menghantam hati, meninggalkan perasaan yang semakin kuat. Menggelitik perut dan menimbulkan rasa bahagia.

Aku sangat bahagia bersamamu, mengenalmu adalah sebuah keberuntungan untukku. Meskipun aku tahu bahwa hubungan kita juga pernah mengalami guncangan-guncangan yang berarti untuk menguatkan kita. Gangguan-gangguan itu telah berhasil menguatkanku hingga aku semakin yakin untuk mencintaimu dan mau bersamamu.

Aku tidak akan membantah ketika aku sadar perjalanan kita bukanlah perjalanan cinta yang paling romantis seperti Romeo dan Juliet ataupun kisah cinta paling sempurna di jagat raya dan kisah paling mulus sepanjang masa, masih banyak hal yang perlu kita perbaiki dan harus kita pertahankan untuk membuat hubungan ini semakin kuat. Aku sangat menikmati momen dimana aku harus berdebat denganmu, bertengkar kemudian kita bersama-sama memperbaiki situasi dan mencari solusi.

Kunikmati semuanya, apapun yang datang pada perasaan ini, kunikmati apapun yang menghempas kita berdua diperjalanan panjang ini. Aku sangat bahagia denganmu sehingga kulupakan semua rasa sedihku yang lalu hanya untuk semakin mencinta padamu. Awalnya, aku ragu untuk mencintaimu karena aku takut aku salah lagi dalam memilih cinta, tapi akhirnya aku hanya membiarkan diriku tenggelam mencintaimu dan semakin mencintaimu, kunikmati semua proses itu.

Aku menikmati semuanya hingga...

Aku tak pernah memikirkan...

Bagaimana kisah ini akan bermula jika aku tidak segera mengenalmu?

Aku mengenal namamu setelah aku mengenal teman segrupmu lebih dahulu. Namun aku dengan segera berpaling hati dan memilih mencintaimu, kau hanya tertawa kecil saat aku menceritakan hal ini padamu. Aku tak tahu apa arti tawamu itu, apakah kecewa ataukah kau senang pada akhirnya aku hanya memilihmu, tapi aku sangat bersyukur bisa segera mengenalmu.

Aku pribadi merutuki kebodohanku sendiri ketika aku baru menyadari aku telah melihat wajahmu sejak lama bahkan sebelum aku mengenal dan menyukai teman segrupmu. Aku sudah lama melihat wajahmu dan aku sangat menyayangkan kenapa aku terlambat mengetahuinya. Tetapi, aku tidak menyesal, karena pada akhirnya tetap dirimu. Tidak ada kata terlambat dalam mencintai, hati tentu tahu siapa yang pantas untuk dicintai meskipun harus merangkak dan terbata-bata dalam mencari.

Bagaimana jika aku menepis semua rasa yang terus menghantam hati yang masih luka dengan cinta baru yang aku terima darimu?

Bagaimana jika aku akhirnya berhasil menghilangkan rasa itu?, tidak membiarkan dirimu menjajah hati ini, memperbaikinya setelah aku mengalami sakit yang teramat

Dulu, kau memang tidak mengenalku, kita hanya sebatas idola dan fans. Tetapi, aku bisa melupakan cinta lama yang menyakiti perasaanku begitu dalam karena aku mengenalmu, kemudian aku menyadari bahwa perasaan itu bukan perasaan nyaman biasa, itu adalah cinta baru. Ya, aku mencintaimu, fans-mu ini mencintaimu. Aku bahkan kembali menepis mimpi untuk berharap bersamamu karena aku tidak pernah bertemu denganmu secara langsung. Aku menghapuskan setiap harapan-harapan yang tumbuh disudut hatiku yang kian membesar mengikuti tumbuhnya rasa cinta padamu yang semakin membesar dan kuat kian hari.

Berulang kali aku memastikan bahwa perasaanku terhadapmu adalah salah. Berkali-kali aku menepis setiap rasa yang datang padaku, tapi rasa itu kembali lagi dan menghantam hatiku jauh lebih kuat lagi, seolah berbicara bahwa rasa itu hendak mengobati pilu yang aku rasa. Awalnya aku menolak, menolak sekuat mungkin, aku tak ingin membiarkan diriku terluka lebih parah. Tapi akhirnya aku memilih menyerah dan membiarkan rasa itu mengalir. Sesekali berharap rasa itu akan menghilang dengan sendirinya. Namun, rasa itu semakin melekat dan aku ingin memilikimu, seseorang yang dulu tidak mungkin aku miliki.

Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku saat ini jika aku tidak menyerah saat itu dan berhasil menolak rasa itu, mungkin saja aku tidak akan disini menyandang gelar Nyonya Choi. Mungkin saja aku tidak menemukan rasa paling bahagia dan pria paling baik (dimataku). Aku belum menceritakan hal ini padamu, tetapi aku berniat akan menyimpannya sendiri, agar aku selalu bersyukur dengan kehadiran rasa yang dulu sempat aku tolak.

Bagaimana jika saat itu aku tidak Praktik Kerja diperusahaan hiburan itu?

Bagaimana jika saat itu aku tidak membuat kesalahan padamu?

Bagaimana jika saat itu atasan team-ku malah memaafkanku, bukan memarahiku?

Masih jelas teringat, saat itu aku sedang menjalankan salah satu syarat untuk ujian skripsi dengan Praktik Kerja Lapangan dan memilih perusahaan hiburan yang kebetulan mengurus konser grup-mu. Saat itu aku grogi, selain itu adalah pertama kalinya aku bekerja dengan orang lain –bukan team dari kampus–, aku juga grogi karena aku mengurus grup kesukaanku dan ada kau disana. Sosok pria yang telah mengacaukan perasaanku bertahun-tahun sebelumnya. Aku ingin melakukan yang terbaik, aku ingin semuanya sempurna. Tetapi, kehati-hatianku malah menjadi boomerang untukku. Aku malah membuat kesalahan dan itu berurusan langsung denganmu.

Manager grup-mu marah, ketua teamku marah, bos juga marah ditelepon dan beberapa staff yang kalian punya juga merasa kesal. Aku ingin menangis, tetapi aku menahan tangisku karena aku sadar kalau itu semua salahku. Hal yang tidak aku sangka saat itu adalah kau tidak marah padaku, padahal kau harus segera naik keatas panggung untuk menghibur ribuan fans yang telah menunggumu dan aku malah membuat kekacauan tepat beberapa menit sebelum kau naik kesana. Kau tetap tersenyum, bahkan kau tidak panik sama sekali padahal aku dihadapanmu sudah pucat pasi karena dibentak, dimaki dan dimarahi habis-habisan.

"Jangan sedih ya, fighting!"itulah ucapanmu sebelum akhirnya kau naik ke stage setelah staff lain berhasil memperbaiki kesalahan yang aku buat. Aku tidak menyangka kau akan berbicara padaku, menyemangatiku yang jelas-jelas sudah membuat penampilanmu tertunda dan fans menunggumu lebih lama.

Aku masih saja berusaha membendung tangisanku, berusaha tidak menangis didepan semua orang, berusaha tegar atas kesalahanku. Tapi aku tidak dapat menahan airmata yang mendesak ingin dikeluarkan, hingga akhirnya aku mencari sebuah tempat yang jarang dilewati orang-orang, staff apalagi idol sepertimu. Tapi aku tidak menyangka, seusai kau menyambut ribuan fansmu diluar sana, kau malah mencariku tanpa sepengetahuan siapapun.

"Jangan menangis, kau sudah melakukan yang terbaik"katamu kemudian duduk disebelahku, kau berusaha menggunakan bahasa inggris yang pas-pasan. Aku pun sama denganmu, menggunakan bahasa Korea bercampur bahasa Inggris yang pas-pasan

Tangan kekarmu memberikan sapu tangan yang berada di kantung celanamu yang entah sejak kapan ada disana. Padahal, seingatku celana yang kau pakai itu baru selesai di laundry dan tidak ada apa-apa disana –aku ikut menyiapkan kostum yang kau gunakan–. Mungkin saja, kau baru mengantunginya, entahlah. Aku tak kunjung menerima sapu tanganmu, sehingga kau sendiri yang menghapus airmataku.

"Matamu bengkak, apa kau menangis terus selama aku berada di stage?"tanyamu lagi, aku merasakan getaran yang selama ini aku abaikan namun masih tertanam dengan subur didalam hati. Getaran yang lebih kuat daripada saat aku melihat foto-fotomu ataupun videomu

"Maafkan aku"ujarku akhirnya, kau menggeleng dengan senyuman khas dirimu yang membuatku jatuh terperosok lebih dalam dengan pesonamu. Aku semakin jatuh cinta padamu ketika pipimu membentuk lengkungan dikedua pipimu

"Tidak perlu meminta maaf, itu semua wajar. Kau sudah melakukan yang terbaik, setelah ini semua itu akan menjadi pelajaran. Kudengar kau baru bekerja, kau sedang praktik lapangan. Itu wajar jika kau melakukan kesalahan pada pekerjaan pertamamu. Apalagi ini memang acara yang cukup besar" katamu, aku menghentikan tangisanku

"Terima kasih -ssi"ujarku, aku masih berusaha profesional seolah aku bukanlah fansmu saat itu

"Lain waktu kita bertemu, aku yakin kau sudah menjadi kru yang lebih baik"

Kata-katamu yang tidak banyak aku mengerti saat itu telah terwujud, kita bertemu lagi 2 tahun kemudian dan aku telah menjadi salah satu kru tetap disana. Saat itu kau masih mengingatku, dan itu adalah konser pertamamu setelah kau menyelesaikan wajib militermu. Kau memanggilku "gadis yang menangis" karena kau tidak mengetahui namaku. Kemudian aku mengembalikan sapu tanganmu yang sudah aku simpan selama 2 tahun setelah kejadian itu, aku lupa mengembalikannya padamu.

"Simpan saja, hadiah dariku"katamu, dengan senang hati aku menyimpan sapu tangan pemberianmu. Sapu tangan itu akhirnya kembali padamu, menjadi milik kita. Tepatnya setelah kita menikah, dan masih aku simpan hingga detik ini.

Sesekali kau tersenyum ketika melihat sapu tangan itu, membawa kita kembali bernostalgia pada kenangan manis yang mempertemukan kita. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku jika saja setelah pertemuan itu, aku tidak bertemu lagi denganmu. Mungkin saja kau akan segera menemukan perempuan lain mengingat umurmu yang sudah cukup matang. Aku pun semakin dewasa, jika saja kita tak bertemu kembali aku yakin aku akan menemukan laki-laki lain dan kita tidak akan terikat sekarang.

Aku tidak menyangka akan kembali bertemu denganmu. Kali ini, aku bertemu denganmu dinegaramu. Saat itu, aku melanjutkan studi S2-ku di Korea. Lagi-lagi kau masih mengingatku.

Bagaimana jika, saat itu aku lebih memilih untuk bekerja dan menikah daripada melanjutkan pendidikan?. Aku rasa, aku tidak akan bertemu dengamu.

Apakah ada yang pernah berpikiran stres dan mabuk bisa mempertemukanmu dengan belahan jiwamu?. Itulah kita. Aku bertemu denganmu saat kau sedang membeli berbotol-botol Soju, dan aku juga ikut membeli minuman itu karena aku sangat tertekan saat itu. Aku sudah mabuk di botol pertama, dan secara tak sengaja aku menabrak dirimu kemudian jatuh dan pingsan.

Pada saat itu kau tidak tahu akan membawaku kemana sehingga kau hanya berdiam diri dimobilmu, bersyukur tidak ada paparazi yang menyadari. Saat aku sadarkan diri, aku sangat terkejut kemudian aku meminta maaf padamu berulang kali. Aku merasa tak enak hati, aku merasa malu. Namun, kau malah memaklumi.

"Aku tidak pernah minum alkohol sebelumnya, jadi aku tidak tahu jika sebotol soju saja sudah membuatku mabuk parah"ujarku, kau hanya memperhatikan. Aku sangat malu kau perhatikan dengan intim seperti itu

"Sepertinya aku sudah tidak butuh Soju lagi"ucapmu, aku tidak paham apa maksudnya. Aku baru menyadari ketika aku melihat sekantung besar penuh botol Soju dan wine di jok belakang

"Melihatmu mengigau saat mabuk tadi sudah menghiburku, jadi aku rasa aku tidak perlu meminum Soju lagi"ucapmu, aku semakin malu. Rasanya ingin saja aku menenggelamkan diriku kedasar Palung Mariana

Setelahnya, kau masih menggodaku. Kemudian kita memulai obrolan-obrolan kecil, namun hal itu membuat kita merasa nyaman. Kau menghiburku dan aku turut menghiburmu. Kita mengobrol seolah kita adalah sahabat lama yang sudah lama terpisah, menceritakan semuanya tanpa peduli bahwa sebenarnya kita hanyalah dua pribadi yang asing dan baru bertemu tiga kali dengan cara yang tidak romantis.

Hal yang mengherankan dari kita adalah, kita telah berbicara berdua dimobilmu dengan waktu yang cukup lama dan aku juga mengantarku pulang hingga ke asramaku. Tetapi tidak ada satupun dari kita yang meminta kontak. Aku?, aku malu tentu saja, aku hanya fans dan kau idol, aku cukup tahu diri untuk tidak meminta kontak dan berharap bisa lebih dekat denganmu. Aku juga tidak berharap kau akan memberikan kontakmu padaku, karena aku paham betul, kontak milikmu tidak bisa diberikan secara asal. Hal yang lebih lucu lagi aku baru sadar jika kau tidak menanyakan namaku, konyol bukan?.

Setelah pertemuan-pertemuan yang telah kita lalui, perasaanku semakin membesar dan semakin menuntut diriku untuk memilikimu. Tapi aku tidak berani berharap apapun dan masih saja keras kepala untuk membuang jauh-jauh rasa yang semakin menguat itu.

Bagaimana jika saat itu aku menolak ajakan temanku untuk datang ke fansign-mu?.

Tak lama setelah kejadian memalukan itu, aku diajak temanku yang juga fans dari grupmu untuk datang ke fansign, awalnya aku tidak berniat pergi karena aku khawatir uangku tidak cukup hingga akhir bulan jika aku pergi ke fansign, sedangkan saat itu ada banyak sekali pengeluaran yang tak terduga. Tapi akhirnya aku memutuskan untuk ikut setelah dia merayu. Aku tidak mengatakan apapun saat didepanmu, tetapi kau menuliskan nomor telepon milikmu di album yang aku bawa, kemudian meletakan telunjukmu dibibir.

"Ssstt"

Aku hanya mengangguk, aku sudah tahu artinya. Kemudian kau membentuk tanganmu seperti telepon dan meletakannya ke telingamu tetapi tanpa diketahui fans lain. Aku merasa sangat bahagia, ada idol yang mau mengenalku lebih dekat.

Aku masih tidak menyangka kau memberikan nomormu padaku, bagaimana jika nomormu kau berikan pada orang yang salah?. Sasaeng misalnya, aku yakin nomormu akan dijual kepada banyak fans. Diriku meragu ketika aku melihat kembali album yang kau tanda tangani + nomor telepon. Ada kata "Call me" disana, kau memintaku untuk menelponmu. Aku bimbang akan menelponmu atau tidak. Pada akhirnya aku memberanikan diri untuk menelponmu.

"Halo"jawabmu diujung sana, aku mengigit bibir karena grogi. Aku bingung ingin mengatakan apa

"Baiklah aku tutup teleponnya"ujarmu lagi, membuatku segera menyebutkan nama panggilanku yang telah kau buat "gadis yang menangis"

Kita mengobrol cukup lama hingga tengah malam, kau tidak peduli manager mungkin akan menegurmu dan aku juga tidak peduli ada tugas kuliah besok. Obrolan kita terus mengalir hingga akhirnya ada salah satu teman di grup-mu yang memprotes karena kau terlalu berisik dan aku memilih menyudahi percakapan ini.

Setelahnya, kita lebih sering berhubungan. Terkadang kau yang menelponku lebih dulu, kemudian kita mulai sering membuat janji untuk bertemu. Kau juga sering membagikan masalahmu kepadaku, berkeluh kesah, kau begitu mempercayaiku dengan menceritakan apapun padaku, sesekali kau akan meminta pendapatku dan meminta solusi dariku. Aku pun demikian, menceritakan semua masalahku dan kemudian kau akan memberikan solusi untukku.

Aku pun mulai membiasakan diri untuk tidak berbicara formal lagi padamu dan mulai akrab dengan memanggilmu "oppa" layaknya para fansmu, kita semakin dekat dan akhirnya aku tidak bisa mengontrol perasaanku. Aku membiarkannya lepas kendali dan mencintaimu sangat dalam walaupun aku tahu, aku tidak mungkin memilikimu dan kau tidak mungkin akan membalas perasaanku.

Bagaimana jika saat itu aku menolak ajakan kencanmu?

Kencan yang ini adalah ajakanmu yang paling berkesan untukku, dan aku tidak mau melupakannya. Karena ajakanmu ini telah membawa kebahagiaan yang sangat besar untukku. Waktu itu kau mengajakku ke sebuah tempat makan seafood sederhana setelah kita puas bermain pasir di pantai Pohang. Aku masih ingat sekali, saat itu jadwalmu kosong seharian kemudian kau memesan tiket KTX ke Pohang dan mengajakku. Mengherankan, kita sering pergi bersama tetapi tidak ada satu orangpun yang mengetahui hal itu. Kau memang sangat handal dalam menjaga privasimu, tetapi aku tetap saja harus waspada dan berhati-hati agar hal ini tidak diketahui siapapun.

Kita memesan banyak sekali makanan laut, kemudian memakan semua diselingi guyonan darimu. Kemudian suasana berubah ketika kau mulai serius dan menanyakan sesuatu padaku.

"Apa kau sudah punya pacar?"tanyamu, aku menggeleng. Pertama kali aku berpacaran adalah saat SMA dan setelahnya aku tidak pernah berpacaran lagi

"Di negaramu?, kau sudah punya pacar"tanyamu lagi. Aku kembali menggeleng

"Aku tidak punya pacar, makanya aku bisa bebas pergi denganmu"ujarku sambil terus memakan gurita di hotpot

"Tapi, mengingat umurku yang sudah cukup dewasa, aku ingin mempunyai pacar"sambungku

"Bagaimana kalau aku jadi pacarmu?"

Pertanyaanmu itu membuatku hampir tersedak gurita, aku terkekeh pelan dan menganggap perkataanmu itu hanya gurauan. Mana mungkin idol terkenal, tampan dan berwibawa sepertimu mau dengan gadis biasa-biasa saja sepertiku. Aku tertawa kecut

"Jangan bercanda, aku yakin kau pasti sedang menyukai salah satu idol wanita dan kau sedang berlatih menyatakan perasaanmu"ujarku, hatiku terasa disayat-sayat membayangkan jika benar Seungcheol saat ini sedang berlatih untuk menyatakan perasaannya

"Tidak mungkin ada orang Korea yang mau denganku, orang di negaraku saja pun baru satu yang menjadi mantan pacarku. Bahkan mereka mungkin perlu berikir berulang kali untuk mencintaiku" lanjutku sembari mengingat kembali berapa banyak laki-laki yang sudah menjadi pacarku, mantan tepatnya –satu–, mungkin juga karena dia iba atau khilaf.

"Aku orang Korea yang mau denganmu"

"Oppa, berhenti main-main. Jika kau menyatakan perasaanmu pada wanita itu dengan seperti ini. Dia mungkin akan menolakmu. Romantis lah sedikit!"ujarku berusaha memberi saran, masih berpikiran kalau kau sedang bergurau

Chu~

Tiba-tiba saja kau berdiri dari kursimu, mencondongkan tubuhmu mendekati wajahku dan mencium bibirku, merebut ciuman pertamaku. Aku kaget hingga aku menjatuhkan sumpit yang kupegang, mataku membulat karena kaget. Kau tidak melumat bibirku, hanya menempelkan bibir dengan bibir beberapa detik kemudian melepasnya. Kau duduk dengan santai dan tidak merasa bersalah karena menciumku barusan. Seperti tidak ada terjadi apa-apa barusan. Sedangkan aku berusaha meredakan jantungku yang berpacu tak karuan seperti terhempas dari gedung tinggi.

"Jadi apa kau masih menolakku?, apa aku kurang romantis?. Maaf ya, Aku tidak mungkin melakukan hal yang sangat romantis sedangkan privasiku terancam"katamu, aku masih terdiam, masih berusaha mencerna yang terjadi barusan. Benarkah Seventeen baru saja menciumku?, idolaku sendiri merebut ciuman pertamaku?.

"Y/N-ah, saranghae. Aku merasakan sesuatu yang berbeda sejak awal aku melihatmu, makanya aku selalu mengingatmu walaupun dalam rentang waktu yang lama kita tidak pernah bertemu lagi. Kau berhasil mengacaukan pikiranku selama kita tidak bertemu. Aku selalu berusaha untuk melupakanmu karena mungkin saja kita tidak akan pernah bertemu lagi, tapi kita bertemu lagi dan lagi"

Aku masih mematung, berusaha menyadarkan diriku sendiri. Mengira semuanya hanyalah mimpi indah di siang bolong. Aku bimbang, aku memang mencintaimu. Rasa cinta yang selama ini aku pendam telah menggerogoti hatiku, membuatku ingin memilikimu. Tentu saja ini adalah kesempatan untukku, dan aku tidak mungkin menolak sosok sempurna sepertimu, yang selalu mengusik tidur nyenyakku.

"Jadi bagaimana?, kau mau jadi pacarku?"tanyamu lagi

"Apa oppa tidak malu memiliki pacar sepertiku?. Oppa yakin?"tanyaku memastikan kesungguhanmu

"Kenapa aku harus malu?, aku bersungguh-sungguh. Tapi kau tentu tahu konsekuensinya, kita akan pacaran diam-diam. Jika ketahuan, aku harap kau siap menerima serangan fans"ujarmu sambil tertawa garing. Aku ikut tersenyum, bukan fans yang aku takutkan. Aku takut jika hubungan ini akan berhenti ditengah jalan, aku takut kau malah meninggalkanku setelah hubungan ini diketahui fans. Hal yang paling aku takutkan dari semua adalah, aku takut kau ternyata tidak mencintaiku. Kau hanya merasa nyaman denganku.

"Kau adalah fans-ku kan?, kau mengidolakanku"tanyamu lagi, aku mengangguk sekaligus terkejut. Aku tidak pernah memberitahumu hal itu

"Aku sangat yakin kau pasti juga mencintaiku. Aku merasa cocok denganmu"lanjutmu

"Baiklah, aku mau. Aku akan berusaha mengerti dengan kesibukanmu oppa"ucapku akhirnya

Sekali lagi kau mencium bibirku dengan cepat. Aku tersenyum padamu, kebahagianku yang kedua –bertemu denganmu adalah yang pertama–. Aku merasa jantungku ingin meletup karena bahagia, perutku digelitiki ribuan kupu-kupu. Aku menggantungkan harapanku yang telah lama aku kubur. Bersamamu...

Bagaimana jika saat aku lulus S2 saat itu, kau malah membiarkanku pulang ke negaraku?

Saat itu aku telah menyelesaikan tesisku dan sidang dengan lancar kemudian tinggal menunggu wisuda. Saat itu kau mengajakku makan malam sederhana untuk memberikan ucapan selamat padaku karena akhirnya tesis yang aku buat diterima dan dapat sidang dengan baik. Kita sudah berpacaran 2 tahun lebih saat itu –1 tahun pelatihan bahasa, total 3 tahun untuk S2–

"Selamat ya"katamu sembari memberikan sebuah kotak kecil sebagai hadiah

"Terima kasih"jawabku kemudian menerima kotak itu

"Jadi, kapan kau wisuda?"tanyamu

"Aku akan wisuda 3 bulan lagi. Aku tidak berharap oppa akan datang, karena itu sama halnya dengan membongkar rahasia kita kepada media"jawabku memperingatkanmu

"Aku akan datang, kau tunggu saja. Orangtuamu datang kan?, aku ingin bertemu dengan mereka" katamu enteng

"Tapi privasimu..."

"Jangan dipikirkan, aku akan mencari cara"ujarmu memotong omonganku. Kita saling berdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing sambil memakan daging panggang yang baru saja matang

"Setelah wisuda kau akan kemana?"tanyamu lagi

"Pulang tentu saja, aku bisa hidup disini karena uang saku dari beasiswa. Kecuali, aku mendapatkan pekerjaan disini" jawabku seadanya

"Jangan pulang, tetaplah disini. Aku ingin tetap bersamamu" kau merengek layaknya anak kecil

"Siapa yang akan membiayaiku jika aku tetap disini?" tanyaku sedikit keheranan dengan permintaanmu

"Aku yang akan membiayaimu"jawabmu enteng

"Tapi aku bukan siapa-siapa oppa, kau tidak berkewajiban untuk membiayai hidupku. Aku tidak mau membebanimu" kataku

"Jadi bagaimana dengan hubungan kita?" kau menanyakan sesuatu yang sebenarnya sejak dulu sangat aku khawatirkan

"Terserah padamu" jawabku pasrah

Hari itu, aku telah menyiapkan hatiku untuk terluka lagi. Disetiap pertemuan akan ada perpisahan dan aku sudah siap jika akhirnya kau tidak bersedia ikut aku ke negaraku dan aku pun tidak bisa tinggal lebih lama disini. Aku tidak mungkin memintamu ikut denganku, disini kau sukses. Kau punya kehidupan disini, belum lagi ada sebuah benteng perbedaan yang terlalu tinggi diantara kita lebih dari perbedaan negara dan budaya.

Tapi ternyata...

Tidak, kau tidak mengatakan apapun saat itu. Bahkan sampai kita berpisah dan kau mengantarku ke asrama. Tapi setelahnya, kita kehilangan kontak. Kau tidak menghubungiku dan kau juga tidak menjawab telepon, pesan ataupun e-mailku. Aku bingung, aku merasa kehilangan. Tapi aku berusaha berpikir positif, mungkin saja kau masih sibuk apalagi saat itu kau masih mempersiapkan album baru bersama grup-mu. Namun, kau masih saja tidak menghubungiku ketika promosi album selesai. Hingga akhirnya hari wisudaku tiba...

Bagaimana jika saat wisudaku itu kau malah memilih untuk tidak hadir?. Apakah kisah kita akan berakhir sama?

Aku tak berharap banyak saat hari wisudaku tiba, aku sangat paham betul jadwalmu yang padat, selain itu kita juga tidak berkomunikasi selama 3 bulan terakhir sejak kencan terakhir itu. Aku tidak mau memikirkannya, aku hanya cukup bahagia karena orangtuaku mau jauh-jauh datang kemari hanya untuk melihat putri sulung mereka wisuda.

Kebahagiaanku berlipat ganda ketika aku keluar dari gedung dengan orangtuaku dan kau datang dengan membawa sebuket bunga kesukaan kita berdua, baby breath dan sekotak kue fortune cookie. Kau berkata kau ada didalam sejak tadi dengan penyamaran lengkap, dan kau mendengar pidatoku. Kau mengucapkan selamat kepadaku kemudian menyodorkan kotak kecil yang berisi fortune cookie. Aku heran karena kau hanya memberikan satu buah fortune cookie didalamnya.

"Untuk keberuntunganmu"katamu, aku memakan kue itu dan aku dapat merasakan bukan hanya menggigit kertas berisi pesan di fortune cookie itu, tetapi ada sebuah benda keras yang aku gigit. Aku memuntahkan kedua benda itu, aku sangat terkejut ketika melihat sebuah cincin dengan berlian kecil diatasnya. Aku pun membaca tulisan dikertas.

"Will you marry me?"tanyamu ketika aku membaca kertas itu, kemudian mengeluarkan kertas berbentuk hati yang terselip diantara buket bunga yang kau bawa, kertas itu bertuliskan "Marry me?"

Aku terharu, kau melamarku didepan orangtuaku langsung. Kebahagiaanku datang dua kali hari ini, aku tak mampu berkata-kata, lidahku kelu seketika. Namun, aku tidak bisa menangis, ataupun segera memelukmu untuk mengatakan "Ya" ketika aku mengingat... perbedaan yang tak nampak tapi ada membentang.

"Tapi kita berbeda"ucapku

"Aku sudah merelakan yang itu"jawabmu, buru-buru aku memelukmu, menumpahkan airmata haru yang sudah kutahan, terisak dibahu lebarmu. Melepaskan rasa bahagia bercampur rasa rindu karena sudah tidak berkomunikasi denganmu. –Kebahagiaanku yang ketiga–

"Ya aku mau"jawabku akhirnya, kemudian kau membalas pelukanku. Aku melupakan rasa malu karena orangtuaku tentu melihat kejadian itu.

Setelahnya, kau menceritakan semua yang terjadi selama 3 bulan terakhir dan alasan kenapa kau tidak menghubungiku. Kau pun sempat bimbang dan ragu, kau perlu memikirkan semua ini secara matang. Orangtuaku awalnya tidak menyetujui hal ini, tapi dengan kegigihan kita. Orangtuaku menyetujui, begitupun orangtuamu yang telah merelakanmu seutuhnya.

Aku sangat menikmati setiap proses menuju pernikahan kita, kedua keluarga akhirnya menyetujui resepsi akan diadakan di dua negara. Ada satu masalah besar lainnya yang menghampiri kita, masalah yang selama ini berhasil kita hindari. Selama ini hubungan kita berhasil tidak tercium dan aku rasa inilah saatnya dimana semua rahasia kita selama ini harus terbongkar dan kita mau tak mau harus mengakui semuanya. Ada sebuah hal yang selalu aku khawatirkan dari awal kita berkenalan.

Agensi dan Fans...

Bagaimana jika saat kau mengkonfirmasi hubungan kita, serangan fans membuatku mengurungkan niatku untuk menikah denganmu?

Bagaimana jika setelah aku merasa tertekan seperti itu, kau tidak membantuku sama sekali?

Bagaimana jika kau lebih menuruti keputusan agensi dan menuruti peraturan kontrak?

Tak lama setelah kedua orangtua kita menyetujui hal ini, kau membicarakan semuanya pada agensi. CEO cukup kecewa denganmu, didalam kontrak kau seharusnya belum bisa berpacaran 2 tahun yang lalu, dan kau akhirnya harus membayar denda untuk hal itu. Agensi juga melarangmu untuk menikah, agensi memperbolehkanmu menikah dengan syarat tanggal harus dimundurkan sesuai dengan ketentuan agensi. Kau murka, kau telah bekerja dengan mereka selama 10 tahun dan kau hanya ingin mencari kehidupan pribadimu. Dengan konflik-konflik yang berjalan itu, akhirnya agensi mengijinkanmu untuk menikah dengan syarat-syarat tertentu.

Tinggal fans...

Kau akhirnya mengkonfirmasi hubungan kita, tetapi kau tidak memberitahukan media bahwa kita sudah lama berhubungan. Setelahnya aku banyak sekali mendapatkan serangan fans. Tidak semua fans, karena ada pula yang menerima keputusanmu. Tetapi, sebagian fans yang tidak terima membully-ku dan bahkan beberapa kali ada yang mencoba untuk mencelakaiku karena merasa aku tidak pantas denganmu. Tapi kau tidak menyerah, bahkan ada titik dimana aku tidak tahan dan ingin mengakhiri hubungan kita dan kembali ke negaraku. Menganggap perkataan fans adalah benar jika kau pantasnya mendapatkan yang lebih baik dariku.

Kau marah sekali saat itu, dan kita bertengkar dengan hebat karena hal itu. Dari kejadian itu aku sadar kalau kau begitu mencintaiku, aku tak tahu kenapa kau bisa mencintai gadis yang biasa-biasa ini. Hingga akhirnya aku kembali menggenggam tanganmu dan berjuang denganmu. Aku tidak akan membiarkan dirimu berjuang sendiri untuk hubungan ini.

"Kita pasti bisa melewati ini"katamu waktu itu, kita berbaikan lagi setelah seminggu uring-uringan karena aku yang mulai goyah karena fans

Namun, perjuangan memang tak semudah yang dibayangkan, pernah sekali aku nyaris terbunuh karena seorang sasaeng yang sangat membenciku dan tidak terima kau akan menikahiku. Kau marah besar, kau benar-benar bertindak kali ini karena aku benar-benar nyaris mati jika saja tidak ada yang menyadari. Kau bertindak secara hukum meskipun aku sudah melarangmu, aku hanya takut orang-orang akan berpikir akulah yang terlalu manja. Tapi, kau bersikuku untuk tetap bertindak.

Setelah orang itu minta maaf dan mengakui kesalahannya, kau pun menggelar jumpa fans untuk memberikan klarifikasi atas semua hal dan memberikan sedikit pengertian terhadap fans. Aku sangat bahagia, kau ada disampingku untuk mendukungku. Dan setelah semua masa berat itu terjadi, akhirnya kita berhasil menuju pernikahan yang diselenggarakan 2 negara. Di negaraku dengan adat dan di Korea dengan resepsi Internasional dan lebih privasi yang hanya dihadiri kerabat dekat tanpa ada liputan media.

Aku tak tahu apa yang akan terjadi padaku jika aku tidak bertemu denganmu.

Aku tak tahu apa yang akan terjadi jika aku tidak mengambil S2 ke Korea.

Aku tak tahu apa yang terjadi jika saja saat itu aku memilih untuk tidak minum.

Aku tak tahu apa yang akan terjadi jika aku tidak menerima pernyataan cintamu saat itu.

Aku tidak tahu siapakah yang akan menjadi suamiku jika saja aku menolak ajakan menikahmu saat itu dan lebih memilih untuk pulang ke negaraku.

Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku jika saja kedua orangtua kita tidak akan pernah memberikan restunya.

Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku dan apa yang aku lakukan jika bukan DIRIMU...

Namun, aku menikmati setiap detik perasaan yang menyiksa ini –dulu–, meskipun ada satu titik dimana aku ingin menyerah dan melupakanmu, titik dimana aku ingin mencari penggantimu karena aku merasa kau terlalu sulit untuk menjadi nyata. Tapi, hati kecilku sekuat mungkin memberontak semuanya, dia menyerah dan tidak mau berjuang bersama untuk melupakanmu dengan seluruh logika yang aku miliki.

Aku sangat berterima kasih dan besyukur atas setiap detik yang kuhabiskan bersamamu. Aku tak bisa membayangkan apa yang terjadi jika bukan denganmu aku bertemu, jika bukan denganmu aku menikah dan menghabiskan sisa umurku. Aku tidak dapat membayangkan itu semua karena aku hanya dapat membayangkan masa depan milik kita.

Aku sangat bahagia bisa hidup bersamamu, menikmati setiap detik usiaku yang perlahan habis dimakan waktu. Membuatku semakin dewasa dan menua bersamamu. Kunikmati tahun demi tahun tinggal satu atap denganmu, mengenalmu lebih dalam, mengetahui baik dan buruknya dirimu dan aku bisa menerima itu semua, demikian juga kau. Aku bahkan menikmati setiap masalah yang datang menghempas kebahagiaan rumah tangga kita, kita bisa melewati segala kesalahpahaman dan api cemburu yang sesekali datang menguasai diri dan menjadikan kita egois.

Bahkan aku menikmati detik-detik berhargaku yang kuhabiskan denganmu saat aku menulis bab ini. Walaupun dalam keheningan, aku sangat menyukainya!. Kau berkutat dengan pena dan kertas serta laptop yang menampilkan aplikasi pembuat lagu, sesekali mulutmu bergumam, bersenandung dengan lirik yang telah kau buat. Aku tahu kau sudah lelah dengan jadwal padat seharian dan kemudian kau harus mengerjakan lagu untuk menyenangkan hati fansmu, berkutat dengan berlembar-lembar kertas yang sudah kau coret-coret.

Sedangkan aku duduk diseberang meja menghadapmu mengetik di laptopku tentang perjalanan kita sambil memandangi wajah seriusmu, meninggalkan acara yang disiarkan di televisi, yang aku tonton saat aku mulai menunggu pekerjaanmu selesai. Inspirasi datang terus-menerus menghantam ceruk kosong kepalaku setiap aku melihatmu. Bersamamu, inspirasi dan imajinasi terus mengalir tanpa henti bahkan ketika aku berada dititik paling buruk, walaupun aku sedang terluka. Itulah mengapa aku menyebutmu sang inspirasi di janji pernikahan kita.

Choi Seungcheol, aku mencintaimu...

Bab 1 udah di-publish!. Aku harap readers suka. kalau suka jangan lupa komennya ya