F : Flu
Aku bukan tipe orang yang gampang sakit, tapi jika sudah sakit payah untukku sehat kembali. Waktu itu, aku sudah ada tanda-tanda akan sakit –sudah 2 hari sebelumnya–, tapi aku tak menghiraukannya dan menganggap akan sembuh jika aku meminum obat. Aku mengeluh sakit kepala dan mual sejak pagi, aku juga mengatakan tenggorokanku kering, dan sekarang aku juga menderita flu. Aku merasa benar-benar tidak fit saat itu tapi aku harus pergi untuk menyiapkan acara pertemuan penting hari itu dan mengharuskanku pulang larut malam. Kau sebenarnya melarang, tapi aku menjadi salah satu bagian penting diacara itu, dan aku khawatir team-ku kekurangan orang. Menurutku, semua rasa tidak enak badan itu karena kelelahan yang kualami selama 2 minggu terakhir. Aku sering kurang tidur dan harus pergi pagi-pagi sekali.
Pada akhirnya, kau bersikeras hendak mengantarku siang itu, padahal aku sudah sering pergi sendiri menaiki bus, subway ataupun taksi, kadang aku juga mengendarai mobilmu jika kau sedang tidak memakainya. Kau juga membelikanku obat di apotek sebelum mengantarku ketempat pertemuan. Kau bahkan memberikanku coat yang kau pakai –coat yang sebenarnya sangat kebesaran untukku– karena cuaca yang cukup dingin mengingat hari itu adalah penghujung musim dingin, dan aku lupa membawa coat karena aku terburu-buru. Kau membiarkan rasa dingin itu menusukmu daripada membiarkanku yang merasakannya, padahal saat itu kau juga sedang ada kegiatan outdoor.
"Tidak apa-apa"katamu sembari memakaikan coat kebesaran itu padaku, kemudian merapatkan syal yang kupakai
"Disana ada banyak asisten dan coordi noona yang bersedia memberikanku coat hangat"ucapmu, aku tahu kau bekerja dikelilingi orang-orang yang mempedulikan kebutuhanmu, tapi apakah kali ini mereka punya coat hangat untukmu?.
"Jangan khawatir, aku ini laki-laki, daya tahan tubuhku lebih kuat dan aku dalam keadaan sehat. Kau lebih membutuhkan coat daripada aku, aku tidak mau sakitmu akan lebih parah"katamu lagi, aku mencium pipimu
"Terima kasih"kataku sebelum akhirnya aku keluar dari mobil. Kau menurunkan kaca mobil
"Sayang, aku akan menjemputmu nanti malam. Telepon aku jika kau sudah selesai"katamu lagi, kemudian kau melajukan mobilmu
Tapi saat itu keberuntungan tidak berpihak padaku. Aku melupakan powerbank ataupun charger, dan aku tak menyadari kalau pemakaian ponsel seharian ini benar-benar menguras baterai. Aku tidak sadar kalau ponselku telah mati. Teman-temanku sudah pulang semua, gedung tempat acara berlangsung pun sudah gelap dan aku tidak melihat ada satpam yang berjaga untuk meminjam ponsel mereka untuk sekedar menelpon suamiku.
Akhirnya aku memutuskan untuk berjalan sedikit ke halte terdekat untuk menunggu taksi ataupun bus yang lewat. Sial, jam sudah hampir pukul 11 malam dan sekarang langit sedang mendung, tentu saja sudah tidak ada bus yang lewat, bahkan aku tidak melihat taksi dari tadi dan tidak ada telepon umum disekitar sini. Berulang kali aku mencoba menyalakan ponselku, hasilnya nihil. Ponselku benar-benar kehabisan daya dan tidak bisa dinyalakan untuk sekedar menelponmu.
Angin musim dingin mulai bertiup, semakin menusuk kulit. Bahkan coat tebalmu tak cukup menghangatkanku, aku hanya bisa berdoa semoga taksi cepat datang. Hujan turun sebelum taksi ataupun dirimu datang menjemput, atap dihalte tak cukup untuk melindungiku dari guyuran air hujan. Aku mulai menggigil karena angin dingin serta air hujan yang perlahan membuat baju serta coat yang kupakai basah. Bahkan sakit kepala yang tadi mulai membaik kini kembali menyerangku, ditambah lagi aku melupakan makan malam tadi karena terlalu sibuk.
Aku cepat-cepat bersyukur ketika sebuah mobil SUV yang sangat aku kenali datang menghampiriku. Kau segera keluar dari sana menggunakan payung dan menuntunku untuk masuk. Aku terlalu menggigil sehingga aku tak sempat bertanya bagaimana caramu menemukanku.
"Bibirmu membiru"
Kau segera membuka coat serta syal basah yang menempel ditubuhku menggantinya dengan coat yang kau pakai. Meninggikan suhu penghangat pada mobil, setelahnya bibirmu tak henti-hentinya mengomeliku. Aku terlalu kedinginan untuk melawan omonganmu. Hingga sebuah bersin dariku berhasil menginterupsimu, kemudian kau segera melajukan mobil.
"Kau pucat sayang, kenapa tidak menelponku?. Nomormu juga tidak aktif!"
"Ponselku kehabisan baterai, aku lupa membawa charger dan temanku sudah pulang. Jadi aku tidak bisa menelponmu"jawabku seadanya
Kau menyiapkan air hangat untukku mandi setelah kita sampai dirumah. "Kau sudah makan?"tanyamu saat aku selesai berpakaian. Aku hanya menggeleng. "Sudah kuduga" katamu lagi, kemudian kau segera kedapur dan memanaskan makanan yang kau beli dan telah kau sisakan untukku. Aku hanya memakan sedikit, aku merasa mual dan tak selera makan. Kemudian aku meminum obat sakit kepala, setelahnya aku tidur.
"Dingin"kataku masih menggigil, kau dengan senang hati merapatkan tubuhmu untuk memelukku, kemudian aku tidur dengan posisi nyaman itu.
Pagi hari aku terbangun, tubuhku bukannya terasa lebih baik, tetapi malah lebih berat. "Kau demam, badanmu panas" katamu setelah meletakan punggung tanganmu didahi. Kau segera membawaku ke rumah sakit. Dokter mengatakan kalau tekanan darahku rendah, radang tenggorokan dan flu. Kena hujan tadi malam juga berhasil membuatku menambah daftar penyakit. Demam.
Hari itu, kau benar-benar melayaniku. Memasakanku sup ayam ginseng –Samgyetang– dan menyuruhku untuk tidur seharian. Semua itu kudapatkan setelah menerima omelanmu tentu saja. Kau benar-benar khawatir dengan tekanan darahku yang bisa serendah itu, ditambah lagi tidur dan makan yang tidak teratur belakangan ini.
"Kau bisa mengkhawatirkan kesehatanku jika aku diet berlebihan dan kurang tidur selama mempersiapkan comeback. Tapi kau sendiri tak bisa menjaga dirimu"omelmu
Kau menungguiku memakan sup ayam ginseng buatanmu, memastikan semuanya habis kumakan walaupun aku sendiri tidak berselera untuk makan karena perutku masih terasa mual. Kau juga menyiapkan segelas susu hangat untukku.
"Apakah supnya enak?"tanyamu, entahlah. Kau memang memastikan sup itu layak untuk dimakan atau malah ingin mendapatkan pujian dariku
"Enak kok, tapi tidak seenak buatan eommoni"kataku bermaksud menggodamu, tapi kau hanya tesenyum samar dan mengelus rambutku
"Oppa, bagaimana oppa bisa menemukanku tadi malam?"
"Semua cinta pasti tahu dimana harus menemukan belahan jiwanya"katamu sedikit menggombal, aku tersipu mendengarnya
"Hajima~"rengekku kemudian kau hanya terkekeh
"Aku ke gedung pertemuan itu, tapi kata satpam yang berjaga, "semua sudah pulang sejak 1 jam yang lalu". Aku panik tentu saja, kau tidak menelponku, nomormu tidak aktif dan kau juga tak kunjung sampai di apartemen dan hujan cukup deras. Jadi aku berkeliling mencarimu, mulai dari yang terdekat, halte. Aku menemukanmu basah seperti itu dengan wajah pucat dan bibir yang membiru, ditambah lagi aku tahu kau sedang tidak fit. Aku rasa jika aku terlambat menemukanmu, kau sudah pingsan karena kedinginan"jelasmu, aku rasa kata-katamu ada benarnya karena kesehatanku sangat drop saat itu
Setelahnya, kau meminta penjelasan dariku. Aku menceritakan semuanya agar kau berhenti mengomeliku. Kau memang protektif padaku dan aku merasa istimewa dengan sikapmu itu, tapi aku paling tidak tahan jika diomeli terus-terusan apalagi jika aku sudah diam dan menerima semua omelan.
"Terima kasih atas semuanya oppa"kataku setelah kau memberikan air dan obat
Mungkin, masakanmu tidak seperti chef berkelas, memasakmu juga tidak sehebat Seokmin ataupun Mingyu. Tapi kau benar-benar melakukan yang terbaik, Sup ayam ginseng yang kau buat tidak terasa buruk dan cukup enak. Dan yang terpenting bagiku adalah, kau bisa menyayangiku, melindungiku sepenuh hati, bagiku kau adalah suami terbaik. Lebih dari cukup dari apa yang aku harapkan selama ini.
FF ini fluff gak sih?. Kalau menurut author iya, soalnya Seungcheol disini tuh aku bikin tetep ngerdus, tapi khusus ke istrinya. Jadi ngerdusnya itu beda.
