P : Peliharaan

Aku merasa kesepian di apartemen jika kau sedang keluar kota ataupun keluar negeri dan aku harus tinggal sendiri di apartemen. Benar, aku memang orang yang betah dirumah tetapi aku merasa sangat sepi sekali jika tidak ada siapapun di apartemen, terlebih kita belum memiliki anak. Kita akhirnya berunding tentang peliharaan.

Kau menyukai anjing, aku pun sama halnya. Aku juga suka anjing, terlebih anjing berjenis Golden Retrivier, Siberian Husky dan Corgy. Tetapi kau juga tahu kalau aku fobia dengan anjing. Aku ingin sekali berinteraksi lebih dekat dengan anjing tetapi aku takut, bahkan mendengar seekor anjing menggonggong kearahku saja aku sudah gemetar ketakutan.

Aku juga menyukai kucing dan aku suka binatang itu lebih dari anjing. Aku besar dengan hidup selalu memelihara kucing. Tapi sejak di Korea, aku tidak pernah memelihara lagi, palingan aku hanya memberi makan kucing jalanan. Kau pribadi juga suka dengan kucing. Dengan kesepakatan, akhirnya kau menghadiahiku seekor anak kucing berjenis Van Turki.

"Jika memelihara anjing, selain kau takut, kau juga tidak akan mau mengajaknya jalan-jalan karena kau sendiri juga tidak suka keluar rumah. Kucing cocok untukmu, karena kalian punya sifat yang sama-sama malas bergerak" katamu saat memberikan kucing itu padaku

Aku ingin sekali memelihara anak kucing itu hingga besar dan menjadi kucing yang penurut. Setelahnya, kucing itu menjadi satu-satunya temanku di apartemen jika aku sedang sendirian dan kau pergi. Tapi, disuatu malam di musim dingin. Ketika kita baru saja pulang makan di kedai Ramyeon yang tak jauh dari apartemen. Kita mendengar ada seekor anak kucing berbulu coklat sedang mengeong-ngeong kelaparan

"Oppa, ada suara kucing. Kasihan sekali"kataku nyaris menangis, aku langsung saja mencari kearah sumber suara. Benar saja, ada seekor anak kucing yang sedang meraung-raung kedinginan dengan kaki terluka disalah satu gang gelap dan sempit. Ada bangkai induknya juga disana dan ada ikatan karet di kedua kaki belakangnya, aku yakin kucing itu mati bukan hanya karena kelaparan dan kedinginan, tetapi juga karena infeksi di kakinya. Siapa manusia yang tega menjahili kucing malang ini hingga mati?

Anak kucing itu berlari menjauh ketika aku mendekatinya. Aku mencoba memanggilnya, mengeluarkan sebuah sosis dari kantung belanjaan karena kita baru saja dari minimarket untuk membeli beberapa persediaan yang telah habis sebelum waktunya. Perlahan tapi pasti, kucing itu mulai tidak berlari ketika aku mendekatinya. Kucing itu memakan sosis yang aku berikan, setelahnya aku membelai lembut bulu halus yang kotor itu.

"Oppa, dia tidak akan bertahan di suhu dingin seperti ini tanpa induknya. Kakinya juga terluka, dan matanya sedang dalam kondisi tak baik, tertutupi kotoran"kataku, aku mengiba. Dari dulu, aku memang tak tega melihat binatang-binatang terlantar, terlebih jika kondisi mereka masih kecil dan terluka. Aku pasti akan merawatnya, minimal memberi makan dan minum jika ibuku tidak mengijinkanku untuk merawat mereka karena sudah terlalu banyak kucing di rumah.

"Apa kau ingin mengadopsinya?"tanyamu to the point. Kau seperti sudah mengetahui maksudku. Aku hanya mengangguk sambil menggendong kucing malang itu

"Tapi kita sudah punya dirumah"kau berusaha mengingatkan dan memberi pengertian

"Lalu, apakah oppa tega membiarkan dia disini dan mati?"tanyaku, aku memasang wajah memelas. Aku mungkin tidak pandai ber-aegyo tapi aku rasa kau tidak akan tahan melihat wajah memelasku

"Aishh ya baiklah. Kau boleh memeliharanya. Lalu bagaimana dengan induknya?"tanyamu

"Telepon saja tempat penangkaran hewan, atau oppa mau mengubur atau mengkremasi mayat itu?" kataku, kau segera mengeluarkan ponsel dan menelpon

"Aniya"katamu singkat

"Oppa, aku rasa kita perlu ke dokter hewan. Kakinya terluka cukup parah dan kotoran mata itu menghalangi pandangannya"

"Tapi ini sudah malam sayang, besok pagi saja ya. Untuk sementara, aku yakin kau pasti bisa mengobatinya di apartemen"katamu, aku menyadari omonganmu ada benarnya. Malam ini sudah cukup larut dan tak mungkin ada dokter hewan yang masih buka.

Kita membawa pulang kucing itu ke apartemen, aku membersihkan kucing kecil itu dengan telaten, tak lupa membalut lukanya. Kau telah menyiapkan makanan untuk kedua kucing kita. Sudah kuduga, diawal akan seperti ini, mungkin akan sulit memelihara dua kucing yang tidak saling mengenal. Terjadilah pertengkaran kedua hewan itu. Tapi, aku percaya bahwa perlahan mereka akan mulai terbiasa.

.

TBC

.

.

.

Kalian lebih suka mana readers?. Anjing atau kucing?