E : Es Krim, Mall dan Princess
Sudah menjadi kebutuhan jika setiap awal bulan tiba aku akan ke supermarket ataupun pasar tradisional untuk membeli kebutuhan kulkas maupun kebutuhan bulanan. Jika persediaan bulanan masih banyak, aku akan memilih belanja ke pasar tradisional karena cenderung bisa ditawar dan lebih murah. Tetapi jika barang-barang dipasar tidak terlalu bagus atau ketika persediaan bulanan sudah habis, aku akan belanja di supermarket.
Aku sudah biasa belanja sendiri karena jadwalmu terlalu padat. Tapi ada masa dimana kau memiliki waktu luang dan memutuskan untuk menemaniku belanja. Apakah itu di supermarket maupun pasar tradisional. Bukan hal yang aneh ketika kau sedang memilih barang akan ada 1, 2 orang atau lebih yang menghampirimu untuk meminta tandatangan maupun foto.
Banyak fans yang cukup tahu diri, jika meminta foto bersamamu, dia akan mengajakku juga karena menghormatiku sebagai istrimu, tapi kadang aku malah menolak karena tentu saja aku tahu bagaimana perasaan seorang fans yang ingin selca dengan idolanya –aku juga pernah jadi fans-mu dulu–, bahkan aku malah sering menawarkan bantuan kepada mereka untuk memfoto. Sesekali mereka juga memaksaku untuk ikut foto, entah apa alasannya.
Tapi sesekali, ada pula fans yang menganggapku tak ada dan malah menyuruhku untuk mengambil foto kalian. Kadang aku bisa memaklumi dan aku tidak keberatan karena sejujurnya aku tidak terlalu suka di foto dan cenderung tidak terbiasa dengan kamera –sangat berbeda denganmu–. Tapi terkadang aku menggerutu juga di dalam hati jika ada fans yang terlalu semena-mena. Namun, kau sudah tahu apa isi hati dan pikiranku. Kalau kau merasa aku kesal, kau akan menolak secara halus dan cukup memberikan tandatangan saja. Tapi kadang kau juga curhat padaku.
"Aku tidak mungkin menolak mereka. Mereka akan menilaiku buruk. Karena mereka aku ada sayang" katamu. Ya, kadang kau masih juga menuruti permintaan fans-mu meski kau tahu kalau aku kesal. Namun, kau tetaplah Choi Seungcheol. Kau akan selalu ada cara-cara tak terduga agar aku memaafkanmu dan memberikanku pengertian. Perlahan aku pun sedikit terbiasa dengan segelintir fans yang menganggapku tak ada sembari selalu berusaha menjadi istri yang lebih baik untukmu
Sejak awal kau mengumumkan pernikahan, memang banyak fans yang menolak. Tetapi tidak sedikit pula fans yang mendukung, karena bagi mereka kebahagiaanmu adalah segalanya dan mereka menganggap umurmu sudah cukup matang saat itu. Lambat laun, fans-fans yang awalnya tidak setuju pun perlahan mulai memberikan aku kesempatan untuk masuk ke duniamu. Tapi semuanya tidak semudah itu, karena masih ada segelintir fans yang tidak menyukaiku. Aku terima saja komentar mereka, karena aku yakin aku belum cukup baik untuk mendampingimu dan menjadikan komentar mereka agar aku bisa lebih baik lagi. Aku juga tak bisa marah, karena karirmu bergantung pada mereka, kau mendapatkan uang karena mereka yang dengan senang hati membeli barang apapun yang berlogo dan bernamakan Seventeen yang dijual agensimu ataupun brand yang kalian iklankan.
Bulan ini, kau menemaniku berbelanja setelah sudah cukup lama kau tidak menemaniku lagi. Kali ini kau mengajakku belanja di supermarket yang terletak di sebuah pusat perbelanjaan. Hari itu kita memakai baju rapi tetapi tetap kasual. Kau tidak memakai penyamaran, sejak menikah kau memutuskan tidak memakai penyamaran kemanapun saat bersamaku.
Sejak turun dari mobil, kau terus menggandeng tanganku, menautkan jemari kita selama berjalan. Beberapa orang yang mengenalimu mulai berbisik-bisik. Kita langsung menuju tempat pertama yaitu supermarket untuk membeli keperluan kita. Kau hanya diam saja, jika ada yang menyapamu barulah kau melambaikan tangan kearah mereka. Sulit menjadi masyarakat sipil jika seperti ini. Kita menaiki eskalator untuk menuju lantai 1.
Tak sedikit orang-orang yang mengambil foto dirimu. Kita langsung saja mengambil troli dan memasuki supermarket, kemudian aku mulai membaca daftar belanjaan dari smartphone. Dengan adanya dirimu, aku tak perlu repot-repot mendorong troli karena kau dengan senang hati membawakannya untukku.
"Kita akan kemana dulu sayang?"tanyamu
"Eung, kita akan membeli bahan makanan dulu"jawabku, kemudian kau mengikuti langkahku sambil mendorong troli ke arah bahan makanan. Aku memilih susu, yoghurt, daging, ikan, seafood, sayuran, minyak sayur, semua yang ada di daftar kemudian men-checklist jika aku sudah memasukannya ke troli
"Ayo kita beli keperluan bulanan. Pembalutku juga sudah habis, aku tak mau menyusahkan oppa jika bulan depan aku haid di tengah malam"kataku. Kau hanya menurutiku, kau juga bersenandung kecil jika aku tidak bertanya padamu ataupun meminta pendapatmu dalam memilih barang. Mungkin kau bosan
"Oppa, sabun mandimu habis kan?. Kau mau yang mana?"tanyaku setelah melihat daftar belanja
"Eum yang biasa kau beli saja, aku suka wanginya"katamu, aku pun memilih sabun yang biasanya aku beli. Hanya saja kali ini aku menanyakan varian padamu. Ditengah-tengah memilih barang. Ada seorang gadis memanggilmu
"Coups oppa!"panggil gadis itu kemudian berlari kecil mendekati kita
"Annyeonghaseyo. Aku penggemar Coups oppa, bolehkah aku meminta tandatangan oppa. Juseyo~" kata gadis itu sembari menyodorkan sebuah buku A5 dan spidol. Aku dan Seungcheol saling berpandangan. Sudah menjadi pemandangan biasa disaat seperti ini, aku tersenyum kearahmu. Kemudian kau memberikan sebuah tandatangan pada gadis itu, aku yakin gadis itu umurnya sedikit lebih muda dariku.
"Oppa, bisakah kita mengambil selca juga?"pinta gadis itu
"Ya tentu saja"katamu, kemudian dia mengambil foto melalui kamera depan
"Butuh bantuan?"tawarku pada gadis itu. Aku yakin gadis ini ingin memiliki kesan baik dan foto terbaik ketika bertemu Seungcheol
"Apakah boleh?. Eonni mau membantu?"tanyanya memastikan
"Kenapa tidak?"tanyaku, kemudian gadis itu tersenyum senang dan memberikan ponselnya padaku
"Eonni, ayo kita selca bertiga"kata gadis itu lagi. Mungkin saja sebagai wujud terima kasihnya. Kami pun mengambil sebuah foto lagi
"Gomawo Coups oppa, eonni"ucap gadis itu sambil membungkukan badan. Aku dan Seungcheol juga membalasnya
"Sama-sama, semoga harimu menyenangkan"kataku, kemudian gadis itu berjalan menjauh. Beberapa langkah kemudian, dia malah kembali dan mendekatiku
"Eonni, aku mohon jagakan Coups oppa untukku. Aku sangat mengaguminya, dia adalah tipe idealku. Eonni adalah orang yang beruntung yang dipilih Coups oppa"kata gadis itu. Aku yakin sekali, gadis ini adalah salah satu gadis pemimpi seperti aku dulu. Bermimpi bisa menikahi idolanya sendiri.
"Tentu saja, aku akan menjaga Seungcheol dengan baik. Semoga kelak kau mendapatkan laki-laki seperti Coups oppa, atau bahkan mungkin lebih baik"kataku menyemangati gadis itu
"Apakah kau masih kuliah?, atau bekerja?. Kuliahlah dengan baik, bekerja lah dengan baik. Semoga kau akan menemukan laki-laki seperti Seungcheol"kataku lagi, diselipkan sebuah doa disana. Gadis itu sangat senang
"Gomawo eonni!. Terima kasih atas segalanya!. Kalau begitu aku pergi dulu, teman-temanku menunggu"kata gadis itu kemudian pergi menjauh dari kita
Kau mendekatiku dan merangkul bahuku, kemudian mengusap-usap lengan atasku. Aku pun menyandarkan kepalaku pada lengan kekarmu.
"Syukurlah hari ini kita malah menemukan fans seperti itu. Sepertinya, gadis itu mirip sepertimu dulu" katamu
"Sepertinya begitu"jawabku
"Tapi, memangnya ada laki-laki yang mirip sepertiku?"katamu, aku memukul dadamu
"Ishh, tidak ada salahnya mendoakan. Siapa tahu ada, ya paling tidak mirip 70%"kataku
"Aku hanya bercanda. Kau bilang aku tidak ada duanya"rengekmu, kau kembali menggunakan aegyomu ditambah rajukan, membuatku tak tahan
"Iya, untukku oppa memang tidak ada duanya"kataku, kemudian kita lanjut belanja dan memilih barang yang sempat tertunda.
Aku memastikan semua hal penting yang telah aku buat daftarnya telah ter-checklist, kemudian kita membeli beberapa snack untuk disimpan dilemari dan akan dimakan ketika kita sedang menonton ataupun bosan di apartemen. Setelah dirasa cukup, kita segera ke kasir untuk membayar semua yang telah kta masukan ke troli.
Ada begitu banyak kantung belanjaan, kau sendiri melarangku untuk membawanya, barang hanya 1 kantung. Kau bersedia membawakan semuanya untukku.
"Chagiya, apakah kau ingin ketempat lain?"tanyamu, aku berpikir sejenak
"Aku ingin membeli beberapa skincare"jawabku, kau hanya mengangguk
"Kalau begitu, tunggulah disini. Aku akan membawa semua belanjaan ini ke mobil"katamu, aku hanya menurutimu saja.
Kau melenggang pergi dengan membawa begitu banyak kantung belanjaan yang penuh dan berat itu keparkiran. Sedangkan aku memilih menunggumu disebuah tempat duduk yang telah disediakan. Sayangnya kau cukup lama saat itu, membuatku sedikit bosan. Mungkin kau kesulitan memasukan barang kebagasi. Hampir 30 menit kau pun kembali, aku tak sadar karena aku sedang mengecek sosial media dan juga mengedit beberapa konten yang akan segera di posting, kau langsung menyodorkan sebuah cup es krim kehadapanku.
"Maaf ya lama, barang yang kita beli banyak aku kesulitan memasukannya ke bagasi, dan aku juga mengantri es krim tadi. Aku pikir kau kelelahan dan haus"katamu kemudian duduk disebelahku. Aku memakan es krim dengan lahap. Sedikit banyaknya kau benar, aku cukup haus dan es krim berhasil membasahi tenggorokanku
Setelah es krim habis, kita melanjutkan perjalanan. Kita kesebuah toko kosmetik yang biasanya kita pakai, memilih-milih beberapa skincare yang cocok dan persediaannya juga sudah habis.
"Sayang, belikan aku masker juga ya, facial wash-ku juga sudah habis"pintamu
"Iya, aku sudah menulis apa-apa saja yang sudah habis di apartemen termasuk milikmu"kataku, aku memilihkan masker dan facial wash untukmu. Belakangan ini wajahmu agak sensitif karena make-up, jadi aku memilih masker untuk hal itu.
Kau memegang sebuah paper bag yang penuh dengan skincare dan beberapa make-up, ya aku akhirnya membeli beberapa make-up yang mulai menipis persediaannya. Kita berjalan melewati banyak sekali toko baju, tas, sepatu, dan juga perhiasan. Beberapa kali aku menggumam "wah cantik" tapi tidak ada satupun yang aku minta darimu. Akhirnya kita berhenti disebuah kedai Bubble Tea karena entah kenapa aku ingin sekali meminum si bola manis itu.
"Sudah lama sekali aku tidak melihatmu membeli make-up"katamu
"Itu karena aku tidak pernah memakai riasan yang tebal, kecuali acara-acara penting. Bedak dan lipstik sudah cukup untukku"
"Kau ingin beli apalagi?"tanyamu padaku, aku melihat daftar belanja
"Tidak ada"
"Kau yakin?"tanyamu memastikan, aku hanya mengangguk
"Daritadi aku melihatmu mengatakan cantik pada beberapa barang yang dipajang di etalase toko. Dari semua barang itu, apakah ada yang ingin kau miliki?"jelasmu, aku terkekeh pelan
"Oppa memperhatikan ya?. Eung aku tidak ingin apapun sungguh. Aku mengatakan cantik karena memang cantik, tapi aku tidak berniat membelinya"
"Apakah uang yang aku berikan padamu masih kurang?"tanyamu, kau khawatir dengan uang yang kau berikan padaku itu kurang tetapi aku tidak meminta
"Tidak, itu sudah lebih dari cukup. Aku malah sering menyimpan sisanya untuk keperluan mendesak sehingga aku tidak perlu lagi meminta pada oppa"jawabku
"Sebenarnya hari ini aku ingin membelikan apapun barang yang kau mau. Kau tahu?, uang royaltiku keluar lagi hari ini"katamu, aku tersenyum
"Oppa sudah terlalu banyak membelikanku barang. Lebih baik uang itu oppa simpan untuk keperluan mendadak dimasa depan"kataku
"Aku bersyukur sikapmu sama sekali tak berubah dari sebelum menikah sampai saat ini. Walaupun kau menikahi seorang idol tapi gaya hidupmu tak mencerminkan demikian. Barang branded bisa dihitung pakai jari, dalam sebulan belum tentu kau membeli sebuah baju di mall, aku lebih sering melihatmu membeli barang dipasar"jelasmu
"Memangnya menikahi idol itu akan menjamin hidupku akan kaya hingga mati?. Aku juga harus bijak mengelola uang yang suamiku berikan padaku"jawabku
Aku menjelaskan semuanya secara detail. Ada begitu banyak baju, sepatu, tas atau barang apapun yang kau belikan untukku dan hampir semuanya masih bagus karena jarang kupakai, aku merasa lemari dan Walk-in closet kita sudah cukup penuh ditambah lagi beberapa hadiah dari fansmu. Aku tahu bagaimana rasanya hidup susah, jadi aku tidak mau berfoya-foya disaat hidup berkecukupan. Sudah kutuliskan bukan kalau aku lebih sering memakai uangku untuk membeli keperluan pribadiku?.
Aku selalu berpikir, bagaimana nasib-nasib orang dengan ekonomi menengah jika kita senantiasa membelanjakan uang kita di pusat perbelanjaan dimana para orang kaya meraup untung yang besar?. Lagipula, orang yang dinobatkan terkaya didunia pun memilih hidup sederhana bukan?. Akhirnya kau juga memintaku untuk menyimpan uang hasil kerjaku dan mengirimkannya sebagian pada orangtuaku. Tanpa kau minta aku sudah melakukannya!, aku tidak mau di cap sebagai anak tak tahu diri.
"Sayang, jika ada sesuatu yang ingin kau beli, mintalah padaku. Aku suamimu, sudah menjadi kewajibanku membuatmu bahagia dan memenuhi kebutuhanmu. Jika uang yang aku berikan padamu kurang, katakan saja, mengerti?"katamu
Setelah minuman habis, kau mengajakku kesebuah toko perhiasan, aku tidak tahu lagi barang apa yang akan kau berikan padaku. Kau memilih-milih sebuah mini tiara yang dipajang di rak kaca, kemudian meminta pelayan toko untuk mengambilkan benda yang kau tunjuk. Kau langsung memakaikan mini tiara itu diatas kepalaku.
"Kau adalah princess. Ratuku, aku menobatkanmu demikian. Kau memang tidak seanggun putri kerajaan, kau juga tidak secantik Miss Universe. Kau pantas mendapatkan gelar itu dengan segala kerendahan hatimu"katamu, sebenarnya aku sudah sering mendengarkan rayuanmu dan sudah seharusnya aku terbiasa dan tidak tersipu lagi. Tapi, kau memang selalu bisa membuat hatiku menghangat mendengar setiap kata yang meluncur dari bibirmu.
Jujur aku juga gak tau apa yang aku tulis. Ini tuh bener-bener yang kepikiran itu cuma Es Krim, tapi kalo bikin cerita beli atau makan es krim doang. Menurut aku itu garing banget, jadi aku tambahin yang lain.
