O : Olahraga
Aku bukan orang yang suka berolahraga dan aku juga payah dalam olahraga. Berbanding terbalik denganmu yang suka berolahraga dan bahkan ada beberapa olahraga yang begitu kau kuasai. Aku tidak suka berolahraga tapi aku juga tidak membencinya. Aku suka bulu tangkis, aku suka basket dan sepak bola walaupun aku tidak bisa memasukan bola ke keranjang dengan benar ataupun menendang tepat ke gawang. Aku suka olahraga yang cenderung dimainkan dengan tenang dan tanpa team. Bulu tangkis misalnya bisa dimainkan tunggal, berkuda, panahan, bersepeda dan taekwondo. Dari dulu aku ingin mempelajari taekwondo!.
"Chagiya, kau tidak perlu belajar Taekwondo. Aku akan selalu ada untuk menjagamu"katamu yang selalu saja menggodaku ketika aku ingin belajar bela diri juga, aku iri padamu yang menguasai Taekwondo hingga sabuk hitam
Ketika kau pergi jogging dipagi hari, atau naik sepeda di sore hari, ataupun sesekali kau pergi ke fitness dengan Mingyu. Aku akan lebih memilih di apartemen dan menonton kartun. Satu kali, aku merasa ingin sekali ikut berolahraga denganmu. Jadilah kau membangunkanku suatu pagi dan kita pergi jogging bersama. Aku selalu saja jauh tertinggal dibelakangmu ketika jogging, aku akui kau berlari cukup cepat dan aku juga mengakui aku lambat dalam berlari.
Berkali-kali aku berhenti untuk menarik nafas karena kelelahan, apalagi mengimbangi langkahmu bukanlah sesuatu yang mudah bagiku. Bahkan aku akhirnya malah tak peduli dan duduk saja dijalan.
"Oppa!"rengekku ketika aku melihat punggungmu yang semakin menjauh. Mendengar rengekanku kau kembali dan tertawa ketika melihatku yang duduk dijalan
"Katanya mau olahraga, baru sebentar sudah menyerah?"
"Aku lelah mengimbangi langkah oppa. Oppa lari sangat cepat dan aku lambat seperti siput"
"Omo kyeopta, istriku kelelahan"katamu sambil mencubit pipiku
"Oppa aku tidak sedang beraegyo, aku tidak bisa~"aku merengek lagi, kau jongkok membelakangiku
"Naik"katamu
"Naik ke punggungmu?"tanyaku
"Tentu saja, kau lelah kan?"katamu lagi, punggung kokohmu sudah siap untuk menerima beban tubuhku
"Aniya, aku sudah tidak lelah. Ayo lari lagi"kataku berbohong, sebenarnya aku malu kau gendong. Aku malu menjadi pusat perhatian orang-orang
"Kalau kita lari lagi dan kau tertinggal, kali ini aku tidak akan menunggumu"katamu dengan kejamnya, aku berpikir. Tapi kau tak sabaran, kau berdiri kemudian menarik tanganku untuk ikut berdiri dan segera menggendongku dibelakang punggungmu. Kemudian kau mulai berlari-lari kecil dan terkadang hanya berjalan santai ketika dirimu sudah merasa lelah.
"Oppa, kita jadi pusat perhatian"kataku setelah cukup lama kita berjalan
"Kenapa memangnya?"tanyamu santai
"Aku malu"jawabku. Jujur saja, aku merasa risih dengan tatapan dari orang-orang
"Biarkan saja. Aku ingin memberitahukan kepada siapapun kalau aku mencintai istriku"jawabmu enteng
"Oppa, aku kan berat. Apa kau tidak lelah?"tanyaku sekali lagi agar segera menurunkanku
"Kalau cinta, apapun yang berat terasa ringan. Tapi, kalau kau khawatir, kita akan duduk dulu"katamu diselingi rayuan khas dirimu. Aku paham sebenarnya kau juga lelah, tapi kau ingin terlihat kuat didepanku
Aku memberikanmu air mineral yang kubawa dari apartemen. Kita sama-sama menikmati udara pagi yang sejuk ditaman ini. Ada banyak sekali orang-orang yang sedang berolahraga, bahkan ada anak-anak kecil yang sedang main sepak bola di lapangan kecil yang tak jauh dari tempat kita duduk. Tanpa kusadari, ternyata kau sudah bergabung dengan anak-anak itu. Hanya kau satu-satunya orang dewasa disana. Aku tertarik dan memutuskan untuk ikut denganmu setelah kau melambaikan tangan kearahku bermaksud untuk mengajakku.
"Tendangan noona payah"kata salah seorang bocah disana setelah aku gagal menendang bola agar masuk ke gawang dan tidak melambung –bola yang kutendang menyeret–. Kau pun menyembunyikan tawamu, kau ingin tertawa tapi takut aku marah.
Aku mengakuinya, aku tidak sejago dirimu bermain bola, bahkan tidak sejago bocah-bocah ini. Tapi aku masa bodoh dengan itu semua, yang penting aku bahagia hari ini. Bahkan setelahnya kita terus saja merusuh di olahraga-olahraga yang sedang orang-orang mainkan. Aku ikut merusuh di Basket tetapi tidak di Voli –aku tidak bisa bermain Voli sama sekali–. Suamiku, kau sangat bagus sekali dibidang olahraga. Hampir semua olahraga bisa kau kuasai dan kita sangat bertolak belakang akan hal itu. Tapi aku rasa, kita baik-baik saja. Sejak saat itu, sesekali aku ikut berolahraga denganmu entah itu joging ataupun kita naik sepeda.
