H : Hujan
Kebanyakan orang akan menghindari terkena hujan. Bukan karena berbahaya, tetapi menurut sebagian orang hujan dapat membuat demam ataupun flu. Kadang, orang-orang menghindari hujan karena khawatir penampilan mereka akan rusak karena basah. Tidak salah memang, aku pun sering menghindari hujan jika aku masih membutuhkan penampilan prima. Tapi untuk anak-anak kecil, hujan adalah salah satu waktu dimana mereka bisa bermain, walaupun ibu mereka harus mengomeli atau bahkan memukul mereka karena mencuri kesempatan untuk bermain dibawah guyuran air hujan. Sebagian orangtua bukan khawatir anaknya akan sakit ketika main hujan dan sesekali memberikan kesempatan pada anaknya, tetapi beberapa orangtua malah khawatir dengan sambaran petir ketika hujan –ibuku salah satunya–.
Ketika sedang hujan seperti ini, kita hanya akan berada di dalam rumah. Meminum kopi, teh, susu ataupun coklat panas, menonton TV karena aku tidak mengijinkan memainkan ponsel terlebih jika berhubungan dengan jaringan. Sore itu, kita menikmati hujan sore hari di teras belakang yang menuju langsung ke taman kecil dibelakang rumah. Aku memilih untuk membaca buku yang baru aku beli dan kau sendiri memakan kudapan yang kubuat.
Tapi, aku mulai bosan dan menutup buku itu.
"Kenapa hujannya lama sekali?"keluhku
"Sudah lama tidak hujan, biarkan saja. Memangnya kau mau kemana?"tanyamu, masih saja memasukan kudapan itu ke mulut
"Tidak kemana-mana sih, tapi aku bosan. Aku ingin beli jajangmyeon di kedai depan gang"jawabku
"Kalau pakai payung pun akan basah juga, hujannya terlalu deras. Mau aku antar?, aku pun lapar" tawarmu, aku menggeleng
"Eung aniya, dekat. Untuk apa naik mobil, akan sulit"kataku
"Jadi kau mau apa?. Hujan terlalu deras"katamu, aku menaikan bahu. Kemudian kita kembali ke mode hening, hanya ada suara hujan yang menghantam bumi. Kadang, jika hujan seperti ini kita akan didalam, duduk didepan jendela dan menikmati air hujan yang menabrak kaca, kemudian kau duduk dibelakangku memelukku dan membungkus kedua tubuh kita kedalam sebuah selimut tebal kemudian perlahan menceritakan apapun yang terjadi dalam waktu dekat, sesekali mengulang kembli masa lalu. Tapi kali ini, kita tidak melakukan itu.
Aku berdiri dari tempatku dan mulai mendekati air hujan. Mengeluarkan tanganku dari atap yang melindungi tubuh dari air hujan. Aku merasa bahagia ketika air hujan menyentuh telapak tanganku, sangat banyak bahkan beberapa cipratannya mengenai wajah dan perlahan mulai membasahi bajuku.
"Chagiya kau sedang apa?"tanyamu akhirnya
"Bermain hujan"jawabku seadanya, aku pun akhirnya keluar dari teras dan membiarkan hujan membasahi seluruh tubuhku
"Chagiya, kesini. Ppali"ajakku padamu, kau hanya tersenyum sendiri melihat tingkahku yang seperti anak-anak yang baru saja diberi ijin main hujan dengan ibunya
"Choi Seungcheol, saranghae"kataku sambil memberikan simbol big heart di atas kepalaku
"Nado"jawabmu setengah berteriak agar suaramu terdengar diantara suara berisik air hujan dan kau masih duduk disana, aku memang berniat mengajakmu untuk ikut menikmati guyuran air hujan yang selama ini sering kita hindari
"Kau akan demam chagiya"katamu memperingatkan
"Aku bukan anak kecil. Hujan tidak akan bisa langsung membuatku sakit. Ayo ikut saja!"aku ingin mengajakmu bermain hujan
Aku kesal karena kau masih saja terkesan jaim, kemudian aku kembali mendekatimu dan mencipratkan air hujan ke tubuhmu. Benar saja kau protes. Aku menarik tanganmu agar terguyur hujan juga.
"Yak!"protesmu karena perlahan air hujan yang deras membuatmu basah
"Ayolah, oppa hanya pura-pura tak mau. Cus"kataku berakhir dengan mencipratkan air hujan kewajahmu. Kali ini kau membalasku namun aku berlari. Kau mengejarku dan tentu saja kau dengan mudah menangkapku karena kecepatan lariku memang cukup lamban.
Kau menggendongku dari belakang dan berusaha untuk menggelitiki perutku. Aku sampai tertidur direrumputan karena menahan tanganmu yang masih saja menggerayangi perutku. Perlahan, kau mulai menikmati guyuran air hujan ini, dan kita memainkan bola basket hingga hujan perlahan mereda. Syukurlah rumah kita berpagar sehingga tak ada yang perlu menertawakan kelakuan konyol dua orang dewasa yang sudah menikah ini. Jangan lupa, kita juga menikmati ciuman hangat dibawah guyuran hujan.
Biasanya, jika aku kehujanan atau ketika kita kehujanan. Tangan kokohmu itu dengan senang hati memegangi payung untukku, memastikan tidak ada setetespun air hujan yang mengenai diriku. Terkadang bahkan kau rela sedikit kebasahan demi aku. Kau juga sering merelakan jaket ataupun coat atau outer apapun yang kau kenakan hanya untuk menutupi kepalaku ketika hujan datang dan kita tidak membawa payung, padahal aku baik-baik saja.
"Ayo kita masuk, bersihkan diri. Hujan sudah reda"katamu ketika frekuensi air hujan semakin sedikit dan awan perlahan mulai merenggang
"Aniya"kataku sambil meledek. Kau memutar bola matamu kemudian mengangkat tubuhku dengan mudahnya dan kau sampirkan di bahumu seperti kau menyampirkan handuk
"Yak!, aku masih mau main hujan!. Turunkan aku"protesku sambil memukuli punggung kokohmu
"Bibirmu sudah membiru. Lagipula hujan sudah mulai reda. Kau ingin menunggu apa lagi?"jawabmu. Kau pun menceburkan tubuh kita di kolam renang yang ada didalam. Air di kolam sebenarnya air bersuhu normal, tapi terasa hangat ditubuh. Aku mengalungkan tanganku dilehermu kemudian mengecup bibirmu.
"Terima kasih sudah mau menemaniku bermain hujan"kataku
"Akan kulakukan apapun untuk membuatmu bahagia" katamu, kemudian kita berlanjut membersihkan diri di kolam renang ini dan berhenti ketika kulit mulai keriput.
